Anda di halaman 1dari 23

CONTOH SOAL-SOAL BREVET B

PPh Badan

SPT PPh Badan (1771)

Kode Etik Profesi

KUP/PPSP/BPSP

Akuntansi Perpajakan

PPh Pasal 22/23/26

BM, PBB, BPHTB

PPN

SPT PPN

PPh Pasal 21 & SPT 1721

PPh Badan

120 Menit

1. Dalam tahun 1999 PT. GERHANA memperoleh/menerima


penghasilan-penghasilan sebagai berikut:

a. Penghasilan dari persewaan ruangan Rp. 500


sebesar juta
b. Penghasilan dari persewaan peralatan Rp. 100
kantor juta
c. Penghasilan bunga deposito berjangka Rp. 40
juta
d. Penghasilan berupa deviden dari PT. Widuri Rp. 50
sebesar juta

Pertanyaan :

a. Jelaskan perlakuan perpajakan atas keempat jenis penghasilan di


atas!
b. Pada akhir tahun 1999, apakah PT. GERHANA masih harus
memasukkan SPT Tahunan PPh Badan? Jika tidak, jelaskan
alasannya!
c. Biaya-biaya (per fiskal) yang dikeluarkan dalam tahun 1999
adalah sebesar Rp. 240 juta.

Pertanyaan :

Apakah seluruh biaya-biaya tersebut dapat dibebankan ? Berikan


Penjelasan !

2. Data-data tahun 1999 BUT #Y# (dI Indonesia) adalah sebagai


berikut :

• Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 800.000.000,-

• Pajak-pajak tahun berjalan yang dipotong oleh pihak ke-3 selama


tahun berjalan :

Ü PPh Pasal 22 Rp.


42.000.000,-
Ü PPh Pasal 22 Rp.
24.000.000,-

• Angsuran PPh Pasal 25 yang dibayar selama tahun berjalan Rp.


120.000.000,-

• Dalam tahun berjalan BUT #Y# yang telah memotong pajak-


pajak sebagai berikut:
Ü PPh Pasal 21 atas jasa Rp.
profesional 36.000.000,-
Ü PPh Pasal 23 atas sewa mesin Rp.
foto copy 28.000.000,-

Pertanyaan :

a. Berapa jumlah PPh Badan tahun 1999 yang masih harus dibayar
diakhir tahun (PPh Pasal 29)
b. Berapa Branch Profit Tax/ PPh Pasal 26 (4) yang terutang ?
c. Jika Branch Profit tersebut tidak dikirim ke Kantor Pusatnya di
luar negeri, fasilitas pajak apakah yang diperoleh BUT #Y#
tersebut?

3. PT. A. menghitung PPh-nya tahun 1999, kemudian membagikan


sisa laba sesudah dikurangi pajaknya sebagaimana rincian
penghitungan di bawah ini :

• Laba berish
200.000.000,- (I)
• PPh terutang Pasal 17
28.000.000,- (II)
• Kredit Pajak :

Ü PPh Pasal 23 10.000.000

Ü PPh Pasal 25 30.000.000

Ü PBB 2.500.000

Ü PPh sewa gedung 2.500.000


Jumlah 45.000.000
(III)
• PPh kurang bayar (II-III) 6.250.000
• Sisa laba sesudah 148.750.000
dikurangi pajak (I-II) (IV)

Sisa laba tersebut pada (IV) dialokasikan sebagai berikut :


• Ditahan untuk modal 50.000.000
kerja 148.750.000
(IV)
• Dibagikan kepada :
Ü Pemegang 50.000.000
saham
Ü Dana 10.000.000
Pensiun Pegawai
Ü Tugas
belajar 10 karyawan
belajar ke luar negeri 20.000.000
Ü Pesta 10 5.000.000
tahun PT. A
Ü Gratifikasi 3.750.000
karyawan
Ü Tantime 10.000.000
direktur-direktur
Jumlah
148.750.000 (V)
Sisa laba sesudah dialokasi NIHIL
(IV-V)

Pertanyaan :

a. Betulkan penghitungan PPh terutang tahun 1999 PT. A sesuai


ketentuan UU PPh 1994.
b. Hitunglah jumlah PPh PT. A yang benar.

Sebutkan pasal-pasal yang berkenaan dengan jawaban Saudara!

4. PT. A menyerahkan tanahnya seluas 3 Ha, sebagai setoran modal


kepada PT. X pada tahun 2000.

Jika diketahui :

• Harga perolehan tanah


(1985) 180.000.000
• Biaya pematangan tanah
(1999) 1.000.000.000
• Bunga Bank (1999)
200.000.000
• Biaya Pemagaran (1999)
100.000.000
• Upah/gaji pegawai (1999)
100.000.000
• Harga jual tanah /NJOP
9.000.000.000
• PBB 5% x 9.000.000.000
450.000.000
• Nilai Nominal saham yang
diserahkan oleh PT. X
kepada PT. A
5.000.000.000

Ditanyakan :

a. Apakah atas penyerahan tanah PT. A kepada PT. X terutang PPh?


Jelaskan pasalnya?
b. Jika terutang PPh berapa besar pajak yang harus dibayar oleh PT.
A?
c. Apakah atas selisih lebih antara harga jual tanah PT. A dengan
harga nominal saham PT. X terutang PPh ? Sebutkan pasalnya !

Catatan : Tanah seluas 3 Ha. Sejak dibeli 1985 s/d 1998 tidak
diapa-apakan, baru dalam tahun 1999 dimatangkan dan
dipagari.

SPT PPh Badan (1771)

150 Menit

B
PT. ARTHA yang bergerak dalam bidang industri pakaian jadi meminta
bantuan Anda mengisi Tahunan PPh Tahun 2000 berdasarkan data di
bawah ini :

(Dalam Jutaan
Rupiah)

Penjualan Rp.
17.500,-
Harga Pokok Penjualan Rp.
15.750,-
LABA BRUTO Rp.
1.750,-

Biaya Operasi dan Umum

1. Gaji dan tunjangan, honorarium Rp.


250,00
2. Biaya pajak (PPh Pasal 21) Rp.
6,00
3. Biaya Administrasi Rekening Giro Rp.
0,50
4. Fiskal Luar Negeri Rp.
1,50
5. Biaya perjalanan dinas Rp.
25,00
6. Biaya pengangkutan Rp.
10,00
7. Biaya pemasaran Rp.
15,00
8. Bunga Pinjaman kepada Bank Rp.
Mandiri 36,00
9. Biaya Training karyawan Rp.
10,00
10. Sewa Gedung Kantor Rp.
15,00
11. Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Rp.
20,00
12. Kerugian dari cabang Singapore Rp.
27,00
13. Penghapusan piutang Rp.
10,00
14. Biaya Entertainment Rp.
20,00
15. Biaya listirk, air, gas, telepon, fax Rp.
20,00
16. Biaya Impor Rp.
18,00
17. Sumbangan Rp.
18,00
18. Biaya alat kantor Rp.
14,00
19. Biaya pakaian seragam Rp.
15,00
20. PKB, PBB, Bea Materai Rp.
5,00
21. Tunjangan makan dan Rp.
pengobatan karyawan 40,00
22. Penyusutan aktiva tetap Rp.
90,00
23. Premi Asuransi Kebakaran Rp.
35,00
24. Biaya jasa teknik Rp.
15,00
25. Bantuan Untuk Gerakan Nasional
Orang Tua Asuh
Rp.
10,00
26. Santunan untuk Gerakan Peduli Rp.
Aceh 10,00
27. Bantuan untuk Gerakan Peduli Rp.
Ambon 4,00
28. Biaya Rekreasi Rp.
10,00
Total biaya Rp.
750,-

LABA USAHA Rp.


1.000,

Pendapatan lain-lain:
1. Deviden, dari PT. X Rp.
20,00
2. Sewa gudang dari PT. ABC (Setelah Rp.
PPh) 47,00
3. Keuntungan dari pembebasan Rp.
utang 75,00
4. Laba dari Cabang Brunai Rp.
Darusalam 66,00
5. Keuntungan pengalihan hak atas Rp.
tanah 60,00
6. Sewa mesin dari PT. XYZ (setelah Rp.
PPh) 23,50
7. Jasa Giro dari Bank Bumi Daya Rp.
0,20
8. Royalti dari PT. PQR (setelah PPh) Rp.
34,00
Rp.
325,7

LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN Rp.


1.325,7

KETERANGAN TAMBAHAN

1. AKTIVA TETAP PER 1-1-2000 (dalam jutaan rupiah)

JENIS AKTIVA TAHUN BELI HARGA BELI UNIT


TETAP
Eks Golongan 2 27-10-1994 1000 30
6500
Eks Golongan 3 24-12-1993 500 10
700
Kelompok 1 04-06-1997 300 5
5000
Kelompok 2 24-01-1996 5

Kelompok 3 27-10-1997 3

Bangunan 04-06-1994 5
Permanen
2. Penyusutan yang dialokasikan terhadap biaya operasi dan umum adalah total
10% dari total beban penyusutan dengan menggunakan metode saldo menurun

3. INFORMASI LAINNYA :

a. Pendapatan sewa dari PT. ABC adalah untuk periode 30 bulan terhitung 1
Juli 2000

b. Pendapatan sewa dari PT. XYZ adalah untuk periode 24 bulan terhitung 1 Juli
2000

c. Pendapatan sewa sejumlah Rp. 15 juta adalah untuk periode 18 bulan


terhitung 1 Juli 2000.

4. PAJAK-PAJAK

a. PPh Pasal 22 yang dipungut Bank Mandiri Rp. 5.500.000


b. PPh Pasal 23 yang telah dipotong pihak lain Rp. 7.530.000
c. PPh Pasal 25 yang telah dibayar Rp. 50.000.000
d. Pajak yang dibayar di Brunai Darussalam Rp. 6.600.000
e. STP PPh Pasal 25 untuk masa Oktober sampai
dengan Desember 2000 namun belum dilunasi
(termasuk bunga dan denda Rp. 270.000)

Rp. 6.270.000
f. PPh Pengalihan hak atas tanah yang disetor Rp. 5.000.000

Kode Etik Profesi

90 Menit

A/B
Jawablah semua pertanyaan yang diajukan di bawah ini dengan
benar !

1. Apa yang dimaksud dengan Kode Etik IKPI? Jelaskan jawaban


Saudara!

2. Apa pula yang diatur dalam Kode Etik IKPI itu? Apa yang perlu
dibentuk dalam rangka pelaksanaan Kode Etik IKPI?

3. Apa saja syarat-syarat dalam Kode Etik IKPI mengenai Kepribadian


Konsultan Pajak Indonesia tentang kewajibannya?

4. Apa pula hal yang tercantum tidak diperkenankan untuk dilakukan


oleh seorang Konsultan Pajak Indonesia?

5. Bagaimana hubungan Konsultan Pajak Indonesia dengan rekan


seprofesinya ? Apa saja yang tidak diperkenankan dan apa
kewajibannya ?

6. Apa y ang harus dilakukan oleh seorang Konsultan Pajak Indonesia


bila terjadi sengketa antar sesama anggota IKPI dalam masalah
profesi ?

7. Apa-apa sajakah yang merupakan kewajiban dan larangan bagi


seorang Konsultan Pajak Indonesia dalam menjalankan
hubungannya dengan klien ?

Sebutkan dengan terperinci !


8. Sanksi-sanksi apa sajakah yang dijatuhkan kepada seorang
Konsultan Pajak Indonesia bila secara nyata telah terbukti
melanggara kode etik profesi IKPI?

Sebutkan dan jelaskan jawaban Saudara!

KUP/PPSP/BPSP

120 Menit

I. MASALAH NPWP

Ke mana dilakukan pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP bagi:

1. WP pada umumnya ?

2. WP BUMN ?

3. WP BUMD yang berkedudukan di wilayah DKI ?

4. WP BUMD yang berkedudukan di luar wilayah DKI ?

II. MASALAH PEMBAYARAN / PENAGIHAN

1. Menurut memori penjelasan Pasal 12 UU KUP :

a. Kapan pada prinsipnya pajak itu terutang ?

b. Untuk kepentingan administrasi perpajakan, terutangnya pajak itu dibagi


dalam 3 kelompok, ialah :

1) Pajak yang terutang pada suatu saat.

Jenis pajak apa yang termasuk dalam kelompok ke 1) itu ?

2) Pajak yang terutang pada akhir masa pajak.

Jenis pajak apa yang termasuk dalam kelompok ke 2) itu ?


3) Pajak yang terutang pada akhir tahun pajak.

Jenis pajak apa yang termasuk dalam kelompok ke 3) itu ?

c. Pajak-pajak yang terutang yang termasuk dalam kelompok kesatu dan kedua,
menurut Pasal 9 (1) UU KUP itu kapan tanggal jatuh tempo pembayarannya?

d. Pajak yang terutang termasuk dalam kelompok ketiga, menurut Pasal 9 (2)
UU KUP itu kapan tanggal jatuh tempo pembayarannya ?

2. Dari hasil penelitian SPT PPh Tahunan Tahun 1999 (Tahun Pajak = Tahun
Takwim) dari seorang WP X diketahui SPT-nya baru disampaikan dengan 30
April 2000, dan PPh 29 yang terutang sebesar Rp. 200 juta baru dibayar tanggal
29 April 2000 yang ternyata dari SSP yang dilampirkan dalam SPT-nya. WP
tersebut dikenakan sanksi administrasi berupa apa saja, berapa besarnya dan
diatur dimana ?

III. MASALAH SKPKB

Pajak apa saja yang dapat ditagih dengan :

1. SKPKB Pasal 13 (1) huruf a ? Jelaskan atas jawaban Saudara itu ?

2. SKPKB Pasal 13 (1) huruf b ? Jelaskan atas jawaban Saudara itu ?

3. SKPKB Pasal 13 (1) huruf c ? Jelaskan atas jawaban Saudara itu ?

4. SKPKB Pasal 13 (1) huruf d ? Jelaskan atas jawaban Saudara itu ?

IV. MASALAH KEBERATAN/BANDING

1. Bagaimana cara WP mengajukan keberatan terhadap suatu surat ketetapan pajak?

2. Bagaimana kalau keberatannya itu ditujukan terhadap ketetapan yang ditentukan


dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b dan huruf d?

3. Bagaimana kalau keberatannya itu ditolak?

4. Bagaimana caranya WP mengajukan banding?


Akuntansi Perpajakan

120 Menit

PT. KKN merupakan pedagang besar untuk barang elektronik, didirikan pada awal tahun
1997 dan telah mempunyai NPWP serta terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak. Tahun
buku perusahaan dimulai 1 Januari dan ditutup 31 Desember. Sejak tahun 1997 sampai
tahun 1999, perusahaan sudah memperoleh laba dan membayar PPh Pasal 25 dan PPh
Pasal 29 sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.

Tahun buku 1999, perusahaan memperoleh laba komersial sebelum


pajak sebesar Rp. 120.000.000, dan telah membayar cicilan PPh Badan
(Pasal 25) berdasar pajak terutang tahun lalu sebesar Rp. 21.250.000.

Berikut adalah informasi atas pos-pos (perkiraan) pada tahun buku


1999 untuk dianalisis berdasar akuntansi pajak untuk tujuan
memperoleh laba fiskal :

1. Deposito

Perusahaan telah menerima dan mencatat penghasilan deposito (net of tax) sebesar Rp.
10.200.000. Penghasilan bunga deposito tersebut berasal dari Deposito Rupiah dan
Deposito dalam US dollar. Khusus untuk deposito dalam dollar sebesar US $ 10.000,
terjadi peningkatan nilai pokok karena perubahan kurs dari US $ 1 = Rp. 7.000 menjadi
US $ 1 = Rp. 8.000 per 31 Desember. Perusahaan telah mengakui dan mencatat kenaikan
kurs tersebut sebagai penghasilan pada akhir tahun.

2. Investasi sementara dalam saham (Marketable Securities)


Selain aktivitas operasional, perusahaan juga, atas dana yang
idle, melakukan investasi sementara dengan membeli saham PT. Ajeg
sebanyak 100.000 lembar dan diperoleh dengan harga keseluruhan
sebesar Rp. 100.000.000. Sebagian investasi tersebut yaitu sebesar
40% dijual di Bursa Efek Jakarta dengan memperoleh laba (gain) Rp.
20.000.000 (belum termasuk pajak). Pajak atas penjualan saham
tersebut oleh perusahaan dicatat sebagai beban (expenses). Sisa
inventasi di neraca per tanggal 31 Desember 1999 dinilai berdasar
harga terendah antara harga perolehan dan harga pasar. Harga pasar
investasi per tanggal neraca adalah Rp. 45.000.000.

3. Piutang Usaha

Kebijakan pencadangan piutang diterapkan berdasar umur piutang. Setiap akhir tahun
perusahaan mendebit biaya piutang tak tertagih dan mengkreditkan cadangan piutang tak
tertagih.

Sampai dengan awal tahun 1999, akumulasi pencadangan piutang


adalah sebesar Rp. 25.000.000. Pada bulan Juli 1999, karena situasi
dan kondisi yang tak dapat dihindari, dihapuskan piutang sebesar Rp.
5.000.000. Prosedur penghapusan piutang telah dilakukan sesuai
dengan ketentuan pajak dan mendapat persetujuan KPP. Akumulasi
pencadangan piutang tak tertagih berdasar umur piutang sampai
dengan 31 Desember 1999 adalah Rp. 30.000.000.

4. Persediaan

Kebijakan penilaian persediaan akhir secara komersial menggunakan metode FIFO,


sedangkan pencatatan menggunakan sistem periodikal. Komposisi barang dagang dan
harganya adalah sebagai berikut :

Persediaan awal 300 unit @ Rp.


1.000.000
Pembelian :
Kwartal 1 550 unit @ Rp.
1.100.000
Kwartal 2 400 unit @ Rp.
1.200.000
Kwartal 3 250 unit @ Rp.
1.250.000
Kwartal 4 300 unit @ Rp.
1.300.000
Persediaan akhir 300 unit

Penilaian persediaan akhir untuk tujuan pajak menggunakan metode


FIFO

5. Aktiva Tetap Berwujud

Semua aktiva tetap berdasar masa manfaatnya telah sesuai dengan penggolongan aktiva
menurut ketentuan pajak. Sedangkan metode penyusutan adalah garis lurus.

Tanggal Harga Masa


Perolehan Perolehan Manfaat
Peralatan Kantor 01-04-97 36.000.000 4 tahun
(A)
Peralatan Kantor 01-04-99 24.000.000 4 tahun
(B)
Peralatan Toko 01-01-97 30.000.000 4 tahun
(C)
Peralatan Toko 01-07-98 27.000.000 4 tahun
(D)
Peralatan Toko 01-10-99 33.600.000 4 tahun
(E)

Mutasi aktiva tetap selama tahun 1999:

• Peralatan kantor (jenis A) dijual tanggal 1 April 1999 dengan


harga pasar wajar sebesar Rp. 20.000.000.
• Peralatan toko (jenis C) dijual tanggal 1 Oktober 1999 dengan
harga pasar wajar dan memperoleh laba (gain) komersial
sebesar Rp. 2.000.000.
6. Sewa gudang sebesar Rp. 120 juta dibayar dimuka kepada PT. Qiu
terhitung 1 Januari 1997 sampai dengan tanggal 31 Desember
2000. Perusahaan telah membebankan sewa setiap tahun secara
garis lurus.

7. Perusahaan telah mencatat penghasilan deviden sebesar Rp.


2.000.000.

8. Gaji

Perusahaan telah membebankan gaji alam laporan laba-rugi komersial sebesar Rp.
240.000.000. Dalam jumlah tersebut termasuk PPh Pasal 21 sebesar Rp. 18.000.000.
Perusahan membebankan PPh Pasal 21 sebagai beban dengan alasan PPh Pasal 21 telah
diperhitungkan sebagai komponen penerimaan bruto karyawan dalam SPT PPh Pasal 21.

9. Tercatat beberapa faktur pajak yang catat sebesar Rp. 15.000.000


telah dicatat dilaporkan sebagai bahan dalam rugi-laba komersial.

10. Denda bunga atas keterlambatan membayar PPh Pasal 25 sebesar


Rp. 500.000 telah dicatat dan dibebankan dalam rugi-laba
komersial.

Diminta : a. Berapakah laba fiskal tahun 1999

b. Berapakah PPh Badan tahun 1999, dan jumlah yang kurang/lebih


bayar, dan buat jurnalnya

PPh Pasal 22/23/26

90 Menit

B
Soal I

PT. Daulat termasuk perusahaan berskala besar di bidang perdagangan umum karena
selain menangani impor dan eskpor, PT. Daulat juga menangani persewaan aktiva lancar
maupun aktiva tetap. Meskipun sejak tahun 1997 harus menghadap kondisi berbagai
macam krisis, tetapi untuk tahun 1999 memperhatikan kegiatan sebagai berikut :

Tanggal 20-03-1999

Melunasi sanksi bunga sebesar Rp. 8.000.000,00 karena untuk bulan Januari s.d. Februari
1999 terlambat membayar bunga pinjaman.

Tanggal 02-04-1999

Membayar bunga atas pinjaman pada Bank NISP sebesar Rp. 20.000.000,00

Tanggal 15-04-1999

Menerima hasil penjualan sebuah mobil Blazer seharga Rp. 165.000.000,00

Tanggal 05-05-1999

Mengimpor beberapa barang elektronik, tanpa API sebagai berikut :

• AC sedang 200 unit @ US $ 2,500

• Computer 200 unit @ US $ 9,000

BM 10% dari harga barang. Biaya lain berupa TBM Rp. 60.000.000,00 Kurs US $ 1 =
Rp. 8.700,00

Tanggal 10-06-1999
Menjual ATK dan continuous form untuk komputer kepada Direktorat Jenderal B & C di
Jakarta seharga Rp. 150.000.000,00 dan pada hari itu juga PT. Daulat menerima jasa
perbaikan/service mesin ketik dan komputer sebesar Rp. 30.000.000,00 dari
Bendaharawan Direktorat Jenderal B & C.

Tanggal 12-08-1999

PT. Daulat menerima deviden sebesar Rp. 200.000.000,00 dari PT. ABE dimiliki PT.
Daulat sebanyak 50% dari seluruh saham, yang bernilai Rp. 17.000.000.000,00

Tanggal 13-08-1999

PT. Daulat membangun sebuah kampus untuk Yayasan Pendidikan Bangsa dengan nilai
kontrak sebesar Rp. 3.000.000.000,00. Kontrak ini rampung dalam bulan Desember
1999.

Tanggal 02-09-1999

Dalam rangka membangun Kampus untuk Yayasan Pendidikan Bangsa tersebut oleh PT.
Daulat telah dilakukan pembayaran-pembayaran sebagai berikut :

1) Untuk mengurus perpajakan PT. Daulat telah melunasi Jasa Konsultan Pajak tiap
bulan Rp. 1.000.000,00 sejak bulan Agustus 1999

2) Membayar sewa alat-alat berat sebesar 2% dari nilai kontrak.

3) Jasa manajemen Rp. 600.000,00

4) Jasa manajemen hukum 6% dari harga kontrak

5) Jasa teknik 4% dari harga kontrak.

Tanggal 03-09-1999

PT. Daulat menyewakan ruangan yang terletak disebelah ruangan kantornya # karena
tidak pernah digunakan # kepada Badan Sosial Sejahtera yang membina anak-anak
jalanan. Badan ini tidak mencari laba. Luas ruangan 200 m2 dengan harga sewa Rp.
75.000.000/m2
Pertanyaan :

1. Hitung PPh Pasal 23 yang harus disetor oleh PT. Daulat ke Kas Negara !

2. Hitung PPh Pasal 23 yang harus dipotong dari PT. Daulat !

3. Hitung PPh Pasal 22 yang harus dipungut dari PT. Daulat !

Soal II

Departemen Agama RI di Jakarta pada bulan Juni 1999 telah melakukan pembayaran-
pembayaran sebagai berikut :

Tanggal 16 Juni 1999

Membeli TV berwarna merk Grunding model mutakhir dengan harga Rp. 3.250.000,00
termasuk PPN dan PPnBM 20%.

Tanggal 17 Juni 1999

Membayar catering untuk jamuan rapat dinas untuk masa tiga bulan terakhir ini sebesar
Rp. 4.000.000,00

Tanggal 18 Juni 1999

Membeli air minum botolan merk Moya dari PT. Moya Jakarta sebesar Rp. 2.500.000,00

Tanggal 19 Juni 1999

Membeli ATK dari Fa. Kirtos seharga Rp. 485.000,00

Tanggal 20 Juni 1999


Membeli mesin tik panjang, untuk membuat daftar gaji merk BROTHER beserta filing
cabinet merk BOSTINCO seharga Rp. 12.100.000,00 termasuk PPN.

Pertanyaan :

1. Hitung PPh Pasal 22 yang harus disetor oleh Bendaharawan Departemen Agama ke
Kas Negara !

2. Kapan Bendaharawan Departemen Agama selambat-lambatnya harus menyetor PPh


Pasal 22 ke Kas Negara ?

Soal III

PT. Johnson Indonesia adalah BUT. Meskipun menghadapi bermacam-macam krisis di


Indonesia tetapi hasil kegiatan usahanya dalam tahun 1999 masih mencapai laba bruto
Rp. 5.000.000.000,00 dengan biaya mencapai 35%. Atas biaya tersebut masih harus
dimasukkan/diperhitungkan:

a. Penyusutan atas kelompok aktiva sebesar Rp. 4.000.000,00

b. Hasil penjualan promosi yang terlambat dilaporkan Bagian Dinas Luar sebesar Rp.
15.000.000,00

Pertanyaan :

1. Hitung PPh Badan a.n PT. Johnson Indonesia untuk tahun 1999 !

2. Berapa besarnya PPh Pasal 26 ayat (4) yang harus disetor ?

3. Apa yang dapat ditempuh PT. Johnson Indonesia agar ia tidak harus membayar PPh
Pasal 26 ayat (4)? Sebutkan syarat-syaratnya!

BM, PBB, BPHTB

120 Menit
B

1. Tanggal 1-8-2000 Acong membuat perjanjian tertulis dengan Joko yaitu bahwa
Acong akan membeli dari Joko uang palsu senilai Rp. 100.000.000,- (seratus juta)
dari Joko, seharga Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta) dengan uang asli.

Pada surat perjanjian itu dilekatkan Meterai Rp. 3.000,-

Ternyata Joko ingkar janji, yaitu setelah menerima uang Rp. 50.000.000,- dia tidak
menyerahkan uang palsu karena Joko tidak punya uang palsu.

Pertanyaan :

a. Apakah atas perjanjian tersebut dikenakan Bea Meterai ? Jelaskan.

b. Jika Acong akan memperkarakan Joko ke Pengadilan apa yang harus dilakukan
oleh Acong atas surat perjanjian tersebut ? Jelaskan.

2. Pak Budi adalah seorang Direktur Bank #Griya Artha# yang bermaksud melakukan
pembayaran Bea Meterai untu cek dan Bilyet giro banknya melalui pencetakan tanda
tunas Bea Materai.

Apa yang harus dilakukan Pak Budi ? Jelaskan.

3. Dalam pelaksanaan PBB Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan dan atau
pengurangan atas penetapan PBB-nya, untuk itu Dirjen Pajak telah menerbitkan
peraturan pelaksanaan tentang keberatan dan pengurangan.

Jelaskan oleh Anda perbedaan ketentuan-ketentuan yang menyangkut keberatan


dengan pengurangan.

4. PT. WARNA LESTARI, suatu perusahaan usaha bidang tanaman industri (HPHTI)
di Kalimantan, memiliki/ menguasai/ mendapat manfaat dari bumi dan bangunan
dengan rincian sebagai berikut :

A. TANAH

1) Areal Produktif
a. tanah yang ditanam komoditas hutan industri dan telah menghasilkan :

- rotan # 400 Ha, kelas A.40

b. tanah yang belum menghasilkan :

- rotan tahun ke-2 = 300 Ha, kelas A.40

- rotan tahun ke-3 = 200 Ha, kelas A 40

2) Areal log ponds (perairan) = 25 Ha, kelas A.39

3) Areal log yards = 20 Ha, kelas A.39

4) Areal emplaseman = 30 Ha, kelas A.39

A. BANGUNAN

Pabrik, kantor, perumahan dan lain-lain = 10.000 m2, (NJOP =Rp.225.000/m2)

Hitung PBB PT. WANA LESTARI

Keterangan : Kalimantan = Wilayah-V

1 H a = 10.000 M2

Penggolongan Wilayah dan Besarnya Standar Biaya Pembangunan Hutan Tanaman


Industri Per-Hektar (Dalam Ribuan)

No. Jenis Pembagian Wilayah


Tanaman I II III IV V
1. Jelutung - - - - ----

2. Rotan

s/d tahun ke-1

tahun ke-2
tahun ke-3

Tanaman yang menghasilkan