Anda di halaman 1dari 5

Beberapa sketsa berfigura digantungkan dibebatuan pembatas jalan menuju gedung fakultasku.

Tanpa
sengaja, aku mengenali salahsatu diantaranya.

Seorang gadis berambut panjang ikal, duduk bersama seorang pria dibawah pohon. Mereka
berpegangan tangan sambil menatap satu sama lain. Itulah yang digambarkan disketsa.

Kubuka mataku lebar-lebar, mencoba mencari celah perbedaan. Seberapa keras aku menolaknya, sketsa
itu terlihat persis seperti yang pernah kulihat. Tanganku bahkan gemetar ketika mencoba mengambil
sketsa itu.

"Ketika kita diatas panggung atau didalam bayangan, mari bertemu disana pada 10 oktober. Jika
melakukan itu, kita mungkin akan melihat satu sama lain untuk waktu lama seperti pohon ini."
Ingatanku berputar pada perkataan pria dalam sketsa.

Tertulis dibawah sketsa. Bahwa gambar ini terinspirasi dari Universitas Seuli, yang berarti, pohon itu ada
disini? Tidak Mungkin!

Aku langsung bergegas mencari pohon yang mungkin digambar kembali oleh penulis dicerita lain.
Meskipun ragu, tetap saja aku tidak boleh menyianyikan kesempatan.

Ada banyak pohon diseluruh penjuru kampus, tapi mereka terlihat sama. Sudah kuduga bahwa pohon
itu tidak akan ditemukan dengan mudah.

Ditengah pencarian, aku juga tidak lupa bertanya kepada beberapa mahasiswa dengan memperlihatkan
gambar sketsa. Tapi, apakah ini mungkin? Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahuinya.

Aku tidak tahu jika area kampus ternyata sangat luas. Dimana lagi aku harus mencari. Tumisku sudah
terasa pegal.

"Daun-daun pohon ditaman tadi berubah begitu indah." Kata salah seorang gadis dari segerombolan
orang yang melewatiku.

"Kau tahu, hari ini adalah ulangtahun pohon itu yang ke 300."

Itu dia!

Setelah melihat wajah salah seorang dari mereka yang tengah menoleh kesamping. Ternyata itu Shin
Sae Mi. Untuk itu, aku tidak ragu menghampirinya.

"Wah luar biasa, itu sangat tua"

"Jangan sebut pohon itu tua." Protes Sae Mi.

Akhirnya aku berhasil mengalangi jalan mereka. "Katakan dimana pohon itu!" Kataku terburu-buru.

Mereka jelas terlihat terkejut.


"Hei, Eun Dan Oh! Kau mendengarnya?" Sapa Sae Mi.

Sekarang aku tengah menuju tempat yang diarahkan Sae Mi. Jantungku berdebar sangat kencang.
Kuharap pohon itu sungguh ada, dan bisa membawaku kepada seseorang yang sudah lama kucari.

Setelah kuingat jika hari ini bertepatan dengan tanggal 10 Oktober, aku mulai berlari karena merasa
tidak sabar. Aku semakin yakin akan menemuinya disana.

Kuhentikan kakiku setelah merasa telah menemukannya. Aku berdiri sejauh satu meter didepan sebuah
pohon yang daunnya berubah berwarna keemasan.

Nafasku terengah-engah hingga bernafas melalui mulut. Jika diingat-inget, sebelumnya aku tidak berlari
secepat dan sejauh ini karena kondisi jantungku.

Tidak bisa kupercaya! Sebuah pohon yang terlihat sama persis dengan pohon yang ditanam di SMA
Seuli. Berpindah ke Universitas! Yang berubah hanyalah kursinya. Dulu kursi itu memutari pohon,
sedangkan sekarang hanya terdapat satu kursi untuk dua orang.

Apakah ini nyata? Bagaimana mungkin? Tidak henti-hentinya kukagumi pohon yang sekarang tengah
kucoba untuk menyentuhnya, dan ternyata pohon itu nyata. Aku semakin yakin bahwa ini pohon adalah
yang sama.

Benar, sekarang dimana dia?

Mataku menelusuri ke segala arah disekitar pohon. Kuperhatikan satu per satu orang-orang yang lewat.
Tapi dia belum datang, atau mungkin bahkan tidak ada.

Sudah dua tahun sejak perpisahan kami. Dan sejak saat itu dia tidak lagi muncul, menghilang karena
cerita sudah mencapai akhir. Aku juga tidak mengerti, beberapa dari kami masih ada, sedangkan yang
lain sebaliknya.

Kumohon, datanglah! Tidak peduli seberapa lama, aku akan terus menunggu. Asalkan dia datang.

Kududuki kursi sambil terus memperhatikan sekitar dengan rasa gelisah, kalau-kalau aku
melewatkannya. Kami sudah berjanji akan bertemu, jadi aku yakin dia pasti datang.

Kurasakan keringat mulai bercucuran dipelipis karena merasa gerah. Suhu ditengah hari yang berubah
menjadi panas membuat orang-orang disekitarku perlahan pergi. Yang bisa kulakukan hanyalah
menyeka keringat dengan tissue yang kubawa, karena terlalu takut meninggalkan pohon, setidaknya
disini teduh.

Tidak terasa tiga jam berlalu dan sudah kuhabiskan bekal air ku, sehingga tenggorokkanku terasa kering.
Selain itu, perutku terasa lapar, sarapanku pasti sudah lama tercerna.

Hari semakin sore, tapi tidak kutemukan tanda-tanda kehadirannya.


Seharusnya aku tidak boleh terlalu berharap. Seharusnya kupikirkan kemungkinan dia tak akan datang.
Tapi tidak ada lagi yang bisa lulakukan selain terus menunggunya.

Aku benci mengakui, bahwa waktu yang kuhabiskan beberapa jam saja sudah membuatku menyerah.
Alih alih mengingat kesepianku dalam dua tahun terakhir.

Aku beranjang dari kursi kemudian berjalan bolak-balik didepan pohon, untuk menghilangkan rasa pegal
karena terlalu lama duduk. Tidak bisa kupungkiri bahwa hatiku semakin gelisah.

Dia tidak muncul. Pada akhirnya aku menyakiti diri sendiri karena kecewa. Mengapa sekarang rasanya
lebih sakit dari biasanya? Pohon yang sama apanya? Itu tidak berarti akan ada kisah yang sama. Sketsa
ini benar-benar memperngaruhiku.

Entah dari mana, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pohon, matanya jelas memandang ke arahku.
Seketika tubuhku membeku dibuatnya.

"Kyung?"

Sekali lagi aku tidak mempercayai penglihatanku. Itu Baek Kyung!

Aku berjalan kearahnya dengan bersemangat. Dengab terburu-buru kuperlihatkan sketsa yang sama
seperti yang digambarnya dahulu.

Tunggu, Baek Kyung hanya menatapku.

Aku tidak berhenti menatapnya dan mempertahankan senyumanku, bahkan setelah kusadari bahwa dia
hanya menatap kosong ke arahku.

Tidak mungkin! Baek Kyung tidak mengingatku?

Perlahan tangan yang kuulurkan melemas, sampai akhirnya ku turunkan. Kemudian kepalaku tertunduk
dalam. Kutatap ujung sepatuku dengan pandangan buram.

Apa yang harus kulakukan?

Dengan pikiran kosong dan kehilangan tenaga, kubalikkan badan. Bermaksud meninggalkan pria yang
ternyata hanya terlihat mirip dengan Baek Kyung. Aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa dia bukan
Baek Kyung.

"Dan Oh!"

Langkahku berhenti. Lalu tubuhku sedikit tersentak ketika Baek Kyung memelukku dari belakang.

"Aku merindukkanmu."

Air mataku menetes. Tidak percaya dengan suara yang lama tak terdengar.

Sontak aku berbalik untuk berbalas memeluknya erat.


Angin sore menjadikan suasana yang tadinya panas berubah menjadi sejuk. Diwaktu seperti ini, taman
di Univeesutas selalu dipenuhi oleh mahasiswa yang sibuk berkutat dengan buku atau laptop mereka,
dan ada yang sekedar mengobrol sambil menikmati camilan bersama teman.

Pelukanku tidak lepas dari lengan Baek Kyung sejak pertemuan dramatis kami. Kaki kami berjalan
beriringan beriringan sedangkan bibir kami tidak henti-hentinya tersenyum.

"Bagaimana jantungmu?" Tanya Baek Kyung.

"Jantungku sembuh sepenuhnya!" Seruku bersemangat.

Baek Kyung terkekeh. Kulihat dua lesung pipit melubangi pipinya dalam ketika sedang tersenyum,
sampai memperlihatkan gusinya. "Apa kau sangat senang?"

"Tentu saja."

Rasanya seperti baru dilahirkan kembali. Hatiku sangat senang, tenang dan nyaman karena kehadiran
Baek Kyung. Aku harus berterima kasih kepada penulis karena telah mempertemukan kami kembali.

Baek Kyung tiba-tiba berhenti seraya melepaskan tanganku.

"Kenapa?" Kataku bingung.

Tangan Baek Kyung perlahan meraih tanganku. Tanpa diduga, dia berhenti hanya untuk memastikan
keberadaan cincin dijariku. Senyumku semakin merekah dibuatnya.

Cincin yang Baek Kyung berikan tidak pernah lepas dari jariku. Sebenarnya pernah, saat aku sempat
memutuskan pernikahan kita karena alasan keadaan jantungku. Beruntung, kesetiaan Baek Kyung
meyakinkan ku kembali.

Jari telunjuk Baek Kyung mengusap permukaan cincin, sedangkan matanya beralih menatapku. "Kau
masih menyimpan cincin nya?"

Kuanggukan kepalaku beberapa kali dengan bersemangat. "Cincin ini sangat cantik! Kupikir cincin ibumu
sama dengan ukuranku. Ini sangat cocok untukku."

Sekali lagi Baek Kyung meraih kepalaku untuk kemudian memelukku. Dagunya meletakkan diatas
kepalaku mengingat tubuhku yang pendek. Aroma tubuhnya masih sama. Aku sangat menyukainya.

Setibanya di toserba, aku dibuat terkejut ketika melihat seseorang dibalik meja kasir. "Selamat datang."
Katanya sambil tersenyum, kemudian mengalihkan wajah ke komputer.
Sekarang aku sangat penasaran dengan arah cerita penulis selanjutnya. Seseorang yang diceritakan
sangat kaya raya dan angkuh, sekarang menjadi pekerja di toserba. Apakah dia masih menjadi peran
utama?

"Bukankah itu Oh Nam Ju?" Baek Kyung juga mengenalinya.

Benar, Oh Nam Ju. Terakhir, kuingat dia mengaku jika bukan anak kandung dari pemilik Sirenne Fashion.
Apa mungkin dia jatuh miskin karena itu? Atau, dia bertukar peran dengan Yeo Ju Da? Apapun itu,
kupikir penulis begitu menyayanginya.

Kami berjalan ke meja kasir setelah mengambil dua botol minuman dingin. Aku tidak bisa mengalihkan
padangan dari Nam Ju yang kini rambutnya berantakan, poni sepenuhnya menutupi dahinya.

"Oh Nam Ju?" Kataku hati-hati.

Mata Nam Ju membulat. "Kamu mengenalku?"

"Kau dan aku sudah ditakdirkan."

"Kita sudah ditakdirkan?"

"Jika bukan takdir, lalu apa artinya? Aku hanya menyukaimu, tidak ada orang lain."