Anda di halaman 1dari 32

PREMATURITAS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak Universitas Bhakti Kencana
Garut.

Oleh:

Aldi Rizaldi Novi Anjani


Asifa Nurfadilah Rian Nanda P
Ayu Gita Andini Siti Sarah N
Euis Sartika Uyan Supian
Febi Fauzi NH Vira Imelda A
Gilang Pratama P

Kelompok 1 Tingkat 2B

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA


GARUT
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Assalamu’alaikum. wr. wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan ridho-Nya

penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berisi tentang Prematuritas ini disusun

untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Anak Universitak Bhakti Kencana

Garut.

Menyadari banyaknya kekurangan dan keterbatasan dalam Ilmu Pengetahuan serta

kemampuan penulis, maka penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat

kesalahan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan bagi

perkembangan mata kuliah Keperawatan Anak Universitak Bhakti Kencana Garut.

Wassalamu’alaikum. wr. wb

Garut, Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................1
BAB II.............................................................................................................................................3
PEMBAHASAN..............................................................................................................................3
2.1 Definisi..................................................................................................................................3
2.2 Etiologi..................................................................................................................................3
2.3 Faktor Resiko Persalinan Prematur.......................................................................................4
2.4 Klasifikasi pada bayi premature............................................................................................5
2.5 Bagan Patofisiologi................................................................................................................7
2.6 Manifestasi Klinis..................................................................................................................8
2.7 Pengkajian..............................................................................................................................8
2.8 Pemeriksaan Fisik................................................................................................................10
2.9 Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................................13
2.10 Penatalaksanaan Medis......................................................................................................14
2.11 Penatalaksanaan Keperawatan...........................................................................................17
2.12 Analisis Data...................................................................................................................17
2.13 Rencana Asuhan Keperawatan.......................................................................................19
2.14 Pendekatan FCC dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada prematuritas.........21
2.15 Pendekatan Atraumatik Care.............................................................................................23
BAB III..........................................................................................................................................26
PENUTUP.....................................................................................................................................26
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................26
3.2 Saran................................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................27

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37 minggu)
dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik.
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi
dengan badan 1500gr atau kurang saat lahir, sehingga keduanya berkaitan dengan terjadinya
peningkatan mordibitas dan mortalitas neonates dan sering di anggap sebagai periode kehamilan
pendek (Nelson 1988 dan saccharin 1996).
Masalah kesehatan pada bayi premature, membutuhkan asuhan keperawatan dimana pada
bay premature sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan cairan-cairan dan
pengobatan/serta pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk meningkat derajat kesehatan
terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran perawat sebagai advokad, fasilitator, pelaksanaan
dan pemberi asuhan keperawatan kepada klien.
Periode segera setelah lahir merupakan awal dimana kehidupan yang tidak menyenangkan
bagi bayi. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan antara lingkungan kehidupan sebelumnya dan
sekarang.bagi bayi premature atau bayi yang lahir disertai penyulit atau komplikasi, tentunya
proses adaptasi ini akan menjadi sulit untuk dilaluinya. Bahkan, seringkali menjadi pemicu
timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebt tidak mampu melanjutkan kehidupan
ke fase lanjut (meninggal). Bayi berat badan lahir rendah atau premature mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian daripada bayi lain. Oleh
karenanya, diperlukan pengawasan ekstra yang dilakukan beberapa jam sampai beberapa hari
setelah bayi itu dilahirkan.
Penilaian dan tindakan pada bayi berat badan lahir rendah sangatlah penting karena dapat
mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat menimbulkan cacat atau
kematian.
Tujuan pemberian pelayan kesehatan pada bayi premature dengan asuhan keerawtan secara
komprehensif adalah untuk menyelesaikan masalah keperawatan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari prematuritas?
2. Apa etiologi dari prematritas?

1
3. Apa saja faktor resiko karena prematuritas?
4. Apa saja klasifikasi prematuritas?
5. Bagaimana manifestasi klinis prematuritas?
6. Bagaimana pengkajian/anamnesa prematuritas?
7. Bagaimana pemeriksaan fisik prematuritas?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang/laboratorium prematuritas?
9. Bagaimana penatalaksanaan medis pada prematritas?
10. Bagaimana penatalaksanaan keperawata pada prematuritas?
11. Apa analisa data prematuritas?
12. Bagaimana rencana asuhan keperawatan prematuritas?
13. Bagaimana pendekatan FCC dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada
prematuritas?
14. Bagaimana pendekatan atraumatic care dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada
kasus prematuritas?

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan 37
minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir. (Donna L Wong 2004).
Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari mulai hari
pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek. Prematuritas dan
berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan berat 1500
gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan
mortalitas neonatus.
Bayi premature adalah bayi yang lahir belum cukup bulan. Berasarkan kesepakatan
WHO, belum cukup bulan ini dibagi lagi menjadi 3, yaitu :
 Kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 37 minggu.
 Sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 34 minggu.
 Amat sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 28 minggu.
(Martono, Hari. 2007).
Prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari
terakhir haid / menstruasi ibu. (Hasuki, Irfan. 2007).
Prematuritas murni adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan untuk masa gestasi itu. (Hassan, Rusepno. 2005).

2.2 Etiologi
a. Faktor Maternal
Toksemia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes mellitus kelahiran
premature ini berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak mampu untuk
menahan fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari
plasenta.
b. Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi autosomal), fetus multi ganda, cidera radiasi
(Sacharin. 1996).
Faktor yang berhubungan dengan kelahiran premature :
a. Kehamilan

3
- Malformasi Uterus
- Kehamilan ganda
- TI. Servik Inkompeten
- KPD
- Pre eklamsia
- Riwayat kelahiran premature
- Kelainan Rh
b. Penyakit
- Diabetes Maternal
- Hipertensi Kronik
- UTI
- Penyakit akut lain
c. Sosial Ekonomi
- Tidak melakukan perawatan prenatal
- Status sosial ekonomi rendah
- Malnutrisi
- Kehamilan remaja
2.3 Faktor Resiko Persalinan Prematur
a. Resiko Demografik
- Ras
- Usia (<> 40 tahun)
- Status sosio ekonomi rendah
- Belum menikah
- Tingkat pendidikan rendah
b. Resiko Medis
- Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya
- Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau elektif)
- Anomali uterus
- Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
- Resiko kehamilan saat ini :

4
- Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil, masalah-masalah plasenta
(misal : plasenta previa, solusio plasenta), pembedahan abdomen, infeksi (misal :
pielonefritis, UTI), inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin
c. Resiko Perilaku dan Lingkungan
- Nutrisi buruk
- Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
- Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
- Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal
d. Faktor Resiko Potensial
- Stres
- Iritabilitas uterus
- Perestiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
- Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
- Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
- Defisiensi progesteron
- Infeksi (Bobak, Ed 4. 2005)

2.4 Klasifikasi pada bayi premature

a. Bayi prematur digaris batas

 37 mg, masa gestasi

 2500 gr, 3250 gr

 16 % seluruh kelahiran hidup

 Biasanya normal
Masalah :
- Ketidak stabilan
- Kesulitan menyusu
- Ikterik

5
- RDS mungkin muncul
Penampilan :
- Lipatan pada kaki sedikit
- Payudara lebih kecil
- Lanugo banyak
- Genitalia kurang berkembang

b. Bayi Prematur Sedang

 31 mg – 36 gestasi

 1500 gr – 2500 gram

 6 % - 7 % seluruh kelahiran hidup


Masalah :
- Ketidak stabilan
- Pengaturan glukosa
- RDS
- Ikterik
- Anemia
- Infeksi
- Kesulitan menyusu
Penampilan :
- Seperti pada bayi premature di garis batas tetapi lebih parah
- Kulit lebih tipis, lebih banyak pembuluh darah yang tampak

c. Bayi Sangat Prematur

 24 mg – 30 mg gestasi

 500 gr – 1400 gr

6
 0,8 % seluruh kelahiran hidup

 Masalah : semua
Penampilan :
- Kecil tidak memiliki lemak
- Kulit sangat tipis
- Kedua mata mungkin berdempetan
(Bobak. Ed 4. 2005)

7
2.5 Bagan Patofisiologi

8
2.6 Manifestasi Klinis
1. Berat badan <dari 2500gr, panjang badan kurang dari 45cm, lingkar kepala kurang dari
33cm, lingkar dada kurang dari 30cm.
2. Masa gestasi kurang dari 37 minggu.
3. Kepala lebih besar daripada badan.
4. Kulit: tipis transparan, rambut lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga, dan
lengan.
5. Lemak subkutan kurang.
6. Otot hipotonik lemah.
7. Reflex tonus otot masih lemah, reflek menghisap dan menelan serta reflek batuk belum
sempurna.
8. Tulang rawan dan daun telinga immature (elastic daun telinga masih kurang sempurna).
9. Pernapasan tak teratur bisa terjadi apnea(gagal napas).
10. Ekstremitas: paha abduksi, sendi lutut/kaki fleksi-lurus.
11. Kepala tidak mampu tegak.
12. Pernapasan sekitar 45-50kali/menit, dan frekuensi nadi 100-140/menit
13. Sering anemia.
14. Genetalia belum sempurna, labio minora belum tertutup oleh labia mayora dan pada laki-
laki testis belum turun.
15. Garis pada telapak kaki belum jelas dan kulit teraba halus.

2.7 Pengkajian
 Tanggal pengkajian : 24 april 2020
 Jam: 08.00 wib.
I. dentitas Klien
 Nama : By. Ny SP
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Tempat Tgl. Lahir : Garut 24 April 2020
 Umur : 1 hari
 Anak Ke: Satu (pertama)
 Nama Ayah: Tn. W

9
 Nama Ibu: Ny. SP
 Pendidikan Ayah: SLTA
 Pendidikan Ibu: SLTA
 Agama : Islam
 Suku/Bangsa: Sunda/Indonesia
 Alamat : Garut
 Tanggal MRS: 24 April 2020 (di Ruang Neonatologi)
 Diagnosa Medis: Prematur
II. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan utama : bayi lahir prematur (35minggu), BBLR(2200 gram), melalui SC
(Sectio Caesar).
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Hari pertama diumur 0 hari dirawat dalam inkubator, keadaan umum bayi lemah,
berat badan 2200 gram, refleks mengisap dan menelan masih lemah, dan bayi
masih belum bisa mengisap putting susu, terpasang selang OGT pada mulut bayi,
tanda-tanda vital bayi : suhu 36,4°c, denyut jantung 140x/menit, pernapasan
44x/menit, tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat, gerakan kaki dan tangan
masih lemah,integritas kulit tipis, lemak kulit kurang, tampak kemerahan, dan
tidak ada lanugo, dan bayi diberi ASI perah yang dibantu dengan susu formula
melalui selang OGT setiap 3 jam.
c. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
(1) Prenatal: ibu eklamsi.
(2) Natal: lahir melalui sectio caesaria.
(3) Post-Natal: apgar score 7-9; BB= 2200 gram; PB= 47 cm; LK= 32 cm;
LD=30 cm; LLA= 12 cm.
(4) Luka/operasi: tidak ada.
(5) Alergi: tidak ada.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan mempunyai penyakit hipertensi, sebelumnya pernah dirawat
dengan penyakit asma
e. Riwayat Kesehatan Keluarga

10
Ibu pasien mengatakan keluarga mempunyai penyakit hipertensi, tidak
mempunyai riwayat penyakit menular lainnya seperti tbc, hepatitis.

2.8 Pemeriksaan Fisik


Umur kehamilan biasanya antara 24 sampai 37 minggu, rendahnya berat badan saat
kelahiran (kurang dari 2500 gram), lapisan lemak subkutan sedikit atau tidak ada, bayi terlihat
kurus,kepala relatif lebihbesar dari pada badan dan 3 cm lebih lebar dibanding lebar dada, nilai
Apgar pada 1 sampai 5.

1. Kardiovaskular
Pada bayi prematur denyut jantung rata-rata 120-160/menit pada bagian apikal dengan ritme
yang teratur, pada saat kelahiran kebisingan jantung terdengar pada seperempat bagian
interkostal, yang menunjukkanaliran darah dari kanan ke kiri karena hipertensi atau atelektasis
paru. Pengkajian sistem kardiovaskuler dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Menentukan frekuensi dan irama denyut jantung.
2) Mendengarkan suara jantung.
3) Menentukan letak jantung tempat denyut dapat didengarkan, dengan palpasi akan
diketahui perubahan intensitas suara jantung.
4) Mendiskripsikan warna kulit bayi, apakah sianosis, pucat pletora, atau ikterus.
5) Mengkaji warna kuku, mukosa, dan bibir.
6) Mengukur tekanan darah dan mendiskripsikan masa pengisian kapiler perifer (2-3 detik)
dan perfusi perifer.

2. Gastrointestinal
Pada bayi prematur terdapat penonjolan abdomen, pengeluaran mekonium biasanya terjadi
dalam waktu 12 jam, reflek menelan dan mengisap yang lemah, tidak ada anus dan
ketidaknormalan kongenital lain. Pengkajian sistem gastrointestinal pada bayi dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1) Mendiskripsikan adanya distensi abdomen, pembesaran lingkaran abdomen, kulit yang
mengkilap, eritema pada dinding abdomen, terlihat gerakan peristaltik dan kondisi
umbilikus.

11
2) Mendiskripsikan tanda regurgitasi dan waktu yang berhubungan dengan pemberian
makan, karakter dan jumlah sisa cairan lambung.
3) Jika bayi menggunakan selang nasogastrik diskripsikan tipe selang pengisap dan cairan
yang keluar (jumlah, warna, dan pH).
4) Mendiskripsikan warna, kepekatan, dan jumlah muntahan.
5) Palpasi batas hati.
6) Mendiskripsikan warna dan kepekatan feses, dan periksa adanya darah sesuai dengan
permintaan dokter atau ada indikasi perubahan feses.
7) Mendiskripsikan suara peristaltik usus pada bayi yang sudah mendapatkan makanan.

3. Integumen
Pada bayi prematur kulit berwarna merah muda atau merah, kekuning-kuningan, sianosis,
atau campuran bermacam warna, sedikit vernix caseosa dengan rambut lanugo di sekujur tubuh,
kulit tampak transparan, halus dan mengkilap, edema yang menyeluruh atau pada bagian tertentu
yang terjadi pada saat kelahiran, kuku pendek belum melewati ujung jari, rambut jarang atau
bahkan tidak ada sama sekali, terdapat petekie atau ekimosis. Pengkajian sistem integumen pada
bayi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Menentukan setiap penyimpangan warna kulit, area kemerahan, iritasi, abrasi.
2) Menentukan tekstur dan turgor kulit apakah kering, halus, atau bernoda.
3) Mendiskripsikan setiap kelainan bawaan pada kulit, seperti tanda lahir, ruam, dan lain-
lain.
4) Mengukur suhu kulit dan aksila.

4. Muskuloskeletal
Pada bayi prematur tulang kartilago telinga belum tumbuh dengan sempurna yang masih lembut
dan lunak, tulang tengkorak dan tulang rusuk lunak, gerakan lemah dan tidak aktif atau letargik.
Pengkajian muskuloskeletal pada bayi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Mendiskripsikan pergerakan bayi, apakah gemetar, spontan, menghentak, tingkat
aktivitas bayi dengan rangsangan berdasarkan usia kehamilan.
2) Mendiskripsikan posisi bayi apakah fleksi atau ekstensi.

12
3) Mendiskripsikan perubahan lingkaran kepala (kalau ada indikasi) ukuran tegangan
fontanel dan garis sutura.

5. Neurologis
Pada bayi prematur reflek dan gerakan pada tes neurologis tampak resisten dan gerak reflek
hanya berkembang sebagian. Reflek menelan, mengisap dan batuk masih lemah atau tidak
efektif, tidak ada atau menurunnya tanda neurologis, mata biasanya tertutup atau mengatup
apabila umur kehamilan belum mencapai 25-26 minggu, suhu tubuh tidak stabil atau biasanya
hipotermi, gemetar, kejang dan mata berputarputar yang bersifat sementara tapi bisa
mengindikasikan adanya kelainan neurologis. Pengkajian neurologis pada bayi dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1) Mengamati atau memeriksa reflek moro, mengisap, rooting, babinski, plantar, dan refleks
lainnya.
2) Menentukan respon pupil bayi.

6. Pernapasan
Pada bayi prematur jumlah pernapasan rata-rata antara 40-60 kali/menit dan diselingi
dengan periode apnea, pernapasan tidak teratur, flaring nasal melebar (nasal melebar), terdengar
dengkuran, retraksi (interkostal, suprasternal, substernal), terdengar suara gemerisik saat
bernapas. Pengkajian sistem pernapasan pada bayi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Mendiskripsikan bentuk dada simetris atau tidak, adanya luka dan penyimpangan yang
lain.
2) Mendiskripsikan apakah pada saat bayi bernapas menggunakan otototot bantu
pernapasan, pernapasan cuping hidung, atau subternal, retraksi interkostal atau
subklavikular.
3) Menghitung frekuensi pernapasan dan perhatikan teratur atau tidak.
4) Auskultasi suara napas, perhatikan adanya stridor, crackels, mengi, ronki basah,
pernapasan mendengkur dan keimbangan suara pernapasan.
5) Mendiskripsikan sura tangis bayi apakah keras atau merintih.
6) Mendiskripsikan pemakaian oksigen meliputi dosis, metode, tipe ventilator, dan ukuran
tabung yang digunakan.

13
7) Tentukan saturasi (kejenuhan) oksigen dengan menggunakan oksimetri nadi dan sebagian
tekanan oksigen dan karbondioksida melalui oksigen transkutan (tcPO2) dan
karbondioksida transkutan (tcPCO2).

7. Perkemihan
Pengkajian sistem pekemihan pada bayi dapat dilakukan dengan cara mengkaji jumlah,
warna, pH, berat jenis urine dan hasil laboratorium yang ditemukan. Pada bayi prematur, bayi
berkemih 8 jam setelah kelahirandan belum mampu untuk melarutkan ekskresi ke dalam urine.

8. Reproduksi
Pada bayi perempuan klitoris menonjol dengan labia mayora yang belum berkembang atau
belum menutupi labia minora. Pada bayi lakilaki skrotum belum berkembang sempurna dengan
ruga yang kecil dan testis belum turun ke dalam skrotum.

9. Temuan sikap : Tangis bayi yang lemah, bayi tidak aktif dan terdapat tremor.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemantauan glukosa darah terhadap hipoglikemia
Nilai normal glukosa serum : 45 mg/dl
2. Pemantauan gas darah arteri
Normal untuk analisa gas darah apabila kadar PaO2 50 – 70 mmHg dan kadar PaCO2 35
– 45 mmHg dan saturasi oksigen harus 92 – 94 %.
3. Kimia darah sesuai kebutuhan
v Hb (Hemoglobin)
Hb darah lengkap bayi 1 – 3 hari adalah 14,5 – 22,5 gr/dl
v Ht (Hematokrit)
Ht normal berkisar 45% - 53%
v LED darah lengkap untuk anak – anak
Menurut :
Westerfreen : 0 – 10 mm/jam
Wintrobe : 0 – 13 mm/jam
v Leukosit (SDP)

14
Normalnya 10.000/ mm³. pada bayi preterm jumlah SDP bervariasi dari 6.000 – 225.000/
mm³.
v Trombosit
Rentang normalnya antara 60.000 – 100.000/ mm³.
v Kadar serum / plasma pada bayi premature (1 minggu)
Adalah 14 – 27 mEq/ L
v Jumlah eritrosit (SDM) darah lengkap bayi (1 – 3 hari)
Adalah 4,0 – 6,6 juta/mm³.
v MCHC darah lengkap : 30% - 36% Hb/ sel atau gr Hb/ dl SDM
MCH darah lengkap : 31 – 37 pg/ sel
MCV darah lengkap : 95 – 121 µm³
v Ph darah lengkap arterial prematur (48 jam) : 7,35 – 7,5
4. Pemeriksaan sinar sesuai kebutuhan
5. Penyimpangan darah tali pusat

2.10 Penatalaksanaan Medis


a. Pengaturan suhu
Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita hipotermia bila berada di lingkungan
yang dingin. Untuk mencegah hipotermia perlu diusahakan lingkunagn yang cukup
hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi okigen paling sedikit, sehingga
suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi di rawat di dalam incubator maka suhu untuk
bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 ˚C dan untuk bayi dengan berat
badan 2 – 2,5 kg adalah 34 ˚C agar ia dapta mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 ˚C.
Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36˚C - 37˚C adalah dengan
memakai alat “perspexheat shield” yang diselimutkan pada bayi dalam incubator. Alat ini
digunakan untuk menghilangkan panas karena radiasi. Akhir – akhir ini telah mulai
digunakan incubator yang dilengkapi dengan alat temperature sensor (thermistor probe).
Alat ini ditempelkan di kulit bayi. Suhu incubator dikontrol oleh alat servomechanism.
Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat dipertahankan pada derajat yang telah ditetapkan
sebelumnya. Alat ini sangat bermanfaat untuk bayi dengan lahir yang rendah.
Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini mungkin untuk pengawasan
mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernafasan, kejang dan

15
sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini – dininya dan tindakan
serta pengobatan dapat dilaksanakan secepatnya.
b. Pemberian ASI pada bayi premature
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik yang dapat diberikan oleh ibu pada
bayinya, juga untuk bayi premature. Komposisi ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan
premature berbeda dengan komposisi ASI yang dihasilkan oleh ibu yang melahirkan
cukup bulan dan perbedaan ini berlangsung selama kurang lebih 4 minggu. Jadi apabila
bayi lahir sangat premature (<30>
Agar ibu yang melahirkan prematur dapat berhasil memberikan ASI perlu dukungan dari
keluarga dan petugas, diajarkan cara memeras ASI dan menyimpan ASI perah dan cara
memberikan ASI perah kepada bayi prematur dengan sendok, pipet ataupun pipa
lambung.
1) Bayi prematur dengan berat lahir >1800 gram (> 34 minggu gestasi) dapat langsung
disusukan kepada ibu. Mungkin untuk hari – hari pertama kalau ASI belum mencukupi
dapat diberikan ASI donor dengan sendok / cangkir 8 – 10 kali sehari.
2) Bayi prematur dengan berat lahir 1500- 1800 gram (32 – 34 minggu), refleks hisap
belum baik, tetapi refleks menelan sudah ada, diberikan ASI perah dengan sendok /
cangkir, 10 – 12 kali sehari. Bayi prematur dengan berat lahir 1250 – 1500 gram (30 – 31
minggu), refleks hisap dan menelan belum ada, perlu diberikan ASI perah melalui pipa
orogastrik 12X sehari.
3) Bayi prematur dengan berat lahir <1250>
c. Makanan bayi
Pada bayi prematur, reflek hisap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung
masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang disamping itu
kebutuhan protein 3 – 5 gram/ hari dan tinggi kalori (110 kal/ kg/ hari), agar berat badan
bertambah sebaik – baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup
bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur 3 jam agar bayi tidak
menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan penghisapan cairan lambung.
Jumlah cairan yang diberikan untuk pertama kali adalah 1 – 5 ml/jam dan jumlahnya
dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya cairan yang diberikan

16
adalah 60mg/kg/hari dan setiap hari dinaikkan sampai 200mg/kg/hari pada akhir minggu
kedua.
d. Mencegah infeksi
Bayi prematur mudah sekali terserang infeksi. Ini disebabkan oleh karena daya tahan
tubuh terhadap infeksi kurang, relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya
fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik oleh karena itu perlu dilakukan
tindakan pencegahan yang dimulai pada masa perinatal memperbaiki keadaan sosial
ekonomi, program pendidikan (nutrisi, kebersihan dan kesehatan, keluarga berencana,
perawatan antenatal dan post natal), screening (TORCH, Hepatitis, AIDS), vaksinasi
tetanus serta tempat kelahiran dan perawatan yang terjamin kebersihannya. Tindakan
aseptik antiseptik harus selalu digalakkan, baik dirawat gabung maupun dibangsal
neonatus. Infeksi yang sering terjadi adalah infeksi silang melalui para dokter, perawat,
bidan, dan petugas lain yang berhubungan dengan bayi.
Untuk mencegah itu maka perlu dilakukan :
1. Diadakan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi dengan bayi yang tidak terkena
infeksi
2. Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang bayi
3. Membersihkan temapat tidur bayi segera setelah tidak dipakai lagi (paling lama
seorang bayi memakai tempat tidur selama 1 minggu untuk kemudian dibersihkan dengan
cairan antisptik)
4. Membersihkan ruangan pada waktu – waktu tertentu
5. Setiap bayi memiliki peralatan sendiri
6. Setiap petugas di bangsal bayi harus menggunakan pakaian yang telah disediakan
7. Petugas yang mempunyai penyakit menular dilarang merawat bayi
8. Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sebaik – baiknya
9. Para pengunjung hanya boleh melihat bayi dari belakang kaca
e. Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi prematur dan BBLR
akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30%
35% dengan menggunakan head box, karena konsentrasi O2 yang tinggi dalam waktu

17
lama akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi dan dapat menimbulkan
kebutaan.
f. Minum cukup
Selama dirawat, pihak rumah sakit harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai
kebutuhan tubuhnya. Selama belum bisa menghisap denagn benar, minum susu dilakukan
dengan menggunakan pipet.
g. Memberikan sentuhan
Ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. Bayi prematur
yang mendapat banyak sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat
badan yang lebih cepat daripada jika si bayi jarang disentuh.
h. Membantu beradaptasi
Bila memang tidak ada komplikasi, perawatan di RS bertujuan membantu bayi
beradaptasi dengan limgkungan barunya. Setelah suhunya stabil dan dipastikan tidak ada
infeksi, bayi biasanya sudah boleh dibawa pulang. Namunada juga sejmlah RS yang
menggunakan patokan berat badan. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya
mencapai 2kg kendati sebenarnya berat badan tidak berbanding lurus dengan kondisi
kesehatan bayi secara umum.(Didinkaem, 2007).

2.11 Penatalaksanaan Keperawatan


1. Meningkatkan fungsi pernapasan optimal.
2. Mempertahankan linkungan termal yang netral.
3. Mencegah atau menurunkan resiko terhadap potensial komplikasi.
4. Mempertahankan hemostasis melalui regulasi nutrisi dan hidrasi.
6. Membantu mengembankan unit keluarga sehat .
II.12 Analisis Data
Data Etiologi Masalah
S: - Prematuritas Ketidak efektipan pola napas
O: RR = 44x/menit ↓
Faktor ibu

Dinding otot Rahim lemah

Bayi lahir premature (BBLR/
BB < 2500 gr)

Fungsi organ belum baik

18
Paru

Pertumbuhan dinding dada
dan vaskuler paru belum
sempurna

Insufiensi pernafasan

Penyakit membrane hialin

Ketidak efektifan pola napas
S: - Prematuritas Ketidak adekuatan pemberian
O: - Bayi belum bisa ↓ ASI
menghisap putting susu Faktor janin
- Bayi diberi ASI perah ↓
yang dibantu oleh Dinding otot Rahim bagian
sufor melalui selang bawah lemah
OGT setiap 3 jam ↓
Bayi premature (BBLR/BB <
2500 gr)

Fungsi organ belum baik

Otak

Reflek menelan belum
sempurna

Ketidak adekuatan pemberian
ASI
S: - Prematuritas Ketidak seimbangan nutrisi
O: - Refleks menghisap dan ↓ kurang dari kebutuan tubuh.
menelan bayi masih lemah Faktor ibu
- BB = 2200 gram

Dinding otot Rahim bawah
lemah

Bayi Prematur (BBLR/ BB <
2500 gr)

Otak

Reflek menelan belum
sempurna

19

Ketidak seimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
II.13 Rencana Asuhan Keperawatan
I. Ketidak Efektifan pola napas
Airway Management
1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
2) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas bantuan.
3) Lakukan suction bila perlu.
4) Auskulatasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan.
5) Monitor respirasi dan status O2.
Oxygen Therapy
1) Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea.
2) Pertahankan jalan nafas yang paten.
3) Atur peralatan oksigenasi.
4) Monitor aliran oksigen.
5) Pertahankan posisi pasien.
6) Observasi adanya tanda-tanda distres respirasi seperti retraksi, takipneu, apneu, sianosis.
Vital Sign Monitoring
1) Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan.
2) Monitor frekuensi dan kualitas nadi.
3) Monitor frekuensi dan irama pernafasan.
4) Monitor suara paru.
5) Monitor pola pernapasan abnormal.
6) Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit.
7) Monitor adanya sianosis perifer.
8) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.
II. Ketidak Adekuatan pemberian ASI
Bottle Feeding
1) Posisikan bayi semi fowler.
2) Letakkan pentil dot di atas lidah bayi.
3) Monitor atau eveluasi reflek menelan sebelum memberikan susu.

20
4) Tentukan sumber air yang digunakan untuk mengencerkan susu formula yang kental atau
dalam bentuk bubuk.
5) Pantau berat badan bayi setiap hari.
6) Bersihkan mulut bayi setelah bayi diberikan susu.
Lactation Suppression
1) Fasilitasi proses bantuan interaktif untuk membantu mempertahanan keberhasilan proses
pemberian ASI.
2) Sediakan informasi tentang laktasi dan teknik memompa ASI (secara manual atau
elektrik), cara mengumpulkan dan menyimpan ASI.
III.Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Nutrition Management
1) Kaji adanya alergi.
2) Kaji kesiapan bayi untuk menyusu langsung pada ibu.
3) Berikan nutrisi secara parenteral jika diperlukan.
4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
bayi.
5) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
Nutrition Monitoring
1) Monitor adanya penurunan berat badan.
2) Monitor terjadiya kulit kering dan perubahan pigmentasi.
3) Monitor turgor kulit.
4) Monitor kekeringan dan kusam pada rambut.
5) Monitor terjadinya muntah.
6) Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht.
7) Monitor pertumbuhan dan perkembangan bayi.
8) Monitor terjadinya pucat, kekeringan, dan kemerahan pada jaringan konjungtiva.
9) Monitor kalori dan intake nutrisi.
10) Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
11) Catat jika lidah berwarna magenta atau merah tua.

21
II.14 Pendekatan FCC dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada prematuritas
Berdasarkan dimensi kepastian, didapatkan 3 tema kebutuhan yang dirasakan ibu sebagai
kebutuhan paling penting, yaitu:
(1) Jawaban yang jujur atas pertanyaan yang diajukan mengenai kondisi bayi.
Partisipan mengharapkan mendapatkan informasi yang sejujur-jujurnya dan tidak
ditutup-tutupi dari perawat mengenai kondisi bayinya.
(2) Jaminan dalam penanganan bayi
Merasa yakin dan percaya bahwa bayi mendapatkan perawatan terbaik merupakan
salah satu jaminan dalam penanganan bayi bagi partisipan. Hal ini dibutuhkan partisipan
untuk merasa tenang dan yakin bahwa bayinya mendapatkan pelayanan dan penanganan
terbaik, sehingga bayinya berada dalam kondisi yang tenang dan nyaman. Jaminan tersebut
diperoleh misalnya dengan kehadiran orang tua di dekat anak pada saat dilakukan tindakan.
(3) penjelasan terhadap hal-hal yang tidak dimengerti
Jika terdapat hal-hal yang tidak dimengerti terkait kondisi bayinya, partisipan
membutuhkan penjelasan dari dokter atau perawat yang menangani bayinya.
Berdasarkan dimensi informasi, didapatkan 3 tema kebutuhan yang dirasakan ibu sebagai
kebutuhan paling penting, yaitu:
(1) Informasi yang jelas mengenai kondisi, perkembangan, dan tindakan yang dilakukan
terhadap bayi
Kondisi bayi pada saat dirawat di NICU merupakan kondisi kritis. Kebutuhan
informasi pada partisipasi tidak hanya diperlakukan pada saat terjadi perubahan kondisi.
(2) Inisiatif perawat untuk menyampaikan informasi dengan cara yang baik
Perawat harus berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
orang tua. Partisipan mengharapkan perawat dapat memberikan informasi secara rutin atas
inisiatifnya sendiri dan cara penyampaiannya pun baik, tanpa diminta.
3) Terlibat dalam membuat keputusan tentang rencana perawatan bayi
Bayi dengan kondisi kritis membutuhkan berbagai tindakan medis dan perawatan.
Partisipan merasa perlu untuk terlibat dalam membuat keputusan tentang rencana perawatan
bayi.
Berdasarkan dimensi kedekatan didapatkan 3 tema kebutuhan yang dirasakan ibu sebagai
kebutuhan paling penting, yaitu:

22
(1) Berada di dekat bayi yang sakit
Ketika ada salah satu anak yang dirawat, apalagi dirawat di ruang perawatan
intensif, partisipan menginginkan dekat dengan anak yang dicintainya.
(2) Kontak dengan bayi
Perawatan bayi di ruang perawatan intensif menyebabkan bayi minim mendapat
sentuhan dan komunikasi dari orang tua. Bagi partisipan dapat kontak dengan bayinya
merupakan salah satu kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhinya.
(3) Diberitahukan mengenai perubahan penting kondisi bayi
Bagi partisipan perubahan penting mengenai kondisi bayi juga dibutuhkan oleh orang
tua untuk memastikan kondisi bayinya.

Berdasarkan dimensi dukungan, didapatkan 3 tema kebutuhan yang dirasakan ibu sebagai
kebutuhan paling penting, yaitu:
(1) Dukungan Keluarga
Pada penelitian ini semua partisipan mendapatkan dukungan dari keluarga. Peneliti
menemukan bahwa partisipan membutuhkan keluarga sebagai sumber dukungan, baik secara
moril ataupun materil.
(2) Dukungan spiritual Dukungan spiritual sangat dibutuhkan partisipan, terutama dukungan
untuk mendoakan kesembuhan bayi.
(3) Dukungan sesama orang tua
Dukungan sesama orang tua yang memiliki bayi dalam kondisi yang sama dapat
memberikan penguatan tersendiri kepada partisipan. Dukungan tersebut diantaranya melalui
berbagi pengalaman dan perasaan yang dirasakan terkait perawatan bayi mereka.
Berdasarkan dimensi kenyamanan, didapatkan 3 tema kebutuhan yang dirasakan ibu
sebagai kebutuhan paling penting, yaitu:
(1) Penerimaan yang baik dari petugas kesehatan terhadap orang tua
Bagi partisipan, penerimaan perawat yang baik dapat membuatnya merasa dihargai dan
dianggap sebagai bagian dari perawatan bayinya. Penerimaan petugas kesehatan, baik dari
perawat maupun dokter terhadap orang tua sudah baik.
(2) perawat melakukan bayi dengan baik dan peduli

23
Selain penerimaan yang baik dari petugas kesehatan terhadap orang tua, partisipan juga
merasakan bahwa perawat juga harus memperlakukan bayi dengan baik serta memiliki rasa
kepedulian terhadap bayi. Pada saat partisipan menyaksikan perawat memperlakukan
bayinya dengan baik dan penuh rasa peduli, maka hal ini dapat membuat partisipan
menjadi lebih tenang.
(3) Ruang tunggu dan fasilitasnya yang memadai
Ruang tunggu merupakan salah satu kebutuhan apalagi bagi orang tua yang tinggal
jauh dari rumah sakit. Perawatan bayi di NICU membuat partisipan tidak mau meninggalkan
rumah sakit walaupun hanya sebentar. Partisipan senantiasa menunggu kabar perkembangan
bayi walaupun dirinya sampai merasakan sakit, kurang tidur, dan kelelahan. Partisipan
mengungkapkan bahwa ruang tunggu harus dilengkapi kamar mandi, tempat ibadah, kursi
tunggu, tempat memompa ASI bagi ibu, dan lain-lain.

2.15 Pendekatan Atraumatik Care


1. Definisi atraumatic care
Atraumatic care adalah penyediaan asuhan terapeutik dalam lingkungan,oleh personel, dan
melalui penggunaan intervensi yang menghapuskan ataumemperkecil distres psikologis dan fisik
yang diderita oleh anak-anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Wong, et al.,
2009). Atraumatic care adalah bentuk perawatan terapeutik yang diberikan olehtenaga kesehatan
dalam tatanan pelayanan kesehatan anak, melalui penggunaan tindakan yang dapat mengurangi
distres fisik maupun distres psikologis yang dialami anak maupun orang tua (Supartini, 2014).
2. Prinsip atraumatic care
Supartini (2014) menyatakan bahwa prinsip atraumatic care dibedakan menjadi empat, yaitu:
mencegah atau menurunkan dampak perpisahan antara orang tua dan anak dengan menggunakan
pendekatan family centered, meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan
anaknya, mencegah atau meminimalkan cedera fisik maupun psikologis (nyeri) serta
memodifikasi lingkungan fisik ruang perawatan anak.
3. Intervensi mencegah atau menurunkan cedera fisik maupun psikologis (nyeri)
Pengkajian nyeri merupakan komponen penting dalam proses keperawatan terkait mengurangi
atau mencegah dampak nyeri. Dalam pengkajian nyeri penting bagi perawat menggunakan
definisi operasional nyeri yang diungkapkan oleh McCaffery dan Pasero (1999) dalam Wong dan
koleganya (2009) yaitu nyeri adalah apapun yang dikatakan oleh orang yang mengalaminya, ada

24
pada saat orang tersebut mengatakan itu terjadi. Kelahiran prematur adalah persalinan sebelum
memasuki kehamilan pekan ke-37 atau ke-38. Hal ini dipicu oleh beberapa sebab seperti riwayat
persalinan prematur sebelumnya, sakit kronis ibu hamil, komplikasi kehamilan tertentu dan ibu
hamil yang mengalami tekanan jiwa serta pertumbuhan janin yang terhambat atau tidak
seimbang (Manuaba, 2007).Pada bayi prematur kematangan semua organ belum tercapai dengan
baik. Keadaan ini menyebabkan perawatan pada bayi prematur harus dilakukan dengan baik
terutama menjaga kestabilan suhu dan frekuensi denyut jantung. Bayi yang dilahirkan dengan
berat badan kurang dari 2500 gram dua puluh kali lebih besar mengalami kematian di bulan
pertama kehidupannya, dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan yang normal.
Resiko akan meningkat lebih tinggi pada bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari
1500 gram (Whaley & Wong, 2008). tindakan yang sesuai dengan prinsip atraumatic care.
Alternatif Pemecahan Yang Dapat Dilakukan Penatalaksanaan nyeri secara non farmakologi
dapat dilakukan dengan cara terapi fisik (meliputi stimulasi kulit, pijatan, kompres hangat dan
dingin, TENS, akupuntur dan akupresur) serta kognitif dan biobehavioralterapi (meliputi latihan
nafas dalam, relaksasi progresif, rhytmic breathing, terapi musik, bimbingan imaginasi,
biofeedback, distraksi, sentuhan terapeutik, meditasi, hipnosis, humor dan magnet) (Blacks dan
Hawks, 2009). Alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan untuk respon penurunan
nyeri adalah aroma terapi. Pengendalian nyeri non farmakologi menjadi lebih murah, mudah,
efektif dan tanpa efek yang merugikan (Potter& Perry, 2005). Salah satu penyembuhan non
farmakologis untuk menurunkan nyeri prosedur invasif pengambilan darah dalam karya tulis ini
adalah dengan menggunakan aromaterapi lavender dan aromaterapi lemon.
1.Definisi Aromaterapi
Aromaterapi adalah suatu metode dalam relaksasi yang menggunakan minyak esensial
dalam pelaksanaannya berguna untuk meningkatkan kesehatan fisik, emosi dan spirit seseorang.
Berbagai efek minyak esensial, salah satunya adalah menurunkan intensitas nyeri dan tingkat
kecemasan. Minyak esensial atau minyak atsiri yang bersifat menurunkan/menghilangkan rasa
nyeri, antara lain : nankincense, cengkih, wintergreen, lavender, peppermint dan eucalypyus
(Koensoemardiyah, 2009).
2. Jenis Aromaterapi dan Manfaatnya
Aromaterapi mempunyai beberapa keuntungan sebagai tindakan supportive. Beberapa
keuntungan dari penggunaan aromaterapiberdasarkan jenisnya, yaitu :

25
a. Lavender
Minyak lavender adalah salah satu aromaterapi yang terkenal memiliki efek detatif,
hypnotic dan anti-neurodepresive baik pada hewan maupun pada manusia. Karena minyak
lavender dapat memberikan rasa tenang, sehingga dapat digunakan sebagai manajemen stress.
Kandungan utama dalam minyak lavender adalah linalool asetat yang mampu mengendorkan dan
melemaskan sistem kerja urat-urat syaraf dan otot-otot yang tegang.
b. Lemon
Lemon merupakan aroma yang digunakan untuk menenangkan suasana. Aromanya yang
menggemaskan dapat meningkatkan rasa percaya diri, merasa lebih santai, dapat menenangkan
syaraf, tetapi tetap membuat kita sadar. Minyak lemon untuk tubuh bermanfaat untuk mengatasi
masalah pencernaan, untuk meredakan sakit dan nyeri pada persendian dan diterapkan untuk
kondisi seperti rematik dan asam urat, untuk menurunkan tekanan darah dan membantu untuk
meredakan sakit kepala, dengan kandungan limonea yang banyak dibandingkan senyawa lainya,
membuat minyak lemon dapat berfungsi sebagai aromaterapi (Clarke, 2009).

26
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bayi premature adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa emperhatikan berat
badan. Sebagian bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi
premature.
Faktor yag menjadipenyebab premature adalah Faktor Materna dan Faktor Fetal sedangkan
faktor lain adalah kehamilan, penyakit dan sosial ekonomi.
Bayi berat badan lahir rendah atau premature mempunyai kemungkinan lebih besar untuk
menderita sakit atau kematian daripada bayi lain. Oleh karenanya, diperlukan pengawasan ekstra
yang dilakukan beberapa jam sampai beberapa hari setelah bayi itu dilahirkan.
Penilaian dan tindakan pada bayi berat badan lahir rendah sangatlah penting karena dapat
mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat menimbulkan cacat atau
kematian.

3.2 Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu
pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa keperawatan, namun
penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya

27
DAFTAR PUSTAKA

Boback. 2004. Keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal. Ed. 2. Jakarta : EGC.

Dorlan, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Media

Asculapius FKUI

Saccharin, Rossa M. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Ed. 2. Jakarta : EGC.

Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

28