Anda di halaman 1dari 18

Transformasi Fisik Koridor Dipati Ukur, Bandung, Akibat Manifestasi

Transformasi Fungsi Dan Teritori Bangunan

Wanda yovita
25209029, wandayov@yahoo.com

Abstrak
Koridor jalan sebagai ruang publik merupakan salah satu elemen kota. Sebuah koridor
jalan sebagai wilayah umum dapat dilalui oleh berbagai kelompok dan segmen masyarakat.
Akan tetapi apabila pada satu ruas jalan terdapat berbagai fungsi yang sangat berbeda dan
memiliki hirarki teritori yang berbeda juga, hal ini terjadi pada salah satu ruas jalan di kota
Bandung, yaitu di jalan Dipati Ukur. Jalan ini termasuk kelas jalan lokal dengan panjang
400 meter dimana bangunan yang berjajar merupakan bangunan dengan berbagai fungsi.
Perbedaan fungsi yang signifikan dari bangunan hunian yang bersifat privat dan bangunan
komersil yang bersifat publik hingga ruang terbuka. Hal ini menjadi latar belakang
pemilihan lokasi studi terhadap transformasi teritori dan fungsi. Pada awalnya jalan Dipati
Ukur ini kebanyakan terdiri dari rumah tinggal akan tetapi secara perlahan akibat
beralihnya fungsi bangunan menjadi lebih komersil.
Penelitian ini ingin melihat bagaimana transformasi fungsi tadi mampu mempengaruhi
teritori bangunan yang mengapit koridor jalan tersebut. Dengan adanya rumah tinggal yang
masih tersisa di beberapa titik kemudian dibandingkan dengan titik lain yang seluruhnya
berubah menjadi fungsi publik berupa fungsi komersil, maka penelitian ini ingin
membandingkan bagaimana teritori dapat berubah dan berpengaruh terhadap koridor jalan.
Berbagai faktor yang diidentifikasi adalah streetscape jalan, interaksi pedestrian dan
kendaraan dan densitas pengguna jalan yang erat kaitannya dengan perbedaan dan
perubahan fungsi lahan disekitarnya. Berdasarkan elemen-elemen ini kemudian dilihat
bagaimana pengaruh aspek-aspek nonfisik yang merubah fungsi bangunan terhadap wajah
koridor.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam tulisan ini, ditemukan bahwa adanya
transformasi hirarki yaitu teritori yang semakin publik, koridor yang ada di jalan Dipati
Ukur ini semakin buruk karena tidak adanya citra yang baik maupun elemen lansekap yang
diperhatikan. Minimnya jalur pedestrian, intensitas kendaraan yang tinggi, fasad bangunan
yang didominasi oleh iklan dan lain-lain menyebabkan citra koridor ini menurun.
Demikian juga dengan daerah yang merupakan deretan rumah tinggal, halaman berpagar
tinggi merupakan pemandangan yang umum di kawasan ini. Hal ini menunjukkan semakin
tidak bersahabatnya koridor jalan Dipati Ukur, Bandung terhadap orang yang melintasinya.
Hal ini menjadi ironis karena bangunan publik yang menyedot pengguna jalan paling
banyak akan tetapi tidak difasilitasi dengan pencitraan dan penggunaan koridor yang baik.

Kata kunci: transformasi, koridor, teritori, streetscape, fungsi bangunan.

AR 6142 Perancangan dalam Konteks Transformasi, Institut Teknologi Bandung, 2010 1


1. Pendahuluan
Jalan atau koridor merupakan satu elemen pembentuk kota. Jalan sebagai koridor ruang
terbuka kota tidak saja cukup berfungsi sebagai ruang terbuka dan media sirkulasi, akan
tetapi suatu lingkungan yang sangat menarik dan memiliki karakteristik yang didukung dan
dibentuk oleh elemen-elemen pembentuk aktifitas masyarakatnya (Widiangkoso, 2002).
Lynch menyatakan bahwa wilayah jalan terutama jalan publik merupakan area yang dapat
digunakan publik akan tetapi daerah ini terkait dengan dengan wilayah privat apabila
koridor ini berada pada kawasan hunian. Koridor jalan Dipati Ukur merupakan salah satu
ruas jalan yang ada di kota Bandung, yang memiliki keunikan tersendiri, karena fungsi
bangunan yang ada di sekitarnya sangat beragam. Dimulai dari daerah selatan yang
beberapa merupakan rumah tinggal, dan semakin ke utara, area ini semakin publik.
Perbedaan hirarki teritori ini merupakan fenomena yang terjadi di kawasan jalan Dipati
Ukur. Transformasi fungsi dari rumah tinggal (privat) menjadi pertokoan (publik) juga
mempengaruhi teritori dan morfologi fisik koridor jalan ini.
Jalan Dipati Ukur, Bandung merupakan koridor jalan yang sudah ada sejak lama dan
setidaknya telah masuk termasuk dalam perencanaan jalan di tahun 1933-1988 pada jaman
kolonialisasi. Dahulu jalan Dipati Ukur ini bernama Beatrixboulevard. Berdasarkan daftar
bangunan Bandung Heritage (1997) setidaknya ada tiga bangunan hunian di Jalan ini yang
sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun. Pada awalnya kawasan Dago dan sekitarnya
termasuk daerah jalan Dipati Ukur ini merupakan daerah yang dialokasikan untuk rumah
tinggal kaum kolonial dan perkantoran karena letaknya yang strategis dan dekat dengan
pusat pemerintahan yaitu Gedung Sate.

Gambar 1. Daerah Gedung sate dan sekitarnya


Gambar 2. Peta Jalan Beatrix Boulevard atau jalan Dipati Ukur pada tahun 1933-1938 oleh penerbit Drukkerij Visser & Co.
Sumber: Voskuil, 2007
Keberadaan Universitas Padjajaran dan perkembangan perkantoran di sekitar Gedung Sate
secara tidak langsung berimplikasi terhadap perubahan koridor Jalan Dipati ukur yang
pada awalnya kebanyakan berupa rumah tinggal menjadi pertokoan. Jalan ini kemudian
tidak memiliki citra yang baik karena sedikitnya perhatian terhadap pedestrian, parkir dan
elemen lansekap. Secara keseluruhan, semakin ke utara mendekati persimpangan jalan
dengan Jalan Ir. H. Djuanda, maka koridor jalan ini semakin tidak tertata dan memiliki
citra jalan yang baik. Walaupun kelas jalan ini merupakan jalan lokal akan tetapi tidak
sedikit pendatang yang melintasi jalan Dipati Ukur ini karena jalan ini berada di pusat
kota.
Penelitian ini ingin melihat bagaimana sebuah ruas jalan mengalami transformasi spasial
dan teritorial. Jalan atau koridor merupakan milik publik di luar sebuah bangunan yang
dapat diakses terbatas maupun tidak terbatas. Jika dilihat secara kasat mata, terdapat
perbedaan furnitur lansekap yang signifikan pada kelompok rumah tinggal dan pertokoan,
demikian juga dengan intensitas orang atau kendaraan yang melintas.

3
2. Teori dan Kajian Pustaka
Penelitian tentang transformasi fungsi dan teritori koridor jalan Dipati ukur ini terkait pada
tiga hal, yaitu teritori, koridor dan transformasi. Teritori menjadi topik yang diteliti karena
adanya perbedaan wajah koridor yang signifikan dari bangunan privat, bangunan
pertokoan hingga ruang terbuka yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas dan
citra koridor jalan. Melalui perbedaan fungsi bangunan yang ada pada satu ruas jalan, akan
dapat dilihat bagaimana transformasi kawasan yang tadinya diperuntukkan untuk kawasan
hunian hingga menjadi kawasan publik seperti sekarang.
2.1 Teori Teritori
Habraken (1998) menyatakan bahwa teritori adalah kontrol atau wewenang terhadap ruang
atau tempat. Ruang teritori ini muncul karena adanya ruang pribadi oleh subjek yang
memiliki kewenangan tersebut. Kewenangan ini merupakan hak terhadap penggunaan
ruang dan membatasi akses pihak lain yang tidak diinginkan terhadap ruangnya.
Sedangkan menurut Leon Pastalan oleh Lang dalam Hadinugroho (2002), bahwa teritori
adalah ruang terbatas yang digunakan atau dipertahankan seseorang atau sekelompok
orang sebagai ruang yang ekslusif. Teritori melibatkan identifikasi psikologis terhadap
tempat yang dilambangkan dengan sikap dan penataan objek pada areanya. Irwin Altman
dalam bukunya Culture dan Environment menyatakan bahwa perilaku teritorial adalah
mekanisme regulasi terhadap batasan yang melibatkan personalisasi, penandaan tempat
atau objek dan komunikasi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok. Teritori berfungsi
untuk menentukan milik atau siapa yang berkuasa atas tempat tersebut dan untuk
menentukan ruang dan membagi fungsi dari tiap ruang atau lokasi.
Batasan terhadap teritori dapat berbentuk fisik maupun nonfisik. Batas fisik seperti pagar
atau perimeter fisik lainnya dilakukan karena keterbatasan tindakan pemilik teritori untuk
menjaga daerahnya. Pelanggaran terhadap batas fisik ini dapat dengan mudah dilihat
apabila ada pihak lain yang tanpa seijin pemilik teritori, mengakses ruang pribadinya.
Sedangkan batasan yang berupa nonfisik, hal ini merupakan kesepakatan setiap orang agar
klaim terhadap teritorinya lebih absolut. Batas nonfisik ini dapat berupa pengaturan
sesuatu di tempat yang dianggap merupakan teritorinya, penggunaan furnitur arsitektural
atau penggunaan ruang sesuai dengan kehendaknya.
Karakter dasar dari suatu teritori adalah tentang kepemilikan dan tatanan tempat,
personalisasi atau penandaan wilayah secara fisik maupun nonfisik dan aturan atau tatanan
untuk mempertahankan terhadap gangguan. Berdasarkan ini, maka teritori memiliki hirarki
ruang, berupa ruang publik atau privat. Hirarki ini memiliki gradasi dan kedalamannya
akan berbeda untuk setiap objek atau lingkungan binaan tergantung kesepakatan atau
budaya daerah setempat.
Altman dalam Hadinugroho (2002) membagi teritori menjadi tiga kategori yang
dikaitkan dengan keterlibatan personal, kedekatan dengan kehidupan sehari-hari dan
frekuensi penggunaan yaitu teritori primer, sekunder dan publik. Teritori primer adalah
suatu area yang dimiliki atau digunakan secara eksklusif yang disadari oleh orang lain dan
dikendalikan secara permanen serta menjadi bagian utama dalam kegiatan sehari-hari
penghuninya. Sedangkan teritori sekunder adalah area yang tidak digunakan secara
eksklusif oleh seseorang atau kelompok dan areanya lebih luas dari teritori primer
walaupun tetap dikendalikan secara berkala. Teritori publik adalah area yang digunakan
dan dapat dimasuki oleh siapapun akan teteapi dia harus mematuhi norma dan aturan yang
ada pada wilayah tersebut. Dapat disimpulkan bahwa teritori primer lebih bersifat privat
sedangkan teritori publik bersifat untuk umum dan teritori sekunder merupakan gradasi
diantara keduanya. Konsep privasi dan territorial memang saling terkait akan tetapi privasi
lebih menekankan pada kemampuan individu atau kelompok untuk mengontrol daya visual,
audial, dan olfactory dalam berinteraksi dengan sesamanya.
2.3 Teori Koridor
Lynch dalam The Image of The City menunjukkan bagaimana pencitraan sebuah kota.
Pencitraan ini tidak dilakukan secara individual akan tetapi lebih kepada kesan yang
muncul dari banyak orang atau objek yang tidak selalu konkret. Koridor sebagai salah satu
elemen kota yang merupakan teritori publik tapi juga erat kaitannya dengan faktor privat
dari bangunan disekitarnya, merupakan salah satu bentuk pencitraan kota.
Koridor merupakan ruang yang dibentuk dari dua deretan massa (bangunan atau pohon)
baik sejajar maupun tidak. Koridor merupakan salah satu elemen linkage visual yang
menghasilkan hubungan secara visual selain garis, sisi, sumbu dan irama (Zahnd, 1999).

Gambar 3. Skematik Koridor


(sumber: Zahnd, 1999).

Lukman dalam Yoga (2004) menyatakan bahwa koridor adalah lorong yang
menghubungkan antara suatu gedung dengan gedung yang lain, atau jalan sempit yang
menghubungkan daerah terkurung. Koridor merupakan lahan memanjang yang membelah
sebuah kawasan, atau sebuah lorong yang terbentuk oleh fasad atau deretan fasad, dan
bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya. Koridor dapat bersifat alami seperti sungai atau
sengaja terbentuk oleh manusia. Salah satu koridor yang erat kaitannya dengan arsitektur
kota adalah jalan atau transportasi dalam kota (Wihamanto dalam Yoga, 2004).
Koridor yang terbentuk sebagai akibat dari deretan dua massa atau bangunan yang berjajar
menampilkan citra dan kualitas ruang yang secara langsung maupun tidak langsung
dipengaruhi oleh bangunan-bangunan tersebut. Yoga menyatakan bahwa karakter

5
bangunan pada suatu koridor jalan menentukan wajah dan bentuk koridor sebagai akibat
adanya beberapa elemen berikut ini yang terdapat pada bangunan:
• Façade: tampak keseluruhan wajah depan bangunan yang ada disepanjang koridor
yang mampu mewujudkan citra arsitektur.
• Figure Ground: hubungan tekstural antara bentuk yang dibangun (building mass)
dan ruang terbuka (open space) (Zahnd, 2004). Kedua elemen ini membentuk pola
padat-rongga (solid-void)yang memperlihatkan struktur kota dengan jelas.
• Jalur pedestrian yang dilengkapi dengan pengaturan vegetasi sehingga mampu
menyatu terhadap lingkungannya.
Koridor merupakan bagian dari fragmen sebuah kota yang terdiri dari unsur-unsur
pembentuk kota. Unsur-unsur yang membentuk koridor adalah: pola massa dalam koridor,
bentuk dan tatanan massa bangunan dan linkage antar koridor.
Jalan atau koridor ini berkembang sesuai dengan fungsi yang ada disekitarnya. Keberadaan
jalan sebagai sarana mobilisasi, mengakibatkan elemen ini harus fleksibel, baik secara fisik
maupun non fisik. Rishnawati, et al (2008) memaparkan bahwa koridor terdiri dari
berbagai karakteristik yang dapat diuraikan atas peruntukan lahan, figure ground, skala
ruang dan koridor, citra koridor, bangunan, jaringan jalan, pergerakan, perparkiran, dan
perabot jalan.
2.3 Teori transformasi
Definisi transformasi oleh Antoniades (dalam Pratiwi, 2010) adalah proses perubahan
secara berangsur-angsur akibat respon berbagai unsur baik eksternal maupun internal yang
mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses
penggandaan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Transformasi memiliki proses
perubahan yang terjadi perlahan-lahan, komprehensif dan berkesinambungan dan terkait
dengan sistem nilai yang ada di masyarakat.
Fakor-faktor yang menyebabkan transformasi adalah faktor-faktor nonfisik seperti
perubahan sosial, budaya, ekonomi dan politik (Sari, 2007) atau kebutuhan identitas diri,
perubahan gaya hidup dan penggunaan teknologi baru (Habraken, dalam Pakilaran, 2006).
Sumardjan (dalam Maryudi 1999) menyatakan bahwa transformasi yang terjadi dapat
berupa perubahan norma, nilai, pola prilaku, organisasi, susunan, stratifikasi
kemasyarakatan dan lembaga kemasyarakatan. Transformasi yang terkait dengan
lingkungan binaan adalah adanya hubungan antara perubahan aktifitas pengguna, gaya
hidup, nilai-nilai sosial cultural yang menjadi rujukan dan perubahan cara pandang dari
sekelompok masyarakat yang tercermin dari bangunan dan lingkungan binaan.
Memahami transformasi sama dengan memahami pertumbuhan, pembangunan, dan
perkembangan lingkungan binaan, baik bersifat positif berupa kemajuan maupun yang
bersifat negatif berupa stagnansi atau kemunduran. Untuk memahami perubahan maka
ddiperlukan keerangka substtansi tentang apa saja yanng tumbuuh, berkembang
b d dibangunn
dan
ddalam lingkuungan binaan tersebut.
t
DDari berbagaai teori yan ng dikemukakkan di atas dan berdassarkan teori dari elemenn
llingkungan binaan
b yang dikemukakan
d oleh Habrakken (1998) makam penelitiaan ini melihatt
bbagaimana hubungan
h darri dua order yaitu physicaal order dann territorial order o dimanaa
tterritorial ordder dalam wu ujud hirarki dan
d fungsi baangunan mem mpengaruhi physical
p orderr
ddalam wujudd streetscape koridor
k ruas jalan
j yang diiteliti. Streetsscape sebagaii elemen fisikk
kkoridor juga merupakan indikator
i bagaimana terjaddinya hubunggan antara peengguna jalann
yyaitu manussia dengan kendaraan.
k T
Tidak hanya interaksi saaat bergerak di jalurnyaa
mmasing-masinng, akan tetaapi juga baggaimana invasi dari manuusia terhadapp jalan untukk
kkendaraan beermotor dan demikian
d jugaa sebaliknya.

•Perubahan funggsi
publik
•Perubahan hirarki: privat→p
Territorial 
ordeer

•Deensitas penggu una   ‐ Façadee


•‐ Soolid void banggunan   ‐ Perunttukan lahan 
•‐ Jaaringan jalan  ‐ Pergerrakan 
Elemeen  •‐ Perpakiran  ‐ Furnitu
ur jalan 
korido
or nteraksi pedeestrian dan keendaraan 
•‐ In

Diagram 1. Elem
men koridor terkaitt territorial order.

33. Kajian willayah studi


JJalan Dipati Ukur ini merrupakan jalann yang sudah cukup lama berada di Baandung. Jalann
iini menghubbungkan jalan n Suci dengaan Simpang Dago. Koriddor jalan Dippati Ukur inii
ddikelilingi oleh
o bangunaan dengan berbagai
b maccam fungsi, dari fungsi perumahan,,
kkomersial hinngga pendidikkan. Keragamman fungsi yang terdapat pada sebuahh ruas koridorr
sepanjang ±4400 meter ini merupakan salah
s satu haal yang melataarbelakangi penelitian
p ini..
Setidaknya adda tiga pergu
uruan tinggi yang
y ada diseppanjang ruas jalan ini yaittu Universitass
ppadjajaran, UNIKOM
U dan
d ITHB. Tepat
T di deppan Universsitas Padjajarran, terdapatt
MMonumen Peerjuangan Raakyat Jabar yaang kini meruupakan ruangg terbuka yanng digunakann

7
oleh masyarakat. Kendaraan yang melintasi jalan ini terdiri dari kendaraan pribadi dan
angkutan umum, akan tetapi semakin ke arah selatan, maka angkutan umum yang melintas
semakin sedikit.

Simpang Dago

Ruas Jalan dengan


sebagian besar
pertokoan

Ruas jalan dengan


fungsi pendidikan dan
ruang terbuka

Universitas Padjajaran

Ruas Jalan yang


terdiri dari
perumahan dan
pertokoan

U
Simpang Jalan
Surapati

Gambar 4. Peta Jalan Dipati Ukur


(sumber: Google Earth, 2007).

Apabila dilihat secara segmentasi, maka sepanjang jalan Dipati Ukur ini memiliki
perbedaan tipologi bangunan yang mencolok. Dari arah Selatan, jalan Dipati Ukur ini
bersimpangan dengan jalan Surapati yang sekarang merupakan bagian dari jalan layang,
masih terdapat beberapa rumah tinggal berpagar yang intensitas pengguna kendaraan,
angkutan umum atau pejalan kaki tidak sebanyak dengan jumlah yang ada di bagian utara.
Hal ini terkait dengan fungsi bangunan di sisinya yang memang cenderung privat.
Perbedaan lebar jalan di setiap ruas persimpangan satu dengan lainnya juga menunjukkan
bahwa adanya kapasitas kendaraan yang berbeda yang melintasi jalan ini. Sedangkan di
bagian ruas jalan Hasanudin dan Teuku Umar, kedua sisi ruas jalan ini didominasi oleh
keberadaan Universitas Padjajaran dan ruang terbuka berupa Monumen Perjuangan Rakyat
Jawa Barat. Jalan raya yang ada di antara kedua objek ini terdiri dari jalur dua arah yang
terpisah dan lebar jalan yang paling besar di antara segmen jalan lainnya. Sedangkan
segmen terakhir adalah segmen dari simpang jalan Teuku Umar hingga Simpang jalan H.
Djuanda atau jalan Dago yang hampir keseluruhan fungsi bangunannya adalah bangunan
komersil. Arus lalu lintas terpadat juga terjadi di segmen jalan ini.

Gambar 5 dan 6. Perumahan di jalan Dipati Ukur bagian selatan


(sumber: Bandung Heritage, 2009).

Gambar 7 dan 8. Keadaan jalan Dipati Ukur bagian tengah


(sumber: dokumen pribadi, 2010).

9
Gambar 9 dan 10. Keadaan jalan Dipati ukur bagian utara
(sumber: dokumen pribadi, 2010).

Dalam Poerbo (2006), jalan Dago yang berada pada satu wilayah dengan jalan Dipati Ukur,
pada skala RUTRK 1:50,000, daerah ini diklasifikasikan sebagai area residensial. Akan
tetapi pada RDTRK di skala 1:25,000, daerah ini diklasifikasikan sebagai “floating zone”,
sedangkan pada RTRW di skala 1: 10, 000, daerah ini diklasifikasikan sebagai daerah
servis. Mengacu pada jalan Dago yang berpotongan dengan jalan Dipati Ukur sebagai
boulevard, maka peraturan wilayah yang tidak konsisten dan detail ini menyebabkan
berbagai fungsi yang ada pada wilayah khususnya koridor jalan ini menjadi tidak
beraturan.

4. Pembahasan
Berdasarkan kajian teori dan keadaan wilayah studi, maka penelitian ini fokus kepada
bagaimana transformasi fungsi bangunan di sepanjang koridor jalan mempengaruhi teritori
atau perubahan gradasi dari publik hingga ke privat. Berbagai elemen fisik koridor yang
terkait dengan pendefinisian hirarki teritori bangunan menjadi variabel-variabel penentu
bagaimana hubungan antara transformasi fungsi dan teritori. Akan tetapi variabel-variabel
elemen koridor yang ada pada kajian teori tidak keseluruhan digunakan dalam penelitian
ini, melainkan dibatasi pada tiga elemen yang dapat diidentifikasi secara cepat yaitu
streetscape jalan, interaksi pedestrian dan kendaraan dan densitas pengguna jalan.
• Streetsscape jalan, terkait dengan:
• Interakksi pedestrian dan kendaraan, dan
• Densittas pengguna jalan
j

Diagrram 2. Variabel pennelitian

PPenelitian inni akan meliihat perbedaaan variabel koridor jalann antara berrbagai fungsii
bbangunan teerkait untuk melihat peerbandingan transformasi antara berbbagai fungsii
bbangunan terrsebut. Penelitian ini meengobservasi bagaimana pencitraan koridor k yangg
semakin buruuk terkait denngan perubahaan fungsi banngunan yang parsial
p dan tiddak terencanaa
secara terinteegrasi sehingga koridor inni tidak mem miliki ‘wajah’ yang baik. Perbandingan
P n
aantara setiapp variabel pada
p fungsi bangunan yang berbeda-beda kem mudian akann
ddibandingkann untuk melihat baagaimana citra c koridoor semakinn menurun..
PPengaruh-penngaruh nonfissik seperti sossial, ekonomi, budaya dan politik akan dikorelasikann
ddengan hasil pengamatan pada
p setiap vaariabel-variabbel tersebut.
DDalam peneliitian ini, peng gamatan dibaatasi pada tigaa unsur koriddor yaitu streeetscape jalan,,
iinteraksi peddestrian dan kendaraan dan densitass pengguna jalan yang diidentifikasii
bberdasarkan furnitur jalan n. Furnitur jalan merupaakan elemen fisik koridorr yang dapatt
ddiidentifikasii secara kasatt mata sedanggkan peruntukkan lahan daan interaksi peedestrian dann
kkendaraan merupakan
m eleemen yang leebih fungsionnal dan bersiifat nonfisik. Untuk lebihh
mmemudahkann pengelompokan hasil penelitian,
p m
maka setiap elemen
e yangg diteliti tadii
ddsiamati berddasarkan atas tiga segmen yaitu:
y
A
A. Ruas jalann dari persim
mpangan jalann DR. H. Juaanda hingga persimpangan
p n jalan Teukuu
U
Umar;
B
B. Simpang jalan Teuku Umar
U hingga simpang
s jalann Hasanuddin;
C
C. dan simpaang jalan Hasaanuddin hinggga persimpanngan jalan Surrapati.
44.1 Streetscaape jalan
BBeberapa rum
mah tinggal yang
y masih berfungsi
b sebaagai hunian memiliki
m jaraang bangunann
ddengan banguunan di depan
nnya yang lebbih lebar dibaandingkan denngan bangunaan pertokoan..

11
JJarak bangunnan hunian deengan batas pagar sebagai pembatas territorinya beradda pada jarakk
sekitar 3-7 meter.
m Batas teritori
t yang digunakan oleh bangunann hunian ini adalah pagarr
bbesi atau paagar tanaman n. Hampir keeseluruhan bangunan
b hunnian mengguunakan pagarr
sebagai batass fisik bangun
nannya. Disini dapat dilihaat bahwa denggan penggunaaan batas fisikk
sebagai batass teritori, maaka penjagaann atau pengaawasan terhaddap daerah teeritori rumahh
ttinggal pada koridor jalan Dipati Ukur cukup tinggii. Hal ini diinndikasikan kaarena semakinn
ppubliknya koridor ini terhaadap umum.
Sedangkan dengan
d streetsscape jalan, umumnya
u jalaan yang beradda di depan hunian
h masihh
ttetata baik. Khususnya
K untuk ruas jallan pada segmen C yaituu dari persim mpangan jalann
HHasanuddin hingga persiimpangan jalan Surapati terdapat trootoar, pagar dan selokann
sebagai elemmen hardscapee dengan bataas yang jelas. Sedangkan untuk
u elemen softscape, dii
rruas jalan inii memiliki ban nyak pohon dan
d semak yaang menunjukkkan kenyamaanan berjalann
ddi sepanjang koridor sisi inni.

Gambar 11. Potongan Jalan Dipati Ukur di segmen C dengan tipologi bangunan
b hunian.
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

Gaambar 12 san 13. Keadaan


K jalan Dipaati Ukur di segmenn C
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).
UUntuk rumahh tinggal yang g ada di ruas jalan DR. H. Juanda
J hinggaa persimpanggan jalan
TTeuku Umar, keadaan streetscape di deppan rumah tinnggal yang adda di daerah inni
kkualitasnya leebih buruk daaripada yang berada
b di segm
men C. Hal inni dikarenakaan banyaknya
jjumlah pedaggang kaki lima yang mengiinvasi daerah badan jalan untuk u berjualan, sehingga
bbeberapa elemmen streetscape dirusak ataau dihilangkaan. Selain itu karena
k adanyya fungsi
kkomersil yangg ada di sisi jalan yang berrdekatan denggan rumah tinnggal menyebbabkan
kkendaraan yaang memiliki keperluan
k traansaksi ekonomi di pertokooan yang tidakk memiliki
ttempat parkirr khusus, terpaksa parkir dii depan rumahh tinggal lainn dan menyeroobot badan
jjalan.

Gambaar 14. Potongan Jaalan Dipati Ukur dii segmen A dengann tipologi bangunaan hunian dan perttokoan.
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

Gaambar 15 dan 16. Keadaan


K jalan Dippati Ukur di segmeen A
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).
PPada segmenn A, tipologi bangunan
b yang ada sangat beragam.
b Hall ini juga mennyebabkan
kkeberadaan sttreetscape yan ng ada sepanjjang koridor tidak
t seragam
m akan tetapi tergantung
t
ddari tipologi bangunan
b yan
ng ada di sisinnya. Streetscaape yang padaa sisinya terdaapat rumah
ttinggal, masihh lebih baik dibandingkan
d streetscape yang
y terdapat pada pertokooan. Tidak

13
hhanya dilengkkapi dengan pohon
p akan teetapi pengelollaan utilitas seperti salurann air juga
mmasih terjagaa.

Gam
mbar 17. Potongan Jalan Dipati Ukurr di segmen A denngan tipologi pertokoan di kedua sisiinya.
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

Gambar 18 dan 19. Keadaan


K jalan Dipaati Ukur di segmenn A
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

PPada gambar di atas dapatt dilihat bahw wa tidak ada peerencanaan sttreetscape yanng berarti
uuntuk pengguuna jalan. Dem mikian juga untuk
u keberaddaan utilitas, pada
p segmen jalan
j
kkhususnya di depan pertok koan, kebanyaakan tidak dipperhatikan sehhingga jalan ini
i rawan
bbanjir dan tiddak sehat. Hall ini menunjukkkan tidak addanya kontrol atau tidak adda kontribusi
ddari pemilik bangunan
b yan
ng ada di sisi koridor khusuusnya bangunnan pertokoann. Semakin
ppublik fungsii bangunan yaang ada di sisii koridor, makka penguasaaan teritorinya secara
ddefinitif terhaadap jalan yan
ng ada didepaannya semakiin tidak diperhhatikan. Secaara fungsi,
ppenguasaan teeritori bangun nan pertokoann menjadi lebbih tinggi kareena berbagai pengguna
p
jjalan yang terrkait dengan aktivitasnya
a d
dengan pertokkoan menggunnakan badan jalan
j untuk
kkeperluan parrkir, berjalan atau menyeroobot badan jaalan.
Sedangkan unntuk ruas jalaan B yaitu dari Simpang jaalan Teuku Umar
U hingga simpang
s jalann
HHasanuddin tidak terdapaat rumah tingggal melainkkan hanya adda Universitaas Padjajaran,,
rruang terbukaa Monumen Perjuangan
P Raakyat Jawa Barat
B (MPRJB B) dan beberappa retail kecill
llainnya. Streetscape yang
g ada pada seegmen ini terrdiri dari harddscape akan tetapi minim m
softscape karrena kebanyakkan elemen jaalan terbuat daari perkerasann.

Gambar 20. Potonngan Jalan Dipati Ukur


U di segmen B
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

Gambar 21 dan 22.


2 Jalan Dipati Ukkur di segmen B.
(sumberr: dokumen pribadi, 2010).

DDari berbagaai perbedaan kelengkapann streetscape pada beberaapa segmen jalan maupunn
ttipologi banggunannya, dappat disimpulkkan bahwa sem makin privat fungsi banguunan yang adaa
ddi sisi koridoor, maka keb beradaan elemmen streetscaape-nya jugaa semakin lenngkap. Tidakk
hhanya pada saatu tipologi bangunan
b sajaa, akan tetapi apabila pada kawasan terssebut terdapatt
ttipologi banggunan yang reelatif sama hirarkinya, yaittu privat, makka keadaan sttreetscapenyaa
jjuga semakinn baik. Bebed da halnya dengan segmen jalan
j yang dikkelilingi banggunan publik,,
mmaka keberaadaan streetsccapenya jugaa semakin buuruk dan tidaak lengkap. Hal ini jugaa
ddipengaruhi unsur tidak adanya rasa memiliki attau privatisassi dari banguunan tersebutt
sehingga tidaak mempeduliikan kualitas streetscape-nyya.

15
4.2 Interaksi pengguna jalan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai keberadaan streetscape jalan, maka hal
tersebut terkait dengan interaksi pengguna jalan terutama pedestrian dan kendaraan. Pada
segmen jalan A, jalur pedestrian banyak diinvasi oleh kendaraan bermotor. Tidak adanya
batas yang jelas untuk pejalan kaki dan kebutuhan tempat parkir untuk kendaraan
menyebabkan lahan untuk jalan pedestrian terpinggirkan. Sedangkan untuk segmen C yang
sebagian fungsi bangunannya masih berupa rumah tinggal, interaksi pengguna jalan
dengan kendaraan menjadi lebih aman karena adanya separator berupa trotoar yang
berbeda ketinggian dengan jalan raya.

Gambar 23 dan 24. Jalan dengan trotoar menjadi jalan tanpa trotoar karena fungsi bangunannya berubah.
(sumber: dokumen pribadi, 2010).

Hal ini menjadi patut diperhatikan mengingat fungsi komersil yang mengundang banyak
orang dan kendaraan, akan tetapi tidak disertai dengan perencanaan badan jalannya.
4.3 Densitas pengguna
Pengguna jalan pada segmen A dan B memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan
dengan segmen C. Walaupun berada pada satu koridor jalan akan tetapi perbedaan
kendaraan yang melintas dalam hal jumlah cukup signifikan. Segmen A dan B dilalui oleh
lima hingga enam angkutan kota berupa mobil minibus ditambah dengan bis umum.
Sedangkan segmen C tidak dilalui oleh kendaraan umum dan jumlah kendaraan bermotor
yang melintasi daerah ini juga lebih sedikit. Secara logis dapat dikatakan bahwa karena
kebanyakan bangunan yang ada di segmen C lebih privat, maka kendaraan yang lewat atau
berkepentingan di depannya juga menjadi lebih sedikit.
Kelengkapan streetscape koridor di segmen C tidak diimbangi dengan jumlah pengguna
jalur pedestrian yang tidak terlalu banyak dibandingkan dengan dua segmen lainnya akan
tetapi segmen A dan B ini tidak memfasilitasi pedestrian. Orientasi terhadap kendaraan
bermotor menjadi salah satu faktor penyebab kacaunya keadaan koridor di segmen ini.
5. Kesimpulan
Dari transformasi beberapa bangunan yang ada di sepanjang korior Dipati Ukur yaitu
rumah tinggal menjadi fungsi komersil atau pertokoan, hal ini tidak diikuti dengan
perencanaan kawasan secara terintegrasi. Karena perubahan fungsi ini, maka terjadi juga
transformasi streetscape dan kualitas koridor yang kualitasnya semakin menurun.
Transformasi fungsi ini mengindikasikan perubahan teritori atau klaim bangunan terhadap
badan jalan yang ada di depannya. Umumnya bangunan yang berubah dari rumah tinggal
menjadi komersil mengurangi batasan fisik teritori privatnya dengan tidak lagi
menggunakan pagar dan mengembangkan atau membangun bangunan mendekati ROW
atau Right of Way. Akibat fungsinya menjadi komersil, maka bangunan yang awalnya
merupakan bangunan privat dengan streetscape rumah tinggal, menjadi bertransformasi
dengan pengurangan elemen-elemen streetscape seperti pagar, pohon, selokan dan lain-lain.
Klaim terhadap badan jalan sebagai bagian dari teritorinya dapat dilihat dari penggunaan
badan jalan untuk parkir, loading barang, maupun perluasan lahan bangunannya sendiri.
Sedangkan beberapa rumah tinggal yang masih bertahan, umumnya keadaan koridor jalan
di bagian ini masih lebih baik.
Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya batas teritori yang jelas berupa streetscape
seperti pagar rumah, selokan atau trotoar ternyata menyebabkan penguasaan terhadap
lahan memang dibatasi, akan tetapi kontrol terhadap fungsi yang terdapat pada jalan raya
di depannya masih ada dan terkendali. Hal ini berbeda dengan bangunan komersil yang
tidak memiliki atau ada keengganan untuk mengontrol apa yang terjadi pada ROW yang
ada di depannya demi kepentingan sendiri sehingga wajah koridor menjadi tidak beraturan.
Pemintakatan secara detail yang jelas antara berbagai fungsi bangunan dan fasilitasnya
juga menjadi penting agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi yang menyebabkan satu
fungsi bangunan menjadi terganggu akibat adanya bangunan lain. Peraturan
pemintakatakan wilayah juga seharusnya mampu mengakomodasi transformasi yang
terjadi pada wilayahnya, baik fisik, lingkungan maupun budayanya.

Daftar Pustaka
Altman, Irwin. 1980. Culture dan Environment. Cambridge University Press: Belmont.
Eben Saleh, Mohammed Abdullah. 2002. The transformation of residential neighborhood: the emergence of
new urbanism in Saudi Arabian culture. Building and Environment, Volume 37, Issue 5, May, Pages
515-529.
Hadinugroho, Dwi Lindarto. 2002. Jelajah Pembentukan Tempat pada Rumah Jawa, Dengan Pendekatan
Teritorial Behaviour. Lecture papers. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1312.
Habraken, N. J. (1998), The Structure of The Ordinary : Form and Control in the Built Environment, The MIT
Press, Massachusetts.
Poerbo, Heru. (2006). Coping with the Commodification of Culture in Bandung : an Urban Design Control
Approach. Proceedings, International Seminar on Urban Culture, Arte-Polis: Creative Culture and the
Making of Place Department of Architecture, School of Architecture, Planning, and Policy Development,
Institute of Technology Bandung. ISBN 979-25-0422-2. 21-22. July.
Jacobs, Allan B. 1993. Great Streets. Massachusetts Institute of Technology.
Moughtin, Clief. 2003. Urban Design: Street and Square. Architectural Press: London.
Maryudi,R. Sanny. 1999. Transformasi Morfologi Rumah dan Lingkungan Kawasan Gempol Bandung. Tesis
Master, Program Studi Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.
Rishnawati, Evy, et al. 2008. Pelestarian koridor Jl. Jaksa Agung Suprapto Kota Malang. Arsitektur e-journal,
vol. 1, No. 2.

17
Widiangkoso, G. Epri. (2002) Morfologi Kampung Melayu, Studi Kasus: Morfologi Koridor Layur, Semarang.
Tesis Universitas Diponegoro.
Yoga, Prakarsa. (2004) Citra Koridor Jalan Jend. Sudirman Antara Kawasan Pasar Gedhe Hardjanagara
dengan Kawasan Kraton Surakarta Hadiningrat. Tesis Universitas Diponegoro.
Zahnd, Markus. (1999). Perancangan Kota Secara Terpadu. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.