Anda di halaman 1dari 7

TUGAS LINGKUNGAN TAMBANG

ARTIKEL KASUS LINGKUNGAN BERKAITAN DENGAN KEGIATAN


PENAMBANGAN

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2019
Gambar 1.Sungai Amandit tercemar

Aliran Sungai Amandit yang terletak di lereng Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai
Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan, dilaporkan tercemar limbah tambang pasir dan batu bara.
Temuan ini dikuatkan hasil verifikasi lapangan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan
Lingkungan Hidup (PPKLH) Kabupaten HSS pada 5 April 2019.

Kepala Dinas PPKLH Kabupaten HSS, HMK Saputra lewat keterangan resminya menyatakan
pencemaran ini membuat aliran sungai menjadi keruh, berwarna kuning pekat. Kesimpulan ini didapat
usai verifikasi lapangan dengan menelusuri aliran sungai dari Jembatan Muara Banta hingga Bendung
Sungai Amandit.

Aktivitas pertambangan yang marak menjadi penyebab tercemarnya Sungai Amandit di Kabupaten Hulu
Sungai Selatan. Organisasi lingkungan di Kalimantan Selatan mendesak penutupan aktivitas tambang di
wilayah tersebut.

Menurut Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel Isharwanto hasil laboratorium
sampel air sungai dan diketahui memang air Sungai Amandit tercemar atau jauh di bawah baku mutu.

Terkait hal ini, pihaknya akan memproses lebih lanjut kasus pencemaran Sungai Amandit yang menjadi
sumber air bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan tersebut.

Sebelumnya masyarakat memprotes dan melaporkan kondisi Sungai Amandit yang diduga tercemar oleh
aktivitas pertambangan. Terakhir tim gabungan Dinas ESDM, Dinas Lingkungan Hidup dan Reskrim
Polda Kalsel menemukan adanya aktivitas tambang ilegal batubara dan galian C sebanyak 18 titik lokasi
di wilayah PKP2B PT Antang Gunung Meratus.
Lokasi tambang ilegal ini tersebar di Kabupaten Banjar, Tapin dan Hulu Sungai Selatan yang merupakan
wilayah konsesi PT AGM. Isharwanto mengakui praktik tambang ilegal khususnya batu bara masih
terjadi meski tidak semarak sebelum gencarnya penertiban dan operasi penegakan hukum di lapangan
dalam beberapa tahun terakhir.

Umumnya tambang ilegal itu berada di wilayah konsesi perusahaan PKP2B. Ini terjadi karena lemahnya
pengawasan perusahaan di lapangan.

Selain itu, ada pula tambang ilegal yang berada di kawasan hutan seperti tambang emas di sepanjang kaki
Pegunungan Meratus serta tambang galian C.

Tambang-tambang ilegal itu beroperasi tanpa memperhatikan aspek lingkungan sehingga menyebabkan
sungai di sekitarnya tercemar. Namun begitu kami akan melakukan langkah-langkah untuk mengatasi
pencemaran yang terjadi.

Sejak lama telah dikatakan bahwa Kalsel darurat ruang dan bencana ekologis. Seharusnya pemerintah
daerah telah mengambil langkah strategis untuk mengatasi ancaman bencana tersebut," tuturnya.

Kasus pencemaran dan bencana banjir yang terus berulang menunjukkan perencanaan pembangunan
belum berpihak pada nasib rakyat dan kelestarian lingkungan.(OL-5)

Warga yang tinggal di sekitaran Sungai Amandit mengeluhkan pencemaran air yang diduga berasal dari
limbah pertambangan batu-pasir (Sirtu) dan batu bara. Di satu sisi, pemerintah daerah memastikan takkan
tinggal diam mendengar keluhan warganya.

Air keruh sangat berdampak bahkan ada beberapa wisata air yang terganggu karena airnya keruh wisata
tersebut ditutup

Usai warganya menjerit, delapan anggota dewan di komisi infrastruktur, pembangunan, lingkungan hidup
dan keuangan, langsung menyidak area PT Antang Gunung Meratus (PT AGM) di Ida Manggala
Kecamatan Sungai Raya, Selasa (25/6) kemarin. Perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara atau PKP2B itu merupakan salah satu perusahaan yang diduga kuat turut andil
dalam tercemarnya Sungai Amandit.

Saat berada di sana, rombongan disambut oleh External Affairs PT AGM Benito Mangkusubroto. Mereka
langsung diperlihatkan bagaimana tes air sungai di areal PT AGM.

Hasilnya, pH atau derajat keasaman dan intesitas debit air dalam batasan aman. Itu dikuatkan berdasarkan
lampiran surat Dinas Kesehatan HSS.

“Intinya pembuangan limbah oleh PT AGM dalam tahapan aman,” katanya.

Lantas, politikus Golkar ini menunjuk ke arah Sungai Keminting menuju Sungai Amandit, di mana area
tersebut terindikasi banyak terdapat aktivitas pertambangan ilegal.

“Diduga adanya penambangan tanpa izin di area tanpa izin di Sungai Keminting di daerah kecamatan
Sungai Raya. Sungai Keminting ini alirannya ke Sungai Amandit,” terang Muhlis.
Dirinya memastikan, hasil sidak baru tadi bakal diteruskan ke Pemkab HSS, kepolisian, dan juga Dinas
ESDM Kalsel. “Mereka yang berwenang,” jelas dia.

Komisi III DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan mengakui adanyanya indikasi pencemaran sungai
akibat penambangan batu bara dan pasir di wilayah hulu, yang membuat sungai amandit di bagian hilir
tercemar, dengan kondisi keruh cukup pekat tiap hari.

Dugaan pencemaran tersebut terpantau langsung saat komisi yang antara lain membidangi masalah
lingkungan hidup melaksanakan pemantauan langsung.

Penambangan dimaksud, selain galian C, juga batu bara tanpa izin dimana areanya masuk PKP2B  PT
Antang Gunung Meratus. Namun di lokasi tersebut belum digarap PT AGM, karena sebagian masuk
wilayah hutan lindung.

“Karena tidak ada kewenangan, terkait dampak lingkungan hidup tersebut kami telah membuat surat hasil
pemantauan dan menyampaikan ke Ketua DPRD.

Kemudian Ketua DPRD menyampaikan ke Pemkab HSS. Surat tersebut juga ditembuskan ke kepolisian
sebagai laporan, agar aktivitas penambangan tanpa izin yang diduga mencemari sungai Amandit
ditindak,” kata Muhlis.

Muhlis juga mengungkapkan, sebelum pemantauan ke Sungai Amandit, melakukan inspeksi mendadak ke
area pertambangan PT Antang Gunung Meratus di Desa Ida Manggala, untuk klarifikasi terkait
pencemaran sungai Amandit.

“Kami bersama anggota komisi III  lainnya, didamping Sekwan, diterima External Affair PT AGM,
Benito Mangkusubroto,”

Pihak AGM, jelas Muhlis langsung menyampaikan klarifikasi dengan mengajak melakukan tes air sungai
di areal penambangan. Hasilnya, tingkat PH atas keasaman dan intensitas debit air masih dalam batas
normal untuk dikonsumsi.

“Mereka juga menunjukkan hasil survey lapangan Dinas LH, dilapiri surat dari  Dinas Pertambangan
Kalsel serta klarifikasi ke kementerian ESDM dan Kementerian LH, yang dikirim mellaui email,”jelas
Muhlis. 

Meski demikian, terkait adanya penambangan illegal di wilayah atas, pihaknya menyerahkan kepada
pihak berwenang, dan meminta dilakukan penegakkan hukum secara tegas. 

Adapun nama-nama perusahaan yang terlibat pencemaran Sungai Amandit adalah PT Antang Gunung
Meratus (AGM) dan KUD Karya Muni. Selain itu, Dinas PPKLH mencatat terdapat tambang batu bara
tanpa izin dan nama yang ikut berperan serta.

Kasi Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Dinas PPKLH Kabupaten HSS, Hayatuddin membeberkan
perusahaan tambang yang mengantongi izin seperti PT AGM dan KUD Karya Murni sudah mendapat
surat teguran dari Pemkab HSS.
Sementara, seluruh perusahaan tambang tanpa izin diserahkan sepenuhnya kepada Dinas ESDM Kalsel
untuk menindaklanjutinya. Lantas, apakah limbah yang tercemar di Sungai Amandit bisa dikata
berbahaya?

"Limbah tambang dan pasir ini sejatinya memang tidak berbahaya karena kandungannya cuma partikel
tanah bercampur air. Tapi membuat air jadi sangat keruh," kata Hayatuddin.

Pencemaran limbah sangat disayangkang karena Sungai Amandit kerap dijadikan arena water sports
semacam arung jeram dan bamboo rafting. Pemprov Kalsel menggadang bamboo rafting Sungai Amandit
salah satu destinasi wisata unggulan.

Adapun Manajer Program dan Jaringan Walhi Kalsel, Rizqi Hidayat, meragukan keterangan Hayatuddin
ihwal limbah tak berbahaya. Menurut Rizqi, kekeruhan Sungai Amandit mestinya dijadikan indikator
pencemaran yang harus ditindaklanjuti pemerintah daerah, bukan malah berhenti tidak melakukan analisa
lanjutan.

Selain itu, ia juga mendorong pemeriksaan secara komprehensif, dari hulu hingga hilir Sungai Amandit.
Terutama sungai kecil yang dekat atau bersinggungan langsung dengan tambang.

"Kalau diperiksa hanya di sungai besar, kemungkinan tercampur limbah domestik dan data akan bias.
Menurutku dinas sudah pasti tahu teknis dan standar pemeriksaan," tandasnya. Rizqi juga meminta
masyarakat setempat yang terdampak pencemaran agar mengawal informasi secara rinci.

Manajer Data dan Kampanye Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Borneo Selatan, Budi
Kurniawan, menilai fakta pencemaran ini harusnya membuka mata masyarakat Kalsel bahwa Pegunungan
Meratus sedang berbahaya.

"Kita tidak perlu bicara darurat ruang untuk melihat Meratus sedang berbahaya. Bisa dilihat dari contoh
kasus seperti ini saja," ujar Budi. Apalagi melihat kasus ini, dampak pertambangan sudah terjadi pada air
sungai yang menjadi penopang utama kehidupan manusia.

"Sehingga perlu langkah besar dari semua pihak, tak hanya Pemkab tapi juga oleh Pemprov Kalsel untuk
menindaklanjuti langkah penyelamatan Pegunungan Meratus," tandasnya.

asyarakat yang tinggal di sekitaran Sungai Amandit, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan,
mengeluhkan pencemaran air yang diduga berasal dari limbah pertambangan. Belakangan, keluhan ini
direspon Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Ikhlas.

“Kalau berkaitan dengan pencemaran ini kan ada jenjang yang mestinya kawan-kawan di LH [Dinas
Lingkungan Hidup] kabupaten dulu yang menindaklanjutinya. Karena yang memberi izin pembuangan
limbah cairnya itu dari Bupati istilahnya yang mengawasi kualitas itu mereka di samping kami,” ujar
Ikhlas kepada apahabar.com, di kantornya, Selasa siang.

Ikhlas tak menampik bila pihaknya memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti itu. Tetapi berkaitan
dengan pencemaran, sudah pasti memerlukan langkah cepat. Karena seumpama sehari terkena hujan bisa
saja dugaan pencemaran tadi sudah hilang.
Jadi, kata dia, susah membuktikan bahwa indikasinya karena tambang, terlebih dokumen analisis dampak
lingkungan (Amdal) lintas kabupaten.

“Oleh karena itu mestinya tidak ada alasan berkilah bahwa itu masalah provinsi. Kami hanya dalam
rangka pengawasan pembinaan. Itu yang utama kami awasi yaitu Amdal-nya,” lanjut Ikhlas.

Ia juga memberikan contoh gambaran berupa dugaan mengapa bisa air di sungai tersebut tercemar.
“Contohnya seperti, terjadinya pencemaran bisa disebabkan oleh banyak faktor,” ujar dia.

Karena kita bicara air, kata dia, besar kemungkinan berkaitan dengan pengelolaan airnya. “Tambang itu
sebelum ke badan air difiltrasi yang sudah memenuhi baku mutu. Tetapi kan ada volume yang
membatasi,” ujar dia lagi.

Berdasarkan perhitungan DLH, mungkin saja kegiatan yang di luar perusahaan tambang atau juga yang di
dalam perusahaannya ini sendiri perhitungannya yang salah.

“Tetapi ini mestinya kewajiban mereka untuk menghitung sesuai dengan debit air yang mugkin di dalam
wilayah ini masuk ke setling pom-nya ini. Jadi kalau secara teori itu dilaksanakan tidak ada yang
namanya kelebihan dari baku mutu kalau mereka konsekuen melaksanakan ini” jelasnya.

Adapun nama-nama perusahaan yang terlibat pencemaran sungai yang kerap dijadikan arena arung jeram
dan bamboo rafting itu adalah PT AGM dan KUD KM. Selain itu, Pemkab setempat mendapati sejumlah
tambang batu bara tanpa izin alias ilegal ikut berperan serta.

“Karena yang memberikan izin adalah Bupati dan itupun ada waktunya selama sebulan, jadi tidak bisa
langsung diurus. Lain hal-nya kalau Amdal di kami [Provinsi] bisa langsung ke perusahaan yang diduga
melakukan pencemaran tersebut.”

Ia menegaskan sampai saat ini Pemkab HSS maupun Dinas Lingkungan Hidup setempat belum
melaporkan dugaan pencemaran ini ke pihaknya. Ia mengakui ada keterbatasan dalam pengawasan.

Sebelumnya, hasil verifikasi lapangan oleh Pemkab HSS di aliran sungai yang terletak di lereng
Pegunungan Meratus itu diduga tercemar limbah tambang pasir-batu (Sirtu) dan batu bara. Pencemaran
ini membuat aliran sungai menjadi keruh, berwarna kuning pekat.

“Tindaklanjut Pemprov akan tetap mengawasi rutin bukan cuma di tambang tetapi kebun, kelapa sawit
dan lain-lain. Sedangkan untuk perlakuan khusus tidak ada, kecuali ada kasus laporan. Tetapi sampai saat
ini belum ada laporan ke kami baik dari Masyarakat, Pemkab HSS, Dinas LH Kabupaten HSS serta
perusahaan” tutupnya.

erkait dengan keruhnya air Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang diduga akibat aktifitas
pertambangan batubara dan dikeluhkan warga sekitar bantaran sungai, mendapat tanggapan yang keras
dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Ikhlas menegaskan, kalau berkaitan
dengan pencemaran ada jenjang yang mestinya dipahami pihak LH Kabupaten HSS untuk
menindaklanjuti. Karena yang memberi izin pembuangan limbah cairnya itu dari Bupati setempat,
istilahnya yang mengawasi kualitas itu Dinas LH Kabupaten HSS, selain pihaknya. “Kami ya memang
juga ada kewenangan di situ, tetapi kalau yang berkaitan dengan pencemaran itu ‘kan harus ditanggapi
cepat, seumpamanya sehari kena hujan bisa saja kemungkinan sudah hilang tercemarnya, jadi susah
membuktikan bahwa itu indikasinya karena tambang, tetapi ketika terkena hujan sudah hilang. Kalau
AMDAL-nya memang diterbitkan pihak provinsi, karena lintas kabupaten.

Nah mestinya, mohon maaf tidak ada alasan berkilah bahwa itu tanggung jawab provinsi. Kami dalam
rangka pengawasan pembinaan itu yang utama kami awasi yaitu AMDAL-nya diterbitkan oleh provinsi.
Kewenangan kami contohnya seperti tambang, kebun dan kegiatan lainnya, tetapi yang lintas kabupaten.
Semua sebenarnya kewajiban kami juga mengawasi, apakah itu AMDAL-nya di kabupaten atau yang di
provinsi, bahkan pusat cuma hasil pengawasan pembinaan umpamanya, kasusdi HSS, kami mungkin
dalam rangka pembinaan pengawasan. Ditemukannya kasus seperti itu kami memerintahkan kepada
kawan-kawan untuk ditindaklanjuti mengingatkan kembali, karena yang memberikan izin adalah Bupati
dan itupun ada waktunya selama sebulan. Tetapi kalau yang memang AMDAL-nya di provinsi,
kewenangannya di provinsi kami langsung ke perusahaan,” tegasnya.

Ia menegaskan sampai saat ini Pemkab HSS maupun Dinas LH Kabupaten HSS belum ada konfirmasi
atau laporan ke provinsi. “Kalau kami tiba-tiba langsung turun ke lapangan nanti dikira ada apa-apa dan
di anggap macam-macam ‘lah. Karena mohon maaf, ini ‘kan indikasinya ke perusahaan. PT AGM
memang di sana yang paling besar, izin AMDAL-nya juga ada. Yang jelas dalam rangka operasional,
acuannya di AMDAL itu. Dan AMDAL itu ada beberapa dokumen rencana pengelolaan tambang,
reklamasinya juga ada. Kami mengawasi itu berdasarkan dokumen yang mereka susun lalu pembuangan
limbah cairnya, di mana seperti yang kita katakan tadi sesuai dengan kewenangan pasti di kabupaten,
bukan di provinsi,’ bebernya.

Tetapi memang AMDALnya di provinsi, terjadinya pencemaran bisa disebabkan banyak faktor. “Karena
kita bicara air, mungkin pengelolaan airnya, tambang itu sebelum ke badan air difilterasi yang sudah
memenuhi bakumutu, tetapi kan ada volume yang membatasi. Mungkin berdasarkan perhitungan kegiatan
di luar PT AGM atau juga di PT AGM nya ini sendiri perhitungannya yang salah. Tetapi ini mestinya
kewajiban mereka untuk menghitung sesuai dengan debit air yang mugkin di dalam wilayah ini masuk ke
setlingpomnya. Jadi kalau secara teori, itu dilaksanakan tidak ada yang namanya kelebihan dari
bakumutu, kalau mereka konsekuen melaksanakan ini,” jelasnya kepada koranbanjar.net pada saat
ditemui di Kantor Dinas LH Provinsi Kalsel Jalan Bangun Praja Kawasan Perkantoran Pemerintah
Provinsi Kalimantan Selatan Palam Cempaka, Kota Banjarbaru pukul 13.00 wita, Selasa (25/6/2019)

Ia juga menjelaskan, pertama pihaknya mengawasi itu yang utama kualitas airnya, udara dan tutupan
lahannya, karena di AMDAL itu, ini yang penting dibahas. ”Jadi memang kami juga mengawasi, tetapi
kami juga ada batasan. “Tindak lanjut Pemprov akan tetap mengawasi rutin bukan cuma ditambang tetapi
kebun, kelapa sawit dan lain-lain, sedangkan untuk perlakuan khusus tidak ada kecuali ada kasus laporan.
Tetapi sampai saat ini belum ada laporan ke kami baik dari masyarakat, Pemkab HSS, Dinas LH
Kabupaten HSS serta perusahaan,”

Referensi