Anda di halaman 1dari 31

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah KMB III
Pengampu : Ns. Ardin Hentu., M.Kep

Disusun oleh :
KELOMPOK 4

HARDIYANTI A.M
INDO NURJANNA
ADRIAN PRASETYO
AZIZ ANANG S
NI KADEK NURIYANTI

KELAS NR6D
PROGRAM STUDI NERS
STIKES WIDYA NUSANTARA PALU
TAHUN AJARAN 2020/2021

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada allah SWT yang masih
mem,berikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan
askep ini dengan judul ASKEP STOMATITIS
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliyah
Keperawatan Medikal Bedah. Kami mengucapkan terimah kasih yang sebesar-
besarnya pada dosen pengampuh yang selalu memberikan semangat kepada kami
dalam menyusun makalah ini. Kami juga berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca .
Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat
kami harapkan dari pada pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki
pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stomatitis atau lebih dikenali oleh masyarakat awam dengan
“sariawan” merupakan salah satu penyakit yang ulang kambuh pada
mukosa mulut yang paling sering terjadi. Stomatitis merupakan salah satu
kasus yang sering dijumpai oleh dokter gigi diseluruh dunia sehingga
dihasilkan beberapa penelitian-penelitian yang berhubungan dengan
stomatitis.
Prevalensi stomatitis bervariasi tergantung pada daerah populasi yang
diteliti. Dari penelitian-penelitian epidemiologi menunjukkan pada
umumnya, prevalensi stomatitis berkisar 15-25% dari populasi. Di
Amerika, prevalensi tertinggi ditemukan pada mahasiswa keperawatan
60%, mahasiswa kedokteran gigi 56% dan mahasiswa profesi 55%. Resiko
terkena stomatitis cenderung meningkat pada kelompok sosioekonomi
menengah ke atas, ini berhubungan dengan meningkatnya beban kerja
yang dialami kalangan profesi atau jabatan-jabatan yang memerlukan
tanggung jawab yang cukup besar, pada wanita dan individu yang stres,
seperti mahasiswa yang sedang menghadapi ujian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian stomatitis?
2. Apa etiologi dari stomatitis?
3. Apa patofisiologi dari stomatitis?
4. Apa manifestasi klinis dari stomatitis?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang di lakukan pada pasien
stomatitis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep teori

1. Pengertian

Stomatitis merupakan bahasa awam untuk berbagai macam


lesi/benjolan yang timbul di rongga mulut. Namun biasanya jenis
sariawan yang sering timbul sehari-hari pada rongga mulut kita disebut
(dalam istilah kedokteran gigi) adalah Stomatitis Aftosa Rekuren.
Sariawan atau stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa
mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan. Bercak itu dapat
berupa bercak tunggal maupun berkelompok. Sariawan dapat
menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah,
gusi, serta langit-langit dalam rongga mulut. Meskipun tidak tergolong
berbahaya, namun sariawan sangat mengganggu. Ada pula yang
mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal
pada rongga mulut.

2. Etiologi

Sampai saat ini penyebab utama dari Stomatitis belum diketahui.


Namun para ahli telah menduga banyak hal yang menjadi penyebab
timbulnya stomatitis ini, diantaranya adalah :
Penyebab yang berasal dari keadaan dalam mulut seperti :

1. Kebersihan mulut yang kurang


2. Letak susunan gigi/ kawat gigi
3. Makanan /minuman yang panas dan pedas
4. Rokok
5. Pasta gigi yang tidak cocok
6. Lipstik
7. Infeksi jamur
8. Overhang tambalan atau karies, protesa (gigi tiruan)
9. Luka pada bibir akibat tergigit/benturan.

Bagian dari penyakit sistemik antara lain :

a. Reaksi alergi : seriawan timbul setelah makan jenis makanan tertentu


b. Jenis makanan ini berbeda untuk tiap-tiap penderita
c. Hormonal imbalance
d. Stres mental
e. Kekurangan vitamin B12 dan mineral
f. Gangguan pencernaan
g. Radiasi

Infeksi virus dan bakteri juga diduga sebagai pencetus timbulnya


sariawan ini. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan merupakan
reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut. Dan imunologik sangat
erat hubungannya dengan psikologis (stress). Faktor psikologis (stress)
telah diselidiki berhubungan dengan timbulnya stomatitis (sariawan) di
sebagian besar masyarakat. Berikut adalah klasifikasi stomatitis :

a. Stomatitis Primer, meliputi :

1. Recurrent Aphtouch Stomatitis (RAS)

Merupakan ulcer yang terjadi berulang. Bentuknya 2 – 5 mm,


awal lesi kecil, dan berwarna kemerahan. Akan sembuh ± 2
minggu tanpa luka parut.
2. Herpes Simplek Stomatitis

Stomatitis yang disebabkan oleh virus. Bentuknya menyerupai


vesikel.

3. Vincent’s Stomatitis

Stomatitis yang terjadi pada jaringan normal ketika daya tahan


tubuh menurun. Etiologinya, bakteri normal yang ada pada mulut,
yaitu B. Flora. Bentuk stomatitis ini erythem, ulcer dan nekrosis
pada ginggival.

4. Traumatik Ulcer

Stomatitis yang ditemukan karena trauma. Bentuknya lesi


lebih jelas, dan nyeri tidak hebat.

b. Stomatitis Sekunder, merupakan stomatitis yang secara umum terjadi


akibat infeksi oleh virus atau bakteri ketika host (inang) resisten baik
lokal maupun sistemik.

3. Patofisiologi

Identifikasi pada pasien dengan resiko tinggi, memungkinkan


dokter gigi untuk memulai evaluasi pra-perawatan dan melakukan
tindakan profilaktis yang terukur untuk meminimalkan insidens dan
morbiditas yang berkaitan dengan toksisitas rongga mulut. Faktor
resiko paling utama pada perkembangan komplikasi oral selama dan
terhadap perawatan adalah pra-kehadiran penyakit mulut dan gigi,
perhatian yang kurang terhadap rongga mulut selama terapi dan faktor
lainnya berpengaruh pada ketahanan dari rongga mulut. Faktor resiko
lainnya adalah : tipe dari kanker (melibatkan lokasi dan histology),
penggunaan antineoplastik, dosis dan administrasi penjadwalan
perawatan, kemudian area radiasi, dosisnya, jadwal dilakukan radiasi
(kekerapan dan durasi dari antisipasi myelosuppresi) serta umur
pasien. Keadaan sebelum hadirnya penyakit seperti adanya kalkulus,
gigi yang rusak, kesalahan restorasi, penyakit periodontal, gingivitis
dan penggunaan alat prostodontik, berkontribusi terhadap
berkembangnya infeksi lokal dan sistemik. Kolonisasi bakteri dan
jamur dari kalkulus, plak, pulpa, poket periodontal, kerusakan
operculum, gigi palsu, dan penggunaan alat-alat kedokteran gigi
merupakan sebuah lahan yang subur buat organisme opportunistik dan
pathogenistik yang mungkin berkembang pada infeksi lokal dan
sistemik. Tambalan yang berlebih atau peralatan lain yang melekat
pada gigi, membuat lapisan mulut lebih buruk, menebal dan
mengalami atropi, kemudian menghasilkan ulserasi local (stomatitis).
4. Manifestasi Klinis

a. Masa prodromal atau penyakit 1 – 24 jam :

Hipersensitive dan perasaan seperti terbakar

b. Stadium Pre Ulcerasi


Adanya udema / pembengkangkan setempat dengan terbentuknya
makula pavula serta terjadi peninggian 1- 3 hari

c. Stadium Ulcerasi

Pada stadium ini timbul rasa sakit terjadi nekrosis ditengah-tengahnya,


batas sisinya merah dan udema tonsilasi ini bertahan lama 1 – 16 hari.
Masa penyembuhan ini untuk tiap-tiap individu berbeda yaitu 1 – 5
minggu.

1. Gambaran Klinis dari Stomatitis

a) Lesi bersifat ulcerasi


b) Bentuk oval / bulat
c) Sifat tersebar
d) Batasnya jelas
e) Biasa singulas (sendiri-sendiri) dan multiple (kelompok)
f) Tepi merah
g) Lesi dangkal
h) Lesi sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut

5. Pemeriksaan Diagnostik

Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal


dengan swab atau kumur sedangkan diagnosis pasti dengan
menggunakan biopsi.
Pemeriksaan laboratorium :

a. WBC menurun pada stomatitis sekunder


b. Pemeriksaan kultur virus ; cairan vesikel dari herpes simplek
stomatitis
c. Pemeriksaan cultur bakteri ; eksudat untuk membentuk vincent’s
stomatitis

6. Penatalaksanaan Medis

a) Hindari makanan yang semakin memperburuk kondisi seperti cabai.


b) Sembuhkan penyakit atau keadaan yang mendasarinya.
c) Pelihara kebersihan mulut dan gigi serta mengkonsumsi nutrisi yang
cukup, terutama makanan yang mengandung vitamin 12 dan zat besi.
d) Hindari stress
e) Pemberian Atibiotik

Harus disertai dengan terapi penyakit penyebabnya, selain diberikan


emolien topikal, seperti orabase, pada kasus yang ringan dengan 2 – 3
ulcersi minor. Pada kasus yang lebih berat dapat diberikan kortikosteroid,
seperti triamsinolon atau fluosinolon topikal, sebanyak 3 atau 4 kali sehari
setelah makan dan menjelang tidur. Pemberian tetraciclin dapat diberikan
untuk mengurangi rasa nyeri dan jumlah ulcerasi. Bila tidak ada responsif
terhadap kortikosteroid atau tetrasiklin, dapat diberikan dakson dan bila
gagal juga maka di berikan talidomid.

f) Terapi

Pengobatan stomatitis karena herpes adalah konservatif. Pada beberapa


kasus diperlukan antivirus. Untuk gejala lokal dengan kumur air hangat
dicampur garam (jangan menggunakan antiseptik karena menyebabkan
iritasi) dan penghilang rasa sakit topikal. Pengobatan stomatitis aphtosa
terutama penghilang rasa sakit topikal. Pengobatan jangka panjang yang
efektif adalah menghindari faktor pencetus. Digunakan satu dari dua terapi
yang dianjurkan yaitu:

1) Injeksi vitamin B12 IM (1000 mcg per minggu untuk bulan pertama
dan kemudian 1000 mcg per bulan) untuk pasien dengan level serum
vitamin B12 dibawah 100 pg/ml, pasien dengan neuropathy peripheral
atau anemia makrocytik, dan pasien berasal dari golongan
sosioekonomi bawah.
2) Tablet vitamin B12 sublingual (1000 mcg) per hari. Tidak ada
perawatan lain yang diberikan untuk penderita RAS selama perawatan
dan pada waktu follow-up. Periode follow-up mulai dari 3 bulan
sampai 4 tahun.

7. Komplikasi

Dampak gangguan pada kebutuhan dasar manusia

a. Pola nutrisi : nafsu makan menjadi berkurang, pola makan menjadi


tidak teratur
b. Pola aktivitas : kemampuan untuk berkomunikasi menjadi sulit
c. Pola Hygiene : kurang menjaga kebersihan mulut
d. Terganggunya rasa nyaman : biasanya yang sering dijumpai adalah
perih

Stomatitis memunculkan berbagai macam komplikasi bagi tubuh kita


diantaranya:

1. Komplikasi akibat kemoterapi


Karena sel lapisan epitel gastrointestinal mempunyai waktu
pergantian yang mirip dengan leukosit, periode kerusakan terparah
pada mukosa oral frekuensinya berhubungan dengan titik terendah
dari sel darah putih. Mekanisme dari toksisitas oral bertepatan
dengan pulihnya granulosit. Bibir, lidah, dasar mulut, mukosa
bukal, dan palatum lunak lebih sering dan rentan terkena
komplikasi dibanding palatum keras dan gingiva; hal ini tergantung
pada cepat atau tidaknya pergantian sel epithelial. Mukosa mulut
akan menjadi tereksaserbasi ketika agen kemoterapeutik yang
menghasilkan toksisitas mukosa diberikan dalam dosis tinggi atau
berkombinasi dengan ionisasi penyinaran radiasi.

2. Komplikasi Akibat Radiasi

Penyinaran lokal pada kepala dan leher tidak hanya menyebabkan


perubahan histologis dan fisiologis pada mukosa oral yang
disebabkan oleh terapi sitotoksik, tapi juga menghasilkan gangguan
struktural dan fungsional pada jaringan pendukung, termasuk
glandula saliva dan tulang. Dosis tinggi radiasi pada tulang yang
berhubungan dengan gigi menyebabkan hypoxia, berkurangnya
supplai darah ke tulang, hancurnya tulang bersamaan dengan
terbukanya tulang, infeksi, dan nekrosis. Radiasi pada daerah
kepala dan leher serta agen antineoplastik merusak divisi sel,
mengganggu mekanisme normal pergantian mukosa oral.
Kerusakan akibat radiasi berbeda dari kerusakan akibat kemoterapi,
pada volume jaringan yang terus teradiasi terus-menerus akan
berbahaya bagi pasien sepanjang hidupnya. Jaringan ini sangat
mudah rusak oleh obat-obatan toksik atau penyinaran radiasi
lanjutan, Mekanisme perbaikan fisiologis normal dapat mengurangi
efek ini sebagai hasil dari depopulasi permanen seluler.

3. Komplikasi Akibat Pembedahan

Pada pasien dengan osteoradionekrosis yang melibatkan


mandibula dan tulang wajah, maka debridemen sisa pembedahan
dapat merusak. Usaha rekonstruksi akan menjadi sia-sia, kecuali
jaringan oksigenasi berkembang pada pembedahan. Terapi hiperbarik
oksigen telah berhasil menunjukkan rangsangan terhadap formasi
kapiler baru terhadap jaringan yang rusak dan telah digunakan
sebagai tambahan pada debridemen pembedahan.

4. Komplikasi Oral
a. Mucositis/Stomatitis

Defenisi mucositis dan stomatitis sering tertukar dalam


penggunaannya tetapi terdapat perbedaan yang besar diantara
keduanya. Mucositis dijelaskan sebagai suatu inflammatory toksik
yang mempengaruhi traktus gastrointestinal dari mulut sampai anus,
yang dapat dihasilkan akibat dari pennyorotan radiasi sampai agen
kemoterapeutik atau radiasi ionisasi. Tipikal mucositis termanifestasi
sebagai suatu eritematous, lesi seperti terbakar atau acak, focal to
diffuse, dan lesi ulseratif. Mucositis dapat tereksaserbasi dengan
factor lokal. Stomatitis merujuk pada suatu reaksi inflamasi yang
terjadi pada mukosa oral, dengan atau tanpa ulserasi dan dapat
berkembang oleh faktor lokal seperti yang teridentifikasi pada
etiologi/patofisiologi pada pembahasan ini. Stomatitis dapat menjadi
berkadar ringan atau parah. Pasien dengan stomatitis yang parah
tidak akan mampu memasukkan apapun kedalam mulutnya.
Mucositis eritematous dapat terjadi 3 hari setelah pemaparan
kemoterapi, tapi secara umum berkisar 3-7 hari. Perkembangan
menuju mucositis ulseratif umumnya berlangsung 7 hari setelah
kemoterapi. Dokter gigi harus waspada terhadap potensi
berkembangnya toksisitas akibat peningkatan dosis atau lamanya
perawatan pada percobaan klinik yang menunjukkan toksisitas
gastrointestinal. Dosis tinggi kemoterapi seperti yang dilakukan pada
perawatan leukemia dan pengaturan jadwal obat dengan infus
berlanjut, berulang dan tidak terputus (seperti bleomycin, cytarabine,
methotrexate dan fluororacil) sepertinya merupakan penyebab
mucositis dibanding obat infus satu bolus dengan dosis yang setara.
Mucositis tidak akan bertambah parah jika tidak terkomplikasi oleh
infeksi dan secara normal dapat sembuh total dalam waktu 2-4
minggu. Beberapa garis panduan untuk perawatan mulut termasuk
penilaian sebanyak dua kali sehari untuk pasien dirumah sakit dan
perawatan mulut yang sering (minimal 4 jam dan sewaktu akan
tidur) malahan meningkatkan keparahan dari mucositis.

a. Infeksi

Mucositis oral dapat berkomplikasi dengan infeksi pada pasien dengan


sistim imun yang menurun. Tidak hanya mulut itu sendiri yang dapat
terinfeksi, tetapi hilangnya epitel oral sebagai suatu protektif barrier
terjadi pada infeksi lokal dan menghasilkan jalan masuk buat
mikroorganisme pada sirkulasi sistemik. Ketika ketahanan mukosa
terganggu, infeksi lokal dan sistemik dapat dihasilkan oleh indigenous
flora seperti mikroorganisme nosokomial dan oportunistik. Ketika
jumlah netrofil menurun sampai 1000/kubik/mm, insiden dan
keparahan infeksi semakin meningkat. Pasien dengan neutropenia
berkepanjangan berada pada resiko tinggi buat perkembangan
komplikasi infeksi yang serius.
Penggunaan antibiotik berkepenjangan pada penyakit
neutropenia mengganggu flora mulut, menciptakan suatu lingkungan
favorit buat jamur untuk berkembang yang dapat bereksaserbasi oleh
terapi steroid secara bersamaan. Dreizen dan kawan-kawan
melaporkan bahwa sekitar 70 % infeksi oral pada pasien dengan tumor
solid disebabkan oleh Candida Albicans dan jamur lainnya, 20 %
disusun oleh Herpex Simplex Virus (HSV) dan sisanya disusun oleh
bakteri bacillus gram negatif. Pada pasien dengan keganasan
hematologik, 50 % infeksi oral akibat bakteri Candida Albicans, 25 %
akibat HSV, dan 15 % oleh bakteri bacillus gram negatif. HSV
merupakan gejala paling umum pada infeksi oral viral.

b. Hemorrhage

Hemorrhage dapat terjadi sepanjang perawatan akibat trombositopenia


dan atau koagulasipati. Pada lokasi terjadinya penyakit periodontal
dapat terjadi perdarahan secara spontan atau dari trauma minimal.
Perdarahan oral dapat berbentuk minimal, dengan ptekiae berlokasi
pada bibir, palatum lunak, atau lantai mulut atau dapat menjadi lebih
parah dengan hemorrhage mulut , terutama pada krevikular gingival.
Perdarahan gingiva spontan dapat terjadi ketika jumlah platelet
mencapai paling kurang 50.000/kubik/mm.

c. Xerostomia

Xerostomia dapat dikenali sebagai berkurangnya sekresi dari glandula


saliva. Gejala klinik tanda xerostomia termasuk diantaranya : rasa
kering, suatu sensasi rasa luka atau terbakar (khususnya melibatkan
lidah), bibir retak-retak, celah atau fissura pada sudut mulut, perubahan
pada permukaan lidah, kesulitan untuk memakai gigi palsu, dan
peningkatan frekuensi dan atau volume dari kebutuhan cairan.
Pengaturan perawatan preventif oral, termasuk applikasi topikal flour
harus segera dimulai untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Xerostomia dapat dihasilkan melalui reaksi inflammatory dan efek
degeneratif radiasi ionisasi pada glandula saliva parenkim, khususnya
pada serous acinar. Perubahan ini biasanya sangat pesat dan bersifat
irreversible, khususnya ketika glandula saliva termasuk daerah
penyorotan radiasi. Aliran saliva mengalami penurunan 1 minggu
setelah perawatan dan berkurang secara progresif ketika perawatan
terus dilanjutkan, Derajat dari disfungsi tersebut sangat berhubungan
dengan dosis radiasi dan volume jaringan glandula pada lapangan
radiasi. Glandula parotid dapat menjadi lebih rentan terhadap efek
radiasi daripada glandula submandibular, sublingual, dan jaringan
glandula saliva minor.
Xerostomia mengganggu kapasitas buffer mulut dan
kemampuan pembersihan mekanis, sering berkonstribusi pada dental
karies dan penyakit periodontal yang progresif. Perkembangan dental
karies berakselerasi dengan sangat cepat pada terjadinya xerostomia
akibat hilangnya immunoprotein protektif yang merupakan komponen
dari saliva. Saliva dibutuhkan untuk eksekusi normal dari fungsi mulut
seperti mengecap, mengunyah, dan berbicara. Keseluruhan kecepatan
aliran saliva yang kurang dari 0,1 ml/menit dianggap sebagai indikasi
xerostomia (normal = 0,3-0,5 ml/menit). Xerostomia menghasilkan
perubahan didalam rongga mulut antara lain:

a) Saliva tidak melakukan lubrikasi dan menjadi menebal dan atrofi, yang
akan mengganggu kenyamanan pasien.
b) Kapasitas buffer menjadi tereliminasi, pada mulut kering yang bersih pH

umumnya 4,5 dan demineralisasi dapat terjadi.

c) Flora oral menjadi patogenik.


d) Plak menjadi tebal dan berat, debris tetap bertahan akibat ketidakmampuan

pasien untuk membersihkan mulut.

e) Tidak ada mineral (kalsium, fosfor, fluor) yang tersimpan pada permukaan
gigi.
f) Produksi asam setelah terpapar oleh gula dihasilkan oleh demineralisasi

selanjutnya pada gigi dan kemudian dapat menimbulkan kerusakan gigi

g) Nekrosis Akibat Radiasis

Nekrosis dan infeksi pada jaringan yang telah dilakukan penyorotan


radiasi sebelumnya (osteoradionekrosis) merupakan suatu komplikasi yang
serius bagi pasien yang menjalani terapi radiasi pada tumor kepala dan
leher. Komplikasi oral akibat terapi radiasi memerlukan terapi dental yang
agresif sebelum, selama dan setelah terapi radiasi untuk meminimalisasi
tingkat keparahan (xerostomia permanent, karies ulseratif, osteomyelitis
akibat radiasi dan osteoradionekrosis).

8. Prognosis

Prognosis stomatitis didasarkan pada masalah yang menyebabkan


adanya gangguan ini. Infeki pada stomatitis biasanya dapat disebabkan
karena pengobatan atau bila masalahnya disebabkan oleh obat-obatan
maka yang harus dilakukan adalah dengan mengganti obat. Stomatitis
yang disebabkan oleh iritasi lokal dapat diatasi dengan oral hygene
yang bagus, memeriksakan gigi secara teratur, diet yang bermutu, dan
pengobatan.

B. konsep asuhan keperawatan

1. pengkajian

a. identitas (data biografi)


Stomatitis dapat menyerang semua umur, mayoritas antara 20
sampai 40 tahun lebih cenderung pada wanita, kelompok sosiaal
ekonomi tinggi, penderita stress, atau mempunyai riwayat kesehatan
pada keluarga.
2. riwayat sakit dan kesehatan
Stomatitis bias terjadi pada seseorang karena intoleransi
dengan pasta gigi, penyakit yang beresiko menimbulkan stomatitis,
misalnya faringitis, panas dalam, mengkonsumsi makanan yang
berlemak, kurang vitamin C, vitamin B, vitamin B12 dan mineral.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan system
imun menurun sehingga lebihh mudah terkena stomatitis.
4. Riwayat penyakit keluarga
Kaji apakah ada rwayat peenyakit keluarga yang bsa
menyebabkan terjadinya stomatitis.
Ada juga teori yang menyebutkan bahwa penebab utama dari
SAR (Stomatitis aftosa rekuren) atau sariawan adalah keturunan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang orangtuanya
menderita sar  lebih rentan untuk mengalami sar  juga.
5. Pengkajian Psikososial
Stress, gaya hidup (Alkohol, perokok) serta kaji fungsi dan
penampilan dari rongga mulut terhadap bodu image dan sex.
6. Pengkajian liingkungan rumah dan komunitas : lingkungan yang panas
dan sanitasi lingkungan yang  buruk.
7. Riwayat nutrisi : kurang meengkonnsumsi makanan yang mengandung
vitamin C, vitamin B12, mineral, dan zat besi serta pola makan yang
buruk, misalnya hanya mengkonsumsi karbohidrat dan protein saja.
8. Riwayat pertumbuhan perkembangan
a. pasien yang menderita stomatitis akan lebih lama sembuhnya
dikarenakan kondisi fisik yang lemah sebagai akibat intake nutrisi
yang kurag (energy/kalori yang diperlukan tidak mencukupi dalam
proses penyembuhan)
b. penurunan berat badan
biasanya pasien yang menderita stomatitis mengalami
penurunan berat badan karna intake nutrisi yang kurang.

9. pemeriksaan fisik
a.  Bibir
Dimulai dengan infeksi terhadap bibir untuk kelembaban,
hidrasi, warna, tekstur, simitrisitas, dan adanya ulserasi atau
fisurasi
b. Gusi
Inspeksi terhadap inflamasi, perdarahan, ratraksi, dan
perubahan warna
c. Lidah
Dorsal (Punggung) diinspeksi untuk tekstur , warna dan lesi.
Rongga mulut, inspeksi bagian mulut terhadap lesi,
bercak  putih terutama pada bagian mukosa pipi bagian dalam,
bibir bagian dalam, lidah serta di langit-langit

Serta lakukan pemeriksaan terhadap :


a. B1 (Breath) : bau napas, RR normal
b. B2 (Blood) : Hemorrhage (pendarahan) akibat kerusakan membrane
mukosa oral, resiko kekurangan volume darah.
c. B3 (Brain) : nyeri
d. B4 (Bladder) : secara umum tidak mempengaruhi kecualii jika ada kondidi
dehidrasi kibat intake cairan yang kurang.
e. B5 (Bowel) : mukosa oral mengalami peradangan, bibir pecah-pecah, rasa
kering, suatu sensasi rasa luka atau rasa bakar (Khususnya melibatkan
lidah ) hiperrsalivasi perubahan kulit mukosa oral, tampak bengkak dan
kemerahan (Hiperemi)
f. B6 (Bone) : kondisi fisik yang lemah sebagai intake nutrisi yang kurang
2. Diagnose keperawatan
a. perubahan membrane mukosa berhubungan dengan proses peradangan
(Inflamasi)
b. Nyeri berhubungan dengan membrane mukosa
c. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan perubahan
mukosa  penurunan keinginan untuk makan sekunder akibat rasa nyeri
di mukosa mulut.
d. Gangguan komsunikasi verbal berhubungan dengan nyeri di mukosa
mulut
e. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake cairan kurang
akibat proses inflamasi

3. Intervensi dan Rasional    


perubahan mukosa oral berhubungan dengan proses peradangan
(Inflamasi)
tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan mukosa oral
kembbali normal dan lesi berangsur sembuh
criteria hasil : mukosa oral kembali normal, lesi berkurang dan
berangsur sembuh dan membrane oral lembab

Intervensi Rasional

Catat adanya kerusakan membrane Membrane mukosa yang bengkak dan


mukosa (bengak, hiperemi/kemerahan hiperemi adalah indikassi adanya
peradangan
Kaji aktifitas klien, cegah hal-hal yang Karena personal hygene yang buruk,
bias memicu terjadinya stomatitis (oral asupan nutrisi yang kurang vitamin C,
hygene yang buruk, kurang vitamin C, kondisi Psikologi (Stres) merupakan
kondisi stress, makanan/minuman yang pemiu terjadinya stomatitis
terlalu panas dan pedas

Kaji adanya komplikasi akibat Stomatitis bias mengakibatkan


kerusakan membrane mukosa oral komplikasi yang lebih parah jika tidak
segera ditangani

Ajarkan oral hygene yang baik pada Oral hygene yang baik bisa
pasien meminimalisir terjadinya stomatitis

Anjurkan klien menghindari makanan Reaksi alergi bisa menimbulkan infeksi


dan obat-obatan atau zat yang dapat
menimbulkan reaksi alergi pada rongga
mulut

Kolaborasi peemberian antibiotic dan Antibiotic digunakan untuk mengobati


obat kumur dan obat kumur bisa menghilangkan
kuman-kuman di mulut sehingga
mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut

b. Nyeri berhubungan dengan kerusakan membrane mukosa oralTujuan :


membrane mukosa oral kembali normal
Kriteria hasil : hilngnya rasa sakit dan perih di mukosa mulut dan tidak hiperemi

Intervensi Rasional

Kaji status nutrisi Nutrisi yang meninngkat akan


mempercepat proses penyembuhan

Observasi monitor kandunga vitamin C, Adanya vitamin C, vitamin B12, dan


vitamin B12, Zat besi dan mineral mineral merupakan factor yang dapat
menceegah terjadinya stomatitis

Beri penjelasan tentang factor penyebab Jika pasien mengetahui factor penyebab,
maka pasien dapat mencegah hal tersebut
terulang kembali

Menganjurkan klieen untuk Sayuran, vitamin B12, vitamin C, dab zat


memperbanyak mengkonsumsi buah besi dapat mencegah terjadinya stomatitis
dan sayuran terutama vitamin B12,
vitamin C, dan zat besi

Menghindai makanan yang terlalu Makanan yang terlalu panas dan dingin,
panas, dan terlalu dingin, dan serta pasta gigi yang merangsang dapat
menghindari pasta gigi yang mencegah terjadinya stomatitis
merangsang
Kolaborasi pemberian analgesic dan Analgesic dapat mengurangi rasa nyeri
kortikosteroid dan kortikosteroid untuk mengurangi
perandangan

c. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubunngan dengan penurunan keinginan


unntuk makan sekunder akibat rasa nyeri di mukosa mulut.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan napsu makan terpenuhi kembali
dan status nutrisi terpenuhi
kriteria hasil :
a. status nutrisi terpenuhi
b. napsu makan pasien timbul kembali
c. berat badan normal

Intervensi Rasional

Observasi kebutuhan kalori yang Adanya kalori (Sumber energy) akan


dibutuhkan mempercepat proses penyembuhan

Kaji berat badan tiap hari Tubuh yang sehat tidak mudah terkena
infeksi peradangan

Berikan nformasi tentang zat-zat Indikasi adekuatnya protein untuk sisteem


makanan yang bermanfaat bagi imun
metabolisme tubuh

Kolborasi pemasangan NGT jika klien Agar nutrrisi klien tetap terpenuhi
tidak dapat makan dan minum peroral

Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet Karena nutria meningkat akan
meningkatkan berat badan

d. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan nyeri di mukosa mulut


tujuan :  meengalami perubahan konsep diri ddan peningkatan harga diri
kriteria hasil :
1. klien mau bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain
2. nyeri berkurang
3. klien mengalami peninngkatan konsep diri dan harga diri
Intervensi Rasional

Observasi perubahan perilaku klien Perilaku klien merupakan tanda bahwa


klien mengalami peningkatan harga diri
dan konsep

Berikan kondisi ingkungan yang Lingkungan yang nyaman akan membuat


nyaman untuk klien klien aktif dalam beraktifitas

Dorong klien untuk ikut berpartisipasi Dengan mengikuti kegiatan akan mudah
dalam setiap kegiatan untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar
sehingga bisa mengurangi stress

Beri penjelasan dan pengetahuan Konsep diri penting untuk meningkatkan


mengenai konsep diri hubungan social antar sesame

Kolaborasi pemberian analgesic dan Analgesic dapat mengurangi asa nyeri dan
kortikosteroid kortikosteroid dapat mencegah
peradangan akibat kerusakan membrane
mukosa

e. resiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake cairan yang kurang akibat
proses inflamasi membrane mukosa oral.
Tujuan : intake cairan kembali normal
Kriteria hasil :
1. klien  mengalami peningkatan aktivitas
2. membrane mukosa oral basa
3. tekanan turgor kembali seperti semula
Intervensi Rasional

Kaji adanya perubahan aktifitas Aktivitas yang meningkat menunjukkan


bahwa tubuh tidak kekurangan cairan

Pemasangan cairan melalui infuse Pemasangan infuse untuk menghindari


(NaCL 0.9 % /isotonic atau RL) tubuh kehilangan banyak cairan

Kaji pemasukan cairan perhari Peningkatan metabolism dapat dikurangi


dengan intake cairan yang adekuat

Dorong klien untuk minum kurang Untuk mempertahankan keseimbangan


lebih 8 gelas/hari cairan dalam tubuh

Berikan inforasi tentang pentingnya Buah-buahan dan sayur-sayuran banyak


mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran mengandung vitamin, mineral dan zat-zat
yang diperlukan oleh tubuh

Kolaborasi pemberian antibiotic dan Antibiotic dapat digunakan untuk


obat kumur mencegah inflamasi lebih lanjut sehingga
kenaikan metabolism dapat di cegah dan
obat kumur bisa menghilangkan kuman-
kuman sehingga bisa mencegah terjadinya
infeks lebih lanjut
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya


berupa bercak putih kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal
maupun berkelompok. Sariawan dapat menyerang selaput lendir pipi
bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi, serta langit-langit dalam
rongga mulut. Meskipun tidak tergolong berbahaya, namun sariawan
sangat mengganggu. Penyebab yang berasal dari keadaan dalam mulut
seperti :

1. Kebersihan mulut yang kurang


2. Letak susunan gigi/ kawat gigi
3. Makanan /minuman yang panas dan pedas
4. Rokok
5. Pasta gigi yang tidak cocok
6. Lipstik
7. Infeksi jamur
8. Overhang tambalan atau karies, protesa (gigi tiruan)
9. Luka pada bibir akibat tergigit/benturan.

Bagian dari penyakit sistemik antara lain :


1. Reaksi alergi : seriawan timbul setelah makan jenis makanan tertentu
2. Jenis makanan ini berbeda untuk tiap-tiap penderita
3. Hormonal imbalance
4. Stres mental
5. Kekurangan vitamin B12 dan mineral
6. Gangguan pencernaan
7. Radiasi

B. Saran

Sekarang mulai hidup sehat dengan menjaga kebersihan mulut,


banyak konsumsi buah buahan, hindari stress, juga hindari rokok. Serta
hindari makanan dan obat obatan yang dapat menyebabkan reaksi alergi
pada rongga mulut.
DAFTAR PUSTAKA

Inayah, Lin. 20011. Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi 1. Salemba


Medika : Jakarta
Muttaqin dan Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Salemba Medika : Jakarta