Anda di halaman 1dari 21

Laporan Penelitian

RUSAKNYA JIWA AGAMA DAN MORAL PADA KALANGAN REMAJA


DENGAN MARAKNYA EDARAN NARKOTIKA DI ZAMAN SEKARANG
(Studi Kasus di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Agama Islam

DOSEN PENGAMPU: Dr. MOHAMMAD AL FARABI, M.Ag

DISUSUN OLEH:
Sem. V/PAI-5

UMMI AIDA ADLINA SIREGAR (0301173509)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang
berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi).
Psikologi atau ilmu jiwa sebagai salah satu disiplin ilmu yang otonom, memiliki
keterkaitan dengan masalah- masalah yang menyangkut kehidupan batin manusia
yang paling dalam, yaitu agama. Maka dari psikologi ini pula kemudian lahir
cabang ilmu yaitu tentang psikologi agama. 1 Psikologi agama merupakan cabang
psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam
hubungannya dengan keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam
kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari
tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi dan
penelaahan tersebut merupakan kajian empiris.
Secara etimologi agama adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan. 2 Agama
mempunyai arti penting bagi kehidupan beragama. Agama dapat memberikan
bimbingan yaitu pengalaman yang telah ditanam dari sejak kecil sehingga dari
keyakinan dan pengalaman tersebut akan memudahkan dalam menghadapi
persoalan lalu agama juga dapat menjadi penolong dalam kesukaran biasanya
ketika menghadapi kekecewaan agama dapat menentramkan jiwa seseorang. 3
Masyarakat yang beragama pun tidak bisa menghindari adanya gaya hidup
modern yang masuk ke dalam masyarakat dan dapat berpengaruh terhadap
individu yang ada di dalamnya. Tentunya bagi usia remaja atau usia muda yang
masih labil dalam sikap dan mentalitas mereka. Di mana usia itu masa transisi
pencarian jati diri dalam segala segi masa yang penuh goncangan jiwa masa
berada dalam peralihan yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh
kebergantungan dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.
Pada kenyataannya remaja belum mampu untuk menguasai psikisnya
sebab mereka masih termasuk golongan anak-anak yang pada umumnya masih

1
Jalaluddin, Psikologi Agama, Ed. Revisi-10, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 7.
2
M. Sastrapratedja, (ed). Manusia Multi Dimensial; Sebuah Renungan Filsafat (Jakarta:
Gramedia, 1983), hlm. 38.
3
Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (Jakarta: P.T Gunung Mulia,
1988), h. 56.

1
belajar di sekolah atau perguruan tinggi golongan remaja masih labil terkadang
melakukan tindakan yang menyimpang dari norma agama misalnya remaja yang
menyalahgunakan narkoba. Remaja yang melanggar berbagai norma yang ada
dalam agama tentunya mereka akan terbelit dalam kehidupan batin yang baru di
satu sisi mereka adalah makluk Tuhan yang dibekali dengan potensi iman namun
sisi lain mereka sudah melakukan berbagai tindakan yang menyalahi tuntunan
ajaran agama.5
Zakiyah Dradjat menyebutkan kesanggupan untuk menyesuaikan diri akan
membawa orang kepada kenikmatan hidup dan terhindar dari kecemasan,
kegelisahan dan ketidakpuasan. Disamping itu ia penuh dengan semangat dan
kebahagiaan dalam hidup.6 Jika kemudian manusia tidak mampu menyesuaikan
diri maka terjadilah yang tidak diingin-inginkan. Zakiyah Daradjat menyebutkan
cirinya yakni meninggalkan keluarga menuju kelompok bermain disitulah terjadi
pergeseran nilai-nilai agama, dengan kondisi jiwa yang demikian agama
mempunyai peran penting dalam kehidupan remaja. Kadang-kadang keyakinan
remaja tidak tetap bahkan berubah sesuai dengan perasaan yang dilaluinya. Untuk
itu sebagai orang tua kita harus mendidik anak kita dengan menanamkan nilai-
nilai agama agar anak-anak kita tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang oleh
agama kita.
Penelitian ini berawal dari keingintahuan penulis mengetahui bagaimana
remaja di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang bisa terjerumus
dalam penyalahgunaan narkoba sehingga menyebabkan krisis akhlak dan moral
pada diri mereka. Berdasarkan masalah dan fenomena tersebut, peneliti merasa
tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Rusaknya Jiwa Agama
dan Moral pada Kalangan Remaja dengan Maraknya Edaran Narkotika di
Zaman Sekarang di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian di atas, masalah penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan remaja di Desa Kolam sampai terjerumus dalam
penyalahgunaan narkotika sehingga menyebabkan rusaknya jiwa Agama dan
Moral?

2
2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan remaja di Desa Kolam sampai
terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika sehingga menyebabkan rusaknya
jiwa Agama dan Moral?

C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab remaja
di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang sampai terjerumus dalam
penyalahgunaan narkotika sehingga menyebabkan rusaknya jiwa Agama dan
Moral dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan remaja di Desa Kolam
terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis
maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat dalam rangka
memberikan gambaran tentang bagaimana remaja di Desa Kolam Kec. Percut Sei
Tuan Kab. Deli Serdang sampai terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika
sehingga menyebabkan rusaknya jiwa Agama dan Moral dan faktor-faktor apa
saja yang menyebabkan remaja di Desa Kolam terjerumus dalam penyalahgunaan
narkotika. Sedangkan secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi kita semua
terkhususnya remaja agar dapat jauh dari penyalahgunaan narkoba.

3
BAB II
KONSEP DAN HIPOTESIS/KAJIAN TEORI

1. Agama dalam Perspektif Psikologi


W. H. Clark mendefenisikan agama dalam persepktif psikologi sebagai
pengalaman batin seseorang yang dibuktikan dengan pengalaman tingkah lakunya
untuk menyerapkan hidup meskipun demikian W. H. Clark juga mengungkapkan
dengan tegas bahwa tidak ada yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang
dapat digunakan untuk membuat defenisi agama.
Menurut Jalaludin Rahmat keberagamaan adalah terjemahan dari
“religiusitas” yaitu perilaku yang bersumber langsung maupun tidak langsung
kepada ajaran agama yang meliputi banyak unsur misalnya keanggotaan gereja
keyakinan terhadap doktrin agama etika hidup dan kehadiran dalam acara
peribadatan. Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa ada dua kajian agama ajaran
dan keberagamaannya. Ajaran lisan atau tulisan yang sakral menjadi sebuah
pedoman bagi pemeluk agama keberagamaan perilaku yang bersumber langsung
atau tidak langsung ajaran agama sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan
yang ada dalam diri seseorang berdasarkan pada ketaatan terhadap agama yang
dianutnya.
Keberagamaan berasal dari bahasa latin religio yang berarti agama;
kesalehan, jiwa, keagamaan.4 Adapun “keagamaan” berasal dari kata “agama”
yaitu kebutuhan jiwa (psikis) manusia yang menyatu dan mengendalikan sikap
pandangan kelakukan dan cara menghadapi setiap permasalahan. 5
Allport mendefenisikan dua tipe keberagamaan yaitu intrinsik dan
ekstrinsik. Keberagamaan ekstrinsik yaitu agama yang dimanfaatkan agama
berguna untuk kepercayaan diri memperoleh status bertahan melawan kenyataan
atau memberi sangsi pada suatu cara hidup. Keberagamaan intrinsik adalah agama
yang dihayati iman dipandang sebagai suatu pada diri sendiri yang menuntut pada
keterlibatan dan mengatasi kepentingan diri. 6

4
K. C. M, Prent, dkk, Kamus Latin-Indonesia (Semarang: Kanisius, 1969), hlm. 733.
5
Zakiah Darajat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental (Jakarta: Bulan Bintang,
1982), hlm. 52.
6
Robert W. Crapp, Dialog Psikologi dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 180.

4
2. Jiwa Agama pada Masa Remaja
a. Pengertian Remaja
Pada sejarahnya posisi remaja berada dalam tempat marginal, karena untuk
dikatakan dewasa membutuhkan banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk
bisa dikategorikann dewasa, sehingga remaja lebih mudah dikategorikan sebagai
anak daripada dewasa. Masa remaja adalah masa yang seolah-olah tidak memiliki
tempat yang jelas, ia tidak termasuk golongan anak juga tidak termasuk golongan
dewasa. Karena remaja belumlah mampu menguasai fungsi fisik maupun
psikisnya, oleh karena itu masa remaja biasa kita dengar sebagai masa transisi
atau masa peralihan. Kata remaja didefenisikan sebagai tahap perkembangan
transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan pada umumnya masa remaja
dibagi menjadi 3 diantaranya yaitu:
b. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak dan
berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak
tergantung pada orang lain.
c. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)
Pada masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang
baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu
sudah lebih mampu mengarahkan dirinya sendiri.
d. Masa Remaja akhir (18-21 tahun)
Pada masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran
orang dewasa.

b. Ciri-ciri perkembangan jiwa keagamaan pada remaja


Menurut Zakiyah masih ada beberapa patokan umum yang menjadi ciri
yang dialami oleh remaja dalam perkembangan jiwa keagamaannya, antara lain
sebagai berikut:
1. Pertumbuhan jasmani secara cepat telah selesai
Hal ini berarti bahwa dari segi jasmanianh mereka telah matang. Artinya
segala fungsi jasmaniah mulai atau telah dapat bekerja. Kekuatan jasmani

5
mereka dapat dianggap sama dengan orang dewasa demikian pula segi seks.
Mereka telah mampu berketurunan. Pertumbuhan jasmani dari luar dan dalam
yang telah matang itu akan mengakibatkan timbulnya dorongan seks, yang
perlu mendapat perhatian.
1. Pertumbuhan kecerdasan hampir selesai
Pada usia remaja, mereka telah mampu memahami hal-hal yang abstrak
dan sekaligus telah mampu mengambil kesimpulan abstrak dari sesuatu yang
bersifat indrawi. Sebagai akibat dari kematangan kecerdasan itu, mereka
selalu menuntut penjelasan yang masuk akal terhadap setiap ketentuan hukum
agam yang dibawakan kepadanya.
2. Pertumbuhan pribadi belum selesai
Hal ini berarti bahwa dalam usia ini, pribadi mereka masih mengalami
kegoncangan dan ketidak pastian. Dari segi jasmaniah mereka merasa cukup
matang dan seperti orang dewasa demikian pula dalam hal kecerdasan mereka
merasa telah mampu berfikir objektif dan dapat mengambil kesimpulan. Pada
masa muda digambarkan sebagai gerak peralihan dari cara berfikir konkret ke
cara berfikir proposisional. Akan tetapi mereka belum mampu berdiri sendiri
belum sanggup mencari nafkah untuk membiyayai sendiri segala
kebutuhannya.
3. Pertumbuhan jiwa sosial masih berjalan
Pada umur ini, mereka merasa betapa pentingnya pengakuan sosial bagi
remaja. Mereka kan merasa sangat sedih apabila diremehkan atau dikucilkan
dari masyarakat dan teman-temannya. Karena itu mereka tak mau ketinggalan
dari mode atau kebiasaan teman-temannya. Erik Erikson telah menekankan
sifat krisis pergulatan orang muda untuk menemukan identitas dan
mengutarakan kebutuhan untuk menyelesaikan perjuangan itu dengan
mendapatkan rasa cukup atas harga diri, peran untuk berhubungan dengan
orang lain.
4. Keadaan jiwa agama yang tak stabil
Remaja pada umur-umur ini mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan
beragama. Misalnya, mereka kadang-kadang sangat tekun menjalankan

6
ibadah tetapi pada waktu lain, enggan melaksanakannya bahkan mungkin
menunjukkan sikap seolah-olah anti agama.

c. Sikap Remaja terhadap Agama


Para ahli jiwa tidak mempunyai kata sepakat tentang berapa lamanya masa
remaja tersebut sama antara satu anak dengan lainya, ada yang dimulia dari 12
tahun dan ada yang sampai 15 tahun. Menurut W. Starbuck perkembangan itu
adalah:
a. Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dasar keyakinan beragama beragama yang diterima remaja dari masa
kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap
aaran agama mulai timbul. Selainmasalah agama mereka pun sudah tidak
tertarik lagi dengan kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma kehidupan
lainya.
b. Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja, perasaan sosial,
etis, dan estesis mendorong remaja untuk menghayati kehidupan yang
terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan mendorong dirinya
lebih dekat kearah hidup yang religius pula bengitu pun sebaliknya.
c. Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan pada remaja yang ditandai oleh adanya pertimbangan
sosial. Kehidupan keagamaan mereka timbul komplek antara pertimbangan
moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena
kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi.
d. Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan
usaha untuk mencari sebuah proteksi.
e. Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama ibadah dan masalah doa dan
sebagainya yang mereka terima mengalam konflik dan keraguan, sehingga
mereka selalu merasa dihadapkan kepada pemilihan antara yang mana yang
baik dan buruk, serta antara yang benar dan salah.

7
Konflik ini ada beberapa macam diantaranya:
1. Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
2. Konflik yang terjadi antara memiliki satu diantara dua agama atau ide
keagamaan serta lembaga keagamaan.
3. Konflik yang terjadi antara ketaatan beragama atau sekularis.
4. Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa laludengan
kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk illahi. Sikap Remaja
Terhadap Agama Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan dapat
dikatakan sangat bergantung pada kebiasaan masa kecil dan lingkungan
agama yang mempengaruhi besar kecil mereka terhadap masalah keagamaan.
Menurut Zakiah membagi sikap remaja terhadap masalah keagamaan
sebagai berikut:
a. Percaya turut-turutan
sesungguhnya kebanyakan remaja percaya kepada tuhan dan menjalankan
ajaran agama adalah mereka yang terdidik dalam lingkungan yang beragama,
teman-teman dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah. Oleh karena itu,
mereka pun ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran - ajaran agama,
sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana dia hidup. Kepercayaan seperti
inilah yang disebut kepercayaan yang turut -turutan.
b. Percaya dengan kesadaran
Kesadaran atau semangat keagamaan pada masa remaja dimulai dengan
kecenderungannya untuk meninjau dan meneliti ulang cara ia beragama
dimasa kecil dulu, oleh karena itu, ia tidak mau lagi beragama sekedar ikut-
ikutan saja. Biasanya, semangat keagamaan itu tidak terjadi sebelum umur 17
atau 18 tahun. Semangat keagamaan itu mempunyai dua bentuk yaitu
semangat kuratif.
c. Percaya tetapi bimbang
Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama, anatar satu dengan
lainya sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Ada yang mengalami
kebimbingan ringan, yang dengan cepat dapat diatasi dan adayang sangat
berat sampai membawanya berubah agama.

8
3. Penyalahgunaan Narkotika pada Remaja
1. Penyalahgunaan Narkotika
Penyalahgunaan narkotika berasal dari dua kata yaitu salah dan guna salah
tidar benar guna berarti bermanfaat faedah salah guna berarti melakukan sesuatu
tidak pada tempatnya atau tidak semestinya. 7 Yang penulis maksud dengan
penyalahguna narkoba dalam skiripsi ini pemakaian tidak pada tempatnya atau
semestinya (diluar indikasi medik). Menurut Djoko Prakoso narkotika adalah
suatu jenis zat yang apabila dikonsumsi akan membawa efek yang berpengaruh
pada tubuh sipemakai pengaruh yang akan diberikan adalah pengaruh kesadaran
memberi dorongan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia pengaruh ini
berupa penenang, perangsang dan menimbulkan halusinasi. 8
Pada dasarnya narkoba merupakan bentuk obat-obatan yang dipakai untuk
tujuan medis yang secara legal diresepkan oleh dokter terdidik guna untuk
mencegah atau mengobati penyakit menurut fakta yang ada, obat ini digunakan
dan dipakai tanpa petunjuk medis ini merupakan tindakan penyalahgunaan.
Jelasnya penyalahgunaan narkoba akan membawa efek fisik dan psikis yang
membahayakan pada fisik adanya gangguan alam tubuh dan segi psikis ditandai
dengan adanya penurunan daya konsentrasi tidak kuat untuk berfikir secara
mendalam.
Dalam Undang-undang No. 22 tahun 1997 tentang narkotika disebutkan
bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetik maupun semi sintetik yang dapat menyebabkan perumusan
atau perubahan kesadaran mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.

2. Faktor penyebab penyalahguna narkotika


Seseorang dalam mengunakan narkotika disebabkan oleh beberapa faktor
yang mempengaruhinya faktor internal, dalam sebuah penelitian ilmiah seorang
psikiater Dr. Graham Blaine antara lain mengemukakan biasanya remaja
menggunakan narkotika dengan beberapa sebab untuk membuktikan

7
Nugroho Jayusman, Penyalahgunaan Narkoba Arahan (Jakarta: PB. Dharma Bakti,
1999), h. 13.
8
B. Simanjutak, Pengantar Krimonologi dan Patologi Sosial (Bandung: Transito, 1982),
h. 317.

9
keberaniannya dengan melakukan tindakan berbahaya seperti berkelahi untuk
menunjukkan tindakan menentang terhadap orang tua untuk mempermudah
penyaluran dan perbuatan seks untuk mencari makna hidup hanya iseng-iseng
atau didorong rasa ingin tahu.9 Faktor Eksternal, faktor keluarga menjadi salah
satu penyebab seseorang menggunakan narkotika dikarenakan beberapa hal yakni
anak yang kurang mendapatkan kasih sayang, anak merasa kurang dihargai, anak
mengalami konflik dengan orang tua, anak kesal karena ayah dan ibunya kurang
harmonis (broken home) dan istri frustasi akibat konflik dengan suami tentang
masalah ekonomi atau ada wanita lain disamping suaminya. 10
3. Dampak pengguna narkotika
Dampak yang diakibatkan bagi pengguna narkotika di antaranya dampak
terhadap fisik, pemakai narkoba dapat mengalami kerusakan organ tubuh dan
menjadi sakit sebagai akibat langsung adanya narkoba dalam darah misalnya
kerusakan paru-paru jantung otak dan lain-lain. Dampak terhadap mental dan
moral pemakai narkoba berubah tertutup karena malu akan dirinya takut mati
takut perbuatannya diketahui orang lain karena menyadari buruknya perbuatan
yang dilakukan pemakai narkoba menjadi malu merasa dirinya sebagai sampah
masyarakat. Dampak spiritual adiksi terhadap narkoba membuat seseorang
pecandu menjadikan narkoba sebagai prioritas utama dalam kehidupannya hal
tersebut merubah aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan bila sebelumnya rajin
beribadah bisa dipastikan akan menjahui kegiatan yang satu ini. Secara spiritual,
narkoba adalah pusat hidupnya dan bisa dikatakan menggantikan posisi Tuhan
adiksi terhadap narkoba membuat penggunaan narkoba menjadi jauh lebih penting
dari pada keselamatan dirinya sendiri. Adiksi adalah penyakit yang
mempengaruhi semua aspek hidup seseorang manusia dan karenanya harus
disadari bahwa pemulihan bagi seseorang pecandu tidak hanya bersifat fisik
saja.11
Sehubungan dengan bagaimana keberagamaan remaja penyalahguna
narkotika dari penganut yang berbeda agama dalam penelitian ini penulis akan

9
Sudarsono, Kenakalan Remaja Edisi Kedua ( Jakarta. Rineka Cipta. 1991), hlm. 67.
10
Partodiharjo, Subagyo, Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaannya, (Jakarta.
Esensi. 2007), hlm. 77.
11
M. Amir P. Ali & Imran Duse, Narkoba Ancaman Generasi Muda (Jakarta.Erpana.
2007. hlm. 43.

10
menggunakan teori yang berkaitan dengan masalah penelitian yaitu teorinya
Glock and Stark (1965:18-39) untuk mengetahui sejauh mana keberagamaan
mereka dalam analisisnya “religion commitment” keberagamaan muncul dalam
lima dimensi. 12 Dalam buku Jamaluddin Ancok & Faud Nashori Suroso, Psikologi
Islam yakni:13
a. Dimensi Ideologis.
Dengan dimensi ini dapat dilihat sejauhmana keyakinan remaja
penyalahguna narkotika pada agamanya dimana dimensi itu berisikan
mengenai pengharapan sambil berpegang teguh pada teologis dan mengikuti
doktrin agama dan memberikan premis eksistensial untuk menjelaskan Tuhan.
b. Dimensi Ritualistik.
Dalam hal ini berupaya untuk mengetahui apakah dalam kesehariannya
remaja penyalahguna narkotika melakukan kegiatan agama atau malah
sebaliknya sama sekali tidak mengerjakan misalnya shalat puasa mengaji
sehingga dengan ini dapat diketahui sejauh mana tingkat ritualistik remaja
penyalahguna narkotika. Dimensi keberagamaan yang berkaitan dengan
sejumlah perilaku perilaku adalah bukanlah perilaku umum yang dipengaruhi
keimanan seseorang, melainkan mengacu pada perilaku khusus yang
ditetapkan oleh agama misalnya tata cara ibadah, berpuasa, shalat dengan
menghadap kiblat ruku‟ sujud semua itu merupakan ritus-ritus khusus aturan
yang wajib ditaati dan dilaksanakan aturan ini berkisar dari tata cara
beribadah. 14
c. Dimensi Penghayatan (Eksperensial)
Dengan dimensi ini dapat dilihat apakah remaja penyalahguna narkotika
merasakan kehadiran Tuhan sehingga ada perasaan atau ketidaklengkapan pada
dirinya rasa bersalah kemudian timbul perasaan untuk segera bertobat. Dimensi
ini berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama.
Perasaan agama dapat bergerak dalam empat tingkatan.

12
Taufik Abdullah & M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar
(Jogjakarta: P.T. Tiara Wacana, 1989), h. 93.
13
Djamaludin Ancok & Fuat Nashori Surosi, Psikologi Islam; Solusi Islam atas Problem-
problem Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), h. 77.
14
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama Sebuah Pengantar (Bandung: Mizan, 2004), h.
45.

11
d. Dimensi Konsekuensial (Pengalaman)
Dengan dimensi ini dapat dilihat pengaruh religius terhadap korban
narkotika dimensi ini menunjukan akibat ajaran agama dalam perilaku umum
yang tidak secara langsung dan khusus ditetapkan agama seperti dalam dimensi
ritualistik sebab efek ajaran agama pada perilaku individu dalam kehidupannya
sehari-hari. Efek agama ini bisa positif bisa negatif pada tingkat personal dan
sosial.
e. Dimensi Intelektual (Pengetahuan agama)
Dengan dimensi ini dapat dilihat sejauh mana tingkat pengetahuan remaja
penyalahguna narkotika terhadap agamanya baik itu pengetahuan yang didapat
dari sekolah maupun keluarga.

12
BAB III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
A. Jenis dan Pendekatan
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi.15 Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data
deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dpaat
diamati dari orang-orang yang diteliti. Penelitian dengan jenis kualitatif dalam
penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji secara mendalam mengenai rusaknya
Jiwa Agama dan Moral pada Kalangan Remaja dengan Maraknya Edaran
Narkotika di Zaman Sekarang terkhususnya di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan.

B. Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilakukan di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli
Serdang. Adapun waktu penelitiannya dilakukan 11 Mei 2020.

C. Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah para remaja di Desa Kolam Kec. Percut Sei
Tuan yang pernah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

D. Metode Pegumpulan Data


Strategi pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa
mengetahui strategi pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapat data
yang memenuhi standar data yang diperlukan. Sedangkan metode pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Menurut Arikunto (2006:124) observasi adalah mengumpulkan data atau
keterangan yang harus dijalankan dengan melakukan usaha-usaha pengamatan
secara langsung ke tempat yang akan diselidiki. Dan menurut Hadi dan
Nurkancana (dalam Suardeyasasri, 2010:9) adalah suatu metode pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan secara

15
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 308.

13
sistematis baik secara langsung maupun secara tidak langsung pada tempat yang
diamati. Yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur
yang tampak dalam suatu gejala-gejala pada obyek penelitian. Sementara
observasi partisipan adalah teknik pengumpulan data melalui pengamatan
terhadap obyek pengamatan dan langsung hidup bersama merasakan serta berada
dalam aktivitas kehidupan obyek pengamatan. 16
Data yang diperoleh dari observasi adalah data mengenai rusaknya Jiwa
Agama dan Moral pada Kalangan Remaja dengan Maraknya Edaran Narkotika di
Zaman Sekarang terkhususnya di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan.

b. Metode Interview (Wawancara)


Interview (wawancara) digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-
hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau
kecil (Sugiyono, 2007:137).

E. Teknik Analisis Data


Analisis data adalah sebuah proses sistematik yang bertujuan untuk
menyeleksi, mengkategori, membanding, mensintesa, dan menginterpretasi data
untuk membangun suatu gambaran komprehensif tentang fenomena atau topik
yang sedang diteliti. Karena itu, sebagaimana dinyatakan Merriam 17, analisis data
merupakan proses memberi makna terhadap suatu data. Pada penelitian ini
peneliti menggunakan penelitian model amalisis interaktif Miles dan Huberman.
Penelitian model ini melihat bahwa analisis data kualitatif terdiri dari tiga jalur
kegiatan yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
(verifikasi). 18

16
Andi Prastowo, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan
Penelitian (Yogyakarta: AR-Ruzz Media, 2012), h. 220.
17
Sharan B. Merriam, Case Study Research in Education: A Qualitative Approach (San
Fransisco: Jossy-Bass Publisher, 1988), h. 127.
18
M athew B. Miles dan Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, terj. Thetjep
Rohendi Rohidi (Jakarta; UI Press, 1992), h. 21

14
F. Teknik Penjaminan Keabsahan Data
Menurut Moleong ada beberapa teknik pencapaian kredibilitas data yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Credibility
Uji credibility atau uji kepercayaan terhadap data penelitian yang disajikan
oleh peneliti agar hasil penelitian yang dilakukan tidak meragukan sebagai sebuah
karya ilmiah dilakukan.
a. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan dapat meningkatkan kepercayaan data. Dengan
perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali kelapangan, melakukan
pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang ditemuai maupun
sumber data yang lebih baru.
b. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian
Meningkatkan kecermatan atau ketekunan secara berkelanjutan maka
kepastian data dan urutan kronologis peristiwa dapat dicatat atau direkam
dengan baik, sistematis.
c. Menurut Moleong trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Trianggulasi Yaitu
penggunaan berbagai metode dan sumber data dalam pengumpulan data
untuk menganalisis suatu fenomena. Metode ini dilakukan dengan
membandingkan data yang diperoleh dengan cara yang berbeda seperti dari
metode wawancara, observasi kemudian dokumentasi melalui itu semua
diharapkan dapat memperoleh hasil yang mendekati kebenaran.

15
BAB IV
ANALISIS DATA
A. Temuan Umum
Desa kolam adalah desa yang terletak pada kecamatan Percut Sei Tuan,
Kab. Deli Serdang. Mayoritas masyarakat disini kebanyakan pekerjaannya yaitu
kerja bangunan. Di desa ini banyak masyarakatnya baik muda maupun tua
terjerumus oleh penyalahgunaan narkotika. Bahkan untuk mendapatkan barang
haram tersebut sangatlah mudah. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang
menyebabkan mereka terjerumus oleh penyalahgunaan narkoba. Lebih lanjutnya
akan dibahas pada temuan khusus.

B. Temuan Khusus
1. Rusaknya Jiwa Agama dan Moral pada kalangan Remaja Dengan
Maraknya Edaran Narkotika di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan
Remaja di Desa Kolam banyak yang terjerumus oleh penyalahgunaan
narkotika sehingga menyebabkan hilangnya moral dan rusaknya akhlak pada diri
mereka. Penggunaan narkotika pada remaja di desa ini sudah hampir 70%.
Tentunya hal ini sangat mengkhawatirkan bagi kita semua entah bagaimana nasib
generasi yang berikutnya. Dengan memakai narkotika membuat mereka menjadi
orang yang rusak akal dan jiwanya sehingga tidak tau mana yang mereka kerjakan
baik atau tidaknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya pencurian, kenakalan-
kenakalan yang banyak terjadi sehingga membuat warga sekitar menjadi resah.
Adapun penyebab remaja di Desa Kolam sampai terjerumus dalam
penyalahgunaan narkotika sehingga menyebabkan rusaknya jiwa agama dan
moral yaitu karena:
1. Tekanan Sosial
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Sering kali para remaja
mengikuti apa pun yang dilakukan teman atau kelompoknya, agar diterima dalam
lingkaran sosial. Oleh karena itu, jika teman sekelompok atau idolanya mencoba
hal yang negatif seperti narkoba, mereka pun akan melakukan hal yang sama agar
tidak dikucilkan. Paparan media seperti media sosial, televisi, atau film juga dapat
memberikan efek negatif lantaran menggambarkan pemakai narkoba sebagai

16
orang yang terlihat keren, sehingga hal ini membuat remaja ingin mengikutinya
agar terlihat keren.
2. Pelarian dari masalah
Masalah di sekolah, di rumah, atau pertengkaran dengan pacar bisa membuat
seorang remaja merasa tidak bahagia dan mencari pelarian ke hal lain. Bentuk
pelarian dari ini bisa berujung pada hal negatif, seperti narkoba atau alkohol.
Narkoba menjadi yang paling sering dipilih sebagai pelarian karena seolah
memberikan solusi. Hal ini karena narkoba bisa memberikan efek percaya diri,
bahagia, dan berenergi, meski hanya sesaat. Padahal jika dibiarkan, justru dapat
membuat kecanduan narkoba dan berujung pada kehilangan nyawa.
3. Bentuk pemberontakan
Remaja yang berani mencoba hal baru dan menjadi pionir biasanya akan
menonjol dan dipandang oleh kelompoknya. Hal itu bisa membuat remaja yang
haus akan pengakuan dari teman-temannya untuk mencoba pengalaman baru,
termasuk mencoba narkoba. Narkoba seolah menjadi “amunisi” bagi para remaja
untuk bertindak lebih berani dan agresif. Narkoba jenis methamphetamine atau
yang lebih dikenal dengan istilah sabu dapat membuat remaja bertindak kasar,
agresif, atau bahkan membahayakan bagi orang lain.
4. Kurang percaya diri
Berbicara di depan umum, tampil pada pentas sekolah, atau sekadar mengajak
lawan jenis bicara dapat menjadi masalah bagi remaja yang kurang percaya diri.
Narkoba sering kali menjadi solusi bagi remaja yang demikian. Penggunaan
narkoba jenis tertentu memang dapat memberikan efek sesaat, seperti menjadi
lebih percaya diri dan tidak takut melakukan hal apa pun. Namun efek samping
yang timbul setelah itu bisa sangat berbahaya, bahkan hingga berujung pada
kematian seketika.
5. Kesenangan sesaat
Meski awalnya hanya iseng mencoba narkoba untuk kesenangan sesaat,
namun kebahagiaan semu ini dapat membuat remaja kecanduan untuk
mencobanya lagi dan lagi. Agar intensitas euforia itu bisa menetap, lama-
kelamaan dibutuhkan dosis narkoba yang semakin tinggi. Akibatnya, mereka akan
semakin sulit untuk bisa keluar dari “lingkaran setan” yang diciptakan narkoba.

17
2. faktor-faktor yang menyebabkan remaja di Desa Kolam sampai
terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika sehingga menyebabkan
rusaknya jiwa Agama dan Moral
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan remaja di Desa kolam sampai
terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika yaitu:
a. Faktor Lingkungan
Teman merupakan salah satu elemen penting bagi remaja, karena pada masa
ini, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bersosialisasi,
terutama dengan teman sebayanya, dan apapun yang dilakukan oleh temannya
biasanya akan diikuti, kalau mereka tidak bisa mengikuti temannya dalam
kelompok, justru akan dijauhi, nah hal inilah yang menjadi faktor peyebab remaja
jadi ikut dengan kebiasaan temannya, oleh karena itu dalam memilih teman
hendaknya harus lebih selektif, jangan asal berteman, dan peran orang tua
mengawasi anak sangatlah dibutuhkan, bagaimana perkembangannya dengan
teman sebayanya.
b. Minimnya Pengetahuan Tentang Narkoba
Ramaja bisa terkena narkoba, dengan dasar ketidak tahuannya tentang
narkoba, contohnya ketika anak tersebut dibohongi oleh temannya, yang sudah
terlanjur menjadi pecandu, kemudian berpura-pura memberikan pil, dengan alas
an hal itu adalah sekedar permen atau multivitamin dan stamina, karena minimnya
pengetahuan, dia pun mau mengikuti temannya, sehingga mengantarnya pada
kecanduan pada narkoba, oleh karena itu remaja perlu diberikan pemahaman sejak
dini tentang narkoba dan jenis-jenis obat terlarang lainnya.
c. Lemahnya Pengawasan Orang Tua
Orang tua sangat berperan penting dalam meencegah dan menghindari anak
dari narkoba, karena pendidikan pertama dan paling utama adalah keluaga bagi
anak, jadi kalau orang tua lemah dan jarang bertanya kepada anak, minimal teman
dekatnya siapa atau pekerjaan rumahnya (PR) seperti apa, karena hal tersebut
akan berdampak pada hubungan kelekatan mereka dengan orang tua, kalau dia
sering dimarahi atau jarang diperhatikan, karena kesibukan orang tua dalam
bekerja, maka anak tersebut akan mencari pelarian, seperti mereka akan lebih
dekat dengan teman sebayanya dan sebagainya.

18
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulannya yaitu bahwasanya remaja di Desa Kolam sudah hampir 70
% dalam penyalahgunaan narkoba. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan
remaja di Desa kolam sampai terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika yaitu
dari faktor internal nya karena mereka kurang akan didikan tentang pemahaman
agama dan kurangnya kasih sayang, perhatian yang seharusnya diberikan kepada
mereka sehingga mereka pencari perhatian tersebut diluar namun bertemu dengan
orang yang salah sehingga membuat mereka terjerumus dalam pemakaian
narkoba. Yang kedua faktor eksternal yaitu dari lingkungannya dimana ia diajak
oleh temannya dan atas dasar kemauannya sendiri untuk mencoba-coba sehingga
menjadi ketagihan.

B. Saran
Adapun saran saya yaitu untuk para remaja bijaklah dalam melakukan
segala hal, jangan mencoba-coba apa yang dilarang oleh Agama kita sendiri.
Bijaklah dalam memilih pergaulan agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas
dan belajarlah tentang agama dan selalu menjalankan perintahNya dan bergaulah
dengan orang yang saleh. Semoga bisa terhindar dari penyalahgunaan narkoba.
Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan tentang “Rusaknya Jiwa Agama
dan Moral pada Kalangan Remaja dengan Maraknya Edaran Narkotika di Zaman
Sekarang di Desa Kolam Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang”.

19
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Robert & M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah


Pengantar. Jogjakarta: P.T. Tiara Wacana, 1989.

Amir P. Ali, M& Imran Duse, Narkoba Ancaman Generasi Muda. Jakarta.Erpana.
2007.

Ancok, Djamaludin & Fuat Nashori Surosi, Psikologi Islam; Solusi Islam atas
Problem- problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

Athew B. Miles, M dan Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, terj. Thetjep
Rohendi Rohidi. Jakarta; UI Press, 1992.

B. Merriam, Sharan. Case Study Research in Education: A Qualitative Approach .


San Fransisco: Jossy-Bass Publisher, 1988.

Daradjat, Zakiah. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental. Jakarta: P.T Gunung
Mulia, 1988.

Darajat, Zakiah. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. Jakarta: Bulan


Bintang, 1982.

Jalaluddin. Psikologi Agama, Ed. Revisi-10. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

K. C. M, Prent, dkk, Kamus Latin-Indonesia.Semarang: Kanisius, 1969.

Partodiharjo, Subagyo, Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaannya. Jakarta.


Esensi. 2007.

Prastowo, Andi. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan


Penelitian. Yogyakarta: AR-Ruzz Media, 2012.

Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Agama Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan, 2004.

Sastrapratedja, M (ed). Manusia Multi Dimensial; Sebuah Renungan Filsafat.


Jakarta: Gramedia, 1983.

Simanjutak, B. Pengantar Krimonologi dan Patologi Sosial. Bandung: Transito,


1982.

Sudarsono, Kenakalan Remaja Edisi Kedua. Jakarta. Rineka Cipta. 1991.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2015.

20