Anda di halaman 1dari 16

Apakah Hukum Perusahaan itu?

“Hukum yang secara Khusus Mengatur tentang bentuk-bentuk perusahaan serta segala aktifitas
atau kegiatan yang berkaitan dengan jalannya suatu perusahaan.”
Sumber-sumber Hukum Perusahaan
Lex Generalis : KUHD dan KUHPerdata
Lex Spesialist :Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing;
Undang-undang Nomor 5 tahun 1968 tentang Konvesi Washington Mengenai Sengketa Modal
Asing di Indonesia;
Undang-undang Nomor 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negara (PMDN);
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Bentuk-bentuk Usaha NegaraUndang-undang
Nomor 3 tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal;
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat;
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan;
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan;
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen;
Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 Badan Usaha Milik Negara (BUMN);
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan TerbatasPeraturan Perundang-
undangan yang diterbitkan dalam berbagai bentuk peraturan, misalnya Peraturan Pemerintah,
Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, dsb.Pendapat para ahli hokum

A. Persekutuan Komanditer (CV)

Persekutuan Komanditer (CV) adalah suatu persekutuan yang didirikan oleh seorang
atau beberapa orang yang mempercayakan uang atau barang kepada seorang atau beberapa
orang yang menjalankan perusahaan dan bertindak sebagai pemimpin.

CV belum merupakan badan hukum, karena meskipun dalam CV sudah memenuhi


syarat-syarat materiil suatu badan hukum, tetapi pengesahan dari Pemerintah belum dipenuhi
sebagai syarat formilnya.

Buku pertama, titel ketiga, bagian kedua Pasal 16-35 Kitab Undang-Undang Hukum
Dagang, Pasal 19 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang menegaskan :
"Persekutuan dengan jalan meminjam uang atau disebut juga persekutuan komanditer,
diadakan antara seorang sekutu atau lebih yang bertanggung jawab secara pribadi dan
untuk seluruhnya dengan seorang atau lebih sebagai peminjam uang".
Dari pengertian di atas, sekutu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Sekutu Aktif atau Sekutu Komplementer, adalah sekutu yang menjalankan Perusahaan
dan berhak melakukan perjanjian dengan pihak ketiga. Artinya, semua kebijakan
perusahaan dijalankan oleh sekutu aktif. Sekutu aktif sering juga disebut sebagai persero
kuasa atau persero pengurus.
2. Sekutu Pasif atau Sekutu Komanditer, adalah sekutu yang hanya menyertakan modal
dalam persekutuan. Jika perusahaan menderita rugi, mereka hanya bertanggung jawab
sebatas modal yang disertakan dan begitu juga apabila untung, uang mereka memperoleh
terbatas tergantung modal yang mereka berikan. Status Sekutu Komanditer dapat
disamakan dengan seorang yang menitipkan modal pada suatu perusahaan, yang hanya
menantikan hasil keuntungan dari inbreng yang dimasukan itu, dan tidak ikut campur
dalam kepengurusan, pengusahaan, maupun kegiatan usaha perusahaan. Perseroan
komanditer biasanya didirikan dengan akta dan harus didaftarkan sekutu ini juga disebut
sebagai persero diam (Pasal 21 kitab Undang-Undang Hukum Dagang)

Jenis jenis CV
A. Persekutuan komanditer murni
Bentuk ini merupakan persekutuan komanditer yang pertama. Dalam persekutuan ini
hanya terdapat satu sekutu komplementer, sedangkan yang lainnya adalah sekutu
komanditer.

B. Persekutuan komanditer campuran


Bentuk ini umumnya berasal dari bentuk firma bila firma membutuhkan tambahan
modal. Sekutu firma menjadi sekutu komplementer sedangkan sekutu lain atau sekutu
tambahan menjadi sekutu komanditer.

C. Persekutuan komanditer bersaham


Persekutuan komanditer bentuk ini mengeluarkan saham yang tidak dapat
diperjualbelikan dan sekutu komplementer maupun sekutu komanditer mengambil
satu saham atau lebih. Tujuan dikeluarkannya saham ini adalah untuk menghindari
terjadinya modal beku karena dalam persekutuan komanditer tidak mudah untuk
menarik kembali modal yang telah disetorkan.

Ciri-ciri CV :
1. Keanggotaan pada CV ada 2 (dua) macam diantaranya anggota aktif dan anggota pasif;
2. Sekutu yang aktif merupakan anggota yang aktif dalam mengelola perusahaan;
3. Sedangkan sekutu yang pasif hanyalah anggota yang menanamkan modal saja; dan
4. Tanggung jawab pada sekutu aktif tidak terbatas, sedangkan tanggung jawab sekutu
pasif hanya sebesar modal yang dia tanam.
Sifat Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap (CV) atau Limited
Partnership ):
 Sulit untuk menarik modal yang telah disetor.
 Modal besar karena didirikan banyak pihak.
 Mudah mendapatkan kridit pinjaman.
 Ada anggota aktif yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas dan ada yang pasif
tinggal menunggu keuntungan.
 Relatif mudah untuk didirikan.
 Kelangsungan hidup perusahaan cv tidak menentu.

Kelebihan Persekutuan Komanditer


1. Mudah proses pendiriannya.
2. Kebutuhan akan modal dapat lebih dipenuhi.
3. Persekutuan komanditer cenderung lebih mudah memperoleh kredit.
4. Dari segi kepemimpinan, persekutuan komanditer relatif lebih baik.
5. Sebagai tempat untuk menanamkan modal, persekutuan komanditer cenderung lebih
baik, karena bagi sekutu diam akan lebih mudah untuk menginvestasikan maupun
mencairkan kembali modalnya.

Kekurangan Persekutuan Komanditer


1. Kelangsungan hidup tidak menentu, karena banyak tergantung dari sekutu aktif yang
bertindak sebagai pemimpin persekutuan.
2. Tanggung jawab para sekutu komanditer yang terbatas mengendorkan semangat
mereka untuk memajukan perusahaan jika dibandingkan dengan sekutu-sekutu pada
persekutuan firma.

Bentuk Persekutuan Komanditer (CV):


1. CV diam-diam adalah CV yang belum menyatakan diri secara terang-terangan
kepada pihak ketiga sebagai CV. Jadi, persekutuan ini keluar menyatakan diri sebagai
persekutuan firma, tetapi ke dalam sudah menjadi CV karena terdapat satu atau
beberapa Sekutu Komanditer.
2. CV terang-terangan adalah CV yang secara terang-terangan menyatakan diri
sebagai CV kepada pihak ketiga. Misalnya papan nama, kop surat, tindakan-tindakan
hukum bagi kepentingan persekutuan dengan mengatasnamakan CV.
3. CV atas saham adalah CV terang-terangan yang modalnya terdiri atas saham-saham
(biasanya adalah saham atas nama).

Tujuan Pendirian Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap (CV)


atau Limited Partnership )
Setiap CV mempunyai tujuan dalam setiap pendiriannya, salah satunya agar dapat
melakukan kegiatan usaha yang sama dengan perseroan lain atau berbeda, bersifat khusus
atau umum sesuai dengan keinginan para pendiri persero. Namun ada beberapa bidang
usaha yang hanya bisa dilaksanakan dengan ketentuan harus berbadan hukum PT. Selain
itu tujuan dari pendirian CV adalah sebagai Badan usaha agar suatu usaha memiliki
wadah resmi dan legal untuk memudahkan pergerakan badan usaha itu sendiri, misalnya
“pengadaan barang”, perlu suatu sarana melakukan kerjasama, selain itu biasanya juga
diisyaratkan apabila akan menjalin kerjasama dengan suatu instansi pemerintah atau
pihak lain adanya pembentukan suatu badan usaha.

Unsur-unsur persekutuan komanditer, sebagai berikut :


Unsur CV sebagai perkumpulan :
1. Kepentingan bersama;
2. Kehendak bersama;
3. Tujuan bersama; dan
4. Kerja sama.

Unsur CV sebagai persekutuan perdata :


1. Perjanjian timbal balik;
2. Masing-masing pihak harus memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan (inbreng) dan
3. Pembagian keuntungan.

Unsur CV sebagai firma:


1. Menjalankan perusahaan (pasal 16 KUHD);
2. Dengan nama bersama atau firma (pasal 16 KUHD); dan
3. Tanggung jawab sekutu (kerja) bersifat pribadi untuk keseluruhan (pasal 18 KUHD).

Unsur kekhususan persekutuan komanditer :


Persekutuan komanditer merupakan persekutuan firma dengan bentuk khusus. Bentuk
khususnya adalah adanya sekutu komanditer.

Menurut Pasal 20 KUHD mengenal Sekutu Komanditer dengan penanaman modal,


dimana bahwa status dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :
1. Tidak mencampuri pengurusan perusahaan atau tidak bekerja dalam CV tersebut;
2. Sekutu Komanditer ini hanya menyediakan modal atau uang untuk mendapatkan
keuntungan dari laba perusahaan, sehingga Sekutu Komanditer disebut juga sekutu
penanam modal terbatas (commanditeire vennootschap, limited by shares);
3. Kerugian CV yang ditanggung oleh Sekutu Komanditer, hanya terbatas pada sejumlah
modal atau uang yang disetorkan atau ditanamkan (beperkte aansprakelijkheid,
limited liability); dan
4. Nama Sekutu Komanditer tidak boleh diketahui, itu sebabnya disebut komanditer atau
commanditeire vennoot yang berarti sleeping partner atau silent partner.

B. Perseroan Terbatas (PT)


Pengertian PT (Perseroan Terbatas) adalah perusahaan yang dimana modalnya
terdiri dari saham-saham dan tanggung jawab dari sekutu pemegang saham terbatas, yang
sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.

Selain pengertian diatas ada definisi lain mengenai Perseroan Terbatas (PT) yaitu
persekutuan yang berbentuk badan hukum dimana badan hukum ini disebut dengan
"perseroan". Istilah perseroan pada perseroan terbatas menunjuk pada cara penentuan
modal pada badan hukum itu yang terdiri dari sero-sero atau saham-saham dan istilah
terbatas menunjukkan pada batas tanggung jawab para persero (pemegang saham) yang
dimiliki, yaitu hanya terbatas pada jumlah nilai nominal dari semua saham-saham yang
dimiliki.

Bentuk badan hukum ini, sebagaimana ditetapkan dalam KUH Dagang bernama
"Naamloze Vennootschap" atau disingkat NV. Sesungguhnya tidak ada UU yang secara
khusus dan resmi memerintahkan untuk mengubah sebutan "naamloze Vennootschap"
hingga harus disebut dengan PT (Perseroan Terbatas). Namun sebutan PT (Perseroan
Terbatas) itu telah menjadi baku dalam masyarakat.

Ciri Ciri PT (Perseroan Terbatas)

Dalam KUH Dagang menjelaskan bahwa badan usaha yang dapat dikatakan sebagai
PT (perseroan Terbatas) harus memiliki unsur atau ciri ciri PT. Ciri ciri PT (Perseroan
Terbatas), sebagai berikut :

1. Badan usaha dapat disebut sebagai PT (Perseroan Terbatas) jika kekayaan badan
usaha yang dimiliki terpisah dari kekayaan pribadi masing-masing pesero (pemegang
saham), yang bertujuan untuk membentuk sejumlah dana sebagai jaminan bagi
semua perikatan perseroan.
2. Dapat usaha dapat disebut sebagai PT (Perseroan Terbatas) jika adanya persero yang
tanggung jawabnya terbatas pada jumlah nominal saham yang dimilikinya.
Sedangkan mereka semua dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) merupakan
kekuasaan tertinggi dalam organisasi perseroan, yang memiliki kewenangan
mengangkat dan memberhentikan Komisaris dan Direksi, berhak menetapkan garis-
garis besar kebijaksanaan menjalankan perusahaan dan memiliki kewenangan
menetapkan hal-hal yang belum ditetapkan dalam Anggaran Daasar dan lain-lain.
3. Badan usaha dapat disebut sebagai PT (Perseroan Terbatas) jika pengurus (Direksi)
dan Komisaris yang merupakan satu kesatuan pengurusan dan pengawasan terhadap
perseroan dan tanggung jawabnya terbatas pada tugasnya, yang harus sesuai dengan
Anggaran Dasar atau pada keputusan RUPS.
Tujuan PT (Perseroan Terbatas)

Berbicara mengenai tujuan PT (Perseroan Terbatas), Tujuan PT (Perseroan


Terbatas) didirikan adalah untuk menjalankan suatu perusahaan dengan modal tertentu
yang terbagi atas saham-saham, yang dimana para pemegang saham (persero) ikut serta
mengambil satu saham atau lebih dan melakukan perbuatan-perbuatan hukum dibuat oleh
nama bersama, dengan tidak bertanggung jawab sendiri untuk persetujuan-persetujuan
perseroan itu (dengan tanggung jawab yang semata-mata terbatas pada modal yang
mereka setorkan).

Macam Macam PT (Perseroan Terbatas)

Ditinjau dari cara menghimpun modal PT, maka macam macam PT (Perseroan Terbatas)
dapat dibedakan menjadi PT Terbuka, PT Tertutup dan PT Perseorangan.

1. PT Terbuka

PT Terbuka adalah suatu PT (Perseroan Terbatas) di mana masyarakat luas dapat


ikut serta menanamkan modalnya dengan cara membeli saham yang ditawarkan oleh
PT Terbuka melalui bursa dalam rangka memupuk modal untuk investasi PT atau
biasa disebut "PT yang go-public".

Pengertian PT Terbuka tercantum dalam UU No.40 tahun 2007, PT Terbuka


adalah perseroan yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria
tertantu, atau perseroan yang melakukan penawaran umum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan di bidang pasar modal.

Dari Pengertian PT Terbuka di atas, maka PT terbuka dapat dibedakan menjadi


dua, yaitu :

a. PT (Perseroan Terbatas) yang go-public, yang melakukan penawaran umum sesuai


dengan butir dua;
b. Perseroan publik. Adapun yang dimaksud perseroan publik ini adalah PT yang
tidak melakukan penawaran umum dalam arti tidak menjual sahamnya melalui
bursa (go-public), namun modalnya sangat besar dan terbagi atas sejumlah
pemegang saham yang banyak sekali.

Selain itu PT terbuka dalam UUPT (Undang-undang Perseroan Terbatas)


mengharuskan pada akhir perseroan ditambah dengan singkatan "Tbk" dan juga harus
didahului dengan perkataan "Perseroan Terbatas" atau disingkat "PT". Contohnya :
PT. Gudang Garam Tbk, berarti "Perseroan Terbatas Gudang Garam adalah PT
terbuka".

2. PT Tertutup

Pengertian PT Tertutup adalah PT (Perseroan Terbatas) yang didirikan dengan


tidak menjual sahamnya kepada masyarakat luas, berarti tidak setiap orang dapat ikut
menanamkan modalnya.

Pengertian PT tertutup tidak dapat ditemukan dalam UU PT, Namun dapat ditafsir
bahwa "PT tertutup bukan merupakan PT terbuka". Dapat ditarik kesimpulan
bahwasannya PT tertutup merupakan yang tidak termasuk pada kriterian yang termuat
dalam UU PT.

3. PT Perseorangan

Pengertian PT Perseorangan adalah saham-saham dalam PT (Perseroan Terbatas)


tersebut dikuasai oleh seorang pemegang saham (Pesero). Hal ini dapat terjadi setelah
melalui proses pendirian PT itu sendiri. Pada waktu pendirian PT, terdapat lebih dari
seorang pemegang saham, yang selanjutnya beralih menjadi berada pada seorang
pemegang saham.

Setelah berlakunya UU PT maka PT Perseorangan tidak mungkin dilakukan lagi,


karena UU PT melarang hal yang demikian. Dalam pasal 7 angka (5) UU PT
menyebutkan dengan tegas : "setelah Perseroan memperoleh status badan hukum dan
pemegang saham menjadi kurang dari 2 (dua) orang, dalam jangka waktu paling lama
6 (enam) bulan terhitung sejak keadaan tersebut pemegang saham yang bersangkutan
wajib mengendalikan sebagian sahamnya kepada orang lain".

Tidak dimungkinkan pemegang saham tunggal dalam PT (Perseroan Terbatas)


menurut UU PT seperti yang dijelaskan di atas. Namun terdapat pengecualian terhadap
ketentuan tidak dimungkinkannya pemegang saham tunggal yaitu terhadap perseroan
yang merupakan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dimana saham-sahamnya berada
pada satu tangan yaitu berada pada tangan pemerintah melalui Menteri Keuangan sebagai
satu-satunya pemegang saham. Hal ini ditegaskan dalam pasal 7 angka (7) UU PT.

Firma (dari bahasa Belanda venootschap onder firma;


secara harfiah: perserikatan dagang antara beberapa
perusahaan) atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah
bentuk badan usaha untuk menjalankan usaha antara
dua orang atau lebih (disebut Firmant) dengan memakai
nama bersama atau satu nama yang digunakan bersama
untuk memperluas usahanya.

Firma atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah bentuk


persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau
lebih dengan memakai nama bersama. Firma (Fa) ialah suatu
persekutuan antara dua orang atau lebih yang menjalankan
badan usaha dengan nama bersama dengan mempunyai
tujuan untuk membagi hasil yang didapat dari persekutuan
tersebut. Dalam mendirikan firma mempunyai anggota paling
sedikit dua orang atau lebih. Semua anggota
mempunyai tanggung jawab terhadap sebuah perusahaan dan
menyerahkan kekayaan pribadi sesuai yang tercantum di
dalam akta pendirian Firma. Jika bangkrut semua anggota
harus bertanggung jawab sampai harta punya pribadi ikut
dipertanggungkan.

Dalam firma semua anggota bertanggung jawab sepenuhnya


baik sendiri maupun bersama terhadap utang-utang
perusahaan kepada pihak lain. Bila perusahaan mengalami
kerugian akan ditanggung bersama, bila perlu dengan seluruh
kekayaan pribadi mereka. Firma dapat dibentuk oleh 2 orang
atau lebih yang semuanya belum memiliki usaha. Pemiliki
firma terdiri dari beberapa orang yang bersekutu dan masing-
masing anggota persekutuan menyerahkan kekayaan pribadi
sesuai yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan.
Firma bukan merupakan badan usaha yang berbadan hukum
karena : Tidak ada pemisahan harta kekayaan antara
persekutuan dan pribadi sekutu‐sekutu, setiap sekutu
bertanggung jawab secara pribadi untuk keseluruhan. Tidak
ada keharusan pengesahan akta pendirian oleh Menteri
Kehakiman dan HAM Firma berakhir apabila jangka waktu
yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir.

dapun pendirian Firma telah diatur dalam Kitab Undang-


Undang Hukum Dagang dengan cukup lengkap, terutama
dalam Pasal 22 hingga Pasal 29 Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang. Adapun pendirian Firma dalam Pasal 22
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang menjelaskan
bahwa, tiap-tiap persekutuan Firma harus didirikan dengan
akta otentik, akan tetapi ketiadaan akta demikian tidak dapat
ditemukan untuk merugikan pihak ketiga.
Ada tiga unsur penting dalam isi Pasal di atas, yang dapat
diuraikan sebagai berikut :

1. Firma harus didirikan dengan akta otentik;


2. Firma dapat didirikan tanpa akta otentik;
3. Akta yang tidak otentik tidak boleh merugikan pihak
ketiga.

Selama akta pendirian belum didaftarkan dan diumumkan,


maka pihak ketiga menganggap firma sebagai persekutuan
umum yang menjalankan segala macam usaha, didirikan
untuk jangka waktu yang tidak terbatas serta semua sekutu
berwenang menandatangani berbagai surat untuk firma ini
sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 29 KUHD.
Isi ikhtisar resmi akta pendirian firma dapat dilihat di Pasal
26 KUHD yang harus memuat sebagai berikut:
1. Nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para
sekutu firma.
2. Pernyataan firmanya dengan menunjukan apakah
persekutuan itu umum ataukah terbatas pada suatu
cabang khusus perusahaan tertentu dan dalam hal
terakhir dengan menunjukan cabang khusus itu.
3. Penunjukan para sekutu yang tidak diperkenankan
bertanda tangan atas nama firma.
4. Saat mulai berlakunya persekutuan dan saat
berakhirnya.
5. Dan selanjutnya, pada umumnya bagian-bagian dari
perjanjiannya yang harus dipakai untuk menentukan
hak-hak pihak ketiga terhadap para sekutu.

Bentuk umumnya perjanjian yang tertuang dalam akta


pendirian firma biasanya berisi tentang hal-hal berikut:
1. Nama dan alamat firma.
2. Jenis usaha firma, misalnya usaha dalam bidang jasa,
perdagangan, atau manufaktur.
3. Hak dan kewajiban para anggota, misalnya siapa yang
menjadi manajer serta tugas dan wewenang anggota
lainnya.
4. Jumlah modal yang ditanamkan pertama kali oleh para
anggota, termasuk uraian lengkap tentang aktifa non-kas
yang diserahkan (bila ada) yang digunakan dalam
operasi firma.
5. Pembagian laba-rugi yang biasanya ditunjukan dalam
bentuk rasio antara anggota yang satu dengan yang lain.
6. Syarat-syarat pengambilan modal (prive) dan
penambahan modal.
7. Prosedur penerimaan anggota baru firma.
8. Prosedur keluarnya anggota firma.
9. Prosedur pembubaran firma apabila firma di likuidasi
10. Dan uraian penting lainnya.

Dapat disimpulkan, bahwa akta dalam pembentukan Firma


hanyalah berfungsi sebagai alat bukti untuk memudahkan
pembuktian berdirinya suatu Firma dan perincian hak dan
kewajiban masing-masing anggota.
Sifat dari Persekutuan Firma adalah:

 Keagenan atau perwakilan bersama


 Umur terbatas
 Dalam Tanggung jawab tak terbatas
 Pemilikan kepentingan
 Partisipasi (Keikutsertaan) dalam sebuah Persekutuan
Firma
 Bentuk firma ini sudah digunakan baik untuk suatu
kegiatan usaha berskala besar ataupun kecil
 Bisa berupa perusahaan kecil yang menjual sebuah
barang pada satu lokasi, atau suatu perusahaan besar
yang memiliki cabang atau kantor di banyak lokasi;
 Masing-masing sekutu menjadi suatu agen atau wakil
dari persekutuan firma untuk sebuah tujuan usahanya
 Pembubaran persekutuan firma akan tercipta
bila terdapat salah satu anggota mengundurkan diri atau
meninggal;
 Tanggung Jawab seorang anggota tidak terbatas pada
jumlah investasinya;
 Harta benda yang diinvestasikan dalam suatu
persekutuan firma tidak lagi dipunyai secara terpisah
oleh masing-masing sekutu; dan
 Masing-masing sekutu berhak mendapatkan pembagian
laba persekutuan firma.
Secara umum, ciri-ciri dan sifat Firma yang dapat kita lihat
yaitu:

 a. Anggota firma biasanya sudah saling mengenal dan


saling mempercayai.
 b. Perjanjian firma dapat dilakukan di hadapan notaris
maupun di bawah tangan.
 c. Memakai nama bersama dalam kegiatan usaha.
 d. Adanya tanggung jawab dan resiko kerugian yang
tidak terbatas.
 e. Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap
pemilik wajib melunasi dengan harta pribadi.
 f. Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi
pemimpin.
 g. Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota
baru tanpa seizin anggota yang lainnya.
 h. keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup.
 i. seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan
firma.
 j. pendiriannya tidak memelukan akte pendirian.
 k. mudah memperoleh kredit usaha.
Maka dari itu, Drebin (1982) membagi karakteristik Firma
itu menjadi 5 yaitu:
1. Mutual Agency (saling mewakili), setiap anggota dalam
menjalankan usaha firma merupakan wakil dari anggota
firma yang lain. Apabila ada salah seorang anggota
beroperasi dalam bidang usaha firma, maka secara tidak
langsung anggota tersebut mewakili anggota firma yang
lain.

2. Limited Life (umur terbatas), firma yang didirikan oleh


beberapa anggota memiliki umur yang terbatas. Artinya
adalah jika ada anggota yang keluar berarti firma
tersebut dinyatakan bubar secara hokum, demikian juga
apabila ada anggota baru yang bergabung. Firma
dinyatakan masih beroperasi atau bubar jika tidak ada
perubahan dalam komposisi keanggotaannya.

3. Unlimited Liability (tanggung jawab terhadap


kewajiban firma tiak terbatas), tanggung jawab atas
hutang tidak terbatas pada kekayaan yang dimiliki firma
saja, tapi juga sampai harta milik pribadi para anggota
firma. Jadi jika dalam keadaan tertentu firma memiliki
hutang pada kreditur dan firma tersebut tidak mampu
membayar karena jumlah kekayaan tidak mencukupi
maka kreditur berhak menagih kepada para anggota
firma sampai harta milik pribadi.
4. Ownership of an Interest in a Partnership, bahwa
kekayaan setiap anggota yang sudah ditanamkan dalam
firma merupakan kekayaan bersama dan tidak dapat
dipisahkan secara jelas. Masing-masing anggota adalah
sebagai pemilik bersama atas kekayaan Firma. Tanpa
seijin naggota lain, anggota lain tidak boleh
menggunakan kekayaan firma. Hak anggota terhadap
kekayaan firma akan terlihat dalam saldo modal akhir
para anggota firma yang terdiri dari unsur-unsur sebagai
berikut : penanaman modal awal, penanaman modal
tambahan, pengambilan prive, penambahan dari
pembagian laba, dan pengurangan dari pembagian rugi.

5. Participating in Partnership Profit, laba atau rugi


sebagai hasil operasi Firma akan dibagikan kepada setiap
anggota firma berdasarkan partisipasi para anggota
didalam firma. Jika ada seorang anggota yang aktif
menjalankan usaha firma, maka anggota tersebut berhak
atas bagian laba yang lebih besar daripada anggota yang
lain meskipun modal yang ditanamkan lebih kecil
daripada modal yangditanam oleh anggota yang tidak
aktif atau dapat ditentukan secara lain atas persetujuan
anggota lainnya. Ketentuan mengenai besarnya
pembagian laba rugi ini harus dicantumkan secara rinci
dan jelas dalam akte pendirian firma tersebut.
Berikut adalah kebaikan-kebaikan dari Firma, yaitu:
1.  Jumlah modalnya relatif besar dari usaha perseorangan
sehingga lebih mudah untuk memperluas usahanya.
2.  Lebih mudah memperoleh kredit karena mempunyai
kemampuan finansial yang lebih besar yang merupakan
gabungan modal yang dimiliki beberapa orang.
3. Kemampuan manajemen lebih besar karena adanya
pembagian kerja di antara para anggota. Disamping itu,
semua keputusan di ambil bersama-sama. Sehingga
keputusan-keputusan menjadi lebih baik
4. Tergabung alasan-alasan rasional.
5. Perhatian sekutu yang sungguh-sungguh pada
perusahaan.
6. 6Prosedur pendirian relative mudah.
7. Pimpinan dalam firma bisa dibagi sesuai dengan
keahlian masing-masing.
8. Kelangsungan pada badan usaha lebih terjamin.
9. Pinjaman untuk modal lebih mudah didaptkan
10. Modal firma lebih besar dibandingkan dengan
sebuah usaha perorangan.

Kekurangan Firma
Selain memiliki kebaikan-kebaikan, Firma juga mempunyai
keburukan-keburukan sebagai berikut:
1. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas seluruh utang
perusahaan.
Contoh : Anggota Investasi Dalam Toko Pengecer Kekayaan
Pribadi A = Rp. 400.000, B = Rp. 200.000, C = Rp. 100.000.
Dengan berbagai macam alasan, toko tersebut mempunyai
hutang sebesar Rp. 800.000. modal yang ditanamkan oleh
para anggota hanya sebesar Rp. 700.000 dipakai untuk
melunasi hutang tersebut. Sisa hutang sebesar Rp. 100.000
harus dibayar dari kekayaan pribadi. Karena A dan B tidak
memiliki kekayaan pribadi, maka sisa hutang tersebut harus
dibayar oleh C.

2. Pimpinan dipegang oleh lebih dari satu orang. Hal yang


demikian ini memungkinkan timbulnya perselisihan
paham diantara para sekutu.
3. Kesalahan seorang firmant harus ditanggung bersama.
4. Kelangsungan hidup perusahaan tidak terjamin, sebab
bila salah seorang anggota keluar, maka firma pun bubar.
5. Utang usaha perusahaan ditanggung oleh kekayaan
pribadi para anggota firma.
6. Sulit dalam mengambil suatu keputusan karena adanya
suatu perbedaan pendapat dari kedua pemimpin
7. Kesalahan pada sesorang anggota harus ditanggung
bersama
8. Tidak adanya pemisah harta kekayaan antara hak milik
dengan Firma. Bila mengalami bangkrut, maka harta
pribadi ikut dipertanggungkan.