Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

“PERNIKAHAN DALAM ISLAM”

Disusun Oleh :

1. Okeu Laleta Sari : 19416226201253


2. Ahmad Muharia : 19416226201323
3. Fabian Chaerul Fatah : 19416226201289
4. Zia n Cantona Ahmad : 19416226201270
5. Riski Aji Adzima : 19416226201261

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG

2020

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Segala pujibagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita
nanti-nati kan syafa’atnya di akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik
itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan judul
“Pernikahan Dalam Islam”.
Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk kitu, penulis mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalahini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
penulis mohon maaf yang sebesar - besarnya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak khusus nya kepada guru
Bahasa Indonesia kami yang telahmembimbingdalammenulismakalahini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Wassalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatu

Karawang, 10 Juni 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .............................................................................................................................2
Daftar Isi .....................................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan…………………. ..........................................................................................
A. Latar Belakang …………………. .............................................................................4
B. Tujuan………………… ............................................................................................5
C. Rumusan Masalah ………………….........................................................................5
D. Manfaat …………………………………………………………………………….5
BAB II Pembahasan…………………. .........................................................................................

A. Pengertian Pernikahan (Munahakat) dalam islam …………………. ..........................6


B. Tujuan dari Pernikahan ……....……………….…….................................................6
C. Dasar Hukum Pernikahan………….…………………………………………….....8
D. Rukun Dan Syarat Pernikahan …………..…….................................................….11
E. Proses Tata Cara Pernikahan Dalam Islam …….................................................…13
BAB III Penutup…………………. ...........................................................................................16
Daftar Pustaka............................................................................................................................17

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pernikahan dalam Islam merupakan anjuran bagi kaum muslimin.Dalam undang
undang No. 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara
seorang wanita dan seorang pria sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.”
Sedang dalam Kompilasi Hukum Islam “perkawinan yang sah menurut hukum
Islam merupakan pernikahan, yaitu akad yang kuat atau mitsaqan ghalidzan untuk menaati
perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.”
Dari pengertian di atas, pernikahan memiliki tujuan membentuk keluarga yang
bahagia dan kekal. Sehingga baik suami maupun isteri harus saling melengkapi agar
masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannyamembantu dan mencapai
kesejahteraan spiritual dan material. Hal ini sejalandengan firman Allah:

ً ‫َو ِم ْن آ َيا ِت ِه أ َ ْن َخلَ َق لَ ُك ْم ِم ْن أ َ ْنفُ ِس ُك ْم أ َ ْز َوا ًجا ِلت َ ْس ُكنُوا ِإلَ ْي َها َو َج َع َل َب ْينَ ُك ْم َم َودَّة‬
ٍ ‫َو َر ْح َمةً ۚ ِإ َّن فِي َٰذَ ِل َك ََليَا‬
َ ‫ت ِلقَ ْو ٍم يَتَفَ َّك ُر‬
‫ون‬
artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi orang kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam Islam perkawinan dimaksudkan untuk


memenuhi kebutuhan seksual seseorang secara halal serta untuk melangsungkan
keturunannya dalam suasana saling mencintai (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)
antara suami isteri. Jadi, pada dasarnya perkawinan merupakan cara penghalalan terhadap

4
hubungan antar kedua lawan jenis, yang semula diharamkan, seperti memegang, memeluk,
mencium dan hubungan intim.
Berdasarkan dalil-dalil diatas jelas sekali Allah Swt. Telah mengatur sedemikian
rupa permasalahan mengenai pernikahan. Adapun pernyempurnaan dari wahyu yang
diturunkan oleh Allah swt. Telah disempurnakan oleh ahli tafsir dengan mengeluarkan dalil
yang dapat memperjelas mengenai pernikahan tanpa mengubah ketentuan yang telah
ditetapkan oleh Allah Swt.
B. Tujuan
1) Menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam
2) Memberikan pengetahuan informasi mengenai Pernikahan Dalam Islam
3) Mengetahui pentingnya pengetahuan terhadap Pernikahan (Munahakat)

C. Rumusan Masalah
1) Apa pengertian Pernikahan (Munahakat) dalam islam?
2) Sebutkan Tujuan dari Pernikahan?
3) Apa dasar Hukum Pernikahan dalam islam ?
4) Apasaja yang menjadi Rukun dan Syarat Pernikahan ?
5) Bagaimana proses Tata cara Pernikahan Dalam Islam ?

D. Manfaat
1) Dapat memahami pengertian dari Pernikahan.
2) Dapat mengetahui proses dalam sebuah Pernikahan secara Islam.
3) Dapat mengetahui tujuan serta hikmah dari Pernikahan yang benar secara Islam

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pernikahan
Pernikahan atau Munahakat artinya dalam bahasa adalah terkumpul dan
menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti akad nikah (Ijab Qobul) yang
menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sehingga
menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya yang diucapkan oleh kata-kata ,
sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran
artinya adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai
pernikahan, Allah s.w.t. menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan
pernikahan dan mengharamkan zina.
Pernikahan adalah anjuran Allah SWT bagi manusia untuk mempertahankan
keberadaannya dan mengendalikan perkembangbiakan dengan cara yang sesuai dan
menurut kaidah norma agama. Laki-laki dan perempuan memiliki fitrah yang saling
membutuhkan satu sama lain. Pernikahan dilangsungkan untuk mencapai tujuan hidup
manusia dan mempertahankan kelangsungan jenisnya. Fiqih pernikahan atau munakahat
adalah ilmu yang menjelaskan tentang syariat suatu ibadah termasuk pengertian, dasar
hukum dan tata cara yang dalam hal ini menyangkut pernikahan

B. Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan Sunnah Rasul

Tentu saja tujuan pernikahan yang utama ialah menjauhkan dari perbuatan
maksiat. Namun sebagai seorang muslim tentu saja kita memiliki panutan dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari. Dan ada baiknya kita mengikuti apa yang
dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah. Dan pernikahan merupakan salah satu
sunnah dari Rasulullah.

6
2. Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi

Sangat dianjurkan bagi mereka yang telah mampu untuk menikah. Hal ini karena
pernikahan merupakan fitrah manusia serta naluri kemanusiaan itu sendiri. Karena
naluri manusia dipenuhi pula dengan hawa nafsu, maka lebih baik untuk dipenuhi
dengan jalan yang baik dan benar yaitu melalui penikahan.
Apabila naluri tersebut tidak terpenuhi, maka dapat menjerumuskan seseorang kepada
jalan yang diharamkan oleh Allah SWT yaitu berzina. Salah satu fitrah manusia ialah
berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan, maka akan saling melengkapi,
berbagi dan saling mengisi satu sama lain.

3. Penyempurna Agama

Dalam Islam, menikah merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan


agama. Dengan menikah maka separuh agama telah terpenuhi. Jadi salah satu dari tujuan
pernikahan ialah penyempurnakan agama yang belum terpenuhi agar semakin kuat
seorang muslim dalam beribadah.
Rasullullah Shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda:"Apabila seorang hamba menikah
maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk
separuh sisanya" (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

4. Menguatkan Ibadah sebagai Benteng Kokoh Akhlaq Manusia

Dalam Islam, pernikahan merupakan hal yang mulia, karena pernikahan


merupakan sebuah jalan yang paling bermanfaat dalam menjaga kehormatan diri serta
terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

Hal ini pula sesuai dengan HR. Muslim No. 1.400 di mana Rasullullah Shallallaahu
'alaihi wa sallam bersabda:"Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian
berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan
pandangan, lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu,
maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya."

Dan sasaran utama dalam pernikahan dalam Islam ialah untuk menundukkan pandangan
serta membentengi diri dari perbuatan keji dan kotor yang dapat merendahkan martabat
seseorang. Dalam Islam, sebuah pernikahan akan memelihara serta melindungi dari
kerusakan serta kekacauan yang ada di masyarakat.

5. Memperoleh Ketenangan

Dalam Islam, sebuah pernikahan sangat dianjurkan karena tujuan pernikahan


nantinya akan ada banyak manfaat yang didapat. Perasaan tenang dan tentram atau
sakinah akan hadir selepas menikah.

7
Namun dalam sebuah pernikahan jangan hanya mengandalkan perasaan biologis serta
syahwat saja, karena hal ini tidak akan sanggup untuk menumbuhkan ketenangan di
dalam diri seseorang yang menikah.

6. Memperoleh Keturunan

Sesuai dengan Surat An Nahl Ayat 72, Allah SWT telah berfirman, yang
artinya:"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu
sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki
dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat
Allah?"

Maka dapat dilihat tujuan pernikahan dalam Islam lainnya ialah untuk memperoleh
keturunan. Tentunya dengan harapan keturunan yang diperoleh ialah keturunan yang
sholeh dan sholehah, agar dapat membentuk generasi selanjutnya yang berkualitas.

7. Investasi di Akhirat

Anak yang diperoleh dari sebuah pernikahan tentunya sebagai investasi kedua
orangtua di akhirat. Hal itu karena anak yang sholeh dan sholehah akan memberikan
peluang bagi kedua orangtuanya untuk memperoleh surga di akhirat nanti. Berbekal
segala ilmu dalam beragama yang diperoleh selama di dunia, bekal doa dari anak
merupakan hal yang dapat diharapkan kelak.

C. Dasar Hukum Pernikahan


Pernikahan dalam islam diartikan sebagai berkumpulnya atau menyatunya
sepasang laki-laki dengan perempuan melalui akad nikah dan memenuhi syarat-syarat
pernikahan serta rukun nikah yang berlaku dinataranya adanya calon mempelai pria dan
wanita, wali nikah (baca syarat wali nikah dan urutan wali nikah) serta adanya ijab kabul
atau akad nikah (baca syarat-syarat akad nikah).

Pernikahan dalam islam diatur dalam fikih pernikahan dan pernikahan tersebut
sah jika sesuai dengan syariat serta tidak termasuk pernikahan yang dilarang. Sedangkan
menurut undang-undang perkawinan dan kompilasi hukum islam. Pernikahan dijelaskan
sebagai Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. (Undang-Undang Perkawinan) Perkawinan menurut hukum
Islam adalah “akad yang sangat kuat atau miitsaqon gholiidhon untuk mentaati perintah
Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. (Kompilasi Hukum Islam)
Berdasarkan syariat islam dan tuntunan cara pernikahan yang benar maka hukum
pernikahan dapat digolongkan dalam lima kategori yaitu wajib, sunnah, haram, makruh
dan mubah. Hukum pernikahan tersebut dikategorikan berdasarkan keadaan dan

8
kemampuan seseorang untuk menikah. Sebagaimana dijabarkan dalam penjelasan
berikut ini

1. Wajib
Pernikahan dapat menjadi wajib hukumnya jika seseorang memiliki kemampuan
untuk membangun rumah tangga atau menikah serta ia tidak dapat menahan dirinya dari
hal-hal yang dapat menjuruskannya pada perbuatan zina. Orang tersebut wajib
hukumnya untuk melaksanakan pernikahan karena dikhawatirkan jika tidak menikah ia
bisa melakukan perbuatan zina yang dilarang dalam islam (baca zina dalam islam). Hal
ini sesuai dengan kaidah yang menyebutkan bahwa

“Apabila suatu perbuatan bergantung pada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang
lain itu pun wajib”

2. Sunnat
Berdasarkan pendapat para ulama, pernikahan hukumnya sunnah jika seseorang
memiliki kemampuan untuk menikah atau sudah siap untuk membangun rumah tangga
akan tetapi ia dapat menahan dirinya dari sesuatu yang mampu menjerumuskannya
dalam perbuatan zina.dengan kata lain, seseorang hukumnya sunnah untuk menikah jika
ia tidak dikhawatirkan melakukan perbuatan zina jika ia tidak menikah. Meskipun
demikian, agama islam selalu menganjurkan umatnya untuk menikah jika sudah
memiliki kemampuan dan melakukan pernikahan sebagai salah satu bentuk ibadah.

3. Haram
Pernikahan dapat menjadi haram hukumnya jika dilaksanakan oleh orang yang
tidak memiliki kemampuan atau tanggung jawab untuk memulai suatu kehidupan rumah
tangga dan jika menikah ia dikhawatirkan akan menelantarkan istrinya. Selain itu,
pernikahan dengan maksud untuk menganiaya atau menyakiti seseorang juga haram
hukumnya dalam islam atau bertujuan untuk menghalangi seseorang agar tidak menikah
dengan orang lain namun ia kemudian menelantarkan atau tidak mengurus pasangannya
tersebut.

Beberapa jenis pernikahan juga diharamkan dalam islam misalnya pernikahan


dengan mahram (baca muhrim dalam islam dan pengertian mahram) atau wanita yang
haram dinikahi atau pernikahan sedarah, atau pernikahan beda agama antara wanita
muslim dengan pria nonmuslim ataupun seorang pria muslim dengan wanita non-
muslim selain ahli kitab.

4. Makruh
Pernikahan maksruh hukumnya jika dilaksanakan oleh orang yang memiliki
cukup kemampuan atau tanggung jawab untuk berumahtangga serta ia dapat menahan
dirinya dari perbuatan zina sehingga jika tidak menikah ia tidak akan tergelincir dalam

9
perbuatan zina. Pernikahan hukumnya makruh karena meskipun ia memiliki keinginan
untuk menikah tetapi tidak memiliki keinginan atau tekad yang kuat untuk memenuhi
kewajiban suami terhadap istri maupun kewajiban istri terhadap suami.

5. Mubah
Suatu pernikahan hukumnya mubah atau boleh dilaksanakan jika seseorang
memiliki kemampuan untuk menikah namun ia dapat tergelincir dalam perbuatan zina
jika tidak melakukannnya. Pernikahan bersifat mubah jika ia menikah hanya untuk
memenuhi syahwatnya saja dan bukan bertujuan untuk membina rumah tangga sesuai
syariat islam namun ia juga tidak dikhwatirkan akan menelantarkan istrinya.

Dalil Dasar Hukum Pernikahan


Adapun anjuran atau dasar hukum pernikahan disebutkan dalam dalam dalil-
dalil berikut ini :

‫َ َِْل يِف ِا َن ْة َمحرَ نِدَ و َ ْيََ ُم َك ْزعج ِاْيَلِ ُِْ سَمَُُِْ ْ َجْْ َزِ ْمَكُ ِسمُ َك ِن َم ْمُ َك َقل ْ َن ِ ِتِ َِ ْ ِن َم‬
‫ُ ْن ُكمَ ِْم َِ يق ٍ ِ ي‬

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-


isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(Q.S. ar-
Ruum 21)

‫اس أَيُّ َها يَا‬


ُ َّ‫احدَ ةٍ نَفْ ٍس ِم ْن َخلَقَكُ ْم الَّ ِذي َربَّكُ ُم اتَّقُوا الن‬
ِ ‫ث زَ ْو َج َها ِمنْ َها َو َخلَقَ َو‬
َّ َ‫يرا ِر َج ًال ِمنْ ُه َما َوب‬ ً ِ‫الَّ ِذي اللَّهَ َواتَّقُوا َونِ سَا ًء كَث‬
َ‫سا َءلُون‬
َ َ ‫علَيْكُ ْم كَانَ اللَّ َه ِإ َّن َو ْاْل َ ْر َحا َم ِب ِه ت‬
َ ‫َر ِقيبًا‬

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu
dari seorang diri, dan dari pa

10
D. Rukun dan Syarat Pernikahan
Menikah bukan asal mempersatukan dua insan. Namun ada syarat agar nikah itu
menjadi sah di mata agama. Bagi yang mau menikah, harus benar-benar memperhatikan
syarat sah nikah dan rukunnya berikut ini. Sebab kalau salah satu tidak ada, tidak sah
menikahnya di mata agama.
Hukum nikah adalah sunah karena nikah sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Hukum
asal nikah adalah sunah bagi seseorang yang memang sudah mampu untuk
melaksanakannya sebagaimana hadits Nabi riwayat Al-Bukhari nomor 4779 yang
artinya, “Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh
menikah itu lebih menenteramkan mata dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka
berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya.”
Rukun Menikah :
1. Mempelai laki-laki
Syarat sah menikah adalah ada mempelai laki-laki. Pernikahan dimulai pada saat
akad nikah.

2. Mempelai Perempuan
Sahnya menikah kedua yakni ada mempelai perempuan yang halal untuk dinikahi.
Dilarang untuk memperistri perempuan yang haram untuk dinikahi seperti pertalian
darah, hubungan persusuan, atau hubungan kemertuaan.

3. Wali Nikah Perempuan


Syarat sah menikah berikutnya adanya wali nikah. Wali merupakan orangtua
mempelai perempuan yakni ayah, kakek, saudara laki-laki kandung (kakak atau adik),
saudara laki-laki seayah, saudara kandung ayah (pakde atau om), anak laki-laki dari
saudara kandung ayah.

4. Saksi Nikah
Menikah sah bila ada saksi nikah. Tidak sah menikah seseorang bila tidak ada saksi.
Syarat menjadi saksi nikah yakni Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki, dan adil. Dua

11
orang saksi ini diwakilkan oleh pihak keluarga, tetangga, ataupun orang yang dapat
dipercaya untuk menjadi seorang saksi.

5. Ijab dan Qabul


Terakhir, syarat sah nikah yakni ijab dan qabul. Ijab dan qabul adalah janji suci
kepada Allah SWT di hadapan penghulu, wali, dan saksi. Saat kalimat “Saya terima
nikahnya”, maka dalam waktu bersamaan dua mempelai laki-laki dan perempuan sah
untuk menjadi sepasang suami istri.

Selain rukun, dalam Islam ada syarat sah nikah yang wajib dipenuhi:
1. Beragama Islam
Pengantin pria dan wanita harus beragama Islam. Tidak sah jika seorang muslim
menikahi non muslim dengan menggunakan tata cara ijab dan qabul Islam.

2. Bukan Laki-laki Mahrom bagi Calon Istri


Pernikahan diharamkan jika mempelai perempuan merupakan mahrom mempelai
laki-laki dari pihak ayah. Periksa terlebih dulu riwayat keluargasebelum dilakukan
pernikahan.

3. Wali Akad Nikah


Wali akad nikah mempelai perempuan yakni ayah. Namun jika ayah dari mempelai
perempuan sudah meninggal bisa diwakilkan oleh kakeknya. Pada syariat Islam,
terdapat wali hakim yang bisa menjadi wali dalam sebuah pernikahan. Meski demikian,
penggunaan wali hakim ini juga nggak sembarangan.

4. Tidak Sedang melaksanakan haji


Syarat sah menikah berikutnya yakni tidak sedang berhaji. Seperti dalam hadits
Riwayat Muslim:
“Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan
tidak boleh mengkhitbah.” (HR. Muslim no. 3432)

12
‫‪5. Bukan Paksaan‬‬
‫‪Syarat sah menikah terakhir yakni menikah bukan karena paksaan. Pernikahan karena‬‬
‫‪keikhlasan dan pilihan kedua mempelai untuk hidup bersama.‬‬

‫‪E. Tata cara Pernikahan Dalam Islam‬‬

‫‪Pertama‬‬
‫‪Hindari semua hal yang menyebabkan ketidak-absahan akad nikah. Karena itu,‬‬
‫‪pastikan kedua mempelai saling ridha dan tidak ada unsur paksaan, pastikan adanya wali‬‬
‫‪pihak wanita, saksi dua orang yang amanah‬‬

‫‪Kedua‬‬
‫‪Dianjurkan adanya khutbatul hajah sebelum akad nikah. Yang dimaksud khutbatul‬‬
‫‪hajah adalah bacaan:‬‬
‫ت أَعْ َمالِنَا‬
‫ور أَنْفُ ِسنَا‪َ ,‬و سَيِئَا ِ‬
‫‪َّ .‬ن الْ َح ْمدَ لِلَّ ِه‪ ,‬نَ ْح َمدُ هُ‪َ ,‬ونَ سْت َ ِعينُهُ‪َ ,‬ونَ سْتَغْفِ ُر هُ‪َ ,‬ونَعُوذُ بِاللَّ ِه ِم ْن شُ ُر ِ‬

‫سولُهُ‬ ‫ي لَهُ‪َ ,‬وأ َشْ َهدُ أ َ ْن لَ ِإلَ َه ِإلَّ اللَّهُ َو ْح َد ُه لَ ش َِريْكَ لَهُ‪َ ,‬وأ َشْ َهدُ أ َ َّن ُم َح َّمدًا َ‬
‫عبْدُ ُه َو َر ُ‬ ‫‪َ .‬م ْن َي ْه ِد ِه اللَّهُ فَالَ ُم ِ‬
‫ض َّل لَهُ‪َ ,‬و َم ْن يُ ْ‬
‫ض ِل ْل فَالَ هَا ِد َ‬
‫‪.‬يَا أَيُّ َها الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا اللَّهَ َح َّق تُقَاتِ ِه َولَ ت َ ُموت ُ َّن إِلَّ َوأَنْت ُ ْم ُم سْلِ ُمونَ‬

‫سا ًء َواتَّقُوا َّللاَّ َ الَّ ِذي‬ ‫ث ِمنْ ُه َما ِر َجالً كَ ِث ً‬


‫يرا َو ِن َ‬ ‫اس اتَّقُوا َربَّكُ ُم الَّ ِذي َخلَقَكُ ْم ِم ْن نَفْ ٍس َو ِ‬
‫اح َد ٍة َو َخلَقَ ِمنْ َها زَ ْو َج َها َو َب َّ‬ ‫َيا أَيُّ َها النَّ ُ‬
‫سا َءلُونَ ِب ِه َواْل َ ََ ْر َحا َم ِإ َّن َّللاَّ َ كَانَ َ‬
‫علَيْكُ ْم َر ِقيبًا‬ ‫‪.‬ت َ َ‬

‫صلِ ْح لَكُ ْم أَعْ َمالَكُ ْم َويَغْفِ ْر لَكُ ْم ذُنُوبَكُ ْم َو َم ْن ي ُِط ِع اللَّهَ َو َر سُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَ ْو ًزا‬
‫يَا أَيُّ َها الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا اللَّهَ َوقُولُوا قَ ْولً سَ ِديدًا يُ ْ‬
‫‪.‬عَ ِظي ًما‬

‫‪:‬أ َ َّما بَعْدُ‬

‫ضالَلَة‪َ ,,‬وكُ ُّل‬ ‫ي ُم َح َّمدٍ‪َ ,‬و ش ََّر اْل ُ ُم ِ‬


‫ور ُم ْحدَثَات ُ َها‪َ ,‬وكُ َّل ُم ْحدَث َ ٍة بِدْعَة‪َ ,,‬وكُ َّل بِدْعَ ٍة َ‬ ‫اب اللَّ ِه‪َ ,‬و َخي َْر الْ َهدْي ِ هَدْ ُ‬ ‫فَإ ِ َّن َخي َْر الْ َح ِدي ِ‬
‫ث ِكت َ ُ‬
‫ضالَلَ ٍة فِي النَّ ِ‬
‫ار‬ ‫‪َ .‬‬

‫‪13‬‬
Ketiga
Tidak ada anjuran untuk membaca syahadat ketika hendak akad, atau anjuran untuk
istighfar sebelum melangsungkan akad nikah, atau membaca surat Al-Fatihah. Semua itu
sudah diwakili dengan lafadz khutbatul hajah di atas. Tidak perlu calon pengantin diminta
bersyahadat atau istighfar.

Keempat
Hendaknya pengantin wanita tidak ikut dalam majlis akad nikah. Karena umumnya
majlis akad nikah dihadiri banyak kaum lelaki yang bukan mahramnya, termasuk pegawai
KUA. Pengantin wanita ada di lokasi itu, hanya saja dia dibalik tabir. Karena pernikahan
dilangsungkan dengan wali si wanita. Allah Ta’ala mengajarkan.

Kelima
Tidak ada lafadz khusus untuk ijab qabul. Dalam pengucapn ijab kabul, tidak
disyaratkan menggunakan kalimat tertentu dalam ijab kabul. Akan tetapi, semua kalimat
yang dikenal masyarakat sebagai kalimat ijab kabul akad nikah maka status nikahnya sah

Keenam
Hindari bermesraan setelah akad di tempat umum Pemandangan yang menunjukkan
kurangnya rasa malu sebagian kaum muslimin, bermesraan setelah akad nikah di depan
banyak orang. Kita sepakat, keduanya telah sah sebagai suami istri. Apapun yang
sebelumnya diharamkan menjadi halal. Hanya saja, Anda tentu sadar bahwa untuk
melampiaskan kemesraan ada tempatnya sendiri, bukan di tempat umum semacam itu.

Ketujuh
Dianjurkan untuk menyebutkan mahar ketika akad nikah. Tujuan dari hal ini adalah
menghindari perselisihan dan masalah selanjutnya. Dan akan lebih baik lagi, mahar
diserahkan di majlis akad. Meskipun ulama sepakat, akad nikah tanpa menyebut mahar
statusnya sah.

14
Kedelapan
Doa selepas akad nikah. Dianjurkan bagi siapapun yang hadir ketika peristiwa itu,
untuk mendoakan pengantin. Di antara lafadz doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah

‫ع َليْكَ َو َج َم َع بَيْنَكُ َما فِي الْ َخي ِْر‬ َ َ‫اركَ اللَّهُ لَكَ َوب‬
َ َ‫ارك‬ َ َ‫ب‬.

“Semoga Allah memberkahimu di waktu senang dan memberkahimu di waktu susah, dan
mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
Dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
: ‫”أن النبى صلى الله عليه وسلم‬
‫ع َليْكَ َو َج َم َع َبيْنَكُ َما ِفي الْ َخي ِْر‬ َ ‫اركَ اللَّهُ لَكَ َو َب‬
َ َ‫ارك‬ َ ‫سانَ ِإذَا تَزَ َّو‬
َ ‫ج قَا َل َب‬ ِ ْ َ ‫كَانَ ِإذَا َرفَّأ‬
َ ْ‫اْلن‬
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak memberikan ucapan selamat
kepada orang yang menikah, beliau mendoakan: baarakallahu laka…dst.” (HR. Turmudzi,
Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)
Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

ِ ْ‫ار فِي الْبَي‬


‫ت‬ ِ ‫ص‬ َ ‫ي صلى الله عليه وسلم فَأَتَتْنِي أ ُ ِمي فَأَدْ َخلَتْنِي الد‬
َ ْ‫ ِمنَ ْاْلَن‬, ‫َّار فَإِذَا نِ سْ َو ة‬ ُّ ِ‫تَزَ َّو َجنِي النَّب‬

َ ‫علَى الْ َخي ِْر َوالْبَ َر َك ِة َو‬


‫علَى َخي ِْر طَائِ ٍر‬ َ َ‫فَقُلْن‬

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku, kemudian ibuku mendatangiku dan


mengajakku masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalamnya terdapat banyak wanita Anshar.
Mereka semua mendoakan kebaikan, keberkahan karena keberuntunganku. (HR. Bukhari
dan Muslim)

15
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pernikahan adalah akad nikah (Ijab Qobul) antara laki-laki dan perempuan yang
bukan muhrimnya sehingga menimbulkan kewajiban dan hak di antara keduanya
melalui kata-kata secara lisan, sesuai dengan peraturanperaturan yang diwajibkan secara
Islam. Pernikahan merupakan sunnah Rasulullah Saw. Sebagaimana yang dijelaskan oleh
Rasulullah: “nikah itu Sunnahku, barang siapa membenci pernikahan, maka ia bukanlah
ummadku”. Hadis lain Rasulullah Bersabda: “Nikah itu adalah setengah iman”.
Maka pernikahan dianjurnya kepada ummad Rasulullah, tetapi pernikahan yang
mengikuti aturan yang dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Adapun cangkupan pernikahan
yang dianjurkan dalam Islam yaitu adanya Rukun Pernikahan, Hukum Pernikahan, Syarat
sebuah Pernikahan, Perminangan, dan dalam pemilihan calon suami/istri. Islam sangat
membenci sebuah perceraian, tetapi dalam pernikahan itu sendiri terkadang ada hal-hal yang
menyebabkan kehancuran dalam sebuah rumah tangga. Islam secara terperinci menjelaskan
mengenai perceraian yang berdasarkan hukumnya. Dan dalam Islam pun dijelaskan
mengenai fasakh, khuluk, rujuk, dan masa iddah bagi kaum perempuan.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://syahadat.blogspot.com/2011/03/hukumpernikahan.htmp

Munarki, Abu. Membangun Rumah Tangga dalam Islam, Pekanbaru : PT. Berlian Putih,2006

Abdullah, Samsul. Tatacara Pernikahan, Jakarta: PT. Gramedia,2011

http://admin.blogspot.com/2009/01/iddah

Suhaimi.Diktat Pendidikan Agama Islam. Banda Aceh: Unsyiah,2013

Nurcahya. Pernikahan secara Umum. Bandung: Husaini Bandung,1999

Ais, Chatamarrasjid,dkk. Proses Pernikahan.Solo: PT. Anugerah,2000

http://islamiyah.blogspot.com/2010/02/syaratpernikahanIslam/index.phpm?=posting.htmp

http://munakahat.blogspot.com/2010.htmp

17