Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Fisika Dasar

Modul 2 – Lensa dan Indeks Bias


Ahmad Naufal Ash Siddiq / 19522370
Asisten: Nur Itsnaini
Tanggal praktikum: 15 juni 2020
Teknik Industri – Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia

tebaldibandingkan sisi tepinya. Prinsip lensa tidak berbeda


Abstrak— Abstak berisi uraian singkat dari keseluruhan
dengan cermin. Lensa juga membentuk bayangan seperti
laporan praktikum. Di dalam Abstrak harus termuat
cermin. Bayangan itu tampak sebagaipembiasan bukan
informasi dari mulai pendahuluan sampai kesimpulan.
pemantulan. Keberadaan lensa cembung hampir
Penggunaan bahasa abstrak pada laporan praktikum fisika
samadengan cermin cekung, sedangkan lensa cekung
dasar adalah Bahasa Indonesia. Abstrak tidak boleh lebih
dari satu paragraf. Penulisan abstrak sebaiknya tidak hampir sama dengan cermin cembung. Lensa cekung
melebihi 150 kata. berbentuk tipis di bagian tengah dan tebal di bagian tepi.
*PENTING: Jangan menggunakan simbol, karakter Lensa cekung atau konkaf disebut juga lensa divergen
khusus, maupun rumus di dalam judul dan abstrak. Jangan karena sinar-sinar
mengubah template yang telah ditetapkan. yang melaluinya akan dibiaskan menyebar. Hal- hal
Kata kumci—dokumen; format; resmi; masukkan kata kunci tersebut dapat diketahui dengan melakukan percobaan
kata kunci mencakupi hal – hal penting dan yang paling sering mengenai pembiasan cahaya pada lensa, lensa yang
muncul dalam jurnal. digunakan ialah lensa cembung.
Lensa dipelajari karena sangat dekat dengan
I. PENDAHULUAN kehidupan sehari-hari. Lensa dapat membantu kita
Landasan Teori beraktifitas maupun dengan pekerjaan yang terutama
Lensa adalah benda bening yang tembus cahaya berhubunngan dengan optik. Contoh sederhana dan mudah
dengan bentuk permukaannnya merupakan garis sferis. dari aplikasi lensa ialah pada kaca mata. Selain kaca mata,
Garis hubung antara pusat lengkungan kedua permukaan alat optik lain yang tak luput dari penerapan lensa yaitu
disebut sumbu utama. Bayangan yang dibuat oleh mikroskop, teropong, lup, dan banyak lagi yang lain.
permukaan pertama merupakan benda untuk permukaan Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika
kedua. Permukaan kedua akan membuat bayangan akhir. berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang
Lensa dibedakan menjadi dua macam, lensa tebal dan lensa berbeda indeks biasnya.Indeks bias mutlak suatu bahan
tipis. Terdapat dua jenis lensa, yaitu lensa cembung dan adalah perbandingan kecepatan cahaya diruang hampa
lensa cekung. Pada lensa cembung (lensa positif) sinar tanpa kecepatan tanpa kecepatan cahaya tersebut.
datang mengumpul (konvergen) dan pada lensa cekung
(lensa negatif) sinar dapat menyebar. Pada lensa terdapat
Dasar Teori
sinar – sinar istimewa. Tentunya, sinar – sinar istimewa
Lensa cembung adalah lensa yang bagian tengahnya
pada lensa cembung berbeda dengan lensa cekung. Lensa
lebih tebal dari pada bagian tepinya. Lensa cembung terdiri
cembung adalah lensa yang bagian tengah lebih
atas 3 macam bentuk yaitu lensa bikonveks (cembung bias berubah-ubah tergantung pada panjang gelombang
rangkap), lensa plankonveks (cembung datar) dan lensa cahaya dan suhu.
konkaf konveks (cembung cekung). Lensa cembung Penerapan konsep indeks bias banyak di temukan
memiliki sifat dapat mengumpulkan cahaya sehingga dalam kehidupan sehari.Contoh globalnya dalam pembiasan
disebut juga lensa konvergen. adalah sedotan yang ditempatkan dalam segelas air, apabila
Sinar – sinar yang sejajar sumbu utama akan di lihat dari samping tampak sedotan patah atau bengkok.
dibiaskan menuju suatu titik atau seakan – akan berasal Sedangkan konsep indeks bias pada prisma yaitu pelangi
dari suatu titik, titik tersebut disebut dengan Titik Fokus dan fatamorgana. Pemanfaatannya pada benda berlensa
utama ( Titik Api ). Titik ini terletak dibelakang lensa. misalnya teropong dan teleskop.
Lensa cembung memiliki 2 titik fokus yaitu F1 dan F2, F1
disebut sebagai fokus aktif dan F2 disebut sebagai fokus Tujuan Praktikum
pasif. Titik fokus pada lensa cembung pada dasarnya sama 1. Memahami hukum Snellius.
dengan pada cermin cekung karena memiliki nilai positif 2. Menentukan indeks bias bahan padat dan cairan.
( + ), sehingga disebut dengan lensa positif.
Hubungan antara titik fokus dengan jarak benda dan
jarak bayangan :
1 1 1 II. METODE PRAKTIKUM
= +
f d d'
Alat dan Bahan
Keterangan :
1. Lensa cembung ganda
F = panjang focus lensa
d = jarak benda dari pusat lensa
d’ = Jarak bayangan benda dari pusat lensa

Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan


atau pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang
berbeda kerapatan optiknya. Arah
pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam
yaitu mendekati garis normal dan menjauhi garis normal.
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya
merambat dari medium optik kurang rapat ke medium optik Gambar 1. Lensa Cembung Ganda

lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari udara ke


2. Sumber cahaya
dalam air. Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika
cahaya merambat dari medium optik lebih rapat ke medium
optik kurang rapat, contohnya cahaya merambat dari dalam
air ke udara. Indeks bias suatu zat adalah perbandingan
cepat rambat cahaya dalam hampa udara (c) terhadap cepat
rambat cahaya dalam zat tersebut (v), atau perbandingan
sinus sudut datang terhadap sinus sudut bias. Harga indeks
Gambar 5. Busur Derajat.
Gambar 2. Sumber Cahaya

6. Kaca
3. Layar

Gambar 6. Kaca
Gambar 3. Layar

Prosedur Kerja

4. Mistar

Gambar 4. Mistar

5. Busur derajat
Siapkan alat dan bahan!

Pasanglah rangkaian seperti gambar pada modul

Letakkan benda (tanda panah disinari lampu) di depan lensa pada jarak (d)!

A. Lensa
Cari dimana letak bayangan benda pada layar dan catat jarak bayangan (d’) dan posisi bayangan (te
pengamatan tersebut sebanyak tiga kali!

Ulangi kegiatan 3 & 4 dengan jarak benda (d) yang berbeda-beda!

Ulangi langkah 3 - 5 dengan fokus lensa yang berbeda-beda.

Rapikan alat dan bahan seperti kondisi semula.

B. Indeks Bias
S Sudut Bias
udut Ø2
Datang
Ø
Letakkan bahan yang akan diamati indeks biasnya kedalam meja potik yang tersedia 1

1 3 2 2 21
. 0 2 0
2 4 2 2 28
. 0 6 8
3 5 3 3 32
Nyalakan sumber cahaya dan arahkan ke bidang sisi benda yang diamati . 0 1 0
4 6 3 3 38
. 0 6 5
5 7 4 4 40
. 0 1 1
Atur arah berkas cahaya datang dengan memvariasi besar sudut datang Table 2. Data Percobaan Indeks Bias

IV. ANALISIS DATA


A. Lensa
1. Menentukan rerata jarak bayangan
Ulangi percobaan no. 1 s/d 3 dengan bahan cairan dalam konsentrasi bervariasi.
 Untuk d = 20 cm
𝑑′ 𝛿𝑑′(𝑑′ − 𝑑̅′) |𝛿𝑑′(𝑑′ −
𝑑̅′)|2
1 19,6 – 20 0,16
9,6 = -0,4
20 – 20 = 0
20 0
20,4 – 20 0,16
20,4 = 0,4
Σd’ = 60 Σ = 0,32
III. DATA PERCOBAAN
A.Lensa
No d d’ Sifat
(cm) (cm) Bayangan 60
Σ d ’= =20 cm
1. 20 19,6 20 20,4 Nyata, 3
terbalik
2. 25 16,9 16,8 16,7 Nyata,
terbalik
3. 30 15,4 15,2 15 Nyata,
terbalik
0,32 0,32
4.

5.
35

40
13,9

13,3
14

13,4
14,1

13,5
Nyata,
terbalik
Nyata,
terbalik
∆ d´ '=

3−1
=¿
2 √
=¿ 0,4 cm¿ ¿

Table 1. Data Percobaan Lensa


jadi ( d ' ± ∆ d́ ' ) =( 20± 0,4 ) cm
B. Indeks Bias

 Untuk d = 25 cm
N Media
o (Kaca) 𝑑′ 𝛿𝑑′(𝑑′ − 𝑑̅′) |𝛿𝑑′
(𝑑′ − 𝑑̅′)|2
16, 16,9 – 16,8 0,01
9 = 0,1
16, 16,8 – 16,8 0  Untuk d = 35 cm
8 =0 𝑑′ 𝛿𝑑′(𝑑′ − 𝑑̅′) |𝛿𝑑′
16 16,7 – 16,8 0,0 (𝑑 − 𝑑̅′)|2

,7 = -0,1 1 13, 13,9 - 14 = 0,01


Σd’ = 50,4 Σ = 0,02 9 -0,1
14 14 - 14 = 0 0

14 14,1 - 14 = 0,0
,1 0,1 1
50,4 Σd’ = 42 Σ = 0,02
Σ d ’= =16,8 cm
3

0 , 02 0,02
∆ d´ '=

3−1
=¿
2 √
=¿ 0 ,1 cm ¿¿ Σ d ’=
42
3
=14 cm

jadi ( d ' ± ∆ d́ ' ) =( 16,8± 0 , 1 ) cm 0,0 2 0 ,02

 Untuk d = 30 cm
∆ d´ '=
√ 3−1
=¿
√ 2
=¿ 0 ,1 cm¿ ¿

𝑑′ 𝛿𝑑′(𝑑′ − 𝑑̅′) |𝛿𝑑′


(𝑑 − 𝑑̅′)|2
′ jadi ( d ' ± ∆ d́ ' ) =( 1 4 ± 0 ,1 ) cm
15, 15,4 – 15,2 0,04
4 = 0,2
 Untuk d = 40 cm
15, 15,2– 15,2 0
2 =0 𝑑′ 𝛿𝑑′(𝑑′ − 𝑑̅′) |𝛿𝑑′
15 15 – 15,2 = 0,0 (𝑑 − 𝑑̅′)|2

-0,2 4 13, 13,3 – 13,4 0,01


Σd’ = 45,6 Σ = 0,08 3 = -0,1
13, 13,4 – 13,4 0
4 =0
13 13,3 – 13,4 0,0
,5 = 0,1 1
45,6 Σd’ = 40,2 Σ = 0,02
Σ d ’= =15,2cm
3

0,08 0,08
∆ d´ '=
√ 3−1
=¿
√ 2
=¿ 0,2 cm ¿ ¿ Σ d ’=
40,2
3
=13,4 cm

jadi ( d ' ± ∆ d́ ' ) =( 15,2± 0 , 2 ) cm 0,02 0,02


∆ d´ '=

3−1
=¿
2 √
=¿ 0,1 cm ¿¿

jadi ( d ' ± ∆ d́ ' ) =( 13,4 ±0 , 1 ) cm


 Untuk d = 30 cm
30.15,2 456
F= = =10 ,0 8 cm=0,10 0 8 m
30+15,2 45,2

30 ( 15,2+30 ) −30.15,2 2
∆ F= ¿
√ ( 30+15,2 )
2
∨ |0,2|
2

∆ F=√ 0,19 .0,04


∆ F=0,08 cm=0,0008 m
Jadi F ± ∆ F=( 10 , 0 8 ±0,0 8 ) cm

 Untuk d = 35 cm
35.14 490
F= = =10 cm=0,1 m
2. Menetukan fokus lensa (f) 35+14 49
 Untuk d = 20 cm
20.20 400 35 ( 14 +35 )−35.14
F= =
20+20 40
=10 cm=0,1m ∆ F= ¿
√ ( 35+14 )
2
2
∨2|0,1|

20 ( 20+ 20 )−20.20 2 ∆ F=√ 0 , 26 .0,0 1


∆ F= ¿
√ ( 20+20 )
2
∨ |0 , 4|
2

∆ F=0,0 5 cm=0,0005 m
Jadi F ± ∆ F=( 10 ± 0,05 ) cm
∆ F=√ 0,25 .0 ,16
∆ F=0 , 2 cm=0,00 2 m  Untuk d = 40 cm
Jadi F ± ∆ F=( 10 ± 0,02 ) cm 40.13,4 536
F= = =10,03 cm=0,1003 m
40+13,4 53,4
 Untuk d = 25 cm
25 . 16,8 4 20 40 ( 13,4+ 40 )−40.13,4 2
F= =
25+16,8 4 1,8
=10 , 0 4 cm=0,10 0 4 m ∆ F= ¿
√ ( 40+13,4 )
2
∨ |0,1|
2

25 ( 16,8+25 )−25.16,8 ∆ F=√ 0,40 .0,01


∆ F= ¿
√ ( 25+16,8 )
2
∨2|0,1|
2

∆ F=0,06 cm=0,0006 m
Jadi F ± ∆ F=( 10 , 03 ±0,0 6 ) cm
∆ F=√ 0 , 13 .0,01
∆ F=0,0 3 cm=0,0003 m 3. Menentukan perbesaran bayangan (M)
Jadi F ± ∆ F=( 10 , 0 4 ± 0,0 3 ) cm  Untuk d = 20 cm
d ' 20 ∅′ 𝛿∅′(∅′ − ∅ |𝛿∅′(∅′ − ∅′̅
M= || = =1 kali
d 20 2
′̅ )
22 – 21
)|2
1
 Untuk d = 25 cm 2 =1
2 20 – 21 1
d ' 16,8
M= =
d ||25
=0,67 kali
0

21
= -1

=0
21 – 21 0

 Untuk d = 30 cm
Σ∅′ = 63 Σ=2
'
d 15,2
M= ||
d
=
30
=0,50 kali
63
 Untuk d = 35 cm ∅´ '= =21 °
3
d ' 14
M= || = =0,4 kali
d 35 ∆ ∅' =
√ 2
3−1
2

= =1°
2
 Untuk d = 40 cm
Jadi ( ∅´ ' ± ∆ ∅ ' )=(21± 1) °
d ' 13,4
M= ||
d
=
40
=0,33 kali  Untuk sudut dating ( ∅ )=40 °

∅′ 𝛿∅′(∅′ − ∅ |𝛿∅′(∅′ − ∅′̅


′̅ ) )|2
4. Menentukan kuat lensa (P) 2 26 – 27,3 1,69
6 = -1,3
 Untuk d = 20 cm 2 28 – 27,3 0,49
1 1 8 = 0,7
P= = =10 dioptri 28 – 27,3 0 ,49
F 0,1
28 = 0,7
 Untuk d = 25 cm Σ∅′ = 82 Σ = 2,67
1 1
P= = =9,99 dioptri
F 0,1004
82
 Untuk d = 30 cm ∅´ '= =27,3 °
3
1 1
P= = =9,92dioptri 2,67 2,67
F 0,1008 ∆ ∅' =
√ 3−1
=
√2
=1,15 °

Jadi ( ∅´ ' ± ∆ ∅ ' )=(27,3 ± 1, 15)°


 Untuk d = 35 cm
1 1
P= = =10 dioptri
F 0,1
 Untuk d = 40 cm  Untuk sudut dating ( ∅ )=50 °
1 1 ∅′ 𝛿∅′(∅′ − ∅ |𝛿∅′(∅′ − ∅′̅
P= = =9,97 dioptri ′̅ ) )|2
F 0,1003
3 31 – 31 0
1 =0
B. Indeks Bias 3 30 – 31 1
0 = -1
A. Menentukan rerata sudut indeks bias 32 – 31 1
 Untuk sudut dating ( ∅ )=30 ° 32 =1
Σ∅′ = 93 Σ=2 B. Menentukan nilai indeks bias medium
 Untuk sudut datang ( ∅ )=30 °

93 1. sin ∅ 1 . sin30
∅´ '= =31° n' = = =1,42
3 sin ∅´ ' sin 21
2 2
∆ ∅' =
√ 3−1 √
= =1°
2 2

Jadi ( ∅´ ' ± ∆ ∅ ' )=( 31± 1) °


 Untuk sudut dating ( ∅ )=6 0°
∆ n' =
√|
−1. sin 30. cos 21
2
sin 21
2 2
|1|
2
|
∆ n' =√|−3,79| |1|
∅′ 𝛿∅′(∅′ − ∅ |𝛿∅′(∅′ − ∅′̅
∆ n' =3,8
′̅ ) )|2
3 36 – 36,3 0,09 Jadi ( n ' ± ∆ n' )=(1,42± 3,8)
6 = -0,3
3 35 – 36,3 2,89
5 = -1,7  Untuk sudut datang ( ∅ )=4 0 °
3 38 – 36,3 2,89
8 = 1,7 1. sin ∅ 1. sin 4 0
n' = = =1,42
Σ∅′ = 109 Σ = 5,87 sin ∅´ ' sin27,3

109 2
∅´ '=
3
=3 6,3 °

5,87 5,87
∆ n' =
√|
−1. sin 4 0. cos 27,3
2
sin 27,3
|1 , 15|
2
|
∆ ∅' =
√ 3−1
=
√2
=1 ,7 ° 2
∆ n' =√|−2,7| |1 , 15|
∆ n' =3,09
2

Jadi ( ∅´ ' ± ∆ ∅ ' )=(36,3 ± 1 ,7)°


Jadi ( n ' ± ∆ n' )=(1,42± 3,09)
 Untuk sudut dating ( ∅ )=7 0°

∅′ 𝛿∅′(∅′ − ∅ |𝛿∅′(∅′ − ∅′̅  Untuk sudut datang ( ∅ )=5 0 °


′̅ ) )|2 1. sin ∅ 1. sin 5 0
4 41 – 40,6 0,16 n' = = =1,49
1 = 0,4 sin ∅´ ' sin 31
4 41 – 40,6 0,16
1 = 0,4
2

0
Σ∅′ = 122
4
= -0,6
40 – 40,6 0,36

Σ = 0,68
∆ n' =
√|
−1. sin 50 . cos 31

2
2
sin 31
2
|1|2
|
∆ n' =√|−2,4| |1|
122 ∆ n' =2,4
∅´ '= =40,6 °
3
Jadi ( n ' ± ∆ n' )=(1 , 49± 2,4)
0,68 0,68
∆ ∅' =
√ 3−1
=
√ 2
=0,6 °

Jadi ( ∅´ ' ± ∆ ∅ ' )=(40,6 ± 0,6)°


VI. KESIMPULAN
 Untuk sudut datang ( ∅ )=6 0°
Kesimpulan adalah menjawab dari semua tujuan yang ada.
1. sin ∅ 1. sin 6 0 Jika tujuan dalam percobaan diharuskan untuk
n' = = =1 ,72
sin ∅´ ' sin 3 6,3 menunjukkan hasil praktikum, maka tunjukkan hasil
praktikum yang sesuai saja atau yang berkesinambungan
2 saja tidak semua ditunjukkan.
∆ n' =
√|−1. sin 60 . cos 36,3
2
sin 36,3
2
|1 , 7|

2
2
|
∆ n' =√|−2,7| |1 , 7|
∆ n' =4,5
Jadi ( n ' ± ∆ n' )=(1 ,72 ± 4,5)

 Untuk sudut datang ( ∅ )=7 0°

1. sin ∅ 1. sin 7 0
n' = = =1 , 43
sin ∅´ ' sin 40,6

2
∆ n' =
√|−1. sin 70 . cos 40,6
2
sin 40,6
2
|0,6|

2
2
|
∆ n' =√|−1,65| |0,6|
∆ n' =0,98
Jadi ( n ' ± ∆ n' )=(1 , 43 ±0,98)

V. PEMBAHASAN
Pembahasan memuat tentang membahas data
percobaan, hasil error/ralat, prinsip kerja praktikum, dan
semua hal yang penting dan sangat mempengaruhi hasil
percobaan dapat ditambahkan dalam pembahasan.
Pembahasan grafik dan penerapan praktikum dalam
kehidupan sehari hari dapat dimasukkan dalam sub bab
pembahasan. Penulisan pembahasan minimal 400 kata.
DAFTAR PUSTAKA
Bagian ini berisi referensi-referensi yang dijadikan acuan
selama menyusun laporan praktikum. Daftar pustaka sesuai
dengan sitasi yang diambil dan minimal 3 sumber.
Referensi yang diambil dapat berupa buku, modul, paper,
journal dll. Gunakan model sitasi IEEE. Penulisan nomor
sitasi dilakukan secara urut dengan memasukkannya ke
dalam kurung siku (brackets) [1]. Tanda baca dituliskan
setelah nomor acuan [2]. Gunakan nomor referensi
langsung di dalam kalimat, seperti [3] – tanpa
menggunakan “pustaka [3]” kecuali pada awal kalimat:
“Pustaka [3] menyatakan…”
Penulis dapat menggunakan bantuan Mendeley
dalam memasukkan sitasi. Beberapa contoh format
daftar pustaka yang mengacu pada model sitasi
IEEE:

[1] A. Ghosh, J. Zhang, J. G. Andrews, and R.


Muhamed, Fundamentals of LTE. Prentice Hall, 2010.

[2] F. Capozzi, G. Piro, L. A. Grieco, G. Boggia, and


P. Camarda, “Downlink Packet Scheduling in LTE
Cellular Networks: Key Design Issues and a Survey,”
IEEE Commun. Surv. Tutorials, vol. 15, no. 2, pp.
678–700, 2013.