Anda di halaman 1dari 23

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dilema IPTEK dalam ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang
pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai
tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan
sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan
hidup manusia. Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. Nilai
budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial, Transcultural Nursing merupakan suatu
area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai Nilai budaya
( nilai budaya yang berbeda, ras, yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan
asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut Leininge ( 1991 ).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi Dilema IPTEK?
1.2.2 Apa saja jenis-jenis kecenderungan dilema IPTEK?
1.2.3 Penyebab dilema IPTEK?
1.2.4 Apa definisi dilema nutrisi secara umum dan nutrisi dalam perspektif transkultural
nursing?
1.2.5 Apa saja kecenderungan penolakan di RS yang berhubungan dengan budaya ?
1.2.6 Apa saja penyebab penolakan nutrisi?
1.2.7 Bagaimana Gambaran masyarakat dengan kasus nutrisi yang berhubungan dengan
budaya?
1.2.8 Apa definisi teori leiningers?
1.2.9 Apa teori sunrise model?
1.2.10 Apa saja komponen dalam sunrise model?
1.2.11 Bagaimana peran teori leingers atau sunrise model dalam proses keperawatan?

1
2

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi Dilema IPTEK
1.3.2 Untuk mengetahui jenis-jenis kecenderungan dilema IPTEK
1.3.3 Untuk mengetahui Penyebab dilema IPTEK
1.3.4 Untuk mengetahui definisi dilema nutrisi secara umum dan nutrisi dalam perspektif
transkultural nursing
1.3.5 Untuk mengetahui kecenderungan penolakan di RS yang berhubungan dengan budaya
1.3.6 Untuk mengetahui penyebab penolakan nutrisi
1.3.7 Untuk mengetahui Gambaran masyarakat dengan kasus nutrisi yang berhubungan
dengan budaya
1.3.8 Untuk mengetahui definisi teori leiningers
1.3.9 Untuk mengetahui teori sunrise model
1.3.10 Untuk mengetahui komponen dalam sunrise model
1.3.11 Untuk mengetahui peran teori leingers atau sunrise model dalam proses keperawatan
3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Dilema IPTEK

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dilema mengandung arti situasi sulit
yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yg sama-sama tidak
menyenangkan atautidak menguntungkan; situasi yg sulit dan membingungkan. Dilema,suatu
pilihan yang kadang-kadang sulit sekali untuk menentukan pilihan.

Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pengetahuan. Pengetahuan pada hakikatnya


merupakan segala sesuatu yang kita ketahui. Cara mendapatkan pengetahuan dapat melalui
berbagai kesempatan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja dan secara spontan. Ilmu
merupakan hasil pemikiran manusia yang diperoleh dari pengalamannya. Ilmu pengetahuan
adalah pengetahuan yang bersifat metodis, sistematis, dan logis. Jadi, ilmu adalah
pengetahuan yang diperoleh melalui metode keilmuan, yakni diperoleh dengan menggunakan
cara kerja yang rinci, sistematis, dan logis.

Teknologi (ilmu teknik) adalah ilmu terapan. Teknologi mendorong diciptakan atau
dikembangkannya ilmu pengetahuan yang lebih maju. Jadi, Iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi) itu saling berkaitan. Teknologi juga diartikan perangkat dan metode-metode untuk
membuat sesuatu.

2.2 Jenis-jenis Kecenderungan dilema IPTEK

Jenis-jenis Iptek yang berkembang saat ini sudah dapat digunakan oleh masyarakat. Pada
keadaan yang membutuhkan manusia selalu melakukan inovasi. Misalnya, dalam bidang
kesehatan, astronomi, teknologi, perhubungan, dan arsitektur. Adapun jenis-jenis Iptek adalah
sebagai berikut.

2.2.1 Kesehatan

Dalam bidang kesehatan masalah pelayanan kesehatan, penyakit, gizi, farmasi, dan
kesehatan lingkungan menjadi perhatian pokok. Untuk itu telah ditingkatkan jaringan
informasi ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Disamping itu alat-alat kedokteran
telah mencapai kemajuan yang sangat pesat. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan
kesehatan masyarakat. Sementara itu, di beberapa rumah sakit tertentu sedang dilakukan

3
4

penelitian tentang pemanfaatan RIA (Radio Immunmo Assay), yaitu suatu alat diagnosa yang
menggunakan teknik radioisotope. Dengan ini maka kesehatan masyarakat semakin
meningkat dan angka kematian semakin menurun.

2.2.2 Astronomi

Selama ini sebagian masyarakat hanya mengetahui matahari terbit dari timur dan
tenggelam di barat, tetapi tidak mengetahui ada apa sebenarnya di dalam matahari atau
bagaimana terbentuknya matahari. Padahal, sejak zaman dahulu tata surya dan matahari
merupakan sesuatu yang vital. Masih ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan siklus
matahari sebagai patokan untuk bercocok tanam, penunjuk arah, atau patokan waktu. Bahkan
di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ilmu falak merupakan dasar yang diajarkan
untuk kepentingan navigasi. Astronomi adalah ilmu perbintangan. Kita pernah mendengar
astronomi (ahli perbintangan) berkebangsaan Polandia yang bernama Nicolaus Copernicus.

2.2.3 Teknologi

Berbagai penemuan di bidang teknologi telah mendorong majunya infomasi dan


teknologi. Setelah James Watt menemukan mesin uap, maka Friedrich Konig (orang Jerman)
mengembangkan mesin cetak dengan tenaga. Kemudian berkembanglah cetak-mencetak
berbagai berita dan pesan dengan menggunakan mesin ketik. Mesin ketik yang pertama kali
dipatenkan adalah rancangan tiga orang Amerika yaitu Christoper L. Sholes, Samuel Soule,
dan Carlos Glidden (1868).

2.2.4 Arsitektur

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih
luas, arsitektur mencakup merancang keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro
yaitu perencanaan kota, perencanaan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro
yaitu desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk pada hasil-hasil proses
perancangan tersebut. Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura ( yang
merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik
haruslah memiliki Keindahan/Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan
Kegunaan/Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan bahwa keseimbangan dan koordinasi
antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam
definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangn fungsi, estetika, dan psikologis.
5

Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup
baik unsur estetika maupun psikologis.

2.3 Penyebab atau dampak Dilema IPTEK

Kemampuan teknologi dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan tidak menutup


kemungkinan juga akan menimbulkan dampak negatif. Yaitu timbulnya penyakit-penyakit
baru, baik langsung maupun tidak langsung

2.3.1 Efek Radiasi yang Berpotensi Menghasilkan Penyakit Baru

Efek Radiasi yang Berpotensi Menghasilkan Penyakit Baru Salah satu contoh: adalah
penyakit kanker yang kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini penyakit tersebut belum
memilikiobat yang bisa mendeteksi hingga tercapainya suatu kesembuhan yang sempurna
bagi para penderitanya.

2.3.2 Efek Ketergantungan

Efek Ketergantungan Teknologi yang kian berkembang juga dapat menimbulkan timbal
balik yang bersifat negatif seperti sifat ketergantungan. Para pengkonsumsi obat antibiotik
yang banyak beredar di masyarakat ternyata tidak semata-mata hanya mengurangi keluhan
yang ada tetapi juga menimbulkan ketergantungan dengan intensitas yang berbeda-beda dari
masing-masing jenis antibiotik. Tidak hanya sampai pada hal tersebut, akan tetapi timbul
suatu kemungkian yang menyebabkan penyakit tersebut memiliki tingkat kekebalan terhadap
antibiotik tertentu.

2.3.3 Kesalahan Persepsi Diyakini Oleh Masyarakat

Kesalahan Persepsi Diyakini Oleh Masyarakat Efek negatif yang juga dapat timbul
karena kesalahan dari persepsi masyarakat dalam mengkaji suatu pengetahuan yang dia
dapatkan. Salah satu contoh yang terjadi di kalangan masyarakat adalah maraknya keinginan
para penikmat kolesterol berlebih. Mereka memiliki anggapan yang mengatakan bahwa untuk
mngurangi berat badan maka salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengurangi jumlah
porsi serta kuantitas makanan yang dikonsumsi. Dengan tidak mengkonsumsi nasi di
beberapa periode tertentu serta menggantikan nya dengan makanan yang memiliki kadar
karbohidrat yang lebih rendah.

2.3.4 Proses Publikasi Perangkat Kesehatan yang Tidak Tepat


6

Sebuah kalkulator online yang dikembangkan di publikasikan begitu saja kepada


masyarakat. Hal ini akan membawa dampak buruk terhadap masyarakat yang meyakini
bahwa hasil perhitungan kalkulator tersebut benar adanya. Maka secara psikologis akan
mempengaruhi harapan untuk tetap hidup sejahtera. Berbahagia bagi mereka yang tercatat
memiliki umur yang panjang, tidak bagi yang tercatat sebaliknya.

2.3.5 Kerahasiaan Seseorang Tidak Terjamin

Majunya peradaban teknologi juga tidak menjamin bahwa penggunanya merasa aman
atau terlindungi terhadap sesuatu yang berhubungan dengan privasi. Sekarang telah
diciptakan pula perangkat lunak yang bisa mengukur risiko kanker payudara bagi wanita.
Pasien bisa mengirim untuk meminta rekaman medik ke dokter . Namun hal ini masih dinilai
memiliki permasalahan yang kaitannya dengan privasi pasien dan keamanan data tersebut.

2.3.6 Terganggunya Syaraf

Manusia merupakan organ vital yang perlu dilindungi. Namun teknologi juga
menunjukkan indikasi bahwa dalam hal ini berbahaya bagi stabilitas syaraf. Salah satu contoh
printer yang menggunakan sistim buble jet kebisingannya relatif lebih rendah bila
dibandingkan dengan printer sistim dot matrix. Saat ini printer yang paling rendah
kebisingannya adalah sistim laser printer. Kebisingan yang tinggi dapat mempengaruhi syaraf
manusia dan hal ini dapat berakibat pada kelelahan maupun rasa nyeri. Adapun batas
kebisingan yang diizinkan untuk bekerja selama kurang dari 8 jam per hari adalah 80 dB.
Sedangkan ruang kerja yang ideal adalah dengan kebisingan sekitar dB. Apabila di dalam
ruang kerja terdapat mesin pendingin (AC), maka kebisingan akan bertambah selain dari
suara printer

2.3.7 Repetitive Strain Injury (RSI)

RSI merupakan sebuah terminologi yang mengacu pada beberapa variasi keluhan
kerangka otot (musculoskeletal). Ini menyangkut keluhan yang dikenal dengan sakit urat otot.
RSI meliputi gangguan lengan atas berkaitan dengan kerja (Work-Related Upper Limb
Disorders) dan luka penggunaan berlebihan yang berhubungan dengan kerja (Occupational
Overuse Injuries). Keluhan ini terutama diderita oleh para pekerja dengan posisi duduk yang
statis saat menggunakan komputer atau menggunakan gerakan tangan yang berulang
(repetitive) setiap hari, beban kerja yang statis (seperti menggenggam mouse), membiarkan
lengan membengkok,dan sejenisnya dalam waktu yang cukup lama. Ini akan bertambah
7

buruk jika tempat kerja tidak didesain secara ergonomis, misalnya posisi keyboard dan layar
monitor yang terlalu tinggi atau terlampau rendah, kursi tidak menopang badan untuk duduk
tegak, dan sebagainya. Hal ini akan semakin parah bila ditambah lingkungan kerja yang
kurang bergerak, kurang istirahat, mengandung stress tinggi dengan deadline dan laporan
rutin serta lainnya. Apalagi jika Anda perokok, menderita kegemukan (obesitas), lemah otot,
memiliki tangan yang terasa dingin serta kurang berolah raga. Gejala awal RSI dapat muncul
pada berbagai tempat dari pangkal lengan hingga keujung tangan.

2.4 Definisi Nutrisi secara umum dan nutrisi perspektif transkultural nursing
Nutrisi adalah zat-zat yang terkandung dalam makanan. Nutrien (zat gizi) adalah
komponen kimia dalam makanan yang digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi dan
membantu pertumbuhan, perbaikan, dan perawatan sel – sel tubuh. Terdapat enam kelas zat
gizi yaitu protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Protein, karbohidrat, lemak
merupakan termasuk makronutrien, sedangkan vitamin, mineral, dan air merupakan termasuk
mikronutrien. 
Beberapa ahli memberikan penjelasan mengenai pengertian nutrisi adalah ikatan kimia
yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya yang berupa energi. Selain itu energi
juga dapat membangun dan memelihara jaringan dalam tubuh serta mengatur proses
kehidupan. Nutrisi digunakan untuk makanan sebagai pembentuk energi, dimana setiap
jaringan dalam tubuh bekerja dengan baik. Nutrisi juga dapat dikatakan sebagai suatu proses
organism yang menggunakan objek utamanya yaitu makanan yang sering dikonsumsi dalam
kondisi yang normal, dengan menggunakan proses degesti, absorsi serta metabolisme yang
pada nantinya akan membuang beberapa zat yang memang tidak digunakan oleh tubuh
Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada
analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger,1987). Keperawatan
transkultural merupakan ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada prilaku individu
atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku yang sehat
atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya (Leininger,
1984). Pelayanan keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar
belakang budayanya.
8

2.5 Berbagai kecenderungan penolakan nutrisi di RS yang berhubungan dengan


budaya keperawatan

Pelayanan gizi/nutrisi rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan
keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi dan status metabolisme tubuh.
Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya
proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap gizi pasien. Sering terjadi kondisi
pasien semakin buruk, hal ini akibat tidak tercukupinnya kebutuhan zat gizi tubuh, karena
diet yang sudah diupayakan penyelenggaraannya oleh petugas tidak bisa optimal. Berikut ini
contoh Makanan yang Bergizi namun dipertimbangkan karena pengaruh budaya
2.5.1 Kalkun
Ada mitos yang menyebutkan bahwa mengkonsumsi kalkun menyebabkan kantuk. Hal
itu tidak benar, rasa kantuk seseorang disebabkan oleh kandungan tryptophan atau asam
amino dalam tubuh. Daging kalkun tidak memiliki asam yang memungkinkan terciptanya zat
– zat tersebut. Daging kalkun memiliki banyak kelebihan karena selain bergizi tinggi, dapat
menyembuhkan penyakit. Di samping itu, daging kalkun membantu pertumbuhan dan
kecerdasan anak. Masih banyak manfaat daging kalkun seperti mencegah penuaan dini.
Daging kalkun diyakini memiliki kandungan protein 34,3 persen atau setara dengan dua kali
daging sapi dan sangat baik untuk mengganti sel tubuh yang rusak.
Selain itu, daging kalkun memiliki kandungan asam amino dan lysine yang banyak
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak dan kecerdasan anak mulai 3-6
tahun. Daging kalkun mempunyai kandungan rendah lemak yang bisa menghindari kelebihan
kolesterol. Daging kalkun juga mengandung energi yang lebih tinggi dari ayam maupun telur
ayam.
2.5.2 Kolostrum
Pada mitos yang salah disebutkan bahwa ASI pertama atau kolostrum (yang berwarna
kekuningan) tidak baik bagi bayi, karena ASI pertama atau kolostrum adalah susu basi. Mitos
tersebut sangat tidak benar. Kolostrum adalah zat terbaik bagi bayi. Kolostrum adalah cairan
yang kaya dengan zat kekebalan tubuh dan zat penting lain yang harus dimiliki bayi. Bayi
menyusui langsung akan merangsang ASI cepat keluar.
2.5.3 Kedelai
Mitos bahwa jika ingin hamil hindari kedelai.mitos ini tidak benar. Anak adalah
dambaan tiap pasangan suami istri. Namun untuk memperoleh keturunan sangatlah salah
apabila menghindari kedelai agar hamil. Kacang kedelai dikenal sebagai makanan terbaik
9

kadar proteinnya, dapat mencapai 35 persen daripada beratnya. Dikatakan bahwa kacang
kedelai dibandingkan dengan beratnya dapat menghasilkan dua kali protein daging, empat
kali telur, empat kali gandum, lima atau enam kali roti dan dua belas kali susu.
Ternyata protein kacang kedelai bukan saja jumlahnya yang banyak, tetapi juga
mempunyai kualitas yang baik. Umumnya cukup dikenal bahwa protein hewani seperti
daging, susu, dan telur adalah protein yang lengkap, sementara protein nabati adalah protein
yang tidak lengkap. Tetapi ternyata protein kacang kedelai, walaupun termasuk protein nabati
lebih mirip menggambarkan protein hewani daripada protei nabati.
Penggunaan minyak kacang kedelai ternyata dapat menghindarkan penyakit jantung. Sebab
utamanya adalah, oleh karena minyak kacang kedelai adalah sumber lechitin. Berbagai
penelitian yang dibuat menunjukkan bahwa lechitin dari kacang kedelai bila diberikan kepada
binatang atau manusia dapat menurunkan kadar kolesterolnya.
2.5.4 Nanas dan Pisang
Ibu hamil tidak boleh mengkonsumsi pisang dan nanas. Mitos ini sangat dipercaya oleh
sebagian masyarakat di Jawa, karena bisa mengakibatkan keputihan. Konsumsi pisang dan
nanas justru disarankan karena kaya akan vitamin C dan serat yang penting untuk menjaga
kesehatan tubuh dan melancarkan proses pembuangan sisa – sisa pencernaan. Adapun
keputihan tidak selalu membahayakan. Saat hamil maupun setelah melahirkan adalah normal
apabila ibu mengalami keputihan. Kecuali jika keputihan tersebut terinfeksi bakteri, jamur, &
virus yang biasanya dengan keluhan gatal, bau, dan warnanya kekuningan atau kecoklatan.
Nanas dan pisang justru mengandung zat-zat tertentu yang dibutuhkan tubuh, terutama
vitamin C dan kalium dalam pisang yang justru berkhasiat menahan cairan tubuh. Lagi pula
kondisi basah sebetulnya merupakan pertanda alamiah bahwa pihak istri telah siap menerima
kehangatan dari suaminya. Sementara kondisi kering malah akan menimbulkan lecet dan rasa
sakit yang bakal menyiksa keduanya. Boleh dibilang yang paling berperan dalam hal ini
adalah sensitivitas dan kekencangan otot-otot tubuh, terutama otot-otot dasar panggul yang
melingkari tulang organ kelamin. Kedua hal inilah yang amat berperan menentukan daya
cengkeram sekaligus meningkatkan kualitas hubungan suami-istri. Jadi, pada mereka yang
sensitivitasnya tidak mengalami gangguan, tersentuh sedikit saja sudah akan terbangkitkan
gairahnya. Jika pun menurun tingkat kepekaannya, entah pada bagian-bagian tertentu atau
justru seluruh tubuh, masih memungkinkan untuk diterapi lewat pengobatan dan pelatihan.
Sambil tak lupa menggali akar permasalahannya kenapa bisa terjadi demikian, mengingat
akibatnya dirasakan secara fisik, meski awalnya bersifat psikis.
10

2.5.5 Telur
Ibu hamil dilarang mengkonsumsi telur, karena dikhawatirkan ASI-nya berbau amis.
Mitos tersebut tidak benar. Telur mengandung protein hewani yang sangat dibutuhkan ibu
hamil. Selain itu, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan bahaya kolesterol,
selain daging, kuning telur kini termasuk makanan yang dihindari. Padahal, para ahli kini
menyimpulkan bahwa telur tidak mempengaruhi kadar kolesterol secara signifikan. Bukan
kolesterol yang mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah, tetapi lemak jenuh. Telur
diketahui hanya mengandung sedikit lemak jenuh. Mengkonsumsi telur bisa memperbaiki
kadar lipid (kolesterol) seseorang yang kolesterolnya naik saat mengkonsumsi makanan kaya
kolesterol.
Ada begitu banyak nutrisi penting dalam sebutir telur. Sebut saja choline, yang sangat
penting untuk fungsi otak dan kesehatan. Satu buah kuning telur mengandung lebih dari 25
persen kebutuhan choline setiap hari. Orang dewasa membutuhkan 425 gram choline per hari,
sedangkan anak balita butuh 250 gram per hari. Sebuah penelitian mengungkapkan konsumsi
choline yang cukup bias menurunkan risiko kanker payudara.
2.5.6 Jeruk
Ada mitos yang menyatakan bahwa jeruk menyebabkan meningkatkan lendir pada paru
bayi dan resiko kuning saat bayi lahir. Justru jeruk sumber vitamin C yang tinggi. Kandungan
jeruk bukan hanya vitamin C tinggi, tetapi juga potasium, folat, kalsium, thiamin, niacin,
vitamin B6, fosfor, dan lain sebagainya. Kelebihan jeruk, mengandung serat tinggi. Walau
begitu, tidak mengandum sodium, lemak, dan kolesterol, karena itu aman bagi yang berdiet.
Serat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam plasma dengan cara mengganggu proses
reabsorpsi asam empedu. Vitamin C dalam jeruk berperan menyerap zat besi non-organik
(zat besi dari makanan non – hewani), sehingga dapat mencegah dan membantu
penyembuhan penyakit. Vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan yang dapat mencegah
kerusakan sel serta penyakit jantung dan kanker. Vitamin C berguna sekali bagi mereka yang
menderita infeksi atau penyakit yang telah berlarut – larut.
2.5.7 Makanan Laut
Mungkin kita sering mendengar ungkapan bahwa ibu hamil dilarang mengkonsumsi ikan
laut karena menyebabkan ASI berbau amis dan luka jahitan sulit kering. Mitos tersebut tidak
benar. Justru ikan laut mengandung protein yang sangat dibutuhkan ibu hamil untuk
mengganti sel – sel rusak.
Protein, zat besi, serta asam lemak omega-3 dalam makanan laut bisa membantu
meningkatkan pertumbuhan otak bayi. Menurut penelitian yang dilakukan di Inggris,
11

kekurangan konsumsi makanan laut selama masa kehamilan bisa mengakibatkan lemahnya
kemampuan verbal, gangguan perilaku, serta masalah tumbuh kembang lain pada anak.
Ikan dan kerang – kerangan saat ini sudah terbukti merupakan makanan yang baik untuk
otak. Makanan – makanan tersebut mengandung asam lemak esensial yang bermanfaat, yakni
Omega-3, serta sejumlah vitamin, mineral,dan asam amino. Asam lemak omega-3 jenin DHA
dan EPA yang banyak ditemukan dalam ikan berminyak terbukti berperan sangat penting
untuk kesehatan dan perkembangan fungsi saraf dan otak. Minyak hati ikan cod yang menjadi
favorit pada zaman dulu, ternyata bukanlah sumber utama lemak esensial untuk anak- anak
karena sisa polutan yang tersimpan dalam hati ikan cod.
2.5.8 Daging Kambing
Benarkah ibu hamil dilarang mengkonsumsi daging kambing ? Jawabannya adalah ibu
hamil boleh saja mengkonsumsi daging kambing dengan porsi yang wajar, kecuali ibu hamil
yang menderita kelebihan kolesterol atau penyakit jantung.
Daging kambing mentah memiliki kandungan lemak 50 persen hingga 60 persen lebih
rendah dibandingkan dengan daging sapi, akan tetapi kandungan proteinnya hampir sama.
Daging kambing juga memiliki kandungan lemak 42 persen hingga 59 persen lebih rendah
jika dibandingkan dengan daging domba.
Hal yang sama untuk daging kambing yang sudah dimasak, presentase lemak jenuh
daging kambing 40 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan daging ayam (tanpa kulit)
dan masing – masing 850 persen, 1100 persen, dan 900 persen lebih rendah jika
dibandingkan dengan daging sapi, babi, dan domba.
2.5.9 Yoghurt
Ibu hamil tidak boleh minum yoghurt. Tidak ada penelitian yang mendukung pernyataan
ini. Jadi pernyataan ini hanya mitos belaka. Lagipula yoghurt itu baik untuk melancarkan
pencernaan ibu hamil. Yang mana semenjak dalam kehamilan tidak jarang ibu hamil
mengalami namanya sembelit.
Yoghurt memiliki gizi yang lebih tinggi dibanding susu segar. Kandungan lemaknya pun
juga lebih rendah, sehingga cocok bagi mereka yang sedang menjalankan diet rendah kalori.
Yoghurt juga dapat membantu proses penyembuhan lambung dan usus yang luka. Meminum
yoghurt secara teratur dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Selain itu juga
yoghurt diyakini baik untuk memperpanjang umur.
12

2.6 Penyebab penolakan nutrisi

Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan
pada proses-proses yakni :

2.6.1 Pertumbuhan
anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai zat
pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok. Anak-anak yang
berasal dari tingkat social ekonomi menengah keatas rata-rata lebih tinggi daripada yang
berasal  dari keadaan social ekonomi rendah.
2.6.2 Produksi tenaga
Kekurangan energy berasal dari makanan, menyebabkan seorang kekurangan tenaga
untuk bergerak,bekerja, dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas, merasa lemah, dan
produktivitas kerja menurun.
2.6.3 Pertahanan tubuh
Daya tahan terhadap tekanan atau stress menurun. System imunitas dan anti bodi
berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-
anak hal ini dapat membawa kematian.
2.6.4 Stuktur fungsi otak
Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental, dengan
demikian kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun.
Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen.
2.6.5 Perilaku
Bagi anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan perilaku tidak
tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng, dan apatis. Dari keterangan diatas tampak,
bahwa gizi yang baik merupakan  modal bagi pengembangan sumberdaya manusia.
2.6.6 Akibat gizi lebih pada proses tubuh
Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi
disimpan di dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu faktor
risiko dalam terjadinya berbagai penyakit degenerative, seperti hipertensi atau tekaan darah
tinggi, penyakit-penyakit diabetes,  jantung koroner, hati dan kantung empedu.
Kebutuhan gizi tiap orang berbeda-beda dan hal tersebut berhubungan dengan jenis
kelamin, usia, berat badan, tinggi badan dan juga aktifitas seseorang. Oleh karena itu setiap
individu sangat berbeda dalam menerima konsumsi makanan. Di samping itu
keanekaragaman makanan juga harus diperhatikan karena pada dasarnya setiap jenis
13

makanan tertentu tidak mengandung semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga
perlu beberapa makanan lain untuk mendapatkan komposisi makanan sesuai yang dianjurkan.
Oleh karena makanan yang beraneka ragam yang mengandung protein, lemak, karbohidrat
serta beberapa mineral lain yang dibutuhkan tubuh dari beragam jenis makanan yang
dikonsumsi setiap hari. 

2.7 Gambaran Masyarakat dengan Kasus Nutrisi yang berhubungan dengan Budaya
 Di Kalimantan Barat masih banyak yang percaya bahwa ibu yang setelah melahirkan
tidak boleh mengkonsumsi ikan dan telur, karena bisa menyebabkan ASI ibu amis dan
luka jahitan lama kering.  Mereka hanya boleh memakan lada hitam tumbuk yang
dicampur ikan teri untuk menghangatkan tubuh.
 Di Bogor masih ada yang percaya bahwa kepada bayi dan balita laki-laki tidak boleh
diberikan pisang ambon karena bisa menyebabkan alat kelamin/skrotumnya bengkak.
 Di Indramayu, makanan gurih yang diberikan kepada bayi dianggap membuat
pertumbuhannya menjadi terhambat. Untuk balita perempuan, mereka dilarang untuk
makan nanas dan timun. Selain itu balita perempuan dan laki-laki juga tidak boleh
mengonsumsi ketan karena bisa menyebabkan anak menjadi cadel. Mereka
menganggap bahwa tekstur ketan yang lengket menyebabkan anak tidak bisa
menyebutkan aksara ‘r’ dengan benar.
 Di beberapa daerah seperti Madura, Surabaya masih banyak ditemukan kepercayaan
tentang jenis makanan tertentu yang dihubungkan dengan mitos dan tabu, seperti
mitos  keperkasaan pada laki-laki dengan mengkonsumsi makanan yang
dikategorikan sebagai makanan panas seperti sate kambing. Sebaliknya, tidak
dianjurkan untuk perempuan yang sedang hamil.
 Pantangan ini pasti sudah sering didengar karena hampir semua orang yang masih
menganut adat Jawa mengatakan bahwa orang hamil dilarang minum es. Alasannya
nanti susah saat melahirkan karena bayi akan menjadi sangat besar dalam kandungan.
 Penganut adat Jawa kental, melarang ibu hamil makan telur karena nanti membuat
janin di dalam perut terus gelisah dan terus bergerak sehingga membuat ibu hamil
tidak bisa tidur.
14

2.8 Definisi teori leiningers


Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada
analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leninger, 1978 dalam Sudiharto,
2007). Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada
perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan
perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya
(Leninger, 1984 dalam Sudiharto, 2007).
Teori ini bertujuan untuk menjelaskan faktor budaya dan asuhan yang mempengaruhi
kesehatan, kesakitan dan kematian manusia sebagai upaya untuk meningkatkan dan
memajukan praktek keperawatan. Tujuan paling utama dari teori ini adalah memberikan
asuhan yang sesuai dengan budaya, gaya hidup maupun nilai-nilai yang dipercaya oleh klien
(Parker, 2001).
Leininger telah mengembangkan beberapa istilah terkait dengan teorinya, yaitu:
2.8.1 Perawatan manusia dan keperawatan
Manusia adalah induvidu atau kelompok yang memiliki nilai – nilai dan norma – norma
yang diyakini berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan tindakan.  Menurut
Leininger, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya setiap saat
dan dimanapun dia berada.
Keperawatan adalah ilmu dan kiat yang diberikan kepada klien dengan landasan budaya
(Andrew, 1995).  Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan,
didasarkan pada kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual secara
komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit
yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Konsep perawatan manusia dan keperawatan adalah ringkasan dan penjelasan dari
pendampingan, dukungan, kemungkinan, dan cara yang memudahkan untuk membantu diri
sendiri atau orang lain yang kekurangan atau sebagai upaya pencegahan untuk meningkatkan
kesehatan,  memperbaiki cara hidup, atau untuk menghadapi ketidakmampuan atau kematian
2.8.2 Budaya
       Budaya menggambarkan pola kehidupan, nilai, keyakinan, norma, simbol dan
kebiasaan individu, kelompok atau institusi yang dipelajari, dibagikan, dan biasanya
diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal  sehingga tidak ada budaya yang sama
persis; budaya bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada
15

generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan; dan budaya diisi dan ditentukan oleh
kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.
2.8.3 Perawatan budaya
Cultural care didefinisikan sebagai nilai, kepercayaan, pengungkapan yang terpola yang
membantu, mendukung dan memungkinkan individu lain atau kelompok untuk memelihara
kesehatannya, meningkatkan kondisi manusia/kehidupan atau menghadapi kematian dan
kecatatan.  Berdasarkan asumsi bahwa cultural care adalah pengertian yang luas untuk
mengetahui, menjelaskan, menjumlahkan, dan memprediksi fenomena asuhan keperawatan
dan untuk mengarahkan praktik asuhan keperawatan.
2.8.4 Culture care diversity
       Cultural care diversity adalah variasi makna, pola, nilai atau simbol asuhan yang secara
budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraannya atau untuk meningkatkan kondisi
manusia dan kehidupan menghadapi kematian
2.8.5 Culture care universality
Culture care universality serupa atau seragam makna, pola, nilai atau simbol asuhan yang
secara budaya dibawa oleh masyarakat untuk kesejahteraan atau meningkatkan kondisi
manusia dan kehidupan atau menghadapi kematian.  Perawatan dapat diperlihatkan dengan
bermacam – macam ekspresi, tindakan, pola, gaya hidup dan arti.
2.8.6 Worldview
       Worldview adalah cara seseorang atau kelompok untuk mencari tahu dan memahami
dunia mereka sebagai nilai, pendirian, dan gambaran tentang kehidupan dan dunia.
2.8.7 Dimensi struktur kebudayaan dan sosial
       Menggambarkan dinamis, holistik, dan keterkaitan pola dari struktur budaya
(subculture), meliputi aspek spiritual, sosial, politik (legal), ekonomi, pendidikan, tehnologi,
nilai budaya, filosofi, sejarah, dan bahasa.
2.8.8 Konteks lingkungan
       Lingkungan adalah keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan,
keyakinan, dan prilaku klien.  Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan klien
dengan budayanya.  Lingkungan meliputi lingkungan itu sendiri (fisik, geografis, sosial
budaya), situasi, atau peristiwa/pengalaman yang memberikan intepretasi terhadap arti
sebagai petunjuk untuk berekspresi dan  mengambil keputusan.
2.8.9 Ethnohistori
       Ethnohistori adalah rangkaian fakta, peristiwa, atau perkembangan yang terjadi,  atau
catatan tentang budaya yang dipilih.
16

2.8.10 Emic
       Emic berarti lokal, pribumi.
2.8.11 Etnic
Etnic berarti orang luar.
2.8.12 Kesehatan
       Suatu keadaan sehat yang secara budaya didefinisikan, dinilai, dan dipraktekkan, yang 
merefleksikan kemampuan individu/kelompok untuk melakukan peran aktivitas sehari – hari
secara mandiri.  Kesehatan adalah keseluruhan aktivitas yang dimiliki klien dengan mengisi
kehidupannya, yang terletak pada rentang sehat-sakit
2.8.13 Keperawatan transkultural
       Keperawatan transkultural adalah formal area dari humanistik dan ilmu pengetahuan dan
praktik yang berfokus pada perawatan budaya secara holistik dan kompetensi atau
kemampuan individu atau kelompok untuk mempertahankan/menjaga kesehatannya dan
untuk menerima kekurangan atau kecacatan, dan menghadapi kematian.
          Keperawatan transkultural adalah cabang dari keperawatan yang memfokuskan pada
studi komparatif dan analisis.  Budaya yang berkenaan dengan keperawatan, praktik asuhan
sehat sakit, keyakinan dan nilai – nilai dengan tujuan profesionalisme pelayanan asuhan
keperawatan untuk individu sesuai dengan budaya pasien.
Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada
analisis dan studi pebandingan tentang perbedaan budaya (Leninger, 1978 dalam Sudiharto,
2007).  Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada
perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan
perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya
(Leninger, 1984 dalam Sudiharto, 2007).
2.8.14 Pemeliharaan perawatan budaya
       Merupakan proses pendampingan, dukungan fasilitas, kemampuan profesional untuk
bertindak dan mengambil keputusan yang dapat membantu klien sebagai bagian dari budaya
untuk memelihara/menjaga makna nilai dan kehidupan, untuk kesembuhan, atau menghadapi
kematian.
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan. 
Perencanaan dan implementasi keperawatan  diberikan sesuai dengan nilai-nilai relevan yang
telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan dan mempertahankan status
kesehatannya, misalnya budaya olahraga setiap pagi.
2.8.15 Akomodasi/negosiasi perawatan budaya
17

       Merupakan proses pendampingan, dukungan fasilitas, kemampuan profesional untuk


bertindak dan mengambil keputusan yang dapat membantu bagian budaya tertentu
(subculture) untuk beradaptasi atau bernegosiasi dengan orang lain untuk menghasilkan
kesehatan yang bermakna.
       Negosiasi budaya adalah intervensi dan implementasi keperawatan untuk membantu
klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. 
Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan status kesehatan.
2.8.16 Perbaikan perawatan budaya
       Merupakan proses pendampingan, dukungan fasilitas, kemampuan profesional untuk
bertindak dan mengambil keputusan yang dapat membantu klien menangkap, merubah, atau
memodifikasi cara hidup mereka untuk memperoleh hasil kesehatan yang lebih baik. 
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status
kesehatannnya.  Perawat berupaya merekonstruksi gaya hidup klien yang biasanya tidak baik
menjadi baik.
2.8.17 Kemampuan perawatan secara budaya
       Merupakan sebuah penegasan  perawatan berbasis budaya dan ilmu pengetahuan yang
menggunakan perasaan, kreativitas, kehati-hatian untuk memenuhi kebutuhan individu atau
kelompok dengan tujuan mencapai kesehatan yang  bermakna, atau untuk menghadapi
kesakitan, kecacatan dan kematian.
18

2.9 Teori sunrise model


Penerapan teori Leineger (Sunrise Model) pada proses keperawatan dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Proses Sunrise Model
Keperawatan
Pengkajian Pengkajian terhadap Level satu, dua dan tiga yang
dan meliputi :
Diagnosis Level satu : World view and Social system level
Level dua : Individual, Families, Groups
communities  and  Institution in diverse health system
Level tiga :Folk system, professional system and nursing
Perencanaan Level empat : Nursing care Decition and Action
dan   Culture Care Preservation/maintanance
Implementasi   Culture Care Accomodation/negotiations
  Culture Care
Repatterning/restructuring                       
Evaluasi

Dalam penerapan proses keperawatan, pengetahuan budaya harus dimiliki sebelum


mengideintifikasi kondisi klien. Pada level satu dikaji pengetahuan dan informasi tentang
struktur social dan pandangan dunia terhadap budaya klien. Selanjutnya dibutuhkan informasi
tentang bahasa dan lingkungan, teknologi, agama, filosophi dan kebangsaan, sosial struktur,
nilai budaya dan kepercayaan, politik, legal sistem, ekonomi dan pendidikan. Pengetahuan ini
dibutuhkan dalam rangka mengaplikasikan keperawatan pada klien dalam konteks individu,
keluarga, kelompok, comunitas dan institusional (level dua).
Penilaian terhadap nilai kepercayaan, tingkah laku klien, terhadap sistem kesehatan
diperlukan  untuk mengidentifikasi kebutuhan klien dalam rangka merumuskan diagnosa
keperawatan (level tiga). Selajutnya setelah ditetapkan suatu diangnosa keperawatan maka
disusunlah perencanaan dan implementasi keperawatan (level empat) yang dalam model ini
sebagai nursing care decition and action. Sunrise Model secara spesifik tidak menjabarkan
evaluasi sebagai suatu bagian khusus. Walaupun demikian teori transcultural nursing makna
penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan perawatan yang memberikan keuntungan bagi
klien.

2.10 Komponen dalam sunrise model


19

7 komponen yang ada pada “Sunrise Model” yaitu:

2.10.1 Faktor teknologi (tecnological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat


penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan,
alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan
persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.

2.10.2 Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis
bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri.
Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.

2.10.3 Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.

2.10.4 Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut
budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah
yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu
dikaji pada faktor ini adalah: posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga,
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.

2.10.5 Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew
20

and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan
yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh
menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

2.10.6 Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang


dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus
dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan
yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian
biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga

2.10.7 Faktor pendidikan (educational factors)

Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur
pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan
klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut
dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

Model matahari terbit (sunrise model) ini melambangkan esensi keperawatan


dalam transkultural yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan
keperawatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok, komunitas, lembaga),
perawat terlebih dahulu harus mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia
(worldview) tentang dimensi dan budaya serta struktur sosial yang berkembang di
berbagai belahan dunia (secara global) maupun masyarakat dalam lingkup yang
sempit.

Dimensi budaya dan strukur sosial tersebut menurut Leinenger dipengaruhi oleh
tujuh faktor, yaitu teknologi, agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan kekerabatan,
nilai budaya dan gaya hidup, politik dan hukum, ekonomi, dan pendidikan.

Setiap faktor tersebut berbeda pada setiap negara atau area, sesuai dengan kondisi
masing-masing daerah, dan akan memengaruhi pola/cara dan praktik keperawatan.
semua langkah perawatan tersebut ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan holistik,
penyembuhan penyakit, dan persiapan menghadapi kematian. Oleh karena itu, ketujuh
21

faktor tersebut harus dikaji oleh perawat sebelum memberikan asuhan keperawatan
kepada klien sebab masing-masing faktor memberi pengaruh terhadap ekspresi, pola,
dan praktik keperawatan (care expression, pattern, and practices).

Dengan demikian, ketujuh faktor tersebut besar kontribusinya terhadap


pencapaian kesehatan secara holistik atau kesejahteraan manusia, baik pada level
individu, keluarga, kelompok, komunitas, maupun institusi di berbagai sistem
kesehatan. Jika disesuaikan dengan proses keperawatan, ketujuh faktor tersebut masuk
ke dalam level pertama yaitu tahap pengkajian.

2.11 Peran teori leiningers atau sunrise model dalam proses keperawatan
Peran perawat pada transkultural nursing teori ini adalah menjembatani antara system
perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan system perawatan professional melalui
asuhan keperawatan. Eksistensi peran perawat digambarkan oleh Leininger seperti dibawah
ini:
 Sisem generik atau transkultural
 Asuhan keperawatan
 Sistem profesional
Oleh karena itu perawat harus mampu membuat keputusan dan rencana kelompok, keluarga,
komunitas, lembaga) dengan mempertimbangkan generic carring dan professional carring.
22

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
 Teori Madeleine Leininger menyatakan bahwa kesehatan dan asuhan dipengaruhi oleh
elemen-elemen antara lain : struktur sosial seeperti tehnologi, kepercayaan dan faktor filosofi,
sistem sosial, nilai-nilai kultural, politik dan fakto-faktor legal, faktor-faktor ekonomi dan
faktor-faktor pendidikan.
Faktor sosial ini berhubungan dengan konteks lingkungan, bahasa dan sejarah etnis,
masing-masing sistem ini nerupakan bagian struktur sosial. Pada setiap kelompok masyarakat
: pelayanan kesehatan, pola-pola yang ada dalam masyarakat dan praktek-praktek yang
merupakan baggian integral dari aspek-aspek struktur sosial.
Dalam model sunrisenya Leineinger menampilkan visualisasi hubungan antara berbagai
konsep yang signifikan. Ide pelayanan dan perawatan (yang dilihat Leineinger sebagai bentuk
tindakan dari asuhan) merupakan inti dari idenya tentang keperawatan. Memberikan asuhan
merupakan jantung dari keperawatan.
Tindakan membantu didefinisikan sebagai perilaku yang mendukung. Menurut
Leineinger bantuan semacam ini baru dapat benar-benar efektif jika latar belakang budaya
pasien juga dipertimbangkan, dan bahwa perencanaan dan pemberian asuhan selalu dikaitkan
dengan budaya.
3.2 Saran
 Penerapan teori Leinienger diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu
antropologi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik.
Pelaksanaan teori leininger memerlukan pengabungan dari teori keperawatan yang lain yang
terkait seperti teori adaptasi, self care, dll
23

DAFTAR22
PUSTAKA

Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

James, Joyce., Colin Baker., & Helen Swain. 2008. Prinsip – Prinsiip Sains untuk
Keperawatan. Jakarta: Erlangga.
http://slideplayer.info/slide/3244622/