Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok 6


Mata Kuliah: Manajemen Organisasi Pendidikan

DOSEN PENGAMPU: HENDRI FAUZA, M. Pd

DISUSUN OLEH:
Kelompok 6
Sem. VI/PAI-5

SHAFRA ALFARISY POHAN (0301173506)


CHAIRATUL MUSYRAFY (0301171323)
MAISAROH HASIBUAN (0301173493)
UMMI AIDA ADLINA SIREGAR (0301173509)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan sangat berperan penting bagi kehidupan manusia. Ini dapat


dikatakan karena pendidikan salah satu kebutuhan yang tidak terlepas dari
kehidupan manusia. Dengan dunia yang saat ini semakin berkembang, pendidikan
salah satu modal yang harus kita miliki dalam menghadapi perkembangan dunia.
Istilah yang mengatakan bahwa terjadinya maju mundur di suatu bangsa ini di
karenakan oleh faktor pendidikan. Jika pendidikan dalam suatu bangsa itu baik,
maka hal ini dapat membentuk SDM yang berkualitas pula. Dalam hal ini,
pendidikan dikatakan sebagai peran yang sangat penting dalam membentuk
generasi bangsa berikutnya. Apabila hasil dalam proses dari suatu pendidikan itu
gagal atau tidak berjalan dengan baik, maka dapat dikatakan akan sulit dicapainya
kemajuan suatu bangsa.
Banyak aktivitas yang dilakukan di dalam organisasi pendidikan atau
sekolah sebagai upaya mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu aktivitas
tersebut adalah manajemen. Manajemen adalah serangkaian proses yang
diarahkan langsung untuk pemanfaatan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah
secara efektif da efisien dalam rangka mencapai tujuan yang telah direncanakan.
Dengan kata lain, manajemen berkaitan dengan tiga unsur penting, yaitu
pengarahan kerja, pemanfaatan sumber daya, dan pencapaian tujuan bersama.

1
BAB II
MANAJEMEN PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
A. Manajemen Pendidik
1. Pengertian Manajemen Pendidik
Secara etimologis, kata manajemen berasal dari bahasa Inggris,
management yang dikembangkan dari kata to manage, yang artinya mengatur atau
mengelola. Manajemen menurut istilah adalah proses mengoordinasikan aktivitas-
aktivitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan
melalui orang lain.1
Manajemen menurut Terry (1986) adalah sebagai pencapaian tujuan yang
telah ditentukan sebelumnya melalui usaha orang lain (Management is the
accomplishing of the predertemined objective through the effort of other people).
Dalam Encylopedia of the Social Science  dikatakan bahwa manajemen adalah
proses pelaksanaan program untuk mencapai tujuan tertentu yang diselenggarakan
dan diawasi. Manajemen adalah ilmu seni mengatur proses pemanfaatan sumber
daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam
organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen adalah mengetahui kemana
yag dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan apa yang harus
dijalankan dan bagaimana mengemudikan kapal anda serta anggota dengan
sebaiknya tanpa pemborosan waktu dalam proses mengerjakannya.2
Manajemen tenaga kependidikan didefinisikan pula sebagai kegiatan
menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan.Yang dimaksud
dengan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengendalikan diri
dan diangkat untuk menunjang pelaksanaan pendidikan. Sedangkan pendidik
adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan.3 Maka manajemen pendidik merupakan suatu kegiatan
merencanakan, mengelola dan mengorganisasikan, mengkomunikasikan sumber
daya pendidikan (Pendidik) agar dapat berjalan atau melaksanakan tugas dan
1
U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2012), h. 1-2.
2
Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (Konsep, Strategi dan Aplikasi) (Yogyakarta:
Teras, 2009), h. 10.
3
Rugaiyah & Atiek Sismiati, Profesi Kependidikan (Indonesia: Ghalia, 2011), h. 79.

2
tanggung jawabnya secara efektif dan efesien dengan maksud tercapainya tujuan
pembelajaran atau tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

2. Tugas dan Fungsi Pendidik


Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 Pasal 39 Pendidik merupakan tenaga
professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta
melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik
pada perguruan tinggi. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara
professional pendidik harus memiliki kompetensi yang disyaratkan baik oleh
peraturan pemerintah maupun kebutuhan masyarakat. Mereka pun memiliki hak
dan kewajiban dalam melaksanakan tugas yaitu:
1) Pendidik berhak memperoleh:
a. Penghasilan dan jaminan kesejahteraan soaial yang pantas dan memadai.
b. Penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
c. Pembinaan karir sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas.
d. Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil
kekayaan intelektual.
e. Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas
pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.
2) Pendidik berkewajiban:
a. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan dialogis.
b. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan.
c. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan
sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.4
3. Peran Pendidik
Sebagai kesimpulan bahwa Pengoptimalisasian peran pendidik dalam
proses pembelajaran disekolah dapat dilihat dari perannya sebagai berikut:
a. Pendidik sebagai sumber belajar

4
Ridwan Idris, Manajemen Pendidikan dalam Aplikasinya di Sekolah (Makassar:
Alauddin University Press, 2014), h. 61.

3
Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi
pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari
penguasaan materi pengajaran.
b. Pendidik sebagai fasilitator
Berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam
kegiatan proses pembelajaran.
c. Pendidik sebagai pengelola
Guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan
siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru
dapatmenjaga kelas agar tetap kondusif.
d. Pendidik sebagai demonstrator
Peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala segala sesuatu yang
dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami.
e. Pendidik sebagai pembimbing
Guru berperan membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai
potensi yang dimiliknya sebagai bekal hidup mereka.
f. Pendidik sebagai motivator
Berperan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dengan cara
positif.
g. Pendidik sebagai evaluator
Guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang
keberhasilan siswa selama proses pembelajaran.5

4. Penguasaan Kompetensi Pendidik


Seorang pendidik harus menguasai sejumlah kompetensi-kompetensi, baik
kompetensi-kompetensi, baik kompetensi yang sifatnya sangat mendasar maupun
kompetensi yang sifatnya tuntutan dan pengembangan dari profesi keguruan.
Supardi (2013: 103) mengemukakan kompetensi-kompetensi pendidik sebagai
berikut:
a. Penguasaan Kompetensi Dasar

5
Wina Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008),
hlm. 291.

4
Sepuluh kompetensi versi CBTE kemudian oleh Departement Pendidikan
Nasional dijadikan sebagai profil Kompetensi Dasar Guru di Indonesia yaitu: 1)
menguasai bahan, 2) mengelola program, 3) mengelola kelas, 4) menggunakan
media/sumber belajar, 5) menguasai landasan-landasan kependidikan, 6)
mengelola interaksi pembelajaran, 7) menilai prestasi siswa untuk kepentingan
pendidikan, 8) mengenal fungsi dan pelayanan bimbingan dan penyuluhan, 9)
mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, 10) memahami prinsip-
prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran.
b. Penguasaan Kompetensi Pedagogik, Kepribadian Sosial, dan Profesional
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2005
mensyaratkan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru meliputi 1)
kompetensi pedagogik adalah kemampuan pemahaman guru terhadap peserta
didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. 2) Kompetensi kepribadian adalah kemampuan guru secara personal
yang tercermin pada kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan
berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia, 3)
kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dan bergaul
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, orang tua/wali peserta didik,
dan masyarakat sekitar, dan 5) Kompetensi profesional adalah kompetensi dasar
tentang disiplin ilmu yang dipelajarinya atau yang menjadi bidang spesialisya baik
penguasaan teoritis maupun praktis, kemampuan didaktis, metodik, psikologis,
keterampilan perencanaan dan pengelolaan serta kemampuan mengevaluasi hasil
belajar mengajar.

5. Perencanaan Manajemen Pendidik


Perencanaan Manajemen Pendidik adalah pengembangan, strategi dan
penyusunan tenaga pendidik dan kependidikan Sumber Daya Manusia (SDM)
yang komprehensif guna memenuhi kebutuhan organisasi di masa depan.
Perencanaan SDM merupakan awal dari pelaksanaan fungsi manajemen

5
SDM.Dengan melakukan perencanaan ini, segala fungsi SDM dapat dilaksankan
dengan efektif dan efisien.6
Dalam perencanaan dikenal dua metode, yaitu metode perencanaan
tradisional dan metode perencanaan terintegrasi. Metode perencanaan tradisional
disebut sebagai perencanaan tenaga kerja semata-mata memperhatikan masalah
jumlah tenaga kerja serta jenis dan tingkat keterampilan dalam organisasi.
Sedangkan perencanaan terintegrasi tidak lagi berpusat pada masalah pasokan dan
permintaan tenaga kerja. Dalam perencanaan terintegrasi segala perencanaan
berpusat pada visi strategik, yang kemudian visi tersebut dijadikan standar
pencapaian.
Namun pada kenyatan yang terjadi, masalah yang paling krusial dalam
dunia pendidikan saat ini terletak pada proses perencanaan, dimana kondisi
pendidikan dan tenaga kependidikan tidaklah seimbang dari segi kuantitas dan
kualitasnya. Guru pada kondisi saat ini 1 berbanding 11, artinya bahwa jumlah
guru hanya dipadati pada satu titik daerah (Maju) tertentu, yang kemudian
tidaklah terorganisir dengan baik, akibatnya pada suatu titik daerah (terpencil)
masih banyak yang memerlukan guru yang berkualitas yang harus menyebar rata
pada setiap daerah yang dianggap membutuhkan terkhusus pada daerah terluar
dan terpelosok.

B. Manajemen Peserta Didik


1. Pengertian Manajemen Peserta Didik
Peserta didik, menurut ketentuan umum Undang-Undang RI No 2 Tahun
1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik juga mempunyai sebutan-sebutan lain
seperti murid, subjek didik, anak didik, pembelajar, dan sebagainya. 7 Peserta didik
adalah semua orang yang melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan atau

6
M. Sulthon Masyhud, Modul Pengembangan Profesi Kependidikan Bagi Pengawas
Sekolah (Jember: FKIP Universitas Jember, 2007), h. 212.
7
Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h.
2.

6
dilibtkan secara langsung, yaitu semua masyarakat yang mengikuti pembelajaran
di lembaga pendidikan formal dan informal.8
Dari beberapa definisi tentang peserta didik di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa peserta didik adalah semua orang yang terlibat atau terdaftar
dalam suatu lembaga pendidikan formal, melalui jalur, jenjang dan pendidikan
tertentu. Jadi, semua orang, baik yang menempuh jenjang paud sampai perguruan
tinggi disebut sebagai peserta didik atau pelajar.
Manajemen Peserta didik sendiri dapat diartikan sebagai usaha pengaturan
terhadap peserta didik, mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai
dengan mereka lulus sekolah. Sedangkan Knezevich (1961) mengartikan
manajemen peserta didik adalah suatu layanan yang memusatkan perhatian pada
pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas, seperti
pengenalan, pendaftaran, layanan individu seperti pengembangan keseluruhan
kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Dari beberapa definisi tentang manajemen peserta didik tersebut, dapat
diambil kesimpulan bahwa manajemen peserta didik adalah pengelolaan segala
sesuatu yang berkaitan dengan pesert didik, baik itu proses pembelajaran di dalam
kelas maupun proses pengembangan potensi peserta didik di luar kelas. Selain itu
juga mengatur kegiatan peserta didik, mulai dari peserta didik terdaftar dalam
suatu lembaga sekolah sampai ia lulus dari lembaga sekolah tersebut.

2. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik


Tujuan umum dari manajemen peserta didik ialah mengatur segala
kegiatan-kegiatan peserta didik agar semua kegiatan-kegiatan tersebut dapat
menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Sehingga proses belajar mengajar
di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur serta dapat memberikan
kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara
keseluruhan.
Tujuan khusus dari manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotorik peserta didik.

8
Hasan Basri, Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam Jilid II (Bandung: Pustaka
Setia, 2010), h. 133.

7
b. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat
dan minat peserta didik.
c. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik
d. Dengan terpenuhinya hal tersebut diharapkan peserta didik dapat mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan
baik dan tercapai cita-cita mereka.

Fungsi Manejemen Peseta didik secara umum adalah sebagai wahana bagi
peseta pendidik untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin baik dari segi
individualitasnya, sosialnya, aspirasinya, kebutuhan dan potensi lainnya dari
peserta didik. 
Secara khusus fungsi manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik
adalah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitas
tanpa banyak terhambat.Meliputi kemampuan kecerdasan, kemampuan bakat
dan kemampuan lainnya.
2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi social peserta didik
adalah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya,
orang tua da keluarganya, lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan
sosial lingkungannya.
3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik
adalah agar peserta didik tersalur hobi,kesenangan dan minatnya. Karena hobi
juga merupakan penunjang terhadap pengembangan diri peserta didik secara
keseluruhan.
4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan kesejahteraan peserta
didik adalah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan
sangat penting karena dengan demikian ia akan jugaa turut memikirkan
kesejahteraan sebayanya.

3. Prinsip-prinsip Manajemen Peserta Didik


Prinsip manajemen peserta didik merupakan pedoman yang harus diikuti
dalam melaksanakn pengelolaan peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
a. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan
manajemen sekolah. Oleh karena itu,ia harus mempunyai tujuan yang sama
dan mendukung terhadap tujun manajemen secara keseluruhan.

8
b. Manajemen peserta didik harus mengemban misi pendidikan dan dalam
rangka mendidik para peserta didik.
c. Kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan
peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan memiliki
banyak perbedaan.
d. Kegiatan mnajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan
terhadap pembimbingan peserta didik.
e. Kegiatan manajemen peserta didik harus mendorong dan memacu
kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat
bagi peserta didik tidak hanya ketika disekolah,melainkan juga ketika sudah
terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta
didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan
peserta didik.

4. Ruang Lingkup Manajemen Peserta Didik


Ruang lingkup peserta didik adalah sebagai berikut:9
a. Perencanaan Peserta Didik
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam manajemen kesiswaan yaitu
mengadakan perencanaan. Peserta didik harus direncanakan, karena dengan
adanya perencanaan segala sesuatunya dapat dipikirkan dengan matang.
Dengan demikian, masalah-masalah yang muncul akan dapat ditangani
sesegera mungkin.
b. Penerimaan Peserta Didik Baru
Penerimaan peserta didik baru adalah salah satu kegiatan manajemen
peserta didik yang sangat penting. Dalam penerimaan peserta didik baru  ini
meliputi beberapa tahapan, yaitu (1) kebijaksanaan penerimaan peserta didik,
(2) system penerimaan peserta didik, (3) kriteria penerimaan peserta didik
baru, (4) prosedur penerimaan peserta didik baru, dan (5) problema
penerimaan peserta didik baru.
c. Orientasi Peserta Didik

9
Muhammad Faturahman, Memahami Manajemen Kesiswaan dalam Lembaga
Pendidikan Islam dalam website http://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/10/07/memahami-
manajemen-kesiswaan-dalam-lembaga-pendidikan-islam/ diakses pada tanggal 25 Oktober 2020.

9
Peserta didik yang sudah melakukan daftar ulang, mereka kemudian akan
memasuki masa orientasi peserta didik di sekolah. orientasi ini dilakukan dari
hari-hari pertama masuk sekolah. Pada bagian ini secara berurutan terdiri dari
(1) alasan dan batasan orientasi peserta didik, (2) tujuan dan fungsi orientasi
peserta didik, (3) hari-hari pertama di sekolah, (4) pekan orientasi peserta
didik.
d. Mengatur Kehadiran dan Ketidakhadiran Peserta Didik
Kehadiran peserta didik di sekolah sangat penting, karena jika peserta
didik tidak hadir di sekolah, tentu aktivitas belajar mengajar di sekolah tidak
dapat dilaksanakan..
e. Pengelompokan Peserta Didik
Peserta didik yang sudah melakukan daftar ulang, mereka perlu
dikelompokkan atau diklasifikasikan. Kegiatan yang termasuk dalam bagian
ini yaitu (1) urgensi pengelompokan, (2) wacana pengelompokan, (3) jenis-
jenis pengelompokan, dan (4) pengelompokan dan penjurusan.
f. Mengatur Evaluasi Hasil Belajar Peserta Didik
Evaluasi hasil belajar peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
mana peserta didik telah dapat menampilkan performa sesuai yang
diharapkan. Kegiatan yang termasuk dalam bagian ini yaitu, (1) alasan
perlunya evaluasi hasil belajar peserta didik, (2) batasan evaluasi hasil belajar
peserta didik, (4) teknik-teknik evaluasi hasil belajar peserta didik, (5)
kriteria-kriteria evaluasi hasil belajar peserta didik, (6) tindak lanjut evaluasi
hasil belajar peserta didik.
g. Mengatur Kenaikan Tingkat Peserta Didik
Kenaikan kelas dapat diatur sesuai dengan kebijakan dari msing-masing
sekolah. Dalam kenaikan kelas sering terjadi masalah-masalah yang
memerlukan penyelesaian secara bijak.
h. Mengatur Peserta Didik yang Mutasi dan Drop Out
Mutasi dan drop out seringkali membawa masalah di dunia pendidikan.
Oleh karena itu, keduanya harus ditangani dengan baik, agar tidak
mengakibatkan keruwetan dan keribetan yang berlarut-larut, sehingga pada
akhirnya akan mengganggu aktivitas sekolah secara keseluruhan.

10
i. Kode Etik, Pengadilan, Hukuman dan Disiplin Peserta Didik
Pendidikan disini didasarkan atas norma-norma tertentu bagi peserta didik.
Norma-norma dan aturan-aturan tersebut, mengharuskan peserta didik untuk
mengikutinya.

5. Langkah-langkah Perencanaan Peserta Didik


Menurut Asmendri, lamgkah-langkah perencanaan peserta didik yaitu:
a. Forcasting
Membuat perkiraan yang didasarkan atas faktor organisasi pendidikan baik
yang bersifat kondisional maupun situsional.
b. Objectives
Merupakan perumusan tujuan. Yaitu agar segala kegiatan yang akan
dilakukan tersebut senantiasa betul-betul mengarah pada tujuan yang sama.
c. Policy
Yaitu kebijakan untuk mengidentifikasi berbagai macam jenis kegiatan
yang diperhitungkan untuk mencapai tujuan.
d. Programming
Yaitu seleksi atas kegiatan-kegiatan yang sudah dirumuskan pada langkah
policy.
e. Procedure
Yaitu kegiatan-kegiatan yang telah diseleksi pada langkah programming
tersebut diurutkan, mana yang harus didahulukan dan mana yang harus
dikemudiankan.
f. Schedule
Yaitu penjadwalan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah diprioritaskan
sebagaimana pada langkah-langkah programming.
g. Budgeting
Yaitu merupakan anggaran atau pembiayaan. Dalam kegiatan ini ada dua
kegiatan yang dilakukan yaitu a) Mengalokasikan anggaran dan b) penentuan
sumber aggaran.10

Muhammad Kristiawan, dkk. Manajemen Organisasi Pendidikan (Yogyakarta:


10

Deepublish, 2017), h. 69-70.

11
BAB III
KESIMPULAN

Dari pemaparan penjelasan isi makalah diatas, maka dapat disimpulkan


sebagai berikut:
1. Manajemen pendidik merupakan suatu kegiatan merencanakan, mengelola dan
mengorganisasikan, mengkomunikasikan sumber daya pendidikan (Pendidik)
agar dapat berjalan atau melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara
efektif dan efesien dengan maksud tercapainya tujuan pembelajaran atau tujuan
pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
2. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 Pasal 39 Pendidik merupakan tenaga
professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
3. Adapun peran pendidik dalam proses pembelajaran yaitu sebagai sumber
belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator, dan
evaluator. Dan juga seorang pendidik harus menguasai sejumlah kompetensi
yaitu kompetensi dasar, Pedagogik, Kepribadian Sosial, dan Profesional.
4. Manajemen peserta didik adalah pengelolaan segala sesuatu yang berkaitan
dengan pesert didik, baik itu proses pembelajaran di dalam kelas maupun
proses pengembangan potensi peserta didik di luar kelas.
5. Tujuan umum dari manajemen peserta didik ialah mengatur segala kegiatan-
kegiatan peserta didik agar semua kegiatan-kegiatan tersebut dapat menunjang
proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur
serta dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan
pendidikan secara keseluruhan.
6. Adapun ruang lingkup peserta didik yaitu perencanaan peserta didik,
penerimaan peserta didik baru, orientasi peserta didik, mengatur kehadiran dan
ketidakhadiran peserta didik, pengelompokkan peserta didik, mengatur
evaluasi hasil belajar peserta didik, mengatur kenaikan tingkat peserta didik,
mengatur peserta didik yang mutasi dan drop out, dan kode etik, pengadilan,
hukuman dan disiplin peserta didik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasan dan Beni Ahmad Saebani. Ilmu Pendidikan Islam Jilid II. Bandung:
Pustaka Setia, 2010.

Idris Ridwan. Manajemen Pendidikan dalam Aplikasinya di Sekolah. Makassar:


Alauddin University Press, 2014.

Imron, Ali. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara,
2011.

Kristiawan, Muhammad dkk. Manajemen Organisasi Pendidikan. Yogyakarta:


Deepublish, 2017.

Masyhud, M. Sulthon. Modul Pengembangan Profesi Kependidikan Bagi


Pengawas Sekolah. Jember: FKIP Universitas Jember, 2007.

Muhammad Faturahman, Memahami Manajemen Kesiswaan dalam Lembaga


PendidikanIslam dalamwebsite http://muhfathurrohman.wordpress.com/20
12/10/07/memahami-manajemen-kesiswaan-dalam-lembaga-pendidikan-
islam/diakses pada tanggal 25 Oktober 2020.

Rugaiyah & Atiek Sismiati, Profesi Kependidikan. Indonesia: Ghalia, 2011.

Saefullah, U. Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2012.

Sanjaya, Wina. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group,


2008.

Sulistyorini. Manajemen Pendidikan Islam. Konsep, Strategi dan Aplikasi.


Yogyakarta: Teras, 2009.

13