Anda di halaman 1dari 10

Grafik Barber Johnson merupakan suatu grafik yang secara visual dapat menyajikan dengan jelas tingkat

efisiensi dari segi mutu pelayanan medis dan pendayagunaan sarana yang ada. Suatu usaha untuk
mendayagunakan statistik rumah sakit dalam rangka memenuhi kebutuhan manajemen tentang
indikator efisiensi pengelolaan rumah sakit (Soejadi, 1996).

BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu (Depkes RI. 2005,
Kementerian Kesehatan 2011).

Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.
Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI. 2005, Kementerian Kesehatan 2011).

Rumus BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur x Jumlah hari dalam satu
periode)) X 100%

Manfaat Grafik Barber Johnson


1. Menyajikan dan menganalisa efisiensi pemanfaatan tempat tidur
2. Menggambarkan perkembangan1
3. efisiensi pelayanan rawat inap dari tahun ke tahun,
4. membandingkan tingkat efisiensi antar unit atau antar rumah sakit,
5. meneliti akibat dari perubahan kebijaksanaan, serta
6. memeriksa kesalahan laporan1

Parameter yang digunakan untuk pembuatan Grafik Barber Johnson adalah BOR (Bed Occupation Rate),
LOS (Length Of Stay), TOI (Turn Over Interval), dan BTO (Bed Turn Over). Pembuatan dan perhitungan
keempat parameter tersebut dibuat secara rutin dan dilakukan secara komputerisasi dengan
menggunakan microsoft excel. 1

Penghitungan keempat parameter tersebut bersumber pada rekapitulasi sensus harian rawat inap yang
dilakukan berdasarkan ruang perawatan atau bangsal. Pengumpulan sensus harian tersebut dilakukan
oleh perawat setiap hari dan sudah otomatis menggunakan SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit) di
Rumah Sakit Umum Rajawali Citra1

Titik pertemuan keempat parameter BOR, LOS, TOI dan BTO berada di luar daerah efisien dan terjadi
pergeseran titik menjauh dari daerah efisien. terjadi penambahan satu tempat tidur, artinya
penggunaan tempat tidur di Rumah Sakit Umum Rajawali Citra tidak efisien dan untuk nilai BOR turun
meskipun terjadi penambahan jumlah tempat tidur.

Untuk meningkatkan nilai BOR yang rendah, di Rumah Sakit Umum Rajawali Citra

1. meningkatkan sumber daya manusia,


2. meningkatkan pelayanan,
3. Melakukan promosi,
4. melakukan pelatihan bagi petugas, dan
5. melakukan evaluasi.

Menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan perawat bangsal dan kepala instalasi
rekam medis, faktor yang menyebabkan tidak efisiensinya penggunaan tempat tidur di Rumah Sakit
Umum Rajawali Citra adalah

1. pasien yang dirujuk,


2. pasien rawat inap yang pulang atas permintaan sendiri (APS),
3. pasien yang meninggal kurang atau lebih dari 48 jam,
4. letak atau lokasi keberadaan rumah sakit,
5. promosi,
6. kurangnya sarana dan fasilitas, serta
7. kurangnya pemerataan tempat tidur.2
Pertemuan keempat parameter pada gambar Grafik Barber Johnson menunjukkan tidak3bertemunya
keempat parameter BOR, LOS, TOI, dan BTO dalam satu titik. dikarenakan karena titik koordinat BTO
(Bed Turn Over Interval) untuk mengetahui pemakaian tempat tidur pada periode tertentu tidak tepat.
Dengan demikian sebaiknya bagian pelaporan melakukan pengecekan ulang maupun evaluasi terkait
dengan tidak bertemunya keempat parameter dalam satu titik. 3
TINJAUAN PUSTAKA

1 Konsep Dasar

1.1 Rumah sakit

Berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah
sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

1.2 Pelayanan rawat inap

Menurut Rustiyanto (2010), pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan kepada pasien yang melakukan
observasi, diagnosis, terapi atau rehabilitasi yang perlu menginap dan menggunakan tempat tidur serta
mendapat makanan dan pelayanan perawat terus menerus.

1.2 Pelaporan rumah sakit

Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI No 1711 /MENKES/PER/VI/2011 tentang


Sistem Informasi Rumah Sakit pada tanggal 15 juni 2011 bahwa setiap rumah sakit wajib untuk
membuat pelaporan rumah sakit, pelaporan rumah sakit adalah suatu alat organisasi yang bertujuan
untuk dapat menghasilkan laporan secara cepat, tepat dan akurat. Jenis pelaporan di rumah sakit
dibedakan menjadi 2 yaitu laporan intern rumah sakit dan laporan ekstern rumah sakit.

1. Laporan Intern rumah Sakit Yaitu laporan yang dibuat sebagai masukan untuk menyusun konsep
rancangan dasar sistem informasi manajemen rumah sakit. Jenis laporan tersebut adalah :

a. Sensus harian

b. Perhitungan statistik rumah sakit

c. Kegiatan persalinan

d. Kegiatan rawat jalan

2. Laporan Ekstern rumah Sakit Yaitu

laporan yang wajib dibuat oleh rumah sakit sesuai dengan peraturan yang berlaku, ditujukan kepada
Departemen Kesehatan (Depkes) RI, Kanwil

Depkes RI. Jenis laporan tersebut adalah:

a. Data kegiatan rumah sakit Rekapitulasi Laporan (RL 1)

b. Data keadaan morbiditas pasien rawat inap (RL 2a)


c. Data keadaan morbiditas penyakit khusus pasien rawat inap (RL 2a1)

d. Data keadaan morbiditas pasien rawat jalan (RL 2b)

e. Data keadaan morbiditas penyakit khusus pasien rawat jalan (RL 2b1)

f. Data status imunisasi (RL 2c)

g. Data individual morbiditas pasien rawat inap pasien umum (RL 2.1)

h. Data individual morbiditas pasien rawat inap pasien obstetri (RL 2.2)

i. Data individual morbiditas pasien rawat inap bayi baru lahir/lahir mati (RL 2.3)

j. Data dasar rumah sakit (RL 3)

k. Data ketenagaan rumah sakit (RL 4)

l. Data peralatan medik rumah sakit dan data kegiatan kesehatan lngkungan (RL 5)

m. Data infeksi nosokomial rumah sakit (RL 6)

1.4 Statistik rumah sakit

Statistik rumah sakit menurut Sudra (2010) yaitu “statistik yang menggunakan dan mengolah sumber
data dari pelayanan kesehatan di rumah sakit untuk menghasilkan informasi, fakta dan pengetahuan
berkaitan dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit”. Dalam pelayanan pasien di rumah sakit, data
dikumpullkan setiap hari dari pasien rawat inap, rawat jalan, dan rawat darurat. Data tersebut berguna
untuk memantau perawatan pasien setiap hari, mingguan, bulanan dan lain-lain. Menurut Sudra
(2010:3) informasi dari statistik rumah sakit digunakan untuk berbagai kepentingan, antara lain :

1. Perencanaan, pemantauan pendapatan dan pengeluaran dari pasien oleh pihak manajemen rumah
sakit

2. Pemantauan kinerja medis

3. Pemantauan kinerja non medis.

1.5 Rekam medis

Menurut PERMENKES No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis bahwa rekam medis adalah
berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Menurut Hatta (2011), rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana
pelayanan kesehatan.

1.6 Efisiensi

Menurut Hatta (2011) efisiensi merupakan salah satu parameter/indikator kinerja yang secara teoritis
mendasari seluruh kinerja suatu organisasi dalam hal ini adalah rumah sakit. Tanpa pengawasan
terhadap efisiensi, masalah dapat muncul dari sisi manajemen yang berujung pada tindakan-tindakan
penyimpangan. Begitu pula efisiensi dapat digunakan untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih
tepat sasaran sehingga sumber daya yang datang dari pemegang

4.2 Objek

Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah pelaporan yang ada pada RSI Gondanglegi
meliputi data sensus harian pasien rawat inap ( Hari Perawatan/HP, jumlah pasien keluar (hidup+mati),
jumlah tempat tidur) pada tahun 2016.
Sudra, R. I. (2010). Statistik Rumah Sakit. Yogyakarta: Graha Ilmu. 7

Hatta. (2008). Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
Universitas Indonesia (UI-Press).7

Statistik rumah sakit menurut (Sudra, 2010) yaitu statistik yang menggunakan dan mengolah sumber
data dari pelayanan kesehatan di rumah sakit untuk menghasilkan informasi, fakta dan pengetahuan
berkaitan dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Informasi dari statistik rumah sakit digunakan
untuk perencanaan, memantau pendapatan dan pengeluaran dari pasien oleh pihak manajemen rumah
sakit (Hatta, 2008)7

Berdasarkan aspek ekonomi, tentu pihak manajemen menginginkan agar setiap tempat tidur (TT) yang
telah disediakan selalu terisi dan digunakan oleh pasien. Jumlah TT yang kosong atau menganggur
diharapkan sesedikit mungkin. Semakin lama seorang pasien menempati sebuah TT maka akan semakin
banyak menghasilkan uang. Dari aspek medis terjadi arah penilaian yang bisa berlawanan. Tim medis
akan lebih senang dan merasa berhasil kerjanya jika seorang pasien bisa segera sembuh sehingga tidak
perlu lama dirawat, jadi tidak menggunakan TT terlalu lama (Sudra, 2010)
.8

2.1.6 Efisiensi

Efisiensi merupakan rasio antara input dan output, dan perbandingan antara masukan dan pengeluaran.
Apa saja yang dimaksudkan dengan masukan serta bagaimana angka perbandingan tersebut diperoleh,
akan tergantung dari tujuan penggunaan tolok ukur tersebut.

Menurut Nopirin (1997), efisiensi dapat berarti tidak adanya pemborosan. Efisiensi adalah kemampuan
untuk mencapai hasil yang 8diharapkan dengan mengorbankan tenaga atau biaya yang minimum atau
dengan kata lain, suatu kegiatan telah dikerjakan secara efisien jika pelaksanaan kegiatan telah
mencapai sasaran (output) dengan pengorbanan (input) yang terendah.

Menurut Akazili (2008), asumsi yang mendasari konsep efisiensi adalah bahwa tidak ada output yang
dapat diproduksi tanpa sumber daya, sedangkan sumber daya tersebut memiliki jumlah pemasukan
yang terbatas. Selain itu terdapat pula batas untuk volume output (komoditas) yang dapat diproduksi.

Dalam teori ekonomi, terdapat dua pengertian efisiensi, yaitu efisiensi alokasidan efisiensi teknis.
Efisiensi alokasi menunjukkan bagaimana perbedaan sumber input dikombinasikan untuk menghasilkan
perpaduan output yang berbeda. Sedangkan efisiensi teknis menunjukkan pencapaian output yang
maksimal dengan biaya yang minimal. Secara keseluruhan efisiensi menunjukkan efek dari kombinasi
efisiensi alokasi dan teknis. (Coelli, 1996 dalam Akazili 2008).

Nicholson (2002), menyatakan bahwa efisiensi dibagi menjadi dua pengertian. Pertama, efisiensi teknis
(technical efficiency) yaitu pilihan proses produksi yang kemudian menghasilkan output tertentu dengan
meminimalisasi sumberdaya. Kondisi efisiensi teknis ini digambarkan oleh titik-titik di sepanjang kurva
isoquan. Kedua, efisiensi ekonomi (cost efficiency) yaitu bahwa pilihan apapun teknik yang digunakan
dalam kegiatan produksi haruslah yang meminimumkan biaya. Pada efisiensi ekonomis, kegiatan
perusahaan akan dibatasi oleh garis anggaran yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (isocost). Efisiensi
produksi yang dipilih adalah efisiensi yang didalamnya terkadung efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi.8
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN TEMPAT TIDUR PERRUANGAN BERDASARKAN INDIKATOR DEPKES
DAN BARBER JOHNSON DI RUMAH SAKIT SINGAPARNA MEDIKA CITRAUTAMAKABUPATEN
TASIKMALAYA TRIWULAN 1 TAHUN 20169

 Ada 7 ruang rawat inap


 2015 Tidak efisien pelayanan
 2016 penambahan TT
 Pengambilan formulir SHRI dilakukan seminggu sekali yaitu setiap hari sabtu oleh petugas
rekam medis ke semua ruangan. 9

PENGERTIAN RAWAT INAP

Pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan kepada pasien yang melakukan observasi, diagnosis, terapi
atau rehabilitasi yang perlu menginap dan menggunakan tempat tidur serta mendapat makanan dan
pelayanan perawat terus menerus (Rustiyanto, 2010).9

PENGERTIAN REKAM MEDIS

menurut Hatta (2013), Rekam Medis memiliki peran dan fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai dasar
pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien, bahan pembuktian dalam perkara hukum, bahan
untuk keperluan penelitian dan pendidikan, dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan terakhir
sebagai bahan untuk membuat statistik kesehatan.

9VARIABEL

Variabel yang digunakan adalah variabel univariat yang menggambarkan penyajian data.

1. Variabel dalam penelitian ini adalah penggunaan Tempat Tidur (TT) dan
2. Subvariabelnya adalah penggunaan Tempat Tidur (TT) berdasarkan BOR, LOS, TOI dan BTO.
9

HASIL

 Apabila titik barber johnson berada di dalam daerah efisien berarti penggunaan TT pada periode
yang bersangkutan sudah efsien. Sebaliknya apabila titik barber johnson masih diluar daerah
efisien berarti penggunaan TT belum efisien (sudra,2010)
 Makin dekat grafik BOR dengan “Y” ordinat, maka BOR makin tinggi. Sebaliknya, makin jauh
grafik BOR "Y" ordinat, maka BOR makin rendah (Rustiyanto, 2010).
 Angka BOR bisa ditingkatkan dengan cara pengalokasian TT.
Rendahnya angka LOS dapat diakibatkan oleh kurang baiknya perencanaan dalam memberikan
pelayanan kepada pasien atau kebijakan dibidang medis (Rustiyanto, 2010). 9
 Semakin rendah BOR berarti semakin sedikit TT yang digunakan untuk merawat pasien
dibandingkan dengan TT yang telah disediakan. Dengan katalain, jumlah pasien yang sedikit ini
bisa menimbulkan kesulitan pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit (Sudra, 2010).

10