Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH

TERAPI KOMPLEMENTER UNTUK ANAK DENGAN PENYAKIT KRONIS


DAN TERMINAL

Dosen Pengampu : Ns. Isra Nur Utari Syachnara, S.Kep., M.Kep

Disusun oleh :
Kelompok 3
1. Aji Sulistio (S18003)

2. Della Silviani (S18011)

3. Ella Violinza (S18017)

4. Ika Fauziyyah R. (S18024)

5. Mia Azizah N M (S18032)

6. Retno Hapsari (S18041)

7. Triski Purjianti (S18049)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PRODI SARJANA KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan terapi komplementer akhir- akhir ini menjadi sorotan banyak negara.
Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam pelayanan
kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Snyder & Lindquis, 2002). Estimasi di
Amerika Serikat 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan 386 juta orang yang
mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004). Data lain menyebutkan terjadi
peningkatan jumlah pengguna terapi komplementer di Amerika dari 33% pada tahun 1991
menjadi 42% di tahun 1997 (Eisenberg, 1998 dalam Snyder & Lindquis, 2002).
Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Di
berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien bertanya tentang terapi
komplementer atau alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter ataupun perawat.
Masyarakat mengajak dialog perawat untuk penggunaan terapi alternatif (Smith et al.,
2004). Hal ini terjadi karena klien ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan
pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi akan berdampak ada kepuasan klien. Hal
ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk berperan memberikan terapi komplementer.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan terapi komplementer untuk anak dengan penyakit
kronis dan terminal?
2. Apa saja macam-macam terapi komplementer ?

3. Apakah etiologi dari terapi komplementer untuk anak penyakit kronis dan terminal ?

4. Apakah manifestasi klinik dari terapi komplementer untuk anak dengan penyakit kronis
dan terminal?
5. Bagaimana penatalaksanaan medis dari terapi komplementer untuk anak dengan
penyakit kronis dan terminal?
6. Apa poin penting dalam setiap jurnal yang dilampirkan?
7. Bagaimana analisis dari terapi komplementer untuk anak dengan penyakit kronis dan
terminal ?
C. Tujuan

1. Mengetahui definisi dari terapi komplementer untuk anak dengan penyakit kronis dan
terminal
2. Mengetahui apa saja macam-macam terapi komplementer

3. Mengetahui etiologi dari terapi komplementer untuk anak dengan penyakit kronis dan
terminal
4. Mengetahui manifestasi klinik dari terapi komplementer untuk anak dengan penyakit
kronis dan terminal
5. Mengetahui penatalaksanaan medis dari terapi komplementer untuk anak dengan
penyakit kronis dan terminal
6. Mengetahui poin penting dalam setiap jurnal yang dilampirkan
7. Mengetahui bagaimana analisis dari pemberian terapi komplementer untuk anak dengan
penyakit kronis dan terminal
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kasus

Kasus penyakit terminal atau kronis pada anak adalah penyakit kanker,
leukemia, pneumonia, malaria, meningitis, difteri, campak. kelompok kami
mengambil kasus tentang penyakit leukemia.

B. Definisi

1. Terapi Komplementer

Terapi komplementer adalah sebuah domain luas dalam sumber daya


pengobatan yang meliputi sistem kesehatan, modalitas, praktik dan ditandai
dengan teori dan keyakinan, dengan cara berbeda dari sistem pelayanan
kesehatan yang umum di masyarakat atau budaya yang ada ( Snyder & Lindquis,
2002). Terapi komplementer dan alternatif termasuk didalamnya seluruh praktik
dan ide yang didefinisikan oleh pengguna sebagai pencegahan atau pengobatan
penyakit atau promosi kesehatan dan kesejahteraan.
2. Leukemia

Menurut Jurnal Liem, tahun 2019. Leukemia merupakan penyakit keganasan


sel darah yang berasal dari sumsum tulang, ditandai oleh proliferasi sel-sel
darah putih dengan manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi.
Leukemia akut dibagi atas leukemia limfositik akut (LLA) dan leukemia
myelositik akut (LMA). Leukemia limfositik akut (LLA) adalah keganasan
yang paling sering ditemukan pada anak dan dapat mengenai seluruh system
organ. Insiden LLA adalah sekitar 25%-30% dari seluruh leukemia pada anak.
Lebih sering pada anak laki-laki dan puncaknya insidensi antara usia 2 hingga 5
tahun (Liem, Edith F., Max Mantik, dan Novie Rampengan., 2019).
Leukemia adalah salah satu tipe kanker darah akibat produksi sel darah putih
(leukosit) yang abnormal dan berlebihan. Meski produksinya banyak, sel darah
putih tersebut tidak dapat berfungsi dalam pertahanan tubuh, seperti sel darah
putih yang normal. Sehingga, penderita leukemia rentan terhadap infeksi.
Kanker ini berkembang dalam darah dan sumsum tulang, serta dapat
mengganggu produksi sel darah merah dan keping darah (platelet)

C. Macam- macam Terapi Komplementer

Terapi komplementer ada yang invasif dan noninvasif. Contoh terapi komplementer
invasif adalah akupuntur dan cupping (bekam basah) yang menggunakan jarum
dalam pengobatannya. Sedangkan jenis non-invasif seperti terapi energi (reiki,
chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi biologis (herbal, terapi nutrisi, food
combining, terapi jus, terapi urin, hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas;
akupresur, pijat bayi, refleksi, reiki, rolfing, dan terapi lainnya (Menurut Jurnal
Liem, dkk pada tahun 2019).

D. Etiologi

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya leukimia, yaitu
a) Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen
( T cell leukimia lymphoma virus/ HTLV)
b) Radiasi, Obat – obat imunosupresif, obat – obat karsinigenik seperti
diethylstilestrol 15
c) Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot, kelainan kromosom,
misalnya pada Down Syndrome.

E. Manifestasi Klinis

Menurut Jurnal Liem, dkk pada tahun 2019, Gejala-gejala dan tanda klinis yang
dapat ditemukan :
1. Anemia menyebabkan mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada.

2. Anoreksia atau berat badan yang msnurun karena proliferasi dan metabolisme
sel-sel leukemia yang begitu cepat.
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemia).

4. Demam, banyak berkeringat (gejala hipermetabolisme).

5. Infeksi mulut, saluran napas atas dan bawah, selulitis, atau sepsis. Penyebab
tersering adalah stafilokokus, streptokokus, dan bakteri gram negatif usus, serta
berbagai spesies jamur. Infeksi ini sering terjadi berulang yang disebabkan
karena neutropeni atau berkurangnya jumlah neutrofil.
6. Perdarahan kulit (petechiae, atraumatic ecchymosis), perdarahan gusi,
hematuria, perdarahan saluran cerna, perdarahan otak, di mana perdarahan-
perdarahan ini terjadi karena trombositopenia.
7. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati yang disebabkan infiltrasi sel-sel
leukemia ke berbagai jaringan dan organ.
8. Massa di mediastinum (sering pada LLA sel T).

9. Leukemia sistem saraf pusat: nyeri kepala, muntah (gejala tekanan tinggi
intrakranial), perubahan dalam status mental, kelumpuhan saraf otak terutama
sarfa VI dan VII, kelainan neurologik fokal, jekang, sampai terjadi koma.
10. Keterlibatan organ lain: testis, retina, kulit, pleura, perikardium, tonsil.

F. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan LLA meliputi Kemoterapi dan radioterapi, dan terapi


kekambuhan. Kemoterapi untuk induksi remisi mencakup terapi multidrug yaitu 3
atau 4 obat menginduksi agresif diikuti dengan kemoterapi intratekal. Kombinasi
vincristine, prednisone, dan asparginase dengan atau tanpa antrasiklin
menghasilkan remisi lengkap pada sekitar 95%-98% dari pasien. Namun
penggunaan antarsiklin dibatasi oleh risiko kardiotoksisitas, mengingat bahwa obat
ini sering banyak digunakan selama terapi lini pertama. Setelah induksi, sebagian
protokol termasuk konsolidasi lebih lanjut dan intensif terapi terus untuk total
sekitar 2 tahun. 1,3,13 Dalam konsolidasi terapi ini menggunakan dosis tinggi
beragam obat kemoterapi untuk mengeleminasi penyakit atau mengurangi beban
tumor ke tingkat yang sangat rendah. Protokol tipikal berisi vincristine,
siklofosfamid, sitosin arabinosid, daunorubisin, eroposid, atau merkaptopurin yang
diberikan dalam berbagai kombinasi. ( Menurut Jurnal Liem, dkk pada tahun
2019).

G. Poin penting dalam Jurnal


1. TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN
a. Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan
dalam pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan terapi
tradisional ke dalam pengobatan modern (Andrews et al., 1999).
b. Macam Terapi komplementer ada yang invasif dan non- invasif.
c. Peran perawat yang dapat dilakukan dari pengetahuan tentang terapi
komplementer, Perawat dapat berperan sebagai pemberi pelayanan
langsung misalnya dalam praktik pelayanan kesehatan yang melakukan
integrasi terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).

2. PENGARUH TERAPI AKUPRESUR TERHADAP MUAL MUNTAH


LAMBAT AKIBAT KEMOTERAPI PADA ANAK USIA SEKOLAH YANG
MENDERITA KANKER DI RS KANKER DHARMAIS JAKARTA

a. Kanker merupakan suatu proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal
di ubah oleh mutasi genetik dari Deoxyribo Nucleat Accid (DNA) selular. Sel
abnormal mulai berproliferasi secara abnormal. Kemudian dicapai suatu
tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasif dan terjadi perubahan pada
sel- sel disekitarnya. Sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitar dan
memperoleh akses ke limfe dan pembuluh darah serta melalui pembuluh
darah tersebut sel dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk
metastase (penyebaran kanker) pada bagian tubuh yang lain (Smelzer, Bare,
Hinkle & Cheever, 2008)

b. Akupresur merupakan salah satu terapi komplementer pada anak yang


mengalami mual muntah lambat akibat kemoterapi.
c. Akupresur dapat menurunkan mual muntah lambat akibat kemoterapi pada
anak usia sekolah yang menderita kanker. Rekomendasi penelitian akupresur
dapat diterapkan sebagai terapi non farmakologi untuk mengurangi mual
muntah lambat akibat kemoterapi pada anak.

3. PENGARUH TERAPI RELAKSASI TERHADAP KONTROL GLIKEMIK


PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI PURWOKERTO

a. DM adalah gangguan sistem endokrin yang dikarakteristikkan oleh fluktuasi


kadar gula darah yang abnormal, biasanya berhubungan dengan defect
produksi insulin dan metabolisme glukosa (Dunning, 2003).

b. Terapi komplemeter antara lain terapi herbal, latihan nafas, meditasi dan
relaksasi (Xu Yu, 2004). Teknik relaksasi pertama kali dikemukan oleh Dr.
Herbert Benson (1976).

c. Terapi Komplementer bersifat pengobatan alami untuk menangani penyebab


penyakit dan memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakitnya.

d. Terapi relaksasi akan mendapatkan hasil yang optimal untuk menurunkan


kadar gula dalam darah pasien DM dengan lebih mengoptimalkan frekuensi
yaitu terapi dilakukan 5-10 kali setiap hari dengan durasi masing-masing 15-
20 menit dan jarak antar terapi 3-4 jam sekali dalam sehari.
H. Analisis Terapi Komplementer

1. Terapi Komplementer untuk penyakit terminal

Terapi komplementer secara efektif dapat membantu dalam manajemen


mual muntah akibat kemoterapi diantaranya yaitu relaksasi, guided imagery,
distraksi, hipnosis, akupresur dan akupunktur. Anak yang menderita leukemia
akan memperoleh pengobatan kemoterapi, dimana kemoterapi ini dapat
menimbulkan berbagai macam efek samping yang tidak menyenangkan bagi
anak dan keluarganya.

Akupresur merupakan salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan


pemijatan dan stimulasi pada titik – titik tertentu pada tubuh. Akupresur adalah
tindakan yang sangat sederhana tetapi cukup efektif, mudah dilakukan, memiliki
efek samping yang minimal, dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pada
pasien dan aplikasi prinsip healing touch pada akupresur menunjukkan perilaku
caring yang dapat mendeteksi hubungan terapeutik antara perawat dan pasien
(Mehta, 2007).

Titik akupresur yang paling sering digunakan untuk mengatasi mual dan
muntah akibat kemoterapi adalah titik P6 dan titik St36. Akupresur pada titik P6
dan titik ST36 dapat menurunkan mual dan muntah melalui efek terapinya di
tubuh. Stimulasi yang dilakukan pada titik-titik ini diyakini akan memperbaiki
gangguan pada lambung termasuk mual dan muntah (Dibble et al., 2007).

2. Terapi komplementer untuk penyakit kronis

Salah satu intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah dengan


terapi komplementer. Terapi komplemeter antara lain terapi herbal, latihan
nafas, meditasi dan relaksasi (Xu Yu, 2004). Teknik relaksasi pertama kali
dikemukan oleh Dr. Herbert Benson (1976). Ia telah menemukan, bahwa
meditasi akan mengarah pada pengaturan perubahan fisiologik dalam
menghadapi respon fight-or-flight, meliputi penurunan konsumsi oksigen,
denyut jantung, frekuensi pernafasan dan laktat darah. Penanganan keperawatan
dengan teknik ini akan menurunkan efek endokrin.

Penelitian menunjukkan bahwa DM dianggap stressor bagi pasien. Terapi


relaksasi tidak cukup signifikan untuk menurunkan kadar gula dalam darah pada
pasien diabetes mellitus. Saran untuk terapi relaksasi akan mendapatkan hasil
yang optimal untuk menurunkan kadar gula dalam darah pasien DM dengan
lebih mengoptimalkan frekuensi yaitu terapi dilakukan 5-10 kali setiap hari
dengan durasi masing-masing 15-20 menit dan jarak antar terapi 3-4 jam sekali
sehari.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Terapi komplementer dan alternatif termasuk didalamnya seluruh praktik


dan ide yang didefinisikan oleh pengguna sebagai pencegahan atau pengobatan
penyakit atau promosi kesehatan dan kesejahteraan. Terapi non-konvensional
merupakan salah satu dari terapi medis alternatif atau komplementer. Terapi
komplementer (complementary therapies) adalah semua terapi yang digunakan
sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang direkomendasikan oleh
penyelenggaraan pelayanan kesehatan individu (Perry, Potter, 2009).
Terapi alternatif adalah terapi di luar terapi konvensional. Sementara
komplementer berarti pelengkap bagi terapi konvensional yang ada dan telah
terbukti bermanfaat. Terapi alternatif (alternative therapies) meliputi intervensi
yang sama dengan terapi komplementer, tetapi sering kali menjadi pengobatan
primer yang mengganti pelayanan medis alopatik. Kedua terapi alternatif dan
komplementer bervariasi derajatnya di mana mereka cocok dengan pengobatan
alopatik.

B. SARAN

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat bersifat membangun bagi
pembaca pada umumnya. Dan kelompok juga menyadari makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat
dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Liem, Edith F., Max Mantik, dan Novie Rampengan.2019.“Hubungan Kadar


Hemoglobin Dan Tercapainya Remisi Pada Anak Penderita Leukemia Akut”
dalam Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR).1(3):1-7

Perry, Potter. 2009. Fundamentals of Nursing Buku 2 Edisi 7. Jakarta : Salemba


Medika.

Rukayah siti , Fitria , dan Evi. 2014. “ Pengaruh terapi akupresur terhadap mual
muntah lambat akibat kemoterapi pada anak usia sekolah yang menderita kanker”
dalam jurnal persabda husada indonesia 1 (1), 13-22.

Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004). Clinical nursing skills: Basic to
advanced skills. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Snyder, M. & Lindquist , R. (2002). Complementary/alternative therapies in


nursing. 4th ed. New York: Springer.

Widyatuti,2008. “Terapi Komplementer Dalam Keperawatan”. Jurnal Keperawatan


Indonesia Vol 12 No 1 hal : 53-57
TINJAUAN PUSTAKA

TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN

Widyatuti *

Abstrak

Terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi isu di banyak negara. Masyarakat menggunakan terapi ini
dengan alasan keyakinan, keuangan, reaksi obat kimia dan tingkat kesembuhan. Perawat mempunyai
peluang terlibat dalam terapi ini, tetapi memerlukan dukungan hasil-hasil penelitian (evidence-based
practice). Pada dasarnya terapi komplementer telah didukung berbagai teori, seperti teori Nightingale,
Roger, Leininger, dan teori lainnya. Terapi komplementer dapat digunakan di berbagai level pencegahan.
Perawat dapat berperan sesuai kebutuhan klien.

Kata kunci: keperawatan, terapi alternatif, terapi komplementer

Abstract

Complementary therapy has emerged as a common health issue in the countries worldwide. People
choose the complementary therapy based on many reasons such as belief, financial, avoiding the
chemical reaction from medicine, and positive healing outcome. Nurse has great opportunity to deliver
and develop complementary therapy supported by scientific evidences. Basically, the complementary
therapy theoretical justification has been established by several nursing theory, as the Nightingale’s,
Roger’s, Leininger’s and many others. Complementary therapy can be delivered in various prevention
level. In accordance to the purpose, nurse should perform his/her role based on particular client’s
needs.

Key words: alternative therapy, complementary therapy, nursing

PENDAHULUAN Amerika Serikat dan negara lainnya (Snyder &


Lindquis, 2002). Estimasi di Amerika Serikat 627
Perkembangan terapi komplementer akhir-
juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan
akhir ini menjadi sorotan banyak negara.
386 juta orang yang mengunjungi praktik
Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi
konvensional (Smith et al., 2004). Data lain
bagian penting dalam pelayanan kesehatan di
menyebutkan terjadi peningkatan jumlah pengguna
terapi komplementer di Amerika dari 33% pada
tahun 1991 menjadi 42% di tahun 1997 (Eisenberg, pengambilan keputusan dalam pengobatan dan
1998 dalam Snyder & Lindquis, 2002). peningkatan kualitas hidup dibandingkan
sebelumnya. Sejumlah 82% klien melaporkan
Klien yang menggunakan terapi komplemeter
adanya reaksi efek samping dari pengobatan
memiliki beberapa alasan. Salah satu alasannya
konvensional yang diterima menyebabkan memilih
adalah filosofi holistik pada terapi komplementer,
terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).
yaitu adanya harmoni dalam diri dan promosi
kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan Terapi komplementer yang ada menjadi salah
lainnya karena klien ingin terlibat untuk satu pilihan pengobatan masyarakat. Di berbagai
tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien
bertanya tentang terapi komplementer atau
alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter
ataupun perawat. Masyarakat mengajak dialog
perawat untuk penggunaan terapi alternatif (Smith
et al., 2004). Hal ini terjadi karena klien ingin
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan
pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi
akan berdampak ada kepuasan klien. Hal ini dapat
menjadi peluang bagi perawat untuk berperan
memberikan terapi komplementer.
54 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 12, No. 1,
Maret 2008; hal 53-57

Peran yang dapat diberikan perawat dalam modalitas atau aktivitas yang menambahkan

terapi komplementer atau alternatif dapat pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan

disesuaikan dengan peran perawat yang ada, sesuai (Crips & Taylor, 2001). Terapi komplementer juga

dengan batas kemampuannya. Pada dasarnya, ada yang menyebutnya dengan pengobatan holistik.

perkembangan perawat yang memerhatikan hal ini Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang

sudah ada. Sebagai contoh yaitu American Holistic mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu

Nursing Association (AHNA), Nurse Healer sebuah keharmonisan individu untuk

Profesional Associates (NHPA) (Hitchcock et al., mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam

1999). Ada pula National Center for kesatuan fungsi (Smith et al., 2004).

Complementary/Alternative Medicine (NCCAM) Pendapat lain menyebutkan terapi


yang berdiri tahun 1998 (Snyder & Lindquis, 2002). komplementer dan alternatif sebagai sebuah
Kebutuhan masyarakat yang meningkat dan domain luas dalam sumber daya pengobatan yang
berkembangnya penelitian terhadap terapi meliputi sistem kesehatan, modalitas, praktik dan
komplementer menjadi peluang perawat untuk ditandai dengan teori dan keyakinan, dengan cara
berpartisipasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Perawat dapat berperan sebagai konsultan untuk
klien dalam memilih alternatif yang sesuai ataupun
membantu memberikan terapi langsung. Namun,
hal ini perlu dikembangkan lebih lanjut melalui
penelitian (evidence-based practice) agar dapat
dimanfaatkan sebagai terapi keperawatan yang
lebih baik.

TERAPI KOMPLEMENTER

Terapi komplementer dikenal dengan terapi


tradisional yang digabungkan dalam pengobatan
modern. Komplementer adalah penggunaan terapi
tradisional ke dalam pengobatan modern (Andrews
et al., 1999). Terminologi ini dikenal sebagai terapi
berbeda dari sistem pelayanan kesehatan yang pengobatan tradisional yang menggunakan energi

umum di masyarakat atau budaya yang ada misalnya tai chi, chikung, dan reiki.

(Complementary and alternative Teori keperawatan yang ada dapat dijadikan


medicine/CAM Research Methodology dasar bagi perawat dalam mengembangkan terapi
Conference, 1997 dalam Snyder & Lindquis, komplementer misalnya teori transkultural yang
2002). Terapi komplementer dan alternatif dalam praktiknya mengaitkan ilmu fisiologi,
termasuk didalamnya seluruh praktik dan ide anatomi, patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini
yang didefinisikan oleh pengguna sebagai didukung dalam catatan keperawatan Florence
pencegahan atau pengobatan penyakit atau Nightingale yang telah menekankan pentingnya
promosi kesehatan dan kesejahteraan. mengembangkan lingkungan untuk penyembuhan
Definisi tersebut menunjukkan terapi dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses
komplemeter sebagai pengembangan terapi penyembuhan. Selain itu, terapi komplementer
tradisional dan ada yang diintegrasikan dengan meningkatkan kesempatan perawat dalam
terapi modern yang mempengaruhi menunjukkan caring pada klien (Snyder &
keharmonisan individu dari aspek biologis, Lindquis, 2002).
psikologis, dan spiritual. Hasil terapi yang
telah terintegrasi tersebut ada yang telah lulus
uji klinis sehingga sudah disamakan dengan obat
modern. Kondisi ini sesuai dengan prinsip
keperawatan yang memandang manusia
sebagai makhluk yang holistik (bio, psiko,
sosial, dan spiritual).

Prinsip holistik pada keperawatan ini perlu


didukung kemampuan perawat dalam menguasai
berbagai bentuk terapi keperawatan termasuk
terapi komplementer. Penerapan terapi
komplementer pada keperawatan perlu
mengacu kembali pada teori-teori yang
mendasari praktik keperawatan. Misalnya
teori Rogers yang memandang manusia
sebagai sistem terbuka, kompleks,
mempunyai berbagai dimensi dan energi.
Teori ini dapat mengembangkan
Terapi komplementer dalam keperawatan (Widyatuti) 55

Hasil penelitian terapi komplementer yang imagery (Smith et al., 2004). Hasil riset juga

dilakukan belum banyak dan tidak dijelaskan menunjukkan hipnoterapi meningkatkan suplai

dilakukan oleh perawat atau bukan. Beberapa yang oksigen, perubahan vaskular dan termal,

berhasil dibuktikan secara ilmiah misalnya terapi mempengaruhi aktivitas gastrointestinal, dan

sentuhan untuk meningkatkan relaksasi, mengurangi kecemasan (Fontaine, 2005).

menurunkan nyeri, mengurangi kecemasan, Hasil-hasil tersebut menyatakan terapi


mempercepat penyembuhan luka, dan memberi komplementer sebagai suatu paradigma baru
kontribusi positif pada perubahan psikoimunologik (Smith et al., 2004). Bentuk terapi yang digunakan
(Hitchcock et al., 1999). Terapi pijat (massage) dalam terapi komplementer ini beragam sehingga
pada bayi yang lahir kurang bulan dapat disebut juga dengan terapi holistik. Terminologi
meningkatkan berat badan, memperpendek hari kesehatan holistik mengacu pada integrasi secara
rawat, dan meningkatkan respons. Sedangkan menyeluruh dan mempengaruhi kesehatan,
terapi pijat pada anak autis meningkatkan perhatian perilaku positif, memiliki tujuan hidup, dan
dan belajar. Terapi pijat juga dapat meningkatkan pengembangan spiritual (Hitchcock et al., 1999).
pola makan, meningkatkan citra tubuh, dan
menurunkan kecemasan pada anak susah makan
(Stanhope, 2004). Terapi kiropraksi terbukti dapat
menurunkan nyeri haid dan level plasma
prostaglandin selama haid (Fontaine, 2005).

Hasil lainnya yang dilaporkan misalnya


penggunaan aromaterapi. Salah satu aromaterapi
berupa penggunaan minyak esensial berkhasiat
untuk mengatasi infeksi bakteri dan jamur (Buckle,
2003). Minyak lemon thyme mampu membunuh
bakteri streptokokus, stafilokokus dan tuberkulosis
(Smith et al., 2004). Tanaman lavender dapat
mengontrol minyak kulit, sedangkan teh dapat
membersihkan jerawat dan membatasi
kekambuhan (Key, 2008). Dr. Carl menemukan
bahwa penderita kanker lebih cepat sembuh dan
berkurang rasa nyerinya dengan meditasi dan
Terapi komplementer dengan demikian dapat ataupun kursus- kursus terapi semakin banyak

diterapkan dalam berbagai level pencegahan dibuka. Ini dapat dibandingkan dengan Cina yang

penyakit. telah memasukkan terapi tradisional Cina atau


traditional Chinese Medicine (TCM) ke dalam
Terapi komplementer dapat berupa promosi
perguruan tinggi di negara tersebut (Snyder &
kesehatan, pencegahan penyakit ataupun
Lindquis, 2002).
rehabilitasi. Bentuk promosi kesehatan misalnya
memperbaiki gaya hidup dengan menggunakan Kebutuhan perawat dalam meningkatnya

terapi nutrisi. Seseorang yang menerapkan kemampuan perawat untuk praktik keperawatan

nutrisi sehat, seimbang, mengandung berbagai juga semakin meningkat. Hal ini didasari dari

unsur akan meningkatkan kesehatan tubuh. berkembangnya kesempatan praktik mandiri.

Intervensi komplementer ini berkembang Apabila perawat mempunyai kemampuan yang

di tingkat pencegahan primer, sekunder, tersier dapat dipertanggungjawabkan akan meningkatkan

dan dapat dilakukan di tingkat individu maupun hasil yang lebih baik dalam pelayanan

kelompok misalnya untuk strategi stimulasi keperawatan.

imajinatif dan kreatif (Hitchcock et al., 1999).

Pengobatan dengan menggunakan terapi


komplementer mempunyai manfaat selain dapat
meningkatkan kesehatan secara lebih
menyeluruh juga lebih murah. Terapi
komplementer terutama akan dirasakan lebih
murah bila klien dengan penyakit kronis yang
harus rutin mengeluarkan dana. Pengalaman
klien yang awalnya meng- gunakan terapi
modern menunjukkan bahwa biaya membeli obat
berkurang 200-300 dolar dalam beberapa
bulan setelah menggunakan terapi
komplementer (Nezabudkin, 2007).

Minat masyarakat Indonesia terhadap terapi


komplementer ataupun yang masih tradisional
mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya pengunjung praktik terapi
komplementer dan tradisional di berbagai
tempat. Selain itu, sekolah-sekolah khusus
56 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 12, No. 1,
Maret 2008; hal 53-57

MACAM TERAPIKOMPLEMENTER hasil-hasilnya misalnya herbal, makanan).

Terapi komplementer ada yang invasif dan non- Kategori keempat adalah terapi manipulatif dan

invasif. Contoh terapi komplementer invasif adalah sistem tubuh. Terapi ini didasari oleh manipulasi

akupuntur dan cupping (bekam basah) yang dan pergerakan tubuh misalnya pengobatan

menggunakan jarum dalam pengobatannya. kiropraksi, macam-macam pijat, rolfing, terapi

Sedangkan jenis non-invasif seperti terapi energi cahaya dan warna, serta hidroterapi. Terakhir,

(reiki, chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi terapi energi yaitu terapi yang fokusnya berasal dari

biologis (herbal, terapi nutrisi, food combining, energi dalam tubuh (biofields) atau mendatangkan

terapi jus, terapi urin, hidroterapi colon dan terapi energi dari luar tubuh misalnya terapetik sentuhan,

sentuhan modalitas; akupresur, pijat bayi, refleksi, pengobatan sentuhan, reiki, external qi gong,

reiki, rolfing, dan terapi lainnya (Hitchcock et al., magnet. Klasifikasi kategori kelima ini biasanya

1999) dijadikan satu kategori berupa kombinasi antara


biofield dan bioelektromagnetik (Snyder &
National Center for Complementary/
Lindquis, 2002).
Alternative Medicine ( NCCAM) membuat
klasifikasi dari berbagai terapi dan sistem
pelayanan dalam lima kategori. Kategori pertama,
mind-body therapy yaitu memberikan intervensi
dengan berbagai teknik untuk memfasilitasi
kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala fisik
dan fungsi tubuh misalnya perumpamaan
(imagery), yoga, terapi musik, berdoa, journaling,
biofeedback, humor, tai chi, dan terapi seni.

Kategori kedua, Alternatif sistem pelayanan


yaitu sistem pelayanan kesehatan yang
mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis
berbeda dari Barat misalnya pengobatan tradisional
Cina, Ayurvedia, pengobatan asli Amerika,
cundarismo, homeopathy, naturopathy. Kategori
ketiga dari klasifikasi NCCAM adalah terapi
biologis, yaitu natural dan praktik biologis dan
diantaranya sebagai konselor, pendidik kesehatan,
Klasifikasi lain menurut Smith et al (2004)
peneliti, pemberi pelayanan langsung, koordinator
meliputi gaya hidup (pengobatan holistik,
dan sebagai advokat. Sebagai konselor perawat
nutrisi), botanikal (homeopati, herbal,
dapat menjadi tempat bertanya, konsultasi, dan
aromaterapi); manipulatif (kiropraktik,
diskusi apabila klien membutuhkan informasi
akupresur & akupunktur, refleksi, massage);
ataupun sebelum mengambil keputusan. Sebagai
mind-body (meditasi, guided imagery,
pendidik kesehatan, perawat dapat menjadi
biofeedback, color healing, hipnoterapi). Jenis
pendidik bagi perawat di sekolah tinggi
terapi komplementer yang diberikan sesuai
keperawatan seperti yang berkembang di Australia
dengan indikasi yang dibutuhkan. Contohnya
dengan lebih dahulu mengembangkan kurikulum
pada terapi sentuhan memiliki beberapa
pendidikan (Crips & Taylor, 2001). Peran perawat
indikasinya seperti meningkatkan relaksasi,
sebagai peneliti di antaranya dengan melakukan
mengubah persepsi nyeri, menurunkan
berbagai penelitian yang dikembangkan dari hasil-
kecemasan, mempercepat penyembuhan, dan
hasil evidence-based practice.
meningkatkan kenyamanan dalam proses
kematian (Hitchcock et al., 1999).

Jenis terapi komplementer banyak sehingga


seorang perawat perlu mengetahui pentingnya
terapi komplementer. Perawat perlu mengetahui
terapi komplementer diantaranya untuk
membantu mengkaji riwayat kesehatan dan
kondisi klien, menjawab pertanyaan dasar
tentang terapi komplementer dan merujuk
klien untuk mendapatkan informasi yang
reliabel, memberi rujukan terapis yang
kompeten, ataupun memberi sejumlah terapi
komplementer (Snyder & Lindquis, 2002). Selain
itu, perawat juga harus membuka diri untuk
perubahan dalam mencapai tujuan perawatan
integratif (Fontaine, 2005).

PERAN PERAWAT

Peran perawat yang dapat dilakukan dari


pengetahuan tentang terapi komplementer
Terapi komplementer dalam keperawatan (Widyatuti) 57

Perawat dapat berperan sebagai pemberi pengembangan kebijakan, praktik keperawatan,


pelayanan langsung misalnya dalam praktik pendidikan, dan riset. Apabila isu ini berkembang
pelayanan kesehatan yang melakukan integrasi dan terlaksana terutama oleh perawat yang
terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002). mempunyai pengetahuan dan kemampuan tentang
Perawat lebih banyak berinteraksi dengan klien terapi komplementer, diharapkan akan dapat
sehingga peran koordinator dalam terapi meningkatkan pelayanan kesehatan sehingga
komplementer juga sangat penting. Perawat dapat kepuasan klien dan perawat secara bersama-sama
mendiskusikan terapi komplementer dengan dokter dapat meningkat (HH, TH).
yang merawat dan unit manajer terkait. Sedangkan
* Staf Akademik Keperawatan Komunitas FIK UI
sebagai advokat perawat berperan untuk memenuhi
permintaan kebutuhan perawatan komplementer
yang mungkin diberikan termasuk perawatan dipertanggungjawabkan.
alternatif (Smith et al.,2004).
Perawat sebagai salah satu profesional
kesehatan, dapat turut serta berpartisipasi dalam
PENUTUP terapi komplementer. Peran yang dijalankan sesuai
dengan peran-peran yang ada. Arah perkembangan
Masyarakat Indonesia sudah mengenal adanya
kebutuhan masyarakat dan keilmuan mendukung
terapi tradisional seperti jamu yang telah
untuk meningkatkan peran perawat dalam terapi
berkembang lama. Kenyataannya klien yang
komplementer karena pada kenyataannya,
berobat di berbagai jenjang pelayanan kesehatan
beberapa terapi keperawatan yang berkembang
tidak hanya menggunakan pengobatan Barat (obat
diawali dari alternatif atau tradisional terapi.
kimia) tetapi secara mandiri memadukan terapi
tersebut yang dikenal dengan terapi komplementer. Kenyataan yang ada, buku-buku keperawatan
membahas terapi komplementer sebagai isu praktik
Perkembangan terapi komplementer atau
keperawatan abad ke 21. Isu ini dibahas dari aspek
alternatif sudah luas, termasuk didalamnya orang
yang terlibat dalam memberi pengobatan karena
banyaknya profesional kesehatan dan terapis selain
dokter umum yang terlibat dalam terapi
komplementer. Hal ini dapat meningkatkan
perkembangan ilmu pengetahuan melalui
penelitian-penelitian yang dapat memfasilitasi
terapi komplementer agar menjadi lebih dapat
KEPUSTAKAAN nursing. 4th ed. New York: Springer.

Andrews, M., Angone, K.M., Cray, J.V., Lewis, Stanhope, M. & Lancaster, J. (2004). Community
J. A., & Johnson, P.H. (1999). Nurse’s & public health nursing. 6th ed. St. Louis:
handbook of alternative and Mosby Inc.
complementary therapies. Pennsylvania:
Springhouse.

Buckle, S. (2003). Aromatherapy. http//


. www. naturalhealthweb. com/ art icles,
diperoleh 25 Januari 2008.

Fontaine, K.L. (2005). Complementary &


alternative therapies for nursing practice.
2th ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Hitchcock, J.E, Schubert, P.E., Thomas, S.A.


(1999). Community health nursing: Caring
in action. USA: Delmar Publisher.

Key, G. (2008). Aromatherapy beauty tips. http//


.www.naturalhealthweb.
com/article
s/ georgekey3.html, diperoleh 25 Januari
2008.

Nezabudkin, V. (2007). How to research


alternatif treatment before using
them.http//
. www. naturalhealthweb. com/ art
icles/ Nezabudkin1.html, diperoleh 25
Januari 2008.

Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004).


Clinical nursing skills: Basic to advanced
skills. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Snyder, M. & Lindquist, R. (2002).


Complementary/alternative therapies in
Pengaruh Terapi Akupresur terhadap Mual Muntah Lambat Akibat Kemoterapi
pada Anak Usia Sekolah yang Menderita Kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta

Siti Rukayah1, Fitria Prihatini1, Evi Vestabilivy1

The Effect of Acupressure Therapy to Delayed Chemotherapy-Induced Nausea and


Vomiting in School Age Who Suffered from Cancer at RS Kanker Dharmais Jakarta

Abstrak
Akupresur merupakan salah satu terapi komplementer pada anak yang mengalami
mual muntah lambat akibat kemoterapi. Mual muntah merupakan efek samping yang dapat
menimbulkan stres pada anak dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
pengaruh terapi akupresur terhadap mual muntah lambat akibat kemoterapi pada anak usia
sekolah yang menderita kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta. Desain penelitian adalah
kuasi eksperimen dengan pre- postwithout controldesign berupa pemberian akupresur pada
titik P6 dan St36 sebanyak 2 kali selama
3 menit setiap 6 jam sekali setelah kemoterapi. Pengambilan sampel dengan cara consecutive
sampling, 20 responden anak usia sekolah dipilih sebagai responden. Hasil penelitian
menunjukkan penurunan rerata mual muntah setelah akupresur (p value=0,000). Kesimpulan
akupresur dapat menurunkan mual muntah lambat akibat kemoterapi pada anak usia sekolah
yang menderita kanker. Rekomendasi penelitian akupresur dapat diterapkan sebagai terapi
non farmakologi untuk mengurangi mual muntah lambat akibat kemoterapi pada anak.

Kata kunci : akupresur, kemoterapi, mual muntah


lambat

Abstract
Acupressure is one of the complementary therapy on children who experience delayed
chemotherapy-induced nausea and vomiting (CINV). Nausea vomiting is a side effect that
could cause stress toward children and their family. The purpose of this research was to
identify the effect of acupressure to delayed chemotherapy-induced nausea and vomiting in
school age children who suffered from cancer at Kanker Dharmais Hospital Jakarta. The
study design was quasi eksperiment with pre-post test without control design from of
acupressure point P6 and St36 2 times for 3 minutes every 6 hours. Taking sample by using
the methode of consecutive sampling, 20 respondents of school- aged children were chosen
for the study. The result of the study showed that there is a significant decreases of the mean
delayed nausea and vomiting scores after acupressure. The conclusion of this study is that the
acupressure can decrease the delay CINV in school age children that are suffering from
cancer. The recommendations from the acupressure research can be applied as a non-
pharmacological therapy to reduce nausea and vomiting caused by chemotherapy than in
children.

Key words: acupressure, chemotherapy, delayed nausea and vomiting

1 Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Persada Husada Indonesia

Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1


No.1| 13
Pendahuluan jantung. Hal ini menyebabkan jumlah anak yang

Kanker merupakan suatu proses menjalani kemoterapi kemungkinan akan

penyakit yang bermula ketika sel abnormal bertambah banyak, namun hal ini tidak dapat

di ubah oleh mutasi genetik dari Deoxyribo dipastikan karena tidak semua penanganan kanker

Nucleat Accid (DNA) selular. Sel abnormal dengan kemoterapi.

mulai berproliferasi secara abnormal. Jenis penyakit kanker pada anak berbeda

Kemudian dicapai suatu tahap dimana sel dengan jenis kanker pada orang dewasa.

mendapatkan ciri-ciri invasif dan terjadi Berdasarkan klasifikasinya terdapat empat jenis

perubahan pada sel- sel disekitarnya. Sel- kanker pada anak meliputi leukemia, limfoma,

sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitar tumor sistem saraf pusat dan tumor padat

dan memperoleh akses ke limfe dan (Hockenberry & Wilson, 2007). Diantara jenis

pembuluh darah serta melalui pembuluh kanker tersebut, leukemia merupakan jenis kanker

darah tersebut sel dapat terbawa ke area yang paling banyak ditemukan pada anak-anak dan

lain dalam tubuh untuk membentuk pengobatan leukemia

metastase (penyebaran kanker) pada


bagian tubuh yang lain (Smelzer, Bare,
Hinkle & Cheever, 2008).
Di Amerika sekitar 1.638.910 kasus
baru kanker didiagnosa pada tahun 2012,
dan sekitar 577.190 orang meninggal
karena kanker serta lebih dari 1500 orang
meninggal karena kanker setiap harinya.
Untuk kasus kanker pada anak di Amerika
sekitar 12.060 kasus baru dalam rentang
usia antara 0-14 tahun pada tahun 2012 dan
kematian akibat kanker pada anak sekitar
1.340 diantara usia 0-
14 tahun dan 1/3 kasus kematian karena
leukemia (American Cancer Society,
2012).
Di Indonesia 2-4% angka kelahiran
hidup anak Indonesia menderita penyakit
kanker dan memerlukan pengobatan sejak
dini (Pusat Data Statistik, 2008). Selain itu
di Indonesia, kanker menjadi penyumbang
kematian ketiga terbesar setelah penyakit
adalah dengan kemoterapi tanpa timbulnya gejala mual muntah setelah 24

disertai dengan pembedahan dan jam sampai 6 hari setelah kemoterapi dan

radioterapi (Hockenberry & biasanya mengikuti fase akut. Anticipatory

Wilson, 2007). Hal ini menambah adalah gejala mual muntah yang terjadi

jumlah anak yang mendapatkan sebelum kemoterapi diberikan (Hawkins &

kemoterapi ditambah dengan kasus Grunberg, 2009).

kanker lain yang juga mendapatkan Kemoterapi dapat menimbulkan mual

penanganan dengan kemoterapi. muntah melalui beberapa mekanisme yang

Mual muntah akibat bervariasi dan serangkaian yang kompleks.

kemoterapi tidak selalu sama Pertama, kemoterapi secara langsung

diantara beberapa individu menstimulasi Chemoreseptor Trigger Zone

tergantung pada jenis obat dan (CTZ). Efek ini dimediasi oleh pengeluaran

dosis kemoterapi (Grunberg, 5HT3 dan NK1 akibat pemberian

2004). Berdasarkan potensi kemoterapi. Kedua, kemoterapi

emetiknya, agen kemoterapi menyebabkan gangguan pada mukosa

tersebut memiliki potensi emetik gastrointestinal dan menyebabkan

mulai dari emetik rendah sampai pengeluaran neuro transmitter termasuk

emetik tinggi. Apabila seorang 5HT3. Hal ini menyebabkan mual muntah

anak mendapatkan kemoterapi melalui jalur perifer yang dimediasi oleh

yang memiliki potensi emetik saraf vagus. Ketiga, gejala ini disebabkan

tinggi maka akan menyebabkan oleh pengaruh neurohormonal melalui

mual muntah yang hebat dan


apabila seorang anak mendapatkan
kemoterapi dengan emetik rendah
maka gejala mual muntah yang Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1
akan terjadi relatif ringan. No.1| 14
Kemoterapi yang
menyebabkan mual dan muntah
dikategorikan dalam tiga jenis
berdasarkan waktu terjadinya
sehubungan dengan pemberian
kemoterapi yaitu acute, delayed,
anticipatory. Acute adalah gejala
mual muntah yang terjadi kurang
dari 24 jam selama pemberian
kemoterapi. Delayed adalah waktu
terganggunya arginin vasopressin dan pemberian kemoterapi. Atas dasar itulah maka mual

prostaglandin. Keempat, mual muntah muntah yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya

dimediasi oleh kecemasan yang mual muntah tertunda.

memberikan pengaruh terhadap sistem Pemberian antiemetik dapat digunakan untuk

saraf pusat termasuk pusat muntah (Wood mengurangi gejala mual muntah yang muncul akibat

et al., 2007) kemoterapi (Chemotherapy Induced Nausea and

Meskipun mual muntah akibat Vomitting). Antiemetik yang digunakan untuk

kemoterapi telah dilaporkan terjadi mengatasi mual muntah akibat kemoterapi

diantara 60% dari anak-anak yang adalah 5-

menjalani pengobatan kemoterapi (Tyc et Hydroxytryptamine-3 (5HT3), Serotonin Reseptor

al, 1997). Penelitian yang lain juga Antagonis (SRA). Jenis SRA yang paling umum

dilakukan pada 11 anak dengan hasil 100% digunakan untuk anak-anak adalah Ondansetron

melaporkan mual dan 36% melaporkan efektif untuk pasien anak yang mendapat Cisplatin,

muntah saat menjalani pengobatan Cyclophosphamide, Fosfamide dan Anthracycline

kemoterapi (Lee at al., 2008). Di sisi lain, antiemetik yang

(Williams, direkomendasikan seperti antagonis 5HT3 dan

Schmideskamp, Ridder, & Williams,


2006).
Adapun batasan mual muntah yang
akan dibahas dalam penelitian ini adalah
mual muntah tertunda (delayed) yaitu mual
muntah yang terjadi minimal 24 jam
setelah pemberian kemoterapi dan dapat
berlangsung sampai 120 jam. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan sekitar 38%
pasien yang mendapatkan kemoterapi
dengan bahan dasar Cisplatin melaporkan
mengalami mual muntah akut dan 61%
mengalami muntah pada hari kedua dan
ketiga meskipun telah diberikan
Metoklorpramide dan Dexamethason pada
saat pemberian Cisplatin (Grunberg, 2004).
Dalam penelitiannya juga menyatakan
bahwa kejadian mual muntah yang paling
sering dialami oleh pasien terjadi pada 48
jam sampai dengan 72 jam setelah
NK1 adalah obat yang mahal aplikasi prinsip healing touch pada

(Molassiotis et al., 2007). Oleh akupresur menunjukkan perilaku caring

karena itu diperlukan tindakan yang dapat mendeteksi hubungan

penunjang berupa terapi terapeutik antara perawat dan pasien

komplementer yang dapat (Mehta, 2007).

membantu dalam upaya Titik akupresur yang paling sering

pencegahan dan manajemen digunakan untuk mengatasi mual dan

mual muntah akibat kemoterapi. muntah akibat kemoterapi adalah titik P6

Penelitian yang dilakukan oleh dan titik St36. Akupresur pada titik P6 dan

Lee et al (2008) melaporkan titik ST36 dapat menurunkan mual dan

bahwa 29% pasien mengalami muntah melalui efek terapinya di tubuh.

mual muntah akut dan 47% Stimulasi yang dilakukan pada titik-titik ini

mengalami mual muntah diyakini akan memperbaiki gangguan pada

delayed atau tertunda selama lambung termasuk mual dan muntah

empat hari setelah mendapat (Dibble et al., 2007).

kemoterapi, meskipun telah Pengaruh akupresur terhadap

mendapatkan antiemetik penurunan mual dan muntah telah diuji

regimen terbaru. oleh beberapa ahli melalui penelitian.

Terapi komplementer Dibble, et al (2007) telah melakukan

secara efektif dapat membantu penelitian untuk membandingkan

dalam manajemen mual muntah perbedaan mual dan muntah akibat

akibat kemoterapi diantaranya kemoterapi pada 160 orang wanita.

yaitu relaksasi, guided imagery, Responden dibagi tiga kelompok yang

distraksi, hipnosis, akupresur terdiri dari kelompok yang mendapat

dan akupunktur (Lee at al., akupresur, placebo akupresur dan

2008). Akupresur merupakan mendapat perawatan yang biasa. Hasil

salah satu bentuk fisioterapi penelitian menunjukkan bahwa terdapat

dengan memberikan pemijatan


dan stimulasi pada titik – titik
tertentu pada tubuh. Akupresur Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1
adalah tindakan yang sangat No.1| 15
sederhana tetapi cukup efektif,
mudah dilakukan, memiliki efek
samping yang minimal, dapat
digunakan untuk mendeteksi
gangguan pada pasien dan
perbedaan intensitas mual dan muntah neuroblastoma 3%, meduloblastoma 3%.

yang signifikan pada kelompok yang Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh

mendapat akupresur bila dibandingkan peneliti, akupresur belum pernah dilakukan sebagai

dengan kelompok plasebo dan kelompok salah satu bentuk tindakan keperawatan dalam

yang mendapatkan perawatan biasa dan menurunkan gejala mual muntah akibat efek

tidak terdapat perbedaan yang signifikan kemoterapi di Ruang Rawat Inap Anak RS Kanker

pada kelompok plasebo akupresur dan Dharmais. Menurut Dibble, et al. (2007) akupresur

kelompok yang mendapatkan perawatan merupakan tindakan yang mudah untuk dilakukan

yang biasa. oleh perawat dan memiliki banyak keuntungan.

Pada tahun 2011 di Iran dilakukan Anak usia sekolah adalah anak yang berusia

penelitian oleh Bastani tentang pengaruh 6–12 tahun. Pada periode usia sekolah, anak mulai

akupresur terhadap 120 anak usia sekolah memasuki dunia yang lebih luas, ditandai anak

yang menderita Leukemia Limphoblastik memasuki lingkungan sekolah yang memberikan

Akut (LLA) dengan hasil intensitas mual dampak perkembangan dan hubungan dengan

muntah pada anak yang dilakukan orang lain. Perkembangan

akupresur lebih rendah dibandingkan


dengan kelompok plasebo.
Rumah Sakit Kanker Dharmais
Jakarta merupakan rumah sakit rujukan
nasional untuk berbagai masalah pasien
dengan kanker. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan di RS Kanker Dharmais
didapatkan data jumlah anak yang
menderita kanker pada tahun 2011
sebanyak 107 anak terdiri dari bayi
sebanyak 3 anak (3%), toddler 31 anak
(29%), pra sekolah
19 anak (18%), usia sekolah 31 anak
(29%) dan remaja 23 anak (21%). Adapun
jenis kanker yang paling banyak
menyerang usia anak adalah leukemia
29%, limpoma 13%,
osteosarkoma 6%, rabdomiosarkoma
6%,
retinoblastoma 5%, tumor wilm
4%,
bahasa anak usia sekolah ditandai komplikasi tambahan, keterlambatan

dengan anak mulai meningkat pengobatan dan penurunan kualitas hidup

kemampuan menggunakan bahasa (Miller & Kearney, 2004).

dan kemampuan berkembang Berdasarkan fenomena di atas dapat

seiring dengan pendidikan di disimpulkan bahwa anak yang menderita

sekolah. Kemampuan sosialisasi kanker akan memperoleh pengobatan

anak usia sekolah ditandai dengan kemoterapi, dimana kemoterapi ini dapat

keingintahuan tentang dunia di luar menimbulkan berbagai macam efek

keluarga dan pengaruh kelompok samping yang tidak menyenangkan bagi

sangat kuat pada anak anak dan keluarganya. Salah satu efek

(Hockenberry & Wilson, 2007). samping yang menakutkan bagi anak dan

Pengobatan kanker pada anak keluarga adalah mual muntah. Kondisi ini

meliputi penggunaan agen menyebabkan stres bagi penderita dan

kemoterapi yang dapat keluarga yang terkadang membuat

menyebabkan beberapa efek penderita dan keluarga memilih untuk

samping dan kadang-kadang parah. menghentikan siklus terapi, dimana apabila

Mual muntah yang diakibatkan siklus terapi ini dihentikan akan berpotensi

kemoterapi umum terjadi, mempengaruhi harapan hidup anak karena

sebanyak 60% dari pasien anak akan mempercepat penyebaran dari sel

dengan kanker mengalami mual kanker. Untuk mengatasi hal tersebut,

muntah (TYC, Mulhern & maka diberikan antiemetik untuk

Bieberich, 1997). Mual muntah mengatasi mual muntah juga diperlukan

akibat kemoterapi telah dilaporkan tindakan penunjang berupa terapi

sebagai salah satu efek samping komplementer yang disesuaikan

yang paling ditakuti dan


menyedihkan dari pengobatan
kanker (Holdsworth, Raish& Frost,
2006). Mual muntah yang kurang Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1
terkontrol dapat berakibat pada No.1| 16
fisik dan psikososial anak usia
sekolah termasuk anoreksia, gizi
buruk, gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit , kecemasan
(Dewan, Singhal, & Harit, 2010).
Hal ini dapat membuat pasien anak
usia sekolah rentan terhadap
dengan anak usia sekolah seperti suatu metode pemilihan sampel yang dilakukan

akupresur. Peneliti juga belum pernah dengan memilih semua individu yang ditemui dan

menemukan data penelitian yang dilakukan memenuhi kriteria pemilihan, sampai jumlah sampel

tentang pengaruh akupresur untuk yang diinginkan terpenuhi (Dharma, 2011). Kriteria

mengatasi mual muntah lambat akibat inklusi dalam penelitian ini adalah anak berusia antara

kemoterapi pada anak usia sekolah dengan 6-12 tahun yang mendapat kemoterapi, kooperatif,

kanker di Indonesia. Berdasarkan uraian mampu membaca, menulis dan berkomunikasi secara

diatas peneliti tertarik untuk melakukan verbal dan nonverbal, sadar, berorientasi pada tempat,

penelitian tentang pengaruh akupresur waktu dan orang serta rute pemberian kemoterapi

untuk mengatasi mual muntah lambat melalui intravena. Kriteria eksklusi dalam penelitian

akibat kemoterapi pada anak usia sekolah ini adalah anak dengan kanker dalam kondisi lemah

dengan kanker di RS Kanker Dharmais. dan tidak sadar,

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan menggunakan desain
kuasi eksperimen dengan pre test dan post
test tanpa kontrol untuk membandingkan
tindakan yang dilakukan sebelum dan
sesudah eksperimen. Pretest merupakan
pengukuran tingkat mual muntah sebelum
intervensi dilakukan. Terapi akupresur
akan dilakukan pada kelompok intervensi
pada hari keempat kemudian dilakukan
pengukuran mual muntah kedua sebagai
data post test. Prosedur dilakukan pada
pasien yang menjalani kemoterapi dirawat
di ruang rawat inap anak RS Kanker
Dharmais Jakarta.
Populasi dalam penelitian ini
adalah anak usia sekolah yang menderita
kanker yang sedang menjalani kemoterapi
dan dirawat di Ruang Rawat Inap Anak RS
Kanker Dharmais Jakarta. Teknik
pengumpulan sampel pada penelitian ini
menggunakan consecutive sampling yaitu
mengalami mual muntah dengan menggunakan kuesioner terstruktur

antisipatori, trombositopenia pada saat kunjungan. Jika ada responden

(<100 mg%), memiliki penyakit yang tidak hadir pada saat itu maka

penyerta serta kontraindikasi peneliti akan datang pada hari-hari

akupresur, kulit yang terluka, berikutnya untuk melakukan pengumpulan

bengkak, tulang retak, kulit data sampai semua responden dapat

yang terbakar. Jumlah sampel mengisi kuesioner.Setelah kuesioner

pada penelitian ini sebesar 20 terkumpul maka dilakukan tahapan

anak. pengolahan: editing, coding, entry data.

Peneliti mencoba Kegiatan memasukkan data yang diperoleh

mengukur pengaruh terapi dari kuesioner dengan menggunakan paket

akupresur terhadap mual software statistic yaitu dengan SPSS

muntah lambat akibat 17.Analisis data dengan menggunakan

kemoterapi pada pasien anak analisis univariat dan bivariat.

dengan kanker di RS Kanker


Dharmais Jakarta. Variabel Hasil Penelitian Dan Pembahasan
penelitian ini terdiri dari Gambaran karakteristik
variabel bebas, variabel terikat responden berdasarkan
dan variabel potensial perancu. usia
Variabel bebasnya adalah terapi Usia responden minimal 6 tahun dan
akupresur, variabel terikatnya maksimal berusia 12 tahun. Rerata usia
adalah mual muntah serta responden secara keseluruhan adalah 9,15
variabel potensial perancunya tahun dengan standar deviasi 1,899. Dari
adalah usia, jenis kelamin, hasil penelitian ini didapatkan bahwa usia
kemoterapi yang digunakan, responden paling rendah adalah 6 tahun
obat antiemetik yang dan maksimum berusia 12 tahun. Rata-rata
digunakan, dan siklus usia responden secara keseluruhan adalah
kemoterapi. 9,15 tahun. Hasil tersebut sesuai dengan

Seluruh variabel penelitian yang dilakukan oleh Lee et al


penelitian diambil dari data (2008) yang menyatakan bahwa insiden
primer yang dikumpulkan kanker pada anak

Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1


No.1| 17
antara tahun 2004-2007 di Amerika, dalam mengurangi respon mual muntah
menunjukkan bahwa insiden kanker pada pada anak kanker yang menjalani
kelompok anak-anak (usia 6-12 tahun) kemoterapi. Peneliti menyimpulkan bahwa
mengalami peningkatan setiap tahunnya usia anak yang efektif untuk dijadikan
(Lee, et al., 2008). Usia anak yang sebagai responden penelitian pada terapi
digunakan pada penelitian ini juga sama akupresur untuk mengurangi mual muntah
dengan usia anak yang digunakan pada akibat kemoterapi adalah anak berusia 6-12
penelitian Bastani (2011) yang melakukan tahun (usia sekolah). Pendapat peneliti
penelitian pada 120 anak kanker usia tersebut sesuai dengan pendapat
sekolah dengan desain Randomised Hockenberry (1988) serta Hockenberry
Clinical Trial (RCT) yang bertujuan untuk dan Wilson (2007).
mengidentifikasi efektifitas terapi
akupresur

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia di RS Kanker Dharmais November - Desember 2012
Variabe Rerat SD N Minimal
l a -
Maksima
l
Usia 9,15 1,89 20 6 - 12
9

Gambaran 6 responden (30%), dan responden dengan


karakteristikresponden jumlah terendah yaitu limpoma (5%) dan
berdasarkan diagnosis medis histiositosis (5%). Diagnosa medis tersebut
Diagnosis medis responden akan terlihat lebih jelas pada tabel 2
dengan jumlah tertinggi berikut.
yaitu osteosarcoma sebanyak

Tabel 2Distribusi Responden Berdasarkan Diagnosis Medis di RS Kanker Dharmais


November- Desember 2012
No Diagnosa Medis Tota Frekuensi
l (%)
1 Osteosarcoma 6 30
2 Sarcoma 4 20
3 PNET 2 10
4 Retinoblastoma 2 10
5 Teratoma 2 10
6 Neuroblastoma 2 10
7 Limpoma Burkit 1 5
8 Histiositosis 1 5

Gambaran karakteristik responden perawat untuk melakukan tindakan


berdasarkan jenis kelamin, antisipasi sebelum memulai pemberian
kemoterapi, antiemetik dan siklus kemoterapi diantaranya adalah jenis
kemoterapi kelamin.
Hasil penelitian menunjukkan Pada penelitian ini ditemukan
bahwa sebagian besar responden berjenis bahwa hampir sebagian responden
kelamin perempuan yaitu 55%. Thompson menggunakan kemoterapi dengan potensi
(1999 dalam Garrett et al, 2003) emetik tinggi sebanyak 8 responden (40%),
menjelaskan bahwa wanita lebih 6 responden (30%) menggunakan
memungkinkan mengalami mual muntah kemoterapi dengan potensi emetik sedang
daripada laki-laki, kemungkinan dan 6 responden (30%) menggunakan
disebabkan oleh pengaruh hormone. Hasil kemoterapi dengan potensi emetik ringan.
penelitian yang dilakukan oleh Lebaron, et Temuan pada penelitian ini sejalan dengan
al (2006) didapatkan anak perempuan penelitian Dibble, et al (2003) dan Dibble,
dilaporkan mengalami mual lebih besar et al (2007). Penelitian Dibble, et al.
dibandingkan laki-laki. Dengan demikian (2003) dilakukan pada sebagian besar
ada beberapa faktor resiko yang dapat (76%) responden yang mendapatkan
menjadi perhatian

Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1


No.1| 18
kemoterapi dengan emetogenik tinggi, Berdasarkan pemaparan beberapa
15% responden yang mendapatkan penelitian di atas, peneliti mendapatkan
kemoterapi dengan derajat emetogenik kesimpulan bahwa temuan pada penelitian
sedang sedangkan sisanya (9%) dengan ini memiliki karakteristik yang sama
derajat emetogenik yang lain. Sementara dengan penelitian sebelumnya dalam hal
penelitian Dibble, et al. (2007) adalah pemakaian antiemetik yaitu menggunakan
penelitian random klinis tentang pengaruh antiemetik dengan indeks terapi tinggi.
akupresur terhadap mual muntah akibat Semua responden pada penelitian ini
kemoterapi yang dilakukan pada 76% menggunakan antiemetik indeks terapi
responden yang menggunakan kemoterapi tinggi. Pandangan peneliti tentang
kombinasi Cyclophosphamid dan penggunaan antiemetik dengan indeks
Epirubicin. Kombinasi tersebut merupakan terapi tinggi juga didukung oleh Bradburry
kemoterapi derajat emetogenik tinggi. (2004). Pemberian antiemetik disesuaikan
Sementara sisanya (24%) menggunakan dengan emetogenik kemoterapi, obat
kemoterapi dengan derajat emetogenik dengan emetogenik tinggi dan sedang
yang lebih rendah. diberikan kombinasi antagonis reseptor
Pada penelitian ini ditemukan 5HT3 dengan kortikosteroid. Antagonis
bahwa sebagian besar responden (100%) reseptor 5HT3 merupakan pilihan yang
menggunakan antiemetik dengan indeks paling sering digunakan untuk menurunkan
terapi tinggi. Dengan demikian dapat CINV. Ondansetron, salah satu obat dari
disimpulkan bahwa penggunaan antiemetik golongan tersebut mempunyai kemampuan
sebelum dan setelah dilakukan tindakan yang lebih untuk memblok reseptor
sudah sama. Penelitian lain yang sejalan serotonin (Bradburry, 2004).
dengan temuan penelitian ini adalah Berdasarkan siklus kemoterapi
penelitian yang dilakukan oleh Molassiotis responden hampir merata untuk masing-
(2000) di China yang menggunakan desain masing siklus. Sebelum dilakukan tindakan
RCT. Pada penelitian ini, semua responden akupresur, paling banyak responden berada
penelitian diberikan antiemetik dari pada siklus ke1 yaitu 9 orang (55%),
golongan antagonis reseptor 5HT3 yang sedangkan untuk siklus 2, 3 dan 5
dikombinasikan dengan Dexamethasone masing-
yang merupakan antiemetik dari golongan masing 30%, 20%, 5%.
indeks terapi tinggi.

Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Kemoterapi, Antiemetik dan


Siklus Kemoterapi di RS Kanker Dharmais November-Desember 2012
No Variabel Total Frekuensi
(%)

1 Jenis Kelamin
Perempuan 11 55
Laki-laki 9 45
2 Kemoterapi
Emetogenik Ringan 6 30
Emetogenik Sedang 6 30
Emetogenik Berat 8 40
3 Antiemetik
Indeks Terapi Tinggi 20 100
Indeks Terapi Rendah 0 0%
4 Siklus Kemoterapi
Pertama 9 45
Kedua 6 30
Ketiga 4 20
Keempat 1 5

Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1


No.1| 19
Gambaran rata-rata skor mual dan setelah dilakukan akupresur adalah 3,70
muntah sebelum dan sesudah dengan SD= 0,804. Rerata mual muntah
intervensi pada kelompok yang dilakukan akupresur
Hasil penelitian menunjukkan rerata sebelumnya adalah 11,65 dengan
mual pada kelompok yang dilakukan SD=2,907 dan setelah dilakukan akupresur
akupresur sebelumnya adalah 5,00 dengan adalah 6,45 dengan SD=1,276. Penulis
SD=1,026 dan setelah dilakukan akupresur menarik kesimpulan bahwa terjadi
adalah 2,75 dengan SD=0,551. Rerata penurunan rerata mual muntah pada
muntah pada kelompok yang dilakukan kelompok setelah diintervensi sebesar 5,20.
akupresur sebelumnya adalah 6,65 dengan
SD=1,927 dan

Tabel 4. Rata-rata Skor Mual dan Muntah Sebelum dan Sesudah Intervensi di RS Kanker
Dharmais November-Desember 2012
No Variabel Pengukuran Rerat SD
a
1 Skor Mual Sebelum 5,00 1,02
6
Sesudah 2,75 0,55
1
2 Skor Muntah Sebelum 6,65 1,92
7
Sesudah 3,70 0,80
4
3 Skor Mual Muntah Sebelum 11,65 2,90
7
Sesudah 6,45 1,27
6

Analisis Bivariat ini mendukung hipotesis penelitian yaitu rata-rata


skor mual setelah dilakukan tindakan akupresur
Rerata skor mual dan muntah sebelum
lebih rendah dibandingkan sebelum dilakukan
dan sesudah terapi akupresur.
tindakan akupresur. Hasil penelitian ini telah
Rerata skor mual setelah dilakukan
menunjukkan bahwa akupresur yang dilakukan
akupresur berbeda secara signifikan
dapat menurunkan skor mual sebesar 2,25 pada
dengan sebelum dilakukan tindakan
responden yang mengalami mual akibat
akupresur (p value=0,000). Hasil penelitian
kemoterapi, sedangkan skor muntah akibat kemoterapi terhadap 120 anak usia
mengalami penurunan sebesar 2,95 setelah sekolah yang menderita Leukemia
dilakukan tindakan. Skor mual muntah Limphoblastik Akut (LLA) dengan hasil
mengalami penurunan sebesar 5,25 setelah intensitas mual muntah pada anak yang
dilakukan tindakan akupresur. dilakukan akupresur lebih rendah
Penelitian yang sejalan dengan dibandingkan dengan
penelitian ini adalah penelitian yang kelompok
dilakukan oleh Bastani pada tahun 2011 di placebo(p<0,005). Bastani (2011)
Iran. Penelitian ini bertujuan memberikan kesimpulan bahwa akupresur
mengidentifikasi efek akupresur pada titik efektif dilakukan untuk menurunkan mual
P6 terhadap mual muntah akibat kemoterapi.
Pada tahun 2009, Said melakukan
penelitian di Palestina untuk
membandingkan perbedaan mual dan
muntah akibat kemoterapi pada 42 orang
wanita yang menderita kanker payudara.
Responden dibagi tiga kelompok yang
terdiri dari kelompok yang menerima
akupresur dengan menggunakan Sea-Band,
plasebo akupresur dan mendapat
perawatan yang biasa. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kelompok yang
mendapatkan akupresur mengalami
penurunan pada kejadian mual muntah
dibandingkan dengan kelompok yang
mendapatkan plasebo akupresur dan
perawatan yang biasa.

Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1


No.1| 20
Tabel 5 Perbedaan Skor Mual, Skor Muntah Dan Skor Mual Muntah Sebelum dan Setelah
Terapi Akupresur di RS Kanker Dharmais November-Desember 2012
No Variabel Pengukuran Rerat SD P
a value
1 Skor Mual Sebelum 5,00 1,02 0,028
6
Sesudah 2,75 0,55
1
2 Skor Muntah Sebelum 6,65 1,92 0,000
7
Sesudah 3,70 0,80
4
3 Skor Mual Muntah Sebelum 11,65 2,90 0,000
7
Sesudah 6,45 1,27
6

Kesimpulan 4. Penurunan rata-rata skor mual muntah setelah


dilakukan akupresur lebih besar dibandingkan
1. Karakteristik dari 20 responden
dengan sebelum dilakukan akupresur (p=0,000).
meliputi : rata-rata usia 9,15 tahun,
sebagian besar (55%) berjenis kelamin
Saran
perempuan, sebagian besar (40%)
menggunakan kemoterapi dengan Bagi pengembangan pelayanan

derajat emetogenik tinggi, semua keperawatan diharapkan dapat

(100%) menggunakan antiemetik mengembangkan program seminar

dengan indeks terapi tinggi, dan dan pelatihan terapi komplementer

sebagian besar (45%) pada siklus khususnya akupresur untuk perawat agar pemahaman

pertama. dan kemampuannya meningkat tentang

2. Penurunan rata-rata skor mual setelah terapi komplementer khususnya

dilakukan akupresur lebih besar akupresur. Mengaplikasikan

dibandingkan dengan sebelum terapi akupresur dalam memberikan

dilakukan akupresur (p=0,028). asuhkan keperawatan yang holistik pada

3. Penurunan rata-rata skor muntah pasien anak dengan kanker yang mendapatkan

setelah dilakukan akupresur lebih kemoterapi. Memodifikasi dan menyusun standar

besar dibandingkan dengan sebelum asuhan keperawatan pada pasien anak dengan kanker

dilakukan akupresur (p=0,000) yang mengalami mual muntah akibat


kemoterapi dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini
sebagai suatu acuan.
Bagi pendidikan keperawatan dapat
memuat materi tentang terapi
komplementer yang sering digunakan
untuk manajemen mual muntah yang
disesuaikan dengan tumbuh kembang anak
ke dalam kurikulum pendidikan,
mengembangkan praktek keperawatan
berbasis terapi komplementer khususnya
terapi akupresur dan menyebarluaskan
informasi dan pengetahuan tentang terapi
akupresur melalui seminar, simposium
keperawatan.
Bagi penelitian selanjutnya perlunya
penelitian tentang terapi komplementer
yang lain untuk menurunkan mual muntah
pada anak dengan kanker yang
mendapatkan kemoterapi misalnya
relaksasi, guided imagery, distraksi dan
hipnosis. Perlunya penelitian lanjutan
tentang pengaruh terapi akupresur terhadap
mual muntah lambat akibat kemoterapi
pada responden yang karakteristiknya
sama misalnya diagnose medis, jenis
kemoterapi, jenis antiemetik dan siklus
kemoterapi.

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih disampaikan
kepada Ketua Stikes Persada Husada
Indonesia yang telah memberi kesempatan,
waktu dan biaya kepada penulis dalam
melaksanakan penelitian ini. Terima kasih
juga kepada teman-teman sejawat yang
telah membantu terlaksananya penelitian
sampai pada penulisan artikel
ini. Tak lupa terima kasih yang
sebesar-besarnya disampaikan
kepada Kepala Rumah Sakit
Kanker Dharmais Jakarta,
Kepala Ruang Rawat Inap
Anak, beserta seluruh perawat
ruangan yang telah

Jurnal Persada Husada


Indonesia Vol.1 No.1| 21
memberikan informasi yang dibutuhkan Hockenberry, M., & Wilson, D. (2007). Wong’s

dalam pelaksanaan penelitian. Dan tak lupa Nursing Care Of Infants And Children. St. Louis

ucapan terima kasih kepada Allenidekania, : Mosby Elsevier.

SKp, M.Sc yang telah membimbing Hesket, P.J. (2008). Chemotherapy induced nausea

penulis dalam pelaksanaan penelitian ini. and vomiting. The New England Journal of
Medicine, 358(23), 2482-

Daftar Pustaka 2494.


Lee, J., Dodd, M., Dibble, S., & Abrams, D. (2008).
Dharma, K.K. (2011). Metodologi Review of acupressure studies for
penelitian keperawatan : chemotherapy-induced nausea and vomiting
panduanmelaksanakan dan control. Journal of Pain and Symptom
menerapkan hasil penelitian. Jakarta Management, 36(5), 529-544.
: TIM
Dibble, S.L., Luce, J, Cooper, B.A &
Israel, J. (2007). Accupressure for
chemoterapy- induced nausea and
vomiting : a randomized clinical trial.
Oncology Nursing Forum. 34(4) 813-
820
Fengge, Antoni. (2012). Terapi akupresur
: manfaat &teknik pengobatan.
Yogyakarta : Crop Circle Corp.
Garrett, K, Tsuruta, K., Walker, S.,
Jackson, S., & Sweat, M., (2003).
Managing nausea and vomiting.
Critical Care Nurse, 23 (1), 31 – 50.
Grunberg, S.M. (2004). Chemotherapy
induced nausea vomiting :
prevention, detection and treatment-
how are we doing? The Journal of
Supprtive Oncology, 2(1), 1-12.
Hawkins, R. (2009). Chemotherapy-
induced nausea and vomiting:
challenges and opportunities for
improved patient outcomes. Clinical
Journal of Oncology Nursing.
Mehta,H. (2007). The science Community Clinical Oncology

and benefits of Program Multicenter Study. Journal

acupressure therapy. of Pain and Symptom Management,

Diakses tanggal 27 26(2), 731-742.

September 2012 Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle,J.L.,


dari http://www.associatedcontent.com/articl &
e/284965/the_science_an
Molassiotis, A., Helin, A.M., Cheever, K,H. (2008). Textbook of

Dabbour, R., & Medical-Surgical Nursing Eleventh

Hummerstone, S. (2007). edition. Brunner & Suddarth‟s.

The effects of P6 Philadelphia Lippincott Williams &

acupressure in the Wilkins, a Wolter Kluwer Bussines.

profilaksis of Wood, G.J., Shega, J.W., Lynch, B., & Roenn,

chemotherapy related J.H (2007). Management of


nausea and vomiting in intractable nausea and vomiting in
breast cancer patients. patients at the end of life; “I Was
Complementary Therapies Feeling Nauseous All of the Time ….
in Medicine, 15(1), 30-12. Nothing Was Working”. Journal of
Morrow,G.R., & Dobkin, P.L. American Medical Association.
(2002) Anticipatory 298(10).1196-
nausea and vomiting in 1207.
cancer patients undergoing chemotherapy treatment prevalence, etiology, and behavioral inte
556.
Price, S.A., & Wilson,
L.M.(2008). Patofisiologi:
Konsep Klinis Proses- Jurnal Persada Husada Indonesia Vol.1

Proses Penyakit. Jakarta : No.1| 22

EGC
Roscoe, J.A., Morrow,G.R., Hickok, J.T.,
Bushunow, P., Pierce,
H.I., Flynn, P.J., et al
(2003). The efficacy of
acupressure and
acustimulation wrist band
for relief of chemotherapy
induced nausea and
vomiting: A University of
Rochester Cancer Center
PENGARUH TERAPI RELAKSASI TERHADAP KONTROL GLIKEMIK
PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI PURWOKERTO

EFFECT OF RELAXATION THERAPY glycemic control


in patients DIABETES MELLITUS IN PURWOKERTO

Wahyu Ekowati , Asep Iskandar, Made Sumarwati


Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman

ABSTRACT

Introduction : Diabetes mellitus is a condition that occurs when the body can't use
glucose normally. Glucose is the main source of energy for the body's cells. The levels
of glucose in the blood are controlled by a hormone called insulin, which is made by
the pancreas. Insulin helps glucose enter the cells.
Objective : to know the influence of relaxation therapy to reduce levels of glucose in
the blood of diabetes mellitus in South of Purwokerto.
Methode : Quasy experiment with device of research of pre-test-post-test with control
group. Statistic analisys used this research is statistical analysis paired t-test.
Result : The average of pre-test and post test control are 148,93 and 141,20. Result
test paired samples t-test p value 0,420. The average of pre-test and post test
experiment are 211,07 and 209,53. Result test paired samples t-test p value 0,957.
Conclusion : Relaxation therapy has not influence to reduce levels of glucose in the
blood of diabetes mellitus.
Keyword : Diabetes mellitus, the levels of glucose in the blood, relaxation therapy

PENDAHULUAN orang) menderita DM dan sebesar


11% dari jumlah tersebut merupakan
Diabetes Mellitus (DM) kelompok pradiabetes. Diprediksikan
merupakan masalah kesehatan jumlah kedua kelompok tersebut
global. DM adalah gangguan sistem akan terus meningkat. Hasil Riset
endokrin yang dikarakteristikkan Kesehatan Dasar (Riskesdas)
oleh fluktuasi kadar gula darah yang Provinsi Jawa Tengah (2007)
abnormal, biasanya berhubungan menunjukkan bahwa proporsi
dengan defect produksi insulin dan penyebab kematian akibat penyakit
metabolisme glukosa (Dunning, DM pada kelompok usia 45-54 tahun
2003). Hasil survei yang dilakukan di daerah perkotaan menduduki
Depkes (2008), menunjukkan bahwa ranking ke-2 yaitu 14,7%. Pada
saat ini terdapat 5,7% dari jumlah daerah perdesaan, penyakit DM
penduduk Indonesia (sekitar 12 juta menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.
65 Jurnal Kesmasindo, Volume 6, (1) Januari 2013, Hal. 64-74

Kabupaten Banyumas menempati melalui glikogenolisis, dampaknya


peringat tertinggi kelima yaitu akan meningkatkan sirkulasi asam
sebanyak 1,9% setelah Kabupaten lemak bebas. Growth hormon,
Cilacap, Kabupaten Kota Tegal, menurunkan pengambilan glukosa
Surakarta, dan Pemalang. oleh jaringan, kemungkinan melalui
Diabetes mellitus atau DM penurunan reseptor insulin. Dan yang
sering disebut sebagai “silent killer” terakhir adalah glukokortikoid,
atau tidak menunjukkan tanda dan terutama kortisol yang akan
gejala (O’Hara, 2006). DM menopang aksi glukagon. Selain itu
merupakan suatu penyakit yang glukagon juga akan menurunkan
bersifat kronis, tidak dapat penggunaan insulin oleh perifer,
disembuhkan, hanya bisa dikontrol meningkatkan glikogenolisis dan
dengan pola hidup sehaat dan obat- glukoneogenesis (Bullock and
obatan (Beever, 2006). Seseorang Henze, 2000). Semua faktor tersebut
yang telah dididiganosis menderita cenderung membuat kadar gula
penyakit kronis atau penyakit serius darah semakin meningkat sehingga
seperti DM merupakan suatu kondisi pasien memerlukan intervensi medis
yang menyetreskan (stressful). Stress dan intervensi keperawatan (Elliot &
pada pasien DM akan memicu Izzo, 2006).
pengeluaran beberapa hormone yang Salah satu intervensi
berkontribusi dalam meningkatkan keperawatan yang dapat dilakukan
kadar gula darah, yaitu glucagon, adalah dengan terapi komplementer.
epinefrin, growth hormone dan Terapi ini bersifat pengobatan alami
glukokortikoid. Glukagon aksinya untuk menangani penyebab penyakit
berlawanan dengan insulin. dan memacu tubuh sendiri untuk
Glukagon merupakan hormon utama menyembuhkan penyakitnya. Terapi
untuk menaikkan kadar gula darah komplemeter antara lain terapi
dengan cara menstimulasi herbal, latihan nafas, meditasi dan
glikogenolisis, lipolisis dan relaksasi (Xu Yu, 2004). Teknik
glukoneogenesis. Epinefrin relaksasi pertama kali dikemukan
memobilisasi glukosa cadangan oleh Dr. Herbert Benson (1976). Ia
Wahyu Ekowati, Pengaruh Terapi Relaksasi Terhadap Kontrol Glikemik 66

telah menemukan, bahwa meditasi METODE PENELITIAN


akan mengarah pada pengaturan Penelitian ini memiliki tipe
perubahan fisiologik dalam penelitian kuantitatif desain quasi
menghadapi respon fight-or-flight, experiment with pre-post test control
meliputi penurunan konsumsi group. Penelitian ini bermaksud
oksigen, denyut jantung, frekuensi untuk menganalisis pengaruh terapi
pernafasan dan laktat darah. relaksasi terhadap kadar glukosa
Penanganan keperawatan dengan darah pada pasien DM tipe 2 di
teknik ini akan menurunkan efek wilayah kerja Puskesmas Purwokerto
endokrin dari stres kronik (Craven Selatan. Intervensi dilakukan setiap
and Hirnie, 2000). hari selama 4 minggu. Pemilihan
Studi pendahuluan tahun sampel yang masuk kelompok
2010 yang dilakukan di Purwokerto control maupun kelompok intervensi
Selatan, ditemukan jumlah penderita dilakukan secara acak sederhana,
DM sebanyak 152 orang. Dari dimana responden yang memenuhi
penelitian sebelumnya oleh Anam syarat di beri nomor, yang bernomor
(2010) ditemukan sekitar 65% pasien genap masuk dalam kelompok
DM mengalami depresi. Berdasarkan control dan nomor ganjil masuk
wawancara dengan petugas posyandu dalam kelompok intervensi. Sampel
lansia di salah satu wilayah kerja dihitung dengan menggunakan
Puskesmas Purwokerto Selatan, perkiraan 25% dari populasi.
lansia yang mengalami DM dan telah Populasi pasien DM di wilayah kerja
mendapat pengobatan secara Puskesmas Purwokerto Selatan 152.
farmakologis masih mengalami naik Dengan demikian 25% dari 152
turun gula darahnya. Penggunaan adalah 37 orang. Untuk menghindari
terapi nonfarmakologia atau terapi drop out peneliti menambah 10%
komplementer, relaksasi pada sampel sehingga menjadi 40 sampel
perawatan pasien DM di Purwokerto dibagi menjadi dua, yaitu 20
Selatan belum dilakukan. responden untuk masing-masing
kelompok intervensi dan kontrol.
Namun saat penelitian dilakukan,
67 Jurnal Kesmasindo, Volume 6, Nomor 1 Januari 2013, Hal. 64-74

responden yang memenuhi kriteria data univariat dan untuk mengetahui


inklusi adalah 15 pada kelompok pengaruh terapi relaksasi terhadap
perlakuan dan 15 pada kelompok control glikemik dilakukan uji t
kontrol. Tahap pertama adalah paired test
pengolahan data, setelah data
terkumpul dilakukan editing yaitu HASIL DAN PEMBAHASAN
memeriksa kelengkapan data, a. Karakteristik responden
memberikan koding entri data ke Distribusi data karakteristik klien
menurut umur disajikan pada Tabel 1
komputer. Lalu dilakukan analisis

Usia (Tahun) Kelompok


Perlakuan Kontrol
n % n %
< 40 1 6,67 0 0
40-50 2 13,33 2 13,33
51-60 2 13,33 4 26,67
>60 10 66,67 9 60
Jumlah 15 100 15 100

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui Karakteristik responden kelompok


bahwa responden diabetes mellitus kontrol yang berusia kurang dari 40
kelompok perlakuan yang berusia tahun tidak ada, usia 40-50 tahun
kurang dari 40 tahun berjumlah 1 berjumlah 2 orang (13,33%), usia 51-
orang (6,67%), usia 40-50 tahun 60 tahun berjumlah 4 orang
berjumlah 2 orang (13,33%), usia 51- (26,67%) dan berusia lebih dari 60
60 tahun berjumlah 2 orang tahun berjumlah 9 orang (60%).
(13,33%) dan berusia lebih dari 60
Distribusi data karakteristik klien menurut
tahun berjumlah 10 orang (66,67%). jenis kelamin disajikan pada Tabel 2

Jenis Kelamin Perlakuan Kontrol Orang %


Laki-laki 3 1 4 13,33
Perempuan 12 14 26 86,67
Jumlah 15 15 30 100

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui (13,33%), sedangkan yang berjenis


bahwa responden berjenis kelamin kelamin perempuan sebanyak 26
laki-laki yaitu sebanyak 4 orang orang (86,67%).
Wahyu Ekowati, Pengaruh Terapi Relaksasi Terhadap Kontrol Glikemik 68

Distribusi data karakteristik responden


menurut tingkat pendidikan disajikan
pada Tabel 3

Pendidikan Perlakuan Kontrol


n % n %
SD 1 6,67 1 6,67
SMP 2 13,33 2 13,33
SMA 10 66,67 11 73,33
PT 2 13,33 2 6,67
Jumlah 15 100 15 100

Berdasarkan tabel 3 tersebut dapat kontrol responden yang berlatar


diketahui bahwa responden yang belakang pendidikan SD adalah 1
berlatar belakang pendidikan SD orang (6,67%), SMP berjumlah 2
pada kelompok perlakuan adalah 1 orang (13,33%), SMA berjumlah 11
orang (6,67%), SMP berjumlah 2 orang (73,33%) dan perguruan tinggi
orang (13,33%), SMA berjumlah 10 ada 1 orang (6,67%).
orang (66,67%) dan perguruan tinggi Distribusi data karakteristik responden
menurut tingkat pendidikan
2 orang (13,33%). Pada kelompok disajikan pada Tabel 4

Penghasilan Perlakuan Kontrol


n % n %
< 1 juta 1 6,67 1 6,67
1 – 2 juta 12 80 13 86,66
> 2 juta 2 13,3 1 6,67
Jumlah 15 100 15 100

Berdasarkan tabel 4 tersebut diatas berpenghasilan kurang dari satu juta


dapat diketahui bahwa responden setiap bulan berjumlah 1 orang
kelompok perlakuan yang (6,67%), berpenghasilan satu hingga
berpenghasilan kurang dari satu juta dua juta berjumlah 13 orang
setiap bulan berjumlah 1 orang (86,66%), dan berpenghasilan lebih
(6,67%), berpenghasilan satu hingga dari 2 juta berjumlah ada 1 orang
dua juta berjumlah 12 orang (80%), (6,67%).
dan berpenghasilan lebih dari 2 juta
berjumlah 2 orang (13,33). Pada Distribusi data karakteristik responden
menurut lama menderita penyakit
kelompok kontrol yang DM disajikan pada Tabel 5
69 Jurnal Kesmasindo, Volume 6, Nomor 1 Januari 2013, Hal. 64-74

Perlakuan Kontrol
Lama DM
n % n %
< 2 tahun 2 13,33 1 6,67
2 - 4 tahun 3 20 2 13,33
> 4 tahun 10 66,67 12 80
Jumlah 15 100 15 100

Berdasarkan tabel 1.5 tersebut diatas kontrol yang menderita diabetes


dapat diketahui bahwa responden mellitus kurang dari 2 tahun
kelompok perlakuan yang menderita berjumlah 1 orang (6,67%), lama
diabetes mellitus kurang dari 2 tahun penyakit 2-4 tahun berjumlah 2
berjumlah 2 orang (13,33%), lama orang (13,33%), dan lama penyakit
penyakit 2-4 tahun berjumlah 3 lebih dari 4 tahun berjumlah 12
orang (20%), dan lama penyakit orang (80%).
lebih dari 4 tahun berjumlah 10 Tabel 2.1 Kadar gula darah responden
sebelum dan sesudah dilakukan terapi
orang (66,67). Pada kelompok relaksasi pada kelompok kontrol

Variabel Mean Sd SE P Value N


Kadar Gula darah 148,93 71,741 18,853 0,420 15
pengukuran 1
Kadar Gula darah 141,20 52,872 13,393
pengukuran 2

Berdasarkan tabel 2.1 diatas dapat nilai P value 0,420. Maka dapat
disimpulkan bahwa rata-rata kadar disimpulkan tidak ada perbedaan
gula darah pada pengukuran pertama yang signifikan antara kadar gula
adalah 148,93 dengan standar deviasi darah pengukuran pertama dan kedua
71,741. Pada pengukuran kedua pada kelompok kontrol
didapat rata-rata kadar gula darah Tabel 2.2 Kadar gula darah responden
sebelum dan sesudah dilakukan terapi
adalah 141,20 dengan standar deviasi
relaksasi pada kelompok perlakuan
52,872. Hasil uji statistic didapatkan

Variabel Mean Sd SE P Value N


Kadar Gula darah 211,07 127,232 32,851 0,957 15
pengukuran 1
Kadar Gula darah 209,53 86,643 22,371
pengukuran 2
Wahyu Ekowati, Pengaruh Terapi Relaksasi Terhadap Kontrol Glikemik 70

Berdasarkan tabel 2.2 diatas pada pasien diabetes mellitus tipe 2


dapat dilihat bahwa rata-rata kadar untuk penurunan kadar gula dalam
gula darah pada pengukuran pertama darah ternyata tidak terjadi secara
adalah 211,07 dengan standar deviasi signifikan. Antara kelompok
127,232. Pada pengukuran kedua perlakuan dan kelompok kontrol
didapat rata-rata kadar gula darah tidak menunjukkan perbedaan yang
adalah 209,53 dengan standar deviasi signifikan. Artinya bahwa tindakan
86,643. Hasil uji statistic didapatkan relaksasi yang dilakukan oleh pasien
nilai P value 0,957. Maka dapat diabetes tidak dapat menurunkan
disimpulkan tidak ada perbedaan kadar gula dalam darahnya. Salah
yang signifikan antara kadar gula satu penyebab tidak terjadinya
darah pengukuran pertama dan kedua penurunan kadar gula dalam darah
pada kelompok perlakuan pada pasien diabetes disebabkan
Hasil penelitian yang karena kemungkinan tidak
dilakukan oleh tim menunjukkan dilakukannya tindakan relaksasi
bahwa tidak terdapat perbedaan yang secara optimal oleh pasien.
signifikan antara terapi relaksasi Seharusnya terapi relaksasi
yang dilakukan pada responden dilakukan selama 15-20 menit
kelompok perlakuan dan responden selama 5 kali dalam sehari. Hal
kelompok kontrol. Penelitian ini tersebut dilakukan selama 4 minggu.
menemukan hal yang berbeda Namun hal yang terjadi sebagian
dengan penelitian yang pernah besar responden hanya melakukan 1
dilakukan oleh O’Hara (2006) yang kali dalam sehari selama 15-20
menemukan bahwa terapi relaksasi menit. Dampaknya maka kontrol
memberikan hasil yang signifikan penurunan terhadap kadar gula
terhadap penurunan stres hingga dalam darah menjadi tidak optimal.
penurunan tekanan darah pada pasien Kemungkinan lain adalah adanya
hipertensi. Namun penelitian ini pengendalian terhadap kontrol diet
menemukan hal yang berbeda. atau nutrisi yang dikonsumsi pasien
Penelitian menemukan bahwa diabetes.
tindakan relaksasi yang dilakukan
71 Jurnal Kesmasindo, Volume 6, Nomor 1 Januari 2013, Hal. 64-74

Secara teori relaksasi dapat reseptor GABA menyebabkan


menenangkan otak dan memperbaiki berkurangnya hambatan terhadap
(memulihkan tubuh), relaksasi yang timbulnya kecemasan dan
dilakukan secara teratur dapat memudahkan reaksi stress (Ferrare et
digunakan untuk menurunkan stres al. 1993 dalam Sholeh 2006).
dan depresi (Dorbyk, 2007; Dengan demikian dapat dipahami
Glickman, 2007). Berdasarkan bahwa dalam kondisi senang, tenang
penelitian Bonadonna (2008) juga dan optimistik, sekresi kortisol dan
telah melakukan penelitian pada antagonis GABA dan sintesis GABA
populasi dengan kanker, positif normal.
fibromyalgia, hipertensi dan Sejumlah studi menunjukkan
psoriasis tentang dampak relaksasi hubungan antara diabetes dan depresi
pada penyakit kronis. Hasilnya (Anderson, et al. 2001). Hal tersebut
menunjukkan adanya penurunan merupakan masalah kesehatan yang
gejala dan tanda fisik dan psikologis, penting sebab gangguan depresi
meliputi penurunan kecemasan, umumnya dihubungkan dengan
nyeri, depresi dan stres. Penelitian ini masalah penyakit kronik seperti DM
menyarankan relaksasi bagi pasien (Finkelstein et al. 2003). Hubungan
dengan penyakit kronis. Secara antara DM dan depresi sedikit
fisiologis relaksasi dapat diketahui (Jack, et al. 2004 dalam
menurunkan stress. Dengan Wu Shu Fang, 2007), walaupun DM
relaksasi, hipothalamus akan meningkatkan risiko depresi dengan
mengatur dan menurunkan aktifitas prevalensi dari 15-40% (Dunning,
sistem saraf simpatis dan 2003).
menyebabkan dilatasi arteriolar. Penelitian menunjukkan
bahwa DM dianggap stressor bagi
Pada keadaan stress, terdapat pasien. Berdasarkan konsep
substansi yang menyerupai beta psikoneuroimunologi, secara integral
carboline, yaitu antagonis GABA amigdala mengirimkan informasi
yang diduga menyebabkan kepada locus coeruleus yang memicu
penurunan jumlah (down regulate) sistem otonom kemudian
Wahyu Ekowati, Pengaruh Terapi Relaksasi Terhadap Kontrol Glikemik 72

ditransmisikan ke hipotalamus Jika kondisi stres bisa dikendalikan


sehingga terjadi sekresi CRF. Dalam maka penurunan kadar gula dalam
kaitannya terhadap kadar gula darah, darah juga dapat menurun.
sebagai respon terhadap CRF, Penelitian yang dilakukan
pituitary anterior mengeluarkan oleh tim yang menemukan hasil
adrenocorticotrophic hormone berbeda dari teori kemungkinan
(ACTH) dalam darah. ACTH di disebabkan oleh beberapa faktor
transportasikan menuju kelenjar penyebab. Pertama, terapi relaksasi
adrenal. ACTH menstimulasi tidak mencapai hasil yang optimal
produksi kortisol dalam kortek karena saat melakukan terapi,
adrenal. Kortisol dikeluarkan dalam responden tidak melakukannya
aliran darah, menyebabkan secara sempurna sesuai petunjuk atau
peningkatan kadar gula darah, asam pedoman. Kedua, terapi relaksasi
lemak dan asam amino (Smeltzer & dilakukan tidak secara teratur oleh
Bare, 2008). Ketika individu dengan responden. Idealnya terapi relaksasi
kondisi demikian mendapatkan terapi dilakukan 5-10 kali setiap hari
relaksasi maka otak akan dengan durasi masing-masing 15-20
mendapatkan suplay oksigen yang menit dan jarak antar terapi 3-4 jam
optimal. Oksigen yang memenuhi sekali. Jika responden tidak secara
seluruh area otak akan beredar tertib melakukannya maka
seiring dengan denyut jantung untuk kemungkinan hasilnya juga tidak
didistribusikan ke seluruh organ optimal. Ketiga, kemungkinan
tubuh. Kondisi ini akan membantu adanya kontrol diet atau nutrisi yang
tercapainya kestabilan kerja kelenjar dikonsumsi oleh responden. Jika
adrenal untuk memproduksi hormon selama menjalani terapi ini
penenang yang akan berdampak pada responden melanggar diet DM diluar
menurunkan stres. Hal ini bertolak konsumsi yang seharusnya dilakukan
belakang dengan dampak dari stres oleh pasien DM maka kemungkinan
itu sendiri dimana pada kondisi stres besar akan mempengaruhi jumlah
maka kadar gula dalam darah pasien kadar gula dalam darah yang artinya
DM akan mengalami peningkatan. terapi relaksasi juga tidak
73 Jurnal Kesmasindo, Volume 6, Nomor 1 Januari 2013, Hal. 64-74

memberikan hasil yang optimal. Ke- SIMPULAN DAN SARAN


empat, adanya responden yang tidak
Simpulan yang dapat
mengkonsumsi obat DM sehingga
ditetapkan dari penelitian ini adalah
kadar gula dalam darahnya menjadi
bahwa Terapi relaksasi tidak cukup
sangat tidak terkontrol. Padahal
signifikan untuk menurunkan kadar
secara teori, menyebutkan bahwa
gula dalam darah pada pasien
kombinasi antara terapi farmakologis
diabetes mellitus.
dan terapi relaksasi akan
Saran untuk terapi relaksasi
memberikan hasil yang baik terhadap
akan mendapatkan hasil yang
penurunan kadar gula dalam darah.
optimal untuk menurunkan kadar
Penyebab selanjutnya adalah adanya
gula dalam darah pasien DM dengan
komplikasi penyakit DM yang
lebih mengoptimalkan frekuensi
multicausa sehingga mempersulit
yaitu terapi dilakukan 5-10 kali
tercapainya penurunan kadar gula
setiap hari dengan durasi masing-
dalam darah.
masing 15-20 menit dan jarak antar
terapi 3-4 jam sekali dalam sehari.

DAFTAR PUSTAKA Bonadonna, R.C. 2008. Metabolic


abnormalities underlying the
different prediabetic
Anderson, R.J., Freeland, K.E., phenotype in obese
Clouse, R.E., & Lustman, P.J. adolescents. J.Clin
(2001). The prevalence of Endocrinol Metab. 93 (5):
comorbid depression in adults 1767-73
with diabetes. Diabetes Care, Craven & Hirnie. 2000. Controlling
24. Blood Glucose Through
http://www.care.diabetesjour Relaxation Therapy.
nal, http://www.diabetes.org/diab
Beever, S. 2006. New Type 2 etesresearch/summaries/mcgi
Diabetes Cases Have nnis-biofeedback-
Doubled in 30 Years : Health relaxation.jsp,
Reporter, Dorbyk. 2007. Kelley, M.B. (1999).
http:////www.medicinet.com Relaxation on Diabetes
Bullock, B.L. & Henze, B. (2000). Mellitus. Charlotte :
Focus on Pathophysiology. University of North Carolina.
Lippincott Williams & Diperoleh tanggal 28
Wilkins
Wahyu Ekowati, Pengaruh Terapi Relaksasi Terhadap Kontrol Glikemik 74

Oktober.2006
http://www.psych.uncc.edu
Elliot, W. & Izzo, W. 2006. Effect of
devide guided breathing to
lower blood pressure. Case
report & clinical overview.
Medscape General Medicine,
82 (3).
Finkelstein, M.M. 2003. The
prevalence of diabetes among
overweight and obese
individuals is higher in poorer
than in richer
neighbourhoods. Canadian
Journal of Diabetes. 190-8.
Glickman, Sacharko. 2007. Tai Chi
&Qi Gong Managing
Diabetes with Relaxation and
Exercise.
www.taichinetwork.org.
Sholeh, M. 2006. Terapi salat
tahajud: Menyembuhkan
berbagai penyakit. Bandung:
Mizan Publika.
Wu Shu Fang. 2007. Effectiveness of
self management for person
with type 2 diabetes
following the implementation
of a self-efficacy enhancing
intervention program in
Taiwan. Queensland:
Quensland university of
Technology
Xu Yu. 2004. Complementary &
alternative therapies as
physiology & modalities
implication for nursing,
education & research. Home
health care management
practice (1084-8223) :vol 1