Anda di halaman 1dari 19

Critical Journal Review

PROSES PENGEMBANGAN ORGANISASI KURKIKULUM DALAM


MENINGKATKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN ANALISIS
ORGANISASI KURIKULUM DAN STRUKTUR KURIKULUM ANAK
USIA KELAS AWAL SEKOLAH DASAR (SD)/MADRASAH IBTIDAIYAH
(MI)
(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI)

DOSEN PENGAMPU: MUSLEM, M.Pd.I

Oleh:
Sem. VI/PAI-5
UMMI AIDA ADLINA SIREGAR
0301173509

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
BAB I
DESKRIPSI TUUJUAN DAN GARIS BESAR ISI JURNAL

A. Identitas Jurnal
1. Jurnal Utama
Judul : Proses Pengembangan Organisasi Kurkikulum Dalam
Meningkatkan Pendidikan di Indonesia
Penulis : Aset Sugiana
Pekerjaan : Prodi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tahun Terbit : 2018
Sumber : Vol. 05 No 02, Juli-Desember
ISSN : 2354-7960
Jenis Jurnal : Jurnal Pedagogik
e-mail : Asetsugiana@gmail.com

2. Jurnal Pembanding
Judul : Analisis Organisasi Kurikulum dan Struktur Kurikulum
Anak Usia Kelas Awal Sekolah Dasar (SD)/Madrasah
Ibtidaiyah (MI)
Penulis : Sandi Aji Wahyu Utomo dan Wida Nurul Azizah
Pekerjaan : Dosen Institut Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG)
Cilacap
Tahun Terbit : 2018
Sumber : Vol. 2, No. 1, April
e-ISSN : 2550-0619
Jenis Jurnal : Jurnal Pancar
e-mail : sandiajiwu@iaiig.ac.id

B. Tujuan Penulisan Jurnal


Tujuan penulisan jurnal yang dilakukan oleh peneliti tentang organisasi
kurikulum yaitu karena Organisasi kurikulum ini berperan penting dalam
menentukan urutan materi yang diajarkan dan cara menyajikannya.
Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang

1
tujuannya untuk mempermudah siswa dalam memperlajari bahan pelajaran dapat
dicapai secara efektif. Tujuan pendidikan yang dirumuskan dapat mempengaruhi
pola atau desain kurikulum karena tujuan tersebut dapat menentukan pola atau
kerangka untuk memilih, merencanakan, dan melaksanakan segala pengalaman
dan kegiatan belajar di sekolah (Rusman, 2009). Organisasi kurikulum tertentu
sangat mempengaruhi bentuk-bentuk pengalaman apakah yang akan disajikan
kepada anak-anak, dan tentunya akan mempermudah dalam mencapai tujuan
pendidikan.
Ada tiga bentuk dari organisasi kurikulum yang dapat dimanfaatkan, yang
pertama separated subject curriculum, pada bentuk ini materi pelajaran yang
diajarkan bersifat sendiri-sendiri, masingmasing materi pelajaran berdiri sendiri
sesuai disiplin keilmuan masing-masing. Lalu yang kedua corelated curriculum,
pada bentuk ini materi pelajaran yang diajarkan saling terkait antar satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, tentunya yang masih ada keterkaitan satu
sama lain hingga kemudian membentuk menjadi satu pelajaran yang baru.
Sedangkan yang terakhir adalah integrated curriculum, pada bentuk ini materi
pelajaran antara satu sama lainnya saling menyatu padu hingga kemudian dapat
diajarkan dengan pendekatan yang terpadu melalui tematik pembelajaran.
Kesemua materi pelajaran pada bentuk ini diajarkan sesuai dengan capaian tema
pembelajaran yang satu dan diikuti serta diintegrasikan dari satu mata pelajaran
dengan mata pelajaran lainnya.
Untuk pembelajaran di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dari ketiga bentuk
organisasi kurikulum diatas, kesemuanya dapat diajarkan untuk siswa sekolah
dasar, namun untuk lebih spesifikasinya dapat menggunakan bentuk organisasi
kurikulum yang ketiga, yakni melalui pengintegrasian kurikulum. Materi isi
pelajaran dengan bentuk yang ketiga dapat membuat siswa sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah lebih mudah memahami dan mempelajari berdasarkan tema-
tema yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Siswa kelas awal sekolah dasar
belajar melalui pengalaman sehari-hari, melalui pengalaman yang nyata hingga
kemudian dapat diterapkan pada hal-hal yang abstrak. Oleh karenanya bentuk
ketiga yakni mengintegrasikan kurikulum mata pelajaran dari masing-masing
keilmuan yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda-beda, dapat dimanfaatkan

2
untuk menyatu padu menjadi satu dengan berdasarkan tema pembelajaran yang
ditentukan oleh guru kelas sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah tersebut.

C. Garis Besar Isi Jurnal


1. Jurnal Utama
Organisasi kurikulum adalah salah satu cara untuk menyusun bahan atau
pengalaman belajar yang ingin dicapai. Untuk itu perlu dipilih organisasi
kurikulum yang efektif dengan kriteria berkesinambungan, berurutan dan terpadu.
Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan
disampaikan kepada murid-murid. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam
organisasi kurikulum, antara lain: a) Konsep, b) Generalisasi, c.) Keterampilan, d)
Nilai-nilai.
Ada enam model organisasi kurikulum, yaitu: a) Subject Curriculum (Mata
Pelajaran), b) Correlated Curriculum (Mata Pelajaran Gabungan), c) Broad Field
Curriculum (Cakupan luas), d) Integrated Curriculum (Kurikulum Terpadu), e)
Core Curriculum, f) Activity Curriculum. Adapun faktor yang harus
dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum, yaitu: a) Ruang lingkup (Scope), b)
Urutan (Sequence), c) Kesinambungan (Continuity), d) Terpadu (Integrated), e)
Keseimbangan (Balance), f) Waktu (Times). Beberapa prosedur dalam
mereorganisasi kurikulum dapat melalui: a) Mata pelajaran, b) Tambal sulam, c)
Analisis kegiatan, d) Fungsi sosial, e) Survei pendapat, f) Studi kesalahan, g)
Analisis masalah remaja.

2. Jurnal Pembanding
Organisasi kurikulum merupakan konsep dasar awal untuk
mengembangkan materi-materi pelajaran sebagai isi kurikulum. Melalui
organisasi kurikulum tersebut dapat menentukan arah pengembangan kurikulum
selanjutnya, terutama dari sudut pandang standar isi atau standar konten. Materi-
materi pelajaran apa saja yang ada, diolah sebagaimana bentuknya, serta diberikan
pada siswa dengan pendekatan maupun metode seperti apa. Dengan pembentukan
organisasi kurikulum yang matang, tentunya akan mendapati hasil capaian yang
lebih baik. Pada intinya, ada tiga bentuk dari organisasi kurikulum yang dapat
dimanfaatkan, yang pertama separated subject curriculum, pada bentuk ini materi

3
pelajaran yang diajarkan bersifat sendiri-sendiri, masingmasing materi pelajaran
berdiri sendiri sesuai disiplin keilmuan masing-masing. Lalu yang kedua corelated
curriculum, pada bentuk ini materi pelajaran yang diajarkan saling terkait antar
satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, tentunya yang masih ada
keterkaitan satu sama lain hingga kemudian membentuk menjadi satu pelajaran
yang baru. Sedangkan yang terakhir adalah integrated curriculum, pada bentuk ini
materi pelajaran antara satu sama lainnya saling menyatu padu hingga kemudian
dapat diajarkan dengan pendekatan yang terpadu melalui tematik pembelajaran .
Kesemua materi pelajaran pada bentuk ini diajarkan sesuai dengan capaian tema
pembelajaran yang satu dan diikuti serta diintegrasikan dari satu mata pelajaran
dengan mata pelajaran lainnya.
Untuk pembelajaran di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dari ketiga
bentuk organisasi kurikulum diatas, kesemuanya dapat diajarkan untuk siswa
sekolah dasar, namun untuk lebih spesifikasinya dapat menggunakan bentuk
organisasi kurikulum yang ketiga, yakni melalui pengintegrasian kurikulum.
Materi isi pelajaran dengan bentuk yang ketiga dapat membuat siswa sekolah
dasar atau madrasah ibtidaiyah lebih mudah memahami dan mempelajari
berdasarkan tema-tema yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Siswa kelas
awal sekolah dasar belajar melalui pengalaman sehari-hari, melalui pengalaman
yang nyata hingga kemudian dapat diterapkan pada hal-hal yang abstrak. Oleh
karenanya bentuk ketiga yakni mengintegrasikan kurikulum mata pelajaran dari
masing-masing keilmuan yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda-beda, dapat
dimanfaatkan untuk menyatu padu menjadi satu dengan berdasarkan tema
pembelajaran yang ditentukan oleh guru kelas sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah
tersebut.

4
BAB II
URAIAN MATERI JURNAL

A. Jurnal Utama
1. Pengembangan Organisasi Kurikulum
Menurut Blaney dalam (Subandijah, 1993) pengembangan kurikulum
merupakan suatu proses yang sangat kompleks karena mencakup pembicaraan
penyusunan kurikulum yang dilaksanakan di sekolah disertai dengan penilaian
yang intensif, dan penyempurnaan-penyempurnaan terhadap komponen
kurikulum. Usaha melaksanakan tiga hal tersebut berarti harus melaksanakan
keseluruhan proses penginteraksian komponen kurikulum, diantaranya adlah
komponen tujuan. Adanya berbagai pandangan yang mendasari pengembangan
kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorganisasi kurikulum
(Sholeh Hidayat, 2013). Organisasi kurikulum adalah susunan komponen
kurikulum, seperti konten kurikulum, kegiatan dan pengalaman belajar, yang
diorganisasi menjadi mata pelajaran, program, lessons, topik, unit, dan sebagainya
untuk mencapai efektivitas pendidikan (Muhammad Ansyar, 2015).
Organisasi kurikulum adalah susunan pengalaman dan pengetahuan baku
yang harus disampaikan dan dilakukan peserta didik untuk menguasai kompetensi
yang telah ditetapkan (Zainal Arifin, 2011). Berdasarkan pengertian di atas bahwa
organisasi kurikulum adalah pola dan susunan komponen-komponen kurikulum
yang diorganisasi menjadi mata pelajaran, program, lessons, topik, unit yang
tujuannya untuk mempermudah siswa memahami apa yang diajarkan sehingga
menguasai kompetensi yang telah ditetapkan.
Adapun unsur-unsur organisasi kurikulum dalam (Zainal Arifin, 2011)
antara lain:
a. Konsep
Yaitu definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep
merupakan definisi dari apa yang perlu diamati, konsep menentukan adanya
hubungan empiris. Hampir setiap bentuk organisasi kurikulum dibangun
berdasarkan konsep, seperti peserta didik, masyarakat, kebudayaan, kuantitas, dan
kualitas, ruangan, dan evolusi.
b. Generalisasi

5
Membuat kesimpulan-kesimpulan yang jelas dari suatu fenomena di
sekitarnya.
c. Keterampilan
Yaitu kemampuan dalam merencanakan organisasi kurikulum dan
digunakan sebagai dasar untuk menyusun program yang berkesinambungan.
Misalnya, organisasi pengalaman belajar berhubungan dengan keterampilan
komprehensif, keterampilan dasar untuk mengerjakan matematika, dan
keterampilan menginterpretasikan data.
d. Nilai-nilai
Yaitu norma atau kepercayaan yang diagungkan, sesuatu yang bersifat
absolut untuk mengendalikan perilaku. Misalnya, menghargai diri sendiri,
menghargai kemuliaan dan kedudukan setiap orang tanpa memperhatikan ras,
agama, kebangsaan, dan status sosial-ekonomi. Mengorganiasi unsur-unsur
kurikulum bahwa mampu memilih tujuan yang jelas yang sesuai dengan
kebutuhan peserta didik, baik minta maupun bakat peserta didik. Jika tujuan
kurikulum berkaitan dengan domain moral dan etika sebagai fungsi dan integratif,
maka nilai-nilai merupakan unsur organisasi yang tepat (Zainal Arifin, 2011).

2. Faktor-faktor Dalam Organisasi Kurikulum


Dalam organisasi kurikulum ada beberapa faktor yang harus diperhatikan,
yaitu:
a. Ruang Lingkup (Scope)
Ruang lingkup kurikulum tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan peserta
didik, kebutuhan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Ruang lingkup bahan
pelajaran juga harus dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional, standar
kompetensi lulusan, dan standar kompetensi mata pelajaran yang telah ditetapkan.
b. Urutan (Sequence)
Sequence menentukan urutan bahan pelajaran disajikan, apa yang dahulu apa
yang kemudian, dengan maksud agar proses belajar berjalan dengan baik.
c. Kesinambungan (Continuity)
Kontinuitas kurikulum dalam organisasi kurikulum perlu diperhatikan,
terutama berkaitan dengan substansi bahan yang dipelajari siswa, jangan sampai
terjadi pengulangan ataupun loncat-loncat yang tidak jelas tingkat kesukarannya.

6
Pendekatan spiral merupakan salah satu upaya dalam menerapkan faktor ini.
Artinya materi yang dipelajari siswa semakin lama semakin mendalam yang
dikembangkan berdasarkan keluasan secara vertikal maupun horizontal (Rusman,
2009).
d. Terpadu (Integrated)
Faktor ini berangkat dari asumsi bahwa bidang-bidang kehidupan
memerlukan pemecahan secara multidisiplin. Artinya, jika guru menggunkan
subject centered curriculum, maka besar kemungkinan pengetahuan yang
diperoleh peserta didik menjadi terlepas-lepas dan tidak fungsional.
e. Keseimbangan (Balance).
Keseimbangan ini dapat dipandang dari dua segi, yakni; 1) keseimbangan isi,
yaitu tentang apa yang dipelajari, dan 2) keseimbangan cara atau proses belajar
(Nasution, 1993). Dalam menentukan keseimbangan isi, maka perlu
dipertimbangkan betapa penting dan perlunya masing-masing mata pelajaran,
suatu hal yang tidak mudah karena sukar menentukan kriterianya.
f. Waktu (Times)
Kurikulum akhirnya harus dituangkan dalam bentuk mata pelajaran atau
kegiatan belajar beserta waktu yang disediakan untuk masing-masing mata
pelajaran.

3. Prosedur Mengorganisasi Kurikulum


Beberapa cara mereorganisasi kurikulum dalam (Zainal Arifin, 2011) yaitu
sebagai berikut:
a. Reorganisasi melalui Mata Pelajaran
Reorganisasi melalui mata pelajaran ialah buku merupakan sumber belajar
yang penting bagi peserta didik dalam memperlajari kurikulum.
b. Reorganisasi dengan Cara Tambal Sulam
Memilih kurikulum yang baik yang sesuai dengan kondisi dan tujuan sekolah.
Dengan demikian, kurikulum sekolah menjadi kaya dengan program-program
terbaik dan berusaha menghilangkan program yang dianggap kurang baik.
c. Reorganisasi melalui Analisis Kegiatan
Dengan menganalisis kegiatan yang berhubungan dengan segala jegiatan
yang ada dalam kehidupan masyarakat siswa. Bahwa analisis kegiatan ini

7
bertujuan supaya bahan/ materi pelajaran dapat diarahkan pada kehidupan
masyarakat yang nyata.
d. Reorganisasi melalui Fungsi Sosial
Merumuskan fungsi sosial ialah bahan pelajaran disampaikan dengan
mengarah ke dalam kehidupan sosial, bagaimana siswa nantinya hidup bersosial
antar individu atau kelompok dalam masyarakat.
e. Reorganisasi melalui Survei Pendapat
Survei pendapat bisa dilakukan dari beberapa pihak. seperti peserta didik,
orang tua, guru, pengawas, kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan mitra sekolah
(Zainal Arifin, 2011).
f. Reorganisasi melalui Studi Kesalahan
Pada tahap ini asalisis studi kesalahan terhadap proses belajar dan hasilnya.
g. Reorganisasi melalui Analisis Masalah Remaja
Ross Moaney dan kawan-kawan menganaslisis 330 masalah kebutuhan
remaja yang dibagi menjadi 11 kelompok, yaitu: perkembangan jasmani dan
kesehatan, biaya hidup dan pekerjaan, kegiatan sosial dan rekreasi, berkeluarga,
minikah dan seks, hubungan sosial secara psikologis, hubungan pribadi, moral,
dan keagamaan, rumah tangga dan kerabat, pendidikan dan kerja sama,
penyesuaian terhadap pekerjaan sekolah, kurikulum dan prosedur pembelajaran
(Zainal Arifin, 2011).

4. Model-model Organisasi Kurikulum di Indonesia


Sumber bahan pelajaran untuk kurikulum ialah: pengetahuan, masyakarat,
anak. Kurikulum yang berorientasi pada pengetahuan akan cenderung memilih
bentuk kurikulum yang subject centered. Untuk itu dimanfaatkan berbagai disiplin
ilmu yang telah tersusun secara logis sistematis oleh para ahli dan ilmuwan dalam
cabang ilmu masing-masing. Organisasi kurikulum inilah yang paling tua
(Nasution, 1993). Sekurang-kurangnya terdapat enam ragam pengorganisasian
kurikulum, yaitu:
a. Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject centered curriculum)
Kurikulum ini bertujuan agar generasi muda mengenal hasil kebudayaan
dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan sejak berabad-abad, agar
mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang telah diperoleh

8
generasi-generasi terdahulu. Dengan demikian mereka lebih mudah dan lebih
cepat membekali diri untuk menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya
(Nasution, 1993). Kurikulum terpisah-pisah ini dimana bahan ajar disajikan secara
terpisah-pisah seolah-olah ada batasan antara bidang studi yang sama dikelas yang
berbeda (Taufik Rizki Sista, 2017). Misalnya, mata pelajaran berhitung, aljabar,
ilmu ukur, sejarah, ekonomi, geografi, dan ilmu bumi. Peserta didik lebih banyak
melakukan kegiatan belajar menghafal pelajaran atau membuat rangkuman
daripada melakukan diskusi atau pemecahan masalah, karena utama kurikulum
adalah agar peserta didik menguasai pengetahuan (Zainal Arifin, 2011).

b. Correlated Curriculum (Mata Pelajaran Gabungan)


Pada correlated curriculum ini, mata pelajaran tidak disajikan secara
terpisah-pisah. Akan tetapi, mata pelajaran yang memiliki kedekatan atau sejenis
dikelompokkan sehingga menjadi suatu bidang studi (broadfield) (Rusman, 2009).
Pola kurikulum correlated curriculum ini menghendaki agar mata pelajaran
berhubungan dan bersangkut paut satu sama lain (correlated) walaupun mungkin
batas-batas yang satu dengan yang lain (Razali M. Thaib & Irman Siswanto).
Contohnya, mata pelajaran biologi, kimia fisika, dikelompokkan menjadi bidang
studi IPA. Demikian juga dengan mata pelajaran geografi, sejarah, ekonomi,
dikelompokkan dalam bidang studi IPS (Rusman, 2009).
Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pola kurikulum ini.
Kekurangannya dalam (Rusman, 2009) adalah sebagai berikut: 1) bahan pelajaran
yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam, 2) kurikulum ini
kurang menggunakan bahan pelajaran yang aktual yang langsung berhubungan
dengan kehidupan nyata siswa, 3) kurikulum ini kurang memerhatikan bakat,
minat, dan kebutuhan siswa, 4) apabila prinsip penggabungan belum dipahami,
kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan masih terlampau abstrak.
Sementara itu, kelebihan pola mata pelajaran gabungan (correlated curriculum)
dalam (Rusman, 2009) adalah sebagai berikut: 1) bahan bersifat korelasi walau
sebatas beberapa mata pelajaran, 2) memberikan wawasan yang luas dalam
lingkup atau bidang studi, 3) menambah minat siswa berdasarkan korelasi mata
pelajaran yang sejenis.

9
c. Broad Field Curriculum (Cakupan Luas)
Hilda Taba dalam (Zainal Arifin, 2011) menegaskan agar tercapai
gabungan yang nyata, maka perlu adanya integrating threads dan focusing centers
berupa tujuan, prinsip-prinsip umum, teori atau masalah masyarakat dan
kehidupan yang dapat mewujudkan gabungan itu secara wajar. Ciri-ciri kurikulum
bidang studi dalam (Zainal Arifin, 2011) antara lain: 1) Kurikulum terdiri atas
bidang studi yang merupakan perpaduan beberapa mata pelajaran yang serumpun
dan memiliki ciri-ciri yang sama, 2) Bahan pelajaran bertitik tolak pada suatu ini
masalah (core subject) tertentu, kemudian dijabarkan menjadi pokok bahasan, 3)
Bahan pelajaran disusun berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang telah ditetapkan, 4) Strategi pembelajaran bersifat terpadu, 5) Guru berperan
sebagai guru bidang studi, dan 6) Penyusunan kurikulum mempertimbangkan
minat, masalah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.

d. Integrated Curriculum (Kurikulum Terpadu)


Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menyajikan bahan
pembelajaran secara unit dan keseluruhan tanpa mengadakan batas-batas satu
pelajaran denagn yang lainnya (Sukiman, 2013). Orgamisasi kurikulum yang
menggunakan model integrated, tidak lagi menampilkan nama-nama mata
pelajaran atau bidang studi. Belajar berangkat dari suatu pokok masalah yang
harus dipecahkan. Masalah tersebut kemudian dinamakan tema atau unit. Belajar
berdasarkan unit bukan hanya menghafal sejumlah fakta, tetapi juga mencari dan
menganalisis fakta sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Dengan belajar
melalui pemecahan masalah itu diharapkan perkembangan siswa tidak hanya
terjadi pada segi intelektual, tetapi juga seluruh aspek, seperti sikap, emosi, dan
keterampilan (Rusman, 2009).

e. Kurikulum Inti (Core Curriculum) Founce dan Bossing


Dalam (Abdullah Idi, 2007) mengistilahkan core curriculum dengan
merujuk pada pengalaman belajar yang fundamental bagi peserta didik, karena
pengalaman belajar berasal dari: 1) kebutuhan atau dorongan secara individual
maupun umum, dan 2) kebutuhan secara sosial dan sebagai warga negara
masyarakat demokritas.

10
Kurikulum inti merupakan bagian dari kurikulum terpadu (integrated
curriculum). Dalam (Rusman, 2009) ada beberapa karakteristik yang dapat dikaji
dalam kurikulum ini adalah: 1) kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan
(continue) selalu berkaitan dan direncanakan secara terus menerus, 2) isi
kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang
saling berkaitan, 3) isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun
problema yang dihadapi secara aktual, 4) isi kurikulum cenderung mengambil
atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun sosial, 5) isi kurikulum
ini lebih difokuskan berlaku untuk semua siswa sehingga kurikulum ini sebagai
kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, sosial, dan
pengalaman yang terpadau.

f. Experience atau Activity Curriculum


Experience curriculum sering disebut juga dengan activity curriculum.
Kurikulum ini cenderung mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman
siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegritas dengan
lingkungan maupun dengan potensi siswa. Kurikulum ini pada hakikatnya siswa
berbuat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya vokasional, tetapi tidak
meniadakan aspek intelektual atau akademik siswa (Rusman, 2009).

B. Jurnal Pembanding
Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa
kerangka umum program-program pengajaran yang disampaikan kepada peserta
didik guna tercapainya tujuan pendidikan/pembelajaran yang ditetapkan.
Organisasi kurikulum yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan
disampaikan kepada siswa, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam
pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang
hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran,
urutannya dan cara menyajikan kepada siswa-siswa. Organisasi kurikulum terdiri
dari mata pelajaran tertentu yang secara tradisional bertujuan menyampaikan
kebudayaan/sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus diajarkan
kepada anak-anak. Setiap organisasi kurikulum memiliki keunggulan dan
kelemahan masing-masing baik yang bersifat teoritis maupun praktis.

11
Implementasi kurikulum dipengaruhi dan bergantung kepada beberapa faktor
terutama guru, kepala sekolah, sarana belajar, dan orang tua siswa. Berdasarkan
pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa organisasi kurikulum penting adanya
untuk membentuk materi-materi pelajaran apa saja yang nantinya dapat diajarkan
serta diberikan kepada siswa-siswa di sekolah.
Organisasi kurikulum dapat dikatakan sebagai konsep dasar awal untuk
mengembangkan materi-materi pelajaran sebagai isi kurikulum Dapat dirumuskan
menjadi beberapa kriteria antara lain:
a. Kriteria yang berhubungan dengan tujuan pendidikan
1. Apakah isi kurikulum yang direncanakan tersebut signifikan, valid, dan
berguna dalam menafsirkan, memahami (mengerti), dan menilai
kehidupan yang kontemporer.
2. Apakah isi kurikulum yang direncanakan tersebut berhubungan degnan
masalahmasalah kehidupan.
3. Apakah isi kurikulum tersebut akan memajukan perkembangan dan
pertumbuhan yang seimbang pada anakanak, sesuai dengan tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan (sikap, kemampuan, kebiasaan, dsb).
4. Apakah isi kurikulum yang diajukan tersebut memang penting, dalam
artian memberikan sumbangan yang berharga pada berbagai peran
kurikulum (konservatif, evaluatif, dsb) serta bermakna bagi pengalaman
manusia.
b. Kriteria yang berhubungan dengan sifat para siswa, yaitu apakah isi
kurikulum tersebut berguna dalam memuaskan minat dan keingintahuan
siswa.
Secara garis besar, ada tiga organisasi kurikulum, yaitu: Separated Subject
Curriculum, Correlated Curriculum, dan Integrated Curriculum.
a. Separated Subject Curriculum
Separated Subject Curriculum atau nama lainnya Kurikulum Mata
Pelajaran, dapat dikatakan sebagai golongan bentuk kurikulum yang masih
tradisional. Karena bahwasanya kurikulum ini sudah sejak lama diterapkan di
sekolah-sekolah kita, sampai dengan munculnya kurikulum tahun 1968 dan
kurikulum 1975. Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

12
1. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain dan masing-
masing berdiri sendiri.
2. Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiri dan
diberikan dalam waktu tertentu.
3. Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan
mengabaikan perkembangan aspek tingkah laiku lainnya.
4. Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan masalah yang dihadapi para
siswa.
5. Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan
tuntutan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang.
6. Pendekatan metodologi mengajar yang digunakan adalah sistem penuangan
(imposisi) dan mencipatakan perbedaan individual dikalangan para siswa.
7. Guru berperan paling aktif dengan pelaksanaan sistem guru mata pelajaran
dan mengabaikan unsur belajar aktif dikalangan para siswa.
8. Para siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum secara
kooperatif.

b. Correlated Curriculum
Organisasi correlated curriculum adalah suatu pengaturan/penyusunan
mata pelajaran dengan cara menggabungkan dua atau lebih mata pelajar baik yang
ada dalam bidang studi maupun yang ada diluar bidang studi. Karena sesuatu
topik dibahas dari berbagai mata pelajaran baik yang ada dalam bidang studi
maupun yang ada diluar bidang studi. kaena sesuatu topik dibahas dari berbagai
mata pelajaran maka pelaksanaannya dilakukan secara team teaching.
Pengelompokan mata pelajaran tertentu yang sejenis dapat digabungkan menjadi
satu yang kemudian nama mata pelajaran melebur bersatu menjadi satu bidang
studi, misalnya mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, sosiologi melebur menjadi satu
dan bernama bidang studi ilmu pengetahuan sosial.
Ciri-ciri kurikulum ini diantaranya adalah sebagai berikut ini:
a. Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan lainnya.
b. Sudah dimulai adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran degnan
permasalahan kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan
pengetahuan.

13
c. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran degnan minat dan
kemampuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual
masih sangat terbatas.
d. Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak
menghadapi kesulitan.
e. Meski guru masih memegang peran aktif, namun aktivitas siswa mulai
dikembangkan.

c. Integrated Curriculum
Integrated Curriculum atau sering dikenal kurikulum terintegrasi ini
sudah tidak lagi melihat batas-batas antara semua mata pelajaran. Karena semu
mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah atau unit. Jadi semua
mata pelajaran telah terpadu sebagai satu kesatuan yang bulat. Ciri-ciri kurikulum
terintegrasi ini adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasi.
b. Berdasarkan psikologi belajar Gestalt atau organismic.
c. Berdasarkan landasan sosiologis dan sosial kultural.
d. Berdasarkkan kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan
siswa.
e. Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata pelajaran atau
bidang studi yang ada, akan tetapi lebih luas. Bahkan mata pelajaran atau
bidang studi baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan
masalah.
f. Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik unit
pengalaman atau unit pelajaran.
g. Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Bahkan, peran siswa lebih
menonjol dalam kegiatan pembelajaran, dan guru bertindak selaku
pembimbing.
Kurikulum sekolah dasar pada umumnya meliputi substansi pembelajaran
yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai kelas I
hingga kelas VI. Di Indonesia kurikulum yang sekarang ini sedang berlangsung
adalah Kurikulum 2013. Hal paling menonjol dari diterapkannya Kurikulum
2013, terutama pada jenjang sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yaitu

14
penggunaan pembelajaran tematik terpadu. Walaupun pada kurikulum
sebelumnya yakni KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan).
Sementara gambaran konsep pembelajaran tematik terpadu dalam
Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Pertama,
diungkapkan dalam peraturan pemerintah No.32 Tahun 2013 Pasal 19 ayat (1)
bahwa “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.” Kedua, dalam Permendikbud RI No.67 Tahun 2013
tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah pada lampirannya disebutkan bahwa Kurikulum 2013 dikembangkan
dengan penyempurnaan pola salah satunya sebagai berikut,”Pola pembelajaran
ilmu pengetahuan tunggal (monodicipline) menjadi pembelajaran ilmu
pengetahuan jamak (multidiciplines).”
Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah
melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik terpadu dari kelas I sampai
kelas VI, lalu mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dikecualikan
untuk tidak menggunakan pembelajaran tematik terpadu.” Pendekatan yang
digunakan untuk mengintegrasikan kompetensi dasar dari berabgai mata pelajaran
yaitu intradisipliner, interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Integrasi
intradisipliner dilakukan dengan cara mengintegrasikan dimensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan menjadi satu kesatuan yang utuh di setiap mata
pelajaran. Lalu integrasi interdisipliner dilakukan dengan menggabungkan
kompetensi dasar beberapa mata pelajaran agar terkait satu dengan yang lainnya
sehingga dapat saling memperkuat, menghindari terjadinya tumpeng tindih, dan
menjaga keselarasan pembelajaran. Sedangkan integrasi multidisipliner dilakukan
tanpa menggabungkan kompetensi dasar tiap mata pelajaran. Dan terakhir
integrasi transdisipliner dilakukan dengan mengaitkan berbagai mata pelajaran
yang ada dengan permasalahan-permasalahan yang dijumpai di sekitarnya
sehingga pembelajaran menjadi kontekstual.

15
BAB III
KOMENTAR ISI JURNAL

A. Keluasan dan Kedalaman Isi Jurnal


Kajian teori yang terdapat dalam kedua jurnal ini sudah bagus. Karena
peneliti berhadapan langsung dengan teks (naskah) atau data yang umumnya
merupakan sumber sekunder yang tersimpan dalam rekaman tertulis (teks, angka,
gambar, rekaman tape atau film). Adapun keluasan dan kedalaman isi dari kedua
jurnal tersebut sudah bagus, dimana keduanya sama-sama membahas mengenai
organisasi kurikulum. Hanya saja di dalam jurnal utama pembahasannya lebih
luas mengenai organisasi kurikulum. Dijurnal ini dejelaskan pengembangan
organisasi kurikulum, faktor-faktor dalam organisasi kurikulum, prosedur
pengorganisasian kurikulum, dan model-model organisasi kurikulum di Indonesia.
Namun dalam materi model-model organisasi kurikulum di Indonesia kurang
lengkap pembahasannya.

B. Sistematika Penulisan Jurnal


1. Judul
Di dalam jurnal penulis sudah bagus dan jelas, baik dalam menentukan dan
menuliskan judulnya. Adapun judul pada jurnal utama yaitu mengenai Proses
Pengembangan Organisasi Kurkikulum Dalam Meningkatkan Pendidikan di
Indonesia dan pada jurnal pembanding yang berjudul Analisis Organisasi
Kurikulum dan Struktur Kurikulum Anak Usia Kelas Awal Sekolah Dasar
(SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Pada jurnal utama sudah sesuai dengan sistematika penulisan jurnal yaitu
judul tidak lebih dari 12 kata, judul ditulis di tengah atas halaman, menggunakan
huruf kapital, dan dicetak tebal. Sedangkan pada jurnal pembanding judul sudah
pas ditulis di tengah atas halaman dan dicetak tebal, Hanya saja kekurangannya
yaitu judulnya lebih dari 12 kata dan tidak menggunakan huruf kapital.
Adapun penulisan nama pada jurnal pembanding sudah konsisten yaitu
terdapat nama penulis, nama pembimbing I, nama pembimbing II tanpa gelar
akademik, disertai nama lembaga, dan menyertakan alamat email. Dan pada jurnal

16
utama sudah mencantumkan nama, lembaga, email tetapi tidak mencantumkan
nama pembimbing I, dan nama pembimbing II.

2. Abstrak
Pada jurnal utama dan pembanding dalam penulisan abstrak sudah sesuai
dengan sistematika penulisan jurnal, yaitu abstrak ditulis dalam bahasa Inggris
dan diikuti dengan Kata Kunci (Keywords) yang sebanyak 3-5 kata. Di dalam
abstrak sudah menyajikan sekitra 250 kata yang merangkum tujuan, metode, hasil,
dan kesimpulan. Hanya saja di dalam jurnal utama tidak terdapat metode dan hasil
yang seharusnya dibuat dalam penulisan jurnal.

3. Pendahuluan
Pada jurnal utama dan pembanding pendahuluan sudah sesuai dengan
sistematika penulisan jurnal yaitu pendahuluan berisi latar belakang mengapa
penelitian dilakukan, uraian permasalahan yang diteliti, dikaitkan dengan teori,
dan diakhiri dengan tujuan dilaksanakan penelitian.

4. Metode
Pada jurnal utama tidak mencantumkan metode penelitian, sedangkan pada
jurnal pembanding sudah mencantumkan metode penelitiannya.

5. Hasil
Pada jurnal utama hanya menampilkan pembahasannya saja dan tidak
terdapat hasil, Sedangkan pada jurnal pembanding terdapat hasil yang dinyatakan
dengan kalimat dalam paragraf.

6. Pembahasan
Adapun pembahasan pada jurnal utama dan pembanding sudah bagus.
Yaitu dalam pembahasan membandingkan hasil penelitian dengan model atau
teori yang diacu, dan menghubungkan hasil penelitian dengan yang sebelumnya
yang menunjukkan persamaan dan membahas perbedaannya.

7. Kesimpulan

17
Pada jurnal utama simpulan sudah sesuai dengan sistematika penulisan
jurnal yaitu simpulan sudah ditulis ringkas memuat informasi yang cukup
sehingga pembaca mengetahui inti dari jurnal tersebut. Namun pada jurnal
pembanding simpulannya kurang karena tidak membuat inti dari seluruh
pembahasannya.

8. Daftar Pustaka
Penulisan Daftar pustaka pada jurnal utama dan pembanding sudah bagus
sesuai dengan sistematika penulisan yaitu terdapat nama pengarang, judul buku
yang dimiringkan, tempat penerbit, nama penerbit dan tahun penerbit.

C. Bahasa dan Referensi Buku


Adapun penggunaan bahasa dalam penulisan jurnal utama dan
pembanding sudah baik. Penggunaan bahasa logis dan sistematis, hanya saja
dalam penulisan kata yang berbahasa inggris seharusnya di miringkan. Dan pada
kedua jurnal ini sudah banyak menggunakan referensinya sehingga dapat
menambah wawasan bagi pembaca.

18