Anda di halaman 1dari 10

Perencanaan 

Sungai
22 Juni 2010 habib Tinggalkan komentar

Di dalam perencanaan sungai terdapat berbagai macam pekerjaan sipil yang dilaksanakan,
antara lain pembangunan  sistem pengamanan banjir, pembuatan bangunan sadap untuk
berbagai kebutuhan akan air, usaha-usaha pelestarian alam dan lingkungan hidup, ataupun
perbaikan alur sungai untuk mendukung keamanan lalu lintas sungai. Pada umumnya
perancangan bangunan sungai dilakukan untuk menunjang kegiatan perencanaan
persungaian, yang dibagi menjadi :

1. perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai,


2. perencanaan pemanfaatan air sungai,
3. perencanaan pengembangan wilayah,
4. perencanaan perbaikan dan pelestarian lingkungan sungai,
5. perencanaan lalu lintas sungai.

Perencanaan perbaikan dan pengaturan sungai diadakan dan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan suatu lembah sungai, serta kebutuhan masyarakat. Sungai diperbaiki dan
diatur sedemikian rupa sehingga dapat diadakan pencegahan terhadap bahaya banjir dan
sedimentasi, serta mengusahakan agar alur sungai senantiasa dalam keadaan stabil. Dengan
demikian akan memudahkan pemanfaatan air yang akan memberikan kemudahan dalam
penyadapan, pelestarian lingkungan, dan menjamin kelancaran serta keamanan lalulintas
sungai. Jadi tujuan utama dari perencanaan persungaian adalah pengamanan terhadap banjir,
pengendalian alur sungai dengan memperhatikan peranan sungai sebagai sumber air dan
sedimen, pelestarian lingkungan, serta keamanan dan keamanan lalulintas sungai.

Perencanaan pemanfaatan air adalah perencanaan untuk meningkatkan kemampuan sungai


dalam menyediakan air, khususnya di musim kemarau. Air yang berlebih pada musim hujan
sebagian harus ditampung dengan suatu cara, dan kemudian di manfaatkan di mana
diperlukan (terutama pada musim kemarau). Perencanaan pemanfaatan air dapat berarti
perencanaan pengurangan debit banjir, sehingga dalam perencanaannya sering dilakukan
bersama-sama dengan perencanaan pengembangan wilayah sungai.

Perencanaan pengembangan wilayah sungai secara garis besar merupakan pengembangan


sumber air sungai dalam mendukung pengmabangan ekonomi lainnya, seperti pengembangan
industri dan pertanian dalam daerah pengaliran sungai. Rencana ini akan menetapkan
sasaran-sasaran tertentu yang terdiri dari pengendalian banjir, pembangkit listrik, irigasi,
penyediaan air bersih, air industri, ataupun sarana lalulintas sungai. Terhadap sasaran-sasaran
tersebut harus disusun dalam skala prioritas dan dapat dikelompokkan  secara berurutan
dalam sasaran primer dan sasaran sekunder. Tingkat pengembangan sungai biasanya dibatasi
oleh berbagai kondisi, seperti kondisi geografis, teknis, sosial, dan dapat mempertimbangkan
kebutuhan masyarakat, sehingga modal yang akan ditanam dapat meningkatkan kemajuan
ekonomi secara maksimum.

Perbaikan lingkungan sungai akan bertambah penting setelah dilaksanakan kegiatan


perbaikan dan pengaturan serta pengembangan wilayah sungai yang disebabkan oleh
pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan harta benda milik masyarakat di daerah
pengaliran sungai tersebut. Inti dari perbaikan lingkungan sungai ini meliputi konservasi
kualitas air sungai, serta konservasi dan pengaturan sungai menjadi ruang terbuka yang dapat
dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi penduduk. Dengan terjadinya pertambahan jumlah
penduduk, yang disebabkan oleh urbanisasi, maka di daerah pusat-pusat pemukiman, kualitas
air semakin menurun. Hal ini menimbulkan pengaruh yang tidak diinginkan terhadap sumber
air dan lingkungan di sekitarnya. Oleh sebab itu kualitas air harus dipelihara, agar tidak
menurun melampaui batas-batas yang diijinkan. Dengan demikian perbaikan sistem
pembuangan air kotor dan pengaturan pembuangan limbah industri pada dasarnya sangta
diperlukan, dan bersamaan dengan itu perlu pula dipertimbangkan pengamanan terhadap
sungainya sendiri, seperti perbaikan resim hidrologi, pembersihan air buangan yang akan
dialirkan ke sungai, serta penmgerukan sedimen.

 Pengertian Bangunan Sungai

Yang dimaksud bangunan sungai adalah semua bangunan yang berkaitan dengan kegiatan
pengelolaan sungai, dapat terletak pada alur sungai, tebing sungai, ataupun lembah sungai.
Bangunan-bangunan sungai tersebut antara lain :

 bendungan,
 bendung,
 tanggul,
 parapet,
 pelindung tebing,
 dam pengendali dasar,
 dam penahan sedimen,
 kantong pasir,
 pangkal dan pilar jembatan, serta
 krib sungai.

Pengelolaan sungai hampir selalu melibatkan masalah pembangunan bangunan-bangunan


sungai. Agar fungsi bangunan yang dibuat dapat sesuai dengan tujuan pengelolaan sungai
maka bangunan tersebut harus dirancang sebaik mungkin, dengan memperhatikan aspek
hidraulika. Perancangan bangunan sungai juga ditujukan agar bangunan yang dipilih (jenis
maupun dimensinya) betul-betul merupakan bangunan yang tepat untuk memenuhi sasaran
kegunaannya, serta ekonomis.

Tujuan Pembuatan Bangunan Sungai

Suatu bangunan sungai dapat ditujukan untuk berfungsi lebih dari satu macam, sebagai
contoh, bangunan sungai berupa bendungan dapat ditujukan untuk berfungsi sebagai :

 pengendali banjir,
 pembangkit listrik tenaga air,
 irigasi,
 perikanan,
 serta pariwisata.

Contoh kegunaan bangunan sungai berupa bendungan disajikan pada;

Contoh kegunaan bangunan sungai


Bangunan Pengendalian Pembangkit Irigasi Lain-lain

Sungai Banjir Listrik


Bendungan 1000 th : 3 x 35000 KW 24 m3/det  
atau
Karangkates, 3500 m3/det atau 3400 Ha
488 juta KWH
Jawa Timur ® 1312 m3/det
per tahun
10 th :

1400 m3/det

® 457 m3/det
Bendungan 100 th : 4,5 MW atau 4 m3/det  
Selorejo
920 m3/det 49 juta KWH atau 570 Ha

® 360 m3/det per tahun

200 th :

700 m3/det

® 260 m3/det

Fungsi bangunan bendung pada umumnya dimaksudkan untuk menaikkan elevasi muka air
yang sekaligus dimaksudkan untuk mempertahankan elevasi dasar sungai di sebelah hulu
bendung, yang selanjutnya dibelokkan untuk suatu keperluan pemanfaatan air, misalnya
irigasi atau penggelontoran. Hal yang harus diperhatikan adalah pengaruh pembendungan
yang timbul di sebelah hulu bendung. Bangunan sungai lainnya yang sering dibuat untuk
melengkapi konstruksi bendung adalah bangunan tanggul.

Bangunan pengendali dasar sungai pada prinsipnya ditujukan untuk mempertahankan elevasi
dasar sungai yang ada di sebelah hulu bangunan tersebut, dengan demikian tidak ada tujuan
untuk menaikkan elevasi muka air. Masalah hidraulika yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan bangunan tersebut adalah membahayakan konstruksi bangunannya sendiri
ataupun tebing-tebing sungai yang ada di sekitar bangunan.

Categories: Tak Berkategori

Erosi lokal dipangkal dan pilar jembatan


22 Juni 2010 habib Tinggalkan komentar

Dalam banyak peristiwa rusaknya jembatan, tidak jarang penyebab utamanya adalah karena
adanya kegagalan pilar jembatan dalam fungsinya untuk mentransfer beban-beban jembatan
ke tanah dasar di mana jembatan tersebut dibangun. Kegagalan pilar dimaksud adalah karena
adanya proses gerusan dasar sungai di sekitar pilar jembatan yang melebihi batas-batas yang
dipandang aman sehingga secara keseluruhan membahaykan konstruksi jembatan. Beberapa
kejadian nyata tersebut antara lain yang terjadi di Toronto, Canada, di mana pilar tengah
suatu jembatan mengalami erosi lokal sedemikian besarnya sehingga jembatan tersebut putus
persis di bagian pilar tengah tersebut. Kejadian serupa terjadi di Indonesia, yaitu di jembatan
sungai Pemali yang terjadi pada tahun 1993. Tidak berfungsinya jembatan akan
menyebabkan putusnya jaringan atau sarana transportasi, dengan demikian juga terganggunya
kegiatan ekonomi. Berdasar pada pemikiran tersebut dipandang perlu untuk memahami
fenomena erosi lokal di sekitar pilar jembatan, yang diharapkan dapat membantu kegiatan
pemantauan selama jembatan tersebut digunakan.

Peristiwa erosi lokal selalu akan berkaitan erat dengan fenomena perilaku aliran sungai, yaitu
hidraulika aliran sungai dalam interaksinya dengan geometri sungai, geometri dan tata letak
pilar jembatan, serta karakteristika tanah dasar dimana pilar tersebut di bangun.

Proses erosi dan deposisi di sungai pada umumnya terjadi karena adanya perubahan pola
aliran, terutama pada sungai alluvial. Perubahan pola aliran dapat terjadi karena adanya
rintangan/halangan pada aliran sungai tersebut yaitu berupa bangunan sungai, misal: pangkal
jembatan, pilar jembatan, krib sungai, revetment, dsb. Bangunan semacam ini dipandang
dapat merubah geometri alur serta pola aliran, yang selanjutnya diikuti dengan timbulnya
erosi lokal di dekat bangunan. Beberapa standar telah diberikan untuk perencanaan bangunan
sungai, namun standar yang mengkaitkan khusu tentang persoalan erosi disekitar bangunan
sungai dipandang belum lengkap, terutama dalam membandingkan besarnya prakiraan erosi
yang akan terjadi dengan metoda pembanding baik. Hal ini disebabkan karena sulitnya dalam
menghitung kedalaman gerusan selama banjir (di mana aliran adalah tidak permanen),
maupun karena kompleksnya geometri sungai dan pola aliran. Masalah yang ditemui juga
lebih kompleks dengan adanya keadaan bahwa interaksi antara aliran dengan sedimen butir,
kekasaran, sifat kohesi, dsb), akan selalu bervariasi sekalipun tinjauan hanya dilakukan pada
penggal sungai yang relatif kecil.

Pembedaan tipe gerusan yang diberikan oleh Raudkivi dan Etterna (1982) adalah sebagai
berikut :

1. Erosi umum di alur sungai, tidak berkaitan sama sekali dengan ada/tidak adanya
bangunan sungai.
2. Erosi di lokalisir di alur sungai, terjadi karena menyempitnya alur sungai, aliran
menjadi lebih terpusat.
3. Erosi lokal di sekitar bangunan, terjadi karena pola aliran lokal di sekitar bangunan
sungai.

Peristiwa ke tiga jenis erosi tersebut dapat terjadi bersamaan namun pada tempat yang
berbeda. Erosi dari jenis (2) dan (3) selanjutnya dapat dibedakan menjadi erosi dengan air
bersih (“clear water scour”) maupun gerusan dengan air bersedimen (“live-bed scour”). Erosi
dengan air bersih berkaitan dengan suatu keadaan di mana dasar sungai di sebelah hulu
bangunan dalam keadaan diam (tidak ada material yang terangkut), atau secara teoritik τo <
τc, dimana τo adalah tegangan geser yang terjadi, sedangkan τc adalah tegangan gesek kritik
dari butiran dasar sungai.

Categories: Tak Berkategori


HIDRAULIKA SUNGAI
22 Juni 2010 habib Tinggalkan komentar

 Definisi

Aliran air melalui media pengaliran dapat berupa aliran muka air bebas dan aliran dalam
pipa. Aliran pada muka air bebas adalah aliran dimana tekanan permukaan sama dengan
tekanan atmosfer, sedang aliran dalam pipa tidak mempunyai muka air bebas, tidak
mempunyai tekanan atmosfer langsung akan tetapi tekanan hidraulik. Aliran yang terjadi
pada sungai merupakan aliran muka air bebas (open channel flow), karena muka air aliran
langsung berhubungan dengan atmosfer, jadi mempunyai tekanan permukaan yang sama pula
dengan tekanan atmosfer.

Macam Aliran Sungai

Aliran saluran muka air bebas dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam aliran.
Berikut ini aliran saluran muka air bebas akan diklasifikasikan berdasar pada perubahan
kedalaman aliran mengikuti fungsi waktu dan ruang.

Berdasar fungsi ruang, maka aliran dapat dibedakan menjadi :

1. aliran permanen (steady flow), yaitu apabila kedalaman aliran tidak berubah, konstan
sepanjang waktu tertentu.
2. Aliran tidak permanen (unsteady flow) apabila kedalaman aliran berubah sepanjang
waktu tertentu.

Berdasarkan fungsi ruang, maka aliran dapat dibedakan menjadi :

1. aliran seragam (uniform flow) apabila kedalaman aliran setiap tempat atau tampang
saluran sama,
2. aliran tidak seragam (varied flow) apabila kedalaman aliran berubah sepanjang
saluran yang dapat berupa aliran berubah beraturan (gradually varied flow) atau aliran
berubah tiba-tiba (rapidly varied flow).

Aliran dapat dikatakan sebagai “rapidly varied flow” apabila kedalaman air berubah secara
cepat pada jarak yang relatif pendek. Sebaliknya, apabila perubahan kedalman aliran terjadi
pada jarak yang relatif panjang, maka disebut sebagai “gradually varied flow”.

Aliran yang terjadi pada sungai umumnya adalah aliran “unsteady varied flow”, yaitu
kedalaman aliran tidak sama pada sepanjang alur sungai, serta terjadi fluktuasi tinggi muka
air aliran pada setiap titik atau tampang sungai. Aliran yang termasuk “steady uniform flow”,
dapat dijumpai misalnya di laboratorium pada saluran percobaan. “Gradually varied flow”
misanya di aliran hulu bendung yang menampakkan adanya efek pembendungan. Aliran yang
termasuk “rapidly varied flow” misalnya pada bagian hilir bendung atau bangunan terjun
yang sering terjadi peristiwa loncat air.

Categories: Tak Berkategori


SITE INVESTIGATION “STUDI KASUS LONGSOR
DI SITUBONDO”
18 Juni 2010 habib Tinggalkan komentar

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng
Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara
lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat Pulau
Sumatera, sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah
Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan itu
maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan,
sebaran gunungapi, dan sebaran sumber gempabumi. Gunung api yang ada di Indonesia
berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari jumlah gunungapi aktif dunia. Dengan
demikian Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunungapi dan gempabumi. Di beberapa
pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempabumi dengan sumber
berada di dasar laut atau samudera dapat menimbulkan gelombang Tsunami.

Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunungapi.
Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat
subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan
dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim
hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman
keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
PENGERTIAN TANAH LONGSOR
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam
tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang
berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya
akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

JENIS TANAH LONGSOR


Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,
runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi
paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan
korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
1. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir
berbentuk rata atau menggelombang landai.
2. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk
cekung.
3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk
rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah
dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung
terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang
parah.
5. Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa
butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu
yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau
rumah miring ke bawah.
6. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan
aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya.
Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di
beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar
gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

PENYEBAB TERJADINYA TANAH LONGSOR


Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada
gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan
tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta
berat jenis tanah batuan.

Faktor-faktor Penyebab Tanah Longsor


1. Hujan Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan
terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan
munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah
permukaan.
Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat
mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering
terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.

Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang
merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan
gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air
akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.

2. Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal
terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng
yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang
longsorannya mendatar.

3. Tanah yang kurang padat dan tebal


Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih
dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya
tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap
pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

4. Batuan yang kurang kuat


Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil,
pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila
mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada
lereng yang terjal.

5. Jenis tata lahan


Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya
genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk
mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga
mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar
pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di
daerah longsoran lama.

6. Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan
getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai,
dan dinding rumah menjadi retak.

7. Susut muka air danau atau bendungan Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka
gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi
longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

8. Adanya beban tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan
memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada
daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang
arahnya ke arah lembah.

9. Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan
hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

10. Adanya material timbunan pada tebing


Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan
tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan
sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi
penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

11. Bekas longsoran lama Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi
pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah
terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri:
Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda.
Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan
subur.
Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai.
Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah.
Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran
lama.
Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.
Longsoran lama ini cukup luas.
12. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung) Bidang tidak sinambung ini
memiliki ciri:
Bidang perlapisan batuan
Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat.
Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak
melewatkan air (kedap air).
Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang
luncuran tanah longsor.

13. Penggundulan hutan


Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air
tanah sangat kurang.

Selengkapnya;  studi kasus longsor di Situbondo

Categories: Civil and Environment Engineering

Kajian Longsor Pada Sungai (Studi Kasus: Longsoran


Lereng Embung Jering di Desa Sidorejo Kecamatan
Godean Kabupaten Sleman)
18 Juni 2010 habib Tinggalkan komentar

Jenis tanah pada pembentuk lereng sangat berpengaruh terhadap terjadinya longsoran. Dari
hasil pengamatan di lapangan dan hasil uji di laboratorium, jenis tanah pada lapisan atas
berupa tanah lempung. Salah satu sifat dari lempung adalah mudah menyerap air karena
softening sehingga tanah  menjadi lunak. Pada tanah lempung berbutir halus, sebelum tanah
runtuh, di permukaan tanah akan tampak retak-retak. Kondisi ini mengindikasikan telah
terjadi gerakan tanah dan keseimbangan kritis antara gaya geser yang timbul akibat beban
tanah yang akan longsor dengan tahanan geser bidang gelincirnya telah terjadi.

Uji laboratorium juga menunjukkan derajat kejenuhan air sangat tinggi hingga mencapai
100%. Semakin tinggi derajat kejenuhan tanah, maka matric suction semakin rendah. Hal itu
menyebabkan kuat geser tanah berkurang, sehingga stabilitas lereng pun turun.
Dari hasil uji permeabilitas tanah, nilai koefisien permeabilitas tanah sangat kecil yaitu
berkisar antara 10-4-10-6 cm/detik. Sehingga kemampuan tanah dalam meloloskan air rendah
sampai sangat rendah. Hal itu menunjukkan bahwa air di dalam tanah akan sulit mengalir
keluar, sehingga air tertahan di dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi jenuh, berat
volume tanah bertambah . Jika berat volume tanah bertambah, maka beban pada lereng akan
semakin berat. Lereng menjadi rawan longsor.

Kondisi geologi lereng embung Jering terdiri dari lapisan atasnya lempung atau lanau dan
lapisan bawah berupa cadas/batu pasir tufan. Batas antara dua lapisan tanah yang berbeda
karakteristiknya, mempengaruhi kestabilan lereng. Bidang kontak kedua lapisan ini
merupakan bagian yang lemah dan berpotensi menjadi bidang gelincir dari tanah yang akan
longsor. Hal itu dikarenakan pada bagian ini tahanan tanah dalam menahan geseran lebih
rendah.

Kondisi iklim saat terjadinya longsor adalah pada musim penghujan, dimana sebelumnya
merupakan musim kemarau yang kering. Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama
di awal musim hujan akan menimbulkan perubahan parameter tanah yang berkaitan dengan
pengurangan kuat gesernya. Tanah lempung menyusut  dan retak-retak ketika musim
kemarau. Dan saat musim hujan tiba, air dengan mudah terinfiltrasi ke dalam tanah lewat
retakan-retakan di permukaan tanah. Air hujan ini dapat menambah licin bidang geser.
Ditambah lagi sifat tanah lempung yang menyerap air. Ketika terjadi hujan lebat dengan
durasi waktu yang lama, muka air tanah naik, tanah menjadi mengembang (sangat jenuh),
massa tanah bertambah berat, kuat geser tanah turun, sehingga menimbulkan gerakan lateral.

Pada kondisi tanah kenyang air, maka seluruh ruang pori tanah terisi air, tekanan air pori (uw)
akan sama dengan tekanan udara pori (ua), sehingga matric suction (ua- uw) diabaikan (= 0).
Oleh karena tekanannya berupa tekanan air positif , maka parameter tegangan dalam tanah
menjadi tegangan efektif ( s - uw ). Dalam tinjauan tegangan efektif, kuat geser tanah (t) = c’
+ ( s – uw ) tg j. Dimana c’ = kohesi efektif, s = tegangan normal pada bidang runtuh, j’=
sudut gesek dalam efektif, uw = tekanan air pori. Jika tekanan air pori (uw) naik, maka
tegangan normal efektif berkurang yang berakibat turunnya kuat geser tanah, sehingga
stabilitas lereng berkurang.

Rekahan pada permukaan tanah, memudahkan air hujan masuk ke dalam tanah. Masuknya air
hujan akan menaikkan tinggi muka air tanah, sehingga tanah menjadi jenuh dan beban lereng
semakin berat. Sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya longsor. Selain itu, juga
ditemukan rembesan pada daerah kaki lereng menimbulkan terjadinya peristiwa erosi buluh
(piping). Pada kondisi ini tanah di bagian kaki lereng kehilangan kuat dukungnya dan bahkan
mendekati harga sama dengan nol, sehingga perlawanan terhadap gaya yang melongsorkan
menurun, dan lereng menjadi rawan longsor. Rembesan air ini berasal dari saluran sekunder
yang berada di atas lereng.

Selengkapnya: kajian longsor pada sungai

Categories: Civil and Environment Engineering