Anda di halaman 1dari 24

Nama: Elisabeth Y Irapanussa

Nim: 2016 78 004

Tugas: Bioteknologi
A. PENGERTIAN LIMBAH DAN JENIS-JENIS LIMBAH

Limbah merupakan benda yang tidak diperlukan dan dibuang, limbah pada umumnya
mengandung bahan pencemar dengan konsentrasi bervariasi. Bila dikembalikan ke alam dalam
jumlah besar, limbah ini akan terakumulasi di alam sehingga mengganggu keseimbangan
ekosistem alam. Penumpukan limbah di alam menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem tidak
dikelolah dengan baik.

Berdasarkan wujudnya limbah dibagi dalam beberapa jenis:

1. Limbah padat
Limbah padat atau yang sering disebut sampah merupakan limbah yang berwujud padat
dan biasanya bersifat kering serta tidak dapat berpindah/menyebar jika tidak ada yang
memindahkannya. Limbah padat ini termasuk limbah yang paling sering ditemukan di
lingkungan, seperti sisa makanan, sampah plastik, pecahan kaca, kertas bekas dan lain
sebagainya.

Jenis sampah yang dikenal, terdiri atas :

 Garbage (sampah basah)


yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik dan yang memiliki
sifat cepat membusuk jika dibiarkan dalam keadaan basah.
 Rubbish (sampah kering)
yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik dan anorganik yang
mempunyai sifat sebagian besar atau seluruh bahannya tidak cepat membusuk,
seperti sampah logam (kaleng, seng) dan sampah non logam, baik mudah
terbakar (kertas, kayu, plastik) dan yang tidak terbakar (pecahan kaca)
 Dust and ash (debu dan abu)
yaitu sampah yang terdiri dari bahan organik dan anorganik yang merupakan
partikel terkecil yang bersifat mudah beterbangan dan membahayakan
pernapasan. Abu merupakan hasil pembakaran (proses kimia) dan debu yang
merupakan proses mekanis
 Demolation and construction wastes.
Yaitu sampah sisa-sisa bahan bangunan, seperti puing, pecahan bata dan
tembok, genteng, dll
 Bulky wastes.
yaitu sampah barang bekas, baik yang masih dapat digunakan atau yang tidak
dapat digunakan, seperti lemari es, kursi, tv, barang rongsokan
 Hazardous wastes.
yaitu sampah yang berbahaya (limbah B3, bahan buangan berbahaya) seperti,
patogen (yang merupakan limbah rumahsakit, laboratorium klinis), sampah
beracun (kertas pembungkus pestisida), yang mudah meledak (mesiu), dan
sampah radioaktif ( sampah nuklir)
 Water and waste treatment plant.
yaitu sampah yang berupa hasil sampingan pengolahan air bersih maupun air
kotor, biasanya berupa gas atau lumpur.

2. Limbah Cair
Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air menjelaskan pengertian dari limbah yaitu sisa dari suatu
hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Pengertian limbah cair lainnya adalah
sisa hasil buangan proses produksi atau aktivitas domestik yang berupa cairan. Limbah
cair dapat berupa air beserta bahan-bahan buangan lain yang tercampur (tersuspensi)
maupun terlarut dalam air. Limbah cair dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok
diantaranya yaitu:
 Limbah cair domestik (domestic wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan dari
perumahan (rumah tangga), bangunan, perdagangan dan perkantoran. Contohnya
yaitu: air sabun, air detergen sisa cucian, dan air tinja.
 Limbah cair industri (industrial wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan
industri. Contohnya yaitu: sisa pewarnaan kain/bahan dari industri tekstil, air dari
industri pengolahan makanan, sisa cucian daging, buah, atau sayur.
 Rembesan dan luapan (infiltration and inflow), yaitu limbah cair yang berasal dari
berbagai sumber yang memasuki saluran pembuangan limbah cair melalui rembesan
ke dalam tanah atau melalui luapan dari permukan. Air limbah dapat merembes ke
dalam saluran pembuangan melalui pipa yang pecah, rusak, atau bocor sedangkan
luapan dapat melalui bagian saluran yang membuka atau yang terhubung
kepermukaan. Contohnya yaitu: air buangan dari talang atap, pendingin ruangan
(AC), bangunan perdagangan dan industri, serta pertanian atau perkebunan.
 Air hujan (storm water), yaitu limbah cair yang berasal dari aliran air hujan di atas
permukaan tanah. Aliran air hujan dipermukaan tanah dapat melewati dan membawa
partikel-partikel buangan padat atau cair sehingga dapat disebut limbah cair.

3. Limbah Gas
Limbah gas adalah limbah yang memanfaatkan udara sebagai media. Secara alami udara
mengandung unsur-unsur kimia seperti O2, N2, NO2, CO2, H2 dll. Penambahan gas ke
udara yang melampaui kandungan udara alami akan menurunkan kualitas udara. Limbah
gas yang dihasilkan berlebihan dapat mencemari udara serta dapat mengganggu
kesehatan masyarakat. Zat pencemar melalui udara diklasifikasikan menjadi dua bagian
yaitu partikel dan gas. Partikel adalah butiran halus dan masih mungkin terlihat dengan
mata telanjang seperti uap air, debu, asap, kabut dan fume. Sedangkan pencemaran
berbentuk gas hanya dapat dirasakan melalui penciuman (untuk gas tertentu) ataupun
akibat langsung.

Tabel 1. Beberapa macam limbah gas yang umum terdapat di udara

No. Jenis Keterangan


1. Karbon monoksida (CO) Gas tidak berwarna, tidak berbau
2. Karbon dioksida (CO2) Gas tidak berwarna, tidak berbau
3. Nitrogen oksida (NOx) Gas berwarna dan berbau
4. Sulfur oksida (SOx) Gas tidak berwarna dan berbau tajam
5. Asam klorida (HCl) Berupa uap
6. Amonia (NH3) Gas tidak berwarna, berbau
7. Metan (CH4) Gas berbau
8. Hidrogen fluorida (HF) Gas tidak berwarna
9. Nitrogen sulfida (NS) Gas berbau
10. Klorin (Cl2) Gas berbau

B. PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH SECARA UMUM


Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua orang. Dipandang
dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :
1. Menjamin tempat tinggal/tempat kerja yang bersih;
2. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan;
3. Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit.
Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan meliputi  2 cara pokok,
yaitu :
1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran
lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang dapat
merencanakan, mengatur, mengawasi  segala bentuk kegiatan industri dan bersifat
mengikat sehingga dapat memberi sanksi hukum pagi pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan
dengan cara-cara yang berkaitan dengan proses produksi seperti perlu tidaknya
mengganti proses, mengganti sumber energi/bahan bakar, instalasi pengolah
limbah atau menambah alat yang lebih modern/canggih. Dalam hal ini yang perlu
diperhatikan adalah :
1) Mengutamakan keselamatan manusia;
2) Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik;
3) Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.
1. PENGOLAHAN LIMBAH PADAT

Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel, pusat
perdagangan/restoran maupun  pertanian/peternakan.  Perlakuan limbah padat yang tidak punya
nilai ekonomis biasanya diperlakukan sebagai berikut:

 Ditumpuk pada areal tertentu


 Pembakaran
 Pembuangan

Penanganan limbah padat melalui beberapa tahapan yaitu :


1. Penampungan dalam bak sampah
2. Pengumpulan sampah
3. Pengangkutan
4. Pembuangan di TP

 Pengumpulan
Bertujuan untuk memudahkan pengangkutan ke tempat tujuan.
 Pengangkutan
Dapat dilakukan dengan beberapa metode misalnya: Sistem tenaga manusia yang
paling sederhana (dapat digunakan volume kecil), sistem mekanik (conveyor),
sistem air, sistem udara, sistem otomotif, sistem rel kereta api dll.
 Pembuangan di TPA

Tempat pembuangan akhir yang sering digunakan adalah :


 Open dumping.
Merupakan tempat pembuangan akhir dimana sampah yang dibuang diletakkan
begitu saja diatas tanah kosong atau sebelum digunakan tanah tersebut dibuat
lubang dengan menggunakan traktor. Cara ini tidak dianjurkan, karena sampah
yang dibuang dibiarkan terbuka sehingga dapat menjadi sarang binatang tertentu
yang dapat membawa penyakit. Secara estetika kurang baik, dapat menimbulkan
bau dan pemandangan buruk

 Control land fill


Merupakan tempat pembuangan akhir dimana sampah yang dibuang diletakkan di
atas lubang yang dibuat dengan traktor, yang kemudian lubang yang sudah penuh
tersebut ditutup dengan lapisan tanah setebal kurang lebih 20 cm
 Sanitary land fill.
Merupakan tempat pembuangan akhir, dimana sampah yang dibuang pada lubang,
kemudian ditutup oleh lapisan tanah yang penutupannya dilakukan setiap hari
sehingga terbentuk sel-sel didalamnya. Cara ini merupakan cara terbaik
dibandingkan yang sebelumnya.
Berdasarkan data tahun 2008, jenis penanganan sampah yang berlangsung di Indonesia adalah:

 Pengurugan: 68,86%
 Pengomposan: 7,19%
 Open burning: 4,79%
 Dibuang ke sungai: 2,99%
 Insinerator skala kecil: 6,59%
 Non-pengurugan: 9,58%

Diagram perputaran Limbah Padat dan pengolahannya


Berikut ini beberapa metode penangan limbah anorganik padat
 Penanganan Sampah
a) Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit
mungkin
b) Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk, maka upayakan
memanfaatkan limbah tersebut secara langsung
c) Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat
dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapat
dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi
d) Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat
dimanfaatkan kemudian diolah, agar memudahkan penanganan berikutnya,
atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan
e) Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke
lingkungan secara aman, yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti
menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan
disiapkan secara baik
f) Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah
tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik, perlu direhabilitasi
atau diperbaiki melalui upaya
rekayasa yang sesuai, seperti bioremediasi dan sebagainya.

DALAM PROSES PENGOLAHAN LIMBAH PADAT

1. Tahap persiapan:
 Pemisahan
 Pengecilan ukuran
2. Pengolahan
 Thermal
- Pirolisis
- Insinerasi
3. Proses reduksi dan digestion  kompos
4. Penumpukan
1. Tahapan persiapan
 Pemisahan

karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbeda dan kandungan yang berbeda juga
maka harus dipisahkan terlebih dahulu.

1. Sortasi tangan
2. Penyaringan
3. Sistem magnetik
4. Pemisahan sistem udara  perbedaan densitas.
 Pengecilan Ukuran
1) Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil,
supaya pengolahannya menjadi mudah.
2) Primer : Hammer mill
3) Sekunder : grinder, dishmill, wet pulper.
2. Pengolahan
 Pirolisis
1) Proses dekomposisi senyawa kimia dengan suhu tinggi dengan pembakaran
yang tidak sempurna.
2) “cross linking”, isomerasi, deoksigenisasi, denitrogenisasi
3) Menghasilkan gas-gas primer H2, CO, CO2 dan juga menghasilkan residu.
 Insinerasi
1) Pembakaran sempurna limbah padat yang dapat dibakar
2) Penurunan volume sampai 70 %
3) Menghasilkan residu yang bersifat anorganik
4) Jika diperlukan dapat digunakan sebagai sumber energi
5) Suhu 1500-1800 derajat farenheit

3. Proses reduksi dan digestion  Pengomposan

Adalah penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan sebagai
pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk membuat kompos adalah sampah kering
maupun hijau dari sisa tanaman, sisa makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll. Dalam
proses pembuatan kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi/ penguraian oleh
mikroorganisme.
Di dalam kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga digunakan
sebagai pupuk tanaman dan disebut pupuk organik. Dalam proses pengomposan, bahan baku
kompos mengalami perubahan kimiawi oleh mikroorganisme / bakteri yang membutuhkan
nitrogen untuk hidupnya. Tetapi tidak selalu bahan baku kompos mengandung nitrogen yang
cukup untuk kebutuhan bakteri pengurai tersebut sehingga diperlukan pemberian tambahan
nitrogen, salah satunya adalah EM 4 (effective microorganism 4) yang berfungsi sebagai
aktivator. Hal ini akan membantu bakteri hidup berkembang dengan baik sehingga proses
penguraian bahan baku kompos menjadi lebih cepat dan proses pengomposan  berlangsung lebih
cepat pula. Jika aerasi kurang, maka yang terjadi adalah proses pembusukan dan akan
mengasilkan bau busuk akibat terbentuknya amoniak (NH3) dan asam sulfida (H2S).
 Pengomposan dilakukan terhadap buangan/ limbah yang mudah membusuk, sampah
kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
 Agar hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan
ukurannya/volumenya.
 Prinsip : menurunkan atau mendegradasikan bahan-bahan organik secara terkontrol
dengan mempergunakan aktivitas mikroorganisme
 Beberapa kondisi yang diperlukan : suhu, kelembaban, kadar Air
 Dapat dilakukan secara aerob dan Anaerob
 Tahapan : pemisahan-pemotongan-pengomposansortasi produk-pengkemasan

5. Dumping (Penumpukkan)
 Penumpukan tanpa penutupan  Open dump; Sea dump
Potensial menimbulkan pencemaran lingkungan dan sumber penyakit
 Sanitary landfill
metode terkontrol dengan penutupan.
Metode: lapangan, dataran rendah atau jurang .
GAMBAR PROSES PENGOLAHAN LIMBAH PADAT SECARA KESELURUHAN

2. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Metode Pengolahan Limbah

Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian


lingkungan. Apapun jenis teknologi pengolahan air limbah industri yang dibangun harus dapat
dioperasikan dan dipelihara oleh perusahaan setempat. Adapun teknik-teknik pengolahan air
buangan yang telah dikembangkan secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan
berikut.
1. Pengolahan secara fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,


diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan
cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses
pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Beberapa contoh
pemisahan Cair - Padatan antara lain :

 Filtrasi
 Filter membran
 Tipe gravitasi
 Mikro filter
 Ultra filter
 Reverse osmosis
 Clarifier
2. Pengolahan Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor,
dan zat organik beracun, dengan menambahkan bahan kimia tertentu yang diperlukan.
Beberapa contoh pengolahan Kimia - Fisik antara lain :

 Netralisasi
 Penukar ion
 Koagulasi & Flokulasi
 Alumina aktif
 Karbon aktif
 Adsorbsi
 Oksidasi dan/atau Reduksi
 Aerasi
 Ozonisasi
 Elektrolisis
 Oksidasi kimia/reduksi
3. Pengolahan Secara Biologi
Pengolahan secara biologi bertujuan untuk menghilangkan kandungan terlarut di
dalam limbah yang tidak dapat dipisahkan dengan perlakuan fisik. Prosesnya menggunakan
bahan organik ataupun mikroorganisme yang dimasukkan ke dalam limbah, misalnya lumpur
aktif.
SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Tujuan utama pengolahan limbah cair ialah untuk mengurai kandungan bahan
pencemar di dalam air, seperti senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan
senyawa organik lain yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme alam. Bila dilihat dari
perlakuan terhadap penanganan limbah, maka tahapannya dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa tahapan, yaitu preatreatment, primary treatment, secondary treatment, tertiary
treatment, dan sludge treatment.

Gambar 2.1 Skema Pengolahan Limbah Industri Cair

a. Pengolahan Awal (Preatreatment)

Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk


menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa
proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal,
equalization and storage, serta oil separation (jika terdapat kandungan minyak di
dalamnya).

b. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)

Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama
dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung.
Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah menghilangkan partikel-
partikel padat organik dan nonorganik melalui proses fisika, yakni neutralization,
chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration . Setelah
melalui proses ini, partikel padat akan mengendap (disebut sludge) sedangkan partikel
lemak dan minyak akan berada di atas / permukaan (disebut grease). Dengan adanya
pengendapan ini , maka akan mengurangi kebutuhan oksigen pada proses pengolahan
biologis berikutnya dan pengendapan yang terjadi adalah pengendapan secara garafitasi.
c. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)

Pengolahan tahap kedua bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi


kandungan senyawa organik atau anorganik terlarut dalam limbah yang tidak dapat
dihilangkan dengan proses fisik biasa. Pengolahan tahap kedua dapat berupa proses
kimia maupun proses biologis. Untuk menghilangkan senyawa terlarut tersebut, maka
dibutuhkan tambahan bahan kimia maupun mikroorganisme biologis di dalamnya sesuai
dengan prosesnya.

Proses kimia pada tahap ini ialah penambahan bahan kimia (Misalnya tawas)
untuk proses koagulasi-flokulasi. Sedangkan proses biologi bertujuan untuk
menghilangkan senyawa organik terutama yang terlarut di dalam limbah. Prinsipnya
menggunakan mikroorganisme (biokatalis) dalam reaksi perombakan (degradasi) bahan
organik menjadi mineral (CO2 dan H2O (aerob) atau CH4 (anaerob). Mikroorganisme
ini mengkonsumsi bahan-bahan organik untuk membentuk biomassa sel baru serta zat-
zat organik dan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari reaksi oksidasi untuk
metabolismenya.

d. Pengolahan Tahap Lanjutan (Tertiary Treatment)

Pengolahan ini merupakan kelanjutan dari pengolahan sekunder (Secondary


Treatment) . Pada sistem ini pengolahan limbah dengan kosentrasi bahan pencemar
tinggi atau limbah dengan parameter yang bervariasi dengan volume yang relative
banyak. Contohnya ialah Reverse Osmosis dan Adsorbsi.

e. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)

Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya


kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure
filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau
landfill.

Dari Tahapan Klasifikasi diatas, dibawah ini Pengolahan Limbah Cair secara lengkap
yang akan diuraikan per-tahap-nya sebagai berikut:

1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)


Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan
secara fisika.
a) Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan
murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
b) Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif
besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan
memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara
air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.

c) Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak
pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak
digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair
didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke
dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan
dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal
juga metode pengapungan (Floation).
d) Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak.
Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung-
gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan
membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian
dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses
pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut
dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung
polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab
penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke
proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan
melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik.
Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode
kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .

a) Metode Trickling Filter


Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik
melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik,
dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media
dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik
yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke
dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan
ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk
memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang
terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan
dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan
b) Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki
dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi
berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung
udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi
limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses
pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi.
Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke
lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.
c) Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah
namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam
kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis
menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses
penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga
diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan.
Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka
untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)


Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat
zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.
Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan
sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik
terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment).
Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan
tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan
osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini
disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi
sehingga tidak ekonomis.
4. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia,
yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam
menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
1. Daya racun zat
2. Waktu kontak yang diperlukan
3. Efektivitas zat
4. Kadar dosis yang digunakan
5. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
6. Tahan terhadap air
7. Biayanya murah
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai,
yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
5. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan
menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara
langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya
akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke
beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk
kompos, atau dibakar (incinerated).
3.PENGOLAHAN LIMBAH GAS

Pengolahan limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat bantu yang
dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari limbah
berupa gas atau materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Jenis gas yang bersifat
racun antara lain SO2, CO, NO, timah hitam, amoniak, asam sulfida dan hidrokarbon.
Pencemaran yang terjadi dalam udara dapat merupakan reaksi antara dua atau lebih zat
pencemar. Misalnya reaksi fotokimia, yaitu reaksi yang terjadi karena bantuan sinar ultra violet
dari sinar matahari. Kemudian reaksi oksidasi gas dengan partikel logam dengan udara sebagai
katalisator

Limbah gas, asap,debu melalui udara, dapat dilihat di bawah ini:

Berikut akan dijelaskan beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan
materi partikulat yang terbawah bersamanya.

1. Mengontrol Emisi Gas Buang


 Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan
hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas
sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar
dengan cara desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber).
 Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan
berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan materi partikulat, karena
filter basah juga digunakan untuk menghilangkan materi partikulat.
 Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon
monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat
dikurangi dengan cara memasang alat pengubah katalitik (catalytic converter)
untuk menyempurnakan pembakaran.
 Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat dikurangi
kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan
bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan
polutan.
2. Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
1) Filter Udara

Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack, agar tidak
ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja yang keluar dari cerobong.
Filter udara yang dipasang ini harus secara tetap diamati (dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah
penuh dengan abu/ debu) harus segera diganti dengan yang baru. Jenis filter udara yang
digunakan tergantung pada sifat gas buangan yang keluar dari proses industri, apakah berdebu
banyak, apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya.

Di dalam sebuah pabrik, pengendalian pencemaran udara terdiri dari dua bagian yaitu
penanggulangan emisi debu dan penanggulangan emisi senyawa pencemar.

 Pembuatan Cerobong

Fungsi : menghasilkan isapan alamiah untuk mengalirkan gas asap ke luar dari mesin uap
dengan kecepatan tertentu, mengatasi kerugian gesekan aliran gas asap yang terjadi, mulai dari
rangka bakar atau pembakar (burner), hingga ke luar dari cerobong, diharapkan setinggi
mungkin sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.
Tarikan paksa diperlukan jika ketinggian maksimum cerobong tidak mampu mengalirkan gas
asap atau cerobong memang tidak terlalu tinggi
 Ventilator

Fungsi : menciptakan isapan paksa

Tiga jenis sistem tarikan paksa, yaitu;

 sistem tarikan tekan; fan dipasang sebelum ruang bakar.


 sistem tarikan isap; fan dipasang sebelum cerobong
 sistem tarikan kombinasi; 2 fan dipasang sebelum ruang bakar dan sebelum cerobong

Penanggulangan dengan Alat ECO-SO2 (serta contoh penggunannya)


Apa itu ECO-SO2 ?

ECO ( Electric Catalyc Oxidation ) – SO2 ialah sejenis alat kontrol polusi udara yg
diproduksi oleh Powerspan Corporation untuk mengurangi polusi udara akibat beroperasinya
PLTU yg berbahan bakar batubara ( coal ), khususnya pd buangan sulphur ( SO2 ).
ECO-SO2 dikatakan mampu menurunkan kadar polusi udara dari masing-masing polutan
sbb ;

 SO2 ( sulphur ) yg dapat mengakibatkan hujan asam, sampai 99%


 Nox ( nitrogen ) sampai 90%
 Hg ( air raksa ) yg mengakibatkan sesak napas / asma, antara 80 s/d 90%
 Partikel lain yg mengotori air serta ikan & tanah, sampai 90%

SKEMA PLTU ( TANPA ECO-SO2 )

ECO – SO2 dipasang dalam instalasi PLTU setelah ESP ( electronic procipitator ) &
sebelum buangan dialirkan melalui cerobong asap. Pemakaian ECO-SO2 menjadi mendesak
setelah aturan ketat lingkungan diberlakukan. Sebab selain banyak & murah, ternyata batubara
menimbulkan polusi udara besar pada lingkuangan.

Selama ini kontrol emisi buangan PLTU dilakukan hanya dengan cara ;

 Menggunakan batubara yg mengandung sulphur Rendah


 Menangkap kembali sulphur dari cerobong gas, sebelum dibuang lewat chimney.
 Sedang kontrol Nox dilakukan dengan pembakaran pada suhu lebih rendah, karena
pada suhu tersebut lebih sedikit Nox terbentuk.
2) Pengendap Siklon

Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu / abu yang ikut dalam
gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah
pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara / gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi
dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif “berat” akan jatuh ke bawah. Ukuran
partikel / debu / abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5 u – 40 u. Makin besar
ukuran debu makin cepat partikel tersebut diendapkan.

Penanggulangan dengan Alat Koagulasi Listrik

Asap dan debu dari pabrik/ industri dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari
Cottrel Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan melalui ujung - ujung
logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi (20.000-75.000). Ujung-ujung yang
runcing akan mengionkan molekul-molekul dalam udara. Ion-ion tersebut akan diadsorbsi oleh
partikel asap dan menjadi bermuatan. Selanjutnya partike bermuatan itu akan tertarik dan diika
pada elektroda yang lainnya. Pengendap Cottrel ini banyak digunakan dalam industri untuk dua
tujuan yaitu, mencegah udara ole buangan beracun atau memperoleh kembali debu yang
berharga (misalnya debu logam).

Alat-alat Pemisah Debu

Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk


memisahkan debu dari alirah gas buang. Debu dapat
ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi
kimia, densitas, daya kohesi, dan sifat higroskopik
yang berbeda. Maka dari itu, pemilihan alat pemisah
debu yang tepat berkaitan dengan tujuan akhir
pengolahan dan juga aspek ekonomis

Secara umum alat pemisah debu dapat diklasifikasikan menurut prinsip kerjanya:
Pemisah Brown
Alat pemisah debu yang bekerja dengan prinsip ini menerapkan prinsip gerak partikel
menurut Brown. Alat ini dapat memisahkan debu dengan rentang ukuran 0,01 – 0,05 mikron.
Alat yang dipatenkan dibentuk oleh susunan filamen gelas denga jarak antar filamen yang lebih
kecil dari lintasan bebas rata-rata partikel.

Penapisan
Deretan penapis atau filter bag akan dapat menghilangkan debu hingga 0,1 mikron.
Susunan penapis ini dapat digunakan untuk gas buang yang mengandung minyak atau debu
higroskopik.

Electrostatic Precipitator

Pengendap elektrostatik
Alat ini mengalirkan tegangan yang tinggi dan dikenakan pada aliran gas yang
berkecepatan rendah. Debu yang telah menempel dapat dihilangkan secara beraturan dengan cara
getaran. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan pengendap elektrostatik ini ialah
didapatkannya debu yang kering dengan ukuran rentang 0,2 – 0,5 mikron. Secara teoritik
seharusnya partikel yang terkumpulkan tidak memiliki batas minimum.

Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam
jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini
dapat membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih.
Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan
antara 25 – 100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan
positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding
tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan menimbulkan
corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah – olah
mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion
positif dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion
negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah
silinder dan kemudian terhembus keluar.

Pengumpul sentrifugal
Pemisahan debu dari aliran gas didasarkan pada gaya sentrifugal yang dibangkitkan oleh
bentuk saluran masuk alat. Gaya ini melemparkan partikel ke dinding dan gas berputar (vortex)
sehingga debu akan menempel di dinding serta terkumpul pada dasar alat. Alat yang
menggunakan prinsip ini digunakan untuk pemisahan partikel dengan rentang ukuran diameter
hingga 10 mikron lebih.

Pemisah inersia
Pemisah ini bekerja atas gaya inersia yang dimiliki oleh partikel dalam aliran gas. Pemisah
ini menggunakan susunan penyekat sehingga partikel akan bertumbukan dengan penyekat dan
akan dipisahkan dari aliran fasa gas. Alat yang bekerja berdasarkan prinsip inersia ini bekerja
dengan baik untuk partikel yang berukuran hingga 5 mikron.

Pengendapan dengan gravitasi


Alat yang bekerja dengan prinsip ini memanfaatkan perbedaan gaya gravitasi dan
kecepatan yang dialami oleh partikel. Alat ini akan bekerja dengan baik untuk partikel dengan
ukuran yang lebih besar dari 40 mikron dan tidak digunakan sebagi pemisah debu tingkat akhir.

Di industri, terdapat juga beberapa alat yang dapat memisahkan debu dan gas secara
bersamaan (simultan). Alat-alat tersebut memanfaatkan sifat-sifat fisik debu sekaligus sifat gas
yang dapat terlarut dalam cairan. Beberapa metoda umum yang dapat digunakan untuk
pemisahan secara simultan ialah:

Menara percik
Prinsip kerja menara percik ialah mengkontakkan aliran gas yang berkecepatan rendah
dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Alat ini merupakan alat yang
relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang (moderate). Menara percik mampu
mengurangi kandungan debu dengan rentang ukuran diameter 10-20 mikron dan gas yang larut
dalam air.

Siklon basah

Modifikasi dari siklon ini dapat menangani gas yang berputar lewat percikan air. Butiran
air yang mendandung partikel dan gas yang terlarut akan dipisahkan dengan aliran gas utama
atas dasar gaya sentrifugal. Slurry dikumpulkan di bagian bawah siklon. Siklon jenis ini lebih
baik daripada menara percik. Rentang ukuran debu yang dapat dipisahkan ialah antara 3 – 5
mikron. Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors. Prinsip kerja filter
basah adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas
alt, sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak
dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah. Untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik dapat juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter basah digabungkan menjadi satu.
Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut menghasilkan suatu alat penangkap debu .

Pemisah venturi
Metode pemisahan venturi didasarkan atas kecepatan gas yang tinggi pada bagian yang
disempitkan dan kemudan gas akan bersentuhan dengan butir air yang dimasukkan di daerah
sempit tersebut. Alat ini dapat memisahakan partikel hingga ukuran 0,1 mikron dan gas yang
larut di dalam air.

Tumbukan orifice plate


Alat ini disusun oleh piringan yang berlubang dan gas yang lewat orifis ini membentur
lapisan air hingga membentuk percikan air. Percikan ini akan bertumbukkan dengan penyekat
dan air akan menyerap gas serta mengikat debu. Ukuran partikel paling kecil yang dapat diserap
ialah 1 mikron.

Menara dengan packing


Prinsip penyerapan gas dilakukan dengan cara mengkontakkan cairan dan gas di antara
packing. Aliran gas dan cairan dapat mengalir secara co-current, counter-current, ataupun cross-
current. Ukuran debu yang dapat diserap ialah debu yang berdiameter lebih dari 10 mikron.

Gambar alat-alat pengolahan limbah gas

DAFTAR PUSTAKA
Arief M, 2016. Pengolahan Limbah Gas. Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Univ Esa
Unggul. Jakarta

George T Austin, E. Jasjfi (alih bahasa), 1995. “Industri Proses Kimia”, Jilid 1, Edisi 5,
Penerbit Erlangga, Jakarta.

Handojo, L, 1995, ”Teknologi Kimia”, Jilid 2, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Utami, Subardo. 2013. Pengolahan dan Penanganan Limbah. SMK Negeri 7 Semarang.

Yunisa, Nanda. 2017. Pengolahan Libmbah Cair Pada Industri Pengolahan Gas.Program Studi
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi. Politeknik Negeri Lhokseumawe. Aceh.

Zulashary.2014.Sistem Pengolahan Limbah Padat,Cair,dan Gas. Jakarta disitasi dari


https://zulashary.wordpress.com/2014/05/28/sistem-pengelolaan-limbah-cair-padat-dan-
gas/ pada tanggal 4 juni 2020 pukul 23.47