Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FITOKIMIA
PEMBUATAN EKSTRAK

Dosen Pengampu :
Fitria Kurniasari, M. Farm., Apt.

Disusun oleh :
Astatin Ardhiasari
24185602A/H

Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi Surakarta
2020
LAPORAN RESMI FITOKIMIA
PEMBUATAN EKSTRAK

I. Tujuan
Mahasiswa mengetahui cara pembuatan ekstrak dengan berbagai metode ekstraksi padat-
cair.

II. Dasar Teori


Ektraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapan bahan dari suatu padatan atau
cairan. Proses ekstrasi bermula dari penggumpalan ekstrak dengan pelarut kemudian
terjadi kontak anatar bahan dan pelarut sehingga pada bidang antar muka bahan ekstraksi
dan pelarut terjadi pengendapan masaa dengan cara difusi (Sudjadadi, 1988)
Faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi anatar lain yaitu ukuran bahan baku,
pemilihan pelarut, waktu proses ekatrasi suhu ektrasi. Ukuran bahan baku yang kecil
baku yang kecil akan menghasilkam hasil yang rendah. Pemilihan pelarut akan
mempengaruhi suhu ekstraksi dan waktu proses ekstraksi. Jika suhu tinggi, maka akan
menghasilkan sisa pelarut yang tinggi pula (Anam.2010:74).
Macam-macam cairan penyari (Abdul Rohman, 2007) :
a) Air
b) Etanol
c) Gycerinum ( Gliserin )
d) Eter
e) Solvent Hexane
f) Acetonum
g) Chloroform
h) Diklorometana
Metode-metode ekstraksi adalah :
1. Maserasi
Maserasi berasal dari bahasa latin Macerace berarti mengairi dan melunakkan.
Keunggulan metode maserasi ini adalah maserasi merupakan cara ekstraksi yang
paling sederhana dan paling banyak digunakan, peralatannya mudah ditemukan dan
pengerjaannya sederhana. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala
industri (Agoes,2007). Dasar dari maserasi adalah melarutnya bahan kandungan
simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk pada saat penghalusan, ekstraksi (difusi)
bahan kandungan dari sel yang masih utuh. Setelah selesai waktu maserasi artinya
keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan masuk ke
dalam cairan, telah tercapai maka proses difusi segera berakhir. Selama maserasi atau
proses perendaman dilakukan pengocokan berulang-ulang. Upaya ini menjamin
keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi yang lebih cepat di dalam cairan.
Sedangkan keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan
aktif. Secara teoritis pada suatu maserasi tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi
absolut. Semakin besar perbandingan simplisia terhadap cairan pengekstraksi, akan
semakin banyak hasil yang diperoleh (Voight, 1994).
Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang dilakukan melalui
perendaman serbuk bahan dalam larutan pengekstrak. Metode ini digunakan untuk
mengekstrak zat aktif yang mudah larut dalam cairan pengekstrak, tidak mengembang
dalam pengekstrak, serta tidak mengandung benzoin (Hargono dkk., 1986).
Menurut Hargono dkk. (1986), ada beberapa variasi metode maserasi, antara lain
digesti, maserasi melalui pengadukan kontinyu, remaserasi, maserasi melingkar, dan
maserasi melingkar bertingkat. Digesti merupakan maserasi menggunakan pemanasan
lemah (40-50°C). Maserasi pengadukan kontinyu merupakan maserasi yang
dilakukan pengadukan secara terus-menerus, misalnya menggunakan shaker,
sehingga dapat mengurangi waktu hingga menjadi 6-24 jam. Remaserasi merupakan
maserasi yang dilakukan beberapa kali. Maserasi melingkar merupakan maserasi
yang cairan pengekstrak selalu bergerak dan menyebar. Maserasi melingkar
bertingkat merupakan maserasi yang bertujuan untuk mendapatkan pengekstrakan
yang sempurna.
Lama maserasi memengaruhi kualitas ekstrak yang akan diteliti. Lama maserasi
pada umumnya adalah 4-10 hari (Setyaningsih, 2006). Menurut Voight (1995),
maserasi akan lebih efektif jika dilakukan proses pengadukan secara berkala karena
keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif.
Melalui usaha ini diperoleh suatu keseimbangan konsentrasi bahan ekstraktif yang
lebih cepat masuk ke dalam cairan pengekstrak.
Kelemahan metode maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyarian kurang
sempurna. Secara tekhnologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian
konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyarigan maserat pertama dan seterusnya
(Depkes RI, 2000; Depkes RI, 1995).

2. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada
perkolasi antara lain : gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi,
osmosa, adesi, daya kapiler dan daya gesekan (friksi).
Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang digunakan
untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar
dari perkolator disebut sari/perkolat, sedang sisa setelah dilakukannnya penyarian
disebut ampas atau sisa perkolasi (Sitorus, 2010).
Bentuk perkolator ada 3 macam yaitu perkolator berbentuk tabung, perkolator
berbentuk paruh dan perkolator berbentuk corong. Pemilihan perkolator bergantung
pada jenis serbuk simplisia yang akan disari.

3. Soxhletasi
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan
penyari dipanaskan hingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi
molekul cairan oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia di dalam klonsong
dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa
siphon, proses ini berlangsung hingga proses penyarian zat aktif sempurna yang
ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa siphon tersebut atau jika
diidentifikasi dengan KLT tidak memberikan noda lagi (Adrian, 2000).
Keuntungannya cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan lebih pekat.
Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan, tanpa menambah volume cairan
penyari. Kerugiannya : larutan dipanaskan terus-menerus, sehingga zat aktif yang
tidak tahan pemanasan kurang cocok (Adrian, 2000).
Metode soxhlet bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara panas namun proses
ekstraksinya secara dingin, sehingga metode soxhlet digolongkan dalam cara dingin
(Dalimartha, 2004).

III. Alat dan Bahan


Alat :
1. Perkolator 8. Erlenmeyer
2. Beaker glass 9. Seperangkat alat soxhlet
3. Batang pengaduk 10. Batu didih
4. Gelar ukur 11. Bejana maserasi
5. Kertas saring 12. Corong
6. Kapas 13. Waterbath
7. Bejana gelap 14. Vacuum Rotary Evaporator
Bahan :
1. Simplisia herba ciplukan ( Physalis angulate L. )
2. Etanol
IV. Cara Kerja
a. Remaserasi

Menyiapkan alat dan bahan

Menimbang 100 gram serbuk herba ciplukan

Memasukkan serbuk kedalam bejana gelap dan menambahkan pelarut ad 1000 ml

Mendiamkan selama 1 hari

Menyaring dengan menggunakan kain flanel dan kertas saring

Ekstrak 1 disimpan lalu Ampas di tambahkan pelarut ad 500 ml

Mendiamkan selama 1 hari

Menyaring lagi dengan kain flanel dan kertas saring

Menguapkan ekstrak 2 dan 1 kemudian ditimbang


b. Soxhlet

Menimbang 30 gram serbuk herba ciplukan

Membungkus dengan kertas saring dan memasukkan dalam alat soxhlet

Menambahkan etanol 96% paling sedikit sebanyak satu setengah kali sirkulasi

Memanaskan cairan penyari dengan kecepatan 4-5 sirkulasi/jam

Melakukan penyarian hingga soxhlet tidak berwarna

Memekatkan filtrat dengan penguap putar atau waterbath

Menimbang ekstrak lalu menghitung rendemen yang diperoleh


c. Perkolasi (demo)

Menimbang 30 gram serbuk herba


ciplukan

Membahasi simplisia dengan cairan penyari dengan perbandingan 10 bagian simplisia


dengan 2,5-5 bagian penyari, kemdudian masukkan dalam bejana tertutup kurang lebih
1 jam

Memindahkan massa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap


kali ditekan dengan hati-hati

Menambahkan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan


di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari

Menutup perkolator dan membiarkan selama 24


jam

Mengalirkan etanol 96% hingga terdapat selapis cairan penyari diatas simplisia
dan membiarkan menetes dengan kecepatan 1 ml/menit
V. Hasil
Ekstrak Remaserasi Ekstrak Soxhlet
Bau : Etanol Bau : Berbau khas
Organoleptis Rasa : Sepat Rasa : Getir
Warna : Hijau pekat Warna : Hijau kehitaman
Jumlah pelarut
yang digunakan 1000 ml 1,5 sirkulasi
(ml)
Kecepatan
28,66/menit
Sirkulasi
Bobot serbuk (g) 100 gr 30 gr
Bobot ekstrak (g) 17,0 gr 2 gr
Rendemen (%) 17,0 % 6,66 %

Perhitungan
 Kecepatan sirkulasi
Mulai : 08.15 WIB
Berakhir : 10.12 WIB
waktu sirkulasi 172
Kecepatan sirkulasi : = =28,66/ menit
jumlah sirkulasi 6
 Rendemen remaserasi
ekstrak 17,0 gr
Rendemen : x 100 %= x 100 %=17,0 %
serbuk 100 gr
 Rendemen soxhlet
ekstrak 2 gr
Rendemen : x 100 %= x 100 %=6,66 %
serbuk 30 gr

Demo ekstraksi dengan metode perkolasi


Hasil ekstrak perkolasi : 2,2 gram
VI. Pembahasan
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak dengan
berbagai metode ekstraksi padat-cair, bahan yang digunakan adalah simplisia herba
ciplukan (Physalis angulata L.) dan pelartu untuk menyari adalah etanol 96%. Praktikum
ini menggunakan tiga metode, yaitu metode remaserasi, soxhletasi dan perkolasi. Tetapi
metode perkolasi hanya dilakukan demo saja, karena prosesnya yang lama.
Pada metode remaserasi didapatkan hasil dalam pengamatan seperti bau : etanol,
rasa : sepat, warna : hijau pekat. Jumlah pelarut yang digunakan dalam metode
remaserasi sebanyak 1 liter atau 1000ml sedangkan serbuk simplisia herba ciplukan ±
100 gram. Bobot ekstrak yang didapat adalah 17,0 gram dan rendemen yang dihasilkan
adalah 17,0%.
Etanol dapat menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan
menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Sehingga disamping sebagai
cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Campuran air-etanol (hidroalkoholic
menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi
adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan kerugiannya adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna.
Pada metode soxhletasi didapatkan hasil dalam pengamatan seperti bau : berbau khas,
rasa : getir, warna : hijau kehitaman. Pelarut yang digunakan sebanyak 1,5 sirkulasi dan
kecepatan sirkulasinya adalah 28,66/menit. Sedangkan serbuk simplisia herba ciplukan ±
30 gram. Bobot ekstrak yang didapat adalah 2 gram dan rendemen yang dihasilkan adalah
6,66%.
Keuntungan metode soxhletasi adalah cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit
dan lebih pekat. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan, tanpa menambah
volume cairan penyari. Kerugiannya adalah larutan dipanaskan terus-menerus, sehingga
kurang cocok menggunakan zat aktif yang tidak tahan panas.

Pada metode perkolasi yang hanya demo saja didapatkan hasil sebanyak 2,2 gram.
keuntungan dari metode perkolasi adalah adanya pergantian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga derajat perbedaan konsentrasi naik.
Serta kecilnya saluran kapiler menyebabkan kecepatan pelarut cukup mengurangi lapisan
batas, sehingga perbedaan konsentrasi meningkat. Disisi lain kerugian dari metode
perkolasi adalah menggunakan cukup banyak cairan penyari dan resiko cemaran mikroba
untuk penyari air lebih besar karena dilakukan secara terbuka.
Dari praktikum ini dapat kita lihat bahwa terdapat banyak metode untuk melakukan
ekstrasi dan setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

VII. Kesimpulan
Dari praktikum ini kita memperoleh % rendemen pada metode remaserasi sebesar
17,0 dan rendemen pada metode soxhlet sebesar 6,66%.

VIII. Daftar Pustaka


Abdul, Rohman., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Adrian, Peyne., 2000, Analisa Ekstraktif Tumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat, Pusat
Penelitian, Universitas Negeri Andalas.
Sitorus, Marham., 2010, Kimia Organik Umum, Graha Ilmu : Yogyakarta.
Sudjadi, 1988, Metode Pemisahan, hal 167-177, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah
Mada.
Dalimartha., 2004, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Trobus Agriwidya : Bogor.

Anda mungkin juga menyukai