Anda di halaman 1dari 8

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

TRANSMISI AGEN-AGEN INFEKSIUS

DISUSUN OLEH:
1. ERI INDRA
2. SEVINA ULAN SARI
3. FERLIN MARTOS ANGGRAINI
4. MELITA

DOSEN PEMBIMBING :
YULIA M NUR, M.Si

STIKES NAN TONGGA LUBUK ALUNG PADANG PARIAMAN


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
TAHUN 2020
A.TRANSMISI AGEN INFEKSIUS
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu
menyebabkan sakit. Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan
menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan. Penyakit akan timbul jika patogen
berkembang biak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. (Potter&Perry
Fundamental Keperawatan .edisi 4.hal: 933-942:2005)
Transmisi adalah penularan atau penyebaran penyakit. Setiap penyakit memiliki
karakteristik transmisi berdasarkan sifat agen infeksi yang menyebabkannya. Biasanya setiap
jenis agen infeksi disebabkan oleh satu atau beberapa organisme yang berbeda. Transmisi bisa
bersifat langsung, tidak langsung, lewat udara, atau air. Tempat masuk bakteri patogen ke dalam
tubuh yang paling sering adalah tempat bertemunya selaput lendir dengan kulit: saluran
pernapasan (jalan napas atas dan bawah), gastrointesnital (terutama mulut), genital, dan saluran
kemih.
Penyakit dapat menular sebagai akibat dari adanya interaksi agen, proses transmisi, dan
penjamu. Beberapa faktor yang memengaruhi transmisi agen infeksius yakni:
Faktor dari agen infeksius sendiri
Potensi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit tergantung beberapa
faktor, antara lain: kecukupan jumlah organisme (dosis), virulensi atau kemampuan agen untuk
bertahan hidup dalam tubuh host atau di luar tubuh host, kemampuan untuk masuk dan bertahan
hidup dalam tubuh host, dan kerentanan tubuh host (daya tahan host).

Sumber penular (reservoir)


Tempat di mana patogen dapat bertahan hidup tetapi belum tentu dapat berkembang biak.
Meski begitu tetap ada peluang bagi agen infeksius melakukan transmisi dan menimbulkan
infeksi pada makhluk hidup. Reservoir terdiri dari hewan dan manusia.
Contoh: Virus Hepatitis A bertahan hidup dalam kerang laut tetapi tidak dapat
berkembang biak, Pseudomonas dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam reservoir
nebulizer, serta berbagai mikroorganisme yang banyak hidup di kulit, di rongga, dalam cairan,
dan cairan yang keluar dari tubuh.
Penularan kontak secara langsung
Yaitu penularan melalui kontak fisik antara sumber dengan penjamu yang rentan atau
individu ke individu. Contoh:
Kontaminasi dan luka
misal, infeksi luka rabies.

Inokulasi
misal, gigitan serangga, suntikan serum hepatitis.

Menelan makanan dan minuman yang terkontaminasi


misal, hepatitis A, poliomielitis, dan kolera.

Menghirup debu dan droplets


Misal, influenza dan tuberkulosis.

Penularan kontak secara tidak langsung


Yaitu penularan melalui kontak penjamu yang rentan dengan benda mati yang
terkontaminasi. Misalnya, melalui jarum, benda tajam, lingkungan, udara (airbone), air, dan
vektor (lalat, nyamuk).

Kerentanan host (penjamu)


Dapat terkena infeksi tergantung pada keretanannya terhadap agen infeksius. Kerentanan
bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun secara konstan
kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai
individu rentan terhadap kekuatandan jumlah mikroorganisme tersebut.
Penjamu yang rentan banyak ditemukan di tempat pelayanan kesehatan, mereka yang
mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh meliputi anak kecil atau bayi, lanjut usia, orang
dengan penyakit kronois, orang yang menerima terapi medis seperti kemoterapi, atau steroid
dosis tinggi, orang dengan luka terbuka. Faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi :
1. Infaction Agent (kuman penyakit).
a. Sangat banyak jenisnya, dari bentuk yang paling sederhana yaitu virus sampai dengan
bakteri yang bersifat kompleks & multicellular dibicarakan di mikrobiologi.
b. Relatif sedikit yang dapat menginfeksi manusia.
c. Virulensinya berbeda untuk masing-masing species hewan dan manusia. Ex. Cholera,
AIDS, Sifilis, dll tidak virulen terhadap hewan.
d. Merupakan Komponen penting dalam rantai penularan penyakit.
2. Sifat-sifat Intrinstik dari Kuman Penyakit.
a. Ditentukan oleh kuman sendiri dan tidak bergantung pada interaksi dengan tuan
rumah (host)
b. Sifat tersebut antara lain:
1) Bentuk : Spiral, batang, coccus.
2) Besar.
3) Sifat-sifat Kimia : Basopilik : Asinopilik.
3. Interaksi antara Host dan Agent
Termasuk didalamnya antara lain:
a. Infectivity
b. Virulensi
c. Pathogenecity
d. Immunogenecity

B PROSES TERJADINYA INFEKSI


Mikroba patogen agar dapat menimbulkan penyakit infeksi harus bertemu dengan pejamu
yang rentan, melalui dan menyelesaikan tahap-tahap sebagai berikut :
1. Tahap I
Mikroba patogen bergerak menuju tempat yang menguntungkan (pejamu/penderita)
melalui mekanisme penyebaran (mode of transmission). Semua mekanisme penyebaran
mikroba patogen tersebut dapat terjadi di rumah sakit, dengan ilustrasi sebagai berikut :
a. Penularan langsung
Melalui droplet nuclei yang berasal dari petugas, keluarga/pengunjung, dan penderita
lainnya. Kemungkinan lain melalui darah saat transfusi darah.
b. Penularan tidak langsung
Seperti yang telah diuraikan, penularan tidak langsung dapat terjadi sebagai berikut :
1) Vehicle-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui benda-benda
mati (fotnite) seperti peralatan medis (instrument), bahan-bahan/material medis,
atau peralatan makan/minum untuk penderita.
2) Perhatikan pada berbagai tindakan invasif seperti pemasangan kateter, vena
punctie, tindakan pembedahan (bedah minor, pembedahan di kamar bedah),
proses dan tindakan medis obstetri/ginekologi, dan lain-lain.
3) Vector-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen dengan perantara
vektor seperti lalat. Luka terbuka (open wound), jaringan nekrotis, luka bakar, dan
gangren adalah kasus-kasus yang rentan dihinggapi lalat.
4) Food-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui makanan dan
minuman yang disajikan untuk penderita. Mikroba patogen dapat ikut
menyertainya sehingga menimbulkan gejala dan keluhan gastrointestinal, baik
ringan maupun berat.
5) Water-borne, kemungkinan terjadinya penularan/penyebaran penyakit infeksi
melalui air kecil sekali, mengingat tersedianya air bersih di rumah sakit sudah
melalui uji baku mutu.
6) Air-borne, peluang terjadinya infeksi silang melalui media perantara ini cukup
tinggi karena ruangan/bangsal yang relatif tertutup, secara teknis kurang baik
ventilasi dan pencahayaannya. Kondisi ini dapat menjadi lebih buruk dengan
jumlah penderita yang cukup banyak.
Dari semua kemungkinan penyebaran/penularan penyakit infeksi yang telah diuraikan di
atas, maka penyebab kasus infeksi nosokomial yang sering dilaporkan adalah tindakan
invasif melalui penggunaan berbagai instrumen medis (vehicle-borne).
2. Tahap II
Upaya berikutnya dari mikroba patogen adalah melakukan invasi ke
jaringan/organ pejamu (penderita) dengan cara mencari akses masuk untuk masing-
masing penyakit (port d’entree) seperti adanya kerusakan/lesi kulit atau mukosa dari
rongga hidung, rongga mulut, orificium urethrae, dan lain-lain.
a. Mikroba patogen masuk ke jaringan/organ melalui lesi kulit. Hal ini dapat terjadi
sewaktu melakukan insisi bedah atau jarum suntik. Mikroba patogen yang dimaksud
antara lain virus Hepatitis B (VHB).
b. Mikroba patogen masuk melalui kerusakan/lesi mukosa saluran urogenital karena
tindakan invasif, seperti:
1) tindakan kateterisasi, sistoskopi;
2) pemeriksaan dan tindakan ginekologi (curretage)
3) pertolongan persalinan per-vagina patologis, baik dengan bantuan instrumen
medis, maupun tanpa bantuan instrumen medis.
c. Dengan cara inhalasi, mikroba patogen masuk melalui rongga hidung menuju saluran
napas. Partikel in feksiosa yang menular berada di udara dalam bentuk aerosol.
Penularan langsung dapat terjadi melalui percikan ludah (droplet nuclei) apabila
terdapat individu yang mengalami infeksi saluran napas melakukan ekshalasi paksa
seperti batuk atau bersin. Dari penularan tidak langsung juga dapat terjadi apabila
udara dalam ruangan terkontaminasi. Lama kontak terpapar (time of exposure) antara
sumber penularan dan penderita akan meningkatkan risiko penularan. Contoh: virus
Influenza dan Al. tuberculosis.
d. Dengan cara ingesti, yaitu melalui mulut masuk ke dalam saluran cerna. Terjadi pada
saat makan dan minum dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Contoh:
Salmonella, Shigella, Vibrio, dan sebagainya.
3. Tahap III
Setelah memperoleh akses masuk, mikroba patogen segera melakukan invasi dan
mencari jaringan yang sesuai (cocok). Selanjutnya melakukan multiplikasi/berkembang
biak disertai dengan tindakan destruktif terhadap jaringan, walaupun ada upaya
perlawanan dad pejamu. Sehingga terjadilah reaksi infeksi yang mengakibatkan
perubahan morfologis dan gangguan fisiologis/ fungsi jaringan.
Reaksi infeksi yang terjadi pada pejamu disebabkan oleh adanya sifat-sifat spesifik
mikroba patogen.
a. Infeksivitas
Kemampuan mikroba patogen untuk berinvasi yang merupakan langkah awal
melakukan serangan ke pejamu melalui akses masuk yang tepat dan selanjutnya
mencari jaringan yang cocok untuk melakukan multiplikasi.
b. Virulensi
Langkah mikroba patogen berikutnya adalah melakukan tindakan destruktif terhadap
jaringan dengan menggunakan enzim perusaknya. Besar-kecilnya kerusakan jaringan
atau cepat lambatnya kerusakan jaringan ditentukan oleh potensi virulensi mikroba
patogen.
c. Antigenitas
Selain memiliki kemampuan destruktif, mikroba patogen juga memiliki kemampuan
merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh pejamu melalui terbentuknya
antibodi. Terbentuknya antibodi ini akan sangat berpengaruh terhadap reaksi infeksi
selanjutnya.
d. Toksigenitas
Selain memiliki kemampuan destruktif melalui enzim perusaknya, beberapa jenis
mikroba patogen dapat menghasilkan toksin yang sangat berpengaruh terhadap
perjalanan penyakit.
e. Patogenitas
Sifat-sifat infeksivitas, virulensi, serta toksigenitas mikroba patogen pada satu sisi,
dan sifat antigenitas mikroba patogen pada sisi yang lain, menghasilkan gabungan
sifat yang disebut patogenitas. Jadi sifat patogenitas mikroba patogen dapat dinilai
sebagai “deralat keganasan” mikroba patogen atau respons pejamu terhadap
masuknya kuman ke tubuh pejamu.
Reaksi infeksi adalah proses yang terjadi pada pejamu sebagai akibat dari mikroba
patogen mengimplementasikan ciri-ciri kehidupannya terhadap pejamu. Kerusakan
jaringan maupun gangguan fungsi jaringan akan menimbulkan manifestasi klinis,
yaitu manifestasi klinis yang bersifat sistemik dan manifestasi klinis yang bersifat
khusus (organik).
Manifestasi klinis sistemik berupa gejala (symptom) seperti domain, merasa lemah
dan terasa tidak enak (malaise), nafsu makan menurun, mual, pusing, dan sebagainya.
Sedangkan manifestasi klinis khusus akan memberikan gambaran klinik sesuai
dengan organ yang terserang. Contoh:
1) Bila organ paru terserang, maka akan muncul gambaran klinik seperti batuk,sesak
napas,nyeri dada, gclisah, dan sebagainya.
2) Bila organ alat pencernaan makanan terserang, maka akan muncul gambaran klinik
seperti mual, muntah, kembung, kejang perut, dan sebagainya.
Mikroba patogen yang telah bersarang pada jaringan/organ yang sakit akan terus
berkembang biak, sehingga kerusakan dan gangguan fungsi organ semakin meluas.
Demikian seterusnya, di mana pada suatu kesempatan, mikroba patogen ketuar dari
tubuh pejamu (penderita) dan mencari pejamu baru dengan cara menumpang produk
proses metabolisme tubuh atau produk proses penyakit dari pejamu yang sakit.