Anda di halaman 1dari 6

JAWABAN LATIHAN BAB 7

Nama : Merari Kristiawan Mempun


NIM : BCA 117 045
Mata Kuliah : Akuntansi Perpajakan
Dosen Pengampu : Maureen Marsenne, SE., M.Ak

1. Investasi jangka panjang adalah penanaman dana yang jangka waktunya lebih dari
satu tahun, dan pada umumnya jauh lebih lama dari itu, dengan tujuan untuk
memberikan penghasilan tetap atau menguasai objek/perusahaan lain.

2. Investasi dalam obligasi atau sekuritas utang lainnya yang ingin dipegang manajemen
hingga tanggal jatuh tempo dinamakan dengan sekuritas yang dipegang hingga jatuh
tempo (held-to-maturity securities). Sekuritas semacam ini diklasifikasikan sebagai
investasi jangka panjang dengan judul investasi. Investasi ini dilaporkan pada harga
pokok atau biayanya, dikurangi premi yang telah diamortisasi atau ditambah diskonto
yang telah diamortisasi. Selain itu, nilai pasar (wajar) obligasi harus diungkapkan,
baik dalam bagian utama neraca maupun dalam catatan yang menyertainya.

3. Dengan cost method, investasi dicatat sebesar harga perolehannya, sedangkan dividen
yang diperoleh dicatat sebagai pendapatan lain-lain. Dengan equity method, investasi
dicatat sebesar harga perolehannya untuk kemudian didebet atau dikredit dengan
bagian laba atau rugi perusahaan anak secara proposional. Dividen yang diterima
dicatat mengurangi perkiraan investasi yang bersangkutan.

4. Untuk tujuan perpajakan, berdasarkan pasal 10 ayat 5 UU Pph bahwa metode


pembukuan investasi jangka panjang berdasarkan harga perolehan.
Penjualan saham di pasar modal: penghasilan dari penjualan dikenakan PPh 0,1%
untuk bukan saham pendiri atau 5,1% untuk saham pendiri dan bersifat final (0,5%
berdasarkan peraturan pemerintah No. 14 tahun 1997). tidak memperkenankan
pengurangan biaya penjualan terhadap penghasilan bruto kena pajak. Dividen saham
yang diterima oleh investor badan tidak dikenakan PPh (bukan obyek pajak).
keuntungan dari penjualan saham (selisih antara harga jual dan harga rata-rata)
dikenakan pajak pada tahun berjalan.

5. Apabila Wajib Pajak Badan menerima dividen, maka atas penghasilan


berupa dividen tersebut dipotong PPh 23 sebesar 15% dari penghasilan bruto.
Sedangkan, bila Wajib Pajak Pribadi yang menerima dividen, maka atas penghasilan
tersebut dipotong PPh 4 ayat (2) sebesar 10% dari penghasilan bruto.

6. Saham Bonus adalah saham yang dibagikan secara cuma-cuma kepada


pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki. Dividen Saham adalah
bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk saham.

7. Saham bonus bukan objek PPh jika memenuhi ketentuan Pasal 4 ayat (3) huruf f UU
PPh, yaitu saham bonus yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha
milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di Indonesia dengan syarat saham bonus berasal dari cadangan laba
ditahan, dan kepemilikan minimal 25% bagi PT, BUMN dan BUMD yang menerima
saham bonus.

8. Capital gain adalah sebuah keuntungan yang didapatkan seorang investor dari selisih
harga jual dikurangi dengan harga beli suatu saham atau properti sewaan tersebut.
Seorang yang mendapatkan keuntungan capital gain tersebut, wajib membayar pajak
yang berlaku.

9. PP 41/1994 sttd PP 14/1997 menyatakan bahwa atas penghasilan yang diterima orang
pribadi atau badan dari transaksi penjualan saham di bursa efek dipungut PPh yang
bersifat final sebesar 0.1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan.
10. a. Jurnal Penjualan bukan saham pendiri:
Kas xxx
Pph Pasal 4 ayat 2 xxx
Investasi Saham dalam PT. A xxx

b. Penjualan saham pendiri:


Kas xxx
Pph Pasal 4 ayat 2 xxx
Saham xxx

11. Yaitu Penyelenggara bursa efek wajib menyampaikan laporan tentang pemotongan
dan kemudian menyerahkan atau menyetor PPh kepada Kepala KPP setempat
selambat-lambatnya tanggal 25 pada bulan yang sama dengan bulan penyetoran.

12. Yang dimaksud final disini bahwa pajak yang dipotong, dipungut oleh pihak pemberi
penghasilan atau dibayar sendiri oleh pihak penerima penghasilan, penghitungan
pajaknya sudah selesai dan tidak dapat dikreditkan lagi dalam penghitungan pajak
penghasilan pada SPT Tahunan.
Lembaga ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 ayat (2), demikian sebaliknya apabila
lembaga menerima penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat
(2) dan pemberi penghasilan juga merupakan pemotong PPh Pasal 4 ayat (2), maka
atas penghasilan yang diterima lembaga akan dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) oleh si
pihak pemotong. Tetapi apabila Lembaga menerima penghasilan yang merupakan
objek PPh Pasal 4 ayat (2) dan pihak pemberi penghasilan adalah orang pribadi
(bukan pemotong), maka lembaga tersebut wajib menyetor sendiri PPh Pasal 4 ayat
(2) tersebut.

13.

14.

15.
16.
17. Jurnal Tahun 2010
Tanggal Keterangan Debet Kredit
09/01/2010 Investasi pada anak 81.250.000
Kas 81.250.000
22/03/2010 Investasi pada anak 9.900.000.000
Kas 9.900.000.000
08/04/2010 Investasi pada anak 47.520.000
Kas 47.520.000
19/08/2010 Kas 23.280.000
Investasi saham 23.280.000
01/09/2010 Investasi pada anak 16.500.000
Kas 16.500.000
31/12/2010 Tidak ada jurnal
Tidak ada jurnal
Kas 48.500.000
Pendapatan dividen 48.500.000
Tidak ada jurnal
Kas 2.960.000
Pendapatan dividen 2.960.000

Jurnal Tahun 2011


Tanggal Keterangan Debet Kredit
17/02/2011 Investasi pada anak 120.000.000
Kas 120.000.000
29/05/2011 Kerugian dari investasi 5.800.000
Investasi dlm saham 5.800.000
13/06/2011 Investasi saham 6.500.000
Kas 6.500.000
05/10/2011 Investasi saham 23.280.000
Kas 23.280.000
31/12/2010 Tidak ada jurnal
Kas 29.750.000
Pendapatan dividen 29.750.000
Tidak ada jurnal
Tidak ada jurnal
Tidak ada jurnal
Kas 1.160.000
Pendapatan dividen 1.160.000

18. PP 41/1994 sttd PP 14/1997 menyatakan bahwa atas penghasilan yang diterima orang
pribadi atau badan dari transaksi penjualan saham di bursa efek dipungut PPh yang
bersifat final sebesar 0.1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan.

19. a. Jurnal Penjualan bukan saham pendiri:


Kas xxx
Pph Pasal 4 ayat 2 xxx
Investasi Saham dalam PT. A xxx

b. Penjualan saham pendiri:


Kas xxx
Pph Pasal 4 ayat 2 xxx
Saham xxx

20. Yaitu Penyelenggara bursa efek wajib menyampaikan laporan tentang pemotongan
dan kemudian menyerahkan atau menyetor PPh kepada Kepala KPP setempat
selambat-lambatnya tanggal 25 pada bulan yang sama dengan bulan penyetoran.

21. Yang dimaksud final disini bahwa pajak yang dipotong, dipungut oleh pihak pemberi
penghasilan atau dibayar sendiri oleh pihak penerima penghasilan, penghitungan
pajaknya sudah selesai dan tidak dapat dikreditkan lagi dalam penghitungan pajak
penghasilan pada SPT Tahunan.
Lembaga ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 ayat (2), demikian sebaliknya apabila
lembaga menerima penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat
(2) dan pemberi penghasilan juga merupakan pemotong PPh Pasal 4 ayat (2), maka
atas penghasilan yang diterima lembaga akan dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) oleh si
pihak pemotong. Tetapi apabila Lembaga menerima penghasilan yang merupakan
objek PPh Pasal 4 ayat (2) dan pihak pemberi penghasilan adalah orang pribadi
(bukan pemotong), maka lembaga tersebut wajib menyetor sendiri PPh Pasal 4 ayat
(2) tersebut.