Anda di halaman 1dari 46

Materi SKB kesehatan

1. Definisi Sehat menurut UU


Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2
adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta
bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang
terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan
yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial,
maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik
(badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi.
Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling
baru. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan
batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek
fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai
pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.
2. Visi dan Misi KEMENKES
 NAWACITA
Kementerian Kesehatan berperan serta dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat
melalui agenda prioritas Kabinet Kerja atau yang dikenal dengan Nawa Cita, sebagai berikut:

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa
aman pada seluruh warga Negara.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum
yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
6. Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional.

1
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
9. Memperteguh ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

VISI
Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi Presiden Republik Indonesia yaitu
Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-
royong. Visi tersebut diwujudkan dengan 7 (tujuh) misi pembangunan yaitu:

1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang


kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara
hukum.
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai
negara maritim.
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.
5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan
berbasiskan kepentingan nasional, serta
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
NILAI-NILAI
1. Pro Rakyat
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu
mendahulukan kepentingan rakyat dan harus menghasilkan yang terbaik untuk rakyat.
Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu
hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama dan status sosial ekonomi.
2. Inklusif
Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak, karena
pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan
saja. Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang
meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat
madani dan masyarakat akar rumput.

2
3. Responsif
Program kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap
dalam mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi
geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang
berbeda-beda, sehingga diperlukan penangnganan yang berbeda pula.
4. Efektif
Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah
ditetapkan dan bersifat efisien.
5. Bersih
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.

Kekerasan pada Anak


Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan
emosional, atau pengabaian terhadap anak.[1] Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit (CDC) mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau
serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang
dihasilkan dapat membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang
berbahaya kepada anak.[2] Sebagian besar terjadi kekerasan terhadap anak di rumah anak itu
sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah, di lingkungan atau organisasi
tempat anak berinteraksi. Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap
anak: pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual
anak.
Yurisdiksi yang berbeda telah mengembangkan definisi mereka sendiri tentang apa
yang merupakan pelecehan anak untuk tujuan melepaskan anak dari keluarganya dan/atau
penuntutan terhadap suatu tuntutan pidana. Menurut Journal of Child Abuse and Neglect,
penganiayaan terhadap anak adalah "setiap tindakan terbaru atau kegagalan untuk bertindak
pada bagian dari orang tua atau pengasuh yang menyebabkan kematian, kerusakan fisik
serius atau emosional yang membahayakan, pelecehan seksual atau eksploitasi, tindakan atau
kegagalan tindakan yang menyajikan risiko besar akan bahaya yang serius".[3] Seseorang
yang merasa perlu untuk melakukan kekerasan terhadap anak atau mengabaikan anak
sekarang mungkin dapat digambarkan sebagai "pedopath".
1. Penelantaran anak

3
Penelantaran anak adalah di mana orang dewasa yang bertanggung jawab gagal untuk
menyediakan kebutuhan memadai untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk
menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk
memberikan pengasuhan atau kasih sayang), pendidikan (kegagalan untuk mendaftarkan anak
di sekolah) , atau medis (kegagalan untuk mengobati anak atau membawa anak ke dokter).

A. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah agresi fisik diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa. Hal
ini dapat melibatkan meninju, memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar,
membuat memar, menarik telinga atau rambut, menusuk, membuat tersedak atau
menguncang seorang anak.

Guncangan terhadap seorang anak dapat menyebabkan sindrom guncangan bayi yang


dapat mengakibatkan tekanan intrakranial, pembengkakan otak, cedera difus aksonal, dan
kekurangan oksigen yang mengarah ke pola seperti gagal tumbuh, muntah, lesu, kejang,
pembengkakan atau penegangan ubun-ubun, perubahan pada pernapasan, dan pupil melebar.
Transmisi racun pada anak melalui ibunya (seperti dengan sindrom alkohol janin) juga dapat
dianggap penganiayaan fisik dalam beberapa wilayah yurisdiksi.

Sebagian besar negara dengan hukum kekerasan terhadap anak mempertimbangkan


penderitaan dari luka fisik atau tindakan yang menempatkan anak dalam risiko yang jelas dari
cedera serius atau kematian tidak sah. Di luar ini, ada cukup banyak variasi. Perbedaan antara
disiplin anak dan tindak kekerasan sering kurang didefinisikan. Budaya norma tentang apa
yang merupakan tindak kekerasan sangat bervariasi: kalangan profesional serta masyarakat
yang lebih luas tidak setuju pada apa yang disebut merupakan perilaku kekerasan.

Beberapa profesional yang bertugas di bidang manusia mengklaim bahwa norma-


norma budaya yang berhubungan dengan sanksi hukuman fisik adalah salah satu penyebab
kekerasan terhadap anak dan mereka telah melakukan kampanye untuk mendefinisikan
kembali norma-norma tersebut.

Penggunaan tindak kekerasan apapun terhadap anak-anak sebagai tindakan disiplin


adalah ilegal di 24 negara di seluruh dunia[9], akan tetapi lazim dan diterima secara sosial di
banyak negara lainnya. Lihat hukuman di rumah untuk informasi lebih lanjut.

4
B. Pelecehan seksual anak

Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang
dewasa atau pelanggaran yang dilakukan oleh remaja yang lebih tua terhadap seorang anak
untuk mendapatkan stimulasi seksual.[10][11] Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta
atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya),
paparan senonoh dari alat kelamin kepada anak, menampilkan pornografi kepada anak,
kontak seksual yang sebenarnya terhadap anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak,
melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik, atau menggunakan anak untuk
memproduksi pornografi anak.

Pengaruh pelecehan seksual anak termasuk rasa bersalah dan menyalahkan diri,
kenangan buruk, mimpi buruk, insomnia, takut hal yang berhubungan dengan pelecehan
(termasuk benda, bau, tempat, kunjungan dokter, dll), masalah harga diri, disfungsi seksual,
sakit kronis , kecanduan, melukai diri sendiri, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, depresi,
gangguan stres pasca trauma, kecemasan, penyakit mental lainnya (termasuk gangguan
kepribadian). dan gangguan identitas disosiatif, kecenderungan untuk mengulangi tindakan
kekerasan setelah dewasa, bulimia nervosa, cedera fisik pada anak di antara masalah-masalah
lainnya. Sekitar 15% sampai 25% wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami
pelecehan seksual ketika mereka masih anak-anak. Kebanyakan pelaku pelecehan seksual
adalah orang yang kenal dengan korban mereka; sekitar 30% adalah keluarga dari anak,
paling sering adalah saudara, ayah, ibu, paman atau sepupu, sekitar 60% adalah kenalan
teman lain seperti keluarga, pengasuh anak, atau tetangga; orang asing adalah yang
melakukan pelanggar hanya sekitar 10% dari kasus pelecehan seksual anak.

C. Kekerasan emosional/Psikologis

Dari semua kemungkinan bentuk pelecehan, pelecehan emosional adalah yang paling
sulit untuk didefinisikan. Itu bisa termasuk nama panggilan, ejekan, degradasi, perusakan
harta benda, penyiksaan atau perusakan terhadap hewan peliharaan, kritik yang berlebihan,
tuntutan yang tidak pantas atau berlebihan, pemutusan komunikasi, dan pelabelan sehari-hari
atau penghinaan.

Korban kekerasan emosional dapat bereaksi dengan menjauhkan diri dari pelaku,
internalisasi kata-kata kasar atau dengan menghina kembali pelaku penghinaan. Kekerasan
emosional dapat mengakibatkan gangguan kasih sayang yang abnormal atau terganggu,

5
kecenderungan korban menyalahkan diri sendiri (menyalahkan diri sendiri) untuk pelecehan
tersebut, belajar untuk tak berdaya, dan terlalu bersikap pasif.

Prevalensi

Menurut Komite Nasional (Amerika) untuk Tindak Pencegahan Kekerasan pada Anak, pada
tahun 1997 pengabaian mewakili 54% kasus kekerasan terhadap anak yang terkonfirmasi,
kekerasan fisik 22%, pelecehan seksual 8%, kekerasan emosional 4% dan bentuk kekerasan
lainnya sebesar 12%.

Kematian

Sebuah kematian akibat kekerasan terhadap anak adalah ketika kematian anak adalah hasil
dari kekerasan atau kelalaian, atau bila kekerasan dan/atau pengabaian menjadi faktor yang
berkontribusi untuk kematian anak.

Penyebab

Kekerasan pada anak merupakan fenomena yang kompleks dengan penyebab yang
bermacam-macam. Memahami penyebab kekerasan sangat penting untuk mengatasi masalah
kekerasan terhadap anak.

Efek

Ada asosiasi kuat antara paparan penganiayaan anak-anak dalam segala bentuk dan tingkat
yang lebih tinggi dari kondisi kronis.

Efek psikologis

Efek pada fisik

Anak-anak yang secara fisik pelecehan cenderung menerima patah tulang terutama patah
tulang rusuk dan mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker.[31]

Pencegahan

April telah ditetapkan sebagai bulan Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak
di Amerika Serikat sejak tahun 1983. Presiden AS Barack Obama melanjutkan tradisi yang
dengan menyatakan bulan April 2009 sebagai Bulan Pencegahan Kekerasan terhadap
Anak. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah Federal Amerika Serikat dengan
menyediakan dana untuk mencegah tindak kekerasan terhadap anak adalah melalui Dana

6
Hibah Berbasis Masyarakat untuk Pencegahan Pelecehan dan Pengabaian terhadap Anak
(CBCAP).

JABATAN FUNGSIONAL PERAWAT DAN ANGKA KREDITNYA


Jabatan fungsional perawat adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas,
tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan pelayanan perawat
keperawatan pada fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya yang diduduki oleh pegawai negeri sipil.
Perawat berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional pelayanan kesehatan
atau fasilita pelayanan kesehatan lainnya dilingkungan instansi pemerintah.
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi seorang perawat, serta aplikasinya
terkait angka kredit jabfung Perawat ini, penting juga dipahami oleh perawat
beberapa pengertian tentang angka kredit, PAK, dan DUPAK.
 Perawat termasuk dalam rumpun kesehatan, berkedudukan sebagai pelaksana
teknis fungsional pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan.
 Angka Kredit, merupakan satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau
akumulasi dari butir-butir kegiatan yang harus diperoleh/dicapai oleh seorang
Pejabat Fungsional Kesehatan (PFK) sebagai salah satu syarat untuk
Pengangkatan Pertama, Kenaikan Pangkat dan Kenaikan Jabatan Pemangku
Jabatan Fungsional. Dalam hal ini Angka Kredit adalah angka yang diberikan
berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang perawat
dalam mengerjakan butir kegiatan dan digunakan sebagai salah satu syarat
untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan / pangkat perawat.
 Daftar Usul Penetapan Angka Kredit ( DUPAK ), adalah hasil keseluruhan dari
satuan nilai butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan dalam
suatu kurun waktu tertentu yang digunakan sebagai dasar penetapan angka
kredit Pejabat Fungsional Kesehatan.
 Penetapan Angka Kredit ( PAK ), adalah hasil perhitungan akhir kegiatan PJF
dalam kurun waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh Pejabat yang
Berwenang menetapkan Angka Kredit ( PBAK )
Tugas Pokok seorang Perawat adalah memberikan pelayanan berupa asuhan
keperawatan / kesehatan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat
dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit,

7
dan pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka
kemandirian dibidang keperawatan / kesehatan.
Apa perbedaan di Antara HIV dan AIDS?

A. Pengertian
HIV merupakan singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”. Virus ini
merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Jika anda terinfeksi HIV, anda akan
dikatakan sebagai HIV positif.
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, yang mana adalah pertahanan tubuh terhadap
penyakit. Jika sistem kekebalan tubuh seseorang telah dirusak oleh virus, maka akan
mengembangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Ini berarti mereka akan
mendapatkan infeksi dan penyakit yang mana tubuh mereka biasanya bisa melawan.
Didiagnosa menderita HIV bukan berarti seseorang memiliki AIDS atau mereka akan
meninggal.
Perawatan akan memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga orang
dengan HIV dapat tetap baik, hidup sehat dan memuaskan.
B. cara penularan HIV
HIV terdapat dalam cairan tubuh yaitu, darah, sperma (air mani), cairan vagina dan air susu
ibu. HIV hanya ditularkan kalau cairan tubuh seseorang HIV positif masuk ke dalam aliran
darah orang lain.
HIV hanya dapat ditularkan melalui:
Seks tanpa pengaman (seks tanpa kondom)
Pemakaian bersama jarum dan peralatan lain untuk menyuntik obat.
Tindik atau tattoo yang tidak steril.
Ibu dan anak selama masa kehamilan, persalinan dan menyusui.
Transfusi darah dan atau produk darah di beberapa negara lain. Di Australia, transfusi
darah dan produk darah termasuk aman.
C. HIV tidak dapat ditularkan melalui:
1. Batuk
2. Bersin
3. Meludah
4. Berciuman
5. Menangis (air mata)
6. Alat-alat makan dan piring
7. Seprei dan sarung bantal
8. Toilet dan kamar mandi
9. Melalui kontak sosial biasa.
10. Serangga, seperti nyamuk misalnya.
D. Bagaimana saya meghindari HIV?
1. Seks
HIV dapat ditularkan melalui luka yang tak terlihat dan goresan pada permukaan
vagina, penis atau anus ketika berbungan seks tanpa kondom (seks tanpa kondom) dengan
orang yang memiliki HIV.

8
Untuk menghindari tertularnya HIV, lakukanlah seks secara aman:
Menggunakan kondom dan pelicin berbahan dasar air (‘water based’) seperti ‘KY jelly’ atau
‘Wetstuff’ (bersifat basah) setiap berhubungan seks melalui lubang anus atau vagina. Ini juga
melindungi Anda dari sebagian besar infeksi menular seksual lainnya.
Bagaimana cara menggunakan kondom:

1. Membuka paket dengan hati-hati agar kondom tidak tersobek. Tarik kemasan hati-h

2. Menekan ujung kondom di antara jari dan jempol agar tidak ada angin dan menggu
bawah penis

3. Pada saat kondom dipasang gunakan pelicin yang berbahan dasar air (wáter based).

4. Setelah ejakulasi memegang kondom dengan baik-baik ketika mengeluarkan penis a


keluar.

5. Ikat kondom yang sudah terpakai dan buang di tempat sampah. Jangan memakai ula

2. Peralatan Suntik, Tindik atau Tato


HIV dapat ditularkan melalui berbagi jenis jarum suntik, dan dengan memiliki tindik
tubuh dan tato yang dilakukan dengan jarum bekas.
Untuk menghindari penularan HIV sewaktu menyuntik narkoba:
Jangan berbagi jarum, jarum suntik atau peralatan suntik lainnya.
Untuk menghindari penularan HIV ketika memiliki tindik tubuh dan tato:
Pergi ke studioyang memilikisurat ijin (tempat terdaftar) di mana jarum dan peralatan lainnya

9
disterilkan atau dibuang setelah digunakan. Ini juga melindungi Anda dari virus lain seperti
hepatitis B dan hepatitis C.
3. Ibu ke Anaknya
Tanpa pengobatan yang efektif, HIV dapat ditularkan dari ibu HIV positif kepada
anaknya selama kehamilan, persalinan, atau dalam masa menyusui. Di Australi sebagai
pengobatan HIV sudah tersedia dan ibu dengan HIV dapat melahirkan secara caesar sehingga
sangat jarang mereka menularkan HIV kepada bayi mereka. Jika Anda memiliki HIV, dan
Anda sedang hamil atau berencana untuk memiliki bayi, penting untuk berbicara dengan
dokter Anda sesegera mungkin.
4. Transfusi Darah atau Produk Darah
Di Australia, transfusi darah adalah aman. Darah yang disumbangkan dan semua
produk darah diperiksa apakah terdapat HIV, dan orang-orang yang positif HIV tidak bisa
mendonorkan darah. Akan tetapi, transfusi darah di beberapa negara di luar negeri mungkin
tidak aman.
D. Bagaimana HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia?
HIV adalah virus. Virus adalah kuman kecil yang dapat masuk kedalam tubuh dan
menyebabkan penyakit. Virus-virus ditularkan dari orang kepada orang lain melalui cara
yang berbeda-beda dan menyebabkan berbagai macam jenis penyakit. Misalnya, flu
menyebar melalui udara, herpes melalui kontak fisik dan polio melalui minum air yang
terkontaminasi. Namun, HIV hanya ditularkan ketika cairan tubuh dari seseorang yang hidup
dengan HIV memasuki aliran darah orang lain.
 Sistim kekebalan tubuh
Sistem kekebalan tubuh adalah sistem pertahanan alami tubuh Anda. Sistim kekebalan tubuh
ini akan melindungi tubuh Anda terhadap infeksi dan penyakit. Sistim ini terdiri dari banyak
sel yang berbeda yang bekerja sama untuk menemukan dan menghancurkan virus, bakteri
dan kuman lain yang menyebabkan infeksi dan penyakit. Sel darah putih (atau disebut CD4
T-sel) adalah sel-sel sistem kekebalan tubuh yang penting yang membantu
mengkoordinasikan sistem kekebalan tubuh Anda.
 Apa yang dilakukan HIV
HIV menyerang sel sistem kekebalan tubuh. Secara khusus, menginfeksi dan menggunakan
sel CD4 sebagai 'pabrik' untuk mereproduksi dan menghancurkan sel-sel CD4 yang sedang
berproses. Semakin hancur sel CD4, akan semakin lemah sistim kekebalan tubuhnya. Jika
sistem kekebalan tubuh semakin melemah, risiko mengembangkan infeksi dan penyakit
menjadi lebih besar. Seiring berjalannya waktu, dan tanpa pengobatan, jumlah sel CD4 dapat
menjadi begitu sangat rendah dan dapat menyebabkan seseorang mengembangkan AIDS.
 Respon tubuh Anda
Untuk melawan HIV, tubuh Anda akan memproduksi antibodi. Namun, antibodi tidak dapat
bersaing dengan jumlah virus yang direproduksi. Melakukan perawatan akan membantu
tubuh Anda melawan virus secara efektif.

10
Siklus hidup HIV

1. 1. HIV di dalam aliran darah.

2. 2 & 3. Virus mencantelkan diri dan memasuki sel CD4-T

3. 4. Virus melepaskan informasi keturunannya ke dalam sel.

4. 5. Melalui sebuah proses yang unik informasi tersebut menjadi bagian dari sel CD4-T

5. 6. Sel CD4-T ini sudah terinfeksi HIV selama-lamanya

6. 7. Virusnya mulai mengkopikan diri

7. 8. Akhirnya sel-sel ini meledak. Ribuan virus baru dilepas ke dalam aliran darah.
Virus baru ini akan menginfeksikan sel CD4-T.

INFORMED CONSENT

Informed Consent terdiri dari beberapa jenis, berikut menurut kepentingan penggunaannya:


Informed Consent dalam prosedural medis
 Adalah suatu persetujuan pasien terhadap tindakan medis yang akan dilakukan
kepada diri pasien, tertuang dalam suatu dokumen vital yang ditandatangani
 Informed Consent ini juga disebut sebagai ‘persetujuan tindakan kedokteran’
 Sebagian besar keterangan Informed Consent dalam artikel ini adalah mengenai hal
ini
Informed Consent dalam praktik klinis
 Adalah suatu persetujuan pasien terhadap penggunaan informasi personal pasien
untuk suatu kepentingan tertentu
Informed Consent dalam penelitian ilmiah, seperti uji coba klinis, atau clinical trial
 Adalah suatu persetujuan seorang subyek penelitian, untuk berpartisipasi dalam
suatu uji coba klinis, yang akan dilakukan kepada diri subyek tersebut
 Persetujuan ini tertuang dalam suatu dokumen vital yang mesti ditandatangani
Informed Consent yang diwakilkan

11
 Dalam hal ini, Informed Consent tidak selalu dapat diperoleh langsung dari seorang
pasien/subyek
 Karenanya, Informed Consent biasanya diperoleh dari keluarga pasien/subyek
tersebut, atau wali yang memiliki otoritas/legalitas untuk memberikan persetujuan tersebut
Informed Consent Anak
 Berdasarkan Undang-Undang nomor 35 tahun 2014, yang dimaksud dengan Anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun
 Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, pasal 330, seseorang yang berumur
21 tahun, atau lebih, atau telah menikah dianggap sebagai orang dewasa sehingga dapat
memberikan persetujuan
 Anak yang masih kecil dapat mengerti proses prosedur medis yang simpel beserta
potensial konsekuensinya, seperti misalnya perawatan luka
 Namun, untuk suatu tindak medis yang lebih kompleks, seperti kemoterapi, pungsi
lumbal, anak kecil ini belum dapat mengkonseptualkan prosedur medis ini
o Karenanya, anak kecil dianggap tidak dapat memberikan suatu Informed
Consent untuk hal medis yang lebih kompleks
o Maka, orangtua, atau wali yang berlegalitas, memiliki otoritas untuk
memberikan persetujuan ini
 Dalam melakukan uji coba penelitian kepada anak-anak, umumnya diminta
persetujuan bukan hanya dari orangtua, tapi juga dari subyek penelitian, yaitu anak tersebut.
o Seorang anak tetap memiliki hak untuk menentukan dan memutuskan apa
yang hendak dilakukan terhadap dirinya
o Hal ini tertuang dalam suatu keputusan, yang disebut sebagai Informed
Assent
o Di negara Amerika Serikat, terdapat rekomendasi suatu peraturan usia anak
menurut perkembangan kognitifnya, dalam kompetensi anak tersebut memutuskan apakah
mau turut serta berpartisipasi sebagai subyek dalam suatu penelitian, yang disebut
sebagai Rule of Sevens
Rule of Sevens, membagi kehidupan anak menjadi tiga bagian, yaitu:
 Lahir – usia 7 tahun: perkembangan kognitif yang kurang matang pada anak kisaran
usia ini, untuk dapat mengambil keputusan secara otonom
 Usia 7 – 14 tahun: kisaran usia ini, anak dianggap dapat untuk membedakan mana
yang benar, atau tidak
 Usia 14 – 21 tahun: pada kisaran usia ini, anak secara legal, memiliki tanggungjawab
sosial akan sikap perilakunya di masyarakat, dan keluarga
Namun, sekali lagi, batasan usia anak tidaklah menjadi pedoman yang pasti. Pada akhirnya,
dokterlah yang dapat memutuskan kompetensi seorang anak untuk memutuskan hal-hal
yang lebih kompleks
Informed Consent Penderita Gangguan Mental

12
 Merupakan suatu tantangan dalam memperoleh Informed Consent dari seorang
pasien psikiatrik untuk menilai kompetensi pasien tersebut
 Penting untuk diingat bahwa seseorang dengan gangguan mental, tidak selalu
inkompeten untuk menyetujui pengobatan
 Adanya laporan ilmiah yang menunjukkan bahwa kebanyakan pasien yang dirawat
dengan penyakit mental, memiliki kapasitas/kompetensi yang sama untuk membuat
keputusan mengenai pengobatan, sebagaimana para pasien dengan kondisi medis lainnya
 Seorang pasien dengan gangguan mental yang berat, mungkin tidak kompeten pada
beberapa aspek, namun kompeten pada aspek lainnya, seperti kemampuan untuk
memutuskan suatu pengobatan bagi dirinya, contohnya:
o Seorang pasien skizofrenia dan paranoid delusi, yang mengalami serangan
jantung, dapat memutuskan perihal tindakan/pengobatan medis bagi dirinya
o Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290 tahun
2008, penilaian terhadap kompetensi pasien dalam hal persetujuan tindakan medis, dapat
dilakukan oleh dokter, sebelum tindakan tersebut dilakukan
o Dalam hal pasien tidak kompeten, maka keluarga terdekat dapat mewakili
memberikan persetujuan
Pasien yang koma atau disedasi
Informed Consent Pasien dengan kesadaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
untuk memutuskan sesuatu hal, misalnya dalam keadaan koma, atau pasien yang disedasi
 Persetujuan dapat diminta dari keluarga, atau pengasuh, atau seseorang yang
bertanggungjawab terhadap seorang pasien yang tidak sadarkan diri
 Dalam hal kegawatdaruratan untuk tindak medis yang mesti diambil dalam upaya
menyelamatkan pasien tersebut
Prasyarat pasien dewasa memberikan consent:
 Pasien haruslah kompeten untuk memberikan consent
 Pasien menyadari keadaan dirinya, dan mampu berpikir secara jernih
Memperoleh suatu consent, tidak hanya suatu kewajiban bernilai etik, tapi juga perlu secara
hukum. Karena itu, telah diakui secara luas bahwa Informed Consent merupakan suatu
elemen yang diperlukan untuk melakukan suatu praktik klinis yang baik
Etika dan Hukum
Konsep Informed Consent adalah sebagai berikut:
Aspek Etika:
 Berdasar pada prinsip etika, yaitu otonomi pasien, dan hak asasi dasar manusia
 Pasien memiliki kebebasan mutlak, untuk:
o Memutuskan apa yang terjadi pada dirinya
o Mengumpulkan informasi sebelum menjalani suatu prosedur tindak medis
 Tidak seorangpun berhak untuk memaksa seorang pasien untuk menjalani suatu
tindak medis tertentu
 Bahkan seorang dokter, hanya sebagai fasilitator dalam hal keputusan medis pasien

13
 Lebih jauh, penelitian-penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para dokter tidak selalu
benar dalam menebak keinginan pasien
 Maka, konsekuensinya para dokter seharusnya tidak berasumsi mengenai apa yang
diinginkan pasien
 Akan tetapi, menanyakan setiap pasien terlebih dahulu mengenai sikap mereka
terhadap terapi untuk perpanjang hidup, seperti resusitasi kardiopulmonal, dalam hal untuk
memenuhi kewajiban etika ini, adalah tidak realistik
 Kebanyakan pasien memiliki keinginan besar untuk hidup dan berharap dokter
melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri mereka, atau memperpanjang hidup
 Meski demikian, dokter semestinya berkonsentrasi pada pasien lanjut usia yang
mengindikasikan bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang buruk, atau tidak ada
keinginan untuk hidup lebih lama, atau pasien yang menderita sakit sangat berat
 Sehingga hal tersebut di atas menjadikan para dokter berasumsi bahwa pasien yang
tidak masuk kategori ini, akan memilih resusitasi kardiopulmonal
Aspek Hukum:
 Secara umum, menyentuh, atau melakukan suatu intervensi secara fisik kepada
seseorang, tanpa ada “persetujuan” daripadanya, dianggap sebagai penganiayaan
 Karenanya, memperoleh “consent” adalah suatu keharusan dalam suatu tindakan
medis/penelitian, selain daripada pemeriksaan fisik rutin pada pasien yang datang untuk
berobat ke dokter
 Dalam hal pemeriksaan fisik dan investigasi medis yang rutin dan umum
dilakukan, tidak diperlukan consent tertulis, karena pasien yang datang ke tempat praktik
dokter untuk berobat, adalah suatu consent dari pasien tersebut secara implisit
o Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, tindakan medis
rutin seperti penjahitan luka kecil, dapat menjadi masalah bagi seorang dokter IGD
 Tanpa consent tertulis yang menjelaskan perihal perlunya rujukan ke dokter bedah
plastik, pasien/keluarganya dikemudian hari dapat menuntut
 Karena luka sembuh dengan jaringan parut, sehingga secara estetika kulit bekas
luka tersebut tampak buruk
 Demikian halnya kepada seseorang yang mengalami kegawatdaruratan/tidak
sadarkan diri, misalnya karena kecelakaan
o Dalam situasi ini, tindakan medis dapat segera dilakukan dokter, untuk
menyelamatkan nyawa pasien tersebut, tanpa harus meminta consent tertulis
Proses Informed Consent
Konseling
Konseling pasien adalah penting dalam memperoleh persetujuan pasien untuk tindakan
medis/penelitian
 Konseling pasien ini merupakan suatu diskusi antara dokter dan pasien, untuk
menyampaikan informasi medis berkenaan dengan suatu prosedur medis/penelitian yang
akan dijalani oleh pasien tersebut, termasuk perihal potensial risiko, atau komplikasinya

14
 Informed Consent mesti didahului dengan menyingkapkan informasi yang adekuat
 Dokter/peneliti juga penting untuk menilai kompetensi dan pengertian pasien/subyek
dalam menerima informasi yang diberikan
 Persetujuan pasien/subyek dapat menjadi tantangan dalam praktiknya di lapangan,
dimana informasi yang adekuat tidak diungkapkan
 Infomasi yang adekuat berguna, agar pasien dapat mengambil suatu keputusan
yang benar, dan berdasar atas pengetahuan yang diinformasikan kepadanya
 Oleh sebab itu, informasi yang relevan, adekuat, dan akurat mesti diberikan secara
jujur, tertuang dalam suatu kertas formulir, tertulis kata-kata yang non-ilmiah, dan tidak dalan
istilah kedokteran, dengan bahasa yang dapat dimengerti pasien/subyek
Seorang individu dikatakan memberikan suatu Informed Consent yang valid, apabila
tercantum tiga komponen berikut ini:
Disclosure
 Kondisi/gangguan/penyakit yang diderita pasien
 Perlunya dilakukan tes yang lebih lanjut
 Penyebab kondisi pasien, dan komplikasi yang mungkin terjadi
 Konsekuensi apabila tidak diobati
 Opsi pengobatan yang tersedia
 Potensial risiko dan manfaat terhadap opsi pengobatan
 Lama dan perkiraan biaya pengobatan
 Hasil, atau outcome yang diharapkan
 Perlunya follow-up
 Tingkat disclosure ini, hendaknya berupa kasus spesifik
Capacity
 Juga disebut sebagai kompetensi
 Menunjuk pada kemampuan subyek untuk mengerti informasi yang diberikan dan
membentuk suatu keputusan yang beralasan, berdasar pada potensial konsekuensi atas
keputusan tersebut
 Pasien mesti diberikan kesempatan untuk bertanya dan mengklarifikasi seluruh
keraguannya
 Tidak boleh ada sedikitpun paksaan
Voluntariness
 Consent mestilah sukarela
 Pasien juga seharusnya memiliki kebebasan untuk membatalkan consent yang
telah disetujuinya, yang disebut sebagai Informed Refusal
 Consent yang diberikan atas dasar rasa takut akan cedera, atau intimidasi,
miskonsepsi, atau salah memberikan fakta, dapat dianggap invalid
Dokumentasi Informed Consent
Dokumentasi Informed Consent haruslah mengikuti aturan, dibuat dalam bentuk dan isi yang
terstandar.

15
Dokumentasi harus mencantumkan tanggal, dan ditandatangani oleh:
 Dalam tindakan medis:
o Pasien
o Dokter
o Pengasuh
o Seorang saksi yang independen
 Dalam penelitian ilmiah:
o Principal Investigator
o Subyek penelitian
o Pengasuh
o Seorang saksi yang independen
 Seperti layaknya rekam medis, maka dokumentasi ini biasanya disimpan sedikitnya
tiga tahun
Apabila setelah informasi diberikan, pasien menolak untuk menjalankan suatu tindakan
medis/pengobatan, maka hendaknya dokter juga mesti memperoleh dokumentasi tersebut,
dan meminta tanda tangan pasien pada suatu formulir penolakan pasien, yang menyatakan
segala risiko telah dijelaskan
Tanggung Jawab Moral Profesi Medis/Peneliti
 Meski Informed Consent telah diperoleh, namun tidak menjadikan seorang dokter
menghindari tanggunjawabnya secara hukum
 Informed Consent tidak berarti bahwa tanggungjawab untuk keputusan akhir berada
pada pihak pasien
 Dalam praktik klinis, dokter diminta untuk memandu pasien kepada suatu keputusan,
dan memberikan rekomendasi
 Lebih jauh, pasien tidak selalu menanyakan hal-hal yang detail untuk membuat suatu
keputusan
 Hal ini dapat terjadi pada situasi tertentu, dimana keputusan berhubungan dengan
hidup, atau mati, atau ketika hanya ada satu alternatif medis, contohnya:
o Resipien yang berpotensial menerima implan cardioverter-defibrillator
o Umumnya resipien ini beranggapan mudah untuk menyetujui pengobatan ini,
berdasarkan informasi yang mengatakan bahwa alat tersebut adalah pengobatan yang
terbaik, yang tersedia untuk mencegah kematian, yang disebabkan oleh kardia aritmia
Seorang dokter hanya dapat mewaspadai secara adekuat dalam melakukan suatu tindak
medis kepada pasien, dengan tidak menyingkirkan jiwa melayani, dan ketekunan.
Meski demikian, menjalin hubungan yang baik dengan pasien, seringkali memberikan hasil
yang lebih baik dibanding Informed Consent yang terbaik yang dapat diperoleh.

Latar belakang timbulnya Malpraktek

16
Pelayanan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan pencegahan dan
pengobatan terhadap penyakit, termasuk didalamnya pelayanan medis yang dilaksanakan atas
dasar hubungan individual antara dokter dengan pasien yang membutuhkan penyembuhan.
Dalam hubungan antara dokter dan pasien tersebut terjadi transaksi terapeutik artinya
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban. Dokter berkewajiban memberikan
pelayanan medis yang sebaik-baiknya bagi pasien. Pelayanan media ini dapat berupa
penegakan diagnosis dengan benar sesuai prosedur, pemberian terapi, melakukan tindakan
medik sesuai standar pelayanan medik, serta memberikan tindakan wajar yang memang
diperlukan untuk kesembuhan pasiennya. Adanya upaya maksimal yang dilakukan dokter ini
adalah bertujuan agar pasien tersebut dapat memperoleh hak yang diharapkannya dari
transaksi yaitu kesembuhan ataupun pemulihan kesehatannya.             Namun adakalanya
hasil yang dicapai tidak sesuai dengan harapan masing-masing pihak. Dokter tidak berhasil
menyembuhkan pasien, adakalanya pasien menderita cacat atau bahkan sampai terjadi
kematian dan tindakan dokterlah yang diduga sebagai penyebab kematian tersebut. Dalam hal
terjadi peristiwa yang demikian inilah dokter sering kali dituduh melakukan kelalaian yang
pada umumnya dianggap sebagai malpraktek.

Jenis Malpraktek
1. Malpraktek Etik

Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah dokter melakukan tindakan yang bertentangan
dengan etika kedokteran. Sedangkan etika kedokteran yang dituangkan da dalam KODEKI
merupakan seperangkat standar etis, prinsip, aturan atau norma yang berlaku untuk dokter.

Ngesti Lestari berpendapat bahwa malpraktek etik ini merupakan dampak negative dari
kemajuan teknologi kedokteran. Kemajuan teknologi kedokteran yang sebenarnya bertujuan
untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, dan membantu dokter untuk
mempermudah menentukan diagnosa dengan lebih cepat, lebbih tepat dan lebih akurat
sehingga rehabilitasi pasien bisa lebih cepat, ternyata memberikan efek samping yang tidak
diinginkan.

Efek samping ataupun dampak negative dari kemajuan teknologi kedokteran tersebut antara
lain :

 Kontak atau komunikasi antara dokter dengan pasien semakin berkurang


 Etika kedokteran terkontaminasi dengan kepentingan bisnis.
 Harga pelayanan medis semakin tinggi, dsb.
17
Contoh konkrit penyalahgunaan kemajuan teknologi kedokteran yang merupakan malpraktek
etik ini antara lain :

 Dibidang diagnostic

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap pasien kadangkala tidak diperlukan


bilamana dokter mau memeriksa secara lebih teliti. Namun karena laboratorium memberikan
janji untuk memberikan “hadiah” kepada dokter yang mengirimkan pasiennya, maka dokter
kadang-kadang bisa tergoda juga mendapatkan hadiah tersebut.

 Dibidang terapi

Berbagai perusahaan yang menawarkan antibiotika kepada dokter dengan janji kemudahan
yang akan diperoleh dokter bila mau menggunakan obat tersebut, kadang-kadang juga bisa
mempengaruhi pertimbangan dokter dalam memberikan terapi kepada pasien. Orientasi terapi
berdasarkan janji-janji pabrik obat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan indikasi yang
diperlukan pasien juga merupakan malpraktek etik.

1. Malpraktek Yuridik

Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridik ini menjadi :

1. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)


Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi perjanjian
(wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh dokter atau tenaga kesehatan lain, atau
terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechmatige daad) sehingga menimbulkan
kerugian pada pasien.

Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa :

 Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.


 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melaksanakannya.
 Melakukan apa yang menurut  kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah memenuhi
beberapa syarat seperti :

18
 Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)
 Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak tertulis)
 Ada kerugian
 Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang melanggar
hukum dengan kerugian yang diderita.
 Adanya kesalahan (schuld)

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena kelalaian dokter,
maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsure berikut :

 Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.


 Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
 Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.
 Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.
Namun adakalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan adanya kelalaian dokter. Dalam
hukum ada kaidah yang berbunyi “res ipsa loquitor” yang artinya fakta telah berbicara.
Misalnya karena kelalaian dokter terdapat kain kasa yang tertinggal dalam perut sang pasien
tersebut akibat tertinggalnya kain kasa tersebut timbul komplikasi paksa bedah sehingga
pasien harus dilakukan operasi kembali. Dalam hal demikian, dokterlah yang harus
membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.
1. Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice)

Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat dokter atau tenaga
kesehatan lainnya kurang hati-hati atua kurang cermat dalam melakukan upaya penyembuhan
terhadap pasien yang meninggal dunia atau cacat tersebut.

1. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional)

Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis, euthanasia,


membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan pertolongan pada kasus gawat padahal
diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa menolong, serta memberikan surat keterangan
dokter yang tidak benar.

1. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness)


Misalnya melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai dengan standar profesi
serta melakukan tindakn tanpa disertai persetujuan tindakan medis.
1. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence)

19
Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai akibat tindakan dokter yang kurang
hati-hati atau alpa dengan tertinggalnya alat operasi yang didalam rongga tubuh pasien.

1. Malpraktek Administratif (Administrative Malpractice)

Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan pelanggaran terhadap hukum
Administrasi Negara yang berlaku, misalnya menjalankan praktek dokter tanpa lisensi atau
izinnya, manjalankan praktek dengan izin yang sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek
tanpa membuat catatan medik.

Pertanggung jawaban dalam Hukum Pidana


Untuk memidana seseorang disamping orang tersebut melakukan perbuatan yang dilarang
dikenal pula azas Geen Straf Zonder Schuld (tiada pidana tanpa kesalahan). Azas ini
merupakan hukum yang tidak tertulis tetapi berlaku dimasyarakat dan juga berlaku dalam
KUHP, misalnya pasal 48 tidak memberlakukan ancaman pidana bagi pelaku yang
melakukan perbuatan pidana karena adanya daya paksa. Oleh karena itu untuk dapat
dipidananya suatu kesalahan yang dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban dalam hukum
pidana haruslah memenuhi 3 unsur, sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak artinya keadaan jiwa
petindak harus normal.
2. Adanya hubungan batin antara petindak dengan perbuatannya yang dapat berupa
kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).
3. Tidak adanya alas an penghapus kesalahan atau pemaaf.

Perbedaaan kesengajaan dan kealpaan.

Mengenai kesengajaan, KUHP tidak menjelaskan apa arti kesengajaan tersebut.


Dalam Memorie van Toelichting (MvT), kesengajaan diartikan yaitu melakukan perbuatan
yang dilarang dengan dikehendaki dan diketahui.
Dalam tindakannya, seorang dokter terkadang harus dengan sengaja menyakiti atau
menimbulkan luka pada tubuh pasien, misalnya : seorang ahli dokter kandungan yang
melakukan pembedahan Sectio Caesaria untuk menyelamatkan ibu dan janin. Ilmu
pengetahuan (doktrin) mengartikan tindakan dokter tersebut sebagai penganiayaan karena arti
dan penganiayaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk
menimbulkan rasa sakit atau luka pada orang lain. Didalam semua jenis pembedahan
sebagaimana sectio caesare tersebut, dokter operator selalu menyakiti penderita dengan
menimbulkan luka pada pasien yang jika tidak karena perintah Undang-Undang “si pembuat
20
luka” dapat dikenakan sanksi pidana penganiayaan. Oleh karena itu, didalam setiap
pembedahan, dokter operator haruslah berhati-hati agar luka yang diakibatkannya tersebut
tidak menimbulkan masalah kelak di kemudian hari. Misalnya terjadi infeksi nosokomial
(infeksi yang terjadi akibat dilakukannya pembedahan) sehingga luka operasi tidak bisa
menutup. Bila ini terjadi dokter dianggap melakukan kelalaian atau kealpaan.

Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang tidak berupa kesengajaan, akan tetapi juga
bukan sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Dalam kealpaan sikap batin seseorang
menghendaki melakukan perbuatan akan tetapi sama sekali tidak menghendaki ada niatan
jahat dari petindak. Walaupun demikian, kealpaan yang membahayakan keamanan dan
keselamatan orang lain tetap harus dipidanakan.

Moeljatno menyatakan bahwa kesengajaan merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan
dengan menentang larangan, sedangkan kealpaan adalah kekurang perhatian pelaku terhadap
obyek dengan tidak disadari bahwa akibatnya merupakan keadaan yang dilarang, sehingga
kesalahan yang berbentuk kealpaan pada hakekatnya sama dengan kesengajaan hanya
berbeda gradasi saja.

Untuk penanganan bukti-bukti hukum tentang kesalahan atau kealpaan atau kelalaian dokter
dalam melaksanakan profesinya dan cara penyelesaiannya banyak kendala yuridis yang
dijumpai dalam pembuktian kesalahan atau kelalaian tersebut. Masalah ini berkait dengan
masalah kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh orang pada umumnya sebagai anggota
masyarakat, sebagai penanggung jawab hak dan kewajiban menurut ketentuan yang berlaku
bagi profesi. Oleh karena menyangkut 2 (dua) disiplin ilmu yang berbeda maka metode
pendekatan yang digunakan dalam mencari jalan keluar bagi masalah ini adalah dengan cara
pendekatan terhadap masalah medik melalui hukum. Untuk itu berdasarkan Surat Edaran
Mahkamah Agung Repiblik Indonesia (SEMA RI) tahun 1982, dianjurkan agar kasus-kasus
yang menyangkut dokter atau tenaga kesehatan lainnya seyogyanya tidak langsung diproses
melalui jalur hukum, tetapi dimintakan pendapat terlebih dahulu kepada Majelis Kehormatan
Etika Kedokteran (MKEK).

Majelis Kehormatan Etika Kedokteran merupakan sebuah badan di dalam struktur organisasi
profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). MKEK ini akan menentukan kasus yang terjadi
merpuakan pelanggaran etika ataukah pelanggaran hukum. Hal ini juga diperkuat dengan UU
No. 23/1992 tentang kesehatan yang menyebutkan bahwa penentuan ada atau tidaknya 

21
kesalahan atau kelalaian ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (pasal 54 ayat 2)
yang dibentuk secara resmi melalui Keputusan Presiden (pasal 54 ayat 3).

Pada tanggal 10 Agustus 1995 telah ditetapkan Keputusan Presiden No. 56/1995 tentang
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) yang bertugas menentukan ada atau tidaknya
kesalahan atau kelalaian dokter dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. Lembaga ini
bersifat otonom, mandiri dan non structural yang keanggotaannya terdiri dari unsur Sarjana
Hukum, Ahli Kesehatan yang mewakili organisasi profesi dibidang kesehatan, Ahli Agama,
Ahli Psikologi, Ahli Sosiologi. Bila dibandingkan dengan MKEK, ketentuan yang dilakukan
oleh MDTK dapat diharapkan lebih obyektif, karena anggota dari MKEK hanya terdiri dari
para dokter yang terikat kepada sumpah jabatannya sehingga cenderung untuk bertindak
sepihak dan membela teman sejawatnya yang seprofesi. Akibatnya pasien tidak akan merasa
puas karena MKEK dianggap melindungi kepentingan dokter saja dan kurang memikirkan
kepentingan pasien.

Tenaga Kesehatan
Pengertian tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
kesehatan, serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.
Menurut World Health Organization (WHO), pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)
kesehatan adalah semua orang yang kegiatan pokoknya ditujukan untuk meningkatkan
kesehatan. Mereka terdiri atas orang-orang yang memberikan pelayanan kesehatan seperti
dokter, perawat, apoteker, teknisi laboratorium, manajemen, serta tenaga pendukung seperti
bagian, administrasi, keuangan, sopir, dan lain sebagainya.  Secara kasar, WHO
memperkirakan dua pertiga SDM kesehatan di dunia adalah orang-orang yang memberikan
pelayanan kesehatan dan sepertiganya adalah tenaga pendukung dan manajemen kesehatan.
Sedangkan pengertian SDM kesehatan menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009
adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis, dan tenaga kesehatan
nonprofesi, serta tenaga pendukung/ penunjang kesehatan, yang terlibat dan bekerja serta
mengabdikan dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan. 
Tenaga kesehatan strategis di sini merupakan tenaga kesehatan yang mempunyai peran
yang besar bagi pelayanan kesehatan. Unsur-unsur dalam SDM kesehatan meliputi SDM
kesehatan itu sendiri, sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan, serta
penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM.

22
Jenis Tenaga Kesehatan dan Organisasi Profesi
Sejarah panjang dalam perkembangan SDM kesehatan telah memberikan warna
tersendiri bagi kemandirian suatu profesi. Tidak dapat dipungkiri, profesi tertua dibidang
kesehatan adalah kedokteran yang diikuti dengan hadirnya profesi kesehatan lainnya seperti
perawat, bidan, dan jenis tenaga kesehatan yang lain.
Beberapa macam jenis tenaga kesehatan dan profesinya, antara lain: 
 Tenaga medis (dokter dan dokter gigi), 
 Tenaga keperawatan (perawat dan bidan), 
 Tenaga kefarmasian (apoteker, analis farmasi, dan asisten apoteker), Tenaga kesehatan
masyarakat (epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan, mikro
 biolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan, dan sanitarian),
 Tenaga gizi (nutrisionis dan dietisien), 
 Tenaga keterapian fisik (fisioterapis, okupasiterapis, dan terapis wicara)
 Tenaga keteknisian medis (radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis,
analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi, dan perekam
medis). 
SDM kesehatan dapat dikatakan merupakan “jantung” dari Sistem Kesehatan Nasional
(SKN). Namun, tanpa adanya tenaga yang menjadi penggerak dan melayani, maka pilar-pilar
yang lain dalam SKN menjadi tidak berjalan, begitu juga sebaliknya.
Vaksinasi dan Imunisasi

1. Vaksinasi

Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke tubuh manusia untuk mendapatkan


efek kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin itu sendiri merupakan bakteri dan virus
yang telah dilemahkan. Sebenarnya vaksinasi merupakan bagian dari imunisasi. Ini
merupakan tindakan yang dilakukan sebelum imunisasi.
2. Imunisasi
Imunisasi merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap
suatu penyakit. Ada dua jenis imunisasi, yaitu aktif (vaksinasi) dan pasif (ASI atau antibodi
bawaan dari ibu saat masih di dalam kandungan). Menurut peraturan Menteri Kesehatan,
imunisasi wajib diberikan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan dalam pedoman
penyelenggaraan imunisasi. Imunisasi wajib terdiri dari:
1. Imunisasi rutin.

23
Imunisasi rutin adalah imunisasi yang dilakukan terus-menerus, sesuai dengan jadwal.
Imunisasi rutin terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan.
a. Imunisasi dasar diberikan pada bayi di bawah usia 1 tahun. Beberapa jenis imunisasi
dasar antara lain:  Bacillus Calmette Guerin (BCG), Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis
B (DPT-HB), Hepatitis B pada bayi baru lahir, Polio, dan Campak.
b. Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat
kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi lanjutan diberikan pada:
 Anak usia bawah tiga tahun (Batita)
 Anak usia sekolah dasar
 Wanita usia subur
2. Imunisasi tambahan
Imunisasi tambahan diberikan pada kelompok usia tertentu yang paling berisiko terkena
penyakit.
3. Imunisasi khusus
Imunisasi khusus merupakan kegiatan imunisasi yang dilakukan untuk melindungi
masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu. Misalnya pada persiapan
keberangkatan calon jemaah haji atau umroh, persiapan perjalanan menuju negara endemis
penyakit tertentu dan kondisi kejadian luar biasa.
Imunisasi adalah sebuah program kegiatan dalam mencegah penyakit menular
yang dilakukan dengan pemberian vaksin pada manusia, sehingga mereka adapat
resisten terhadap virus atau penyakit yang hendak menyerang. Imunisasi adalah
program yang dapat kita lakukan semenjak bayi hingga usia anak sekolah.  Anak
akan diberikan vaksinasi yang mengandung virus atau bakteri yang sudah
dilemahkan untuk merangsang sistem imun anak agar dapat membentuk antibodi
atau daya tahan tubuh yang kuat pada tubuh mereka. Dan antibodi yang sudah
terbentuk atau lebih kuat, akan bermanfaat bagi tubuh anak agar terhindar dari
serangan virus ataupun bakteri yang akan datang di kemudian hari.
(Dr. Richard Moskowitz, Harvard University) “Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi
menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem
imun”.

Dengan memberikan imunisasi maka bayi atau anak memiliki kekebalan tubuh yang
lebih kuat, sehingga mereka siap dan mampu untuk menghadapi gejala munculnya

24
penyakit di masa mendatang seperti campak, polio, cacar, gondok, atau tetanus,
dan lainnya sesuai dengan jenis vaksin yang pernah diberikan pada anak. Selain itu
imunisasi juga dapat mencegah jenis penyakit menular.

Pada umumnya imunisasi akan menimbulkan efek samping yang ringan. Namun
orangttua kerap kali merasakan khawatir ketika anaknya akan menerima vaksinasi.
Hal ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena efek samping dari imunisasi
tergolong ringan.

Efek Samping Dari Imunisasi

 Nyeri pada bagian yang disuntik


 Timbul bekas suntikan
 Mual / Muntah
 Demam
 Lemas
 Hilang nafsu makan
 Pusing disertai demam

Hak anak untuk memperoleh imunisasi juga di atur negera melalui Undang-Undang
Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Di dalam undang-undang tersebut dinyatakan
bahwa, setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan
untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi dan
pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak.
Penyelenggaran imunisasi tertuang dalam peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42
Tahun 2013.

Jenis-Jenis Imunisasi Untuk Anak


Menjaga kesehatan anak tidak hanya memberikan makanan yang bergizi, namun
memberikan imunisasi sesuai usianya juga penting. Dengan diaturnya program
imunisasi dalam Undang-Undang kesehatan dan Konvensi Hak Anak dalam PBB,
maka sudah menjadi tanggungjawab pemerintah dan orang tua untuk wajib
memberikan imunisasi guna menjaga kesehatan anak-anak.

Berikut beberapa jenis imunisasi yang umumnya diberikan kepada anak-anak, yaitu :
1. BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan guna membentuk ketahanan tubuh
terhadap penyakit TB  (Tuberkulosis). Penyakit ini tidak mencegah infeksi TB,

25
melainkan mengurangi resiko serangan virus tubercle bacii yang dapat hidup
didalam darah atau misalnya seperti meningitis TB dan TB miller. Oleh sebab itulah
imunisasi ini dilakukan agar anak memiliki kekebalan tubuh yang aktif, dengan
memberikan jenis basil yang sudah dilemahkan kedalam tubuh anak. Vaksin BCG ini
diberikan hanya satu kali, biasanya di kurun waktu usia anak dibawah 3 bulan.
2. Hepatitis B
Imunisasi ini termasuk imunisasi yang wajib diberikan pada anak untuk mencegah
masuknya VHB, virus ini adalah virus penyebab timbulnya  penyakit Hepatitis B.
Penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang muncul akibat adanya sirosis atau yang
bisa disebut pengerutan hati. Jika penyakit ini berkembang didalam hati, maka akan
berubah menjadi lebih parah yaitu kanker hati. Dalam imunisasi ini terdapat
kombinasi pada jenis vaksin seperti DPT dan HepB, berdasarkan penelitian
Biofarma vaksin ini dapat merespon antibodi pada anak lebih optimal dibandingkan
dengan vaksinasi yang diberikan secara terpisah. Vaksin hepatitis B diberikan 3 kali
untuk anak. Rentang ke-1, setelah anak lahir, rntang ke-2, sebulan setelah vaksin
pertama, rentang ke-3, antara usia anak 4-6 bulan.
3. Polio
Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan guna merangsang kekebalan tubuh anak
terhadap serangan virus polio. Polio adalah virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan
sesak napas pada si penderitanya. Pada pemberian imunisasi polio, vaksin polio digolongkan
menjadi dua macam yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inacivated Polio Vaccine).
Pada OPV vaksin yang akan disuntikan kedalam tubuh anak adalah berupa virus yang sudah
dilemahkan. Sedangkan yang satunya adalah IPV yaitu suntikan yang berisi virus polio yang
sudah dimatikan. Vaksin Polio diberikan 6 kali secara bertahap saat beberapa hari
setelah anak lahir, anak menginjak usia di bulan ke-2, usia anak di bulan ke-4, usia anak di
bulan ke-6, usia anak 18 bulan dan terakhir ketika anak berusia 5 tahun.
4. DPT
Imunisasi DPT adalah imunisasi yang diberikan agar anak terhindar dari penyakit
difteri, pertusis dan tetanus. Pemberian vaksin ini dilakukan sebanyak 3 kali pada
anak usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan. Metode yang dilakukan pada pemberian
vaksin ini dengan cara disuntikan pada anak. Pada imunisasi ini efek samping yang
akan dirasakan anak adalah demam, rasa nyeri pada bagian yang disuntik, dan
anak akan rewel selama kurang lebih 2 hari.

5. Campak
Imunisasi campak adalah imunisasi yang dilakukan guna mencegah timbulnya
penyakit yang disebabkan oleh virus Morbili. Sebenarnya antibodi ini sudah diterima
26
bayi dari ibunya, namun semakin bertambahnya usia semakin menurun pula antibodi
yang ia dapatkan dari ibunya. Oleh sebab itu si kecil membutuhkan bantuan
vaksinasi campak untuk menguatkan kembali antibodinya. Vaksinasi campak
diberikan 2 kali, yaitu ketika anak berusia 9 bulan dan saat anak berusia 6 tahun.

6. HIB
HIB adalah imunisasi yang diberikan guna mencegah penyakit HIB. Dengan
memberikan imunisasi ini, akan mencegah resiko serangan virus atau bakteri lain.
Imunisasi ini dilakukan ketika bayi berusia 2 bulan, 3 bulan dan 5 bulan.  Pada
vaksin HIB terdapat sebuah vaksin kombinasi DPT dan HIB yang memiliki daya
imunogenitas yang tinggi namun tidak akan mempengaruhi respon pada imun yang
lain.

7. PCV
Bayi yang berisiko tinggi mengalami kolonisasi pneumokokus, yaitu bayi yang
terindikasi dengan infeksi pada saluran napas bagian atas, merupakan perokok
pasif, tidak memperoleh ASI, dan bayi yang bermukim di negara yang memiliki 4
musim (pada musim dingin). Umumnya vaksin ini hanya disarankan oleh dokter,
tergantung beberapa indikasi tersebut diatas.

8. ROTAVIRUS
Imunisasi ROTAVIRUS adalah imunisasi dengan menggunakan vaksin yang dapat
mencegah timbulnya penyakit rotavirus yang dapat menyebabkan kematian pada
anak. Pada imunisasi ini vaksin yang diberikan adalah vaksin monovalent ( Rotarix )
dan pentavalen ( Rotareq ) Beberapa penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa
vaksin rotavirus terbukti sangat efektif dalam melindungi tubuh anak. Para peneliti
menyimpulkan bahwa vaksin ini efektif, karena pada rumah sakit yang mendapatkan
kasus tersebut terbukti dapat menekan jumlah pasien diare sebanyak 50%. Dan
penurunan kasus pada pasien tersebut terjadi sekitar kurang lebih 2 tahun setelah
program imunisasi tersebut dijalankan.

9. INFLUENZA
Imunisasi influenza adalah imunisasi yang diberikan guna mencegah timbulnya flu
pada anak. Imunisasi ini diberikan pada anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun.
Imunisasi ini berguna untuk mencegah datangnya flu yang dapat ditularkan melalu
udara, bersin ataupun batuk. Vaksinasi pada imunisasi ini disarankan untuk anak

27
yang memiliki penyakit asma, ginjal dan diabet. Gejala yang akan dirasakan anak
adalah demam, batuk, pilek dan bahkan terasa pegal-pegal pada tubuh anak.

10. VARISELA
Imunisasi varisela adalah imunisasi yang diberikan pada anak guna mencegah
timbulnya virus varicella zostar atau yang biasa kita sebut cacar air. Virus ini
memang bisa saja menyerang siapa saja baik anak-anak maupun orang dewasa.
Pada pemberian vaksin ini, anak harus dalam keadaan sehat, tidak demam, tidak
memiliki neomisin dan defisiensi imun seluler. Oleh sebab itu imunisasi menjadi cara
efektif untuk mencegah timbunya virus varicella zostar atau cacar air.
11. TIFOID
Imunisasi tifoid atau yang sering disebut tifus adalah imunisasi yang diberikan pada
anak guna mencegah terjadinya tifus pada anak. Imunisasi ini disarankan untuk
anak usia 2 tahun, dan diberikan 3 tahun sekali pada anak. Penyakit ini terjadi
karena adanya bakteri salmonella typhi yang sering ditemukan di air ataupun tempat
tinggal yang kurang terjaga kebersihannya.
12. HEPATITIS  A
Imunisasi hepatitis A adalah imunisasi yang dapat diberikan pada anak usia 2 tahun.
Imunisasi yang akan diberikan kepada anak berupa vaksinasi yang dapat mencegah
timbulnya virus peradangan pada hati anak. Pemberian vaksinasi ini dilakukan dua
kali, dan jarak antara suntikan pertama dan kedua berjarak antara 6 bulan hingga 12
bulan / 1 tahun.

13. HPV
Imunisasi HPV adalah imunisasi yang dapat diberikan pada anak usia remaja. Usia
ini berguna untuk mencegah kanker serviks pada wanita sejak dini. Imunisasi ini
dapat diberikan pada anak usia 12 tahun, dan sesuai dengan  ketentuan dokter.
Pada imunisasi ini anak harus diberikan vaksin sebanyak 3 dosis, dosis kedua
diberikan 2 bulan setelah dosis pertama dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah
dosis pertama.

14. MMR
Adalah imunisasi yang dilakukan untuk otak. Imunisasi ini sebenarnya tidak banyak
disarankan oleh dokter, karena terjadi banyak kasus timbul gejala autisme setelah

28
anak mendapatkan imunisasi ini. Akan lebih baik jika bunda mengeonsultasikan
pada dokter dan mencari efek samping dari imunisasi ini melalui banyak sumber.

Beberapa jenis penyakit yang terjadi pada anak memang tidak terlalu berbahaya,
namun mengantisipasi tentu lebih baik daripada mengobati. Beberapa manfaat yang
didapat dari pemberian imunisasi pada anak, adalah :

 Mencegah anak dari serangan penyakit, dewasa ini banyak sekali


bermunculan jenis-jenis penyakit yang begitu mengkhawatirkan. Seperti flu burung,
flu singapura, sapi gila, dan lainnya. Walaupun bisa diobati, namun ada penderita
yang mengalami catat dalam anggota tubuhnya. Atau bisa juga dengan terlampau
seringnya mengkonsumsi obat atau antibiotik membuat beberapa organ tubuh
penderita menurun fungsi kerjanya. Denagn memberikan imunisasi, orangtua telah
membentengi tubuh anak setidaknya mencegah atau mengurangi resiko yang lebih
besar.
 Memperkecil resiko penyakit menular, dengan musim yang tak jelas seperti
sekarang, anak-anak tentu lebih rentan terhadap perubahan cuaca dan penyebaran
penyakit. pemberian imunisasi kepada anak, setidaknya membuat anak dapat
melakukan berbagai aktivitasnya di luar rumah dengan tenang tanpa kekhawatiran
orangtua akan lingkungan yang kotor, kuman/virus yang berterbangan dan
sebagainya.
 Menghemat anggaran keluarga dan pemerintah, pemberian imunisasi
diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih kuat.
Dengan imunisasi juga diharapkan penyebaran berbagai jenis penyakit menular dan
berbahaya menjadi lebih kecil sehingga biaya atau anggaran untuk berobat pun
menjadi lebih hemat. Jika anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa sehat,
tentunya masa depan bangsa pun lebih baik.

Program atau jadwal imunisasi untuk anak, biasanya sudah tersedia dalam buku
panduan ketika anak lahir. Dan petugas rumah sakit (suster, dokter) memberikan
catatan baik waktu untuk melakukan imunisasi maupun catatan jika imunisasi
tersebut sudah dilakukan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN           
Sebagai suatu aspek yang terpenting dalam proses keperawatan, perumusan diagnosa
keperawatan ini sangatlah vital untuk dilakukan. Pernahkan kita mendengar beberapa
diagnosa keperawatan pada pasien.
            Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu,
keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana
berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat

29
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 &
NANDA).
            Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang
diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan  memberikan gambaran
tentang masalah atau status kesehatan klien yang  nyata (aktual) dan  kemungkinan akan
terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang  perawat.
            Proses keperawatan telah diidentikan sebagai metoda ilmiah keperawatan untuk para
penerima tindakan  keperawatan. Kebanyakan  sekolah-sekolah keperawatan sekarang
memasukkan proses keperawatan sebagai sautu  komponen dari konsep kerja konsepatual
mereka.
            National Council of State Broads of Nursing menggunakan proses keperawatan
sebagai dasar untuk Registered Nurse State Board Test Pool Examination (NCSBN).
Pertanyaan –pertanyaan yang berhubungan
dengan  tindakan  keperawatan  dalam  menangani  kedaan  pasien yang bervariasi disajikan
sesuai dengan lima langkah dari proses keperawatan

Langkah-Langkah Peroses keperawatan :


1.      Pengkajian. Menetapkan data dasar seorang Pasien
2.      Analisa. Identifikasi kebutuhan perawatan pasien dan seleksi tujuan perawatan
3.      Perencanaan. Merencanakan suatu strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan untuk
perawatan pasien.
4.      Implementasi. Memulai dan melengkapi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditentukan
5.      Evaluasi. Menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan keperawatan yang telah dicapai.

Dengan mengikuti kelima langkah ini, perawat akan memiliki suatu kerangka kerja
yang sistematis untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan dan yang terpenting adalah dalam hal memberikan dosis-dosis terhadap
pasien ( diagnosa ).
Begitu banyaknya diagnosa keperawatan yang muncul dan ketika didiskusikan
ternyata para perawat tersebut saling menyalahkan terhadap diagnosa keperawatan yang tidak
sesuai dengan apa yang mereka anut. Padahal jika kita merujuk kepada aspek
profesionalisme, pastilah adanya suatu patokan terhadap diagnosa keperawatan yang muncul
tersebut.
Jika kita lihat kepada sumber maka diagnosa keperawatan yang benar untuk masalah
di atas adalah “bersihan jalan nafas takefektif”.
Ternyata ada jawaban yang telah mendekati benar hanya saja jawaban tersebut
tidak/kurang lengkap terhadap diagnosa keperawatan yang dianut oleh NANDA, 

30
sehingga dalam makalah ini penulis mengambil tema yang berhubungan dengan latar
belakang masalah diatas yaitu “ Diagnosa Keperawatan”.

A.    Pengertian Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan  adalah suatu pernyataan yang menjelaskan  respons manusia
(status kesehatan atau  resiko perubahan pola) dari individu atau  kelompok dimana perawat
secara akontabilitas dapat mengidentifikasaikan dan memberikan interfensi secara pasti untuk
menjaga status  kesehatan  menurunkan membatasi ,mencegah ,dan  merubah (a Carpenito,
2000).”
Diagnosa Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga
dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan
merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
NANDA Menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah “keputusan klinik tentang
respon individu ,keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan actual atau potensial
,sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan  keperawatan
sesuai dengan kewenangan perawat  “semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh
data ,dimana menurut NANDA  diartikan sebagai”definisi karaktristik “definisi karakterristik
di namakan “tanda dan gejalah “tanda adalah suatu yang dapat diobossitas dan  gejalah
adalahb sesuatu yang di rasakan oleh klien .
Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian  integral dari proses keperawatan. Hal ini
merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi “
respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial.” Pada
beberapa negara ( mis., Kansas, New york ) mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan
Praktik Keperawatan sebagai suatu  tanggung  jawab legal dari seorang perawat professional,
Diagnosa keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti
dimana perawat bertanggung jawab di dalamnya(Kim et al, 1984).
Diagnosa keperawatan, sebagai suatu bagian dari proses keperawatan juga
direfleksikan dalam standar praktik ANA. Standar-standar ini memberikan satu dasar luas
mengevaluasi praktik dan merefleksikan pengakuan hak-hak manusia yang menerima asuhan
keperawatan ( ANA, 1980).

31
Diagnosa keperawatan tidak dapat lebih lama diakui sebagai bagian dari masa depan
keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah saat ini. Hal ini memberikan suatu tantangan bagi
para pendidik dan administrator keperawatan untuk mendukung tidak hanya peserta didik
keperawatan saat ini tapi juga perawat-perawat terdaftar saat ini merupakan staf dalam badan-
badan keperawatan yang tidak pernah diperkenalkan kepada diagnosa keperawatan dalam
program-program pendidikan dasar mereka.
Diagnosa keperawatan, konsep diagnosa dirancang untuk pola penghargaan. Diagnosa
keperawatan untuk situasi perawatan kesehatan pasien/ keluarga meliputi nama diagnosa dan
faktor-faktor berhubungan yang mempengaruhi awal gejala/ pemeliharaan dari suatu
diagnosa aktual atau nama diagnosa dan faktor-faktor resiko tinggi. Diagnosa keperawatan,
kemudian
B. PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSA KEPERAWATA?

1.  Klasifikasi & Analisis Data

Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu


dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria
permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia
(taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);

Respon Manusia (Taksonomi NANDA II) :


  Pertukaran
  Komunikasi
  Berhubungan
  Nilai-nilai
  Pilihan
  Bergerak
  Penafsiran
  Pengetahuan
  Perasaan 

Pola Fungsi Kesehatan (Gordon, 1982) :

Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan 


Nutrisi : pola metabolisme 
Pola eliminasi 
Aktivitas : pola latihan 
Tidur : pola istirahat 
Kognitif : pola perseptual 

32
Persepsi diri : pola konsep diri 
Peran : pola hubungan 
Seksualitas : pola reproduktif 
Koping : pola toleransi stress 
Nilai : pola keyakinan 

2.      Interpretasi /identifiikasi kelebihan dan masalah klien


Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk
mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai,
yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang
dimilikinya.
Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang
kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga
kemungkinan besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.

1.Menentukan kelebihan klien


Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan
bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan
untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.
2.Menentukan masalah klien

Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami
keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.
3.Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien

Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya
ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium,
tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya
infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu
melawan infeksi.

4.Penentuan keputusan

Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak ada
indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta danya
inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.

33
Masalah kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk
memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.

 Masalah aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak
masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.
 Masalah kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang
ompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif
adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan
pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi
status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat.

3.      Memvalidasi diagnosa keperawatan

Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian


merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data,
kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data
yang tepat.
Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan
bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan
mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga tentang
kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan
validasi. 

4.       Menyusun diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritasnya


Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang
signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis
keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan
wellness.
Menyusun diagnosa keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang
berlandaskabn hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan menggunakan
prioritas berdasarkan “yang mengancam jiwa”).
Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan
memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.
Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan
dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.

menjadi titik fokal untuk pengembangan tujuan, hasil yang diharapkan, intervensi dan
evaluasi.

34
C.  Kategori Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan Aktual (Actual Nursing Diagnoses).
Diagnosa keperawatan aktual (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan
klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi.
Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik,
dan faktor yang berhubungan.
Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik.
Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik
adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan
ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis
keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang berhubungan
merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status
kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi, tindakan
yang berhubungan, situasional, dan maturasional.
Contoh diagnosa keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan nafas
pendek, frekuensi nafas30x/mnt,nadi62/mnt-lemah,pucat,sianosis.

2. Diagnosis Keperawatan Resiko (Risk and High-Risk Nursing Diagnoses)


Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau
komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok
lain pada situasi yang sama atau hampir sama.
Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan
keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan
batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi).
Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien
itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan (membiarkan
klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).

3. Diagnosis Keperawatan Kemungkinan(Possible Nursing Diagnoses)


Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data
tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala
utama adanya faktor resiko. Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri
berhubungan dengan tindakan mastektomi.

4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera(Wellness Nursing Diagnoses)


Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu,
kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan

35
yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan
fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang
disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya
peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif.
Sebagai contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaporkan
fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya
bayi baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan
pola hubungan yang efektif.
A. Kesehatan Ibu dan Anak
Usaha kesehatan ibu dan anak yang bergerak dalam pendidikan kesehatan,
pencegahan penyakit, dan peningkatan kesehatan penting sekali untuk meningkatkan
kesehatan umum masyarakat. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) melayani
pemeliharaan ibu, bayi, dan anak sampai umur 5 tahun. Sekarang ini, pada umumnya
BKIA sudah diintegrasikan ke dalam puskesmas.
1. Tujuan BKIA
BKIA memiliki beberapa tujuan sebagai berikut.
a. Memberikan pelayanan kesehatan pada ibu-ibu secara teratur dan terus menerus
pada saat sakit, sehat, masa antepartum, post-partum, dan pada masa menyusui
serta pemeliharaan anak dari lahir sampai usia prasekolah
b. Memberikan konsultasi keluarga Berencana bagi suami atau istri yang
membutuhkannya
c. Mengadakan integrasi ke dalam General Public Health Services serta
mengadakan kerjasama dan koordinasi dengan dinas kesehatan lainnya
d. Mencari dan mengumpulkan masalah dalam masyarakat, kemudian mencoba
memecahkannya.
2. Kegiatan dalam BKIA
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam BKIA antara lain sebagai berikut :
a. Kegiatan ang ditujukan kepada ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu menusui.
Kegiatan ini meliputi
1) Pemeriksaan dan pemelihaaraan kesehatan ibu hamil, ibu melaahirkan dan
ibu menyusui
2) Pertolongan persaslinan di luar rumah sakit
3) Pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan anak
4) Imunisasi dasar dan revaksinasi
5) Pengobatan sederhana

36
b. Kegiatan yang ditujukan kepada bayi
Kegiatan ini meliputi pengawasan pertumbuhan dan perkembangan bayi,
pemberian makanan yang sehat, dan pemberian vaksinasi dasar, yaitu
BCG(sebelum satu bulan), DPT dan polio (umur 3,4 dan 5 bulan), serta campak
(9-14 bulan)
c. Kegiatan yang ditujukan pada anak usia pra sekolah
Kegiatan ini meliputi pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan
anak, revaksinasi, dan pendidikan kesehatan
d. Kursus dukun
Kursus dukun dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan baayi.
Dalam kursus ini diberikan pengetahuan mengenai cara kerja yang bersih, seperti
cuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan memotong tali pusar dengan
gunting yang telah dimasak atau disterilkan, serta pengetahuan mengenai al-hal
yang memerlukan pertolongan bidan dan dokter
e. Keluarga berencana
Keluarga berencana bertujuan untuk meningkatkab derajat kesehatan ibu, bayi,
dan anak serta keluarga secara keseluruhan dengan sasaran ibu-ibu dari pasangan
usia subur (PUS)
A. Keluaarga Berencana (KB)
1. Pengertian Keluarga Berencana (KB)
Keluarga Berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakatuntuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera melalui
pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,pembinaan ketahanan keluarga,
dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

2. Metode-metode Keluarga Berencana


Meode dan alat-alat yang dapat dipergunakan dalam melaksanakan keluarga
berencana antara lain sebagai berikut :
a. Pantang Berkala
Metode inidisebut juga istibra berkala atau sistem kalander, yaitu tidak
melakukan hubungan seksual pada saat ibu dalam keadaan subur.
b. Metode Sederhana
Metode sederhana adalah mencegah terjadinya pertemuan antara sel jantan dan
sel telur (pembuahan) dengan menggunakaan penghalang. Penghalang tersebut
37
dapat berupa penghalang mekanis, misalnya kondom atau dapat juga berupa
penghalang kimiawai misalna tablet vagina, jelly, dan cairan berbusa (foam)
c. Metode Hormonal
Dalam metode ini hormon yang dapat mencegah lepasnya sel telur dari indung
telur dimasukkan kedalam tubuh ibu, bentuknya dapat berupa pil KB (diminum
tiap hari), suntik KB (di ulang tiap tiga bulan), dan implant norplant atau susuk
KB (diulang tiap lima tahun)
d. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim atau intra uterine device (IUD) adalah alat
kontrasepsi yang diletakan didalam rahim untuk mencegah terjadinya oembuahan
dan nidasi (penempelan sel telur yang sudah dibuai pada dinding rahim). Alat
kontrasepsi dalam rahim yang biasa disebut spiral merupakan suatu alat yang
terbuat dari plastik halus berukuran kecil. Alat kontrasepsi ini ada yang
berbentuk spiral (Lippes Loop), seperti huruf T (Cooper T). dan seperti kipas
(Multi Load)

B. Tujuan Keluarga Berencana


Program Keluarga Berencana di Indonesia mempunyai dua tipe yaitu :
1. Tercapainya Kondisi Penduduk Tanpa Pertumbuhan (PTP)
Untuk mencapai tujuan tersebut, Total Fertillity Rate (TFR) harus diturunkan menjadi
sekitar 2,0 yang berarti bahwa rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang
wanita usia subur di Indonesia adalah sekitar 2,0
2. Membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)
Berbagai upaya perlu dilaksanakan agar NKKBS menjadi pola hidup bangsa
Indonesia dalam rangka mendukung keberhasilan program pembangunan manusia
seutuhna serta pengendalian laju pertumbuhan penduduk
B. Kesehatan Reproduksi
1. Pengertian kesehatana reproduksi
Padadasarnyakesehatanreproduksimerupakanunsuryang dasardan penting
dalamkesehatanumum,baikuntuklaki-lakidanperempuan.Selainitu, kesehatan
reproduksi juga merupakan syarat ensensial bagi kesehatan bayi, anak-anak,
remaja, orang dewasa bahkan orang-orang yang berusia setelah masa reproduksi.

38
Menurut WHO dan ICPD (International conferenceon Populationand
Development) kesehatan reproduksia dalah keadaan sehat yang menyeluru, meliputi
aspek fisik, mental dan social dan bukan sekedar tidakan dan penyakit atau gangguan
segala hal yang berkaitan dengan system reproduksi ,fungsinya maupun prose
sreproduks iitu sendiri
Menurut Mariana Amiruddin, definisi kesehatan reproduksi adalah
sekumpulan metode ,teknik, dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan
kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan
reproduksi yang mencakup kesehatan seksual, status kehidupan dan hubungan
perorangan, bukan semata konsultasi dan perawatan yangberkaitan dengan
reproduksi dan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks.
2. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
Menurut Program Kerja WHO ke IX (1996-2001) pada Mei 1994, masalah kesehatan
reproduksi ditinjau dari pendekatan keluargameliputi :
a. Praktik tradisional yang berakibat buruk semasa anak-anak (seperti : mutilasi genital,
diskriminasi nilai anak).
b. Masalahkesehatanreproduksiremaja(kemungkinanbesardimulaisejak masa kanak-kanak
yang seringkali muncul dalam bentuk kehamilan remaja, kekerasan / pelecehan seksual
dan tindakan seksual tidak aman).

c. Tidakterpenuhinyakebutuhanber-KB,biasanyaterkaitdenganisuaborsi tidak aman.


d. Mortalitas dan morbiditas ibu dan anak (sebagai kesatuan) selama kehamilan,
persalinan,danmasa nifas,yangdiikutidenganmalnutrisi anemia, bayi berat lahir rendah.
e. Infeksi Saluran Reproduksi (ISR), yang berkaitan dengan Penyakit MenularSeksual
(PMS).
f. Kemandulanyangberkaitan denganISR / PMS.
g. Sindrompredanpostmenopause(andropause),danpeningkatanresiko kanker organ
reproduksi.
Dixon menjelaskan bahwa kondisi seksual dikatakan sehat apabila seseorang berada
dalam beberapa kondisi. Pertama, terbebas dan terlindung dari kemungkinan tertularnya
penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual. Kedua, terlindung dari praktik-praktik
berbahaya dan kekerasan seksual. Ketiga, dapat mengontrol akses seksual orang lain
terhadapnya. Keempat, dapat memperoleh kenikmatan atau kepuasan seksual. Kelima,

39
dapat memperoleh informasi tentang seksualitas. Sedangkan, individu dikatakan bebas
dari gangguan reproduksi apabila yang bersangkutan:
a. Aman dari kemungkinankehamilanyangtidak dikehendaki
b. Terlindungdari praktek reproduksiyangberbahaya
c. Bebas memilih alat kontrasepsiyangcocok baginya
2. Unsur-unsur KesehatanReproduksi
Upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi juga
perludiarahkanpadamasa remajaatau peralihan darimasaanakmenjadi dewasa, dimana
perubahan-perubahan dari bentuk dan fungsi tubuh terjadi dalam waktu relatif cepat. Masa
pubertas ditandaidengan berkembangnyatanda sekssekunderdanberkembangnyajasmani
secara pesat,menyebabkanremaja secara
fisikmampumelakukanfungsidanprosesreproduksitersebut.Informasi
danpenyuluhan,konseling dan pelayananklinisperluditingkatkanuntuk mengatasi masalah
kesehatan reproduksi remaja.
Hal-halyang adaseputarkesehatanreproduksi remaja antaralain.
a. KesehatanAlat- alat Reproduksi
Masalah-masalahyang berkaitan dengan kondisikesehatan alat-alat
reproduksiinimenyentuhremajaperempuan juga remaja laki-laki.Masalah-
masalahyangdihadapiremajaperempuanantara lainadalahpayudara
mengeluarkancairan,benjolanpadapayudara,masalahseputarhaid(nyeri haidyang
tidakteratur),keputihan,daninfeksisaluranreproduksi. Masalah-masalah yang berkenaan
dengan kesehatan alat-alat reproduksi yangdihadapi oleh remaja laki-lakiantara lain
adalah masalah bentukdanukuranpenis,jumlah testistidak lengkap danhernia scrotalis.
b. Hubungan dengan Pacar
Persoalan-persoalanyang mewarnaihubungandenganpacaradalah masalah
kekerasanolehpacar, tekananuntukmelakukanhubunganseksual,
pacarcemburuan,pacarberselingkuhdanbagaimana menghadapipacaryang
pemarah.Tindakanseseorang dapatdigolongkansebagaitindak kekerasan
dalampercintaanbila salahsatupihak merasaterpaksa, tersinggungdan disakiti
denganapayang telah di lakukan pasangannya
c. Masturbasi
Masturbasiatauonaniadalahsalah satucarayang dilakukanjika
seseorangtidakmampumengendalikandoronganseksualyang dirasakannya.

40
Jikadibandingkandenganmelakukanhubunganseksual,maka onanidapat
dikatakanmengandungresikoyang lebihkecilbagipelakunya untuk menghadapi kehamilan
yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual.Bahaya onaniadalah
apabila dilakukandengancara tidak sehatmisalnyamenggunakanalatyang
bisamenyebabkanlukaatauinfeksi. Onanijuga bisamenimbulkanmasalahbila
terjadiketergantungan/ketagihan, bisa jugamenimbulkan perasaan bersalah.
d. Hubungan Seksual Sebelum Nikah
Cara pararemajaberpacarandewasainiberkisardarimelakukanciuman bibir,raba-raba
daerahsensitif,saling menggesekkanalatkelamin(petting) sampaiada
pulayangmelakukansenggama.Perkembangan zamanjuga
mmpengaruhiperilakuseksualdalamberpacaranpara remaja.Halini dapat dilihatbahwahal-
halyang ditabukanremajapadabeberapatahunyanglalu sepertiberciumandan
bercumbu,kinisudahdianggapbiasa.Bahkan, ada sebagiankecil darimereka
setujudenganfreesex. Perubahandalamnilaiini, misalnya terjadi dengan pandangan
mereka terhadap hubungan seksual sebelummenikah.
e. PenyakitMenular Seksual
Hubunganseksualsebelummenikahjugaberisikoterkena penyakit
menularseksualsepertisifilis,gonorhoe(kencing nanah),herpssampai terinfeksi HIV.
f. Aborsi
Salahsatucaramenghadapikehamilanyang tidakdiinginkanadalah dengan melakukan
tindakan aborsi. Aborsimasihmerupakan tindakanyang ilegaldiIndonesia.
Upayasendiriuntukmelakukan aborsi banyakdilakukan dengan mengkonsumsi obat-
obatan tertentu, jamu, dan lain-lain.
A. Pendidikan Kesehatan Reproduksi
1. Pengertian Pendidikan kesehatan Reproduksi
Pendidikan reproduksi adalah pendidikan yang menyangkut persoalan-persoalan
seksualitas manusia, tentang proses keturunan (reproduksi), perkembangan social
manusia, tingkah laku seksual, perkawinan, hubungan seks dan aspek-aspek
kesehatan serta psiko-sosial.
2. Tujuan
Tujuan pendidikan kesehatan reproduksi adalah untuk membentuk suatu sikap
emosional yang sehat terhadap maslah seksualitas dan membimbing anak dan
remaja kearah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap
kehidupan seksulnya.
41
Pendidikan reproduksi selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan
biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan
reproduksi yang benar harus memasukan unsur-unsur hak asasi manusia, nilai-nilai
kultur dan agama (Mu’tadin, 2009).
3. Sasaran
Pendidikan dan pemberian pemahaman tentang masalah kesehatan reproduksi
yang diimbangi dengan pendidikan moral harus dilakukan sejak usia dini. Menurut
Singgih (1995), penyampaian materi pendidikan reproduksi ini seharusnya
diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin
antara dirinya dengan orang lain, secara berkesinambungan dan bertahap,
disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anaktersebut.
Cara penyampaian materi pendidikan reproduksi kepada anak TK berbeda
dengan SD, SMPmaupun SMA. Pada anak TK biasanya dijelaskan mengenai
perbedaan laki-laki dan perempuan dan pengenalan alat organ reproduksi, misalnya
diberikan dengan cara atau mengambil contoh tentang tumbuhan yaitu cara tumbuh
kembang pohon yang dimulai dari bunga, biji, hingga tumbuh menjadi tumbuhan
baru. Usia SD orang tua bias menjelaskan proses pembuahan dan pertumbuhan
embrio, masa akil balik yang disertai mimpi basah dan menstruasi.

E. Dasar Kesehatan Masyarakat di Indonesia


Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak
pemerintahan belanda adab ke-16. Upaya kesehatan masyarakat di mulai pada tahun
1937 hingga 1934 dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat
ditakuti masyarakat Indonesia waktu itu, pada tahun 1807 pada waktu pemerintahan
Gubernur Jenderal Daendeles, telah dilakukan pelatihan dukun bayi dalam praktek
persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka kematian bayi yang
tinggi pada waktu itu.
Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih
kebidanan. Selanjutnya pada tahun 1952 pada zaman kemerdekaan pelatihan secara
cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi sebagai penolong dan perawatan
persalinan. Tidak kalah pentingnya dalam mengembangkan kesehatan masyarakat di
Indonesia adalah berdirinya Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung di susul
laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya dan yogyakarta pada tahun

42
1888, mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan
penyakit, seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya.
pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas
adalah merupakan system pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan
oleh pemerintah (departemen Kesehatan)menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat
(PUSKESMAS). Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang
memberikan pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah
dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kota madya atau
kabupaten. Kegiatan pokok Puskesmas mencangkup :
1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3. Gizi
4. Kesehatan lingkungan
5. Pencegahan penyakit menular
6. Penyuluhan kesehatan masyarakat
7. Pengobatan
8. Perawatan kesehatan masyarakat
9. Usaha kesehatan gizi
10. Usaha kesehatan sekolah
11. Usaha kesehatan jiwa
12. Laboratorium
13. Pencatatan dan pelaporan.

Masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal, maka pemecahannya secara


multidisiplin. Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni
atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut :
a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
b. Perbaikan sanitasi lingkungan.
c. Perbaikan lingkungan pemukiman.
d. Pemberantasan vector.
e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat.
f. Pelayanan kesehatan ibu dan anak.
g. Pembinaan gizi masyarakat.
h. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.

43
i. Pengawasan obat dan minuman.
j. Pembinaan peran serta masyarakat, dan sebagainya.
Masalah kesehatan merupakan suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling
berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula
pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya
sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah
“sehat-sakit” atau kesehatan tersebut.

GEN

Lingkungan :
Status Fisik
Pelayanan kesehatan Social
kesehatan ekonomi,
budaya, dsb

Perilaku
Perilaku

Keempat factor tersebut (gen, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan) di samping
berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling berpengaruh satu sama lainnya. Status
kesehatan akan tercapai secara optimal, bilamana keempat factor tersebut secara bersama-
sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Salah satu factor saja berada dalam keadaan
yang terganggu (tidak optimal, maka status kesehatan akan tergeser ke arah di bawah
optimal.
Ada tiga factor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang yaitu
1. Manusia (Host)
2. Penyebab penyakit (Agent)
3. Lingkungan hidup
Gangguang keseimbangan antara ke tiga factor tersebut menyebabkan timbulanya penyakit
1. Faktor host (pejamu)

44
Host adalah manusia atau makhluk lainnya, termasuk burung arthropoda yg menjadi
tempat terjadi proses alamiah perkembangan penyakit. Factor host dapat berupa : umur,
jenis kelamin, ras, etnik, anatomi tubuh dan status gizi. Contoh nya:
 Umur, jenis kelamin, ras, kelompok etnik (suku) hubungan keluarga
 Bentuk anatomis tubuh
 Fungsi fisiologis atau faal tubuh
 Status kesehatan, termasuk status gizi
 Kebiasaan hidup dan kehidupan social
 Pekerjaan, dll.
2. Agent
Agent adalah suatu unsur organisme hidup atau kuman infeksi yg dapat menyebabkan
terjadinya suatu penyakit. Agent dapat berupa : unsur biologis, unsur nutrisi contohnya:
 Factor nutrisi misalnya kelebihan gizi atau kekurangan gizi
 Penyebab kimiawi misalnya zat-zat beracun
 Penyebab fisik, misalnya radiasi dan trauma mekanik (pukulan,tabrakan)
 Penyebab biologis
 Bakteri : sifilis, typhoid, pneumonia, tubercholosis
 Virus : campak, cacar (smallpox), poliomyelitis

3. Environment (lingkungan)
Lingkungan adalah semua factor luar dari suatu individu yg dapat berupa lingkungan
fisik, biologis dan sosial.
a. Lingkungan biologic
Terdiri atas organisme-organisme hidup yang berada di sekitar manusia
Yang merugikan
1) Bibit-bibit penyakit seperti : bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing dan
sebagainya.
2) Binatang penyebar penyakit seperti : lalat, nyamuk, kutu-kutu dan sebagainya
3) Organism-organisme sebagai hama tanaman atau pembunuh ternak.

Yang berguna
1) Tumbuhan dan hewan sebagai sumber bahan makanan.

45
2) Organism yang berguna untuk industry misalnya untuk pembuatan antibiotika
atau sebagai bahan obat.

b. Lingkungan fisik
Terdiri atas benda-benda yang tak hidup yang berada di sekitar manusia. Termasuk
ke dalam golongan ini : udara, sinar matahari, tanah, air, perumahan, sampah dan
sebagainya
Yang merugikan
1) Udara yang berdebu, mengandung gas-gas yang merugikan yang berasal dari
kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik
2) Iklim yamng buruk
3) Tanah yang tandus
4) Air rumah tangga yang buruk
5) Perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
6) Pembuangan sampah dan kotoran yang tidak teratur
Yang berguna
1) Udara yang bersih
2) Tanah yang subur dengan iklim yang baik
3) Makanan, pakaian dan perumahan yang sehat

c. Lingkungan social
Juga merupakan lingkungan hidup yang abstrak
Yang merugikan
Sifat-sifat a-sosial, anti social, kebiadaban, sifat mementingkan diri sendiri.
Yang menguntungkan
Sifat gotong-royong, patuh dan menghormati hokum-hukum yang berlaku dalam
masyarakat, berperi kemanusiaan berdasarkan ke-tuhanan Yang Maha Esa.

46

Anda mungkin juga menyukai