Anda di halaman 1dari 19

D.

Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2012) jenis variabel ada 2 yaitu variabel bebas (independent variabel) dan variabel
terikat (dependent variabel).

1. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau
timbulnya variabel dependen (terikat). Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah tingkat
pengetahuan tentang toilet training.

2. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pelaksanaan toilet training.

H. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat ukur pada instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar
adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan rebilitas (Riwidikdo, 2009).
KONSEP TENAGA REKAM MEDIS

3. Pelaksanaan Pekerjaan Perekam MedisMenurut Permenkes No. 55 Tahun 2013, Perekam Medis yang
memiliki SIK Perekam Medis dapat melakukan pekerjaannya pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan
berupa:a. Puskesmas;b. Klinik;c. Rumah Sakit;

d. Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.2

4. Formasi Jabatan Fungsional Perekam MedisMenurut Permen PAN No. 30 Tahun 2013 tentang Jabatan
Fungsional Perekam Medis dan Angka Kreditnya pada bab 6 pasal 32, formasi jabatan fungsional
Perekam Medis di lingkungan Rumah Sakit Umum, meliputi:

a. Rumah Sakit Umum Kelas A:

1) Terampil 70 (tujuh puluh) orang; dan

2) Ahli 20 (dua puluh) orang.b. Rumah Sakit Umum Kelas B:1) Terampil 45 (empat puluh lima) orang;
dan2) Ahli 10 (sepuluh) orang.

c. Rumah Sakit Umum Kelas C:1) Terampil 30 (tiga puluh) orang; dan2) Ahli 6 (enam) orang.

d. Rumah Sakit Umum Kelas D:1) Terampil 15 (lima belas) orang; dan2) Ahli 4 (empat) orang.2

2.2 Metodologi Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

A. Metode PenelitianMenurut Sugiyono (2015:24) “Metodologi penelitian pada dasarnya merupakan


cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.2

Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif.
Menurut Sugiyono (2015:35) metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan
tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.Menurut Notoatmodjo (2012:36) metode
penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat.

B. Definisi Operasional VariabelOperasional variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk
apa saja yang dapat mempengaruhi variabel lain, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016:38).

Sesuai dengan judul penelitian yang dipilih peneliti yaitu pengaruh kebutuhan tenaga assembling rawat
inap menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) terhadap efektivitas kerja, maka
peneliti mengelompokan variabel yang digunakan menjadi variabel bebas yaitu kebutuhan tenaga
assembling rawat inap menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) (x) dan variabel
terikat yaitu efektivitas kerja (y).3Tabel 2.2Definisi Operasional Variabel

No Variabel Definisi Indikator3Gambar 2.1

Kerangka Berfikir

2. Studi PustakaDalam penelitian ini penulis berusaha memperoleh beberapa informasi dari
pengetahuan yang dapat dijadikan pegangan dalam penelitian yaitu dengan cara studi kepustakaan
untuk mempelajari, meneliti, mengkaji dan menelaah literatur-literatur buku maupun jurnal yang
berhubungan dengan penelitian ini.

3. Kuesioner (Angket)

Menurut Sugiyono (2013), kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Adapun kuesioner yang penulis jadikan instrumen penelitian kepada responden terlampir dalam
(Lampiran 13).3D. HipotesisMenurut Sugiyono (2015:134) hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pertanyaan.

Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum
didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga
dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang
empiric (Sugiyono, 2015:135).Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah ada atau tidak adanya
pengaruh signifikan dari kebutuhan petugas assembling rawat inap dengan metode Analisis Beban Kerja
Kesehatan (ABK Kes) terhadap efektivitas kerja, jika tidak terdapat pengaruh signifikan
maka3diformulasikan dalam Hipotesis Nol (H0), yaitu hipotesis untuk ditolak. Apabila kedua variabel
tersebut di hipotesiskan memiliki pengaruh yang signifikan, maka diformulasikan dalam hipotesis
alternatif (H1), yaitu merupakan hipotesis yang diharapkan untuk diterima.Atas dasar tersebut, penulis
merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:H0: Kebutuhan Tenaga Assembling Rawat Inap
Menggunakan Metode

Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) Tidak Berpengaruh Terhadap Efektivitas Kerja Di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota BandungH1: Kebutuhan Tenaga Assembling Rawat Inap Menggunakan Metode
Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) Berpengaruh Terhadap Efektivitas Kerja Di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota BandungE. Teknik Pengumpulan DataMenurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan
data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian
adalah mendapatkan data.Agar diperoleh data yang valid dalam penelitian ini perlu ditentukan teknik-
teknik pengumpulan data yang sesuai. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut3

F. Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul
(Sugiyono, 2015:147).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan program SPSS for windows versi 21.0 sebagai alat untuk
mengolah dan menilai hasil dari pengujian untuk data yang diperoleh dengan berpedoman pada nilai
rerata dan standar deviasi/menggunakan skala ordinal dan nominal.Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari 40 orang responden, yang terdiri atas:1.
Variabel Bebas (Independent Variable), mengenai kebutuhan tenaga assembling rawat inap
menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes) di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Bandung.Dengan skala perhitungan dalam butir pernyataan dalam instrumen sebagai berikut:a. Sangat
Setuju : skor 5b. Setuju : skor 4c. Kurang Setuju : skor 34

d. Tidak Setuju : skor 2

e. Sangat Tidak Setuju : skor 1

2. Variabel Terikat (Dependent Variable), mengenai efektivitas kerja di

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.

Dengan skala perhitungan dalam butir pernyataan dalam instrumen

sebagai berikut:

a. Sangat Setuju : skor 5

b. Setuju : skor 4

c. Kurang Setuju : skor 3d. Tidak Setuju : skor 2

e. Sangat Tidak Setuju : skor 1

Metode ini digunakan untuk mengkaji antar variabel yang terdapat dalam penelitian mengenai
pengaruh kebutuhan tenaga assembling rawat inap menggunakan metode Analisis Beban Kerja
Kesehatan (ABK Kes) terhadap efektivitas kerja di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung. Dengan
metode pengolahan data instrumen/kuesioner yang dikemukakan oleh (Sudjana, 2001) ialah sebagai
berikut:Keterangan: P : Persentase Jawaban F : Frekuensi Nilai yang Diperoleh dari Seluruh item N :
Jumlah Responden4

100 : Bilangan Tetap

Secara umum teknik dalam pemberian skor yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini adalah teknik
skala Likert. Penggunaan skala Likert menurut Sugiyono (2015:168) adalah skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial.Penelitian ini menggunakan skala ordinal, menurut Sugiyono (2010:98) skala ordinal adalah skala
pengukuran yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat construct yang
diukur.G. Pengujian Analisis DataDalam penelitian dengan sistem penyebaran angket/kuesioner yang di
berikan kepada 40 petugas rekam medis sebagai responden, selanjutnya penulis akan melakukan
pengujian terhadap hasil teliti dengan menggunakan uji statistik yang akan di olah dalam beberapa
teknik pengolahan uji statistik, antara lain:1. Uji ValiditasUji validitas merupakan pengujian yang
dilakukan pada setiap butir pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner/angket, pengujian ini
dilakukan untuk menganalisis apakah pertanyaan atau pernyataan yang diajukan dalam
kuesioner/angket tersebut valid atau tidak valid.Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan
untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2015:121).Pengujian validitas ini dilakukan terhadap
butir-butir pertanyaan (kuesioner) dengan melihat nilai mean dan standar deviasinya. Bila korelasi antar
instrumen tersebut bernilai positif dan besarnya 0,3 ke atas maka intrumen tersebut merupakan
construct yang kuat (Sugiyono, 2015:126).

Dalam penelitian ini penulis melakukan uji validitas kontruksi (Construct Validity) dengan menggunakan
rumus korelasi pearson product moment, sebagai berikut:

Keterangan :

rxy : Korelasi pearson product moment ∑xy : Jumlah perkalian skor item variable X dan variable Y ∑x :
Jumlah skor item variable X ∑y : Jumlah skor item variable YButir pernyataan dalam kuesioner/angket
dikatakan valid atau tidak valid bila memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Jika nilai r hitung ≥ nilai r tabel, maka butir pernyataan dalam kuesioner/angket dinyatakan valid.b.
Jika nilai r hitung ≤ nilai r tabel, maka butir pernyataan dalam kuesioner/angket dinyatakan tidak valid.5

Untuk menentukan nilai r tabel dalam pengujian dua arah mengenai berpengaruh atau tidak
berpengaruh kebutuhan tenaga assembling rawat inap menggunakan metode Analisis Beban Kerja (ABK
Kes) terhadap efektivitas kerja di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung dengan tingkat signifikan
sebesar 5% atau 0,05, menggunakan rumus sebagai berikut:Df = N – 2

Keterangan:N = Jumlah Sampel

Df = Derajat Kebebasan

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas merupakan pengujian statistik yang dilakukan terhadap butir pernyataan atau pertanyaan
dalam kuesioner/angket, pengujian ini dilakukan untuk mengukur tingkat konsistensi dari butir
pernyataan atau pertanyaan dalam kuesioner/angket apakah reliable atau tidak reliable. Reliabel berarti
instrument tersebut konsisten atau dalam kata lain pengukuran dalam kuesioner tersebut digunakan
berulangkali akan memberikan hasil yang relatif sama dan tidak jauh berbeda (konsisten).

Dalam penelitian ini penulis melakukan uji reliabilitas menggunakan rumus atau metode Alpha Cronbach
(α) (Ety Rohaety, 2007), dengan rumus sebagai berikut:Keterangan: R/α = Koefisien Reliabilitas / Nilai
Alpha CronbachS² = Varians Skor Keseluruhan Si² = Varians masing-masing item Butir pernyataan dalam
kuesioner/angket dikatakan reliabel atau tidak reliabel bila memiliki kriteria sebagai berikut: a. Jika nilai
koefisien reliabilitas atau cronbach alpha ≥ 0,60, maka secara keseluruhan pernyataan dinyatakan
reliable atau konsisten.b. Jika nilai koefisien reliabilitas atau cronbach alpha < 0,60, maka secara
keseluruhan pernyataan dinyatakan tidak reliable atau tidak konsisten.3. Uji Regresi Liner Sederhana

Uji regresi linear sederhana merupakan pengujian statistik yang dilakukan untuk menganalisis apakah
terdapat hubungan timbal balik atau sebab-akibat antar variable independent (X) terhadap variable
dependent (Y). Selain itu, pengujian ini dilakukan untuk mengetahuiarah hubungan dari variable
independent dan variable dependentapakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari
variable dependent apabila nilai variable independent mengalami kenaikan atau penurunan.Berikut
ialah rumus dari uji regresi linear sederhana

:keterangan:

Y’ = Nilai yang diprediksi a = Konstanta atau bila harga X = 0 b = Koefisien regresi X = Nilai variabel
independent

4. Uji Hipotesis Terhadap Korelasi (Uji T Hipotesis)Uji T hipotesis merupakan pengujian statistik yang
digunakan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan (hipotesis) dan menarik kesimpulan apakah
pernyataan tersebut dapat diterima atau pernyataan tersebut di tolak.

Dalam penelitian ini penulis memiliki pernyataan (hipotesis) sebagai berikut:

H0: Kebutuhan Tenaga Assembling Rawat Inap Menggunakan Metode Analisis Beban Kerja Kesehatan
(ABK Kes) Tidak Berpengaruh Terhadap Efektivitas Kerja Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota BandungH1:
Kebutuhan Tenaga Assembling Rawat Inap Menggunakan Metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK
Kes) Berpengaruh Terhadap Efektivitas Kerja Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota BandungUntuk menguji
dua buah pernyataan tersebut, digunakan rumus sebagai berikut:Keterangan:

r = Korelasi parsial yang ditemukan n = jumlah sampel t = nilai thitung yang selanjutnya dikonsultasikan
dengan ttabel Pernyataan (hipotesis) dapat diterima apabila memiliki kriteria sebagai berikut:a. Jika nilai
thitung ≥ ttabel, maka pernyataan H1 diterima dan pernyataan H0 di tolak.b. Jika nilai thitung < ttabel
maka pernyataan H0 diterima dan pernyataan H1 ditolak.5. Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi merupakan pengujian statistik yang dilakukan untuk mengukur derajat
hubungan antar dua buah variabel atau lebih.Setelah melakukan pengujian koefisien determinasi, maka
dapat disimpulkan seberapa besar kebutuhan tenaga assembling rawat inap menggunakan metode
Analisis Beban Kerja (ABK Kes) terhadap efektivitas kerja di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung,
berikut ini merupakan rumus yang penulis gunakan dalam uji koefisien determinasi:Keterangan:R =
Koefisien Determinasir = Koefisien KorelasiDengan interval koefisien korelasi sebagai berikut:

Tabel 2.3Interval Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan0,00 – 0,199 Sangat Rendah0,20 – 0,399 Rendah0,40 – 0,599
Cukup0,60 – 0,799 Kuat0,80 – 1,000 Sangat KuatSumber: Sugiyono (2015)6
A. Analisis Deskriptif Responden Tentang Kebutuhan Tenaga Assembling Rawat Inap Menggunakan
Metode Analisis Beban Kerja (ABK Kes) Terhadap Efektivitas Kerja7
ANDRA SRI ANGGRAINI : HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KINERJA PETUGAS REKAM MEDIS DI RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH Dr. DJASAMEN SARAGIH PEMATANG SIANTAR TAHUN 20078

Jenis penelitian ini adalah survei explanatory untuk mengetahui hubungan motivasi petugas rekam
medis (intrinsik dan ekstrinsik) dengan kinerja petugas rekam medis di RSUD Dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar. Populasi penelitian adalah seluruh petugas rekam medis di RSUD Dr. Djasamen
Saragih Pematangsiantar sebanyak 15 orang, seluruh populasi diambil sebagai sampel (total sampling).
Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan uji korelasi
Spearman.

3.4. Uji Validitas dan Reliabilitas Untuk mengetahui sejauhmana kesamaan antara yang diukur peneliti
dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan, maka dilakukan uji validitas terhadap kuesioner yang telah
dipersiapkan dengan formula alat bantu komputer yaitu dengan melihat output pada kolom corrected
item- total correlation yang merupakan nilai r-hitung untuk masing-masing pertanyaan, kemudian
membandingkan dengan nilai r-tabel, dengan formula sebagai berikut :

N ( ∑xy ) - (∑x∑y ) r = { [ N∑x2 - (∑x)2 ] . [ N∑y2 . (∑y)2 ] }1/2

dimana : x = skor tiap-tiap variabel y = skor total tiap responden N = jumlah responden Untuk
mengetahui sejauhmana konsistensi hasil penelitian jika kegiatan tersebut dilakukan berulang-ulang,
maka dilakukan uji reliabilitas terhadap kuesioner yang telah dipersiapkan dengan formula Alpha
Cronbach sebagai berikut :

M ( Vt . Vx ) Rtt = M . 1 (Vt) dimana :

Vt = variasi total Vx = variasi butir-butir M = jumlah butir pertanyaan

Tabel 3.1. Hasil Uji Validitas Kuesioner Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik

Berdasarkan Tabel 3.2 di atas diketahui bahwa butir-butir pertanyaan untuk variabel motivasi intrinsik
dan motivasi ekstrinsik, seluruhnya memenuhi persyaratan yakni nilai r-hitung semua butir pertanyaan
lebih besar dari r-tabel 0.215 (Gozhali, 2001). Dengan demikian dapat digunakan dalam penelitian.

Tabel 3.2. Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik

3.7.2. Pengukuran Variabel Kinerja

Skala pengukuran yang digunakan untuk variabel kinerja petugas rekam medis menggunakan skala
ordinal dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu:
Baik apabila petugas rekam medis melaksanakan seluruh kegiatan yang telah ditetapkan dalam uraian
tugas (tupoksi) pada unit kerja rekam medis di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar, atau
(>70% dari nilai tertinggi). - Cukup apabila petugas rekam medis melaksanakan sebagian besar kegiatan
yang telah ditetapkan dalam uraian tugas (tupoksi) pada unit kerja rekam medis di RSUD Dr. Djasamen
Saragih Pematang Siantar), atau (40 -70% dari nilai tertinggi)

- Kurang apabila petugas rekam medis melaksanakan sebagian kecil kegiatan yang telah ditetapkan
dalam uraian tugas (tupoksi) pada unit kerja rekam medis di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang
Siantar, atau (<40% dari nilai tertinggi).9

3.8. Metode Analisis Data Metode analisis data menggunakan uji korelasi Spearman pada
α=0,05,bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi petugas terhadap kinerja petugas rekam medis
di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar. Rumus uji korelasi Spearman yang digunakan adalah:

6 Σ D2

rho = 1 – N(N2 – 1) rho = Koefisien Korelasi D = Difference (perbedaan antar jenjang (rank) N = Jumlah
responden α = Tingkat Kesalahan 5% (0,05)9

BAB 4

4.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Karakteristik petugas rekam medis sebagai responden meliputi : jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan,
dan masa kerja dengan hasil sebagai berikut. 4.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

4.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

4.5. Kinerja Petugas Rekam Medis Pengukuran tingkat kinerja petugas rekam medis dilakukan sesuai
dengan pelaksanaan pekerjaan berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masingmasing petugas di
unit kerjanya.

4.5.3. Kinerja Urusan Pengelolaan Rawat Jalan

1 Mengerjakan/merekap sensus harian poliklinik rawat jalan, umum,askes,gakin untuk pendaftaran


sesuai ICD.10 2 Mengumpulkan/merekap/membuat laporan dari poliklinik surveilans terpadu penyakit
untuk dilaporkan ke Dinkes setiap bulannya 3 Membuat laporan pasien rawat jalan Formulir RL.2B per
triwulan ke Dinkes Kota, Propinsi dan Depkes RI Jakarta.

4 Membuat/merekap jumlah pasien rawat jalan (10 penyakit terbanyak)

5 Membuat laporan DHF ke Dinkes Kota P.Siantar jika penyakit tersebut ditemui di RS. 6
Mengarahkan/membantu para staf rawat jalan untuk kelancaran pelaksanaan tugas
Staf Pengelolaan Rawat Jalan

1 Menyusun/menyimpan kartu status rawat jalan ke rak status yang tersedia sesuai nomor yang telah
disediakan di loket 2 Mengambil kartu status pasien rawat jalan ke masing-masing poliklinik, jika
terlambat pengembaliannya setiap hari kerja

3 Memberikan kartu status pasien rawat jalan ke poliklinik untuk pasien baru dan pasien lama agar
disatukan jika sudah pernah terisi

4.6. Hasil Wawancara Mendalam dengan Kasubbid Pengelolaan dan Pelaporan Rekam Medis

c. Urusan Pengelolaan Rawat Jalan Pelaksanaan tupoksi di Pengelolaan Rawat Jalan yang utama adalah
mengambil kartu status pasien rawat jalan ke masing-masing poliklinik. Keterlambatan dalam
pengembaliannya disebabkan kurangnya tenaga yang mengelola rekam medis di poliklinik rawat jalan.
Di samping itu rendahnya kemampuan dan tingkat pendidikan staf menyebabkan masih banyak status
pasien rawat jalan salah kirim ke poliklinik yang lain (lihat Lampiran-8).

Di poliklinik rawat jalan belum dibuat rekap pasien yang berobat jalan, jumlah pasien umum, Askes,
Askessosial, Askeskin sehingga proses pengambilan oleh staf pengelolaan rawat jalan menjadi
terkendala.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu variabel independen dan variabel
dependen yang menjadi objek penelitian, diukur atau dikumpulkan secara simultan atau dalam waktu
yang bersamaan.Pendekatan Cross Sectional digunakan karena pengukuran stres kerja (variabel bebas)
dan kinerja perawat (variabel terikat) dilakukan secara bersama-sama untuk melihat apakah ada
hubungan atau tidak diantara keduanya.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonprobability Sampling dengan teknik
pengambilan sampel yaitu sampel jenuh atau sensus atau sering juga disebut total sampling, yaitu
dimana seluruh anggota populasi dijadikan sampel.

HASIL PENELITIANAnalisis Univariat

1. Umur

Analisis BivariatAnalisis bivariat digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah ada
hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.11
Penelitian ini menjelaskan mengenai dua variabel, yaitu stres kerja dan kinerja karyawan. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara stres kerja dengan kinerja karyawan pada12

Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, dilakukan dengan menyebarkan
kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah korelasi spearman.

Faktor penyebab stres


Didalam buku Robbins (2006:796) faktor-lingkungan,organisasi, dan individu yang bertindak sebagai
potensi sumber stres terdapat pada gambar 2.1 dalam model stres dibawah ini.

Faktor Lingkungan Ketidakpastian lingkungan mempengaruhi tingkat stres dikalangan para karyawan
dalam organisasi. Perubahan siklus bisnis menciptakan ketidak pastian ekonomi. Bila perekonomian
mengerut, misalnya, orang menjadi makin mencemaskan keamanan mereka. Ancaman dan perubahan
politik, bahkan dalam negeri seperti Amerika Serikat dan Kanada, dapat menyebabkan stres.
Ketidakpastian teknologi merupakan tipe ketiga yang dapat menyebabkan stres. Karena inovasi-inovasi
baru dapat membuat keterampilan dan pengalaman karyawan menjadi ketinggalan dalam periode
waktu yang sangat singkat (Robbins 2006:795).

Faktor Organisasi Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Faktor ini
mencakup desain pekerjaan individu, kondisi kerja, dan tata letak kerja fisik. Lini perakitan misalnya,
dapat memberi tekanan pada orang bila kecepatannya dirasakan berlebihan. Demikian juga bekerja
dalam lokasi yang terbuka sehingga terus-menerus terjadi gangguan dapat meningkatkan kecemasan
dan stres (Robbins 2006:796) Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada
seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Konflik peran
menciptakan harapan-harapan yang barangkali sulit dirujukkan atau dipuaskan. Ambiguitas peran
tercipta bila harapan peran tidak dipahami dengan jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa yang
harus dikerjakan (Robbins 2006:797). Tuntutan antar-pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh
karyawan lain. Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antarpribadi yang buruk
dapat menimbulkan stres yang cukup besar, khususnya diantara para karyawan yang memiliki
kebutuhan sosial yang tinggi (Robbins 2006:797). Struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi
dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Aturan yang berlebihan
dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan yang12berdampak pada karyawan merupakan
contoh variabel struktural yang dapat

merupakan potensi sumber stres (Robbins 2006:797). Kepemimpinan organisasi menggambarkan gaya
manajerial eksekutif senior organisasi. Beberapa CEO menciptakan budaya yang dicirikan oleh
ketegangan, rasa takut, dan kecemasan. Mereka memberikan tekanan yang tidak realistis untuk
berkinerja dalam jangka pendek, memaksakan pengawasan yang sangat ketat dan secara rutin memecat
karyawan yang tidak bisa mengikuti (Robbins 2006:797).

Tahap kehidupan organisasi menciptakan masalah dan tekanan yang berbeda bagi para karyawan.
Tahap pendirian dan kemerosotan sangat menimbulkan stres. yang pertama dicirikan oleh besarnya
kegairahan dan ketidakpastian, sedangkan yang kedua lazimnya menuntut pengurangan,
pemberhentian, dan serangkaian ketidakpastian yang berbeda. Stres cenderung paling kecil dalam tahap
dewasa dimana ketidakpastian berada pada titik terendah (Robbins 2006:797).

Faktor Individu Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang menganggap hubungan
pribadi dan keluarga sangat berharga. Kesulitan pernikahan, pecahnya hubungan, dan kesulitan disiplin
anak-anak merupakan contoh masalah hubungan yang menciptakan stres bagi para karyawan dan
terbawa ketempat kerja. Masalah ekonomi yang diciptakan oleh individu yang terlalu merentangkan
sumber daya keuangan mereka merupakan perangkat kesulitan pribadi lain yang dapat menciptakan
stres bagi karyawan dan mengalihkan perhatian mereka dari kerja (Robbins 2006:797). Telaah dalam
tiga organisasi yang sangat berlainan menemukan bahwa gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai
pekerjaan dapat membuat kita paham akan sebagian varians gejala stres yang dilaporkan sembilan
bulan kemudian. Ini mendorong para peneliti untuk menyimpulkan bahwa beberapa orang mempunyai
kecenderungan yang inheren berupa menekankan aspek negatif dunia ini secara umum. Jika benar,
maka faktor individu penting yang mempengaruhi stres adalah kodrat kecenderungan dasar seseorang.
Artinya, gejala stres yang diungkapkan pada pekerjaan itu sebenarnya mungkin berasal dari kepribadian
orang itu (Robbins 2006:798).

2.2.2.3 gejala Stres

Stres muncul lewat sejumlah cara. Misalnya, individu yang mengalami tingkat stres yang tinggi dapat
menderita tekanan darah tinggi, gangguan lambung, sulit membuat keputusan rutin, hilang selera
makan, rawan kecelakaan dan lain-lainnya. Semua ini dapat dibagi kedalam tiga kategori umum : gejala
fisiologis, psikologis, dan perilaku (Robbins:2006:800).

Gejala Fisiologis

Sebagain besar perhatian dini atas stres diarahkan ke gejala fisiologis. Ini terutama karena topik itu
diteliti oleh spesialis ilmu kesehatan dan medis. Riset ini memandu ke kesimpulan bahwa stres dapat
menciptakan perubahan metabolisme, meningkatkan laju detak jantung dan pernapasan, meningkatkan
tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan menyebabkan serangan jantung. Hubungan antara stres
dan gejala fisiologis tertentu tidaklah jelas. Kalau memang ada, pasti hanya sedikit hubungan yang
konsisten. Ini terkait dengan kerumitan gejala-gejala itu dan kesulitan untuk secara objektif
mengukurnya (Robbins:2006:800). Gejala psikologis

Stres dapat menyebabkan ketidakpuasan. Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dapat menimbulkan
ketidakpuasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Memang itulah dampak psikologis yang paling
sederhana dan paling jelas dari stres itu. Tetapi stres muncul dalam keadaan psikologis lain-misalnya,
ketegangan, kecemasan, mudah marah, kebosanan, dan suka menunda-nunda (Robbins:2006:800).

Gejala perilaku Gejala stres yang terkait dengan perilaku mencakup perubahan produktivitas, absensi,
dan tingkat keluar masuknya karyawan, juga perubahan kebiasaan makan, meningkatnya merokok dan
konsumsi alkohol, bicara cepat, gelisah, dan gangguan tidur (Robbins:2006:801).
2.2.2.4 Mengelola Stres Dari titik pandang organisasi, manajemen mungkin tidak peduli bila karyawan
mengalami tingkat stres yang rendah sampai sedang. Alasannya, tingkat semacam itu dapat bersifat
fungsional dan mendorong kekinerja karyawan yang lebih tinggi. Tetapi tingkat stres yang tinggi, atau
bahkan tingkat rendah tetapi berkepanjangan dapat mendorong kekinerja karyawan yang menurun dan
karenanya menuntut tindakan dari manajemen (Robbins:2006:802).

Pendekatan Individu Karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat
stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif mencakup pelaksanaan teknik-teknik manajemen-
waktu, meningkatkan latihan fisik, pelatihan pengenduran (relaksasi), dan perluasan jaringan dukungan
sosial. Banyak orang tidak mengelola waktunya dengan baik. Hal-hal yang harusnya mereka selesaikan
dalam hari atau pekan tertentu seharusnya selesai jika mereka mengelola waktu dengan baik
(Robbins:2006:802).

Jadi pemahaman dan pemanfaatan prinsip-prinsip dasar pengelolaan waktu dapat membantu individu
mengatasi dengan lebih baik ketegangan yang diciptakan oleh tuntutan pekerjaan. Beberapa prinsip
pengelolaan waktu yang lebih dikenal adalah (1) membuat daftar harian dari kegiatan yang mau
diselesaikan; (2) memprioritaskan kegiatan menurut penting dan urgensinya; (3) menjadwalkan kegiatan
menurut perangkat prioritas; dan (4) mengetahui siklus harian dan menangani bagian yang paling
penting yang paling menuntut dari pekerjaan selama puncak sipuncak siklus yang disitu paling waspada
dan produktif (Robbins:2006:803).

Latihan fisik nonkompetitif seperti aerobik, berjalan, jogging, berenang dan bersepeda telah lama
direkomendasikan oleh para dokter sebagai suatu cara untuk menangani tingkat stres yang berlebihan.
Bentuk latihan fisik ini meningkatkan kapasitas jantung, menurunkan laju detak jantung, memberikan
suatu pengalihan mental dari tekanan kerja, dan menawarkan suatu cara untuk melepas energi
(Robbins:2006:803).

Individu dapat melatih diri untuk mengurangi ketegangan lewat teknik pengenduran seperti meditasi,
hipnosis, dan umpan balik hayati. Sasarannya adalah mencapai suatu tingkat pengenduran yang dalam,
dimana orang merasa santai secara fisik. Pengenduran dalam selama 15 atau 20 menit sehari
melepaskan ketegangan dan memberikan kepada orang itu rasa kedamaian yang mendalam. Yang
penting, perubahan yang berarti dalam laju detak jantung, tekanan darah, dan faktor fisiologis lain yang
dihasilkan dari pencapaian kondisi pengenduran yang dalam itu (Robbins:2006:803).

Mempunyai banyak teman, keluarga, atau rekan sekerja untuk diajak bicara memberikan suatu saluran
keluar bila tingkat stres berlebihan. Oleh karena itu, memperluas jaringan dukungan sosial bisa
merupakan suatu cara untuk pengurangan ketegangan (Robbins:2006:803).

Pendekatan Organisasional Beberapa faktor yang menyebabkan stres-terutama tuntutan tugas dan
peran, dan struktur organisasi-dikendalikan oleh manajemen. Dengan demikian, faktor-faktor ini dapat
dimodifikasi atau diubah. Strategi yang mungkin diinginkan oleh manajemen untuk dipertimbangkan
antara lain perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja, penggunaan penetapan tujuan yang
realistis, perancangan-ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan, perbaikan komunikasi
organisasi, dan penegakan program kesejahteraan korporasi (Robbins:2006:803). Respon individu
terhadap situasi stres berbeda-beda. Misalnya, individu dengan sedikit pengalaman cenderung lebih
rawan stres. Keputusan seleksi dan penempatan hendaknya mempertimbangkan fakta ini. Berdasarkan
sejumlah besar riset yang meluas, kita menyimpulkan bahwa individu-individu yang berkinerja lebih baik
bila mereka mempunyai tujuan yang spesifik dan menantang dan menerima umpan balik mengenai
kemajuan mereka yang tepat ke arah tujuan ini (Robbins:2006:804).

Merancang ulang pekerjaan sehingga mampu memberi karyawan lebih banyak tanggung jawab, lebih
banyak kerja yang bermakna, lebih banyak otonomi, dan peningkatan umpan balik sehingga dapat
mengeurangi stres karena faktor-faktor ini memberi karyawan itu kendali yang lebih besar terhadap
kegiatan

kerja dan mengurangi ketergantungan kepada orang lain (Robbins:2006:804). Stres peran bersifat
merusak bagi sebagian besar karyawan karena karyawan merasa tidak pasti akan sasaran, harapan, cara
mereka akan dinilai, dan semacamnya. Dengan memberi karyawan ini suara dalam pengambilan
keputusan yang secara langsung mempengaruhi kinerja mereka, manajemen dapat meningkatkan
kendali karyawan dan mengurangi stres peran ini. Maka para manajer hendaknya mempertimbangkan
peningkatan keterlibatan karyawan kedalam pengambilan keputusan (Robbins:2006:804).

Meningkatkan komunikasi organisasi yang formal dengan para karyawan akan mengurangi
ketidakpastian karena mengurangi ambiguitas peran dan konflik peran. Oleh karena pentingnya persepsi
dalam memperlunak hubungan stres-respon itu, manajemen dapat juga menggunakan komunikasi yang
efektif sebagai cara membentuk persepsi karyawan (Robbins:2006:804). 2.2.3 Hubungan antara stres
kerja dengan kinerja karyawan Sejumlah riset telah menyelidiki hubungan stres-kinerja. Pola yang paling
meluas dipelajari dalam literatur stres kinerja adalah hubungan U terbalik. Gambar 2.2 dibawah ini
menggambarkan hubungan stres dan kinerja secara umum dalam bentuk busur/ lengkung. Bila tidak ada
stres, tantangan kerja juga tidak ada dan kinerja cenderung menurun. Sejalan dengan meningkatnya
stres, kinerja cenderung naik karena stres membantu karyawan untuk mengarahkan segala sumber daya
dalam memenuhi kebutuhan kerja, adalah suatu rangsangan sehat yang mendorong para karyawan
untuk menanggapi tantangan pekerjaan(Mas’ud:2002:20). Sebagaimana yang ditunjukkan oleh kurva,
peningkatan jumlah stres yang rendah dapat meningkatkan kinerja tetapi hanya sampai titik tertentu.
Tetapi terlalu stres menaruh tuntutan yang tidak dapat dicapai atau kendala pada seorang, yang
mengakibatkan kinerja menjadi lebih rendah (Robbins dalam muhammad jehangir: 2011).

Gambar 2.2Hubungan U Terbalik Antara Stres Kerja dan Kinerja Karyawan Sumber : Jehangir,
Muhammad,et al. 2011. “Effects of Job Stress on Job Performance & Job Satisfaction”. Journal of
Contemporary research in Business.

2.3 Model Analisis Model analisis merupakan gambaran sederhana tentang hubungan diantara variabel
(Prasetyo dan Jannah:2008:75). Dalam penelitian ini terdapat dua buah variabel (bivariat) yang akan
diteliti yaitu stres kerja sebagai variabel independen dan kinerja karyawan sebagai variabel dependen.
Bentuk hubungan stres kerja dan kinerja karyawan bersifat asimetris yang menyatakan bahwa suatu
variabel mempunyai hubungan dengan variabel lainnya. Model penelitian yang akan digunakan adalah
penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 2.3

Model Analisis Variabel Independen Variabel Dependen Variabel X Variabel Y Sumber : Mohsan,
Faizan,et al. 2011. “The Impact of Stress on Job Performance”. Journal of Contemporary research in
Business.

2.4 Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah suatu pernyataan yang pada waktu diungkapkan belum
diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam kenyataan empiris (Gulo:2002:57).
Pengajuan rumusan hipotesa yang akan diuji untuk mengukur hubungan kedua variabel dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut : Ho : Tidak terdapat hubungan antara stres kerja dengan kinerja
karyawan. Ha : Terdapat hubungan antara stres kerja dengan kinerja karyawan.

Bab3

3.2 Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian secara kuantitatif16Dalam penelitian
ini penulis menyelidiki masalah stres kerja dan kinerja karyawan yang terjadi pada agen AJB Bumiputera
1912 Kantor Cabang Pancoran Mas Depok untuk menguji teori dan hipotesis yang telah ada dalam
penelitian sebelumnya. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik uji Z dengan
melihat Z hitung dan Z tabel untukmenentukan apakah hipotesis nol (H0) ditolak atau diterima.
Pengujiaan pada hipotesis adalah dengan cara melihat hubungan antara stres kerja dengan kinerja
karyawan pada agen AJB Bumiputera 1912 kantor cabang Pancoran Mas Depok.

3.3 jenis penelitian

Berdasarkan dimensi waktu, penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. A Cross-sectional study
involves observations of a sample, or cross section, of population or phenomenon that are made at one
point in time. Penelitian cross-sectional melibatkan pengamatan sampel, atau cross section dari populasi
atau fenomena yang dibuat pada satu waktu (Babbie:2009:110).Penelitian ini hanya dilakukan pada satu
waktu yaitu pada bulan Februari - Juni 201216

3.4 populasi sampel

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Data primer, diperoleh dari hasil kuesioner. Kuesioner ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan untuk memperoleh informasi dari responden mengenai stres kerja dan kinerja karyawan
pada agen AJB Bumiputera 1912 kantor cabang Pancoran Mas Depok. Dalam kuesioner ini dirumuskan
sejumlah pernyataan yang sudah disertai alternatif jawaban, sehingga responden diberi kesempatan
untuk memilih salah satu jawaban sesuai dengan data yang diperlukan.

2) Data sekunder, diperoleh dari studi pustaka, yaitu pengumpulan data dari buku-buku, karya
akademis, internet, dan sumber-sumber lainnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi tambahan
serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini
yaitu mengenai stres kerja dan kinerja karyawan.

Teknik analisis data

Uji validitas uji reabilitas

Analisis Korelasi Dalam penelitian ini uji statistik bivariat menggunakan metode analisis korelasi
Rank Spearman. Koefisien korelasi ini digunakan untuk mengukur korelasi antardua variabel
yang memiliki tingkat pengukuran ordinal.17

Interval Nilai Koefisien Korelasi dan Kekuatan Hubungan Sumber : Argyrous: 1997: 326. Nilai
Koefisien Korelasi Kekuatan hubungan 0,0 – 0,2 Sangat lemah

0,2 – 0,4 Lemah 0,4 – 0,7 Sedang 0,7 – 0,9 Kuat

0,9 – 1,0 Sangat kuat Berikut ini adalah rumus korelasi rank spearman : rs = 1 – 6 ∑ d2

N ( N2 – 1 )

Keterangan:

rs = koefisien korelasi spearman’s rank 6 = konstanta N = jumlah sampel ∑ d2 = Kuadrat selisih


antar rangking dua variabel

3.6.3 Uji Hipotesis Menurut Sudjana (2005 : 379) hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian
harus diuji. Untuk pengujian ini maka digunakan uji Z dikarenakan responden yang diteliti > 30
responden, Kriteria uji adalah z hitung > z table maka H0 ditolak dan Ha diterima yang didapat
dari tabel distribusi z dengan a = 0,05 (5%), apabila z hitung < z table maka H0 diterima dan Ha
ditolak yang didapat dari tabel distribusi z dengan a = 0,05 . Berikut adalah rumus untuk uji Z :
RUMUSBentuk pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut : Ho : Tidak terdapat hubungan
antara stres kerja dengan kinerja karyawan. Ha : Terdapat hubungan antara stres kerja dengan
kinerja karyawan.
PEMBAHASAN

4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas Kuesioner PenelitianVariabel Stres Kerja

Validitas Kuesioner Penelitian Dimensi Task Performance Variabel Kinerja Karyawan

4.3 Pre-test : Uji Reliabilitas

4.3 Data Karakteristik Responden

Kaya: umur, jenis kelamin

4.4 Analisis Deskriptif Hubungan antara stres kerja dengan kinerja karyawan Pada Agen AJB
Bumiputera 1912 Kantor Cabang Pancoran Mas Depok

4.4.1 Analisis Deskriptif Variabel Stres Kerja

Jawaban Responden untuk =57 No Pernyataan STS TS N S SS

Uji hipotesis
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan stres kerja dengan kinerja petugas rekam medis di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta dan Yogyakarta. Jenis penelitian ini observasional analitik
dengan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 52 orang. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh. Analisis bivariat menggunakan uji statistik
Spearman Rank. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stres kerja
dengan kinerja (ρ= 0,005, r= -0,382).

4.1 SimpulanSimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :Petugas rekam medis mayoritas
berada pada rentang usia 25-59 tahun yakni sebanyak 41 orang. Jumlah antara petugas rekam medis
lakilaki sebanding dengan jumlah perekam medis perempuan yakni sebesar 26 orang. Sebanyak 18
orang memiliki masa kerja 0-4 Tahun. Mayoritas petugas memiliki pendidikan terakhir Diploma III Rekam
Medis yakni sebesar 31 orang. Sebanyak 31 orang memperoleh pendapatan sebesar 1.500.000-
2.500.000.

Tingkat stres kerja yang dialami petugas rekam medis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta
dan Yogyakarta berada dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 53,8%.

Tingkat kinerja petugas rekam medis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta dan Yogyakarta
tergolong dalam kategori tinggi dengan persentase sebesar 71,2%.Ada hubungan antara stres kerja
dengan kinerja petugas rekam medis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta dan Yogyakarta (ρ
0,005, r = -0,382).19