Anda di halaman 1dari 29

Makalah pendidikan dan perilaku kesehatan

Dosen : Ainun Wulandari, MSc., Apt.

Di susun oleh :

Puji lestari 16334080

Rizky amelia 16334076

Mahran Jaubah 16334079

Tyas moro 16334

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA 2019/2020

1
DAFTAR ISI
pendidikan dan perilaku kesehatan.................................................................................................1
KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................3
BAB I ……………………………………………………………………………………………4

1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………….4

1.2 Rumusan Masalahh………………………………………………………………….5

1.3 Tujuan……………………………………………………………………………….5

BAB II………………………………………………………………………………………….6

A. Prinsip-prinsip penelitian kesehatan…………………………………………………6

B. Ruang lingkup pendidikan kesehatan………………………………………………8

C. Metode Pendidikan Kesehatan……………………………………………………..9

D. Alat bantu dan media pendidikan kesehatan………………………………………20

E. Domain prilaku kesehatan…………………………………………………………23

F. Perubahan-perubahan perilaku,……………………………………………………26

BAB III………………………………………………………………………………………29

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………....29

3.2 Saran

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Tugas Farmasi Industri dengan baik.
Kami berterima kasih kepada Ibu Ainun Wulandari, MSc., Apt.sebagai dosen matakuliah Ilmu
Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap
makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan bagi pembacanya. Sekiranya
makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan dating.

Jakarta, Desember 2019

3
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani yaitu
Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita Mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai
seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau
pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati
penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik.
Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan
Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-
usaha Pengorganisasian masyarakat “ untuk :

a. Perbaikan sanitasi lingkungan


b. Pemberantasan penyakit-penyakit menular
c. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini
dan pengobatan.
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan
hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.

Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni
memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha
pengorganisasian masyarakat.

Dari batasan kedua di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas
dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran
pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat. Untuk itu
perlu adanya pendidikan kesehatan agar kesehatan masyarakat dapat lebih ditingkatkan dan
dilaksanakan oleh masyarakat. Oleh karena itu penulis ingin membahasnya dalam makalah ini
dengan judul “PENDIDIKAN DAN PERILAKU KESEHATAN”

4
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembahasan yang akan penulis buat adalah sebagai berikut:
1.      Apa saja prinsip-prinsip pendidikan kesehatan?
2.      Bagaimana ruang lingkup pendidikan kesehatan?
3.      Apa saja metode dalam pendidikan kesehatan?
4.      Apa saja alat bantu dan media yang dipakai dalam pendidikan kesehatan?
5.      Bagaimana domain perilaku kesehatan?
6.      Bagaimana perubahan-perubahan perilaku kesehatan?
7.      Apa saja bentuk-bentuk perilaku kesehatan?

C.    Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas dari mata kuliah “Ilmu
Kesehatan Masyarakat" dan juga sebagai referensi bagi pembaca dalam mendapatkan
informasi tentang pendidikan dan perilaku kesehatan sehingga pembaca dapat memahami
tentang kesehatan masyarakat yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Prinsip-Prinsip Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan penting untuk menunjang program kesehatan yang lain. Tetapi ini
tidak sesuai dengan kenyataannya. Dalam program-program pelayanan kesehatan kurang
melibatkan pendidikan kesehatan. Meskipun sudah melibatkan namun kurang memberikan
bobot. Argument mereka adalah karena pendidikan kesehatan tidak segera dan jelas
memperlihatkan hasil. Pendidikan kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi
masyarakat, dan yang mudah dilihat atau diukur. Pendidikan adalah merupakan “Behavioral
Investment” jangkan panjang. Hasil investment pendidikan kesehatan baru dapat dilihat beberapa
tahun kemudian. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka
menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan.

a.      Peranan Pendidikan Kesehatan


Ahli kesehatan masyarakat dalam membicarakan status kesehatan mengacu kepada
H.L.Blum. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap
status kesehatan. Disusul oleh perilaku mempunyai andil nomor dua. Pelayanan kesehatan, dan
keturunan mempunyai andil kecil terhadap status kesehatan.
Lawrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau dipengaruhi 3
faktor pokok yakni :
1)      Faktor-faktor prediposisi (predisposing factors)
2)      Faktor-faktor yang mendukung (enabling factors)
3)      Faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factors)
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan pendidikan kesehatan
adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu kelompok atau
masyarakat sesuai dengan nila-nilai kesehatan. Dengan kata lain pendidikan kesehatan adalah
suatu usaha ntuk menyediakan kondisi psikologis dari sasaran agar mereka berperilaku sesuai
dengan tuntutan nilai-nilai kesehatan.

6
b.      Konsep Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang
kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah suatu pedagogik praktis atau praktek pendidikan.
Konsep dasar pendidikan adalah proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses
pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang
pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia
sebagai makhluk social dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup didalam
masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa,
lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu dan sebagainya). Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang
individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kegiatan belajar.
Seseorang dapat dikatakan belajar apabila didalam dirinya terjadi perubahan dari tidak
tahu menjadi tahu, dari tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan sesuatu.
Kegiatan belajar tiu mempunyai ciri-ciri :
1)      Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan diri pada individu, kelompok atau
masyarakat yang sedang belajar, baik actual maupun potensial
2)      Hasil belajar adalah bahwa perubahan tersebut di dapatkan karena kemampuan baru yang
berlaku untuk waktu yang relative lama
3)      Perubahan itu terjadi karena usaha dan disadari bukan karena kebetulan
Bertolak dari konsep pendidikan, maka konsep pendidikan kesehatan itu juga proses
belajar pada individu, kelompok atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan
menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi
mampu dan lain sebagainya.
Pendidikan didefinisikan sebagai usaha atau kegiatan untuk membantu individu,
kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (Prilaku) nya/mereka untuk
mencapai kesehatannya/mereka secara optimal. Batasan-batasan konsep pendidikan kesehatan
yang sering dijadikan acuan antara lain dari : Nyswander, Stuart, Green, tim ahli WHO dan lain
sebagainya.

c.       Proses Pendidikan Kesehatan

7
Pokok dari pendidikan kesehatan adalah proses belajar. Kegiatan belajar terdapat tiga
persalan pokok, yakni :
1.      Persoalan masukan (input)
Persoalan masukan dalam pendidikan kesehatan adalah menyangkut sasaran belajar
(sasaran didik) yaitu individu, kelompok atau masyarakat yang sedang belajar itu sendiri dengan
berbagai latar belakangnya.
2.      Persoalan proses
Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan (prilaku)
pada diri subjek belajar tersebut. Di dalam proses ini terjadi pengaruh timbale balik antara
berbagai faktor, antara lain : subjek belajar, pengajar (pendidik atau fasilitator) metode dan
teknik belajar, alat bantu belajar, dan materi atau bahan yang dipelajari.
3.      Keluaran (output)
Keluaran adalah merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu berupa kemampuan atau perubahan
perilaku dari subjek belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar ini ke dalam 4 kelompok besar, yakni :
Faktor materi (bahan mengajar), lingkungan, instrumental, dan subjek belajar. Faktor
instrumental ini terdiri dari perangkat keras (hardware) seperti perlengkapan belajar dan alat-alat
peraga, dan perangkat lunak (software) seperti fasilitator belajar, metode belajar, organisasi dan
sebagainya

B.     Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan


Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi antara lain
1.      Dimensi sasaran pendidikan
Dari dimensi ini dapat di kelompokkan menjadi 3 yakni :
a.       Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
b.      Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
c.       Pendidikan kesehatan masyrakat dengan sasarn masyarakat
2.      Dimensi tempat pelaksanaan
Dapat berlangsung di berbagai tempat, misalnya:
a.       Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid

8
b.      Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah sakit dengan sasaran pasien atau
keluarga pasien, di Puskesmas dan sebagainya
c.       Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang
bersangkutan
3.      Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of
presentation) dari leavel and clark, sebagai berikut :
a.       Promosi kesehatan
Dalam tingkat ini pendidikan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi, kebiasaan hidup,
perbaikan sanitasi lingkungan hygiene perorangan, dan sebagainya
b.      Perlindungan khusus (Specifik Protection)
Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini pendidikan
kesehatan sangat diperlukan terutama dinegara-negara berkembang. Hal ini karena kesadaran
masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya
maupun pada anak-anaknya masih rendah
c.       Diagnosis dini dan pengobatan segera
Dikarenakan rendahnya pngetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit,
maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi dalam masyarakat.
d.      Pembatasan Cacad (Disability Limitation)
Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacad
atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
e.       Rehabilitasi (rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit, seringkali seseorang tidak mau melakukan latihan-latihan
untuk pemulihannya, untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan

C.    Metode Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Adanya pesan
tersebut, masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan
yang lebih baik. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat
terhadap perubahan perilaku sasaran.

9
Pendidikan kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut mempunyai
masukan (input) dan keluaran (output). Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu proses
pendidikan disamping masukannya sendiri juga metode materi atau pesannya, pendidik atau
petugas yang melakukannya, dan alat-alat bantu / alat peraga pendidikan. Agar tercapai suatu
hasil yang optimal maka faktor-faktor tersebut harus bekerjasama secara harmonis.
Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok dan
massa (public).
a)      Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan
untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan
perilaku atau inovasi. Misalnya seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu
hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi TT karena baru saja memperoleh / mendengarkan
penyuluhan kesehatan. Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor yang
lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi maka harus didekati perorangan. Dasar
digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena setiap orang mempunyai masalah
atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut.
Bentuk dari pendekatan ini, antara lain :
1.      Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling)
2.      Interview (Wawancara)
b)      Metode Pendidikan Kelompok
1)      Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang.
Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain :
1)      Ceramah
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah :
        Persiapan
Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi dari yang akan
diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri dengan :
         Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau disusun dalam diagram
atau skema.

10
         Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya makalah singkat, slide, transparan, sound
system, dan sebagainya.
        Pelaksanaan
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah tersebut dapat
menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran (dalam arti psikologis), penceramah
dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
         Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah.
         Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
         Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
         Berdiri di depan (di pertengahan), tidak boleh duduk.
         Menggunakan alat-alat bantu (AVA) semaksimal mungkin.
2)      Seminar
Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang
suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat. Metode ini
hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas.

2)      Kelompok Kecil


Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil.
Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil antara lain :
1)      Diskusi Kelompok
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam
diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat
berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau
segi empat.
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-pancingan
berupa pertanyaan-pertanyaan atas kasus sehubungan dengan topik yang dibahas. Agar terjadi
diskusi yang hidup, pemimpin kelompok harus mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa
sehingga semua orang dapat kesempatan berbicara sehingga tidak menimbulkan dominasi dari
salah seorang peserta.
2)      Curah Pendapat (Brain Storming)

11
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan
metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya pemimpin kelompok memancing
dengan satu masalah kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban atau tanggapan (cara
pendapat).
Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau
papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberi komentar oleh
siapa pun. baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat
mengomentari dan akhirnya terjadilah diskusi.
3)      Bola Salju (Snow Balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang, 2 orang). Kemudian dilontarkan
suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit, tiap 2 pasang bergabung menjadi 1.
Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2
pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan
demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
4)      Kelompok Kecil-Kecil (Bruzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil (buzz group) kemudian
dilontarkan suatu permasalahan sama / tidak dengan kelompok lain dan masing-masing
kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut
dan dicari kesimpulannya.

5)      Memainkan Peranan (Role Play)


Dalam metode ini, beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan
tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau
bidan dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau anggota masyarakat.
Mereka meragakan misalnya bagaimana interaksi / komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan
tugas.
6)      Permainan Simulasi (Simulation Game)
Metode ini adalah merupakan gambaran antara role play dengan diskusi kelompok.
Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli.
Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco

12
(penunjuk arah), selain beberan atau papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian
lagi berperan sebagai nama sumber.

c)      Metode Pendidikan Massa (Public)


Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan pesan-pesan
kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik maka cara yang
paling tepat adalah pendekatan massa.
Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah awareness atau kesadaran
masyarakat terhadap suatu inovasi, belum begitu diharapkan sampai dengan perubahan perilaku.
Namun demikian bila sudah sampai berpengaruh terhadap perubahan perilaku adalah wajar.
Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya
menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh metode ini, antara lain :
a.       Ceramah umum (public speaking)
Pada acara-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, menteri kesehatan
atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di hadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-
pesan kesehatan. Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.
b.      Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada
hakekatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
c.       Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu
penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan pendekatan
pendidikan kesehatan massa. Contoh "Praktek Dokter Herman Susilo" di televisi pada waktu
yang lalu.
d.      Sinetron "Dokter Sartika" didalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan
kesehatan massa.
e.       Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab /
konsultasi tentang kesehatan atau penyakit juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan
kesehatan massa.
f.       Billboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan sebagainya adalah juga bentuk
pendidikan kesehatan massa. Contoh billboard "Ayo ke Posyandu".

13
D.    Alat Bantu dan Media Pendidikan Kesehatan
a.      Alat Bantu (peraga)
a)      Pengertian
Yang dimaksud alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik
dalam menyampaikan bahan pendidikan / pengajaran.
alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu
objek sehingga mempermudah persepsi.
Elgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 macam dan sekaligus
menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam suatu kerucut.
Alat peraga akan membantu dalam melakukan penyuluhan, agar pesan-pesan kesehatan
dapat disampaikan lebih jelas dan masyarakat sasaran dapat menerima pesan orang tersebut
dengan dengan jelas dan tetap pula. Dengan alat peraga, orang dapat lebih mengerti fakta
kesehatan yang dianggap rumit sehingga mereka dapat menghargai betapa bernilainya kesehatan
itu bagi kehidupan.
b)      Faedah Alat Bantu Pendidikan
Secara terperinci, faedah alat peraga antara lain sebagai berikut :
1.      Menimbulkan minat sasaran pendidikan.
2.      Mencapai sasaran yang lebih banyak.
3.      Membantu mengatasi hambatan bahasa.
4.      Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan kesehatan.
5.      Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.
6.      Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang
lain.
7.      Mempermudah penyampaian bahan pendidikan / informasi oleh para pendidik / pelaku
pendidikan.
8.      Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.
9.      Mendorong keinginan orang untuk mengetahui kemudian lebih mendalami dan akhirnya
memberikan pengertian yang lebih baik.
10.  Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Didalam menerima sesuatu yang baru,
manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan atau lupa.
c)      Macam-Macam Alat bantu Pendidikan

14
Pada garis besarnya, hanya ada 2 macam alat bantu pendidikan (alat peraga) :
1)      Alat Bantu Lihat (Visual Aids)
Alat ini berguna didalam membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu
terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :
         Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip, dansebagainya.
         Alat-alat yang tidak diproyeksikan :
1)      Dua dimensi, gambar, peta, bagan, dan sebagainya.
2)      Tiga dimensi misal bola dunia, boneka, dan sebagainya.
2)      Alat-Alat Bantu Dengar (Audio Aids)
Ialah alat yang dapat membantu menstimulasi indera pendengar pada waktu proses
penyampaian bahan pendidikan / pengajaran. Misalnya piringan hitam, radio, pita suara, dan
sebagainya.

3)      Alat Bantu Lihat-Dengar


Seperti televisi dan video cassette. Alat-alat bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan
Audio Visual Aids (AVA).
Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menjadi 2 macam
menurut pembuatannya dan penggunaannya.
         Alat peraga yang complicated (rumit), seperti film, film strip slide dan sebagainya yang
memerlukan listrik dan proyektor
         Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat yang
mudah diperoleh, seperti bambu, karton, kaleng bekas, kertas koran, dan sebagainya. Beberapa
contoh alat peraga yang sederhana yang dapat dipergunakan di berbagai tempat, misalnya :
        Di rumah tangga seperti leaflet, model buku bergambar, benda-benda yang nyata seperti buah-
buahan, sayur-sayuran, dan sebagainya.
        Di kantor-kantor dan sekolah-sekolah, seperti papan tulis, flipchart, poster, leaflet, buku cerita
bergambar, kotak gambar gulung, boneka dan sebagainya.
        Di masyarakat umum, misalnya poster, spanduk, leaflet, fanel graph, boneka wayang, dan
sebagainya.

Ciri-ciri alat peraga kesehatan yang sederhana antara lain :

15
         Mudah dibuat
         Bahan-bahannya dapat diperoleh dari bahan-bahan lokal
         Mencerminkan kebiasaan, kehidupan dan kepercayaan setempat.
         Ditulis (digambar) dengan sederhana.
         Bahasa setempat dan mudah dimengerti oleh masyarakat.
         Memenuhi kebutuhan-kebutuhan petugas kesehatan dan masyarakat.
d)      Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Pendidikan
Menggunakan alat peraga harus didasari pengetahuan tentang sasaran pendidikan yang akan
dicapai alat peraga tersebut.
1)      Individu atau kelompok
2)      Kategori-kategori sasaran seperti kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya.
3)      Bahasa yang mereka gunakan
4)      Adat-istiadat serta kebiasaan
5)      Minat dan perhatian
6)      Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima.
Tempat memasang (menggunakan) alat-alat peraga :
1)      Didalam keluarga antara lain dalam kesempatan kunjungan rumah, waktu menolong persalinan,
merawat bayi atau menolong orang sakit dan sebagainya.
2)      Di masyarakat, misalnya seperti pada waktu perayaan hari-hari besar, arisan-arisan, pengajaran,
dan sebagainya; serta dipasang juga di tempat-tempat umum yang strategis.
3)      Di instansi-instansi, antara lain puskesmas, rumah sakit, kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan
sebagainya.

Alat-alat peraga tersebut sedapat mungkin dapat dipergunakan oleh :


1)      Petugas-petugas puskesmas / kesehatan
2)      Kader kesehatan
3)      Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.
4)      Pamong desa.

e)      Merencanakan dan Menggunakan Alat Peraga

16
Sebelum mempergunakan alat peraga lain sebagai pengganti benda-benda asli, perlu
ditelaah terlebih dahulu apakah penggunaan benda-benda asli memungkinkan atau
tidak.Sebaliknya kalau tidak ada benda-benda asli maka dibuatlah alat peraga dari benda-benda
pengganti.
Sebelum membuat alat peraga kita harus merencanakan dan memilih alat peraga yang
paling tepat untuk digunakan.Untuk itu perlu diperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut:
Tujuan yang Hendak Dicapai
1)      Tujuan pendidikan. Tujuan ini dapat untuk :
        Mengubah pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep.
        Mengubah sikap dan persepsi
        Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru
2)      Tujuan penggunaan alat peraga
        Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran / pendidikan
        Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah
        Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi
        Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
Perancanaan dan pemilihan alat peraga ditentukan sebagian besar oleh tujuan ini..

Persiapan Penggunaan Alat Peraga


Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat
bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan
keterampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara tepat sehingga mempunyai hasil
yang maksimal.
Sebelum penggunaan alat peraga sebaiknya petugas mencoba terlebih dahulu alat-alat
tersebut, yang masih dalam bentuk kasar sebelum diproduksi seluruhnya. Gunanya tes percobaan
ini adalah untuk mengetahui sejauh mana alat peraga tersebut dapat dimengerti oleh sasaran
pendidikan.
Cara melakukan percobaan tersebut antara lain sebagai berikut :
1)      Merencanakan terlebih dahulu tes pendahuluan untuk suatu media yang akan diproduksi.
2)      Menentukan pokok-pokok yang akan dipesankan dalam media tersebut.

17
3)      Menentukan gambar-gambar pokok atau simbol-simbol yang disesuaikan dengan ciri-ciri
sasaran.
4)      Memperlihatkan alat peraga / media tersebut kepada sasaran tercoba.
5)      Menanyakan kepada sasaran tercoba :
        Apakah mereka mengalami kesukaran dalam memahami pesan-pesan, kata-kata dan gambar-
gambar didalam media tersebut.
        Menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
        Mencatat komentar-komentar dari sasaran tercoba.
        perbaikan alat peraga (media) tersebut.
6)      Mendiskusikan alat yang dibuat tersebut dengan orang lain (teman-teman) atau dengan para ahli.

Cara Mempergunakan Alat Peraga


Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung pada alatnya. Menggunakan gambar
sudah barang tentu lain dengan menggunakan film strip dan sebagainya. Disamping itu juga
dipertimbangkan faktor sasaran pendidikannya. Untuk masyarakat yang buta huruf akan lain
dengan masyarakat yang telah berpendidikan. Dan yang lebih penting lagi alat yang digunakan
harus menarik sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Pada waktu menggunakan AVA
hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)      Senyum adalah lebih baik untuk mencari simpati.
2)      Tunjukkan perhatian bahwa hal yang akan dibicarakan / diragakan itu adalah penting.
3)      Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar agar mereka tidak kehilangan kontrol dari
pihak pendidik.
4)      Nada suara hendaknya ditukar-tukar agar pendengar tidak bosan dan tidak mengantuk.
5)      Ikut sertakan para peserta / pendengar, berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba
alat-alat tersebut.
6)      Bila perlu, berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya.

b.      Media Pendidikan Kesehatan

18
Yang dimaksud dengan media pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah alat bantu
pendidikan (AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran
(channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk
mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien.

Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini


dibagi menjadi 3, yakni :
1)      Media cetak
2)      Media elektronik
3)      Media papan (bill board)

1)      Media cetak


Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat bervariasi
antara lain :
        Booklet
        Leaflet
        Flyer (selebaran) ialah
        Flip chart (lembar balik)
        Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah
        Poster
        Foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.
2)      Media Elektronik
Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi-
informasi kesehatan, jenisnya berbeda-beda antara lain :
  Televisi
  Radio
  Video
  Slide
  Film strip
3)      Media Papan (Billboard)

19
Papan (billboard) yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai dan diisi dengan pesan-
pesan atau informasi-informasi kesehatan. Media papan disini juga mencakup pesan-pesan yang
ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan-kendaraan umum (bus dan taksi).

E.     Domain Perilaku Kesehatan

Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu kedalam 3
domain (ranah / kawasan) meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang
jelas dan tegas.
Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa dalam
tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku
tersebut yang terdiri dari a) ranah kognitif (cognitive domain) b) ranah afektif (affective domain)
c) ranah psikomotor (psychomotor domain).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan hasil
pendidikan, ketiga domain ini diukur dari :
a.       Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge).
b.      Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).
c.       Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan
yang diberikan (practice).
Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada domain
kognitif, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek
di luarnya.
Menurut Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional kita, ketiga kawasan perilaku
ini disebut cipta (kognisi), rasa (emosi) dan karsa (konasi). Tokoh pendidikan kita ini
mengajarkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk dan atau meningkatkan kemampuan
manusia yang mencakup cipta, rasa dan karsa tersebut. Ketiga kemampuan tersebut harus
dikembangkan bersama-sama secara seimbang sehingga terbentuk manusia Indonesia seutuhnya
(harmonis).
a.      Pengetahuan (Knowledge)

20
Pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,
yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (overt behaviour).
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku
baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1)      Awareness (kesadaran)
2)      Interest (merasa tertarik)
3)      Evaluation (menimbang-nimbang)
4)      Trial dimana subjek mulai mencoba untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5)      Adoption dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan
sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan
perilaku tidak selalu melewati tahapan-tahapan tersebut diatas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini dimana
didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat
langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan
kesadaran akan tidak berlangsung lama.
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
1)      Tahu (Know)
2)      Memahami (Comprehension)
3)      Aplikasi (Application)
4)      Analisis (Analysis)
5)      Sintesis (Synthesis)
6)      Evaluasi (Evaluation)

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang


menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

21
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkat-tingkat tersebut diatas.

b.      Sikap (Attitude)


Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau
objek. Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai berikut :
"An enduring system of positive or negative evaluations, emotional feelings and pro or conection
tendencies will respect to social object" (Krech et al, 1982)

"An individual's social attitude is an syndrome of respons consistency with regard to social
objects." (Cambell, 1950)

"A mental and neural state of rediness, organized through expertence, exerting derective or
dynamic influence up on the individual's respons to all objects and situations with which it is
related". (Allpor, 1954)

"Attitute entails an existing predisposition to respons to social abjects which in interaction with
situational and other dispositional variables, guides and direct the obert behavior of the
individual." (Cardno, 1955)
Dari batasan-batasan diatas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat
langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap
secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu.
Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen
pokok, yakni :
1)      Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2)      Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
3)      Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude).
Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang
peranan penting.
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni :

22
1)      Menerima (Receiving)
2)      Merespons (Responding)
3)      Menghargai (Valuing)
4)      Bertanggung Jawab (Responsible)
Pengukuran sikap dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung
dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Misalnya
bagaimana pendapat anda tentang pelayanan dokter di Rumah Sakit Cipto ?

c.       Praktek atau Tindakan (Practice)


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk tindakan (overt behavior). Untuk
terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Tingkat-Tingkat Praktek
a)      Persepsi
b)      Respon Terpimpin (Giuded Respons)
c)      Mekanisme (Mecanism)
d)     Adaptasi (Adaptation)

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara
terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall).
Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi tindakan atau
kegiatan responden.

F.     Perubahan-perubahan Perilaku


Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan
perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau penyuluhan kesehatan
sebagai penunjang program-program kesehatan yang lainnya. Banyak teori tentang perubahan
perilaku ini, antara lain akan diuraikan dibawah.
a.      Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)

23
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung
kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas
dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat
menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya
sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar
pada individu yang terdiri dari :
a)      Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak.
b)      Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus
ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
c)      Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak
demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
d)     Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut
mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus
(rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat
melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme.
Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting.
b.      Teori Festinger (Dissonance Theory)
Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini sebenarnya
sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive
dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri
yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri
individu maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut
consonance (keseimbangan).
Dissonance (ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2 elemen
kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat,
atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek dan stimulus tersebut
menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda / bertentangan didalam diri individu sendiri
maka terjadilah dissonance.
Sherwood dan Borrou merumuskan dissonance itu sebagai berikut :

24
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif dissonance
Dissonance = --------------------------------------------------------
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif consonance
Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang akan
menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya perbedaan jumlah elemen
kognitif yang seimbang dengan jumlah elemen kognitif yang tidak seimbang serta sama-sama
pentingnya. Hal ini akan menimbulkan konflik pada diri individu tersebut.
c.       Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada
kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku
seseorang apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.
Menurut Katz (1960) perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Katz
berasumsi bahwa :
a)      Perilaku itu memiliki fungsi instrumental
b)      Perilaku dapat berfungsi sebagai defence mecanism atau sebagai pertahanan diri dalam
menghadapi lingkungannya.
c)      Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti.
d)     Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu situasi.
Teori ini berkeyakinan bahwa perilaku itu mempunyai fungsi untuk menghadapi dunia
luar individu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya.
Oleh sebab itu didalam kehidupan manusia, perilaku itu tampak terus-menerus dan berubah
secara relatif.

d.      Teori Kurt Lewin


Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang
seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan
(restrining forces). Perilaku ini dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua
kekuatan tersebut didalam diri seseorang.
Sehingga ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang itu, yakni
:
a)      Kekuatan-kekuatan pendorong meningkat.

25
Kekuatan Pendorong - Meningkat

Perilaku Semula -----------------------------------------


Kekuatan Penahan
Perilaku Baru

b)      Kekuatan-kekuatan penahan menurun.


Kekuatan Pendorong

Perilaku Semula -----------------------------------------


Kekuatan Penahan - Menurun
Perilaku Baru

c)      Kekuatan pendorong meningkat


Kekuatan Pendorong - Meningkat

Perilaku Semula -----------------------------------------


Kekuatan Penahan - Menurun
Perilaku Baru

G.    Bentuk Perilaku


Perilaku dapat diartikan suatu respons organism atau seseorang terhadap rangsangan
(stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini ada 2 macam:
1.      Bentuk pasif adalah respon internal, yangtejadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung
dapat terlihatoleh orang lain.misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin dan engetahuan.
Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tetentu, meskipun
ibu tersebut tidak membawa anaknya ke Puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang

26
menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut
keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut mereka telah sama-sama telah mempunyai sikap
yang positip untuk mendukung kegiatan tersebut meskipun mereka sendiri belum melakukannya

2.      Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya dari
contoh diatas si ibu telah membawa anaknya ke Puskesmas atau fasilitas lain untuk imunisasi
dan pada kasus kedua dia sudah mengikuti program KB
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan
respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung, dan
disebut “covert behavior”. Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respons seseorang
terhadap stimulus (practice) adalah merupakan “overt behavior

27
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah diatas adalah sebagai berikut:
1.      Bahwa peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga
perilaku individu kelompok atau masyarakat sesuai dengan nila-nilai kesehatan
2.      Konsep pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok atau masyarakat
dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah-
masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu dan lain sebagainya.
3.      Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu kedalam 3 domain (ranah
/ kawasan) yaitu :
a.       Pengetahuan
b.      Sikap atau tanggapan
c.       Praktek
4.      Bentuk perilaku kesehatan
1.      Pasif artinya mengetahui namun belum melaksanakan
2.      Aktif yaitu mengetahui dan melaksanakannya serta dapat diobservasi

B.     Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa pendidikan kesehatan itu perlu untuk
diteapkan dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya pendidikan kesehatan masyarakat
Indonesia dapat bertindak sesuai dengan ketentuan dalam kesehatan sehingga dapat mencegah
terjadinya penyakit-penyakit yang membahayakan diri sendiri.
Meskipun hasilnya akan terlihat dalam beberapa tahun kedepan, namun pendidikan ini
baik adanya untuk membantu masyarakat Indonesia terlepas dari serangan penyakit serta
terhindar dari tindakan pencegahan yang membahayakan.

28
DAFTAR PUSTAKA
 
Febroll (2012).
Pendidikan Kesehatan Sumber http://febroll.blogspot.com/2012/04/pendidikan-kesehatan.html

Geocities (2012),  Prinsip- Prinsip Pendidikan Kesehatan Sumber:


http://www.geocities.ws/klinikikm/pendidikan-perilaku/prinsip.html
 
  Notoatmodjo, Soekidjo. (2003).Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PTRineka Cipta.
 
Notoatmojo, Soekidjo. (2003).  Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.Cetakan ke-2.
Jakarta: Rineka Cipta

29