Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 4


“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HERNIASI NUKLEUS PULPOSUS”

Di susun oleh :

Indah Fitri Anita Sari (NIM : 1511007)


Liliani Permata Sari (NIM : 1511009)
Ilham Wahyu Wibisono (NIM : 1511006)

PROGRAM S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga
tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua ke jalan
kebenaran yang diridhoi Allah SWT.
Maksud kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 4 yang diamanatkan oleh dosen kami. Kami menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangannya baik dalam cara penulisan
maupun dalam isi.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami yang membuat dan
umumnya bagi yang membaca makalah ini, untuk menambah pengetahuan tentang
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HERNIASI NUKLEUS PULPOSUS
”Amin.

Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................
1.3 Tujuan.........................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi.......................................................................................................
2.2 Etiologi.......................................................................................................
2.3 Manifestasi Klinik......................................................................................
2.4 Komplikasi..................................................................................................
2.5 Patofisiologi................................................................................................
2.5.1 Pathway .............................................................................................
2.6 Pemeriksaan diagnostik..............................................................................
2.7 Penatalaksanaan..........................................................................................
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian...................................................................................................
3.2 Diagnosa Keperawatan...............................................................................
3.3 Intervensi Keperawatan..............................................................................
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.................................................................................................
4.2 Saran...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nyeri punggung bawah merupakan suatu keluhan yang dapat menggangu aktivitas sehari-
hari bagi penderitanya. Salah satu penyebab terjadinya nyeri pinggang bagian bawah adalah
hernia nucleus pulsosus (HNP), yang sebagian besar kasusnya terjadi pada segmen lumbal.
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu penyakit yang sering di jumpai masyarakat.
Nyeri punggung bawah dapay mengenai siapa saja tanpa mengenal jenis umur dan jenis
kelamin. Sekitar 60%-80 dari seluruh pendududk dunia pernah mengalami paling tidak satu
episode nyeri punggung bawah selama hidupnya. Kelompok studi nyeri (pokdi nyeri)
PORDOSSI (persatuan dokter spesialis saraf indonesia) melakukan penelitian pada bulan
mei 2002 di 14 rumah sakit pendidikan, dengan hasilmenunjukkan bahwa kejadian nyeri
punggung bawah meliputi 18,37% di suruh kasus nyeri ditangani.
Nyeri pinggang bawah hanyalah merupakan suatu symptom gejala, maka yang terpenting
adalah mengetahui factor penyebabnya agar dapat diberikan pengobatan yang tepat. Ada
dasarkan tibulnya rasa sakit tersebut karena tekanan susunan saraf tepi daerah pinggang.
Jepitan pada saraf ini dapat terjadi karena ganguan pada otot dan jaringan sekitarnya. Maka
dari itu, dibuuhkan asuhan HNP yang sesuai sehingga proses penyembuhan klien dengan
HNP dapat maksimal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari herniasi nukleus pulposus?

2. Apa penyebab/etiologi terjadinya herniasi nukleus pulposus?

3. Bagaimana perjalanan terjadinya herniasi nukleus pulposus?

4. Bagaimana penatalaksanaan herniasi nukleus pulposus?

5. Apa saja komplikasi dari herniasi nukleus pulposus?

6. Apa tanda gejala dari herniasi nukleus pulposus?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari herniasi nukleus pulposus
2. Untuk mengetahui etiologi atau penyebab timbulnya herniasi nukleus pulposus

3. Untuk mengetahui perjalanan terjadinya herniasi nukleus pulposus

4. Untuk mengetahui penatalaksanaan herniasi nukleus pulposus

5. Untuk mngetahui komplikasi dari herniasi nukleus pulposus

6. Untuk mngetahui tanda gejala dari herniasi nukleus pulposus


BAB II

TINJUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Diskus intervetebralis adalah lempengan kartilago yang berbentuk sebuah bantalan
diantara dua tulang belakang. Material yang keras dari fibrosa digabungkan dalam satu
kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus dinamakan Nukleus Pulposus.
HNP adalah keadaan nucleus pulposus keluar menonjol untuk kemudian menekan kea
rah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang sobek. HNP merupakan suatu nyeri yang
disebabkan oleh proses patologis di kolumna vertebralis pada diskus intervertebralis atau
diskogenik.
2.2 Etiologi
HNP terjadi karena proses degenratif diskus intervetebralis. Keadaan patologis dari
melemahnya annulus merupakan kondisi yang diperlukan untuk terjadinya herniasi. Banyak
kasus bersangkutan dengan trauma sepele yang timbul dari tekanan yang berulang. Tetesan
annulus atau titik lemah tidak ditemukan akibat dari tekanan normal yang berulang dari
aktivitas biasa atau dari aktivitas fisik yang berat
1. Trauma, hiperfleksia, injuri pada vertebra.
2. Spinal stenosis.
3. Ketidakstabilan vertebra karena salah posisi, mengangkat, dll.
4. Pembentukan osteophyte.
5. Degenerasi dan degidrasi dari kandungan tulang rawan annulus dan nucleus
mengakibatkan berkurangnya elastisitas sehingga mengakibatkan herniasi dari nucleus
hingga annulus.
2.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai otot-otot
sekitar lesi dan nyeri tekan. HNP terbagi atas :
a. HNP sentral
HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parasetia, dan retensi urine.
b. HNP lateral
HNP lateral bermanifestasi klinis pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang terletak pada
punggung bawah, ditengah-tengah area bokong dan betis, belakang tumit dan telapak kaki.
2.4 Komplikasi
Komplikasi pasca operasi
a. Komplikasi potensial untuk pendekatan anterior
a) Cedera arteri karotid atau a vertebral
b) Disfungsi saraf laringeus berulang
c) Perforasi esofagus
d) Obstruksi jalan nafas
b. Komplikasi pendekatan posterior
a) Retraksi/kontusio salah satu struktur
b) Kelemahan otot-otot yang dipersyarafi radiks saraf atau medula
c. Komplikasi bedah diskus
a) Terjadi pengulangan herniasi pada tempat yang sama atau tempat lain
b) Radang pada mebran arachnoid
c) Rasa nyeri seperti terbakar pada derah belakang bagian bawah yang menyebar ke
daerah bokong
d) Sayatan pada potonan dapat meninggalkan perlekatan dan jaringan parut di sekitar
saraf
e) spinal dan dura, yang akibat radang dapat menyebabkabn neurotik kronik atau
neurofibrosis
f) Cedera syaraf dan jaringan
g) Sindrom diskus gagal (pegal berulang pada pinggul setelah disektomi lumbal) dapat
h) menetap dan biasanya menyebabkan ketidakmampuan
2.5 Patofisiologi
Pada tahap pertama sobeknya anulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial. Karena adanya
gaya traumatic yang berulang, sobekan itu menjadi lebih besar dan timbul sobekan radial.
Apabila hal ini telah terjadi, maka resiko HNP hanya mengganggu waktu dan trauma
berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan seperti gaya traumatic ketika hendak
menegakkan badan, waktu terpeleset, mengangkat benda berat dan sebagainya
Menjebolnya (herniasi) nucleus pulposus dapat mencapai ke korpus tulang belakang
diatas atau bawahnya. Bisa juga langsung ke kanalis vertrebralis. Menjebolnya sebagian
nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat pada foto rontgen polos dan dikenal
sebagai nodus schmorl. Menjebolnya nucleus pulposus ke kanalis vetebralis berarti bahwa
nucleus menekan radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis yang berada dalam
lapisan dura. Setelah terjadi HNP, sisa diskus intervertebalis mengalami lisis, sehingga dua
korpuranvertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.
2.6.1 Pathway

2.7 Pemeriksaan diagnostic


a. rontgen foto lumbosakral
 Tidak banyak ditemukan kelainan
 Kadang-kadang didapatkan artrosis, menunjang tanda-tanda deformitas vertebra
 Penyempitan diskus intervertebralis
 Untuk menentukan kemungkinan nyeri karena spondilitis, norplasma, atau infeksi
Progen
b. Cairan serebrospinal
 biasanhya normal
 jika didapatkan blok akan terjadi prott, indikasi operasi
c. EMG
 terlihat potensi kecil (fibrolasi) didaerah radiks yang terganggu
 kecepatan konduksi menurun
d. Iskografi : pemeriksaan diskus dilakukan menggunakan kontras untuk melihat seberapa
besar daerah diskus yang keluar pada kranialis vertebralis
c. Elektroneuromiografi (ENMG) : untuk mengetahui radiks yang terkena atau melihat
adanya polineuropati
d. tomografi Scan : melihat gambaran vertebra dan jaringan di sekitarnya termasuk diskus
intervertebralis
e. MRI
f. CT-scan
g. melografi
h. pemeriksaan Lab
2.8 Penatalaksanaan
a. terapi konservatif
 Tirah baring
 Fisioterapii
 Medikamentosa
1. Analgesik (salisilat, parasetamol)
2. kortikosteroid (prednisone, prednisolon)
3. anti inflamasi non steroid (piroksikan)
4. antidepresan trisiklik (amitriptilin)
5. obat penenang minor (diazepam, klordiasepoksid)
b. terapi operatif
c. rehabilitas
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1    Pengkajian Keperawatan


A.      IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. P No. Reg : 159000
Umur : 53 th Tgl. MRS : 05-12-2013
Jenis Kelamin : L Diagnosis medis : HNP
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Tgl Pengkajian: 05-12-2013, (09.00)
Agama : Islam
Pekerjaan : Pekerja bangunan
Pendidikan : SD
Alamat : Kesamben, Jombang
B.       RIWAYAT KEPERAWATAN
1.         Keluhan Utama : Nyeri punggung bawah
1.1     Riwayat penyakit sekarang
Pasien kemarin datang ke RSUD dengan keluhan nyeri pada daerah punggung bagian
bawah sampai menjalar ke paha.
P : Trauma (Mengangkat dan mendorong benda berat)
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk, sifatnya menetap
R : Nyeri pada bagian punggung bawah sampai menjalar ke paha
S :6
T : nyeri hebat ketika melakukan aktifitas dan nyeri sedikit berkurang saat istirahat
1.2    Riwayat penyakit dahulu
Pasien dulu pernah jatuh dengan posisi duduk
Kebiasaan berobat : beli obat diwarung
Alergi :-
1.3    Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien belum tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.
1.4    Riwayat kesehatan lingkungan
Lingkungan tempat tinggal pasien cukup terjaga kebersihannya.
C.      PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda Vital :
S : 36°C
N : 80 x/mnt
TD : 120/80 mmHg
RR : 20 x/mnt
BB : 65 Kg

D.      PEMERIKSAAN PER-SISTEM


1.         Sistem Kardiovaskuler
Wajah
Inspeksi : sembab(-), pucat(-), oedem periorbital(-), sianosis(-), pembuluh darah
mata pecah(-), konjungtiva tidak pucat.
Leher
Inspeksi : bendungan vena jugularis (-)
Palpasi : arteri carotis komunis (frekuensi : normal, kekuatan: normal, irama :
normal).
Dada
Inspeksi : kesimetrisan dada (+)
Palpasi : letak ictus cordis (normal)
Perkusi : batas jantung (normal)
Auskultasi : BJ 1 dan 2 normal, tidak ada kelainan pada bunyi jantung.

2.         Sistem Pernafasan


Hidung
Inspeksi : Nafas cuping hidung(-), Secret / ingus(-), epistaksis(-), polip(-), warna
mukosa(-), oedem pada mukosa(-), kebersihan bersih, intak septumnasi(-), deformitas(-),
naso faringeal tube(-), pemberian O2: nasal, masker(-).
Palpasi : nyeri tekan(-), tidak ada fraktur tulang nasal
Mulut
Inspeksi : mukosa bibir (sianosis (-)), Alat bantu nafas ETT(-), oro faringeal tube(-).
Dada
Inspeksi : penggunaan otot bantu pernapasan (-)
Perkusi : normal
Palpasi : nyeri tekan (-), odema (-)
Auskultasi : normal

3.         Sistem Pencernaan


Anamnesa : Gangguan defekasi (konstipasi)
Mulut
Inspeksi : mukosa bibir normal, labio/palatoschiziz(-), gigi normal, Gusi (berdarah(-),
lesi/bengkak(-), edema(-)), Produksi saliva normal, pembesaran kelenjar parotis(-).
Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut(-), massa(-)
Lidah
Inspeksi : Posisi normal, warna dan bentuk normal, simetris normal, kebersihan bersih,
warna normal, gerakan normal, tremor normal, lesi(-).
Palpasi : oedema(-), nyeri tekan(-)
Faring – Esofagus
Inspeksi : hiperemi(-), warna dan bentuk palatum normal, Tonsil (bentuk, warna dan
ukuran) normal.
Palpasi : pembesaran kelenjar(-)
Abdomen
Inspeksi : pembesaran abnormal (-)
Palpasi :
Kuadran I :
Hepar à hepatomegali(-), nyeri tekan(-), shifting dullness(-)
Kuadran II :
Gaster à nyeri tekan abdomen(-), distensi abdomen(-)
Lien à splenomegali(-)
Kuadran III :
Massa (skibala, tumor)(-), nyeri tekan(-)
Kuadran IV :
Nyeri tekan pada titik Mc Burney(-)
Perkusi : batas – batas hati (tidak ada pembengkakan pada KW1)
Auskultasi : bising usus (-), borborygmi (-), hiperperistaltik (-),hipoaktif(-)

4.         Sistem Perkemihan


Anamnesa : inkontinensia urin (ketidakmampuan seseorang untuk menahan urin yang
keluar dari buli-buli baik disadari maupun tidak disadari).
Laki-Laki :
Penis
Inspeksi : Mikropenis(-), makropenis(-), hipospadia(-), epispedia(-), stenosis meatus uretra
eksterna(-), fistel uretrocutan(-), ulkus(-), tumor penis(-), warna kemerahan(-),
kebersihan(+), adanya luka atau trauma(-).
Palpasi : nyeri tekan(-)
Scrotum
Inspeksi : pembesaran(-), transiluminasi/ penerawangan(-), luka /trauma(-), tanda
infeksi(-), kebersihan(+).
Palpasi : nyeri tekan(-), penurunan testis(-)
Kandung kemih
Inspeksi : tidak adanya massa/ benjolan, pembesaran kandung kemih dan keteganganya(-)
Palpasi : adanya nyeri tekan(-), teraba massa(-)
Ginjal
Inspeksi : pembesaran daerah pinggang (karena hidronefrosis atau tumor di daerah
retroperitoneum)(-).
Palpasi : tidak adanya nyeri tekan abdomen kuadran I dan II diatas umbilikus, suhu kulit
normal, massa(-).
Perkusi : nyeri ketok(-)
5.         Sistem Muskuluskeletal & Integumen
Anamnese : Adanya nyeri di punggung bawah, kelemahan kedua ekstremitas bawah.
Warna kulit
Hiperpigmentasi(-), hipopigmentasi (-), icterus (-), kering(-), mengelupas(-), bersisik (di
sela-sela jari kaki/tangan)(-).
Kekuatan otot :
5 5

3 3
Fraktur : (-)
Luka : (-)
Lesi : (-)

6.         Sistem Endokrin dan Eksokrin


Kepala
Inspeksi : distribusi rambut normal, ketebalan (-), kerontokan(hirsutisme)(-) alopesia
(botak)(-), moon face(-).
Leher
Inspeksi : bentuk normal, pembesaran kelenjar thyroid(-), perubahan warna(-)
Palpasi : pembesaran kelenjar (thyroid, parathyroid)(-), nyeri tekan(-), suhu(+)
Genetalia
Inspeksi : Rambut pubis ( distribusi, ketebalan, kerontokan)normal, kebersihan bersih.
Palpasi : tidak ada benjolan

7.         Sistem Neurologi


Pemeriksaan Nervus 1-12 :
1.        Nervus 1 Olfaktorius :
Normal : klien mampu membedakan aroma( normosmi).
2.        Nervus 2 Optikus :
Tajam Penglihatan : normal
Lapang penglihatan : normal
3.        Nervus 3 Oculomotorius : Normal
4.        Nervus 4 Toklearis : Normal
5.        Nervus 5 Trigeminus : Normal
6.        Nervus 6 Abdusen : Normal
7.        Nervus 7 Facialis : Normal
8.        Nervus 8 Auditorius/ Akustikus :
Pendengaran : Normal
Keseimbangan : Normal
9.     Nervus 9 Glosoparingeal : Normal
10.    Nervus 10 Vagus : Normal
11.    Nervus 11 Aksesorius : Normal
12.    Nervus 12 Hipoglosal/ Hipoglosum : Normal
Reflek Patela : kanan (+), kiri (+)
Reflek Archiles : kanan (+), kiri (+)
Tingkat kesadaran (kualitas) : Compos Mentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab
pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.
Tingkat kesadaran (kuantitas) : E (4), V (5), M (6)

8.         Sistem Reproduksi Laki-laki :


Genetalia
Inspeksi : bentuk normal, rambut pubis normal, kebersihan bersih, odema (-),
varices(-), benjolan(-), luka(-)
Palpasi : benjolan(-)

9.         Sistem Persepsi Sensori


Mata
Inspeksi : Kesimetrisan mata(+), bentuk mata(+), lesi Papelbra ( ukuran, bentuk, warna,
cairan yang keluar ) normal, Bulu mata (penyebaran, posisi masuk : Enteropion, keluar
:ksteropion) normal, produksi air mata normal, Kornea : Normal berkilau, transparan, Iris
dan pupil : warna iris dan ukuran normal, Lensa : Normal jernih dan transparan, Sclera :
warna ( putih).
Palpasi : Teraba lunak, tidak nyeri, palpasi kantong lakrimal(-), pemeriksaan TIO(-).
Hidung
Palpasi : Sinus (maksilaris, frontalis, etmoidalis, sfenoidalis) normal, Palpasi fossa kanina
( tidak nyeri), Pembengkakan (-), Deformitas(-).
Perkusi : pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina kita lakukan apabila palpasi
pada keduanya menimbulkan reaksi hebat (-).

2.2    Diagnosa Keperawatan


1.         Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik
NS. DIAGNOSIS : Nyeri Akut
(NANDA-I)
DEFINITION: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jarigan yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa awitan yang tiba –
tiba atau lambat dari intensias ringan hingga berat dengan akhir yang
dapat diantisipasi atau di prediksi dan berlangsung < 6 bulan.
DEFINING Laporan isyarat, perilaku berjaga-jaga/ melindungi area nyeri, indikasi
CHARACTERISTI nyeri yang bisa diamati, perubahan posisi untuk menghindari nyeri,
CS
fokus pada diri sendiri, melaporkan nyeri secara verbal.
RELATED Agens cedera (mis, : biologis, zat kimia, fisik dan psikologis).
FACTORS:
ASSESSMENT

Subjective data entry Objective data entry

Pasien mengatakan sering mengeluh S : 36°C


nyeri pada daerah punggung bawah
N : 80 x/mnt
dan nyeri semakin hari terasa berat.
P : Trauma (Mengangkat dan TD : 120/80 mmHg
mendorong benda berat).
RR : 20 x/mnt
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk,
sifatnya menetap. BB : 65 Kg
R : Nyeri pada bagian punggung
bawah sampai menjalar ke paha. Skala Nyeri :6
T : nyeri hebat ketika melakukan
Grimace : (+)
aktifitas dan nyeri sedikit berkurang
saat istirahat.
DIA

Client Ns. Diagnosis (Specify):


Diagnostic Nyeri
GNOSIS
Statement: Related to:

Berhubungan dengan agen cedera fisik

2.3    Intervensi Keperawatan


NIC NOC
INTERVENSI AKTIVITAS OUTCOME INDICATOR
     Management 1.     Pengkajian :       Control Nyeri (1605)      Melaporkan

nyeri (1400)       lakukan pengkajian nyeri Definisi : pengontrolan


Definisi : secara komprehensif Aksi individu untuk nyeri (3)
Mengurangi nyeri termasuk lokasi, mengontrol nyeri      Mendeskripsikan

atau menurunkan karakteristik, durasi, faktor penyebab


nyeri ke level frekuensi, kualitas dan (2)
faktor presipitasi      Mengakui
kenyamanan yang
hubungan gejala
diterima oleh pasien.      observasi reaksi non verbal
dari ketidaknyamanan dengan nyeri (5)
      gunakan teknik komunikasi      Mengakui
terapeutik untuk mengetahui serangan nyeri (5)
pengalaman nyeri pasien      Menasehati
      kaji kultur yang pemakaian
mempengaruhi respon nyeri analgesik (4)
     Melaporkan
     Health Education :

      ajarkan tentang teknik non gejala pada tenaga


farmakologi kesehatan (5
      bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
     Kolaborasi :

      evaluasi bersama pasien


dan tim kesehatan lain
tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
      kolaborasikan dengan
dokter jika keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
     Aktifitas Lain :

      kontrol lingkungan yang


dapat mempe ngaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
      tingkatkan istirahat
      berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
HNP adalah keadaan nucleus pulposus keluar menonjol untuk kemudian menekan kea
rah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang sobek. HNP merupakan suatu nyeri yang
disebabkan oleh proses patologis di kolumna vertebralis pada diskus intervertebralis atau
diskogenik.

4.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari tentu banyak kekurangan dan
kejanggalan baik dalam penulisan maupun penjabaran materi serta penyusunan atau
sistematik penyusunan.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
semua. Dan penyusun juga berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua.
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengn Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, Suzane C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8
Vol 3, Jakarta : EGC.