Anda di halaman 1dari 6

FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

BINUS University

BINUS ONLINE LEARNING Semester: Odd/ Even *)


Period: 1 / 2 *)
 Graduate Program  Undergraduate Program
Academic Year:
 Final Exam  Others Exam:
2019/2020
Faculty / Dept. : Character Building
Student ID :
Course : CHAR6021 - Character Building Agama 1
Day/ Date : Senin – Senin/ 11 – 18 Mei 2020
BULC : Anggrek, Batam, Bekasi, Jakarta, Malang, N a m e :
Palembang, Samarinda, Semarang
Class : DPBA, DREA, DSEA, JKEA, JLEA, JMEA, JNEA,
JOEA, LNFA, TADA, TGCA, THCA, TMFA, TNBA
Time : 00.00 – 12.00 WIB Signature :
Exam Feature : Open/ Close Books*)
Equipment : Exam Booklet / Calculator / Laptop )

) Strikethrough the unnecessary items
Please insert this test paper into the exam booklet and submit both documents after the test!!!
The penalty for CHEATING is DROP OUT!!!

PETUNJUK UJIAN
i. Jawablah setiap pertanyaan yang berada pada bagian PERTANYAAN UJIAN dibawah ini
ii. Jawaban di ketik rapi pada halaman JAWABAN UJIAN dibawah ini
iii. Jawaban dikumpulkan paling lambat tanggal 18 Mei 2020 dalam bentuk file dan submit melalui portal ujian
iv. Format file Jawaban adalah : KodeMatakuliah-Nama Matakuliah-NIM.pdf
Contoh : ISYS6308-User Experience -2012345678.pdf
v. Soal disisipkan pada jawaban ujian sebelum di pdf kan dan di submit melalui portal ujian

RUBRIK UJIAN
LO SKORE : % dari Bobot
Level SKORE :
KONTEN / ELEMEN
3 : 71 – 100 2 : 51 – 70 1 : 0 - 50 % dari Bobot
Bobot

LO1 Penjelasan terhadap 1


Menjelaskan keterkaitan
konten lengkap,
UNDERSTAND konten secara holistik, Penjelasan konten
namun tidak
The Nature Religion disertai contoh dan singkat , tidak ada
10 menjelaskan
ilustrasi yang bukti yang mendukung
hubungan antar
mendukung.
konten yang tersirat.

Penjelasan terhadap 2
LO2 Menjelaskan keterkaitan
the roles of religions for the konten lengkap,
UNDERSTAND konten secara holistik, Penjelasan konten
namun tidak
world peace disertai contoh dan singkat , tidak ada
20 menjelaskan
ilustrasi yang bukti yang mendukung 3
hubungan antar
mendukung.
konten yang tersirat.

Penjelasan terhadap 4
LO3 Menjelaskan keterkaitan
konten lengkap,
UNDERSTAND konten secara holistik, Penjelasan konten
namun tidak
the consciousness of human disertai contoh dan singkat , tidak ada
20 menjelaskan
ilustrasi yang bukti yang mendukung
hubungan antar
mendukung.
konten yang tersirat.

Solution menunjukkan 5
Solusi menunjukkan
klasifikasi elemen, Solusi menunjukkan
klasifikasi elemen,
LO4 menjelaskan hubungan
hubungan antar
klasifikasi elemen
ANALYSIS the influence of secularism to dan memberikan yang minimal, tidak
elemen, dan
the religion identifikasi terstruktur ada hubungan antara 6
20 terstruktur,
dengan didukung data elemen dan hubungan
didukung data secara
yang rasional dan antar terstruktur
rasional
persuasif

LO5 Penjelasan terhadap 7


Menjelaskan keterkaitan
konten lengkap,
UNDERSTAND konten secara holistik, Penjelasan konten
the meaning of rituals of namun tidak
disertai contoh dan singkat , tidak ada
20 religion menjelaskan
ilustrasi yang bukti yang mendukung
hubungan antar
mendukung.
konten yang tersirat.
Solusi dapat
LO6 Solusi memiliki kebaruan Solusi tidak dilengkapi 8
diterapkan didukung
APPLY the values of religion in the atau unik, didukung elemen yang
fakta, solusi
daily life dengan banyak fakta mendukung, solusi
20 menggunakan prinsip-
dan detail. tidak bisa diterapkan.
prinsip umum.

TOTAL NILAI

AG | Page 1 of 5
FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

PERTANYAAN UJIAN
Soal Essay (bobot setiap soal = 10%)

1. Iman dapat dimengerti salah satunya sebagai respon atau jawaban manusia atas wahyu (ilham,
penerangan, ajaran) yang dipandang berasal dari Tuhan (yang Mahatinggi, Mahasempurna).
Jelaskan!
2. Ada perbedaan penting tentang kedudukan manusia dalam alam ini seturut perspektif ekologi
(ekosentrisme) dan perspektif antroposentrisme. Jelaskan perbedaan itu dalam kaitan dengan
cara manusia memandang dan memperlakukan alam ini!
3. Manusia sebagai subjek otonom memiliki keunikan, berbeda satu sama lain. Namun demikian,
dari perspektif religius terdapat adanya struktur kesamaan atau kesederajatan eksistensial di
antara semua manusia. Silahkan jelaskan lebih lanjut mengenai hal ini!
4. Agama diharapkan memainkan peran menciptakan perdamaian dunia (menciptakan dunia yang
lebih baik). Apakah harapan ini memang layak atau berlebihan untuk diberikan kepada agama?
Silahkan menguraikan jawaban Anda disertai argumen-argumen yang menguatkan!
5. Umumnya para filsuf menempatkan suara hati sebagai kesadaran moral dalam sebuah situasi
konkrit yang dihadapi. Mohon jelaskan lebih lanjut mengenai hal ini, dengan contoh konkrit!
6. Formalisme agama merupakan suatu bentuk penghayatan iman keagamaan yang hanya atau
lebih mementingkan dimensi legalistik-formalistiknya. Mohon dijelaskan lebih lanjut mengenai
hal ini dengan contoh-contoh konkrit!

Soal Kasus (jumlah bobot soal untuk setiap kasus = 20%)

Kasus 1: Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma

Citra (nama samaran), 25, adalah mahasiswi di jurusan kedokteran. Dia menjalani dua identitas
di dunia maya. Pagi dia posting fotonya berjilbab, sore, di akun yang lainnya, dia posting karangan filsafat
yang mendiskusikan argumen ketiadaan Tuhan.
Diskusi mengenai karangan dia di grup tertentu jadi ramai, tetapi di lingkaran lain, teman-teman
muslim Citra, fotonya yang memakai jilbab mendapat banyak “likes”. Citra adalah seorang ateis yang
menjalankan dua identitas untuk mencari tempat dalam masyarakat yang belum mampu menerima orang
yang meragukan agama, apalagi ateis.
Menjadi ateis di negara muslim memang tidak gampang. Di awal bulan Agustus, sebuah foto
menjadi viral di Malaysia. Foto pertemuan ateis itu tidak hanya mendorong pernyataan dari politikus dan
pejabat, tetapi banyak warga di media sosial mengatakan ateis tidak bisa diterima masyarakat bahkan
orang murtad layak dibunuh.
Meskipun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang lebih santai dalam soal agama,
kehidupan sebagai orang ateis tetap susah karena ada stigma terhadap orang ateis dan orang sekuler.
Awal tahun ini, saya meneliti puluhan orang sekuler di Indonesia. Di antara mereka ada banyak
yang beriman, tetapi ada beberapa yang tidak percaya kepada Tuhan sama sekali. Mereka bagian dari
masyarakat Indonesia yang menjalani hidup sehari-hari yang dipengaruhi pandangan negatif tentang
sekularisme dan ateisme. Pada kenyataannya, kebanyakan dari mereka tidak sesuai dengan stigma yang
disematkan pada mereka. Misalnya, kebanyakan ateis tidak menolak sila pertama Pancasila—Ketuhanan
yang Maha Esa—karena mereka sadar bahwa agama sangat penting untuk banyak warga negara.
Negara sekuler tidak selalu memusuhi agama. Sekularisme hanya berarti bahwa negara itu
memiliki posisi yang bebas (atau netral) dari agama, tapi negara tetap bisa menilai agama sesuatu yang
penting bagi warganya. Kemudian, agama tentu saja boleh memberi semangat untuk berpolitik berdasar
nilai-nilai agama. Begitu juga dengan orang sekuler, maupun orang ateis. Tidak percaya kepada Tuhan
sama sekali tidak berarti memusuhi orang yang beragama.

Manusia sekuler Indonesia: dari beriman sampai ateis


Riset yang saya lakukan adalah tentang orang sekuler. Dan saya menemukan bahwa dalam kaum
sekuler ada macam-macam pandangan. Kebanyakan orang sekuler beriman, hanya mereka mengaku
sekuler karena menurut mereka, negara dan agama lebih baik dipisahkan supaya negara bisa menjadi
ruang netral bagi semua warga negara. Selain itu, ada orang agnostik, yaitu orang yang tidak yakin bahwa
Tuhan ada atau tidak.
Kelompok sekuler ketiga, para ateis, juga lumayan banyak di wilayah perkotaan, tapi mereka
merupakan kelompok yang tidak tampak di permukaan. Alasannya jelas, masyarakat dan negara belum
bisa menerima fakta bahwa ada bagian masyarakat Indonesia yang tidak percaya kepada Tuhan padahal
mereka melihat agama sebagai dasar kerukunan.
Orang yang mengaku tidak percaya kepada Tuhan dianggap pengganggu kerukunan. Sepertinya
sebagian besar masyarakat Indonesia belum mampu mendiskusikan masalah ateisme secara tenang
dan tanpa emosi. Bahkan, banyak yang menilai ketidakpercayaan orang lain sebagai ancaman untuk
iman sendiri.

AG | Page 2 of 5
FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

Pilihan siasat: diam, terbuka, atau identitas ganda


Oleh karena itu, sebagian besar kaum sekuler, terutama yang ateis, tidak terbuka. Bahkan kaum
sekuler yang beriman seringkali tidak terbuka mengenai ideologi mereka karena mereka sadar bahwa
kata “sekuler” ini diperlakukan sebagai kata yang kotor.
Ketidakterbukaan ini bisa sejauh tetap pura-pura beriman bahkan bagi orang yang sesungguhnya
ateis. Berdasarkan temuan saya, ada ateis yang melakukan ibadah dan memakai jilbab. Agama sebagai
pertunjukan (performance) dilanjutkan, meskipun sudah tidak punya arti lagi bagi mereka.
Banyak dari mereka yang mengaku sudah tidak percaya lagi pada Tuhan mengalami masalah dengan
keluarganya. Saya menemukan kasus-kasus cerai atau orang diusir dari keluarganya atas nama agama.
Sebuah fenomena lain yang seringkali terjadi adalah rekonsiliasi antara ateis dan keluarganya: dalam
kasus seperti ini, keluarga tahu bahwa ia ateis tapi mereka tidak lagi membicarakan soal agama.
Hal yang menarik adalah ada beberapa orang ateis yang punya dua identitas, yaitu satu untuk
keluarganya dan teman-teman beragama kemudian satu identitas “nyata” untuk sahabat yang cukup
terbuka. Bahkan ada orang yang punya dua profil Facebook supaya mereka bisa muncul di dunia maya
dengan dua identitas ini.
Semua ateis yang saya wawancarai menghormati iman orang lain dan sadar bahwa agama
merupakan sesuatu yang penting untuk mayoritas Indonesia.
Lebih dari dua tahun saya mengenal puluhan orang ateis Indonesia dan berdebat dengan mereka.
Saya juga telah mewawancarai belasan dari mereka. Setelah penelitian ini, kesimpulan saya adalah:
realitas kaum ateis itu sangat tidak sesuai dengan wacana umum di Indonesia yang masih melihat
ateisme dalam konteks komunisme, perang dingin, dan propaganda Orde Baru.

Sumber: Timo Duile (Lecturer and researcher at the Institute for Oriental and Asian Studies, University
of Bonn): https://theconversation.com/kaum-sekuler-dan-ateis-indonesia-hidup-di-bawah-bayang-
bayang-stigma-79662

Bacaan Tambahan untuk kasus 1:

Sekularisme dan Bentuk-bentuk Sekularisme di Indonesia

Sekularisme secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi
atau badan atau negara harus berdiri terpisah dari agama. Jadi Sekularisme adalah pemikiran yang
memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi. Menurut pemikiran ini, agama dianggap hanya
sebagai urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara
untuk urusan kehidupan duniawi, agama tidak boleh ikut campur. Pendukung sekularisme menyatakan
bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara
tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakan dari “pencerahan” yang karenanya orang-orang mulai
beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhyul. Sementara
penentang sekularisme melihat pandangan diatas sebagai arrogan, mereka menganggap bahwa
pemerintahan yang sekular menciptakan lebih banyak masalah dari pada menyelesaikannya, dan bahwa
pemerintahan dengan etos keagamaan adalah lebih baik.
Sekularisme di Indonesia ibarat gurita yang kaki-kakinya menjerat erat semua sisi kehidupan.
Hampir tidak ada satu pun sendi kehidupan yang terlepas dari jeratan sekularisme, mulai dari sisi-sisi
kehidupan pribadi sampai kehidupan bermasyarakat dan bernegara, semua terwarnai oleh ajaran
sekuler.
Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung dari sekularisme. Prinsip-
prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan
sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh
mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan,
keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme. Hal ini bisa dibuktikan, baik di Indonesia, AS
maupun di belahan bumi lainnya. Indonesia yang sebenarnya secara resmi menganut sistem ekonomi
pancasila (demokrasi ekonomi) namun pada kenyataannya hal itu cuma sekedar dijadikan hiasan yang
tertulis di undang-undang tanpa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut dapat kita lihat
dengan jelas bahwa kehidupan ekonomi di indonesia lebih condong kepada ekonomi kapitalis dimana
pemilik modal lah yang dapat menguasai pasar, sementara rakyat kecil tetap hidup menderita dalam
belenggu kemiskinan.
Selain dalam bidang ekonomi, paham sekularisme sudah banyak kita jumpai pada sendi-sendi
kehidupan di Indonesia seperti dalam bidang politik, budaya, pendidikan dan bidang-bidang sosial
kemasyarakatan lainnya.

Teks di atas merupakan bagian dari tulisan Fitriani Muniraa (Kohati HMI Komisariat Hukum Unhas):
https://hmikomhukumuh.wordpress.com/2017/03/17/sekularisme-bentuk-bentuk-sekularisme-di-
indonesia/

AG | Page 3 of 5
FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

7. a) Sesuai pemahaman yang sudah Anda miliki, dan dengan bantuan tulisan di atas, buatlah
pengertian yang memadai tentang apa itu sekularisme, serta uraikan dengan baik (sertakan
contoh-contoh nyata) apa yang menjadi pemicu dan pendorong tumbuh-kembangnya faham itu,
termasuk di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang religius?
b) Dalam tulisan di atas terungkap adanya pihak yang mendukung sekularisme dan ada juga
pihak penentang faham tersebut. Diinspirasi oleh tulisan di atas, dan juga oleh materi kuliah
yang sudah didalami, Anda memilih berada di pihak mana, mendukung atau menentang (atau
ada pilihan jalan tengah)? Silahkan mengemukakan argumen yang menguatkan pilihan Anda!

Kasus 2: Spiritualitas di Tempat Kerja: Untuk Apa?


Akibat sistem manajemen yang cenderung impersonal dan konsumerisme yang mengiringi
pertumbuhan ekonomi, banyak orang kehilangan makna dari pekerjaannya dan mendambakan untuk
menemukan kembali makna pekerjaan. Cacioppe dalam The Leadership & Organization Development
Journal mengungkapkan: "Pertumbuhan ekonomi tidak membuahkan kebahagiaan karena terjadi
konsumerisme (yang sifatnya adiktif). 'Kita bekerja dan membayar sesuatu, bekerja lagi dan lebih banyak
lagi yang kita bayar. Kita harus keluar dari lingkaran ini'.
Kenyataan bahwa kita telah mengikuti suatu sistem keyakinan yang tidak lengkap dan dangkal,
hasilnya membuat kita kehilangan makna dan merasa tidak sehat dalam hidup. Menemukan makna
pekerjaan merupakan fokus dari spiritualitas. Banyak orang di tempat kerja merasa butuh menemukan
kembali apa yang mereka rawat dalam hidup ini dan mencoba menemukan pekerjaan yang disukainya.
Orang-orang mencari suatu cara untuk menjadi diri sendiri dan ingin menemukan jalan untuk lebih
otentik dalam melakukan sesuatu. Dalam rangka itu, perusahaan harus peduli terhadap kesejahteraan
fisik, emosi, dan spiritual, secara menyeluruh." Spiritualitas yang dikembangkan di tempat kerja
diharapkan dapat memulihkan kembali harmoni dalam hidup secara keseluruhan.
Manfaat Seperti tersirat dari uraian Cacioppe, mengembangkan spiritualitas kerja memiliki
manfaat bukan saja bagi individu bersangkutan, melainkan juga bagi organisasi tempatnya bekerja.
Berbagai narasumber yang menyumbangkan tulisannya mengenai spiritualitas kerja, menjelaskan
manfaat spiritualitas kerja: McCormick dalam Journal Managerial Psychology, menjelaskan dalam kaitan
dengan semakin banyaknya manajer yang berusaha menggabungkan spiritualitas dan manajemen: "…
mengintegrasikan spiritualitas dan kerja memberikan makna yang dalam terhadap pekerjaan para
manajer. Hal itu akan memberikan nilai-nilai yang paling dalam untuk menunjang pekerjaannya dan juga
memberikan harapan akan adanya pemenuhan mendalam secara seimbang."
Ashmos & Duchon dalam Journal of Management Inquiry menguraikan: "Suatu tempat kerja, di
mana orang mengalami kegembiraan dan makna dalam pekerjaannya, merupakan tempat di mana
spiritualitas lebih menonjol. Tempat kerja di mana orang melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas
yang dapat dipercaya, di mana mereka mengalami perkembangan pribadi sebagai bagian dari komunitas,
di mana mereka merasa dihargai dan didukung, merupakan sebuah tempat kerja di mana spiritualitas
berkembang."
Laabs dalam Personnel Journal menjelaskan berdasarkan pergeseran nilai sehubungan dengan
berkembangnya perspektif spiritualitas kerja: "Adanya perspektif spiritualitas selalu memungkinkan
terjadinya pergantian nilai-nilai di tempat kerja. Pergantian ini bergerak dari ketakutan (bahwa dirinya
tidak mampu untuk berbicara berterus terang dan ketakutan mengenai apa yang dipikirkan oleh orang
lain) menuju kerja sama di tempat kerja. Bila Anda mengimplementasikan nilai-nilai baru… meninggalkan
kompetisi, mengusahakan kerja sama, membuat orang-orang merasa setara dan memungkinkan mereka
untuk hidup dalam lingkungan yang bebas dari rasa takut, Anda bukan hanya akan menemukan intuisi
dan kreativitas orang-orang di dalam organisasi, melainkan juga menemukan rasa memiliki terhadap
organisasi."
Collins & Porras mengungkapkan manfaat yang diperoleh organisasi bila mendasari diri dengan
nilai-nilai spiritualitas di tempat kerja: "Terdapat perubahan yang nyata pada berbagai organisasi yang
semula mencoba bebas nilai (value free) menjadi menekankan perkembangan nilai-nilai yang bermanfaat
bagi organisasi, tenaga kerja, pelanggan, dan orang-orang lain yang terlibat (share holders). Organisasi
yang didasari dengan nilai-nilai (value-based organizations) dinilai lebih sukses oleh para penulis
modern."
Dari berbagai manfaat tersebut di atas, beberapa yang perlu ditegaskan sebagai kesimpulan
adalah bahwa perspektif spiritualitas kerja memberikan nilai-nilai yang paling dalam bagi individu untuk
menunjang pekerjaan. Selain itu, memberikan harapan akan adanya pemenuhan diri secara mendalam
dan seimbang, sehingga mengalami kegembiraan dan makna dalam pekerjaannya, dapat melihat dirinya
sebagai bagian dari komunitas yang dapat dipercaya, mengalami perkembangan pribadi sebagai bagian
dari komunitas di mana mereka merasa dihargai dan didukung.
Bila organisasi memberikan peluang spiritualitas kerja dengan membangun nilai-nilai
kebersamaan, hal itu membuat orang merasa setara dan memungkinkan mereka hidup dalam lingkungan
yang bebas dari rasa takut, sehingga lebih tajam dalam intuisi dan kreativitas, serta rasa memiliki
terhadap organisasi.

AG | Page 4 of 5
FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

Sumber:
https://nasional.kompas.com/read/2008/01/10/20073795/spiritualitas.di.tempat.kerja.untuk.apa?page=1

8. a) Isi pembahasan tentang makna religius kerja mengisyaratkan bahwa kerja memiliki nilai luhur,
nilai spiritual, dan bukan hanya sekedar untuk cari makan atau cari uang. Apa saja yang bisa
dijadikan dasar dari pemahaman ini (bahwa kerja mengandung makna religius). Kemudian
dengan mengacu pada tulisan di atas, silahkan telusuri jejek-jejak implementasi penghayatan
dan penerapan makna religius kerja itu beserta dampak-dampaknya, baik bagi pekerja maupun
bagi organisasi (dengan tetap menggunakan materi topik “Makna Religius Kerja” sebagai pisau
analisis).
b) Tuliskan secara eksplisit dan refleksikan suatu ajaran penting agama Anda (yang berumber
dari Kitab Suci agama Anda) yang bisa diinterpretasikan sebagai pembuktian bahwa kerja
memiliki makna religius-spiritual. Kemudian dengan bertolak dari paparan tulisan di atas,
silahkan kembangkan pemahaman Anda untuk bisa menjelaskan bahwa implementasi
perwujudan makna religius kerja itu melibatkan baik pekerja maupun organisasi atau
perusahaan (atasan, managemen, pemilik perusahaan).

AG | Page 5 of 5
FM-BINUS-AA-FPU-579/R3

JAWABAN UJIAN