Anda di halaman 1dari 15

Nama ;Salsa risky eka p.

No ;27
Kelas ;8f

Tugas bahasa Indonesia 

Perubahan makna
Kata-kata dalam bahasa tertentu mengalami perubahan arti.Terdapat enam jenis  perubahan arti.
 
1..Meluas/generalisasi Makna kata sekarang lebih luas daripada makna asalnya.
Contoh:Petani,peternak,berlayar,ibu,dan sebagainya.
 
2.Menyempit/spesialisasi Makan sekarang lebih sempit daripada makna asalnya
Contoh:Pendeta,sarjana,sastra,pembantu,dan sebagainya.
 
3.Amelioratif Makna kata sekarang lebih baik daripada makna kata asalnya.
Contoh:Wanita,pramuniaga,warakawuri,rombongan,dan sebagainya.
 
4.Peyoratif Makna sekarang lebih jelek daripada makna kata asalnya.
Contoh:Kawin,gerombolan,oknum,perempuan,dan sebagainya.
 
5.Sinestesia Makna kata yang timbulkarena tanggapan dua indera yang berbeda. Contoh:Namanya
harum
 
6.Asosiasi Makna kata yang timbul karena persamaan sifat. Contoh:Hati-hati menghadapi tukang
catut di bioskop itu.
 
Hubungan Makna
 
1.Sinonim adalah kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan makna.
Contoh:Siuman=sadar,datang=tiba=sampai
 
2.Antonim adalah kata-kata yang memiliki makna berlawanan. Contoh:besar-kecil,atas-bawah,siang-
malam
 
 
Antonim dibedakan menjadi: a.Antonim kembar :Putra-putri,dewa-dewi,pemuda-pemudi.  b.Antonim
gradual :Panjang-pendek,tinggi-rendah,tua-muda. c.Antonim relasional :Suami-istri,guru-murid,penjual-
pembeli. d.Antonim majemuk :Emas-perak,gelang-kalung,pintu-jendela,dan sebagainya e.Antonim
hierarkis :Jendral-kopral,kilometer-meter,dan sebagainya. 3.Polisemi adalah suatu kata yang memiliki
makna ganda.Namun demikian,diantara makna tersebut masih terdapat hubungan makna: Contoh :Anak
saya sakit(keturunan) Ia anak buahku(bawaan) Hati-hati,anak tangga itu rapuh(bagian tangga yang di
injak) 4.Hiponim adalah suatu kata yang maknanya telah mencakup oleh kata yang lain.Hubungan makna
kata satu dengan yang lain akan menghasilkan kata(superordinat dan subordinat) Pakaian
Superordinat(hipernim) Baju Celana Kaos Subordinat(hiponim) K o h i p o n i m 5.Hipernim adalah suatu
kata yang maknanya mencakup kata lain. Contoh: Bunga Melati Menur Mawar 6.Homonim adalah kata-
kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun  berbada artinya. Contoh :Bulan ini adikku
menikah,malam ini bulan tidak bersinar 7.Homofon adalah kata-kata yang memiliki bunyi yang sama
tetapi ejaan dan artinya

 berbeda Contoh :saya tidak sangsi lagi. Yang melanggar akan mendapatkan sanksi. Dilarang masuk dalam
ladang perburuan. Kita harus mentaati Undang-undang Perburuan. 8.Homograf adalah kata-kata yang
memiliki tulisan sama tetapi bunyi dan artinya  berbeda. Contoh :Ia tidak tahu tentang masalah itu.
Nenekku suka makan tahu. Catatan:Homonim sering dikacaukan dengan polisemi.Keduanya mempunyai
perbedaan seperti sebagai berikut:  No Homonim No Polisemi 1. Berupa dua kata atau lebuh 1. Berasal dari
satu kata 2. Tidak ada hubungan arti 2. Ada hubungan arti 3. Dipergunakan secara denotatif 3. Dipergunakan
secara konotatif kecuali kata induk 4. Contoh: Bisa ular bisa mengakibatkan kematian 4. Contoh: Kepala
kantor iu sedang sakit kepala
Kelas kata oleh Aristoteles
Inilah dia 10 jenis kata menurut Aristoteles. Dimulai dari…

Nomina (Kata Benda)

Nomina adalah kelas kata yang dalam bahasa Indonesia ditandai oleh tidak dapatnya bergabung
dengan kata tidak. Contohnya, kata rumah adalah nomina karena tidak mungkin dikatakan tidak
rumah, biasanya dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa. Nomina dibagi lagi menjadi
beberapa jenis, antara lain;

1. Abstrak, nomina yang biasanya berasal dari adjektiva atau verba, yang tidak menunjuk pada
sebuah objek tetapi pada suatu kejadian atau pada suatu abstraksi;
2. Atributif, nomina yang membatasi nomina lain, misalnya hutan dalam anjing hutan;
3. Kolektif, nomina yang menunjukkan kelompok orang, benda, atau id;
4. Konkret, nomina yang menunjukkan benda berwujud;
5. Predikatif, nomina atau pronomina yang berfungsi sebagai predikat, misalnya guru dalam
Simon menjadi guru, dan dia dalam itu dia;
6. Verbal, nomina yang fungsi dan maknanya berdekatan degan verba

Adjektiva (Kata Sifat)

Adjektiva adalah kata yang menerangkan nomina (kata benda) dan secara umum dapat bergabung
dng kata lebih dan sangat. Contohnya adalah kati cantik, jelek, rusak, dan lain-lain.

Verba (Kata Kerja)

Verba adalah kelas kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan (kata kerja). Verba
dibagi menjadi 24 jenis, antara lain:

1. Atelis, verba yang menggambarkan perbuatan yang tidak tuntas;


2. Bantu, kata yang dipakai untuk menerangkan verba dalam frasa verbal, biasanya untuk
menandai modus, kala, atau aspek;
3. Defektif, verba yang tidak mempunyai semua bentuk konjugasi;
4. Desiderative, verba yang menyatakan keinginan untuk melaksanakan perbuatan;
5. Ekuatif, verba yang menghubungkan subjek dengan komplemen (seperti be, seem, become
dalam bahasa Inggris)
6. Faktif, verba yang mempunyai komplemen kalimat dan yang menyimpulkan kebenaran
komplemen itu (msl tahu dalam para sarjana tahu bahwa mereka masih belajar); atau dapat
juga berarti verba yang mempunyai dua komplemen, seperti memilih, mengangkat
7. Finit, bentuk verba yang dibatasi oleh kala dan dalam beberapa bahasa menunjukkan
kesesuaian dengan persona dan jumlah;
8. Frekuentatif, bentuk verba yang menyatakan kebiasaan atau perbuatan berulang dalam
bahasa Rusia;
9. Impersonal, verba yang hanya dipakai dalam persona ketiga singularis dan tidak
bersangkutan dengan nomina tertentu;
10. Instrumentatif, verba yang menunjukkan alat perbuatan di dalam maknanya;
11. Intransitive, verba yang tidak menggunakan objek;
12. Kausatif, verba yang berarti menyebabkan atau menjadikan sebab;
13. Komposit, verba yang terdiri atas dua bagian yang dalam struktur kalimat dipisahkan oleh
objek dari verba itu;
14. Modal, verba bantu yang digunakan untuk menyatakan modus seperti optatif, obligatif;
15. Performatif, verba dalam kalimat dengan kala kini dengan “saya” sebagai subjek dengan
atau tanpa “Anda” sebagai objek taklangsung, yang secara langsung menyatakan pertuturan
yang dibuat pembicara pada waktu mengujarkan kalimat;
16. Personal, verba yang dipakai dalam ketiga persona;
17. Refleksif, verba yang digunakan bersama dengan pronomina refleksif;
18. Resiprokal, verba yang maknanya bersangkutan dengan perbuatan timbal balik;
19. Statif, verba yang tidak dapat disertai kata bantu sedang;
20. Takteratur, verba yang berubah vokal akarnya untuk mengubah kala dan bukannya dengan
menambah sufiks inflektif;
21. Telis, verba yang menggambarkan perbuatan yang tuntas, misalnya verba menebang pohon
yang berbeda dengan sedang menebang dalam kalimat Mereka sedang menebang pohon yang
merupakan verba jenis ini;
22. Teratur, verba yang dikonjugasikan dengan sufiks inflektif menurut paradigma kelasnya
dalam suatu bahasa;
23. Transitif, verba yang memiliki objek;
24. Utama, bentuk verba yang mengungkapkan makna ‘perbuatan’ (dipertentangkan dengan
verba bantu)

Numeralia (Kata Bilangan)

Numeralia adalah kelas kata (atau frasa) yang menunjukkan bilangan atau kuantitas. Numeralia dapat
dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. Multiplikatif, numeralia yang menyatakan beberapa kali perbuatan terjadi, misalnya sekali,
dua kali, dan sebagainya;
2. Partitif, numeralia yang menyatakan pecahan, misalnya setengah, sepertujuh, dan
sebagainya;
3. Pokok, numeralia yang memberi jawaban atas pertanyaan berapa?;
4. Tingkat, numeralia yang memberi jawab atas pertanyaan ke berapa?

Pronomina (Kata Ganti)

Pronomina adalah kelas kata yang dipakai untuk mengganti orang atau benda. Misalnya kata aku,
engkau, dia; Pronomina juga dibagi menjadi pronominal persona, yaitu pronominal yang
menunjukkan kategori persona seperti saya, ia, mereka, kita, kami, dan seterusnya.

Adverbia (Kata Keterangan)

Adverbia adalah kelas kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif,
atau kalimat, misalnya sangat, lebih, tidak

Konjungsi (Kata Sambung)

Konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan
antarkalimat. Konjungsi dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Koordinatif, konjungsi yang menggabungkan kata atau klausa yang berstatus sama, misalnya
dan, tetapi, atau;
2. Subordinatif, konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat atau
menghubungkan bagian dari kalimat subordinatif

Preposisi (Kata Depan)

Preposisi adalah kelas kata yang biasa terdapat di depan nomina, misalnya, dari, dengan, di, dan ke.

Artikel (Kata Sandang)

Artikel adalah unsur yang dipakai untuk membatasi atau memodifikasi nomina, misalnya the dalam
bahasa Inggris. Atau dalam bahasa Indonesia lazim digunakan artikel -lah, -pun.

Interjeksi (Kata Seru)

Interjeksi adalah kelas kata yang mengungkapkan seruan perasaan.


kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan
menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan
pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan
dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan
dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda
titik (.) untuk menyatakan kalimat berita atau yang bersifat informatif, tanda tanya (?) untuk
menyatakan pertanyaan dan tanda seru (!) untuk menyatakan kalimat perintah. Sekurang-kurangnya
kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah
predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan
hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat. Di sini, kalimat dibagi menjadi
dua, yaitu:

Kalimat tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu
subjek dan satu predikat, serta satu keterangan (jika perlu)

Kalimat majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini
terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu
dengan melihat letak konjungsi. Induk kalimat tidak memuat konjungsi di dalamnya, konjungsi
hanya terdapat pada anak kalimat.

Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut
dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis kalimat
majemuk adalah:

1. Kalimat Majemuk Setara


2. Kalimat Majemuk Rapatan
3. Kalimat Majemuk Bertingkat
4. Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat majemuk setara

kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang
kedudukannya sejajar atau sederajat.

Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara terdiri dari lima macam,
yakni:

Jenis Konjungsi

penggabungan dan

penguatan/Penegasan bahkan

pemilihan atau

berlawanan sedangkan

urutan waktu kemudian, lalu, lantas

Contoh:
1. Juminten pergi ke pasar. (kalimat tunggal 1)
2. Ragil berangkat ke bengkel. (kalimat tunggal 2)

 Juminten pergi ke pasar sedangkan Ragil berangkat ke bengkel. (kalimat majemuk)


 Ragil berangkat ke bengkel sedangkan Juminten pergi ke pasar. (kalimat majemuk)

Kalimat majemuk rapatan

Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek, predikat
atau objeknya sama,maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali.

Contoh:

1. Pekerjaannya hanya makan. (kalimat tunggal 1)


2. Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
3. Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal 3)

 Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)

Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang
kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak
kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.

Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari sepuluh
macam, yaitu:

Jenis Konjungsi

syarat jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan)

tujuan agar, supaya, biar

perlawanan (konsesif) walaupun, kendati(pun), biarpun

penyebaban sebab, karena, oleh karena

pengakibatan maka, sehingga

cara dengan, tanpa

alat dengan, tanpa

perbandingan seperti, bagaikan, alih-alih

penjelasan bahwa

kenyataan padahal

Contoh:

1. Kemarin ayah mencuci motor. (induk kalimat)


2. Ketika matahari berada di ufuk timur. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)

 Ketika matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat majemuk bertingkat cara 1)
 Ayah mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur. (kalimat majemuk bertingkat cara 2)

Kalimat majemuk campuran


Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk
bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.

Contoh:

1. Toni bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1)


2. Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
3. Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)

 Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke rumahnya.
(kalimat majemuk campuran)

Pola Kalimat

Kalimat yang kita gunakan sesungguhnya dapat dikembalikan ke dalam sejumlah kalimat dasar yang
sangat terbatas. Dengan perkataan lain, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola
kalimat dasar saja. Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar tersebut kita
kembangkan, yang pengembangannya itu tentu saja harus didasarkan pada kaidah yang berlaku.

Berdasarkan keterangan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat dasar ialah kalimat
yang berisi informasi pokok dalam struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat
berupa penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun keterangan subjek,
predikat, objek, ataupun pelengkap. Kalimat dasar dapat dibedakan ke dalam delapan tipe sebagai
berikut.

Kalimat Dasar Berpola S P

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat
berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:

 Mereka / sedang berenang. = S / P (Kata Kerja)


 Ayahnya / guru SMA. = S / P (Kata Benda)
 Gambar itu / bagus.= S / P (Kata Sifat)
 Peserta penataran ini / empat puluh orang. = S / P (Kata Bilangan)

Kalimat Dasar Berpola S P O

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek berupa nomina atau frasa
nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:

 Mereka / sedang menyusun / karangan ilmiah. = S / P / O

Kalimat Dasar Berpola S P Pel.

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau
frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau
adjektiva. Misalnya:

 Anaknya / beternak / ayam. = S / P / Pel.

Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina
atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan
pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:

 Dia / mengirimi / saya / surat. = S / P / O / Pel.


Kalimat Dasar Berpola S P K

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena
diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif,
dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:

 Mereka / berasal / dari Surabaya. = S / P / K

Kalimat Dasar Berpola S P O K

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. subjek berupa nomina
atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan
keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:

 Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari. = S / P / O / K

Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K

Kalimat dasar tipa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya

 Ungu / bermain / musik / di atas panggung. = S / P / Pel. / K

Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K

Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek
berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa
nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi.
Misalnya:

 Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan. = S / P / O / Pel. / K

Kalimat pasif dan negatif

Kalimat pasif

Subyek sebagai kata ganti orang

 Saya memasak nasi goreng. (kalimat aktif)


 Nasi goreng kumasak. (kalimat pasif)

 Dia memarahi Dita. (kalimat aktif)


 Dita dia marahi. (kalimat pasif)

Subyek bukan sebagai kata ganti orang

 Bapak memasak nasi goreng. (kalimat aktif)


 Nasi goreng dimasak (oleh) bapak. (kalimat pasif)

 Dina memarahi Dia. (kalimat aktif)


 Dia dimarahi (oleh) Dina. (kalimat pasif)

Kalimat negatifSaya memasak nasi goreng. (kalimat positif)

 Saya tidak memasak nasi goreng. (kalimat negatif)


 Dia memarahi Dita. (kalimat positif)

 Dia tidak memarahi Dita. (kalimat negatif)


frasa
Frasa atau frase adalah sebuah makna linguistik. Lebih tepatnya, frasa merupakan satuan linguistik
yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. Frasa adalah kumpulan kata
nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu yang membedakan frasa
dari klausa dan kalimat. Simak beberapa contoh frasa di bawah ini:

 ayam hitam saya


 ayam hitam
 ayam saya
 rumah besar itu
 rumah besar putih itu
 rumah besar di atas puncak gunung itu

Dalam konstruksi frasa-frasa di atas, tidak ada predikat. Lihat perbedaannya dibandingkan dengan
beberapa klausa di bawah ini:

 ayam saya hitam


 rumah itu besar
 rumah besar itu putih
 rumah putih itu besar
 rumah besar itu di atas puncak gunung

Dalam konstruksi-konstruksi klausa di atas, hitam, besar, putih, besar, dan di atas puncak gunung
adalah predikat.

Daftar isi

 1 Frasa dan kata majemuk


o 1.1 Frasa eksosentris
o 1.2 Frasa nominal
o 1.3 Frasa verbal
 2 Pranalar luar

Frasa dan kata majemuk

Frase kerap dibedakan dengan kata majemuk. Makna frasa tidak berbeda dengan makna kata yang
menjadi kepala/inti frasa.

Misalnya:

Meja hitam tetaplah bermakna meja, tetapi ditambahkan pewatas sifat hitam. Meja kayu juga tetap
meja, tetapi ditambahkan makna pewatas kayu.

Di sisi lain, kata majemuk memiliki makna yang sangat jauh berbeda dengan makna kata-kata yang
menjadi unsur-unsurnya, sehingga kata majemuk kerap disebut memiliki makna idiomatis. (disebut
kata kiasan)

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Kata kiasan

Misalnya:

Meja hijau dalam bahasa Indonesia lebih bermakna 'sidang atau pengadilan', bukan semata-mata
meja yang berwarna hijau. Tangan besi lebih bermakna kepemimpinan yang keras alih-alih tangan
yang terbuat dari besi.

Beberapa jenis frasa:

Frasa eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa
ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.

Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras.

Frasa nominal
Nominal adalah lawan dari verbal. jika verbal adalah kalimat yang berpredikat "Kata Kerja" maka
kalimat nominal berpredikat kata benda atau kata sifat. untuk membentuk kalimat nominal, maka
unsur kalimat harus memenuhi Subjek, To Be dan komplemen. misalnya "I am Tired", I=subjek,
am=To Be dan Tired=Adjective (Passive voice verb). ini adalah contoh kalimat nominal. arti lain dari
nominal adalah rangkaian angka yang menunjukkan jumlah tertentu, kemudian adapula arti nominal
sebagai kualifikasi (nominasi).

Frasa verbal

Frasa Verbal, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP
frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi)
kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi
kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh:

1. bekerja keras
2. sedang berlari

Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’
yang menunjukkan verba aktif.

Morfem

Morfem merupakan bagian dari kata

Morfem (bahasa Inggris: Morpheme) adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna.[1][2]
[3][4][5]
Morfem tidak bisa dibagi kedalam bentuk bahasa yang lebih kecil lagi.[3] Dalam tata bahasa
Inggris, Morfem berfungsi untuk membedakan kata jamak (plural), kata masa lampau (past tense),
dan sebagainya.[4] Tata Bahasa Tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab
morfem bukanlah satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morfem mempunyai makna secara
filosofis .[2]

Penulisan Morfem

Dalam studi morfologi, sebuah morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara
kurung kurawal. Berikut ini adalah contohnya [2].

Morf dan Alomorf

Morf adalah bentuk terkecil dari morfem yang belum diketahui statusnya dalam hubungan
keanggotaan terhadap suatu morfem. [6] [2]. Sedangkan alomorf adalah bentuk dari morfem yang
sudah diketahui statusnya.[2] Misalnya bentuk {meng-} dalam menggali. Bentuk {meng-} saat belum
diketahui status morfemnya disebut morf, tetapi setelah diketahui statusnya yakni sebagai
pendistribusi terhadap fonem berkonsonan /g/ maka morf ini disebut alomorf. [2]

Identifikasi Morfem

Untuk mengidentikasi sebuah morfem perlu dilakukan perbandingan satuan bentuk kata dengan
bentuk-bentuk satuan kata yang lain. Sebuah kata bisa dikatakan morfem apabila bentuk satuan
katanya bisa hadir sacara berulang-ulang dalam bentuk yang lain [2]. Perhatikan contoh berikut:

Perbandingan Bentuk [kedua]

Kedua

Ketiga

Kelima

Ketujuh

Kedelapan

Kesembilan

Kesebelas

Bentuk [kedua] jika dibandingkan dengan contoh diatas dapat disegmentasikan sebagai satuan
tersendiri dan mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat [2]. Sehingga
bentuk ke pada contoh diatas adalah morfem, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang
dan mempunyai makna yang sama [2].
Sekarang perhatikan bentuk ke pada daftar berikut:

(disini atuaran ejaan tidak diindahkan)

Perbandingan Bentuk ke

Kepasar

Kekampus

Kedapur

Kemesjid

Kealun-alun

Keterminal

Bentuk ke pada contoh diatas juga dapat disegmentasikan sebagai morfem, karena memiliki satuan
tersendiri dan mempunyai arti yang sama, yaitu menyatakan arah dan tujuan [2].

Tetapi, bentuk ke pada contoh pertama tidak sama dan bentuk ke pada contoh kedua. Keduanya
merupakan dua buah morfem yang berbeda, meskipun bentuknya sama [2]. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa, kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah
morfem [2].

Sekarang perhatikan contoh selanjutnya:

Perbandingan Bentuk tinggal dan ninggal

Meninggalkan

Ditinggal

Tertinggal

Peninggalan

Ketinggalan

Sepeninggal

Dari daftar tersebut terdapat bentuk yang sama yang dapat disegmentasikan dari bagian unsur-unsur
lainnya, yaitu bentuk tinggal dan ninggal [2]. Bentuk tinggal dan ninggal adalah sebuah morfem
karena bentuk dan maknanya sama [2]. Untuk mengetahui sebuah bentuk adalah morfem, perlu
diketahui terlebih dahulu maknanya [2]. Perhatikan contoh berikut:

Perbandingan Bentuk lantar

Menelantarkan

Terlantar

Lantaran

Bentuk "lantar" meskipun terdapat berulang-ulang pada bentuk menelantarkan, terlantar, dan
lantaran bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya [2]. Menelantarkan dengan terlantar
memang masih memiliki hubungan, tetapi bentuk menelantarkan dan terlantar tidak ada
hubungannya dengan lantaran [2].
Klasifikasi Morfem

Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, antara
lain kebebasannya, keutuhannya, dan maknanya. [2] Berikut ini adalah klasifikasi morfem:

Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas (bahasa Inggris: Free Morpheme) adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam
satu kalimat pertuturan tanpa adanya morfem lain. [3] Sebagai contoh, misalnya, bentuk pulang,
makan, rumah, dan bagus. [2] Morfem-morfem tersebut dapat berdiri sendiri dan dapat digunakan
tanpa harus terlebih dahulu menggabungkannya dengan morfem lain. [2] Sebaliknya, morfem terikat
(bahasa Inggris: Bond Morpheme) adalah morfem yang tidak bisa berdiri sendiri dan selalu terikat
pada morfem lain. [4] Contohnya adalah bentuk juang, henti, gaul, baur, bugar, renta dan kerontang.
[2]
Morfem-morfem tersebut tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami
proses morfologi, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.[2]

Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem Utuh adalah morfem yang terdiri dari satu kesatuan.[2] Misalnya {meja}, {kursi}, {kecil},
{laut}, dan {pulpen}. [2] Sedangkan morfem terbagi adalah adalah morfem yang terdiri dari dua buah
bagian yang terpisah.[2] Contohnya ada pada kata kesatuan yang memiliki satu morfem utuh, yaitu
{satu} dan satu morfem terbagi yaitu {ke-/an}.[2] Contoh lainnya adalah kata perbuatan, terdiri dari
satu morfem utuh {buat} dan satu morfem terbagi {per-/an}.[2]

Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang berwujud bunyi dan dibentuk oleh fonem-fonem segmental,
seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}.[2] Sedangkan morfem suprasegmental adalah
morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan
sebagainya.[2] Morfem suprasegmental misalnya terdapat dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara,
Afrika. [2]

Bentuk Tulisan dalam Bahasa Ngbaka

Setiap kata kerja selalu disertai petunjuk waktu (bahasa Inggris: Tense) yang berupa nada.[2] Dalam
bahasa Ngbaka untuk mengungkapkan kalimat masa kini digunakan simbol nada turun (ˋ), kalimat
masa lampau menggunakana nada datar (ˉ), kalimat masa nanti menggunakan nada turun naik (ˇ),
dan untuk kalimat imperatf menggunakan nada naik (ˊ).[2] Bahasa yang memiliki morfem
suprasegmental di antaranya adalah bahasa Burma, Cina, dan Thailand.[2] Sedangkan Bahasa
Indonesia tidak memiliki morfem suprasegmental.[2]
Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero (lambangnya berupa Ø) adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak
berwujud bunyi segmental maupun suprasegmental, melainkan berupa "kekosongan".[2] Morfem
beralomorf zero merupakan morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris dan tidak berlaku pada
Bahasa Indonesia.[2] Contohnya adalah bentuk sheep, baik bentuk tunggal maupun jamak, kata Sheep
akan tetap menjadi sheep dan tidak mengalami perubahan.[2] Dalam bentuk tunggal dapat ditulis
{sheep}, sedangkan dalam bentuk jamak menjadi ({sheep}+{Ø}). [2]

Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang memiliki makna pada dirinya sendiri [7] tanpa perlu
berproses dengan morfem lain. [2] Morfem bermakna leksikal jumlahnya tidak terbatas dan sangat
produktif.[8] [9] Misalnya, {kuda}, {pergi}, {lari}, {makan} dan {merah}.[2] Morfem seperti ini dengan
sendirinya sudah dapat digunakan secara bebas.[2] Sedangkan morfem tidak bermakna leksikal adalah
morfem yang tidak memiliki makna apapun pada dirinya sendiri.[2] Morfem ini baru mempunyai
makna jika digabung dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.[2] Termasuk morfem tidak
bermakna leksikal adalah morfem-morfem afiks seperti, {ber-}, {me-}, dan {-ter}.[2]