Anda di halaman 1dari 3

Orang Jepang punya cara unik dalam menyantap mi yaitu dengan diseruput.

Melansir Nippon.com, orang Jepang merasa kurang nyaman bila ada orang lain yang makan dengan
berisik terutama pada kegiatan formal. Namun mereka punya pengecualian dalam makan mi yang harus
diseruput.

Mengapa orang Jepang kalau makan mi diseruput? Dan bagaimana mereka menerima kebiasaan
tersebut?

Horii Yoshinori, ahli mi di Jepang, mengatakan bahwa terdapat penjelasan ilmiah terkait kebiasaan
menyeruput.

"Saya bisa bilang bahwa menyeruput dapat membuat aroma soba (salah satu jenis mi Jepang) lebih
terasa," jelasnya.

Aroma soba sebaiknya dinikmati melalui mulut bukan hidung (dihirup).

Misalnya pada wine tasting, kamu akan menghirup arona wine dalam gelas. Lalu meminumnya tetapi
tidak langsung ditelan melainkan didiamkan dulu dalam mulut.

Hal tersebut bertujuan untuk menangkap aroma dari tenggorokan sehingga mencapai hidung. Bagian
pada wine tasting tersebut dinamakan orthonasal olfaction dan atau retronasal olfaction.

Namun, langkah pertama dalam wine tasting tak berlaku pada soba.

Mengingat aroma soba sulit dideteksi hanya dengan dihirup menggunakan hidung. Sehingga
dilakukanlah langkah kedua yaitu mendiamkan soba dalam mulut, dalam hal ini pakai teknik
menyeruput.

Aroma khas soba akan muncul dengan jelas saat proses memasak, terutama bila menggunakan wadah
bambu seperti yang dilakukan orang Jepang zaman dulu. Sehingga kita bisa menghirup aroma soba.

Namun, aroma soba yang sudah dimasak lebih tipis.


Seperti sajian soba dingin (mori soba). Tidak ada aroma uap nikmat dari sajian soba dingin. Namun,
kamu dapat merasakan aroma nikmat soba bila menyeruputnya dengan agak keras. Inilah cara tepat
makan soba.

Menurut orang Jepang, terlihat agak memalukan dan terlihat kurang keren bila makan mi dengan
dikunyah biasa tanpa menyeruputnya.

Soba pertama kali muncul pada catatan sejarah awal zaman Edo (1603–1868). Pada akhir abad ke-17,
cukup banyak kedai soba bermunculan di Kota Edo (sekarang Tokyo).

Awalnya soba merupakan menu pendamping udon. Kemudian soba menjadi lebih populer dibandingkan
udon dan menjadi salah satu kuliner khas Edo.

Orang-orang pada zaman Edo beli dan makan soba di kedai kecil atau dari pedagang keliling di malam
hari yang memanggul gerobak.

Ada juga soba yang disajikan di restoran, tetapi bagi warga umumnya soba tetaplah street food.

Kala itu, makan berisik pun dianggap kurang sopan. Namun menurut Horii, soba adalah street food
untuk rakyat, sehingga mereka tidak begitu memedulikan perihal table manner.

Selain itu, kedai street food pada dasarnya tempat orang datang dan makan dengan cepat, kadang
sembari berdiri. Mereka mampir sepulang kerja atau sebelum menuju ke tempat tertentu.

Dalam keadaan seperti itu, mungkin dapat dikatakan bahwa menyeruput mi tak masalah. Sehingga bisa
jadi, itulah awal mula kebiasaan menyeruput mi oleh orang Jepang.

Berawal dari kedai soba, menyebar ke penjuru Jepang, dan berlanjut sampai masa kini. Bahkan sekarang
tak hanya soba yang diseruput, makan ramen dan mi Jepang lain juga.
Menurut Horii, itu adalah cara orang Jepang makan mi. Namun tak ada pemaksaan bagi orang asing
untuk makan dengan cara demikian. Dia tak bisa memaksa orang lain mengikuti caranya makan.

Horii mengatakan, lebih baik fokus pada bagaimana cara orang lain menghargai betapa nikmat dan
bernutrisinya soba. Orang asing cukup mengapresiasi makanan khas Jepang tersebut, tanpa memandang
cara mereka makan.