Anda di halaman 1dari 4

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar Cpns


Angkatan : XVI
Nama Mata Pelatihan : Anti Korupsi
Nama Peserta : B. Novian Chandra, S.Pd.
NIP : 199111082019021002
Nomor Daftar Hadir : 05
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : UPT Diklat BKPSDM Kota Lubuk Linggau

A. Pokok Pikiran
Korupsi adalah tindakan yang melanggar norma-norma hukum baik yang
tertulis maupun tidak tertulis yang berakibat rusaknya tatanan hukum, politik,
administrasi, manajemen, sosial dan budaya serta berakibat pula terhadap
terampasnya hak-hak rakyat yang semestinya didapat.
Faktor-faktor penyebab korupsi:
Faktor Internal;
Korupsi yg datang dari diri pribadi terdiri dari aspek moral, misalnya
lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu, aspek sikap atau perilaku misalnya pola
hidup konsumtif dan aspek sosial seperti keluarga yang dapat mendorong seseorang
untuk berperilaku korup.
Faktor Eksternal;
Korupsi karena sebab-sebab dari luar bisa dilacak dari aspek ekonomi
misalnya pendapatan atau gaji tdk mencukupi kebutuhan, aspek politis misalnya
instabilitas politik, kepentingan politis, meraih dan mempertahankan kekuasaan,
aspek managemen & organisasi yaitu ketiadaan akuntabilitas dan transparansi, aspek
hukum, terlihat dalam buruknya wujud perundang-undangan dan lemahnya
penegakkan hukum serta aspek sosial yaitu lingkungan atau masyarakat yg kurang
mendukung perilaku anti korupsi
Nilai-nilai dasar anti korupsi:
1. Jujur
Kejujuran diarahkan untuk membangun integritas yang tinggi.
Integritas adalah bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan
tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut (nilai-nilai dapat berasal dari
nilai kode etik di tempat dia bekerja, nilai masyarakat atau nilai moral
pribadi).
2. Peduli
Kepedulian merupakan bentuk kepekaan pada lingkungan. Seorang
ASN dituntut untuk peduli terhadap proses di lingkungan kerja, terhadap
pengelolalaan sumber daya di unit kerja secara efektif dan efisien, serta
terhadap berbagai hal yang berkembang di dalam unit kerja. ASN juga dituntut
untuk peduli terhadap lingkungan di unit kerja.
3. Mandiri
Kemandirian merupakan tanda tidak mudah tergantung pada orang
lain. Kondisi mandiri bagi ASN dapat diartikan sebagai proses mendewasakan
diri yaitu dengan tidak bergantung pada orang lain untuk mengerjakan tugas
dan tanggung jawabnya. Hal ini penting untuk masa depannya dimana ASN
tersebut harus mengatur kehidupannya dan orang-orang yang berada di bawah
tanggung jawabnya sebab tidak mungkin orang yang tidak dapat mandiri
(mengatur dirinya sendiri) akan mampu mengatur hidup orang lain. Dengan
karakter kemandirian tersebut ASN dituntut untuk mengerjakan semua
tanggung jawab dengan usahanya sendiri dan bukan orang lain.
4. Disiplin
Kedisiplinan digunakan untuk menaati hukum dan norma-norma.
5. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran untuk menunaikan amanah.
Penerapan nilai tanggung jawab pada ASN dapat diwujudkan dalam bentuk
berikut ini:
a. Mempunyai prinsip dan memikirkan kemana arah masa depan yang akan
dituju.
b. Mempunyai attitude atau sikap yang menonjolkan generasi penerus tenaga
kesehatan yang berguna di kemudian hari dalam mengembangan profesinya.
c. Selalu belajar untuk menjadi generasi muda yang berguna, tidak hanya
dengan belajar akan tetapi mempunyai sikap dan kepribadian baik.
d. Mengikuti semua kegiatan yang telah dijadwalkan oleh kampus yaitu
melaksanakan praktikum laboratorium di kampus; praktik klinik di rumah
sakit, puskesmas dan komunitas; ujian, dan mengerjakan semua tugas.
e. Menyelesaikan tugas pembelajaran dan praktik secara individu dan
kelompok yang diberikan oleh dosen dengan baik dan tepat waktu.
6. Kerja Keras
Kerja keras merupakan bentuk pengabdian yang sebaik-baiknya.
Bekerja keras merupakan hal yang penting guna tercapainya hasil yang sesuai
dengan target. Akan tetapi bekerja keras akan menjadi tidak berguna jika tanpa
adanya pengetahuan.
7. Sederhana
Kesederhanaan yaitu bergaya hidup tidak boros dan mewah.
8. Berani
Keberanian adalah mampu melaporkan kecurangan dan berani
memperbaiki diri.
9. Adil
Keadilan yaitu adil di dalam menerapkan hukum. Di dalam kehidupan
sehari - hari, pemikiran - pemikiran sebagai dasar pertimbangan untuk
menghasilkan keputusan akan terus berkembang seiring dengan pengalaman
dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Keadilan adalah penilaian dengan
memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya, yakni
dengan bertindak proporsional dan tidak melanggar hukum. Pribadi dengan
karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia terima sesuai dengan
jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang
ia sudah upayakan.
B. Penerapan
Tindakan korupsi merupakan sekumpulan kegiatan yang menyimpang dan
dapat merugikan orang lain. Kasus-kasus korupsi banyak dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Pada lingkungan siswa di sekolah juga banyak ditemui praktek-praktek
korupsi sederhana seperti mencontek, berbohong, melanggar aturan sekolah,
membolos, sering terlambat dalam mengikuti sebuah kegiatan, dan terlambat masuk
sekolah. Namun demikian hal kecil tersebut tidak boleh dibiarkan karena dapat
menjadi bibit penyebar budaya korupsi. Untuk itulah perlunya pendidikan anti korupsi
harus diberikan sejak dini dan dimasukkan dalam proses pembelajaran mulai dari
tingkat pendidikan dasar, menengahsampai pendidikan tinggi.
Pendidikan karakter dan antikorupsi menjadi benteng utama dalam rangka
menyiapkan generasi penerus bangsa yang berintegritas. Dengan pembekalan sejak
dini, diharapkan praktik korupsi di Indonesia dapat ditekan bahkan dihapuskan di
kemudian hari. Tentunya hal ini memerlukan pendampingan, monitoring dan
melakukan evaluasi terkait suksesnya penerapan pendidikan karakter dan antikorupsi ,
baik dari KPK sendiri maupun lembaga terkait yang berwenang.
Pendidikan anti korupsi sangat penting dilakukan melalui jalur pendidikan.
Model penyelenggaraan pendidikan anti korupsi dilakukan dengan 3 model yaitu:
Model Terintegrasi dalam Mata Pelajaran, Model di Luar Pembelajaran melalui
Kegiatan Ekstra Kurikuler, dan Model Pembudayaan/Pembiasaan Nilai dalam seluruh
aktivitas kehidupan siswa. Tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan anti korupsi
adalah membuat siswa mengenal lebih dini hal-hal yang berkenaan dengan korupsi
sehingga tercipta generasi yang sadar dan memahami bahaya korupsi, bentuk-bentuk
korupsi, dan mengerti sanksi yang akan diterima jika melakukan korupsi,
menciptakan generasi muda bermoral baik serta membangun karakter teladan agar
anak tidak melakukan korupsi sejak dini.
Contoh kecil dalam penerapan anti korupsi di sekolah yaitu dengan adanya
kantin kejujuran, pengawasan pada saat ujian atau kelonggaran dalam pengawasan
ujian, pemberian materi yang mngajarkan moral kejujuran.

Anda mungkin juga menyukai