Anda di halaman 1dari 6

Teknik / Cara Penyamakan Kulit Pengolahan Kulit

Kulit hewan adalah salah satu bahan yang diminati dalam pembuatan
berbagai jenis kerajinan, aksesoris wanita, sepatu, tas, baju, mantel,
sepatu, karpet, dan lain sebagainya. Kulit tersebut dapat diperoleh dari
berbagai jenis binatang yang tentunya memiliki kecantikan dan ciri
khas yang berbeda-beda. Biasanya kulit tersebut berasal dari buaya,
ular, sapi, kambing, domba, harimau, dan lain-lain. Harga yang
ditawarkan juga bervariasi tergantung kualitas kulitnya. Pabrik
pengolahan kulit terbesar di Indonesia terletak di Cimahi, Jawa Barat.

Kulit samak adalah kulit setengah jadi yang biasa digunakan sebagai
bahan pembuatan sepatu kulit dan pakaian kulit. Penyamakan kulit
terdiri dari atas banyak proses yang saling berurutan. Penyamakan
dilakukan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh
aktivitas mikroorganisme, proses kimia maupun fisik menjadi kulit
tersamak yang lebih tahan terhadap faktor-faktor perusak tersebut.
Caranya yaitu dengan memasukan bahan penyamak ke dalam jaringan
lulit yang berupa jaringan kolegan sehingga terbentuk ikatan kimia
antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak. Zak
penyamak bisa berupa penyamak nabati, sistetis, mineral, dan
penyamak minyak.

Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, namun pada


intinya dibagi 3 proses utama yaitu, proses awal (beam house atau
proses rumah basah), proses penyamakan, dan finishing.

Pengolahan kulit dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertama-tama dilakukan tahap sortasi dan penimbangan, tahap ini merupakan


tahap persiapan kulit sebelum dilakukan proses penyamakan. Tahap ini merupakan tahap
dimana kulit mentah (rohet) diseleksi untuk menetukan mana kulit yang layak untuk
di proses. Tahapan proses dilakukan dalam dyrum yang berkapasitas
400-600 lembar kulit sekaligus. Setelah dilakukan seleksi maka kulit ditimbang.

Lalu kulit dicuci terlebih dahulu hingga bersih dari kotoran. Lalu
dilakukan proses perendaman (Soaking). Perendaman bertujuan untuk melemaskan
kulit terutama kulir kering, sehingga menyerupai kulit hewan yang baru lepas dari
badannya. Perendaman juga bertujuan untuk membuang darah, feces, tanah dan bahan
atau zat-zat asing yang tidak hilang pada waktu pembersihan. Bahan yang digunakan
adalah air, teepol, soda abu.

Proses selanjutnya yaitu pengapuran (Liming). Tujuan dari pengapuran adalah


untuk membengkakkan kulit, mempermudah pembuangan bulu, epidermis dan lain-lain.
Proses ini dilakukan selama 24 jam. Bahan yang digunakan adalah air, natrium sulfida,
kapur.

Setelah itu dilakukan serangkaian proses pembersihan lagi, yaitu


pembuangan bulu kasar. Pada kulit sapi dilakukan proses pembuangan
bulu menggunakan senyawa Na2S.

, dan pembuangan daging (Fleshing). Pada proses ini kulit yang masih terdapat
daging dihilangkan dengan pisau seset atau dengan mesin buang

daging.

Selanjutnya dilakukan proses pengapuran ulang (Relimming). Hal ini bertujuan untuk
menghilangkan bulu dan zat-zat yang masih tertinggal pada kulit pada proses
pengapuran. Bahan yang digunakan adalah air, dan kapur.

Lalu dilakukan proses buang kapur (Delimming). Proses buang kapur ini bertujuan untuk
membuang sisa-sisa kapur, baik yang terikat maupun tidak terikat dalam kulit. Bahan
yang digunakan antara lain air, ZA, H2SO4 yang telah diencerkan 10X dengan air.

Selanjutnya proses pengikisan protein (Bating). Proses ini bertujuan untuk memecahkan
zat kulit dengan khemikalia yang mengandung protein. Bahan yang digunakan pada
proses ini adalah oropon.

Proses selanjutnya adalah proses pembuangan lemak (Degreasing) yang bertujuan untuk
membuang sisa-sisa lemak baik setelah pickle maupun sebelum proses penyamakan.
Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain iragol Da atau sandopan DTC.

Lalu kulit melewati proses pengasaman (Pickling) yang bertujuan untuk


mengasamkan kulit pada pH 3 – 3,5. Bahannya berasal dari asam-asam organik lemah
seperti format dan laktat, selain itu juga menggunakan air, garam, HCOOH dan H2SO4.
dan penyamakan Chroom. Namun penggunaan bahan chroom ini harus
dilakukan dengan hati-hati karena berbahaya bagi kesehatan manusia,
terutama bagi kulit.

Proses penyamakan (Tanning)

Tanning bertujuan untuk menghindari kekakuan dan kekerasan kulit, sehingga kulit tetap

lemas ketika dalam keadaan kering dan dapat bertahan lama. Bahan-bahan yang
digunakan
dalam proses ini diantaranya adalah mimosa, krom, formalin, Na2CO3.

• Proses penggantungan (Aging)

Setelah proses tanning maka kulit akan mengalami proses aging, dimana kulit
digantungkan

di atas kuda-kuda kayu dan biarkan agak kering tanpa penjemuran dengan sinar matahari.

Setelah itu kulit ditimbang dan di cuci selama 15 menit.

• Proses netralisasi (Neutralization)

Bertujuan untuk menetralkan asam bebas yang berada pada kulit. Bahan-bahan yang
dipakai

untuk netralisasi yaitu bahan-bahan yang bersifat alkalis.

• Proses penyamakan ulang (Retanning)

Penyamakan ulang dimaksudkan untuk memberikan sifat unggul yang lebih baik yang
dimiliki

bahan penyamak lain. Bahan yang digunakan dalam proses ini adalah bahan penyamak

sintesis, nabati atau mineral.

• Proses pewarnaan dasar (Dyeing)

Proses ini bertujuan untuk memberikan warna dasar pada kulit tersamak agar dapat

memperindah penampakan kulit jadi. Bahan yang digunakan antara lain air, leveling
agent, cat

dasar, asam formiat.

Proses awal terdiri atas peredaman (untuk mengembalikan kadar air


yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, kulit basah lebi
mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari
sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit),
Pengapuran (membengkakan kulit untuk melepas sisa daging,
menyabunkan lemak pada kulit, pembuangan sisik, pembuangan sisa
daging, pembuatan kapur (deliming) (untuk menghilangkan kapur dan
menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari pengerutan kulit,
menghindari timbulnya endapan kapur), pengikisan protein,
pengasaman (untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga
lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap
serangga bakteri pembusuk).

Sesuai dengan jenis kulitnya, tahapan proses penyamakan bisa


berbeda. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit dari
binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain), dan skin
(untuk kulit domba, kambing, reptil dan lain-lain). Jenis zat penyamak
yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperolah. Penyamak
nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan,
bersifat agak kaku tapi empuk, kurang tahan terhadap panas.
Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. Penyamakan
krom menghasilkan kulit yang lebih lembut/lemes, dan lebih tahan
terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses
pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 (satu)
malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul
bahan penyamak dengan kulit.

Proses penyelesaian (finishing) adalah untuk menentukan kualitas hasil


akhir (leather). Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi
sesuai dengan jenis kulit, bahan penyamak yang digunakan, dan
kualitas akhir yang diingingkan. Proses finishing akan membentuk
sifat-sifat khas pada kulit seperti, kelenturan, kepadatan, dan warna
kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan
lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan
mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal. Proses
perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan
air dalam kulit akan tergolong keluar (striking out). Beberapa proses
lanjutan lainnya adalah pengeringan (mengurangi kadar air kulit
sampai batas standar biasannya 18-20 %), pelembaban (menaikan
kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakukan fisik di
proses lanjutan), pelemasan (melemaskan kulit dan mengembalikan
kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali),
pementangan (untuk menambah luasan kulit), pengamplasan (untuk
menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa di cat untuk
memperindah tampilan kulit.

http://binaukm.com/2010/07/teknik-cara-penyamakan-kulit-
pengolahan-kulit-bagian-1/
Alat dan mesin yang digunakan dalam melakukan proses penyamakan adalah sebagai
berikut :
• Timbangan, berfungsi untuk mengetahui berat kulit dan bahan-bahan kimi yang
akan digunakan.
• Pisau seset atau pisau fleshing, digunakan untuk membuang daging yang masih
melekat pada kulit saat proses buang daging.
• Papan kuda-kuda, digunakan untuk meniriskan atau menggantung kulit setelah
proses penyamakan
• Papan pentang, digunakan untuk mementang kulit agar kulit lebih lemas dan
memperoleh luas yang maksimal.
• Mesin ampelas, digunakan untuk meratakan bagian dalam kulit sehingga
diperoleh kulit yang lebih tipis dan lemas.
• Meja dan papan staking, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit
yang dikerjakan secara manual.
• Drum milling, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang telah
disamak.
• Drum putar (Tannning Drum), digunakan pada proses perendaman, pencucian,
serta proses-proses lain yang mengunakan air dan bahan-bahan kimia.
• Alat-alat lain yang digunakan adalah spraying, ember, corong plastik, selang air,
gunting, pisau dan kertas pH.