Anda di halaman 1dari 11

Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

PENGGUNAAN STATISTIK DALAM PENELITIAN SOSIOLOGI makna rumus-rumus yang sangat rumit dan angka-angka yang
menjemukan, sehingga dapat membuat peneliti lebih pusing. Pada
Oleh : Partini1 awalnya kata statistik diartikan sebagai keterangan-keterangan yang
dibutuhkan oleh negara, untuk kepentingan negara. Secara definitif
Abstract statistik merupakan angka yang diperoleh dengan menggunakan
The usage of statistic in social research, particularly in sociology is metode statistika untuk mendeskripsikan sampel. Kemudian arti
very uncomplicated and straightforward as long as the related researcher tersebut mengalami pergeseran makna karena statistik lebih
understands the basic argument from the chosen statistic formula. The diartikan sebagai data kuantitatif baik yang sudah diolah, yang
choosing of specific formula is based on the type and data quality in order to berupa data-data mendath. Padahal data kuantitatif dengan statistik
get a more precise and accurate formula. The precision and accuracy in
adalah berbeda. Data kuantitatif hanyalah merupakan kumpulan
choosing the technique and statistic formula strongly define the quality of
angka-angka, dan kumpulan angka-angka ini tidak dapat disebut
conducted research so that the formulizing of the summary is more precise,
sebagai statistik. Statistik lebih merupakan metode atau azas-azas
too.
guna ”mengerjakan” atau menampilkan data kuantitatif agar supaya
Statistic is nothing but a mean to create a more “meaningful” data.
angka-angka tersebut dapat berbicara (Anto Dayan, 1973). Di dalam
The usage itself is varies and the right understanding is not only based on
the number resulted manually or computerize which usually used on the ilmu sosial dikenal ada 2 macam jenis statistik yang biasa
SPSS program but also have to be supported with the concept and theory. dipergunakan dalam menganalisis data, yaitu : (1) Statistik deskriptif,
Furthermore, the understanding can also be get from research result (2) Statistik eksplanatif (inference).
conducted by other and from a balance battle of concept and empiric fact. Dalam penelitian sosiologi, ada banyak metode penelitian
Simply by using this method, the results can be accepted by others and can yang dapat dipakai, salah satu dari sekian banyak jenis penelitian itu
be more meaningful particularly for the sake of science development and adalah survei. Penggunaan jenis penelitian survei membutuhkan
policy makers. tahapan yang jelas, dengan melakukan interaksi secara simbiose
One of the excellences of by using the quantitative research mutualistis antara teori yang dipergunakan dengan data empiris
method that usually applies the statistic formula can be used to yang ada di lapangan. Berangkat dari teori yang menjadi dasar
predict. Moreover, the results and the summary can be generalized to berpijak dan frame work peneliti, dengan menggunakan logika
the condition of population so that those can be utilized by a lot of formal yang rasional, teori tersebut kemudian diturunkan di dalam
people. konsep-konsep yang lebih membumi, yang lebih mendekati realitas
sosial, melalui bekerjanya logika deduktif. Konsep merupakan
Keywords: Statistic, Quantitative Method, Sociological Research abstraksi dari fenomena sosial yang sifatnya general. Secara definitif,
pengertian konsep seperti yang ditulis oleh Singarimbun dan Sofian
A. PENDAHULUAN Effendi (1987), konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena
Para peneliti sosial sering merasa enggan berbicara masalah yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik,
statistik, karena dalam bayangan mereka kata statistik memiliki kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Konsep dalam
pandangan Turner ( dalam Babbie, 1989) bahwa konsep merupakan
kumpulan bangunan dasar dari teori. Konsep adalah elemen abstrak
1 Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah yang menampilkan sekelompok fenomena dalam suatu bidang
Mada
DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 1 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 2
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

kajian. Konsep yang di dalam penelitian sosial biasanya bersifat penelitian tersebut akan lebih menarik pembaca jikalau disajikan di
abstrak, harus didefinisikan dan kemudian diturunkan menjadi dalam bentuk grafik atau tabel, sehingga cepat difahami oleh orang
variabel penelitian, karena dengan variabel ini dapat dicari indikasi- lain (pembaca) untuk berkomunikasi melalui angka dan bukan
indikasi atau gejala-gejalanya, yang merupakan kenyataan riil yang dalam bentuk angka mentah atau ”Raw data”.
terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa variabel yang Banyak macam ragamnya ukuran tendensi sentral (central
akan diukur, dan hubungan di antara beberapa variabel tersebut tendency) antara lain ukuran ini memberi kemudahan bagi peneliti
sampailah peneliti pada satu tahapan yang disebut sebagai hipotesis. untuk membuat deskripsi dari sekelompok data dengan suatu angka.
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara yang mencerminkan Angka hasil perhitungan ukuran tendensi sentral menyajikan nilai
hubungan dua variabel atau lebih yang harus dibuktikan rata-rata atau nilai umum dari subyek atau kelompok. Jenis atau
kebenarannya di lapangan. macam ukuran tendensi sentral tersebut antara lain adalah : Mean
(rerata); Median, Modus, Kuartil, Desil, dan Persentil. Selain ukuran-
B. PENGGUNAAN STATISTIK DESKRIPTIF ukuran tersebut, orang akan lebih suka melihat tampilan grafik,
Statistik deskriptif merupakan suatu metode untuk karena grafik yang dikenal di dalam statistik deskriptif yaitu grafik
mengumpulkan, mengolah dan menyajikan serta menganalisa data Poligon, grafik Histogram atau sering kali disebut dengan chart dan
kuantitatif agar dapat memberikan gambaran yang teratur tentang yang terakhir adalah grafik ogive (Bandingkan dengan Anto Dayan,
suatu peristiwa. Statistik jenis ini hanya dapat dipakai untuk Pengantar metode Statistik Deskriptif, 1973).
memberikan gambaran dan menganalisa data dari variabel tunggal Sedangkan untuk ukuran variabilitas dalam statistik
atau hanya dipergunakan untuk menganalisis dan mengukur satu deskriptif yang sering dijumpai adalah : range, deviasi dan standar
variabel saja. Statistik deskriptif biasanya hanya bisa dilakukan untuk deviasi. Deviasi standar atau standar deviasi ini yang paling sering
jenis penelitian yang sifatnya deskriptif juga. Penelitian deskriptif ini dipergunakan dibandingkan dengan ukuran variabilitas yang lain.
dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial Range adalah beda antara nilai tertinggi dengan nilai terendah pada
tertentu, seperti misalnya, banyaknya pengangguran intelektual di suatu distribusi dan ditentukan dengan cara mengurangi nilai-nilai
suatu wilayah tertentu atau banyaknyaa kasus perceraian yang ekstrim tersebut (nilai tertinggi dikurangi dengan niali terendah).
terjadi pada kurun waktu tertentu. Dalam penerapan statistik Sayangnya range bukan merupakan ukuran variabilitas yang akurat,
deskriptif ini, peneliti melakukan pengumpulan data, namun tidak tetapi merupakan ukuran variabilitas yang sifatnya kasar dan tingkat
melakukan pengujian hipotesis. Analisis datanya lebih bersifat akurasinya rendah, sehingga jarang dipergunakan di dalam analisis
deskriptif, dan bukan analisis yang bisa menunjukkan ada tidaknya sosial. Deviasi merupakan perbedaan ukuran dari nilai mentah (raw
hubungan antara beberapa variabel yang dipakai di dalam penelitian data) atau dari sebuah ukuran tertentu dan kemudian dikurangi
tersebut. dengan nilai reratanya, sedangkan standar deviasi merupakan
Biasanya jenis statistik ini melihat pada jenis ukuran nilai- ukuran dispersi yang memiliki standar tertentu.
nilai tengah atau central tendency, ukuran variabilitas, dan ukuran 1. Mean (rerata)
posisi relatif. Ukuran tendensi sentral digunakan untuk menentukan Mean adalah rata-rata aritmatik nilai-nilai, dihitung dengan
nilai yang umum (kecenderungan) dari suatu kelompok nilai. cara menjumlahkan semua nilai dan membagi total tersebut dengan
Ukuran variabilitas menunjukkan bagaimanakah penyebaran nilai sejumlah data (subyek penelitian) baik sebagai individu maupun
dalam suatu kelompok. Data-data yang sudah dikumpulkan melalui kelompok.

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 3 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 4
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

Diantara sekian banyak jenis nilai tengah yang sering dipakai parametrik, maka normalitas ini menjadi syarat yang harus dipenuhi
di dalam analisis sosial adalah Mean atau rerata. Sayangnya nilai agar hasil perhitungannya dapat dipertanggungjawabkan.
mean ini sangat dipengaruhi oleh adanya nilai ekstrem, baik ekstrem 2. Median
kiri maupun ekstrem kanan. Nilai ekstrem kiri adalah nilai yang Median, Kuartil, Desil dan Persentil lebih merupakan ukuran
rendah atau sangat rendah jika dibandingkan dengan nilai lain pada nilai tengah yang serumpun artinya bahwa ukuran-ukuran ini
umumnya, demikian juga nilai ekstrem kanan adalah nilai yang dipergunakan dalam memberikan pemahaman tentang pembagian
terlalu tinggi dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya dari hasil disribusi saja, sehingga perbedaan dari pengertian ini hampir tidak
pengumpulan data tersebut. Nilai-nilai ekstrem baik ekstrem kiri berbeda. Median adalah bilangan pada suatu distribusi yang menjadi
maupun ekstrem kanan ini seringkali menyesatkan hasil nilai rata- batas separo frekuensi atau data, sehingga dapat membagi suatu
rata yang dihitung, sehingga tidak memberikan gambaran yang distribusi menjadi dua bagian yang sama besarnya, sedangkan
sesungguhnya terhadap sekumpulan data hasil penelitian. Oleh kuartil adalah bilangan yang membagi suatu distribusi menjadi 4
karena itu penggunaan nilai tengah, seperti mean (rerata) sebaiknya bagian yang sama besarnya. Desil adalah bilangan yang membagi
dikontrol dengan menghitung nilai deviasinya. Jika nilai deviasinya suatu distribusi menjadi 10 bagian yang sama, dan Persentil
tinggi, maka pembaca atau pemakai hasil penelitian tersebut harus membagi menjadi 100 bagian yang sama. Oleh karena itu jika
hati-hati, karena penyimpangan dari hasil perhitungan datanya seseorang sudah dapat menghitung median, dengan sendirinya
cukup besar. Kuartil kedua, Desil ke 5 dan Persentil ke 50 adalah sama persis.
Tingginya nilai penyimpangan ini dapat menunjukkan Rumus yang dipakai untuk menghitung nilai tengah yang serumpun
sampai sejauh mana persebaran data yang dikumpulkan oleh ini hampir sama, yang berbeda hanyalah pembaginya saja. Kalau
peneliti. Semakin tinggi nilai deviasinya, maka persebaran datanya median pembaginya 2; Kuartil pembaginya 4, Desil pembaginya 10
semakin lebar, dan tentunya hal tersebut berlaku sebaliknya. dan persentil pembaginya 100. Meskipun nilai tengah ini jarang
Setidaknya dengan melakukan kontrol pada nilai rerata tersebut diaplikasikan di dalam analisis sosial, namun setidaknya
pengguna hasil penelitian atau pembaca dapat lebih memahami hasil pemahaman tentang macam-macam nilai tengah perlu dilakukan,
yang disajikan oleh peneliti. agar dalam pemilihan teknik-teknik statistik menjadi lebih tepat.
Jika peneliti tidak melakukan kontrol terhadap nilai rerata, 3. Mode (Modus)
maka sebaiknya nilai-nilai ekstrem tersebut dikeluarkan terlebih Mode adalah nilai atau skor yang paling sering muncul dalam
dahulu sebelum reratanya dihitung. Dengan begitu, maka hasil mean suatu distribusi. Atau nilai yang paling besar atau paling tinggi
atau rerata lebih menunjukkan realitas yang sesungguhnya, dan frekuensinya. Mode merupakan alat yang cepat untuk menaksir
jikalau data-data tersebut digambarkan ke dalam bentuk curve, akan tendensi sentral suatu distribusi. Meskipun demikian mode
mendekati normal (seperti lonceng). Curve ini pada langkah merupakan alat penaksir yang kasar, kemungkinan dalam suatu
selanjutnya akan sangat bermanfaat tatkala peneliti melakukan distribusi dapat memiliki 2 atau bahkan 3 mode, karena mode tidak
analisis yang tidak lagi bersifat deskriptif, tetapi yang lebih bersifat terpengaruh sama sekali oleh nilai yang ekstrem, baik ekstrem kanan
eksplanatif. Pada penelitian eksplanatif curve normal menjadi maupun ekstrem kiri. Modus, di dalam penggunaannya biasanya
persyaratan penting untuk dapat memilih jenis statistik apa yang dipakai untuk melihat harga yang sering muncul. Di dalam penyajian
akan dipergunakan di dalam menganalisis hasil penelitiannya. data dengan grafik, apakah poligon, ataukah histogram, nilai modus
Karena jika peneliti akan mengoperasikan jenis statistik yang menjadi puncak dari grafik tersebut. Jika data yang diperoleh peneliti

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 5 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 6
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

cenderung normal, maka dalam distribusi tersebut hanya memiliki dirumuskan sebelumnya, penelitian ini berusaha untuk membuat
satu nilai modus. Jika dalam sebuah distribusi frekuensi ada nilai kesimpulan. Untuk itu diperlukan parameter atau ukuran yang dapat
modus yang jumlahnya lebih dari satu, sudah bisa diduga bahwa dipakai untuk mengukur variabel sosial, sesuai dengan persyaratan
data tersebut tidak mungkin bersifat normal (lonceng). dari masing-masing rumus yang ada harus dipenuhi sbelum
4. Ukuran Penyimpangan mengoperasikan rumus tersebut. Adapun persyaratan yang harus
Ada banyak jenis ukuran penyimpangan, mulai dari dipenuhi dapat meliputi skala pengukurannya (nominal, ordinal,
penimpangan Mean, Median, dan penyimpangan Kuartil, namun interval dan rasio), jenis datanya (diskrit atau continum), bentuk
yang paling sering dipergunakan di dalam menganalisa data di curvenya (normal atau tidak) dan tentu saja juga jumlah sampelnya
dalam penelitian sosial adalah ”penyimpangan standar”. Harga (kecil atau besar). Di dalam penelitian sosial, sampel penelitian
penyimpangan standar ini akan sangat bermanfaat jika dikaitkan adikelompokkan sebagai sampel kecil apabila jumlahnya kurang dari
dengan harga dari Meannya. Semakin besar atau tinggi harga 30 orang, dan apabila jumlahnya telah melebihi dari jumlah ambang
penyimpangannya dari mean, maka data yang diperoleh semakin batas tersebut dikelompokkan sebagai sampel besar. Sudah barang
menyebar atau heterogen dan itu berlaku sebaliknya. Harga tentu semakin besar jumlah sampelnya, maka tingkat presisinya
penyimpangan yang semakin kecil dapat menunjukkan bahwa nilai semakin tinggi, dan tingkat kesalahannya (error) semakin kecil, dan
Mean atau reratanya semakin mendekati kenyataan dari sekelompok kondisi tersebut berlaku sebaliknya.
data yang sedang diukur atau dihitung. Dengan kata lain, data Biasanya statistik yang akan dipakai dalam rangka menguji
tersebut dapat menggambarkan keadaan populasinya dan hipotesis penelitian, dan hipotesa tersebut terlebih dahulu harus
kemungkinan besar distribusi tersebut jika digambar curvenya akan dirumuskan dalam bentuk hipotesa Nol atau hipotesa nihil. Hipotesa
semakin mendekati curve normal (bentuk lonceng). Nol dirumuskan dengan kata ”tidak ada” hubungan antara
Sebuah curve dikatakab normal (seperti bentuk lonceng) parameter pada populasi, atau ”tidak ada” perbedaan atau ”tidak
apabila nilai Meannya = 1 dan nilai penyimpangan standarnya = 0  ada” hubungan antara variabel bebas dengan variabel
ini curve yang dikatakan normal sempurna. Curve normal sempurna tergantungnya. Hal inimenunjukkan bahwa hubungan atau
atau yang mendekati normal menjadi salah satu syarat penting dalam perbedaan yang diperoleh dari sampel itu adalah akibat dari
memilih dan menentukan teknik statistik yang akan dipergunakan kesalahan sampling. Oleh karena itu hipotesis Nol/Nihil ini sering
untuk mengolah dan menganalisis data. Curve dapat mendekati juga disebut sebagai hipotesa statistik, karena munculnya hipotesis ini
normal apabila jumlah sampel yang diambil dalam suatu penelitian untuk keperluan uji statistik dan keberadaannya hanya untuk ditolak
cukup besar jumlahnya, sehingga dapat merepresentasikan keadaan melalui uji statistik.
populasinya. Dengan kata lain, semakin besar sampel penelitiannya, Peneliti yang dapat menolak hipotesa nol secara meyakinkan
maka akan semakin mendekati ciri-ciri populasinya dan sampel (significant), secara otomatis akan menerima hipotesa kerja. Kedua
tersebut dapat dikategorikan semakin representatif. hipotesis tersebut “saling berlawanan” atau bertolak belakang, karena
apabila peneliti dapat menolak hipotesis nol penolakan ini dapat
C. STATISTIK EKSPLANATIF/INFERENSIAL memberikan dukungan terhadap konseptualisasi yang dibuat oleh
Statistik jenis ini merupakan metode yang sering dipakai peneliti. Sebaliknya peneliti yang gagal menolak hipotesa Nol/Nihil
dalam rangka pengambilan kesimpulan tentang populasi, (failed to rejection nol hypothesis), ada beberapa kemungkinan yang
berdasarkan sampel yang diambil. Melalui uji hipotesa yang telah dapat dipertimbangkan dan dapat dirunut kembali di mana letak

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 7 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 8
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

kesalahannya. Apakah kesalahan tersebut terletak pada teori dan dicari kebenarannya di dalam kenyataan empiris. ”Tidak”, apabila
konseptualisasinya, dalam pengambilan dan penentuan jumlah jenis penelitian yang dilakukan sifatnya deskriptif, sehingga jika
sampelnya, dalam pengukurannya, dalam analisisnya ataukah dalam harus menggunakan statistik, cukup dengan statistik yang deskriptif
perhitungannya yang tidak atau kurang teliti? Persoalan lain yang pula sifatnya (statistik jenis ini telah diuraikan di depan) dan atau
muncul adalah, apakah peneliti yang tidak mampu menolak hipotesa peneliti cukup membuat deskriptif terhadap data yang dikumpulkan
Nol/Nihil itu adalah peneliti yang gagal. Peneliti yang dapat dengan menggunakan prosentase ”one way” yaitu prosentase tunggal
membuktikan bahwa ”penelitiannya atau hipotesisnya tidak terbukti” itu yang tidak mencerminkan hubungan antar variabel penelitian.
adalah sebuah hasil dari penelitian. Hanya saja apabila dalam Misalnya, ada 60 % responden remaja/mahasiswa yang senang
menguji hipotesis peneliti tidak dapat menolak hipotesis Nol/Nihil ”ngabuburit”. Untuk memberikan penjelasannya membutuhkan data
ada faktor penting yang berpengaruh tetapi tidak termasuk atau kualitatif yang akurat, sehingga data prosentase yang dibuat lebih
tidak diperhitungkan di dalam diagram matriksnya. dapat menjelaskan realitas sosial yang sedang menjadi perhatian
Mengapa bisa demikian ? Karena perilaku sosial atau peneliti.
fenomena sosial itu sangat kompleks sifatnya. Perilaku manusia Dalam upaya untuk menguji hipotesis dan menolak hipotesis
tertentu dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak mudah diduga nol/nihil tersebut, peneliti memerlukan suatu tes atau nilai untuk
dan tidak mudah diukur dengan menggunakan ukuran angka seperti mengetahui signifikan tidaknya sebuah hasil perhitungan, yaitu
yang dilakukan oleh para peneliti ilmuwan eksakta. Dalam penelitian dengan membandingkan antara hasil statistik yang diperoleh dari
survei, biasanya ada keterbatasan peneliti di dalam menguraikan dan perhitungan dengan hasil angka yang ada di dalam tabel yang sudah
mengukur secara keseluruhan faktor-faktor sosial tersebut. Ada disediakan oleh para pakar dalam bidang ini yang biasanya ada di
beberapa fenomena atau perilaku manusia yang tidak mudah atau dalam buku-buku statistik. Angka di dalam tabel itu sering disebut
bahkan tidak dapat ditanyakan dengan menggunakan kuesioner dengan ”nilai kritis” (critic value). Hasil perhitungan sebaik dan
(angket) dan kemudian diukur dengan ukuran angka. Ada kalanya secanggih apapun, tidak akan ada artinya jika tidak dikonsultasikan
data bisa berupa uraian responden yang diidentifikasi dan kemudian dengan tabel statistik. Agar supaya peneliti dapat mengkonsultasikan
diklasifikasikan, baru bisa diangkakan (diberi score), tetapi hanya dan mencocokkan hasil perhitungan yang diperoleh dengan angka
bisa dituangkan melalui cerita atau penggambaran peneliti terhadap yang ada di dalam tabel statistik, peneliti harus menentukan terlebih
fenomena yang menjadi perhatian peneliti. Yang jelas, cerita dahulu tingkat signifikansi yang diinginkan, yang menunjukkan
responden (informan) tidak dapat ”ditelan mentah” sebagai realitas, seberapa besar peneliti membuat kesalahan. Pada umumnya para
namun perlu dimaknai dan diinterpretasikan terlebih dahulu agar peneliti menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5 % atau < 0,05
menjadi sebuah pemahaman penting untuk menganalisis fenomena sebagai standar penolakan dan 1 % atau < 0,01. Itu artinya kesalahan
yang sedang dicari jawabnya. Dengan kata lain, cerita responden yang dilakukan peneliti sama denn atau kurang dari 5 % dan sama
merupakan data mentah yang membutuhkan interpretasi dari dengan dan atau kurang dari 1 %. Khusus untuk penelitian sosial ada
peneliti agar data tersebut menjadi lebih bermakna. toleransi kesalahan maksimum sampai dengan 10 % atau < 0,10,
Apakah semua penelitian survei memerlukan uji statistik ? sedangkan hal ini tidak bisa diterapkan di dalam ilmu kedokteran
Jawabnya bisa ”ya” tetapi juga bisa ”tidak”. ”Ya”, apabila model atau ilmu eksakta yang lain. Selain menentukan tingkat
penelitiannya menggunakan beberapa macam variabel penelitian kesalahannya, peneliti juga harus mengetahui derajat kebebasannya
yang satu sama lain saling berhubungan. Hubungan tersebut perlu (degrees of freedom) agar dapat menemukan angka yang pas (cocok)

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 9 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 10
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

untuk mengetahui mampu tidaknya peneliti menolak hipotesa 1. STATISTIK NON PARAMETRIK
Nol/Nihilnya. Ada banyak macam ragamnya statistik jenis ini antara lain
Apabila peneliti mampu menolak hipotesis nol pada derajat adalah: Chi Square, Wilcoxon Test, Sign Test (uji tanda), Cochran Q Test,
kesalahan sebesar 5 % (0,05), maka hipotesis kerja diterima pada Korelasi Spearman, Kedall Rank Correlation Coefficient, dll (lihat tabel
batas kepastian benar (significant) sebesar 95 %. Hal ini berarti bahwa yang ada dalam bukunya Sidney Siegel, atau buku-buku lain yang
setiap 100 kali peneliti mengambil sampel, maka sebanyak 5 kali sejenisnya). Dari beberapa jenis dan rumus-rumus statistik yang
melakukan kesalahan terhadap sampel yang diambilnya. Sebagai tersedia, yang paling sederhana tetapi popular dan sering
contoh : hasil perhitungan korelasi Product Moment (Rxy) sebesar dipergunakan oleh peneliti sosial maupun peneliti eksakta adalah X2
0,625, dengan kesalahan 5 % dan derajat kebebasan (D.B) n= 48 (Chi-Square atau Kai-Kuadrat). Chi-Square biasanya dipergunakan
(diperoleh dari jumlah sampel yang diteliti dikurangi dengan jumlah untuk melihat ada tidaknya perbedaan dari dua kelompok sampel.
variabelnya, misalnya sampelnya sebanyak 50 responden dan 2 Apabila dengan menggunakan Chi-Square tersebut peneliti dapat
variabel yang digunakan) maka besarnya angka kritis (critic value) menolak hipotesa Nol/ Nihil, maka perhitungan tersebut sebaiknya
atau besarnya angka korelasi yang ada dalam tabel adalah : 0,273. diteruskan dengan menggunakan Contingency Coefficient. Contingency
Secara statistis, peneliti dapat menolak hipotesa Nol/Nihil, karena Coefficient ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya
hasil hitung (Rxy = 0,625) . dari hasil korelasi yang ada di dalam tabel hubungan yang sifatnya kualitatif pada kedua variabel yang sedang
(Rxy 0,05, d.b.=48=0,273). Berarti hasil perhitungan tersebut dihitung dan ingin dibuktikan kebenarannya secara empiris.
”significant” artinya, ada korelasi atau hubungan antara 2 variabek Cara menghitung Chi Square sangatlah mudah, dan
yang sedang dihitung. Jikalau peneliti tidak mampu menolak persyaratan yang dibutuhkan pun sangat sederhana. Agar supaya
hipotesa Nol/Nihil maka hubungan yang ada hanya terjadi secara data-data yang diperoleh, dapat dibuat ke dalam bentuk tabel silang
kebetulan saja. dan kemudian dapat dihitung dengan menggunakan rumus Chi-
Statistik inferensial dapat dikelompokkan menjadi 2 Square diperlukan syarat:
kelompok, yaitu statistik ”non parametrik dan statistik yang a. Skalanya pengukuran boleh Nominal, maupun Ordinal, atau
parametrik”. Statistik non parametrik tidak membutuhkan parameter yang satu Nominal dan yang lainnya Ordinal dan kedua-
atau ukuran yang tinggi, yang canggih, yang sophisticated, tetapi duanya mempunyai skala ordinal
parameter yang dipersyaratkan hanya sederhana dan mudah b. Distribusi datanya kalau dibuat dalam bentuk kurve tidak
dipenuhi oleh para peneliti sosial. Penggunaan statistik non harus normal
parametrik harus memenuhi syarat seperti misalnya : skala c. Setiap sel dalam tabel silang jumlah frekuensi yang
pengukurannya bisa nominal dan atau ordinal, jenis datanya diskrit, diharapkan (Fe) tidak boleh kurang dari 5
curvenya tidak dituntut harus normal dan lain-lain. Sebaliknya, Apabila ternyata tabel silangnya tidak memenuhi syarat-
penggunaan jenis statistik parametrik membuuthkan persyaratan syarat seperti tersebut di atas maka Chi-Square tidak perlu dihitung,
yang lebih rumit, lebih canggih, lebih sophisticated, dengan sebaiknya data tersebut diinterpretasikan dengan menggunakan
persyaratan : skala pengukurannya harus interval dan atau rasio, prosentase tabel silang (cross tabulation), di mana setiap baris atau
jenis datanya harus continum dan linear, serta curvenya harus kolom yang ipilih diberi bobot 100 % (pemilihan arah prosentase
normal (berbentuk lonceng). Di bawah ini kedua jenis statistik tergantung pada apa yang akan diinterpretasikan). Biasanya tabel
tersebut akan diuraikan secara lebih terinci. silang ini untuk melihat ada tidaknya perbedaan options dari

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 11 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 12
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

kelompok sampel. Misalnya: apakah ada perbedaan antara kelompok b. Sebaliknya apabila hasil hitungnya lebih kecil dari hasil
laki-laki dengan kelompok perempuan terhadap gaya hidup tabelnya, maka kesimpulannya adalah tidak signifikan
konsumtif? Contoh dapat dikembangkan dalam kasus apapun, sesuai Jika hasil hitungnya signifikan, maka hipotesa Nol/ Nihil
dengan apa yang sedang menjadi perhatian peneliti. Meskipun data- yang menyatakan “tidak ada perbedaan” atau “tidak ada hubungan”
data tersebut berwujud angka, namun data tersebut lebih bersifat ditolak, dan secara otomatis hipotesa kerjanya diterima. Sebaliknya
kualitatif, oleh karena itu perlu penjelasan lebih lanjut dengan jika hasil hitungnya tidak signifikan, maka hipotesa Nol/ Nihil
ditopang data-data kualitatif. diterima dan hipotesa kerjanya ditolak.
Jika peneliti dapat menggunakan rumus Chi-Square, agar Jika Chi Square signifikan, maka peneliti dapat melanjutkan
supaya dapat menolak dan atau menerima hipotesis Nol/Nihil, maka untuk menghitung Assosiasi (Cass). Assosiasi ini yang akan
hasil perhitungan tersebut harus dikonsultasikan debfan tabel yang menunjukkan ada tidaknya hubungan dari kedua variabel, tetapi
telah disediakan oleh pembuat rumus (biasanya para ahli statistik hubungan yang ada sifatnya kualitatif. Hal tersebut karena
dan matematika, karena di dalam mengukur signifikasi tabel persyaratan yang dibutuhkan oleh Chi Square hanya skala Nominal
menggunakan perhitungan probabilitas yang sangat rumit). Jika dan atau Ordinal, dan ukuran kurvenya tidak harus normal,
perhitungannya menggunakan komputer, maka secara otomatis sehingga hubungan yang dihitung dengan assosiasi tersebut lebih
komputer tersebut akan menunjukkan tingkat signifikansinya. bersifat kualitatif. Mengapa demikian? Karena hasil assosiasi hanya
Biasanya di dalam komputer ada tanda bintang di belakang hasil dapat menyatakan ada tidaknya hubungan dalam tingkatan atau
perhitungannya. Bintang 1 menunjukkan tingkat signifikansi 95 %, gradasi tertentu. Gradasi hubungan tersebut hanya dapat dinyatakan
dengan kesalahan 5 %, bintang 2 dengan tingkat signifikansi 99 % tinggi, sedang atau rendah saja dan tidak dapat menunjukkan
dengan kesalahan 1 % dan bintang 3 dengan signifikasi 99,9 % hubungan dengan koefisien korelasinya. Untuk mengetahui tinggi
dengan kesalahan 0,001 % (jika kesalahannya mencapai 10 % rendahnya hubungan assosiasi diperlukan perhitungan C maximum,
biasanya tidak terdapat tanda bintangnya). Jadi para peneliti sosial yang rumusnya sebagai berikut:
tinggal mencocokkan hasil perhitungannya dengan tabel yang ada. dimana M adalah baris atau kolom
Ingat: sebelum mencocokkan dengan tabel, peneliti harus M 1 dalam tabulasi silang yang
C max 
menghitung derajat kebebasannya (degress of freedom)-nya terlebih M jumlahnya kecil
dahulu untuk melihat sampai batas mana hasil perhitungannya
dapat dikatakan signifikan (berarti). Adapun untuk menghitung Jika hasil Cass lebih tinggi dari setengah C maximum maka
derajat kebebasan Chi-Square dengan rumus sebagai berikut: hubungannya tinggi
DB = (b-1) (k-1) Jika hasil Cass sama dengan setengahnya C maximum maka
hubungannya sedang.
b adalah baris atau k adalah kolom dalam tabel silang tersebut Jika hasil Cass lebih rendah dari setengah C maximum maka
Biasanya dalam mengukur taraf signifikansi tersebut dengan hubungannya rendah
kriteria sebagai berikut: Dengan kata lain, Cass dan C maximum adalah untuk
a. Jika hasil hitungnya lebih tinggi dari hasil yang ada di dalam mengetahui tinggi rendahnya gradasi dari hubungan kedua variabel
tabel, maka hasil perhitungan Chi-Square signifikan atau hasil yang sedang dihitung, apakah hubungan tersebut berada pada
tersebut mempunyai arti gradasi tinggi, sedang, ataukah rendah.

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 13 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 14
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

Teknik statistik non parametrik lain yang biasa dipergunakan (db). Untuk menghitung db dari korelasi adalah: n-2, dimana n
oleh peneliti sosial, khususnya Sosiologi, adalah jenis Korelasi Rank adalah jumlah subyek yang diteliti dan 2 adalah jumlah variabel yang
Spearman (Korelasi Berjenjang). Korelasi ini biasanya dipakai untuk ada dalam perhitungan korelasi tersebut. Karena dalam contoh ini
menghitung korelasi dengan menggunakan sampel yang kecil (< 30 hanya ada 2 variabel (independent dan dependent variable) maka
responden). Persyaratan untuk menghitung korelasi ini hampir sama dikurangi 2. Tetapi jika jumlah variabel yang dihitung dalam korelasi
dengan persyaratan untuk menghitung Chi-Square, hanya saja itu ada 3 variabel, maka db-nya adalah = n-3 (karena korelasi
rumus korelasi ini setidaknya harus memiliki skala pengukuran yang tersebut terdiri dari 3 variabel) dst.
ordinal dan tidak bisa dengan skala niminal. Cara menghitungnya Bagi mahasiswa atau peneliti yang berminat menerapkan
pun mudah, yaitu dengan mengurutkan skor dari urutan yang paling teknik statistik dalam memperkuat kesimpulannya dapat
rendah sampai ke urutan yang paling tinggi, atau sebaliknya. Ada 2 mempelajari teknik-teknik lain yang ada di dalam banyak buku
macam rumus yang dapat dipakai, yaitu rumus yang nilainya atau statistik sosial, baik yang ditulis dan diterbitkan oleh penerbit
skor tidak ada ties (nilai kembar) dan yang ada nilai atau skor yang internasional, nasional maupun lokal. Pada statistik non parametrik
sama (ties-nya). ini dapat dipelajari juga rumus Kendall Tau. Rumus-rumus statistik
non parametrik tidak hanya dapat digunakan untuk menghitung 2
6.d 2
Rs  1  variabel saja, tetapi juga bisa untuk menghitung dengan 3 variabel.
N3  N Agar dapat memilih rumus mana yang paling cocok dengan
Rumus2 = (Rumus Rs tanpa ties atau tanpa nilai kembar) penelitiannya perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain:
a. Apa jenis data yang diperoleh dari penelitian
Keterangan b. Perlu dikenali apa skala pengukurannya
Rs = korelasi Rank Spearman c. Bagaimana komposisi persebaran datanya, apakah datanya
d2 = deviasi, yaitu perbedaan antara nilai dari variabel X dengan mengelompok ataukah tersebar
nilai variabel Y d. Bagaimana komposisi jawaban responden jika dilihat dari
N = jumlah sampel (subyek penelitian) tabel frekuensi one-way (jawaban yang baik, jika komposisinya
6 = nilai konstan (rumus) seimbang). Jika jawaban responden mengelompok pada salah
satu opsi jawaban, sebaiknya dihindari, karena datanya ada
Untuk mengetahui apakah hasil korelasi Rank Spearman yang bias
tersebut signifikan atau tidak (dapat menolak hipotesa Nol/ Nihil Dengan mengetahui hal tersebut, maka peneliti dapat dengan
atau tidak), sama seperti pada penggunaan Chi-Square, juga harus mudah memilih jenis statistik yang paling cocok dengan data yang
berkonsultasi dengan tabel korelasi yang disediakan di dalam setiap diperoleh. Dengan begitu kesalahan dapat dielimir sedemikian rupa,
buku statistik. Agar dapat mencocokkan hasil perhitungan dengan agar hasil penelitiannya menjadi lebih baik (akurat).
hasil tabelnya harus diketahui terlebih dahulu derajat kebebasannya
2. PENGGUNAAN STATISTIK PARAMETRIK
2
Rumus Rs yang ada nilai kembarnya (ties) ada di dalam buku-buku statistik non Yang termasuk dengan statistik parametrik adalah statistik
parametrik, karena ruang dalam tulisan ini sangat terbatas sehingga tidak yang membutuhkan ukuran atau parameter tertentu. Yang termasuk
memungkinkan untuk memuat semua rumus yang bisa diaplikasikan di dalam di dalam jenis statistik ini macamnya banyak, rumus dan cara
penelitian sosial. Dan bagi yang tertarik dengan rumus ini bisa membaca buku.
DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 15 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 16
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

penghitungannya lebih canggih, karena itu peneliti yang ingin harga kritik, maka hubungan tersebut signifikan, dengan
menggunakan statistik jenis ini membutuhkan persyaratan yang demikian peneliti dapat menolak hipotesa nol dan menerima
lebih canggih pula. Yang termasuk di dalam jenis statistik ini antara hipotesa kerja.
lain: Korelasi Product Moment, Korelasi Partial, Korelasi Ganda, Namun, perlu diingat bahwa ada perbedaan di antara
Regresi (step wise dan multiple regresi), Faktor Analysis, Path beberapa jenis statistik tersebut dan perbedaan itu terletak pada
Analysis, Analisis Varian maupun Covarian, dan masih banyak lagi persyaratan yang harus dipenuhi, karena adanya perbedaan
jenis yang lainnya. Yang telah disebutkan ini paling tidak yang sering jenis dan pengelompokannya. Oleh karena itu, dalam memilih
dioperasikan di dalam penelitian sosial, khususnya Sosiologi. rumus mana yang akan dipergunakan tergantung dari data
Beberapa rumus statistik di atas biasanya ada di dalam komputer seperti apa yang dimiliki oleh peneliti. Sudah barang tentu
dan sudah sering di setting di dalam program SPSS serta sudah semakin banyak (canggih) persyaratan yang dapat dipenuhi,
banyak dikenal secara umum. maka pengukurannya akan menjadi semakin baik, peneliti lebih
leluasa untuk memilih jenis statistik yang diinginkan, karena
a. KORELASI PRODUCT MOMENT ukuran yang dimiliki semakin teliti.
Sebagai gambaran, peneliti yang ingin menggunakan Hubungan yang ada di dalam korelasi biasanya bersifat
rumus Korelasi Product Moment misalnya, harus dapat asimetris. Di dalam penelitian sosial, sebaiknya menghindari
memenuhi syarat yang dibutuhkan oleh rumus tersebut, yang hubungan variabel yang sifatnya simetris, karena hubungan
antara lain adalah: seperti ini tidak dapat mengetahui dengan pasti mana variabel
1) Skalanya harus interval atau rasio yang mempengaruhi dan mana variabel yang dipengaruhi.
2) Memiliki distribusi normal Hubungan simetris atau timbal balik ini menimbulkan
3) Datanya linear kebingungan peneliti maupun pembacanya. Dari hubungan
Semua jenis korelasi, apapun rumusnya, apakah itu tersebut juga sulit diketahui variabel mana yang mempunyai
Korelasi Rs (yang termasuk di dalam kelompok statistik non pengaruh lebih besar terhadap yang lain. Jika peneliti ingin
parametrik), Korelasi Product Moment atau Korelasi Pearsons, mengetahui hal ini, maka harus menghitung lagi dengan regresi
sampai pada Korelasi Partial, maupun Korelasi Ganda, atau dengan Path Analysis.3
semuanya memiliki fungsi yang sama, karena sama-sama untuk
menghitung hubungan antara 2 variabel (independent dan
dependent variable) dan atau lebih dari 2 variabel b. KORELASI PARTIAL DAN KORELASI GANDA
(independent, intervening, dan dependent variable). Hubungan Seorang peneliti yang ingin menghitung korelasi dengan
tersebut dapat dicerminkan dari besar kecilnya koefisien variabel yang jumlahnya lebih dari 2, dapat dipergunakan
korelasi hasil perhitungannya, apakah perhitungannya dengan Korelasi Partial dan atau Korelasi Ganda. Perbedaan kedua
manual ataukah dengan menggunakan komputer seharusnya korelasi tersebut terletak pada fungsi dari masing-masing yang
hasilnya sama. Sama seperti pada jenis statistik yang lain, untuk
dapat menyimpulkan hubungan kedua variabel tersebut, hasil 3
ada beberapa rumus yang dapat dipakai untuk menghitung korelasi untuk lebih
perhitungannya harus dikonsultasikan dengan tabel yang ada jelasnya dapat dilihat di beberapa buku statistik yang ada, agar peneliti dapat
di dalam buku statistik. Jika hasil hitungnya lebih besar dari memilih yang paling pas bagi penelitiannya

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 17 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 18
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

akan dicapai. Korelasi Partial berfungsi untuk mengetahui r12.3  r14.3 .r24.3
apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat Rumus Korelaso Partial R12.34 = R12.34 
itu bersifat murni ataukah semu. Hadirnya variabel antara atau
1  r14.3 1  r24.3 
intervening variable dimaksudkan untuk mengontrol hubungan (untuk 4 variabel)
antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dengan Hasil perhitungan dari Korelasi Partial ini hanya akan
dimasukkannya variabel ketiga ini apakah akan mempengaruhi dapat bermakna apabila hasil koefisiennya kemudian
tingkat signifikansi dari perhitungan Korelasi Product Moment dikonsultasikan dengan tabel statistik yang ada. Setelah itu
(2 variabel). Sedangkan Korelasi Ganda lebih banyak melihat barulah peneliti melakukan perbandingan hasil akhir dari
hubungan antara variabel terikat dengan variabel lain secara kedua koefisien korelasi tersebut untuk mengetahui apakah
bersama-sama (variabel bebas dan variabel antara atau hubungan yang terjadi antara variabel bebas dengan variabel
intervening variable). terikat bersifat murni ataukah semu.
Dalam menerapkan rumus Korelasi Partial dibutuhkan Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat
persyaratan seperti yang berlaku di dalam Korelasi Product dikatakan murni apabila hasil koefisien korelasi dari hubngan
Moment, karena Korelasi Partial hanya dapat dihitung apabila antara 2 variabel (Rxy) dibandingkan dengan koefisien korelasi
peneliti terlebih dahulu harus sudah menghitung Korelasi dari hubungan 3 variabel (Rxy.z) mengalami penurunan.
Product Moment. Korelasi Product Moment ini merupakan Terjadinya penurunan koefisien dari hasil perhitungan
korelasi tahap awal yang pada akhirnya dapat dikembangkan hubungn 3 variabel tersebut menjadi tidak signifikan, maka
dalam penghitungan korelasi yang lebih canggih, yang bersifat hubungan tersebut “murni”. Misalnya hasil koefisien korelasi 2
multivariat sedangkan Korelasi Product Moment adalah variabel sebesar 0,57 signifikan pada taraf 99 % dibandingkan
korelasi yang bersifat bivariat. Dengan lain perkataan, bahwa dengan hasil koefisien korelasi dari 3 variabel dengan koefisien
koefisien Korelasi Product Moment merupakan prasyarat untuk 0,53 dan setelah dikonsultasikan dengan tabel korelasimasih
dapat menghitung Korelasi Partial dan Korelasi Ganda. Selain tetap signifikan, maka hubungan yang ada pada kedua variabel
itu, dapat juga dijadikan dasar di dalam menghitung Regresi tersebut yaitu variabel bebas dan terikat adalah “murni”. Hal
maupun untuk menghitung Path Analysis. Adapun rumus dari tersebut berarti bahwa kehadiran variabel ke 3 atau variabel
Korelasi Product Moment adalah sebagai berikut:4 antara (intervening variabel) tidak mempunyai peran yang
signifikan di dalam merubah hubungan kedua variabel
r12  r13 .r23 tersebut.
Rumus Korelasi Partial R12.3 = R12.3  (untuk 3 Sebaliknya apabila hasil koefisien korelasi 2 variabel
1  r13 1  r23  dibandingkan dengan hasil koefisien korelasi 3 variabel dan
variabel) ternyata hasilnya mengalami penurunan sehingga menjadi
tidak signifikan, maka hubungan antara variabel bebas dengan
variabel terikat adalah “semu”. Misalnya hasil Rxy = 0,57 dan
4
Untuk rumus Korelasi Partial yang lebih dari 4 variabel, dapat dilihat dalam hasil Rxy.z = 0,23. Kedua koefisien korelasi tersebut
buku-buku statistik dan langsung saja dihitung dengan bantuan komputer (karena
dikonsultasikan dengan tabel, ternyata Rxy = 0,57 signifikan
hitungannya semakin rumit). Demikian juga untuk menghitung Korelasi Ganda dan
Residunya, Regresi dan Path Analysis. pada taraf 95 % dan Rxy.z = 0,23 hasilnya menjadi tidak
signifikan → hubungan antara Rxy adalah “semu”. Dalam hal
DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 19 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 20
Penggunaan Statistik dalam Penelitian Sosiologi Partini

ini variable intervening berperan sebagai variabel kontrol melakukan prediksi. Selain itu, hasil penelitian dan kesimpulannya
terhadap hubungan antara variabel bebas dengan variabel dapat digeneralisasikan terhadap kondisi populasinya. Dengan
terikat. demikian, manfaat dari hasil penelitian ini dapat dinikmati oleh
banyak orang, karena dapat diperuntukkan pada masyarakat lain
D. Kesimpulan dengan kondisi populasi yang hampir sama.
Penggunaan statistik di dalam penelitian sosial, khususnya
Sosiologi sangatlah mudah dan sederhana, sepanjang peneliti yang Daftar Pustaka
bersangkutan memahami anggapan dasar dari rumus statistik yang Anto, Dayan: Pengantar Metode Statistik Deskriptif, 1973, Jakarta,
dipilih. Pemilihan rumus tertentu didasarkan pada jenis dan kualitas LP3ES.
data yang telah dimiliki, agar pemilihan rumusnya menjadi lebih Babbie, Earl: The Practice of Social Research, 1989, Wadsworth
tepat dan akurat. Ketepatan dan akurasi di dalam pemilihan teknik Publishing Company, Belmont, California, A Division of
dan rumus statistik sangat menentukan kualitas penelitian yang Wadsworth, Inc.
sedang dilakukan, sehingga kesimpulan yang dirumuskan menjadi Guilford, Joy Paul and Fruchter, Benjamin,: Fundamental Statistic in
lebih akurat (tepat) juga. Psychology and Education, 1968, Tokyo, McGraw – Hill,
Statistik hanyalah alat untuk membuat data menjadi lebih Kogakusha Ltd.
“bermakna”. Pemaknaan itu sendiri banyak caranya, dan pemaknaan Neuman, Lawrence.W: Social Research Methods, Qualitative an
yang benar tidak hanya dari besar kecilnya angka yang diperoleh Quantitative Approaches, 2003, SA, Library of Congress
dari hasil perhitungan, baik secara manual, maupun dengan Cataloging-in-Publication Data.
komputer yang biasanya menggunakan program SPSS, tetapi juga Siegel, Sydney: Nonparametric Statistics, For Behavioral Sciences, 1968,
harus ditopang dengan konsep dan teori yang dipergunakan. Selain New York, Toronto, London, McGraw-Hill, Book Company.
itu dapat juga dengan hasil-hasil penelitian orang lain yang senada Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian: Metode Penelitian Survei,
yang pernah dilakukan, dan dengan pergulatan antara konsep 1987, Jakarta, LP3ES.
dengan kenyataan empiris yang seimbang. Hanya dengan cara
seperti ini, maka hasil penelitian tersebut dapat diterima oleh orang
lain, akan menjadi bermakna bagi orang lain, terutama dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi perumus kebijakan.
Adalah benar bahwa survei dengan menggunakan analisis
kuantitatif hanyalah salah satu alat dari sekian banyak alat yang
dapat diakses, dipelajari, dan diimplementasikan oleh peneliti sosial,
khususnya Sosiologi, masih ada metode atau teknik lain yang dapat
dipakai untuk mengungkapkan realitas sosial yang terjadi. Peneliti
dapat saja memilih, teknik mana yang paling pas bagi penelitiannya.
Namun, perlu diingat bahwa salah satu keunggulan dari
penggunaan metode penelitian kuantitatif, yang biasanya
menerapkan rumus-rumus statistik, dapat dipergunakan untuk

DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 21 DIMENSIA, Volume 2, No. 1, Maret 2008 22