Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEBIDANA PADA MIOMA UTERI

A. PENGERTIAN
Adalah tumor jinak dari otot-otot polos. Tumor ini mengandung sejumlah jaringan
ikatyang berbeda yang mungkin terdiri dari sel-sel otot polos yang telah mengalami
degenerasi. Umumnya fibroid ditemukan dalam dekade keempat atau kelima dalam
kehidupan. Fibroid adalah suatu tumor yang paling sering terdapat dalam rongga panggul.
Jenis-jenis Mioma Uteri
1. Mioma Submokosum
Angka kejadian ± 5%. Berada di bawah endometrium dan menonjol kedalam rongga
uterus. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan
histerektomi walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan
sebagai suatu “Curet Bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya
degenerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang
panjang sehingga menonjol melalui vagina, disebut sebagai mioma submukosa
bertungkai yang dapat menimbulkan “Myomgeburt” sering mengalami nekrose atau
ulserasi.
2. Mioma Intramural
Mioma terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar atau
multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol
3. Mioma Subserosum
Letaknya di bawah tunika serosa, kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecah
dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi Mioma Intra Ligamenter. Dapat tumbuh menempel pada
jaringan lain, misalnya ke ligametrium atau omentum dan kemudian membebaskan diri
dari uterus, sehingga disebut Wedering/Parasitik Fibroid. Mioma subserosa yang
bertangkan dapat menimbulkan torsi.
B. PENYEBAB
Walaupun mioma uteri terjadi banyak tanpa penyebab, namun dari hasil penelitian Miller
dan Lipschultz yang mengutarakan bahwa terjadi mioma uteri tergantung pada sel-sel otot
imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang, terus menerus
oleh estrogen.

C. TANDA DAN GEJALA


Sebagian penyakit ini ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin.
Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering
ditemukan adalah:
a. Perdaharahan abnormal seperti dismenore, menoragi, metroragi
b. Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya infeksi di
dalam rahim.
c. Penekanan pada organ di sekitar tumor seperti kandung kemih, ureter, rektum atau
organ rongga panggul lainnya, menimbulkan gangguan buang air besar dan buang air
kecil, pelebaran pembuluh darah vena dalam panggul, gangguan ginjal karena
pembengkakan tangkai tumor.
d. Gangguan sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur.
e. Pada bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal.
Sering kali penderita merasa nyeri akibat miom mengalami degenerasi atau kontraksi
uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami istri
sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan pada tuba, gangguan
implantasi pada endometrium, penyumbatan, dan sebagainya.
Mioma Uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak bayi dan
plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang
banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan
keguguran.
Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak memperparah Mioma Uteri. Saat hamil,
mioma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang
menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama
kehamilan, tangkai tumor bisa terputar.

D. PATOFISIOLOGIS
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal.
Teori cell nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma uteri terdiri dari otot
polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Mioma uteri lebih
sering ditemukan pada nulipara, faktor keturunan juga berperan. Perubahan sekunder pada
mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke
mioma uteri. Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosum, intramular dan
subserosum
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG
2. Biopsi
3. Hb
F. PENATALAKSANAAN
1. Terapi progestin
Diberikan untuk mengurangi kadar estrogen dan untuk mengurangi perdarahan.
Gonadotropin-releasing hormon (GnRH) agonists mendatangkan menopause tiruan
dengan menghentikan rangsangan gonadotropin terhadap ovarium. Ini menurunkan
produksi estrogen dan rangsangan pertumbuhan tumor. Mioma akan mengecil apabila
rangsangan estrogen dikurangi. Agonis GnRH selalu dipakai sebelum operasi untuk
menegcilkan mioma. Obat ini dadapt digunakan pada kasus terpilih untuk
mengendalikan mioma yang menyebabkan kemandulan. Bilamanaagonis GnRH
dihentikan, mioma mulai tumbuh kembali.
2. Miomektomi
Pengangkatan mioma saja dengan tetap memelihara rahim. Biasanya dilakukan dengan
rencana untuk memelihara kesuburan. Resiko rekurensi dari mioma sebesar 40% dan
resiko infertilitas sehabis miomektomi adalah sebesar 40%. Miomektomi juga
dilakukan pada kasus mioma yang mengganggu proses persalinan. Miomektomi sering
dilakukan melalui laparotomi tetapi dapat dilaksanakan juga melalui laparoskopi pada
pasien terpilih. Mioma submukosum dapat dianggkat dengan histeroskopi.
Miomektomi melalui sembarang jalan dapat menyembuhkan gejala dan memelihara
kesuburan, tetapi pasien harus dikonsultasikan bahwa gejala dapat berulang dan
infertilitas dapat terjadi.
3. Histerektomi
Adalah tindakan yang bisa dilakukan bila kesuburan tidak lagi dipertahankan.
Histerektomi diindikasikan bila gejala-gejalanya cukup berat untuk membenarkan
resiko operasi. Histerektomi selalu dikerjakan untuk mendeteksi masa adneksa pada
kehadiran uterus yang besar dan karena pertumbuhan selanjutnya mungkin
mengakibatkan tekanan pada struktur-struktur saluran kencing.
Terapi pembedahan dilakukan dengan indikasi :
a. Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat
b. Ukuran tumor yang besar
c. Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahan ukuran
tumor setelah menopause
d. Retensio urin
e. Tumor yang menghalangi proses persalinan
f. Adanya torsi.

G. ASUHAN KEBIDANAN
1. Identifikasi Data / Pengkajian
a. Biodata
pada biodata ini yang perlu dikaji adalah umur. Pendidikan juga berpengaruh pada
pengetahuan pasien, dengan mengetahui tingkat pendidikan akan memudahkan
dalam melakukan komunikasi terapeutik.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama Perdaharahan abnormal (seperti dismenore, menoragi, metroragi),
nyeri tekan pada abdomen, sulit BAK / BAB
c. Riwayat Haid
Riwayat haid meliputi : menarche, siklus, lama, warna, dismenorhea
d. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Jenis Jenis Hidup
Suami Penolo BB/P Menete Riway
No. UK Persalin Penyulit Kelam /
ke ng B ki at KB
an in Mati

e. Riwayat Kesehatan
Meliputi penyakit yang pernah dialami ibu serta penyakit menurun dari keluarga.
g. Pola Bio-Psiko_Sosial
Pengkajian dalam hal ini adalah pola nutrisi untuk mengetahui jenis dan porsi
makanan yang dikonsumsi ibu, Pola eliminasi berupa BAB dan BAK serta
keluhan yang dialami. Pola sexual ibu meliputi frekuensi melakukan hubungan
sexual, posisi dan keluhan yang dialami ibu. Pola istirahat meliputi jam tidur
malam dan istirahat siang. Pola aktivitas meliputi jenis aktivitas yang dilakukan
oleh ibu sehari-hari.
h. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital meliputi : T:….. mmHg, N:…. x/ menit, S :……º C
RR :……..x/ menit
Antopometri meliputi : Berat Badan:…. kg , sebelumnya …….Kg,
Inspeksi
Rambut : hitam, bersih
Muka : chloasma gravidarum tidak ada
Mata : anemis tidak ada, icterus tidak ada
Hidung : tidak ada pengeluaran, bersih
Mulut : sariawan tidak ada
Gigi : caries tidak ada
Leher : pembengkakan tidak ada
Payudara : bentuk simetris, mamae membesa, putting susu menonjol,
areola hiperpigmentasi, tidak terdapat benjolan.
Perut : belum tampak membesar, tidak ada bekas operasi SC.
Ekstrimitas : atas : normal, odema tidak ada
Bawah : normal, odema tidak ada, varices tidak ada
Genetalia : terdapat perdarahan pervaginam
Anus : hemoroid tidak ada
Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran vena jugularis
Payudara : benjolan tidak ada
Perut : Fundus uteri = .............., terdapat nyeri tekan.
2. Analisa Data
Ibu mangatakan mengalami perdarahan dan perut terasa nyeri nyeri tekan. keadaan ibu
= baik/lemah. T = .../....mmHg RR = .... x/ menit S = .... o C , N = .... x/ menit
BB = .... kg Vulva : terdapat perdarahan pervaginam, USG : terlihat pertumbuhan
jaringan abnormal
3. Assesment
Wanita dengan mioma uteri
Masalah :
Ibu mengeluh keluar darah pervaginam
Ibu kahwatir dengan keadaanya
Masalah Potensial :
Potensial Terjadi syok haemoragik
4. Tindakan Segera / Tindakan Antisipasi
Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan mioma uteri.
5. Perencanaan Tindakan
a. Informasikan hasil pemeriksaan kepada pasein dan meminta persetujuan
tindakan selanjutnya seperti pembedahan
b. Anjurkan ibu untuk melakukan USG untuk mengetahui besarnya tumor
c. Beri KIE pada ibu
1) Bersabar dalam menghadapi sakit
2) Mengurus JKBM untuk meringankan biaya
3) Menjaga nutrisi tetap baik
4) Menjaga kondisi tubuh tetap sehat
5) Mengurangi aktivitas agar ibu sabar dan siap menghadapi sakit dan
kondisi ibu tetap fit sampai pengobatan selanjutnya
6. Pelaksanaan
a. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
b. Menganjurkan ibu melakukan USG, Untuk mengetahui besarnya tumor dan
tingkat keganasan tumor. Memberikan KIE pada ibu
1) Bersabar dalam menghadapi sakit
2) Mengurus JKBM untuk meringankan biaya
3) Menjaga nutrisi tetap baik
4) Menjaga kondisi tubuh tetap sehat
5) Mengurangi aktivitas agar ibu sabar dan siap menghadapi sakit dan
kondisi ibu tetap fit sampai pengobatan selanjutnya.

7. Evaluasi
a. Ibu mengetahui dirinya mengalami mioma uteri
b. Mau melakukan USG
c. Ibu mengatakan akan bersabar menghadapi penyakitnya
d. Keluarga ibu telah mengurus JKBM
e. Ibu mengatakan akan menjaga kondisinya seperti yang dianjurkan
Sumber
- Rayburn , William F. & J. Christopherr Carey. 2001. Obstetri & Ginekologi. Jakarta :
Widya Medika. (halaman 268-270)
- Prof. dr. Hanifa W. DSOG, dkk, Ilmu Kandungan,Edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2005