Anda di halaman 1dari 18

Tugas Kelompok 2

Proses PembelajaranKlinik
(Case Based Learning/ Tutorial Klinik)
Di RS PKU MuhammadiyahGamping

Disusun Oleh:
Ady Irawan NIM. 20171050037
Alfi Rusdianti NIM. 20171050004
Argitya Righo NIM. 20171050018
Arif Munandar NIM. 20171050028
Eka Firmansyah NIM. 20171050005
Erviana NIM. 20171050041
Muhammad Azis NIM. 20171050010

Program Studi Magister Keperawatan


Universitas Mumammadiyah Yogyakarta
2018
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nyalah kelompok dapat menyelesaikan penyusunan laporan tugas kelompok
berkaitan dengan Proses PembelajaranKlinik(Case Based Learning / Tutorial Klinik) Di RS
PKU MuhammadiyahGamping.

Kelompok mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak


yang telah memberikan masukan kepada makalah ini. Oleh karena itu kelompok ingin
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Novita Kurniasari, S.Kep., Ns., M.Kep selaku mentor mata ajar elektif
Clinical Teaching.
2. Semua rekan-rekan seangkatan yang telah memberikan dorongan dan motivasi
dalam penyusunan laporan tugas kelompok elektif Clinical Teaching.
3. Pihak-pihak lain yang tidak bisa kelompok sebutkan satu-persatu yang juga
telah banyak membantu baik support maupun do’a.
Kelompok merasakan dalam penyusunan laporan tugas mandiri ini begitu banyak hambatan,
namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka kelompok dapat menyelesaikan
sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan penulis. Kritik dan saran sangat kelompok harapkan
agar penyusunan laporan tugas kelompok ini untuk lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
Kelompok berharap semoga amal baik yang telah diberikan oleh semua pihak akan
mendapatkan balasan dari Allah SWT, dan semoga laporan tugas makalah ini sangat bermanfaat
bagi kita semua. Aamiin yaa Robbal’alamin.

Yogyakarta, 9 Mei 2018

Tim Penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Masalah ................................................................................................................... 2
C. Tujuan Masalah ...................................................................................................... 2
BAB II
Pembahasan
A. Konsep Case Based Learning ................................................................................. 3
B. Pendekatan Case Analysis ...................................................................................... 6
C. Penerapan Case Based Learning ............................................................................. 9
D. Analisis Case Based Learning ................................................................................ 10
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 13
B. Saran ....................................................................................................................... 13
Daftar Pustaka
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Pembangunan pada ranah pendidikan dan kesehatan ditujukan untuk tercapainya sasaran,
yaitu terwujudnya masyarakat sejahtera secara merata. Beragam usaha telah dilakukan
dalam dunia pendidikan, seperti halnya adalah terciptanya berbagai model pembelajaran
yang dirancang dengan melihat kondisi perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu.
Model pembelajaran merupakan salah satu metodologi yang diciptakan dunia pendidikan
dalam rangka menuju tercapainya suatu perubahan. Salah satu contoh model pembelajaran
adalah Model Pembelajaran Berbasis Kasus (Case Based Learning) diamana metode ini
berprinsip student centered learning (Wijaya, 2015).
Case Based Learning merupakan metode pembelajaran dengan kasus nyata yang
membandingkan kasus nyata denga teori-teori berdasarkan Evidence Based Nursing (EBN).
Metode lain yang mempunyai prinsip student centered learning adalah Case Based Learning
(CBL), Pembelajaran Cased Based Learning ini menyajikan data-data real pasien
didiskusikan secara berkelompok dengan aktivitas tutorial. Tutorial ini menggunakan
pendekatan Case Analysis. Tutorial dilaksanakan dalam satu kelompok stase. Kasus yang
diambil bisa dipilihkan oleh preseptor dan sudah dilakukan pengkajian sebelumnya oleh
kelompok. (Khoiriyati, 2015). Pada Case Based Learning masalah pemicu atau skenario
yang digunakan adalah skenario yang well-structured atau masalah yang sudah terstruktur
karena memiliki rangkaian solusi yang jelas (Syah 2008 dalam Wijaya 2015).
Dayli, (2002) dalam Ferawati (2016) menyebutkan bahwa bahwa CBL dapat
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek dan juga menuntut mahasiswa untuk
melakukan penelitian dan mengevaluasi beberapa sumber data, membina literasi informasi
sehingga dapat membuat mahasiswa untuk selalu berpikir kritis. CBL ini merupakan bagian
dari metode pembelajaran berupa SCL (Student Centered Learning). Dimana dalam SCL
pendidik tidak lagi menjadi sumber dari segala ilmu yang diterima oleh mahasiswa, akan
tetapi bergeser menjadi fasilitator dan motivator aktif yang memperlancar proses belajar
mahasiswa (Rukmini, 2012).
Hasil penelitian Zohrabi et al., (2012) didapatkan bahwa metode Student Centered
Learning (SCL) lebih efisien daripada TCL, karena metode TCL menyebabkan mahasiswa
pasif, diam dan mendengarkan ceramah dari guru. Hasil penelitian tersebut juga menemukan
bahwa prestasi belajar mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode TCL
lebih rendah dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode
SCL. SCL merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, metode
pembelajaran ini menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif dan inovatif bagi
mahasiswa.
RS PKU Muhammadiyah Gamping yang bekerjasama dengan institusi-institusi
pendidikan kesehatan telah menjadi lahan praktek bagi mahasiswa-mahasiswa kesehatan
yang menerapakan metode CBL (Case Based Learning) dalam proses pembelajarannya.
Dalam sistem CBL (Case Based Learning) tersebut terdapat berbagai kegiatan yang
diharapkan menghasilkan lulusan yang berkompeten, berkualitas tinggi dan profesional,
yaitu salah satunya adalah Tutorial.
B. Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan oleh penulis diatas, maka pada
makalah ini penulis akan membahas bagaimana menganalisa tentang penerapan
pembelajaran klinik dengan model Tutorial Klinik (Case Based Learning) di RS PKU
Muhamadiyah Gamping.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui analisa penerapan pembelajaran klinik dengan model tutorial klinik
(case based learning) di Rs. PKU Muhammadiyah Gamping.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran klinik terutama pada tutorial klinik (case
based learning).
b. Untuk menganalisa pembelajaran tutorial klinik di Rs. PKU Muhammadiyah
Gamping.
BAB II
Pembahasan
A. Konsep Case Based Learning(Tutorial Klinik)
1. Definisi CBL
Pembelajaran berbasis kasus adalah pedagogi lama yang telah diterapkan secara luas
dalam berbagai disiplin ilmu. Mclean (2016) mendefinisikan CBL sebagai alat yang
melibatkan pencocokan kasus klinis di bidang yang terkait dengan perawatan kesehatan ke
bagian pengetahuan di bidang itu, untuk meningkatkan kinerja klinis, sikap, atau kerja tim.
Dalam pendidikan keperawatan, CBL dianggap sebagai metode belajar mengajar partisipatif
yang memfasilitasi pembelajaran aktif dan reflektif siswa untuk pengembangan pemikiran
kritis dan keterampilan pemecahan masalah yang efektif (Tomey, 2003).
2. Jenis Kasus
Dalam menerapkan CBL, seorang dosen dapat menerapkan berbagai pendekatan untuk
memperkenalkan kasus simulasi ke dalam kelas, seperti penyelidikan terbimbing, seminar
kasus, permainan peran, dan simulasi perawatan pasien (Srinivasan et al., 2007; Marlow
dkk., 2008; Thistlethwaite , 2012).Jenis Kasus CBL: (Schneider, 2007)
a. Studi kasus yang luas dan terperinci
1) Sering digunakan dalam kursus pembelajaran,
2) Seringkali berpusat pada keputusan tertentu, orang-orang yang membuatnya, orang-orang
yang terkena dampaknya, dan dampak dari keputusan itu pada semua pihak.
3) 100 halaman atau lebih pengerjaannya. Biasanya siswa membaca seluruh kasus secara
individual dan menyiapkan analisis keputusan dengan rekomendasi untuk perubahan.
Kasus ini kemudian dibahas.
b. Deskriptif, kasus narasi, bagian yang diberikan secara berurutan
1) Hingga 5 halaman
2) 1-2 paragraf per halaman
3) Dirancang untuk digunakan selama dua atau lebih pertemuan di kelas.
4) Diungkapkan kepada siswa satu halaman pada satu waktu, dengan diskusi, hipotesis dan
pengembangan tujuan pembelajaran dan pertanyaan studi untuk setiap bagian dari kasus.
5) Tujuan diberikan kepada siswa menjelang akhir kasus.
6) Gaya kasus ini berasal dari pengaturan medis.
c. Mini Case
1) Dirancang untuk digunakan dalam pertemuan kelas tunggal,
2) Biasanya sangat terfokus.
3) Berguna untuk membantu siswa menerapkan konsep, untuk memperkenalkan aplikasi
praktis dalam pengaturan laboratorium, atau sebagai latihan pra-lab yang dirancang untuk
membuat praktikum lebih bermakna.
d. Bullet Case
1) Dua atau tiga kalimat dengan satu titik pengajaran.
2) Mirip dengan masalah yang biasa digunakan pada ujian, namun, siswa mendiskusikannya
dalam kelompok kecil.
e. Studi Kasus Terarah
Kasus-kasus pendek segera diikuti dengan pertanyaan yang sangat terarah.
f. Beberapa Pilihan Kasus
1) Minicase dengan 4-5 solusi yang masuk akal. Dalam kelompok, siswa harus memilih dan
mempertahankan satu solusi.
2) Berguna untuk kebijakan, etika, keputusan desain.
3) Baik untuk penggunaan singkat di dalam kelas.
4) Pertanyaan pilihan ganda dapat dengan mudah dikonversi ke ini.
3. Keuntungan CBL
Keuntungan CBL yaitu sebagai berikut : (Schneider, 2007)
a. Siswa memilah data faktual, menerapkan alat analitik, mengartikulasikan masalah,
merefleksikan pengalaman relevan mereka, dan menarik kesimpulan yang dapat mereka
kaitkan dengan situasi baru.
b. Memperoleh pengetahuan substantif dan mengembangkan keterampilan analitik,
kolaboratif, dan komunikasi.
c. Kasus menambah makna dengan memberi siswa kesempatan untuk melihat teori dalam
praktik. Siswa tampak lebih terlibat, tertarik, dan terlibat dalam kelas.
d. CBL mengembangkan keterampilan siswa dalam pembelajaran kelompok, berbicara, dan
berpikir kritis. Karena banyak kasus didasarkan pada masalah kontemporer atau realistis,
penggunaan kasus di kelas membuat subjek menjadi lebih relevan.
Penerapan CBL dalam pengajaran dapat mencapai berbagai hasil pembelajaran (Macho-
Stadler & Elejalde-Garcia, 2013). Siswa dapat memperoleh pengetahuan yang memadai
tentang perawatan pasien dengan mengakses kasus nyata. Mereka dapat memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang berbagai perspektif individu, yang berguna untuk
mengembangkan pola pikir mereka untuk kerjasama, serta pengembangan pengetahuan
berkelanjutan (Forsgren et al., 2014). Ini juga memberikan kesempatan yang lebih baik bagi
siswa untuk meningkatkan keterampilan penilaian pasien mereka dan pengalaman perawatan
(Braeckman et al., 2014; Raurell-Torreda et al., 2015).
Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh siswa dari perawatan pasien virtual akan
memungkinkan mereka untuk lebih memahami perawatan holistik dan dengan demikian
mempersiapkan mereka untuk peran profesional mereka di masa depan (Forsgren et al.,
2014). Karena manfaat ini, CBL telah banyak diadopsi dalam pendidikan keperawatan di
banyak negara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa keperawatan
(Huckstadt & Hayes, 2005; Yoo & Park, 2014; Chan et al., 2016).
4. Model Instruksional
Model instruksional case based learning yaitu : (Schneider, 2007)
Fitur 
a. Berpusat pada siswa
b. Kolaborasi dan kerjasama antara partisipan
c. Diskusi pada situasi yang lebih khusus, dengan tipe contoh dunia nyata
d. Pertanyaan tidak hanya dengan satu jawaban
Siswa
a. Bertaut dengan karakteristik dan keadaan cerita/ kisah
b. Mengidentifikasi masalah seperti yang mereka rasakan
c. Menghubungkan arti dari kisah tersebut dengan kehidupan  mereka sendiri
d. Membawa latar belakang pengetahuan dan prinsip mereka
e. Mengumpulkan poin dan pertanyaan dan mempertahankan posisi mereka
f. Memformulasikan strategi untuk analisis data dan membangkitkan kemungkinan solusi
Guru
a. Sebagai fasilitator
b. Menyemangati eksplorasi kasus dan pertimbangan tindakan karakter dalam keputusan
mereka sendiri
c. Mengajukan pertanyaan yang mendorong pemikiran lebih baik
d. Merangkai bersama-sama kontribusi individu sehingga dapat melihat pola kelas
e. Menggunakan waktu dengan baik
Kasus
a. Berdasarkan berita faktual (dapat dipercaya)
b. Masalah kompleks ditulis untuk menstimulasi diskusi kelas dan analisis korabolasi
c. Melibatkan intekasi, eksplorasi realistic berpusat pada siswa dan situasi yang lebih
khusus
d. Tinggikan ketegangan antara titik pandang yang bertentangan
e. Mengakhiri kasus pada tindak-tanduk dilemma
5. Prosedur Case Based Learning
Prosedur yang dilakukan dalam case based learning sebagai berikut : (Schneider, 2007)
a. Dosen pengampu menyiapkan materi (dalam bentuk kasus) yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik, dan referensi yang sesuai dengan
pokok bahasan.
b. Kasus diberikan kepada peserta didik satu minggu sebelum proses jadwal pelaksanaan
pembelajaran.
c. Pembelajaran dalam bentuk diskusi kelompok kecil dan / atau diskusi kelas.
d. Dosen mengamati proses diskusi dan bila perlu memberi sentuhan / pengarahan / koreksi/
pertanyaan agar diskusi kelompok mencapai sasaran.
e. Setiap peserta didik diwajibkanmembuat catatan ringkas tentang materi yang dibahas
(dosen dapat memberi garis besar tentang apa saja yang perlu dicatat / dilaporkan oleh
peserta didik).

B. Pendekatan Case Analysis


Pendekatan case analisis didasari pada 2 pendekatan yang akan dibahas yaitu sebagai
berikut : (Varela, 2008)
1. Pendekatan Umum (a general approach)
a. Definisi Case Study
Studi kasus adalah deskripsi situasi administrasi aktual yang melibatkan keputusan
yang harus dibuat atau masalah yang harus dipecahkan. Ini bisa menjadi situasi nyata
yang benar-benar terjadi seperti yang dijelaskan, atau mungkin termasuk bagian yang
telah disamarkan untuk alasan privasi. Sebagian besar studi kasus ditulis sedemikian rupa
sehingga pembaca menggantikan manajer yang bertanggung jawab untuk mengambil
keputusan untuk membantu memecahkan masalah. Dalam hampir semua studi kasus,
keputusan harus dibuat, meskipun keputusan itu mungkin hanya meninggalkan situasi
seperti apa adanya dan tidak melakukan apa-apa.
b. Metode Kasus sebagai Alat Pembelajaran
Metode analisis kasus adalah alat pembelajaran di mana siswa dan instruktur
berpartisipasi dalam diskusi langsung studi kasus, yang bertentangan dengan metode
ceramah, di mana instruktur berbicara dan siswa mendengarkan dan membuat catatan.
Dalam metode kasus, siswa mengajar diri mereka sendiri, dengan instruktur menjadi
panduan aktif, bukan hanya konten menyampaikan kepala berbicara. Fokusnya adalah
pada siswa yang belajar melalui usaha bersama mereka. Kasus yang ditugaskan pertama
kali disiapkan oleh siswa, dan persiapan ini membentuk dasar untuk diskusi kelas di
bawah arahan instruktur. Siswa belajar, sering secara tidak sadar, bagaimana
mengevaluasi suatu masalah, bagaimana membuat keputusan, dan bagaimana berdebat
secara lisan suatu sudut pandang. Dengan menggunakan metode ini, mereka juga belajar
bagaimana memikirkan masalah yang dihadapi oleh administrator. Dalam kursus yang
menggunakan metode kasus secara luas, bagian penting dari evaluasi siswa dapat
beristirahat dengan partisipasi kelas dalam diskusi kasus, dengan porsi substansial lainnya
bertumpu pada analisis kasus tertulis. Untuk alasan ini, menggunakan metode kasus
cenderung sangat intensif untuk siswa dan instruktur.
c. Cara Melakukan case study
Meskipun tidak ada satu pun "Metode Kasus" definitif atau pendekatan, ada langkah-
langkah umum yang disarankan oleh kebanyakan pendekatan untuk diikuti dalam
menangani studi kasus.
d. Mempersiapkan Studi Kasus: Proses Dua Langkah
1) Step 1 Proses dalam siklus pendek
2) Step 2 Proses dalam siklus panjang
a) Pembacaan kasus secara mendetail
b) Menganalisis kasus, menganalisis kasus harus mengambil langkah-langkah sebagai
berikut:
 Mendefinisikan masalah
 Menganalisis data kasus
 Membangkitkan alternatif
 Memilih kriteria keputusan
 Menganalisis dan mengevaluasi alternatif
 Memilih alternatif yang disukai
 Mengembangkan rencana aksi / implementasi
e. Pendekatan yang berfokus pada aspek strategis analisis kasus (an approach that
focuses on the strategic aspects of case analysis)
Secara umum, terdapat 8 area untuk analisis case studi
1) Sejarah, pengembangan, dan pertumbuhan perusahaan dari waktu ke waktu
2) Identifikasi kekuatan dan kelemahan internal perusahaan
3) Sifat lingkungan eksternal yang mengelilingi perusahaan
4) Analisis SWOT
5) Jenis strategi tingkat perusahaan yang dikejar oleh perusahaan
6) Sifat strategi tingkat bisnis perusahaan
7) Struktur dan sistem kontrol perusahaan dan bagaimana mereka sesuai dengan
strateginya
8) Rekomendasi

C. Penerapan Tutorial Klinik


Kegiatanpembelajaran yang dilakukanolehmahasiswapraktik di RumahSakit PKU
MuhammadiyahGampingdiselenggarakanmelaluiserangkaiankegiatan.
Kegiatantersebutmencakupkegiatan proses pembelajaranhingga proses penilaian yang
bertujuanuntukmencapaitujuan proses pendidikan. Bentukkegiatanpembelajaran yang
diterapkanantara lain bimbinganlaporankasuskelolaan(pre conference –
conferenceasuhankeperawatan – post conference), bedside teaching (BST), tutorial klinik,
presentasikasus, presentasijurnal, resume keperawatan (IGD, poliklinik, OK, HD),
refleksikasussertaproyekinovasi.
Kegiatanpembelajaran yang ditemuiketikamelakukan fieldtrip saatituadalahkegiatan
tutorial. Hasilobservasi yang kami dapatkanbahwakegiatantersebutdilakukandiruangdiskusi
yang dipimpinolehketuadandidampingiolehsatuclinical instruction (CI). Kegiatan tutorial
dilakukansecarakelompok yang anggotanyaterdiridarikelompok yang sedangmenjalanistase
yang sama. Dari hasilwawancara, kegiatan tutorial dilakukandenganmenerapkanmetodecase
based learning (CBL) dimanamerupakaansuatumetodepembelajaran yang
membandingkankasusnyatadenganteori. Kasus yang digunakandalampembelajaran
tutorialdipiliholehmahasiswaatautidakmenutupkemungkinandipiliholeh preceptor klinik.
Tutorial inidilakukan 2 kali pertemuandalam 1
kasusselamasatustasedenganmenggunakanmetodecase
analysis.Pertemuanpertamamembahasmengenaiproblem, hypothesis, pathway, don’t know,
more infodanlearning issue. Pertemuankeduamembahasmengenai problem solving
denganmenggunakanevidence based nursing (EBN) sebagailandasannya.
Proses pembelajaran tutorial dilaksanakanberdasarkankasusnyata,
kasustersebutdapatdiambildarikasuskelolaandibangsal. Proses jalannya tutorial
dihandleolehketua, ketuabertugasuntukmengaturjalannya tutorial
termasukketepatanwaktuselamaprosesnya.
Selainitutugasketuayaituuntukmemotivasianggotanya agar
dapatberpartiaipasiaktifdalampelaksanaannya.

D. Analisis Tutorial Klinik


Metodepembelajaran yang dapatditerapkandalam proses
pembelajarankliniksalahsatunyaadalahmetodepembelajaran tutorial. RS PKU
MuhammadiyahGamping yang menjadilahanpraktek para mahasiswajugabersama-
samainstitusipendidikankesehatanmenerapkanmetodepembelajaran tutorial klinikini.
Metodetutorial iniselaindapat di terapkandalamproses
pembelajaranklinikjugadapatditerapkanpadapembelajaranakademik. Namundalampenerapan
tutorial adaberbagaipendekatan yang dapatditerapkan. Pendekatan tutorial yang
dapatditerapkan di diakademikadalahpendekatan7 jumpsedangkan yang dapatditerapkan di
klinikadalahpendekatanCase Analysis.
Pendekataninitelahdisesuaikandengantujuanpembelajaranakhirdari proses tutorial.
Pendekatancase analysisdigunakanpada proses
pembelajaranklinikkarenadenganpendekataninimenekankanpadapemecahanmasalahberbasis
kasusataucase based learning(CBL)sedangkanpendekatan7
jumpditujukanuntukmetodeproblem based learning (PBL) yang digunakan di
akademik.MenurutKaddoura (2011) dalam Ferawati (2016), CBL
merupakansatumetodeberbasispadasiswadanmengedepankandiskusi,
metodetersebutlazimdigunakandalamduniapendidikankeperawatan. Karena CBL memakai
pendekatan berbasis kasus yang melibatkan siswa pada sebuah diskusi dari situasi spesifik
dan contoh kejadian yang nyata di dunia.
Anggotadaripelaksanaan tutorial terdiridarimahasiswa yang terkumpuldalam 1
kelompokdenganjumlah yang tidakterlalubesardandengandidampingpembimbingklinik (CI).
Kegiatan yang dilakukanmembahasmengenaisatukasusberkaitankasusnyata
yangdianalisisdenganmenyangkutkanteori yangdapatdidiskusikanolehtiapmahasiswa.
Thistlethwaite et al (2012) menyatakan bahwatujuanumumdari program CBL
yaitumenunjukkan keterkaitan antara teori dan praktek,seperti pengembangan penalaran
klinis dalam program kesehatan.Pada proses penerapannya, CBL ini melibatkan siswa dan
guru dalam dialog analitik dalam situasi keperawatan yang mana cara tersebut merupakan
strategi pembelajaran yang bersifat mutidisipliner dan membutuhkan kemampuan untuk
mengintegrasikan berbagai pengetahuan untuk menyelesaikan suatu masalah (Gade& Chari,
2014). Dengandemikian, CBL dipandang sebagai suatu metode yang sesuai bagi
pengembangan kemampuan berpikir kritis dari mahasiswa dan mahasiswi.
Pelaksanaan tutorial dilakaksanakansecaraberkelompoknamunanggotanyadalamjumlah
yang terbatas. Jumlahanggotasangatdiperhatikanberkaitandengankeefektifan proses
pembelajarantersebut. Selainjumlahataurasiomahasiswa, kemampuan SDM
dalamhalinipembimbingjugamempengaruhijalannya proses
berkaitandenganmemberikanpenengahketikamahasiswamengalamikesulitandalamsuatu
proses pemecahanmasalah. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Thistlethwaite et al
(2012)bahwa metode CBL mendorong pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil.
Diskusi kecil memungkinkan seluruh peserta terlibat dengan intens dalam sebuah interaksi
antar peserta. Peserta diskusi didorong untuk berpendapat tentang kasus yang ditelaah
berdasarkan pengetahuannya. Pembentukan kelompok tersebut meningkatkan motivasi
belajar dan atau peserta diskusi karena ada persaingan atau perlombaan diantara mereka
untuk mendapatkan nilai yang terbaik.Selainrasiomahasiswa, hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam penerapan metode pembelajaran CBL adalahkemampuan SDM dan sumber daya yang
lainnya yang ditujukan agar penerapan metode pembelajaran CBL ini berjalan secara efektif
dan berdampak optimal (Ferawati, 2016).
Tujuan lain darimetodepembelajarantutorial menggunakanCBL yaitu meningkatkan
keaktifan mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Peningkatan keaktifan mahasiswa
dapat diartikan bahwa mahasiswa tertarik pada model pembelajaran CBL ini. Ketertarikan
mahasiswa ini akan memotivasi mereka untuk mengikuti proses belajar mengajar. Salah satu
keuntungan penerapan CBL adalah mahasiswa terlihat lebih terlibat, tertarik, dan melibatkan
diri dalam pembelajaran. Menurut Budiati (2014) bahwadenganmetode CBL memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap proses
pembelajaran yang sedang mereka lalui dan berdiskusi mengenai materi atau ilmu yang
sedang mereka pelajari. Kireeti dan Reddy (2015) membuktikan bahwa metode CBL
menciptakan minat siswa untuk belajar hal yang baru serta siswa lebih mudah
menghubungkannya dengan kasus pasien dalam kehidupan nyata.
Penerapan tutorial denganmenggunakanmetode CBL telahditerapkanpadamahasiswa
yang sedangpraktikdiklinik. Selainmetode CBL, hal lain yang
perludiperhatikandalampelaksanaan tutorial tersebutyaitupendekatan yang
digunakandalammenyelesaikanmasalah.
Pendekatantersebutberfungsiuntukmempermudahmahasiswadalampenentuanmasalahhingga
pemecahanmasalah yang dapatdilakukan. Hal yang didapatbahwapendekatan yang
digunakanyaitudenganpendekatancase analysis,
dimanadalampelaksanaannyadibagimenjadidua kali pertemuan yang
disesuaikandengantujuan yang akandicapai. Pertemuanpertamamembahasmengenaiproblem,
hypothesis, pathway, don’t know, more infodanlearning issue.
Pertemuankeduamembahasmengenai problem solving denganmenggunakanevidence based
nursing (EBN) sebagailandasannya (khoiriyati, 2015).
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Metode analisis kasus adalah alat pembelajaran di mana siswa dan instruktur
berpartisipasi dalam diskusi langsung studi kasus, yang bertentangan dengan metode
ceramah, di mana instruktur berbicara dan siswa mendengarkan dan membuat catatan.
Dalam metode kasus, siswa mengajar diri mereka sendiri, dengan instruktur menjadi
panduan aktif, bukan hanya konten menyampaikan kepala berbicara. Fokusnya adalah pada
siswa yang belajar melalui usaha bersama mereka. Kasus yang ditugaskan pertama kali
disiapkan oleh siswa, dan persiapan ini membentuk dasar untuk diskusi kelas di bawah
arahan instruktur. Siswa belajar, sering secara tidak sadar, bagaimana mengevaluasi suatu
masalah, bagaimana membuat keputusan, dan bagaimana berdebat secara lisan suatu sudut
pandang.
B. Saran
Penggunaan pembelajaran menggunakan case based learning memberikan kemudahan
bagi mahasiswa pada saat praktek pembelajaran di klinik. Pembelajaran diklinik ini
memberikan pemahaman dan pembelajaran yang berarti sehingga mahasiswa dan pengajar
dapat mengetahui bagaimana kondisi sebanarnya dilahan praktek tersebut. Makalah yang
kami buat ini masih dibutuhkan adanya perbaikan kedepannya guna memberikan
pemeblajaran yang dapat kami terapkan ditempat kami bekerja pada suatu saat nantinya.
Daftar Pustaka
Braeckman, L. a. (2014). Comparison of two case-based learning conditions with real patients in
teaching occupational medicine. J. Medical teacher, 36 (4), 340-346.
Budiati, Rina Veni. (2014). Pengaruh pelaksanaan Tutorial klinik dengan metode Case Based
Learning (CBL) terhadap kemampuan brerfikir kritis
Chan, A. a. (2016). Case-based web learning versus face-to-face learning: a mixed-method study
on University Nursing Students. J. The Journal of Nursing Research, 24 (1), 31-40.
Ferawati. (2016). Penerapan “Case Based Learning” Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Mahasiswa Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Forsgren, s. a. (2014). Evaluation of the case method in nursing education. J. Nurse Education in
Practice, 14 (2), 164-169.
Gade, S dan Chari, S (2014). CBL dalam Fisiologi Endokrin : Pendekatan terhadap Belajar
mandiri dan Pengembangan soft skill pada Mahasiswa Kedokteran.
Huckstadt, A. &. (2005). Evaluation of interactive online courses for advanced practice nurses.
J. Journal of the American Academy of Nurse Practitioners, 17 (3), 85-89.
Khoiriyati, A. (2015). Panduan Umum Pendidikan Profesi Ners. Universitas
MuhammadiyahYogyakarta (UMY).
Kireeti dan Reddy (2015). Case based learning (CBL), a better option to traditional teaching for
undergraduate studentin curriculum of paediatricsMacho-Stadler, E. &.-G. (2013). Case
study of a problem-based learning course of physics in a telecommunications engineering
degree. J. European Journal of Engineering Education, 38 (4), 408-416.
Marlow, A. a. (2008). Collaborative Action Learning: a Professional Development Model for
Educational Innovation in Nursing. J. Nurse Education in Practice, 8 (3), 184-189.
Mclean, S. (2016). Case-based learning and its application in medical and health-care fields: a
review of worldwide literature. J. Journal of medical education and curricular
development, 3 (4), 39-49.
Raurell-Torreda, M. a. (2015). Case-Based learning and simulation: Useful tools to enhance
nurses’ education? Nonrandomized controlled trial. J. Journal of Nursing Scholarship,
47 (1), 34-42.
Rukmini, E (2012). Mengapa PBL (masih) diperdebatkan di Fakultas Kedokteran. Jurnal
Pendidikan Kedokteran Indonesia Vol.1 No.2 : 11-17
Schneider, D. K. (2007, Oktober 11). Case-based learning. Retrieved from Edutechwiki:
http://edutechwiki.unige.ch/en/Case-based_learning#Instructional_Models
Srinivasan, M. a. (2007). Comparing problem-based learning with case-based learning: effects of
a major curricular shift at two institutions. J. Academic Medicine, 82 (1), 74-82.
Thistlethwaite, J. a. (2012). The effectiveness of case-based learning in health professional
education. J. Medical Teacher, 34 (6), 421-444.
Tomey, A. (2003). Learning with cases. J. Journal of Continuing Education in Nursing, 34 (1),
34-38.
Wijaya, F, K. (2015). Perbedaan Antara Metode Tutorial Problem Based Learning Dengan Case Based
Learning Terhadap Tingkat Kepuasan Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dan
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Yoo, M. &. (2014). Effect of case-based learning on the development of graduate nurses’
problem-solving ability. J. Nurse Education Today, 34 (1), 47-51.