Anda di halaman 1dari 28

Makalah

ANTI HIPERTENSI

Disusun untuk memenuhi tugas Individu mata kuliah Farmakologi

Dosen Pengampu :

Laila Nur A, M. Farm.,Apt

Disusun oleh:

Tiara Oktaviani 018.201.1.030

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA SUBANG

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PRODI D3 KEBIDANAN

2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji kami panjatkan atas kehadirat Tuhan yang maha Esa, yang senantiasa
mencurahkan keridhaan dan rahmatnya kepada kami sehingga penulisan tugas SIK yang
berjudul “ Anti Hipertensi “, dapat terselesaikan dengan baik dan pada waktunya.
Tulisan ini mengulas pengertian hipertensi dan obat antihipertensi, Khasiat dan
penggunaannya, serta klasifikasi dan efek sampingnya beserta cara mengatasi obatnya.
Dalam penulisan makalah ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan
kritik yang membangun kearah penyempurnaan makalah ini kami terima dengan sangat
terbuka.
Akhirnya, dari hasil penulisan ini kami harapkan semoga hasil evaluasi serta referensi
bahan yang menyusun makalah ini dapat membantu serta menambah wawasan para pembaca
yang membutuhkan. Kami ucapan terimakasih. Dan semoga barokah serta bermanfaat bagi
kita semua.

Subang, Juni 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................1


1.2 Tujuan ....................................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Anti Hipertensi.....................................................................................3


2.2 Khasiat dan Penggunaannya...................................................................................3
2.3 Klasifikasi Obat Anti Hipertensi............................................................................4
2.4 Efek Samping.......................................................................................................11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................13


3.2 Saran ....................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi meyajikan satu problem unik dalam terapi. Hipertensi lazimnya
merupakan penyakit seumur hidup penyebab beragam gejala sehingga mencapai tahap
lanjut. Untuk mendapatkan pengobatan efektif, harus digunakan setiap hari obat yang
mungkin mahal dan sering menyebabkan efek samping. Oleh karena itu, para dokter
harus menetapkan dengan pasti bahwa hipertensi adalah menetap, memerlukan
pengobatan dan harus mengeluarkan penyebab hipertensi sekunder yang dapat
dirawat dengan prosedur pembedahan definitif.
 Hipertensi menetap, terutama pada orang-orang dengan peningkatan tekanan
darah ringan, harus ditetapkan dengan terjadinya peningkatan tekanan darah pada
paling sedikit pada tiga kali kunjungan yang berbeda. Pemantauan tekanan darah pada
pasien rawat jalan diduga merupakan predictor terbaik terhadap terjadinya risiko dan,
oleh karenanya, dibutuhkan untuk terapi pada hipertensi ringan.
Sekali ditetapkan hipertensi, pertanyaan apakah diperlukan pengobatan atau tidak
dan obat mana yang digunakan haruslah dipertimbangkan. Tingkat tekanan darah,
umur dan jenis kelamin pasien, tingkat keparahan kerusakan organ (jika ada) karena
tekanan darah yang tinggi dan kemungkinan adanya faktor-faktor risiko
kardiovaskular, semua harus dipertimbangkan.
Sekali keputusan diambil untuk melakukan pengobatan,regimen terapeutik harus
dikembangkan dan pasien diberitahu tentang sifat-sifat alami hipertensi dan
pentingnya pengobatan. Pemilihan obat didasarkan pada tingkat tekanan darah,
kerusakan organ dan tingkat keparahannya serta adanya penyakit-penyakit lain.
Tekanan darah tinggi parah dengan komplikasi yang mengancam hidup membutuhkan
pengobatan lebih cepat dengan obat yang lebih kuat. Sebagian besar pasien dengan
hipertensi esensial telah menderita tekanan darah tinggi selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun, dan terapi paling baik dilakukan secara bertahap.
Kesuksesan pengobatan hipertensi menuntut kepatuhan terhadap instruksi diet dan
penggunaan obat yang dianjurkan. Pendidikn engenai sifat alami hipertensi dan
pentingnya perawatan serta pengetahuan tentang efek-efek samping potensial obat

1
sangat perlu diberikan. Kunjungan tindak lanut (follow-up) harus cukup sering untuk
meyakinkan pasien bahwa dokter berfikir penyakit hipertensi adalah penyakit serius.
Pada setiap kunjungan tindak lanjut, harus ditekankan tentang pentingnya
pengobatan dan pertanyaan terutama mengenai dosis dan efek samping obat harus
ditanamkan. Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien adalah
penyederhanaan aturan pemberian dosis dan juga meminata pasien untuk memantau
tekanan darahnya di rumah.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui tentang pengertian hipertensi dan obat antihipertensi.
2. Mengetahui khasiat dan penggunaan obat antihipertensi
3. Mengetahui jenis-jenis obat dan penggolongannya
4. Mengetahui macam-macam obat antihipertensi
5. Mengetahui efek samping dan cara mengatasi obat antihipertensi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Anti Hipertensi


  Anti hipertensi adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hipertensi
adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal.
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg ( Priyanto, 2010 ).
Anti hipertensi merupakan jenis pengobatan baik oral maupun parenteral, yang
bertujuan untuk menurunkan tekanan darah tinggi ( Hipertensi ). Cara mengetahu tinggi
tidaknya tekanan darah seseorang adalah dengan mengetahui terlebih dahulu tekanan
darahnya, yaitu dengan mengambil dua ukuran yang umumnya diukur dengan
menggunakan alat yang disebut dengan tensimeter, kemudian diketahui tekanan
darahnya. Contoh 120/80 mmHg, angka 120 menunjukkan tekanan darah atas pembuluh
arteri dari denyut jantung yang disebut tekanan darah sistolik, kemudian angka 80
merupakan tekanan darah bawah saat tubuh sedang beristirahat tanpa melakukan
aktivitas apapun yang disebut dengan tekanan darah diastolik.
Klasifikasi Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-90
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-100
Hipertensi tingkat 2 >160 >100
Tabel 2,1 pengertian antihipertensi

2.2 Khasiat dan Penggunaanya

Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas dan


mortalitas akibat TD tinggi. Ini berarti TD harus diturunkan serendah mungkin yang
tidak mengganggu fungsi ginjal, otak, jantung, maupun kualitas hidup, sambil dilakukan
pengendalian faktor-faktor resiko kardio vascular lainnya.

Manfaat terapi hipertensi yaitu menurunkan TD dengan antihipertensi (AH) telah


terbukti menurunkan morbiditas dan mortalitas kardio vascular, yaitu stroke, iskemia
jantung, gagal jantung kongestif, dan memberatnya hipertensi.

2.3 Klasifikasi Obat Anti Hipertensi

3
Berdasarkan aksinya, obat anti hipertensi diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yaitu :
1. Diuretik
Bekerja melalui berbagai mekanisme untuk meningkatkan ekskresi natrium,
air klorida, sehingga dapat menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler.
Akibatnya terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah.
Berikut jenis antihipertensi yang termasuk pada kategori Antagonis Reseptor Beta :
a. Furosemide
1) Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix,
uresix.
2) Sediaan obat : Tablet, capsul, injeksi.
3) Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke
dalam intersitium pada ascending limb of henle.
4) Indikasi : Edema paru akut, edema yang disebabkan penyakit jantung
kongesti, sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi.
5) Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui
6) Efek samping : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare.
7) Interaksi obat : indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit
meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid. Tidak boleh diberikan
bersama asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan
bersamaan.
8) Dosis : Dewasa 40 mg/hr
Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr
b. HCT (Hydrochlorothiaside)
1) Sediaan obat : Tablet
2) Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga
volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.
3) Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Didistribusi
keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.
4) Indikasi : digunakan untuk mengurangi udema akibat gagal jantung, cirrhosis
hati, gagal ginjal kronis, hipertensi.
5) Kontraindikasi : hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi
pada kehamilan.
6) Dosis : Dewasa 25 – 50 mg/hr
Anak 0,5 – 1,0 mg/kgBB/12 – 24 jam
4
2. Antagonis Reseptor- Beta
Bekerja pada reseptor Beta jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah
jantung. Berikut jenis antihipertensi yang termasuk pada kategori Antagonis
Reseptor Beta :
a. Asebutol (Beta bloker)
1) Nama Paten : sacral, corbutol,sectrazide.
2) Sediaan obat : tablet, kapsul.
3) Mekanisme kerja : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas
renin, menurunka outflow simpatetik perifer.
4) Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia,feokromositoma, kardiomiopati
obtruktif hipertropi, tirotoksitosis.
5) Kontraindikasi : gagal jantung, syok kardiogenik, asma, diabetes mellitus,
bradikardia, depresi.
6) Efek samping : mual, kaki tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, lesu
7) Interaksi obat : memperpanjang keadaan hipoglikemia bila diberi bersama
insulin. Diuretic tiazid meningkatkan kadar trigleserid dan asam urat bila
diberi bersaa alkaloid ergot. Depresi nodus AV dan SA meningkat bila
diberikan bersama dengan penghambat kalsium.
8) Dosis : 2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr).
b. Atenolol (Beta bloker)
1) Nama paten : Betablok, Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer, efek
pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi
adrenoseptor di ginjal.
4) Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia
5) Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung tersembunyi,
bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes.
6) Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit
kemerahan, impotensi.
7) Interaksi obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin.
Diuretik tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer
berat bila diberi bersama alkaloid ergot.
8) Dosis : 2 x 40 – 80 mg/hr
5
c. Metoprolol (Beta bloker)
1) Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : pengurangan curah jantung yang diikuti vasodilatasi
perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin
akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal.
4) Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya
pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari.
5) Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan
simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah.
Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
6) Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pektoris
7) Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok
kardiogenik, gagal jantung tersembunyi
8) Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare
9) Interaksi obat : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya
10) Dosis : 50 – 100 mg/kg.
d. Propranolol (Beta bloker)
1) Nama paten : Blokard, Inderal, Prestoral
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah
jantung, menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik
di pusat vasomotor otak.
4) Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu
paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah
berikatan dengan protein dan akan bersaing dengan obat – obat lain yang juga
sangat mudah berikatan dengan protein.
5) Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan
simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah.
Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
6) Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren, stenosis
subaortik hepertrofi, miokard infark, feokromositoma
7) Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan blok
jantung tingkat II dan III, gagal jantung kongestif. Hati – hati pemberian pada
6
penderita biabetes mellitus, wanita haminl dan menyusui.
8) Efek samping : bradikardia, insomnia, mual, muntah, bronkospasme,
agranulositosis, depresi.
9) Interaksi obat : hati – hati bila diberikan bersama dengan reserpine karena
menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan
penekanan kontraktilitas miokard. Henti jantung dapat terjadi bila diberikan
bersama haloperidol. Fenitoin, fenobarbital, rifampin meningkatkan
kebersihan obat ini. Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol
menurukan absorbsinya.
10) Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan.

3. Antagonis Reseptor – Alfa


Menghambat reseptor alfa diotot polos vaskuler yang secara normal berespon
terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi. Berikut jenis antihipertensi
yang termasuk pada kategori Kalsium Antagonis:
a. Klonidin (alfa antagonis)
1) Nama paten : Catapres, dixarit
2) Sediaan obat : Tablet, injeksi.
3) Mekanisme kerja : menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP.
4) Indikasi : hipertensi, migren
5) Kontraindikasi : wanita hamil, penderita yang tidak patuh.
6) Efek samping : mulut kering, pusing mual, muntah, konstipasi.
7) Interaksi obat : meningkatkan efek antihistamin, andidepresan, antipsikotik,
alcohol. Betabloker meningkatkan efek antihipertensinya.
8) Dosis : 150 – 300 mg/hr.

4. Kalsium Antagonis
Menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan
mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Penghambat
kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menurunkan denyut
jantung. Volume sekuncup dan resistensi perifer. Berikut jenis antihipertensi yang
termasuk pada kategori Kalsium Antagonis:
a. Diltiazem (kalsium antagonis)
1) Nama paten : Farmabes, Herbeser, Diltikor.
7
2) Sediaan obat : Tablet, kapsul
3) Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui
slow cannel calcium.
4) Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
5) Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui, gagal jantung.
6) Efek samping : bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran
cerna.
7) Interaksi obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta
bloker. Efek terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama
amiodaron dan digoksin. Simotidin meningkatkan efeknya.
8) Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan
b. Nifedipin (antagonis kalsium)
1) Nama paten : Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard,
Vasdalat.
2) Sediaan obat : Tablet, kaplet
3) Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan
spasme arteri coroner.
4) Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal
jantung refrakter.
5) Kontraindikasi : gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan
menyusui.
6) Efek samping : sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki.
7) Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi berat
atau eksaserbasi angina. Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan
waktu protombin bila diberikan bersama antikoagulan. Simetidin
meningkatkan kadarnya dalam plasma.
8) Dosis : 3 x 10 mg/hr
c. Verapamil (Antagonis kalsium)
1) Nama paten : Isoptil
2) Sediaan obat : Tablet, injeksi
3) Mekanisme kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung
dan vaskuler sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri coroner, dan
menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan penggunaan oksigen.
4) Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren.
8
5) Kontraindikasi : gangguan ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi, blok
jantung tingkat II dan III, hipersensivitas.
6) Efek samping : konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema, lesu, dipsnea,
bradikardia, kulit kemerahan.
7) Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek
negative pada denyut, kondiksi dan kontraktilitas jantung. Meningkatkan
kadar digoksin dalam darah. Pemberian bersama antihipertensi lain
menimbulkan efek hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin, litium,
siklosporin. Rifampin menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas
jantung bila diberi bersama flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate
bila diberi bersama kuinidin. Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.
8) Dosis : 3 x 80 mg/hr

5. ACE inhibitor
Berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang
diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini
menurunkan tekanan darah baik secara langsung menurunkan resisitensi perifer. Dan
angiotensin II diperlukan untuk sintesis aldosteron, maupun dengan meningkatkan
pengeluaran netrium melalui urine sehingga volume plasma dan curah jantung
menurun. Berikut jenis antihipertensi yang termasuk pada kategori ACE inhibitor :
a. Kaptopril
1) Nama paten : Capoten
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga
menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan
aldosterone.
4) Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
5) Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada penderita dengan riwayat
angioedema dan wanita menyusui.
6) Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia,
pandangan kabur, myalgia.
7) Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Tidak
boleh diberikan bersama dengan vasodilator seperti nitrogliserin atau preparat
nitrat lain. Indometasin dan AINS lainnya menurunkan efek obat ini.
9
Meningkatkan toksisitas litium.
8) Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.
b. Lisinopril
1) Nama paten : Zestril
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga
perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan
menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
4) Indikasi : hipertensi
5) Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, wanita hamil,
hipersensivitas.
6) Efek samping : batuk, pusing, rasa lelah, nyeri sendi, bingung, insomnia,
pusing.
7) Interaksi obat : efek hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretic.
Indomitasin meningkatkan efektivitasnya. Intoksikasi litium meningkat bila
diberikan bersama.
8) Dosis : awal 10 mg/hr
c. Ramipril
1) Nama paten : Triatec
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga
perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan
menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.
4) Indikasi : hipertensi
5) Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, hipersensivitas. Hati
– hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
6) Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung,
susah tidur.
7) Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika.
Indometasin menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm meningkat.
8) Dosis : awal 2,5 mg/hr

6. Vasodilator

10
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi
otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah :
Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian
obat ini adalah : sakit kepala dan pusing. Berikut jenis antihipertensi yang termasuk
pada kategori Vasodilator :
a. Hidralazin
1) Nama paten : Aproseline
2) Sediaan obat : Tablet
3) Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer
menurun, meningkatkan denyut jantung.
4) Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
5) Kontraindikasi : gagal ginjal, penyakit reumatik jantung.
6) Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah,
kulit kemerahan.
7) Interaksi obat : hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid.
8) Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 – 3 dosis.

2.4 Efek Samping


Semua obat antihipertensi menimbulkan efek samping umum, seperti hidung mampat
(akibat Vasodilatasi mukosa) dan mulut kering, bradykardia (kecuali fasodilator
langsung : justru tachycardia), rasa letih dan lesu, gangguan penglihatan, dan lambung-
usus (mual, diare), ada kalanya impotensi (terutama obat-obat sentral).Efek-efek ini
seringkali bersifat sementara yang hilang dalam waktu 1-2 minggu. Dapat dikurangi atau
dihindarkan dengan cara pentakaran “menyelinap”, artinya dimulai dengan dosis rendah
yang berangsur-angsur dinaikkan.
Dengan demikian, penurunan TD mendadak dapat dihindarkan. Begitu pula obat
sebaiknya diminum setelah makan agar kadar obat dalam plasma jangan mendadak
mencapai puncak tinggi (dengan akibat hipotensi kuat). Penghentian terapi pun tidak
boleh secara mendadak, melainkan berangsur-angsur untuk mencegah bahaya
meningkatnya TD dengan kuat (rebound effect) Khusus. Lebih serius adalah sejumlah
besar efek samping khusus, antara lain:
1. Hipotensi ortostatis, yakni turunnya TD lebih kuat bila tubuh tegak (=ortho, Lat.)
daripada dalam keadaan berbaring, dapat terjadi pada terutama simpatolitika.

11
2. Depresi, terutama pada obat-obat yang bekerja sentral, khususnya reserpin dan
metildopa, juga pada beta-blockers yang bersifat lipofil, antara lain propra-nolol,
alprenolol, dan metoprolol.
3. Retensi garam dan air, dengan bertambahnya berat badan atau terjadinya udema,
antara lain antagonis Ca, reserpin, metildopa dan hidralazin. Efek samping ini dapat
diatasi degan kombinasi bersama suatu deuretikum.
4. Penurunan ratio HDL: LDL. Sejumlah obat mempengaruhi metabolisme lipida
secara buruk, yakni menurunkan kadar kolesterol-HDL plasma yang dianggap
sebagai faktor-pelindung terhadap penyakit jantung-pembuluh. Atau, juga
meningkatkan kolesterol-LDL yang dianggap sebagai faktor risiko bagi PJP. Sifat ini
telah dipastikan pada diuretika (kelompok thiazida dan klortalidon) dan pada beta-
blockers, khususnya obat-obat yang tak kardioselektif atau tak memiliki ISA.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan 
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140
mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg (Kee & Hayes). Obat antihipertensi adalah
obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai
tekanan darah normal. Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih tempat
kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme normal
regulasi TD.
Pengobatan Farmakologis
1. Diuretik
2. Antagonis Reseptor- Beta
3. Antagonis Reseptor-Alfa
4. Kalsium Antagonis
5. ACE inhibitor
6. Vasodilator
      Semua obat antihipertensi menimbulkan efek samping umum, seperti hidung
mampat (akibat Vasodilatasi mukosa) dan mulut kering, bradykardia (kecuali
fasodilator langsung : justru tachycardia), rasa letih dan lesu, gangguan penglihatan,
dan lambung-usus (mual, diare), ada kalanya impotensi (terutama obat-obat
sentral).Efek-efek ini seringkali bersifat sementara yang hilang dalam waktu 1-2
minggu. Dapat dikurangi atau dihindarkan dengan cara pentakaran “menyelinap”,
artinya dimulai dengan dosis rendah yang berangsur-angsur dinaikkan.
 Dengan demikian, penurunan TD mendadak dapat dihindarkan. Begitu pula obat
sebaiknya diminum setelah makan agar kadar obat dalam plasma jangan mendadak
mencapai puncak tinggi (dengan akibat hipotensi kuat). Penghentian terapi pun tidak
boleh secara mendadak, melainkan berangsur-angsur untuk mencegah bahaya
meningkatnya TD dengan kuat (rebound effect) Khusus.

3.2 Saran
13
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam
proses pembelajaran dan semoga bisa menambah ilmu pengetahuan dan diharapkan
mahasiswa dapat mengetahui pengertian hipertensi dan obat antihipertensi, Khasiat
dan penggunaannya, serta klasifikasi dan efek sampingnya beserta cara mengatasi
obatnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Theodorus. 1996. Penuntun Praktis Peresepan Obat. Penerbit Buku Kedokteran


EK:Jakarta.
Katzung G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 1. Salemba Medika:Jakarta.
Priyanto. 2010. Farmakologi Dasar. Penerbit Lenskofi: Depok, Jawa Barat. Bab I
Setiawati, Arini dkk. 2001. Farmakologi dan Terapi ed. 4. Jakarta : FKUI.
Anief, Moh, 1996, Penggolongan Obat berdasarkan khasiat dan penggunaan, UGM Press.
Yogakarta
Ansel, Howard C, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press; Jakarta

15
Tabel Kriteria Penggunaan Obat Anti Hipertensi

No Nama Spesialis Indikasi Efek Samping Dosis Perhatian Kriteria


Obat Keamanan
Obat Dalam
Kehamilan
(FDA)
1. Tablet Digunakan untuk Nyeri perut, pusing  Dewasa 25 – 50 Harap berhati- Katagori B
hydroclorothiazide mengurangi udema atau sakit kepala dapat mg/hr hati bagi pasien
( HTC ) akibat gagal jantung, terjadi. Juga dapat  Anak usia yang menderita
cirrhosis hati, gagal menyebabkan dehidrasi dibawah 6 bln 1- atau memiliki
ginjal kronis, hipertensi, dan kekurangan garam 3 mg/kgBB/hari; riwayat gagal
obat awal yang ideal karena terlalu banyak usia 6 bln -2 thn ginjal, diabetes,
untuk hipertensi, edema mengeluarkan urine. 1-2 gangguan
kronik, hiperkalsuria Efek samping yang mg/kgBB/hari; elektrolit,
idiopatik. lebih serius juga bisa usia > 2-12 thn kolestrol tinggi,
terjadi, seperti 1-2 asam urat,
gangguan penglihatan mg/kgBB/hari ihpotensi, lupus,
dan sakit mata. terbagi 1-2 dosis gangguan hati,
(maksimal 100 kehamilan dan
mg/hari) menyusui

1
 Lansia 12,5-25
mg sekali sehari
titrasi dengan
kenaikan 12,5
mg bila
diperlukan
2. Furosemide Diuretik yang dipilih Pusing. Lesu, kaku  Dewasa ; 40-80 Hati-hati Katagori C
untuk pasien dengan otot, hipotensi, mual, mg/hr penggunaan pada
GFR rendah dan diare. Hiponatremia,  Lansia ; dosis pasien
kedaruratan hipertensi. hipokalemia, dehidrasi, furosemide tablet pradiabetes atau
Juga edema, edema paru hiperglikemia, untuk lansia diabetes, sirosis
dan untuk mengeluarkan hiperurisemia, selalu diawali hati, asam urat,
banyak cairan. hipokalsemia, dosis terendah, gangguan
ototoksisitas, alergi lalu ditingkatkan berkemih,
sulfonamide, secara bertahap beresiko
hipomagnesemia, sesuai kondisi mengalami
alkalosis hipokloremik, pasien. penurunan
hipovolemia. tekanan darah,
gangguan hati
dan ginjal.
3. Asebutol (beta Hipertensi, angina Mual, kaki tangan 2 x 200 mg/hr Gagal jantung, Kategori C
bloker) pectoris, dingin, insomnia, (maksimal 800 syok kardiogenik,

2
aritmia,feokromositoma, mimpi buruk, lesu mg/hr). asma, diabetes
kardiomiopati obtruktif mellitus,
hipertropi, tirotoksitosis. bradikardia,
depresi.
5. Atenolol (beta Hipertensi ringan – Nyeri otot, tangan kaki 2 x 40 – 80 mg/hr Gangguan Kategori C
bloker) sedang, aritmia rasa dingin, lesu, konduksi av,
gangguan tidur, kulit gagal jantung
kemerahan, impotensi. tersembunyi,
bradikardia, syok
kardiogenik,
anuria, asma,
diabetes.

6. Metildopa Hipertensi, bersama Mulut kering, sedasi, Dosis dan aturan Mempengaruhi Metildopa
dengan diuretika, krisis depresi, mengantuk, pakai: oral 250mg 2 hasil uji memiliki faktor
hipertensi jika tidak diare, retensi cairan, kali sehari setelah laboratorium, resiko B pada
diperlukan efek segera. kerusakan hati, anemia makan, dosis menurunkan kehamilan
hemolitika, sindrom maksimal 4g/hari, dosis awal pada
mirip lupus infus intravena 250- gagal ginjal,
eritematosus, 500 mg diulangi disarankan untuk
parkinsonismus, ruam setelah enam jam melaksanakan
kulit, dan hidung jika diperlukan. hitung darah dan

3
tersumbat uji fungsi hati,
riwayat depresi

7. Hidralazin Hipertensi, gagal jantung Sakit kepala, 25 mg dua kali Alergi terhadap Kategori C
takikardia, gangguan sehari, dapat hydralazine atau
saluran cerna, muka ditingkatkan hingga bahan lain yang
merah, kulit maksimal 50 mg dua terkandung,
kemerahan. kali sehari memiliki
aneurisma,
memiliki kondisi
jantung tertentu
(mis. Stenosis
aorta, stenosis
mitral.
Perikarditis
konstriktif, cor
pulmonale),
memiliki
penyakit arteri
coroner dan lupus
8. Kaptopril Hipertensi, gagal Batuk, kulit kemerahan,  Dosis awal 25-75 Jangan Memiliki factor
jantung. Hipertensi, konstipasi, hipotensi, mg terbagi menggunakan resiko kategori C

4
terutama berguna untuk dyspepsia, pandangan menjadi 2-3 captropril jika pada kehamilan
hipertensi dengan rennin kabur, myalgia. dosis. Dosis dapat memiliki alergi trimester satu,
tinggi. ditingkatkan thdp obat ini atau dan kategori D
hingga 100-150 obat-obatan pada trimester
mg terbagi golongan ACE dua dan tiga
menjadi 2-3 dosis inhibitor lainnya.
setelah 2 minggu Harap berhati-
penggunaan hati
menggunakan
captropril pada
penderita
gangguan ginjal,
gangguan hati,
jantung dan
diabetes.

5
Tugas Soal & Jawaban materi ANTI HIPERTENSI

1. Peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik lebih dari 140 mmhg dan
tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmhg adalah pengertian dari...
A. Hipertensi
B. Hipotensi
C. Takikardi
D. Anemia
E. Hipersensitiv

2. Jenis pengobatan baik oral maupun parenteral, yang bertujuan untuk menurunkan
tekanan darah tinggi adalah...
A. Antibiotik
B. Antihipertensi
C. Antiperdarahan
D. Analgetik
E. Antipiretik

3. Salah satu obat antihipertensi, yaitu...


A. CTM
B. Paracetamol
C. Dextramethason
D. Captropil
E. Cetirizin

4. Obat anti hipertensi yang tidak di anjurkan untuk penderita asma dengan hipertensi...
A. Captropil
B. Nifedipine
C. Thiazide
D. Propanolol
E. Terazosin

5. Hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid merupakan interaksi dari
obat..
A. Nifedipin
B. Kaptropil
C. Hidralazin
D. Diltiazem
E. Klonidin

1
6. Berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang
diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Merupakan
golongan obat...
A. ACE inhibitor
B. Kalsium antagonis
C. Antagonis reseptor- alfa
D. Antagonis reseptor- beta
E. Vasodilator

7. Setelah pemberian antihipertensi dan tekanan darah telah kembali normal normotensi,
selanjutnya upaya apakah yang dilakukan pada pasien ?
A. Menurunkan dosis
B. Menghentikan obat
C. Menukar cara pakai obat menjadi per-oral
D. Menggantinya dengan captopril
E. Menggabungkannya dengan beta-blocker

8. Berapakah dosis awal yang harus diberikan pada pemberian obat captropil...
A. Dosis awal 25-75 mg terbagi menjadi 2-3 dosis
B. Dosis awal 25 – 50 mg/hr
C. Dosis awal 50-80 mg/hr terbagi menjadi 2 dosis
D. Dosis awal 75 mg/hr
E. Dosis awal 40-80 mg/ hr terbagi 2-3 dosis

9. Pasien dengan pemberian alfa dan beta bloker, antihipertensi apakah yang tak boleh
diberikan pada penderita tersebut?
A. Diltiazem
B. Nifedipin
C. Verapamil
D. Klonidin
E. Propanolol

10. Interaksi apa yang terjadi bila diberikan antihipertensi nifedipin (antagonis
kalsium) pada pasien tersebut?

2
A. Meningkatkan efek antihistamin, andidepresan, antipsikotik, alcohol.
B. Menimbulkan hipotensi berat atau eksaserbasi angina.
C. Menurunkan denyut jantung.
D. Menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan
penekanan kontraktilitas miokard.
E. Memperpanjang keadaan hipoglikemia.

11. Diuretika yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan
hipertensi, merupakan indikasi dari obat..
A. Manitol
B. Furosemide
C. HCT
D. Spironolactone
E. Acetazolamide

12. Hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika merupakan interaksi dari obat?
A. HCT
B. Furosemide
C. Kaptropil
D. Propanolol
E. Beta bloker

12. Dosis awal pada pemberian proanolol (beta bloker) adalah...


A. Dosis awal 50 mg 2x/hr diteruskan dosis pemeliharaan
B. Dosis awal 75 mg/hr terbagi menjadi 2 dosis
C. Dosis awal 25 mg/hr diteruskan dosis pemeliharaan
D. Dosis awal 40 mg 2x/hr diteruskan dosis pemeliharaan
E. Dosis awal 50-75 mg/hr terbagi menjadi 2-3 dosis

13. Efek samping yang ditemui pada penggunaan obat kaptropil adalah.
A. Penglihatan kabur
B. Takikardia

3
C. Gangguan saluran cerna
D. Dehidrasi
E. Myalgia

14. Merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan
denyut jantung, merupakan mekanisme kerja dari obat..
A. Nifedipin
B. Kaptropil
C. Hidralazin
D. Diltiazem
E. Klonidin

15. Dosis pemberian HTC pada anak usia > 2-12 thn adalah?
A. 1-2 mg/kgBB/hari terbagi 1-2 dosis (maksimal 100 mg/hari)
B. 1-2 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis
C. 5 mg/kgBB/hari
D. 2,5-5 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis (maksimal 50 mg/hari)
E. 5-7 mg?kgBB/hari terbagi 2 dosis

16. Efek hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretic, merupakan interaksi dari
golongan obat..
A. Diuretik
B. Kalsium antagonis
C. Antagonis reseptor- alfa
D. ACE inhibitor
E. Vasodilator

17. Diuretika berikut ini yang digunakan untuk terapi glukoma


A. Manitol
B. Furosemide
C. HCT
D. Spironolactone
E. Acetazolamide

4
18. Salah satu efek samping dari captropil adalah..
A. Sakit kepala
B. Takikardia
C. Gangguan saluran cerna
D. Kulit kemerahan
E. Dypepsia

19. Retensi garam dan air, dengan bertambahnya berat badan atau terjadinya udema, efek
samping ini dapat diatasi dengan kombinasi bersama...
A. Deuretik
B. Diazodsid
C. Beta bloker
D. Respine

20. Yang bukan termasuk golongan obat Antagonis Reseptor- Beta, yaitu ...
A. Asebutol
B. Atenolol
C. Metaprolol
D. Propanolol
E. Metaproterenol