Anda di halaman 1dari 37

askep anak Demam Thypoid Lengkap

LAPORAN PENDAHULUAN

DEMAM THYPOID

LANDASAN TEORI MEDIS

A. PENGERTIAN

Thypoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella thypi. Organisme ini
masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses dan urine dari orang yang
terinfeksi kuman salmonella (Brunner dan Sudart, 1994)

Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi (Arief
Maeyer, 1999).

B. ETIOLOGI

Etiologi thypoid adalah salmonella thypi, basil gram negatif bergerak dengan rambut getar tidak
berspora. Mempunyai sekurangnya 4 macam antigen yaitu antigen O (somatik), H (flagella), Vi dan
protein membran hialin. Salmonella parathypi A, B, C dan ada dua sumber penularan salmonella thypi
yaitu pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam thypoid dan masih terus
mengekskresi salmonella thypi dalam tinja dan air kemih selama lebihdari 1 tahun.

C. PATOFISIOLOGI

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food
(makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat) dan melalui feses.

Feses dan muntah pada penderita thypoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain.
Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang
akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.

Apabila orang tersebut tidak memperhatikan kebersihan dirinya, seperti mencuci tangan dan makanan
yang tercemar kuman salmonella thypi kemudian kuman tersebut masuk ke tubuh orang yang sehat
melalui mulut. Setelah itu, kuman masuk ke lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam
lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limfoid. Di dalam
jaringan limfoid ini kuman berkembang biak lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel – sel
retikuloendotelial. Sel – sel retikuloendotial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah
dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk ke limfa, usus halus dan kantung empedu.

Semula disangka demam dan gejala toksemia pada thypoid disebabkan oleh endotoksemia.
Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan
penyebab utama demam thypoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis thypoid. Karena membantu
proses inflamasi lokal pada intestinum. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya
merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

D. MANIFESTASI KLINIK

Masa tunas typhoid adalah 10 -14 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal
berupa rasa tidak enak badan.

1. Minggu 1

Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala
demam, nyeri otot , nyeri kepala, anorexia, dan mual, batuk, epistaksis, obstipasi/diare, perasaan tidak
enak di perut.

2. Minggu 2

Pada minggu ke 2 gejala sudah jelas terlihat dapat berupa demam, bradikardi, ,idah yang khas (putih,
kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran (apatis – somnolen).

E. KOMPLIKASI

1. Komplikasi intestinal

a) Perdarahan usus

b) Perporasi usus

c) Ileus paralitik

2. Komplikasi extra intestinal

a) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,


tromboplebhitis

b) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, dan sindroma uremia hemolitik

c) Komplikasi paru : pneumonia dan pleuritis


d) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitits, kolesistitis

e) Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pyelonephritis, dan perinepritis

f) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis, dan arthritis

g) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma


guillain bare dan sindroma katatonia

F. PENATALAKSANAAN

1. Perawatan

a) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam hilang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus

b) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya transfusi bila ada komplikasi
perdarahan

2. Diet

a) Diet yang sesuai, tinggi kalori dan tinggi protein serta tidak mengandung banyak serat

b) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring

c) Setelah bebas demam, diberi makan bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim

d) Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari

3. Obat – obatan

a) Kloramphenikol

b) Tiampenikol

c) Kotrimoxazol

d) Amoxillin dan ampicillin

G. PENCEGAHAN

1. Cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makana

2. Hindari minum susu mentah (belum disterilkan)

3. Hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih


4. Hindari makanan pedas

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam thypoid terdapat leukoponia dan limposistosis
relatif tetapi kenyataannya leukoponia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam
thypoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas – batas normal bahkan kadang –
kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada kompikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu,
pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam thypoid.

2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapidapat kembali normal setela
sembuhnya typhoid.

3. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid tetapi bila biakan darah negatif tidak
menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan tergantung dari
beberapa faktor :

a) Teknik pemeriksaan laboratorium

b) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit

c) Vaksinasi di masa lampau

d) Pengobatan dengan antimikroba

4. Uji widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Tujuan dari uji widal ini
adalah untuk menentukkan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid.
Akibat infeksi oleh salmonella typhi, klien membuat antibodi atau aglutinin, yaitu :

a) Aglutinin O yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman)

b) Aglutinin H yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman)

c) Aglutinin Vi yang dibuat karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai kuman

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukkan titernya untuk diagnosa, makin
tinggi titernya makin besar kemungkinan klien menderita typhoid
I. PROGNOSIS

Prognosis kurang baik bila terdapat gejala klinis yang berat seperti dehidrasi, asidosis, perforasi usus,
dan gizi buruk. Prognosis demam tiphoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan
tubuh, jumlah vurulensi salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan.

J. TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 6 – 12 TAHUN

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah
perubahan dalam jumlah, besar, ukuran, atau dimensi tingkat sel.

Pertumbuhan BB 2 – 4 kg/tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan ciri sekundernya.
Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial
dan emosi.

1. Motorik kasar :

a) Loncat tali

b) Badminton

c) Memukul

d) Motorik kasar dibawah kembali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan
keleluasan

2. Motorik halus :

a) Menunjukkan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan

b) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain musik

3. Kognitif :

a) Dapat berfokus pada lebih dari satu aspek dan situasi

b) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah

c) Dapat memberikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal

d) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang, dan yang akan datang

4. Bahasa :

a) Mengerti kebanyakan kata – kata abstrak


b) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah

c) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang

K. DAMPAK HOSPITALISASI

Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak atau keluarga dapat meninggalkan dan rasa tidak
aman. Jumlah dan efek stres tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit
dan pengobatan. Penyebab anak stres meliputi :

1. Psikososial

Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan lain

2. Fisiologis

Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi, dan tidak mengontrol diri

3. Lingkungan asing

Kebiasaan sehari – hari berubah

4. Pemberian obat kimia

Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit (6-12 tahun)

1. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya

2. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap nyeri

3. Selalu ingin tahu alasan tindakan

4. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua

1. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan, dan dampaknya
terhadap masa depan anak

2. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya
peraturan rumah sakit
ALUR PATOFISIOLOGI DAN PENYIMPANGAN KDM

Text Box: Intoleransi aktivitasText Box: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhText Box: Tukak
Text Box: Nyeri Text Box: Hepatomegali Text Box: Gangguan keseimbangan volume cairanText Box:
HipertermiText Box: DemamText Box: Splenomegali Text Box: Kelenjar limfoid usus halusText Box:
HatiText Box: Endotoksin Text Box: limfaText Box: Menyerang mukosa ususText Box: Masuk ke dalam
saluran pencernaanText Box: Salmonella ThyphosaDEMAM THYPOID
LANDASAN TEORI KEPERAWATAN
1. Pengkajian

Faktor prespitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh salmonella thyposa dan salmonella
paratyphoid A, B, dan C yang ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat, feses dan muntah serta
diperberat bila klien makan tidak teratur.

Faktor predisposisinya adalah minuman mentah, makanan – makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak
mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

Riwayat keperawatan dan kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam
hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis dan penurunan kesadaran.

2. Diagnosa keperawatan

a. Resiko tinggi ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan hipertemi dan
muntah

Tujuan :

Ø Ketidakseimbangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria hasil :

Ø Membran mukosa dalam batas normal, bibir lembab, TTV dalam batas normal, tanda – tanda
dehidrasi tidak ada

Intervensi

Rasional

1. Monitor TTV

2. Monitor intake dan output cairan serta konsentrasi urine

3. Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering

1. Merupakan indikator secara dini tentang hipovolemia

2. Sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan

3. Untuk meminimalkan hilangnya cairan

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat
Tujuan :

Ø Nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil :

Ø Nafsu makan bertambah

Ø BB stabil / ideal

Ø Peristaltik usus normal

Ø Nilai laboratorium normal

Ø Konjungtiva dan membran mukosa tidak pucat

Intervensi

Rasional

1. Kaji status nutrisi anak

2. Kaji makanan yang disukai dan tidak disukai anak

3. Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan sedikit demi sedikit tapi sering

4. Berikan makanan sesuai dengan diet yang diberikan atau tidak merangsang muntah

5. Timbang BB tiap hari

6. Pertahankan kebersihan mulut anak

1. Memberikan gambaran tentang status nutrisi anak

2. Dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari anak

3. Dengan makan sedikit tapi sering dapat memenuhi nutrisi anak secara bertahap

4. Diet yang sesuai dapat membantu proses penyembuhan dan pemenuhan nutrisi

5. Memberikan informasi tentang kebutuhan diet atau ketidakefektifan terapi

6. Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan anak

c. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhi

Tujuan :
Ø Hipertermi teratasi

Kriteria hasil :

Ø TTV dalam batas normal

Intervensi

Rasional

1. Observasi suhu tubuh anak

2. Anjurkan keluarga untuk membatasi aktifitas anak

3. Beri kompres air hangat

4. Anjurkan keluarga untuk memakaikan anak pakaian yang dapat menyerap keringat

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik

1. Memantau status kondisi dari anak

2. Dengan melakukan pembatasan aktivitas anak, dapat mengurangi resiko terjadinya komplikasi lebih
lanjut

3. Membantu menurunkan suhu tubuh

4. Membantu agar anak merasa nyaman

5. Antipiretik membantu menurunkan panas

Asuhan Keperawatan pada Anak R

Dengan Demam Typhoid di ruangan Anak

RSUD Tulehu Ambon


A. Pengkajian

Tanggal / jam masuk RS : 11 Agustus 2016 / pukul 15.00 wit

Tanggal / jam pengkajian : 12 Agustus 2016 / pukul 10.00 wit

Ruangan : Anak

No. Register : 084751

Diagnosa medis : Demam Thypoid

1. Data biografi

a. Identitas anak

Nama : An/R

Nama panggilan : An/R

Tanggal lahir / umur : 14 juni 2012 / 4 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Agama : Islam

Suku/bangsa : Maluku / Indonesia

Pendidikan : -

Bahasa yang digunakan : -

b. Identitas orang tua

Ibu Ayah

Nama : Ny. J Tn. K

Usia : 27 tahun 30 Tahun

Pendidikan : SMA SMA

Pekerjaan : IRT Buruh bangunan

Agama : Islam Islam

Suku / bangsa : Maluku/Indonesia Maluku/Indonesia

Alamat rumah : Tulehu Tulehu


Sumber biaya : Ayah/suami

2. Riwayat kesehatan sekarang

a. Keluhan saat pengkajian : orang tua mengatakan badan anaknya panas

b. Keluhan yang menyertai : orang tua mengatakan anaknya kurang nafsu makan, badan anaknya
lemas, rewel

c. Riwayat keluhan utama

1) Faktor pencetus : infeksi oleh salmonella thypi

2) Sifat keluhan : panas yang naik turun

3) Lokasi penyebaran : seluruh tubuh

4) Hal – hal yang memberatkan : ketika suhu ruangan panas

5) Hal – hal yang meringankan : ibu kompres dengan air hangat

6) Catatan Kronologis :

Pada tanggal 11 agustus 2016 ibu pasien mengatakan anaknya mulai terlihat lemas serta suhu badan
anaknya semakin tinggi, kemudian pada pukul 12.00 wit ibu memeriksakan anaknya ke poly anak RSUD
tulehu dan diperiksa oleh dr. Vivi, berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan pasien panas, batuk, pilek
dan ibu mengatakan anaknya sudah muntah 3x

Kesadaran : compos mentis

Suhu badan (aksila) : 39ºc

Nadi : 102x/m

Respirasi : 28x/m

BB : 10 kg

Pengobatan yag diberikan : sanmol syrup 3x1 sendok teh setelah itu pasien diantar oleh keluarga ke
ruangan anak untuk mendapat perawatan lanjutan.

3. Riwayat kesehatan masa lalu

a. Riwayat kehamilan dan kelahiran

1)Antenatal

v Hiperemesis gravidarum : tidak ada


v Perdarahan pervagina : tidak ada perdarahan

v Anemia : tidak ada anemia

v Penyakit infeksi : tidak ada penyakit infeksi

v Preeklampsia/eklampsia : tidak ada

v Gangguan kesehatan : tidak ada

Pemeriksaan kehamilan

v Teratur : teratur ± 3x

v Diperiksa oleh : tenaga kesehatan (bidan)

v Tempat pemeriksaan : puskesmas

v Imunisasi TT : 2x (usia kehamilan 5&8 bulan)

Riwayat pengobatan selama kehamilan

v Vitamin penambah darah (Fe)

2)Masa natal

v Usia kehamilan saat kelahiran : 9 bulan 9 hari

v Cara persalinan : normal

v Dibantu oleh : Bidan

v Pengobatan yang didapat : ibu tidak tahu/lupa

v Kondisi kesehatan : Baik

3)Neonatal

v Catatan kongenital

v Icterus : tidak ada ikterus

v Kejang : tidak ada kejang

v Paralisis : tidak ada paralisis

v Perdarahan : tidak ada perdarahan

v Trauma persalinan : tidak terjadi trauma


v Penurunan BB : tidak ada

v Pemberian minuman ASI/PASI : pemberian ASI

b. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan

1)Pertumbuhan BB

v BB lahir : 3,2 kg

v Usia 1 tahun : 8 kg

v Usia 3 tahun : 10 kg

v Usia 4 tahun : 12 kg

v BB saat ini : 10 kg (BB turun 2 kg dari 12 kg)

2)Pertumbuhan gigi : baik

3)Perkembangan bahasa : anak sudah dapat berkomunikasi

4)Perkembangan motorik : anak sudah dapat berinteraksi secara mandiri dengan lingkungan sekitar

5)Perkembangan sensorik : anak sudah mampu mengerti apa yang ditanyakan

c. Penyakit yang pernah diderita : batuk, pilek, panas

d. Riwayat operasi / pembedahan : tidak ada riwayat pembedahan

e. Riwayat alergi : tidak ada riwayat alergi

f. Kecelakaan : tidak pernah

g. Riwayat imunisasi

No

Jenis

Usia pemberian

Pemberian ke -

Reaksi setelah imunisasi

2
3

BCG

DPT

Hepatitis

Polio

Campak

2 minggu

2, 4, & 6 bulan

2 bulan

2 & 9 bulan

9 bulan

Pertama

Pertama, kedua & ketiga

Pertama

Pertama & kedua

Pertama

Panas

Panas

Panas

Panas
4. Riwayat kesehatan keluarga

a. Genogram 3 generasi

Keterangan :

: Laki - laki

: Perempuan
Text Box: X

: Meninggal

: Pasien

: Tinggal serumah

Text Box: X
b. Riwayat penyakit

Riwayat penyakit

Orang tua

Saudara kandung

Anggota keluarga lain

Penyakit yang pernah diderita

Penyakit yang sedang diderita

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

c. Koping keluarga

Ø Ibu nampak cemas dengan kondisi anaknya

Ø Ibu pasien yakin bahwa anaknya akan segera sembuh dengan bantuan perawat dan dokter

d. Sistem nilai kepercayaan

Ø Agama yang dianut adalah agama islam dan ibunya berdoa kepada Tuhan agar anaknya cepat
sembuh

5. Riwayat kesehatan keluarga

a. Resiko bahaya kecelakaan yang mungkin terjadi


1) Rumah : dengan dengan jalan raya

2) Lingkungan rumah : tidak ada

b. Polusi : ada

c. Tempat bermain : disekitar lingkungan rumah

B. Pemeriksaan fisik

1. Penampilan umum

a. Keadaan umum : baik

b. Tingkat kesadaran : compos mentis

c. BB : 10 kg

d. TB : 95 cm

2. Kepala

a. Bentuk : simetris kiri - kanan

b. Hidrosefalus : tidak ada tanda - tanda hidrosefalus

c. Tulang tengkorak : tidak ada kelainan

3. Rambut

a. Distribusi : merata

b. Warna : hitam

c. Tekstur : halus

d. Kuantitas : banyak

4. Muka

a. Bentuk : simetris kiri - kanan

b. Paralisis : tidak ada paralisis

c. Odema : tidak ada odema

d. Ekspresi wajah : menangis


5. Mata

a. Bola mata : simetris kiri - kanan

b. Gerakan bola mata : normal

c. Kelopak mata

1) Odema : tidak ada odema

2) Tanda radang : tidak ada tanda peradangan

3) Perdarahan : tidak ada perdarahan

d. Konjungtiva

1) Warna : pucat

2) Peradangan : tidak ada peradangan

3) Secret : tidak ada secret

4) Keluar air mata : tidak ada keluar air mata

e. Sclera : tidak icterus

6. Mulut

a. Bibir

1) Warna : merah muda

2) Kelembaban : lembab

3) Lessi : tidak ada lessi

4) Ulkus : tidak ada ulkus

5) Massa : tidak ada massa

6) Kelainan : tidak ada kelainan

b. Membran mukosa

1) Warna : pucat

2) Kelembaban : lembab

3) Luka : tidak ada luka


4) Lessi : tidak ada lessi

5) Massa : tidak ada massa

c. Gigi

1) Warna : putih

2) Jumlah : 20 buah

3) Jarak : merata

4) Karang gigi : tidak ada karang gigi

5) Bengkak

6) Perdarahan

d. Lidah : kotor (ada bintik – bintik putih)

7. Hidung

a. Bentuk : simetris kiri - kanan

b. Gerakan cuping hidung : tidak ada gerakan cuping hidung

c. Pembauan : normal

d. Perdarahan : tidak ada perdarahan

8. Telinga

a. Daun telinga

1) Kelainan kongenital : tidak ada kelainan kongenital

2) Odema : tidak ada odema

b. Tes pendengaran : baik, dengan cara memanggil namanya

9. Leher

a. Kaku kuduk : tidak ada kaku kuduk

b. Pembengkakan : tidak ada pembengkakan

c. Kelenjar limfe : tidak ada kelainan

d. Kelenjar tiroid : tidak ada kelainan


e. Arteri karotis : teraba jelas

f. Vena jugularis : teraba jelas

10. Dada

a. Bentuk : simteris kiri - kanan

b. Pertumbuhan buah dada : belum ada

c. Pembengkakan : tidak ada pembengkakan

d. Bunyi nafas : normal (vesikuler)

e. Batuk : tidak ada batuk

f. Sputum : tidak ada sputum

g. Sesak nafas : tidak ada sesak nafas

h. Respirasi : 26x/menit

11. Abdomen

a. Bentuk : simetris kiri - kanan

b. Nyeri tekan & nyeri lepas : tidak ada

c. Pembesaran limfe : tidak ada

d. Pembesaran ginjal : tidak ada

12. Ekstremitas atas dan bawah

a. Bentuk : simetris

b. Kekuatan menggenggam : baik

c. Aktivitas dibantu : ya, dibantu keluarga

d. Terpasang IVFD RL 36 tpm mikro pada ekstremitas kanan atas

13. Genetalia : tidak dikaji

14. Anus : tidak dikaji

15. Kulit

a. Kelainan : tidak ada kelainan


b. Tekstur : halus

c. Turgor : baik

d. Suhu : panas

e. Luka : tidak ada luka

f. Lessi : tidak ada lessi

16. Kuku

a. Warna : merah muda

b. Bentuk : simetris

17. Pola kebiasaan sehari - hari

Aktivitas

Sebelum sakit

Saat sakit

1. ASI dan susu buatan

a. Waktu pemberian

b. Jenis susu buatan

c. Adakah kesulitan

2. Makanan padat

a. Jenis makanan padat

b. Waktu pemberian

3. Pola makan dan minum

Makan

a. Frekuensi makan

b. Jenis makanan

c. Makanan yang disukai

d. Alergi makanan
e. Kebiasaan makan

f. Waktu makan

g. Porsi yang dihabiskan

h. Keluhan

Minum

a. Frekuensi minum

b. Jenis minuman

c. Jumlah minum/hari

d. Keluhan

4. Pola tidur

a. Waktu tidur siang

b. Waktu tidur malam

c. Keluhan

d. Kebiasaan jelang tidur

5. Pola kebersihan diri

Mandi

a. Frekuensi

b. Sabun

c. Bantuan

Oral hygiene

a. Frekuensi

b. Waktu

6. Pola eliminasi

BAB
a. Frekuensi

b. Warna

c. Bau

d. Konsistensi

e. Keluhan

BAK

a. Frekuensi

b. Warna

c. Bau

d. Keluhan

e. Kebiasaan ngompol

Ada, susu formula

Tidak menentu

Susu bubuk

Tidak ada

Nasi putih

Pagi, siang, malam

3x sehari

Nasi, ikan

Nasi, bubur

Tidak ada

Disuapi/kadang sendiri
Pagi, siang, malam

1 porsi

Tidak ada

6 - 8 gelas/hari

Air putih

1500 – 2000 ml

Tidak ada

1 jam

8 – 9 jam

Tidak ada

Tidak ada

2x sehari

Memakai sabun

Dibantu ibunya

2x sehari

Pagi dan sore

1 x sehari
Kuning kecokelatan

Khas

Lunak

Tidak ada

4 – 6 x/ hari

Kuning

Pesing

Tidak ada

tidak

3x sehari

Nasi, bubur, ikan, sayur

Bubur

Tidak ada

Disuapi

Pagi, siang, malam


6 sendok makan

Kurang nafsu makan, dibantu

6 – 8 gelas/hari

Air putih

1500 – 2000 ml

Tidak ada

± 30 menit

4 – 5 jam

Sering terbangun (panas)

Tidak ada

1x (di lap)

Tidak memakai sabun

Dibantu ibunya

Belum

Belum BAB

-
-

2x/ hari

Kuning

Pesing

Tidak ada

tidak

18. TTV

Suhu badan aksila : 38,3º c

Nadi : 100x/menit

Respirasi : 26x/menit

19. Pemeriksaan penunjang

Laboratorium (tanggal 11 agustus 2016)

v Hb : 9,6 gr%

v LED : 20 – 40 mm/jam

v Leucosit : 4200 mm3

v Widal :

Salmonella parathypi BH 1/320 positif

Salmonella parathypi CH 1/320 positif

Salmonella parathypi AH 1/160 positif

20. Terapi saat pengkajian

v IVFD RL 36 tetes/menit mikro

v Norages ½ ampul drip bila panas


v Sanmol syrup 3 x 1 sendok teh

v Cefotaxim 3 x 500 mg/IV

C. Klasifikasi data

Ds : orang tua mengatakan

v Badan anaknya panas

v Kurang nafsu makan

v Makanan yang dihabiskan 6 sedok makan

v Rewel

Do :

v Suhu badan (aksila) : 38,3ºc

v BB turun 2 kg dari 12kg

v Hb : 9,6 gr%

v Widal :

Salmonella parathypi BH 1/320 positif

Salmonella parathypi CH 1/320 positif

Salmonella parathypi AH 1/160 positif

v Membran mukosa pucat

v Lidah kotor

v Konjungtiva pucat

D. Analisa Data

No

Data

Etiologi
Masalah

Ds : orang tua mengatakan

v Badan anaknya panas

v Rewel

Do :

v Suhu badan aksila 38,3ºc

v Wajah tampak kemerahan

v Uji widal :

Salmonella parathypi BH 1/320 positif

Salmonella parathypi CH 1/320 positif

Salmonella parathypi AH 1/160 positif

Proses infeksi samonella thypi

Hipertermi

Ds : orang tua mengatakan

v Kurang nafsu makan

v Makanan yang dihabiskan 6 sendok makan

Do :

v BB turun 2 kg dari 12 kg

v Membran mukosa bibir pucat

v Lidah kotor

v Konjungtiva pucat

Intake makanan yang tidak adekuat, muntah dan anoreksia

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


E. Perumusan diagnosa keperawatan

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi yang ditandai dengan :

Ds : orang tua mengatakan

v Badan anaknya panas

v Rewel

Do :

v Suhu badan aksila 38,3ºc

v Wajah tampak kemerahan

v Uji widal :

Salmonella parathypi BH 1/320 positif

Salmonella parathypi CH 1/320 positif

Salmonella parathypi AH 1/160 positif

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat yang ditandai dengan :

Ds : orang tua mengatakan

v Kurang nafsu makan

v Makanan yang dihabiskan 6 sendok makan

Do :

v BB turun 2 kg dari 12 kg

v Membran mukosa bibir pucat

v Lidah kotor

v Konjungtiva pucat

F. Prioritas masalah

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi


2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat

IMPLEMENTASI & EVALUASI

Nama : A/R Ruangan : anak

Umur : 4 tahun No. Register : 084751

Jenis kelamin : perempuan Diagnosa medis : demam thypoid

Diagnosa

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Tanggal 12 agustus 2016

Jam : 10.30 wit

1. Mengukur TTV pasien

Hasil :

S : 38,3ºc

N : 100x/m

P : 28x/m

Jam : 10.40 wit

2. Menganjurkan orang tua untuk membatasi aktivitas anak

Hasil :

Orang tua mengerti dan melarang anaknya untuk banyak bergerak

Jam : 10.45 wit

3. Memberikan kompres air hangat pada aksila anak


Hasil :

Suhu badan anak masih hangat

Jam : 11.00 wit

4. Memakaikan anak pakaian yang mudah menyerap keringat

Hasil :

Anak sudah memakai pakaian yang mudah menyerap keringat

Jam : 13.00 wit

5. Memberikan obat norages ½ ampul drip, memberikan sanmol syrup 1 sendok

Hasil :

Obat sudah diberikan

Jum’at 12 agustus 2016

Jam : 15.00 wit

S : orang tua mengatakan

v Badan anaknya masih hangat

O:

v Suhu tubuh sedikit menurun

v Suhu 37,8ºc

A:

v peningkatan suhu tubuh teratasi sebagian

P:

v intervensi 1 – 5 dilanjutkan

II

Tanggal 12 agustus 2016

Jam : 10.35 wit

1. Menanyakan pola nutrisi anak dari orang tua anak


Hasil :

Orang tua mengatakan :

v Pasien makan 3x sehari

v Pasien tidak suka mengkonsumsi sayuran

v Pasien lebih suka mengkonsumsi makanan yang manis

Jam : 10.45 wit

2. Menanyakan makanan yang disukai dan yang tidak disukai

Hasil :

Anaknya suka mengkonsumsi makanan ringan, susu ultra dan bubur

Jam : 10.50 wit

3. Memberikan makanan sesuai dengan diet

Hasil :

Makanan yang disajikan adalah bubur, ikan, sayur

Jam : 10.55 wit

4. Memberitahu orang tua untuk memberikan makanan kepada anaknya sedikit demi sedikit

Hasil :

Orang tua mengerti dan segera melaksanakannya

Jum’at 12 Agustus 2016

Jam : 15.05 wit

S : orang tuacmengatakan

v Anaknya masih kurang nafsu makan

O:

v Makanan yang dihabiskan ½ porsi makan sekitar 10 sendok makan

A:

v Kebutuhan nutrisi teratasi sebagian


P:

v Intervensi 1 – 4 dilanjutkan

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, arif, dkk, (2000). Kapita selekta kedokteran edisi ketiga. Jilid 2. FKUI. Jakarta : Media
Ausculapius

Ngastiyah. 1997. Perawatan anak sakit. EGC : Jakarta

Suriadi, S.kep. MSN & Rita Yuliani, S.kep. M. Psi (2006). Asuhan keperawatan pada anak. Edisi 2. Jakarta.
ISBN 979-95115-4-2

Suriadi, dkk. 2001. Asuhan keperawatan pada anak. Edisi I. CV sagung : Jakarta