Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah


Semester Pendek Keperawatan Medikal Bedah III
Dosen pengampu : Ns. Mifetika Lukitasari S.Kep., M.Sc

Disusun oleh :
Kelompok 5

Eti Purwansari 195070209111002


Iin Eka Safitri 195070209111009
M. Irbat Malan 195070209111033

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Osteoporosis” dengan baik tanpa suatu halangan apapun.
Makalah ini dapat terselesaikan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ns. Mifetika Lukitasari S.Kep., M.Sc, selaku dosen pengampu mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
2. Semua teman-teman yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Makalah ini membahas tentang kajian teori mengenai Osteoporosis beserta
konsep asuhan keperawatan dengan menggunakan panduan Nanda NIC NOC. Kami
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, serta dapat digunakan
sebagai motivasi untuk menyusun makalah lain yang lebih baik. Kami menyadari bahwa
penulisan dan penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
mohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Sehingga dalam penulisan
selanjutnya dapat lebih baik dan sempurna.

Malang, Juni 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu masalah gangguan kesehatan yang menonjol  pada usia lanjut
adalah gangguan muskoloskeletal, terutama osteoartritis dan osteoporosis.
Menghadapi problem ini tanpa adanya persiapan yang baik, di khawatirkan akan
menjadikan beban yang akan di tanggung pemerintah, masyarakat, dan warga
usia lanjut  dengan keluarga akan menjadi  sangat besar dan akan  menghambat
perkembangan ekonomi  serta memperburuk kualitas hidup manusia secara utuh
(Isbagio H dalam Daniel, 2013).
Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif yang menjadi
permasalah global di bidang kesehatan termasuk di Indonesia. Osteoporosis
merupakan penyakit ditandai dengan massa tulang yang rendah atau berkurang,
disertai gangguan mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas tulang yang
dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Wardhana, 2012 dan Hikmiyah dan
Martin, 2013).
Osteoporosis memiliki dampak yang cukup parah bagi kesehatan. Dampak
dari penderita osteoporosis yaitu beresiko mengalami fraktur. Osteoporosis juga
menyebabkan kecacatan, ketergantungan pada orang lain, gangguan psikologis
sehingga menurunkan kualitas dan fungsi hidup serta menigkatkan mortalitas
(Hikmiyah dan Martin, 2013).
Prevalensi osteoporosis di dunia masih cukup tinggi. World Health
Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 200 juta orang menderita
Osteoporosis di seluruh dunia. Pada tahun 2050, diperkirakan angka patah tulang
pinggul akan meningkat 2 kali lipat pada wanita dan 3 kali lipat pada pria
(Kemenkes RI, 2012). Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun
2010, angka insiden patah tulang paha atas tercatat sekitar 200/100.000 kasus
pada wanita dan pria diatas usia 40 tahun diakibatkan osteoporosis. World Health
Organization (WHO) menunjukkan bahwa 50% patah tulang paha atas ini akan
menimbulkan kecacatan seumur hidup dan menyebabkan angka kematian
mencapai 30% pada tahun pertama akibat komplikasi imobilisasi. Data ini belum
termasuk patah tulang belakang dan lengan bawah serta yang tidak memperoleh
perawatan medis di Rumah Sakit (Kemenkes RI, 2012).
Kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang,
sehingga dapat menurunkan massa tulang total. Osteoporosis  adalah penyakit
yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang  rendah,  disertai
mikroarsitektur  tulang dan penurunan kualitas  jaringan tulang yang dapat
menimbulkan  kerapuhan tulang. Tulang secara progresif  menjadi rapuh dan
mudah patah. Tulang menjadi mudah patah dengan stres, yang pada tulang
normal tidak menimbulkan pengaruh. Sherwood (2009), mengatakan selama dua
decade pertama kehidupan, saat terjadi pertumbuhan, pengendapan tulang
melebihi resorpsi tulang dibawah pengaruh hormone pertumbuhan. Sebaiknya
pada usia 50-6- tahun, resorpsi tulang melebihi pembentukan tulang. Kalsitonin 
yang menghambat resorpsi tulang dan merangsang pembentukan tulang
mengalami penurunan. Hormon paratiroid meningkat bersama bertambahnya 
dan meningkatkan resorpsi tulang. Hormone estrogen yang menghambat 
pemecahan tulang, juga berkurang bersama bertambahnya usia.
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit
degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem
muskolokeletal yang memerlukan perhatian khusus, terutama dinegara
berkembang, termasuk indonesia. Pada tahun 1990, ternyata jumlah penduduk
yang berusia 55 tahun atau lebih mencapai 9,2%, meningkat 50% dibandingkan
survey tahun 1971. Dengan demikian, kasus osteoporosis dengan berbagai
akibatnya, terutama fraktur diperkirakan juga akan meningkat ( Sodoyo, 2009 )
Ada beberapa faktor risiko osteoporosis diantaranya genetik, jenis kelamin
dan masalah kesehatan kronis, defisiensi hormon, kurang olah raga, serta
rendahnya asupan kalsium, Bila dalam suatu keluarga mempunyai riwayat
osteoporosis maka kemungkinan peluang anak mengalami hal yang sama adalah
60-80%. Dilihat dari jenis kelamin 80% wanita mengidap osteoporosis. Risiko
osteoporosis juga akan meningkat apabila mengidap penyakit kronis.
Osteoporosis atau dikenal sebagai tulang keropos. Pada osteoporosis massa
yang membentuk tulang sudah berkurang, sehingga tulang dapat dikatakan
keropos. Struktur pengisi tulang antara lain berupa senyawa-senyawa kolagen
disamping juga kalsium, berfungsi bagaikan semen cor-an nya tulang. Ketika
massa ini menjadi berkurang maka tulang menjadi kurang padat sehingga tak kuat
menahan benturan ringan sekalipun yang mengenainya, resikonya patah tulang
gampang terjadi.Di luar dari mudahnya tulang yang keropos itu mengalami
fraktur, tulang yang keropos hampir tak bergejala sama sekali, silent disease. Jadi
Keduanya memang dekat dengan wanita usia post menopause dikarenakan
proses metabolisme di tulang memang membutuhkan pengaruh dari hormone
estrogen yang lazimnya menurun saat wanita post menopause.
Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya osteoporosis, yaitu faktor risiko
yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat
diubah antara lain adalah usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, sedangkan faktor
risiko yang dapat diubah antara lain adalah status gizi, asupan kalsium, konsumsi
alkohol, kopi, merokok, hormon endogen seperti estrogen, menopause dini,
aktifitas fisik, dan penggunaan steroid jangka panjang ( Wardhana, 2012 ).

1.2. Tujuan Penulisan


1.2.1. Tujuan Umum
Tujuan penulisan makalah ini secara umum bertujuan untuk mengetahui
konsep dasar terkait penyakit osteoporosis dan pengaplikasian dalam asuhan
keperawatan
1.2.2. Tujuan Khusus
Tujuan penulisan makalah ini secara khususuntuk:
1. Mengetahui pengertian terkait osteoporosis
2. Mengetahui etiologi dan faktor resiko terkait osteoporosis
3. Mengetahui patofisologi terkait osteoporosis
4. Mengetahui manifestasi klinis terkait osteoporosis
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari osteoporosis
6. Mengetahui tatalaksana medis osteoporosis
7. Mengetahui konsep asuhan keperawatan yang akan diberikan pada klien
dengan osteoporosis

1.3. Manfaat Penulisan


1.3.1. Bagi Klien
Diharapkan dapat mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut dengan
melakukan latihan pergerakan rentang sendi sehingga proses rehabilitasi berjalan
dengan baik

1.3.2. Bagi Instansi Pelayanan Keperawatan


Pelayanan keperawatan khususnya para perawat dapat menambah ilmu
mengenai osteoporosis serta memberikan intervensi keperwatan kepada klien
sesuai dengan teori dan penelitian yang sudah ada.

1.3.3. Bagi Pendidikan Keperawatan


Diharapkan mampu menambah referensi serta pengetahuan mengenai
kasus klien dengan osteoporosis dengan asuhan keperawatan dan intervensi yang
telah diberikan.
BAB II
OSTEOPOROSIS

2.1 Definisi
Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata
yang berakibat pada rendahnya kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi
keropos dan rapuh. “Osteo” berarti tulang, sedangkan “porosis” berarti keropos.
Tulang yang mudah patah akibat Osteoporosis adalah tulang belakang, tulang
paha, dan tulang pergelangan tangan (Endang Purwoastuti : 2009) .
Osteoporosis yang dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah
penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan
perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya
fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap tulang patah.
Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total
(Lukman, Nurma Ningsih: 2009).
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan
porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang
yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya
rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra,
2009).
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh
penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah
patah. Pada tahun 2001, National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi
baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh
compromised bone strength sehingga tulang mudah patah (Sudoyo, 2009).
Gambar 1. Gambar tulang yang normal dan tulang mengalami osteoporosis
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :
a. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang
menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga
meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca
menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1
pada usia rata-rata 53-57 tahun.Osteoporosis primer adalah kehilangan massa
tulang yang terjadi sesuai dengan proses penuaan, sedangkan osteoporisis
sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal tertentu.
Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama karena lebih
banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan pada
wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
b. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar
tulang. Osteoporisis sekunder mungkin berhubungan dengan kelainan patologis
tertentu termasuk kelainan endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi.
Pada osteoporosis sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat
untuk menimbulkan fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan
steroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi,
mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status
hipogonade, dan lain-lain.

2.2 Etiologi dan Faktor Resiko


2.2.1. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia
lanjut:
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan
tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil.
Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang
lebih kuat/berat dari pada bangsa Kaukasia. Jadi seseorang yang mempunyai
tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena
osteoporosis.

b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor
genetik. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya
beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal tersebut
menunjukkan respons terhadap kerja mekanik beban mekanik yang berat akan
mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai
adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau
tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai
pada pasien yang harus istirahat di tempat tidur dalam waktu yang lama,
poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum
diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa
lama untuk meningkatkan massa tulang di samping faktor genetik.
c. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup
(protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai
dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang
berlebih (misalnya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa
pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi
kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan
kemampuan genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko
fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada
ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal.Setiap
individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta
beban mekanis dan besar badannya.
Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses
penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia,
maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari pada
individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.

b. Faktor mekanik
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses
penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun
demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis
dengan faktor nutrisi hormonal.
Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia;
dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang
tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses
penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama
pada wanita post menopause.
Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa
peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak
bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang
mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan
keseimbangan kalsium positif.
Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan
yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam
tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta ekskresi melalui urin
yang bertambah.
Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah
pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi
penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan
ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan
meningkatkan ekskresi kalsium.
Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama
makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor
tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor
tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja.
Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan
mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang
negatif.
e. Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena
menurunnya efisiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya
konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan
kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan
massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi
kalsium melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering
ditemukan.Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan
kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme
yang jelas belum diketahui dengan pasti.

2.2.2. Faktor Resiko


Faktor resiko osteoporosis menurut Lukman,Nurma Ningsih : 2009, terdapat 2
(dua) faktor yaitu:
2.2.2.1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah, antara lain:
1. Usia (Lebih sering terjadi pada lansia).
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada
usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam
mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan
kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.
2. Jenis kelamin
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita, tiga kali lebih sering pada
wanita dibandingkan pada pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang
mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.Selain itu, wanita pun
mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh faktor hormonal dan rangka tulang
yang lebih kecil.

3. Ras/suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan Asia
memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita
Asia rendah.Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan
menghindari produk dari hewan.
Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan
meskipun rendah.
4. Riwayat keluarga /keturunan penderita osteoporosis
Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-
hatilah.Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang
tertentu.Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam
garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.
Pada keluarga yang mempunyai riwayat osteoporosis, anak-anak yang
dilahirkan cenderung mempunyai penyakit yang sama.
5. Bentuk tubuh
Adanya kerangka tubuh yang lemah dan scoliosis vertebra menyebabkan
penyakit ini. Keadaan ini terutama terjadi pada wanita antara umur 50 – 60 tahun
dengan densitas tulang yang rendah dan diatas 70 tahun dengan BMI yang rendah.
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko
fraktur daripada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada
ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu
memiliki ketentuan normal sesuai dengan sifat genetiknya beban mekanis dan
besar badannya. Apabila individu dengan tulang besar, kemudian terjadi proses
penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka
individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak daripada individu
yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama

2.2.2.2. Faktor resiko yang dapat diubah, antara lain:


1. Merokok
Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok
sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat
penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan
aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel
tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi,
penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah
sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas
menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung.
Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa
karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur
35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada
umur tersebut sudah berhenti.
2. Defisiensi vitamin dan gizi (antara lain protein dan kekurangan kalsium)
Kandungan darah pada makanan, peminum alkohol dan kopi yang berat.
Nikotin dalam rokok menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium
dari darah ke tulang sehingga pembentukan tulang oleh osteoblast menjadi
melemah. Mengkonsumsi kopi lebih dari 3 cangkir perhari menyebabkan
tubuhselalu ingin berkemih. Keadaan tersebut menyebabkan banyak kalsium
terbuang bersama air kencing.
Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan
mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.
3. Gaya hidup kurang baik
Aktifitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan penyangga berat
badan merupakan stimulus penting bagi resorpsi tulang. Beban fisik yang
terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa tulang.
Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung
fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan
kalsium dari dalam darah.
4. Malas olahraga
Mereka yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses
osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa
tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan
memacu tulang untuk membentuk massa.
5. Minuman berkafein dan beralkohol.
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang
keropos, rapuh dan rusak.Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen
Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang
menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang.
Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium,
dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang.
Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses
pembentukan massa tulang (osteoblas).
6. Gangguan makan (anoreksia nervosa)
7. Menopause dini, menurunnya kadar estrogen menyebabkan resorpsi tulang
menjadi lebih cepat sehingga akan terjadi penurunan massa tulang yang banyak.
8. Mengkonsumsi obat
Penggunaan obat-obatan tertentu seperti diuretic, glukokortikoid,
antikonvulsan, hormon tiroid berlebihan dan kortikosteroid.
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada
penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika
sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab,
kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan anti
kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis.Konsultasikan ke dokter sebelum
mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.
Tulang adalah jaringan dinamis yang diatur oleh faktor endokrin, nutrisi, dan
aktivitas fisik.Biasanya penanganan gangguan tulang terutama osteoporosis hanya
fokus pada masalah hormon dan kalsium, jarang dikaitkan dengan
olahraga.Padahal, Wolff sejak 1892 menyarankan bahwa olahraga sangatlah
penting.
Osteoporosis (kekeroposan tulang) adalah proses degenerasi pada tulang.
Mereka yang sudah terkena perlu berolahraga atau beraktivitas fisik sebagai bagian
dari pengobatan.Olahraga teratur dan cukup takarannya tidak hanya membentuk
otot, melainkan juga memelihara dan meningkatkan kekuatan tulang.Dengan
demikian, latihan olahraga dapat mengurangi risiko jatuh yang dapat memicu
fraktur (patah tulang).(Mulyaningsih, 2008).

2.3. Patofisiologi
Genetik, nutrisi, gaya hidup (misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol), dan
aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan masa tulang mulai terjadi
setelah tercaipainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar dan tidak
mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan, hilangnya
estrogen pada saat menopouse dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan
resorpsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pasca menopouse (Lukman,
Nurma Ningsih : 2009).
Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahankan
remodelling tulang selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang
dan fungsi tubuh. Asupan kasium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-
tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis.
Asupan harian kalsium yang dianjurkan (RDA : recommended daily allowance)
meningkat pada usia 11 – 24 tahun (adolsen dan dewasa muda) hingga 1200 mg per
hari, untuk memaksimalakan puncak massa tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800
mg, tetapi pada perempuan pasca menoupose 1000-1500 mg per hari. Sedangkan pada
lansia dianjurkan mengkonsumsi kalsium dalam jumlah tidak terbatas. Karena
penyerapan kalsium kurang efisisien dan cepat diekskresikan melalui ginjal.
Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen
dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindron
Cushing, hipertiriodisme dan hiperparatiriodisme menyebabkan kehilangan massa
tulang. Obat- obatan seperti isoniazid, heparin tetrasiklin, antasida yang mengandung
alumunium, furosemid, antikonvulsan, kortikosteroid dan suplemen tiroid
mempengaruhi penggunaan tubuh dan metabolisme kalsium.
Imobilitas juga mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi
dengan gips, paralisis atau inaktivitas umum, tulang akan diresorpsi lebih cepat dari
pembentukannya sehingga terjadi osteoporosis.Didalam kehidupan, tulang akan selalu
mengalami proses perbaharuan. Tulang memiliki 2 sel, yaitu osteoklas (bekerja untuk
menyerap dan menghancurkan/merusak tulang) dan osteoblas (sel yang bekerja
untuk membentuk tulang). Tulang yang sudah tua dan pernah mengalami keretakan,
akan dibentuk kembali. Tulang yang sudah rusak tersebut akan diidentifikasi oleh sel
osteosit (sel osteoblas menyatu dengan matriks tulang). (Cosman, 2009) Kemudian
terjadi penyerapan kembali yang dilakukan oleh sel osteoklas dan nantinya akan
menghancurkan kolagen dan mengeluarkan asam. (Tandra, 2009).
Dengan demikian, tulang yang sudah diserap osteoklas akan dibentuk bagian
tulang yang baru yang dilakukan oleh osteoblas yang berasal dari sel prekursor di
sumsum tulang belakang setelah sel osteoklas hilang. (Cosman, 2009). Proses
remodelling tulang tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2: Siklus remodelling tulang, Cosman, 2009


Menurut Ganong, ternyata endokrin mengendalikan proses remodeling tersebut.
Dan hormon yang mempengaruhi yaitu hormon paratiroid (resorpsi tulang menjadi lebih
cepat) dan estrogen (resorpsi tulang akan menjadi lama). Sedangkan pada osteoporosis,
terjadi gangguan pada osteoklas, sehingga timbul ketidakseimbangan antara kerja
osteoklas dengan osteoblas. Aktivitas sel osteoclas lebih besar daripada osteoblas. Dan
secara menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang akhirnya terjadilah
pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis. (Ganong, 2008). Gambar 5
menunjukkan perbedaan tulang yang normal dan tulang yang sudah mengalami
pengeroposan.

Gambar 5: Tulang Normal dan Keropos


Tulang terdiri atas sel dan matriks. Terdapat dua sel yang penting pada
pembentukan tulang yaitu osteoclas dan osteoblas. Osteoblas berperan pada
pembentukan tulang dan sebaliknya osteoklas pada proses resorpsi tulang. Matriks
ekstra seluler terdiri atas dua komponen, yaitu anorganik sekitar 30-40% dan matrik
inorganik yaitu garam mineral sekitar 60-70 %. Matrik inorganik yang terpenting adalah
kolagen tipe 1 ( 90%), sedangakan komponen anorganik terutama terdiri atas kalsium
dan fosfat, disamping magnesium, sitrat, khlorid dan karbonat.
Dalam pembentukan massa tulang tersebut tulang akan mengalami perubahan
selama kehidupan melalui tiga fase: Fase pertumbuhan, fase konsolodasi dan fase
involusi. Pada fase pertumbuhan sebanyak 90% dari massa tulang dan akan berakhir
pada saat epifisi tertutup. Sedangkan pada tahap konsolidasi yang terjadi usia 10-15
tahun. Pada saat ini massa tulang bertambah dan mencapai puncak ( peak bone mass )
pada pertengahan umur tiga puluhan. Serta terdapat dugaan bahwa pada fase involusi
massa tulang berkrang ( bone Loss ) sebanyak 35-50 tahun
Secara garis besar patofisiologi osteoporosis berawal dari Adanya massa
puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang. Massa puncak
tulang yang rendah ini diduga berkaitan dengan faktor genetic, sedangkan faktor yang
menyebabkan penurunan massa tulang adalah proses ketuaan, menopause, faktor lain
seperi obat obatan atau aktifitas fisik yang kurang serta faktor genetik. Akibat massa
puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang menyebabkan.
Densitas tulang menurun yang merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.
Kejadian osteoporosis dapat terjadi pada setiap umur kehidupan. Penyebabnya
adalah akibat terjadinya penurunan bone turn over yang terjadi sepanjang kehidupan.
Satu dari dua wanita akan mengalami osteoporosis, sedangkan pada laki-laki hanya 1
kasus osteoporsis dari lebih 50 orang laki-laki. Dengan demikian insidensi osteoporosis
pada wanita jauh lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini di duga berhubungan dengan
adanya fase masa menopause dan proses kehilangan pada wanita jauh lebih banyak.

Gambar 6: Percepatan Pertumbuhan Tulang

Gambar diatas menunjukan bahwa terjadi percepatan pertumbuhan tulang,


yang mencapai massa puncak tulang pada usia berkisar 20 - 30 tahun, kemudian terjadi
perlambatan formasi tulang dan dimulai resorpsi tulang yang lebih dominan. Keadan ini
bertahan sampai seorang wanita apabila mengalami menopause akan terjadi
percepatan resorpsi tulang, sehingga keadaan ini tulang menjadi sangat rapuh dan
mudah terjadi fraktur.
Setelah usia 30 tahun, resorpsi tulang secara perlahan dimulai akhirnya akan lebih
dominan dibandingkan dengan pembentukan tulang. Kehilangan massa tulang menjadi
cepat pada beberapa tahun pertama setelah menopause dan akan menetap pada
beberapa tahun kemudian pada masa postmenopause. Proses ini terus berlangsung
pada akhirnya secara perlahan tapi pasti terjadi osteoporosis. Percepat osteoporosis
tergantung dari hsil pembentukan tulang sampai tercapainya massa tulang puncak.
Massa tulang puncak ini terjadi sepanjang awal kehidupan sampai dewasa muda.
Selama ini, tulang tidak hanya tumbuh tetapi juga menjadi solid. Pada usia rata-rata 25
tahun tulang mencapai pembentuk massa tulang puncak. Walaupun demikian massa
puncak tulang ini secara individual sangat bervariasi dan pada umumnya pada laki-laki
lebih tinggi dibanding pada wanita. Massa puncak tulang ini sangatlah penting, yang
akan menjadi ukuran seseorang menjadi risiko terjadinya fraktur pada
kehidupannya. Apabila massa puncak tulang ini rendah maka akan mudah terjadi fraktur
kan saja, tetapi apabila tinggi makan akan terlindung dari ancaman fraktur.
Faktor faktor yang menentukan tidak tercapainya massa tulang puncak sampai
saai ini belum dapat dimengerti sepenuhnya tetapi diduga terdapat beberapa faktor
yang berperan, yaitu genetik, asupan kalsium, aktifitas fisik, dan hormon seks.
Untuk memelihara dan mempertahan massa puncak tulang adalah dengan diet, aktifitas
fisik, status reproduktif, rokok, kelebihan konsumsi alkohol, dan beberapa obat
(Permana, 2009).

2.4. Manifestasi Klinis


Osteoporosis merupakan silent disease. Penderita osteoporosis umumnya tidak
mempunyai keluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami fraktur.
Osteoporosis mengenai tulang seluruh tubuh, tetapi paling sering menimbulkan gejala
pada daerah-daerah yang menyanggah berat badan atau pada daerah yang mendapat
tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris). Korpus vertebra menunjukan adanya
perubahan bentuk, pemendekan dan fraktur kompresi. Hal ini mengakibatkan berat
badan pasien menurun dan terdapat lengkung vertebra abnormal (kiposis). Osteoporosis
pada kolumna femoris sering merupakan predisposisi terjadinya fraktur patologik (yaitu
fraktur akibat trauma ringan), yang sering terjadi pada pasien usia lanjut.
Masa total tulang yang terkena mengalami penurunan dan menunjukkan
penipisan korteks serta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan karena
adanya variasi ketebalan trabekular pada individu ”normal” yang berbeda. Diagnosis
mungkin dapat ditegakkan dengan radiologis maupun histologist jika osteoporosis dalam
keadaan berat. Struktur tulang, seperti yang ditentukan secara analisis kimia dari abu
tulang tidak menunjukan adanya kelainan. Pasien osteoporosis mempunyai
kalsium,fosfat, dan alkali fosfatase yang normal dalam serum.
Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya
osteoporosis tidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan tulang
sangat berkurang yang menyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan
timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada
osteoporosis adalah radius distal, korpus vertebra terutama mengenai T8-L4, dan kollum
femoris (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang
yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya
nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari pungung yang akan
bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan
terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah
beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka
akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk), yang
menyebabkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit (Lukman, Nurma Ningsih :
2009).
Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan
atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang
panggul. Selain itu, yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah
persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Pada
penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan secara
perlahan (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).

Manifestasi osteoporosis :
Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
Ciri-ciri khas nyeri akibatfraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12)
adalah:
1. Rasa sakit oleh karena adanya fraktur pada anggota gerak
2. Nyeri timbul mendadak
3. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Bagian-bagian tubuh yang
sering fraktur adalah pergelangan tangan, panggul dan vertebra
4. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
5. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas
atau karena suatu pergerakan yang salah
6. Deformitas vertebra thorakalis menyebabkan penurunan tinggi badan, Hal ini
terjadi oleh karena adanya kompresi fraktur yang asimtomatis pada vertebra.
7. Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan
atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang
panggul. Selain itu, yang juga sering terjadi karena adalah patah tulang lengan di
daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles,
Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami secara perlahan.

2.5. Pemeriksaan Diagnostk


Prosedur Pemeriksaan Densitas Tulang.
Bone Mineralomentry atau Bone Mineralo Densitometry (BMD) merupakan suatu
pemeriksaan kuantitatif untuk mengukur kandungan mineral tulang. Alat ini sangat
membantu seseorang yang hendak mengetahui, secara sederhana, apakah seseorang
mengalami osteoporosis atau tidak.
Cara kerja alat tersebut (BMD) adalah sebagai berikut:
Alat yang terdiri atas satu buah scanner atau pemindai tersebut bergerak di atas
seorang pasien yang hendak diperiksa kondisi tulangnya. Di dalam scanner telah
terpasang unit pembangkit sinar X. Sinar X yang terpancar dari unit tersebut terpancar
dan akan menembus tulang dan diterima oleh ditektor Nal. Selanjutnya computer akan
mengolah dan menghasilkan data berupa Average BMD, Bone Mineral Content, Risk
Treshold senta T score dan Z score terkait dengan kondisi tulang pasien. Dokter yang
telah terlatih dan menjadi spesialisasinya memahami semua itu.
Beberapa metode pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai densitas
massa tulang (WHO Scientific Group, 2003):
1. Pemeriksaan radiologis
Osteoporosis pada X Ray Konvensional baru akan terlihat bila massa tulang
telah berkurang hingga 30% atau lebih.
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun
yang dapat dilihat pada vertebra spinalis.Dinding dekat korpus vertebra biasanya
merupakan lokasi yang paling berat.Penipisan korteks dan hilangnya trabekula
transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan.Lemahnya korpus vertebra
menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam
ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
Sebenarnya langkah terbaik dalam penanganan osteoporosis adalah
pencegahan karena bila sudah terkena susah, bahkan tidak dapat dipulihkan.
Seyogyanya, sedini mungkin dilakukan diagnosis untuk mendeteksi keadaan massa
tulang sebelum terjadi akibat yang lebih fatal seperti terjadinya patah tulang.
Penilaian langsung tulang untuk mengetahui ada tidaknya osteoporosis dapat
dilakukan dengan berbagai cara , yaitu sebagai berikut :
1.1. CT Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral
vertebra diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra
atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada
hampir semua klien yang mengalami fraktur.
1.2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Dapat mengukur struktur trabekulasi dan kepadatannya. Tidak memakai
radiasi, hanya dengan lapangan magnet yang sangat kuat, tetapi pemeriksaan
ini mahal dan memerlukan sarana yang banyak.
1.3. Pemeriksaan radioisotope
a. Single Photon Absorbtimetry (SPA)
Sumber sinyal berasal dari foton dari sinar 1-125 dengan dosis 200 mci,
yang diperiksa pada tulang perifer radius dan calcaneus.
b. Dual Photon Absorpmetry (DPA)
Sumber sinar berasal dari radionuklida GA-135 sebanyak 1,5 CI yang
mempunyai energi (44 kev dan 100 kev) digunakan untuk mengukur
vertebra dan kolum femoris.
1.4. Quantitative Computerized Tomography
Merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai mineral
tulang secara volumetrik dan trabekulasi tulang radius, tibia dan vertebra.
1.5. Dual-energy X Ray Absorbtiometry
Pemeriksaan ini prinsip kerjanya hampir sama dengan SPA dan DPA.
Bedanya pemeriksaan ini menggunakan radiasi sinar X yang sangat
rendah.Pemeriksaan ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu SXA Single X-ray
Absorbtiometry dan SXA-DEXA-Dual Energy X-Ray Absorbtiometry.Metodr ini
sangat sering digunakan untuk pemeriksaan osteoporosis baik pada pria
maupun wanita, mempunyai presisi dan akurasi yang tinggi.
Hasil yang diberikan pada pemeriksaan DEXA berupa:
 Densitas massa tulang. Mineral tulang yang pada area yang dinilai
satuan bentuk gram per cm.
 Kandungan mineral tulang, dalam satuan gram.
 Perbandingan hasil densitas mineral tulang dengan nilai normal rata-rata
densitas pada orang seusia dan sewasa muda yang dinyatakan dalam
skor standar deviasi (Z score atau T-score).
1.6. Ultra Sono Densitometer (USG) metode Quantitative Ultrasound (QUS)
Salah satu metode yang lebih murah dengan menilai densitas massa tulang
perifer menggunakan gelombang ultrasound yang menembus tulang. Dalam
pemeriksaan ini, yang dinilai adalah kekuatan dan daya tembus gelombang
yang melewati tulang dengan ultra broad band tanpa risiko radiasi.Adanya
elastisitas tulang membuktikan adanya kecepatan tembus gelombang dan
kekuatan tulang dengan ultrasound.
2. Biopsi tulang
Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi
mengenai keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas
meneralisasi tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
3. Cara Screening Terhadap Osteoporosis.
Bone Mineralomentry atau Bone Mineralo Densitometry (BMD) merupakan
suatu pemeriksaan kuantitatif untuk mengukur kandungan mineral tulang. Alat ini
sangat membantu seseorang yang hendak mengetahui, secara sederhana, apakah
seseorang mengalami osteoporosis atau tidak.
Cara kerja alat tersebut (BMD) adalah sebagai berikut:Alat yang terdiri atas
satu buah scanner atau pemindai tersebut bergerak di atas seorang pasien yang
hendak diperiksa kondisi tulangnya.
Di dalam scanner telah terpasang unit pembangkit sinar X. Sinar X yang
terpancar dari unit tersebut terpancar dan akan menembus tulang dan diterima
oleh ditektor Nal. Selanjutnya computer akan mengolah dan menghasilkan data
berupa Average BMD, Bone Mineral Content, Risk Treshold senta T score dan Z
score terkait dengan kondisi tulang pasien. Dokter yang telah terlatih dan menjadi
spesialisasinya memahami semua itu.
4. Pemeriksaan Laboratorium, seperti :
a. Hormon Parathyroid, TSH, Calsium, Phosphate, Bone Alkali Phosphatase,
Creatinin. Namun, pemeriksaan tersebut kurang spesifik untuk osteoporosis.
b. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi
ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
c. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun
d. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.
e. Pemeriksaan biomakers osteocalein (GIA protein).
f. Pemeriksaan CT (computed tomography)
Pemeriksaan CT merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang
dilakukan dengan memeriksa biokimia CTx (C-Telopeptide). Dengan
pemeriksaan ini dapat menilai kecepatan pada proses pengeroposan tulang
dan pengobatan antiesorpsi oral pun dapat dipantau. (Putri, 2009) Kelebihan
yang didapatkan jika menggunakan alat ini yaitu kepadatan tulang belakang
dan tempat biasanya terjadi patah tulang dapat diukur dengan akurat. Akan
tetapi pada tulang yang lain sulit diukur kepadatannya dan ketelitian yang
dimiliki tidak baik serta tingginya paparan radiasi. (Cosman, 2009) (Agustin,
2009).
5. Bonedensitometri
Merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk mendeteksi adanya
osteoporosis stadium dini.Hal ini sangat berguna untuk pengobatan pencegahan
osteoporosis.
Pemeriksaan Bone Densimetri, ada 2 pemeriksaan yaitu:
5.1. Densitometri DXA (dual-energy x-ray absorptiometry)
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling tepat dan mahal.
Orang yang melakukan pemeriksaan ini tidak akan merasakan nyeri dan hanya
dilakukan sekitar 5 - 15 menit. Menurut Putri, DXA dapat digunakan pada
wanita yang mempunyai peluang untuk mengalami osteoporosis, seseorang
yang memiliki ketidakpastian dalam diagnosa, dan penderita yang memerlukan
keakuratan dalam hasil pengobatan osteoporosis. (Putri, 2009).
Keuntungan yang didapatkan jika melakukan pemeriksaan ini yaitu dapat
menentukan kepadatan tulang dengan baik (memprediksi resiko patah tulang
pinggul) dan mempunyai paparan radiasi yang sangat rendah. Akan tetapi alat
ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan koreksi berdasarkan volume
tulang (secara bersamaan hanya menghitung 2 dimensi yaitu tinggi dan lebar)
dan jika pada saat seseorang melakukan pengukuran dalam posisi yang tidak
benar, maka akan mempengaruhi hasil pemeriksaan tersebut. (Cosman, 2009)
Menurut WHO, kriteria T-score dibagi menjadi 3, yaitu T-score > -1 SD
yang menunjukkan bahwa seseorang masih dalam kategori normal. T-score <-1
sampai -2,5 dikategorikan osteopenia, dan < - 2,5 termasuk dalam kategori
osteoporosis, apabila disertai fraktur, maka orang tersebut termasuk dalam
osteoporosis berat. (WHO, 1994)
5.2. Densitometri US (ultrasound)
Kerusakan yang terjadi pada tulang dapat didiagnosis dengan pengukuran
ultrasound, yaitu dengan mengunakan alat quantitative ultrasound (QUS).Hasil
pemeriksaan ini ditentukan dengan gelombang suara, karena cepat atau
tidaknya gelombang suara yang bergerak pada tulang dapat terdeteksi dengan
alat QUS.Jika suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki padat.Akan
tetapi, jika suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular interior tipis.
Pada beberapa penelitian,menyatakan bahwa dengan QUS dapat mengetahui
kualitas tulang, akan tetapi QUS dan DXA sama-sama dapat memperkirakan
patah tulang . (Lane, 2003)
Dengan alat ini, seseorang tidak akan terpapar radiasi karena tidak
menggunakan sinar X. Kelemahan alat ini, yaitu tidak memiliki ketelitian yang
baik (saat dilakukan pengukuran ulang sering terjadi kesalahan), tidak baik
dalam mengawasi pengobatan (perubahan massa tulang) (Cosman, 2009).

2.6. Tata Laksana Medis


Pengobatan osteoporosis yang telah lama digunakan yaitu terapi medis yang lebih
menekankan pada pengurangan atau meredakan rasa sakit akibat patah tualng. Selain
itu, juga dilakukan terapi hormone pengganti (THP) atau hormone replacement therapy
(HRT) yaitu menggunakan estrogen dan progresteron. Terapi lainnya yaitu terapi non
hormonal antara lain suplemen kalsium dan vitamin D.
1. Terapi medis.
Sebenarnya belum ada terapi yang secara khusus dapat mengembalikan efek
dari osteoporosis. Hal yang dapat dilakukan adalah upaya-upaya untuk menekan
atau memperlambat menurunnya massa tulang serta mengurangi rasa sakit.
 Obat pereda sakit
Pada tahap awal setelah terjadinya patah tulang, biasanya diperlukan obat
pereda sakit yang kuat, seperti turunan morfin.Namun, obat tersebut
memberikan efek samping seperti mengantuk, sembelit dan linglung.Bagi yang
mengalami rasa sakit yang sangat dan tidak dapat diredakan dengan obat
pereda sakit, dapat diberikan suntikan hormone kalsitonin.
Bila rasa sakit mulai mereda, tablet pereda rasa sakit seperti paracetamol
atau codein ataupun kombinasi keduanya seperti co-dydramol, co- codramol,
atau co-proxamol bagi banyak pasien cukup memadai untuk menghilangkan
rasa sakit sehingga pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Terapi hormon pada wanita
Osteoporosis memang tidak dapat disembuhkan, semua upaya pengobatan
difokuskan kepada memperlambat atau menghentikan kehilangan mineral,
meningkatkan kepadatan tulang, dan mengontrol nyeri sesuai dengan
penyakitnya.tujuan dari pengobatan ini adalah mencegah terjadinya fraktur (patah
tulang). Obat-obat untuk mencegah penurunan massa tulang biasanya bekerja
lambat dan efeknya kurang terasa sehingga banyak pasien penderita osteoporosis
merasa putus asa dan menghentikan pengobatan. Hal tersebut sangat tidak baik
karena pengobatan jangka panjang diperlukan untuk dapat secara maksimal
menekan laju penurunan massa tulang dan patah tulang.
Secara teoritis osteoporosis dapat diobati dengan cara menghambat kerja
osteoklas dan atau meningkatkan kerja osteoblas. Akan tetapi saat ini obat-obat
yang beredar pada umumnya bersifat anti resorpsi. Yang termasuk obat
antiresorpsi misalnya: esterogen, kalsitonin, bifosfonat. Sedangkan Kalsium dan
Vitamin D tidak mempunyai efek antiresorpsi maupun stimulator tulang, tetapi
diperlukan untuk optimalisasi meneralisasi osteoid setelah proses pembentukan
tulang oleh sel osteoblas.
Pengobatan osteoporosis Terapi hormone pada wanita diberikan pada masa
pramenopause. Lamanya pemberian terapi hormone sulit ditentukan.Yang jelas jika
ingin terhindar dari osteoporosis, terapi hormone dapat terus dilakukan.Sebagian
dokter menganjurkan untuk dilakukan terapi hormone seumur hidup semenjak
menopause pada wanita yang mengalami osteoporosis.Namun, sebagian juga
berpendapat bahwa penggunaan terapi hormone sebaiknya dihentikan setelah
penggunaan selama 5-10 tahun untuk menghindari kemungkinan terjadinya kanker.
a. Hormone Replacement Theraphy (HRT)
Hormone Replacement Theraphy (HRT) atau terapi hormone pengganti
(THP) menggunakan hormone estrogen atau kombinasi estrogen dan
progesterone.Hormone-hormon tersebut sebenarnya secara alamiah
diproduksi oleh indung telur, tetapi produksinya semakin menurun selama
menopause sehingga perlu dilakukan HRT.
Penggunaan estrogen memang efektif dalam upaya pengobatan dan
pencegahan osteoporosis. Namun, tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya
efek samping berupa munculnya kanker endometrium (dinding rahim). Dengan
adanya hormone tersebut akan merangsang pertumbuhan sel-sel di dinding
rahim yang apabila pertumbuhannya terlalu pesat dapat berkembang menjadi
kanker ganas. Oleh karena itu, penggunaan estrogen biasanya di kombinasikan
dengan progesterone untuk mengurangi resiko tersebut.
Efek lain yang juga dapat timbul dalam pemberian terapi hormone,
diantaranya adalah pembesaran payudara, kembung, retensi cairan, mual,
muntah, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan gangguan emosi. Namun,
demikian, efek tersebut biasanya hanya terjadi pada awal terapi dan kondisi
berangsur membaik dengan sendirinya.Dapat juga dilakukan pemberian
hormone estrogen dan progesterone secara bertahap, dosis kecil diberikan
pada awal terapi dilihat dulu reaksinya terhadap tubuh.Bila dosis dapat
diterima tubuh, dosis kemudian dinaikkan secara bertahap.
b. Kalsitonin.
Selain hormone estrogen dan progesterone, hormone lain yang biasa
digunakan dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis adalah kalsitonin.
Kalsitonin turut menjaga kestabilan struktur tulang dengan mengaktifkan kerja
sel osteoblast dan menekan kinerja sel osteoclast.
Kalsitonin juga berperan dalam mengurangi rasa sakit yang mungkin
timbul pada keadaan patah tulang.Hormone ini secara normal dihasilkan oleh
kelenjar tiroid yang memiliki sifat meredakan rasa sakit yang cukup
ampuh.Kalsitonin biasanya diberikan dalam bentuk suntikan yang diberikan
setiap hari atau dua hari sekali selama dua atau tiga minggu. Hormone ini juga
dapat menimbulkan efek samping berupa rasa mual dan muka merah,
mungkin pula terjadi muntah dan diare serta rasa sakit pada bekas suntikan.
c. Testosterone
Testosterone adalah hormone yang biasa dihasilkan oleh tubuh pria.
Penggunaan hormone testosterone pada wanita dengan osteoporosis pasca
menopause mampu menghambat kehilangan massa tulang. Namun, dapat
muncul efek maskulinasi seperti penambahan rambut secara berlebihan di
dada, kaki, tangan, timbulnya jerawat dimuka dan pembesaran suara seperti
yang biasa terjadi pada pria.
3. Terapi non-hormonal
Terapi hormone selama ini memang dianggap sebagai jalan yang paling baik
untuk mengobati osteoporosis. Namun, karena banyaknya efek samping yang dapat
ditimbulkan dan tidak dapat diterapkan pada semua pasien osteoporosis, maka
sekarang mulai dikembangkan terapi non-hormonal.
a. Bisfosfonat
Bisfosfonat merupakan golongan obat sintetis yang saat ini sangat dikenal
dalam pengobatan osteoporosis non-hormonal. Efek utama dari obat ini
adalah menonaktifkan sel-sel penghancur tulang (osteoclast) sehingga
penurunan massa tulang dapat dihindari. Obat-obat yang termasuk golongan
bisfosfonat adalah etidronat dan alendronat.
Bifosfonat merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan
osteoporosis. Bifosfonat merupakan analog pirofosfat yang terdiri dari 2 asam
fosfonat yang diikat satu sama lain oleh atom karbon. Bifosfonat dapat
mengurangi resorpsi tulang oleh sel osteoklas dengan cara berikatan dengan
permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangi
produksi proton dan enzim lisosomal di bawah osteoklas. Pemberian
bifosfonat secara oral akan diabsorpsi di usus halus dan absorpsinya sangat
buruk (kurang dari 55 dari dosis yang diminum). Absorpsi juga akan terhambat
bila diberikan bersama-sama dengan kalsium, kation divalen lainnya, dan
berbagai minuman lain kecuali air. Idealnya diminum pada pagi hari dalam
keadaan perut kosong. Setelah itu penderita tidak diperkenankan makan
apapun minimal selama 30 menit, dan selama itu penderita harus dalam posisi
tegak, tidak boleh berbaring. Sekitar 20 Ð 50% bifosfonat yang diabsorpsi, akan
melekat pada permukaan tulang setelah 12 Ð 24 jam. Setelah berikatan
dengan tulang dan beraksi terhadap osteoklas, bifosfonat akan tetap berada di
dalam tulang selama berbulan-bulan bahkan bertahuntahun, tetapi tidak aktif
lagi. Bifosfonat yang tidak melekat pada tulang, tidak akan mengalami
metabolism di dalam tubuh dan akan diekresikan dalam bentuk utuh melalui
ginjal, sehingga harus hati-hati pemberiannya pada penderita gagal ginjal..
Generasi Bifosfonat adalah sebagai berikut:
1) Generasi I : Etidronat, Klodronat
2) Generasi II: Tiludronat, Pamidronat, Alendronat
3) Generasi III: Risedronat, Ibandronat, Zoledronat
Hormon lain: hormon-hormon ini akan membatu meregulasi kalsium dan
fosfat dalam tubuh dan mencegah kehilangan jarungan tulang.
b. Etidronat
Etidronat adalah obat golongan bisfosfonat pertama yang biasa digunakan
dalam pengobatan osteoporosis. Obat ini diberikan dalam bentuk tablet
dengan dosis satu kali sehari selama dua minggu. Penggunaan obat ini harus
dikombinasikan dengan konsumsi suplemen kalsium.Namun, perlu
diperhatikan agar konsumsi suplemen kalsium harus dihindari dalam waktu
dua jam sebelum dan sesudah mengkonsumsi etidronat karena dapat
mengganggu penyerapannya. Kadang kala konsumsi etidronat memberikan
efek samping,tetapi relative kecil. Misalnya timbul mual, diare, ruam kulit dan
lain-lain.
c. Alendronat
Alendornat mempunyai fungsi dan peran yang serupa dengan etidronat,
perbedaannya adalah pada penggunaannya tidak perlu dikombinasikan dengan
konsumsi suplemen kalsium, tetapi bila asupan kalsium masih rendah,
pemberian kalsium tetap dianjurkan. Efek samping yang mungkin ditimbulkan
pada konsumsi alendronat adalah timbulnya diare, rasa sakit dan kembung
pada perut, serta gangguan pada tenggorokan.

4. Terapi alamiah
Terapi alamiah adalah terapi yang diterapkan untuk mengobati osteoporosis
tanpa menggunakan obat-obatan atau hormone. Terapi ini berhubungan dengan
gaya hidup dan pola konsumsi. Beberapa pencegahan yang dapat diberikan yaitu
dengan berolahraga secara teratur, hindari merokok, hindari minuman beralkohol
dan menjaga pola makan yang baik.
Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang sepanjang
hidup, dengan pengingkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan
dapat melindungi terhadap demineralisasi skeletal. Terdiri dari 3 gelas vitamin D
susu skim atau susu penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium (mis keju swis,
brokoli kukus, salmon kaleng dengan tulangnya) setiap hari. Untuk meyakinkan
asupan kalsium yang mencukupi perlu diresepkan preparat kalsium (kalsium
karbonat).
Latihan pembebanan (olahraga)merupakan bagian yang sangat penting pada
pencegahan maupun pengobatan osteoporosis.Program olahraga bagi penderita
osteoporosis sangat berbeda dengan olahraga untuk pencegahan
osteoporosis.Gerakan-gerakan tertentu yang dapat meningkatkan risiko patah
tulang harus dihindari. Jenis olahraga yang baik adalah dengan pembebanan dan
ditambah latihanlatihan kekuatan otot yang disesuaikan dengan usia dan keadaan
individu masing-masing. Dosis olahraga harus tepat karena terlalu ringan kurang
bermanfaat, sedangkan terlalu berat pada wanita dapat menimbulkan gangguan
pola haid yang justru akan menurunkan densitas tulang. Jadi olahraga sebagai
bagian dari pola hidup sehat dapat menghambat kehilangan mineral tulang,
membantu mempertahankan postur tubuh dan meningkatkan kebugaran secara
umum untuk mengurangi risiko jatuh.Monoklonal antibodi RANK-Ligand.
Seperti diketahui terjadinya osteoporosis akibat dari jumlah dan aktivitas sel
osteoklas menyerap tulang.Dalam hal ini secara biomolekuler RANK-L sangat
berperan. RANK-L akan bereaksi dengan reseptor RANK pada osteoklas dan
membentuk RANK- RANKL kompleks, yang lebih lanjut akan mengakibatkan
meningkatnya deferensiasi dan aktivitas osteoklas. Untuk mencegah terjadinya
reaksi tersebut digunakanlah monoklonal antibodi (MAbs) dari RANK-L yang dikenal
dengan: denosumab. Besarnya dosis yang digunakan adalah 60 mg dalam 3 atau 6
bulan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam
menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan,
kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnese,
pemeriksaan fisik dan riwayat psikososial.
3.1.1. Anamnese
a. Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat,
semua data mengenai identitas klien tersebut untuk menentukan tindakan
selanjutnya.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi
penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi
nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
c. Riwayat Kesehatan
Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat perlu mengidentifikasi adanya
 Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher,dan
pinggang
 berat badan menurun
 Biasanya diatas 45 tahun
 Jenis kelamin sering pada wanita
 Pola latihan dan aktivitas
d. Riwayat penyakit
Keluhan utama : klien mengatakan nyeri tulang, mengalami penyakit yang
sama tulang belakang bungkuk klien menggunakan penyangga tulang
belakang.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, ras, status haid,
fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada
orang tua, kurangnya paparan sinar matahari, kurang asupan kalasium, fosfat
dan vitamin D, obat-obatan yang diminum dalam jangka panjang, alkohol dan
merokok merupakan factor risiko osteoporosis.
Penyakit lain yang juga harus ditanyakan adalah ppenyakit ginjal, saluran
cerna, hati, endokrin dan insufisiensi pancreas. Riwayat haid , usia menarke
dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi, serta riwayat keluarga yang
menderita osteoporosis juga perlu dipertanyakan.
e. Riwayat penyakit keluarga : tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang
sama
f. Riwayat hubungan social : hubungan klien dengan keluarga baik.
Pengkajian psikososial. Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra diri
khususnya pada klien dengan kifosis berat. Klien mungkin membatasi interaksi
social karena perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik, misalnya tidak
mampu duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan seksual dapat terjadi karena
harga diri rendah atau tidak nyaman selama posisi interkoitus. Osteoporosis
menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu mengkaji perasaan
cemas dan takut pada pasien.
g. Pola aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian
waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet. Olahraga
dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa lebih baik.
Selain itu, olahraga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan
sendi.Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan
fungsi tubuh.Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf
dan muskuloskeletal.
Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak
persendian adalah agility (kemampuan gerak cepat dan lancar) menurun, dan
stamina menurun.

3.1.2. Pemeriksaan Fisik


a. B1 (Breathing)
Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang
belakang.
Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki.
Klien mengalami masalah pada sistem pernapasan karena terjadi kelemahan
otot serta kifosis progresif.
b. B2 ( Blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan
pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh
darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat. Juga karena terjadi
peningkatan beban dari kerja jantung itu sendiri.
Terjadi hipokalisemia ditandai oleh iritasi musculoskeletal, yang berupa
tetani. Biasanya akan didapatkan aduksi jempol tangan, fleksi sendi MCP dan
ekstensi sendi-sendi IP. Pada keadaan yang laten akan didapatkan tanda
chovstek dan Trosseau.
c. B3 ( Brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien
dapat mengeluh pusing dan gelisah.
 Kepala dan wajah : ada sianosis
 Mata, telinga : Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis.
Pupil isokor , sclera biru pada penderita osteogenesis imperfekta.
Terjadi gangguan pendengaran (ketulian)
 Leher : Biasanya JVP dalam normal
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari
dan halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur kompresi
vertebra. Atau adanya pembatasan gerak dan apakah ada penurunan tinggi
badan, perubahan gaya berjalan, serta adakah deformitas tulang
d. B4 (Bladder)
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada
sistem perkemihan.Penderita osteoporosis didapatkan protuberansia
abdomen.
e. B5 ( Bowel)
Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di
kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses. Kadang sistem urinarius
terganggu akibat imobilisasi yaitu terjadi disuria, oliguria dan bisa juga terjadi
retensi urine.
f. B6 ( Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis.Klien osteoporosis
biasanya ditemukan adanya patah tulang, kifosis vertebra torakalis atau gibbus
(dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan.Lokasi fraktur
yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.
Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan
nyeri spinal. Pada rikets terdapat nyeri tulang, parietal pipih, kraniotabes,
penonjolan sendi kostokondral, bowing-deformity tulang-tulang panjang dan
kelainan gigi.
3.1.3. Pemeriksaan penunjang
a. Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang menurun
yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra
biasanya merupakan lokasi yang paling berat.Penipisan korteks dan hilangnya
trabekula transversal merupakan kelainan yang sering ditemukan.Lemahnya
korpus vertebrae menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nucleus
pulposus kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. CT-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai
penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110
mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan,
sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua
klien yang mengalami fraktur.
c. Pemeriksaan laboratorium (misal. Kalsium serum, fosfat serum, fosfatse alkali,
ekskresi kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine, hematokrit, laju endap
darah) dan sinar-x dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis
medis lain (misal: Myeloma multiple, osteomalasia, hiperparatiroidisme,
keganasan) yang juga menyumbang terjadinya kehilangan tulang.
d. Absorpsiometri foton-tunggal dapat digunakan untuk memantau massa tulang
pada tulang kortikal pada sendi pergelangan tangan. Absorpsiometri dual-
foton, dual energy x-ray absorptiometry (DEXA), dan CT mampu memberikan
informasi mengenai massa tulang pada tulang belakang dan panggul. Sangat
berguna untuk mengidentifikasi tulang osteoporosis dan mengkaji respon
terhadap terapi.
FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

A. Identitas Klien

Nama : Ny. S No. RM : 111742xx


Usia : 52 th .... Tgl. Masuk : 12-juni-2019
Jenis kelamin : Perempuan Tgl. Pengkajian : 12-juni-2019
Alamat : Malang Sumber informasi : pasien
No. telepon : 0818062xxx Nama klg. dekat yg bisa dihubungi:
Ny.R
Status pernikahan
: Janda
Agama : Islam Status : anak klien
Suku : Jawa Alamat : Malang
Pendidikan : SMA No. telepon : 085006159xxx

Pekerjaan : buruh pabrik mobil Pendidikan : SMA

Lama berkerja : 10 tahunan Pekerjaan : Wiraswasta

B. Status kesehatan Saat Ini


1. Keluhan utama MRS : Sakit punggung yang parah dan ketidakmampuan
untuk melakukan tugas-tugas sederhana seperti
mengangkat tas belanjaan.
2. Lama keluhan : Beberapa tahuan terakhir

3. Kualitas keluhan : Klien mengatakan rasa sakit menjadi lebih buruk


4. Faktor pencetus : Memiliki riwayat patah tulang pinggul dan
pergelangan tangan kiri

5. Faktor pemberat :-
6. Upaya yg. telah dilakukan : menggunakan kedelai suplemen Herbal dan Vitamin E 400 IU
setiap hari

7. Diagnosa medis : Osteoporosis

B. Riwayat Kesehatan Saat Ini


 Klien mengeluh sakit punggung yang parah tidak dapat melakukan kegiatan
sederhana atau melakukan aktivitas yang berat sehingga menyebabkan
ketidak nyamanan sepanjang hari Dalam 3 bulan terakhir.
P: Ketika beraktivitas sederhana maupun berat
Q: tertekan dan seperti tertimpa beban berat
R: punggung dan tulang belakang
S:5
T: Ketika beraktivitas yang sederhana ataupun berat dan sering terjadi . 10-
20 menit

 Sebelumnya klien tidak memiliki gejala gejala menopause. Klien memiliki


riwayat menopause pada usia 47 tahun, klien mengeluh susah tidur. Klien
juga mengeluh kekeringan pada vagina yang dia akuinyaa merepotkan

C. Riwayat Kesehatan Terdahulu

1. Penyakit yg pernah dialami:

a. Kecelakaan (jenis & waktu) : patah tulang pinggul dan

pergelangan tangan

b. Operasi (jenis & waktu) : tidak terkaji

c. Penyakit:

 Kronis : nyeri punggung

 Akut : tidak ada

d. Terakhir masuki RS : tidak terkaji

2. Alergi (obat, makanan, plester, dll): Klien mengatakan tidak memiliki rutinitas
olahraga dan mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung vitamin.
Tipe Reaksi Tindakan
Tidak ada alergi Tidak ada alergi Tidak ada

3. Imunisasi:

( ) BCG ( ) Hepatitis

( ) Polio ( ) Campak

( ) DPT (√) Tidak ingat

Anak klien mengatakan bahwa klien pernah bercerita diimunisasi waktu kecil
namun tak mengerti imunisasi apa yang sudah dilakukan.

4. Kebiasaan:

Jenis Frekuensi Jumlah


Merokok tidak pernah Tidak pernah
Kopi tidak pernah tidak pernah
Alkohol tidak pernah tidak pernah

5. Obat-obatan yg digunakan:
Anak klien mengatakan klien tidak pernah mau mengkonsumsi obat meskipun
memiliki hipertensi.

Jenis Lamanya Dosis


Tidak ada Tidak ada Tidak ada

D. Riwayat Keluarga

Klien mengatakan ibunya memiliki riwayat kecemasan (+) osteopporosis (+)


ayahnya pernah mengalami HT (+) DM non insulin(+). Tidak ada riwayat
gangguan payudara atau radang sendi, tiroid atau metabolisme lainnya.

E. Riwayat Lingkungan
Jenis Rumah Pekerjaan
Kebersihan Bersih, disapu dan dipel 2x/hari Disapu setiap hari pagi-sore
Bahaya kecelakaan Pencahayaan cukup dan terdapat beberapa ventilasi

F. Pola Aktifitas-Latihan

Rumah Rumah Sakit

 Makan/minum 0 Tidak terkaji


 Mandi 0 Tidak terkaji
 Berpakaian/berdandanToileting 0 Tidak terkaji

 Mobilitas di tempat tidur 0 Tidak terkaji

 Berpindah 0 Tidak terkaji

 Barjalan aktivitas 0 Tidak terkaji

 Naik tangga aktivitas 0 Tidak terkaji


0 Tidak terkaji

Pemberian Skor: 0 = mandiri, 1 = alat bantu, 2 = dibantu orang lain, 3 =


dibantu orang lain, 4 = tidak mampu

Perubahan saat sakit: Klien mengalami rentang gerak yang terbatas

G. Pola Nutrisi Metabolik

Rumah Rumah Sakit

Jenis diit/makananmakanan lauk, nasi tidak terkaji

Frekuensi/pola 3 kali / hari tidak terkaji\Porsi yg


dihabiskan 1 porsi

Komposisi menu nasi lauk, tidak terkaji

Pantangan tidak ada tidak terkaji

Napsu makan nafsu makan baik tidak terkaji

Fluktuasi BB 6 bln. Terakhir Tidak terjadi fluktuasi BB Tidak terjadi

Jenis minuman air putih air putih

Frekuensi/pola minum 5-6 kali / hari Tidak terkaji


Gelas yg dihabiskan 1 gelas / ± 300 ml Tidak terkaji
Sukar menelan (padat/cair) tidak sukar menelan tidak terkaji
Pemakaian gigi palsu (area) tidak memakai gigi palsu tidak terkaji
Riwayat masalah penyembuhan luka tidak ada masalah tidak ada masalah

H. Pola Eliminasi
BAB:
Rumah Rumah Sakit
- Frekuensi/pola 1 kali / hari tidak
terkaji
- Konsistensi padat tidak
terkaji
- Warna & bau kuning kecoklatan, normal tidak
terkaji
- Kesulitan tidak ada kesulitan tidak ada
- Upaya mengatasi tidak ada tidak ada

BAK:
- Frekuensi/pola 4-5 kali / hari tidak
terkaji
- Konsistensi cair Cair
- Warna & bau kuning jernih, normal kuning
- Kesulitan tidak ada kesulitan tidak ada
kesulitan

- Upaya mengatasi tidak ada tidak


ada masalah
I. Pola Tidur-Istirahat : Tidak terkaji

J. Pola Kebersihan Diri :


Klien memebersihkan dirinya sendiri kadang dibantu anaknya .

K. Pola Toleransi-Koping Stres

1. Pengambilan keputusan: ( ) sendiri (√) dibantu orang lain, sebutkan anak

2. Masalah utama terkait dengan perawatan di RS atau penyakit (biaya,


perawatan diri, dll): tidak ada (keluarga memakai BPJS Kesehatan)
3. Yang biasa dilakukan apabila stress/mengalami masalah: tidak terkaji
GCS 456 (compos metis)
4. Harapan setelah menjalani perawatan: tidak terkaji GCS 456 (compos metis )

5. Perubahan yang dirasa setelah sakit: tidak terkaji GCS 456 (compos metis )

L. Konsep Diri

1. Gambaran diri : klien merupakan ibu rumah tangga sekaligus sebagai nenek

2. Ideal diri : Klien telah menggunakan kedelai


suplemen herbal dan vitamin E 400 IU setiap hari. Klien tahu
pentingnya pencegahan perawatan kesehatan

3. Harga diri : keluarga klien menerima penyakitnya

4. Peran : sebagai anggota ibu dan nenek yang tinggal sendiri


namun dekat dengan rumah anaknya sehingga dapat menikmati
kunjunagn dan sesekali meraat cucunya.

5. Identitas diri : Klien bekerja di pabrik mobil dan sekaligus nenek


yang semenjak sakit tidak dapat melakukan perannya

M. Pola Peran & Hubungan

1. Peran dalam keluarga : Dalam keluarga klien berperan sebagai ibu sekaligus
nenek.
2. Sistem pendukung :anak/suami/cucu/tetangga/teman/saudara/tidak
ada/lain-lain, sebutkan:
3. Kesulitan dalam keluarga:
( ) Hub. dengan orang tua ( ) Hub.dengan pasangan ( ) Hub. dengan sanak
saudara ( ) Hub.dengan anak (√) Lain-lain sebutkan, tidak ada kesulitan

4. Masalah tentang peran/hubungan dengan keluarga selama perawatan di RS:


Anak klien mengatakan agar ibunya segera sembuh
5. Upaya yg dilakukan untuk mengatasi:
Anak klien terkadang datang ketika jam besuk dan membacakan doa
N. Pola Komunikasi

1. Bicara: Normal

( ) Normal ( )Bahasa utama: Indonesia

( ) Tidak jelas ( ) Bahasa daerah: Jawa

( ) Bicara berputar-putar ( ) Rentang perhatian: Baik

( ) Mampu mengerti pembicaraan orang lain ( ) Afek: klien pasrah penyakitnya

2. Tempat tinggal: (√) Sendiri , bersama anaknya dan cucunya

( ) Kos/asrama

( ) Bersama orang lain, yaitu:

3. Kehidupan keluarga

a. Adat istiadat yg dianut: Adat jawa

b. Pantangan & agama yg dianut: Agama islam


c. Penghasilan keluarga: ( ) < Rp. 250.000 (√) Rp. 1 juta – 1.5 juta
( ) Rp. 250.000 – 500.000 ( ) Rp. 1.5 juta – 2 juta
( ) Rp. 500.000 – 1 juta ( ) > 2 juta

O. Pola Seksualitas

1. Masalah dalam hubungan seksual selama sakit: (√) tidak ada ( ) ada

2. Upaya yang dilakukan pasangan: sudah tidak


memiliki pasangan
( ) perhatian ( ) sentuhan ( ) lain-lain,
seperti

P. Pola Nilai & Kepercayaan

1. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting untuk Anda, Ya/Tidak

2. Kegiatan agama/kepercayaan yg dilakukan dirumah (jenis & frekuensi): sholat 5


waktu
3. Kegiatan agama/kepercayaan tidak dapat dilakukan di RS: tidak melakukan

4. Harapan klien terhadap perawat untuk melaksanakan ibadahnya: tidak terkaji

Q. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum:
 Kesadaran : baik, GCS 456
 Tanda-tanda vital

- TD : tidak terkaji
- RR : tidak terkaji

- N : tidak terkaji

- T : tidak terkaji

- Tinggi badan: 153 cm

- Berat Badan: 59 kg

- IMT = Tidak terkaji

2. Kepala & Leher

a. Kepala:

 Bentuk kepala bulat dan simetris

 Distribusi rambut merata

 Warna rambut hitam dan sudah beruban

 Kulit kepala tidak ada luka

 Tidak teraba massa

b. Mata:

 Mata pasien membuka penuh

 Posisi alis mata dan kelopak mata simetris

 Pupil anisokor
 Konjungtiva ananemis

 Sklera tidak ikterik

c. Hidung:

 Tidak ada rinnorhea

 Tidak ada penumpukan / pengeluaran sekret berlebih

 Tidak ada deviasi septum nasal

d. Mulut & tenggorokan:

 Mukosa lembab

 bisa menelan

 Tidak ada tonjolan dan tidak ada nyeri

e. Telinga:

 Tidak ada otorea

 Ada serumen

 Tidak ada luka

f. Leher:

 Tidak ada distensi vena jugularis

 Tidak ada deviasi trakhea

3. Thorak & Dada:

 Jantung

- Inspeksi :tidak terkaji

- Palpasi : Tidak terkaji

- Perkusi : tidak terkaji

- Auskultasi: tidak terkaji


 Paru

- Inspeksi : Pengembangan dada simetris, tidak terdapat


penggunaan otot bantu nafas , retraksi intercostae normal, tidak ada
luka
- Palpasi : tidak ada nyeri saat palpasi

- Perkusi : Resonan/ sonor

- Auskultasi : Vesikuler +/+, ronki dan wheezing -/-

4. Payudara & Ketiak


 Simetris
 Tidak ada luka
 Tidak teraba massa

5. Punggung & Tulang Belakang

Tidak ada kelainan tulang belakang. Klien mengeluh nyeri di bagian tulang
belakang dengan rentang gerak yang terbatas. Keluhan diperberat bila klien
diminta untuk melakukan rentang gerak dengan punggung

6. Abdomen

- Inspeksi: Bentuk flat, tidak ada lesi, tidak ada striae

- Palpasi: -

- ada distensi abdomen, ada nyeri tekan, dan tidak ada massa tambahan

- Perkusi: Timpani

- Auskultasi: tidak terkaji

7. Genetalia & Anus

- Inspeksi : bersih, kering

- Palpasi :tidak terkaji

8. Ekstermitas

- Atas: tidak ada kontraktur, tidak ada deformitas, tidak ada edema di
taangan (kanan dan kiri), . Terdapat kemerahan dan panas di area
tulang belakang .
- Bawah: tidak ada kontraktur, tidak ada deformitas, tidak ada lesi / luka,

9. Sistem Neurologi

GCS E4V5M6

Saraf kranial :

- N I (olfaktorius) : tidak dapat terkaji

- N II (optikus) : tidak dapat terkaji

- N III (okulomotorius) : tidak dapat terkaji

- N IV (toklearis) : tidak dapat terkaji

- N V (trigeminus) : tidak dapat terkaji

- N VI (abdusen) : tidak dapat terkaji

- N VII (fasialis) : tidak dapat terkaji


- N VIII (vestibulokoklearis) : tidak dapat dikaji

- N IX (glosofaringeus) dan N X (vagus): tidak dapat dikaji

- N XI (assesoris) : tidak dapat terkaji

- N XII (hipoglosus) : tidak dapat terkaji


Fungsi motorik : Tidak terkaji

Fungsi sensorik : Tidak terkaji

Fungsi refleks :

- refleks patella : tidak terkaji

- refleks biceps : tidak terkaji

- refleks triceps : tidak terkaji

- refleks achilles : tidak terkaji

- refleks babinski : tidak terkaji

- kaku kuduk : tidak terkaji


10. Kulit & Kuku

- Kulit: tidak terkaji


- Akral : hangat

- Kuku: tidak terkaji

R. Hasil Pemeriksaan Penunjang

Tes diagnostik mengungkapkan kurangnya estrogren dan kalsium. Sinar-X punggungnya


menunjukkan perubahan degeneratif tetapi tidak ada dislokasi atau herniasi.
ANALISA DATA

Nama : Ny. S Usia : 52 tahun

No. RM : 111742xx

3.2. Analisa Data


MASALAH
NO DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
1 DS: Nyeri
 Klien mengeluh sakit Penurunan masa
punggung tulang/osteoporosis
 Klien mengeluh ↓
nyeri di tulang Fraktur Vertebra
belakang ↓
DO: Deformitas Vertebra
 Ekspresi wajah ↓
meringis Teregangnya ligamentum
P: Ketika beraktivitas dan otot/spasme otot
sederhana maupun berat ↓
Q: tertekan dan seperti Nyeri
tertimpa beban berat
R: punggung dan tulang
belakang
S:5
T: Ketika beraktivitas
yang sederhana ataupun
berat dan sering terjadi .
10-20 menit

2 DS: Hambatan
Pasien mengatakan tidak Osteoporosis mobilitas fisik
mampu unutk ↓
melakukan aktivitas yang
Pembatasan aktifitas dan
sederhana seperti dibantu
mengangkat barang ↓
belanjaan kaku atau sulit Hambatan mobilisasi fisik
menggerakkan tubuhnya
 Klien mengeluh nyeri di
bagian tulang belakang
DO:
Klien memiliki rentang gerak
yang terbatas
Keluhan diperberat bila
klien diminta untuk
melakukan rentang
gerak dengan punggung

3 DS: Resiko
Pasien mengatakan memiliki Osteoporosis Cidera
riwayat patah tulang ↓
pinggul dan pergelangan
Penurunan kerja otot
tangan kiri

DO:
Kelemahan otot
Klien memiliki rentang gerak

yang terbatas
Klien tidak mampu
Resiko cidera

melakukan aktuvitas
sederhana seperti
mengangkat barang
belanjaan
sebagian aktifitas klien
dibantu

MASALAH
NO DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
4 DS: Ketidakefektifan
 klien mengatakan Riwayat keluarga dengan manajemen kesehatan
ibunya pernah ostoeoporosis
menderita ↓
penyakit Ketidakmampuan memahami
osteoporosis faktor risiko dan pengobatan
 klien mengatakan ↓
sering Pengobatan yang tidak
mengkonsumsi maksimal
makanan yang ↓
tidak Ketidakefektifan manajemen
mengandung kesehatan
vitamin
 klien mengatakan
tidak memiliki
rutinitas olahraga
DO:
 upaya
pengobatan yang
dilakukan klien
adalah
mengkonsumsi
kedelai suplemen
dan vitamin E IU
setiap hari

3.3. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul yaitu:
1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan fisik kronis
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal
3. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh.
4. Ketidakefektifan manajemen kesehatan berhubungan dengan kurang
pengetahuan
3.4. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
1 Nyeri kronis b/d Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 NIC : Manajemen Nyeri (1400)
ketidakmampuan fisik jam, pasien melaporkan nyeri berkurang ditandai dengan 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang
kronis NOC 1: Pain Level (1843) meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas dan faktor
No Indikator 1 2 3 4 5 pencetus nyeri.
1 Klien mampu
2. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien
mengenali onset
mengenai nyeri
nyerinya
3. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti
2 Klien melaporkan
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
nyerinya terkontrol
3 Klien mampu dirasakan dan antisipasi dari ketidaknyamanan.

mendeskripsikan 4. Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat

nyerinya menurunkan atau memperberat nyeri


5. Pilih dan implementasikan tindakan yang
Keterangan : beragam (misalnya farmakologis, non
1 : Tidak ada pengetahuan farmakologis, interpersonal).
2 : Pengetahuan terbatas 6. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi,
3 : Pengetahuan sedang akupressur)
4 : Pengetahuan banyak 7. Ajarkan prinsip manajemen nyeri
5 : Pengetahuan sangat banyak 8. Mulai dan modifikasi tindakan pengontrol nyeri
berdasarkan respon pasien
9. Mulai dan gunakan pendekatan multidisiplin
untuk manajemen nyeri.
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
NOC 2: Discomfort level (1605) NIC : Progresive Muscle Relaxation (6040)
No Indikator 1 2 3 4 5 1. Lakukan tindakan untuk mencegah gangguan .
1 Mengenali kapan
2. Instruksikan pasien untuk menggunakan
nyeri terjadi
pakaian yang nyaman.
2 Klien melaporkan
3. Intruksikan pasien menghirup napas panjang
nyeri
3 Klien tidak cemas dan menghembuskannya pelan-pelan.
4 Menggunakan
tindakan
pengurangan nyeri
tanpa analgetik

Keterangan :
1 : Tidak pernah menunjukkan
2 : Jarang menunjukkan
3 : Kadang-kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Secara konsisten menunjukkan
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
2 Hambatan mobilitas Tujuan : NIC: Exercise therapy : ambulation
fisik berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 1. Bantu klien untuk memakai alas kaki dalam
dengan gangguan jam diharapkan mobilitas klien tidak terhambat memfasilitasi berjalan dan mecegah injury
muskuloskletal Kriteria Hasil: Sesuai skala NOC yang di tetapkan 2. Sediakan tempat tidur rendah, jika sesuai
NOC 1: Ambulation 3. Instruksikan penggunaan alat bantu
4. Bantu pasien untuk berpindah, jika diperlukan
No Indikator 1 2 3 4 5 5. Instruksikan pasien tentang pergantian yang
1 Klien mampu
aman dan teknik ambulasi
menyangga berat badan
6. Bantu pasien untuk berdiri dan menetapkan
2 Mampu berjalan
jarak ambulasi
dengan benar
3 Berjalan dengan 7. Bantu pasien untuk menetapkan kenaikan jarak

langkah pelan untuk ambulasi


4 Berjalan dengan 8. Anjurkan ambulasi mandiri dengan bantuan
langkah sedang terbatas

Keterangan :
1 : Tidak pernah menunjukkan
2 : Jarang menunjukkan
3 : Kadang-kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Secara konsisten menunjukkan

DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
NOC 2: Balance NIC: exercise therapy: Balance
No Indikator 1 2 3 4 5 1. Tentukan kemampuan pasien untuk berpartisipasi
1 Mempertahankan
dalam menuntut aktivitas keseimbangan
keseimbangan tubuh
2. Evaluasi fungsi sensori
saat berdiri
3. Sediakan lingkungan aman untuk latihan exercise
2 Mempertahankan
4. Sediakan alat bantu ( seperti tongkat, bantal)untuk
keseimbangan tubuh
mendukung pasien dalam latihan
saat duduk tanpa
5. Instruksikan tentang bagaimana posisi diri sendiri,
penyangga punggung
3 Mempertahankan pergerakan untuk memelihara atau meningkatkan
keseimbangan tubuh keseimbangan selama latihan atau aktivitas sehari-
saat berjalan hari
6. Bantu pasien untuk bergerak untuk posisi duduk dan
Keterangan :
stabilisasi tubuh dengan menempatkan lengan disisi
1 : Tidak ada pengetahuan
tempat tidur
2 : Pengetahuan terbatas
7. Bantu untuk berdiri dari sisi ke sisi untuk
3 : Pengetahuan sedang
menstimulasi mekanisme keseimbangan
4 : Pengetahuan banyak
8. Monitor respon pasien dalan latihan keseimbangan.
5 : Pengetahuan sangat banyak

DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
3 Risiko cedera Tujuan : NIC : Fall Prevention
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Identifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang
gangguan mobilitas diharapkan tidak terjadi cedera dapat meningkatkan risiko jatuh pada lingkungan
Kriteria Hasil: Sesuai skala NOC yang di tetapkan tertentu.
NOC 1: Mobility 2. Identifikasi perilaku dan faktor yang dapat
mengakibatkan risiko jatuh.
No Indikator 1 2 3 4 5 3. Kaji ulang riwayat jatuh bersama pasien dan
1 Keseimbangan tubuh
keluarga.
meningkat
2 Gaya berjalan 4. Monitor gaya berjalan, keseimbangan, dan level
meningkat kelemahan saat pasien berpindah.
3 Berjalan meningkat
5. Ajarkan pasien untuk beradaptasi dengan
4 Berlari meningkat
5 Melompat meningkat modifikasi cara berjalan yang disarankan.
6 Bergerak dengan 6. Bantu ambulasi pasien yang tidak stabil.
mudah meningkat 7. Anjurkan pasien untuk menggunakan tongkat atau
alat bantu berjalan.
Keterangan :
8. Sediakan alat bantu untuk menstabilkan cara
1 : Tidak pernah menunjukkan
berjalan.
2 : Jarang menunjukkan
3 : Kadang-kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Secara konsisten menunjukkan
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
NOC 2: Knowledge: Fall Prevention NIC : Health Education
No Indikator 1 2 3 4 5 1. Identifikasi faktor internal dan eksternal yang
1 Pengetahuan untuk latihan
dapat meningkatkan atau menurunkan risiko
mengurangi resiko jatuh
jatuh.
meningkat menjadi
2. Identifikasi sumber-sumber yang dibutuhkan
2 Pengetahuan tentang strategi
untuk pencegahan jatuh.
untuk berpindah dengan aman
3. Ajarkan strategi berpindah yang aman.
meningkat
3 Pengetahuan tentang 4. Gunakan metode ceramah untuk menyampaikan

penggunaan alat bantu yang informasi pencegahan jatuh dan penggunaan alat

aman meningkat menjadi bantu berjalan semaksimal mungkin.


4 Pengetahuan tentang strategi
untuk menjaga permukaan
lantai yang aman meningkat

Keterangan :
1 : Tidak ada pengetahuan
2 : Pengetahuan terbatas
3 : Pengetahuan sedang
4 : Pengetahuan banyak
5 : Pengetahuan sangat banyak
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
4 Ketidakefektifan Tujuan : NIC : pengajaran proses penyakit dan
manajemen Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam manajemen pengobatan
kesehatan diharapkan ketidakefektifan manajmen kesehatan teratasi 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait
berhubungan dengan Kriteria Hasil: Sesuai skala NOC yang di tetapkan dengan proses penyakit yang spesifik
kurangnya NOC: Manajemen diri, penyakit kronik 2. Jelaskan patofisiologi penyakit dan
pengetahuan bagaimana hubungannya dengan
No Indikator 1 2 3 4 5 anatomi dan fisiologi sesuai kebutuhan
1 Mencari informasi tentang
3. Jelaskan tanda gejala yang umum dari
penyakit
penyakit sesuai kebutuhan
2 Mengikuti tindakan pencegahan
4. Jelaskan alas an dibalik
yang direkomendasikan
3 Mengikuti aturan pengobatan manajemen/terapi/penanganan yang
4 Mengikuti pengobatan yang direkomendasikan
direkomendasikan 5. Instruksikan pasien untuk mengenali
5 Berpartisipasi dalam program
tindakan untuk
pendidikan yang diresepkan
mencegah/meminimalkan efek samping

Keterangan : penanganan dari penyakit sesuai

1 : Tidak ada pengetahuan kebutuhan.

2 : Pengetahuan terbatas 6. Monitor efektifitas cara pemberian obat

3 : Pengetahuan sedang yabfg sesuai


4 : Pengetahuan banyak 7. Pantau kepatuhan mengenai regimen
5 : Pengetahuan sangat banyak pengobatan
8. Pertimbangkan faktor-faktor yang dapat
menghalangi pasien untuk
mengkonsumsi obat yang diresepkan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1. Kesimpulan
Osteoporosis merupakan kondisi terjadinya penurunan densitas/ matriks/massa
tulang, peningkatan prositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi deisertai dengan
kerusakakn arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan
tulang sehingga tulang mudah patah.
Beberapa faktor resiko Osteoporosis antara lain yaitu : usia, genetik, defisiensi
kalsium, aktivitas fisik kurang, obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin,
siklosporin), merokok, alcohol serta sifat fisik tulang (densitas atau massa tulang) dan
lain sebagainya.Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur kompresi. Fraktur kompresi
ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet.
Osteroporosis adalah suatu penyakit metabolic yang ditandai oleh reduksi
kepadatan tulang sehingga mudah terjadi patah tulang. Osteoporosis terjadi sewaktu
kecepatan absorbs tulang melebihi kecepatanpembentukan tulang. Tulang yang
dibentuk normal, namun jumlahnya terlalusedikit sehingga tulang menjadi lemah.Semua
tulang dapat mengalami osteoporosis walaupun osteoporosis biasanya timbul di tulang–
tulang panggul, paha, pergelangan tangan dan kolumna vetebralis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut
determinan massa tulang dan determinan penurunan massa tulang. Osteoforosis terjadi
karena adanya interaksi yang menahun antara faktor genetic dan faktor lingkungan.
Faktor genetik meliputi, usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah
melahirkan. Faktor lingkungan meliputi, merokok, alkohol, kopi, defisiensi vitamin dan
gizi, gaya hidup, mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan. Kedua faktor
diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke
tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang
yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya
menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru
sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan
mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi
vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter,
dan fraktur colles pada pergelangan tangan.

1.2. Saran
4.2.1. Bagi Klien
Diharapkan bagi orang yang mengalami osteoporosis sebaiknya melakukan diet
kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang sepanjang hidup, dengan
pengingkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi
terhadap demineralisasi skeletal, dan dapat merubah pola hidup yang sebelumnya.
Selain itu juga dapat memperbaiki pola hidup sehat yang baik agar terhindar dari
penyakit ini.
4.2.2. Bagi Instansi Pelayanan Keperawatan
Setelah membaca makalah ini para perawat atau petugas kesehatan lainnya dapat
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif kepada klien yang menderita
penyakit ini, agar pasien dapat sembuh dari penyakitnya.
4.2.3. Bagi Pendidikan Keperawatan
Diharapkan dengan membaca makalah ini dapat menambah referensi serta
pengetahuanyang lebih luas lagi, dan dapat mempelajari tentang proses terjadinya
penyakit ini, dengan asuhan keperawatan dan intervensi sesuai kasusnya. Serta lebih
memahami tentang asuhan keperaawatan pada gangguan system musculoskeletal
“osteoporosis” sehingga mampu menerapkannya di lahan praktik demi memberi
pelayanan kesehatan yang baik bagi klien.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ackley, B. J. & Ladwig, G. B. (2013). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based


Guide to Planning Care, 10e. Mosby elsevier.
2. Barber B, Robertson D, (2012). Essential of Pharmacology for Nurses, 2nd edition,
Belland Bain Ltd, Glasgow
3. Bulechek, G. M. & Butcher, H. K. McCloskey Dochterman, J. M. & Wagner, C. (2012).
Nursing Interventions Classification (NIC), 6e. Philladelphia: Mosby Elsevier
4. Dudek,S. G. (2013). Nutrition Essentials for Nursing Practice, 7th. Lippincott: William
Wilkins
5. Huda Amin Nurarif dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA & NIC NOC. Jogjakarta : Mediaction.
6. Heather T. Herdman & Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definis &
Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 Terjemahan Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
7. Johnson, M., Moorhead, S., Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Maas, M. L. & Swanson, S.
(2011). NOC and NIC Linkages to NANDA-I and Clinical Conditions: Supporting Critical
Reasoning and Quality Care, 3e. Philladelphia: Mosby Elsevier
8. Lewis S.L, Dirksen S. R, Heitkemper M.M, Bucher L, Harding M. M, (2014). Medical
Surgical Nursing, Assessment and Management of Clinical Problems. Canada: Elsevier.
9. Lukman, Ningsih Nurma. 2012. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL. Jakarta : Salemba Medika
10. Mansjoer, A. dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta
11. Moorehead, S., Johnson, M., Maas, M.L. & Swanson, E. (2012). Nursing Outcomes
Classification (NOC): Measurement of Health Outcomes, 5e. Mosby Elsevier.
12. Moorhead Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapore : El
Sevier.
13. Nanda International. (2014). Nursing Diagnoses 2015-17: Definitions and Classification
(Nanda International). Philladelphia: Wiley Blackwell 12. Silverthorn, D. U. (2012).
Human Physiology: An Integrated Approach (6th Edition)
14. Skidmore-Roth, Linda (2009). Mosby’s 2009 nursing drug reference Toronto: Mosby