Anda di halaman 1dari 12

JAWABAN LATIHAN BAB 9

Nama : Merari Kristiawan Mempun


NIM : BCA 117 045
Mata Kuliah : Akuntansi Perpajakan
Dosen Pengampu : Maureen Marsenne, SE., M.Ak

1. Perbedaan ini termasuk ke dalam beda waktu. Karena beda waktu merupakan
perbedaan pengakuan baik penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial
dengan ketentuan Undang-Undang PPh yang sifatnya sementara, artinya koreksi
fiskal yang dilakukan akan diperhitungkan dengan laba kena pajak.

2. Secara perpajakan, pencatatan transaksi leasing diatur dalam Keputusan Menteri


Keuangan No. 1169/KMK.01/1991. KepMenKeu ini hanya mengatur mengenai
pencatatan transaksi leasing secara sale and lease back dengan hak opsi sehingga
untuk jenis leasing lainnya misalnya Pembiayaan Konsumen harus mengacu kepada
PSAK No. 30.
Dalam praktek sehari-hari, sering ditemukan kesalahpahaman dari accounting
perusahaan sehingga dalam perpajakan memperlakukan transaksi Pembiayaan
Konsumen layaknya Sale and Lease Back dengan Hak Opsi.
Menurut KepMenKeu No. 1169 tersebut, kegiatan sewa guna usaha digolongkan
sebagai Sewa Guna Usaha (SGU) dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria
berikut :
1. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama
ditambaha dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan
barang modal dan keuntungan lessor;
2. Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 tahun untuk barang modal
Golongan I, 3 tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7 tahun untuk
Golongan Bangunan;
3. Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
Ketentuan perpajakan memperlakukan SGU dengan Hak Opsi secara berbeda dari
akuntansi. Adapun perbedaannya sebagai berikut :
Secara akuntansi, pencatatan dilakukan secara Capital Lease, dimana :
1. aktiva leasing langsung dibukukan sebagai aktiva tetap leasing dan disusutkan
sesuai dengan masa manfaatnya;
2. lessee membebankan biaya penyusutan aktiva SGU dan beban bunga SGU
Secara perpajakan, dilakukan secara Operating Lease, dimana :
1. aktiva tetap leasing baru diakui setelah lessee melaksanakan hak opsinya, dengan
biaya perolehan sebagai dasar penyusutan sebesar nilai opsi tersebut
2. lessee membebankan angsuran pokok dan bunga SGU sebagai biaya leasing
Sedangkan untuk transaksi pembiayaan konsumen, pencatatan secara akuntansi
maupun perpajakan sama, yaitu dilakukan secara Capital Lease.

3.

4. Ketika hasil revaluasi menunjukkan angka positif, di mana nilai buku Aset Tetap
terapresiasi akibat penyesuaian terhadap nilai pasar, kenaikan nilai tersebut tidak
boleh dicatat dalam laporan laba rugi (Income Statement). Kenaikan tersebut harus
dikreditkan di akun khusus dalam laporan ekuitas. Nama akun tersebut adalah
Revaluation Surplus. Di dalam akun ini terkandung segala kenaikan tiap nilai Aset
Tetap akibat revaluasi sampai Aset Tetap tersebut dijual, disumbangkan, atau
dibuang.

5. Revaluasi merupakan salah satu metode penilaian aset tetap. Jika suatu entitas
memilih menggunakan metode revaluasi maka metode ini harus diterapkan secara
konsisten oleh perusahaan. Perusahaan tidak boleh hanya menggunakan metode
revaluasi sesekali untuk tujuan seperti yang disebutkan di atas, tetapi revaluasi harus
dilakukan secara reguler. Penerapan metode revaluasi dilakukan untuk aset tetap
dalam kelompok yang sama. Tidak ada penjelasan rinci pengertian kelompok yang
sama, namun secara implisit dapat dikatakan jika suatu entitas memiliki aset tetap
yang disajikan dalam satu kelompok, maka model penilaian yang digunakan harus
sama.
6. – Biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan
untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaaannya, dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan atau pembelian.
- Biaya perolehan atas kendaraan bermotor perusahaan bus, minibus atau sejenisnya yang
dimiliki dan dipergunakan perusahan untuk antar jemput para pegawai dapat dibedakan
seluruhnya sebagai biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin sebesar 50% dari jumlah biaya
perolehan.

7. Harga perolehan Rp360.000.000


Akumulasi penyusutan Rp105.000.000
Nilai buku Rp255.000.000
Harga pasar Rp225.000.000
Rugi penjualan aset Rp 30.000.000

Jurnal:
Kas Rp247.500.000
Akumulasi penyusutan Rp105.000.000
Rugi penjualan aset Rp 30.000.000
Kendaraan Rp360.000.000
PPN 16D Rp 22.500.000

NB: Penyusutan dianggap sama antara perpajakan dengan akuntansi

8. Perhitungan koreksi Fiskal dan Laba Fiskal setelah koreksi Biaya penyusutan
· Penyusutan menurut Akuntansi
240.000.000 / 10 = 24.000.000
Jurnal :
Biaya penyusutan Truk Rp.24.000.000
Akumulasi penyusutan kredit Rp.24.000.000
Perpajakan = Kelompok II/8 tahun
· Penyusutan menurut Pajak
31 Desember 2006 = 9/12 x 240.000.000 x 12,5 = 22.500.000

A. Menggunakan metode garis lurus


Keterangan Akuntansi (Rp) Pajak (Rp)
Harga perolehan 240.000.000 240.000.000
Akumulasi penyusutan (24.000.000) (22.500.000)
Nilai buku 216.000.000 217.500.000
Harga pasar (56.000.000) (56.000.000)
Laba penjualan asset 160.000.000 161.500.000

B. Menggunakan metode saldo menurun

Keterangan Akuntansi (Rp) Pajak (Rp)


Harga perolehan 240.000.000 240.000.000
Akumulasi penyusutan (24.000.000) (45.000.000)
Nilai buku 216.000.000 195.000.000
Harga pasar 56.000.000 56.000.000
Laba penjualan asset 160.000.000 139.000.000

9/12 x 240.000.000 x 25 % = 45.000.000

a. Koreksi Fiskal penyusutan metode garis lurus yaitu Koreksi positif dimana
24.000.000 – 22.500.000 = Rp.1.500.000
Koreksi laba fiskal metode garis lurus yaitu Koreksi positif dimana 160.000.000 –
161.500.000 = Rp.1.500.000
b. Koreksi fiskal penyusutan metode saldo menurun yaitu Koreksi negatif dimana
24.000.000 – 45.000.000 = (Rp.21.000.000)
Koreksi Laba fiskal mettode saldo menurun yaitu koreksi negatif dimana dimana
160.000.000 – 139.000.000 = Rp. 21.000.000

9. Harga faktur $ 40.000


Beban Asuransi $ 8.000
Beban Angkut $ 12.000 –
CIF $ 20.000

CIF dalam rupiah $ 20.000 x 9.500 = Rp.190.000.000


Bea Masuk 5% x 190.000.000 = Rp. 9.500.000
Bea Masuk tambahan 20% x 190.000.000 = Rp. 38.000.000
Nilai impor mobil = Rp.237.500.000
Ø Penyusutan Menurut Akuntansi
1/12 x 20% x Rp. 237.500.000 = Rp. 3.958.333,333

Ø Penyusutan Menurut Pajak


25% x Rp. 237.500.000 x 1/12 = Rp. 4.947.916.666

Jurnal Penyusutan 31 Des 2008


Ø Untuk Akuntansi
Beban Penyusutan Mobil Rp.3.958.333,333
Akumulasi Penyusutan mesin Rp.3.958.333,333

Ø Untuk Pajak
Beban Penyusutan Mobil Rp.4.947.916,666
Akumulasi Penyusutan Mesin Rp.4.947.916,666

Jurnal pembelian mobil impor 22 Des 2008


Mobil Rp.237.500.000
PPN Masukan Rp. 23.750.000
PPh 22 dibayar dimuka Rp. 17.812.500
Kas/Bank Rp.279.062.500

10.
Keterangan Menurut akuntansi Menurut pajak
Harga perolehan 120.000.000 120.000.000
Akumulasi penyusutan (30.000.000) (25.000.000)
Nilai buku 90.000.000 95.000.000
Harga jual 100.000.000 100.000.000
Laba penjualan 10.000.000 5.000.000
Menurut akuntansi Rp.120.000.000/6 x 1 6/12 = Rp. 30.000.000
Menurut perpajakan Rp. 120.000.000/6 x 1 6/12 = Rp. 25.000.000.
11. Metode penyusutan garis lurus :
Rp80.000.000 X 12,5%X7/12= Rp 5.833.333.
Laba/rugi fiskal penjualan kendaraan

keterangan Perpajakan(Rp)
80.000.000
Harga perolehan 5.833.333
Akumulasi penyusutan 74. 166.667
Nilai buku (60.000.000)
Harga pasar 14.166.667
(Rugi) laba fiskal atas penjualan

12. Penyusutan tahun 2011 berdasarkan ketentuan pajak :


Metode garis lurus:
(Rp 4.000.000/4 x 1/12) = Rp 83.333,33

Metode double declining balance capital case:


(100% : 4) x 1/12 x Rp 4.000.000 = Rp 166.666,67

13. Penyusutan menurut pajak


Nilai perolehan :
Rp. 177.315.750 x 25.5% x 1 6/12 = Rp. 33.246.703
Menurut ketentuan perpajakan beban penyusutan tersebut diperbolehkan untuk
mengurangi penghasilan bruto.
SPT PPh badan tahun 2004:
Rp.177.315.750 – Rp 33.246.703 = Rp 144.069047

14. Mesin bekas:


Harga perolehan Rp. 200.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Nilai buku Rp. 140.000.000
Harga pasar Rp. 130.000.000
Rugi Rp. 10.000.000
Mesin baru
Harga perolehan Rp. 250.000.00
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.0
Nilai buku Rp. 190.000.000
Harga pasar Rp. 250.000.000
Laba Rp. 60.000.000
Mesin baru ( laba yang direalisasi)
= Rp.100.000.000 xRp.60.000.000 = Rp. 26.000.000
Rp.100.000.000+Rp.130.000.000
Harga perolehan mesin baru
= Rp. 130.000.000+Rp. 100.000.000=Rp. 230.000.000
Mesin baru ( Rp. 230.000.000+ Rp. 10.000.000)= Rp.240.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Kas Rp. 100.000.000
Mesin lama Rp. 200.000.000
Mesin lama Rp 130.000.000-( Rp. 60.000.000-Rp. 26.000.000) =96.000.000
Mesin lama Rp. 96.000.000
Akumulasi penyusutan Rp. 60.000.000
Cash Rp.100.000.000
Mesin baru Rp.230.000.000
Laba Rp. 26.000.000

15. Perhitungan laba atas pertukaran mesin

1. Laba atas pertukaran mesin

Akuntansi Perpajakan
Keterangan (Rp) (Rp)

Harga Perolehan 500.000.000 500.000.000


Nilai residu (400.000.000) –
100.000.000 500.000.000
Akumulasi 113.333.333 145.833.333
penyusutan 286.666.667 354.166.667
Nilai buku 400.000.000 400.000.000
Harga pasar 113.333.333 45.833.333
Laba penjujalan
aset

Akumulasipenyusutan menurut
Akuntansi = Rp 400.000.000 x 1 5 = Rp 113.333.333
5 12
Perpajakan = Rp 500.000.000 12,5% x 1 16
12
= Rp 62.500.000 x 28
12
= RP 145.333.333
2. Harga perolehan mesin yang baru menurut:
Akuntansi = Rp 113.333.333
Perpajakan= Rp 145.833.333
3. Beban penyusutan mesin tahun 2005 menurut:
Akuntansi = Rp 400.000.000 x 5 = 33.333.333
5 12
Perpajakan = Rp 500.000.000 12,5% x 16 = Rp 83.333.333
12
Jurnal yang dibuat perusahaan untuk mencatat penyusutan mesin tahun 2005 adalah:

Tanggal Keterangan Debet Kredit

31-Des- Beban penyusutan mesin Rp –


2005 Akumulasi penyusutan 33.333.333 Rp
mesin – 33.333.333

16. Harga pasar Rp 10.950.000.000


Nilai buku Rp 3.200.000.000
Selisih Penilaian kembali Rp 7.750.000.000
PPh Final 10% Rp 775.500.000

17.
keterangan Akuntansi Rp
30.000.000
Harga perolehan ( 7.500.000)
Akuntansi penyusutan 22.500.000
Nilai buku 54.000.000
Harga pasar 76.000.000
Laba atas penjualan
Maka laba atas penjualan adalah Rp 76.000.000.

18. Penyusutan menurut akuntansi Rp 200.000.000 –Rp 50.000.000 = Rp 30.000.000


5
Penyusutan menurut pajak Rp 200.000.000 X 12,5% = Rp 12.500.000
4
Laba Rugi penukaran asset
keterangan Akuntansi (Rp) Perpajakan (Rp)
Harga perolehan
Akumulasi penyusutan 150.000.000 200.000.000
Nilai buku ( 30.000.000) (12. 500.000)
Harga pasar 120.000.000 187 500.000
Rugi atas pertukaran 100.000.000 100.000.000
aset 20.000.000 87.500.000

Harga perolehan peralatan yang baru ( akuntansi) = harga perolehan – penyusutan


= 150.000.000 – 30.000.000
= Rp 120.000.000

Harga perolehan peralatan yang baru ( perpajakan) =harga perolehan –penyusutan


= 200.000.000 – 12.500.000
= Rp187.500.00

19. Beban penyusutan PD.PEDULI untuk Tahun 2011 menurut:


Metode garis lurus = Rp 87.750.000 x 12,5% = Rp 10.968750
Metode saldo menurun = Rp 87.750.000 x 25% = Rp 21.937.500

20. a. Biaya penyusutan masing-masing asset menurut pajak


1. Biaya penyusutan gedung = 5% x Rp 375.000.000/12 x 10 = Rp 15.625.000
2. Biaya penyusutan mesin A = 12,5% x Rp 28.000.000/12 x 8 = Rp 2.333.333
3. Biaya penyusutan mesin B = 12,5% x Rp 60.000.000/12 x 6 = Rp 3.750.000
4. Biaya penyusutan komputer = 25% x Rp 15.000.000/12 x 5 = Rp 1.562.500
5. Biaya penyusutan peralatan = 25% x Rp 87.000.000/12 x 11 = Rp 19.937.500
6. Biaya penyusutan kendaraan sedan = 12,5% x Rp 140.500.000/12 x 7
= Rp 10.244.792

b. koreksi fiskal atas penyusutan masing-masing aset


1. Biaya penyusutan gedung menggunakan koreksi positif
Rp 24.666.667 – Rp 15.625.000 = Rp 9.041.667
2. Biaya penyusutan mesin A menggunakan koreksi positif
Rp 4.166.666 – Rp 2.333.333 = Rp 1.833.333
3. Biaya penyusutan mesin B menggunakan koreksi positif
Rp 9.333.333 – Rp 3.750.000 = Rp 5.583.333
4. Biaya penyusutan computer menggunakan koreksi positif
Rp 4.833.333 – Rp 1.562.500 = Rp 3.270.833
5. Biaya penyusutan peralatan menggunakan koreksi positif
Rp 28.666.667 – Rp 19.937.500 = Rp 8.729.167
6. Biaya penyusutan kendaraan sedan menggunakan koreksi positif
Rp 17.000.000 – Rp 10.244.792 = Rp 6.755.208
21. Beban Penyusutan untuk tahun 2011
Biaya Perolehan 150.000.000
Akumulasi Penyusutan
05/07/2009 s.d 0510112011 = 30 bulan (150.000.000/5 x 30/12) (75.000.000)
Nilai buku 75.000.000
Pengeluaran Capital expenditure yang menambah masa manfaat 0
Biaya Perolehan setelah disesuaikan 75.000.000

Total beban penyusutan Mobil Boks :


(150.000.000 x 12/60) + (750.000.000 x 12/50) = 48.000.000
Jumal Penyusutan :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
05/01/2011 Beban penyusutan mobil boks 48.000.000
Akum peny. Mobil boks 48.000.000

Beban Penyusutan aats Mobil Boks menurut perpajakan:


(150.000.000 x 12,5% x 12/12) + (0) = 18.750.000

Akumulasi Penyusutan menurut:


Akuntansl = (47.000.000 - 5.000.000)/ 5 x 3 1/12 = 25.900000
Perpajakan = 12.5% x Rp 47.000.000 x 3 [/12 = 19.114.583.33

Jumal Peralatan Rusak


Tanggal Keterangan Debet Kredit
02/02/2011 Akumulasi penyusutan 25.900.000
Rugi kerusakan aset 21.100.000
Peralatan lama 47.000.000

Harga perolehan Peralatan


Harga Faktur 54.000000
BiayaAngkut 3.500.000
Biaya lnstalatasi 2.500.000 +
Harga Pelolehan peralatan 60.000000

-Jamal Perolehan Peralatan


Tanggal Keterangan Debit Kredit
05/02/2011 Peralatan 60.000.000
Pajak masukan 6.000.000
Kas 66.000.000

Mei 10 dikeluarkan biaya perawatan rutin untuk mobil sedan sebesar Rp. 3.250.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10/05/2011 Biaya perawatan 3.250.000
Kas 3.250.000

Jun 20
Tanggal Keterangan Debit Kredit
20/06/2011 Beban peny. sedan 45.000.000
Akum. Peny. Sedan 45.000.000
(180.000.000 x 25% x 1)

Anda mungkin juga menyukai