Anda di halaman 1dari 21

Makalah

PENDIDIKAN DAN PROMOSI KESEHATAN

PERAN PERAWAT SEBAGAI MOTIVATOR

Ns. Fahmi A Lihu , M.Kes

OLEH :

KELOMPOK 4

1. Moh. Halid
2. Arfadila Idris
3. Irmawati H. Naki
4. Pujiati
5. Restu Holo
6. Sintia Djafar
7. Sulistiawati Kadir
8. Ervina Kilo
9. Zuniarsi Thalib

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PRODI KEPERAWATAN
2019/2020

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya
yang berjudul “Peran Perawat Sebagai Motivator”.

Dengan selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah
memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk itu penulis mengucapkan banyak
terimakasih.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi tercapainya
kesempurnaan dari makalah ini.

Gorontalo, Juni 2020

Penulis

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
1.1 Latar belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan masalah..................................................................................2
1.3 Tujuan....................................................................................................2
1.4 Manfaat..................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................3
2.1 Definisi Perawat....................................................................................3
2.2 Peran Perawat........................................................................................3
2.3 Peran Perawat Sebagai Motivator atau Motivasi..................................8
2.4 Fungsi Perawat......................................................................................9
2.5 contoh kasus.........................................................................................15
BAB III PENUTUP..................................................................................16
3.1 Kesimpulan..........................................................................................16
3.2 Saran...................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan sebagai profesi dimanifestasikan melalui praktik profesi yang diatur dalam
suatu ketetapan hukum, yaitu Kepmenkes No.1239/Menkes/2001 tentang Registrasi dan
praktik Keperawatan (revisi Kepmenkes No.647/Menkes/2000), sehingga diharapkan
perlindungan terhadap kepentingan masyarakat terjamin melalui akuntabilitas perawat dan
praktik keperawatan sesuai dengan wewenang yang dimiliki, baik secara mandiri maupun
kolaborasi. Semua itu dapat dilaksanakan karena perawat memiliki ilmu dan kiat
keperawatan yang mendasari praktik profesionalnya. Perawat sebagai tenaga profesional
bertanggungjawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri, serta
berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kewenangannya, terutama
terkait dengan lingkungan praktik dan wewenang perawat. Saat ini masyarakat menuntut
pelayanan yang lebih baik, bermutu dan biaya terjangkau. Sementara masalah lain dibidang
kesehatan yang dihadapi perawat komunitas semakin banyak dan kompleks. Sehingga
perawat harus memiliki kemampuan dalam menganalisis penyebab masalah.  Perawat juga
perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan
seseorang, antara lain lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan keturunan.

Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Hampir dua decade profesi ini
menyerukan peubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata-mata
menjalankan perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja
dokter seperti yang sudah dilkukan di Negara-negara maju, perawat dianggap sebagai salah
satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia. Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha
menunjukkan jati diri profesi keperawatan di harapkan pada banyak tantangan. Tantangan
ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri. Untuk itu perawat di
tuntut memiliki skill yang memadai untuk menjadi seorang perawat profesional.

1
Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan
menuntut perawat saat ini memilki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat
ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komperhensif.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah sebagai beikut :


1. Apa pengertian dari perawat sebagai profesi ?
2. Bagaimana peran perawat profesiona ?
3. Bagaimanakah peran perawat sebagai motivator atau motivasi ?
4. Apa fungsi perawat profesional ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari perawat sebagai profesi
2. Mengetahui dan memahami peran perawat profesional.
3. Untuk mengetahui dan memahami peran perawat sebagai motivator atau motivasi.
4. Mengetahui dan memahami fungsi perawat profesional.

1.4 Manfaat
1. Manfaat bagi penulis untuk menambah pengetahuan tentang peran perawat sebagai
motivator.
2. Manfaat bagi lembaga /instansi, yaitu dapat digunakan sebagai referensi bagi institusi
pendidikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang peran perawat sebagai
motivator.
3. Manfaat bagi masyarakat,memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat sehingga
mereka mengetahui adanya peran perawat sebgai motivator.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Devinisi perawat

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan keperawatan, baik di dalam
maupun di luar negeri sesuai dengan perundang undangan yang berlaku. ( PERMENKES RI
NO.1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktek perawat). Perawat juga merupakan
seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dan melindungi seseorang
karena sakit, injury dan proses penuaan.(Harlley,1997).

Perawat adalah seseoang yang telah lulus pendidikan perawat dan memiliki
kemampuan serta kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan bidang keilmuan
yang yang di miliki dan memberikan pelayanan kesehatan secara holistik dan profesional untuk
individu sehat maupun sakit. (Asmadi, 2005, konsep dasar keperawatan ).

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebgai bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspeb bio-psiko-sosial dan spiritual yang komprenhensif, di
tujukan kepada individu, keluarga atau masyarakat yang sehat maupun sakit yang mencakup
siklus hidup manusia. ( Seminar Nasional Keperawatan 1983).

Perawat profesional adalah perawat yang bertanggung jawab dan berwewenang


memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri atau berkolaborasi dengan kesehatan lain
seseuai dengan kewenangannya.( Depkes RI,2002 ).

2.2   Peran Perawat

Peran menurut Kozier Barbara, (1995), (dalam Wahid & Nurul, Ilmu Kesehatan
Masyarakat, 2009.64), adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh
keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari
perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu.

3
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat
atau memelihara. Peran perawat menurut Lokakarya Nasional (1983), dalam Ilmu Kesehatan
Masyarakat, 2009.65) sebagai pelaksana pelayanan keperawatan; pengelola pelayanan
keperawatan dan institusi pendidikan; serta sebagai pendidik dalam keperawatan,  peneliti
dan pengembang keperawatan.

Fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya. Fungsi
dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. Sedangkan fungsi perawat dalam
melakukan pengkajian pada Individu sehat maupun sakit dimana segala  aktifitas  yang
dilakukan  berguna  untuk  pemulihan  kesehatan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, 
aktifitas  ini  dilakukan  dengan  berbagai cara untuk mengembalikan kemandirian pasien
secepat mungkin dalam bentuk Proses Keperawatan yang terdiri dari tahap Pengkajian,
Identifikasi masalah (Diagnosa Keperawatan), Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.

Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara
komprehensif. Perawat kontemporer menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai
peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi
klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Wahid & Nurul, Ilmu
Kesehatan Masyarakat, 2009.65).

Beberapa peran perawat professional antara lain care give, client advocate, counselor,
educator, collaborator, coordinator,  change agent, consultan,  dan interpersonal process.

a.  Care Giver  (pemberi perawatan)

Peran ini diharapkan perawat mampu menerapkan hal-hal berikutini.

1)   Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau


masyarakat sesuai diagnosa masalah yang terjadi  melalui dari masalah yang bersifat
sederhana sampai pada masalah yang kompleks.

2)   Memperhatikan individu  dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus


memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien.

4
3)  Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi  diagnosis
keperawatan, mulai dari masalah fisik sampai psikologis.

b. Clien Advocate (Pembela Klien)

Perawat juga berperan sebagai advokat atau pelindung klien, yaitu membantu untuk
mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari efek yang tidak diinginkan yang berasal dari
pengobatan atau tindakan diagnostik tertentu. Peran inilah yang belum tampak pada sebagian
besar institusi kesehatan di Indonesia, perawat masih sebatas menerima delegasi dari
profesi kesehatan yang lain tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakan yang akan
dilakukannya apakah aman atau tidak bagi kesehatan klien.

Manajer kasus juga merupakan salah satu peran yang dapat dilakoni oleh perawat, disini
perawat bertugas untuk mengatur jadwal tindakan yang akan dilakukan terhadap klien oleh
berbagai profesi kesehatan yang ada di suatu rumah sakit untuk meminimalisasi tindakan
penyembuhan yang saling tumpang tindih dan memaksimalkan fungsi terapeutik dari semua
tindakan yang akan dilaksanakan terhadap klien.

Adapun tugas perawat perawat sebagai pembela klien adalah sebagai berikut :

1)   Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi


dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan
untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepadanya.

2)    Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit
dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat
adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga
diharapkan perawat harus mampu membela hak-hak klien.

Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk
didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi
dan melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998).

5
Hak-Hak Klien antara lain :

1)        Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya

2)        Hak atas informasi tentang penyakitnya

3)        Hak atas privasi

4)        Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

5)        Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :

1)        Hak atas informasi yang benar

2)        Hak untuk bekerja sesuai standart

3)        Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien

4)        Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok

5)        Hak atas rahasia pribadi

6)        Hak atas balas jasa

c.          Conselor (konseling)

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan
psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan
untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional
dan intelektual.

Peran perawat dalam bimbingan  penyuluhan kepada pasien :

1)    Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya.

2)   Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan metode untuk


meningkatkan kemampuan adaptasinya.

6
3)    Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu.

4)   Pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan

d.  Educator (Pendidik)

Mengajar adalah merujuk kepada aktifitas dimana seseorang guru membantu murid untuk
belajar. Belajar adalah sebuah proses interaktif antara guru dengan satu atau banyak pelajar
dimana pembelajaran obyek khusus atau keinginan untuk merubah perilaku adalah
tujuannya. (Redman, 1998). Inti dari perubahan perilaku selalu didapat dari pengetahuan baru
atau keterampilan secara teknis. Inti dari perubahan perilaku selalu didapat pengetahuan baru
atau keterampilan secara teknis. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran
dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah didapat. Saat ini ada kecendrungan baru
untuk peningkatan dan penjagaan kesehatan dari pada pelayanan. Sebagai akibatnya,
masyarakat ingin memperoleh banyak pengetahuan dibidang kesehatan, (Wahit dan Nurul,
Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2009:67)

Pada peran ini perawat diharapkan mampu melakukan hal-hal berikut:

1)   Dapat dilakukan kepada klien atau keluarga, tim kesehatan lain, baik secara spontan pada
saat berinteraksi maupun formal.

2)  Membantu klien meningkatkan pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala


penyakitnya sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik.

3)  Dasar pelaksanaan peran adalah intervensi dalam proses keperawatan.

e.   Kolaborasi (Collaborator)

Perawat sebagai kolaborasi  dapat dilaksanakan dengan cara berkerja sama  dengan
tim kesehatan yang lain, baik perawat dengan dokter, perawat dengan ahli gizi, perawat
dengan ahli ragiologi, dan lintas sektoral dalam masyarakat dalam kaitannya membantu
mempercepat penyembuhan klien serta kesehatan masyarakat.

7
f.  Koordinasi (Coordinator)

Dalam peran ini diharapkan perawat mampu mengarahkan, merencanakan, dan


mengorganisasi pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima
pelayanan dari banyak profesional .

g.  Change Agent (pembawa Perubahan)

Pembawa perubahan adalah seseorang yang mempunyai inisiatif membantu orang


membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem (Kemp,1986). Mengidentifikasi masalah,
mengkaji motivasi pasien dan membantu klien untuk berubah, menunjukan alternative,
menggali kemungkinan hasil dari alternative, mengkaji sumber daya menunjukan peran
membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari
proses perubahan dan membimbing klien melalui fase ini (Marriner Torney).

h. Konsultan

Perawat berperan sebagai tempat konsultasi bagi pasien terhadap masalah yang dialami
atau tindakan keperawatan yang tepat dan tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi
pelayanan keperawatan yang diberikan.

2.3 Peran perawat sebagai motivator atau motivasi

Motivator adalah orang yang memberikan motivasi kepada orang lain. Sementara
motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak agar mencapai suatu tujuan tertentu dan
hasil dari dorongan tersebut diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dilakukan (Notoatmodjo,
2007). Menurut Saifuddin (2008) motivasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan
sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu.

Peran tenaga kesehatan sebagai motivasi tidak kalah penting dari peran lainnya. Seorang
tenaga kesehatan harus mampu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam
meningkatkan kesadaran pihak yang dimotivasi agar tumbuh kearah pencapaian tujuan yang
diinginkan (Mubarak, 2012). Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya sebagai motivator
memiliki ciri-ciri yang perlu diketahui, yaitu melakukan pendampingan, menyadarkan, dan

8
mendorong kelompok untuk mengenali masalah yang dihadapi, dan dapat mengembangkan
potenSinya untuk memecahkan masalah tersebut (Novita, 2011).

Menurut Azwar (1997), bahwa motivasi berasal dari kata motif (motive) yang artinya
adalah rangsangan,dorongan ataupun pembangkit tenaga yang dimiliki seseorang hingga orang
tersebutmemperlihatkan perilaku tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi
adalahupaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga
padaseseorang maupun sekelompok masyarakat tersebut sehingga mau berbuat danbekerja sama
secara optimal, melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untukmencapai tujuan yang telah
ditetapkan.

Motivasi juga didefinisikan sebagai kekuatan dari dalam individu yang mempengaruhi
kekuatan atau petunjuk perilaku, motivasi itu mempunyai artimendorong/menggerakkan
seseorang untuk berperilaku, beraktivitas dalammencapai tujuan (Sumodiningrat, 1999).
Motivasi adalah perasaan atau pikiran yangmendorong seseorang melakukan pekerjaan atau
menjalankan kekuasaan terutamadalam berprilaku (Santoso, 2005).

Motivasi adalah dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar atau tidak sadar
untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga berarti usaha yang dapat
menyebab seseorang/ kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin
mencapai tujuan yang dikehendakinya.Motivasi adalah persyaratan masyarakat untuk
berpartisipasi, tanpa motivasi masyarakat sulit untuk berpartisipasi di semua program.
Timbulnya motivasi harus dari masyarakat itu sendiri dan pihak luar hanya memberikan
dukungan saja. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam rangka
meningkatkan tumbuhnya motivasi masyarakat (Notoatmodjo, 2007).

2.4 Fungsi perawat

Definisi fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya.
Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. dalam menjalankan perannya,
perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya:

9
1. Fungsi Independen

Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan
fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas dan lain-lain), pemenuhan
kebutuhan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan
harga diri dan aktualisasi diri.

2. Fungsi Dependen

Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi
dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini
biasanya silakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke
perawat pelaksana.

3. Fungsi Interdependen

Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara
satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan
kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan
pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan
tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya, seperti dokter dalam
memberikan tindakan pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi
obat yang telah diberikan.

 Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Peran dan Fungsi Perawat


1. Keterlambatan pengakuan body of knowledge profesi keperawatan. Tahun 1985
pendidikan S1 keperawatan pertama kali dibuka di UI,  sedangkan di negara barat
pada tahun 1869.
2. Keterlambatan pengembangan pendidikan perawat professional.
3. Keterlambatan system pelayanan keperawatan (standart, bentuk praktik keperawatan,
lisensi).

10
 Solusi Rendahnya Peran dan Fungsi Perawat
1. Pengembangan pendidikan keperawatan
Sistem pendidikan tinggi keperawatan sangat penting dalam pengembangan
perawatan professional, pengembangan teknologi keperawatan, pembinaan profesi
dan pendidikan keperawatan berkelanjutan. Akademi Keperawatan merupakan
pendidikan keperawatan yang menghasilkan tenaga perawatan professional dibidang
keperawatan.
2. Memantapkan system pelayanan perawatan professional
Depertemen Kesehatan RI sampai saat ini sedang menyusun registrasi, lisensi
dan sertifikasi praktik keperawatan. Selain itu semua penerapan model praktik
keperawatan professional dalam memberikan asuhan keperawatan harus segera di
lakukan untuk menjamin kepuasan konsumen/klien.
3. Penyempurnaan organisasi keperawatan
Organisasi profesi keperawatan memerlukan suatu perubahan cepat dan dinamis
serta kemampuan mengakomodasi setiap kepentingan individu menjadi kepentingan
organisasi dan mengintegrasikannya menjadi serangkaian kegiatan yang dapat
dirasakan manfaatnya. Restrukturisasi organisasi keperawatan merupakan pilihan
tepat guna menciptakan suatu organisasi profesi yang mandiri dan mampu
menghidupi anggotanya melalui upaya jaminan kualitas kinerja dan harapan akan
masa depan yang lebih baik serta meningkat.

Komitmen perawat guna memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu baik


secara mandiri ataupun melalui jalan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sangat
penting dalam terwujudnya pelayanan keperawatan professional. Nilai professional
yang melandasi praktik keperawatan dapat di kelompokkan dalam :
a. Nilai intelektual
Nilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri dari :
 Body of Knowledge
 Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)
 Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif

11
b. Nilai komitmen moral
Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan
memperhatikan kode etik keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters
(1989) pelayanan professional terhadap masyarakat memerlukan integritas,
komitmen moral dan tanggung jawab etik.
Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat adalah :
   Beneficience
selalu mengupayakan keputusan dibuat berdasarkan keinginan
melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994)
 Fair
Tidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, social
budaya, keadaan ekonomi dan sebagainya, tetapi memprlakukan klien
sebagai individu yang memerlukan bantuan dengan keunikan yang
dimiliki.
 Fidelity
Berperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu),
selalu berusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadahi,
komitmen moral serta memperhatikan kebutuhan spiritual klien.

c. Otonomi, Kendali dan Tanggung Gugat

Otonomi merupakan kebebasan dan kewenangan untuk melakukan


tindakan secara mandiri. Hak otonomi merujuk kepada pengendalian
kehidupan diri sendiri yang berarti bahwa perawat memiliki kendali terhadap
fungsi mereka. Otonomi melibatkan kemandirian, kesedian mengambil
resiko dan tanggung jawab serta tanggung gugat terhadap tindakannya
sendiribegitupula sebagai pengatur dan penentu diri sendiri. Kendali
mempunyai implikasi pengaturan atau pengarahan terhadap sesuatu atau
seseorang. Bagi profesi keperawatan, harus ada kewenangan untuk
mengendalikan praktik, menetapkan peran, fungsi dan tanggung jawab

12
anggota profesi. Tanggung gugat berarti perawat bertanggung jawab terhadap
setiap tindakan yang dilakukannya terhadap klien.
Peningkatan kualitas organisasi profesi keperawatan dapat dilakukan melalui
berbagai cara dan pendekatan antara lain :
  Mengembangkan system seleksi kepengurusan melalui penetapan
kriteria dari berbagai aspek kemampuan, pendidikan, wawasan,
pandangan tentang visi dan misi organisasi, dedikasi serta
keseterdiaan waktu yang dimiliki untuk organisasi.
 Memiliki serangkaian program yang kongkrit dan diterjemahkan
melalui kegiatan organisasi dari tingkat pusat sampai ke tingkat
daerah. Prioritas utama adalah rogram pendidikan berkelanjutan bagi
para anggotanya.
 Mengaktifkan fungsi collective bargaining, agar setiap anggota
memperoleh penghargaan yang sesuai dengan pendidikan dan
kompensasi masing-masing.
 Mengembangkan program latihan kepemimpinan, sehingga tenaga
keperawatan dapat berbicara banyak dan memiliki potensi untuk
menduduki berbagai posisi di pemerintahan atau sector swasta.
 Meningkatkan kegiatan bersama dengan organisasi profesi
keperawatan di luar negeri, bukan anya untuk pengurus pusat saja
tetapi juga mengikut sertakan pengurus daerah yang berpotensi untuk
dikembangkan.

Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti
menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada
klien. Kiat – kiat itu adalah :

a. Caring, menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif
yaitu : nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan,
menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap
saling tolong menolong, mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan

13
baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan
keputusan, prinsip belajar – mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki
kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr
manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
b. Sharing, artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi
dengan kliennya.
c. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk
meningkatkan rasa nyaman klien.
d. Crying, artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
e. Touching, artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan
komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994).
f. Helping, artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya.
g. Believing in Others, artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat
dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
h. Learning, artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan
keterampilannya.
i. Respecting, artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang
lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
j. Listening, artinya mau mendengar keluhan kliennya.
k. Felling, artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan
duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.
l. Accepting, artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum
menerima orang lain.

14
2.5 contoh kasus

Seorang pasien yang menderita penyakit tuberculossis (TBC) paru di ruang rawat inap
yang sudah tidak mau di rawat lagi karena kurangnya pengetahuan atau tidak percaya dengan
tindakan seorang perawat atau dokter Dan juga rasa takut dengan kemungkinan yang
mungkin terjadi , sehingga seorang pasien minta keluar paksa dari RS. Dalam menangani
kasus ini perawat dirumah sakit akhirnya menjelaskan prosedur dan manfaat dari tindakan
yang akan diberikan perawat. Dan perawat sebisa mungkin meyakinkan dan memberi
motivasi kepada Pasien bahwa tindakan yang akan diberikan perawat dapat mengurangi atau
mungkin pasien bisa sembuh jika penyakitnya ditangami sesuai SOP sehingga Ketakutan dari
kurangnya pengetahuan pasien tadi menjadi lebih berkurang dan diapun mau menjalankan
pengobatan yang akan diberikan perawat.

15
BAB III
PENUTUP
 
3.1 Kesimpulan

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psilo-sosio-spiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga atau masyarakat yang sehat maupun sakit yang
mencangkup siklus hidup manusia. Keperawatan dapat dipandang sebagai suatu profesi
karena mempunyai body of knowledge, pendidikan berbasis keahlian pada jenjang
pendidikan tinggi, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang
profesi, memiliki perhimpunan atau organisasi profesi, memberlakukan kode etik
keperawatan, otonomi dan motivasi bersifat altruistik.

Peran tenaga kesehatan sebagai motivasi tidak kalah penting dari peran lainnya.
Seorang tenaga kesehatan harus mampu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam
meningkatkan kesadaran pihak yang dimotivasi agar tumbuh kearah pencapaian tujuan yang
diinginkan (Mubarak, 2012). Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya sebagai motivator
memiliki ciri-ciri yang perlu diketahui, yaitu melakukan pendampingan, menyadarkan, dan
mendorong kelompok untuk mengenali masalah yang dihadapi, dan dapat mengembangkan
potenSinya untuk memecahkan masalah tersebut (Novita, 2011).

3.2 Saran

Kami sadar bahwa penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun.Untuk terakhir kalinya kami berharap
pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi perawat sehingga
dapat meningkatkan kualitas kerja dan mampu menjadi perawat profesional dibidangnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo.  (2010). Promosi kesehatan teori & aplikasi. Rineka cipta : Depok

Wasis. (2008). Pendoman riset praktis untuk profesi perawat. EGC : Jakarta.

Wahyuni, I. .(2005). Hubungan antara motivasi, kelelahan kerja dan kepuasan kerja pada
perawat RSJD. DR. RM. Soedjarwadi Klaten. Tesis, Universitas Gadjah Mada.:
Jakarta

Sastroasmoro,S.,& Ismaael,S.(2011). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.

:Sagung Seto : Jakarta.

Wahit I & Nurul C. (2011). Ilmu keperawatan komunitas. buku 1. Salemba medika : Jakarta.