Anda di halaman 1dari 19

I.

Soal TAP manajemen

manajemen operasi

Contohnya seperti soal ini:

PT. Maju Bhakti, sebuah perusahaan yang memproduksi karburator mobil, tengah
mempertimbangkan untuk membuka pabrik baru. Terdapat tiga alternatif lokasi, yaitu di
Sidoarjo, Semarang, atau Bekasi. Studi pendahuluan telah dilsayakan dan diperoleh perkiraan
biaya tetap per tahun per lokasi adalah Rp30.000.000, Rp60.000.000, dan Rp110.000.000
dengan biaya variabel per unit sebesar Rp75.000, Rp45.000, dan Rp25.000. Harga jual
karburator diperkirakan Rp120.000 dan perusahaan menginginkan untuk berproduksi pada
tingkat produksi 2.000.000 unit per tahun. Perhitungan penentuan lokasinya adalah sebagai
berikut.

Sidoarjo: Biaya total = Rp30.000.000 + Rp75.000(2.000.000) = Rp150.030.000.000

Semarang: Biaya total = Rp60.000.000 + Rp45.000(2.000.000) = Rp90.060.000.000

Bekasi: Biaya total = Rp110.000 + Rp25.000(2.000.000) = Rp50.000.100.000

Jadi apabila berproduksi pada tingkat 2.000.000 unit per tahun, dipilih lokasi Bekasi karena
biayanya paling murah.

Soal yang kedua adalah megenai Daur Hidup Produk (Manajemen Pemasaran). Kita
disuruh menganalisis produk yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut dipandang dalam daur
hidup produk. Seperti kita ketahui bersama ada bebarapa tahap dalam daur hidup produk
antara lain:

Tahap Perkenalan

Tahap ini ditandai dengan pertumbuhan penjualan yang lambat. Dalam tahap ini relatif hanya
terdapat beberapa perusahaan yang menjual produk baru. Mereka cenderung membatasi jenis
produknya karena pasarnya dianggap belum siap untuk menerima pembauran-pembauran
produk. Terdapat empat strategi pemasaran pada tahap perkenalan, yaitu (1) strategi profil
tinggi, (2) strategi penetrasi preemtif, (3) ) strategi penetrasi selektif, dan (4) strategi profil
rendah.

Tahap Pertumbuhan

Strategi pemasaran yang dapat digunakan pada tahap ini adalah:

Meningkatkan kualitas produk => Mencari segmen pasar baru => Selalu mencari saluran
distribusi yang baru => Mengadakan periklanan

Tahap Kedewasaan

Strategi pemasaran pada tahap ini meliputi:

Modifikasi pasar => Modifikasi produk => Modifikasi bauran pemasaran

Tahap Kemunduran
Strategi pemasaran yang dapat dilayakan pada tahap ini adalah

Mencari produk yang lemah => Membangkitkan lagi produk tersebut => Meninggalkan produk
tersebut.

Soal yang ketiga adalah mengenai Payback Period suatu investasi(Manajemen


Keuangan). Kita disuruh menentukan berapa payback period suatu investasi. Perusahaan
dihadapkan oleh dua atau lebih investasi, kita disuruh menghitung payback period masing-
masing investasi dan memilih investasi mana yang paling menguntungkan. Metode ini
mengukur berapa lama waktu yang dubutuhkan untuk mengembalikan investasi semula,
melalui proceed yang dihasilkan dalam setiap periode. Untuk itu metode ini sering disebut
metode yang paling sederhana, karena tidak memperhitungkan konsep nilai waktu uang (time
value of money), sehingga cash flows tidak dikaitkan dengan discount rate tertentu.

Contoh :

Proyek A dan B membutuhkan investasi masing-masing sebesar Rp10.000.000,00 Pola cash


flow untuk masing proyek diperkirakan sebagai berikut.

Tahun Pola Cash Flows


  Proyek A Proyek B
1 Rp 5.000.000,00 Rp 3.000.000,00
2 Rp 5.000.000,00 Rp 4.000.000,00
3 Rp 3.000.000,00 Rp 3.000.000,00
4 Rp 2.000.000,00 Rp 4.000.000,00
 

Dari data tersebut di atas, maka payback period dapat dihitung :

Proyek A = 2 tahun

Proyek B = 3 tahun

Soal yang keempat adalah mengenai Analisi Markov dan teori Keadilan (MSDM).

Analisis Markov yaitu analisis untuk menunjukkan kemungkinan seorang karyawan untuk


berpindah dari satu posisi ke posisi lain, atau bahkan meninggalkan organisasi. Analisis Markov
dimulai dengan suatu analisis level penempatan karyawan dalam berbagai tingkatan, dari satu
periode ke periode waktu lainnya. Misalnya, karyawan-karyawan keperawatan profesional telah
berpindah dari rumah sakit I, II, dan III dalam kompleks Pusat Medis Jakarta. Mereka berhenti
dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Seorang spesialis sumber daya manusia pada
rumah sakit I tertarik menganalisis perpindahan sumber daya manusia yang berlangsung di
rumah sakitnya dan rumah sakit II serta III. Tabel berikut mengilustrasikan perpindahan
tersebut.

Tabel 1.

Perpindahan Perawat Selama 2001

Rumah Sakit Level Perawat Memperoleh Kehilangan Level Perawat


2009 2010
I 300 70 60 310
II 600 50 60 590
III 400 45 60 385

Pakar sumber daya manusia selanjutnya dapat menghitung probabilitas transisi untuk ketiga
rumah sakit tersebut, yaitu dengan mengkalkulasi probabilitas rumah sakit untuk dapat
mempertahankan perawatnya. Tabel 2 mengilustrasikan probabilitas transisi daya tahan
perawat profesional.

Tabel 2.

Probabilitas Transisi Perawat

Rumah Sakit Level Perawat Kehilangan Dapat Level Perawat


2009 Mempertahankan 2010
Perawat {(2) –(3)}
(1) (2) (3) (4) (5)
I 300 60 240 240/300 = 0,80
II 600 60 540 540/600 = 0,90
III 400 60 340 340/400 = 0,85

Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa rumah sakit I memiliki probabilitas 0,80 untuk
mempertahankan perawatnya, sedangkan rumah sakit II memiliki probabilitas 0,90, dan rumah
sakit III memiliki 0,85. Baik rumah sakit II maupun rumah sakit III memiliki probabilitas untuk
mempertahankan perawatnya lebih tinggi dibanding rumah sakit I. Oleh karena itu, rumah sakit I
perlu perlu belajar lebih lanjut tentang mengapa memiliki probabilitas daya tahan yang lebih
rendah.

Teori Keadilan (Equity Theory)

Berbicara mengenai keadilan dalam pengupahan, kita dapat menggunakan teori keadilan
(equity theory) untuk menjelaskannya. Keadilan adalah keseimbangan antara masukan (inputs)
yang diberikan seorang karyawan ke dalam pekerjaan dan ke luaran (outcomes) yang diterima
karyawan yang bersangkutan dari hasil melaksanakan pekerjaan (Fisher, et al., 1990). Faktor-
faktor yang termasuk dalam masukan adalah faktor pengalaman, pendidikan, keahlian khusus,
usaha, dan waktu untuk bekerja. Sedangkan ke luaran meliputi upah, tunjangan, keberhasilan,
pengsayaan/ penghargaan, dan berbagai bentuk penghargaan lain.

Teori keadilan menyatakan bahwa, karyawan akan menilai tentang keadaan keadilan yang ada
pada diri mereka dan membandingkan kondisi mereka dengan orang lain. Teori keadilan juga
menyatakan bahwa, individu akan selalu berbuat sesuatu untuk mencoba melepaskan tekanan
yang diciptakan oleh suatu pandangan ketidakadilan. Sebagai contoh, seorang polisi yang
merasa bahwa dia mengeluarkan usaha yang lebih banyak pada kegiatan-kegiatan yang
mengandung risiko lebih besar dibanding (misalnya) yang dikeluarkan oleh petugas pemadam
kebakaran, dalam suatu komunitas yang sama dan dengan tingkat pendapatan yang sama
akan menebus ketidakadilan tersebut dalam beberapa tindakan, seperti (1) mengurangi
input/usaha (misal, tidak bekerja keras); (2) meningkatkan pendapatan (misal, korupsi); dan (3)
meninggalkan keadaan yang menyebabkan ketidakadilan (misal, ke luar dari organisasi atau
menolak bekerja sama dengan karyawan yang dinilai memperoleh penghasilan yang berlebih).
Secara matematis, teori keadilan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut (Fisher,et
al.,1990).
Karyawan Perbandingan dengan Orang Lain
Penghargaan yang saya peroleh = Penghargaan yang diterima = Adil
(outcomes) orang lain
Kontribusi yang saya berikan (inputs) Kontribusi yang diberikan orang
lain
 
Penghargaan yang saya peroleh < Penghargaan yang diterima = Tidak Adil
(outcomes) orang lain (di bawah
Kontribusi yang saya berikan (inputs) Kontribusi yang diberikan orang penghargaan)
lain
 

Tindakan untuk menebus ketidakadilan adalah:

1. Karyawan mengurangi input/usaha (misal, tidak bekerja keras)

2. Karyawan berusaha meningkatkan pendapatan (misal, korupsi)

3. Karyawan meninggalkan situasi yang menyebabkan ketidakadilan (misal, ke luar organisasi)

Penghargaan yang saya peroleh > Penghargaan yang diterima = Tidak Adil
(outcomes) orang lain (di atas
Kontribusi yang saya berikan (inputs) Kontribusi yang diberikan orang penghargaan)
lain
 

Tindakan untuk menebus ketidakadilan adalah:

1. Karyawan meningkatkan kontribusi (misal, bekerja keras atau bekerja lebih lama)

2. Karyawan dapat meminta menurunkan upah

3. Karyawan dapat meningkatkan kontribusi lainnya, dan sebagainya.

Sumber: Fisher, et al., 1990.

Selanjutnya, Fisher et al. (1990), menjelaskan bahwa keadilan (dalam pengupahan) dibedakan
dalam tiga jenis: keadilan internal, eksternal, dan individual. Keadilan internal mengacu pada
hubungan antarjabatan di dalam suatu organisasi. Sebagai contoh, pada umumnya karyawan
berharap direktur perusahaan mendapat penghasilan lebih besar daripada wakil direktur.
Selanjutnya, wakil direktur memperoleh gaji lebih besar dibanding manajer pabrik, dan
seterusnya. Dalam keadilan internal ini diasumsikan bahwa, kompensasi berhubungan dengan
level pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang dipersyaratkan untuk melaksanakan jabatan
dengan berhasil. Oleh karena itu, suatu hal yang tidak mengherankan ketika seseorang yang
berada pada suatu struktur yang tinggi dalam organisasi memperoleh penghasilan lebih tinggi
dibandingkan dengan karyawan yang berada pada level di bawahnya, karena mereka dituntut
untuk memiliki pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang lebih tinggi. Dikatakan terdapat
keadilan internal apabila perbedaan upah di antara jabatan di dalam organisasi dianggap fair.
Karyawan, pada umumnya, akan membuat pembandingan upah dengan level jabatan yang
lebih rendah, yang sama dan level yang lebih tinggi. Hasil dari pembandingan tersebut akan
mempengaruhi sikap umum karyawan, seperti kesediaan dipindah ke jabatan lain di dalam
organisasi; kesediaan menerima promosi; kesediaan bekerja sama lintas jabatan; dan
komitmen terhadap organisasi.

Keadilan eksternal mengacu pada pembandingan pekerjaan-pekerjaan yang serupa di dalam


organisasi yang berbeda. Fokusnya pada, apakah karyawan pada organisasi lain diupah untuk
melaksanakan pekerjaan yang umumnya sama. Hasil dari pembandingan ini akan
mempengaruhi keputusan pelamar untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan organisasi,
begitu pula akan mempengaruhi sikap dan keputusan karyawan tentang apakah akan tetap
bekerja dalam suatu organisasi atau pindah ke tempat lain. Contoh keadilan eksternal ini,
adalah upah yang diterima oleh direktur dari berbagai macam perusahaan listrik. Sedangkan
keadilan individu mengacu pada pembandingan di antara individu dalam jabatan/pekerjaan
yang sama dan dalam organisasi yang sama. Sebagai contoh, gaji untuk jabatan sekretaris
dalam satu perusahaan. Setelah mengadakan pembandingan baik secara internal maupun
eksternal, ditentukan (misalnya) gaji untuk semua sekretaris dalam suatu perusahaan antara
Rp1.200.000,- dan Rp1.600.000,- per bulan. Pada umumnya, yang menjadi masalah pada
keadilan internal adalah menentukan tingkat upah masing-masing sekretaris. Apakah
didasarkan pada senioritas atau pada kinerja. Kalau didasarkan pada senioritas, nilai-nilai apa
apa yang menjadi dasar pertimbangan pada setiap tambahan tahun pengabdian. Sebaliknya,
kalau didasarkan pada kinerja bagaimana mengukur kinerja. Bagaimana menerjemahkan
perbedaan kinerja ke dalam perbedaan.
II. PT. MAX TOP

PT. Max Top adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi, termasuk
telepon genggam. Saat ini PT. Max Top menempati posisi pertama dalam meraih pangsa pasar
di Indonesia. PT. Max Top menerapkan filosofi “ kepuasan pelanggan berarti kesejahteraan”
yang mulai dicanangkan sejak tahun 2005. Pihak manajemen selalu menekankan bahwa
apabila pelanggan puas dengan produk mereka, maka akan mendatangkan keuntungan besar
bagi perusahaan dan pada akhirnya akan mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh karyawan.
Demikian pula sebaliknya, apabila pelanggan tidak puas dengan produk mereka, maka
penjualan akan menurun dan pada akhirnya perusahaan akan mengalami kerugian. Selama
sepuluh tahun beroperasi, PT. Max Top telah memproduksi berbagai peralatan komunikasi
berteknologi tinggi yang bertujuan untuk memuaskan pelanggan. Dengan alasan kepuasan
pelanggan itulah, pihak manajemen menetapkan standar mutu yang ketat, mulai dari
pengadaan bahan baku, pemilihan pemasok, proses produksi, tenaga ahli, sampai pada
distribusi produk.

Pada pertengahan tahun 2010, PT. Max Top memproduksi satu produk telepon genggam
merek terbaru dengan fitur-fitur yang sangat canggih, eksklusif, dan mengakomodasi kebutuhan
konsumen masa kini. Produk telepon genggam baru tersebut memiliki kelebihan fitur kamera
perekam dengan resolusi tinggi serta dilengkapi dengan memori yang cukup besar. Telepon
genggam ini dapat dikatakan juga berfungsi sebagai komputer mini, mengingat kemampuannya
yang menyamai kemampuan komputer PC. Selain kelebihan dari sisi teknologi komunikasi,
telepon genggam ini juga memiliki kelebihan utama yaitu tahan air sehingga pemakai tidak
terlalu risau apabila telepon genggamnya terkena air. Telepon genggam baru ini
diperkenalkan ke pasar dengan tipe G221 sebagai pengembangan dari tipe sebelumnya.
Produk G221 ini diharapkan mampu meraih pasar yang lebih luas, karena pihak manajemen
sangat yakin akan kemampuan dan kelebihan produk tersebut. Agar dapat meraih pasar
seluas-luasnya, perusahaan melakukan promosi melalui berbagai media agar konsumen
semakin mengenali produk tersebut.

Sebagai salah satu pemain dalam industri elektronik, PT. Max Top juga menghadapi beberapa
pesaing potensial yang kemungkinan akan mengikuti inovasi yang dilakukan PT. Max Top.
Adanya beberapa pesaing dalam industri ini menyebabkan tiap-tiap produsen berusaha untuk
membangkitkan kesukaan terhadap merek bagi pasarnya. Menyadari akan semakin ketatnya
persaingan dalam bisnis telepon genggam, PT. Max Top selalu berusaha meningkatkan
kualitasnya melalui perbaikan-perbaikan dalam bidang manajemen keuangan, sumber daya
manusia, pemasaran sampai pada proses produksinya. Divisi marketing selaku divisi yang
cukup berperan dalam keberhasilan produk di pasar harus dapat menentukan harga yang tepat
serta strategi promosi yang dapat dilakukan. Produk G221 dibuat sebagai produk yang eksklusif
yang ditujukan bagi para eksekutif yang menuntut kemudahan layanan sesuai yang diinginkan.
Tepat pada bulan Juni 2010, G221 resmi diluncurkan di pasaran dengan wilayah pemasaran
utama meliputi pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. Pertumbuhan penjualan yang masih lambat
di awal-awal penjualan produk merupakan tantangan utama yang harus dihadapi pihak
manajemen. Agar G221 dapat menarik minat konsumen yang mengutamakan kualitas dan
kemudahan, maka dilakukan strategi pemasaran yang memfokuskan pada harga yang tinggi
yang dibarengi dengan promosi yang gencar melalui berbagai media. Sebagai perusahaan
yang telah memiliki reputasi yang cukup baik dalam hal kualitas, maka PT. Max Top selalu
menekankan pada kualitas produk walaupun harga akan menjadi lebih mahal.

Saat ini PT. Max Top memiliki pabrik perakitan di Bekasi. Pada awal tahun 2011, PT. Max Top
berencana untuk memperluas daerah pemasaran meliputi wilayah Indonesia bagian timur yang
diharapkan dapat memberikan tambahan keuntungan bagi perusahaan. Untuk itu, pihak
manajemen merencanakan untuk mendirikan satu pabrik baru. Terdapat 3 alternatif kota yang
dapat dijadikan lokasi pabrik yaitu kota A, kota B, dan kota C. Apabila pabrik ditempatkan di
kota A, maka biaya tetap per bulan yang akan ditanggung perusahaan saat pabrik telah
beroperasi adalah sebesar  Rp50.000.000,00 dan biaya variabel sebesar Rp350.000,00 per
unit.  Untuk kota B, biaya tetap per bulan adalah sebesar Rp35.000.000,00 dan biaya variabel
sebesar Rp400.000,00 per unit, dan untuk kota C biaya tetap per bulan adalah
Rp40.000.000,00 dan biaya variabel sebesar Rp300.000,00 per unit.

Pihak manajemen memperkirakan bahwa produk G221 akan mampu meraih sukses sampai
dengan minimal dua tahun mendatang. Pada tahun ketiga, akan dikembangkan produk baru
yang lebih canggih dari tipe G221 yaitu tipe G222 dengan fitur yang jauh lebih memuaskan.
Untuk mempersiapkan produksi G222, pihak manajemen berencana untuk melakukan investasi
pembelian mesin yang dapat menunjang keakuratan fitur-fitur G222. Pihak manajemen
menerima tawaran mesin dari Jerman dengan merek “PEGASUS” seharga
Rp1.000.000.000,00. Mesin ini diharapkan mampu memberikan penghasilan ke perusahaan
sebesar Rp270.000.000,00 per tahun. Di samping tawaran mesin “PEGASUS”, perusahaan
juga tengah mempertimbangkan  tawaran dari Jepang dengan merek “HOKAIDO” seharga
Rp900.000.000,00. Mesin ini mampu memberikan penghasilan sebesar Rp210.000.000,00 per
tahun.

Pimpinan PT. Max Top menyadari betul bahwa agar dapat memenangkan persaingan,
perusahaan harus melakukan berbagai efisiensi dan perbaikan di segala bidang, termasuk
dalam bidang sumber daya manusia. Saat ini PT. Max Top tengah menyusun analisis
kebutuhan tenaga IT mengingat tenaga IT merupakan tenaga kerja inti bagi kelancaran
produksi perusahaan. Saat ini bagian HRD sedang melakukan riset mengenai probabilitas daya
tahan tenaga IT. Untuk itu, pihak HRD mencoba mencari data mengenai probabilitas daya
tahan tenaga IT pada dua perusahaan pesaing utama, yaitu PT. Prima Mandiri dan PT. Indo
Nusa Telekomindo untuk dibandingkan dengan probabilitas daya tahan tenaga IT PT. Max Top.
Data yang telah dikumpulkan oleh Bagian HRD adalah seperti pada Tabel 3.

Tabel 3

Data Probabilitas Karyawan

LEVEL
NAMA PERUSAHAAN KARYAWAN  IT JUMLAH KEHILANGAN TENAGA IT
TAHUN 2010
PT. PRIMA MANDIRI 500 50
PT. INDO NUSA
400 70
TELEKOMINDO
PT. MAX TOP 700 40

Sejak tahun 2009 perusahaan menetapkan upah sesuai dengan keputusan pihak manajemen
perusahaan. Upah yang diterima para karyawan dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Gaji bulanan. Gaji ini diberikan kepada karyawan staf tetap yang besarnya antara dua
hingga lima juta rupiah setiap bulan.
2. Upah harian yang dibayarkan seminggu sekali. Upah ini diberikan kepada karyawan
tidak tetap, yaitu karyawan bagian finishing dan petugas angkut. Besarnya upah antara
Rp50.000,00 hingga Rp60.000,00 per hari.
PERTANYAAN 
1. Hitunglah total biaya untuk setiap lokasi dengan mempertimbangkan biaya tetap dan
biaya variabel pada kapasitas 400 unit per bulan, kemudian tentukan kota manakah yang
sebaiknya dipilih! Jelaskan alasan Saudara!
2. Hitunglah payback period tiap-tiap mesin, kemudian tentukan mesin manakah yang
sebaiknya dibeli perusahaan. Jelaskan alasan Saudara!
3. Tentukan produk G221 saat ini berada pada tahap apa dalam daur hidup produknya?
Jelaskan ciri-ciri tahapan daur hidup tersebut!
4. Berdasarkan uraian kasus, strategi pemasaran apakah yang digunakan oleh pihak
manajemen PT. Max Top sesuai tahapan daur hidup produk yang sudah Anda pilih pada point
a)? Jelaskan alasan Saudara!
5.  Jelaskan bauran promosi produk yang dapat dipilih perusahaan
6.  Hitunglah probablilitas daya tahan karyawan bagian IT untuk ketiga perusahaan!
7. Tentukan perusahaan manakah yang mempunyai probabilitas daya tahan yang paling
baik!
8.  Jika pada perusahaan lain besarnya upah bagian finishing dan petugas angkut berkisar
antara Rp60.000,00 hingga Rp70.000,00 per hari, maka sesuai dengan teori keadilan (equity
theory) tindakan apa yang kemungkinan akan dilakukan oleh karyawan bagian finishing dan
petugas angkut PT. Max Top?

JAWABAN

1. Total Biaya untuk setiap lokasi dengan mempertimbangkan biaya tetap dan biaya
variabel pada kapasitas 400 / bulan.

          Diketahui :

 Kota A : Biaya Tetap               : 50.000.000


Biaya Variabel           : 350.000 / Unit

 Kota B : Biaya Tetap               : 35.000.000


Biaya Variabel           : 400.000 / Unit

 Kota C : Biaya Tetap               : 40.000.000


Biaya Variabel           : 300.000 / Unit

 Kapasitas Produksi : 400

Rumus : Biaya Tetap + ( Biaya Variabel x Kapasitas Produksi )


 Kota A : 50.000.000 + ( 350.000 x 400 )        = 190.000.000
 Kota B : 35.000.000 + ( 400.000 x 400 )        = 195.000.000
 Kota C : 40.000.000 + ( 300.000 x 400 )        = 160.000.000

Lokasi yang dipilih adalah Kota C karena biaya produksinya lebih kecil dibandingkan
dengan kota-kota yang lain.

2. Payback Period Tiap-Tiap Mesin


Diketahui :

Mesin Merk “PEGASUS”                      : 1.000.000.000

Proceed Mesin Merk “PEGASUS”       : 270.000.000 / Tahun

Mesin Merk “HOKAIDO”                      : 900.000.000

Proceed Mesin Merk “HOKAIDO”        : 210.000.000 / Tahun

Mesin Merk  “PEGASUS”

 Selama 3 Tahun investasi sudah kembali 810.000.000 (3 x 270.000.000), sedangkan


sisanya 1.000.000.000 – 810.000.000 = 190.000.000 akan kembali dalam ( 190.000.000 /
270.000.000 ) x 12 bulan = 8,4 bulan dibulatkan 8 bulan.

Jadi payback period mesin PEGASUS adalah 3 tahun 8 bulan.

Mesin Merk  “HOKAIDO”

 Selama 4 Tahun investasi sudah kembali 840.000.000 ( 4 x 210.000.000 ) sedangkan


sisanya 900.000.000 – 840.000.000 = 60.000.000 akan kembali dalam ( 60.000.000 /
210.000.000 ) x 12 bulan = 3.43 bulan dibulatkan 3 bulan

                        Jadi payback period mesin Hokaido adalah 4 tahun 3 bulan.

   Dengan demikian PT. Max Top disarankan untuk membeli Mesin Merk PEGASUS
karena payback periodnya lebih pendek yang berarti investasi lebih cepat kembali
dibandingkan dengan membeli mesin merk HOKAIDO

3. Produk G 221 yang diproduksi oleh PT. Max Top berada pada Tahap Perkenalan. Pada
tahap ini ditandai dengan :

 Pertumbuhan penjualan yang masih lambat di awal-awal penjualan produk


 Max Top selalu menekankan pada kualitas produk walaupun harga akan menjadi lebih
mahal.
 Telepon genggam baru ini diperkenalkan ke pasar dengan tipe G221 sebagai
pengembangan dari tipe sebelumnya
 Agar G221 dapat menarik minat konsumen yang mengutamakan kualitas dan
kemudahan, maka dilakukan strategi pemasaran yang memfokuskan pada harga yang tinggi
yang dibarengi dengan promosi yang gencar melalui berbagai media
4. Strategi yang akan diterapkan oleh PT Max Top sesuai dengan kasus pada poin a.
adalah Strategi Profil Tinggi, merupakan strategi pemasaran yang menetapkan harga tingi
dan promosi tinggi (Agar G221 dapat menarik minat konsumen yang mengutamakan kualitas
dan kemudahan, maka dilakukan strategi pemasaran yang memfokuskan pada harga yang
tinggi yang dibarengi dengan promosi yang gencar melalui berbagai media). Harga yang tinggi
dimaksudkan untuk memperoleh laba kotor per unit sebanyak mungkin. Sedangkan promosi
yang tinggi ditujukan untuk memperbesar penetrasi ke pasarnya.

5. Bauran promosi produk yang dapat dilkaukan adalah sebagai berikut :


 Periklanan : Pemilihan media ( majalah, televise, surat kabar ), penetuan format iklan
dan pesannya.
 Penjualan Tatap Muka ( Personal Selling ) : Penarikan, pemilihan, latihan, kompensasi,
dan supervise.
 Promosi Penjualan : Dilakukan dengan mengadakan suatu pameran, peragaan,
demonstrasi, dan lain sebagainya.
 Publisitas : kegiatan yang hamper sama dengan periklanan , hanya biasanya dilakukan
tanpa biaya dan tidak berupa iklan.
6. Probablilitas daya tahan karyawan bagian IT untuk ketiga perusahaan
Jumlah Dapat
Level Karyawan
Nama Perusahaan Kehilangan Mempertahankan Level Karyawan
IT Tahun 2010
Tenaga IT Perawat
PT. Prima Mandiri 500 50 450 450/500=0.9
PT. Indo Nusa Telekomindo 400 70 330 330/400=0.83
PT. Max Top 700 40 660 660/700=0.94

Pada table diatas diketahui bahwa Probabilitas PT. Max Top yaitu 0.94 memiliki probabilitas
lebih tinggi untuk mempertahankan karyawannya dibandingkan PT. Prima Mandiri dan PT. Indo
Nusa Telekomindo. PT. Indo Nusa Telekomindo untuk belajar lebih lanjut kenapa mempunya
probabilitas lebih rendah.

7. Pada table diatas diketahui bahwa Probabilitas PT. Max Top yaitu 0.94 memiliki probabilitas
lebih tinggi untuk mempertahankan karyawannya dibandingkan PT. Prima Mandiri dan PT. Indo
Nusa Telekomindo.

8. Jika pada perusahaan lain besarnya upah bagian finishing dan petugas angkut berkisar
antara Rp60.000,00 hingga Rp70.000,00 per hari, maka sesuai dengan teori keadilan (equity
theory) tindakan yang kemungkinan akan dilakukan oleh karyawan bagian finishing dan petugas
angkut PT. Max Top adalah :

Karyawan Perbandingan dengan Orang Lain


Penghargaan yang saya peroleh Penghargaan yang diterima
(outcomes) orang lain
= = Adil
Kontribusi yang saya berikan Kontribusi yang diberikan orang
(inputs) lain
Penghargaan yang saya peroleh Penghargaan yang diterima
Tidak Adil 
(outcomes) orang lain
< = (di bawah
Kontribusi yang saya berikan Kontribusi yang diberikan orang
penghargaan)
(inputs) lain

Tindakan untuk menebus ketidakadilan adalah:


1. Karyawan mengurangi input/usaha (misal, tidak bekerja keras)
2. Karyawan berusaha meningkatkan pendapatan (misal, korupsi)
3. Karyawan meninggalkan situasi yang menyebabkan ketidakadilan (misal, ke luar  organisasi)
III. RAYA GARMINDO

PT.Raya Garmindo merupakan salah satu pemimpin pasar dalam industri pakaian jadi di
Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 1981, saat ini PT. Raya Garmindo berhasil menguasai
30% pangsa pasar industri pakaian jadi di Indonesia. Sebagai perusahaan yang telah berdiri
selama 32 tahun, pimpinan PT. Raya Garmindo, Tuan Subroto Lee, mengaku telah mengalami
pahit getirnya persaingan industri garmen di Indonesia. “Pengalaman merupakan guru yang
paling sempurna”. Begitulah motto Tuan Subroto Lee. Berdasarkan pengalaman pula, PT. Raya
Garmindo mampu bertahan dari badai krisis moneter dan ekonomi yang terjadi pada tahun
1998 dan tahun 2012.
Selama lebih dari tigapuluh tahun beroperasi, PT. Raya Garmindo memfokuskan bisnisnya
pada pakaian anak-anak merek ”GOSK” yang ditujukan untuk kalangan menengah keatas. PT.
Raya Garmindo tidak melayani kelompok pembeli yang lain karena memiliki visi sebagai kiblat
busana anak nomor satu di Indonesia. Pihak manajemen menganalisis bahwa anak-anak
merupakan kelompok pembeli yang paling menguntungkan disamping perusahaan tidak
memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan lini produksi lainnya. Untuk itu, PT. Raya
Garmindo hanya memproduksi pakaian anak-anak saja. Keputusan tersebut juga didasari pada
keinginan untuk menjadi peimimpin pasar pakaian anak nomor satu di Indonesia. Untuk itu,
dilakukan redesain lini produknya setiap tiga bulan sekali sehingga pembeli selalu mendapat
produk dengan model-model baru. Untuk meraih konsumen seluas-luasnya, PT. Raya
Garmindo memasarkan produknya melalui beberapa department store yang tersebar di seluruh
Indonesia. PT. Raya Garmindo mensuplai langsung produk-produk mereka ke department-
department store dan konsumen dapat membeli melalu department store tersebut. Cara ini
merupakan cara paling efektif bagi PT. Raya Garmindo karena daur hidup busana anak akan
mengalami pergantian yang sangat cepat sehingga tidak diperlukan saluran distribusi yang
panjang.
Untuk menunjang kelancaran operasinya, PT. Raya Garmindo menerapkan metode EOQ dalam
pengelolaan sediaan. Terdapat tiga bahan baku utama yang diperlukan secara terus menerus,
yaitu bahan baku jenis A, jenis B, dan jenis C. Perusahaan ingin menganalisis pembelian bahan
baku dalam satu tahun. Biaya pemesanan ketiga jenis bahan baku tersebut sama, yaitu
sebesar Rp350.000 sekali pesan. Kebutuhan bahan baku A adalah sebesar 500 unit per bulan,
bahan baku B sebesar 400 unit per bulan, dan bahan baku C adalah sebesar 600 unit per
bulan. Biaya simpan untuk bahan baku A sebesar Rp15.000 per unit, bahan baku B sebesar Rp
16.000 per unit, dan bahan baku C sebesar Rp20.000 per unit.

Pertanyaan:

 Berdasarkan kasus PT. Raya Garmindo,maka analisislah:                                                    

1.        a)    Strategi yang ditempuh perusahaan dalam memilih pasar sasaran (target market) dan
jelaskan alasan Saudara!
b)  Jenis saluran distribusi yang digunakan PT. Raya Garmindo dari produsen sampai ke konsumen dan
jelaskan jawaban Saudara!

2.         a. Jumlah pembelian paling optimal dengan metode EOQ untuk masing-masing jenis bahan baku.
b.   Jika kapasitas gudang penyimpanan untuk ketiga bahan baku tersebut sebesar 1.600 unit, apakah
perhitungan EOQ tsb dapat    diterapkan ?
 Selamat Mengerjakan dan Semoga Berhasil

JAWABAN :
1. A). Strategi yang perusahaan dalam memilih pasar sasaran (target pasar ) adalah
Concentrated marketing karena pihak perusahaan memusatkan upaya pemasarannya
pada kelompok anak-anak saja.
seperti yang sudah di putuskan pihak perusahaan:
1. Perusahaan hanya memproduksi pakaian anak saja.
2. Perusahaan berkeinginan untuk menjadi pemimpin pasar pakaian anak nomor 1 di
indonesia.
Keputusan-keputusan tersebut sesuai dengan tujuan dari strategi concentrated
marketing.

B).Saluran distribusi yang digunakan PT.Raya Garmindo untuk memasarkan produknya


dari produsen ke konsumen dengan saluran
Produsen – Pengecer – Konsumen.
alasannya , karena PT.Raya Garmindo mensuplai produknya langsung ke department
store – department store, dan konsumen bisa langsung membelinya langsung di
department store tersebut.

2.A). Biaya pemesanan (P ) =Rp. 350.000


Kebutuhan bahan baku ( R ) =  A : 500 unit , B : 400 unit , C : 600 unit

Biaya simpan ( C ) A : Rp. 15.000, B : Rp. 16.000, C:  Rp. 20.000

Bahan baku A:             Q = √2PR


C
Q= √2(350.000)(500)
                15.000
Q = 153 unit

Bahan baku B.             Q = √2(350.000)(400)


                                                            15.000
Q = 132 unit
Bahan baku C.             Q =  √2(350.000)(600)
                                                         15.000
Q = 198

B). Tujuan menggunakan EOQ adalah agar perusahaan mempunyai persediaan bahan baku
yang cukup dan di perolehnya biaya persediaan yang serendah mungkin.
Jumlah bahan baku persediaan yang optimal sekarang yang ada adalah1.500 unit,jika
kapasitas di tambah menjadi 1.600 unit itu artinya persediaan bertambah, kalau persediaan
bertambah maka biaya penyimpanan juga akan meningkat.

Perhitungan EOQ tidak bisa diterapkan karena salah satu syarat yang dipenuhi oleh
perusahaan untuk menggunakan EOQ adalah:
-Tidak ada perubahan biaya persediaan selama periode berjalan.
IV. PT. JAYA CELLINDO

 PT. Jaya Cellindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri elektronik yang telah
berdiri sejak tahun 1995. Sejak didirikan, PT. Jaya Cellindo memproduksi berbagai macam alat
elektronik, antara lain televisi, audio-video player, lemari es, dan mesin cuci. Sejak tahun 2004,
perusahaan ini melebarkan lini produksinya dengan mulai memproduksi handphone. Salah satu tipe
handphone yang diproduksi adalah jenis T170 yang diluncurkan sejak tahun 2012. Handphone ini
didesain sesuai dengan selera anak muda dengan model futuristik dalam berbagai pilihan warna. 
Handphone ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan handphone sekelasnya antara
lain kamera 8 MP, perekam video dan foto yang dilengkapi zoom, kapasitas memori besar dan layar
sentuh yang sangat sensitif. Fitur lain yang dimiliki adalah mampu menampung berbagai jenis
permainan serta musik dengan suara yang jernih. Namun demikian, harga yang ditawarkan cukup
terjangkau, yaitu dibawah Rp2.000.000,-. Sejak diluncurkan satu tahun lalu, handphone ini berada
pada tahap daur hidup yang ditandai oleh tingkat penjualan yang terus mengalami kenaikan. Namun
demikian, pesaing-pesaing baru sudah mulai memasuki pasar dengan meluncurkan handphone
yang hampir sama dengan T170 dikarenakan tertarik dengan peluang bisnis dan laba yang
dihasilkan. Untuk itu, PT. Jaya Cellindo merencanakan untuk melakukan sedikit penurunan harga
terhadap produk handphone tipe T170.
Menanggapi animo masyarakat yang cukup tinggi terhadap produk ini terutama di kalangan kawula
muda, PT. Jaya Cellindo berencana untuk memperbesar produksinya sekaligus untuk menciptakan
handphone-handphone terbaru dengan berbagai kelebihan. Untuk itu, PT. Jaya Cellindo akan
membuka pabrik baru yang diperkirakan mampu berproduksi pada kapasitas 12.000 unit per tahun.
Terdapat empat alternatif lokasi yang dapat dipilih, yaitu di Bekasi, Medan, Surabaya, dan Bogor.
Pihak manajemen harus menentukan kota manakah yang harus dipilih yang dapat menghemat
pengeluaran perusahaan. Untuk menghitung biaya produksi di tiap-tiap lokasi, maka pihak
manajemen menentukan biaya tetap dan biaya variabel di tiap kota sebagai berikut:

Nama Kota Biaya tetap/tahun Biaya variabel/unit


Bekasi Rp60.000.000,- Rp250.000,-
Medan Rp70.000.000,- Rp250.000,-
Surabaya Rp40.000.000,- Rp270.000,-
Bogor Rp45.000.000,- Rp260.000,-

Berkaitan dengan keinginan pihak manajemen untuk memproduksi handphone baru, terdapat dua
pilihan investasi mesin-mesin yang digunakan, yaitu mesin merek “Konoko” buatan Jepang dan
merek “JungSan” buatan China. Harga merek Konoko adalah Rp10 M dan harga merek JungSan
adalah Rp8 M. Pembelian mesin ini diharapkan mampu menghasilkan kas bersih bagi perusahaan
sebesar Rp2.300.000.000 per tahun untuk merek Konoko dan Rp.2.100.000.000 untuk merek
JungSan.
Pimpinan puncak PT. Jaya Cellindo menyadari betul bahwa tingkat persaingan yang dihadapi
tidaklah ringan. Untuk mempersiapkan pengoperasian pabrik baru yang diperkirakan mulai
beroperasi pada tahun 2013, pihak manajemen mulai menghitung jumlah karyawan yang akan
dipekerjakan. Untuk mendukung operasi mesin baru, perusahaan memerlukan tenaga kerja-tenaga
kerja yang memiliki keterampilan khusus terhadap pengoperasian mesin. Permasalahan yang harus
dipecahkan berikutnya adalah mempertimbangkan metode rekrutmen yang paling sesuai bagi
perusahaan. Menurut Manajer HRD, akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika mencari
orang-orang lama yang berkompetensi baik untuk menempati jabatan supervisor pada lini mesin
yang baru. Apabila menggunakan orang-orang baru, maka akan memakan waktu dan biaya yang
tidak sedikit. Orang-orang lama terbukti mempunyai loyalitas yang tinggi yang telah mendukung
perusahaan selama ini sehingga mereka layak untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Orang-
orang lama ini akan dianalisis dan dievaluasi untuk menilai kemampuan mereka menempati posisi
baru. Untuk penempatan posisi tersebut, perusahaan akan menilai karyawan yang sudah ada saat
ini yang menempati posisi group leader, yaitu satu posisi di bawah supervisor, untuk dipilih sebagai
supervisor lini mesin baru. Seleksi awal yang akan dilakukan adalah menilai komitmen, kedisiplinan,
dan masa kerja karyawan. Dalam pemberian upah tenaga supervisor yang baru tersebut,
perusahaan akan mengutamakan pada keadilan pengupahan dengan melihat struktur upah saat ini
di dalam perusahaan. Untuk pengangkatan seorang group leader menjadi supervisor, tingkat upah
yang akan diberikan akan disesuaikan dengan tingkat upah supervisor yang lebih tinggi daripada
group leader.

PERTANYAAN:
1. a)  Jelaskan sumber rekrutmen karyawan yang digunakan oleh PT. Jaya Cellindo untuk posisi
supervisor di pabrik baru! Uraikan jawaban Saudara berdasarkan kasus PT. Jaya Cellindo!
b) Jelaskan metode rekrutmen/cara pengisian lowongan tersebut. Uraikan jawaban Saudara
berdasarkan kasus PT. Jaya Cellindo!

c) Jelaskan jenis keadilan pengupahan yang diterapkan perusahaan untuk supervisor lini mesin
baru! Jelaskan  jawaban Saudara!
2. Tentukan merek mesin apa yang sebaiknya dibeli PT. Jaya Cellindo untuk memproduksi
handphone terbaru dengan menggunakan pertimbangan Payback Period dari kedua mesin tersebut!
Jelaskan jawaban Saudara!

3. a). Tentukan berada pada tahap apa produk handphone tipe T170 dalam daur hidup produknya?
Jelaskan alasan Sudara!
b). Jika Saudara sebagai manajer pemasaran PT. Jaya Cellindo, strategi pemasaran apa yang akan
Saudara tempuh untuk produk handphone tipe T170 dalam daur hidup produknya tersebut?
Jelaskan alasan Saudara!

4. Tentukan lokasi pembukaan pabrik baru mana yang sebaiknya dipilih dengan mempertimbangkan
biaya tetap dan biaya variabel di tiap-tiap lokasi!

JAWABAN

1 a) Dalam merekrut karyawan untuk lini mesin baru, PT. Jaya Cellindo  menggunakan  sumber
internal  yaitu merekrut karyawan dari dalam perusahaan atau karyawan yang sudah dipunyai saat
ini.
Penjelasan: menggunakan sumber internal karena apabila merekrut dari luar maka akan memakan
biaya dan waktu yang tidak sedikit. Disamping itu, orang-orang lama terbukti memiliki loyalitas tinggi
sehingga layak mendapatkan posisi yang lebih baik

b)   Cara pengisian lowongan supervisor yaitu dengan  cara promosi, yaitu mempromosikan seorang
karyawan dari suatu jabatan yang lebih rendah ke jabatan yang lebih tinggi tingkatannya, dalam hal
ini  adalah dari group leader menjadi supervisor

c) Keadilan pengupahan yang diterapkan adalah keadilan internal


Yaitu keadilan yang mengacu pada hubungan antarjabatan di dalam suatu organisasi. Karyawan
yang berada pada struktur yang lebih tinggi memperoleh penghasilan lebih tinggi dibandingkan
karyawan pada level di bawahnya. Dalam hal ini, gaji supervisor lebih tinggi daripada gaji group
leader.

2.  Payback Period mesin Konoko


Investasi Rp10.000.000.000
Kas bersih
Tahun I Rp2.300.000.000                                   
Tahun II Rp2.300.000.000         
Tahun III Rp2.300.000.000     
Tahun IV Rp2.300.000.000     
                                        Rp  9.200.000.000 _
Rp     800.000.000                           

Sisa Rp800.000.000 dibagi Rp2.300.000.000 x 12 bulan = 4,17 bulan = kurang lebih 4 bulan
Jadi untuk mesin Konoko, pengembalian investasi adalah selama 4 tahun 4 bulan

Payback Period mesin JungSan


Investasi Rp 8.000.000.000
Kas bersih
Tahun I Rp2.100.000.000
Tahun II Rp2.100.000.000       
Tahun III Rp2.100.000.000
                                        Rp  6.300.000.000 _
Rp   1.700.000.000 

Sisa Rp1.700.000.000 dibagi Rp2.100.000.000 x 12 bulan = 9,71 = kurang lebih 9 bulan


Jadi untuk mesin DongIn, pengembalian investasi adalah selama 3 tahun 9 bulan

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka mesin yang sebaiknya dipilih berdasarkan metode
payback period adalah mesin JungSan karena waktu pengembalian investasinya lebih cepat.

3. Total biaya untuk:

Nama Kota Biaya tetap/tahun   Unit     Biaya var/unit     Total Biaya


Bekasi Rp 60.000.000 + ( 12.000 x Rp 250.000 ) = 3.060.000.000
Medan Rp 70.000.000 + ( 12.000 x Rp 250.000 ) = 3.070.000.000
Surabaya Rp 40.000.000 + ( 12.000 x Rp 270.000 ) = 3.280.000.000
Bogor Rp 45.000.000 + ( 12.000 x Rp 260.000 ) = 3.165.000.000

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka lokasi yang dipilih sebaiknya adalah Bekasi karena
biayanya paling murah.

4. Berdasarkan data di atas, nampak bahwa produk tipe T170 berada dalam tahap pertumbuhan 
pada tahap dimana periode pada tahap pertumbuhan ditunjukkan dengan penjualan yang
meningkat, dan persaing baru sudah memasuki pasar karena tertarik dengan peluang bisnis dan
peluang laba yang ada.
Dalam tahap ini, perusahaan harus berusaha mempertahankan pertumbuhan yang cepat dalam
periode selama mungkin.   Untuk itu, ada beberapa strategi yang harus ditempuh perusahaan,
yaitu: 
a. Meningkatkan kualitas produk,  menambah model atau feature lainya.
Antara lain dengan menambah segi/feature produk dari yang semula hanya untuk bermain game,
tapi juga bisa digunakan sebagai kamera.

b. Mencari segmen pasar yang baru. Untuk itu, cara yang dapat ditempuh PT.Elang Perkasa antara
lain: membidik pasar yang belum mengetahui produk tersebut ; pasar yang belum berminat atau
belum membeli. 

c. Mencari saluran distribusi baru untuk memperluas cakupan distribusinya. Dengan demikian,
pasar produk tersebut semakin luas. 

d. Mengadakan periklanan, terutama ditujukan untuk meyakinkan pasar bahwa produk tersebut
adalah yang terbaik. Diharapkan melalui periklanan ini tercipta pembelian ulang secara terus-
menerus.

PT. KARYA MAKMUR

PT. Karya Makmur adalah sebuah perusahaan sabun yang didirikan pada tahun 1958 di kota Surakarta
oleh dua bersaudara yaitu Liem dan Han. Pada awal tahun berdirinya perusahaan ini menghasilkan
sabun cuci bening dengan harapan dapat menarik minat ibu-ibu rumah tangga untuk mencoba
menggunakan produk ini. Ternyata, harapan tidak sesuai dengan kenyataan karena tidak banyak ibu
rumah tangga yang tertarik menggunakan sabun cuci bening. Oleh karena itu PT. Karya Makmur
menghentikan produksi sabun cuci bening dan beralih ke sabun cuci batangan.

Pada awal produksi hingga berjalan sekitar 4 tahun, permintaan produk sabun batangan PT. Karya
Makmur terus meningkat, tetapi setelah memasuki tahun kelima permintaan sabun batangan mulai
merosot dan puncaknya pada tahun ini tingkat permintaan sabun batangan tinggal 30% sehingga
manajemen mempertimbangkan untuk beralih ke jenis produk sabun lain yang pada saat ini masih
digemari oleh para ibu rumah tanggal, yaitu sabun krim dan sabun bubuk. Namun mengingat
terbatasnya sumber daya dan pangsa pasar sabun krim dan sabun bubuk, perusahaan terpaksa harus
menentukan prioritas produk yang akan diproduksi untuk dilempar ke pasar. Untuk itu, perusahaan
melakukan prosedur penyaringan ide, terutama ditujukan untuk membuang ide produk baru yang tidak
selaras dengan tujuan dan/atau sumber dari perusahaan.

Kegiatan penyaringan ide sebagai salah satu tahapan penting dalam daur pengembangan produk baru
tersebut dilakukan dalam tahap dua. PERTAMA, membuat suatu pendapat secara cepat untuk melihat
apakah akan membuat produk baru sesuai dengan rencana perusahaan, keahlian teknis yang dimililki
dan kemampuan financial perusahaan. KEDUA, menentukan urutan ide secara lebih terinci berdasarkan
pada faktor-faktor yang berkaitan dengan pengembangan produk dan memberikan penilaian secara
kualitatif terhadap factor-faktor tersebut. Hasil penilaian secara kualitatif dan bobot masing-masing
factor untuk masing-masing sabun krim dan sabun bubuk dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 : Penilaian Produk Sabun Krim dengan Metode Nilai Faktor Tertimbang :

FAKTOR

BOBOT NILAI FAKTOR


Sangat Baik
( 5 ) Baik

( 4 ) Sedang

( 3 ) Jelek

( 2 ) Sangat
Jelek
(1)
Hubungan terhadap saluran distribusi
yang ada 0.08 v
Hubungan terhadap produk yang ada 0.08 v
Hubungan terhadap kualitas / harga 0.07 v
Kemampuan diperdagangkan 0.12 v
Pengaruhnya terhadap penjualan produk
yang ada 0.05 v
Luas Pasar 0.15 v
Daya tahan terhadap perubahan siklis 0.14 v
Keperluan peralatan 0.08 v
Keperluan SDM dan pengetahuan
produksi 0.08 v
Penyediaan Bahan Baku 0.01 v
Pertumbuhan jumlah pemakai 0.05 v

Tabel 2 : Penilaian Produk Sabun Bubuk dengan Metode Nilai Faktor Tertimbang :

FAKTOR

BOBOT NILAI FAKTOR


Sangat Baik
( 5 ) Baik

( 4 ) Sedang

( 3 ) Jelek

( 2 ) Sangat
Jelek
(1)
Hubungan terhadap saluran distribusi
yang ada 0.08 v
Hubungan terhadap produk yang ada 0.09 v
Hubungan terhadap kualitas / harga 0.1 v
Kemampuan diperdagangkan 0.1 v
Pengaruhnya terhadap penjualan produk
yang ada 0.06 v
Luas Pasar 0.15 v
Daya tahan terhadap perubahan siklis 0.1 v
Keperluan peralatan 0.07 v
Keperluan SDM dan pengetahuan
produksi 0.07 v
Penyediaan Bahan Baku 0.13 v
Pertumbuhan jumlah pemakai 0.05 v

Dalam mengkaji kemungkinan pengembangan produk baru ini perusahaan juga melakukan analisis biaya
untuk mengetahui potensi financial dari rencana pengembangan produk sabun krim dan sabun bubuk.
Untuk itu perusahaan membuat penghitungan perkiraan biaya, harga jual, dan penjualan untuk kedua
produk tersebut yang dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3 : Perkiraan Biaya, Harga Jual, dan Penjualan SABUM KRIM:


Tahun Harga per unit
(Rp.) Biaya Variabel per
Unit (Rp.) Kuantitas Penjualan
(Unit) Net Cash Inflow
Pertahun (Rp.)
1 1700 986 91.000 64.974.000
2 1750 1050 88.000 61.600.000
3 1850 1075 89.000 68.975.000
4 1900 1100 88.000 70.400.000
5 1950 1150 90.000 72.000.000

Tabel 4 : Perkiraan Biaya, Harga Jual, dan Penjualan SABUM BUBUK:


Tahun Harga per unit
(Rp.) Biaya Variabel per
Unit (Rp.) Kuantitas Penjualan
(Unit) Net Cash Inflow
Pertahun (Rp.)
1 2100 1260 74.000 62.160.000
2 2300 1350 71.000 67.450.000
3 2350 1400 67.000 63.650.000
4 2800 1650 65.000 74.750.000
5 3000 1800 58.000 69.600.000

Untuk menghadapi kemungkinan memproduksi sabun krim dan sabun bubuk diperkirakan perusahaan
perlu menambah karyawan. Dalam merekrut karyawan baru perusahaan biasanya menggunakan
RECRUITING YIELD PYRAMID untuk menghitung jumlah pelamar yang harus dihasilkan perusahaan. Dari
pengalaman yang lalu diperoleh data sebagai berikut :
1. Rasia antara penawaran dengan karyawan (baru) yang benar-benar diangkat adalah 3 : 1.
2. Rasio antara calon karyawan yang diwawancara dengan penawaran yang diberikan perusahaan
adalah 3 : 2
3. Rasio antara calon karyawan yang diundang untuk wawancara dengan calon yang senyatanya
diwawancara adalah 4 : 3.
4. Rasio antara calon karyawan yang pertama kali kontak dengan perusahaan dengan yang benar-benar
diundang adalah 5 : 1.

PERTANYAAN :
Dari data diatas Saudara diminta untuk :
1. Menghitung nilai indeks produk baru (sabun krim dan sabun bubuk) melalui metode nilai factor
tertimbang serta menentukan produk mana yang menjadi prioritas perusahaan untuk diproduksi. (Nilai
25%).
2. Menghitung tingkat PAYBACK PERIOD untuk masing-masing produk sabum krim dan sabun bubuk jika
diketahui besarnya investasi untuk memproduksi sabun krim sebesar Rp. 150.000.000,00 sedangkan
untuk sabun bubuk sebesar Rp. 200.000.000,00. (Nilai 25%).
3. Menghitung besarnya produksi lima tahun mendatang untuk sabun krim dan sabun bubuk
(Perusahaan menetapkan untuk sabun krim : persediaan awal sebesar 20.000 unit dan persediaan akhir
sebesar 30.000 unit. Sabun Bubuk : persediaan awal sebesar 15.000 unit dan persediaan akhir sebesar
25.000 unit ). (Nilai 25%).
4. Menentukan besarnya pengontak awal (dengan menggunakan recruiting yield pyramid) yang harus
dihasilkan oleh perusahaan jika perusahaan menetapkan jumlah karyawan yang akan diangkat sebanyak
30 orang. (Nilai 25%).