Anda di halaman 1dari 1388

Dendam Sejagad

Legenda Kematian
Shi Hun Yin (Mandarin)
San Wat Yan (Cantonese)
Cang Wan Hen
A Spark of Distraction
Karya : Khu Lung 1961, Saduran : Tjan ID
Editor : Bona & Dewi KZ
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kang-zusi.info/ http://cerita-silat.co.cc/

1
Jilid: 01
Bab 1
TEMPAT ini adalah sebuah kuil kuno.
Kuil itu terletak di suatu tempat yang jauh dari keramaian
manusia dan sudah la ma terbengkalai.
Tapi di mata orang persilatan, kuil bobrok itu de mikian rahasia,
demikian misterius, sera m dan mengerikannya sehingga mendirikan
bulu roma setiap orang.
Ternyata setiap tengah mala m tiba, dari da la m kuil itu selalu
berkumandang suara nyanyian yang begitu aneh dan mengerikan.
Kalau dibilang nyanyian itu indah, ternyata iramanya begitu aneh
me me kikkan telinga.
Mengatakan seram dan me medihkan, nadanya ternyata tak
sedap didengar, ibaratnya jeritan setan, atau teriakan kuntilanak,
seperti pula lolongan serigala ma la m.
Pokoknya suara nyanyian itu sedemikian anehnya sehingga
me mbuat orang tak tahu bait lagu apakah yang sebenarnya sedang
dinyanyikan, sehingga dengan demikian, kuil itupun diliputi oleh
suasana serba rahasia dan misterius.
Setiap kali orang mendengar ira ma nyanyian itu, segera
merasakan suatu kekuatan gaib yang me mbuat orang sukar
me lawan, me mbuat orang terbuai dala m la munan, terpesona,
terkesima dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Selain itu, suara nyanyian itupun menga mbang di angkasa raya
dan mengge ma tak menentu. Ketika tersiar sa mpa i berli-li jauhnya
me mbuat orang sukar untuk me mbedakan dari arah manakah suara
itu berasal dan di ma nakah sumber dari suara tersebut.
Sekalipun de mikian, suara nyanyian itu tak a kan ma mpu untuk
menge labuhi kawanan persilatan. Mereka semua tahu bahwa suara

2
ini sudah menggetarkan hati setiap umat persilatan semenja k ena m
belas tahun berselang. Waktu itu banyak jago dari pelbaga i
perguruan dikirim untuk menyelidiki te mpat tinggal dari pe mbawa
lagu aneh itu, tapi baik dari pihak kaum lurus maupun dari golongan
kaum sesat selalu gagal untuk memperoleh hasil dan pulang dengan
hasil yang nihil.
Ttba-tlba, pada tiga belas tahun berselang, irama nyanyian itu
lenyap tak berbekas. Siapa tahu sepuluh tahun kemudian nyanyian
misterius itu menga mbang ke mba li di tempat itu, bahkan dala m
waktu singkat tiga tahun sudah lewat. Penduduk di sekitar te mpat
itu yang sudah berotak sederhana, menaruh perasaan jeri dan
hormat yang amat sangat terhadap nyanyian itu, sebab nyanyian
aneh semaca m itu sudah berlangsung ha mpir tiga tahun la manya.
Mereka se mua beranggapan: Pastilah tangisan ma laikat dari
kahyangan yang turun ke bumi untuk me mperingatkan kepada
semua orang, bahwa tak la ma lagi bakal terjadi bencana ala m atau
bencana peperangan yang akan melanda sekeliling te mpat ini.
Itulah sebabnya semua orang merasa tak pernah tenteram.
Menyusul munculnya ke mbali suara nyanyian aneh itu, dunia
persilatan yang selama ini berada dalam keadaan tenang, tiba-tiba
saja menjadi geger dan tegang. Jago-jago lihai dari sembilan partai
besar bersama-sama me ngutus orang-orangnya untuk me lakukan
penyelidikan. Maka berbondong-bondong datanglah kawanan jago
persilatan ke tempat itu. Penyelidikan dan pengala man yang
dilakukan siang ma la m akhirnya mene mukan bahwa suara nyanyian
tersebut berasal dari dala m kuil yang bobrok tapi angker itu.
Dua tahun belakangan ini, meski tak sedikit jagoan lihay dari
dunia persilatan yang menyerbu ke dalam kuil dan berusaha
menangkap pe mbawa lagu itu, tapi ibaratnya menimpuk anjing
dengan pakpoa, begitu pergi tak pernah ke mbali lagi. Sejak itu
kabar beritanya lenyap tak berbekas dan orangnya tak pernah
muncul ke mba li di dala m dunia persilatan.
Tentu saja nasib beberapa orang itu kebanyakan mene mui
bencana daripada ke mujuran. Mereka tewas secara misterius.

3
Akibatnya, pandangan orang persilatan terhadap kuil bobrok itu
pun segera berubah. Timbul suatu perasaan seram dan takut di
hati mereka terhadap kuil itu, dan tak seorangpun yang berani
me lakukan penyelidikan lagi atas kuil tersebut.
Maka teka-teki yang penuh rahasia itu, dengan me mbawa
rahasia dunia persilatan yang tiada taranya, sampai detik ini belum
pernah tersingkap secara jelas.
Mala m itu adalah suatu mala m yang sangat gelap. Kabut tebal
menyelimuti permukaan tanah, angin dingin berhe mbus kencang,
hanya beberapa titik cahaya bintang di angkasa yang memancarkan
sedikit cahaya yang redup.
Kentongan kedua baru lewat, tiba-tiba di depan kuil bobrok yang
terpencil, menyeramkan dan mengerikan itu muncul seorang
pemuda berusia dua puluh tahunan. Agak la ma sudah ia berdiri di
depan kuil angker itu.
Kemudian “Aaaih,” dia menghela napas sedih.
Pemuda itu sangat murung, juga kesepian. Dia seperti
me mbawa perasaan murung yang sangat dalam. Setiap mala m tiba
dia selalu berdiri mela mun di depan kuil itu. Sudah satu bulan lebih
dia berbuat de mikian.
Entah udara sedang cerah atau sedang turun hujan badai dan
kilat menyambar, dia sela lu hadir di sana dan mendengarkan suara
nyanyian yang misterius dan aneh itu. Tapi ia tak pernah berani
untuk melangkah masuk ke dala m kuil itu barang satu langkahpun.
Mungkin dia pun merasa takut dan kuatir terhadap kesela matan
jiwanya.
Waktu itu, dia sedang mendongakkan kepalanya me mandang
bintang yang bertaburan di angkasa. Ke mudian me mperdengarkan
suaranya helaan napas panjang yang amat berat.
Cahaya bintang yang redup menyoroti wajahnya. Itulah
selembar wajah yang me mbuat orang merasa keder, bukan lantaran

4
jelek atau menyeramkan, sebaliknya karena wajah yang tampan itu
me mbawa keangkuhan serta sikap dingin yang me nggidikkan hati.
Alis matanya tajam bagaikan pedang, matanya tajam bagaikan
sembilu. Ia me miliki bibir yang tipis berbentuk busur, ini
me la mbangkan kekerasan hati serta watak kepalanya yang besar,
namun sorot matanya yang tajam itu justru me mbawa sinar
pembunuhan yang tebal, seakan-akan dia adalah orang yang begitu
dingin dan keja m.
Pemuda serba aneh itu ke mbali me mperdengarkan suara he laan
napas beratnya yang mengenaskan. Menyusul ke mudian, bagaikan
orang mengigau dia berguma m seorang diri:
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong, kau memiliki dendam
berdarah yang lebih dala m dari sa mudra, tapi... kau demikian tak
becus. Sudah belasan tahun la manya kau berkelana da la m dunia
persilatan yang penuh dengan tipu muslihat, tapi sedikitpun tanpa
hasil.
Kini kau tahu telah bertemu dengan manusia aneh yang tiada
taranya ini, mengapa kau malah menjadi ketakutan setengah mati?
Sekalipun akibatnya akan merenggut nyawa mu, tapi kaupun harus
tunjukkan keberanianmu serta semangat juangmu antara mati dan
hidup, bila kau tak berani bertaruh maka kau akan selalu
terombang-a mbing dala m dunia persilatan tanpa hasil apa-apa.
Akhirnya kau akan mampus dan menjadi seorang manusia berdosa
yang paling tidak berbakti, kepada orang tua di dunia ini....
Mengertikah kau?"
Ketlika selesai berguma m, titik-titik air mata tiba-tiba meleleh
keluar dan me mbasahi wajah Ku-See hong, si pe muda aneh itu.
Jelas ia terbayang kembali a kan semua pengala man pahit yang
telah diala minya sewaktu kecil dulu. Ini me mbuat hatinya amat
pedih dan me nyesal.
Setelah menghela napas panjang lagi dengan pedih ke mba li
pemuda itu berguma m.

5
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong. Jangan lupa bahwa kau
pernah bersumpah berat kepada langit untuk me mbalas denda m
sakit hati ayah ibumu dan mencincang tubuh pembunuh itu menjadi
berkeping-keping....”
Ketika berguma m sa mpai di situ, dari balik matanya yang jeli
segera me mancar keluar suatu tekad yang besar, bersinar mata
dingin keji dan mengerikan. Dia menghe mbuskan napas panjang
lalu berdiri me matung dan tidak berbicara lagi....
Kentongan ketiga hampir tiba, pemuda aneh Ku See-hong yang
me mbungka m itu mendadak mena mpilkan sesuatu tekad yang
bulat. Pelan-pelan dia berjalan menuju ke arah kuil kuno itu. Jelas
dia telah menga mbil keputusan untuk me mpertaruhkan nyawa dan
pergi beradu nasib. Sebab lebih baik mati di dala m kuil daripada
harus hidup di dunia bebas tanpa mendapatkan hasil apa-apa.
Mendadak pada saat itulah suara nyanyian yang aneh dan
misterius itu berkumandang lagi da la m kuil.
Suara nyanyian yang melengking dan tajam itu berkumandang
nyaring di tengah he mbusan angin barat laut yang kencang, begitu
mengerikan dan seramnya suara tersebut, membuat bulu kuduk
orang pada bangun berdiri.
Irama nyanyian yang aneh itu penuh mengandung tenaga gaib
yang ma mpu me mbetot sukma orang, sekalipun seorang jago yang
me miliki tenaga dalam amat sempurna, juga susah untuk melawan
pengaruh nyanyian tersebut.
Tapi kenyataannya, Ku See-hong sama sekali t idak terpengaruh
oleh suara nyanyian itu… bukankah hal ini menunjukkan sesuatu
keanehan?
Ku See-hong me mang seorang pe muda yang berbakat bagus.
Gemblengan sela ma ha mpir satu bulan di depan kuil itu me mbuat
timbulnya sesuatu kebiasaan terhadap pengaruh irama iblis
tersebut, sekalipun saat ini diapun terpengaruh juga oleh irama
tersebut.

6
Namun dala m lelapnya kesadaran dia masih me miliki tenaga
yang kuat untuk meronta diri, bahkan otaknya yang cerdas berhasil
menghapa lkan nada ira ma nyanyian yang aneh itu.
Semenjak setengah bulan berselang, irama nyanyian yang aneh
itu sudah berhasil dihapalkan olehnya, malahan ia bisa
me mbawanya sendiri untuk bersenandung, sekalipun bait syairnya
masih tida k diketahui olehnya.
Itulah sebabnya, berhubung Ku See-hong sudah hapal dengan
irama nyanyian itu, maka ketika itu dia sudah tidak terpengaruh lagi
oleh tenaga gaib dari ilmu pe mbetot sukma tersebut.
Angin barat laut yang dingin berhe mbus se makin kencang,
suaranya yang me milukan hati.
Dari balik sorot mata Ku See-hong terpancar keluar sinar
kebulatan tekadnya yang tebal. Dengan me mbusungkan dada, dan
me langkah lebar, dia berjalan mengha mpiri kuil itu. Sinar matahari
yang tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling ruang kuil
yang bobrok itu.
Tampak bangunan kuil tersebut sangat besar dan luas. Dinding
pekarangan yang mengitari bangunan itupun mencapai ratusan kaki
luasnya. Ruang kuil itu menjulang tinggi di angkasa dan saling
sambung-me nyambung, tapi berhubung sudah dima kan usia, pintu
gerbangnya sudah ambruk dindingnya banyak yang retak dan
berlubang, bahkan rumput ilalang tumbuh setinggi lutut.
Pemandangannya amat mengerikan sekali. Bila seseorang bernyali
kecil, dia tak akan berani, untuk mendatangi te mpat semaca m ini di
tengah ma la m buta begini....
Sementara itu, angin barat laut yang kencang masih berhe mbus
lewat tiada hentinya.
Pohon siong dengan ranting yang gundul dan bayangan batang
yang kurus bagaikan setan yang sedang me mentangkan cakarnya.

7
Betul Ku See hong bernyali besar, tapi selama satu bulan terakhir
ini sudah terlalu sering ia mendengar jeritan ngeri yang
menyayatkan hati dari kawanan jago silat yang me masuki kuil itu.
Maka tak urung t imbul juga perasaan bergidik dala m hatinya.
Semakin dipandang kuil itu, semakin terasa olehnya betapa seram
dan menakutkannya pemandangan di sekeliling sana, apalagi
ditambah bunyi ranting yang terhembus angin, semakin me na mbah
seramnya suasana.
“Ciiit…. Ciiit….”
Serentetan jeritan tajam mendadak berge mas me mecahkan
keheningan.
Dengan perasaan terperanjat buru-buru Ku See-hong mundur
sejauh tiga langkah ke belakang.
Dengan cepat dia mengalihkan sinar matanya ke dalam ruang
kuil yang gelap gulita itu, ternyata ada beberapa ekor kelelawar
hitam yang sedang terbang ke luar.
Setelah mengetahui suara apakah itu, Ku See-hong segera
menghe mbuskan napas panjang, rasa tegang yang semula
menyelimuti wajahnya la mbat laun menjadi tenang ke mba li.
Selangkah de mi se langkah ke mbali dia berjalan masuk ke dala m.
Sekarang dia sudah mula i melangkah di atas jalan setapak yang
berhiaskan batu hijau.
Mungkin karena sudah terlampau la ma kuil tersebut terbengkalai
maka di atas batu-batu hijau itu sudah tumbuh lumut yang a mat
tebal, ditambah lagi kegelapan ma la m me nceka m se luruh jagad,
seandainya seorang tidak me miliki ilmu meringankan tubuh yang
sempurna, mungkin baru selangkah saja berjalan akan terpeleset
jatuh ke tanah.
Jalan beralas batu hijau yang menghubungkan pintu gerbang
dengan ruangan tengah itu lebih kurang puluhan kaki jauhnya.
Ketika baru selesai me lalui jalan berlumut itu, sekujur badan Ku
See-hong sudah basah kuyup oleh keringat.

8
Tiba-tiba… ia me ndongakkan kepala me mandang papan na ma di
atas ruang tengah kuil itu, ha mpir saja ia menjerit kaget saking
terperanjatnya.
Ternyata di atas papan na ma itu tertera beberapa huruf besar
yang berwarna merah darah, tulisan itu berbunyi:
“SIAPA MASUK BAKAL MAMPUS”
Di kedua belah sisi papan nama itu masing-masing tergantung
dua butir tengkorak manusia. Siapa saja pasti akan merasa
terperanjat sekali bila menjumpai benda tersebut untuk perta ma
kalinya.
Sinar matanya yang dingin menyeramkan ke mbali dialihkan
me mandang se keliling tempat itu. Kemudian dengan kening
berkerut melangkah naik ke atas undak-undakan batu.
Tampak ruangan tengah kuil itu gelap gulita dan menggidikkan
hati. Sarang laba-laba berada di mana-mana, debu setebal
beberapa inci menghiasi lantai. Dengan langkah tegap Ku See-hong
masuk ke dala m ruang tengah itu. Di sana ia saksikan patung arca
sudah banyak yang hancur dan rusak, banyak di antaranya yang
kutung tangan atau kakinya dan paka ianpun compang-ca mping,
keadaannya sangat mengenaskan.
Angin dingin yang berhe mbus lewat dala m ruangan se ma kin
mendirikan bulu roma orang, apalagi me mandang patung-patung
arca dalam ruang tengah yang menyeramkan itu. Ini se mua
me mbuat suasana sedemikian menggidikkan hati sehingga sukar
dilukiskan dengan kata-kata.
“Keeekkk…” terhe mbus angin dingin, tiba-tiba pintu sebelah di
depan ruangan itu terhe mbus hingga menutup sebagian. Suara
menutupnya pintu yang me manjang dan me mendek itu kedengaran
amat menusuk pendengaran.
Walaupun paras muka Ku See-hong sedikitpun tidak
me mperlihatkan rasa takut atau ngeri padahal hatinya sudah
merasa tidak tenang se menjak tadi.

9
Dengan me mbesarkan nyalinya dan penuh diliputi ketegangan
dia berjalan masuk ke dala m kuil yang mirip rumah setan itu. Di
serambi yang gelap dan suatu he mbusan aneh yang mirip jeritan
setan akhirnya melintaskan juga setitik perasaan ngeri di atas
wajahnya.
“Sreet. Sreet…” mengikuti suara langkah kakinya yang
me mbawa bunyi ge merasak, jantungnya terasa berdenyut makin
kencang.
“Weeess,” segulung angin dingin berhe mbus lewat.
“Aaahh…!” Ku See-hong me mperdengarkan jeritan kaget.
Dengan kaki ge metar dia mundur tujuh-delapan langkah lagi ke
belakang.
Kiranya waktu itu dia sudah sampai di depan sebuah bangunan
loteng yang sangat lebar. Di atas undak-undakan di sebelah kiri
dan kanan masing-masing berdiri tegak sesosok tulang belulang
manusia yang masih utuh. Di tengah tengkorak itu me mbawa
sebuah benda perak yang bercahaya tajam.
Dala m lirikan matanya yang sedang menegang itu, anak muda
tersebut merasa seakan-akan kedua sosok mayat itu adalah mayat
hidup yang sedang melotot ke arahnya dengan sinar mata
ke marahan.
Tapi setelah mengetahui kalau tengkorak itu sudah lama mati,
dia m-dia m Ku See-hong baru menghe mbuskan napas panjang,
meski jantungnya masih berdenyut dengan kerasnya sebab kuil ini
dalam kenyataannya jauh lebih mengerikan daripada berita yang
tersiar di luaran.
Setelah menenangkan sebentar hatinya, pemuda itu baru
menengok ke arah papan na ma di atas pintu gerbang itu. Di sana
tercantum e mpat huruf merah darah yang berbunyi:
“PEK KUT YU HUN” (Tulang tengkorak sukma gentayangan).

10
Di kedua belah sisi papan na ma tadi, masing-masing tergantung
sebuah kepala tengkorak. Ku See-hong segera berguma m seorang
diri,
“Pek-kut-yu-hua,… Pek-kut-hun…. Apakah yang dimaksudkan
adalah tumpukan tulang-belulang manusia yang mati dala m kuil
ini…?”
Berguma m sa mpai di situ, dia lantas melirik sekejap ke dala m.
Sayang suasana di dala m ruang itu gelap-gulita, susah dilihat jelas.
Maka dengan cepat dia menga mbil keputusan di dala m hati dan
me langkah na ik ke atas unda k-undakan batu itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi desingan lirih, ke mudian terlihatlah
benda berwarna perak di tangan tengkorak yang berada di sebelah
kiri itu mengayun ke bawah dengan me mbawa suara desingan angin
yang amat tajam.
Sreet, cahaya perak itu langsung menusuk ke ulu hati Ku See-
hong.
Bukan saja serangan ini dilancarkan dengan kekuatan yang amat
besar, jurus serangannya juga garang dan keji, dengan kecepatan
yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Mimpin pun Ku See-hong tidak menyangka kalau tengkorak
tersebut bakal menyergap secara tiba-tiba. Dala m terperanjatnya
cepat dia merendahkan badan sambil berputar arah secara lihay dan
manis, ia menghindarkan diri dari sergapan maut tersebut.
Siapa tahu baru saja ia menghe mbuskan nafas lega. “Kraaak,”
lagi-lagi terdengar suara desingan keras.
Kali ini, tengkorak yang berdiri kaku di sebelah kanannya mulai
bergerak. Cahaya di tangannya itu secepat sambaran kilat
menghanta m ke arah ja lan darah Ciok-sun-hiat di belakang batok
kepala Ku See-hong.
Saking terkesiapnya, paras muka si anak muda itu berubah
hebat. Keinginannya untuk hidup me mbuat badannya tanpa sadar
miring ke samping ke mudian tangan kanannya memba lik sambil

11
me le mpar ke belakang. Cahaya perak yang menganca m tiba itu
segera menyambar ke arah t iang.
Siapa tahu belum sampa i jurus serangan dari Ku See-hong itu
digunakan sa mpai matang, cahaya perak tadi tiba-tiba menyusup ke
belakang, kemudian dari sisi kiri dengan me mbawa berpuluh-puluh
titik cahaya tajam menya mbar lagi menganca m dua belas jalan
darah penting di tubuh anak muda tersebut.
Perubahan jurus serangan, melancarkan pukulan, semuanya
dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, sama sekali tidak
terpaut jauh bila dibandingkan dengan jago nomor satu dari dunia
persilatan.
Dala m terkesiapnya Ku See-hong segera jongkok dan
menggulingkan diri ke bawah undak-unda kan batu. Setelah itu
dengan cepat dia melompat bangun lagi, dengan napas terengah
dan keringat bercucuran dia berdiri me mucat di situ.
Anehnya, begitu Ku See-hong sudah melompat turun dari undak-
undakan batu tadi, tengkorak yang ada di sebelah kiri dan kanan
itupun segera balik ke mba li pada posisinya semula.
Ku See-hong yang keras kepala tak mau menyerah kalah dengan
begitu saja. Sekali lagi dia melompat naik ke atas undak-undakan
batu itu. Tapi seperti yang pertama tadi, ke mbali dia me ngala mi
serangan demi serangan yang a mat gencar.
Tak sa mpai sepertanak nasi la manya, ia gagal untuk mene mbusi
tempat tersebut. Kesemuanya ini dengan cepat me mbuat hatinya
menjadi kecut dan sedih sekali.
Tapi pe muda itu me mang cukup cerdas. Setelah gagal dengan
tujuh kali percobaannya pikirannya pun segera terbuka. Rupanya
kedua sosok tengkorak itu me mang sudah mendapat latihan yang
khusus untuk menyergap musuh-musuh yang datang dari luar.
Apabila kakinya tidak me langkah di atas undak-undakan batu itu,
secara otomatis kedua sosok tengkorak itu juga tak akan bergerak,
dan dengan sendirinya tak akan menyerang pula dirinya.

12
Berpikir sa mpai di situ, Ku See-hong siap-s iap mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya untuk menyeberangi ruangan tersebut,
ketika ia mendonga kkan kepalanya, tiba-tiba dijumpa i pada
beberapa kaki di atas pintu gerbang itu terlihat berjajar tiga buah
rantai tipis yang menjulur ke bawah. Jarak antara rantai yang
pertama dengan rantai lainnya adalah tiga jengkal lebih.
Tentu saja, dengan kecerdasan otak yang dimiliki Ku See-hong,
tidak sulit baginya untuk menduga bahwa benda tersebut adalah
semaca m senjata rahasia pembunuh yang berbahaya sekali. Maka
rencananya untuk menyeberang dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuh pun segera mengala mi kegagalan total.
Untuk sesaat lamanya anak muda itu berdiri tertegun dengan
perasaan kecewa dan putus asa. Semua harapan di da la m hatinya
juga turut musnah tak berbekas.
Sampa i la ma se kali, sekilas rasa girang baru me lintas di atas
wajah anak muda itu, ia berhasil mene mukan suatu akal yang
sangat bagus.
Sambil berpekik nyaring, secepat sambaran kilat, Ku See-hong
me lompat naik ke atas undak-unda kan batu itu.
“Srrreeet…” tengkorak yang berada di sebelah kanan itu segera
me mutar senjata peraknya sedemikian rupa sehingga menciptakan
serangkaian bianglala berwarna perak, kemudian langsung menusuk
ke iga kiri ana k muda itu, serangannya garang sekali.
Sedari tadi Ku See-hong telah me mperhitungkan sa mpa i ke situ,
di kala kakinya sedang menginjak di atas ubin batu itu, badannya
segera menjatuhkan diri ke tanah dan berguling cepat menyusup ke
arah dalam ruangan.
Detik terakhir menje lang tubuh Ku See-hong tiba di depan pintu
ruangan itulah, mendadak dari atas pintu menyambar datang sekilas
cahaya tajam yang menyilaukan mata, tahu-tahu sebuah pintu
berpisau yang tajam telah meluncur ke bawah dan siap mencabik-
cabik tubuh pe muda tersebut.

13
Tak terlukiskan rasa kaget Ku See-hong menghadapi kenyataan
itu. Hampir saja ia merasa kehilangan sukma lantaran
terperanjatnya. Entah dari mana datangnya kekuatan, sekuat
tenaga dia melejit ke sa mping.
“Blaaa m…!” diiringi suara yang sangat keras, pintu berpedang
yang terdiri dari belasan buah pedang tajam itu langsung menancap
di atas lantai yang mengakibatkan timbulnya percikan bunga api.
Ku See-hong mendengus tertahan… kaki kirinya yang terlambat
menghindar segera termakan tusukan sebilah pedang.
Sebuah mulut luka yang besar muncul di atas badannya, darah
segar bercucuran me mbasahi se luruh badannya. Coba sedikit ia
terlambat menghindar, niscaya tubuhnya sudah tertembus oleh
tusukan pedang-pedang itu.
Dengan cepat Ku See-hong me lompat bangun la lu me mandang
pintu pedang itu dengan termangu-mangu. Lama, lama sekali ia
baru menghela napas panjang, pe kiknya di hati:
“Ha mpir saja aku ma mpus di ujung pedang-pedang itu. Coba
kalau ma mpus, dendam berdarahku tak akan terbalas untuk
selamanya.”
Teringat tentang dendam berdarah itu, kobaran api kebencian
yang kuat segera muncul dala m hatinya dan me mbakar badannya.
Sekulum senyuman dingin yang kejam tersungging di ujung
bibirnya, sinar mata yang me mancar pun merupa kan sinar merah
berapi-api yang penuh dengan rasa benci dan denda m yang dala m.
Tapi setelah Ku See-hong dapat melihat jelas suasana dalam
ruang dalam, sekali lagi ia bergidik, bahkan bersin beberapa kali.
Kobaran api denda m dan rasa benci yang me mbara dala m dadanya
itu seakan-akan terguyur oleh sebaskom air dingin, kontan lenyap
tak berbekas.
Ternyata di dala m ruangan itu penuh berserakan tulang
tengkorak manusia. Ada yang sedang berduduk, ada yang
berbaring, ada pula yang berdiri, bentuknya aneh sekali. Dita mbah

14
lagi ra mbutnya yang hitam dengan gigi putih yang menyeringa i
keluar, me mbuat wajah mereka kelihatan begitu menakutkan dan
seramnya hingga menggidikkan hati siapapun.
Ku See-hong merasakan dirinya seakan-akan berada di dala m
neraka. Hatinya tercekat, bergidik dan ketakutan.
“Ciiit… ciiit…” serentetan bunyi aneh yang meme kikkan telinga
berkumandang datang dari arah bela kang.
Dengan cekatan Ku See-hong berpaling ke belakang, tapi dengan
cepat ia menjerit kaget:
“Aaaah….”
Dengan ketakutan ia mundur beberapa langkah ke belakang.
Ternyata lebih kurang satu kaki dari Ku See-hong terdapat
sebuah peti mati. Waktu itu penutup peti mati tersebut sedang
pelan-pelan me mbuka sendiri….
Menyusul ke mudian, dari balik peti mati itu pelan-pelan muncul
sebuah tangan aneh yang tinggal tulangnya melulu. Tangan aneh
tadi mencakar kesana-ke mari dengan serawutan.
Jantung Ku See-hong kemba li berdebar keras. Dengan pancaran
sinar mata yang aneh dan takut dia awasi peti mati itu tak berkedip,
terasa kakinya menggigil keras dan le mas sekali. Kalau bisa dia
ingin menjatuhkan diri untuk duduk di lantai.
“Blaaa m…!” t iba-tiba suatu benturan keras ke mbali terjadi.
Pintu di mana Ku See-hong lewat ketika me langkah masuk ke
dalam ruangan tadi mendadak menutup dengan sendirinya, bahkan
menutup rapat-rapat sehingga setitik cahayapun tak Na mpak.
Suasana di tempat itu menjadi ge lap gulita hingga kelima jari
tangan sendiripun susah dilihat. Udara menjadi sesak dan la mat-
la mat Ku See-hong mengendus bau busuknya bangkai yang a mat
menusuk hidung.

15
Untung Ku See-hong me miliki ketaja man mata yang mela mpaui
orang lain, walau berada di tengah kegelapan, ia masih dapat
me lihat peti mati itu dengan jelas.
“Kreeek… kreeek…. Serentetan suara aneh yang menusuk
pendengaran ke mbali mengge ma dala m ruangan itu.
Penutup peti mati tersebut kini sudah terangkat tinggi-tinggi ke
udara, kemudian….
“Blaaa m!” diiringi suara keras penutup peti mati itu sudah
terlempar jatuh ke tanah.
Bersama dengan me mbukanya penutup peti mati itu, sesosok
tengkorak hidup pelan-pelan bangkit berdiri dari balik peti mati.
Tengkorak itu jauh berbeda dengan tengkorak-tengkorak la innya.
Dia me mpunyai rambut yang sangat panjang dan mata yang cekung
ke dala m, tapi anehnya ternyata mata itu me mancarkan cahaya
hijau yang berkilauan.
Dala m takutnya Ku See-hong merasa sangat ngeri. Ia tidak
percaya kalau di dunia ini terdapat tengkorak hidup, tapi kenyataan
telah berada di depan mata, tidak percayapun tak mungkin.
Dala m pada itu, tengkorak hidup itu sudah bangkit dari peti
matinya dan me langkah ke luar, ke mudian selangkah de mi selangkah
la mban tapi tetap mengha mpiri Ku See-hong.
Pada saat itulah, ruangan yang gelap gulita dan sebenarnya tiada
hembusan angin itu mulai dipenuhi oleh deruan angin yang sangat
keras dan tajam.
Munculnya angin inipun sangat aneh seolah-olah berhembus
keluar dari balik dinding di sekitar ruangan itu. Makin la ma angin itu
berhembus se makin kencang. Suara deruan angin pun makin keras
dan me mekikkan telinga.
Sekarang tengkorak hidup itu sudah berada lebih kurang e mpat
jengkal dari Ku See-hong. Sepasang lengan panjangnya yang
tinggal tulang itu sudah diluruskan ke depan mencengkera m tubuh

16
pemuda itu. Segulung bau amis yang amat menusuk hidung segera
menerpa tiba.
Ku See-hong yang berdiri begitu dekat dengan tengkorak itu
dapat melihat dengan jelas bagaimana bagian dada dari tengkorak
itu cuma terdiri dari tulang-tulang iga yang berjajar lurus, sementara
di dala mnya kosong me lompong tak berisi apa-apa. Ini
me mbuktikan ka lau tengkorak itu benar adalah sesosok tengkora k
hidup.
Bagaimanapun besarnya nyali pe muda itu tak urung dia menjerit
kaget juga. Selangkah de mi se langkah dia mundur terus ke
belakang.
Anehnya, ternyata mayat hidup itupun me mpercepat langkahnya
mengejar ke manapun dia pergi.
Tiba-tiba, kaki Ku See-hong terkait oleh seonggok tulang
belulang. Sambil menjerit kaget tubuhnya segera terpelanting dan
terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Rupanya tempat di mana ia terjatuh barusan adalah sebuah peti
mati juga. Ketika itu, penutup peti mati itu sedang terangkat ke
atas, sesosok tengkorak lain sedang menjulurkan tangannya yang
aneh untuk mencengkera m tubuh anak muda itu.
Ku See-hong ketika itu benar-benar ketakutan setengah mati
sehingga sukma pun terasa bagaikan mau terbang meninggalkan
raganya. Ia memperdenarkan suara auman yang agak gemetar.
Suara itu seperti jeritan kaget, seperti juga teriakan ngeri, namun
sepasang matanya masih mengawasi kedua sosok tengkorak hidup
itu tanpa berkedip.
Dala m pada itu gerak pengejaran yang dilakukan kedua sosok
tengkorak hidup itu makin la ma semakin cepat… dalam waktu
singkat mereka sudah berada empat jengkal di hadapan Ku See-
hong.
Dengan ketakutan pe muda itu ke mbali mundur ke be lakang.

17
Tiba-tiba… kaki Ku See-hong tergaet ke mba li oleh sesuatu benda.
Rupanya membentur lagi pada sebuah peti mati. Dengan cepat dia
berpaling, tapi sesosok tengkorak hidup tahu-tahu sudah muncul
ke mbali di hadapan matanya.
Pemuda itu benar-benar ketakutan setengah mati. Matanya
sampai terbelalak lebar sedang tubuhnya berdiri kaku seperti mayat.
Tengkorak-tengkorak hidup itu sama sekali tidak berlaku sungkan
kepadanya. Lengan bertulang putihnya itu secara lurus disodok ke
muka, menusuk dada pe muda itu, tapi gerakannya la mbat seka li.
Segulung bau a mis yang menusuk hidung segera berhembus
lewat.
Mendadak Ku See-hong tersadar kembali dari lamunannya. Ia
menyaksikan kuku tengkorak hidup yang tajam itu sudah mene mpe l
di atas pakaian bagian dadanya.
Ku See-hong menjerit keras, secepatnya dia me mbuang diri ke
belakang dan mundur cepat-cepat.
Belum lagi kakinya berdiri tegak, kembali segulung bau a mis
ke mbali datang, dan dua sosok tengkorak hidup la innya dengan
yang satu di kiri dan yang lainnya di kanan sedang me mutar kuku-
kukunya yang panjang dan tajam mencengkeram ke atas bahunya.
Hampir pecah nyali Ku See-hong menghadapi anca man tersebut,
buru-buru dia melompat lagi beberapa kaki ke belakang dengan
badan gemetar. Ka li ini saking paniknya ia sa mpai tak ma mpu
menguasai diri dan terjatuh ke tanah, dadanya terengah-engah.
Meski da la m kege lapan sukar untuk mengetahui paras mukanya,
tapi bisa diduga muka itu tentu sudah berubah menjadi pucat pias
seperti mayat.
Yang berada di hadapan Ku See-hong sekarang bukan hanya tiga
sosok tengkorak hidup saja tapi tengkorak-tengkorak yang semula
tiduran atau duduk itu sekarang telah berlompatan bangun sambil
menarik sepasang lengannya, pelan-pelan mereka mendesak ke
depan.

18
Api setan menari-nari di udara, warna hijau menyeramkan yang
mencorong dari balik le kukan mata tengkorak-tengkorak yang
kosong itu mena mbah sera mnya suasana.
Tapi waktu itu he mbusan angin yang maha aneh tersebut telah
menjadi tenang kembali, menyusul suara jeritan dan teriakan aneh
yang menyeramkan berge ma a mat me me kikkan telinga.
Rasa putus asa me menuhi seluruh benak Ku See-hong. Ia
me mbenci segala-galanya, ia me mbenci kepada Thian yang tidak
me mberi keadilan kepadanya, membenci karena dendam sakit hati
ayah-ibunya belum terbalas. Tapia pa gunanya me mbenci bila
elmaut sudah berada di a mbang pintu?
Sesosok tengkorak hidup telah mendesak ke hadapan Ku See-
hong. Sreeet… diiringi desingan tajam sepasang lengan tengkorak
itu menya mbar ke bawah bersama-sa ma. Hanya kali ini gerak
serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat.
Harapannya untuk hidup yang semula masih berkobar di dada Ku
See-hong, kini sudah lenyap tak berbekas. Tanpa berpikir panjang
lagi dia menjatuhkan diri berguling ke sa mping untuk
menyela matkan diri, setelah itu dengan cepat dia melompat bangun.
Tiba-tiba, di tengah ruangan yang sunyi senyap itu
berkumandang suara gelak tertawa setan yang dingin dan
me me kakkan telinga.
“Heeehhh… heeehhh… heeehhh…. Heeehhh… heeehhh…
heeehhh….”
Suara tertawa itu lamban, berat dan dalam meski amat pelan tapi
saling susul menyusul hingga me mbuat seluruh ruangan bergetar
dengan kerasnya.
Ku See-hong hanya merasakan seluruh tubuhnya seperti
tersayat-sayat oleh pisau tajam mengikuti gelak tertawa yang
mengge ma barusan itu. Sekujur tulang badannya seakan-akan
tergetar lepas dan hancur berantakan hingga tak ada wujudnya lagi.

19
Bagaikan orang gila Ku See-hong berteriak keras, tubuhnya
secepat kilat menubruk ke depan dan malahan mengha mpiri sa lah
satu di antara tengkorak-tengkorak hidup itu.
Bila seseorang dihadapkan pada ancaman maut, ada kalanya
mereka tida k mela kukan perlawanan dan pasrah pada takdir yang
telah mengaturnya, tapi lebih banyak orang yang berjuang sampai
titik darah penghabisan me lawan ma laikat e lmaut.
Dala m keadaan terancam oleh bahaya ini, Ku See-hong bukannya
pasrah sebaliknya justru timbul suatu kekuatan untuk me mberontak
yang kuat sekali. Dia ingin mengerahkan segenap kekuatan yang
dimilikinya untuk me loloskan diri dari neraka yang menyeramkan itu.
Sekalipun harapan tersebut nampa knya sangat tipis, toh bukan
berarti tak dapat dicoba, sebab bagaimanapun juga lebih baik
berusaha daripada pasrah kepada nasib.
Entah dari mana datangnya kekuatan, sepasang lengan Ku See-
hong dengan me mbawa segulung kekuatan yang dahsyat, bagaikan
ambruknya bukit karang, langsung disodokkan ke tubuh sesosok
tengkorak hidup yang sedang menubruk datang itu.
“Blaaa mmm…! ” ketika tengkorak hidup itu terma kan oleh
serangan tersebut, tubuhnya hanya bergetar sedikit, kemudian
sambil tertawa seram selangkah demi selangkah maju ke mbali
untuk mengejar korbannya.
Keadaan Ku See-hong pada waktu itu sudah mirip orang gila,
telapak tangan kirinya me mbacok ke belakang, telapak tangan
kanannya mendorong. Maka angin puyuh menderu-deru di
sekeliling tubuhnya.
Kembali sesosok tengkora k hidup terhajar telak oleh pukulan
beruntun tangan kiri kanannya, namun sa ma sekali tida k
mendatangkan hasil apa-apa.
Gelak tertawa aneh yang mengerikan mengge ma se makin keras,
api setan yang berwarna hijau berkedip-kedip di balik kegelapan,
seramnya bukang kepalang.

20
Ku See berteriak keras, sepasang lengannya diputar sekenanya,
bahkan kadangka la sepasang kakinya ikut me lancarkan tendangan
berantai, pokoknya setiap kali ada bayangan hita m mendekatinya,
serangan segera dilancarkan secara ngawur.
Akhirnya ia mendapat kese mpatan untuk melepaskan diri dari
kurungan tengkorak-tengkorak hidup itu. Tanpa berpikir panjang
dia lantas putar badan dan melarikan diri secepatnya.
Dala m ruangan gelap gulita sukar me lihat kelima jari tangan
sendiri ini, dia sendiri tak tahu ke mana akan pergi, pe muda itu cuma
tahu lari dan lari terus secara me mbabi buta.
Mendadak Ku See-hong merasa ada segulung angin dingin
berhembus datang dari arah belakang yang me mbuat tubuhnya
terpelanting dan jatuh berjumpalitan di udara, menyusul ke mudian
ia merasakan badannya seakan-akan sedang meluncur jatuh ke
bawah dengan kecepatan luar biasa.
“Habis sudah riwayatku kali ini!” pekiknya dia m-dia m.
Dia sadar bahwa tubuhnya yang besar itu sedang terjerumus ke
dalam sebuah liang yang tak diketahui berapa da la mnya.
Ku See-hong menggerakkan tangannya kesana kemari secara
ngawur dengan maksud me ncari pegangan, tapi usahanya selalu
gagal, maka akhirnya ia me mperdengarkan jeritan anehnya yang
me me kakkan telinga. Inilah jeritan atau rontaan terakhir dari
seseorang menjelang datangnya elmaut.
Daya luncur tubuhnya serta deruan angin yang terpancar keluar
me mbuat kesadaran pe muda itu la mbat laun menjadi ma kin kabur.
Tapi jeritan kesakitan yang keras itu masih berkumandang ke luar
dari mulutnya.
“Blaaa mm…!” satu benturan nyaring mengge ma di udara.
Ku See-hong merasakan tubuhnya terjatuh di atas sebuah benda
yang lunak se kali.

21
Dala m sekejap mata tubuhnya seakan-akan dikurung oleh
banyak sekali benang yang tipis tapi kuat. Dia bagaikan seekor ikan
besar yang terjebak di dalam jala, mau berkutik pun tak ada
gunanya.
Rasa kaget yang luar biasa tadi sesungguhnya me mbuat
kesadarannya hampir punah. Tapi se karang, setelah dia tida k
mendengar lagi suaranya deruan angin yang tajam itu, ma ka
matanya pelan-pelan dipentangkan ke mbali.
Pemandangan pertama yang masuk dala m pandangannya adalah
tubuh sendiri yang terkurung di dala m jaring ra ksasa itu.
Hampir saja dia tida k percaya kalau dirinya masih hidup, tapi
ketika rasa girang itu me luap dala m hati, rasa sakit dan sedih
menyelimuti pula benaknya. Betul dia berhasil lolos dari
cengkeraman tengkora k-tengkorak hidup itu, tapi ia toh akan mati
kelaparan juga da la m jaring ini?
Dengan sorot matanya yang tajam Ku See-hong mencoba untuk
mengawasi ruang bawah tanah yang aneh itu. Butiran permata
kelihatan berha mburan di atas dinding batu di seke liling te mpat itu,
cahaya tajam yang berkilauan itu me mbuat benda dalam ruang
bawah tanah itu dapat terlihat je las.
Dia m-dia m ia menghe la napas panjang sehabis melihat
kesemuanya itu, dia tak menyangka kalau di dunia ini masih
terdapat banyak sekali keanehan yang mencengangkan hati.
Kiranya ruang bawah tanah di ma na ia berada sekarang
me mpunyai kedala man kira-kira lima-ena mpuluh kaki sehingga
bentuknya persis seperti sebuah sumur kuno yang sangat besar.
Jaring yang menjaring tubuhnya sekarang tergantung pada
ketinggian kurang lebih sepuluh kaki dari permukaan tanah.
Sedangkan jala raksasa itu sendiri tergantung pada tiga batang
tiang besi yang masing-masing lima kaki t ingginya. Tiang tersebut
dibuatnya sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk
menge mbang-ke mpiskan ja la di bawahnya.

22
Pada dasar ruang bawah tanah itu terdapat sebuah sumur kuno
berwarna hitam yang satu kaki luasnya. Letak sumur itu persis di
bawah jala raksasa itu. Ketika Ku See-hong me ngawasi bagian yang
lain, maka tanpa sadar dia menjerit kaget.
Apa yang sesungguhnya dia saksikan? Di sudut lain dari ruang
bawah tanah itu tergeletak tulang tengkorak manusia yang
berserakan di mana-mana.
Dengan suara pedih ia lantas berguma m seorang diri:
“Aaaii…. Lewat beberapa hari lagi tentu aku pun akan berubah
menjadi sesosok tengkorak seperti itu.”
Teringat akan ke matian, tanpa terasa beberapa titik air mata
jatuh bercucuran me mbasahi pipinya. Ia bukan takut mati, tapi
merasa sedih karena setelah mati, sudah pasti dendam berdarah
ayah-ibunya tak akan terbalas lagi. Tapi berada dalam keadaan
demikian, apa pula yang bisa dia lakukan?
Menjerit kepada langit, langit tida k menjawab berteriak ke bumi,
bumi tiada berpintu, terpaksa dia harus berdiam diri untuk
menunggu datangnya maut yang akan merenggut nyawanya.
Suasana keheningan dan kesepian menceka m seluruh ruangan
bawah tanah. Dalam keadaan sunyi senyap begini, dia merasakan
kesedihan, ketakutan dan kengerian.
Kini Ku See-hong mulai merasa agak mendenda m terhadap
manusia aneh yang berada dala m kuil itu, ia me nganggap manusia
aneh tersebut terlalu keji, sadis dan tidak berperikemanusiaan. Tapi
berpikir lebih jauh, tanpa terasa dia harus menegur pula kepada diri
sendiri:
“Se mua kejadian ini toh berlangsung karena kesalahanku sendiri,
bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan cianpwe yang berada
dalam kuil ini?
Dia kan berse medi dan mengasingkan diri di dala m kuilnya, tak
pernah me lakukan kepada orang luar, sedangkan di depan kuil pun
sudah tertera tulisan – Siapa berani masuk bakal ma mpus? Aku

23
sudah tahu barang siapa masuk ke dala m kuil ini pasti akan mati,
tapi nyatanya aku nekad masuk juga. Lantas kalau bukan diri
sendiri yang disalahkan, apakah orang la in yang musti disalahkan?”
Setelah berhenti sejenak, guma mnya lebih jauh:
“Aaaaii, yang lebih mengge maskan adalah ketidak-becusanku
sendiri, mana tak punya ilmu silat yang lihay, dendam berdarah
sedalam lautan tak bisa dibalas lagi.”
Ku See-hong yang sedang berguma m dan menyesal kepada diri
sendiri itu sama se kali t idak menyangka kalau waktu itu ada
sepasang mata yang cekung lagi mengawasi gerak-geriknya dari
balik kegelapan sana.
Terdengar Ku See-hong sekali lagi menghela napas pedih,
guma mnya lebih jauh:
“Menurut pendapatku locianpwe yang tinggal dala m kuil ini bisa
berwatak begitu aneh dan dingin tak berperasaan pasti disebabkan
ia me mpunyai pengala man lagi yang de mikian me medihkan hatinya
sehingga dia merasa putus harapan. Aaaii, apalagi kalau kudengar
suara nyanyiannya yang begitu me medihkan hati, meski aku masih
belum me maha mi ba it lagunya, tapi aku tahu bait tersebut pasti
merupakan suatu nyanyian yang sangat meremukkan perasaan.”
Setelah berhenti sebentar, mencorong sinar aneh dari balik mata
Ku See-hong, katanya lebih jauh, “Mungkin cianpwe ini seperti pula
aku, me mpunyai denda m kesumat yang lebih da la m dari sa mudra.”
Sesudah mengerutkan dahinya, sekali lagi dia menghela napas
panjang.
“Aaaai… andaikata ia dapat menyelamatkan jiwaku dan
mengajarkan ilmu silat kepadaku. Thian di atas dan hati sanubariku
sebagai saksi, aku Ku See-hong pasti akan menyelesaikan ke inginan
hatinya….”
Berguma m sa mpai di situ, Ku See-hong segera menggelengkan
kepalanya berulang kali.

24
“Tida k, tidak. Sudah pasti persoalannya tidak me nyangkut
masalah denda m sakit hati,” katanya kembali, “Dala m dunia
persilatan dewasa ini, siapakah yang sanggup melawan kehebatan
dari locianpwe ini? Seandainya ia me mpunyai musuh, sudah pasti
musuh-musuhnya itu sudah habis se mua terbunuh olehnya….”
Sewaktu Ku See-hong berguma m sa mpa i di situ, sepasang sorot
mata bercahaya hijau yang berada di balik kegelapan itu ke mbali
menatapnya tajam-tajam, sedangkan dala m hati kecilnya dia
berpikir:
“Dugaan bocah itu tepat sekali, siapakah manusia di dala m dunia
persilatan dewasa ini yang berani mengganggu seujung ra mbut
lohu? Aaaaii, tapi….”
Manusia di ba lik kegelapan itu ke mba li melenyapkan diri tanpa
menimbulkan sedikit suarapun.
Sementara itu Ku See-hong masih duduk termangu-mangu
seperti orang bodoh, lalu se kali lagi menghe la napas sedih.
Akhirnya dia duduk bersila di dala m jala dan mengatur pernapasan.
Rasa ketakutan yang menterornya semala man me mbuat pemuda
itu merasa sedemikian penatnya sehingga tanpa disadari dia telah
terlelap tidur.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Ku See-hong
dibangunkan dari tidurnya oleh serentetan suara gemuruh yang
aneh sekali.
Dala m kejut dan terkesiapnya, buru-buru Ku See-hong bangun
berduduk, kemudian mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot
mata taja m. Akan tetapi tiada sesuatu keanehan yang berhasil
dijumpainya.
Tapi suara ge muruh tersebut kian la ma kian bertambah besar,
suara pantulan yang dihasilkan dari da la m ruang bawah tanah
itupun seakan-akan terjadi pergolakan keras yang mengakibatkan
timbulnya suara deruan angin yang mirip suara guntur. Anehnya,

25
ternyata dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak terasa
adanya hembusan angin.
Tiba-tiba Ku See-hong menjerit kaget. Ternyata ia telah
mene mukan bahwa suara keras yang terdengar tadi berasal dari
dalam sebuah sumur kecil di dasar ruang bawah tanah itu.
Dengan wajah terkejut bercampur tercekat Ku See-hong
mengawasi sumur kecil itu tanpa berkedip.
Dala m pada itu suara ge muruh tersebut ma kin la ma se ma kin
cepat dan gencar. Ibaratnya semburan lahar di kepundan gunung
berapi, menyusul ke mudian terjadinya gempa hebat dala m ruangan
yang me mbuat segala sesuatunya bergoncang keras.
Sedemikian besarnya kekuatan itu seakan-akan seluruh jagad
akan menjadi musnah, begitu menggetarkan perasaan orang
me mbuat sukma serasa terombang-a mbing di tengah sa mudra.
“Bluuup. Bluuup. Bluuup!” letupan de mi letupan yang beruntun
terjadi di udara.
“Aaaah… suara ini adalah suara api!” pekik Ku See-hong dengan
suara tertahan. “Inilah api gas dari dala m perut bumi. Aduuuh,
celaka! Habis sudah riwayatku, kali ini aku pasti akan ma mpus
dengan tubuh tak berwujud lagi.”
Di tengah suara letupan de mi letupan yang menggelepar di udara
itulah, bagaikan sebuah gunung berapi kecil, dari balik sumur kecil
itu menye mbur keluar kobaran api yang menjilat-jilat setinggi ena m-
tujuh kaki tingginya, bahkan mengikuti suara letusan-letusan yang
beruntun itu, kobaran api kian la ma kian berta mbah dahsyat.
Ku See-hong yang berada di dala m jala ibaratnya seekor anak
kijang yang dipanggang. Dia dipanggang hidup-hidup dari bawah
secara keji.
Sekalipun jilatan api besar itu tidak sampai me mba kar tubuh Ku
See-hong, namun hawa panas yang luar biasa besarnya itu cukup
me mberikan penderitaan dan siksaan yang hebat baginya.

26
Berada dalam jala, Ku See-hong bergelindingan kesana ke mari
seperti monyet ma kan terasi, bahkan tiada hentinya
me mperdengarkan suara rint ihan kesakitan yang hebat.
Dengan sekuat tenaga Ku See-hong meronta dan me nggetarkan
jala itu keras-keras dengan harapan bisa merobek jala itu dan terjun
ke dala m kobaran api, sehingga dapat mati dengan cepat.
Siapa tahu jala raksasa itu justru terbuat dari serat ulat sutera
yang dipintal bersa ma e mas. Meski lunak dan e mpuk, tapi kuatnya
bukan kepalang. Sudah barang tentu harapannya tak bisa
terpenuhi.
Ku See-hong yang masih muda belia ini terpaksa harus menerima
siksaan berat yang tak akan pernah dialami orang lain. Jilatan api
yang membara menyerang dan menyengat badannya terus menerus
tanpa hentinya.
Tapi anehnya, kobaran api yang menye mbur keluar itu de mikian
kerasnya sehingga sama sekali tida k mengandung asap. Kalau
tidak, mungkin sedari tadi si anak muda itu sudah mati sesak oleh
asap yang tebal.
Kulit badan di sekujur tubuh Ku See-hong telah terpanggang
sehingga berubah warnanya menjadi merah me mbara. Panas, perih
dan sakitnya luar biasa, tapi ra mbut dan bajunya sama sekali tida k
menunjukkan tanda-tanda hangus atau ikut terbakar. Kenyataan ini
me mang sedikit agak aneh.
Napas Ku See-hong mulai terengah-engah, aliran darah di
sekujur badannya mengalir sema kin keras dan mendidih hebat. Dia
bergulingan kesana ke mari berusaha mengurangi penderitaannya.
Tapi usaha tersebut hanya sia-sia belaka, sebab sengatan hawa
panas yang menyerang badannya kian la ma kian berta mbah
dahsyat.
Kobaran api yang tak berperasaan, makin la ma me mbara
semakin dahsyat. Suhu udara makin meninggi dan hawa panas
menyesakkan napas.

27
Ia sudah tidak sanggup lagi untuk merasakan penderitaan yang
sedemikian hebatnya itu. Akibatnya setelah memperdengarkan
jeritan ngeri yang me milukan hati se maca m jeritan menje lang
ke matian, sekujur badannya bergulingan kesana ke mari dengan
sekarat.
Ku See-hong merasa darah dalam tubuhnya seakan-akan telah
mongering. Sekujur tulang belulangnya seperti mau retak dan
hancur berkeping-keping karena kepanasan, di sana-sini sudah
mulai bermunculan bagian tubuh yang hangus dan menyiarkan bau
busuk. La ma kela maan….
Sekarang hidung Ku See-hong dengan tajam dapat mengendus
bau daging yang hangus. Baunya bukan kepalang lagi, sekuat
tenaga, dia bergulingan lagi kesana ke mari berusaha meronta dan
me lepaskan diri dari siksaan, tapi la mbat laun rontaannya itu makin
la mban… makin la mban dan akhirnya berhenti sa ma seka li.
Siapa tahu pada saat itulah, di kala jiwanya sudah kritis dan
berada di ujung tanduk, mendadak dari sumur kecil itu me ledakkan
segumpa l kobaran api yang maha besar, menyusul kemudian diiringi
serangkaian suara ge merutukan, jilatan api panas itu lenyap tak
berbekas dan suasana pun pulih ke mbali dala m keheningan.
Hawa panas dalam ruang bawah tanah itupun dengan cepat
me mbuyar ke mana-mana, dala m waktu singkat suasana seram
ke mbali menyelimuti seke liling te mpat itu.
Dada Ku See-hong naik turun tiada hentinya. Sepasang matanya
menjadi merah me mbara, mulutnya me mperdengarkan suara
rintihan kesakitan, sedang kesadaran otaknya sudah ma kin kabur.
Dala m keadaan antara sadar dan tak sadar ini, Ku See-hong
hanya bisa berpikir di hati:
“Oooh, Thian, mengapa Kau tidak cepat-cepat biarkan aku mati
saja? Mengapa Kau harus menggunakan cara sekeji ini untuk
menyiksa diriku? Apakah nyawaku benar-benar sedemikian tida k
berharganya…?”

28
Tiba-tiba telinga Ku See-hong mendengar suara menga lirnya air.
Dengan cekatan dia meronta dan bangun berduduk. Dengan sorot
mata ngeri diawasinya sumur kecil itu tak berkedip.
Pada waktu inilah, jala raksasa yang mengurung Ku See-hong itu
seakan-akan dikendalikan oleh seseorang. Pelan-pelan meluncur ke
bawah, langsung masuk ke dala m sumur kecil itu. Ku See-hong
segera tahu bahwa siksaan yang lebih keji telah berada di a mbang
pintu, tapi saat itu jangankan melawan, tenaga untuk meronta
sudah tidak dimilikinya lagi, apalagi ia masih terkurung di dala m jala
tersebut. Terpaksa dia hanya bisa pasrah, membiarkan nasib buruk
maca m apapun menimpa dirinya.
Titik-titik air mata ke mbali me leleh keluar me mbasahi wajah
pemuda itu. Kejadian mengenaskan yang pernah dialaminya di
masa kecil dulu sekarang terbayang kemba li dala m benaknya. Ia
merasa seakan-akan menyaksikan seorang le laki dan seorang
perempuan yang bermandi darah sedang meratap, meronta di
dalam neraka.
“Aduuuhh…. Dingin seka li!”
Ku See-hong me njerit dengan mengenaskan, sekujur badannya
gemetar keras karena kesakitan.
Waktu itu, jala tersebut telah diceburkan ke dala m sumur kuno
yang amat dala m itu. Ternyata air dala m sumur adalah a ir yang
dinginnya bagaikan es.
Padahal kulit badan di sekujur tubuh Ku See-hong sedang
merasa kesakitan hebat lantaran digarang dengan api, begitu
direnda m di dala m air yang dinginnya bagaikan es ini, kontan saja
penderitaan yang diala minya itu me mbuat dia tak sanggup menahan
diri.
Tragisnya jala yang tak berperasaan itu justru menyusut semakin
kecil pada waktu itu. Menyusut sedemikian rupa sehingga luasnya
hanya cukup bagi pemuda itu untuk berdiri ka ku. Maka dari itu
sekalipun Ku See-hong tak kuat menahan siksaan a ir dingin yang
menyayat badan, ia sama seka li tak berdaya untuk meronta.
29
Lambat laun darah yang menga lir di dala m tubuh Ku See-hong
makin me mbeku. Sekujur tubuhnya tegak kaku dan mengeras
seperti batu, napasnya semakin lirih sedangkan sorot matanya mula i
kabur dan termangu-mangu seperti orang bodoh.
Dia ha mpir mati kedinginan, untuk sesaat tubuhnya sama sekali
tak ma mpu berkutik lagi.
Di kala kesadaran Ku See-hong sudah ha mpir mulai punah,
pelan-pelan jala raksasa dikerek na ik lagi ke atas dan meninggalkan
permukaan ruang bawah tanah itu setinggi sepuluh kaki.
Sungguh kasihan Ku See-hong, sepasang matanya terpejam
rapat-rapat, sekujur badannya kaku karena kedinginan, tubuhnya
berdiri ka ku tak ma mpu berkutik, mukanya pucat pias sama sekali
tak berdarah. Keadaannya waktu itu tak jauh berbeda dengan
sesosok mayat.
Suasana dalam ruang bawah tanah itu pulih kembali dala m
keheningan yang luar biasa, suasana seram dan menggidikkan hati
mulai menyelimut i seke liling tempat itu.
Mendadak dari atas langit-langit ruang bawah tanah itu
berkumandang ke mbali suara pekikan aneh yang menyeramkan.
Suara itu bagaikan tangisan setan atau lolongan seriga la, pokoknya
begitu seramnya suara itu sehingga sukar dilukiskan dengan kata-
kata.
Suara pekikan itu menggetarkan seluruh ruangan bawah tanah
seperti ada berpuluh ribu e kor kuda yang lari bersama saja,
me mbuat perasaan orang terceka m dala m keadaan yang luar biasa.
Menyusul pekikan nyaring itu, dari langit-langit ruang bawah
tanah yang tingginya lima enam puluh ka ki itu melayang turun
sesosok bayangan manusia. Tubuhnya begitu enteng seperti bulu.
Dengan ringannya, bagaikan sukma gentayangan dia melayang
turun ke atas tiang di ma na jala itu tergantung.

30
Manusia aneh bagaikan sukma gentayangan ini me mpunyai
rambut yang terurai awut-awutan, mukanya putih seperti mayat.
Keadaannya sangat menyeramkan.
Mata kirinya cacad sebelah dan tinggal sebuah lubang yang
kosong, lengan kanannya kutung, sedangkan sepasang kakinya
sebatas lutut ke bawah sudah membusuk dan tak karuan
keadaannya, sehingga kelihatan tulang tengkoraknya yang
berwarna putih. Keadaan tersebut sangat mengerikan, me mbuat
orang menjadi tak tega untuk me mandang lebih jauh.
Manusia aneh itu menghe mbuskan napas panjang, lalu
menge luarkan tangan kirinya yang kurus kering tinggal kulit
pembungkus tulang itu untuk menghantam pelan ke ujung tiang di
ujung sebelah depan.
“Pluuuk…!” benturan nyaring terjadi.
Mendadak jala itu menyebar dan me mbentang lebar sehingga
tubuuh Ku See-hong yang kaku itu terjatuh dan roboh terkapar di
atas jala. Ia masih be lum bisa berkutik sa ma sekali.
Tidak Na mpak gerakan apa yang digunakan tahu-tahu manusia
aneh itu sudah berada di sisi Ku See-hong. Gerakan tubuhnya
ibarat sukma gentayangan, membuat ia kelihatan se makin
mengerikan. Pada hakekatnya belum pernah ada jago silat dala m
dunia persilatan yang me miliki ilmu sakti sedahsyat itu.
Dengan sebuah matanya yang hijau bercahaya, manusia aneh itu
mengawasi sekejap sekujur badan Ku See-hong. Sekulum
senyuman segera menghiasi wajahnya yang menyeringai aneh itu.
Mungkin senyuman tersebut baru pertama kali ini diperlihatkannya
setelah lenyap selama berpuluh tahun la manya.
Tiba-tiba senyuman manusia aneh itu lenyap kembali, wajahnya
berubah ke mbali menjadi dingin menyera mkan, me mbuat orang
merasakan hatinya bergidik bila berjumpa dengannya.

31
Kemudian manusia aneh itu merentangkan kelima jari tangannya
lebar-lebar. Dengan gerakan aneh secara beruntung dia totok
dalam nadi penting Jin dan Tok-meh di tubuh anak muda itu.
Kemudian didudukkannya Ku See-hong di atas jala. Lengan
kirinya pelan-pelan diangkat dan dengan lima jari yang terbentang
lebar dia ancam jalan darah Sing Cong, Leng-siu, Sin-hong, Poh-
long, dan Yu-bun. Lima buah jalan darah penting di badan pe muda
itu.
“Sreeet… sreeet…!”
Lima gulung cahaya putih me mancar keluar dari ujung jari
manusia aneh itu dan menyambar secara telak ke setiap jalan darah
tadi. Begitu jalan darahnya terserang secara telak, sekujur badan
Ku See-hong ge metar keras, tapi dengan cepat menjadi kaku
ke mbali.
Kelima jari tangan manusia aneh itu ke mbali beralih ke arah lima
jalan darah Tong-kok, Sang-si, Im-tok, Bong-gi, Tiong-cu, lima buah
jalan darah penting di bagian tubuh yang lain.
“Ceeesss,” lima gulung cahaya putih kembali me mancar keluar
dari kelima jari tangannya dan menyambar ke lima buah jalan darah
tersebut secara telak. Seperti keadaannya tadi, Ku See-hong
gemetar lagi beberapa ka li ke mudian kaku ke mbali seperti se mula.
Begitu secara beruntun manusia aneh itu melancarkan beberapa
kali serangan cahaya putih dan menghajar semua jalan darah
penting di sekujur badan pe muda itu.
Beberapa waktu kemudian, manusia aneh itu baru bangkit
berdiri, menghe mbuskan napas panjang dan dari dala m sakunya
menge luarkan sebutir pil berwarna merah yang dicekokkan ke
dalam mulut Ku See-hong.
Di kala se mua pekerjaannya telah selesai, kembali manusia aneh
itu berpekik nyaring, lengan kirinya berputar me mbentuk sebuah
gerak lingkaran, lalu seperti bulu ayam badannya dengan enteng
me layang ke mbali naik ke atas langit-langit.

32
Pada saat tubuh manusia aneh itu me layang keluar dari ruang
bawah tanah, jala raksasa tadi pelan-pelan mengecil ke mbali
sebagaimana keadaan tadi. Tubuh Ku See-hong disekap ke mbali
tegak lurus hingga sa ma sekali tak sanggup berkut ik lagi.
“Blaaa mm…!” dari atas dinding ruangan yang licin, tiba-tiba
me luncur sebatang toya besar berwarna hitam, ke mudian….
“Blaaa m…!” me nghajar keras-keras di atas tubuh pe muda itu.
“Weesss,” dari arah lain kembali muncul sebatang toya yang
secara cepat dan keras menghantam pula punggung pe muda itu
keras-keras.
“Blaaa m!” Benturan keras ke mba li terjadi.
Namun ketika itu Ku See-hong masih belum sadar dari
pingsannya, sekalipun sepasang toya itu menghajar punggungnya
keras-keras, ia tidak merasakan sakit sedikitpun juga, ma lah
sebaliknya jala raksasa yang tergantung di tengah udara itu
berputar setengah lingkaran.
Rupanya alat rahasia penggerak toya itu sudah dija lankan.
Seperti titiran air hujan, pukulan demi pukulan berha mburan ke atas
badan Ku See-hong dan menimbulkan serangkaian ira ma yang
nyaring.
Anehnya, kedua toya itu tidak menghajar di satu tempat saja,
me lainkan atas bawah tak menentu. Daya pukulan dari setiap
pukulan toya itu kerasnya bukan kepalang, ini bisa dilihat dari
desingan angin yang dibawa dala m setiap ayunan toya tersebut.
Andaikata orang biasa yang termakan pukulan itu, jangan heran
kalau orang itu tak akan sanggup untuk bangun lagi sela ma-
la manya.
“Aduuuhh…!” pe kikan kesakitan berge ma me mecahkan
keheningan da la m ruangan itu.
Saking sakitnya oleh pukulan toya itu, Ku See-hong sampai
tersadar dari pingsannya. Padahal daging badannya yang terbakar
oleh api, kemudian terendam dala m air tadi, masih sakitnya bukan

33
kepalang. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila dihajar
ke mbali oleh ayunan toya yang demikian kerasnya itu.
Siksaan se maca m itu betul-betul kejam dan tak
berperike manusiaan. Jangankan tubuh Ku See-hong yang hanya
terdiri dari darah daging, sekalipun terbuat dari baja pun lama-
kela maan tak akan tahan juga. Tak heran kalau ia menjerit-jerit
kesakitan seperti babi yang mau dise mbelih.
Tapi sekujur tubuh Ku See-hong sudah terbelenggu dalam
pengepresan jala raksasa itu hingga sa ma sekali tak berkutik, sa ma
sekali tak bisa meronta. Dia hanya pasrah dan membiarkan hujan
toya yang tidak berperasaan itu menghajar tubuhnya habis-habisan.
Jerit kesakitan dan suara pukulan toya bercampur aduk menjadi
satu membentuk serangkaian ira ma yang aneh. Ku See-hong betul-
betul tidak tahan lagi, dia mula i menjerit-jerit seperti tangisan setan
di tengah ma la m buta. Dalam suasana hening se maca m ini,
teriakan-teriakan itu kedengaran mengerikan dan mendirikan bulu
roma siapapun.
Hampir se mua kulit badannya sudah pecah dan terluka. Darah
kental me mbasahi seluruh badan anak muda itu, kulit wajahnya
mengejang keras menahan penderitaan yang luar biasa, rambutnya
awut-awutan seperti setan, keadaan seperti itu tak ubahnya seperti
suka m gentayangan yang baru disiksa da la m neraka.
Ku See-hong me nggigit bibirnya menahan se mua siksaan dan
penderitaan yang telah dilimpahkan Thian kepadanya itu.
Lebih kurang sepe minum teh ke mudian, agaknya sepasang toya
itu sudah merasa puas dengan pukulan-pukulannya. Mendadak
gerak serangan itu terhenti dengan sendirinya. Begitu pukulan
berhenti, jala raksasa itu pun me mbentang lebar.
Sesudah menga la mi siksaan serta hajaran setiap waktu, Ku See-
hong sungguh merasakan tubuhnya lelah tak bertenaga lagi.
Dengan le mas dia berbaring di atas jala sambil terengah-engah.
Selang sejenak ke mudian, dengan air mata bercucuran dia baru
termenung sa mbil mela mun.
34
Entah dosa besar apa yang kulakukan dala m kehidupanku di
alam dunia masa lalu? Mengapa Thian telah melimpahkan siksaan
ala neraka ini kepadaku?
Berpikir sampa i di situ ia merasa matanya berat sehingga tanpa
disadarinya, dia tertidur ke mba li.
Tapi… siapa pula yang menyangka kalau Ku See-hong ketika itu
sesungguhnya sedang melatih semaca m ilmu silat yang tiada
keduanya di kolong langit?
Untuk menjadi seorang yang sukses, bukan kecil perjuangan
yang dibutuhkannya. Betul Ku See-hong mengala mi siksaan dan
penderitaan yang berat saat ini, … tapi hasil yang berhasil diraihnya
di ke mudian hari me mbuat ia akan merasa bahwa pengorbanannya
saat itu sangat berharga sekali.
Satu hari lewat tanpa terasa, di kala Ku See-hong masih terlelap
dalam t idurnya, tiba-tiba kembali berkumandang suara gemuruh
yang sanggat me me mekikkan telinga. Dengan perasaan kaget dia
tersadar kembali dari tidurnya.
Sesudah ada pengalaman satu ka li, dia tahu bahwa tubuhnya
ke mbali akan menerima siksaan dari se mburan api dari bawah
ruangan sana. Dengan dahi berkerut tapi sinar mata me mancarkan
kebulatan tekadnya, sambil menggertak gigi keras dia siap
menerima siksaan tersebut.
Semburan api ke mbali me mancar keluar dari dala m sumur.
Kobaran api yang tak berperasaan mulai me manggang anak muda
itu tanpa ampun. Tapi kali ini dia tida k menjerit-jerit lagi. Bukan
berarti badannya tidak merasa sakit lagi, sebaliknya justru siksaan
yang dialaminya kali ini seratus kali lipat jauh lebih dahsyat. Sebab
dia tahu kalau nasibnya sudah ditetapkan de mikian, ke mudian pada
akhirnya tak akan lolos dari ke matian, jeritan-jeritan menje lang saat
ke matiannya hanya akan me mperlihatkan kele mahan sendiri, ma ka
dia hanya menahan penderitaan itu dengan mulut me mbungka m.
Tak la ma ke mudian se mburan api telah pada m, menyusul air
sumur yang dingin merenda m sekujur badannya. Bagaimanapun
35
kerasnya watak Ku See-hong, setiap kali setelah menerima siksaaan
air dingin, dia pasti jatuh tak sadarkan diri dan kedinginan sa mpa i
me mbe ku badannya.
Lalu hujan pukulan toya pun menghajar seluruh badannya
sampai penuh dengan luka dan darah kental bercucuran dari mana-
mana.
Semburan api, renda man air dan pukulan toya, tiga maca m
siksaan dahsyat itu hampir sela ma 7 hari lamanya menyiksa tubuh
Ku See-hong. Setiap hari pe muda itu tentu akan merasakan satu
kali kenikmatan tersebut.
Ketika tujuh hari sudah lewat, keadaan Ku See-hong sudah tidak
mirip dengan manusia lagi. Napasnya sangat lemah, sinar matanya
pudar, sekujur badannya le mas dan tak bertenaga, dia sudah tak
ma mpu menggunakan tenaganya lagi. Menerima siksaan api, air
dan pukulan, tiga maca m siksaan ala neraka ini, dia boleh dibilang
hampir saja selalu tak sadarkan, bahkan nyaris tak akan bisa
bangun lagi untuk sela ma-la manya.
-oo0dw0oo-

Jilid: 02
SETELAH lewat tujuh hari tujuh ma la m, tiba-tiba Ku See-hong
berangsur-berangsur menjadi sadar ke mbali.
“Haaah!” dengan kejut berca mpur keheranan dia berseru
tertahan, bagaikan sedang mengigau, dia berguma m, “Kenapa aku
belum mati? Kenapa aku bisa berbaring di sini?”
Ternyata ketika itu Ku See-hong sudah tidak berbaring di atas
jala lagi, me lainkan berbaring di atas sebuah pembaringan kuno.
Dengan cepat dia melompat bangun, kemudian dengan sorot mata
yang tajam dan dingin menyapu sekejap sekeliling tempat itu,
ke mudian guma mnya lebih jauh:

36
“Heran, bukankah badanku sudah tersiksa oleh se mburan api,
rendaman a ir dingin dan pukulan toya sehingga tidak berbentuk
manusia lagi? Mengapa aku tidak merasakan kesakitan apa-apa
sekarang?”
Buru-buru Ku See-hong menundukkan kepalanya dan me meriksa
sekujur badannya, tapi lagi-lagi dia me njerit kaget.
“Mengapa sekujur badanku tida k meningga lkan bekas luka apa-
apa? Bahkan tampak putih bersih, dan halus? Jangan-jangan aku
lagi bermimpi?”
Dari balik sinar mata Ku See-hong pelan-pelan muncul sebercak
sinar ge mbira, dia merasa gembira sekali karena dapat hidup
ke mbali bahkan sinar kehidupannya makin la ma sema kin kuat.
Akhirnya dia mengangkat tangan kanannya dan mena mpar
mulutnya keras-keras untuk me mbuktikan bahwa apa yang
diala minya sekarang bukan berada dala m a la m impian.
-odwoo-
Bab 2
PLOK! Sebuah ta mparan yang pelan tapi ma ntap me mbuat
ujung bibirnya segera mengucurkan darah, itulah rasanya darah
yang amis dan me mbawa rasa asin.
Kesemuanya ini menunjukkan ka lau dia masih hidup, tapi Ku
See-hong tidak berteriak ataupun bersorak kegirangan, ma lah
otaknya menjadi dingin dan tenang. Otaknya berputar keras untuk
mene mukan alasan di mana terletak keanehan yang telah
diala minya selama ini. Mendadak….
Serentetan suara tertawa dingin yang menyeramkan dan
berbunyi tinggi me lengking bagaikan he mbusan angin dingin dari
gudang salju, berkumandang da la m ruangan itu. Menyusul
ke mudian, terdengar seorang berkata dengan suara yang dingin
merasuk tulang: “Bocah muda, kau sudah sadar?
Heehh…heehh…heehh… Ke mari, sebelum meninggal lohu ada
beberapa persoalan hendak disampaikan kepada mu.”

37
Ucapan itu berhawa dingin dan diucapkan sepatah demi sepatah
bagaikan jeritan setan, suaranya menusuk pendengaran dan
me mbuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Sepasang sorot mata Ku See-hong yang tajam bagaikan se mbilu
itu segera dialihkan ke arah pintu la in dala m ruangan itu, wajahnya
sama sekali tanpa e mosi, sahutnya pelan: “Locianpwe, boanpwe Ku
See-hong segera akan datang menjumpa imu.”
Ku See-hong sudah tahu bahwa sele mbar jiwanya telah ditolong
oleh manusia aneh dalam kuil itu, bahkan dia mengerti, semua
siksaan bagaikan dala m neraka yang dialaminya tadi tak lebih hanya
suatu percobaan yang diberikan manusia aneh itu kepadanya. Maka
dia tidak me mbenci manusia aneh itu, dia hanya merasa watak
manusia aneh itu sede mikian anehnya sehingga agak rahasia dan
misterius.
Dari balik ruangan ke mbali terdengar suara manusia aneh itu
bergema, tapi suaranya masih begitu dingin bagaikan es dan sa ma
sekali t idak me mbawa nada manusia.
“Bocah cilik. Ehmm… Ku See-hong, kau ada lah satu-satunya
manusia dala m dunia dewasa ini yang bisa bertemu muka dengan
lohu, untuk ini kau bisa merasa a mat bangga.”
Mendengar ucapan tersebut, Ku See-hong mengernyitkan alis
matanya, ia merasa ucapan manusia aneh itu terlampau latah dan
angkuh, dengan nada tak puas segera serunya:
“Locianpwe, sewaktu kau masih berke lana di da la m dunia
persilatan, apakah belum pernah ada orang yang bisa berjumpa
denganmu?”
Tiba-tiba manusia aneh itu me mperdengarkan suara tertawa
panjangnya yang mengerikan. Suara itu tinggi me lengking dan
me me kikkan telinga me mbuat pe muda itu merasakan badannya
gemetar karena kaget. Selesai tertawa dengan suara dingin
menyeramkan orang itu berkata lagi,

38
“Se menjak ke matian lohu pada dua puluh tahun berselang,
belum pernah ada orang yang bisa bertemu muka lagi dengan
lohu.”
Mendengar ucapan tersebut, kontan saja bulu kuduk Ku See-
hong pada berdiri se mua, bila ucapannya benar, bukankah berarti
manusia aneh itu adalah sukma gentayangan atau sebangsa
manusia halus?
Mungkin benar de mikian, sebab ucapannya juga terasa bukan
suara manusia biasa.
Tanpa terasa Ku See-hong terbayang kembali akan tengkorak-
tengkorak hidup yang berada dala m Pek Kut Yu Hun itu. Rasa kaget
dan ngeri segera berkecamuk dala m dadanya, tanpa terasa
sepasang kaki dan sekujur badannya menggigil keras.
“Hmm… Manusia yang tak becus,” damprat manusia aneh itu
dengan suara dingin, “Apakah bedanya antara manusia dan setan?
Coba lihat begitu ketakutannya kau mendengar perkataanku
barusan, bagaimana mungkin kau bisa me mba laskan sakit hati
ayah-ibu-mu?”
Dampratan tersebut ibaratnya suara Guntur yang menggelegar di
siang hari bolong. Seketika itu juga me mbuat Ku See-hong tertegun
dan menjadi ma lu sendiri. Tanpa me mperdulikan lagi apakah orang
itu manusia atau setan, dengan cepat dia menyelinap ke dala m
ruangan itu seraya berseru,
“Locianpwe… Ku See-hong a kan datang!”
“Kreeekk… kreeekk…” suara pintu yang nyaring mengge ma
me mecahkan keheningan.
Dengan sorot mata tajam Ku See-hong dapat me mandang ke
dalam sana, dengan cepat (matanya)menangkap (satu) kaki yang
tinggal tulang kerangka berwarna putih itu.
Tak terlukiskan rasa terkejutnya pemuda itu… pelan-pelan sorot
matanya dialihkan ke atas, dengan cepat dia menangkap seraut
wajah yang menyeringai mengerikan.

39
Waktu itu, manusia aneh tersebut sedang mementangkan
mulutnya sambil mengerutkan kulit wajahnya, kemudian, “Heeehh…
heehh…” me mperlihatkan senyumnya yang mengerikan.
Bagaimanapun besarnya nyali Ku See-hong, tak urung bergidik
juga hatinya setelah menyaksikan ta mpang (wajah) itu. Seluruh
badannya kembali ge metar keras, rasa kaget, gugup dan tegang
segera menyelimuti wajahnya yang tampan itu. Meski demikian, dia
enggan untuk me mperlihatkan rasa takutnya di hadapan orang itu.
Dengan langkah lebar ia berjalan ke dalam ruangan, menjura seraya
berkata nyaring:
“Boanpwe Ku See-hong, datang menghunjuk hormat buat
cianpwe.” Sehabis berkata, dia lantas bertekuk pinggang dan
menjura dala m-dala m kepada orang itu.
Suara pembicaraan manusia aneh itu berubah menjadi agak
halus dan hangat, pujinya:
“Punya nyali. Benar-benar punya nyali…. Tidak malu untuk
menjadi pe megang pucuk pimpinan dala m dunia persilatan pada
masa mendatang….”
Ku See-hong merasa a mat terkejut mendengar ucapan tersebut,
sebab dari balik perkataan manusia aneh itu, la mat-la mat dia dapat
menangkap maksud yang lebih mendala m lagi di balik perkataan itu.
Bukankah dia mengartikan bahwa selanjutnya dialah yang akan
menentukan mati hidup orang-orang persilatan…?
Waktu itu, di hati kecil Ku See-hong sudah tidak terceka m oleh
perasaan takut lagi, dengan hormat ia berkata:
“Cianpwe terlalu me muji, boanpwe tak berani untuk
menerima nya.”
Manusia aneh itu mendengus dingin,
“Hmmm…. Kau adalah satu-satunya manusia yang pernah kupuji
sepanjang hidupku, apakah kau masih belum puas…?” katanya
dingin, “Untuk se mentara waktu, duduk dulu di atas bangku itu….”

40
Ku See-hong berpaling mengikuti arah yang ditunjuk manusia
aneh itu, tapi ketika sorot matanya menangkap benda yang
dimaksudkan, ia menjadi me longo.
Yaa, kursi apaan itu? Pada hakekatnya tidak lebih adalah suatu
benda berbentuk segi empat yang terdiri dari tumpukan tulang
tengkorak manusia.
Tapi Ku See-hong tidak menjerit, wajahnya juga tidak
menunjukkan sikap aneh, malah dengan berlapang dada segera
duduk di atas tengkorak kepala manusia itu.
Dengan cepat ia merasakan munculnya segulung hawa dingin
yang sangat aneh muncul dari atas tulang tengkorak itu dan
langsung menyergap ke atas ubun-ubunnya. Ini, me mbuat seluruh
badannya menjadi kedinginan setengah mati.
Tapi aneh se kali….
Tiba-tiba Ku See-hong merasakan timbulnya segulung hawa
aliran panas dari dala m pusarnya dan langsung menyusup ke
seluruh bagian tubuhnya itu.
Dala m waktu singkat hawa dingin yang menyusup masuk lewat
pantatnya tadi dapat teratasi, bahkan hawa dingin itu segera
menjadi lenyap tak berbekas.
Menerang sinar hijau dari ba lik mata si manusia bermata tunggal
itu. Diawasinya se mua perubahan pada diri Ku See-hong tanpa
berkedip, ke mudian kepalanya manggut-manggut berulang ka li.
Tapi pada saat itulah, di atas pantat Ku See-hong tiba-tiba terjadi
lagi suatu perubahan yang sangat aneh.
Sekarang dia merasa seakan-akan sedang duduk di atas pelat
besi yang sedang panas me mbara. Sekujur tubuhnya gemetar
keras, hawa darah dalam tubuhnya mendidih dan bergolak keras,
seakan-akan sedang digarang oleh se mburan api saja. Tersiksanya
bukan kepalang….

41
Ku See-hong tahu, dia sedang dicoba oleh manusia keji itu,
mengapa pula dia harus me mperlihatkan rasa ketakutannya.
Karena itu sa mbil berusaha keras menahan penderitaan yang luar
biasa, ia tetap duduk di situ sambil menahan diri. Dala m waktu
singkat sekujur badannya sudah basah kuyub bermandikan keringat.
Di kala Ku See-hong sudah mula i merasa hampir tidak tahan oleh
serangan hawa panas yang menyerang datang secara gencar itu,
suatu kejadian aneh t iba-tiba ke mbali terjadi.
Mendadak Ku See-hong merasakan mengalir keluarnya segulung
hawa dingin bagaikan es dari dala m pusarnya dan secepat kilat
menga lir ke seluruh bagian tubuhnya. Dengan munculnya hawa
dingin itu, dengan cepat dia merasakan betapa hawa panas yang
meyiksa tubuhnya tadi tersapu lenyap hingga tak berbekas. Kini
badannya menjadi segar dan nya man ke mbali.
Mimpipun Ku See-hong t idak menyangka kalau di dala m
pusarnya telah terdapat dua macam tenaga aliran yang sa ma sekali
berlawanan. Dia m-dia m Ku See-hong menghe la napas panjang,
hampir tertegun pemuda itu karena menghadapi keanehan yang tak
terduga tersebut.
Tiba-tiba … manusia aneh itu me mbentak keras, tangan kirinya
yang kurus kering itu terayun ke depan dan secara beruntun
me lepas tiga buah serangan berantai ke tubuh pe muda itu.
Di ma na serangan itu dilancarkan, gulungan hawa pukulan yang
sangat dahsyat segera menghembus kencang di da la m ruangan itu.
Bagaikan bukit karang yang berguguran, angin puyuh yang
mahadahsyat itu dengan cepat menggulung ke atas badan Ku See-
hong.
Sedemikian dahsyatnya tenaga serangan ini. Seakan-akan dunia
mau kia mat saja rasanya.
Menghadapi serangan yang de mikian gencarnya itu, paras muka
Ku See-hong segera berubah hebat. Dia tidak mengira ka lau
manusia aneh itu bakal me lancarkan serangan me matikan ke
arahnya, apalagi setelah menyaksikan tenaga serangan orang yang
42
begitu kencang bagaikan sebuah jala besar yang menggulung t iba
dari e mpat arah delapan penjuru itu. Ha mpir pecah nyali ana k
muda tersebut.
“Habis sudah riwayatku! Habis sudah riwayatku!” pekik Ku See-
hong di dala m hatinya “… tak kusangka setelah berhasil lolos dari
siksaan api, air dingin dan pukulan toya, akhirnya aku toh akan mati
pula di ujung tangan manusia aneh yang keji ini.”
Beberapa titik air mata tanpa terasa bercucuran keluar
me mbasahi pipinya. Pemuda itu tidak meronta, tidak pula
menghindar, dia hanya me meja mkan matanya, pasrah kepada
nasib. Padahal sekalipun dia ingin menghindarkan diri juga
percuma, sebab tak nanti ia akan berhasil untuk menghindarkan diri
dari serangkaian serangan gencar yang luar biasa itu.
Hawa pukulan yang kuat dan dahysat dengan cepatnya
mengurung seluruh badan Ku See-hong dari mana-mana, agaknya
sebentar lagi pemuda itu akan terhajar telak oleh serangan dahsyat
itu….
Pada detik yang paling akhir itulah, mendadak Ku See-hong
merasakan hawa murni yang berada di dalam tubuhnya bergolak
sangat keras, menyusul kemudian muncul segulung hawa murni
yang aneh menyebar ke seluruh badannya dan menyusup ke luar
lewat pori-pori badannya dan menyongsong datangnya serangan
itu….
“Blaaa mmm…! ”
Di tengah benturan keras yang a mat me mekikkan telinga, Ku
See-hong hanya merasakan hawa darah di dalam badannya
menga la mi suatu pergolakan yang keras sekali. Menyusul
ke mudian….
“Blaaa mm! Blaaamm! Blaaa mm!”
Ledakan de mi ledakan me nggelegar secara beruntun di udara
dan menggetarkan seluruh angkasa. Hawa pukulan yang berhembus
datang dari empat penjuru itu, seketika me mbuyar dan lenyap tak

43
berbekas. Ku See-hong menjadi terbelalak matanya karena terkejut
menghadapi serentetan kejadian yang sangat aneh itu. Untuk
beberapa saat lamanya dia hanya bisa duduk di atas tengkorak
kepala manusia itu sambil termangu.
Mendadak manusia aneh itu mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya itu penuh mengandung
perasaan girang ge mbira dan bangga. Ke mudian sa mbil berhent i
tertahan katanya:
“Ku See-hong, kau me mang tidak menyia-nyiakan harapan lohu.
Sekarang kau telah berhasil me latih ilmu khikang Kan-Kun Mi-Siu
yang tiada keduanya dala m dunia persilatan dewasa ini.”
Setelah mendengar ucapan itu, Ku See-hong baru seperti
tersadar kembali dari la munannya. Dengan cepat ia menjatuhkan
diri berlutut dan menye mbah sebanyak tiga kali di depan manusia
aneh itu.
“Suhu di atas, maafkanlah tecu karena tak tahu jika kau orang
tua secara diam-dia m telah mewariskan ilmu sakti tersebut
kepadaku. Budi kebaikan yang a mat besar ini entah dengan cara
apa tecu harus me mbayarnya?”
Paras muka manusia aneh itu berubah menjadi dingin bagaikan
es… dengan suara serak katanya:
“Siapa yang menjadi gurumu? Sela ma hidup lohu tak pernah
menerima murid. Bila kau berani me manggil suhu lagi kepadaku,
jangan salahkan kalau a ku a kan segera merenggut nyawa mu itu.”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong menjadi tertegun, tapi
dengan sikap yang tetap menghormat katanya:
“Sekalipun di antara kita berdua tiada ikatan na ma sebagai guru
dan murid, tapi secara dia m-dia m cianpwe telah mewariskan ilmu
maha sakt i kepada boanpwe. Budi keba ikan yang tiada taranya ini
tak akan kulupakan untuk sela manya. Suatu ketika aku Ku See-
hong pasti akan me mbalasnya.

44
“Andaikata cianpwe bersedia pula untuk mengutarakan pesoalan
yang belum dapat diselesaikan, sekalipun boanpwe harus terjun ke
lautan api… aku juga tak akan mena mpik bahwa meski badan baka l
hancur lebur, boanpwe tetap akan me njalankannya sa mpai selesai.”
Hasil percobaan yang dilakukan oleh manusia aneh dengan
serangan mautnya tadi me mbuat Ku See-hong me maha mi
sepenuhnya apa yang telah terjadi. Terbukti sudah bahwa semua
siksaan keji yang diala minya sela ma berada dala m ruang bawah
tanah, adalah hasil perbuatan dari si manusia aneh itu. Rupanya dia
berbuat demikian karena ingin mewariskan suatu kepandaian yang
luar biasa kepadanya.
Bila dilihat dari kenyataan yang berhasil diala minya barusan,
semakin terbukti kalau sejenis kepandaian sakti yang luar biasa
hebatnya telah berhasil dimilikinya sekarang.
Selama hidup belum pernah dia menerima kebaikan dari orang
lain. Tidaklah heran budi kebaikan seorang aneh yang mewariskan
kepandaian sakti kepadanya itu membuat dia merasa amat terharu
dan berterima kasih.
Ia tahu, meskipun di luar ma nusia aneh itu tampak dingin, sadis
dan tidak berperasaan, sesungguhnya sangat menyayangi dan
me mperhatikan dirinya, bahkan Ku See-hong yang pintar itu,
setelah melihat tubuh cacad manusia aneh itu segera dapat
menduga bahwa dia masih me mpunyai banyak sekali masa lah
dendam kesumat yang tak terselesaikan, dia tentu me miliki pula
pengalaman tragis yang me mbuatnya merasa sedih dan hancur
perasaannya, sehingga wataknya berubah menjadi demikian
anehnya.
Setelah mendengar perkataan Ku See-hong yang penuh dengan
luapan terima kasih itu, titik air mata ta mpak berlinang me mbasahi
wajah manusia aneh itu. Sekujur badannya menggigil keras… jelas
perasaannya telah dibuat terharu sekali.
Tak tak la ma kemudian paras mukanya telah berubah kembali
menjadi dingin dan me nyeramkan, ujarnya dingin:

45
“Ku See-hong, masalah yang menyangkut diriku, sampai matipun
aku tak ingin dica mpuri orang lain…. Lohu me wariskan ilmu silat
kepadamu lantaran aku hendak menuruti sumpahku sendiri. Aku
pernah bersumpah: Barang siapa dapat memasuki kuil ini dan
berjumpa dengan lohu, maka akan kuserahkan e mpat buah
persoalan kepadanya.”
“Seandainya boanpwe tidak berulang kali mendapat perhatian
serta bantuan dari cianpwe, sedari tadi aku sudah tewas di dala m
ruang depan sana. Bagaimana mungkin bisa sampai bertemu
dengan cianpwe? Budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk
selamanya.”
Sekali lagi manusia aneh itu merasa terperanjat. Dia tak
menyangka kalau pe muda itu se lain cerdik juga teliti dan cermat,
apalagi terlebih penting ia adalah seorang yang bersedia untuk
me lakukan pekerjaan baginya.
Tiba-tiba manusia aneh itu berkata dengan sedih:
“Ku See-hong… persoalan yang menyangkut soal pribadiku tak
ingin lohu utarakan kepada siapa pun, sebab aku tak ingin
dica mpuri oleh orang lain. Tapi ada empat persoalan yang akan
kuserahkan kepada mu, ke mudian lohu akan meninggalkan dunia ini
dengan tenang. Setelah aku mat i nanti, aku tak akan a mbil peduli
bagaimana jalan pikiranmu nanti.”
Entah mengapa terhadap manusia aneh yang ditakuti dan
disegani oleh segenap umat persilatan di dunia ini, pemuda tersebut
menaruh se maca m perasaan yang akrab. Maka ketika mendengar
kalau manusia aneh itu tak la ma akan meninggalkan dunia fana,
suatu perasaan sedih tiba-tiba muncul dala m hatinya.
Ku See-hong tahu bahwa manusia aneh ini me miliki watak yang
sangat aneh, bila terlampau berdebat dengannya, mungkin bisa
mengakibatkan timbulnya perasaan tak senang di kedua belah
pihak. Karena itu dengan hormat dia berkata:

46
“Entah persoalan apakah yang hendak cianpwe serahkan
kepadaku? Katakan saja, boanpwe akan mendengarkannya dengan
seksama.”
Manusia aneh itu termenung sebentar kemudian dengan suara
dingin katanya:
“Pertama. Aku akan me ma ksa orang yang dapat berjumpa
dengan diriku untuk me mpe lajari tiga maca m ilmu sakti yang lohu
miliki. Kepanda ian pertama adalah ilmu khikang yang dina ma kan
Kan-kun Mi-siu… untung saja kepandaian tersebut telah berhasil kau
pelajari.”
“Apakah yang dinamakan ilmu khikang Kan-kun mi-s iu tersebut?”
tanya Ku See-hong terperanjat.
“Kan-kun Mi-siu adalah sejenis ilmu silat yang luar biasa
dahsyatnya.”
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan:
“Barang siapa berhasil me mpelajari ilmu silat se macam itu, ma ka
ia sudah akan ma mpu untuk menjagoi seluruh dunia persilatan.
Bahkan ilmu Boan-yok-Kang dari ka langan Buddha serta pelbagai
ilmu khikang aliran aga ma To yang mana pun tak dapat menandingi
kehebatan dari kepandaian tersebut.”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itu dia m-dia m merasa
terperanjat, benarkah ilmu sa kti yang telah dipelajarinya sekarang
adalah ilmu maha sakti seperti yang diucapkan?
Terdengar manusia aneh itu berkata lebih lanjut:
“Ciri khas dari ilmu Kan-kun Mi-siu kang-khi ini adalah barang
siapa telah mempe lajarinya, hawa murni yang dimilikiya akan
mencapai kese mpurnaan. Se kalipun kekuatan tubuhnya sangat
hebat, namun tiada tanda apa-apa dipandang dari luar ma lah
sebaliknya bagaikan seseorang yang lemah dan tak bertenaga untuk
menangkap seekor ayam pun, tapi begitu mendapat serangan dari
luar, secara otomatis dari dalam tubuhnya akan muncul suatu
tenaga pantulan yang kuat untuk melindungi badannya. Bahkan

47
yang lebih istimewa lagi, setiap kali hawa murninya kena digetarkan
satu kali, tenaga Im-Yang yang dihasilkan oleh ilmu Kan-kun Mi-siu
tersebut akan menimbulkan suatu gerakan saling hisap-menghisap
yang akan mengakibatkan tenaga dalam yang dimilikinya setingkat
lebih se mpurna.”
Makin mendengar Ku See-hong merasa semakin keheranan. Dia
dibikin setengah percaya setengah tidak oleh kata-kata tersebut.
Tiba-tia manusia aneh itu berkata dengan serius:
“Ilmu sakti ini diciptakan pada jaman Cun Ciu Cian Kok dulu….
Ilmu ini tercantum dala m sejilid kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip
yang ditulis oleh Ngo-Cun-siu seorang perdana menteri dari Negeri
Go.
Berhubung de mikian hebat dan saktinya kepandaian ini, boleh
dibilang ha mpir se mua umat persilatan di dunia ini mengincar dan
menginginkannya bahkan dengan mengguna kan pelbagai cara dan
siasat berusaha untuk menyelidiki jejak kitab pusa ka ini. Ma ka bila
kau telah terjun ke mba li ke dala m dunia persilatan dan kebetulan
ada orang yang tahu bahwa kau pandai me mperguna kan
kepandaian sakti tersebut, besar kemungkinan a kan berakibat
datangnya bencana besar. Aaaaih…. Mungkin inilah yang
dina makan nasib.”
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong,
ujarnya dengan seram,
“Bila kawanan cecunguk itu tidak mencari gara-gara denganku
mungkin saja keadaan masih agak baik, kalau tidak, pasti akan
kusuruh mere ka mene mui ajalnya secara mengerikan.”
Dia m-dia m manusia aneh itu berseru tertahan, pikirnya:
“Heran, mengapa watak orang ini bisa persis seperti aku?
Aaaai… mungkinkah Thian telah mengatur kese muanya ini untuk
merubah nasib dunia persilatan?” Berpikir sa mpai di situ, dengan
wajah sedingin es manusia aneh itu berkata lagi;

48
“Kepandaian kedua yang akan kuajarkan adalah se maca m ilmu
gerakan tubuh (langkah ajaib) yang sa kti dan luar biasa.”
Ia berhenti sebentar ke mudian me lanjutkan,
“Cuma aku hendak me mberi tahu kepada mu lebih dulu, di ka la
kuberi pe lajaran nanti, aku hanya akan me ngajarkan satu ka li,
mengerti atau tidak terserah pada daya ingatanmu sendiri, selain itu
kau pun tak boleh bertanya lagi….”
Dia m-dia m Ku See-hong bertekad, bagaimanapun juga dia pasti
akan me mpelajari ilmu silat itu sa mpa i bisa.
Kembali ma nusia aneh itu berkata,”Ilmu sakt i yang ketiga adalah
satu jurus ilmu pukulan yang luar biasa hebatnya.”
Ia me mandang se kejap ke wajah Ku See-hong, ke mudian
me lanjutkan:
“Sekalipun hanya terdiri dari satu jurus sesungguhnya memiliki
tiga maca m perubahan yang sukar dimengerti. Bila tida k diala mi
(dimengerti), rahasia itupun hanya akan kuterangkan satu kali. Bisa
menguasai atau tidak tergantung pada ke ma mpuanmu sendiri.”
Dia m-dia m Ku See-hong ke mbali berpikir,
“Manusia aneh ini benar-benar anehnya bukan kepalang.
Mengapa dia hanya akan memberi pelajaran rahasia ilmu silatnya
satu kali saja? Bertanya pun tak boleh, apa sebenarnya yang dia
inginkan? Apalah artinya jika ilmu pukulan yang diajarkan cuma
satu jurus belaka?”
Tampaknya manusia aneh itu me maha mi apa yang dipikirkan Ku
See-hong, katanya dengan dingin:
“Bukan lohu enggan me mberi pelajaran kepadamu, adalah ilmu
tersebut amat tak sanggup untuk diwariskan. Mungkin dengan
tubuhku yang cacad sekarang sudah tak sanggup lagi untuk
me mperguna kan kepandaian sakti itu, malah besar ke mungkinan
sebelum se lesai kude monstrasikan, jiwaku sudah keburu melayang
lebih dulu.”

49
Paras muka Ku See-hong menjadi merah padam karena jengah.
Bisiknya di hati, “Sungguh me ma lukan.”
Terdengar manusia aneh itu berkata lebih jauh,
“Persoalan yang kedua adalah mema ksa kau untuk
mendengarkan serangka ian cerita…. Bagaimanapun juga cerita ini
harus selalu teringat dalam hatimu. Sementara aku sedang
bercerita, kaupun tak boleh menimbrung atau menanyakan ini itu.”
Ku See-hong segera berpikir lagi:
“Cerita tersebut bisa dipandang sebegitu serius olehnya, sudah
pasti kisah pengala mannya yang tragis. Aku pasti akan
mengingatnya baik-baik di dala m hati.” Berpikir de mikian, dengan
suara lantang dia lantas berkata
“Harap locianpwe legakan hati. Seka lipun boanpwe tida k becus,
kisah cerita ini pasti a kan kuingat terus di da la m hati.”
Sekilas rasa sedih telah menyelimuti wajah manusia aneh itu, tapi
sehabis mendengar perkataan dari Ku See-hong itu, dia m-dia m
diapun manggut-manggut.
“Persoalan ketiga ada lah, me maksa mu untuk be lajar
me mbawa kan suatu nyanyian. Sampai mati pun kau harus
me mpe lajari nyanyian ini, tapi setelah berhasil me mpe lajarinya,
setiap tengah malam kau harus me mbawakannya satu kali. Aku
rasa kau pasti tak a kan menyia-nyiakan harapan lohu, bukan?”
Tiba-tiba Ku See-hong berkata:
“Nyanyian yang akan locianpwe ajarkan kepadaku itu, apakah
lagu yang seringkali locianpwe bawa kan itu?”
Manusia aneh itu ma nggut-manggut. Dengan badan ge metar
sahutnya, “Benar, lagu itulah yang kumaksudkan. Lagu itu bernama
Cong-ciang-Heng (Denda m Sejagad).”
Ia termenung beberapa saat la manya, kemudian me lanjutkan:

50
“Lohu a kan me mberitahu kepadamu, lagu ini mengandung suatu
rahasia besar tentang dunia persilatan. Sela ma ini banyak jago
persilatan yang menggunakan pelbagai a kal dan siasat untuk
menangkap lohu. Tujuan mereka tak la in adalah me maksa lohu
untuk menerangkan bait syair dari lagu ini. Karena itu, bila kau
telah me mpe lajarinya nanti, kau hanya boleh menyanyikannya.
Tapi sa mpai matipun tak boleh mengungkapkan rahasia dari bait
syair lagu tersebut.”
Ku See-hong ke mbali manggut-manggut.
“Boanpwe pasti tak akan me mbocorkannya kepada siapapun.”
Sekulum senyuman ke mbali tersungging di atas wajah manusia
aneh yang dingin itu, tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali.
Katanya kemudian dengan dingin,
“Not lagu dari nyanyian ini dikombinasikan dengan semaca m ilmu
yang maha sakti. Bila kau me mbawakannya satu kali maka tenaga
dalammu akan bertambah sempurna setingkat. Cuma… dala m satu
hari me mbawakannya berulang kali, banyak hawa murnimu yang
justru akan hilang, bukan saja tak ada manfaatnya, sebaliknya
ma lah ada kerugian. Ma ka kau harus mengingat baik-baik pesan
ini….
Aiiihh…. Nyanyian ini sukar dipe lajari, entah dapatkah kau
menguasainya da la m waktu singkat?”
“Soal ini tak perlu locianpwe risaukan,” kata Ku See-hong sa mbil
tertawa, “Dalam wa ktu sebulan belakangan ini, dengan menahan
pengaruh gaib yang terpancar dari nyanyian tersebut, boanpwe
telah berhasil menguasai sepenuhnya. Asal cianpwe mengutarakan
bait syairnya, hal ini sudah lebih dari cukup.”
“Sungguhkah perkataamu?” tanya manusia aneh itu dengan
wajah terperanjat.
“Buat apa boanpwe bohong? Atau sekarang juga akan boanpwe
bawakan satu kali.”
Dengan penuh e mosi, manusia aneh itu berkata lagi,

51
“Waktu yang tersedia, saat ini lebih berharga dari emas. Kalau
kau telah menguasainya, aku pun ikut merasa gembira.”
Tampaknya manusia aneh itu seperti telah melepaskan sebuah
batu besar yang mengganja l hatinya sela ma ini. Pikirnya:
“Bocah ini begini cerdasnya, apa yang kuharapkan mungkin
sekali dapat tercapai se luruhnya. Untung Thian dapat me mberikan
manusia semaca m ini kepadaku. Meski akhirnya aku mati, aku bisa
mati dengan perasaan tenang tanpa kuatir. Aku berpikir pasti dia
dapat menyelesaikan semua persoalanku dengan sempurna tanpa
kekurangan…. Tapi kalau dilihat dari wajahnya yang me mbawa
hawa pembunuhan, sudah pasti pe muda ini berhati keras dan keji.
Tapi itupun tak menjadi masalah. Lamat-la mat dapat kutemukan
kegagahan di balik mukanya itu. Sudah pasti orang yang
dibunuhnya adalah kawanan pencoleng yang berhati keji.”
Berpikir sa mpa i di situ, dengan dingin dia lantas berkata:
“Persoalan kee mpat adalah me ma ksa kau untuk mengangkat
seseorang menjadi gurumu dan me mohon kepadanya untuk
me mberi pelajaran se maca m ilmu pukulan kepadamu.”
Buru-buru Ku See-hong berkata:
“Locianpwe, siapakah guru yang harus kujumpai itu? Ilmu
pukulan apakah yang harus kumohon darinya?”
“Gurumu itu adalah seorang perempuan. Dia sangat me mbenci
diriku, mungkin ia tak a kan menerima dirimu, juga tak a kan
mengajarkan ilmu pukulan tersebut kepadamu. Tapi bagaimanapun
juga kau harus pergi mengadu nasib. Kalau dia menginginkan
tulang belulangku, maka beritahu kepadanya secara terus terang
bahwa aku sudah mati di da la m kuil ini.
Aaai… akulah yang salah. Te mpo dulu akulah yang telah me nyia-
nyiakan dirinya sehingga me mbuat dia begitu marah, dan merasa
amat menderita….”

52
Ketika berbicara sa mpai di situ, selintas rasa menyesal muncul di
wajah manusia aneh itu. Guma mnya ke mba li:
“Soat Kun, aku tidak seharusnya mengesampingkan rasa cintamu
yang tulus dan suci itu, akibatnya aku baru disiksa hingga maca m
begini oleh perempuan rendah itu…. Sekarang aku baru tahu kalau
cintamu itu suci dan tiada terhingga, tapi aku telah kehilangan dia,
kehilangan untuk sela manya….”
“Aaaai…. Waktu itu aku sudah salah mencintai perempuan
rendah itu, tapi pepatah kuno berkata: Sekali sa lah melangkah
menyesal sepanjang masa, apa boleh buat? Sekarang aku cuma
bisa menderita sedih dan a mat menyesal….
“Aaai…. Putriku, wahai putriku. Aku yakin perempuan rendah itu
tak akan mengatakan kalau kau adalah anakku. Oh, betapa
mengge maskannya hal ini?
Lan Hiang… Oooh Lan Hiang, sampai di akhirat pun aku akan
mengingat terus perbuatanmu yang teramat keji itu….”
Semakin me mbayangkan, manusia aneh itu sema kin mendenda m
dan akhirnya saking ge masnya tanpa disadari ucapan tersebut telah
diutarakan ke luar….
Ku See-hong tahu, sudah pasti manusia aneh itu sedang
me mbayangkan kenangan la manya yang mengenaskan, ma ka
betapa terperanjatnya dia sesudah mendengar teriakan itu. Tapi Ku
See-hong juga merasa kebingungan, dia tidak habis mengerti
kejadian tragis apakah yang pernah dialami manusia aneh
tersebut….
Rupanya manusia aneh itu menyadari akan kesalahannya, buru-
buru ia menenangkan ke mba li hatinya dan berkata lagi dengan
dingin,
“Ku See-hong, bila kau berhasil menjumpainya, andaikata dia
benar-benar menerima mu dan enggan mewariskan ilmu pukulannya
kepadamu, maka katakanlah kepadanya: Lohu telah menyesal,
sekalipun se masa hidup tak dapat menerima cinta kasihnya, tapi di

53
alam baka dia akan mencintainya sepanjang masa dan
mengenangnya sela lu…. Perkataan ini muncul dari hati sanubariku
menje lang saat ke matian, peduli dia mau me mberi pelajaran atau
tidak, sampa ikan suara hatiku ini kepadanya agar dia tahu.”
“Locianpwe, sebenarnya siapakah orang itu?” tanya Ku See-hong.
“Dia adalah seorang tokoh sakti dari dunia persilatan dewasa
ini…. Seng-sim Cian-li (Pere mpuan Cantik Berhati Suci) Hoa Soat-
kun.
Sedang ilmu pukulan yang harus kau pelajari darinya itu adalah
ilmu pukulan Hay-jin-ciang (Pukulan Unggas Laut) yang amat
menggetarkan se luruh kolong langit itu.”
Dia m-dia m Ku See-hong merasa terkesiap, ternyata guru yang
harus diangkatnya adalah seorang tokoh sakti yang sudah
termasyhur namanya dala m dunia persilatan pada lima puluh tahun
berselang, Seng-sim Cian-li Hoa Soat-kun. Lantas siapakah manusia
aneh yang berada di hadapannya sekarang…? Mungkinkah dia
adalah salah seorang tokoh juga yang telah tersohor dala m dunia
persilatan se menjak lima puluh tahun berselang?
Sekalipun Ku See-hong mengetahui cukup banyak tentang nama-
nama jago tersohor dalam dunia persilatan, tapi ia tak bisa
menduga siapa gerangan manusia aneh tersebut.
Beberapa kali Ku See-hong ingin me mbuka suara untuk bertanya
kepadanya, tapi setelah menyaksikan sebuah mata tunggal si
manusia aneh yang me mancarkan sinar taja m itu, dengan cepat
kata-kata yang sudah siap diutarakan itu segera ditelan ke mbali.
Mendadak manusia aneh itu menatap wajah Ku See-hong dengan
matanya yang hijau menyera mkan, ke mudian bentaknya:
“Ku See-hong…. Dapatkah kau me lakukan kee mpat buah
persoalan yang barusan lohu ucapkan ini? Seandainya kau tidak
ma mpu, cepat katakan!”

54
Ku See-hong merasakan betapa tajamnya sorot mata manusia
aneh itu, seakan-akan hendak mene mbusi hatinya saja. Tapi ia
tidak gentar, ma lah sahutnya dengan angkuh,
“Sekalipun boanpwe bodoh, boanpwe masih dapat mengingat-
ingat kee mpat buah persoalan dari locianpwe itu dengan nyata. Aku
tak akan menyia-nyiakan harapan locianpwe itu, jika sa mpa i
mengingkarinya, biar aku dikutuk oleh Thian.”
“Ucapan seorang le laki sejati….” Bentak manusia aneh itu.
“Bagaikan kuda yang dica mbuk,” sa mbung Ku See-hong.
Manusia aneh itu segera mendongakkan kepalanya dan
menghe mbuskan napas panjang. Sikap menyeramkan yang
diperlihatkan semula segera berubah menjadi tenang kemba li.
Agaknya ia merasa sangat puas, sebab apa yang menjadi ganjalan
di dala m hatinya selama ini akhirnya ada juga yang akan
menyelesaikannya.
Manusia aneh itu termenung beberapa saat lamanya, paras
mukanya la mbat laun juga berubah sedingin es, ke mudian katanya:
“Kehidupan lohu sudah tinggal tak seberapa la ma lagi, sekarang
aku akan mengutarakan lebih dulu rahasia dari bait syair lagu
tersebut, kemudian akan kuajarkan dua maca m ilmu silat. Setelah
itu baru mengisahkan cerita tersebut.”
“Boanpwe siap mendengarkan,” Ku See-hong manggut-manggut
mengiakan.
Mendadak dari sakunya, manusia aneh itu mengeluarkan tiga
butir pil berwarna merah, ke mudian katanya dingin:
“Pil ini adalah se maca m pil mustajab yang lohu buat berdasarkan
catatan dalam sejilid kitab pusaka. Obat ini dibuat dari kombinasi
beberapa maca m bahan obat yang berkhasiat luar biasa. Boleh
dibilang inilah satu-satunya obat pembawa tenaga yang tiada
keduanya di dunia ini. Sekarang telanlah lebih dulu, sebab ha l
mana akan sangat me mbantumu untuk menyelesaikan tugas yang
lohu berikan kepada mu.”

55
“Locianpwe,” bisik Ku See-hong, “Kau sendiri…., boanpwe
percaya masih sanggup menyelesaikan persoalan ini. Harap kau
legakan hatimu….”
Sebenarnya Ku See-hong hendak berkata: “Locianpwe, sekarang
kau sudah lemah dan mendekati ajal, telanlah ketiga butir pil itu
untuk dirimu sendiri, daripada sebelum ketiga persoalan yang lain
sempat diucapkan, nyawamu sudah keburu pergi.”
Rupanya manusia aneh itu sudah dapat menebak jalan pikiran Ku
See-hong…, dengan suara dingin ia lantas berkata,
“Mengapa tidak cepat-cepat kau telan? Buat apa mesti
mena mpik lagi? Lohu yakin masih ma mpu untuk menyelesaikan
pesanku sebelum mati dengan mata mera m.”
Ku See-hong tak berani me mbantah lagi, dia menurut dan segera
menelan pil itu ke dala m mulutnya.
Bau semerba k segera tersiar di dala m mulutnya. Begitu obat itu
tercampur dengan air ludah, segera hancur dan menga lir masuk ke
dalam tenggorokannya. Ia seketika merasa badannya menjadi
segar dan nyaman, kecerdasan otaknya terasa lebih tajam. Jelas
obat tersebut me mang benar-benar merupakan sejenis obat
mustajab.
Ku See-hong mana tahu kalau ketiga butir pil itu sesungguhnya
telah me mbantu tenaga dalamnya sebesar sepuluh tahun hasil
latihan…?
Dengan wajah yang pedih dan suaranya yang sedih manusia
aneh itu segera membacakan bait syair dari nyanyian “Denda m
Sejagad” itu:
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi kuil
Sungai besar di depan kuil berombak besar
Dendam kesumat sepanjang abad

56
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad
Burung gaga k bersarang di rumput kala senja
Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua
Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad
Ji koan pernah berbuat salah
Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?
Salju terbang air laut se muanya ha mbar.
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad
Curah hujan me mbuyarkan awan
Air mengalir akhirnya surut
Dendam kesumat tak akan pernah luntur…..
Ketika manusia aneh itu selesai mengungkapkan syair dari lagu
DENDA M SEJAGAD… titik air mata darah tampak bercucuran dari
matanya yang tunggal. Inilah penampilan dari rasa sedih yang
kelewat batas, membuat ia tampa k murung, termangu-mangu dan
terjerumus da la m la munan.
Ku See-hong me mang seorang pemuda yang cerdik, semua bait
syair yang diucapkan manusia aneh itu dengan cepat terukir dala m-
dalam di benaknya. Sekalipun dia merasa agak keheranan dan tida k
habis mengerti dengan arti dari kata-kata itu, namun diapun tahu
bahwa bait lagu itu menikt ikberatkan pada soal denda m dan benci.
Tidak heran ka lau rasa benci dan denda m manusia aneh itu
diibaratkan sejagad…..
Mendadak, dengan paras muka sedingin salju dan nada yang
menyeramkan manusia aneh itu berkata:

57
“Ku See-hong, aku rasa sehabis kau mendengar bait syair dari
lagu tersebut, kau pasti akan menaruh curiga mengapa denda m
kesumatku sejagad, bukan? Yaa… sampai mati lohu akan teringat
selalu dendan denda m kesumat ini, akupun akan teringat terus
dengan kekeja man yang pernah kuala mi. Asal… usia langit umur
bumi ada a khirnya, denda m kesumat dala m hatiku tiada masa
berakhir….”
“Aku tahu locianpwe pasti me mpunyai kejadian masa lalu yang
amat me medihkan hati, itulah sebabnya dendammu sejagad, tapi
boanpwe tidak menganggap apa-apa terhadap diri cianpwe, aku
hanya merasa dendam cianpwe agak mendala m ketimbang orang
lain.”
Dengan wajah sedih manusia aneh itu menghe la napas panjang,
“Aaai… perkataanmu ada benarnya juga, dendam lohu me mang
selapis lebih me ndala m bila dibandingkan dengan orang lain.
Aaai… tahu akan menyesal di saat ini, mengapa harus berbuat di
masa lalu? Se kalipun harus mati, aku pun tak perlu me nyesal….”
Ku See-hong yang mendengar perkataan itu, diam-dia m merasa
terperanjat. Manusia aneh ini me mang luar biasa, setiap patah
katanya bahkan mengandung ma ksud yang mendala m, sayang
sekali manusia secerdas ini tak lama lagi akan meninggalkan dunia
ini. Sementara itu, manusia aneh tersebut telah berkata lagi
sesudah berhenti sebentar:
“Ku See-hong, lohu telah melakukan kesalahan besar dan
terjerumus ke da la m keadaan yang tak tertolong lagi, sedang kau
masih muda dan me mpunyai masa depan cerah, kau harus baik-
baik bertindak da la m hidupmu nanti….”
Setelah menghela napas panjang, terusnya:
“Lohu hendak me mperingatkan dirimu, kau harus ingat: Pelukan
yang lembut dan hangat adalah kuburan buat seorang ksatria….”
Sekali lagi Ku See-hong dibuat terperanjat, pikirnya ke mudian,

58
Pelukan yang le mbut adalah kuburan bagi ksatria…. Aaai….
Benar, sakit hati manusia aneh itu sudah pasti menyangkut soal
cinta hingga meninggalkan dendam. Aaai…. Benar, manusia
seperti dia pun terlibat oleh soal cinta, siapa lagi yang bisa terlepas
dari soal tersebut? Sungguh mengherankan, mengapa hanya
masalah cinta dapat membuat seseorang yang berwatak keras
terjerumus da la m keadaan seperti ini?
Terdengar manusia aneh itu menghela napas sedih, lalu bertanya
lagi:
“Ku See-hong, sudah ingatkah kau dengan bait syair dari lagu
itu…?”
Buru-buru Ku See-hong me mberi hormat, jawabnya: “Boanpwe
telah mengingatkannya di hati.”
“Dala m ba it lagu itu penuh mengandung banyak rahasia besar,
lohu tak bisa me mberi penje lasan kepadamu tentang rahasia
tersebut, dan tergantung pada nasibmu di masa mendatang.
Sekarang akan kuajarkan dua maca m kepandaian yang lain
kepadamu. Cepat pusatkan semua perhatianmu dan dengarkan
baik-baik kepandaian yang akan kuajarkan kepada mu itu.”
Buru-buru Ku See-hong me musatkan pikirannya menjadi satu
dan me mbuka telinganya lebar-lebar.
Sekarang ia sudah tahu bahwa ma nusia aneh itu me miliki ilmu
silat yang tiada tandingannya di dunia ini. Soal baru ini, ia berhasil
me mpe lajari beberapa jurus ilmu silatnya untuk menjagoi dunia
persilatan di masa mendatang pasti bukan merupa kan suatu
kesulitan lagi.
--oodwoo--

Bab 3
BERPIKIR sampai di situ, tanpa terasa lagi timbul suatu se mangat
yang besar dalam hatinya.

59
Apa yang ia duga me mang tidak salah, kepandaian rahasia akan
diajarkan manusia aneh itu kepadanya me mang merupa kan suatu
kepandaian sakti yang diimpikan oleh setiap umat persilatan.
Dengan suara keras manusia aneh itu lantas berkata:
“ILmu gerakan tubuh yang akan kuajarkan kepada mu se karang
dina makan ilmu silat Mi-khi Biau-Tiong. Perhatikan baik-ba ik rahasia
dari ilmu ini:
Satu bulat,
dua puncak,
tiga me mukul,
empat terkulai,
lima mengangkat.
Yang dima ksud BULAT adalah: Badan. Tekukkan lengan,
pinggul, lutut, semua harus melingkar baru terasa kuat.
Yang dima ksud PUNCAK adalah: tangan, kepala, lidah untuk
mencapai puncak, la mban tapi bertenaga penuh.
Yang dimaksud MEMUKUL: Dada. Gerakan untuk me mukul harus
bebas tanpa hambatan dan luwes.
Yang dimaksud TER KULAI adalah: bahu, sikut, udara harus
terkulai.
Yang dima ksud MENGANGKA T adalah me ngatur pernapasan.
Lima unsur ini tak boleh berkurang satu pun, makin dilatih akan
semakin se mpurna.
Untuk menggerakkan tubuh dengan hati menggerakkan hawa,
napas harus panjang bagaikan napas kura-kura, lama kela maan
tenaga akan muncul dan terhimpun dala m pusar, tidak menggumpa l
me mbuyar, tidak mela mban tidak me mutus… pinggang sebagai
poros, hawa sebagai roda, berganti gerakan seperti aliran awan

60
me langkah, lirih seperti kucing mencabut badan berganti bayangan,
semuanya berubah tiada habisnya.”
Ku See-hong yang mendengarkan rahasia itu menjadi a mat
terperanjat. Selain rahasia itu panjang dan dalam artinya, juga sulit
dimengerti. Ini menunjukkan kalau ilmu tersebut tidak mudah
untuk dilatih, apalagi dia hanya berkesempatan untuk mendengar
satu kali saja. Berpikir sa mpai di situ, la mat-la mat peluh dingin
me mbasahi seluruh badannya.
Manusia aneh itu menghe mbuskan napas panjang, lalu bertanya:
“Ku See-hong, apakah rahasia ilmu Mi-khi Biau-Ciong yang
kuajarkan tadi telah kau paha mi?”
“Terima kasih atas cinta kasih cianpwe, boanpwe telah
me maha mi keseluruhannya,” jawab Ku See-hong cepat.
Manusia aneh itu merasa gembira sekali, pikirnya: “Bocah ini
benar-benar amat cerdik.”
Walaupun dala m hati kecilnya berpikir de mikian, di luar ia
berkata lagi dengan wajah sedingin es:
“Sekarang lohu akan me mpraktekkan sendiri ilmu langkah
tersebut. Kau harus perhatikan dengan seksama, yang perlu akan
keistimewaan da la m me lakukan langkah itu.”
Berbicara sampa i di sana, tubuhnya lantas berkelebat ke depan
dan tahu-tahu sudah berdiri di atas tanah dengan sepasang kaki
kecilnya yang tinggal tulang belulang itu.
Mendadak… seringan bulu manusia aneh itu berkelebat lewat
seperti segulung angin saja. Kemana dia berlalu, di situ tahu-tahu
badannya sudah lenyap.
Ternyata ilmu langkah yang dide monstrasikan itu me mpunyai
suatu gerakan yang rahasia sekali. Pada hakekatnya tak akan
dipaha mi oleh ma nusia se mbarangan.
Tanpa berkedip barang sekejappun Ku See-hong mengawasi
terus langkah kaki manusia aneh itu. Di antara langkah-langkah

61
kakinya yang kacau balau tersebut seolah-olah seperti mengandung
unsur Ngo-heng dan Pat-kwa, sungguh a mat susah dipaha mi.
Gerakan tubuh itupun cepat seperti sambaran kilat yang
me mbuat kepala orang menjadi pusing sekali. Keindahan dan
kesaktiannya sukar ditemukan, tandingannya di dunia ini.
Tiba-tiba Ku See-hong mendengar suara dengusan napas
manusia aneh itu terengah-engah seperti kerbau. Jelas, untuk
me lakukan ilmu langkah itu, dia sudah kehilangan banyak tenaga.
Tiba-tiba…. Manusia aneh itu kembali mendengus dingin….
Sekali lagi ia me mpraktekkan ilmu langkah tubuh itu.
Betapa terharunya Ku See-hong setelah menyaksikan manusia
aneh tersebut dengan tanpa sayang mengorbankan tenaga yang
banyak, melakukan de mostrasi sekali lagi. Buru-buru dia
me musatkan pikirannya untuk me mperhatikan dengan seksa ma.
Dengan napas manusia aneh itu makin la ma se makin me mburu,
keringat sebesar kacang kedelai bercucuran dengan derasnya.
Suatu ketika orang itu menghela napas sedih dan berhenti bergerak,
tubuhnya segera jatuh terduduk di atas tanah.
Ku See-hong menjerit kaget, cepat ia menubruk ke depan sambil
me mayang tubuhnya.
“Locianpwe…!” teriaknya cemas. “Locianpwe… kau… kau…
kenapa kau…?”
Waktu itu paras muka manusia aneh itu tersebut telah berubah
semakin pusat menyeramkan. Dadanya naik turun tak menentu,
napasnya terengah-engah dan payah sekali.
“Ku See-hong…” bisiknya dengan suara ge metar.
Hal 50-51
“Kau… apakah kau sudah me maha mi kesaktian dari ilmu Mi Khi
Bian Ciong ini? Titik berat
Hal. 50-51

62
Adalah mengetahui asal-usul manusia aneh itu serta dendam
kesumat yang terpendam da la m hatinya.
Tiba-tiba paras muka manusia aneh itu berubah menjadi
menyeringai sera m, teriaknya:
“Ku See-hong, kau jangan me mandang rendah diriku! Apa yang
telah kuucapkan masih bisa kuse lesaikan sebagaimana mestinya,
dengan demikian a ku baru bisa meningga lkan dunia ini dengan
mata mera m. Ayo, cepat bombing a ku na ik ke atas.”
Ku See-hong menurut dan me mayang manusia aneh itu naik ke
atas pembaringan, tapi pe lbagai persoalan berkeca muk di dala m
benaknya. Dia merasa meski manusia aneh itu dingin tak
berperasaan, sesungguhnya dalam hati kecil orang itu tersimpan
suatu ketulusan hati dan kebajikan yang mulia. Dia mengingin
kalau dirinya bisa menegakkan keadilan bagi umat persilatan dan
me lenyapkan se mua kejahatan dari muka dunia.
Dala m dunia persilatan dewasa ini banyak sekali manusia-
manusia kerdil yang mencari na ma untuk kepentingan pribadi,
banyak pula manusia munafik yang berlagak bajik padahal manusia
aneh ini sangat me mbenci segala bentuk kejahatan, apalagi sifatnya
me mang suka me mbunuh, tak heran kalau banyak orang jahat yang
tewas di tangannya, tidak heran juga kalau sepanjang masa
hidupnya banyak mengala mi penderitaan dan peristiwa tragis….
Sejak kecil Ku See-hong sudah kehilangan orang tuanya. Oleh
suatu pukulan batin yang keras, wataknya mengalami perubahan
yang sangat besar. Ditambah lagi belasan tahun hidup
bergelandangan dalam dunia persilatan, tak sedikit kejadian busuk
dan rendah yang pernah dialaminya. Tidak heran kalau ia sangat
menga la mi keadaan dunia yang sesungguhnya.
Kobaran api dendam t iba-tiba me mbakar dala m rongga dadanya.
Tanpa disadari diapun menaruh pandangan yang se mpit terhadap
umat persilatan di dunia ini. Ia bersumpah bila suatu hari berhasil
me mpe lajari ilmu silat yang maha sakti, diapun akan me lakukan
pembunuhan secara besar-besaran dala m dunia persilatan.

63
Itulah sebabnya ketika dia masuk ke dala m kuil dan menga la mi
pelbagai penderitaan dan siksaan, pemuda itu sa ma sekali tida k
mendenda mkan kepada manusia aneh itu. Seakan-akan dia
beranggapan bahwa wajarlah bila manusia-manusia persilatan yang
berusaha me masuki kuil itu me ne mui ajalnya secara tragis.
Setelah mengatur napas sebentar, tiba-tiba manusia aneh itu
berkata lagi:
“Ku See-hong, kemungkinan besar lohu sudah tak sanggup untuk
bertahan lebih la ma lagi. Aaai….”
Sesudah menghela napas, ia menghe mbuskan napas panjang
dan berkata:
“Seandainya kuajarkan dahulu jurus serangan itu kepadamu,
besar kemungkinan aku benar-benar tak sanggup untuk
mengisahkan cerita itu lagi kepadamu, padahal selama hidup apa
yang telah kuucapkan tak pernah dirubah lagi… tapi kali ini mau tak
mau terpaksa aku harus menuruti maksud hatimu. Akan
kuceritakan kisah cerita itu lebih dulu, kemudian baru me mberi
latihan ilmu pukulan kepada mu sa mpa i mati.”
“Maksud locianpwe itu me mang tepat, sekarang silahkan kau
bercerita lebih dulu, boanpwe pasti akan mengingatnya terus di
dalam hati….”
Paras muka manusia aneh itu kembali berubah menjadi dingin
menyeramkan, katanya dengan nada seram:
“Ku See-hong, di ka la lohu sedang mengisahkan ceritera nanti,
kau dilarang untuk menimbrung, mengerti?”
Mendengar perkataan itu, dia m-dia m Ku See-hong berpikir:
“Ia benar-benar sangat aneh, wataknya juga aneh sekali, apalagi
kalau dilihat sikapnya yang mudah berubah itu, bila seseorang yang
tidak terlalu me maha mi wataknya, pasti akan dibikin ketakutan
setengah mati. Dalam keadaan begini, mana mungkin dia berniat
untuk mendengarkan kisah ceritanya lagi?”

64
Berpikir sa mpa i di situ, Ku See-hong lantas berkata:
“Locianpwe tak usah kuatir, boanpwe tak akan menimbrung
selama kau berceritera.”
Dala m waktu singkat pelbagai perubahan terjadi di atas wajah
manusia aneh itu. Akhirnya dengan wajah yang me medihkan dia
menceritakan kisah yang cukup menggetarkan sukma itu.
“Lima puluh tahun berselang, dala m dunia persilatan muncul
seorang manusia pintar yang tidak diketahui ident itas maupun asal-
usulnya. Waktu itu usianya belum begitu besar, tapi ilmu silatnya
telah mencapai puncak kese mpurnaan…. Dala m dunia persilatan
waktu itu tak seorangpun sanggup melawan kelihaiannya itu.
Waktu itu suasana da la m dunia persilatan a mat kacau. Kau sesat
dan golongan hitam meraja lela, manusia-manusia munafik pun
bermunculan di ma na-mana.
Kebetulan pe muda itu adalah seorang manusia yang me mbenci
segala kejahatan. Ketika dilihatnya dunia persilatan sudah berada di
jalan menuju ke hari kia mat, ma ka timbullah suatu niat yang luar
biasa dalam hatinya untuk menyela matkan dunia persilatan dari
kehancuran, menegakkan keadilan dan kebenaran serta melakukan
pembunuh yang tak kenal a mpun terhadap kaum sesat dunia.
Dala m setengah tahun yang amat singkat inilah, secara beruntun
dia telah me mbunuh jago-jago lihay yang tak terhitung banyaknya
dalam dunia persilatan… meratakan tiga belas propinsi di utara dan
selatan sungai besar….
Tujuh puluh empat tempat sarang penyamun dibumi hanguskan
dengan tanah. Para jago liok-lim maupun kaum iblis menjadi
ketakutan dan melarikan diri terbirit-birit.
Waktu itu dia bercita-cita setinggi langit, apalagi sebagai seorang
anak muda yang berdarah panas, maka diapun me mberi sebuah
julukan untuk dirinya sendiri, yakni Bun-ji Koan-su (Pendekar Sakt i
Berbudi Halus).

65
Orang bilang, semakin tinggi pohon itu sema kin mudah
terhembus angin, semakin besar na ma orang itu se makin ga mpang
didatangi bencana.
Apalagi Bun-ji Koan-su adalah seorang yang berwatak aneh dan
bertindak menuruti perasaan sendiri. Di kala me mbunuh orang,
cara yang digunakan a mat keji dan tida k mengena l a mpun.
Desutan serta adu domba dari pelbagai jago kaum sesat ini
menyebabkan suasana dala m dunia persilatan se makin berta mbah
kalut. Maka pandangan orang persilatan terhadap Bun-ji koan-su
pun mula i berubah. Dia mulai dipandang sekeja m ular berbisa dan
berhati busuk.
Bun-ji Koan-su sendiri sa ma sekali tak acuh terhadap pandangan
yang tak adil dari umat persilatan terhadap dirinya itu, pokoknya
semua iblis dan kaum sesat yang masih mela kukan kejahatan,
dibunuhnya se mua tanpa a mpun.
Oleh sebab itulah, nama Bun-ji Koan-su makin la ma sema kin
jelek dan akhirnya dituduh orang sebagai gembong iblis yang
berhati keja m.
Sekalipun de mikian, berhubung ilmu silat yang dimilikiya amat
lihay, hingga waktu itu tiada seorang manusiapun yang dapat
menandingi, maka se mua orang hanya berani marah, tak berani
banyak berbicara, sekalipun berulang kali kaum sesat mengguna kan
cara yang keji dan terkutuk untuk mengerubutinya, tapi dia masih
tetap membunuh tak kenal a mpun. Maka ketika itu tak ada orang
yang berani mencari gara-gara dengannya, kalau tidak sudah pasti
pengeroyokannya mati se mua terbunuh.
Tapi justru karena perbuatannya ini, dengan cepat me mancing
ke marahan dari umat persilatan lainnya. Mereka segera menyebar
Bu-lim-tiap dan Liok-lim-cia m untuk mengerubutinya. Tapi yang
mengherankan justru ilmu silat yang dimiliki Bun-ji Koan-xu makin
la ma se makin lihay, semua pengerubutan itu berhasil dikalahkan
sehingga tercerai-berai.

66
Pikiran semua orang mulai ce mas, gelisah dan tak tenang.
Banyak di antaranya malah merasa tak nyenyak tidur, tak ena k
makan.
Sementara itu para jago dari pelbagai partai besar pun menaruh
semaca m perasaan curiga terhadap ilmu silat yang dimiliki Bun-ji
Koan-su.
Setelah melalui penyelidikan yang seksama, akhirnya baru
diketahui, rupanya Bun-ji Koan-su me miliki se maca m ilmu khikang
yang aneh dan maha sakti.
Ilmu khikang tersebut bisa menimbulkan suatu perubahan Im-
Yang di dala m badannya sehingga semakin keras dia menerima
serangan, semakin hebat pula ke majuan yang berhasil dicapa i
dalam tenaga dala mnya. Karena itu, kemajuan yang berhasil
dicapai Bun-ji Koan-su boleh dibilang me lebihi orang lain dan sangat
mengerikan se kali.
Ku See-hong yang mendengarkan kisah itu menjadi a mat tertarik
sekali. Dia tahu, yang dinamakan Bun-ji Koan-su tersebut sudah
pasti adalah manusia aneh di hadapannya ini… tapi diapun
me mbenci kepada umat persilatan. Dia merasa orang-orang itu
me mpunyai pandangan yang tida k adil terhadap manusia aneh ini.
Ketika Ku See-hong me ndengar bahwa Bun-ji Koan-su me miliki
sejenis ilmu khikang yang maha sakti, hatinya segera bergetar
keras.
Manusia aneh itu telah berkata kepadanya bahwa dia telah
me mpe lajari pula ilmu khikang Kan-kun Mi-s iu tersebut, itu berarti
setiap kali badannya terhajar oleh pukulan orang, tenaga dalamnya
akan semakin cepat mengala mi ke majuan. Mungkinkah pada suatu
ketika dia akan berhasil mencapai tingkatan yang amat dahsyat
seperti apa yang dimiliki Bun-ji Koan-su tempo dulu?
Berpikir sa mpai di situ, kejut dan girang segera berkeca muk
dalam hatinya, dia tak menyangka kalau ilmu sakti se maca m itu
berhasil dimilikinya.

67
Setelah mengatur napas sekian la ma, dengan wajah dingin
me mbesi, orang aneh itu melanjut kan ke mba li kisahnya.
“Orang persilatan tahu bahwa ilmu khikang yang dilatih oleh Bun-
ji Koan-su tersebut adalah semaca m ilmu khikang maha dahsyat
yang diciptakan oleh seorang manusia pintar pada jaman Cun Ciu
Cian Kok dulu. Orang itu tak lain adalah perdana menteri Negeri Go
yang bernama Ngo Cu Siau.
Oleh tokoh yang amat pintar ini, kepandaian tersebut kemudian
ditulis dala m sejilid kitab pusaka yang disebut Cang Ciong pit-kip.
Dari sini semua orang pun lantas tahu kalau Bun-ji Koan-su telah
berhasil mendapatkan kitab Ciang C iong pit-kip yang digilai setiap
umat persilatan itu. Ma ka dunia persilatan pun ke mba li me ngala mi
suatu persoalan yang amat hebat.
Akibatnya bukan saja niat kawanan jago itu untuk me mbunuh
Bun-ji Koan-su se makin besar, setiap orang pun bernafsu sekali
untuk mera mpas kitab pusaka Cang Ciong pit-kip itu, terutama dari
pihak kaum sesat dan golongan hita m. Dengan pelbaga i tipu
muslihat mere ka berusaha untuk melenyapkan duri dala m mata ini.
Ketika Bun-ji Koan-su mengetahui bahwa umat persilatan adalah
manusia-manusia rakus yang tidak mengena l malu, hatinya menjadi
amat sedih se kali. Hasratnya untuk menega kkan keadilan dan
kebenaran dala m dunia persilatan pun menjadi hilang lenyap.
Setelah dikejar dan didesak terus menerus oleh kawanan jago
persilatan, terpaksa dia menga mbil keputusan untuk hidup
mengasingkan diri dan tidak me lakukan perjalanan lagi dala m dunia
persilatan.
Tentu saja, ia tidak takut terhadap kejaran dan desakan oleh
orang-orang persilatan, dia hanya tak ingin mela kukan pe mbunuhan
yang lebih banyak lagi terhadap umat persilatan. Jadi sebenarnya
hal ini t imbul dari niatnya yang baik.
Tapi justru karena perasaan yang mulia inilah me mbuat dia
sendiri justru mengala mi nasib yang tragis.

68
Ketika berbicara sampai di situ, beberapa titik air mata segera
jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Ini menunjukkan betapa
sedih dan e mosinya dia.
Ku See-hong menjadi tertegun dan tak habis mengerti, dia tidak
paham me ngapa ke muliaan hati manusia aneh tersebut bisa
berakibat timbulnya tragedi tersebut? Sebenarnya apa yang dia
maksudkan?
Dengan wajah yang se makin menyeramkan manusia aneh itu
berkata lebih lanjut:
“Sejak waktu itu, Bun-ji Koan-su mula i berpesiar ke te mpat-
tempat yang indah untuk menghibur hatinya, tapi musuh besarnya
tersebar di mana-mana. Kemanapun dia pergi di sana pasti muncul
kawanan jago yang berusaha memba las dendam kepadanya. Tapi
dengan hati yang penuh welas asih dia hanya menghindar dan
berusaha tidak ribut dengan mereka, apalagi menerbit kan
pembunuhan lagi. Dengan wataknya yang keras, sesungguhnya
amat sulit baginya untuk me lakukan tindakan yang le mah tersebut.
Suatu hari, ketika ia sedang berpesiar ke propinsi Szechwan, tiba-
tiba dijumpainya ada dua orang pemuda yang sedang terluka parah
dan hampir mati tergeletak di pinggir jalan. Menyaksikan keadaan
dari kedua orang pe muda itu cukup mengenaskan, Bun-ji Koan-su
lantas berusaha keras untuk menyela matkan jiwa kedua orang itu
dengan menggunakan tenaga dala mnya.
Ketika ke mudian mereka tahu bahwa penolongnya adalah Bun-ji
Koan-su yang amat tersohor itu, mereka berdua pun segera
merengek dan me mohon kepadanya agar menerima mereka sebagai
muridnya.
oooOOOooo

Bab 4
TAHUN itu, meskipun Bun-ji Koan-su berusia tigapuluh tahunan,
tapi sudah bosan hidup da la m dunia persilatan. Dia me mang ingin

69
sekali mencari orang yang berbakat baik untuk diwarisi segenap
ilmu silat yang dimilikinya.
Ketika ia sudah mengetahui asal-usul kedua orang itu, bahkan
mengetahui kalau mereka berbakat baik, maka Bun-ji Koan-su
me mutuskan untuk menerima mereka berdua sebagai muridnya dan
mewariskan pe lbagai ilmu sakti kepada mere ka.
Tapi berhubung Bun-ji Koan-su tida k me miliki te mpat tinggal
yang tetap, dan lagi suka berpesiar ke tempat yang
berpemandangan indah, ma ka dia pun selalu me mbawa serta kedua
orang muridnya ini kemana pun dia pergi. Setiap ada kesempatan
dia pun me mberi petunjuk ilmu silat kepada kedua orang pe muda
itu.
-oo0dw0oo-

Jilid 03
DENGAN kecerdasan yang dimiliki kedua orang pe muda itu,
sekalipun harus me mpelajari ilmu silat yang amat sulit, ternyata asal
diberi petunjuk mereka segera mengerti. Apalagi sikap mereka
terhadap Bun-ji Koan-su pun sopan dan menurut sekali, tak heran
kalau Bun-ji-koan-su tak sayang untuk mewariskan segenap ilmu
silat yang dimilikinya itu kepada mereka.
Malahan dia pun berhasrat untuk mewariskan juga ilmu khikang
yang sakti dan tiada taranya itu kepada mereka berdua.”
Ketika berbicara sa mpai di sini, manusia aneh itu menggertak
giginya kencang sehingga berbunyi gemerutukan, sekujur badannya
gemetar keras, dari balik mata tunggalnya terpancar keluar sinar
tajam yang mengerikan. Jelas kalau perasaannya waktu itu diliput i
oleh rasa gusar dan denda m yang hebat.
Ku See-hong bukan orang bodoh, ketika menyaksikan sikap
seram dari manusia aneh itu, ke mudian dicocokkan pula dengan
kejadian yang pernah dialaminya sewaktu hendak memanggil suhu
kepadanya tadi, dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan

70
bahwa kedua orang pemuda ini pasti sudah me lakukan
pengkhianatan sehingga berakibat fatal bagi gurunya itu.
Berpikir sa mpai di sini, tanpa terasa Ku See-hong bertanya,
“Locianpwe, apakah Bun-ji koan-su telah mewariskan ilmu khikang
tersebut kepada mereka? Siapakah na ma kedua orang itu?”
Sampa i sekarang Ku See hong masih berlagak seolah-olah tidak
tahu kalau manusia aneh itu adalah Bun-ji koan-su pribadi. Dia
menanyakan na ma pe muda itu karena dia telah berhasrat untuk
me mba laskan denda m bagi Bun-ji koan-su di ke mudian hari.
Manusia aneh itu sangat dipengaruhi oleh emosi dala m hatinya,
dia lupa kalau tadi pernah me merintahkan kepada Ku See-hong
untuk tida k menimbrung, jawabnya dengan sinis:
“Huuuh, kawanan kurcaci maca m dia juga pingin mengincar ilmu
sakti, kalau bukan rejekinya…”
Mendadak paras muka manusia aneh itu berubah hebat,
bentaknya keras-keras:
“Ku See-hong, lohu me larang kau banyak bertanya, mengapa kau
berani menimbrung?”
Dia m-dia m Ku See-hong merasa kegelian, karena tidak sadar dia
telah bertanya, sedang manusia aneh itupun sudah me mberi
separuh jawaban kepadanya, mungkin seandainya jawaban itu
sudah diberikan secara komplit dia benar-benar akan marah besar.
Berpikir de mikian, buru-buru anak muda itu berseru:
“Oooh… maaf. Maaf locianpwe, lain kali boanpwe pasti tak akan
menimbrung jalan cerita mu lagi.”
Sudah barang tentu manusia aneh itupun dapat me maha mi
maksud ucapan dari Ku See-hong tadi, tapi dasar wataknya
me mang aneh maka jawaban yang diberikan setengah ja lan itupun
sengaja dia lakukan de mikian, sekalipun di da la m hati kecilnya dia
sendiripun merasa kegelian.

71
Yaa, kalau diri manusia berwatak aneh telah saling berjumpa,
meski di da la m hati kedua belah piha k mengakui lawannya sebagai
guru dan murid, na mun di luaran mereka bersikap sebaliknya
me mang begitulah keanehan yang sering terjadi di dunia ini.
Selang beberapa saat kemudian, dengan wajah dingin manusia
aneh itu me lanjutkan ke mbali kata-katanya:
“Boan-ji koan-su dengan me mbawa kedua orang muridnya
me lanjutkan pesiarnya kemana-mana dan melewati kehidupan
seperti dewa.
Suatu hari, di kala Bun ji koan su me mbawa kedua orang
muridnya berpesiar ke se lat Sa m shia di bukit Wu-san, tiba-tiba
terjadi suatu musibah yang merupakan suatu peristiwa yang pa ling
menyakit kan hati Bun ji koan su sepanjang hidupnya.
Rupanya ketika tiba di selat Sam shia di bukit Wu-san, secara
tiba-tiba Bun ji koan su telah berjumpa dengan seorang tokoh sakt i
yang berilmu t inggi dan berna ma besar dala m dunia persilatan, Thi
kia m kim ciang Ceng Ih lwe (pedang baja pikulan e mas yang
menggetarkan jagad) dengan me mbawa se kawanan jago lihay
mengadakan penghadangan dirinya.
Bun-ji koan-su sudah a mat je mu se kali terhadap segala bentuk
pembunuhan yang terjadi dalam dunia persilatan, maka terhadap
kawanan jago lihay yang dipimpin oleh Thi kia m kim ciang ceng ih
lwe tersebut, dengan rendah hati dia me mohon kepada lawannya
agar jangan mengobarkan pertarungan yang bisa berakibat
banyaknya korban yang akan berjatuhan.
Tapi Thi kia m kim ciang Ceng Ih Iwe mendesak terus menerus
bahkan mengejek dan menghina Bun-ji koan-su.
Sesabar-sabarnya Bun-ji koan-su, dia tetap adalah seorang
manusia, bagaimana mungkin dia sabar terhadap ejekan dan
cemoohan dari lawannya itu? Maka dengan hawa nafsu me mbunuh
yang berkobar, Bun-ji koan-su me mbuka serangannya. Suatu
pertempuran sengit yang t iada taranya pun dengan cepat berkobar
di sana.
72
Dala m pertempuran itu, hampir saja selembar nyawa Bun-ji
koan-su lenyap di ujung tangan Thi kiam kim ciang Ceng Ih Iwe
tersebut.”
Ku See hong yang mendengar ceritera itu dia m-dia m merasa
amat terkesiap, tanpa terasa ia bertanya lagi dengan ce mas:
“Locianpwe, ilmu silat yang dimiliki Bun-ji koan-su begitu lihay,
mengapa ia bisa menderita kerugian?”
Manusia aneh itu ke mbali mendengus dingin, dia tidak menjawab
pertanyaan dari Ku See hong, mela inkan me lanjutkan ke mbali
ceriteranya itu.
“Ternyata menghadapi semua jurus serangan yang dilancarkan
Bun ji koan su tersebut, seolah-olah Thi kia m kim ciang ciang ih-lwe
sudah me mpunyai perhitungan yang matang. Setiap kali
menghadapi serangan yang gencar dan dahsyat, dia selalu bisa
menghindarkan diri secara ga mpang dan sederhana, malah jurus
serangan balasan yang digunakan semuanya merupakan jurus-jurus
tandingan untuk me matahkan anca man Bun-ji koan-su.
“Menghadapi keadaan seperti ini, Bun-ji koan-su benar-benar
merasa terkejut bercampur heran, padahal semua jurus serangan
yang digunakan berasal dari sejilid kitab pusaka ilmu silat yang
bernama Cang-ciong-pit-kip. Sekalipun ilmu silat Thi kia m kim ciang
Ciang Ih huang sedemikian dahsyatnya, juga tak akan sedahsyat
itu. Maka timbul suatu perasaan curiga da la m hatinya.
Selama ini, kepandaian silat yang dimilikinya hanya pernah
diwariskan kepada dua orang murid kesayangannya, setengah jurus
pun belum pernah dibocorkan ke dalam dunia persilatan, atau
mungkin ada persoalan dengan kedua orang murid kesayangannya
itu?
Bun-ji koan-su segera me manggil kedua orang muridnya dan
mendesak kepada mereka untuk mengaku, apakah mere ka telah
me mbocorkan rahasia ilmu silat yang dimilikinya?

73
“Siapa yang pernah berbuat salah harusnya tentu gelisah, siapa
yang berkentut mukanya tentu merah.
Siapa tahu setelah dipaksa dan didesak terus-menerus, akhirnya
mereka mengaku juga. Ternyata kedua orang murid kesayangannya
itu, bukan lain adalah murid kesayangan dari Thi kia m kim ciang
Ceng Ih huang. Mereka adalah dua orang manusia paling berbakat
yang pernah dite mui dala m dunia persilatan wa ktu itu. Agaknya
mereka me mang sengaja diutus untuk mencuri be lajar ilmu silat
yang dimilikinya agar bisa me mbasmi Bun-ji koan-su di suatu ketika
dan merampas kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip miliknya.
Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan kesal yang diala mi Bun-ji
koan-su waktu itu. Diapun menjadi begitu mendenda m kepada
seluruh umat persilatan yang berada di dunia ini karena kelicikan
dan kebusukan hati mere ka yang telah me mperguna kan cara keji,
rendah dan terkutuk semaca m itu untuk menghadapinya.
Di dala m marahnya, dia segera mengeluarkan seluruh
kepandaian silat maha sakti yang dimilikinya untuk me lakukan
pembunuhan serta pe mbantaian secara besar-besaran.
Siapa tahu pada saat itulah kedua orang murid pengkhianat itu
juga ikut terjun ke arena pertempuran, bahkan bersama kawanan
jago silat yang lain mereka bersama-sama mengerubuti Bun-ji koan-
su seorang.
Agaknya sebelum masuk menjadi anggota perguruan Bun-ji
koan-su, kedua orang murid pengkhianat itu sudah merupakan jago
muda yang kena maan di da la m dunia persilatan. Ilmu silat yang
mereka miliki boleh dibilang termasuk kelas satu dala m dunia
persilatan. Yang seorang bernama Thi bok sia kia m (pedang sakt i
kayu baja) Cu Pok, sedangkan yang lain bernama Jian bun kia m
ciang (telapak tangan e mas pe mbabat nyawa) Tu Pok-kim….”
Setelah mendengar kedua na ma tersebut, Ku See-hong
mengingatnya dalam-dala m di hati. Dia sudah bertekad akan
mencari kedua orang pengkhianat tersebut, untuk di ke mudian hari
me mbuat pe mbalasan.

74
Ketika menyebutkan na ma dari kedua orang murid pengkhianat
tersebut, orang aneh itu juga turut berhenti sebentar, sinar mata
tunggalnya yang tajam bagaikan se mbilu mengawasi wajah Ku See
hong tak berkedip, tapi dengan cepat hatinya menjadi sangat lega.
Lanjutnya ke mudian lebih jauh:
“Ilmu silat mereka berdua sesungguhnya sudah amat lihay,
apalagi dala m setahun be lakangan ini me ndapat petunjuk yang
seksama dari Bun-ji koan-su, ha l mana me mbuat ilmu silatnya
mendapat ke majuan yang sedemikian pesatnya sehingga sama
sekali tidak berada di bawah kepanda ian Thi kia m kim ciang Ceng
Ih-huang yang me mang lihay itu.
Oleh sebab itu, di bawah kerubutan dari beberapa orang jago
tangguh yang luar biasa lihaynya itu, Bun-ji koan-su merasakan
tekanan-tekanan yang sangat berat sehingga merasa kepayahan
sekali.
Pertempuran itu boleh dibilang merupakan pertempuran sengit
pertama yang pernah diala mi Bun-ji koan-su sepanjang hidupnya.
Meski begitu ilmu silat yang dimiliki Bun-ji koan-su me mang benar-
benar telah mencapai puncak kese mpurnaan yang tak terkirakan.
Kedua belah pihak telah me libatkan diri da la m pertarungan sengit
selama sehari se mala m la manya, sedemikian sengitnya pertarungan
tersebut seakan-akan bumi ikut berguncang dan langit ikut berobak,
kehebatan serta kesengitannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Akhirnya dala m pertarungan itu Bun-ji koan-su berhasil
me mbantai tiga puluhan orang jago lihay termasuk juga Thi-kia m
kim-ciang Ceng Ih-huang sendiripun tak berhasil meloloskan diri dari
bencana. Dia tewas di ujung telapak tangannya Bun-ji koan-su, juga
pertempuran sengit yang menggetarkan sukmapun sudah
mende kati pada akhir.
Thi-bok sin-kia m Cu Pok dan Jian-hun kim-ciang Tu Pok kim
rupanya telah menyadari bahwa keadaan yang menguntungkan bagi
mereka sudah lewat. Kedua-duanya segera berlutut di hadapan
Bun-ji koan-su dan menggunakan sele mbar bibirnya yang pandai,

75
berusaha me minta pengampunan. Mereka mengatakan telah
dipaksa oleh orang persilatan untuk melakukan perbuatan
mengkhianati perguruan yang a mat terkutuk itu dan merasa amat
menyesal dan bertobat bahkan kata mereka bersedia untuk
menebus dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan.
Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, orang
bilang Bun-ji koan-su bermuka dingin berhati kaku, kejam dan sa ma
sekali tak berperasaan…
Tapi bagaimanapun keji dan tak berperasaannya dia, bagaimana
mungkin tega untuk me mbunuh dengan tangan sendiri terhadap
murid-murid didikannya? Waktu itu perasaannya benar-benar amat
sedih, tersiksa dan sangat menderita.
Setiap kali Bun-ji koan-su mengerahkan tenaga dalamnya untuk
bersiap-siap me mbinasakan kedua orang pengkhianat tersebut,
hatinya selalu menjadi le mah ke mba li dan merasa tak tega.
Sementara kedua orang pengkhianat itupun sudah menangis
tersedu-sedu dengan amat sedihnya, me mbuat siapa saja yang
me lihat ha l itu turut menjadi iba dan muncul perasaan kasihan.
Maka hati Bun-ji Koan-su pun menjadi lunak ke mbali. Dia hanya
menda mprat serta menasihati kedua orang pengkhianat tersebut
ke mudian mengusirnya dari perguruan.
Waktu itu dia pun bersumpah kepada langit, sepanjang hidup
tidak akan menerima murid lagi. Diapun me mpunyai suatu harapan
dan keinginan.
Dia hendak mewariskan ketiga maca m ilmu rahasia ma ha
saktinya kepada seorang manusia yang berbakat, tapi dia tak akan
menerima budi pe mbalasan dan orang itu. Diapun tak a kan
mengakui dirinya sebagai guru orang itu. Itulah sebabnya pelbagai
peraturan yang aneh dan hampir tidak mendekati perike manusiaan
telah bermunculan, sesungguhnya hal tersebut merupakan akibat
dari kesedihan Bun-ji koan-su sejak menerima dua orang murid
yang akhirnya berkhianat.

76
Ketika berbicara sampai di situ dari balik sinar mata tunggal
manusia aneh itu segera terpancar keluar rasa sedih dan
permintaan maaf, diawasi Ku See-hong lekat-lekat.
Sementara Ku See-hong sendiripun sedang berpikir: Oooh…
rupanya karena alasan inilah maka dia enggan disebut sebagai suhu
olehku.
Setelah berhenti sebentar manusia aneh itu ke mbali melanjutkan
kata-katanya:
“Setelah Bun-ji Koan-su me mbunuh Thi-kia m-kim-ciang-ceng Ih-
huang, lalu dengan sadar welas kasih me lepaskan kedua orang
murid pengkhianat pergi. Tindakan ini boleh dibilang merupa kan
suatu tindak kesalahan yang paling besar. Tapi karena kesalahan
tersebut akhirnya ia harus menanggung akibatnya sampai detik
terakhir dari kehidupannya.
Waktu itu perasaan Bun-ji Koan-su benar-benar putus asa,
kecewa dan tidak bersemangat lagi. Kendatipun dia masih berpesiar
ke seantero jagad, namun sudah tiada kege mbiraan lagi untuk
menikmati ke indahan ala m sekitarnya.
oooOOOooo

SEJAK Bun-ji Koan-su terjun ke dala m dunia persilatan, waktu itu


ada seorang pendekar perempuan yang cantik dan romantis selalu
mengejar dirinya walau sampai di ujung langit pun untuk
menyatakan perasaan cinta kasihnya.
Pendekar perempuan itu bukan saja me miliki wajah yang cantik,
lagipula berhati suci bersih dan cerdik sekali.
Tapi dasar wataknya me mang aneh, ternyata Bun-ji Koan-su
sama sekali tidak menanggapi luapan cinta kasih dari pendekar
perempuan itu, malahan dengan kata-kata yang tajam dan pedas ia
telah menyakiti perasaan gadis itu.

77
Ketika gadis itu melihat kekasihnya berhati dingin, tak
berperasaan bahkan menyakit i hatinya dengan kata-kata tajam dan
pedas, tahulah dia bahwa semua cinta kasih yang diperlihatkannya
selama ini tidak me mperoleh tanggapan sebagaimana mestinya.
Ketika itu dia menjadi sedih dan putus asa… dari cinta ia menjadi
benci dan mengguna kan pedangnya siap untuk membunuh orang
yang dicintainya itu.
Suatu pertempuran sengitpun segera berkobar antara Bun-ji
Koan-su melawan pendekar pere mpuan itu. Kalau dibicarakan
sesungguhnya kejadian ini me mang aneh dan sukar dipercaya.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki gadis itu sede mikian lihay dan
saktinya sehingga boleh dibilang sa ma sekali tida k selisih jauh bila
dibandingkan dengan Bun-ji Koan-su sendiri.
Kenyataan ini tentu saja me mbuat Bun-ji Koan-su menjadi kaget,
tercengang dan keheranan, mimpi pun dia tak menyangka ka lau
gadis tersebut me miliki kepandaian yang sebegitu lihaynya. Lambat
laun dia mulai menyadari bahwa di atas langit sebetulnya masih ada
langit, di atas manusia masih terdapat manusia lain.
Pertempuran sengit antara gadis itu melawan Bun-ji Koan-su
berlangsung hampir seratus jurus lebih, boleh dibilang gadis itu
merupaakan seorang musuh yang pa ling tangguh di dala m
hidupnya.
Setelah bertarung hingga seribu dua ratus enam puluh jurus
ke mudian, akhirnya Bun-ji Koan-su dengan me mpergunakan satu
jurus serangan yang paling lihay dan rahasia secara menyerempet
bahaya, berhasil menggetar putus pedang si nona dengan sentilan
jarinya. Kemudian dengan tak berperasaan sedikitpun juga dia
berkata:
“Meski bunga yang berguguran yang air yang mengalir tak
berperasaan, jika kau masih saja mengejar diriku terus menerus…
aku tidak akan berla ku sungkan-sungkan lagi kepada mu. Pedang ini
merupakan sebuah contoh yang pa ling baik untukmu.”

78
Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan hancurnya perasaan
gadis itu, setelah mendengar ucapan keji yang tidak berperasaan
dari orang yang dicintainya itu, dia malah sama sekali tida k
menangis, setitik air mata pun tidak mele leh keluar, tapi aku tahu
betapa sedih dan terluka hatinya oleh ucapan tersebut.
IA segera memungut kutungan pedangnya dari atas tanah,
ke mudian dengan wajah me mancarkan rasa dendam dan benci,
katanya sambil menggigit bibirnya kencang-kencang:
‘Bun-ji koan-su, aku Seng-sim cian-li Hoa Soat-kun benar-benar
mencintaimu dengan setulus hati, tak nyana kalau hatimu sekeji dan
tidak berperasaan seperti ini. Tunggu sajalah, lima puluh tahun
ke mudian a ku pasti a kan menciptakan se maca m ilmu pukulan yang
tiada taranya di dunia ini yakni Hay-jin-ciang untuk me mbunuh
dirimu di ujung telapak tanganku….’
Ketika itu, Bun-ji koan-su segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan sinis:
‘Baik, haaahh… haaahh… haaahh… Seng-sim cian-li Hoa Soat-
kun, aku pasti akan menunggu kedatanganmu pada lima puluh
tahun ke mudian, pasti akan kuberi kese mpatan kepada mu untuk
me mbuktikan apakah ilmu pukulan Hay-jin-ciang ciptaanmu itu
sanggup merobohkan aku.’
Setelah mendengar perkataan itu sekujur badan Seng-sim cian-li
Hoa Soat-kun ge metar keras. Setelah me mbuang sebagian dari
potongan pedangnya, dengan me mbawa perasaan yang sedih dan
hati yang hancur luluh, dia berlalu dari sana. Sejak itu pula dala m
dunia persilatan telah kehilangan kabar berita tentang dirinya….”
Berbicara sampai di situ, beberapa titik air mata tampak jatuh
berlinang dari mata tunggal manusia aneh itu. Wajahnya
menunjukkan perasaan menyesal yang tak terkirakan. Ku See-hong
ke mbali berpikir di dala m hatinya:
“Aaai… berbicara yang sesungguhnya dia me mang t idak patut
me lakukan tindakan begitu keji dan tidak berperasaan kepada calon
guruku yang kedua itu, yaaa… kalau dilihat dari keadaannya,
79
mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang bagiku untuk
me mohon pelajaran Hay-jin-ciang tersebut darinya.”
Dala m pada itu, kesehatan dan kondisi badan manusia aneh itu
kian la ma kian bertambah jelek, diapun rupanya juga sadar ka lau
waktu hidup baginya di dunia ini sudah tidak terlalu banyak lagi.
Buru-buru perhatiannya dipusatkan ke mbali menjadi satu, kemudian
me lanjutkan:
“Pada waktu itu Bun-ji koan-su cuma tertawa belaka, sambil
me mbawa kutungan pedang yang lain dia me lanjutkan ke mbali
perjalanannya seorang diri untuk berpesiar di pelbagai te mpat
kenamaan di dunia ini. Hampir dua puluh tahunan dia berpesiar
dengan aman dan tenteram tanpa terjadi suatu kejadian apapun.
Suatu tahun, ketika musim gugur telah tiba, yaitu pada dua puluh
tahunan berselang, meski Bun-ji koan-su telah berusia limapuluh
tahunan, akan tetapi berhubung ia me miliki kepandaian untuk
merawat muka, maka kelihatannya dia masih seperti seorang
sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan. Hari itu Bun-ji koan-su
sedang berpesiar di suatu tempat yang sangat indah. Karena jauh
dari penginapan, ketika ma la m telah menje lang tiba, sedangkan
waktu itu pemandangan ala m sangat indah, dia telah lupa untuk
beristirahat, melainkan me lanjutkan perjalanannya terus.
Berada di suatu tempat yang beralam begini indah, ternyata Bun-
ji koan-su telah lupa akan waktu yang ma kin larut ma la m….
Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana berkumandang
suara dentingan harpa yang merdu merayu mengge ma di udara dan
masuk ke dala m pendengaran Bun-ji koan-su.
Mendengar suara dentingan harpa itu, timbul perasaan ingin tahu
dalam hati Bun-ji koan-su. Dia ingin tahu siapa gerangan orang
yang bermain harpa di saat senja di tempat semaca m itu.
Akhirnya di bawah sebatang pohon, ia menyaksikan ada seorang
gadis berbaju putih bersih bagaikan salju sedang me metik harpa
dengan jari je marinya yang halus dan ra mping.

80
Gadis itu mengenakan baju tipis berwarna puth yang berkibar-
kibar ketika terhembus angin mala m. Rambutnya yang panjang
terurai sepundak berombak-omba k mengikuti he mbusan angin.
Kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Pelan-pelan Bun-ji-koan-su berjalan maju ke depan. Aaaai…!
Hampir saja dia menjerit kaget begitu me lihat wajah si nona.
Perasaan hatinya yang sudah tenang selama limapuluh tahunan
lebih itu segera mengala mi goncangan yang a mat keras. Hampir
saja dia tak ma mpu untuk menguasai diri.
Apa yang menyebabkan dirinya menjadi begitu?
Kecantikannya…? Yaaa, kecantikan dari gadis itu telah me mbuatnya
menjadi terpesona dan ha mpir saja kehilangan sukma.
‘Enghiong me mang sukar untuk me lewati pelukan gadis’, orang
kuno sering berkata de mikian.
Ternyata gadis itu me mang cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan. Ia memiliki mata jeli, hidung yang mancung serta bibir
yang kecil mungil, kulit badannya putih bersih bagaikan salju, mana
halus putih le mbut lagi. Boleh dibilang ha mpir se mua keindahan
yang dimiliki seorang gadis cantik dimiliki pula oleh gadis tersebut,
pokoknya kecantikan wajah gadis ini sukar dilukiskan dengan kata-
kata.
Padahal Bun-ji-koan-su bukan seorang lelaki yang ga mpang
tertarik oleh kecantikan seorang gadis, apalagi dia me miliki tenaga
dalam yang se mpurna, tapi kenyataannya dia dibuat seperti orang
yang kehilangan sukma, hampir saja dia tak ma mpu untuk
menguasai diri.
Tiba-tiba gadis itu mendonga kkan kepalanya, lalu dengan
sepasang matanya yang jeli melirik sekejap ke arah Bun-ji-koan-su.
Setelah tersenyum manis, dengan wajah tersipu-s ipu dia
menundukkan ke mbali kepalanya dengan cepat.
Senyuman tersebut sungguh me mbuat Bun-ji koan-su merasa
sukma dan semangatnya bagaikan terbang bersama meninggalkan
raganya. Ternyata senyuman gadis itu jauh berbeda dengan
81
senyuman gadis biasa, baik matanya, alis matanya, bibirnya
maupun sepasang lesung pipinya telah menciptakan suatu
perpaduan yang amat sempurna, bahkan dari setiap bagian terkecil
dari tubuhnya pun seakan-akan me miliki daya pikat yang amat
besar.
Bagaikan beribu-ribu kuntum bunga indah yang mekar bersama,
terciptalah suatu keindahan serta daya tarik yang tak terlukiskan
dengan kata-kata. Kecantikan gadis itu pokoknya tak terlukiskan
dengan kata-kata.
Bun-ji koan-su sebenarnya adalah seorang seorang lela ki berhati
keras yang tangguh dan tahan uji, akan tetapi pada waktu itu telah
berubah menjadi seekor domba yang amat jinak dan penurut.
Dengan langkah yang pelan dan hati-hati ia berjingkat-jingkat
mende kati gadis tersebut, seakan-akan kuatir kalau sa mpa i
mengejutkan hatinya.
Setelah tiba di sisi sang nona, dia baru menegur dengan suara
le mbut:
“Nona benar-benar seorang seniman yang amat menawan hati.
Berma in harpa di te mpat berpe mandangan a la m se maca m ini
sungguh menunjukkan betapa mengertinya nona akan seni. Bila
aku, Bun-ji koan-su, telah datang mengganggu ketenanganmu,
harap nona sudi untuk me maafkan.”
Gadis berbaju put ih yang cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan itu pelan-pelan mendonga kkan kepalanya, sambil
me mutar sepasang biji matanya, dia berkata:
“Mengapa siangkong harus berkata demikian? Ka lau kulihat
perbuatanmu yang berpesiar di waktu senja se maca m ini, engkaulah
seorang seniman sejati, bisa berkenalan dengan seorang senima n
maca m siangkong, hal ini sungguh merupakan….”
Mimpipun Bun-ji koan-su tidak menyangka ka lau dia akan
berhasil merebut perhatian si nona cantik itu sedemikian cepatnya.
Maka, Bun-ji koan-su benar-benar terpikat oleh kecantikan wajah
gadis tersebut. Ia mulai me mperbincangkan pelbagai persoalan dari
82
ujung langit utara sampai selatan, barat sampai timur tanpa ada
hentinya…
Si nona itu sendiri tampa knya juga jatuh hati kepadanya dalam
pandangan yang pertama, dengan senyuman yang tersipu dan
lirikan mata yang jeli ia menanggapi pe mbicaraan tersebut, bahkan
tanpa terasa semalam suntuk mereka bergadang di sana.”
Ketika bercerita sampai di sana, manusia aneh itu segera
me mperlihatkan mimik wajah yang sukar dilukiskan dengan kata-
kata, dia seperti girang seperti juga merasa benci, tapi seperti juga
merasa menyesal akan perbuatannya di masa la lu sehingga harus
menga la mi nasib yang tragis seperti apa yang dia la minya sekarang.
Ku See-hong sendiri dia m-dia m juga berpikir:
“Rupanya dia benar-benar sudah terpikat oleh kecantikan
wajahnya, mungkin siluman perempuan itupun orang yang diutus
oleh orang persilatan untuk mencelaka i dirinya. Tapi anehnya, gadis
itu sedemikian cantiknya, lagi pula tiada dendam sakit hati dengan
Bun-ji koan-su, mengapa pula ia harus mence lakai dirinya? Mungkin
di balik kese muanya itu masih terkandung rahasia besar lainnya.”
Manusia aneh itu menghela napas sedih, setelah termenung
sebentar, ia berkata lebih jauh:
“Walaupun Bun-ji koan-su telah berusia limapuluh tahun, tapi
setelah mengadakan hubungan batin ha mpir sela ma sebulan
la manya dengan gadis itu, akhirnya merekapun menikah menjadi
suami istri dan hidup berbahagia.
Gadis itu berna ma Ceng Lan-hiang….
Dia berkata kepada Bun-ji koan-su bahwa dirinya tak pandai
bersilat. Bun-ji koan-su benar-benar telah menunjukkan cinta
kasihnya yang paling suci dan murni kepada gadis itu, tentu saja dia
tak akan mencuriga i apa yang dia katakan itu, apalagi di dala m
gerak-geriknya Ceng Lan-hiang menunjukkan sikap yang amat
le mah dan seperti patut dikasihani, hal mana se makin me mbuat dia

83
tak pernah me layangkan pikirannya untuk me mikirkan hal-ha l
lainnya.
Dala m setahun kehidupan mereka, Ceng Lan-hiang menunjukkan
sikap yang paling le mbut dan halus terhadap Bun-ji koan-su, diapun
sangat setia dan pandai me layani sua mi. Cinta mereka berdua
ibaratnya lem perekat yang saling melekat, seakan-akan tiada
sesuatu kekuatanpun di dunia ini yang bisa me misahkan mereka
berdua.
Di dala m wa ktu setahun yang teramat singkat itu, Bun-ji koan-su
merasa bagaikan hidup di sorga. Ceng Lan-hiang pun telah
berbadan dua. Beberapa bulan kemudian malah melahirkan seorang
putrid yang cantik baginya.”
Ketika berbicara sampai di situ, manusia aneh itu kemba li
berhenti sebentar, dari balik mata tulangnya ta mpak air berca mpur
darah jatuh bercucuran me mbasahi pipinya, waktu itu perasaannya
benar-benar amat sedih dan terluka, apalagi bila teringat kembali
dengan putrinya yang tercinta, dia lebih-lebih merasa hatinya
hancur dan tertekan sekali.
Ketika Ku See-hong mendengar sampai di situ, apalagi setelah
menyaksikan mimik wajah manusia aneh tersebut, dia tahu nasib
tragis yang menimpa Bun-ji koan-su segera akan me njelang t iba.
Dengan perasaan sedih dan hancur, manusia aneh itu termenung
beberapa saat lamanya, kemudian me lanjutkan ke mbali kata-
katanya:
“Orang bilang, kehidupan yang bahagia itu tidak langgeng….
Ketika hasil hubungan cinta antara Bun-ji koan-su dengan Ceng Lan-
hiang telah tiga bulan lahir di dunia ini, yakni pada sembilan belas
tahun berselang, suatu peristiwa yang tragis pun telah menje lang
tiba.
Peristiwa itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang
menyedihkan, me mbawa denda m, sakit hati dan me ngerikan.

84
Suatu pagi, Ceng Lan-hiang dengan wajah pucat pias seperti
mayat, keringat dingin me mbasahi sekujur badannya dan napas
tersengal-sengal, lari masuk ke dalam ka mar baca Bun-ji koan-su
dengan langkah se mpoyongan. Waktu itu Bun-ji koan-su sedang
me mbaca sejilid buku di dala m ka mar bacanya. Betapa terkesiapnya
dia setelah menyaksikan keadaan yang menimpa diri Ceng Lan-
hiang….
Buru-buru dia me meluk tubuh istrinya sambil bertanya dengan
cemas:
“Lan-hiang, kenapa kau….?”
Sambil me ngejang-ngejang keras menahan suatu penderitaan
yang luar biasa, dengan sedih Ceng Lan-hiang berkata:
“Oleh karena aku mencuri belajar ilmu silat yang kau miliki dari
kitab catatanmu, aku merasa peredaran darah di dalam badanku
bagaikan tersumbat dan mengalir terbalik. Sekarang telah
menyerang ke delapan buah nadi penting di tubuhku, mungkin…
mungkin… itulah yang dina makan ‘jalan api menuju neraka’ oleh
orang persilatan….”
“Kau menderita jalan api menuju neraka…?” jerit Bun-ji koan-su
dengan kaget dan terkesiap. “Oh, bagaimana baiknya sekarang?”
Waktu itu, kesadaran Ceng Lan-hiang berangsur-angsur telah
menghilang, tubuhnya menjadi le mas terkula i di tanah, mukanya
makin pucat bagaikan mayat. Keadaannya mengenaskan sekali.
Dengan ilmu penye mbuhan luka yang dimiliki Bun-ji koan-su,
dengan cepat dia menotok beberapa buah jalan darah serta nadi
penting di tubuh Ceng Lan-hiang dengan harapan bisa menahan
berbaliknya aliran darah yang menyerang organ tubuh penting
lainnya sehingga masa bekerjanya dapat diundurkan.
Bun-ji koan-su a mat menyayangi istrinya, dia tahu, dengan
totokan ilmu Hud-hiat-hoat yang dipelajarinya dari kitab pusaka
Ceng-ciong-pit-kip tersebut, meski delapan nadi pentingnya telah
tertotok, itupun hanya bisa me mperpanjang waktu ka mbuhnya

85
selama dua tiga hari saja. Bila sa mpai waktunya tidak berhasil
mene mukan sebatang rumput mestika Peng-lian Leng-cau, ma ka
nadi di dala m tubuh istrinya pasti akan pecah dan akibatnya dia
pasti akan tewas secara mengenaskan.
Menyaksikan istrinya merintih kesakitan, Bun-ji koan-su
merasakan hatinya sangat pedih bagaikan diiris-iris dengan pisau,
apalagi mendengar suara rintihan yang me milukan hati itu ibarat
ada berpuluh-puluh batang panah tajam yang menghuja m ke ulu-
hatinya. Dia merasa lebih tersiksa dan menderita….
oooOOOooo
Bab 5
BUN-JI KOAN-SU telah bermandi keringat karena gelisahnya,
dengan nada menegur tapi penuh rasa sayang dia berkata:
“Lan-hiang, mengapa kau harus berbuat tolol? Jika kau suka
belajar ilmu silat, aku toh bisa mengajarkannya untukmu, tanpa
dasar ilmu silat yang baik mana boleh berlatih secara sembarangan?
Coba lihat, bagaimana jadinya bila sampa i mengala mi jalan api
menuju neraka? Se karang, bertahanlah selama satu dua hari, aku
akan naik ke bukit Toa-soat-san untuk mencari sebatang rumput
Peng-lian-leng-cau, bila kau ma kan rumput tersebut maka luka mu
itu akan se mbuh dengan sendirinya.”
Dengan suara yang lirih dan le mah Ceng Lan-hiang segera
berkata:
“Kau jangan pergi, aku lebih suka mat i di sisimu, hatiku sudah
puas bila kau mencintaiku sepenuh hati. Aku telah belajar silat
secara diam-dia m, kau bersedia me maafkan diriku bukan…?”
Suara bisikannya itu penuh mengandung perasaan cinta kasih
antara suami istri, cukup menggetarkan perasaan siapapun.
Bun-ji koan-su menjadi a mat sedih sekali, dengan air mata
bercucuran katanya:

86
“Lan-hiang, aku yakin masih berke ma mpuan untuk mengobati
luka da la m jalan api menuju neraka yang kau derita itu. Jika kau
benar-benar telah mati, akupun tak ingin hidup terus di dunia ini
seorang diri, sekarang waktu yang tersedia sudah tak banyak lagi.
Aku harus segera naik ke bukit Tay-soat-san untuk mencari rumput
Peng-lian leng-cau tersebut.”
Sambil menahan rasa sedih dan pedih yang tak terlukiskan
dengan kata-kata, Bun-ji koan-su mulai menge mbangkan ilmu
meringankan tubuhnya mela kukan perjalanan siang mala m menuju
ke bukit Tay-soat-san. Dengan bersusah payah pula dia menda ki ke
atas puncak Thian-soat-hong serta mendapatkan sebatang Peng-lian
leng-cau.
Tapi, ketika ia bersiap-siap untuk berangkat pulang inilah, tiba-
tiba di atas bukit Tay-soat-san telah muncul beberapa rombongan
jago lihay dunia persilatan. Mereka segera mengurung Bun-ji koan-
su rapat-rapat….
Kemunculan yang secara tiba-tiba dari kawanan jago persilatan
itu me mang sedikit agak aneh.
Mimpipun Bun-ji koan-su tida k menyangka kalau di atas puncak
bukit Soat-san telah me nanti seke lompok besar jago lihay dunia
persilatan yang bersiap-siap untuk mengurungnya.
Ketika menyaksikan kejadian itu, Bun-ji koan-su merasa
gelisahnya bukan kepalang. Bayangkan saja, istrinya yang tersayang
sedang mengala mi jalan api menuju neraka, jiwanya sangat
terancam sekali, sedang pengepungan dari kawanan jago persilatan
itu sedemikian ketatnya, bila pertarungan sampai terjadi berlarut-
larut sudah bisa dipastikan jiwa istrinya tak akan ketolongan lagi.
Rasa cemas, gelisah dan marah berkeca muk dala m bena k Bun-ji
koan-su. Akhirnya dengan kobaran hawa amarah yang meluap, dia
segera melancarkan pe mbunuhan secara besar-besaran dengan
menggunakan se mua jurus sakti yang paling keji dan me matikan.
Dala m waktu singkat, enam tujuh orang jago lihay telah berhasil
dibunuh sa mpai mat i.

87
Sesudah bentrokan terjadi, Bun-ji koan-su baru benar-benar
merasa amat terkesiap, sebab kawanan jago persilatan yang terlibat
dalam pengepungan di atas bukit Soat-san kali ini ha mpir me liput i
segenap jago kelas satu yang berada dalam dunia persilatan, baik
berasal dari golongan put ih maupun dari golongan hitam.
Hampir dua ratusan orang yang berkumpul di sekitar bukit, itu
berarti hampir segenap inti kekuatan yang berada di dunia
persilatan terlibat langsung da la m kejadian itu.
Jumlah anggota terbanyak yang terlibat dalam pertarungan itu
adalah jago-jago dari Cian-Khi-Tui (Pasukan Seribu Penunggang
Kuda) dan Thi-Kiong-Pang (Perkumpulan Busur Baja) yang
merupakan perkumpulan terbesar dalam dunia persilatan.
Pangcu dari Kim-to-pang (Perkumpulan Golok Emas) sua mi istri
pun turut hadir pula dala m pertarungan itu.
Menyaksikan kese muanya itu, Bun-ji koan-su merasa kagetnya
setengah mati, dia tahu sulit baginya untuk kabur dari kepungan
begitu banyak jago lihay pada hari itu. Dala m keadaan begini,
terpaksa Bun-ji koan-su menggertak gigi dan me mberi perlawanan
dengan gigih. Sepasang tangan me mang sulit untuk menghadapi
empat buah tangan, apalagi kawanan jago yang terlibat dala m
pertarungan itu sebagian besar adalah kawanan jago yang amat
tersohor namanya di dala m dunia persilatan.
Pada mulanya hanya kawanan jago dari golongan hitam dan
sesat yang mengerubutinya seorang, ke mudian para jago yang
mena makan dirinya jago-jago dari sembilan partai besar dunia
persilatan serta para kawanan manusia munafik yang berlagak sok
mulia pun turut serta me libatkan diri dala m pengeroyokan itu.
Bun-ji koan-su se makin gelisah, sedih bercampur marah. Dia
cukup menyadari situasi yang sedang dihadapinya, diapun tahu
kehadirannya dalam dunia persilatan sangat tidak diinginkan oleh
segenap umat persilatan la innya.
Berbicara sa mpai di situ, dari balik mata tungga lnya itu segera
terpancar keluar sinar kebencian dan denda m kesumat yang tiada
88
taranya, sepasang giginya sampai ge merutukan menahan gejola k
emosi dala m hati kecilnya.
Ku See-hong yang mendengar itupun merasakan darah panas di
dalam tubuhnya bagaikan sedang mendidih, api kegusaran berkobar
di dalam dada, pada saat ini dia benar-benar merasa amat benci
terhadap segenap umat persilatan yang ada di dunia ini. Sorot mata
penuh api denda m dan kebencian terpancar juga dari ba lik
matanya….
Aaiiihh. Di ke mudian hari dunia persilatan akan menga la mi
pembantaian lagi secara besar-besaran, darah segar akan
menggenangi permukaan bumi, mayat akan bergelimpangan di
mana-mana, sebab Bun-ji koan-su angkatan ke-dua telah lahir di
situ.
Dengan wajah yang menyeramkan, manusia aneh itu
me lanjutkan ke mbali kisahnya:
Dari dua ratus jago persilatan yang hadir di arena, kecuali Kim-to
pangcu suami istri beserta anak buahnya yang tidak melibatkan diri
dalam pertarungan itu, yang lainnya ha mpir boleh dibilang telah
terlibat langsung dala m pertarungan yang sangat me ma lukan itu.
Senjata rahasia, pedang tajam, tombak panjang, golok besar,
busur baja serta beraneka jenis senjata lainnya secara keji, licik dan
ganas berkelebatan mengarah ke tubuh Bun-ji koan-su.
Menghadapi kerubutan yang begitu ketat dan ganas, Bun-ji koan-
su sendiri pun segera menge mbangkan kelihayannya. Bagaikan
seekor banteng terluka, dia menerjang ke kiri menghajar ke kanan,
ke mana saja dia sampai, jeritan ngeri yang menyayatkan hati
segera berkumandang me mecahkan keheningan.
Batok kepala beterbangan, darah segar berhamburan, kutungan
lengan, kutungan ka ki berceceran menoda i permukaan salju nan
putih.

89
Sedemikian sengitnya pertarungan itu mengakibatkan suasana
menyeramkan di sekeliling arena, sungguh membuat berdirinya bulu
kuduk orang.
Setelah me langsungkan pertarungan sengit sela ma ha mpir satu
hari penuh, meskipun secara beruntun Bun-ji koan-su berhasil
menewaskan lima ena mpuluh orang jago lihay, akan tetapi dia
sendiripun bermandi darah karena luka-luka yang dideritanya itu.
Rambutnya terurai awut-awutan, bagaikan malaikat bengis saja
serasa kalap dia melakukan pe mbunuhan serta pembantaian secara
besar-besran.
Dala m keadaan begini, mendadak….
Serentetan suara irama harpa yang merdu merayu tapi serasa
me mbetot sukma berkumandang di atas udara bukit bersalju yang
sedang diselimuti hawa pe mbunuhan yang mengerikan itu.
Begitu menangkap suara perma inan harpa yang merdu merayu
serentetan kawanan jago persilatan yang sedang mengerubuti Bun-
ji koan-su itu menghentikan serangannya dan mengundurkan diri ke
belakang.
Anehnya, kawanan iblis, kaum sesat, jago golongan putih serta
angota sembilan partai besar, yang di hari-hari biasa selalu angkuh
dan susah diatur itu sekarang bersikap a mat menghormat, ma lahan
mereka segera menyingkir ke sa mping dan me mberi sebuah ja lan
lewat.
Walaupun Bun-ji koan-su mengetahui ka lau ira ma harpa tersebut
dipancarkan oleh seseorang dengan mengerahkan tenaga dala m
yang sempurna, tapi tida k seharusnya kawanan jago persilatan
me mperlihatkan sikap yang begitu menghormat kepada pe metik
harpa itu seandainya tidak terdapat sesuatu rahasia lainnya.
Dala m waktu singkat, dari bawah bukit salju melayang turun
seorang perempuan cantik berbaju put ih, yang di kedua be lah
sisinya diapit oleh dua orang sastrawan yang amat gagah dan
tampan. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu
betul-betul luar biasa se mpurnanya.
90
Ketika Bun-ji koan-su telah me lihat jelas siapa gerangan
perempuan yang datang itu, bagaikan disambar ge ledek di siang
hari bolong, ia menjadi pucat dan berdiri dengan se mpoyongan,
hampir saja dia jatuh tak sadarkan diri.
Hatinya bagaikan diiris-iris dengan pedang tajam yang beribu-
ribu buah banyaknya, hatinya merasa hancur berantakan dan
mengucurkan darah segar. Pada saat itulah dia baru mengetahui
betul apakah arti kehidupan yang sebenarnya.
Ternyata perempuan cantik berbaju put ih itu bukan lain adalah
Ceng Lan-hiang… istri Bun-ji koan-su yang disangka le mah dan
bertenaga dan sedang menghadapi sekarat akibat jalan api menuju
neraka….
Sedangkan dua orang sastrawan tampan yang menda mpinginya
itu bukan la in adalah kedua orang murid dari Bun-ji koan-su yang
telah diampuni jiwanya itu. Thi-bok-sin-kia m Cu Pok, serta Jian-hua-
kim-ciang Tu Pok Kim.
Sekulum senyuman yang seram tapi bangga tersungging di ujung
bibir Thi-bok-sin-kia m Cu Pok, setelah me mandang se kejap ke
wajah bekas gurunya, dia berkata:
“Bun-ji koan-su… hari ini tentunya kau bisa ma mpus dengan hati
yang lebih jelas, bukan? Heeehh… heeehh… heeehh… untuk lebih
jelasnya, aku orang she Cu akan menerangkan lebih je las lagi agar
kau bisa ma mpus dengan pikiran yang terang.
Ceng Lan-hiang adalah putri tunggal guruku Thi-kia m-kim-ciang
Ceng Ih-huang. Heeehh… heeehh… heeehh… hutang nyawa bayar
nyawa, hari ini aku khusus datang kemari untuk menagih hutang
darah darimu.”
Setelah mendengar perkataan itu, tak terkirakan rasa sesal Bun-ji
koan-su. Dia amat me mbenci dan mendenda m perempuan itu, dia
pun mendenda m terhadap segenap umat persilatan yang berada di
dunia ini.

91
Kasih sayang Ceng Lan-hiang sela ma setahun ini… cumbu rayu
mereka di kala mala m telah tiba… ternyata semuanya hanya palsu
dan pura-pura.
Ooohh… Betapa me malukan dan terkutuknya perempuan ini.
Sekarang dia baru sadar bahwa dirinya telah terjebak oleh siasat
Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) yang sengaja diatur oleh umat
persilatan untuk menjebaknya. Aaai Bun-ji koan-su… wahai Bun-ji
koan-su… kau telah bertindak salah. Sela ma hidup kau tak a kan
mencuci bersih perasaan dendam yang tak terlukiskan besarnya ini,
kau sudah terjerumus dala m keadaan yang mengerikan.
Bun-ji koan-su sungguh merasa marah dan mendenda m, sambil
me mbentak keras tiba-tiba ia menerjang ke muka….
Mendadak… pada saat itulah terdengar dua buah suara tertawa
dingin yang menyeramkan berkumandang me mecahkan
keheningan….
Thi-bok-sin-kia m Cu Pok dan Jian-hun-kim-siang Tu Pok-kim,
bagaikan dua sukma gentayangan segera menerkam ke muka
menyongsong kedatangannya.
Waktu itu tenaga dala m yang dimiliki Bun-ji koan-su telah
menga la mi kerugian besar, sekujur badannya penuh dengan luka
bacokan dan luka pukulan, sesungguhnya ia sudah ha mpir tak
sanggup me mpertahankan diri.
Dala m kondisi badan se maca m itu, mana ia ma mpu
me mpertahankan diri dari serangan gabungan kedua orang murid
durhaka tersebut?
Dala m waktu singkat, ia sudah terma kan telak oleh beberapa
pukulan yang dilancarkan kedua orang murid pengkhianat tersebut,
akan tetapi ia masih tetap bertahan secara gigih dan me mberikan
perlawanan sekuat tenaga.
Criiing… serentetan suara dentingan nyaring mengge legar
me mecahkan keheningan….

92
Bun-ji koan-su merasakan ada sebilah pedang yang tajam dan
dingin menerobos masuk ke dala m tubuhnya. Ternyata orang yang
me lancarkan tusukan maut itu bukan lain adalah Ceng Lan-hiang,
istrinya yang tercinta….
Pada waktu itu seluruh wajah wanita itu diliputi oleh hawa nafsu
me mbunuh yang mengerikan. Sambil me mperma inkan sebilah
pedang yang berkilauan taja m, sebentar-sebentar dia
menyarangkan tusukannya ke tubuh Bun-ji koan-su sehingga dala m
waktu singkat telah bermandikan darah.
Dari balik mata Bun-ji koan-su segera terpancar keluar sinar
kebencian dan denda m yang sangat tebal. Ditatapnya Ceng Lan-
hiang lekat-lekat, kemudian dengan darah yang bercucuran dari
ujung bibirnya, dia berseru:
“Lan-hiang, kau… kau benar-benar akan membunuh suamimu
sendiri?”
Dengan wajah yang sinis dan bengis, hawa pembunuhan
menyelimuti seluruh wajahnya, Ceng Lan-hiang berkata tanpa
perasaan:
“Hmm! Siapa yang kesudian menjadi istrimu? Sela ma ha mpir
setahun aku terus menahan rasa muak dan benciku untuk
mene mani kau si bangkotan tua. Tiap detik tiap menit kalau bisa
ingin kudahar dagingmu, kuhirup darahmu hmm… jika hari ini tida k
kucincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, sukar rasanya untuk
menghilangkan rasa denda m dan benciku yang tertanam di hati.”
Sehabis mendengar ucapan tersebut, perasaan Bun-ji koan-su
benar-benar sudah hancur lebur. Sebenarnya dia masih me mpunyai
setitik harapan, yaitu putrid yang mereka lahirkan atas dasar
hubungan cinta sela ma ini, masakah dia t idak tersisa rasa cinta
barang setitikpun dala m hatinya setelah menjadi sua mi istri sela ma
hampir satu tahun la manya?
Dengusan tertahan bergema, sebuah lengan Bun-ji koan-su telah
terpapas kutung oleh bacokan pedangnya.

93
“Aduuh…!” ke mba li terdengar jerit kesakitan berkumandang
me mecahkan keheningan, sebiji mata Bun-ji koan-su ke mbali
tercungkil oleh sa mbaran pedangnya hingga terlepas.
Ceng Lan-hiang sungguh keja m, keji dan berilmu t inggi…
mendadak pedangnya bergetar keras, berlaksa-laksa titik cahaya
tajam segera memancar ke e mpat penjuru, kemudian sepasang kaki
Bun-ji koan-su sebatas lutut telah terpapas kutung.
Dengan kesakitan dan penuh penderitaan ia segera bergulingan
di atas permukaan sa lju.
Mendadak…
…. Di saat yang kritis inilah Kim-to-pangcu sua mi-istri, Wi-Ceng
Kiu-Ga k (Golok Sakti Menggetarkan Jagad) dan Liok-Ih-Li
(Perempuan Baju Hijau) Hong Po Yan, yang sejak pertarungan mula i
berlangsung hanya berdiri berpeluk tangan belaka, menerjang ke
muka secepat sa mbaran kilat.
Mereka berdua masing-masing melancarkan sebuah pukulan
dahsyat ke depan, dua gulung angin puyuh yang maha dahsyat
dengan cepat menggulung tubuh Bun-ji koan-su dan mele mparnya
ke dala m jurang yang tak terkirakan da la mnya.
Pertarungan berdarah di atas bukit Soat-san yang amat seru dan
menegangkan hatipun berakhir sampai di situ. Bun-ji koan-su yang
lihay sejak itu lenyap dari peredaran dunia persilatan.
Sejak ke matian Bun-ji koan-su, dunia persilatan pun tak pernah
ada seharipun tenang.
Peristiwa berdarah, pembunuhan keja m, satu demi satu
berlangsung dala m dunia persilatan….
Yang pertama-tama tertimpa musibah setelah kejadian itu adalah
perkumpulan yang paling besar dala m dunia persilatan waktu itu…
Kim-to-pang.
Perkumpulan besar itu dibasmi orang secara keji hingga hancur
musnah dan lenyap dari dunia persilatan.

94
Kim-to pangcu suami istri, Wi-Ceng-Kiu-Ga k Ku Kia m-cong dan
Liok-Ih-Li Hong Po Yan dite mukan mati secara mengenaskan.
Kematian mereka konon mengerikan seka li, lengan kutung kaki
terpotong, usus berceceran dan otak berhamburan, suatu
pembunuhan yang benar-benar teramat keji.
Menyusul ke mudian, para jago lihay kaum lurus dari se mbilan
partai besar yang tidak turut serta di dalam pertempuran berdarah
di bukit Soat-san juga satu demi satu lenyap secara misterius dan
tidak diketahui nasibnya…
Mendadak Ku See-hong berteriak keras:
“Locianpwe… Locianpwe… Perbuatan dari siapakah ini? Cepat
katakan, perbuatan kejam dari siapakah ini? Aku hendak me mbalas
dendam! Aku hendak me mbalas denda m! ”
Ketika menyaksikan sikap Ku See-hong maca m orang kesurupan
itu, manusia aneh itu merasa kaget sekali. Segera tegurnya dengan
suara dingin:
“Ku See-hong! Apakah orang tua mu adalah Wi-Ceng-Kiu-Gak Ku
Kia m-cong serta Liok-Ih-Li Hong Po Yan?”
Air mata segera jatuh berlinang me mbasahi wajah Ku See-hong,
sahutnya dengan sedih sekali:
“Oooh Locianpwe, aku benar-benar adalah putra mereka berdua
yang tidak berbakti… cepatlah katakan kepadaku, siapakah musuh
besar orang tuaku? Da la m dunia dewasa ini hanya kau seorang
yang tahu akan rahasia ini.”
Mencorong sinar aneh dari balik mata tunggal manusia aneh itu.
Dengan tubuh ge metar keras, sahutnya pedih:
“Sela ma hidup, lohu tak pernah berhutang budi kepada
siapapun… tapi aku hanya berhutang budi sedala m lautan kepada
orang tuamu…”
“Aaaii…. Dala m perte mpuran berdarah di atas bukit salju,
seandainya mereka berdua tidak menghanta m Bun-ji koan-su

95
sehingga tercebur ke dalam jurang, dia pasti telah dicincang sa mpa i
hancur berkeping-keping oleh bacokan pedang pere mpuan rendah
itu….”
“Locianpwe, tolong beritahu kepadaku siapakah pembunuh kejam
itu…? Siapakah pe mbunuh keji itu?!” jerit Ku See-hong.
Mendadak manusia aneh itu melotot besar, dengan pandangan
dingin ia me mbentak:
“Ku See-hong, hanya mengandalkan beberapa jurus kepandaian
yang kau miliki sekarang, apakah kau sudah mampu untuk
me mba las denda m?
Jika kau sampa i berbuat demikian, maka tak bisa disangka l lagi
kau hanya akan menghantarkan ke matian dengan sia-sia belaka,
mana denda m tak berbalas, kaupun a kan menjadi ma nusia berdosa
yang sangat tidak tidak berbakti. Tahukah kau…? Tugasmu
sekarang selain harus me mba laskan denda m bagi ke matian kedua
orang tuamu, kaupun harus menegakkan ke mba li keadilan serta
kebenaran dala m dunia persilatan!”
Setelah mendengar perkataan dari manusia aneh itu, bagaikan
diguyur dengan sebaskom air dingin, Ku See-hong lantas berpikir:
“Benar, sebelum aku berhasil me mpelajari ilmu silat yang sangat
lihay, mana a ku punya kekuatan untuk me mbalaskan denda m sakit
hati ini…?”
Terdengar manusia aneh itu menghe la napas panjang, lalu
berkata kembali:
“Tak la ma lagi lohu akan ke mbali ke alam ba ka. Aku tak bisa
mewariskan lagi segenap ilmu silat yang kumiliki kepada mu,
aaaii….”
“Secara rahasia locianpwe telah mewariskan ilmu maha sakti
kepadaku, budi kebaikanmu tak terlukiskan dengan kata-kata, mana
aku berani untuk menuntut pelajaran ilmu silat yang la innya lagi.”

96
Manusia aneh itu me mandang sekejap wajah Ku See-hong, dari
wajahnya segera terpancar keluar rasa sayangnya bagaikan seorang
ayah terhadap anaknya, kemudian berkata lagi pelan:
“Ku See-hong, sehabis mendengarkan kisah cerita ini, kau
sebagai seorang bocah pintar tentunya sudah menduga bukan
siapakah diriku ini…? Aaai. Tentunya kau juga tahu bukan, apa
sebabnya aku berwatak seaneh sekarang ini?”
Ku See-hong tahu, manusia aneh itu tak ingin menyinggung
ke mbali kejadian masa la mpau yang penuh dengan kesedihan itu,
dia hendak beranggapan bahwa Bun-ji koan-su telah tewas dibunuh
oleh kawanan jago persilatan pada dua puluh tahun berselang.
Dengan sinar mata yang dingin baga ikan es, Ku See-hong
me mandang se kejap ke arah manusia aneh itu, kemudian ujarnya
dengan suara bersungguh-sungguh:
“Locianpwe…, boanpwe sudah tahu siapakah dirimu itu, tapi aku
juga tahu kalau kau pasti me mpunyai suatu kejadian masa la mpau
yang luar biasa, maka watakmu baru berubah menjadi seaneh ini.
“Sejak kecil boanpwe sudah dit inggal mati oleh ayah ibuku.
Sepanjang tahun berkelana dala m dunia persilatan, tanpa berhasil
meraih sesuatu apapun, jika locianpwe tidak melimpahkan cinta
kasihnya kepadaku serta mewariskan ilmu silat yang maha sakt i
kepadaku, tak mungkin boanpwe bisa jadi seperti sekarang ini. Budi
kebaikan sebesar ini sudah pasti harus dibalas. Oleh karena itu
dalam hati kecil boanpwe telah menga mbil keputusan, bila aku telah
me lakukan perjalanan ke dala m dunia persilatan nanti pasti akan
kuselesaikan se mua pekerjaan locianpwe yang selama ini belum
terselesaikan.”
Padahal manusia aneh itupun sangat berharap Ku See-hong bisa
me mbantunya untuk menyelesaikan segala persoalan yang belum
sempat diselesaikannya dulu.
Sejak dia berte mu dengan Ku See-hong, ia telah bertekad untuk
menitipkan tugas dan harapannya itu kepada sang pemuda. Itulah
sebabnya mengapa ia tak sayang untuk menyalurkan hawa murni
97
yang dimilikinya itu ke dalam tubuh Ku See-hong, agar ia bisa
me latih ilmu Kan-kun Mi-siu yang maha dahsyat tersebut,
sedangkan ia dengan sisa tenaga yang tak seberapa harus
menyelesaikan hidupnya sebelum saatnya tiba….
Sebagai seorang manusia yang berwatak aneh apa yang
dilakukannya hanya dikerjakan secara diam-dia m. Jadi apa yang
sesungguhnya telah terjadi, sama sekali tidak diketahui oleh Ku See-
hong sendiri.
Sekulum senyuman lega segera tersungging di ujung bibir
manusia aneh itu. Senyuman itu dianggap sebagai persetujuannya
kepada sang pe muda untuk me lakukan apa saja yang diinginkan.
Kembali Ku See-hong bertanya:
“Locianpwe, boanpwe pun me mberanikan diri untuk mengajukan
suatu permintaan kepada mu. Meski se masa hidupmu aku tida k
mengakuimu sebagai suhu, tapi setelah kau mati, boanpwe tetap
akan menganggap dirimu sebagai guruku yang pertama.”
Paras muka manusia aneh itu masih tetap tidak berubah, dia
hanya me mbungka m seribu bahasa, sebagai tanda menyetujui pula
permintaan dari Ku See-hong.
Ketika pe muda itu menyaksikan sikap manusia aneh itu la mbat-
laun menjadi se makin ra mah, diapun me langkah lebih ke depan,
katanya kembali:
“Boanpwe berharap agar cianpwe bersedia untuk
me mberitahukan na ma asli cianpwe kepadaku….”
Paras muka manusia aneh itu segera me mancarkan se kilas
cahaya yang sangat aneh, mulutnya tetap membungka m dala m
seribu bahasa, sedangkan pikirannya terjerumus dala m la munan
yang berkepanjangan.
Melihat manusia aneh itu dia m saja, Ku See-hong segera berkata
lebih lanjut:

98
“Locianpwe, apakah kau juga me mpunyai seorang keturunan?
Sekalipun ibunya telah berkhianat dan jalan serong, tapi sebagai
putri seorang manusia, dia harus memiliki nama warga yang
sesungguhnya, kalau tidak dia akan dianggap sebagai seorang anak
haram. Mengenai keturunan dari locianpwe, boanpwe pasti a kan
berusaha untuk me mberi tahu kepadanya, bahkan akan kuceritakan
pula kisah cerita tersebut kepadanya….”
Setelah mendengar ucapan itu, titik a ir mata segera jatuh
berlinang me mbasahi wajah orang aneh itu, tampa knya dia merasa
sangat terharu sekali.
Dengan wajah mengejang keras karena pengaruh emosi,
katanya:
“Lohu she Him, berna ma Ci-seng.”
Dia m-dia m Ku See-hong menghe mbuskan napas panjang,
pikirnya di da la m hati:
“Oooh Thian. Dalam dunia persilatan dewasa ini mungkin hanya
aku seorang yang mengetahui na ma asli dari Bun-ji koan-su.”
Dengan sikap yang sangat menghormat, buru-buru Ku See-hong
berkata:
“Terima kasih banyak locianpwe atas kesediaanmu untuk
me mberitahukan na ma besarmu.”
Tiba-tiba manusia aneh itu merogoh ke da la m sakunya dan
menge luarkan sepotong kutungan pedang, lalu ujarnya dengan
nada yang amat pedih:
“Ku See-hong, lohu tit ip kepada mu, seandainya kau telah
berjumpa dengan gurumu Seng-sim Cian-li Yap Soat Kun,
ceritakanlah keadaan lohu yang sebenarnya kepada dia. Katakanlah
bahwa harapanku yang paling akhir adalah me minta kepadanya
untuk menerima mu sebagai muridnya. Bila ia tak mau mengajarkan
ilmu Hay Jin Ciang tersebut, maka bagaimanapun juga kau harus
mencari akal untuk mencuri be lajar ilmu pukulan Hay Jin Ciang-nya
itu.

99
Pada lima puluh tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki Seng-
sim Cian-li Yan Soat Kun, tak berada di bawah kepandaian lohu…,
apalagi setelah dia diburu oleh api denda m. Ilmu pukulan
ciptaannya itu pasti hebat dan tiada keduanya di kolong langit….
Kau harus ingat, musuh besarmu yang paling besar di ke mudian
hari telah berhasil me ndapatkan sejilid kitab pusaka Ban-Sia Cinkeng
yang penuh berisikan aneka maca m ilmu sesat jika di ke mudian hari
kau ingin menangkan dia, maka kau harus bisa me mpelajari ilmu
Hay-Jin-Ciang lebih dulu sebelum niatmu bisa diwujudkan.”
Tak terkira rasa terima kasih Ku See-hong setelah mendengarkan
perkataan itu, katanya:
“Perhatian serta cinta kasih locianpwe tak akan boanpwe lupakan
untuk sela manya, boanpwe pasti tak akan sa mpai mengecewakan
hati locianpwe….”
Tiba-tiba manusia aneh itu menghe la napas sedih. Sambil
me mbe lai kutungan pedang pendek itu dengan tangan kirinya, ia
berkata kembali:
“Bawalah serta kutungan pedang ini, dan gunakanlah benda itu
sebagai tanda mata dari perse mbahanmu kepada gurumu yang
akan datang. Bila kau ma mpu maka berusahalah untuk
menya mbung ke mba li pedang ini menjadi satu agar sukma lohu di
alam baka tidak sela lu murung dan merasa tak tenang.”
Sambil menerima kutungan pedang itu dengan kedua belah
tangannya, sahut Ku See-hong:
“Boanpwe pasti a kan berusaha keras untuk me menuhi ke inginan
dari locianpwe….”
Waktu itu air muka manusia aneh tersebut bertambah suram dan
gelap, tapi sebagai seorang yang berkeras kepala, dia masih tetap
berusaha untuk me mpertahankan diri dengan mengandalkan sedikit
sisa tenaga yang dimilikinya.
Kepada pe muda itu, ke mbali dia berkata:

100
“Ku See-hong, kitab pusaka Cang-ciong pit-kip tiada taranya itu
tidak berada di saku lohu, tapi tetap tersimpan di te mpat se mula.
Rahasia tempat itu tercantum dala m bait-bait lagu DENDA M
SEJAGAD….
Barang mestika hanya akan didapat oleh mereka yang berjodoh.
Lohu tak bisa me mberi petunjuk kepada mu atas tempat
penyimpanan itu, jika kau me mang berjodoh ma ka kunci rahasia
tersebut pasti akan kau pahami. Benarkah kau dapat
me mecahkannya atau tidak, lihat saja pada rejekimu di ke mudian
hari….”
Ku See-hong manggut-manggut.
“Barang must ika yang ada di dunia ini me mang hanya diperoleh
oleh mereka yang berjodoh, boanpwe tak dapat terlalu me maksa,
kalau tida k bisa berakibat kerugian bagi diri sendiri.”
Dia m-dia m manusia aneh itu mengangguk, dia mengagumi
karakater Ku See-hong yang tangguh, meski masih muda usia tapi
pengetahuannya terhadap masalah itu luas seka li.
Setelah menghela napas sedih, ujarnya:
“Saat ini, lohu ibaratnya sebuah lentera yang hampir kehabisan
minyak, waktu sudah tak pagi lagi…. Sekarang juga lohu a kan
menggunakan sisa tenaga yang kumiliki untuk mewariskan kee mpat
tiga jurus tangguh tersebut kepadamu. Kemungkinan besar lohu tak
dapat me mainkan sa mpai ke jurus yang ke-tiga, tapi aku harap kau
bisa me musatkan segenap perhatianmu untuk me mpelajarinya
dengan seksa ma.”
Ku See-hong tahu jurus sa kti yang akan diwariskan manusia aneh
itu kepadanya pasti terhimpun sega la inti kekuatan dari pelbaga i
jurus silat yang berada di dunia ini, maka ia tak berani betrayal,
segenap perhatiannya tercurahkan menjadi satu untuk
me mperhatikannya dengan seksa ma.
Kembali manusia aneh itu berkata:

101
“Jurus serangan ini dina makan Hoo-Han Seng-Huan (Sungai
Langit Bintang Bertaburan). Di dala mnya terkandung tiga gerak
perubahan yang maha sakti:
Gerakan yang pertama khusus menyerang tubuh bagian atas
musuh yang disebut sebagai Thian (langit). Gerakan kedua khusus
menyerang bagian tengah musuh yang dina makan Jin (manusia).
Sedangkan gerakan ketiga khusus menyerang bagian bawah musuh
yang dinamakan Tee (tanah). Bila digabungkan menjadi satu antara
langit, manusia dan tanah… maka akan berakibat luar biasa
ibaratnya sungai langit yang terbentang dan bintang kecil yang
bertaburan di angkasa.”
Ku See-hong yang mendengarkan penjelasan itu merasa seperti
paham t idak paha m, dia m-dia m ia menghela napas panjang.
Terdengar manusia aneh itu me lanjutkan ke mbali kata-katanya:
“Seandainya kau bisa me maha mi arti serta makna dari jurus
serangan ini, ke mudian me nggunakannya secara sempurna… tida k
banyak jago dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup untuk
menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersebut.”
Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa Ku See-hong
lantas berpikir:
“Benarkah jurus serangan tersebut sedemikian lihaynya?”
Sinar tajam yang terpancar dari mata tunggal manusia aneh itu
makin la ma se makin me mudar, tubuhnya pun mula i ge metar keras,
pelan-pelan ke lopak matanya mulai terkatup rapat.
Menyaksikan kejadian itu Ku See-hong segera berteriak keras:
Locianpwe…!”
Tiba-tiba manusia aneh itu tersentak kaget dan tersadar kembali,
dari balik matanya yang tunggal segera terpancar serentetan cahaya
tajam yang aneh, dengan suara le mah dia berbisik:
“Ku See-hong, cepat bombing lohu ke atas tanah… harus cepat!”

102
Ku See-hong juga tahu bahwa kekuatan hidup manusia aneh itu
sudah mendekati a khir. Dengan gerakan secepat kilat dia lantas
me mbimbing bangun tubuhnya dan diberdirikan di atas tanah.
Tubuh manusia aneh itu berdiri kaku di atas tanah, sementara
telapak tangan tunggalnya secepat kilat me lakukan suatu gerakan
serabutan yang kalut dan me mbingungkan.
Ku See-hong terkesiap, ia tahu manusia aneh itu sedang
menggunakan jurus sakti itu, ma ka semua perhatiannya buru-buru
dipusatkan menjadi satu kemudian dengan seksama diikutinya
semua gerakan tangan yang aneh dari manusia aneh tersebut.
Pada saat Ku See-hong sedang memperhatikan gerakan tangan
manusia aneh itulah, mendadak Ku See-hong merasakan ada
bayangan berkelebat lewat di depan matanya, tahu-tahu jari tangan
manusia aneh itu sudah menghanta m di atas jalan darah tubuhnya,
kesadarannya segera terhentak seperti hilang sejenak.
Jalan darah di tubuh Ku See-hong ke mbali bergetar keras,
kesadarannya kembali pulih seperti sedia kala, ketika dia mencoba
untuk menengok ke tengah arena, lengan dari manusia aneh itu
masih bergerak secara aneh se kali.
Mendadak Ku See-hong merasakan jalan darah di atas pusarnya
seperti dihantam orang lagi secara pe lan, sekali lagi dia merasakan
kesadarannya seperti hilang, lalu jalan darah di tubuhnya bergetar
keras dan kesadarannya pulih ke mbali.
Sementara itu, gerakan tangan manusia aneh itu masih saja
me lakukan suatu gerakan aneh. Ku See-hong hanya merasakan
bayangan hitam ke mba li berkelebat lewat di hadapan matanya,
sebuah jari tangan tahu-tahu sudah me nghajar ke atas jalan darah
Thian-ki-hiatnya.
Menyusul ke mudian terdengar suara dengusan berkumandang
me mecahkan keheningan, sekujur badan manusia aneh itu ge metar
keras lalu berdiri kaku di tempat semula. Jari tangannya masih tetap
menunjuk ke arah jalan darah Thian-ki-hiat di tubuh Ku See-hong.

103
Menyaksikan kejadian itu, Ku See-hong segera menjerit kaget.
Teriaknya keras-keras:
“Locianpwe! Locianpwe!”
Tangannya dengan cepat menggoyang-goyangkan tubuh
manusia aneh itu, tapi dia tetap berdiri kaku di tempat semula tanpa
berkutik barang sedikitpun juga, jelas nadinya sudah tergetar putus
dan nyawanya kembali ke ala m baka.
Yaa, seorang jago tangguh yang luar biasa kelihayannya itu telah
meninggal dunia di ka la dia telah melancarkan jurus ketiga dari Ho
Han Seng Huan tersebut. Dia telah menggunakan sisa tenaga yang
dimilikinya untuk me laksanakan tugasnya yang terakhir.
Bun-ji koan-su yang berwatak aneh, berilmu silat tinggi,
bertangan keji, berhati kejam, berwajah dingin dan cukup me mbuat
gemparnya kawanan jago persilatan itu, telah meninggalkan dunia
yang fana ini tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Waktu itu re mbulan sudah berse mbunyi di balik mega, bintang
yang bertaburan di angkasa pun sudah lenyap dari pe mandangan
dirgantara, waktu menunjukkan kentongan ke t iga….
Sebutir bintang melesat mene mbusi angkasa yang gelap,
berkedip sebentar di udara la lu hilang lenyap tak berbekas.
Seperti juga kehidupan Bun-ji koan-su di dunia ini, hanya sekilas
pandangan saja tahu-tahu sudah lenyap kembali dari kehidupan
dunia.

000dw000

Bab 6
ANGIN dingin di luar kuil berhe mbus kencang, seakan-akan Thian
turut berduka akan perginya manusia aneh itu.

104
Ku See-hong tahu bahwa Bun-ji koan-su telah ke mbali ke ala m
baka. Titik air mata jatuh bercucuran me mbasahi pipinya, tapi ia
tetap berusaha menahan diri, ia berusaha untuk t idak me nangis.
Tapi kesedihan yang mence ka m perasaannya waktu itu tak
terlukiskan dengan kata-kata, sekalipun menangis tersedu-sedu juga
belum tentu bisa menghilangkan rasa sedih yang menceka m
perasaannya waktu itu.
Tiada kesedihan di dunia ini daripada perpisahan antara yang
mati dengan yang hidup. Diam-dia m Ku See-hong berdiri sedih,
la ma… la ma se kali dia baru berguma m:
-oo0dw0oo-

Jilid: 04
“SUHU, sekarang kau telah tiada..., mulai, sekarang aku akan
menyebut dirimu sebagai suhu.
“Se mua tugas yang kau serahkan kepadaku serta semua
persoalan yang tak bisa kau selesaikan di dalam hidupmu pasti akan
kulaksanakan, musuh besar yang mencela kaimu, murid-murid
durhaka yang telah menghianatimu, serta semua manusia munafik
yang pernah membuat sengsara dirimu pasti akan kubantai se mua
sampai ma mpus.
Suhu, ke mbalilah ke a la m baka dengan tentra m, beristirahatlah
kau dengan tenang. Sekalipun kau telah meninggalkan dunia yang
fana ini, tapi semua kejadian di dunia ini, semua sejarah hidupmu
selama ini a kan terkenang terus di hati setiap orang, tiap hari, tecu
pasti akan menyanyikannya sebanyak tiga kali untuk me mperingati
dirimu sela manya."
Ketika berbicara sampai, di situ, tiba-tiba sinar mata Ku See-hong
tertuju pada jari tangan dari Bun-ji-koan-su tersebut, hatinya
menjadi a mat terkesiap, pikirnya:

105
"Aduh celaka, jurus Hoo-Han-Seng-huan yang diajarkan suhu
hingga kini masih belum juga kupaha mi, bagaimana caranya aku
me lakukan gerakan itu?”
Berpikir sa mpai di sini, peluh dingin segera bercucuran
me mbasahi seluruh badan Ku See hong. Dia teringat ke mbali
dengan pesan gurunya yang minta kepadanya untuk me mpelajari
jurus Hoo-han-seng-huan tersebut dengan seksa ma.
Tapi, di dalam kenyataannya sekarang, dari tiga gerakan yang
diajarkan kepadanya itu, satu juruspun belum berhasil dia paha mi,
perubahannya bagaimana dan bagaima na caranya melancarkan
serangan, sama sekali t idak diketahui olehnya... lalu bagaimana
baiknya sekarang?
Dia m-dia m Ku See hong menegur kebodohan sendiri.... Buru-
buru dia me musatkan segenap perhatiannya untuk berusaha
mencari dan menelusuri jejak bayangan jurus itu di dala m
benaknya. Tapi ma kin dipikir dia merasa sema kin kaget, semakin
kaget dia merasa makin gelisah, dirasakan olehnya jurus Hoo-han-
seng-huan itu benar-benar sangat rahasia, sakti dan sukar
dimengerti....
Bagaimanakah gerakan tangan suhunya Bun-ji koan-su yang
aneh serta bagaimana me lancarkan serangan aneh tersebut, makin
berpikir sema kin me mbuat pikirannya menjadi bingung dan tida k
habis mengerti.
Ternyata dia merasakan gerak tarian tangan yang dilakukan oleh
Bun-ji koan-su itu pada hakekatnya sudah terlepas dari jurus-jurus
serangan ilmu silat pada umumnya, begitu kalut begitu
me mbingungkan sama sekali tidak beraturan..., tapi di balik
ketidakberaturan tersebut justru tersimpan segala maca m ke lihayan
dan kesaktian yang luar biasa.
Tadi dua kali ja lan darah di tubuh seakan-akan tertotok, ia
merasakan kesadarannya seperti lenyap tak berbekas, tapi, dengan
cepat kesadarannya telah pulih kembali, na mun belum lagi sadar
penuh, sekali lagi, dia seperti kehilangan pikiran lagi...

106
Dengan termangu-ma ngu Ku See-hong me mperhatikan tubuh
Bun-ji koan-su yang kaku itu, la lu lengannya mencoba untuk
digerakkan menurut apa yang teringat. Sekali de mi sekali ha l
tersebut diulangi terus menerus secara berulang. Tapi ia merasa
makin digerakkan, gerakan tangannya makin menyimpang dari cara
yang sesungguhnya, bahkan sama sekali tidak mirip dengan apa
yang pernah dila kukan Bun-ji koan-su.
Lebih kurang setengah ja m ke mudian, Ku See-hong telah
mengulangi ke mbali latihannya sampai seratus kali lebih, tapi ia
tetap gagal untuk me maha mi kelihayan serta intisari dari jurus
serangan itu.
Waktu itu dia sudah keletihan, sampa i sekujur badannya basah
kuyup oleh keringat, napasnya tersengal-sengal seperti kerbau....
Akhirnya setelah gagal berulang kali, dengan sedih dia menghe la
napas panjang, guma mnya:
"Aku benar-benar amat tolol, sudah begitu lama aku berusaha
untuk me mutar otak tapi selalu gagal untuk me ne mukannya
ke mbali. Aaaai..., aku benar-benar pantas untuk ma mpus. Dengan
menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya, suhu bersusah payah
me ma inkan ketiga jurus serangan itu, bahkan begitu selesai
me ma inkannya diapun menutup usia, sedang aku tak berhasil
me menuhi harapannya, jangankan menguasai seluruh jurus
serangan itu, bahkan kesan terhadap satu gerakan di antaranya pun
tak ada...."
Berpikir sampai di situ, Ku See hong merasa putus asa, kecewa
dan sedih se kali. Tanpa terasa dua titik a ir mata jatuh bercucuran
me mbasahi pipinya, dia menghe la napas panjang berulang kali.
Mendadak Ku See-hong berseru tertahan, lalu guma mnya:
"Heran. Padahal suhu telah tiada, mengapa jenazahnya masih
berdiri kaku di situ? Aaai..., aku sebagai muridnya harus dan
berkewajiban untuk menguburnya secara baik-ba ik, aku tak bisa
me mbiarkan jenasahnya terbengkalai dengan begitu saja.”

107
Berguma m sa mpai di situ Ku See-hong lantas berusaha untuk
me mbimbing bangun jenasah dari suhunya Bun-ji koan-su.
Siapa tahu walaupun dia telah berusaha dengan sepenuh tenaga,
ternyata jenasah gurunya itu sama sekali tak bergerak. Kenyataan
ini segera me mbuat Ku See-hong menjadi kebingungan setengah
mati dan tidak habis mengerti. Untuk sesaat la manya dia menjadi
termangu-mangu di tempat.
Saudara yang budiman, perlu diperhatikan bahwa berdiri kakunya
jenasah Bun-ji koan-su di te mpat itu sesungguhnya mengandung
suatu rahasia yang besar sekali. Hal ini akan diterangkan pada akhir
cerita ini, jadi maaf bila hal tersebut akan dirahasiakan dulu untuk
sementara waktu.
Demikianlah, sesudah termangu-mangu sekilas waktu, akhirnya
Ku See-hong menga mbil kesimpulan sendiri.
“Mungkin suhu berbuat demikian karena dia ingin berada terus di
tempat ini….”
Ku See-hong me mang keras kepala dan angkuh, ketika tidak
berhasil me mahami gerak jurus dari Hoo-han-seng-huan tersebut,
maka dia bertekad untuk berusaha mencarinya sa mpai dapat.
Tujuh hari tujuh ma la m la manya dia berusaha untuk me latih.
Sambil mencari, dia sampa i lupa makan lupa tidur, tapi alhasil dia
tetap gagal untuk me mecahkan rahasia dari kepandaian itu,
ma lahan ma kin dilatih se ma kin bingung, makin didala mi ia merasa
semakin kalut pikirannya.
Mala m itu ke mbali dia berusaha dengan sepenuh tenaga, tapi
hasilnya tetap nihil.
Sambil menghela napas sedih dia berlutut di depan jenasah Bun-
ji koan-su la lu dengan air mata bercucuran katanya sedih:
“Suhu… Sukma mu di a la m baka tentu tahu muridmu yang bodoh
sudah siang mala m me latih jurus sa kti Hoo-han-seng-huan tersebut
dengan mati-matian, tapi me mang ba katku je lek, otakku juga

108
bodoh, sampai sekarang aku belum berhasil juga me maha mi ma kna
dari jurus serangan itu.
“Sekarang, tecu akan meninggalkan kau orang tua untuk mencari
guruku yang kedua serta me mpelajari ilmu sakti Hay Jin Ciang untuk
me menuhi harapan suhu. Tecu bersumpah di hadapan jenasah kau
orang tua, dalam tiga mendatang akan kugunakan sepasang
tanganku ini untuk mengucurkan darah segar musuh besarmu serta
menyayat kulit badan musuhmu. Se mua sa mpah masyarakat serta
manusia laknat yang berada dalam dunia persilatan dewasa ini akan
kuberi ba lasan yang setimpal.”
Ketika berbicara sampa i di situ pe lan-pelan Ku See-hong bangkit
berdiri, di atas wajahnya yang dingin terlintas kebulatan tekadnya
yang kukuh, sorot matanya memancarkan cahaya kebuasan serta
kebengisan yang mengerikan se kali.
Apalagi ketika Ku See-hong terbayang kembali semua musibah
yang telah menimpa Bun-ji koan-su sela ma hidupnya, kesengsaraan
yang telah menyiksa batinnya, tanpa terasa perasaannya bergolak
keras, sambil menengadahkan kepalanya dia segera me mbawa kan
lagu Denda m Sejagad yang telah diajarkan Bun-ji koan-su
kepadanya itu:
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad,
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi sebuah kuil.
Sungai besar di depan kuil berombak besar,
Dendam kesumat sepanjang abad
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad,
Burung gaga k bersarang di rumput di kala senja
Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua.
Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.

109
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Ji koan pernah berbuat salah.
Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?
Salju terbang air laut se muanya ha mbar.
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Curah hujan me mbuyarkan awan.
Air mengalir akhirnya surut.
Dendam kesumat tak akan pernah luntur….
Suatu dorongan perasaan sedih yang a mat besar serta gejolak
emosi yang hebat, menelurkan suatu irama nyanyian yang keras,
berat dan menunjang menga lun di seluruh angkasa, kemudian
mengge ma sampai ke te mpat yang jauh seka li.
Saking sedihnya me mbawakan lagu “Denda m Sejagad” tersebut,
tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Ku
See-hong. Pelan-pelan dengan me mbawa perasaan yang berat dan
duka dia berjalan ke luar dari kuil itu dan meningga lkan Bun-ji koan-
su yang meningga l dengan me mbawa penderitaannya itu.
Waktu saat itu menunjukkan kentongan ketiga.
Angin kencang di luar kuil masih berhe mbus dengan hebatnya,
udara terasa dingin menusuk tulang, pohon bergoyang tertiup
angin. Suasana ketika itu terasa seram, dingin dan me medihkan.
Dari dala m ruang tengah, Ku See-hong pe lan-pelan berjalan
keluar. Dengan mata basah oleh air mata, ia mendongakkan
kepalanya me mandang ke angkasa.
Langit sangat gelap karena mala m masih belum lewat, tiada
rembulan hanya ada beberapa titik bintang yang me mancarkan
cahaya yang lemah.
Waktu itu di luar kuil sedang berdiri termangu tiga sosok
bayangan manusia.

110
Mereka masih terpesona oleh pengaruh ira ma lagu Ku See-hong
yang dibawakan dengan nada penuh rayuan maut yang membetot
sukma. Di bawah bayangan pohon orang-orang itu cuma melongo
dan berdiri kaku persis seperti patung arca.
Ku See-hong mendongakkan kepalanya me mandang awan yang
bergerak di angkasa, dala m benaknya tanpa terasa terbayang
ke mbali bayangan tubuh Bun-ji koan-su. Akhirnya ia tak kuasa
menahan diri dan mendongakkan kepalanya sambil berpe kik
nyaring. Pekikan tersebut kian la ma berkumandang kian nyaring,
tapi di balik suara yang nyaring terbawa nada yang sedih dan
me medihkan hati, sungguh terasa tak sedap didengar.
Ketika mendengar suara pekikan nyaring yang mengalun di
angkasa itu, ketiga sosok bayangan manusia di luar kuil itu
merasakan hatinya bergetar ke mudian tersadar ke mbali dari
la munan. Ena m buah mata yang tajam serentak dia lihkan ke atas
tubuh Ku See-hong yang berada di luar kuil tersebut.
Tanpa sadar ketiga orang itu mundur beberapa langkah ke
belakang dengan kaget, dari mimik wajah mereka yang menyeringa i
seram, bisa diketahui sa mpai di mana kah rasa kaget dan ngeri yang
mence ka m perasaannya itu.
Ku See-hong tidak melihat hadirnya ketiga sosok bayangan
manusia di luar kuil itu. Dengan langkah yang pelan-pelan dia
berjalan keluar kuil.
Tiga sosok bayangan manusia yang berada di luar kuil itu
sesungguhnya adalah jago-jago lihay golongan hita m yang sadis
dan berbahaya… walaupun de mikian mereka cukup mengetahui
sampai di ma nakah kekeja man serta kebuasan pe milik kuil yang
misterius itu. Maka sewaktu mereka me lihat se munculnya Ku See-
hong dari dala m kuil itu, disangkanya dialah pe milik kuil yang
misterius serta berbahaya itu. Tanpa terasa sekujur tubuh mereka
gemetar keras.
Ku See-hong mendongakkan kepalanya. Sekarang dia baru
mengetahui akan kehadiran ketiga sosok bayangan manusia itu.

111
Sinar aneh yang tajam segera me mancar ke luar dari balik matanya,
dengan wajah ha mbar dia segera berhenti.
Ketiga sosok bayangan manusia itupun sudah melihat wajah Ku
See-hong dengan jelas sekarang, rasa kaget bercampur tercengang
cepat melintas di atas wajahnya, perasaan takut yang semula
mence ka m hati mereka kini hilang lenyap dengan begitu saja.
Sambil tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, ketiga
sosok bayangan manusia itu segera berkelebat maju ke depan dan
mende kati Ku See-hong. Betul rasa di hati mereka sudah banyak
berkurang, akan tetapi satu dua bagian rasa ngeri masih terselip di
hati masing-masing.
Paras muka Ku See-hong sendiripun berubah hebat setelah
menyaksikan gerakan tubuh lawan yang begitu enteng, dia tahu
ketiga orang itu sudah pasti adalah jago kelas atas dalam dunia
persilatan.
Di bawah sinar bintang, tampak orang tiga itu masing-masing
mengenakan baju hita m yang panjang dengan potongan badan
yang lurus jangkung seperti tengkorak. Rambutnya yang panjang
dibiarkan terurai di pundak, bibirnya tajam dengan kening yang
sempit, masing-masing berwajah sera m persis bagaikan iblis.
Dia m-dia m Ku See-hong berpikir di da la m hatinya:
“Heran, mengapa tiga orang manusia yang bertampang bagaikan
iblis ini bisa menyiarkan hawa sesat yang begini tebal secara
mengerikan? Mana wajah seram menyeringa i lagi dengan
mengerikan, sungguh me mbikin hati orang merasa kebingungan…
dan tak tahu siapa gerangan diri mereka itu?”
Sementara dia masih berpikir, manusia aneh berwajah pucat
yang berada di sebelah kiri itu segera mementangkan mulut lebar-
lebar dan me mperdengarkan gelak tertawa panjang yag
menyeramkan.

112
Setelah itu dengan nada yang dingin menggidikkan hati dia
menegur: “Bocah keparat, siapa kau? Cepat sebutkan nama
anjingmu untuk menerima ke matian.”
Betapa mendongkol dan kesalnya Ku See-hong setelah
mendengar perkataan itu, ia segera mendengus dingin.
“Hmm… Ka lian tiga orang mahluk, tiga bagian tidak mirip
manusia, tujuh bagian mirip setan, sesungguhnya siluman aneh
yang datang dari mana? Kurang ajar benar perkataan kalian itu?
Hmm a ku tak lebih cuma seorang Bu-beng-s iau-cut (prajurit tak
bernama) da la m dunia persilatan, mau apa ka lian?”
Makhluk berwajah murung dan sedih, sedikitpun tidak me mbawa
hawa kehidupan, yang berdiri di tengah itu, segera tertawa
terkekeh-kekeh dengan seramnya, suara makhluk itu dingin
bagaikan es, bagaikan he mbusan angin dingin yang datang dari
kutub.
Begitu selesai tertawa seram, dia lantas berkata dengan suara
mengerikan:
“Bocah keparat, enak benar kalau berbicara, rupanya kau
me mang benar-benar adalah seorang prajurit tak bernama di dala m
dunia persilatan, heeehh… heeehhh… heeehhh… kami adalah Leng-
cuan-sam-pok (Tiga Bayangan Iblis dari Leng-cuan) yang na ma
besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, aku sendiri
Siang-khi-kui-pok (Siluman Iblis Pe mbawa Kesedihan) Phu Im-sat
hendak mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu bila kau tida k
menjawab dengan sejujurnya, heeehhh heeehhh heeehhh mala m ini
juga akan kusuruh kau ma mpus tanpa liang kubur di sini.”
Sudah belasan tahun la manya Ku See-hong berkelana dala m
dunia persilatan, tidak sedikit jago persilatan kena maan yang
diketahui olehnya, maka dari itu betapa tercekatnya perasaan
pemuda tersebut setelah mengetahui ka lau ketiga makhluk sera m
ini bukan lain adalah Leng-cuan-sa m-pok yang amat tersohor akan
kebengisannya itu…. Meski begitu, paras mukanya sama sekali tida k
menunjukkan perubahan apa-apa.

113
Ternyata Leng-cuan-sam-pok adalah jago kelas satu dari
golongan hita m yang termasyhur sekali na manya dala m dunia
persilatan. Watak mereka amat kejam, tak kenal ampun dan
me mbunuh orang tanpa berkedip.
Mencorong sinar menggidikkan dari balik mata Ku See-hong,
serunya dengan dingin:
“Leng-cuan-sa m-pok adalah sa mpah masyarakat di dala m dunia
persilatan dewasa ini, apa yang kalian andalkan sehingga begitu
berani berlagak di hadapanku? Sungguh tak tahu malu. Orang lain
mungkin jeri kepada kalian tapi aku orang she Ku, adalah seorang
manusia yang punya tulang, tak nant i aku bakal jeri kepada mu.
Sebelum pertanyaan kalian ajukan, terlebih dulu akan
kuberitahukan kepada mu, lebih baik jangan bertanya, sebab tak
nanti aku akan menjawab pertanyaan kalian barang setengah patah
katapun. Mengerti?”
Ku See-hong bukan orang yang bodoh, baru saja Siang-khi-kui-
pok Phu-im-sat bertanya sampai di situ, dia sudah mengetahui apa
yang hendak mereka tanyakan.
Makhluk perta ma menonjol bergigi taring dan bermata bengis
bagaikan binatang liar yang berdiri di sebelah kanan itu segera
berteriak aneh, bentaknya:
“Bocah keparat, berapa butir sih batok kepala yang kau miliki?
Begitu berani me mandang hina Leng-cuan-sa m-pok! Hmmm,
ketahuilah ma la m ini kau sudah menjadi burung dala m
cengkeraman ka mi, jangan harap kau bisa terbang lagi ke angkasa.”
Siang-khi-kui-pok Phu-im-sat menyambung pula:
“Bocah keparat, bukankah barusan kau masuk ke dala m kuil itu?
Apa yang kau jumpai di situ?”
Ku See-hong adalah seorang pemuda yang keras kepala, angkuh
dan ketus hatinya sudah mendongkol se kali ketika menyaksikan
ketiga orang mahkluk aneh itu me mbentak-bentak dirinya ma ka

114
sambil tertawa dingin dengan nada yang merasuk tulang, serunya
menghina:
“Bila ka lian menganggap punya nyali, tak ada salahnya untuk
masuk dan selidiki sendiri, dengan cepat kalian akan mengetahui
ada apanya di sana. Hmmm. Cuma a ku lihat, kalian anjing-anjing
geladak yang beraninya cuma menganiaya yang lemah saja ini,
masih belum punya keberanian untuk berbuat de mikian.”
Makhluk aneh berwajah pucat yang berada di sisi sebelah kiri,
Jin-sat-kui-pok (Siluman Iblis Berwajah Pucat) Jin Khi segera
me mbentak menggelegar:
“Bocah keparat, diberi arak kehormatan kau tidak mau, justru
arak hukuman yang kau cari. Hmmm, sekarang juga akan kusuruh
kau merasakan kelihayanku.”
Seusai berkata, secepat sambaran kilat Jin-sat-kui-pok menerjang
maju ke depan. Sepasang kakinya bergeser dan berputar secepat
angin, lalu sambil menerjang ke depan lawan, sepasang cakar
setannya dipentangkan lebar-lebar. Dengan me mbawa suara
desingan tajam yang me mekikkan telinga, ia cengkera m jalan darah
Cian-cin-hiat di atas bahu Ku See-hong.
Ku See-hong tertawa dingin, badannya memenda m ke bawah,
lalu me nggunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang a mat
sempurna itu, secara menyakinkan dia meloloskan diri dari sergapan
tersebut.
Menyaksikan kelihayan Ku See-hong di dala m menghindarkan diri
dari anca man tersebut, Jin-sat-kui-pok merasa terperanjat sekali,
ke mbali ia me mbentak keras, ejeknya sinis:
“Bocah keparat, tak nyana kau me miliki juga ilmu silat kucing
kaki tiga yang hebat!”
Di tengah bentakan, sepasang cakar setannya berputar
menggulung-gulung, angin puyuh yang maha dahsyat segera keluar
dari balik telapak tangannya itu dan menyapu ke seluruh badan
lawan.

115
Di tengah desingan angin taja m yang me mekikkan telinga, tiga
puluh ena m buah jalan darah pent ing di tubuh Ku See-hong sudah
terbungkus di balik gulungan hawa taja m yang menggidikkan hati
itu.
Betul pada wa ktu itu Ku See-hong telah me mpelajari ilmu
gerakan tubuh yang amat sempurna, tapi setelah menghadapi angin
serangan sedemikian dahsyatnya itu, tak urung dia menjadi
tertegun juga sehingga lupa untuk menghindarkan diri.
Jin-sat-kui-pok yang menyaksikan Ku See-hong cuma berdiri saja
tanpa berniat untuk menghindar, dalam sangkaannya pemuda itu
takabur dan mence mooh dirinya. Ini semua me mbuat hawa
amarahnya berkobat ma kin hebat, sepasang matanya yang aneh
me mancarkan cahaya tajam yang bengis dan mengerikan.
Dengan cepat hawa pukulannya ditingkatkan menjadi sepuluh
bagian. Angin serangan yang tajam se ma kin menggelegar bahkan
me mbawa deruan angin dahsyat bagai gulungan ombak di tengah
samudra. Semua he mbusan dahsyat itu bersama-sama menggulung
ke atas badan Ku See-hong.
Setelah tersengat oleh desingan angin pukulan musuh yang
tajam, Ku See-hong baru tersentak bangun dari kagetnya. Tapi
waktu itu keadaan sudah terlambat, angin pukulan yang maha
dahsyat dan menyesakkan napas itu sudah mendesak di seke liling
tubuhnya.
Habis sudah riwayatku kali ini. Habis sudah riwayatku kali ini…
pekik Ku See-hong da la m hati.
Baru saja ingatan itu berkelebat lewat dari benaknya, mendadak
Ku See-hong merasakan munculnya segulung hawa panas dan
segulung hawa dingin dari dala m pusarnya yang segera menyelimut i
sekujur badannya.
Pada saat angin serangan musuh yang maha dahsyat itu ha mpir
mengenai badannya, mendadak hawa murni yang telah menyebar
ke dala m tubuhnya itu segera menyusup masuk lewat pori-pori
badannya dan segera menyelimuti se luruh badannya.
116
“Blaaa m! Blaaam!” Beberapa kali letusan keras segera
mengge legar di angkasa.
Jin-sat-kui-pok hanya merasakan segulung angin pukulannya
seperti menghajar di atas segumpa l kapas yang sama se kali tak
berkekuatan, dia menjadi a mat terperanjat. Tubuhnya yang
berperawakan aneh segera mundur beberapa langkah dengan
sempoyongan.
Dia m-dia m Ku See-hong merasa a mat bangga dengan hasil yang
berhasil dicapainya itu, pikirnya:
“Aaah… tak kusangka kalau ilmu khikang Kan-kun-mi-s iu yang
diajarkan suhu ternyata sedemikian hebatnya.”
Kenyataan ini me mbuat keberanian Ku See-hong makin besar.
Betul ia tidak pandai me mperguna kan jurus serangan untuk me luka i
musuh, tapi untuk melindungi kesela matan sendiri, rasanya hal ini
bukan suatu persoalan lagi.
Di antara Leng-cuan-sam-pok, ilmu silat yang dimiliki Siang-khi-
kui-pok Phu Im-sat, terhitung paling tinggi, pengetahuannya juga
paling luas. Ketika dilihatnya tenaga pukulan dari Jiu-sat kui-pok
yang sanggup menghancurkan batu karang itu ternyata tidak
mendatangkan hasil apa-apa ketika menghajar di tubuh lawan,
dia m-dia m ia merasa tercekat sekali.
Bahkan dia yang sangat berpengalaman di dala m dunia
persilatan pun, ternyata tak bisa menebak ilmu silat apakah yang
dimiliki oleh Ku See-hong tersebut.
Ternyata di dalam kepandaian sakt i atau hawa khikang maca m
apapun yang ada di dunia ini, bila sa mpai terhajar oleh serangan
lawan, tentu akan menghasilkan tenaga pantulan yang maha
dahsyat.
Sebaliknya hasil dari Kan-kun-mi-siu adalah melenyapkan tenaga
serangan lawan dengan begitu saja tanpa wujud. Semakin besar
tenaga tekanan yang datang dari luar, goncangan yang dialami Ku
See-hong dala m peredaran darahnya akan se makin besar pula.

117
Akibatnya bukan saja tak sampa i merugikan diri sendiri, ma lah
sebaliknya me mpercepat daya kemajuan yang dicapa i oleh tenaga
dalam itu sendiri.
Siang-khi-kui-pok Phu Im sat me mperdengarkan gelak
tertawanya yang rendah berat dan mengerikan, ke mudian katanya
dengan dingin:
“Orang she Ku, jika hari ini kau bersedia menjawab pertanyaan
kami, Leng-cuan-sa m-pok pasti akan menyusahkan dirimu lagi,
bahkan dala m perjalananmu selanjutnya dala m dunia persilatan,
semua orang dari golongan hita m tak akan menyusahkan dirimu.”
Leng-cuan-sa m-pok yang kejam bengis dan tak pakai aturan,
ternyata sudah mengucapkan kata-kata yang demikian sungkannya
terhadap seorang prajurit yang tak bernama dari dunia persilatan,
sesungguhnya kejadian ini boleh dibilang merupa kan suatu
keanehan.
Ku See-hong yang cerdik tentu saja juga tahu kalau Leng-cuan-
sam-pok telah dibikin gentar oleh hawa khikang Kan-kun-mi-siu
yang dimilikinya itu, justru karena tahu lihaynya maka mere ka baru
mengurangi kebuasan serta kekejiaan mereka.
Ku See-hong segera tertawa dingin, ke mbali katanya dengan
nada menghina:
“Leng-cuan-sa m-pok, ka lian berani me masuki kuil ini berarti
kalian segera akan tewas secara mengerikan, me mangnya kalian
anggap masih bisa lolos dari tempat ini dengan sela mat? Terlalu
banyak kejahatan yang kalian bertiga lakukan sela ma ini, aku orang
she Ku tak akan mengampuni jiwa kalian, hayo cepat serahkan
nyawa anjing ka lian bertiga!”
Ketika berbicara sa mpai di situ, suara Ku See-hong berubah
makin keras dan mengerikan dita mbah lagi wajahnya yang dingin
menyeramkan, tanpa terasa membuat Leng-cuan-sa m-pok yang
berhati bengis itu berkesiap sekali dibuatnya.

118
Ketika selesai berbicara Ku See-hong tak berani turun tangan
lebih dulu, sebab sekarang boleh dibilang setengah jurus pun tida k
ia miliki. Bila sampai dia turun tangan melancarkan serangan lebih
dulu, selain siasatnya bakal terbongkar, gertak sambalnya juga akan
konangan, ma lah bisa jadi sele mbar wajahnya ikut me layang.
Maka dari itu dia hanya mengawasinya Leng-cuan-sa m-pok
dengan sepasang matanya yang dingin menyeramkan serta
me mancarkan cahaya yang menggidikkan hati itu.
Leng-cuan-sa m-pok agak bergidik juga menghadapi tantangan
dari pemuda itu. Sesungguhnya mereka adalah kawanan manusia
licik yang berotak tajam. Entah mengapa sikap Ku See-hong yang
berwibawa me mbuat hati mereka ma kin menciut. Diam-dia m hawa
murninya segera disalurkan ke seluruh badan untuk bersiap-s iap
menghadapi segala ke mungkinan yang tak diinginkan.
Begitulah, empat sosok bayangan manusia segera berdiri sa ling
berhadapan di tengah suasana hawa pembunuhan yang
menyelimuti se luruh angkasa.
Pohon peng-yang yang terhembus angin menimbulkan suara
gemerisik yang me me kikkan telinga, suasana di sekeliling tempat itu
makin la ma diliputi suasana se makin tegang dan mena kutkan.
Berapa saat lamanya keempat orang itu berdiri sa ling
berhadapan, diam-dia m Ku See-hong merasa amat gelisah, dia tahu
bahwa dirinya tidak me lancarkan serangan lebih dulu, akhirnya
sandiwara itu pasti akan terbongkar.
Berpikir de mikian, Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya
dan berpekik nyaring, suara pekikannya yang keras serasa
me mbe lah seluruh angkasa.
Kakinya me mperguna kan ilmu gerakan Mi-khi-biau-tiong untuk
bergerak maju bagaikan sa mbaran setan. Dengan suatu kecepatan
yang luar biasa dia melayang ke depan, tangannya bergerak aneh
dan segera mempraktekkan jurus Hoo-han-seng-huan, yang
berulang ka li sudah dilatihnya tanpa mendatangkan hasil itu.

119
Ketika Leng-cuan-sa m-pok menyaksikan gerak maju Ku See-hong
sangat aneh dan sakti, hati mereka terkesiap, kemudian sambil
me mbentak keras, enam gulung tenaga pukulan yang dilancarkan
dengan me mpergunakan segenap tenaga murni yang mere ka miliki
itu, dengan menciptakan berpuluh-puluh ja lur hawa sakti yang
mengerikan, bagaikan sebuah jaring langit jala bumi menggulung
datang dari empat arah delapan penjuru dan menggulung sekujur
badan Ku See-hong.
Leng-cuan-sa m-pok dia m-dia m merasa bergidik juga bila
mengingat kehebatan musuhnya itu. Mereka mengira Ku See-hong
hendak melancarkan serangan me matikan, ma ka begitu turun
tangan, masing-masing pihak segera melepaskan dua gulung tenaga
pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan angin puyuh untuk
menghadang gerak maju pe muda itu.
Tampak desingan angin taja m bagaikan gulungan ombak besar di
tengah samudra menyapu ke depan berbarengan, kedahsyatannya
sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Paras muka Ku See-hong yang tampan itu segera berubah hebat,
gerakan Ho-han-seng-huan yang digunakannya tadi sesungguhnya
tak lebih cuma pancingan bela ka… tak tahunya justru telah
me mancing datangnya serangan me matikan dari ketiga orang
lawannya itu.
Blaaa m! Blaaa m! Blaaam....!” letusan letupan beruntun segera
mengge legar di angkasa dan menggoncangkan seluruh permukaan.
Ku See-hong hanya merasakan peredaran darah dalam tubuhnya
bergoncang keras, kuda-kudanya tergempur dan terseret oleh
tenaga pukulan yang maha dahsyat itu. Tubuhnya mundur sejauh
empat lima langkah ke belakang sebelum bisa berdiri tegak.
Ia sanggup menyambut serangan gabungan dari Leng-cuan-sam-
pok yang maha dahsyat serta semuanya tertuju pada bagian tubuh
yang mematikan tanpa cidera, sesungguhnya kejadian ini sudah
cukup me nggetarkan perasaan musuh-musuhnya.

120
Dasar wataknya me mang tinggi hati dan keras kepala, sesudah
bergetar mundur oleh serangan musuh, ia menjadi naik darah.
Sambil me mbentak gusar tubuhnya meluncur maju lagi ke muka,
dengan suatu gerakan yang sangat aneh sepasang lengannya masih
saja digerakkan me mainkan jurus Hoo-han-seng-huan.
Setelah berulang kali anak muda itu menunjukkan gerakan yang
aneh, suatu perasaan aneh segera muncul dala m hati Leng-cuan-
sam-pok, pikirannya tanpa terasa:
“Aneh betul bocah keparat ini mengapa dia cuma bergerak
maca m tarian setan saja? Pada hakekatnya sedikitpun tidak mirip
dengan suatu jurus serangan. Me malukan, tadi nyaliku ha mpir saja
pecah dibuatnya karena ketakutan.”
Sekalipun di hati kecilnya mereka berpikir de mikian, namun
gerakannya tak berani berayal, tiga sosok bayangan manusia
mendadak berkelebat lewat dengan gerakan yang aneh.
Jin-sat-kui-pok me me ntangkan cakar setannya lebar-lebar,
diiringi desingan angin serangan yang dahsyat segera
mencengkeram ke atas batok kepala lawan.
Waktu itu, betul Ku See-hong me mainkan jurus Hoo-han-seng-
huan, akan tetapi ia tak pernah ma mpu me mpergunakan jurus
serangan ini secara sesungguhnya. Akibat dari hal itu, melukis
harimau tidak jadi, yang muncul adalah anjing.
Sementara pe muda itu masih be lum tahu bagaimana caranya
me mperguna kan serangan tersebut secara tepat… sepasang cakar
setan dari Jin-sat-kui-pok Jin-kai telah mencengkera m erat nadi
pada pergelangan tangan kirinya serta jalan darah cian-cing-hiat di
atas bahu.
Ku See-hong terperanjat sekali, buru-buru dia mempergunakan
ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong untuk berkelit ke sa mping.
Tapi sayang keadaan sudah terla mbat, Ku See-hong hanya
merasakan bahu kanannya terasa sakit sekali seperti diiris-iris
dengan pisau, tahu-tahu bahu itu sudah tersambar lima buah jalur

121
luka panjang oleh cakar setan lawan yang tajam. Darah segar
segera muncrat keluar me mbasahi seluruh bajunya.
Setelah berulang kali menga mati gerak-gerik musuhnya yang
aneh, agaknya waktu itu Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat telah
me maha mi apa gerangan yang sedang dihadapi.
Serentetan suara tertawa anehnya yang melengking me mekikkan
telinga bagaikan lolongan serigala itu segera mengge ma di angkasa.
Dengan suatu gerakan cepat ia mendesak ke muka, ke mudian
jengeknya dengan suara dingin:
“Bocah keparat, kepandaian silatmu tak becus ternyata
kepandaian berbicaramu hebat, heeehh… heeehh… heeehh…
jangan harap pada mala m ini kau bisa lolos dari kepungan cakar
setan yang telah disebarkan Leng-cuan-sam-pok di sekeliling tempat
ini, heeehh… heeehh….”
Sementara mulutnya me mperdengarkan suara tertawa setan
yang dingin menyeramkan dan tak sedap didengar itu, tubuhnya
bagaikan sukma gentayangan pelan-pelan mengha mpiri Ku See-
hong. Sepuluh jari tangannya yang tajam mirip cakar setan
dipentangkan lebar-lebar dan siap menerka m mangsanya.
Kobaran api amarah dan denda m mencorong keluar dari balik
mata Ku See-hong yang jeli, dia me mbentak keras, sepasang
lengannya diputar secara aneh la lu menubruk lagi ke depan.
Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat berpekik aneh, tubuhnya yang
kurus kering t inggal kulit pe mbungkus tulang itu melintas dengan
gerakan aneh, lalu secepat kilat berputar ke sisi kiri Ku See-hong.
Cakar setannya yang tajam dengan cepat menyambar ke bawah.
Ku See-hong merasakan bahu kirinya sakit sekali bagaikan diiris
dengan pisau, lima buah bekas luka yang me manjang sekali lagi
muncul di atas bahunya akibat sambaran dari Siang-khi-kui-pok
tersebut, saking sakitnya dia mundur sa mpa i sejauh dua t iga
langkah lebih.

122
Di pihak la in, Siong-cing-kui-pok (Siluman Iblis Bermata Bengis)
Sin Jian-siau telah menggerakkan sepasang lengan iblisnya untuk
menyerang ke depan.
“Sreet! Sreet!” desingan angin tajam yang me mekikkan telinga
mengge ma di angkasa.
Ku See-hong merasakan kakinya ge metar keras, lalu mendengus
tertahan, baju bagian punggungnya tercabik-cabik hancur, kulitnya
robek besar tersambar oleh sepasang cakar setan Siong-cing-kui-
pok yang tajam, darah segar berceceran me mbasahi seluruh
badannya.
Jin-sat-kui-pok tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu,
lengannya diputar ke mudian, Wees dia melepaskan sebuah pukulan
tinju ke depan. Setelah itu sepasang telapak tangannya ke mbali
diayunkan ke depan dengan kecepatan bagaikan kilat. Segulung
tenaga pukulan yang sangat kuat ibaratnya gulungan omba k
dahsyat di tengah samudra, dengan me mbawa daya kekuatan yang
ma mpu menghancurkan batu karang, segera menggulung Ku See-
hong.
Padahal Ku See-hong baru dapat berdiri tegak, melihat
datangnya angin pukulan yang demikian dahsyatnya itu, ia menjadi
amat terkejut.
“Blaaa mm…!” suatu ledakan keras ke mbali terjadi. Ku See-hong
ke mbali terhajar oleh serangan itu sehingga terpental ke arah lain.
Di pihak sana, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah tahu kalau Ku
See-hong me miliki se macam ilmu silat yang aneh sekali. Tanpa
suatu kepandaian yang lihay, sulit untuk merenggut nyawa si anak
muda tersebut.
Maka secara dia m-dia m lantas ia menghimpun tenaga
beracunnya yang telah dilatih sela ma puluhan tahun itu. Perawakan
tubuhnya yang sebenarnya kurus kering itu, tahu-tahu
mengge le mbung seperti me mbengkak secara tiba-tiba.

123
Bersamaan itu pula, tulang belulang yang berada di dala m
tubuhnya juga gemerutukan keras. Setelah berkumandang
serentetan bunyi ledakan yang nyaring itu, badannya yang kurus
kering tahu-tahu menyusut pula sehingga lebih pendek separuh
bagian.
Jin-sat-kui-pok dan Siong-cing-kui-pok juga tidak tinggal dia m,
serentak mereka salurkan pula tenaga beracunnya untuk bersiap-
siap melancarkan serangan me matikan.
Kemudian, tiga orang iblis dari Leng-cuan sa m-pok yang bengis
dan berhati keji itu pelan-pelan berjalan mendekati Ku See-hong.
Mereka segera menyebarkan diri me mbentuk posisi segitiga.
Keadaan Ku See-hong pada waktu itu sudah mengenaskan sekali.
Sekujur badannya penuh dengan luka, darah segar menoda i
badannya, rambut yang panjang terurai kalut, bajunya sobek dan
compang-ca mping, keadaannya mengenskan seka li. Ketika itu
dengan wajah yang mengejang serta sorot mata yang
me mancarkan kebengisan, ia melototi ketiga orang itu penuh
ke marahan.
Angin musim gugur berhe mbus lewat dan menggoyangkan
pepohonan, bayangan pohon yang bergerak-gerak seakan-akan
berubah menjadi cakar setan yang sedang dipentangkan, bunyi
deruan yang kencang seolah-olah jeritan iblis yang mengerikan.
Sedemikian seram dan menakutkannya suasana di sekeliling te mpat
itu, me mbuat bulu roma orang pada bangun berdiri.
Bayangan tubuh Leng-cuan-sam-pok yang terbias sinar bintang,
me manjang di atas permukaan tanah, sudut kepungan mereka kian
la ma bertambah kecil.
Ku See-hong berusaha me mutar otaknya mati-mat ian untuk
me mecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut. Akan tetapi
bagaimana pun juga, dia se lalu gagal untuk me maha mi gerakan
tangan dari Bun-ji koan-su tersebut.
Sekarang ia sudah menyaksikan, lengan-lengan kurus dari Leng-
cuan-sam-pok me mbengkak besar, kulitnya pelan-pelan berubah
124
pula menjadi merah me mbara seperti baranya api. Selain itu diapun
mene mukan, tiap kali mereka melangkah maju ke depan, sebuah
bekas telapak ka ki yang dala m segera muncul di atas permukaan
tanah, padahal diapun tahu permukaan tanah di situ lebih keras
daripada batu karang.
Kalau dilihat dari tindakannya yang dia mbil Leng-cuan-sa m-pok di
mana mereka telah mengeluarkan pukulan beracunnya, dapat
diketahui bahwa orang-orang itu sudah bertekad henda k
me mbinasakan Ku See-hong di ujung pukulan beracun mereka yang
mengerikan itu. Dari sini dapat diketahui pula sa mpai di mana kah
kekeja man serta kebusukan hati mere ka.
Dia m-dia m Ku See-hong berpekik di da la m hatinya:
“Suhu, oooh suhu. Bantulah tecu, bantulah diri tecu agar cepat
me maha mi rahasia jurus Hoo-han seng-huan tersebut, kalau tidak,
tecu bakal ma mpus di ujung tangan ketiga orang setan iblis itu.”
Dala m pada itu, Leng-cuan-sa m-pok sudah berada lebih kurang
lima depa di hadapan Ku See-hong.
Mendadak….
Tiga makhluk aneh tersebut sama-sa ma berpekik aneh, suaranya
yang keras dan menyeramkan itu menggelegar me mbe lah
kesunyian mala m.
Enam buah telapak tangan yang merah me mbara dan berbau
amis, secepat kilat mengayunkan ke depan dan melontarkan ena m
gulungan kobaran bara beracun yang berwarna hijau. Diiringi
desingan tajam yang luar biasa bagaikan gulungan ombak di tengah
samudera langsung menghajar ke depan. Serangan itu ganas,
kejam, dan hebat, seperti air bah yang menjebolkan bendungan,
langsung menghajar tubuh lawan.
Ku See-hong terperanjat sekali, apalagi setelah menyaksikan
kabut hijau berbau a mis yang disertai tenaga pukulan yang maha
dahsyat itu muncul dari pelbagai sudut yang aneh dan menggencet
tubuhnya di tengah arena itu.

125
Blaaa mm! Blaaamm! Blaaamm! Benturan keras mengge legar
secara beruntun.
Ku See-hong merasakan hawa darah di dala m tubuhnya bergolak
sangat keras, benaknya bagaikan kosong me lompong dan …
“Bluuum” tubuh Ku see-hong tergeletak jatuh di tanah.
Melihat Ku See-hong sudah terhajar telak oleh serangan mere ka
yang beracun, Leng-cuan-sam-pok segera tertawa terbahak-bahak
dengan seramnya. Suara mereka keras seperti jeritan setan iblis dan
seram bagaikan lolongan serigala liar. Di balik gelak tertawanya
yang panjang berat dan me mekikkan telinga tadi, terselip pula rasa
bangga dan ge mbira yang tak terkira kan.
Dala m keadaan sadar tak sadar, mendada k Ku See-hong seperti
terbayang kembali bayangan tubuh Bun-ji-koan-su yang sedang
menggerakkan tangannya secara aneh diiringi gerakan tubuh yang
luar biasa, ke mudian da la m kilatan cahaya tajam, jalan darah di atas
tubuhnya seakan-akan tertotok.
Ku See-hong yang tergeletak kaku di tanah, mendadak
me mperdengarkan teriakan keras yang me mekikkan telinga:
“Haaah! Aku sudah me maha mi jurus Hoo-han-seng-huan! Aku
sudah me maha mi jurus Hoo-han-seng-huan tersebut!”
Menyusul teriakan tersebut, Ku See-hong dengan suatu gerakan
yang sangat aneh segera melompat bangun dari atas tanah.
Leng-cuan-sa m-pok hanya tertawa tergelak terus dengan
bangganya. Mereka baru tertegun setelah melihat tubuh Ku See-
hong me lompat bangun secara tiba-tiba. Dengan cepat lengan
mereka diputar me mbentuk satu gerak lingkaran.
Di tengah kegelapan, terlihatlah gulungan angin dingin yang
mirip pusaran angin berpusing di atas bumi, menggulung ke muka
dan menyapu Ku See-hong.
Ku See-hong menggerakkan ka kinya dan menerobos masuk ke
balik gulungan angin berpusing yang maha dahsyat itu. Secara
aneh, mendadak seluruh badannya melengkung dan melejit,

126
tubuhnya melompat tinggalkan permukaan tanah, lalu seperti udang
bago dia me letik tiga depa ke udara.
Bersamaan itu juga, sepasang lengan Ku See-hong berputar
kayun secara aneh, suara letusan demi letusan yang nyaring
mengge ma di angkasa. Selapis cahaya tajam yang berkilauan
segera terhias di seluruh angkasa.
Sepasang lengannya direntangkan ke kiri kanan, dua gulung
angin pukulan yang putih bersih seperti kemala mendadak meluncur
ke arah Jin-sat-kui-pok serta Siong-gan-kui-pok dan menghajar jalan
darah penting di atas dadanya.
Inilah gerakan kedua dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang disebut
Jin-hay-hu-seng (Lautan Manusia Timbul Tenggela m).
Terdengar dua kali jeritan ngeri yang me milukan hati
berkumandang me mecahkan keheningan.
Dua sosok tubuh yang tinggi besar itu mencelat sejauh dua kaki
lebih dan… “Bluuuk” terbanting di atas tanah.
Sebuah mulut luka yang besar sekali muncul di atas dada Jin-sat-
kui-pok serta Siong-gan-kui-pok. Darah segar seperti pancuran
segera berhamburan di mana-mana.
Begitulah, dua orang ge mbong iblis yang keja m dan tersohor
dalam dunia persilatan, akhirnya tewas di ujung telapak tangan Ku
See-hong setelah me mpergunakan jurus J in-hay-hu-seng dari ilmu
Hoo-han-seng-huan yang telah menggetarkan seluruh dunia
persilatan itu.
Mimpipun Ku See-hong tidak menyangka bahwa serangannya
dengan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sanggup me mbinasakan
Jin-san-kui-pok serta Siang-gan-kui-pok tanpa me mberi kese mpatan
bagi lawannya banyak berkutik.
Dia mengira dirinya masih berada di ala m impian, untuk sesaat
la manya dia berdiri termangu-mangu di situ sa mbil mengawasi dua
sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan di
hadapannya itu.

127
Sejak me loncat bangun dari tanah sampai mengeluarkan jurus
tangguh untuk me mbunuh dua orang ge mbong iblis itu, serentetan
gerakan tersebut dilakukan Ku See-hong dala m waktu yang amat
singkat.
Waktu itu, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah dibikin pecah
nyalinya oleh kelihayan lawan, tiba-tiba jeritnya:
“Hoo-han-seng-huan?!”
Tiba-tiba secepat he mbusan angin kencang dia me mbalikkan
badan dan melompat sejauh empat kaki dari situ, ke mudian tanpa
me mbuang waktu lagi dia melarikan diri terbirit-birit dari situ.
Ku See-hong yang mendengar Siang-khi-kui-pok menjeritkan
kata Hoo-han-seng-huan juga amat terkejut, dengan cepat ia
tersadar kembali dari la munannya, tapi ketika itu Siang-khi-kui-pok
sudah berada tujuh ka ki dari te mpat se mula.
Pada saat itulah….
Mendadak dari atas pohon Pek yang lebih kurang ena m kaki di
depan Ku See-hong berkumandang suara bentakan yang amat
nyaring, Jcin…”Sreeet” segulung angin pukulan tajam mendesis.
Dari atas puncak pohon yang delapan kaki tingginya itu,
me luncur keluar sesosok bayangan tubuh yang ramping dan kecil.
Lalu dengan gerakan yang cepat dia sudah meluncur ke bawah dan
me layang turun persis di hadapan Siang-khi-kui-pok.
Waktu itu, keadaan Siang-khi-kui-pok ibaratnya anjing yang baru
kena digebuk, ketika me lihat datangnya bayangan manusia dari
tengah udara, ia segera meraung keras, dengan menghimpun
segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dua gulung angin pukulan
segera dilontarkan ke muka.
Bayangan manusia yang ra mping itu ke mbali me mbentak
nyaring, sepasang telapak tangannya melancarkan selapis bayangan
telapak tangan yang rapat bagaikan jaring laba-laba. Lalu tubuhnya
me lejit ke mbali di udara, dua bayangan kaki menyusul tiba. Gerakan

128
tubuhnya yang lincah dan gerakan jurus serangannya yang indah,
sungguh merupa kan suatu perpaduan yang serasi.
Mendadak….
Jeritan ngeri yang memilukan hati ke mbali berkumandang
me mecahkan keheningan.
Selembar nyawa Siang-khi-kui-pok segera melompat keluar dari
tubuh kasarnya dan menyusul nyawa Jin-sat-kui-pok serta Siong-jin-
kui-pok yang sudah keluar dari raganya lebih dulu itu. Sedangkan
tubuh kasarnya mencelat sejauh empat lima kaki sebelum tergeletak
untuk sela manya di sana.
Dia m-dia m Ku See-hong merasa terperanjat juga setelah
menyaksikan ke ma mpuan bayangan manusia itu sewaktu
me mbunuh Siang-khi-kui-pok.
Baru saja ingatan terbersit melintas lewat, mendadak pemuda itu
mengendus bau harum se merbak berhe mbus lewat di depan
tubuhnya. Bayangan tubuh yang ramping tadi, bagaikan se le mbar
kapas yang terhembus angin, dengan entengnya melayang turun
tepat di hadapan Ku See-hong.
Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sempurna serta gerak
serangan bagaikan sambaran setan ini menggidikan hati Ku See-
hong, dengan wajah berubah hebat dia mundur tiga e mpat langkah
ke belakang dengan perasaan was-was.
Agaknya si anak muda itu sudah dibikin keder oleh kehebatan
orang itu.
Tiba-tiba….
Suara cekikikan yang merdu merayu kemba li berkumandang di
angkasa. Suara tertawa itu begitu merdu dan begitu merayu
sehingga cukup me mpesonakan hati orang.
Sedangkan pe muda itu masih me longo, suara tertawa itu
mendadak berhenti lalu kedengaran seseorang menda mprat dengan
suara yang dingin seperti es:

129
“Bocah tolol, kau anggap sudah ketemu setan di siang hari
bolong…? Coba pentang dulu matamu lebar-lebar….”
Di bawah sinar bintang terlihat seorang gadis cantik yang tinggi
sema mpai bergaun biru dan berambut panjang telah berdiri di
hadapannya.
Gadis itu me mang cantik sekali bak bidadari dari kahyangan,
selain matanya jeli bagaikan bintang timur, hidungnya mancung,
bibirnya kecil mungil, kulit badannya juga putih mulus bagaikan
susu murni. Akan tetapi, waktu itu dia berdiri dengan wajah
sedingin es, mata mendelik besar dan hawa nafsu membunuh
menyelimuti se luruh wajahnya. Hal ini me mbuat gadis tersebut
ibaratnya sekuntum bunga mawar yang berduri….
Sejak kecil Ku See-hong sudah mengala mi musibah yang
mengenaskan, sepanjang tahun di hidupnya menge mbara dala m
dunia persilatan dan dice mooh orang banyak, penderitaan serta
kesengsaraan yang dideritanya itu membuat ia me miliki watak yang
aneh serta pandangan yang sempit.
Terutama sekali terhadap kaum wanita, entah mengapa, dalam
hati kecilnya bisa timbul perasaan benci yang tebal. Sekalipun
terhadap perempuan yang bagaimanapun cantiknya, dia juga tak
pernah merasa terpikat apalagi tertarik.
Apalagi setelah selama beberapa hari ini ia mendengar kisah
cerita Bun-ji koan-su yang mengisahkan tragedi serta pengala man
pahit yang diala minya sela ma hidup, kese muanya itu me mbuat
pandangannya terhadap perempuan bertambah ekstrim, dia
me mandang pere mpuan seakan-akan ular yang a mat berbisa sekali.
Begitulah Ku See-hong yang sombong dan tinggi hati, mana
tahan setelah mendengar caci maki si nona cantik berbaju biru itu?
Sambil mendengus gusar dari matanya segera terpancar keluar
sinar mata yang menggidikkan hati.
“Nona!” serunya ketus, “Begitu datang lantas mencaci maki
orang apakah tidak merasa kalau perbuatanmu akan menurut kan
martabatmu di depan orang?”
130
Berkedip-kedip sepasang mata si nona cantik berbaju biru yang
jeli itu, serunya:
“Kau ma ksudkan aku?”
Sambil berkata begitu, dengan jari tangannya yang lentik dia
tuding ke ujung hidung sendiri sehingga keadaannya tampak konyol.
Ku See-hong mendengus dingin, dengan nada sinis serunya:
“Hmm. Bila kau menganggap dirimu itu a mat cantik sehingga
merasa perlu untuk me masang aksi dan menarik perhatian di
hadapanku, maka kukatakan kepada mu terus terang, kau telah
salah mengincar manusia. Aku orang she Ku tidak baka l terpikat
oleh tingkah lakumu yang konyol itu. Hmm…. Di sini hanya ada kau
dan aku, kalau bukan kau yang kumaksudkan me mangnya aku lagi
berbicara dengan orang lain?”
Kehormatan si nona benar-benar merasa tersinggung setelah
mendengar caci maki dan ce moohan seorang pria yang diucapkan
secara terang-terangan di depan matanya itu. Apalagi dia adalah
seorang gadis cantik yang biasanya selalu disanjung serta dipuji-puji
orang.
Tapi anehnya nona cantik berbaju biru itu tidak menjadi marah
setelah mendengar cemoohan tersebut, malah sebaliknya, sekulum
senyuman manis segera menghiasi wajahnya yang cantik.
Sambil me mutar biji matanya yang jeli katanya lagi dengan suara
merdu:
“Mengapa sih kau musti galak-ga lak begitu? Aku cuma bergurau
saja apalah salahnya?”
Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dengan kening berkerut
dia menda mprat lagi:
“Lelaki busuk, coba kalau aku tidak bermaksud untuk
mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, sedari tadi aku
sudah me mbunuh dirimu, lebih baik sedikitlah tahu diri.”

131
Paras mukanya ketika itu diliputi oleh hawa nafsu me mbunuh
yang tebal, sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya dingin
seperti es, keadaannya sungguh mengerikan sekali.
Ku See-hong me njadi tercengang seka li oleh perubahan sikap
orang, diam-dia m pikirnya:
“Perempuan ini benar-benar aneh sekali, marah senang, susah
diduga. Perubahan wataknya juga tak menentu sudah pasti dia
bukan seorang pere mpuan baik-ba ik.”
Berpikir sa mpai di situ, selapis hawa dingin yang kaku segera
menyelimuti wajah Ku See-hong, bentaknya dengan gusar:
“Hei, apa maksudmu me ma ki aku sebagai lelaki bau? Hmm.
Kalau kau berani me maki le laki bau, le laki bau terus, jangan
salahkan kalau aku orang she Ku tak akan berlaku sungkan lagi
kepadamu….”
“Apakah kau tidak ingin dimaki orang sebagai lelaki bau?” seru
gadis cantik berbaju biru itu lagi sa mbil tertawa cekikikan, “… tapi
suhuku selalu menyuruh aku menyebut kalian sebagai le laki bau,
ma lah katanya, makin ganteng tampang orang itu, semakin pantas
kalau mereka dibunuh… masa ucapan guruku tida k benar?”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong merasakan hatinya
bergetar keras, pikirnya:
“Masa di dunia ini terdapat manusia yang begitu aneh serta
begitu sempit pikirannya sehingga murid sendiripun diajarkan untuk
me mbunuh pria-pria ta mpan di dunia ini? Aaa… Mungkin gurunya
juga seseorang yang pernah mengala mi kegagalan di dala m soa l
cinta?”
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dala m benak Ku See-hong,
ke mudian setelah mendengus dingin katanya:
“Nona, perkataan gurumu itu tentu saja salah besar. Kalau ingin
me mbunuh orang harus dibeda kan dulu mana yang baik dan mana
yang jahat, mana boleh me mandang rendah nyawa orang lain?
Hmm. Bila kau berani se mbarangan me mbunuh orang yang baik,

132
aku orang she Ku yang pertama-tama akan mencarimu untuk
me mbuat perhitungan.”
Senyuman yang semula menghiasi wajah gadis cantik berbaju
biru itu ke mbali lenyap tak berbekas, kemudian dengan wajah
dingin bagaikan es ia berkata:
“Hm… Kau lagi me mbicarakan soal teori apa? Me mangnya ingin
menasehati aku? Aku mau tanya, dari mana kau pe lajari jurus Hoo-
han-seng-huan tersebut? Di dapat dari me ncuri? Ka lau tida k
mengaku terus terang, jangan menyesal kalau kubunuh dirimu biar
mati secara mengenaskan.”
Naik pitam Ku See-hong sesudah mendengar ucapan itu, dengan
suara mengge legar segera bentaknya:
“Perempuan sialan, dengan dasar apa kau ingin menyelidiki asal-
usulku…?”
Sekulum senyuman manis segera menghiasi ke mba li ujung bibir
nona cantik berbaju biru itu, bentaknya:
“Kau ingin tahu? Ilmu silat-lah dasarku.”
Tubuhnya direndahkan lalu telapak tangannya secepat sambaran
kilat diayunkan ke depan, angin pukulan yang tajam bagaikan pisau
menderu-deru di udara dan langsung menghanta m ke tubuh ana k
muda tersebut.
Baik soa l ilmu pukulan ma upun soal ilmu gerakan tubuh,
semuanya dilakukan secara se mpurna dan luar biasa hebatnya.
Ketika itu, Ku See-hong telah berhasil me maha mi jurus Hoo-han-
seng-huan yang diwariskan gurunya Bun-ji koan-su kepadanya.
Begitu melihat datangnya serangan maut dan si nona berbaju biru
itu, kontan saja timbul kesan yang jelek se kali terhadap lawannya
itu. Maka di kala serangan maut itu sudah berada di depan mata,
alis matanya segera berkenyit, sinar mata dingin yang menggidikkan
hati mencorong keluar, sa mbil menengadah dia berpe kik keras.

133
Berbareng dengan mengge manya suara pekikan tersebut, tiba-
tiba sepasang telapak tangannya digetarkan kian ke mari, di tengah
desingan angin tajam tercipta sebuah lingkaran cahaya yang amat
menyilaukan mata.
Menyusul terpancarnya cahaya berkilauan yang berlapis-lapis
tadi, tubuhnya mendadak miring ke sa mping, seluruh tubuhnya
me lintang lima depa di udara. Dalam posisi yang aneh kemudian
sepasang kakinya dijeja kkan ke udara dan me layang ke mbali ke
tanah.
Pada saat dasar kakinya telah mene mpel di tanah, tubuh bagian
atas Ku See-hong yang miring itu menerobos masuk ke tengah
gulungan angin pukulan dahsyat yang dilancarkan oleh gadis cantik
berbaju biru itu….
“Sreeet…” desingan angin taja m serasa me mbe lah di angkasa.
Segulung cahaya putih yang a mat menyilaukan mata, bagaikan
sambaran kilat cepatnya langsung menerobos ke depan dan
menyerang jalan darah Thian-khi-hiat di tubuh gadis berbaju biru
itu.
Gerakan yang barusan dipergunakan bukan lain adalah jurus
ketiga dari Hoo-han-seng-huan yang berna ma Tee-jin-hun-ga k
(Sukma Gentayangan Di Dasar Neraka).
Gadis cantik berbaju biru itu sebenarnya adalah murid
kesayangan seorang tokoh sakti dunia persilatan yang termasyhur
namanya di dunia ketika itu. Kelihaian ilmu silatnya boleh dibilang
luar biasa sekali, sehingga cuma beberapa gelintir manusia saja
yang sanggup menghadapi anca man serangannya.
Tapi, ketika ia menyaksikan datangnya serangan dahsyat dari Ku
See-hong itu, kontan saja paras mukanya berubah hebat. Sambil
me mbentak keras, selendang sutera di atas bahunya itu meluncur
ke depan dengan membawa desingan angin tajam… “Sreet! Sreeet!”
gulungan itu langsung menyongsong datangnya cahaya putih
tersebut.

134
Tubuhnya se mentara itu juga tak berani bertindak gegabah,
dengan me mpergunakan suatu gerakan yang indah dia segera
berputar lalu me layang ke sa mping.
Perlu diketahui, tiga gerakan aneh yang sakti di dalam jurus Hoo-
han-seng-huan tersebut sesungguhnya merupakan hasil ciptaan dari
Bun-ji koan-su setelah me mpelajari dan menyelidiki secara tekun isi
kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip tersebut.
Jurus serangan itu boleh dibilang lihay sekali dan mencakup
seluruh intisari ilmu silat yang berada di dunia ini… cuma sayangnya
pada waktu itu Ku See-hong belum berhasil menguasai serta
me maha mi makna yang sesungguhnya dari ketiga buah gerakan itu,
sehingga boleh dibilang kehebatannya belum mencapa i
sebagaimana mestinya.
Sekalipun de mikian, akan tetapi ketika ia gunakan kepandaian
maha dahsyat tersebut ternyata hasilnya betul-betul luar biasa dan
sama seka li di luar dugaan.
“Breeet…!”
Kedua selendang sutera yang berada di sepasang bahu nona
cantik berbaju biru itu terpapas kutung menjadi tiga-e mpat bagian,
sementara ikat pinggangnya yang berwarna biru juga turut putus
menjadi dua bagian….
Mimpipun nona cantik berbaju biru itu tak pernah menyangka
kalau gerak menghindar yang sesungguhnya dilakukan dengan
kecepatan yang luar biasa itu, ternyata belum berhasil menghindari
serangan lawan.
Kontan saja sepasang alis matanya berkenyit, hawa nafsu
me mbunuh menyelimuti wajahnya, mencorong sinar tajam yang
dingin dan menggidikkan dari balik matanya yang jeli itu. Ditatapnya
wajah Ku See-hong tanpa berkedip.
Sejak seribu tahun yang lalu, tiga gerakan dala m jurus Hoo-han-
seng-huan tersebut sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan.

135
Belum pernah ada seorang manusia pun yang berhasil me loloskan
diri dari anca man tersebut dalam keadaan sela mat.
Jadi sesungguhnya, keberhasilan si nona cantik berbaju biru itu
me loloskan diri dari anca man maut jurus itu tanpa menimbulkan
luka, adalah merupa kan suatu kejutan bagi umat persilatan.
00d=w00

Bab 7
TENTU saja, keberhasilan si nona itu pun separuhnya
dikarenakan jurus serangan yang dipergunakan oleh Ku See-hong
pada hari ini, belum mencapai pada kekuatan yang sebenarnya.
Kalau me mang de mikian, lantas apa sebabnya selama ha mpir
seribu tahun lamanya ini belum pernah ada seorang jago
persilatanpun yang sanggup me mecahkan jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut?
Sesungguhnya, bila jurus serangan ini dipergunakan, maka akan
muncullah beberapa ciri khas yang luar biasa dan aneh sekali, yaitu
di ka la menggerakkan tangannya di udara, selalu akan muncul
kilatan cahaya yang berkilauan… seluruh tubuh si penyerang itu
seakan-akan diselimut i oleh kilauan cahaya yang tajam sekali
bagaikan sinar matahari, sehingga sukar bagi orang lain untuk
menduga gerakan maca m apakah yang sedang dila kukannya itu.
Selain daripada itu, di dalam setiap gerakan jurus itu, meski
terdapat beberapa macam perubahan yang berbeda, tapi
kecepatannya sedemikian hebatnya sehingga serangkaian gerakan
tersebut boleh dibilang dilakukan ha mpir pada saat yang
bersamaan.
Sejak dulu sa mpai sekarang, tak seorang jago silat pun di dunia
ini yang tahu sebenarnya terdapat berapa macam perubahan di
balik setiap gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut. Orang
lebih-lebih tak tahu sampai di manakah keanehan maupun kesakt ian
dari gerakan jurus tersebut.

136
Ketika Ku See-hong me lancarkan serangan dengan
me mperguna kan jurus Tee-jin-hun-ga k tadi, sebetulnya dia hanya
bermaksud untuk menakut i-nakuti gadis itu saja.
Di luar dugaan, tenaga serangan yang dahsyat bagaikan
gulungan ombak sa mudra itu ternyata benar-benar terpancar
keluar, malahan pada mulanya dia masih tak berani percaya kalau
serangannya itu sanggup menahan sergapan maut dari nona cantik
itu.
Maka ketika dilihatnya nona cantik berbaju biru itu benar-benar
terdesak hebat sehingga menjadi mengenaskan sekali keadaannya…
untuk sesaat ia menjadi tertegun dan berdiri kaku di te mpat.
Gadis cantik berbaju biru itu me mbentak keras, tubuhnya
me layang ke muka dengan gerakan yang enteng seperti kapas,
telapak tangannya yang putih bagaikan ke ma la, secara beruntun
me lancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, ke mudian
kakinya menutul permukaan tanah dan me layang ke udara. Dari
suatu sudut yang aneh secara tiba-tiba melepaskan e mpat buah
tendangan berantai.
Setelah dibikin marah oleh serangan musuhnya, serangan
balasan dari gadis cantik berbaju biru itu menjadi sangat keji dan
sama seka li tidak terkandung be las kasihan.
Jurus-jurus serangan itu dilancarkan berangkai dan tiada
hentinya, sekaligus semua ancaman itu dikeluarkan, bahkan
kesempurnaan dari jurus serangannya itu boleh dibilang jarang
ditemui di kolong langit.
Secara beruntun Ku See-hong mendengus beberapa kali,
tubuhnya sudah terkena dua buah pukulan dan lututnya kena
ditendang satu kali, kesemuanya ini me mbuat pemuda itu kesakitan,
dan jatuh terduduk di atas tanah.
Melihat Ku See-hong sudah terjatuh ke tanah, nona cantik
berbaju biru itu baru tertawa cekikikan.

137
“Haaahh… haaahh… haaahh… orang she Ku, rupanya kulit
badanmu benar-benar tebal dan kuat seperti baja, dipukul keras
pun tak sampai ma mpus tapi… nonamu bertekad hendak
menghajarmu sa mpai babak belur ma la m ini sehingga merangkak di
tanah.”
Setelah berhenti sebentar dia me lanjutkan:

Jilid: 05
“KECUALI sekarang juga kau berlutut di depan nona mu dan
menye mbah tiga kali, mungkin saja nona masih bersedia
menga mpuni jiwa mu.”
Ku See-hong yang berulang kali dipaksa mencium tanah, benar-
benar merasa marah sekali, saking mendongkolnya dia sampa i
menggertak giginya keras-keras.
“Lonte busuk!” akhirnya dia me mbentak gusar.
“Aku orang she Ku me mang tak sanggup menangkan dirimu, kau
juga boleh bunuh boleh cincang tubuhku, tapi jika kau berani
me mperma inkan aku atau mencoba untuk mence mooh aku… Hmm!
Aku akan me ma ki tiga keturunanmu!”
Mendengar perkataan itu, si nona cantik berbaju biru itu
mengernyitkan alis matanya, sinar merah mencorong keluar dari
matanya yang jeli, tapi sejenak ke mudian telah lenyap tak berbekas.
Kembali ujarnya sa mbil tertawa cekikikan:
“Orang she Ku, rupanya kau punya semangat. Cuma… bila
ma la m ini kau tak mau menjawab pertanyaan nonamu, hmm! Akan
kupermainkan dirimu seperti joged monyet!”
“Lonte busuk! Aku akan beradu jiwa denganmu!” bentak Ku See-
hong dengan kening berkerut.

138
Kembali tangannya bergerak aneh, rupanya ia sudah bersiap-siap
untuk me mpergunakan tiga gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan
lagi.
Setelah merasakan kerugian yang cukup besar di tangan pemuda
itu, si nona cantik berbaju biru itu bertindak lebih cerdik, sebelum
pemuda itu se mpat me lancarkan serangannya, secepat angin
badannya menyelinap ke be lakang Ku See-hong. Ke mudian sa mbil
me mbentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba diayunkan ke
depan.
“Ploook!” terdengar suara benturan nyaring mengge ma
me mecahkan keheningan.
Di atas pipi Ku See-hong segera muncul lima buah bekas jari
tangan yang merah me mbara, menyusul ke mudian lima jari tangan
kanannya yang dipentangkan lebar-lebar langsung menya mbar baju
Ku See-hong dan me mbantingnya ke depan.
Ku See-hong segera merasakan keseimbangan badannya hilang,
tubuhnya lantas berguling tiga ka li di atas tanah dan akhirnya jatuh
terjerembab mencium tanah. Selain hidungnya bocor, mukanya
bengkak dita mbah lagi ra mbutnya terurai dan badannya belepotan
darah, keadaannya benar-benar mengenaskan sekali.
Melihat pe muda itu sudah mencium tanah, sambil menutup
bibirnya dengan jari tangan yang lentik, nona cantik berbaju biru itu
segera tertawa cekikikan. Pelan-pelan dia berjalan ke samping ana k
muda itu, ke mudian sa mbil ulurkan tangan kirinya dia berkata:
“Orang she Ku, tulangmu sudah pada rontok, belum? Mari, nona
me mbangunkan dirimu.”
Cemoohan dan hinaan yang berulang kali dilimpahkan si nona
kepadanya, membuat Ku See-hong yang tinggi hati itu menjadi naik
darah, matanya merah me mbara kalau bisa dia ingin sekali
me mbacok tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping, Apalagi
setelah meyaksikan tingkah laku serta ucapan si nona yang
setengah mengejek, darah terasa sirap keluar.

139
“Lonte busuk!” bentak Ku See-hong dengan gera mnya. “Jika
ma la m ini aku orang she Ku dapat keluar dari sini da la m keadaan
hidup, di ke mudian hari pasti akan kusayat kulit badanmu, sekarang
aku minta kau… kau… enyah dari sini…!”
Saking gusarnya Ku See-hong sa mpai merasa tak sanggup
me lanjutkan kata-katanya, seluruh badannya tampak gemetar
keras.
Ketika mendengar perkataan itu, nona cantik berbaju biru itupun
kelihatan agak tertegun, tapi setelah termangu beberapa saat
la manya, sikap itu pulih ke mbali seperti sediakala.
Ia tertawa ringan, lalu katanya dengan merdu:
“Aduh mak, bagaimana sih ka mu ini? Dengan bersungguh hati
orang sudah me mbantumu, kenapa kau malah menjadi marah-
marah hebat? Baiklah, anggap saja aku yang bersalah, kalau ingin
menghajar a ku, nah, hajarlah aku sepuas hatimu.”
Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan
polos, manja dan me mbawa sifat kekanak-kana kan, kesemuanya ini
me mbuat gadis itu ta mpak berta mbah cant ik dan menarik.
Untuk sesaat lamanya Ku See-hong berdiri melongo sehingga tak
tahu apa yang musti dilakukan, tapi rasa bencinya kepada gadis itu
sudah merasuk ke tulang sumsum. Dia menganggap gadis itu
adalah seorang gembong iblis pere mpuan yang berhati keji
bagaikan ular berbisa dan me mbunuh orang tanpa berkedip.
Maka dengan wajah hijau me mbesi, dia mendengus dingin:
“Hmmm… Sikapmu yang suka berlagak itu hanya bisa dipakai
untuk menggaet anjing-anjing ge ladak yang sudah buta matanya
atau mengidap penyakit edan. Hmmm…. Jika kau berani banyak
berbicara lagi, jangan salahakan kalau aku orang she Ku akan mula i
me ma ki dirimu lagi.”
Nona cantik berbaju biru itu mengerutkan dahi dan menghe la
napas sedih, katanya dengan le mbut:

140
“Kenapa sih kau begitu tidak percaya denganku? Sebenarnya aku
merasa benci sekali terhadap orang lelaki maca m kalian itu, tapi
sekarang entah apa sebabnya, setelah bertemu denganmu, aku
sepertinya tidak begitu benci lagi.”
Sepasang matanya yang jeli mongerling ke wajah Ku See-hong
berulang kali. Di balik keje lian matanya itu terkandung rasa cintanya
yang mendala m, apalagi wajahnya me mang cantik, sesungguhnya
cukup me mbuat hati orang terpikat.
Ku See-hong merasakan jantungnya berdebar keras, suatu
perasaan aneh yang hangat dan belum pernah dirasakan
sebelumnya. Secara lamat-la mat muncul dari dasar hatinya
perasaan aneh yang susah dilukiskan dengan kata-kata itu, boleh
dibilang be lum pernah dirasakannya se menjak dilahirkan.
Ketika dilihatnya Ku See-hong hanya me mbungka m diri tanpa
mengucapkan sepatah katapun, dengan manja si nona cantik
berbaju biru itu ke mbali berkata:
“Sebetulnya aku diutus oleh guruku untuk menyelidiki seorang
musuh besarnya pada mala m ini. Tapi bela kangan ini suara
nyanyian anehnya yang tiba-tiba terputus sampai beberapa hari
mendadak berkumandang ke mbali. Hal ini menimbulkan rasa
keheranan di hatiku….
“Barusan, aku me lihat kau muncul dari dala m kuil itu. Bahkan aku
lihat kau sa ma seka li tida k berpengaruh oleh daya pikat ira ma
pembetot sukma itu, maka aku menjadi keheranan bercampur
kaget. Menanti kau bertarung melawan Leng-cuan sam-pok dan
me mperguna kan jurus Hoo-han-seng-huan milik si orang aneh
tersebut, aku baru berani me mastikan bahwa kau pasti me mpunyai
hubungan yang luar biasa se kali dengan manusia aneh itu… Aaaih,
apakah kau bersedia untuk me mberitahukan kepadaku tentang
beberapa masalah?”
Ku See-hong yang me ndengar perkataan itupun merasa terkejut
sekali, ia tahu musuh besar gurunya terlalu banyak, bila dia terlalu
sering me mperguna kan ilmu sakti dari Bun-ji koan-su tersebut,

141
maka akhirnya orang persilatan pasti tahu kalau dia ada lah
muridnya.
Aaai… Padahal ia belum begitu menguasai tentang jurus-jurus
silat tersebut, bagaimana baiknya sekarang? Hmmm. Bukankah
suhu seringkali menyuruh a ku me mpergunakan jurus Hoo-han-seng-
huan tersebut untuk me mbunuh musuh? Musuh besar gurunya
begitu banyak, lebih baik dibunuh saja mereka yang berani datang
mencarinya, apa lagi yang musti ditakuti?
Ketika Ku See-hong berpikir sa mpai di situ, selapis hawa nafsu
me mbunuh yang mengerikan segera melintas di atas wajahnya.
Terdengar nona cantik berbaju biru itu kembali menghela napas
panjang, katanya lagi:
“Aku tahu kau tak akan menjawab pertanyaanku itu, tapi akupun
tak tega me mpergunakan cara yang keji untuk me maksa mu. Aaai…
Aku benar-benar merasa serba salah.”
Ku See-hong merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, ia
segera mendengus dingin, katanya ketus:
“Siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan,
sekalipun aku orang she Ku dianca m dengan golok di tengkuk, tak
nanti keningku akan berkerut, apalagi merengek minta dia mpuni.
Jika kau ingin me mperguna kan cara yang lebih keji lagi, mengapa
tidak kau cobakan kepadaku?”
Nona cantik berbaju biru itu lama sekali tidak mena mpilkan
perubahan apa-apa setelah mendengar perkataan itu, dia cuma
berdiri termenung di situ, keningnya berkerut, agaknya banyak
persoalan yang sukar dipecahkan olehnya.
Bintang bertaburan di angkasa, suasana terasa kelabu…. Tanpa
terasa Ku See-hong berdiri termenung di tempat dan terkenang
ke mbali kejadiannya di masa la mpau.
Gadis cantik berbaju biru itupun berdiri termangu di sana
bagaikan sedang mengigau dala m impian, dia berguma m lirih:

142
“Dia pasti bukan anak muridnya Bun-ji koan-su, kalau dia adalah
murid kesayangannya, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali.
Apalagi locianpwe yang berwatak aneh itu sudah bersumpah tak
akan menerima murid lagi, mana mungkin dia akan menerima
pemuda ini sebagai ahli warisnya?
Tapi kalau dilihat orang she Ku ini, kelihatannya ia benar-benar
sangat aneh dan rahasia sekali, siapa pula yang mengajarkan jurus
Hoo-han-seng-huan tersebut kepadanya? Ta mpaknya dia seperti
me milki pula sejenis kepandaian yang aneh se kali dala m tubuhnya.
Kepandaian itu tampaknya ma mpu untuk menahan serangan dari
siapapun. Kalau dilihat dari tenaga dala mnya saja, dia sudah cukup
ma mpu menjadi jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi
mengapa ia tidak me ngerti soal jurus silat? Aaai… kejadian ini
sungguh me mbingungkan hati orang, apakah mungkin manusia
aneh yang berdia m di kuil ini bukan Bun-ji koan-su?”
Walaupun nona cantik berbaju biru itu tampaknya seperti orang
yang binal dan tak berotak, sesungguhnya kecerdasan otaknya luar
biasa sekali, jadi orang pun sangat teliti.
Mendadak….
Ku See-hong merasakan nadi penting pada pergelangan tangan
kanannya dicengkera m oleh sebuah tangan yang halus dan le mbut,
menyusul ke mudian terdengar seseorang berkata dengan suara
yang dingin bagaikan es:
“Orang she Ku apakah kau adalah ahli waris dari Bun-ji koan-su?
Cepat katakan berterus terang!”
Ku See-hong segera merasakan sekujur badannya menjadi
kesemutan, peredaran darahnya berjalan terbalik yang
mengakibatkan seluruh tenaga serta kekuatannya seakan-akan
lenyap tak berbekas.
Dasar keras kepala dan berwatak angkuh, kendatipun mengalir
terbaliknya darah di da la m tubuhnya menyebabkan Ku See-hong
merasa amet menderita dan kesakitan, tapi dia hanya menggertak

143
gigi saja sambil menahan diri. Ku See-hong menjengek sinis,
dengan wajah menghina dia tertawa dingin tiada hent inya:
“Sejak tadi aku orang she Ku sudah tahu ka lau kau adalah
seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata dugaanku
tidak salah. Hmmm! Tidak ga mpang untuk me ma ksa aku berbicara,
lebih baik matikan saja hatimu itu!”
Si nona cantik berbaju biru itupun berdiri dengan wajah sedingin
es, alis matanya berkenyit dan ia tertawa dingin tiada hentinya.
“Heeehh… heeehh… heeehh… akan nonamu lihat kau bisa
bertahan sampai kapan!”
Tangan kanannya yang mencengkera m nadi Ku See-hong segera
digoncangkan keras-keras, ini me mbuat Ku See-hong kesakitan
setengah mati. Saking sakitnya, peluh dingin jatuh bercucuran
me mbasahi seluruh badan Ku See-hong, mulut luka yang tadi
tersambar cakar Leng-cuan sam-pok tersebut, terasa sakitnya bukan
kepalang.
Ilmu sakti me mbalikkan aliran darah manusia yang jauh bertolak
belakang dengan keadaan manusia biasa ini betul-betul a mat keji
dan keja m. Jangan toh tubuh Ku See-hong terdiri dari darah dan
daging, sekalipun terdiri dari baja kuat pun tak akan tahan.
Tak sa mpai setengah perminum teh ke mudian, ia sudah tak
kuasa menahan diri lagi, isi perutnya terasa sakit bercampur gatal,
seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang mene mbusi
hatinya. Peluh dingin jatuh bercucuran me mbasahi sekujur
badannya, sementara mulutnya mulai merintih.
Sistem me mbalikkan peredaran darah manusia yang diterapkan
di tubuh Ku See-hong ini sesungguhnya lihay sekali. Yang paling
penting adalah ketepatannya mengarah sasaran jalan darah di
tubuh orang. Entah musuh berilmu tinggi atau tidak, asal sudah
terkena serangan ma ka segenap tenaga perlawanannya akan
musnah tak berbekas, saat itulah dengan menganda lkan aliran hawa
murni yang ada dalam tubuhnya mengendalikan peredaran darah di

144
tubuh lawan, agar aliran darah lawan menga lir terbalik dan
menyerang isi perut.
Kepandaian yang bisa me mutar balikkan peredaran darah
manusia ini terdiri dari beberapa maca m, tapi kegunaannya sama,
meski caranya berbeda.
Salah satu di antaranya dina makan Hud-hiat-ni-hiat (Mengayun
Jalan Darah Membalikkan Peredaran Darah). Kepandaian ini
me mperguna kan ilmu totokan jalan darah yang khusus untuk
menyumbat jalan darah penting di tubuh manusia. Barang siapa
terkena totokan itu, maka darah yang beredar dalam tubuh dan
delapan nadinya akan terbalik menyerang ke hati. Cuma cara ini
reaksinya agak la mban.
Macam yang lain adalah kepandaian yang dipergunakan nona
berbaju biru itu, kepandaian tersebut dina makan Cui-khi-jian-hiat
(Menyumbat Hawa Menghancurkan Darah), ilmu yang diperguna kan
adalah ilmu cengkera man Kina-jiu-hoat, sedang yang dianca m juga
jalan darah penting di tubuh lawan.
Setelah jalan darah penting lawan kena dicengkera m, biasanya
dia akan me mpergunakan tenaga dala m yang dimilikinya untuk
menyumbat peredaran darah lawan agar aliran darah itu berbalik
menyerang isi perut. Cuma cirinya, orang yang tidak me miliki
tenaga dalam yang a mat sempurna, jangan harap bisa
me mperguna kan cara se maca m ini.
Ku See-hong merasakan kesakitan yang luar biasa sekali, kulit
mukanya sampai mengejang keras karena harus menahan
penderitaan, sementara sorot matanya memancarkan sinar
kebencian dan denda m menatap wajah gadis berbaju biru itu tanpa
berkedip.
Mendadak….
Ku See-hong mendengus tertahan… mendadak tangan kanannya
me lepaskan diri dari cengkera man gadis berbaju biru itu, ke mudian
tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh langsung
me lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis berbaju biru itu.
145
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini me mbuat gadis
berbaju biru itu menjadi terperanjat sekali, mimpipun ia tak
menyangka kalau Ku See-hong bisa meloloskan diri dari
cengkeraman Kina-jiu-hoatnya, apalagi menghadapi serangan yang
datangnya sangat aneh dan tangguh tersebut.
Dala m kejutnya gadis berbaju biru itu segera me mutar lengan
kirinya sambil dikebut kan ke depan, serentetan titik cahaya bintang
yang berkilauan bagaikan serentetan bunyi letusan yang berantai
bergema me mecahkan keheningan.
Dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan
cepatnya saling bertemu antara yang satu dengan lainnya.
“Blaaa mm…!” suatu ledakan keras yang me me kikkan telinga
segera bergema me mcahkan keheningan. Angin pukulan yang
sangat kuat itu segera menimbulkan desingan angin tajam yag
menya mbar ke e mpat penjuru, keadaan mengerikan seka li.
Akibat dari bentrokan kekerasan itu, tubuh Ku See-hong hanya
tergetar sedikit dan mundur dua langkah, mencorong sinar ge mbira
dari balik wajahnya, tidak seperti tadi bermura m durja.
Ketika menyambut tenaga pukulan dari Ku See-hong tadi, gadis
berbaju biru itupun dia m-dia m berseru:
“Wouw… hebat betul tenaga pukulan orang ini! ”
Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya dan berpekik
amat nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke
depan… “Weess!” sebuah pukulan dahsyat langsung dibabat ke
tubuh gadis berbaju biru itu.
Gerak serangan yang dilancarkan inipun dilakukan dengan suatu
gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, di mana angin
pukulannya dilepaskan, angin pukulan yang bagaikan gulungan
omba k raksasa di tengah sa mudra langsung menggulung ke muka.
Melihat datangnya ancaman tersebut gadis berbaju biru itu
berkerut kening, lengan kirinya yang halus dengan cepat
menciptakan gerakan satu lingkaran busur se mentara telapak

146
tangan kanannya secepat sambaran petir meluncur ke muka dengan
gerakan sakti.
Segulung hawa pukulan yang le mbut dan halus, tanpa
menimbulkan sedikit suara pun menyongsong datangnya ancaman
tersebut.
“Blaaa mm…!” suatu ledakan keras yang disertai dengan pancaran
hawa murni ke e mpat penjuru segera menyelimuti seluruh angkasa
di seke liling tempat itu.
Sepasang bahu Ku See-hong bergetar keras, tapi kakinya sa ma
sekali tidak bergeser dan tetap tegak di te mpat semula, mukanya
tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun.
Gadis berbaju biru itu ma kin terkesiap setelah menyambut
serangan dari Ku See-hong untuk kedua kalinya, dengan cepat dia
berpikir:
“Heran, kenapa serangan yang dilancarkan orang ini makin la ma
semakin hebat? Padahal di dala m me lepaskan serangan tadi,
kugunakan tenaga dala mku sebesar enam bagian. Nyatanya sama
sekali tak dapat meluka i dirinya. Bukankah ia sa ma sekali tak
mengerti a kan jurus silat ketika pertarungan dilangsugkan tadi?
Kenapa dua kali serangan yang terjadi sekarang ini seluruhnya
menggunakan jurus-jurus tangguh yang belum pernah kujumpa i
dalam dunia persilatan?”
Dala m pada itu, sekulum senyuman dingin telah tersungging di
ujung bibir Ku See-hong, ujarnya dengan angkuh:
“Nona betul-betul seorang tokoh sakti yang berilmu tinggi,
tenaga dalam yang kau milikipun a mat se mpurna, harap kau sa mbut
ke mbali sebuah pukulanku ini!”
Berbicara sampai di situ, pelan-pelan Ku See-hong mengangkat
telapak tangan kirinya, jari tangan dilengkungkan dan…
“Hiiaaat…!” diiringi bentakan keras, telapak tangan kanannya
diayunkan ke muka dengan cepat, menyusul kemudian telapak
tangan kirinya juga didorong sampa i ke tengah jalan. Angin pukulan

147
yang maha dahsyat, ibaratnya gumpalan awan di angkasa dengan
cepat menyelimut i seluuh te mpat dan menggulung tiba dengan
hebatnya.
Gadis berbaju biru itu amat terperanjat, bagaikan angin puyuh
tubuhnya berputar kencang, hawa pukulan yang le mbut segera
me mancar keluar dari sekeliling tubuhnya. Di tengah gulungan
angin pukulan yang berpusing, tiba-tiba berkuma ndang suara
benturan nyaring…
“Bluuuk! Bluuuk! Bluuuk! Tahu-tahu hawa pukulan kedua belah
pihak sa ma-sa ma lenyap tak berbekas.
Terkesiap seka li gadis bebaju biru itu menghadapi ke ma mpuan
Ku See-hong yang luar biasa itu, sebab: penambahan tenaga dalam,
perubahan gerakan, serta kemunculan jurus serangan dari si ana k
muda itu hakekatnya melanggar kebiasaan dunia persilatan.
Atau mungkin dia adalah seorang manusia licik yang berakal
busuk, pandai merahasia kan diri serta berilmu silat tinggi? Berpikir
demikian, mencorong sinar pe mbunuhan dari balik matanya yang
jeli, ujarnya ke mudian dengan suara dingin:
“Orang she Ku, rupanya kau adalah ma nusia licik, berakal busuk
dan pandai merahasiakan diri. Hmm, mala m ini jangan harap kau
bisa lolos dari cengkera man nona mu!”
Kemudian diiringi hentakan keras serunya ke mba li:
“Orang she Ku, sa mbut lah sebuah serangan dari nona mu!”
Di tengah seruannya, dengan menghimpun tenaganya sebesar
sepuluh bagian, gadis berbaju biru itu mengayunkan sepasang
tangannya ke depan.
Serangan ini dilancarkan dengan menghimpun tenaga dalamnya
sebesar sepuluh bagian, tentu saja hebatnya luar biasa. Begitu
pukulan dilepaskan, tenaga pukulan yang dahsyat seperti angin
puyuh segera menggetarkan pepohonan siong yang berada
beberapa kaki jauhnya dari sana.

148
Hampir sekujur badan Ku See-hong diselimuti oleh tenaga
pukulan yang dahsyat bagaikan a mbruknya bukit Tay-san itu, boleh
dibilang tak setit ik celah kosongpun yang berhasil dite mukan.
Di kala Ku See-hong melancarkan serangan untuk ketiga kalinya
tadi, sesungguhnya isi perut pemuda itu sudah digetarkan oleh
serangan lawan, tapi dasar keras kepala, dia segan menunjukkan
kele mahan di hadapan orang. Buru-buru hawa murninya disalurkan
untuk mengendalikan gejolak hawa murni di da la m hatinya
ke mudian setelah pusatkan pikirannya, dia bersiap-siap melancarkan
ke mbali serangannya. Maka tergetarlah perasaannya setelah
mendengar perkataan dari gadis itu.
Tapi pihak musuh tida k me mberi kese mpatan lagi baginya untuk
berpikir panjang, tenaga pukulan yang menggetarkan hati itu sudah
menggulung tiba dengan kecepatan bagaikan sa mbaran petir. Kali
ini sepasang telapak tangan Ku See-hong juga ditolak keluar dengan
sejajar dada.
Ku See-hong hanya merasakan tenaga tekanan yang menimpa
tubuhnya kali ini ibaratnya bukit Tay-san yang menindih kepala.
Sekujur badannya tergetar keras oleh tenaga tekanan hawa pukulan
itu sehingga hawa darahnya bergolak keras. Seketika itu juga
badannya terlempar ke udara dan melayang sejauh dua kaki lebih
dari tempat se mula, tapi ia masih sempat me layang turun di atas
tanah dengan sela mat tanpa menderita luka apapun.
Tertegun gadis berbaju biru itu sehingga untuk beberapa saat
la manya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dia benar-
benar mengira sudah bertemu dengan setan. Dengan tenaga
pukulannya yang mencapai sepuluh bagian itu, batu berada seratus
langkah di hadapannya pun akan hancur menjadi bubuk, kenapa
pemuda itu tida k menderita luka apa-apa? Kepandaian maca m
apakah itu?
Pelbagai ingatan dengan cepat berkeca muk da la m benak gadis
berbaju biru itu, sementara tubuhnya diiringi bentakan nyaring
segera menerjang ke hadapan Ku See-hong, sepasang telapak

149
tangannya bagaikan kupu-kupu yang menari di antara aneka bunga,
menimbulkan pusaran angin berpusing yang a mat kencang.
Dengan cepat gerakan tubuhnya juga ikut berkembang,
perubahan yang aneh bermunculan berulang-ulang, angin pukulan
tajam bagaikan pisau. Serangan yang dilancarkan juga semuanya
menganca m bagian-bagian me matikan di tubuhnya, serangan itu
begitu ganas, buas dan keji.
Pada mulanya Ku See-hong benar-benar kena didesak sehingga
harus berputar kian kemari dengan repotnya, dia harus
me mperguna kan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang sangat
lihay itu untuk berkelit dan menghindar kesana ke mari, tapi
ke mudian jurus sakti mula i bermunculan, makin bertarung semakin
mantap. Kenyataan ini segera menimbulkan pe lbagai kecurigaan
dan tidak habis mengerti buat orang lain.
Sesungguhnya akibat dari pertarungan yang dikobarkan si nona
berbaju biru itu serta ejekan dan ce moohan yang dilontarkan
olehnya pada mala m ini, hakekatnya telah menggali sumber ilmu
silat maha sakti yang bakal dimiliki oleh Ku See-hong di ke mudian
hari.
Ternyata, di kala Ku See-hong terkena ilmu Cui-khi-jian-hiat dari
si nona berbaju biru sehingga mengakibatkan jalan nadinya
tercengkeram dan merasakan siksaan akibat menga lir terbaliknya
peredaran darah…. Pemuda yang keras hati ini segera me meras
otaknya dan berusaha untuk mene mukan cara untuk me mecahkan
keadaan tersebut. Diapun lantas mengasah otaknya dan berusaha
untuk me mecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Siapa tahu, begitu otaknya berputar, Ku See-hong segera
mene mukan bahwa jurus serangan itu ha mpir boleh dibilang
mengandung pelbagai gerakan jurus silat yang sangat tangguh,
setiap gerakannya mengandung arti yang dalam dan perubahan yan
tak terhitung jumlahnya.
Pada dasarnya Ku See-hong me mang seorang lelaki yang tergila-
gila oleh ilmu silat, setelah mengetahui rahasia tersebut ia menjadi

150
terkesima dan segera terlelap dalam pemikiran yang mendala m.
Untuk sesaat lamanya diapun melupa kan penderitaan akibat dari
aliran darahnya yang me mbalik….
Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Ku see-hong berhasil
me maha mi pula beberapa jurus serangan aneh dari balik ketiga
gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Mendadak si anak muda itupun merasakan munculnya segulung
aliran hawa panas dan dingin dari dalam pusarnya. Seketika itu juga
aliran darahnya yang membalik segera menjadi tenang kemba li.
Maka Ku See-hong lantas menge luarkan ilmu gerakan aneh yang
barusan dipecahkan itu untuk meronta lepas dari cengkera man
gadis berbaju biru itu.
Perlu diketahui, Bun-ji koan-su Him C i Seng adalah seorang
manusia yang berotak brilian dan lihay. Semenjak lima puluh tahun
berselang ia sudah amat lihay, apalagi setelah me mperoleh kitab
pusaka Cang-ciong pit-kip serta me mahami isi dari kitab tersebut.
Dua puluh tahun berselang, dia menga la mi suatu musibah yang
merupakan tragedi pa ling besar dala m hidupnya. Dala m keadaan
sedih dan putus asa, sepanjang hari dia hanya memperdala m ilmu
yang diperolehnya dari kitab Cang-ciong pit-kip tersebut untuk
menghabiskan waktu senggang. Setiap waktu dia selalu me latih ilmu
tenaga dalam tingkat tingginya. Oleh sebab itu, kesempurnaan
tenaga dalam yang dimilikinya sekarang beberapa kali lipat lebih
dahsyat dibandingkan dengan lima puluh tahun berselang ketika ia
baru pertama kali terjun ke dunia persilatan dulu.
Ketika Ku See-hong masuk ke da la m kuil kuno itu, dala m se kilas
pandangan saja ia sudah tertarik kepada pemuda itu, dia bertekad
untuk melatih si anak muda itu agar menjadi sekuntum bunga aneh
dalam dunia persilatan pada seratus tahun belakangan ini.
Maka Bun-ji koan-su lantas me mpergunakan se mburan api dari
inti bumi, guyuran a ir sejuk dari sumber bawah tanah dan pukulan
tongkat untuk mene mbusi se mua nadi penting di seluruh tubuh Ku
See-hong agar dia bisa me mperoleh keadaan bagaikan berganti
tulang saja.
151
Selain ke mudian ia wariskan ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yang
luar biasa itu kepadanya, selanjutnya Bun-ji koan-su juga tak segan-
segannya menggunakan cara Tiong-giok-tay-hoat untuk
menyalurkan segenap tenaga dala m hasil latihannya sela ma puluhan
tahun ke tubuh Ku See-hong yang berakibat dia harus mati
kekeringan.
Sebaliknya gadis berbaju biru itupun me miliki serangkaian ilmu
silat yang lihay sekali. Sejak pertarungan pertama kali tadi, ia sudah
dibuat terkejut oleh ke ma mpuan Ku See-hong, ia merasa tenaga
pukulan musuh makin la ma se makin tangguh jurus serangan yang
dipakai juga makin la ma se makin aneh. Yang lebih terkesiap lagi
adalah daya tahan Ku See-hong terhadap tenaga serangan,
walaupun setiap pukulan mautnya selalu berhasil menghajar telak di
tubuh lawan, namun si anak muda itu masih tetap sehat wal’afiat
tanpa kekurangan sesuatu apapun. Kenyataan tersebut segera
menimbulkan berbagai pikiran dala m benaknya.
Mungkinkah Ku See-hong adalah jela maan dari sukma
gentayangan atau setan iblis?
Ku See-hong sendiri, walaupun dia m-dia m, merasa terperanjat
sekali oleh kepanda ian sakti yang dimiliki gadis berbaju biru itu, tapi
dia yakin me miliki beberapa maca m kepandaian sakti yang dapat
me lindungi kesela matan jiwanya hingga t idak sa mpa i mati dibunuh.
Maka di samping ia layani serangan-serangan musuh yang
gencar dan dahsyat, diam-dia m dia pun berusaha mengupas jurus-
jurus ampuh yang lebih menda la m dari gerakan Hoo-han-seng-huan
tersebut.
Setiap kali ia berhasil me maha mi satu jurus serangan, segera
dipraktekkan terhadap gadis berbaju biru itu, yang mana me ma ksa
gadis tersebut harus mengerahkan tenaga yang amat besar untuk
me loloskan diri.
Sekarang, bukan saja Ku See-hong sa ma sekali tida k mendenda m
terhadap gads berbaju biru itu, sebaliknya ia merasa berterima kasih

152
sekali kepadanya, dia bersedia melangsungkan terus pertarungan
sengit itu se la ma mungkin.
Dala m pada itu waktu sudah menunjukkan kentongan keempat,
suasana di depan kuil kuno itu tetap diiputi oleh keseraman,
kengerian dan keheningan. Di tengah bunyi pohon yang terhembus
angin, tertiup juga pusaran angin kencang yang menderu-deru.
Di tengah berkobarnya pertempuran sengit itu, dari arah timur
mendadak muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur
datang dengan kecepatan bagaikan sa mbaran petir.
Sungguh cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Hanya dalam
sekejap mata saja, seperti sukma gentayangan ia sudah tiba di
bawah sebatang pohon. Sepasang matanya yang tajam mengawasi
tak berkedip gadis baju biru dan Ku See-hong yang sedang
bertanding sengit. Sinar aneh me mancar keluar dari balik matanya.
Mendadak orang di bawah pohon itu mendongakkan kepalanya
dan berpekik nyaring, suaranya nyaring seperti pekikan naga yang
menjulang hingga ke udara dan me mecahkan keheningan mala m.
Sungguh tera mat sempurna tenaga dala m yang dimiliki orang itu,
hal mana bisa dibuktikan dari suara pekikannya yang nyaring itu.
Baru saja pekikan itu berkumandang, pekikan lain bersahut-
sahutan dari empat penjuru dan bergema tiada hentinya. Kalau
didengar dari suaranya jelas jumlah mereka t idak sedikit.
Dala m waktu singkat suara pekikan yang bergema dari e mpat
penjuru itu berge ma makin la ma se ma kin mendekati, menyusul
ke mudian e mpat sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar
biasa bermunculan dari e mpat arah delapan penjuru dan menuju ke
samping bayangan manusia tadi….
Sejak kedatangan bayangan manusia yang pertama tadi, gadis
berbaju biru itu sudah merasa. Tiba-tiba sepasang telapak
tangannya melancarkan sebuah serangan dengan jurus yang aneh
sekali, yang mana me maksa Ku See-hong mundur tujuh de lapan
langkah dari posisi se mula. Ke mudian sa mbil me mutar biji matanya
dan tersenyum manis kepada Ku See-hong, katanya lembut:
153
“Orang she Ku, kau jangan melulu guna kan aku seorang untuk
teman latihan, tuh lihat. Sudah ada banyak jago yang datang
menggantikan aku, berilah kese mpatan bagiku untuk beristirahat.”
Gadis berbaju biru itu adalah seorang gadis yang amat cerdik,
tentu saja diapun tahu kalau Ku See-hong telah memanfaatkan
kesempatan pertarungan itu untuk melatih ilmu silatnya.
Justru karena itu, gadis berbaju biru itu tidak melancarkan
serangan yang me matikan terhadap dirinya, kalau tidak… dengan
kepandaian yang dimiliki Ku See-hong sekarang ini, masih bukan
tandingan dari gadis tersebut.
Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras setelah
mendengar perkataan itu. Dia m-dia m pikirnya:
“Tabiat dari gadis ini sungguh aneh dan sukar diraba, sebentar ia
bersikap bermusuhan sebentar lagi ia bersikap bersahabat. Entah
apa maksud hatinya yang sebenarnya? Kalau didengar dari
perkataannya barusan, rupanya ia sudah tahu kalau kuguna kan
kesempatan dala m pertarungan tadi untuk mengupas kepanda ian
silatku.”
Setelah berpikir sampai di situ, dengan wajah tetap dingin
bagaikan salju, Ku See-hong tertawa dingin, katanya:
“Terima kasih banyak atas maksud baik nona, seandainya
pendatang itupun bermaksud untuk mencari gara-gara dengan aku
orang she Ku, tentu saja akan kuguna kan diri mereka sebagai kelinci
percobaan.”
Baru selesai dia berkata, dari balik kegelapan terdengar
seseorang berseru sambil tertawa dingin:
“Budak setan, kau betul-betul seorang perempuan liar yang tidak
beres perangainya. Lagi-lagi kau menggaet lelaki gentong nasi pada
ma la m ini, heeehh… heeehh…. Mala m ini lohu pasti a kan mengirim
kau untuk berpulang ke akhirat.”
Ku See-hong segera mendengus gusar, katanya dengan nada
menghina:

154
“Saudara, caramu berbicara sangat kasar dan tak tahu diri,
tampaknya kau sudah bosan hidup.”
Gelak tertawa nyaring bagaikan gembrengan bobrok yang
berdentang mengge ma di angkasa, ke mudian terdengar seseorang
berkata dengan suara menyeramkan:
“Kalau begitu, kau tentunya seorang yang bertulang keras. Baik,
lohu akan mencoba ke ma mpuanmu.”
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari ba lik kege lapan
berjalan keluar seorang ka kek tua berjubah panjang, berperawakan
pendek kecil dan bermuka panjang. Ia bertangan kosong, jenggot
putihnya sepanjang setengah jengkal dan menatap sekujur badan
Ku See-hong dengan sinar mata tajam.
Di belakang ka kek kecil bermuka panjang itu mengikuti e mpat
orang lelaki berbaju ringkas yang masing-masing menggondol
sebilah pedang di punggungnya.
Sesudah mengetahui jelas siapa gerangan yang datang, gadis
berbaju biru itu segera tertawa terkikik-kikik.
“Aku kira siapa yang telah datang? Rupanya lagi-lagi ka lian anak
monyet dari Lam-hay-huan-mo-kiong. Apakah lelaki busuk itu yang
me merintahkan kalian untuk datang menangkapku?”
Kakek ceking bermuka panjang itu mendehe m beberapa kali,
ke mudian sahutnya sambil tertawa,
“Aaah, terlalu sungkan, asal nona Im Yan cu bersedia balik
ke mbali ke rangkulan sau-kiongcu ka mi, tentu saja kami tak a kan
menyusahkan dirimu, kalau tida k terpaksa akan ka mi taklukkan
dirimu dengan me mpergunakan kekerasan.”
Paras muka Im Yan cu atau gadis berbaju biru itu segera
berubah menjadi dingin seperti es. Dengan kening berkerut dan
hawa pembunuhan menyelimuti se luruh wajahnya, ia berkata
dengan dingin:

155
“Kau boleh pulang dan beritahu kepada lelaki busuk itu, jangan
dianggap karena bapaknya adalah saudara seperguruan dari guruku
lantas dia mau main paksa. Huuuh, jika nona mu sa mpai na ik pita m,
tidak sungkan lagi a kan kubasmi kalian se mua dari muka bumi.”
Kakek ceking bermuka panjang itu tertawa dingin, katanya:
“Baik soal wajah maupun dala m ha l kedudukan, bagaimanakah
dari siau-kongcu ka mi yang tidak pantas untuk menda mpingimu?
Hmmm! Apakah kau sudah jatuh hati kepada lelaki goblok itu?”
Sembari berkata dengan sorot matanya yang tajam penuh
kebencian, kake k ceking itu berpaling ke arah Ku See-hong.
Sebagai seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar
pembicaraan tersebut Ku See-hong segera mengetahui hubungan
apakah yang terjalin antara Im Yan cu, si gadis cant ik itu dengan
orang-orang tersebut.
Selain dari pada itu diapun merasakan hatinya amat terkesiap,
sebab semenjak lima puluh tahun berselang, istana Huan-mo-kiong
di La m-hay sudah a mat tersohor namanya di da la m dunia
persilatan. Anggota Huan-mo-kiong tak pernah melakukan
perjalanan di antara Tionggoan. Konon ilmu silat merekapun
terhitung suatu kepandaian manunggal yang me miliki jurus-jurus
serangan yang luar biasa anehnya.
Sementara itu, Im Yan cu telah mengerling sekejap ke arah Ku
See-hong dengan sinar mata yang lembut dan penuh perasaan cinta
kasih, ke mudian kepada kake k ceking tadi katanya sambil tertawa:
“Kalau benar, mau apa kau? Nona mu me mang benar-benar telah
jatuh hati kepadanya, kau boleh segera pulang dan laporkan
persoalan ini kepada sau-kiongcu ka lian.”
Mendadak….
Serentetan suara dingin yang menyeramkan berkumandang
me mecahkan keheningan. Dengan suatu gerakan tubuh yang
sangat cepat bagaikan sambaran kilat kakek ce king itu melayang ke
samping Ku See-hong, ke mudian kedua jari telunjuk dan jari tengah

156
tangan kanannya dengan kecepatan tinggi menotok jalan darah C i-
ciat-hiat di tubuh pemuda itu, sementara kelima jari tangan kirinya
mencengkeram ke arah urat nadi lawan. Serangan ini bukan saja
dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi arah serangan
adalah dua buah jalan darah pent ing di tubuh lawan….
Dala m terperanjatnya, secepat kilat Ku See-hong me mbalikkan
badannya, telapak tangan kanan dibalik ke mudian langsung
me mbabat pergelangan tangan kake k ceking tersebut.
Ilmu silat yang dimiliki kakek ceking itu me mang luar biasa sekali,
dengan cepat pergelangan tangan kanannya ditarik ke belakang
menghindarkan diri dari bacokan tangan Ku See-hong, ke mudian
secara tiba-tiba ia menerjang ke depan dengan sodokan jari dan
sodokan sikut. Dua serangan dilancarkan berbareng, ke mudian
menyusul pula kaki kanannya me layang ke depan menghajar jalan
darah toa-hek-hiat di bawah pusar Ku See-hong.
Sejak pertarungan serunya melawan Im Yan cu tadi, sudah
banyak jurus serangan aneh yang berhasil dipaha mi Ku See-hong.
Dengan cekatan dia miringkan badannya ke sa mping menghindari
sikutan ka kek ceking itu, ke mudian bukannya mundur dia ma lah
maju lebih ke depan. Kedua jari tengah dan telunjuk tangan
kanannya diayunkan ke muka menotok badan kakek ceking itu,
sementara kaki kanannya diangkat dan menendang ke muka,
dengan ujung kakinya dia menotok jalan darah Hu-lian-hiat di atas
badan lawan.
Dala m istana Huan-mo-kiong di La m-hay, kakek ceking tersebut
me mpunyai kedudukan yang tinggi seka li, ilmu silat yang dimilikinya
pun belum pernah mene mui tandingan. Tapi tidak disangka olehnya
kalau Ku See-hong me miliki ilmu silat sede mikian lihaynya. Saking
kaget dan terkesiapnya dia sa mpai mundur dua langkah ke
belakang.
Im Yan cu yang menonton jalannya pertarungan tersebut, diam-
dia m menganggukkan kepalanya, selintas rasa girang yang sangat
aneh menghiasi wajahnya.

157
Walaupun beberapa jurus serangan yang dilakukan oleh kedua
orang itu dala m melangsungkan pertarungan jarak dekat tak
tampak kehebatannya, tapi dalam pandangan mata seorang yang
ahli, justru jauh lebih seru dan berbahaya daripada pertarungan
apapun.
Pertempuran itu pada hakekatnya merupakan suatu pertempuran
yang mempengaruhi mati hidup mereka. Sedemikian cepatnya
perubahan jurus tersebut, hingga pertarungan tersebut hanya
berlangsung dala m beberapa detik saja….
Di kala si kakek ceking itu mundur ke bela kang, lelaki berbaju
hitam yang berdiri di e mpat penjuru itu ada dua di antaranya yang
segera meloloskan pedang dan menyerang.
Di antara kilatan cahaya tajam yang berkilauan, tampak dua bilah
pedang itu menyerang jalan darah penting di seluruh badan Ku See-
hong. Dengan cepat Ku See-hong menggerakkan kakinya sambil
berputar untuk meloloskan diri dari anca man pedang itu, ke mudian
sambil me mbentak keras tangan kirinya diayun ke depan.
“Weeess…” sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh le laki
baju hitam yang berada di sebelah kanan, segulung angin puyuh
yang disertai dengan desingan angin taja m langsung me luncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
“Blaaa mm…” diiringi jeritan ngeri yang me milukan hati, lelaki
kekar itu terbawa oleh angin serangan yang maha dahsyat tersebut
sehingga mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat se mula. Darah
segar muncrat keluar dari mulutnya, setelah kaki tangannya
gemetar keras, tewaslah orang itu dala m keadaan mengenaskan.
Termangu-mangu Ku See-hong menyaksikan peristiwa itu, dia
tak menyangka ka lau ayunan telapak tangannya yang begitu
sederhana ternyata berhasil me mbinasakan musuhnya.

00d~w00

158
Bab 8
SUARA bentakan gusar menggelegar me mecahkan keheningan.
Lelaki yang satunya itu segera menggerakkan pedangnya
menciptakan bertitik-titik cahaya bintang yang berkilauan, secara
ganas dia menusuk punggung Ku See-hong keras-keras.
Begitu mendengar suara desingan taja m berge ma dari be lakang,
dengan cepat Ku See-hong berpaling. Ternyata ujung pedang yang
berkilauan itu sudah tingga l tiga inci dari atas badannya.
Dala m gelisah dan ce masnya telapak tangan kirinya segera
dilontarkan ke belakang ke mudian badannya berputar kencang,
tangan kanannya dengan gerakan yang cepat tapi aneh
mencengkeram perge langan tangan kanan lelaki tadi. Dala m suatu
perputaran yang diikuti dengan getaran, pedang tersebut tahu-tahu
sudah berpindah tangan.
Gerakan tubuh Ku See-hong ketika menghindarkan diri tadi
merupakan gerakan yang sakti dari Mi-khi-biau-tiong, sedangkan
jurus serangan yang digunakan untuk mera mpas pedang lelaki
tersebut merupakan suatu jurus serangan yang belum la ma berhasil
dipaha mi olehnya.
Lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pergelangan tangan
kanannya menjadi sakit, tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke
tangan musuh. Tanpa terasa dengan perasaan terkesiap dia mundur
ke belakang.
Selisih waktu yang dibutuhkan Ku See-hng untuk me mbunuh
seorang musuh dan mera mpas pedang seorang lawannya boleh
dibilang singkat sekali, sebab itulah si kakek ceking yang berilmu
silat sangat lihay pun tidak se mpat me mberikan pertolongannya.
Mencorong sinar mata bengis dan buas dari balik mata kakek
ceking itu, sa mbil tertawa seram dengan penuh kegusaran, katanya:
“Ta mpaknya ilmu silatmu hebat juga. Hmmm! Cuma sayang kau
telah me mbunuh seorang anggota Huan-mo-kiong dari La m-hay,
jangan harap kau bisa hidup lebih la ma lagi di dunia ini.”

159
Walaupun Im Yan cu merasa girang karena ilmu silat yang
dimiliki Ku See-hong telah me mperoleh ke majuan yang pesat,
namun diapun merasa terperanjat sekali karena pe muda itu telah
me mbunuh seorang ana k murid dari Huan-mo-kiong.
Dia cukup mengetahui akan kebuasan serta kekejaman orang-
orang Lam-hay, itu berarti dalam penge mbaraannya dalam dunia
persilatan di ke mudian hari, Ku See-hong akan banyak mene mui
kesulitan di tangan ana k murid istana Huan-mo-kiong.
Ku See-hong yang baru pertama kali mencoba kehebatan ilmu
silatnya, menjadi girang sekali setelah menyaksikan
keberhasilannya. Mendengar perkataan itu, sambil tertawa seram,
ujarnya:
“Apa sih hebatnya dengan Huan-mo-kiong dari La m-hay? Aku
orang she Ku akan selalu menantikan pe mbalasan dendam dari
kalian.”
Selama puluhan tahun belakangan, belum pernah pihak Huan-
mo-kiong mengala mi penghinaan sebesar apa yang diala minya
sekarang ini, maka di kala menyaksikan sikap sinis Ku See-hong
terhadap orang-orang Huan-mo-kiong, kontan saja kedua orang
lelaki berbaju hita m lainnya menjadi naik pita m.
Sambil me mbentak keras, pedang mereka disertai dengan
desingan angin tajam yang menyayat badan, bagaikan dua ekor ular
sakti langsung me mbacok ke tubuh Ku See-hong.
Mencorong sinar mata pembunuhan yang mengerikan dari balik
mata Ku See-hong, diiringi pekikan nyaring yang me mekikkan
telinga, badannya menerjang maju secara aneh. Sepasang
lengannya me mbentuk gerakan bayangan busur dari sa mping
badan, lalu sambil me mbentak sepasang tangan kiri kanannya
dibacok me nyilang. Dua gulung angin pukulan yang berat dan dala m
bagaikan samudera, secara terpisah menyerang kedua orang lelaki
berbaju hita m itu.
Gerak serangan yang dilancarkan pe muda itu se muanya aneh
dan luar biasa cepatnya. Kekuatan daya serangan tersebut ibaratnya
160
omba k samudra yang menggulung di tengah topan, kehebatannya
sungguh mengerikan.
Walaupun kedua orang lelaki berbaju hita m itu me miliki dasar
ilmu silat yang bagus, namun bagaimana mungkin bisa menahan
serangan dahsyat yang sangat mengerikan itu. Di tengah dua kali
jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dua orang lela ki yang tinggi
besar itu terlempar sejauh dua kaki lebih oleh tenaga serangan yang
maha dahsyat itu sehingga tubuhnya sama sekali tak berkutik lagi
untuk sela manya. Jelas mereka telah tewas di ujung angin pukulan
Ku See-hong yang sangat lihay itu.
Hawa pembunuhan yang sangat mengerikan ini sudah jelas
merupakan suatu anca man yang cukup mengerikan perasaan siapa
saja.
Tak terlukiskan rasa gusar si kake k ceking ketika dilihanya sudah
tiga orang anak buahnya yang tewas di tangan musuh dala m
sekejap mata. Sambil me mbentak gusar tubuhnya bagaikan pusaran
angin puyuh segera menerjang ke depan, tangan kiri me mainkan
jurus Tui-po-cu-lan (Mendorong O mba k Menahan Riak), sementara
tangan kanan me mainkan jurus Heng-toan-san-gak (Me mutuskan
Bukit Karang), satu jurus dengan dua gerakan serta tenaga yang
berbeda bersama-sama meluncur ke muka.
Begitu angin serangan dilepaskan, angin puyuh yang tajam
seperti sebuah jala yang tak berwujud, langsung menggulung tiba.
Kedahsyatannya cukup menggetarkan perasaan siapa saja.
Walaupun Ku See-hong telah me mpelajari beberapa maca m
kepandaian sakti yang penuh rahasia dari Bun-ji koan-su, meski
pertarungannya selama beberapa kali dala m se ma la man mena mbah
rasa kepercayaannya pada diri sendiri, tapi ia sendiri sama sekali
tidak mengerti sebetulnya sudah berapa banyak kepandaian yang
berhasil dia paha mi dan berapa banyak pula yang bisa dia
pergunakan.
Hawa murninya segera dihimpun ke dala m pusar, menyaksikan
serangan yang dilancarkan pihak lawan sangat kuat dan dahsyat,

161
dia sedikitpun tak berani bertinda k gegabah. Tangan kirinya pun
me lepaskan segulung tenaga pukulan yang le mbut untuk
me mancing serangan langsung pihak musuh, se mentara tubuhnya
me layang lima jengkal ke samping menghindarkan diri dari anca man
itu. Lalu badannya mela mbung, sepasang kakinya secara beruntun
me lancarkan tendangan kilat menganca m jalan darah W-too-hiat
serta Ki-lian-hiat di bawah perut lawan.
Begitu serangan menggulung tiba, tenaga pukulan serasa
menekan di dada, lalu tulang kakipun terasa sakit sekali bagaikan
disyat-sayat dengan pisau.
Dia m-dia m Ku See-hong merasa terperanjat, segera pikirnya:
“Tubuhku terlindung oleh aliran tenaga aneh yang amat hebat,
sedangkan kakiku sa ma sekali tidak. Entah bagaimana jadinya bila
kakiku sa mpa i terkena serangan…?”
Mendadak dia menarik ke mbali sepasang kakinya, lalu badan
sedikit bergetar. Badannya sudah jumpa litan di tengah udara dan
me layang mundur sejauh satu kaki lebih dari te mpat se mula.
Kakek ce king itu mendengus dingin dengan nada yang
menyeramkan, sambil berebut maju ke depan, sepasang telapak
tangannya melancarkan bacokan berulang kali. Gulungan tenaga
pukulannya seperti gulungan ombak di tengah samudera meluncur
datang berlapis-lapis.
Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong karena
marah, sambil menggertak gigi tangan kiri kanannya secara aneh
me lancarkan pukulan-pukulan berantai. Ternyata kedahsyatannya
pun mengerikan seka li, setiap serangan yang dilepaskan tentu
me mbawa desingan angin tajam yang ma mpu untuk
menghancurkan batu nisan.
Sebagaimana diketahui, secara resmi Ku See-hong belum pernah
me mpe lajari serangka ian ilmu pukulan. Jurus-jurus serangan yang
dipergunakannya sekarang kebanyakan adalah merupakan kupasan-
kupasan yang berhasil ditemukannya sendiri dari tiga gerakan jurus
Hoo-han-seng-huan tersebut.
162
Akan tetapi, nyatanya serangan yang dipergunakan secara
mengawur hanya berdasarkan perasaan saja itu, justru telah
berubah menjadi serangka ian ilmu pukulan yang ganas, buas dan
lihaynya bukan a lang-kepalang….
Pada waktu itu, dia telah mendapatkan tenaga murni warisan
Bun-ji koan-su yang telah dilatih se la ma puluhan tahun, ke mudian
me mpe lajari pula ilmu Khikang Kan-kun Mi-siu yang maha sakti
tersebut, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang
boleh dibilang menga lir tiada hentinya seperti air dari gunung, kuat,
lancar dan tiada berputusan….
Kenyataan ini bukan saja jauh di luar dugaan si kakek ce king
tersebut, sekalipun Ku See-hong juga merasakan rasa kaget dan
tercengang. Ia tak mengira kalau di da la m tubuhnya terdapat
tenaga dalam yang begini se mpurnanya. Akan tetapi, diapun tahu
bahwa kese muanya ini adalah warisan berharga yang disalurkan
Bun-ji koan-su kepadanya.
Kiranya sampai detik itu Ku See-hong masih belum tahu kalau
tenaga murni yang dipunyai Bun-ji koan-su telah disalurkan se mua
ke dalam tubuhnya hingga mengakibatkan tokoh maha sakti itu
tewas akibat kekeringan.
Demikianlah serangan de mi serangan yang dilancarkan Ku See-
hong kian la ma kian berta mbah kuat, dibandingkan dengan
serangan si kake k ceking yang ma kin la ma se ma kin gencar
menciptakan suatu keadaan yang seimbang. Dengan demikian
pertempuran yang me libatkan kedua orang inipun ma kin la ma
semakin sengit.
Beberapa gebrakan ke mudian, tenaga pukulan mereka berdua
sudah me liput i wilayah seluas dua kaki lebih. Daun kering dan
ranting kecil yang berserakan di tanah sudah ikut melayang-layang
di udara, deruan angin pukulan yang dahsyat semakin me mekikkan
telinga.
Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran seru
yang jarang dijumpa i dala m dunia persilatan.

163
Im Yan cu yang berilmu silat sangat tinggi pun, saat itu dibikin
kaget bercampur tercengang setelah menyaksikan kejadian itu. Dari
tadi sampai sekarang dia mengawasi terus kepandaian silat yang
dimiliki Ku See-hong, yang membuatnya terperanjat adalah kungfu
yang dimiliki Ku See-hong tersebut kian detik kian berta mbah maju
pesat. Kenyataan semacam ini benar-benar merupa kan suatu
peristiwa yang aneh sekali, hal mana me mbuat si nona yang cerdik
pun dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.
Ketika baru pertama kali berputar tadi, Ku See-hong masih
kelihatan asing sekali dengan jurus-jurus serangannya. Sambil
bertarung menghadapi musuh, dia m-dia m dia me mutar otak untuk
me mikirkan perubahan-perubahan selanjutnya guna menghadapi
ancaman lawan. Tapi la mbat laun serangan-serangan yang
dipergunakan olehnya makin la ma se makin dahsyat, jurus-jurus
serangannya pun semakin aneh dan sakti, maka seluruh
perhatiannya pun segera dipusatkan ke tubuh lawan, otomatis
tenaga serangannya juga semakin bertambah kuat dan hebat.
Sebenarnya kakek ceking itu seorang jago kawakan yang sudah
pernah mengala mi beratus-ratus kali perte mpuran seru. Akan tetapi
belum pernah dia jumpai seorang musuh tangguh yang begitu
anehnya seperti Ku See-hong.
Tanpa terasa hawa murninya dihimpun ke mbali, lalu turun
tangan dengan sepenuh tenaga. Mendadak saja tenaga serangan
yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya semakin kuat.
Pukulan de mi pukulan yang dilancarkan ibarat bacokan ka mpa k
yang me mbelah bukit, desingan angin taja m se makin me nderu-
deru.
Dala m hati kecilnya dia lantas berpikir:
“Entah siapakah suhu bocah ini? Mungkinkah seperti suhu
kiongcu ka mi dan Im Yan cu yang merupakan seorang tokoh sakti
dari dunia persilatan? Tapi masih ada jagoan mana lagi dala m dunia
persilatan dewasa ini yang me miliki kepanda ian silat jauh melebihi
kiongcu ka mi, Han-thian It-kia m (Pedang Sa kti Dari Langit) C ia Cu-
kim?”
164
Sambil me layani suatu pertempuran yang seru dan gencar, tiada
hentinya kakek ceking itu me mutar otak untuk menduga-duga asal-
usul perguruan dari Ku See-hong.
Tapi mana ia sangka kalau Ku See-hong sesungguhnya adalah
murid terakhir dari Bun-ji koan-su, si manusia berbakat dari dunia
persilatan yang selama seratus tahun belakangan ini tiada
tandingannya di kolong langit?
Sudah barang tentu hubungan seperti ini tak akan diduga oleh
siapapun juga, kecuali bila Ku See-hong mengguna kan jurus Hoo-
han-seng-huan tersebut.
Ku See-hong sendiripun dia m-dia m merasa amat terperanjat
ketika dilihatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan makin la ma
semakin gagah dan tenaga pukulannya makin la ma se makin
dahsyat, pikirnya:
“Heran, kakek ceking yang sedikitpun t idak menarik ini me ngapa
bisa me miliki tenaga pukulan yang sedemikian dahsyat dan
hebatnya?”
Berpikir sampa i di situ, Ku See-hong lantas mengambil keputusan
untuk menghadapi dengan jurus sakt i Hoo-han-seng-huan yang
terdiri dari tiga gerakan itu.
Di pihak lain, sementara itu si kake k ceking juga bersiap-siap
menggunakan jurus serangan yang me matikan untuk
me mbinasakan lawannya.
Terdengar suara bentakan nyaring menggelegar me mecahkan
keheningan, tiba-tiba tulang belulang di sekujur badan si kake k
ceking itu me mperdengarkan suara ge merutuk yang me mekikkan
telinga. Setelah melompat ke udara mendadak tubuhnya berhenti
tak bergerak, tangan kanannya secara aneh melancarkan tiga buah
pukulan dahsyat ke arah Ku See-hong.
Tampak serentetan cahaya berkilauan seperti sinar bintang
menggulung dengan hebatnya ke arah depan. Segulung hawa

165
pukulan yang kuat, bagaikan gulungan ombak dahsyat di tengah
samudra langsung meluncur ke depan….
Satu ingatan dengan cepat me lintas di dala m benak Ku See-
hong, itulah gerakan pertama dari jurus Hoo-han-seng-huan yang
disebut Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung).
Pekikan nyaring yang menggetarkan angkasa tiba-tiba
berkumandang dari mulut Ku See-hong, ke mudian lengannya
berputar secara aneh. Di antara perputaran tadi, cahaya tajam yang
berkilauan segera me mancar ke luar dari sekujur badannya.
Bagaikan sukma gentayangan saja, secara aneh Ku See-hong
menerjang ke muka dan meluncur masuk ke balik gulungan angin
pukulan tersebut.
“Sreeett,” serentetan cahaya putih secepat kilat meluncur ke
depan.
Menyusul ke mudian, kakek ce king itu me mperdengarkan pekikan
ngeri yang me milukan hati menjelang saat ke matiannya.
Sebuah batok kepala yang sudah hancur dan penuh berlepotan
darah menggelinding di atas tanah, darah segar bercucuran
me mbasahi seluruh permukaan tanah, sungguh mengerikan sekali
ke matiannya.
Menyaksikan akibat dari serangannya itu, untuk sesaat lamanya
Ku See-hong menjadi tertegun, mimpipun dia tak menyangka ka lau
jurus Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung) yang
dipergunakannya itu me miliki daya kekuatan yang begini
dahsyatnya.
Im Yan cu sendiripun dibikin sampai terbelalak matanya dengan
mulut melongo sa mpai la ma sekali dia baru bisa menghe mbuskan
napas panjang.
Kekeja man dan kebrutalan Ku See-hong di dalam melancarkan
serangannya menimbulkan perasaan bergidik da la m hati kecilnya,
apalagi dala m satu mala man saja, ia telah me mbinasakan beberapa
orang jago lihay kelas satu di dala m dunia persilatan.

166
Pada saat itulah, mendada k….
Dari kejauhan sana berkumandang suara pekikan panjang yang
amat me me kakkan telinga. Suara pekikan itu rendah tapi berat,
menggetarkan perasaan Im Yan cu maupun Ku See-hong yang
berada di sana.
Menyusul ke mudian, ta mpaklah sesosok bayangan manusia entah
dari mana datangnya, tahu-tahu sudah berdiri lebih kurang tiga kaki
di hadapan Ku See-hong tanpa menimbulkan suara barang
sedikitpun juga.
Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, mukanya coreng-
moreng dengan beraneka warna hingga kelihatan jelek seka li. Dia
berdiri ka ku di situ tanpa bergerak maupun mengucapkan sepatah
kata.
Bukan saja dandanan orang itu ta mpak sangat aneh lagipula arah
kedatangannya juga sukar diduga, hingga mendatangkan suatu
perasaan aneh yang menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.
Bergidik hati Im Yan cu setelah menyaksikan sorot mata orang
yang amat tajam, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki manusia
aneh ini a mat lihay, bahkan dia sendiripun be lum ma mpu untuk
menandinginya….
Tapi siapakah dia? Benarkah dala m dunia persilatan masih
terdapat manusia aneh yang begini lihaynya?
Sekali lagi Im Yan Cu menga mati paras muka manusia aneh itu
dengan seksama, akhirnya dia baru tahu kalau manusia aneh itu
hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia. Tak heran kalau
mukanya begitu je lek dan mengerikan.
Ku See-hong sendiripun segera me mpertinggi kewaspadaannya
ketika me lihat akan ke munculan lawan yang begitu mendadak.
Perasaan halusnya telah berkata bahwa orang itu datang karena
hendak mencari dirinya.
Benar juga, dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan
pisau belati, manusia aneh bertopeng itu mengawasi sekejap mayat-

167
mayat yang terkapar di tanah akibat termakan oleh tiga gerakan
jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong tadi, yakni: Jian-sat-kui-
pok, Tu-cing-kui-pok, serta si kakek ceking.
Pada mulanya sinar mata itu masih me mperlihatkan keragu-
raguannya, tapi sejenak kemudian telah berubah dengan sinar buas
yang teramat mengerikan. Diawasinya wajah Ku See-hong itu tanpa
berkedip.
Im Yan cu yang lebih berpenga la man segera dapat merasakan
sesuatu yang tak beres pada manusia aneh itu. Ia dapat melihat
betapa besarnya hasrat manusia aneh itu hendak me mbunuh Ku
See-hong. Tanpa terasa ia lantas berpikir:
“Ilmu silat yang dimiliki manusia aneh bertopeng ini bukan
kepalang lihaynya, aku jelas tak sanggup untuk menandinginya.
Andaikata ia benar-benar akan menyerang dengan keji terhadap Ku
See-hong, kendatipun dia memiliki khikang pelindung badan yang
sangat aneh, kuatirnya dia tetap tak akan tahan juga.”
Berpikir sa mpai di situ, diam-dia m Im Yan cu menghimpun
tenaga dalamnya untuk me mpersiapkan diri. Tak terlukiskan rasa
tegang yang menceka m perasaannya sekarang, dia sendiripun tida k
mengerti apa sebabnya dia bisa ikut-ikutan menjadi sede mikian
tegangnya.
Bagaimana dengan Ku See-hong sendiri? Tentu saja diapun tidak
terkecuali, ma lah selain rasa tegang, diapun merasakan hatinya
sangat tidak tenteram.
Kemunculan manusia aneh bertopeng itu seketika merubah
suasana di sekitar tempat itu menjadi lebih tegang dan mengerikan,
mengikut i berlalunya sang waktu, suasana yang istimewa dan serba
mence ka m itu kian la ma terasa kian bertambah tebal….
Mendadak manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin dengan
suaranya yang menggidikkan hati, ke mudian kepada Ku See-hong
tegurnya dengan nada ketus:

168
“Kaukah yang me mbinasakan ketiga orang yang terkapar di atas
tanah itu?”
Yang dimaksudkan adalah ketiga orang yang tewas oleh jurus
Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong itu.
Kendatipun Ku See-hong merasakan sesuatu rasa takut yang
sangat aneh di dalam hati kecilnya semenja k berjumpa dengan
manusia aneh bertopeng itu, tapi keangkuhan serta kekerasan
kepalanya me mbuat ia pantang menyerah dengan begitu saja.
Dengan wajah dingin bagaikan es dia mendengus ketus, lalu
jawabnya dengan sinis:
“Betul, akulah yang menghantar keberangkatan mereka, mau
apa kau…?”
Tercekat perasaan manusia aneh bertopeng itu sehabis
mendengar perkataan tersebut, diam-dia m pikirnya:
“Aneh, kenapa dia bisa me miliki keberanian sebesar ini?”
Berpikir de mikian, manusia aneh itu bertopeng itu segera
mendengus dingin, la lu katanya:
“Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan Bun-ji koan-su si
makhluk tua itu? Se karang dia berada di ma na?”
Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, yang
mana me mbuat Ku See-hong benar-benar merasakan hatinya a mat
terperanjat, tapi dia pun merasa gusar sekali, sebab dia menyebut
gurunya sebagai seorang makhluk tua.
Ku See-hong sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu,
ma lahan dengan dingin dia balik bertanya:
“Lantas siapa pula kau? Buat apa kau ajukan pertanyaan tersebut
kepadaku?”
Sekali lagi manusia aneh bertopeng itu merasa terkesiap tapi di
luaran dia tetap berkata dengan dingin:

169
“Kau tak usah mengurusi siapa aku. Sebelum ajalmu tiba nanti
kau bakal mengetahui dengan sendirinya.”
“Kalau begitu pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan pun
jangan harap bisa me mperoleh jawaban yang sebenarnya dari
diriku.”
Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa seram:
“Heeehh… heeehh… heeehh… buat apa mesti menunggu
jawabanmu lagi?” ejeknya, “Dari mimik wajahmu ketika berkata
tadi, aku telah me mperoleh jawaban yang sesungguhnya.”
Mendengar perkataan itu, dia m-dia m Ku See-hong berpikir lagi:
“Orang ini betul-betul jahat dan busuk, tapi siapakah orang ini?”
Sementara itu, manusia aneh bertopeng itu sudah berkata lagi
dengan suara yang menyeramkan:
“Heeehh… heeehh… heeehh… Kan-kun Mi-siu khikang, ilmu
gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong-sin-hoat, tiga gerakan jurus Hoo-
han-seng-huan, rupanya sudah kau pelajari se muanya?”
Mendengar ucapan ini, Ku See-hong merasakan hatinya sema kin
terkesiap, “Mungkinkah aku telah bertemu dengan setan?” Demikian
ia me mbatin, “Kalau tida k apa sebabnya ia bisa mengetahui seluruh
kepandaian rahasia perguruanku?”
Im Yan cu juga tampak tercengang bercampur kaget setelah
mendengar perkataan itu. Dari penuturan suhunya ia pernah
mendengar tentang ketiga maca m kepandaian sakti andalan Bun-ji
koan-su tersebut. Mungkinkah Ku See-hong adalah muridnya? Dan
mungkinkah ketiga maca m ilmu silat maha sakti tersebut telah
berhasil dipelajarinya?
Satu ingatan dengan cepat melintas pula di dala m benak Ku See-
hong, ia jadi teringat ke mba li dengan pesan dari Bun-ji koan-su:
“Ilmu Khi-kang Kan-kun-mi-siu-kang-khi adalah ilmu sakti yang
paling top dala m kepandaian silat, jika kepandaian sakti ini sampa i

170
diketahui oleh umat persilatan maka kehidupanmu di dunia ini a kan
berubah menjadi sangat berbahaya, ingat… ingat…!”
Teringat akan hal itu, Ku See-hong segera berlagak pilon,
bagaikan tida k me maha mi perkataan orang, dia lantas berseru:
“Hei, apa yang kau katakan? A ku sa ma seka li tidak mengerti!”
Manusia aneh bertopeng itu terkekeh-kekeh menyera mkan,
katanya:
“Heeehh… heeehh… heeehh… tidak kusangka kalau kau pun
seorang manusia licik yang pandai berlagak pilon, kalau begitu akan
kuhantar keberangkatanmu ma la m ini juga!”
Baru selesai dia berkata, Im Yan cu telah menerjang maju
dengan gerakan lincah, sa mbil tertawa dingin segera tegurnya:
“Hei, kau ingin menjadi seorang ne layan beruntung yang tinggal
me mungut hasil? Hmm, tidak akan segampang itu, dia adalah
musuh besarku, ma la m ini aku hendak mencincangnya sendiri
menjadi berkeping-keping, aku tidak me mperkenankan siapapun
untuk menca mpuri urusan ini.”
Setelah menyaksikan gerakan tubuh dari Im Yan cu tadi, manusia
aneh bertopeng itu tertawa dingin, kemudian setelah mendengus
tegurnya:
“Siapakah kau? Berani benar berbicara besar di hadapanku,
hmmm… nant i, kau boleh sekalian turut berangkat bersamanya!”
Im Yan cu tertawa terkekeh-kekeh dengan merdunya. Suara
tertawanya indah dan le mbut bagaikan kicauan burung nuri,
suaranya penuh mengandung daya pikat yang me mbetot sukma.
Agak tertegun manusia aneh bertopeng tersebut oleh gelak
tertawa orang, dengan cepat dia berpikir:
“Heran, kenapa bocah perempuan ini bisa de mikian miripnya
dengan sumoayku? Di tengah ke merduan suara tertawanya,
terdapat semacam daya pikat yang sanggup menggetarkan sukma
orang?”

171
Sementara itu, perasaan Ku See-hong la mbat laun telah menjadi
tenang kembali. Dia hendak me mbiarkan kedua orang itu bertarung
sendiri lebih dulu, ke mudian secara dia m-dia m ia baru akan
ngeloyor pergi meninggalkan te mpat itu.
-oo0dw0oo-

Jilid: 6
Im Yan cu telah berhenti tertawa.
Dengan muka yang dingin kaku tanpa e mosi katanya ketus:
“Nona mu bernama Im Yan cu, mau apa kau?”
Ucapan si manusia aneh bertopeng pun berubah menjadi jauh
lebih halus dan le mbut, dia lantas bertanya:
“Tolong tanya nona, siapa na ma gurumu? Buat apa musti sa ling
berbentrok dengan ke kerasan?”
“Hmmm. Kau masih be lum berha k untuk menanyakan soal
guruku, bila punya kepandaian silahkan saja turun tangan, selama
hidup guruku cuma me mpunyai seorang saudara seperguruan dan
seorang musuh besar, dengan semua jago persilatan di dunia ini
beliau tak ada sangkut pautnya, mengerti…?”
Ku See-hong yang me ndengar perkataan itu juga merasa
keheranan, diam-dia m ia lantas berpikir: “Heran, kenapa tabiat
gurunya juga begitu aneh dan kukoay-nya? Dalam dunia seluas ini
cuma dua orang saja yang dikenalnya, mungkin musuh besar yang
dia maksudkan tadi adalah guruku Bun-ji koan-su….”
Manusia aneh bertopeng sendiripun tak berhasil menebak asal-
usul perguruan Im Yan cu meski dia cerdik dan luas
pengetahuannya, maka sambil tertawa dingin dengan suara
menyeramkan katanya:

172
“Baik. Kalau begitu, jangan salahkan jika aku turun tangan keji
kepadamu….”
“Tak usah sok dulu,” ejek Im Yan cu sa mbil tertawa merdu,
“Siapa tahu kalau kekejian nona mu berpuluh-puluh ka li lipat lebih
hebat daripada dirimu?”
Di tengah pe mbicaraan tersebut, telapak tangan kanannya
segera diayunkan ke depan, “Weeess…” segulung angin pukulan tak
berwujud yang le mbut langsung me luncur ke depan dan
menghanta m jalan darah pent ing di dada manusia aneh tadi.
Semenjak tadi Im Yan cu sudah tahu kalau manusia aneh
bertopeng itu me miliki ilmu silat yang amat lihay, maka begitu turun
tangan dia lantas me mperguna kan jurus sakti yang ganas dan
me matikan.
Manusia aneh bertopeng itu me mang seorang jagoan, yang
pandai melihat serangan orang, mendadak dia me mbalikkan
tubuhnya dan melayang mundur sejauh beberapa langkah dari
tempat semula, tangan kirinya kemudian menyambar ke muka dan
secepat kilat mencengkeram bahu Im yan cu.
Dengan cekatan Im Yan cu mengigos ke sa mping, lalu sa mbil
me mba likkan tangannya melancarkan serangan dengan jurus Hui-
tim cing-ta m (Me mbersihkan Debu Berbicara Santai) dia balas
mencengkeram nadi penting di atas tangan kiri manusia aneh
tersebut.
Sungguh cepat gerak serangan dari manusia aneh bertopeng itu.
Perubahan yang dilakukan juga amat aneh dan sakti, baru saja
kebasan tangan Im yan cu me nyambar ke depan, ia telah merubah
serangan cengkeramannya menjadi babatan.
Pergelangan tangannya sgera direndahkan ke bawah, setelah
me lepaskan diri dari sa mbaran tangan Im yan cu, jari tangannya
setegang tombak langsung me njojoh jalan darah Ciang-keng-hiat di
atas bahu Im yan cu. Jurus serangan ini lihay sekali, belum lagi
ujung jarinya mengenai di sasaran, segulung desingan angin tajam
telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
173
Sekalipun Im Yan cu berilmu silat sangat tinggi, diapun tak berani
bertindak gegabah, cepat badannya miring ke bela kang lalu dengan
enteng melesat mundur sejauh beberapa kaki. Manusia aneh
bertopeng itu tertawa seram, dengan sorot mata setajam se mbilu
dia tatap sekejap wajah Ku See-hong, kemudian dengan gerakan
tubuh yang cepat seperti sa mbaran petir ia menerjang maju ke
muka.
Ku See-hong a mat terkesiap, segenap tenaga dalam yang
dimilikinya segera dihimpun menjadi satu, secepat kilat sebuah
pukulan dilontarkan ke muka.
Di tengah desingan angin pukulan yang me mekikkan telinga,
bagaikan gunung yang ambrol, gulungan tenaga pukulan yang
maha dashyat dengan cepat meluncur ke depan.
Sekali lagi manusia aneh berkerudung itu me mperdengarkan
suara tertawa dinginnya yang menggetarkan sukma, sepasang
ujung bajunya dikebaskan ke muka bersa maan dengan gerak maju
tubuhnya.
Seketika itu juga, segenap tenaga pukulan yang dilancarkan Ku
See-hong dengan sepenuh tenaga itu seakan-akan terjerumus ke
dalam bungkusan selapis hawa pukulan yang lembut dan empuk,
ke mudian dala m waktu singkat lenyap tak berbekas.
Im Yan cu segera me mbentak keras ketika menyaksikan manusia
aneh bertopeng itu menerjang ke arah Ku See-hong, sepasang
telapak tangannya diayunkan ke depan, segulung tenaga pukulan
yang amat berat dengan cepat mengancam jalan darah penting di
belakang punggung ma nusia aneh itu….
Sambil tertawa seram, telapak tangan kiri manusia aneh
bertopeng itu tiba-tiba ditarik ke bela kang, ke mudian tubuhnya
berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan aneh, setelah itu
telapak tangan kanannya mendadak dimuntahkan ke luar. Segulung
desingan angin taja m secepat kilat menggulung ke tubuh Ku See-
hong dengan hebatnya.

174
Tenaga pukulan yang dilontarkan itu bagaikan gulungan ombak
dahsyat di tengah samudara yang berlapis-lapis, seolah-olah
menggulung tiada habisnya dan tiada hentinya.
Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong, sekali lagi dia
me lontarkan sepasang telapak tangannya ke depan, gulungan angin
yang maha dashyat bagaikan gulungan ombak di tengah sa mudra
dengan cepatnya meluncur ke muka.
“Blaaa mm…” satu ledakan dahsyat yang me mekikkan telinga
mengge legar me mecahkan kehengingan, ketika dua gulung angin
pukulan itu saling bertumbukan antara yang satu dengan yang
lainnya, terjadilah putaran angin berpusing yang kencang….
Dala m desingan angin yang tajam inilah dengan sempoyongan
Ku See-hong mundur sejauh enam tujuh langkah ke belakang. Noda
darah pelan-pelan meleleh keluar daru ujung bibirnya, rambut yang
panjang menjadi kacau ba lau tak karuan, mukanya pucat
mengenaskan, ditambah pula bajunya yang terkoayk-koayk dan
bernoada darah, me mbuat keadaannya benar-benar mengerikan.
Tiba-tiba…. “Blaaam!” suatu benturan keras yang me mekikkan
telinga ke mbali mengge ma di udara….
Ku See-hong mendengus tertahan, tubuhnya tahu-tahu mencelat
sejauh tiga kaki ke udara dan “Plaaak!” roboh terkapar di atas
tanah.
Im Yan cu menjerit kaget, kemudian teriaknya dengan penuh
ke marahan:
“Makhluk aneh, kau berani bertinda k keji dengan pergunakan
ilmu To-im-ciat-yang (Me mancing Hawa Im, Menyambut Hawa
Yang) untuk mence lakai dirinya!”
Di tengah teriakan tersebut, telapak tangan Im Yan cu segera
direntahkan sa mbil menge mbangkan serangaka ian serangan-
serangan gencar yang dahsyat dan mengerikan.
Manusia aneh bertopeng itu tertawa terkekeh-kekeh dengan licik
dan seram.

175
“Heeehh… heeehh… heeehh… Nona Im,” de mikian ia berkata,
“Bukankah barusan kau berkata hendak me mbunuhnya dengan
tanganmu sendiri…? Sekarang aku telah perguna kan ilmu To-im-
ciat-yang untuk meneruskan tenaga pukulanmu untuk
me mbunuhnya, bukankah tindakanku ini a mat indah dan
menguntungkan dirimu? Kenapa kau malah menjadi marah-marah
besar?”
Ternyata di kala Im Yan cu melancarkan sebuah pukulan dahsyat
untuk menyerang manusia aneh bertopeng tadi, tangan kirinya telah
menge luarkan ilmu sa kti To-im ciat-yang uantuk menyalurkan
tenaga serangan dari gadis itu untuk balik menyergap diri Ku See-
hong.
Padahal di kala Ku See-hong dan manusia aneh berkerudung itu
beradu tenaga tadi, isi perutnya sudah mengala mi goncangan keras
sehingga darah segar muntah ke luar dari mulutnya, apalagi setelah
termakan oleh serangan dahsyat yang dilancarkan Im Yan cu,
kontan saja pe muda tersebut tak kuat menahan diri.
Pandangan matanya menjadi gelap, benaknya menjadi kosong
me lompong dan akhirnya robohlah dia t idak sadarkan diri.
Im Yan cu a mat menguatirkan kesela matan jiwa Ku See-hong,
maka di da la m melancarkan serangan-serangannya sekarang,
hampir se muanya digunakan jurus-jurus tangguh yang mengerikan.
Tapi manusia aneh bertopeng itu me mang lihay sekali,
bagaimanapun dahsyatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan,
manusia aneh itu masih bisa menghindarkan diri dengan enteng dan
santai.
Im Yan cu mengerutkan dahinya rapat-rapat, paras mukanya
berubah menjadi a mat menyeramkan, sambil me mbentak nyaring
dengan kesepuluh jari dipentangkan dia lepaskan sepuluh gulung
desingan angin tajam yang menderu-deru.
Sungguh dahsyat ancaman tersebut, dalam waktu singkat dua
belas buah jalan darah penting di tubuh bagian atas manusia aneh

176
tersebut sudah terjebak di tengah gulungan angin serangan si nona
yang teramat hebat itu….
Tiba-tiba mencorong sinar mata tajam yang menggidikkan hati
dari balik mata manusia aneh bertopeng itu, ujung bajunya segera
dikebaskan ke muka melancarkan serangkaian angin pukulan taja m
untuk menolak datangnya anca man kesepuluh ja lur desingan angin
serangan dari Im Yan cu.
“Blaaa mm! Blaaa mm! Blaaa mm…!” serentetan bunyi ledakan
yang keras bergema me menuhi angkasa, dala m sekejap mata
tenaga serangan kedua belah pihak sama-sama sudah lenyap tak
berbekas.
Im Yan cu me mbentak keras, telapak tangan kanannya segera
dibabat ke depan, sedangkan telapak tangan kirinya dengan
me mbawa desingan angin tajam langsung menghanta m dada
manusia aneh bertopeng itu.
Si manusia aneh bertopeng itu merupakan seorang jago lihay
yang jarang dijumpai dala m dunia persilatan, setelah didesak
berulang kali oleh serangan Im Yan cu yang makin dahsyat,
akhirnya sifat buas dan bengisnya segera timbul ke mbali.
Sambil tertawa dingin sepasang lengannya diputar me mbentak
satu lingkaran lalu dengan gerakan me mbacok dan menangkis
sepasang kakinya berbareng melayang ke depan menendang tubuh
bagian bawah dari Im Yan cu.
Merah padam sele mbar wajah Im Yan cu karena jengah, dalam
gusarnya mendesis muak ke mudian tubuhnya berkelebat ke
samping menghindarkan diri dari tendangan berantai tersebut.
Kemudian telapak tangan kanannya tiba-tiba me mbalik ke atas,
dari serangan pukulan segera dirubahnya menjadi serangan
mencengkeram, dengan cepat ia cengkera m urat nadi penting di
tubuh lawan, sementara kelima jari tangan kirinya menyentil ke
muka dan menotok jalan darah Seng-hiat, Wi-ciat dan Hu-tu-hiat,
tiga buah jalan darah penting di tubuh ma nusia aneh itu.

177
Sejak melancarkan serangan, berubah jurus sampai meneter
lawannya, boleh dibilang Im Yan cu me lakukan kese muanya itu
dengan cepat serta kelihayan yang mengerikan.
Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa dingin, sambil
miringkan badan dan berputar kencang, sepasang telapak
tangannya diputar melancarkan gulungan angin pukulan yang
segera me munahkan anca man lawan yang datang secara bertubi-
tubi itu.
Kedua gulung ujung bajunya yang lebar bagaikan dua ekor ular
yang lincah sambil me mba lik dan menggulung dengan cepat dan
tajam me mbelenggu sepasang nadi penting di atas pergelangan
tangan Im Yan cu.
Mendadak tubuh Im Yan-cu berputar kencang secara aneh, sakti
dan dahsyat, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra. Di
tengah putaran tubuh yang aneh dan kencang itulah, aliran hawa
sakti yang bergulung-gulung aneh me mancar ke tubuh manusia
aneh bertopeng itu dengan t iada hentinya.
Mendadak….
Im Yan cu me mbentak keras, tubuhnya tiba-tiba melayang dan
menerjang maju ke muka, telapak tangan, jari tangan serta kakinya
me lancarkan jurus-jurus sakti secara berbarengan. Dengan begitu
dahsyatnya semua ancaman tersebut ditujukan ke tubuh manusia
aneh bertopeng itu.
Demikianlah, jika dua orang tokoh sakti dari dunia persilatan
terlibat dala m suatu perte mpuran sengit, maka akibatnya terjadilah
suatu pertempuran maha seru yang melibatkan segenap kepandaian
sakti yang mereka miliki….
Tampak bayangan manusia beterbangan kian ke mari, angin
pukulan menderu-deru bagaikan angin puyuh, bukan saja me mbuat
pasir dan batu kerikil beterbangan di angkasa, daun dan ranting pun
ikut berguguran ke atas tanah….

178
Tenaga dalam yang dimiliki manusia aneh bertopeng itu memang
benar-benar sangat lihay, bukan cuma jurus serangannya yang aneh
dan sakti, perubahannya begitu banyak sehingga membuat orang
susah untuk menanggulanginya.
Lapisan de mi lapisan angin pukulan yang bersusun seperti bukit,
bagaikan hujan badai yang disertai angin kencang menyapu arena
sedemikian hebat dan mengerikannya suasana waktu itu, hingga
cukup me mbetot sukma.
Im Yan cu tidak gentar barang sedikitpun juga, dengan lincah
dan gesit tubuhnya melompat kian ke mari me loloskan diri dari
ancaman, kemudian tak kalah hebatnya dia lepaskan pula serangan-
serangan dahsyat yang semuanya me mpergunakan jurus-jurus sakt i
yang jarang dijumpa i dala m dunia persilatan.
Dengan ke kuatan yang ha mpir seimbang ini, maka meski
pertempuran sudah berlangsung empat lima ratus jurus, keadaan
tetap seri, sedang di hati masing-masing pun saling mengagumi
akan kelihayan ilmu silat lawannya.
Sementara itu, rembulan telah muncul dari balik bukit dan
me mancarkan sinar keperak-perakannya menyoroti seluruh jagad.
Tapi suasana dalam hutan di depan kuil kuno itu tetap suram dan
menyeramkan, karena diiputi oleh kabut yang sangat tebal.
Pertempuran yang berlangsung antara manusia aneh bertopeng
me lawan Im Yan cu sudah mencapa i pada bgian yang paling
tegang, menang kalah sebentar akan ketahuan, tapi kedua orang
itupun se makin me ndekati jurang pe misah antara mati dan hidup.
Sebab kepandaian silat yang diperguna kan kedua orang itu
sekarang adalah serangan-serangan yang mempergunakan hawa
murni tingkat tinggi yang paling se mpurna sekali, salah bertindak
berarti jiwanya akan me layang meningga lkan raga.
Dari balik biji mata si manusia aneh bertopeng yang tajam, telah
mencorong keluar serentetan cahaya buas yang penuh kebencian.
Dia mendengus dingin, mendada k jari tangannya menyentil ke
depan, “Crit! Cring!” di tengah desingan tajam yang me mekikkan
179
telinga, dala m waktu singkat ia telah menganca m ena m buah ja lan
darah penting di tubuh Im Yan-cu.
Menyusul ke mudian tubuh manusia aneh bertopeng itu segera
me la mbung ke udara bagaikan burung elang, tangan dan kaki
bersamaan melancarkan serangan. Dala m wa ktu singkat ia telah
me lepaskan ena m buah pukulan dan tiga buah tendangan berantai.
Serangan inipun dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa
serta jurus serangan yang ampuh, lihay, ganas dan buas. Benar-
benar cukup mendirikan bulu kuduk orang.
Paras muka Im Yan-cu dingin bagaikan es, matanya melotot
penuh kegusaran, sambil me mbentak nyaring, jari tangannya yang
le mbut dan put ih itu digerakkan berulang kali melancarkan
beberapa kali sent ilan jari.
Desingan angin tajam segera menderu-deru, dengan dahsyat
ancaman tersebut menahan serangan jari tangan si manusia aneh
berkerudung yang sedang menggulung datang.
Siapa tahu pandangan matanya mendadak me njadi kabur,
telapak tangan dan tendangan kaki manusia aneh berkerudung itu
ke mbali bermunculan dari e mpat arah de lapan penjuru dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, sedemikian dahsyatnya
ancaman itu sehingga sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Di tengah kurungan angin pukulan serta bayangan tendangan
lawan, sepasang telapak tangan Im Yan cu bergerak kian kemari
bagaikan kupu-kupu menghisap madu. Dala m waktu singkat dia
lancarkan pula se mbilan buah pukulan dahsyat.
Hawa serangan yang maha dahsyat sgera melanda seluruh
jagad, di tengah amukan angin pukulan yang tajam tadi, dengan
enteng dan lincahnya Im Yan cu berlompatan kian ke mari.
Mendadak… pada saat itulah si manusia aneh berkerundung itu
me mbentak keras, menyusul ke mudian serangan me matikan yang
amat dahsyat berhamburan ke mana-mana. Ta mpaklah sepasang

180
tangannya bergetar kian ke mari secara aneh, setiap pukulan
dilancarkan dua serangan dahsyat segera me landa di udara.
Selain daripada itu, dalam setiap gerak serangan yang
dipergunakannya itu, hampir se muanya dilancarkan me lalui suatu
sudut yang aneh sekali. Pukulan yang berantai seolah-olah
datangnya secara berbarengan pada saat yang sama. Kehebatan
dan kelihayan jurus serangannya itu, boleh dibilang tak pernah
dijumpai sebelumnya di dunia ini.
Begitu serangan tersebut dilontarkan oleh manusia aneh
berkerudung tadi, udara di sekeliling tempat itu segera dliput i
gelombang hawa tekanan kian lama kian bertambah besar, daerah
seluas dua kaki serasa penuh dengan tekanan udara yang kuat.
Sementara di tengah berpusing segulung angin taja m yang
menyayat badan.
Berbarengan dengan dipancarkannya serangan me matikan dari
Im Yan cu juga dilancarkan pada saat yang bersa maan.
Tampak tubuh Im Yan cu yang menyentuh tanah mendadak
me la mbung ke mbali ke udara. Ke mudian secara tiba-tiba badannya
menyusut kecil di udara, sementara sepasang lengannya
dipentangkan lebar-lebar. Seluruh gaunnya yang berwarna biru
bergetar menciptakan sususan-susunan ge lombang yang aneh.
Tiba-tiba….
Im Yan cu merapatkan tangannya lalu melurus ke depan. Seluruh
badannya bagaikan sebatang anak panah yang tajam, secepat kilat
me luncur ke arah manusia aneh berkerudung itu.
Pada saat ujung jari tangannya sudah mencapa i ena m depa dari
tubuh manusia aneh itu… mendadak sekujur tubuhnya bergetar
keras, kemudian me luncur ke bawah.
Sedetik sebelum badannya mene mpel tanah, secara aneh
sepasang lengannya itu dipentangkan lebar-lebar.
Suatu daya yang mengerikan pun segera terbentang di depan
mata.

181
“Sreeet! Sreeet! Sreeet!”
Serentetan cahaya tajam berkilauan me me nuhi udara, lalu
terdengar manusia aneh berkerudung itu mendengus tertahan.
Menyusul ke mudian berkumandang pula serentetan bunyi
pekikan aneh yang a mat me milukan hati….
Dengan sekujur badan ge metar keras, manusia aneh
berkerudung hitam itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
dan sekejap kemudian sudah jauh meningga lkan tempat itu. Jelas di
bawah serangan aneh dari Im Yan cu, manusia aneh berkerudung
itu sudah menderita luka dala m yang tidak ringan….
Me mandang sa mpai bayangan tubuh manusia berkerudung itu
lenyap dari pandangan mata, Im Yan cu baru menghela napas
panjang, guma mnya:
“Aaai… entah siapakah manusia aneh berkerudung itu? Begitu
lihay ilmu silat yang dimilikinya dan sakti jurus serangan yang
dipergunakannya, entah dia berasal dari perguruan mana….?”
Coba kalau tidak kugunakan ilmu sakti dari perguruan: HAY JIN
CIANG (Ilmu Pukulan Unggas)… sudah pasti aku akan tewas
termakan serangan terakhir itu… yaa, ilmu pukulan Hay-jin-ciang
sungguh hebat sekali, sayang suhu cuma mewarisi satu jurus saja
kepadaku.”
Mendadak Im Yan cu berpaling, la lu menjerit kaget:
“Hei, dia lari ke mana?”
Yang dimaksudkan adalah Ku See-hong. Waktu itu di sekitar sana
sudah tidak na mpa k lagi bayangan tubuh dari anak muda tersebut,
entah sejak kapan ia sudah pergi meninggalkan te mpat itu.
Im Yan cu ke mbali menghe la napas panjang.
00d0w00

Bab 9

182
“MANUSIA she Ku ini pun betul-betul manusia aneh,” demikian ia
berguma m lirih, “Sudah jelas ia terhajar telak sehingga terluka
parah, kenapa bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap tak
berbekas? Masa ia telah berhasil melatih se maca m ilmu yang tahan
pukulan?”
Tiba-tiba dengan ge mas dia berguma m lagi: “Le laki she Ku itu
amat misterius sekali, aaai…. Entah mengapa, sejak bertemu muka
dengannya, aku jadi seperti tidak me mbenci orang le laki lagi,
bahkan….”
Berguma m sampa i di situ, tanpa terasa sepasang pipinya
berubah menjadi merah dadu, apalagi di bawah timpaan sinar
mentari, dia tampa k lebih cantik dan me mpesona kan hati.
Kembali Im Yan cu berguma m:
“Luka dala m yang dideritanya akibat pukulan itu parah sekali,
lagipula ia seperti me mpunyai hubungan dengan Bun-ji koan-su….
Kalau me mbiarkan seorang manusia yang cetek pengalaman maca m
dia berkelana seorang diri di dala m dunia persilatan, hal ini benar-
benar berbahaya sekali. Orang persilatan kebanyakan licik dan
berhati busuk, dia… kendatipun me miliki ilmu silat lihay juga tak
baik….”
Im Yan cu mendongakkan kepalanya me mandang sekejap
matahari yang berada di awang-awang, tubuhnya segera bergerak
dan lenyap ke mba li dari depan kuil kuno yang penuh keseraman itu.
Rupanya setelah Ku See-hong kena terhajar oleh tenaga pukulan
Im Yan cu yang disalurkan manusia aneh berkerudung ke tubuhnya,
lewat ilmu Too-im-ciat-yang tersebut, hawa darah di dala m
tubuhnya segera mengala mi gejolak keras yang menyebabkan ia
jatuh tak sadarkan diri.
Tapi tak la ma ke mudian a i telah sadar ke mbali. Ketika itu
kentongan kelima sudah lewat, sedang Im Yan cu sedang terlibat
dalam pertarungan yang amat seru me lawan manusia aneh
berkerudung itu. Dia m-dia m Ku See-hong menghe la napas panjang.
Ia tahu entah piha k manapun yang bakal menang, kedua-duanya
183
tidak menguntungkan baginya, maka mengguna kan kese mpatan
baik tersebut, secara diam-dia m dia lantas ngeloyor pergi dari situ.
Luka dala m yang diderita Ku See-hong kali ini sungguh teramat
parah. Hawa murni di dala m tubuhnya seakan-akan sudah kena
terhajar sampai buyar tak karuan, hawa darahnya segera mengalir
terbalik, jalannya menjadi gontai dan se mpoyongan hampir roboh,
namun kesadarannya belum hilang. Suatu tekad yang besar muncul
dalam hatinya dan sa mbil menahan sakit dia melakukan perjalanan
ke depan.
Makin jauh dia berja lan, luka parah yang dideritanya sema kin
parah, terasa hawa panas di dalam dadanya menerjang ke atas,
sepasang kakinya seakan-akan sudah t idak menuruti perintahnya
lagi.
Dala m keadaan begini, akhirnya dia menghe la napas dan merasa
harus beristirahat sebentar, tapi ingatan tersebut justru segera
me mbuyarkan tekad di dala m hatinya.
Walau begitu, perjalanan yang dilakukan tanpa arah tujuan itu
telah me mbawa dirinya mene mbusi beberapa buah bukit. Sekarang
dia telah berada tak jauh dari sebuah tanah perkuburan yang luas
dan lebar.
Tampak kuburan itu sangat kacau balau keadaannya dan sama
sekali tak terawat. Batu nisan banyak yang hancur, gundukan tanah
banyak yang berlubang. Meski di tengah siang hari bolong, namun
suasana di sekitar tempat itu terasa seram dan mengerikan seka li.
Dengan ujung bajunya dia menyeka keringat yang me mbasahi
wajahnya, kemudian setelah me mperhatikan sekejap pe mandangan
di sekeliling te mpat itu, dengan susah payah dia menyeret sepasang
kakinya dan pelan-pelan me masuki tanah pekuburan tersebut.
Sambil berjalan, tiada hentinya Ku See-hong berguma m: “Luka yang
kuderita sekarang teramat parah, mungkin masihkah ada suatu
penemuan aneh lagi yang bakal kujumpai? Aaai, lebih baik mati di
tempat ini saja.”

184
Batu nisan yang berserakan dan gundukan tanah yang berjajar
mendadak menimbulkan suatu perasaan pedih dalam hatinya, diam-
dia m ia berpikir seorang diri:
“Aaai… walaupun menjadi jagoan sepanjang masa, setelah mati
kerangka tubuhnya juga akan terlantar di dalam tanah pekuburan.
Orang hidup saling mengejar harta dan nama, sepanjang hari
me mbanting tulang bekerja keras, padahal apalah gunanya semua
perjuangannya itu bila hayat telah meningga lkan badan?”
Ingatan tadi begitu melintas dala m benaknya, semua
kegagahannya serasa punah tak me mbekas tekad yang sela ma ini
me mpertahankan tubuhnya, kontan me mbuyar, kakinya
sempoyongan, hampir saja ia jatuh terjere mbab ke atas tanah.
“Koak koak koak…” bunyi burung gagak mena mbah sura mnya
suasana….
Di atas beberapa batang pohon siong tak jauh dari Ku See-hong,
terbang melayang empat lima ekor burung gagak. Ketika
mendengar pekikan burung yang menusuk telinga itu, mendadak Ku
See-hong merasakan hatinya bergetar keras.
Kejadian de mi kejadian yang me medihkan hatinya di masa lalu
ke mbali muncul di dala m hatiya. Ia teringat kembali dengan ayah-
ibunya yang mati secara mengenaskan, dia teringat pula Bun-ji
koan-su yang sa mpai mat i tetap me mbawa denda m….
Beberapa orang itu telah melimpahkan budi dan kasih sayang tak
terlukiskan dengan kata-kata kepadanya, tapi meninggalkan pula
dendam berdarah yang lebih dala m dari sa mudra untuk ia
selesaikan….
Terbayang sampai di situ dia baru merasa terkesiap. Diam-dia m
tegurnya kepada diri sendiri:
“Ku See-hong, wahai Ku See-hong…. Nyawamu sih kecil, tapi
dendam kesumat orang tuamu harus dibalas, apalagi Bun-ji koan-su
telah mewarsikan tiga maca m ilmu kepadamu. Sampai detik-detik

185
ke matiannya, ia masih menitipkan harapannya yang besar
kepadamu.
Betul dengan watak aneh dari ia orang tua, sampai saat
terakhirnya dia tidak me minta apa-apa kepadamu, tapi betapa
besarnya dia menitipkan harapn tersebut kepada mu, betapa
besarnya harapan dia orang tua agar kau bisa menyelesaikan
keinginannya. Apalagi kau telah bersumpah di depan jenasahnya
tapi sekarang, kau telah mere mehkan nyawamu sendiri, kau
gampang berputus asa, maunya mengambil keputusan pendek…
Wahai Ku See-hong, manusia maca m apakah dirimu ini…?”
Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam bena knya,
muncul ke mbali semangat untuk me lanjutkan hidup di dala m
hatinya, semangatnya ikut berkobar pula. Sambil mendongakkan
kepalanya ia me mandang pesoan awan di angkasa, angin musim
gugur yang dingin berhe mbus lewat dan mengibarkan ujung
bajunya. Dalam benaknya seali muncul bayangan dari Bun-ji koan-
su, telinganya serasa mendengung ke mba li pesan terakhir dari
gurunya. Darah panas di dala m dadanya tiba-tiba bergelora dan
mendidih, se mua ke masgulan dan ke murungan yang mengganja l
dadanya terasa menyesakkan napas, tak kuasa lagi ia mendogakkan
kepalanya dan berpekik panjang.
Suara pekikannya itu nyaring seperti pekikan naga…. Tinggi,
keras mene mbusi awan dan mengge ma dala m le mbah. Suaranya
me mantul dan mendengung t iada hentinya. Namun di balik pe kikan
tadi justru terbawa suasana sedih, pedih dan murung.
Tiba-tiba, pekikan nyaring itu terputus sampai di tengah jalan,
terdengar Ku See-hong mendengus tertahan….
Sebagaimana diketahui, luka dala m yang diderita pemuda itu
sama sekali belum se mbuh, tapi sekarang harus mengerahkan sisa
tenaga yang dimilikinya untuk berpekik panjang, hala mana
menyebabkan jalan darahnya mengalmi luka yang sema kin parah,
lagi tentu saja kondisi badannya menjadi se ma kin buruk. Akhirnya
dia tak tahan dan muntah darah segar, kemudian tubuhnya roboh

186
ke tanah dan jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya tepat roboh di
samping sebuah kuburan di bawah sebatang pohon pen yang lebar.
Entah berapa lama sudah lewat mendadak Ku See-hong merasa
pipinya menjadi dingin, tubuhnya ge metar keras dan segera
tersadar kembali dari pingsannya.
Ketika ia me mbka ke mbali matanya, tampak awan hitam
menyelimuti seluruh angkasa dan menutupi cahaya sang surya, kilat
menya mbar-nyambar, guntur menggelegar, ternyata hujan sedang
turun dengan derasnya…..
Sekujur badan Ku See-hong basah kuyub oleh air hujan, dengan
cepat sinar matanya dialihkan ke arah sebuah gardu bobrok lebih
kurang dua kaki dari sana. Dengan cepat badannya jumpalitan di
udara dan meluncur ke arah dala m gardu bobrok tadi.
Setelah tiba di dala m gardu, Ku See-hong baru menjerit tertahan
karena kaget.
“Haaah? Heran, kenapa luka parahku secra tiba-tiba bisa
me mba ik sendiri…?”
Pemuda itu merasa pergolakan hawa darah di dlaam dadanya
telah menjadi tenang ke mba li, badannya tidak terasa sakit seperti
tadi.
Rupanya ia telah me mperoleh warisan hawa murni dari Bun-ji
koan-su yang telah mencapai puluhan tahun hasil latihan itu. Di
samping me miliki pula ilmu Kan-kun-mi-siu-kang yang maha sakti
tersebut.
Berhubung dia tida k segera mengatur pernapasan setelah
menderita luka dala m yang amat parah itu. Kemudian harus
me lakukan pula perjalanan yang jauh sebelum a khirnya
me ma ksakan diri untuk berpekik nyaring… kesemuanya ini
menyebabkan dia jatuh pingsan.
Tapi justru karena pingsan, pemuda itu malah mendapat cukup
banyak waktu untuk beristirahat. La mbat laun gejola k hawa murni di

187
dalam dadanya juga menjadi tenang ke mbali, kesadaran pun
berangsur pulih ke mbali.
Demikianlah, setelah berhasil menenangkan perasaannya, Ku
See-hong baru berguma m:
“Kenapa aku begini tolol, tak tahu mengatur napas untuk
mengerahkan tenaga dalam…? Tanah pekuburan ini sangat luas dan
terpencil letaknya, mungkin tiada orang yang bakal sampai ke sini,
kenapa tidak kugunakan kese mpatan ini untuk menyembuhkan sisa
lukaku, kemudian sekalian me mperdala m jurus Hoo-han-seng-huan
yang maha sakt i itu?”
Ternyata semenjak terjadinya pertarungan sengit di depan kuil
kuno ke marin, bukan saja Ku See-hong telah mena mbah
pengetahuan serta pengalamannya dalam menghadapi musuh,
lagipula dia berhasil juga mendala mi banyak sekali kepandaian sakt i.
Semua yang berhasil diperolehnya itu me mbuat pikirannya
semakin terbuka untuk mendala mi kepandaian silat yang dimilikinya,
otomatis menimbulkan pula se mangatnya untuk me mperoleh
ke majuan. Dia berharap dari ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-
huan tersebut dia dapat me mperoleh kepandaian sakti yang lebih
banyak lagi.
Dala m soal ilmu silat, maka yang menjadi kunci rahasianya
adalah pengertian tentang dasar ilmu tersebut. Bila dahsyatnya
dasar tersebut sudah dipahami ma ka selanjutnya segala sesuatunya
pun akan lebih lancar lagi.
Ketika Bun-ji koan-su mewariskan jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut kepadanya tempo hari, saat itu keadaannya ssudah payah
sekali. Apa yang bisa dilakukannya tak lebih hanya melakukan
gerakan secara garis besarnya saja, namun berhubung ilmu itu
mengandung makna yang lebih mendala m, maka Ku See-hong tak
lebih cuma ditinggal sekilas kenangan saja.
Menanti ia sungguh-sungguh bertarung dengan jago kelas satu
dari dunia persilatan, dan bikin kocar-kacir tak karuan, sang pemuda
yang keras hati ini baru me nghimpun se mua se mangat dan
188
tenaganya untuk berusaha mengenang ke mbali semua kesan yang
telah diperolehnya itu. Untung dia memiliki kecerdasan yang tinggi
serta daya tangkap yang hebat, jadinya ia malah berhasil
me maha mi ma kna dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.
Setelah itu, dia terlibat kembali dala m suatu pertarungan yang
seru melawan Im Yan cu. Dalam pertarungan ini lebih besar lagi
hasil yang berhasil dira ihnya. Banyak rahasia ilmu silat yang di hari-
hari biasa mungkin sulit dipecahkan, ternyata berhasil dipaha mi
olehnya dala m se mangat dan perjuangan yang a mat hebat itu.
Otomatis, pelbagai cara me mpelajari ilmu silat serta pelbagai
jurus silat yang lihay pun berhasil dipecahkan.
Kemajuan pesat yang berhasil dira ih dala m waktu singkat ini,
tanpa terasa menimbulkan pula daya tarik bagi Ku See-hong untuk
menyelidiki serta menda la mi ilmu silatnya lebih jauh, sebab dia
sadar andaikata kepandaian silatnya tak becus, maka tanggung
jawab yang berada di atas bahunya juga sukar untuk diwujudkan.
Saat itu, dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu harapan
yang sangat kuat, apa yang dia ingin lakukan tanpa segan-segan
segera dilaksanakan. Dengan cepat pe muda itu duduk bersila di atas
meja batu dala m gardu bobrok itu, lalu menurut i pecahan rahasia
ilmu silat yang berhasil dipaha minya, dia mulai mengerahkan hawa
murninya untuk mengatur pernapasan….
Dengan dibuangnya semua pikiran dari dala m bena knya serta
pemusatan perhatiannya ke satu titik, dengan cepat pe muda itu
mendapatkan tubuhnya makin la ma se makin segar.
Dala m wa ktu singkat Ku See-hong merasa hawa murni di dala m
tubunya makin la ma sema kin terhimpun me njadi satu, ke mudian
muncul segulung aliran tenaga yang sangat aneh dari pusar
menerjang naik ke atas dan menyebar ke seluruh badannya. Baru
satu lingkaran hawa murninya hanya mengelilingi badan, ia sudah
berada alam keadaan lupa diri.
Lewat seperminum teh ke mudian, dari seluruh badan Ku See-
hong segera muncul suatu perubahan yang sangat aneh. Dari
189
sekeliling badannya tiba-tiba muncul selapis kabut yang mengelilingi
seluruh badannya. Kabut putih itu menyerupai awan putih di
angkasa yang melapisi se mua badannya.
Di dala m keadaan de mikian, walaupun ada he mbusan angin
tajam yang menerpa badannya, gumpa lan kabut putih tetap
menggumpal dan sa ma seka li t idak me mbuyar.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya kabut putih yang
sangat indah itu seakan-akan terhisap kembali se muanya ke dalam
tubuh Ku See-hong, menyusul ke mudian diapun me mbuka matanya
ke mbali….
Me mandang gundukan tanah pe kuburan yang tersebar di ma na-
mana serta me mandang pepohonan yang bergoyang terhembus
angin, tanpa terasa pemuda itu menghe la napas sedih.
Kiranya hujan telah berhenti waktu itu, awan hitam telah
me mbuyar dan udara pun telah ke mbali. Sang surya telah
tenggelam di langit barat meninggalkan biangla la senja yang sangat
indah….
Senja telah menjelang, berarti ma la m pun segera tiba.
Bunyi jangkrik mulai melagukan ira ma dendam, angin pun
berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan rumput serta dedaunan,
tanah pekuburan itu terasa ma kin kelabu dan sepi….
Setelah me lakukan se madi untuk mengobati lukanya, gejolak
hawa darah di dala m tubuh Ku See-hong bukan saja telah menjadi
tenang kembali, lagi pula badan serta semangatnya menjadi segar
ke mbali, hawa murni yang terhimpun di dala m badannya terasa
penuh. Sinar matanya lebih tajam dan jelas tenaga dalamnya
ke mbali telah me mperoleh ke majuan yang sangat pesat….
Perlu diketahui: Kese mpurnaan tenaga dalam yang dimiliki Bun-ji
koan-su sesungguh sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini.
Dengan ilmu Tiong-giok-tay-hoat dari kalangan Buddha, secara
dia m-dia m ia telah me nyalurkan segenap kekuatannya itu ke tubuh
Ku See-hong yang menyebabkan ia mene mui ajalnya karena

190
kekeringan… hal se maca m ini boleh dibilang be lum pernah terjadi di
dunia ini.
Betul hawa murni yang diterima Ku See-hong tidak menyeluruh,
sehingga tidak me mbawa tingkatan hawa murninya mencapa i
tingkatan paling top seperti yang dimiliki Bun-ji koan-su… a kan
tetapi paling tidak ia telah me mperoleh tiga sa mpai e mpat bagian
dari se mua tenaga tersebut.
Walaupun tenaga tadi belum sampai menyusup se mua ke dala m
nadinya dan bisa dimanfaatkan sepenuhnya, tapi dikombinasikan
dengan Kan-kun-mi-siu khikang yang diperolehnya itu me mbuat
setiap kali pe muda itu terma kan pukulan dari luar atau selesai
me lakukan se medi satu kali, hawa murni tadi lebih banyak yang
terhisap ke tubuh dan bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Keadaan semacam ini boleh dibilang luar biasa sekali, atau
dengan perkataan lain, hal mana sesungguhnya merupa kan suatu
rejeki yang a mat besar bagi pe muda itu. Sela ma berada dala m kuil
dulu, Ku See-hong sudah terlatih me miliki keberanian yang melebihi
orang lain, maka sekarang, walaupun berada di tanah pekuburan
yang menyeramkan, diapun sa ma sekali tida k merasa takut.
Waktu itu, segenap pikiran dan se mangatnya dikumpulkan
menjadi satu, segenap ingatan maupun pikiran yang lain terbuang
jauh-jauh dari bena knya, apa yang dipikirkan se karang hanyalah
menda la mi ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut serta
berusaha untuk mengupas pelbagai jurus ilmu sakti la innya yang
terdapat di balik jurus-jurus serangan itu….
Pada dasarnya Ku See-hong me mang seorang pe muda yang
cerdas, begitu segenap pikiran dan perhatiannya dikumpulkan
menjadi satu, kembali ada banyak jurus serangan serta kunci silat
lainnya yang berhasil ditelaah olehnya, dan sekarang dia betul-betul
mengerti bahwa jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sesungguhnya
adalah suatu kepandaian maha sakti yang tiada taranya di dunia ini.
Di balik jurus serangan itu bukan saja mengandung intisari
kepandaian yang luas dan dalam, dalam setiap gerak serangannya

191
juga mengandung unsur kekuatan tak terduga…. lagipula me miliki
makna yang tak terkirakan hebatnya.
Dala m kejut dan girangnya, Ku See-hong makin terbuai dalam
pelajarannya, segenap perhatian, pikiran maupun perasaannya
hanya terpusatkan pada kepandaiannya itu, sehingga hampir saja
dia melupakan segala sesuatu lainnya….
Rembulan telah bersinar terang di ujung langit, dalam waktu
yang amat panjang ini, Ku See-hong telah berhasil me maha mi
serangkaian ilmu silat yang belum tentu dapat dimiliki atau dipahami
oleh umat manusia lainnya dala m jangka waktu puluhan tahun….
Waktu itu re mbulan bersinar terang di angkasa dan
me mancarkan cahaya keperak-perakan, pelan-pelan Ku See-hong
me langkah ke luar dari dala m gardu bobrok itu mendongakkan
kepalanya dan me mandang cuaca. Ia tahu, waktu itu kentongan
kedua sudah lewat.
Mendadak….
Ku See-hong berdiri tegak bagaikan sebuah batu karang, semua
pikiran dan tenaganya terpusat menjadi satu, setelah itu diiringi
suara bentakan yang keras dan meme kikkan telinga, sepasang
telapak tangannya diayunkan ke depan. Dari kesepuluh jari
tangannya, yang terpentang lebar terpancarlah desingan angin
tajam yang me mekikkan telinga. “Sreeett! Sreeett! Sreeett!”
desingan de mi desingan tajam menyambar me mbelah angkasa.
Dari ujung jari Ku See-hong tiba-tiba me mancarkan keluar
sepuluh jalur cahaya putih yang tak berwujud, yang menya mbar
dengan kecepatan luar biasa masing-masing menyerang dua batang
pohon di hadapannya.
“Pleetaak… pleeetak… blaaamm… blaaamm…!” setelah berge ma
suara keras itu, pohon siong yang besar dan luar biasa tingginya itu
mendadak patah menjadi dua bagian dan roboh ke bawah.
Melihat kepanda ian yang dicobanya berhasil dengan sukses,
timbul se mangat yang menyala-nyala dala m hatinya, sekali lagi

192
pemuda itu me mutarkan me mba likkan sepasang telapak tangannya,
menyusul ke mudian terdengar suara bentakan keras menggelegar di
angkasa. Dua gulung tenaga pukulan tak berwujud yang maha
dahsyat, diiringi suara gemuruh yang me mekikkan telinga, dua
batang pohon lagi tumbang ke tanah.
Ku See-hong se makin berse mangat, sekali lagi dia melontarkan
sepasang tangannya ke depan. Gulungan angin pukulan ibaratnya
gulungan air yang baru jebol dari bendunga, dengan kecepatan
yang luar biasa menggulung ke atas dua batang pohon la in. Di
mana angin pukulan itu berhe mbus lewat, kedua batang pohon itu
tak lebih cuma bergoyang pelan tanpa menunjukkan reaksi la innya.
Mendadak Ku See-hong mendonga kkan kepalanya dan
me mperdengarkan gela k tertawa panjang yang meme kikkan telinga.
Di balik suara tertawa tersbut, terkandung luapan rasa bangga yang
tak terhingga, nampak jelas betapa girangnya perasaan anak muda
itu….
Di saat gelak tertawa Ku See-hong masih berkumandang itulah…
segulung angin tajam berhe mbus lewat, tiba-tiba daun dan ranting
pohon besar itu berguguran ke atas tanah, menyusul ke mudian
terdengar suara gemuruh yang sangat keras berge ma di angkasa….
Dua batang pohon yang sangat besar itu tahu-tahu tumbang ke
atas tanah mula i sebatas pinggang, dari bekas-bekas potongan itu
kelihatan bubuk ha lus beterbangan ke mana-mana. Rupanya isi
pohon itu sudah dibikin hancur lumat oleh pukulan tangannya.
Tiba-tiba Ku See-hong berhenti tertawa, lalu dengan wajah
sedingin es guma mnya lirih:
“Se mangat, tenaga dan kekuatan merupakan tiga unsur yang
saling me mpengaruhi, jika terjadi jalinan hubungan antara ketiganya
akan jadilah Huan-pu-kui-tin, tenaga pukulan berisi ta mpa k
bagaikan tak berisi. Itulah pertanda kalau puncak kese mpurnaan
telah tercapai…. Huan-pu ki-tin… Huan-pu kui-tin…. Betulkah
kepandaianku telah berhasil kucapai hingga punca k
kesempurnaannya?”

193
Berguma m sa mpai di situ, Ku See-hong merasa kegirangan
sehingga ha mpir saja melupakan segala-galanya, segera teriaknya
keras-keras:
“…Sungguhkah kesemuanya ini? Sungguhkah kese muanya ini?
Mengapa secepat ini aku berhasil mencapainya…? Kenapa…?”
Dengan usaha yang sangat mudah ia berhasil mengguna kan apa
yang berhasil dikupas dalam kepandaian itu menjadi suatu
kenyataan, lagi pula menurut keadaan yang terlihat itu, hal mana
justru merupakan gejala dari suatu keadaan yang dina makan Huan-
pu kui-tin. Dala m kejut dan girangnya tak heran kalau dia menjadi
sangsi, benarkah hal tersebut merupakan suatu kenyataan?
Benarkah dia berbakat bagus dan me miliki kecerdasan yang luar
biasa?
Dala m termenungnya itu, pelbagai pikiran cepat muncul di dala m
benaknya, tapi setelah semua alasan itu diteliti lebih lanjut, terasa
olehnya bahwa semua persoalan cukup dijadikan sebagai alasan
mengapa ia bisa mencapai kesuksesan dengan begitu cepatnya….
Tiba-tiba Ku See-hong teringat kembali dengan saat-saat
menje lang ke matian Bun-ji koan-su, keadaan gurunya yang loyo dan
le mas seperti lentera kehabisan minyak itu… Mendadak satu ingatan
terlintas dala m benaknya, dengan cepat dia berpikir:
“Ketika Bun-ji koan-su dikerubut i beratus orang jago di atas
puncak bukit Soat-san, meski ia dibuat cacad dan tubuhnya terjatuh
ke dalam jurang, nyatanya ia tak sampai mati. Kemudian sela ma
belasan tahun lamanya diapun sanggup membunuh jago-jago lihay
yang mengunjungi kuilnya secara misterius. Dari sini terbuktilah
kalau ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.
Tapi setelah berjumpa dengan diriku, mengapa dia lantas berubah
menjadi kake k loyo yang sudah ha mpir mendekati ajalnya? Jangan-
jangan….”
Berpikir sa mpa i di situ, tiba-tiba Ku See-hong berseru:
“Betul…! Betul…!”

194
“Sudah pasti hawa murni suhu yang selama ini merupakan
kekuatan yang me melihara kehidupannya telah disalurkan kepadaku
secara diam-dia m, kalau tida k, mengapa secepat itu aku berhasil
menguasai ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yangmaha dahsyat itu?
Oooh suhu… wahai suhu. Mengapa tidak kau katakan hal itu
kepadaku?
“Begitu besar budi kebaikan yang kau limpahkan kepadaku,
bagaimana caranya aku me mbalas se mua budi kebaikan tersebut?”
Ku See-hong merasakan darah panas di dalam tubuhnya
bergelora keas dan mendidih, air mata tanpa terasa jatuh
bercucuran me mbasahi wajahnya.
Mendadak….
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong, dengan
tekad yang bulat dia berseru:
“Suhu! Kau bersikap begitu baik kepadaku, budi keba ikanmu
keada tecu lebih dalam dari sa mudra, untuk selanjutnya tecu pasti
akan mengingat selalu di dala m hati, aku pasti akan berusaha untuk
me mba laskan denda m sakit hatimu, aku pun akan me mbalas budi
kebaikanmu.”
Dala m wa ktu singkat, kentongan ketiga ke mbali me njelang t iba.
Ketika Ku Se-hong teringat ke mbali tragedi yang menimpa Bun-ji
koan-su, dia merasa terdorong oleh e mosi yyang meluap, sehingga
tanpa terasa dia mendongakkan kepa lanya dan me mbacakan lagu
“Denda m Sejagad” yang merupa kan suara hati dari Bun-ji koan-su
itu.
Dendam Sejagad
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Bukit tinggi berhutan lebat di sisi sebuah kuil.
Sungai besar di depan kuil berombak besar.
Dendam kesumat sepanjang abad.

195
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Burung gaga k bersarang di rumput di kala senja.
Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua
Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m.
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Ji-koan pernah bebuat salah.
Menyandang golok menunggang kuda, apalagh gunanya?
Salju terbang air laut se muanya ha mbar.
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad.
Curah hujan me mbuyarkan awan.
Air mengalir akhirnya surut.
Dendam kesumat tak akan pernah luntur….
Irama lagu bernada iblis yang me mbetot sukma itu menjulang
tinggi ke angkasa dan terbawa angin sa mpai di te mpat kejauhan.
Kesunyian yang menceka m dan ira ma lagu yang me medihkan hati
teralun di angkasa dan mendengung tiada hentinya.
Ketika selesai me mbawa kan lagu tersebut, seluruh wajah Ku See-
hong telah basah oleh air mata. Dengan termangu-mangu dia
me mandang jagad yang luas, dia ingin mene mukan bayangan Bun-ji
koan-su, tapi tak dapat.
Udara tampak bersih, bintang berkedip-kedip menyinari angkasa,
Bun-ji koan-su ada lah sebuah bintang di ujung langit sana, meski
orangnya telah tiada, namun kenangan serta lagunya yang penuh
perasaan akan berada terus di dunia, dan Ku See-hong a kan selalu
me mbawa kannya….

196
Entah sudah berapa lama Ku See-hong menga mati udara,
akhirnya sambil menghe la napas sedih, dia duduk ke mbali di meja
batu dalam gardu dan berse medi ke mbali.
Sebetulnya Ku See-hong memang seorang yang gila ilmu, setelah
keberhasilannya mengupas pelbagai kepandaian sakti ia tak pernah
me mbuang wa ktunya dengan sia-sia. Dia selalu me musatkan pikiran
dan perhatiannya untuk menyelidiki kepandaian sakti. Setiap
kentongan ketiga sudah tiba diapun me mbawakan lagu “Denda m
Sejagad” dengan suara lantang untuk me ngenang gurunya yang
telah tiada dan berdoa bagi arwah Bun-ji koan-su Him Ci-seng yang
telah tiada.
Tanpa terasa, Ku See-hong sudah berdiam selama tiga hari tiga
ma la m di tengah tanah pekuburan yang sepi, seram, dan terpencil
itu.
Latihan semedi dari Ku See-hong pun ma kin la ma sema kin
sempurna. Setiap kali duduk berse medi, dia ha mpir me mbutuhkan
waktu sela ma seharian penuh. Hari-hari itu, ketika ia mula i
bersemedi di pagi hari, dalam sekejap mata, mata telah menjelang
tiba ke mbali.
Hari itu, ketika Ku See-hong baru sadar dari semedinya, tiba-tiba
ia mendengar seseorang tertawa cekikikan, buru-buru anak muda
itu me mbuka matanya dan menengok ke arah mana berasalnya
suara tertawa itu. Sinar mata tajam yang menggidikkan hati
me mandang keluar dari balik matanya.
Pada saat itulah, mendada k terdengar bentakan nyaring…
“Hei orang she Ku, sa mbutlah ini!”
“Weeess…” he mbusan angin kencang me luncur t iba.
Ku See-hong segera menyaksikan ada sesosok bayangan tubuh
yang tinggi besar me luncur datang ke arahnya dengan kecepatan
luar biasa.
Waktu itu Ku See-hong sudah mengena li suara siapakah itu,
sepasang alis matanya segera berkenyit tangan kanannya segera

197
disentilkan ke depan, desingan angin taja m yang me mekikkan
telinga dengan dahsyatnya menghanta m bayangan hitam tadi.
“Blaaa mm…!” benturan keras berge ma di udara.
Menyusul ke mudian terdengar suara jeritan ngeri yang
me milukan hati berkumandang me menuhi angkasa, termakan oleh
angin pukulan Ku See-hong yang a mat tajam tadi, bayangan hita m
tersebut segera terbabat menjadi dua bagian. Darah segar
berhembus ke mana-mana dan menyiarkan bau a mis yang menusuk
hidung.
Ketika Ku See-hong telah melihat jelas siapa gerangan bayangan
hitam itu, dengan suara keras dan penuh kegusaran ia lantas
me mbentak nyaring:
“Im Yan cu, kau perempuan rendah yang berhati keji, mengapa
kau pergunakan nyawa orang sebagai bahan gurauan? Kau iblis
perempuan berhati busuk, mala m ini aku orang she Ku pasti akan
mencabut se le mbar jiwa mu!”
Di bawah sinar rembulan, tampaklah di atas sebuah gundukan
tanah pekuburan berdiri seorang gadis yang cantik jelita; dia bukan
lain ada lah Im Yan cu.
Ketika mendengar suara makin dari anak muda tersebut, Im Yan
cu segera tertawa cekikikan, katanya:
“Hei, kenapa sih kau ini? Kenapa sikapmu kepadaku selalu begitu
galak? Me mangnya aku telah salah me mbunuh?”
Ku See-hong menjadi tertegun, sorot matanya yang tajam
dengan cepat me mandang sekejap sekeliling tempat itu, tapi
dengan cepat hatinya menjadi a mat terperanjat.
Pemandangan yang terbentang di depan matanya ketika itu
betul-betul sera m, ngeri dan cukup mendirikan blu roma.
Ternyata di sekeliling tanah pekuburan itu tergeletak bersosok-
sosok mayat yang bergelimpangan di sana-sini, ada yang tergeletak

198
kaki di atas tanah ada pula yang terkapar di atas gundukan tanah
pekuburan keadaannya benar-benar mengerikan.
Bentuk tubuh merekapun a mat sera m dan luar biasa ngerinya,
ada yang kepalanya putus, ada yang anggota badannya terpapas,
ada pula yang isi perutnya berha mburan… bau a mis darah tersebar
dari e mpat penjuru.
Menyaksikan pe mandangan seperti itu, dia m-dia m Ku See-hong
bergidik dan merasakan bulu romanya pada bangun berdiri. Sebagai
pemuda yang cerdik, dengan cepat dia mengetahui apa yang
menyebabkan ke matian jago-jago persilatan itu.
Ternyata Ku See-hong sudah empat mala m berdia m di dala m
komple k tanah pekuburan itu, tiap mala m pada kentongan ketiga
dia selalu me mbawakan lagu “Denda m Sejagad” dengan keras dan
lantang, hal mana me mbuat para jago persilatan yang sedang
keheranan dan mencari-cari apa sebabnya lagu seram yang
me mbetot sukma itu tiba-tiba lenyap dari dalam kuil bobrok
tersebut, berduyun-duyun datang ke situ.
Maka di ka la pada mala m ke-e mpat suara nyanyian tersebut
bergema lagi dari tanah pekuburan tadi, berduyun-duyun kawanan
jago persilatan itu berdatangan ke sana.
Begitulah, sewaktu Ku See-hong sedang bersemedi pagi tadi, tak
sedikit jago persilatan yang sedang menyelidiki asal nyanyian itu
sampai di sana, salah seorang di antaranya adalah Im Yan cu.
Padahal waktu itu Ku See-hong sedang melatih semaca m ilmu
tenaga dalam tingkat tinggi, asal ia mendapat gangguan atau
serangan yang datang dari luar, maka akibatnya pemuda itu a kan
menga la mi “jalan api menuju neraka”. Masih mendingan kalau cuma
terluka parah, bisa jadi sele mbar jiwanya akan turut me layang.
Pada mulanya jago-jago persilatan itu masih belum berani
mende kati Ku See-hong, ke mudian setelah melihat jelas bahwa
orang itu tak lebih hanya seorang pe muda tampan, serentak
merekapun melancarkan sergapan maut ke arahnya.

199
Maka demi me lindungi sele mbar jiwa Ku See-hong, Im Yan cu
segera mela kukan pe mbantaian secara besar-besaran.
Waktu itu Ku See-hong sudah berada dala m keadaan lupa diri,
sekalipun langit ambruk dia juga tak akan merasa, sudah barang
tentu diapun tidak tahu kalau di sampingnya sedang berlangsung
suatu pertarungan sengit yang benar-benar mengerikan.
Demikianlah, walaupun Ku See-hong merasa agak ngeri
menyaksikan kekeja man Im Yan cu dala m me langsungkan
pembantaian, na mun karena dia merupakan tuan penolongnya
dalam peristiwa ka li ini, maka pe muda itu buru-buru me njura
me mberi hormat seraya katanya dengan lantang:
“Nona Im, aku orang she Ku merasa berterima kasih sekali atas
pertolongan yang kau berikan kepadaku sehingga aku lolos dari
bencana pada mala m ini. Untuk budi kebaikan itu, di ke mudian hari
aku pasti akan berusaha untuk membalasnya, selain itu akupun
minta maaf akan kekasaranku karena ketidaktahuanku tadi.”
Mendadak paras muka Im Yan cu berubah menjadi dingin seperti
es, setelah mendengus dingin, katanya dengan ketus:
“Hmmm! Siapa yang kesudian menerima pe mbalasan budimu itu?
Huuuh… Aku me mbunuh orang-orang itu tak la in karena aku
berpikir de mi kepentinganku sendiri.”
Mendengar perkataan itu, Ku See-hong menjadi tertegun,
pikirnya: “Tabiat dari perempuan ini benar-benar aneh sekali, baru
saja berbicara dengan wajah berseri, tiba-tiba saja berubah kembali
menjadi dingin tak berperasaan….”
Berpikir sa mpa i di situ, dia lantas berkata dengan lantang:
“Aku Ku See-hong selama hidup tak pernah menerima budi
kebaikan orang dengan begitu saja. Pokoknya barang siapa pernah
me lepaskan budi kepadaku maka hal ini pasti akan kuingat selalu di
dalam hati, sekalipun badan harus hancur, suatu ketika budi itu
pasti akan kubayar.”

200
Im Yan cu tertawa dingin dengan nada sinis, ujarnya dengan
ketus:
“Huuuh… pura-pura berlagak sok tahu budi. Hmm! Sungguh
menje mukan!”
Mendengar ucapan tadi, mencorong sinar tajam dari balik mata
Ku See-hong, katanya pula dengan gusar:
“Im Yan cu, aku orang she Ku adalah seorang lelaki sejati yang
bisa me mbedakan mana budi dan ma na denda m, apa yang
kuucapkan tak akan kuingkari untuk sela manya. Aku bukan manusia
rendah yang ada ucapan tanpa wujudnya.”
Tiba-tiba Im Yan cu tertawa cekikikan, la lu katanya pula dengan
suara dingin:
“Sungguh beruntung seka li aku, Im Yan cu dapat berkenalan
dengan seorang Kuncu, seorang lelaki sejati seperti kau, tapi nanti
kau akan me nyesal dengan perkataanmu tadi. Nah, sekarang aku
hanya ingin me mohon sesuatu kepadamu, sanggupkah kau untuk
me lakukannya?”
Agak terperanjat Ku See-hong setelah mendengar perkataan itu,
tapi dengan tegas dia me njawab:
“Apa permintaan nona silahkan diutarakan secara berterus
terang, asal aku orang she Ku sanggup me lakukannya, pasti akan
kulakukan dengan sepenuh tenaga.”
Paras muka Im Yan cu dingin kaku tanpa emosi, katanya dengan
suara dingin:
“Nona mu cuma menghendaki batok kepala mu itu, bersediakah
kau untuk me menggalnya dan diberikan kepadaku?”
Suaranya dingin kaku tanpa emosi dan lagi a mat tegas, sama
sekali tida k dibuat-buat ini me mbuat Ku See-hong merasa terkesiap
dan segera terbungka m dala m seribu bahasa.

201
Dari balik sorot mata Im Yan cu segera terpancar keluar
serentetan cahaya yang sangat aneh. Diawasinya perubahan mimik
wajah si anak muda itu, ke mudian ejeknya dingin:
“Bagaimana? Kau merasa menyesal? Hmm! Tadi saja, lagaknya
besar dan omongnya segede gajah.”
Dari atas wajah Ku See-hong pun terpancar keluar serentetan
cahaya yang aneh sekali, katanya pelan:
“Bila nona menghendaki batok kepala ini, aku orang she Ku tidak
akan mena mpik, cuma akupun hendak mengajukan satu permintaan
kepadamu, dapatkah kau me mberi kelonggaran waktu sela ma tiga
tahun kepadaku?”
Bila sudah sa mpai waktunya nanti, batok kepalaku ini pasti akan
kuserahkan sendiri kepadamu, tapi jika kau bersikeras menghendaki
batok kepalaku pada saat ini, terpaksa aku akan persilahkan kau
untuk me mengga lnya sendiri.”
Ketika selesai mengupcakan perkataan itu, dari balik mata Ku
See-hong pun terpancar keluar serentetan cahaya aneh yang
menggidikkan hati, ia menatap wajah Im Yan cu tanpa berkedip.
Im Yan cu segera tertawa ringan katanya:
“Baik, daripada me mbangkang lebih baik menurut saja, sekarang
juga nona mu a kan me mengga l batok kepala mu.”
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Ku See-hong me mbentak keras,
“Aku sorang she Ku henda k mengajukan satu pertanyaan
kepadamu.”
Kemudian setelah berhenti sebentar terusnya lagi:
“Siapakah gurumu? Suhuku Bun-ji koan-su ada dendam sakit hati
maca m apa dengan dirimu?”
Dihadapkan oelh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ku
See-hong itu, Im Yan cu menjadi tertegun. Ternyata dia sendiripun
tidak tahu dendam sakit hati seperti apakah yang terjalin antara
gurunya dengan Bun-ji koan-su.

202
Maka setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan suara
dingin dia berkata:
“Na ma guruku tak akan diketahui oleh orang-orang persilatan…
aku rasa kaupun tak perlu tahu, bagaimanapun juga kau toh sudah
mende kati ajalnya, buat apa kau banyak ertanya? Sedangkan
mengenasi dneda m sa kti hati yang terjalin antara suhuku dengan
Bun-ji koan-su, bahkan aku sendiripun tidak tahu, dari mana aku isa
menerangkannya kepadamu?”
Mendengar perkataan tersebut, mendadak Ku See-hong
mendonga kkan kepalanya dan me mperdengarkan gela k tertawa
panjang yang keras dan me mbetot sukma. Suara tertawanya itu
penuh mengandung kesedihan, kepedihan dan kekosongan…
Begitu keras dan melengkinganya suara tertawa itu, selain
me mbumbung jauh ke angkasa, juga menimbulkan getaran keras di
sekeliling te mpat itu, me mbuat suasana di dala m komplek tanah
pekuburan itu menjadi lebih sera m dan menggidikkan hati.
Im Yan cu sendiri pun dibuat berubah wajahnya setelah
mendengar gelak tertawa itu, dia m-dia m pikirnya:
“Baru beberapa hari tidak bersua dengannya, kenapa tenaga
alamnya bisa me mperoleh ke majuan yang sedemikian pesatnya?
Jika dia sa mpai mengguna kan jurus-jurus yang me matikan nanti,
sudah pasti aku harus menggunakan banyak tenaga untuk
menghadapinya….”
Sementara dia masih termenung dan berpikir sa mpa i ke situ,
mendadak suara tertawa yang keras itu berhenti sama sekali.
Suasana menjadi sepi dan hening….
Sesudah berhenti tertawa paras muka Ku See-hong berubah
menjadi dingin dan ka ku tanpa emosi, sorot matanya memancarkan
cahaya tajam yang menggidikkan hati, me mbuat orang merasa
tercekat rasanya, kemudian dengan suara yang dingin ia berkata:
“Im Yan cu, sebagai seorang murid, sudah menjadi kewajibanmu
untuk me mba laskan dendam bagi sakti hati gurumu, cuma kalau toh

203
kau sendiri juga tak tahu dari ma na timbulnya perselisihan antara
gurumu dengan guruku, sudah barang tentu kau juga tak bisa
menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah di dalam
peristiwa ini. Aku orang she Ku anjurkan kepadamu, lebih baik
janganlah mela kukan pe mbalasan denda m secara me mbabi buta.”
“Betul a ku orang she Ku pernah berhutang budi kepadamu, tapi
akupun tak ingin mati tanpa diketahui sebab musababnya, oleh
sebab itu hutang ini sudah pasti aku orang she Ku bayar kepadamu.
Jika kau berkeras kepala juga dan ingin me mbalas denda m saat ini,
silahkan saja andalkan kepandaianmu untuk me lakukannya.”
Im Yan cu mengerling se kejap dengan sepasang biji matanya
yang jeli, lalu sa mbil tersenyum katanya:
“Ku See-hong, kenapa sih kau marah-marah seperti lagi sewot?
Kalau kau enggan menyerahkan batok kepala mu, yaa sudahlah,
kenapa musti me ngucapkan teori yang panjang lebar seperti itu?”
Ku See-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:
“Perempuan ini betul-betul sangat aneh… girang, marah tak
menentu, sesungguhnya permainan busuk apa lagi yang hendak dia
lakukan terhadap diriku…?”
Bagaikan segulung he mbusan angin, dengan enteng Im Yan cu
me layang turun ke atas tanah, kemudian dengan langkah yang
le mah gemulai dia berjalan mengha mpiri Ku See-hong, sekulum
senyuman menghiasi wajahnya me mbuat hati orang berdebar.
“Ku See-hong,” de mikan dia berkata dengan merdu dan manja,
“entah mengapa, sedari berjumpa denganmu, aku selalu ingin
marah-marah saja atau ingin menghajar dirimu, kalau sudah begitu
hatiku baru terasa gembira rasanya, anggap saja kejadian tadi
seperti asap yang lenyap di angkasa, sekarang, bagaimana kalau
kau te mani a ku untuk bergebrak lagi beberapa jurus?”
Nadanya polos dan bersifat kekanak-kanakan, sepasang matanya
yang bulat besar juga me mancarkan cahaya lembut yang penuh
dengan cinta kasih, langkah yang lembut dita mbah potongan

204
badannya yang tinggi sema mpai, me mbuat orang menjadi
terpesona dibuatnya.
Sejak kecil, dari dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu
perasaan aneh, yakni me mbenci kaum wanita…. Senyuman Im Yan
cu yang mengandung nafsu me mbunuh serta perubahan wataknya
yang tak menentu, kesemuanya itu mendatangkan perasaan antipati
dalam hatinya.
Maka dia lantas mendengus dingin setelah mendengar perkataan
itu, ujarnya dengan dingin:
“Im Yan cu, kau tak usah jual ta mpang di hadapanku, soal
berkelahi aku orang she Ku juga tidak mempunyai kegembiraan
tersebut. Budi kebaikan yang kuterima hari ini pasti akan kubalas di
ke mudian hari. Nah, sekarang aku ingin mohon diri lebih dahulu.”
Selesai berkata, Ku See-hong segera me mbalikkan badan dan
berjalan pergi dari situ. Dia benar-benar tak ingin berkumpul dengan
perempuan se maca m ini.
Im Yan cu mengerdipkan sepasang matanya lalu tertawa,
senyuman itu sungguh me mpesona. Hati lelaki mana saja yang
bertemu dengannya sudah pasti akan terpikat dan jatuh hati.
00d0w00
Bab 10
TAPI sekarang, setelah mendengar ucapan Ku See-hong yang
dingin ka ku itu dia me njadi tertegun dibuatnya, hampir saja dia
mengira si anak muda itu buta atau tak tahu perasaan.
Maka ketika dilihatnya Ku See-hong akan pergi dari situ, paras
mukanya segera berubah hebat, bentaknya:
“Berhenti kau!”
Pelan-pelan Ku See-hong me mbalikkan badannya, lalu
mencorong sinar tajam dari ba lik matanya, dengan dingin dia
berkata:

205
“Nona Im, kau masih ada urusan apa lagi? Cepatlah katakan,
kalau tida k, maaf ka lau aku orang she Ku tak dapat lebih la ma lagi
mene mani kau.”
-oo0dw0oo-

Jilid 7
SEAKAN-AKAN menerima suatu penghinaan yang amat besar,
mendadak Im Yan cu mendengus karena mendongkol, ke mudian air
matanya jatuh bercucuran me mbasahi wajahnya.
Tergetar keras perasaan Ku See-hong setelah menyaksikan gadis
itu mengucurkan air matanya, dia berpikir:
“Mungkin da la m hatinya terdapat suatu persoalan yang amat
me medihkan hatinya, aku sebagai seorang lelaki sejati, tidak
seharusnya bersikap demikian kepadanya sehingga me mbuat dia
menjadi mendongkol. Aaai… watak setiap orang sebetulnya baik
semua, cuma watak gadis ini agak aneh saja, siapa tahu kalau
keanehannya itu dipengaruhi oleh gurunya…?”
Setelah berhasil menje laskan sendiri kesulitan orang, sikapnya
pun turut berubah menjadi lebih le mbut dan halus, katanya pelan:
“Nona Im, kau me mpunyai rahasia apakah yang menyulitkan
dirimu? Silahkan kau katakan, bila aku orang she Ku bisa
me lakukannya pasti akan kubantu sedapat mungkin.”
“Banyak urusan!” bentak Im Yan cu. “Pergi kau dari sini, ma kin
jauh se makin baik, hayo pergi!”
Ucapan yang terakhir itu ternyata sudah mendekati setengah
menjerit, meski de mikian, na mun suara hatinya ketika itu justru
merupakan kebalikan dari teria kannya tadi, betapa tak inginnya dia
me mbiarkan Ku See-hong pergi meninggalkan te mpat itu.

206
Ku See-hong yang tidak me maha mi perasaan perempuan dan
seluk be luknya wanita segera menghela napas panjang, guma mnya:
“Perempuan, wahai pere mpuan… kau me mang ma khluk yang
sukar untuk dihadapi.”
Selesai berguma m, tubuhnya segera melayang ke tengah udara
dan di tengah desingan angin taja m, tubuh Ku See-hong yang
gagah perkasa itu sudah lenyap dari pandangan mata.
Me mandang bayangan punggung Ku See-hong yang lenyap di
balik kege lapan itu, Im Yan cu yang cantik jelita bagaikan bidadari
itu tak dapat menahan luka di hatinya lagi, tak bisa dicegah diapun
menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Seorang gadis re maja yang baru me kar perasaan cintanya selalu
me mang panas dan berga irah, ketika ia berte mu dengan seorang
lelaki yang mence koki perasaannya, maka diapun berusaha
mengesa mpingkan sifat malunya untuk menunjukkan perasaan cinta
yang berkobar terhadap lawan jenis yang ditujunya itu.
Akan tetapi di kala mendapatkan sikap yag jauh di luar
kehendaknya, bahkan pihak lawan menunjukkan sikap segannya,
maka gadis itupun merasa harga dirinya tersinggung, tak hran kalau
Im Yan cu merasakan haitnya benar-benar amat pedih.
Bila seorang gadis le mah yang tak punya orang tua dan hidup
sebatang kara macam dia tidak me miliki sifat yang keras dan iman
yang teguh, biasanya dia akan mengambil keputusan pendek bila
menghadapi pukulan batin se maca m ini.
00dw00

Waktu itu, kentongan kedua telah menjelang. Langit bersih dan


jagad terasa hening….
Rembulan me mancarkan sinar le mbutnya dari angkasa dan
menyinari jalan pegunungan yang sepi.

207
Pada saat itulah nampak sesosok bayangan manusia dengan
kecepatan luar biasa sedang berkelebat lewat. Ilmu meringankan
tubuh yang dimiliki orang ini telah mencapai pada punca k
kesempurnaan yang luar biasa.
Pada mulanya dia sendiripun tak tahu ka lau dirinya me miliki ilmu
meringankan tubuh sedemikian lihaynya. Tatkala dia merasakan
kalau ilmu ginkangnya telah mencapai ke tingkatan seperti itu, ma ka
secara menggila diapun mengerahkannya sekuat tenaga, sebab
dengan begitu rasa sesal di dalam hatinya baru dapat
terlampiaskan.
Angin berhembus lewat menggoyangkan pepohonan, bayangan
manusia itu dengan enteng dan cepat berkelebat lewat, selain suara
gemerisiknya dedaunan yang terhembus angin, di sekeliling sana
amat sepi, hening dan tenang.
Dengan berlarian secepat sambaran petir itu, dala m wa ktu yang
singkat Ku See-hong telah melewati belasan buah puncak bukit.
Mendadak….
Dia menghentikan diri di atas tebing curam, tepat di hadapan
sebuah jeram yang luasnya delapan sembilan ka ki, lalu
mendonga kkan kepalanya dan menghe mbuskan napas panjang. Ia
merasa se mua kekesalan dan ke murungan yang mengganja l dala m
dadanya selama ini dapat dila mpiaskan keluar bersamaan dengan
hembusan napas itu, dadanya terasa lega sekali.
Pelan-pelan Ku See-hong berjalan ke muka dan melengok ke
dasar jeram tersebut, ternyata dalamnya mencapai dua puluhan
kaki. Air terjun tumpah ke bawah dari puncak bukit dan menumbuk
di atas batu-batu cadas di dasar jeram. Percikan air muncrat ke
empat penjuru dan menimbulkan suara ‘ting tang ting’ yang merdu,
hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan menciptakan pula
serangkaian perpaduan suara yang le mbut dan syahdu.
Mendadak…. Serentetan jeritan ngeri yang me milukan hati la mat-
la mat berkumandang datang dari kejauhan sana.

208
Suara tersebut berkumandang secara beruntun dan merupakan
jeritan sekarat menjelang tibanya ajal, selain itu terdengar pula
serentetan suara tertawa dingin yang a mat seram, keras dan
mengerikan hati. Perpaduan suara yang beraneka raga m itu
menciptakan suatu ira ma nada yang mengerikan di tengah
kegelapan mala m itu dan cukup mendirikan bulu roma siapapun
yang mendengarnya.
Perasaan Ku See-hong yang tajam dengan cepat dapat
menyadari kejadian apakah yang telah berlangsung di situ…. Suatu
pembunuhan berdarah karena luapan denda m.
Dengan tenang dia berdiri tegak di tempat semula, sementara
sepasang matanya yang me mancarkan cahaya tajam pelan-pe lan
menyapu sekeliling jera m itu dan me meriksa asal mulanya suara
jeritan tadi. Namun kecuali aliran air sungai serta hembusan angin
yang mendesis, suasana di seke liling tempat itu masih tetap sepi,
hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Jeritan ngeri serta gelak tertawa menyeramkan yang berge ma
tadi, meski berlangsung secara beruntun, tapi oleh karena suara itu
mengge ma secara tiba-tiba, lagipula sekejap mata ke mudian segala
sesuatunya telah menjadi tenang ke mbali, ma ka Ku See-hong
menghentikan pencariannya dan dia m-dia m berpikir:
“Pe mbunuhan berdarah se maca m itu, mengapa bisa berubah
menjadi tenang ke mbali dala m waktu singkat? Ka lau begitu ilmu
silat yang dimiliki orang itu sudah pasti lihay sekali atau mungkin
korbannya adalah orang-orang yang tak panda i berilmu silat.”
Berpikir sampa i di situ, Ku See-hong segera beranjak dan
me langkah pergi ke arah mana berasalnya suara itu, kemudian
me lakukan pencarian dengan seksa ma.
Dengan menelusuri jera m tersebut ia berjalan lebih kurang
seratus kaki lebih mendadak sorot matanya mene mukan sesuatu.
Di sebelah kanan jeram, dia mene mukan sebuah jembatan kecil
yang terbuat dari kayu je mbatan itu berdiri dari sebuah ba lok kayu
yang dipalangkan dari tebing seberang ke tepi tebing sebelah sini.
209
Di ujung je mbatan sebelah depan sana, di balik rimbunnya
dedaunan tergantung sebuah lentera merah yang tergantung tinggi
dan bergoyang ketika terhe mbus angin.
Ku See-hong mengerutkan dahinya, suatu pemandangan yang
mengerikan seakan-akan terlintas da la m benaknya.
Jeram yang menganga di bawahnya amat dalam, sedang
jembatan itu tergantung di atas awang-awang, meski lebarnya dua
jengkal tapi bawah jera m tersebut merupa kan gulungan air dengan
omba k yang dahsyat serta arus yang deras, bila seseorang tidak
bernyali dia akan pusing kepalanya bila berdiri di situ jangankan
lewat, berdiripun tak berani.
Maka setelah menyaksikan bentuk jembatan itu Ku See-hong
segera tahu kalau orang yang menghuni di sana sudah pasti jago
persilatan yang mengerti ilmu silat.
Dala m sekejap mata, Ku See-hong telah berjalan menuju ke
bawah tebing seberang. Ketika ia mencoba untuk me mperhatikan
keadaan di sekitarnya, tampaklah di sa mping jembatan tersebut
terdapat sebuah hutan. Di balik hutan terdapat sebuah rumah kecil
yang terbuat dari batu, sinar lentera tampak keluar dari balik ruma h
tersebut.
Lentera merah yang terlihat tadi, tergantung di atas rumah batu
itu. Ku See-hong segera menghimpun tenaga dala mnya, kemudian
sambil menyingsingkan baju dia melompat ke depan dan mengintip
ke dala m rumah tadi.
Paras mukanya mendada k berubah hebat, untung saja selama
berdiri di kuil kuno dulu sudah biasa terlatih untuk menghadapi ha l-
hal yang menyeramkan, kalau t idak….
Kiranya di dala m rumah batu itu, di samping meja tergeletak dua
sosok mayat. Sekilas pandangan tampak kedua sosok mayat itu
me miliki perawakan tubuh yang tinggi ke kar. Mereka mengena kan
baju ringkas berwarna emas dengan sebuah golok besar bergaris
emas yang me mancarkan sinar tajam tersoreng di pinggangnya.

210
Batok kepala kedua orang itu sudah dibikin gepeng sehingga
paras mukanya sukar terlihat lagi.
Setelah menyaksikan dandanan dari kedua orang lelaki itu wajah
Ku See-hong segera diliputi oleh kabut hitam, pikirnya:
“Kalau dilihat dari dandanan mere ka, tampaknya kedua orang itu
mengenakan dandanan dari anggota perkumpulan Kim-to-pang
yang dulu didirikan oleh kedua orang tuaku, semenjak ayah ibu mati
terbunuh, seluruh perkumpulan Kim-to-pang juga bubar tak
karuan….”
Terbayang kembali ke matian kedua orang tuanya yang dibunuh
orang secara mengerikan, tanpa terasa titik ar mata jatuh berlinang
me mbasahi wajahnya. Dengan cepat pikiran dan perasaannya juga
terjerumus da la m kepedihan yang bukan kepalang.
Cahaya lentera dalam ruangan itu masih me nyoroti tubuh kedua
sosok mayat itu. Ini se mua me mbuat tanah pebukitan yang hening
dan sepi itu terasa ma kin mengerikan dan menggidikkan hati.
Ku See-hong tertegun beberapa saat lamanya, kemudian
menghe la napas sedih. Sepasang matanya me mperhatikan kedua
sosok mayat itu sekejap, lalu sambil me nelusuri undak-unda kan
batu di sisi kiri ruma h kecil itu, menuruti tebing tadi.
Suaana di bawah tebing amat sepi dan hening, bintang-bintang
di angkasa juga bertaburan menyiarkan cahaya yang redup, di
bawah tebing merupakan sebuah tanah persawahan yang luas, di
belakang sawah adalah bangunan rumah yang rapat menyerupai
sebuah perkampungan. Cahaya lentera tampak me mancar ke luar
dari antara bangunan rumah itu.
Pelbagai ingatan berkeca muk da la m benak Ku See-hong. Dia
sedang berpikir, betulkah di dala m perka mpungan itu berdia m para
pengikut setia ayah ibunya yang tergabung dalam Kim-to-pang?
Benarkah mereka mengasingkan diri di sana sa mbil berusaha untuk
me lanjutkan perjuangan perkumpulannya?

211
Makin la ma Ku See-hong merasakan hatinya se makin tidak
tenang. Setelah mendengar jeritan ngeri yang bergema tadi,
ke mudian me nyaksikan suasana mengerikan yang terbentang di
depan mata, suatu firasat jelek tiba-tiba saja muncul dala m hatinya.
Dengan cepat dia menyeberangi tanah persawahan itu. Tampak
di sebelah kiri sana terbentang sebuah sungai yang lebarnya dua
kaki. Air mengalir dengan derasnya, sedang di sebelah kanan
tampak tanah perbukitan menjulang tinggi ke angkasa di bawah
pantulan cahaya rembulan, menciptakan suatu pemandangan yang
indah.
Di depan sana berdiri sebuah bukit yang tinggi. Di kaki bukit
berdiri sebuah bangunan perka mpungan, ketika berjalan makin
dekat tampaklah bangunan loteng dan gardu se makin jelas.
Di luar hala man perka mpungan itu berdirilah sebuah dinding
perkampungan yang tingginya beberapa kaki, pintu gerbang yang
berwarna hitam pekat didirikan menghadap ke arah selatan.
Waktu itu pintu terbuka lebar, di atas pintu tertancap dua bilah
golok e mas yang menyilang. Di bawah pancaran sinar re mblan
tampak cahaya emas yang berkilauan.
Ku See-hong berhenti sebentar di depan pintu. Ke mudian
mengulur tangannya untuk menepuk gelang pintu keras-keras.
Ketika gelang pintu yang terbuat dari emas itu saling beradu
terdengarlah bunyi dentingan yang a mat merdu.
Tapi, suasana di dalam ruangan tetap sepi, bahkan keheningan
tersebut erbawa pula suasana yang menyeramkan. Ku See-hong
merasa hatinya makin berat, keningnya berkerut kencang, baru saja
kakinya melangkah masuk ke balik pintu, bau amis darah yang
sangat tebal dengan cepatnya menyelimuti di seluruh angkasa.
Apa yang terbentang di depan matanya hampir saja me mbuat
anak muda itu tertegun, benar-benar suatu pemandangan yang
amat menggidikkan hati.

212
Di da la m hala man di ba lik pintu gerbang bercat hita m itu
berbaringlah tiga puluhan sosok mayat. Kalau dilihat dari dandanan
maupun keadaan mereka, tak bisa disangkal lagi orang-orang itu
me mang berasal dari satu rombongan dengan kedua orang lelaki
kekar yang dijumpainya tadi.
Tubuh mere ka tidak dijumpai luka barang sedikitpun juga, tapi
kepalanya sudah dihajar orang sampai hancur berantakan. Mayat
mereka bergelimpangan tak karuan, agaknya sebelum dibunuh
mereka telah terlibat da la m suatu pertarungan yang sengit.
Cahaya rembulan yang le mbut menyinari noda darah di atas
tanah. Cahaya lampu yang redup terpancar keluar dari balik
ruangan mena mbah keseraman suasana te mpat itu.
Paras muka Ku See-hong berubah menjadi sangat berat, kalau
dilihat dari bekas luka di atas mayat-mayat itu, dapat diketahui
bahwa pembunuhan yang keji itu benar-benar me miliki ilmu silat
yang maha dahsyat, dan lagi sudah pasti bukan satu orang. Paling
tidak ada dua atau tiga orang yang terlibat.
Dari antara jago-jago lihay dala m dunia persilatan yang pernah
dijumpainya belakangan ini, hanya Im Yan cu serta manusia aneh
berkerudung itu saja yang me miliki kepanda ian sehebat itu.
Lalu siapakah orang-orang itu? Kenapa me mbunuh begitu banyak
orang? Apalagi orang-orang yang dibunuhnya itu seperti anggota
setia dari Kim-to-pang?
Pelan-pelan Ku See-hong berjalan masuk ke dala m ruang tengah,
mendorong pintu ruangan dengan tangan kirinya….
“Kraaakkk…” suara mencicit yang taja m me mecahkan
keheningan yang menceka m seluruh bangunan tersebut.
Pintu ruangan telah terbuka lebar tapi di dala mnya tak nampak
sesosok bayangan manusia pun. Kemba li dia menelusuri ruangan itu
dengan langkah pelan, la lu keluar lewat pintu sebelah kiri.

213
Di luar ruangan merupakan sebuah beranda, bangunan di sana
indah dan menawan. Di luar beranda na mpak sebuah jalan kecil
beralaskan batu putih yang jauh menjorok ke dala m.
Tiba-tiba Ku See-hong menyaksikan pula di kedua belah sisi jalan
kecil itu, terkapar dua sosok mayat lelaki berca mbang yang
me ma kai jubah berwarna kuning e mas, golok e mas yang tergantung
di pinggangnya baru tercabut separuh, tubuhnya yang tidak
ditemukan luka, cuma kepalanya yang basah oleh darah. Noda
darah itu meresap sa mpai jauh ke dala m tanah di tepi ja lan itu.
Kembali Ku See-hong berjalan belasan langkah mene lusuri jalan
itu, di sana ia temukan pula dua sosok mayat gemuk yang me maka i
jubah berwarna kuning pula. Dua bilah golok e mas yang berbentuk
aneh mencelat jauh seka li dari sisi mayat itu. Rambutnya penuh
noda darah dan kepa la merekapun hancur tak ada wujudnya.
Beberapa langkah lebih ke depan, terlihat pula sesosok mayat
dari seorang kake k berjenggot panjang serta e mpat orang le laki
bercambang. Tubuh merekapun tidak dijumpai luka, tapi kepalanya
penuh dengan noda darah.
Di ujung ja lan kecil itu, di dala m gardu persegi enam ta mpak
enam tujuh sosok mayat terkapar tak karuan bentuknya, ada yang
tua, ada yang muda, ada yang kurus ada pula yang gemuk, tapi
ke matian mereka mengerikan sekali.
Kendatipun Ku See-hong bernyali besar, tak urung hatinya dibikin
bergidik juga setelah menyaksikan peristiwa itu, juga bergidik oleh
kelihayan ilmu silat yang dimiliki pe mbunuh itu, juga bergidik oleh
kekejian lawannya.
Selain daripada itu, muncul juga suatu perasaan marah dan sedih
dalam hatinya, sebab orang-orang itu mirip sekali dengan anggota
Kim-to-pang yang didirikan ayah-ibunya.
Ku See-hong tidak percaya kalau di da la m hala man itu sudah
tiada seorang manusiapun, maka dia melanjut kan pe meriksaannya
ke depan.

214
Setelah melewati gardu persegi enam sampailah dia di sebuah
halaman luas. Tapi apa yang terlihat me mbuat darahnya mendidih,
giginya digertak kencang-kencang dan sinar matanya me mancarkan
pancaran cahaya yang menggidikkan hati.
Dia merasa benci, benci yang tak terkirakan. Dia mendenda m
terhadap kebuasan pembunuh itu. Kekeja man orang itu benar-benar
tak terlukiskan dengan kata-kata.
Ternyata di dala m hala man tersebut berserakan mayat yang
jumlahnya mencapai tiga e mpat puluh sosok dala m keadaan
mengerikan… ternyata pembunuh keja m itu me mbunuh tanpa pilih
bulu, baik anak kecil ataupun kaum wanita tak ada yang berhasil
lolos dari pe mbunuhan biadab itu.
Perasaan Ku See-hong ketika itu penuh diliputi oleh peraaan
sedih dan marah.
Dari balik sorot matanya yang tajam terpancar keluar sinar
ke marahan yang menggidikkan hati, dia m-dia m ia bersumpah a kan
me mba laskan denda m bagi ke matian orang-orang itu, dia a kan
menggunakan cara yang sama kejinya, sama biadabnya dan sama
buasnya untuk me mbalas denda m kepada pe mbunuh brutal itu.
Hal 19-20 robek….
Tiba-tiba muncul seorang kake k dala m keadaan terluka yang
sangat mengerikan.
“Kalian pembunuh keja m yang berhati binatang sekalipun lohu
berubah menjadi setan pun tetap akan menggaet nyawa ka lian,
kau… kau…!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan penuh emosi, seluruh
tubuh kakek kurus itu ge metar keras dan gontai kesana ke mari,
wajahnya yang menyeringai menyeramkan segera menunjukkan
kesakitan hebat, sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup
dilanjutkan lagi.

215
Betapa girangnya Ku See-hong menyaksikan ka kek kurus itu
belum mati, dengan cepat dia me lompat ke muka dan
mengha mpirinya.
Kakek kurus itu me ngira Ku See-hong hendak melancarkan
serangan me matikan ke arahnya, dengan cepat dia me mbentak:
“Kau manusia berhati binatang, lohu akan beradu jiwa
denganmu!”
Berbicara sampai di situ dia lantas menghimpun sisa tenaga
dalam yang dimilikinya, dengan jari-jari tangan yang hitam pekat
dan kurus kering ia sa mbar musuhnya, jari-jari tangannya yang
direntangkan bagaikan cakar besi, ibaratnya sepuluh bilah pedang
tajam langsung mencengkera m tubuh Ku See-hong.
Terkesiap juga hati Ku See-hong menghadapi anca man tersebut,
sebab jurus serangan yang dipergunakan kakek itu selain aneh juga
cepatnya bukan kepalang sehingga me mbuat orang tak tahu
bagaimana caranya menghindarkan diri.
Ia tak berani me mbendung anca man tersebut dengan kekerasan,
maka dengan mengerahkan ilmu Mi-khi-biau-tiong ia berkelit ke
samping secara gesit dan aneh.
Agaknya isi perut kakek ceking itu sudah mengala mi luka yang
cukup parah, batok kepalanya pun terkena sebuah pukulan yang
me matikan, kesadarannya sekarang tak lebih karena me mperoleh
tunjangan hawa murninya yang sempurna, sehingga dengan
menganda lkan sehe mbus napas yang belum me mbuyar ia tetap
me mpertahankan diri.
Sekarang setelah serangannya gagal mencapai sasaran dan sisa
hawa murninya me mbuyar ia tak sanggup untuk me mpertahankan
diri lagi, tubunya roboh terkapar ke atas tanah, napasnya
tersengkal-sengkal, namun sorot matanya yang belum me mbuyar
itu masih mengawasi wajah Ku See-hong dengan penuh kebencian.
Ku See-hong tahu bahwa kake k ini telah salah menganggap
dirinya sebagai seorang pe mbunuh, buru-buru serunya:

216
“Lo-pek… lo-pek, jangan marah dulu, boanpwe bukan seorang
pembunuh, melainkan seorang perawat jalan belaka.”
Sementara itu, si kakek kurus itu sudah dapat melihat jelas kalau
pendatang itu adalah seorang pemuda yang tampan, apalagi setelah
mendengar suara dari Ku See-hong, dengan cepat ia tersadar
bahwa si anak muda itu bukanlah pe mbunuh berhati binatang
seperti apa yang diduganya se mula.
Walaupun begitu, hati kecilnya merasa terkesiap sekali, sebab
dengan suatu gerakan yang begitu mudah pemuda itu telah berhasil
menghindarkan diri dari serangan me matikannya yang dahsyat itu,
padahal seingatnya hanya beberapa gelintir manusia saja dala m
dunia persilatan yang ma mpu me lakukan ha l itu.
Dengan gelisah Ku See-hong segera bertanya:
“Lopek, lope k, apakah kau hendak me mberitahukan kepada
boanpwe, siapa-siapa saja pembunuh keji yang telah me lakukan
pembantaian secara brutal itu?”
Sepasang mata si kakek kurus yang mulai sayu itu mendadak
menatap wajah Ku See-hong tanpa berkedip, agaknya dia sedang
berusaha untuk mene mukan ke mbali kenangan serta ingatannya
yang sudah mula i me mbuyar itu.
Ku See-hong sendiripun meraa amat curiga sewaktu dilihatnya
orang kakek kurus itu hanya me mbungka m sa mbil mengawasi
wajahnya tanpa berkedip, pikiran dan prasaannya menjadi kalut
sekali, sebab dia kuatir kake k itu mati dengan begitu saja, sehingga
pembunuhan brutal ini sa ma se kli tak diketahui olehnya.
Dengan nada gelisah ke mbali Ku See-hong bertanya:
“Lopek, lope k, apakah kau masih bisa berbicara? Cepat katakan,
boanpwe akan me mba laskan denda m bagi kalian.”
Tiba-tiba selintas perasaan aneh menghiasi wajah si kake k kurus
yang mengenaskan itu, bibirnya bergetar dan muncullah serentetan
perkataan yang amat le mah:

217
“Si… siapa… siapa na ma mu?”
Ku See-hong merasa girang sekali ketika dilihatnya kakek itu
masih dapat berbicara, dengan ce mas katanya:
“Boanpwe she Ku, bernama See-hong…. Lopek, cepat kau
katakan, siapakah pe mbunuh itu?”
Mimik wajah ka kek kurus itu berubah semakin misterius dan
aneh, dengan suara gemetar dia berkata:
“A… apakah… apakah di atas lengan kirimu, di antara lekukan
sikut mu terdapat sebuah tahi lalat berwarna merah?”
Tak terlukiskan rasa kaget Ku See-hong sesudah mendengar
perkataan itu. Ia tak habis mengerti mengapa ka kek itu bisa tahu
kalau di antara lekukan sikut mu terdapat tahi lalat berwarna merah,
padahal sejak berusia dua tahun dulu, kedua orang tuanya sudah
mati terbunuh secara mengenaskan, sedangkan dia sendiri
dibesarkan oleh ma k-inangnya di mana orang tua inipun meningga l
dunia sewaktu dia berusia delapan tahun…. Praktis tiada sanak
keluarganya lagi sejak wa ktu itu.
Tapi, dari mana kah orang tua ini bisa mengetahui ciri tersebut
dengan begitu je las?
Sementara itu, tatkala si kakek kurus itu melihat rasa kaget
bercampur rasa tercengang menghiasi wajah pemuda itu, tahulah
dia bahwa dugaannya memang benar. Tiba-tiba saja dari balik sorot
matanya yang sudah mulai me mudar itu muncul serentetan cahaya
yang aneh sekali.
“Nak…” dia berkata ge metar, “Siapa… siapakah orang tua mu?
Dapatkah kau me mberitahukan kepadaku?”
Melihat kake k itu menanyakan na ma orang tuanya, secara tiba-
tiba Ku See-hong yang pintar segera menyadari sesuatu. Dia tahu si
kakek kurus beserta orang-orang yang telah tewas terbunuh itu
ke mungkinan besar adalah bekas-bekas anggota perkumpulan Kim-
to-pang yang masih setia kepada orang tuanya.

218
Air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajah Ku See-
hong, serunya dengan suara keras:
“Lopek, apakah ka lian bekas anggota perkumpulan Kim-to-pang?
Boanpwe… boanpwe… ayahku bernama Ku Kia m-cong, sedang
ibuku berna ma Lik-ih-li (Pere mpuan Berbaju Hijau) Hoangpo Yan….”
Sekujur badan kakek kurus itu ge metar semakin keras, dua titik
air mata darah jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dengan penuh
emosi dia berseru:
“Sau pangcu, kau… kau tidak me mbunuh bukan? Apakah lohu…
apakah lohu sedang bermimpi?”
“Lopek jangan me manggil aku sau-pangcu, aku tak sanggup
menerima panggilanmu itu,” kata sang anak muda a mat emosi
sekali a ir matanya jatuh bercucuran se makin deras.
“Lohu tak la in adalah tongcu dari ruang Sin-tong dala m
perkumpulan Kim-to-pang yang didirikan ayahmu dulu. Orang
menyebutku San-tian-han-jiau, Cakar Dingin Sa mbaran Kilat
Sangkoan Ik.
Sungguh beruntung sekali lohu dapat bersua muka denganmu
sebelum menutup mata untuk sela manya… pangcu suami istri dapat
me mpunyai seorang anak seperti kau, berada di alam bakapun
arwah mere ka dapat beristirahat dengan tenang….”
“Empek Sangkoan, masih sanggupkah kau untuk
me mpertahankan diri?” tanya Ku See-hong dengan cemas, “Katakan
dulu siapa pe mbunuh keji itu? Terangkan pula segala sesuatu
alasannya.”
Dengan suatu gerakan yang amat cepat Ku See-hong
me mbangunkan tubuh San-tian-han-jiu Sangkoan Ik, se mentara air
matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya. Ia hanya bisa
mengawasi kake k yang setia kepada perkumpulannya ini dengan
teramat sedih.
Sorot mata kasih sayang me mancar keluar dari ba lik mata Si
Cakar Dingin Sa mbaran Kilat Sangkoan Ik, ke mudian ia berkata:

219
“Nak, musuh-musuh besarmu ha mpir se muanya berilmu silat
sangat lihay, cara kerjanya pun amat buas, kejam dan tida k
mengenal a mpun. Setelah kau ketahui siapakah pe mbunuhnya
nanti, aku minta kau jangan me mbalas denda m secara me mbabi
buta. Ingatlah Pangcu hanya me mpunyai kau seorang untuk
me lanjutkan keturunannya, bila kau sampai menga mbil tinda kan
yang gegabah bagaimana pula tanggung jawabmu nanti kepada
orang tuamu di ala m baka…?”
“Ketika kau baru lahir dulu, siang ma la m lohu sela lu me mbopong
dirimu, apalagi lohu me mang tida k me mpunyai keturunan, aku telah
menganggap kau sebagai anak kandungku sendiri, itulah sebabnya
aku harap kau bisa baik-ba ik menjaga diri….”
Ketika berbicara sampai di situ, San-tian-han-jiu merasakan
darah di dala m rongga dadanya bergolak keras, tanpa terasa
ucapannya terpotong sampai di separuh ja lan dan tak sanggup
untuk me lanjutkan lebih jauh….
Setelah mendengar keterangan itu, Ku See-hong juga baru tahu
apa sebabnya kakek itu bisa tahu kalau di lekukan sikutnya terdapat
sebuah tahi lalat berwarna merah, kiranya sedari ia masih bayi dulu
kakek ini sudah me mpunyai hubungan yang akrab sekali dengan
dirinya.
Kenyataan ini seketika menimbulkan gejolak e mosi di dala m
dadanya, sambil sesenggukan menahan isak tangisnya, dia berkata:
“Empek Sangkoan, Hong-ji akan menurut i perkataanmu, Hong-ji
telah berhasi me mpe lajari beberapa macam ilmu sakti dari guruku
Bun-ji koan-su Him Ci-seng, aku yakin ke ma mpuanku masih dapat
dipergunakan untuk me mbunuh musuh-musuh besarku itu.”
Sinar mata tercengang memancar ke luar dari balik mata San-tian
han-jiau Sangkoan Ik, serunya agak ge metar:
“Nak, apakah manusia berbakat setan Bun-ji koan-su Him Ci-seng
masih hidup di dunia ini?”

220
“Setelah suhu mewariskan tiga maca m kepanda ian sakti kepada
Hong-ji, ia telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini,” sahut
pemuda itu dengan wajah a mat sedih.
Tadi, ketika San-tian han-jiu mendengar pengakuan dari Ku See-
hong yang mengatakan bahwa dia adalah muridnya Bun-ji koan-su,
mula-mula dianggapnya dia sudah salah mendengar, ma ka
pertanyaan tersebut diulangi sekali lagi.
Tapi sekarang, setelah tahu dengan pasti bahwa Ku See-hong
me mang benar-benar adalah muridnya Bun-ji koan-su, tak
terlukiskan rasa girang di dala m hatinya. Itu berarti dendam
kesumat mereka ada harapan untuk dila mpiaskan.
“Nak…” seru Sangkoan Ik dengan penuh e mosi, “Kau… rejekimu
sungguh amat besar, oooh… Sekalipun harus mati, lohu akan mati
dengan mata meram.”
Berbicara sampai di situ, suaranya makin la ma makin le mah,
seluruh badannya gemetar keras menahan penderitaan yang luar
biasa, kulit mukanya mengejang keras, sementara wajahnya
berubah menjadi pucat pias seperti sesosok mayat.
“Empek Sangkoan…!” jerit Ku See-hong dengan a mat sedihnya,
“Sadarlah… sadarlah dahulu, siapa-siapa kah musuh besar kita?
Kau… kau belum mengatakannya.”
San-tian-han-jiau berkerut kening dan pelan-pelan me meja mkan
matanya, tapi ia segera me mbuka ke mba li matanya. Darah dala m
jantungnya waktu itu telah me mbeku dan tak sanggup untuk
menga lir ke dala m seluruh badannya lagi. Setelah termenung
beberapa waktu, dia baru dapat berbicara dengan suara parau yang
sangat lemah:
“Nak, musuh besar pangcu adalah… Perkumpulan Thi-kiong-pang
serta… serta Cian-khi-pang… masih ada dalang lain yang berdiri di
belakang layar. Di kemudian hari orang itu pasti akan berhasil kau
temukan….

221
Sedangkan orang-orang yang me mbunuh segenap sisa anggota
Kim-to-pang pada ma la m ini adalah… Huan-mo kiangcu dari La m-
hay, Han-thian It-kiam (Pedang Sakti dari Han-thian) Cia Cu-kim
sekalian….”
“Denda m ini menyangkut soal hubungan sakit hati guru ayahmu
de… dengan ayah dari Han-thian-it-kia m. Juga menyangkut sebuah
‘benda’ kepercayaan milik aliran La m-hay-bun. Saa… sayang benda
itu… telah mereka rampas ke mbali. Ke mungkinan besar La m-hay
Huan-mo-kiong akan melakukan penyerbuan lagi ke daratan
Tionggoan, mereka… mereka adalah manusia-manusia yang
berbahaya, buas dan berilmu tinggi.
Besar kemungkinan mereka akan menerbitkan ke mbali badai
bencana di seluruh dunia persilatan…. Lohu sungguh merasa tak
punya muka untuk… untuk berjumpa muka dengan kedua orang
tuamu… aku menyesal tak ma mpu melindungi benda itu dengan
sebaik-baiknya….”
Tapi setelah berbicara sampai di situ, di atas wajah Han-jiau san-
tian Sangkoan Ik yang pucat pias, tersungging sekulum senyuman
yang amat le mbut.
Begitulah, diiringi senyuman tadi akhirnya dia telah meninggalkan
dunia yang fana ini untuk mendapatkan ketenangan sela manya….
Dengan meningga lnya Sin-tong tongcu dari perkumpulan Kim-to-
pang ini, maka berakhir pula segenap jago lihay perkumpulan Kim-
to-pang yang masih tersisa di dunia ini.
Kenyataan semacam ini benar-benar merupakan suatu kenyataan
yang sangat tragis….
Ku See-hong, pemuda keras kepala yang mempunyai hati teguh
ini tidak menangis tapi air mata jatuh bercucuran dengan amat
derasnya me mbasahi seluruh wajahnya, padahal kepedihan yang
mence ka m perasaannya sekarang sungguh tak terlukiskan dengan
kata-kata.

222
= (Soal benda yang dipersengketakan antara pihak Huan-mo-
kiong dari La m-hay dengan Kim-to-pang akan diungkap di bela kang
cerita ini)=
Mendadak….
Dari balik mata Ku See-hong yang basah oleh air mata, terpancar
keluar cahaya yang menggidikkan hati, keningnya berkerut lalu
mendengus dingin dengan nada yang a mat sinis. Tubuhnya melejit
ke tengah udara dan me layang secepat kilat, tahu-tahu dia sudah
berada di luar hala man bangunan tersebut.
Di tengah keheningan ma la m dan di bawah cahaya re mbulan
yang redup, di sebelah selatan tanah perbukitan itu tampak ada
empat sosok bayangan manusia sedang berlarian dengan kecepatan
luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah
lenyap dari pandangan mata.
Sekulum senyuman sinis yang menggidikkan hati segera
tersungging di ujung bibir Ku See-hong, dia percepat gerakan
tubuhnya untuk menjejar dari bela kang.
Dala m wa ktu singkat Ku See-hong telah berhasil menyusul
keempat sosok bayangan manusia di depan itu, jaraknya tinggal
lima ena m kaki belaka. Dengan suara menggeledek pe muda itu
segera me mbentak:
“Empat saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar!”
Agak terkesiap kee mpat sosok bayangan manusia itu tatkala
mendengar suara bentakan yang mengge ledek tersebut. Sementara
mereka tertegun, Ku See-hong yang berada di belakangnya telah
me lepaskan sebuah pukulan dahsyat yang mengerikan menerjang
ke tengah-tengah antara keempat sosok bayangan manusia itu.
Walaupun serangan itu dilancarkan dari jarak lima kaki, tapi oleh
karena tenaga dalam yang dimiliki Ku See-hong belakangan ini telah
me mperoleh ke majuan yang pesat, maka angin pukulan tersebut
bagaikan a mukan ombak dahsyat di tengah samudra, menggulung
ke depan.

223
Agaknya ilmu silat yang dimiliki keempat sosok bayangan
manusia itupun tidak le mah. Tampak mereka mengegos ke sa mping
dengan cekatan sekali, masing-masing me mpergunakan gerakan
yang aneh tapi sakti, kemudian sa mbil me mbentak, bayangan
manusia berkelebat lewat dan berbalik menerjang ke arah Ku See-
hong.
Angin pukulan bayangan kaki segera memenuhi seluruh angkasa.
Berkobarlah suatu pertarungan yang amat seru di te mpat itu.
Serangan gabungan yang dilakukan kee mpat orang ini sungguh
luar biasa sekali, angin pukulan datang berlapis, tendangan keji
menderu-deru seperti angin puyuh, se mua anca man tersebut
datang dari arah delapan penjuru dan bersama-sama tertuju ke
tubuh anak muda itu.
Paras muka Ku See-hong berubah hebat sesudah menyaksikan
jurus serangan yang dipergunakan musuhnya. Bahna nafsu
me mbunuh segera berkobar, sambil berpekik nyaring dia
me mbentak:
“Kawanan tikus dari La m-hay Huan-mo-kiong, serahkan nyawa
kalian!”
Pekikan nyaring dan bentakan keras segera berge ma berca mpur
aduk menjadi satu….
Ku See-hong me lakukan suatu gerakan busur yang bercahaya
tajam dengan tangan kanannya, ke mudian tubuhnya menerjang ke
muka secara tiba-tiba, segulung desingan angin taja m yang disertai
kilatan cahaya menyerang orang yang berada di sebelah kiri itu.
Jeritan ngeri yang me milukan hati sgera berkumandang
me mecahkan keheningan, tahu-tahu batok kepala orang itu sudah
terbacok hancur menjadi berkeping-keping dan tewas seketika itu
juga.
Tiga orang sisanya betul-betul tahu diri, serentak mereka
perdengarkan suara pekikan yang aneh sekali, ke mudian dengan
me misahkan diri ke tiga penjuru yang berbeda, seperti anjing-anjing

224
yang kena digebuk, mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat
itu.
Sorot mata Ku See-hong me mancarkan sinar merah yang berapi-
api karena gusar, menyusul dua kali lompatan ke muka, jari
tangannya digetarkan. Lima gulung desingan cahaya putih segera
me mancar ke e mpat penjuru.
Lagi-lagi berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan
hati. Orang yang kabur menuju ke arah barat itu tahu-tahu sudah
terkena serangan dan tewas seketika.
Sementara Ku See-hong mela kukan pe mbunuhan di situ, dua
sosok bayangan manusia yang lain telah manfaatkan kesempatan
itu sebaik-baiknya untuk menyela matkan diri. Tahu-tahu bayangan
tubuh mereka bedua sudah lenyap tak berbe kas.
Senyum sinis yang mengerikan segera tersungging di ujung bibir
Ku See-hong, dengan me mpergunakan suara yang dingin seperti
salju, dia berkata lantang:
“Manusia-manusia laknat dari La m-hay Huan-mo-kiong, ingat
saja pembalasanku nanti. Ehmm… secara keji dan buas kalian telah
me mbasmi perkumpulan Kim-to-pang ka mi, me mbantai setiap
anggota perkumpulan ka mi secara keji dan brutal, tak seorang pun
yang kalian biarkan hidup. Baik… ingat saja baik-baik, suatu ketika
aku pun akan me mpergunakan cara yang sama seperti apa yang
kalian lakukan hari ini untuk me mbantai kalian se mua.”
“Mulai detik ini, aku Ku See-hong bersumpah akan me mbunuh
habis kalian anjing-anjing keparat dari Lam-hay Huan-mo-kiong, aku
akan me mbunuh terus sampai semua orang-orangmu punah,
sampai istana Huan-mo-kiongmu rata dengan tanah, bila aku tidak
mewujudkan sumpah yang kuucapkan pada hari ini biar langit dan
bumi me ngutuk diriku….”
Selesai mengucapkan sumpahnya itu, Ku See-hong
me mperlihatkan sorot mata berapi-api yang penuh disertai rasa
benci dan dendam yang amat tebal dan menusuk tulang seakan-

225
akan kalau bisa dia ingin me mbasmi se mua musuhnya yang ada di
dunia ini.
Setelah berdiri termangu beberapa saat lamanya, pemuda itu
lantas menengadah dan berpekik nyaring. Suara pekikan tersebut
me lengking tinggi dan me manjang di tengah udara….
Di balik suara pe kikan tersebut, penuh terkandung rasa sedih dan
marahnya yang me mbara. Seakan-akan badai dunia persilatan yang
penuh berbau anyir darah sudah berada di a mbang pintu.
Berbareng dengan selesainya suara pekikan tadi, mendadak Ku
See-hong melejit ke depan dan berangkat menuju ke istana Huan-
mo-kiong di La m-hay….
00d-w00

Bab 11
DI TENGAH lautan La m-hay yang amat luas, tersebar berpuluh-
puluh pulau kecil. Kepulauan tersebut telah terlepas sama sekali
dengan daratan.
Huan-mo-kiong terletak di sebelah timur lautan La m-hay di atas
sebuah pulau misterius dan menyeramkan, para nelayan di sekitar
sana selalu menaruh perasaan ngeri dan was-was terhadap pulau
itu. Oleh sebab itu belum pernah ada orang yang berani me lakukan
penyelidikan terhadap keadaan pula tersebut.
Ilmu silat aliran La m-hay sudah termasyhur dala m dunia
persilatan karena keanehan dan kesaktiannya Hun-mo-kiongcu
pemilik pulau Huan mo-to tersebut, yakni Han-thian it-kia m (Pedang
Sakti Langit Dingin) Cia Cu-kim, sudah termasyhur sekali na manya
di seantero jagad.
Dulu, ayah Cia Cu-kim yang bernama Hu-hay it-kia m (Pedang
Sakti Laut Seberang) Cia Long-po pernah me mimpin anak muridnya
menyerbu ke daratan Tionggoan, membantai umat persilatan dan
berusaha menana mkan pengaruh mere ka di sana.

226
Waktu itu tak seorang jagoanpun dari se mbilan partai besar
dunia persilatan yang sanggup membendung serbuan mere ka itu.
Ketika dala m dunia persilatan bertambah gawat dan tampaknya
segera akan terjatuh ke tangan Hu-hay it-kia m Cia Long-po beserta
begundalnya, untung saja ada dalam dunia persilatan, seorang
pendekar yang berilmu tinggi… dia tak lain adalah guru Ku Kia m-
cong, pedang nomor wahid da la m dunia persilatan Thio-pek-siong.
Mereka berdua berjanji akan melangsungkan duel pedang di
dalam istana Huan-mo-kiong, untuk me nentukan masa depan
berjuta-juta umat persilatan di daratan Tionggoan, serta ketentuan
apakah orang-orang dari La m-hay Huan-mo-kiong a kan berhasil
menguasai daratan Tionggoan atau tidak.
Dala m suatu pertarungan sengit yang ke mudian berlangsung
dalam istana Huan-mo-kiong, antara Bu-lim-tit-it-kia m Thio Pe k-
siong melawan Ku-hay-it-kia m Cia Long-po, secara mengejutkan
sekali Thio Pek-siong berhasil me nangkan lawannya.
Sebagai umat persilatan yang menjunjung tinggi setiap perkataan
yang diucapkan, terpaksa Hu-hay-it-kiam Cia Long-po harus
menyerahkan pedang mestika alirannya, yaitu pedang Huan-mo-
kia m kepada Bu-lim-tit-it-kia m Thio Pek-siong serta berjanji untuk
tak akan muncul ke mba li dala m daratan Tionggoan.
Sejak saat itu, pedang pendek Huan-mo-kia m disimpan oleh Bu-
lim-tit-it-kia m Thio Pek-siong. Menje lang saat ke matiannya, ia telah
menyerahkan pedang pendek Huan-mo-kia m itu kepada muridnya
Ku Kia m-cong (ayah dari Ku See-hong).
Sayang pada dua puluh tahun berselang perkumpulan Kim-to-
pang telah musnah di tangan orang… Sebelum meninggal dunia, Ku
Kia m-cong telah menyerahkan pedang pendek itu kepada Sin-tong
tongcunya yakni San-tian-han-jiau Sangkoan Ik.
Hu-hay-it-kia m Cia Long-po sendiri me njelang saat
menghe mbuskan napasnya yang penghabisan, telah berpesan pula
kepada putranya Han-thian-it-kia m Cia Cu-kim, seandainya
golongan mereka me miliki kekuatan yang cukup, maka pedang

227
pendek Huan-mo-kia m tersebut harus berusaha untuk direbut
ke mbali.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim, adalah seorang manusia licik dan
berotak cerdas, dia pun me mpunyai ambisi yang sangat besar.
Setelah kematian ayahnya dia mulai menyusun rencana untuk
‘melalap’ daratan Tionggoan, serta me mba las denda m bagi sakit
hati ayahnya.
Maka, diapun secara dia m-dia m mulai me nghimpun sa mpah-
sampah masyarakat di dalam dunia persilatan untuk berpihak
kepadanya, kemudian menjadikan Huan-mo-kiong di La m-hay
sebagai sarang perompak.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim yang menutup diri sela ma lima
puluh tahunan, benar-benar telah berhasil me miliki serangkaian ilmu
silat yang luar biasa sekali hebatnya, selain itu gembong-ge mbong
iblis yang berhasil dihimpun olehnya juga tak terhitung jumlahnya,
hal mana me mbuat a mbisi iblis tua ini untuk me nguasai seluruh
dunia persilatan se makin berkobar-kobar.
Sasaran pertama yang menjadi incarannya sudah barang tentu
perkumpulan Kim-to-pang yang menyimpan pedang pendek Huan-
mo-kia m.
Sebab bila pedang pendek Huan-mo-kia m tersebut belum dia mbil
ke mbali, maka menurut peraturan, pihak Huan-mo-kiong yang
turun-temurun, semua anggota perguruan tersebut dilarang
menginjakkan kakinya lagi di daratan Tionggoan.
Di sinilah pangkal sebab mengapa para anggota setia dari
perkumpulan Kim-to-pang yang masih tersisa menga la mi nasib yang
mengenaskan sekali.
Langit berawan, ombak bergulung-gulung terhe mbus angin
kencang.
Sebuah sampan kecil berlayar menembusi gulungan ombak,
me mercikkan bunga air dan melaju ke muka. Di atas sampan itu
duduk seorang pe muda yang ta mpan. Sepasang matanya

228
me mancarkan cahaya dingin yang menggidikkan hati, ia sedang
me mandang ke tempat kejauhan, me mandang setitik hita m di ujung
langit situ….
Siapakah pe muda ini? Dia tak lain ada lah Ku See-hong.
Cahaya matahari telah memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru
dan me mantul di atas permukaan langit. Langit nan biru, suasana
nan hening, mendatangkan perasaan nyaman bagi siapapun juga.
Segulung angin laut berhe mbus lewat me mbawa udara yang asn
dan amis. Sampan Ku See-hong dengan seelmbar layar persegi
tiganya mene mbusi omba k berlayar dengan tenangnya ke depan.
Gelombang laut tidaklah begitu besar, hanya angin laut
berhembus sepoi menimbulkan gulungan kecil yang satu de mi satu
saling berkejaran.
Sejauh mata me mandang hanya lautan yang luas terbentang di
depan mata dan bersatu dengan langit di ujung sana,
mendatangkan perasaan yang lapang dan luas bagi siapapun yang
me mandangnya.
Kadangkala satu dua ekor burung manyar terbang merendah dan
me liuk-liuk menukik kesana ke mari, mendatangkan perasaan dama i
di hati se mua orang….
Ku See-hong mendayung terus sampannya dengan penuh
bersemangat, setiap dayungan mmbuat perahunya meluncur ke
depan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, apalagi
terhembus oleh angin le mbut, me mbuat lajunya sampan itu
me lebihi larinya sang kuda.
Dala m waktu singkat, matahari yang indah telah melepaskan
sinar keemas-e masannya yang memabukkan, pelan-pelan
mene mbusi air sa mudra yang hijau dan menyorot ke arah
kedala man lautan.
Pemandangan a la m yang terbentang waktu itu begitu cantik
sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, mungkin hanya orang
yang berada di te mpat kejadian saja yang dapat merasakannya.

229
Lambat laun, di ujung langit kejauhan sana muncul setitik hitam
yang kecil, tampaknya pulau Huan-mo-to sudah berada di depan
mata.
Pelan-pelan tapi pasti, pulau itu makin la ma sema kin mende kat,
sekarang Ku See-hong telah dapat menyaksikan segala sesuatu
yang berada di atas pulau tersebut. Lalu perahu pun makin la mbat
sementara suara ombak yang me mecah di tepian pantai semakin
terdengar jelas.
Akhirnya ia mencapa i tepi pantai berpasir yang le mbut.
Dengan gesit Ku See-hong me lompat turun ke daratan, sebuah
pantai berpasir yang berbentuk bukit kecil terbentang di depan
mata. Setelah melewati bukit berpasir itu, di atasnya baru
merupakan permukaan tanah biasa. Di atas tanah tertera selapis
batu kerikil yang le mbut tampa knya batuan itu diguna kan sebagai
bahan untuk me mbendung tanah agar t idak terjadi tanah longsor.
Dengan menge mbangkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat
sempurna, Ku See-hong berlarian di balik pepohonan yang tumbuh
di tepi jalan menuju ke ujung jalan berlapis batu, ke mudian
me mbe lok ke sebelah kanan, tiba-tiba pemandangan ala m yang
terbentang di hadapannya berubah.
Pepohonan yang tumbuh di sisi ja lan makin tipis dan jarang, tapi
di antara sela-sela pohon dengan pohon, tumbuh aneka rumput dan
bunga yang indah. Memandang dari kejauhan, yang terlihat hanya
warna merah, kuning, hijau yang berwarna-warni, la mat-la mat
terendus pula bau harum se merbak yang me mabukkan.
Waktu itu, kegelapan ma la m sudah mula i menyelimuti seluruh
jagad. Suatu mala m yang sepi telah menje lang tiba, walaupun
rembulan belum muncul dari balik awan, namun kerlipan bintang
yang berkerlip di angkasa me mancarkan cahaya yang redup, itulah
sebabnya semua pe mandangan ala m di sekelliling tempat itu dapat
terlihat dengan jelas.
Tanpa terasa Ku See-hong telah me mperla mbat langkahnya, dari
balik matanya terpancar keluar sinar tajam yang menggidikkan,
230
dengan cekatan dia mengawasi sekejap sekeliling te mpat itu,
ternyata pulau Huan-mo-to yang begitu luas, sa ma sekali tak
tampak sesosok bayangan manusiapun. Keheningan yang amat
mengerikan menceka m seluruh jagad, hanya lamat-la mat saja
kedengaran suara ombak yang me mecah di tepian.
Walaupun denda m kesumat berkobar di dala m dadanya,
walaupun dia datang ke Huan-mo-kiong untuk me mbalas denda m,
namun perasaannya saat ini berat sekali.
Dia cukup tahu akan ke ma mpuan orang-orang Huan-mo-kiong
yang rata-rata berilmu tinggi, dia juga tahu akan kekejaman mereka
serta alat-alat rahasia mereka yang berbahaya, kesemuanya ini
menimbulkan perasaan tidak tenang dala m hatnya, me mbuat
hatinya kebat-kebit tak karuan.
Berada dalam keadaan begini, dia sangat berharap bisa bersua
muka dengan seseorang, bisa terjadi pertarungan yang sengit,
daripada harus menghadapi keheningan yang mengerikan… tapi
justru la mat-la mat terkandung hawa pembunuhan yang
mengerikan. Padahal sejak Ku See-hong melangkahkan kakinya ke
atas pulau Huan-mo-to, dia sudah tahu kalau keadaannya lebih
banyak mara bahayanya daripada rejeki.
Mendadak….
Ku See-hong menghentikan langkahnya dengan wajah berubah,
sorot mata aneh terpancar keluar dari balik matanya, ternyata lebih
kurang dua puluh kaki di hadapan sana terbentang sebuah hutan
bunga Tho yang amat luas, di belakang hutan tersebut muncul
bangunan-bangunan yang tinggi, megah dan kokoh.
Yang aneh adalah di sekeliling bangunan seperti bangunan
keraton itu, terpancar keluar se maca m asap put ih, yang mirip asap
bukan asap, kabut bukan kabut, warnanya keemas-emasan
bercampur hijau tua yang menyelimut i sekeliling bangunan.
Kabut itu menggumpal menjadi satu tanpa me mbuyar, hal ini
me mbuat orang merasa sulit untuk melihat jelas bentuk dari
bangunan itu.
231
Sementara Ku See-hong masih termenung sa mbil berdiri
termangu-mangu, mendadak dari balik hutan bunga tho itu
me luncur keluar sesosok bayangan putih bagaikan burung walet
mene mbusi omba k, dala m sekejap mata ia telah melayang turun di
hadapan muka Ku See-hong.
Agak berubah paras muka Ku See-hong setelah menyaksikan
kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bayangan putih itu.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dia awasi orang
itu, tapi keningnya segera berkerut dan wajahnya menunjukkan
setitik cahaya keheranan.
Ternyata dua kaki di hadapan Ku See-hong telah berdiri seorang
gadis berbaju putih yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan, rambutnya yang hitam panjang, terurai ke bawah
berkibar terhembus angin. Di bawah sepasang alis matanya yang
lentik bagaikan bulat sabit, tampa k sepasang biji mata yang sayu
dan me mancarkan sinar ke murungan, sedang mengawasi wajah
pemuda itu tak berkedip.
Gadis cantik jelita seperti bunga ini, meski menunjukkan sikap
tanpa emosi yang kaku na mun wajahnya yang cantik jelit itu
me mancarkan sinar keanggunan yang suci bersih, me mbuat siapa
saja yang berjumpa dengannya segera menaruh kesan baik. Dengan
muka dingin dan kaku, dia m-dia m Ku See-hong berpikir dala m
hatinya:
“Heran, mengapa di dala m istana Huan-mo-kiong yang
menyerupai sarang perampok ini bisa terdapat gadis cantik yang
begini anggun? Hmm! Kebanyakan pere mpuan hanya suci di luar,
padahal hatinya keji seperti seekor ular berbisa…”
Kesannya terhadap kaum wanita me mang a mat jelek seka li serta
me miliki sesuatu cara pandang yang picik. Betul kesannya terhadap
gadis berbaju putih ini baik, namun pandangannya yang sempit
me mbuat pe muda itu segera terpengaruh oleh pandangannya itu.
Tiba-tiba terdengar gadis berbaju putih itu berkata dengan suara
yang amat le mbut:

232
“Sauhiap, kau datang dari mana? Siapa na ma mu? Ada urusan
apa kau datang ke istana Huan-mo-kiong?”
Ku See-hong tahu bahwa gadis itu telah mengira dirinya sebagai
tamu piha k Huan-mo-kiong. Tanpa terasa ia mendengus dingin,
dengan sorot mata me mancarkan cahaya menggidikkan dan suara
sedingin salju, katanya dengan cepat:
“Aku bernama Ku See-hong, datang ke pulau Huan-mo-to ini
untuk me mbunuh se mua manusia laknat yang bergabung dala m
istana Huan-mo-kiong ini.”
Paras muka nona berbaju putih itu segera berubah hebat, sejak
dilahirkan belum pernah ia dengar ada orang berani mendatangi
pulau Huan-mo-to untuk me mba las denda m, apalagi
menge mukakan maksud kedatangannya secara begitu terang-
terangan.
Pada mulanya ia masih mengira pemuda ini sudah gila, tapi
setelah menyaksikan wajah yang gagah dan dingin me mbawa hawa
pembunuhan tersebut, tanpa terasa ia tertegun juga. Setelah hening
sejenak, akhirnya gadis itu berkata lagi:
“Ku sauhiap, tahukah kau setiap anggota Huan-mo-kiong
me miliki ilmu silat yang sangat lihay dengan tindakan yang keji dan
tidak mengena l ampun? Setiap orang yang berani mendatangi pulau
Huan-mo-to belum pernah ada yang bisa pulang da la m keadaan
selamat?”
Mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan tertawa
seram:
“Haaahh… haaahh… haaahh… Huan-mo-kiong tidak lebih cuma
tempat kelompok manusia-manusia rendah yang terdiri dari sampah
masyarakat dunia persilatan, setelah aku orang she Ku berani
datang kemari untuk mencari balas, tentu saja akupun tak akan
takut menghadapi segala maca m tipu muslihat dari ka lian se mua.
Kini cepat laporkan kepada gembong iblis terkutuk Han-thian it-
kia m Cia Cu-kim, katakan ka lau keturunan dari Kim-to-pangcu

233
datang kemari untuk menuntut ke mbali keseratus le mbar nyawa
anggota kami yang dibunuhnya pada sebulan berselang!”
Nona berbaju putih itu segera berkerut kening, paras mukanya
juga turut berubah menjadi dingin seperti es, katanya:
“Guruku Han-thian it-kia m Cia Cu-kim telah berangkat ke daratan
Tionggoan se menjak dua bulan berselang, hingga kini dia belum
ke mbali…. Sekarang kedua kalinya kuperingatkan kepada mu,
sebelum orang-orang Huan-mo-kiong pada pulang, lebih baik cepat-
cepatlah tahu diri dan mengndurkan diri dari sini, kalau t idak kau
bisa mati tanpa liang kubur di te mpat ini.”
Mendongkol sekali hati Ku See-hong setelah mengetahui kalau
biang ke ladinya tak ada di rumah, dia segera tertawa dingin:
“Kalau me mang tua bangka itu tidak ada di rumah, la in kali aku
orang she Ku pasti akan mencarinya lagi untuk direnggut nyawanya,
ma la m ini a kan kumusnahkan dahulu sarang iblisnya… bila kau tahu
diri, cepatlah tinggalkan tempat ini, aku orang she Ku mengingat
kau masih me miliki watak ma nusia, tak akan kuusik dirimu.”
Dia m-dia m nona berbaju putih itu menghe la napas panjang,
pikirnya ke mudian:
“Betul-betul seorang pendekar muda yang keras kepala dan
tinggi hati, aaai… kasihan jika dia harus mene mui ajalnya pula di
dalam istana Huan-mo-kiong…. Keng Cin-sin, wahai Keng Cin-sin,
kau sudah penuh dengan dosa dan menyalahi hukum Thian, apakah
kau akan me mbiarkan pendekar muda ini ke mbali terkubur di sini?
Kau tak boleh me mbiarkan orang ini mengorbankan pula jiwnya di
tangan kaum laknat tersebut….”
Untuk sesaat lamanya perlbagai ingatan berkecamuk dala m
benak nona berbaju putih itu. Tiba-tiba wajahnya menjadi cerah
ke mbali, dengan le mbut katanya:
“Ku Sauhiap, aku tahu ka lau kau angkuh dan keras kepala,
lagipula me mpunyai denda m kesumat sedalam lautan, tak nanti kau
akan mundur dengan begitu saja dari sini, cuma aku ingin bertaruh

234
dulu denganmu, bila kau sanggup mengalahkan aku dala m tiga
jurus, silahkan kau masuk ke dala m istana Huan-mo-kiong. Kalau
tidak, cepatlah mengundurkan diri dari sini, ketahuilah t indakanku
berbicang-bincang denganmu pada mala m ini sudah me langgar
peraturan rumah tangga kami dan seharusnya menerima hukuma n
mati…”
Terkesiap hati Ku See-hong sesudah me ndengar perkataan itu,
segera pikirnya:
“Mungkinkah gadis ini adalah se kuntum bunga teratai putih yang
benar-benar masih suci dan be lum ternoda?”
Tapi dasar wataknya me mang angkuh, dengan wajah dingin
seperti es, segera katanya:
“Maksud ba ik nona biar aku orang she Ku terima di dala m hati
saja. Kalau me mang begitu, maaf ka lau aku akan berbuat lancang.”
Sementara berkata, dengan suatu gerakan yang cepat seperti
sambaran kilat Ku Se-hong bergerak maju ke depan. Telapak tangan
kirinya me mbuat satu gerakan melingkar yang aneh seka li,
semenara tangan kanannya digetarkan keras-keras. Lima gulung
desingan angin taja m yang disertai dengan he mbusan angin dahsyat
dengan cepat menyergap ke atas jalan darah penting di tubuh Leng-
sin si nona berbaju putih.
Serangannya semakin ganas dan dahsyat, jurus serangannya
juga hebat sekali.
Menyaksikan serangan itu, paras muka si nona berbaju putih
Keng Cin-sin segera berubah hebat, dengan cepat badannya
mengegos ke sa mping dan me loloskan diri dari sergapan Ku See-
hong yang cepat bagaikan sambaran petir itu, ke mudian dengan
enteng sekali badannya maju ke depan. Telapak tangan yang putih
dan halus itu, kiri kanan melancarkan serangan, telapak tangan
kirinya melancarkan pukulan tenaga Yang-kang yang hebat tenaga
pukulannya menderu-deru, sebaliknya telapak tangan kanannya
me lancarkan sebuah jurus pukulan yang bertenaga Im-kang, le mah
gemulai seakan-a kan sa ma seka li tak bertenaga.
235
Ku See-hong sa ma seka li t idak menyangka kalau gerakan
menghindar dan gerakan melancarkan serangan balasan yang
dilakukan gadis itu bisa dilakukan dengan begitu aneh dan
cepatnya.
Dala m keadaan terkesiapnya, jurus serangan tangguh segera
dilancarkan berulang kali, sementara kakinya melangkah dengan
ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, secara aneh tapi pasti
tubuhnya melejit ke samping kanan lawannya, lalu kesepuluh jari
tangannya disentilkan bersa ma.
Desingan angin tajam mendesing me mekikkan telinga, segulung
gulungan tenaga serangan bagaikan sepuluh bilah pedang terbang
berbareng menganca m sepuluh tempat jalan darah penting di tubuh
lawan.
Keng Cin-sin, si nona berbaju putih itu me mbentak keras,
tubuhnya bergetar indah sepasang telapak tangannya diputar
me mbentuk segulung tenaga pukulan yang lembut dan tiba-tiba
saja balik menggulung ke atas tubuh Ku See-hong.
Perasaan Ku Se-hong waktu itu sudah diliput i oleh perasaan
bergidik berca mpur kaget, dia sudah tahu ka lau nona berbaju putih
ini me miliki kepandaian silat yang maha lihay, sedikitpun tida k
berada di bawah Im Yan cu, sekalipun ada selisihnya, juga minim
sekali.
Maka setelah berpikir sejenak, tubuhnya lantas melayang sejauh
empat kaki jauhnya mengikuti ke he mbusan angin pukulan yang
kuat itu.
Sebaliknya Keng C in-sin yang sudah bertarung dua jurus dengan
Ku See-hong, meski dia tahu kalau pe muda ini me miliki ilmu silat
yang sangat lihay, namun dia yakin ke ma mpuan semaca m itu masih
belum ma mpu untuk menghadapi kaka k seperguruannya… Sau-
kiongcu dari istana Huan-mo-kiong.
“Ku sauhiap,” kata Keng Cin-sin ke mudian dengan suara dingin,
“Ucapan seorang kuncu berat bagaikan bukit Thay-san, kini tinggal
satu jurus yang terakhir….”
236
Paras muka Ku See-hong juga berubah menjadi dingin dan kaku,
ucapnya pula:
“Harap nona perhatikan baik-baik, di da la m serangan yang
terakhir ini akan kupergunakan sebuah jurus serangan yang
me matikan, begitu digunakan… a ku sendiripun tak dapat
mengenda likannya kemba li. Bila kau menganggap tida k me miliki
ke ma mpuan untuk menghindarinya, harap segera mundur dengan
cepat….”
Agak termangu-mangu Keng Cin-sin setelah mendengar ucapan
tersebut, mungkinkah dia benar-benar me miliki ilmu silat yang
begini hebatnya?
Tapi ketika menyaksikan ucapan Ku See-hong yang begitu serius,
dia tak berani pula bertindak gegabah. Diam-dia m ia
me mpersiapkan diri la lu mundur ke bela kang, dia bukannya takut
mati, tapi se karang ia belum boleh mati….
“Hati-hati!” bentak Ku See-hong dengan suara dingin.
Mendadak seapsnag lengannya diputar dan digerakkan dengan
suatu gerakan aneh, tiba-tiba saja seluruh badannya mela mbung ke
tengah udara, menyusul ke mudian sepasang kakinya bergetar
secara aneh… seluruh tubuhnya tahu-tahu sudah melayang ke mbali
ke atas tanah.
Pada saat ujung kakinya hampir menyentuh permukaan tanah
itulah tiba-tiba Ku See-hong menerjang ke depan… “Blaaamm…! ”
diiringi kilatan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, suatu
ledakan keras berkumandang me me cahkan keheningan.
Untung saja sebelum serangan tersebut dilancarkan, Keng Cin-sin
telah me mperoleh peringatan dari Ku See-hong, tiba-tiba saja dia
merasakan sekujur badannya seakan-akan terbungkus di balik
cahaya keemas-emasan yang amat menyilaukan mata. Ia tahu jurus
serangan ini terlampau ganas… Dala m terkesiapnya dengan
mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dia melompat ke
belakang.

237
Namun, baru saja badannya meninggalkan permukaan tanah,
matanya telah berkunang-kunang dan kepalanya amat pening. Dia
merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang aneh
me mbuat napasnya menjadi sesak. Da la m terkesiapnya buru-buru
dia menjejakkan kakinya ke tanah, dengan menghimpun tenaga
dalam yang ada di dala m pusar, dia percepat gerakannya untuk
me lompat mundur.
Kendatipun gerakan yang dilakukan olehnya dilakukan cukup
cepat, dan lagi sebelum serangan dilancarkan ia telah me mperoleh
peringatan dulu, na mun tiga gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut memang terla mpau dahsyat…. Ditambah pula tenaga
dalam yang dimiliki Ku See-hong makin hari makin berta mbah
pesat. Kesempurnaan tenaga dalamnya sekarang sudah berlipat
ganda bila dibandingkan sewaktu bertarung melawan Im Yan cu
tempo hari.
Terdengar nona berbaju putih itu mendengus tertahan, badannya
terkena sambaran ekor tenaga serangan dari jurus Tee-cian-hun-ih
(Sukma Sengsara Neraka Mengerikan) itu, hingga badannya
mence lat sejauh empat kaki. Baju putih yang dikenakan itu sudah
robek sebagian besar sehingga kulit badan yang berwarna putih itu
la mat-la mat kelihatan. Merah padam sele mbar wajah Keng Cin-sin
karena jengah, dengan agak cemas dia lantas berseru, “Hati-hati
dengan akal muslihat dan tipu daya mereka!”
Di tengah seruan tersebut, bayangan putih tampak berkelebat
lewat, bagaikan sukma gentayangan dia sudah menyusup masuk ke
dalam hutan bunga tho itu. Pada saat itulah, tiba-tiba dari balik
hutan bunga tho itu ke mba li berkumandang suara bentakan yang
keras, menyusul bergemanya suara tertawa aneh yang mengerikan.
“Sreeett… sreeett…!” dua sosok bayangan manusia, bagaikan
sukma gentayangan munculkan diri dari balik pepohonan. Ke mudian
dalam beberapa kali lompatan saja telah berada di hadapan Ku See-
hong. Dilihat dari ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, dapat
diketahui kalau ilmu silat yang mereka miliki tidak le mah.

238
Dari ba lik mata Ku See-hong yang taja m segera me mancarkan
sinar menggidikkan hati, disapunya sekejap pendatang itu, lalu
mendengus dingin dengan nada sinis:
“Rupanya kalian dua orang manusia la knat yang berhawa sesat
ingin datang menghantar ke matian. Baik, aku orang she Ku akan
menghantar dulu keberangkatan ka lian….”
Ternyata dua orang yang munculkan diri itu adalah manusia aneh
Im-Yang, bertubuh aneh dan kurus kering seperti tengkorak, selain
mukanya berwarna pucat keabu-abuan, bibirnya tampak lancip
dengan tulang pipi yang se mpit.
Kedua orang manusia aneh ini terbiasa bersikap bengis, buas dan
tidak mengenal a mpun, sudah barang tentu mereka tida k tahan
menghadapi sikap Ku See-hong yang begitu sinisnya itu.
Salah seorang di antaranya, seorang manusia aneh berjubah
panjang warna hijau segera berteriak aneh, ke mudian serunya:
“Anjing cilik, ke matian sudah berada di a mbang pintu masih
berani bicara takabur. Hmm! Lohu a kan segera mengirimmu pulang
ke rumah kakek moyangmu….”
Di tengah teriakan tadi, dia meloloskan sebuah senjata aneh
yang berwarna hitam, lalu dengan me mbentuk selapis cahaya busur
berwarna perak yang amat rapat, disertai desingan angin tajam
yang menderu-deru, langsung menggulung ke tubuh Ku See-hong.
Kiranya dua orang manusia aneh itu tak laian adalah Sim-tongcu
yang paling beracun dala m istana Huan-mo-kiong… Im-Yang Siang-
mo (Sepasang Iblis Im Yang).
Bukan cuma bengis dan keja m saja, kedua orang inipun
termasyhur karena kebuasannya yang lebih me ndekati tak kena l
perike manusiaan.
Sudah cukup la ma kedua orang ini berse mbunyi di balik hutan
bunga tho, mereka pun cukup mengetahui betapa lihaynya
kepandaian silat yang dimiliki Ku See-hong, maka dari itu, begitu

239
turun tangan, mereka lantas mengeluarkan senjata andalannya
yang paling beracun Sah-hi-ci (Duri Ikan Hiu).
Begitulah, sementara senjata Duri Ikan Hiu di tangan kanannya
menciptakan gelombang cahaya tajam yang berlapis-lapis, tangan
kirinya juga dipentangkan seperti cakar setan untuk menciptakan
lapisan hawa taja m yang segera menyelimuti seluruh angkasa.
Ku See-hong sudah me mpunyai perhitungan yang cukup matang
di dala m hatinya, dia m-dia m dia berpikir:
-oo0dw0oo-

Jilid 8

“JIKA ingin menghe mat tenaga aku harus me mpergunakan jurus


serangan paling aneh, paling dahsyat dan paling cepat untuk
me mbinasakan kedua orang manusia aneh ini.”
Karena itu me lihat datangnya ancaman tersebut, Ku See-hong
tak berani berayal, dengan cepat dia kembangkan ilmu gerakan
tubuh Mi-siu-biau-tiong untuk menghindarkan diri, kemudian dala m
kesempatan tersebut, jurus serangan yang ampuhpun segera
dilancarkan.
Tampaknya Ku See-hong dengan me mpergunakan kecepatan
yang mengaburkan pandangan mata berputar dan berkelebat
secepat sambaran kilat, jurus serangan dilancarkan berulang kali,
kedahsyatannya mengejutkan me mbikin orang menjadi tertegun
dan tak habis berpikir.
Iblis aneh berbaju aneka warna itu me mutar pula Duri Ikan Hiu-
nya melancarkan serangan ke atas bawah, selapis garis busur yang
me lingkar-lingkar dan berlapis-lapis segera tercipta di udara
ibaratnya cahaya bianglala di angkasa, sinar tajam a mat
menyilaukan mata.

240
Sementara itu telapak tangan kirinya menyusul putaran senjata
tersebut menciptakan pula bayangan busur yang berlapis-lapis,
hawa pukulan yang berat dan tajam segulung de mi segulung
me luncur keluar bagaikan gulungan gelombang di tengah sa mudra.
Ilmu silat a liran Huan-mo-kiong di lautan La m-hay ini me mang
benar-benar luar biasa sekali, namun diapun tidak lebih hanya jago
kelas dua dala m istana Huan-mo-kiong, bisa dibayangkan betapa
dahsyatnya jago-jago kelas satu mereka.
Dala m waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bergebrak
sebanyak belasan jurus.
Hawa nafsu me mbunuh telah berkobar dala m benak Ku See-
hong, sambil berpekik nyaring, tubuhnya meloloskan diri dari
lingkaran tenaga pukulan lawan, dengan suatu gerakan yang sangat
aneh, kemudian secepat sambaran kilat telapak tangan kanannya
dilontarkan ke depan.
Dala m me lancarkan serangan ini, Ku See-hong telah
menggunakan tenaga dalamnya sebesar enam bagian, kekuatan
pukulannya dahsyat seperti raksasa me mbelah bukit. Di tengah
hembusan angin berpusing, udara menderu-deru, pasir dan batu
kerikil beterbangan, keadaan benar-benar mengerikan seka li.
Di mana angin taja m mendesing, terdengar jeritan ngeri yang
menyayatkan hati bergema me mecahkan keheningan, iblis aneh
berbaju aneka warna itu mence lat tiga kaki ke belakang dan ….
“Blaa mm! ” roboh terkapar di tanah la lu mene mui ajalnya seketika
itu juga.
Tiba-tiba berkumandang ke mbali suara tertawa seram yang
mengerikan, dua gulung angin pukulan yang le mbut tapi kuat tahu-
tahu sudah menyergap ke punggung Ku See-hong, “Blaaam…! ”
dengan disertai dentuman keras, tenaga sakti Kan-kun-mi-siu yang
dilatih Ku See-hong dala m tubuhnya telah membuyarkan tenaga
serangan itu secara otomatis, ke mudian ia me mbalikkan badannya,
dengan sorot mata yang me mancarkan kebengisan, dia lepaskan

241
ke mbali sebuah pukulan dahsyat ke tubuh iblis aneh berbaju merah
itu.
Tampak tenaga serangan yang dilancarkan Ku See-hong itu
me mbawa berbagai angin desingan tajam, yang memekikkan
telinga, seperti bendungan yang jebol saja, angin pukulan dahsyat
dengan hebatnya meluncur ke depan…
Agaknya iblis aneh berbaju merah itu sama sekali tak menyangka
kalau kedua buah angin pukulan le mbutnya yang sanggup
menghancurkan batuan cadas sama sekali tidak menimbulkan reaksi
apa-apa meski sudah terkena di tubuh lawan secara telak. Untuk
sesaat lamanya dia sa mpai berdiri termangu-mangu.
Pada saat itulah, segulung tenaga pukulan yang menyesakkan
napas telah meluncur datang dan mene kan dadanya berat-berat,
seketika itu juga dia merasakan kepalanya pusing sekali, darah yang
menga lir di dala m tubuhnya seperti mau meletus, sakitnya bukan
kepalang.
Jeritan ngeri yang memilukan hatipun segera berkumandang
me mecahkan keheningan, iblis aneh berbaju merah itu tahu-tahu
sudah tewas dengan darah kental bercucuran dari ketujuh lubang
inderanya.
Saat kematian bagi Im-Yang Siang-mo meski tidak berbarengan,
namun selisih waktu di antara merekapun minim sekali.
Setelah berhasil me mbinasakan sepasang iblis tersebut, Ku See-
hong segera mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring,
ke mudian secepat kilat meluncur ke arah hutan pohon tho tersebut.
Dala m waktu singkat Ku See-hong telah mene mbusi beberapa
puluh batang pohon bunga tho, tiba-tiba dia merasakan dala m
hutan itu seakan-akan terdapat begitu banyak pasukan yang
mengurung sekeliling te mpat itu, sehingga wa laupun ia sudah
mencoba untuk menerjang ke kiri atau ke kanan, tetap gagal untuk
menerjang keluar dari hutan itu.

242
“Aduuuh celaka…! Ku See-hong segera berpekik dala m hatinya,
“Aku telah terjebak oleh perma inan busuk lawan….!”
Ternyata hutan bunga tho itu merupakan pos penjagaan pertama
dari istana Huan-mo-kiong. Barisan pe mbingung sukma yang diatur
dalam hutan tersebut, diatur menurut barisan Ngo-heng pat-kwa-tin
yang dirubah susunannya. Bila seseorang tidak me maha mi ilmu
barisan, maka kendatipun ilmu silat yang dimiliki a mat lihay, jangan
harap bisa ke luar dari hutan bunga tho ini, sebab bila melewatinya
secara sembarangan, maka pada akhirnya toh akan terjebak pula ke
dalam perangkap mere ka.
Sesungguhnya Ku See-hong juga tahu kalau barisan pembingung
sukma yang berada dalam hutan bunga tho itu sangat lihay dan luar
biasa, barang siapa berani memasukinya secara sembarangan ma ka
akhirnya akan terjerumus dala m mara bahaya.
Namun pe muda yang tinggi hati dan keras kepala ini enggan
untuk pasrah dan menyerah dengan begitu saja, maka dia mula i
menerjang ke kiri, berputar ke kanan dengan harapan bisa lolos dari
kepungan barisan lihay itu.
Orang bilang, sekalipun orang pandai, suatu kala a kan menjadi
menjadi pikun juga, begitu pula keadaannya Ku See-hong, dia
hanya tahu berputar kesana kemari tiada hentinya, lambat laun
kesadarannya makin kabur dan sekujur badannya sudah basah
kuyub oleh keringat.
Tiba-tiba….
Ku See-hong mendengar ada orang yang tertawa seram dari sisi
tubuhnya, kemudian kedengaran orang itu berkata:
“Anjing kecil, kali ini ada kenikmatan untuk kau rasakan, bukan?
Heeehh… heeehh… heeehh… tak ubahnya seperti permainan joget
ketek (monyet saja) saja.”
Dengan suatu gerakan yang cepat Ku See-hong berpaling ke arah
mana datangnya suara tersebut, namun tiada sesosok bayangan

243
manusia pun. Apa yang terlihat tak lebih hanya bunga tho yang
berlapis-lapis.
Tak terlukiskan rasa geram anak muda itu dibuatnya. Dengan
gusar dia lantas me mbentak keras:
“Manusia laknat dari Huan-mo-kiong, mengapa tida k segera
mengge linding ke luar? Apakah gunanya bermain se mbunyi terus
semaca m anak kura-kura saja?”
“Bajingan cilik yang bermata buta, kami toh berada di sisimu,
masa kau tidak melihatnya?” jengek orang itu dengan sinis.
Kemudian terdengar pula suara yang tajam melengking
berkumandang lagi:
“Hmm… Kalau sudah tahu bermata buram maca m begitu,
mengapa kau berani mendatangi pulau Huan-mo-to untuk mencari
balas? Benar-benar tak tahu diri?! Hmm… kau sudah pasti tak a kan
dapat lolos dari neraka maut yang diatur oleh Huan-mo-kiong ka mi,
sekarang akan kuberi sedikit waktu bagimu untuk hidup. Menanti
kalau kiongcu telah ke mbali, kau baru akan diputuskan
hukumannya. Mala m ini kau telah me mbunuh dua orang tongcu
kami, maka kaupun jangan berharap bisa lolos dari sini dala m
keadaan hidup….”
Dengan mengandalkan sepasang matanya ayang tajam, sekali
lagi Ku See-hong me meriksa keadaan di sekeliling tempat itu.
Namun ia belum berhasil mene mukan sesosok bayangan manusia
pun.
Dia hanya merasa orang yang berbicara itu seakan-akan sebentar
berada di sebalah timur, sebentar lagi di barat, kedudukannya tak
menentu… dia kuatir secara tiba-tiba orang tersebut melancarkan
sergapan kilat kepadanya.
Sekarang, walaupun Ku See-hong merasa gusar sekali, na mun ia
sudah terjebak dala m barisan pe mbingung sukma dala m hutan
bunga Tho itu, sekalipun akan mengumbar hawa a marahnya juga
percuma.

244
Dala m keadaan begini, dia m-dia m ia lantas menghimpun tenaga
dalamnya dan siap melakukan tinda kan bila mana diperlukan. Dia
tahu banyak berbicara hanya me mberi kese mpatan baik saja bagi
lawannya untuk bertinda k.
Mendadak….
Dari luar hutan sana bergema suara pekikan aneh yang
me me kikkan telinga. Di balik suara pekikan tersebut terbawa suatu
hawa yang menyera mkan se kali.
Pekikan tersebut telah berkumandang dari luar hutan bunga Tho,
yang dengan kecepatan luar biasa meluncur tiba, bukan hanya
panjang dan mengerikan saja suaranya, lagipula me mbikin hati
bergidik dan bulu kuduk pada bangun berdiri.
Dari suara pekikan lawan yang kian la ma bertambah tinggi dan
me lengking, Ku See-hong tahu ka lau pendatang itu me miliki
kepandaian silat yang amat sempurna, tidak berada di bawah
manusia aneh berkerudung yang pernah dijumpainya. Terlintas satu
dugaan bahwa orang ini mungkin adalah sau-kiongcu dari La m-hay
Huan-mo-kiong.
Dengan kenyataan ini, anak muda tersebut makin sadar bahwa
kedatangannya ke pulau Huan-mo-to kali ini lebih banyak
bahayanya daripada sela mat.
Terdengar suara menera mkan yang dingin ka ku tadi ke mba li
berkata,
“Sau kiongcu, anjing itu sudah me mbunuh Sim-tong tongcu
pertama, Im-Yang, dua orang tongcu… dan melanggar beberapa
buah dosa besar, mohon diberi petunjuk hukuman apakah yang
hedak dilimpahkan kepadanya?”
Dengusan dingin berge ma, ke mudian seseorang menjawab:
“Barangsiapa berani me masuki istana Huan-mo-kiong, semuanya
dijatuhi hukuman dengan Lima Macam Siksaan. Cuma orang ini bisa
me mbunuh Tit-it sintong tongcu berarti dia mengerti sedikit ilmu
silat kucing ka ki tiga. Kalian sebagai tongcu sim-tong ke-dua

245
sepantasnya jika menyiksa dirinya lebih dulu agar orang ini
merasakan sedikit kelihayan ilmu silat Huan-mo-kiong sebelum
ajalnya tiba.”
Ku See-hong marah sekali, dia lantas menengadah dan tertawa
terbahak-bahak dengan seramnya. Suara tertawanya keras
me me kikkan telinga, cukup me mbuat perasaan orang bergetar
keras.
Kemudian setelah berhenti tertawa ia mendengus sinis,
tantangnya dengan suara keras:
“Manusia-manusia laknat yang berhati busuk, jika kalian punya
kepandaian, hayo tongolkan kepala mu dari tempat persembunyian,
akan kubuktikan sendiri, apa benar orang-orang Huan-mo-kiong
me miliki ke ma mpuan t iga kepala ena m lengan.”
Untuk sesaat la manya ketiga orang itu tetap bungka m dala m
seribu bahasa, rupanya mereka tertegun juga menyaksikan
kegagahan serta keberanian Ku See-hong. Sepanjang sejarah,
belum pernah ada orang yang begitu berani mendatangi pulau
mereka.
Tak la ma ke mudian, terdengar seorang berkata dengan suara
yang dingin menusuk tulang:
“Orang she Ku, dengan menganda lkan ucapan yang takabur
tersebut, pun sau-kiongcu menjadi tertarik sekali untuk me ncoba
dahulu sa mpai di manakah kelihayanmu, akan kulihat apa yang kau
andalkan sehingga begitu sombong dan takabur!”
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, kurang lebih dua
kaki di belakang pohon bunga Tho, tepat di hadapan Ku See-hong
me lompat ke luar tiga sosok bayangan manusia.
Orang yang berada di tengah adalah seorang pemuda berjubah
panjang warna biru yang ha mpir sebaya usianya dengan diri Ku
See-hong sendiri. Sebilah pedang berbentuk aneh tersoreng di
punggungnya, gagang pedang berwarna emas, kakinya bersepatu

246
indah. Ia berwajah ta mpan dan gagah, sekilas pandangan mirip
seorang kongcu romant is.
Cuma sayang sinar matanya me mbawa cahaya kebuasan,
kebrutalan dan kelicikan. Orang ini tak lain adalah kiongcu muda
dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.
Di sebelah kirinya berdiri seorang manusia aneh bermuka kuda
yang mengenakan jubah berwarna putih seperti pakaian berkabung,
sedang di sebelah kanannya adalah seorang kakek kurus bermata
besar, beralis mata tebal dan berwajah sera m.
Kedua orang ini tak lain adalah tongcu ruang siksa ke-dua dari
istana Huan-mo-kiong, Siang-khi tok-ci (Kakek Beracun Pe mbawa
Hawa Ke matian) Mao Soh-sat serta Ceng-hong mi-tan (Peluru
Pembingung yang Menggetarkan Jagad) Ciu Khi-sin.
Ternyata pembagian urutan jago-jago dala m Huan-mo-kiong
terbagi menjadi lima ruang siksa (sin-tong), makin meningkat satu
tingkatan berarti penghuninya berilmu silat lebih tinggi.
Dala m perguruan Huan-mo-kiong, kedudukan Tongcu merupakan
jago-jago yang terdiri dari jago-jago kelas dua dan keals satu. Lebih
ke atas lagi adalah keempat Huhoat (pelindung) dari Kiongcu yang
terbagi menjadi Panji Merah, Biru, Hitam dan Putih. Kepandaian silat
yang mereka miliki rata-rata sangat lihay, masing-masing me miliki
serangkaian ilmu rahasia yang sangat beracun.
Dari sini dapat diketahui ka lau kekuatan dari orang-orang Huan-
mo-kiong sesungguhnya luar biasa sekali, jauh lebih tangguh
daripada kekuatan perkumpulan besar dalam dunia persilatan.
Kekuatan se macam ini tentu saja tak boleh dipandang rendah.
Dengan sorot mata yang tajam, Ku See-hong memandang
sekejap wajah musuh-musuhnya, dia m-dia m dia terkesiap juga.
Pemuda itu sadar bahwa ketiga orang musuhnya ini merupa kan
jago-jago paling top dala m dunia persilatan dewasa ini.

247
Tak heran kalau umat persilatan pada jeri bila me mbicarakan soal
ke ma mpuan Huan-mo-kiong. Rupanya jago-jago lihay mereka,
selain banyak, juga merupa kan pilihan.
Ku See-hong yang bernyali baja dan berkeras kepala, betul hati
kecilnya merasa terkesiap, namun wajahnya masih kelihatan sangat
tenang. Setelah tertawa ringan ujarnya ketus:
“Bagus sekali! Bagus sekali! Sekarang aku orang she Ku akan
menghantar kalian satu persatu pulang ke rumah nenek moyang
kalian.”
Bahwasanya Ku See-hong secara beruntun berhasil
me mbinasakan dua orang tongcu mereka, peristiwa ini sudah
merupakan suatu aib yang belum pernah diala mi Huan-mo-kiong
sepanjang sejarahnya, tak heran kalau mereka tidak me mbiarkan
musuhnya berbuat semena-mena terus menerus.
“Anjing laknat, sebelum ma mpus kau masih berani bicara
takabur?” bentak Kakek Beracun Pe mbawa Hawa Ke matian Mao
Soh-sat dengan geramnya.
Di tengah bentakan keras, Kakek Beracun Pembawa Hawa
Kematian ini menerjang ke depan. Sepasang telapak tangannya
didorong bersama ke muka, segulung tenaga pukulan yang amat
dahsyat bagaikan gulungan ombak sa mudra segera meluncur ke
depan.
Ku See-hong me mbentak keras, dengan suara yang menggelegar
seperti guntur, sepasang telapak tangannya dirangkap menjadi satu,
lalu secara tiba-tiba dilontarkan keluar.
Dala m wa ktu singkat, segulung angin pukulan yang a mat
kencang, bagaikan hembusan angin puyuh meluncur ke depan
menyongsong datangnya anca man tersebut.
“Blaaa m…!” ketika dua gulung angin pukulan itu sa ling
me mbentur, terjadilah ledakan yang me mekikkan telinga, lalu terjadi
pusaran angin berpusing yang menyapu ke empat penjuru. Daun

248
dan ranting segera berguguran ke atas tanah, batu dan pasir
beterbangan di angkasa, keadaan yang sangat mengerikan.
Kakek Beracun Pe mbawa Hawa Ke matian, Mao Soh-sat
merasakan sepasang bahunya bergetar keras, lalu tubuhnya mundur
tiga e mpat langkah dengan se mpoyongan.
Sebaliknya Ku See-hong masih tetap berdiri tegak di te mpat
semula. Meski begitu mukanya menjadi serius, jelas hatinya merasa
amat terperanjat.
Dengan geramnya Kakek Beracun Pembawa Hawa Ke matian
menjerit lengking, tiba-tiba tubuhnya menyelinap ke depan,
sepasang cakar setannya diulur dan ditarik sa mbil me mancarkan
selapis hawa kabut berwarna hijau, lalu dengan disertai desingan
angin dingin menyergap ke tubuh Ku See-hong.
Secara tiba-tiba saja anak muda itu merasakan datangnya
sergapan hawa dingin yang menyengat badan, lalu hidungnya
megendus bau a mis yang busuk dan tak sedap dirasakan, menyusul
ke mudian kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, dia lantas
sadar, di balik kabut hijau itu terdapat racun keji yang sangat hebat.
Dala m kejutnya, ia berusaha mengerahkan ilmu gerakan
tubuhnya untuk menyelinap keluar. Siapa tahu kabut hijau itu sudah
mengikut i hembusan angin pukulannya yang amat tajam itu
menyelimuti se luruh tubuhnya….
Seketika itu juga Ku See-hong merasakan napasnya menjadi
amat sesak, dia m-dia m ia berpekik:
“Habis sudah riwayatku kali ini?!”
Dala m keadaan beginilah, mendadak Ku See-hog merasakan
munculnya dua gulungan tenaga panas dan dingin yang aneh dari
pusar yang segera menyebar ke da la m sekujur badannya.
“Blaaa mm… Blaaamm…!” letupan de mi letupan berge ma
me menuhi angkasa. Semua kabut beracun dan tenaga serangan
yang telah mengurung sekujur badannya itu tahu-tahu sudah lenyap
tak berbekas.

249
Dala m pada itu, Kakek Beracun Pe mbawa Hawa Ke matian Mao
Soh-sat, telah memperdengarkan suara tertawa seramnya sembari
berseru:
“Bocah keparat she Ku, sekarang kau sudah terkena Ngo-tok im-
khi (Hawa Dingin Panca Bisa)-ku, selewatnya dua belas jam, dala m
siksaan dan penderitaan, kau akan muntah darah dan….”
Mendadak dia menutup mulutnya ke mba li sebab dijumpainya Ku
See-hong sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan. Tak
terlukiskan rasa terkesiap hatinya merasakan kenyataan tersebut.
Untuk sesaat dia sampai berdiri termangu belaka dengan mata
terbelalak dan me longo lebar.
Malah sau kiongcu, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang berilmu
tinggi pun ikut berubah wajahnya setelah menyaksikan kenyataan
itu.
Sementara mereka masih tertegun, mendadak Ku See-hong
berpekik nyaring….
Suara pekikannya tinggi menjulang ke angkasa bagaikan jeritan
naga sakti, bukan cuma keras dan nyaring, suara itu sampa i
mendengung di seluruh pulau.
Berbareng dengan berkumandangnya pekikan nyaring itu,
sesosok tubuh melejit ke udara, ke mudian sepasang lengannya
berputar secara aneh. Cahaya tajam yang menyilaukan mata pun
menyebar ke e mpat penjuru.
“Sreeet…” di antara desingan angin tajam, sekilas cahaya putih
yang menyilaukan mata telah meluncur ke muka.
Paras muka Si Kake k Beracun Pe mbawa Hawa Ke matian Mao
Soh-sat yang sedang menyeringai seram, tiba-tiba berubah menjadi
ngeri dan ketakutan sekali. Jeritnya tertahan:
“Hoo-han-seng-huan…!”
Namun baru kata “Huan” diucapkan, jeritan ngeri yang
me milukan hati telah berge ma me mecahkan keheningan ma la m. Di

250
antara percikan darah segar yang me mancar ke e mpat penjuru,
batok kepala Kakek Beracun Pe mbawa Hawa Ke matian Mao Soh-sat
telah berpisah dengan tubuhnya dan terbacok hancur tak karuan
bentuknya.
Kematian ge mbong iblis ini, benar-benar mengerikan sekali,
me mbuat orang merasa tak tega untuk melihatnya.
Kiongcu muda, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang berada di
tepi arena segera berubah muka. Rasa ngeri dan terkesiap
menyelimuti wajahnya, namun hanya sejenak ke mudian telah
lenyap tak berbekas. Kemudian dengan sorot mata buas dan
sekulum senyuman menyeringai yang seram menghiasi bibirnya, dia
berkata:
“Suatu kepandaian yang a mat bagus! Suatu kepandaian yang
amat bagus! Hari ini a ku orang she Cia benar-benar terbuka
matanya. Heeehh… heeehh… Tolong tanya, kau berasal dari
perguruan mana?”
Ku See-hong merasa girang sekali ketika tiga jurus Hoo-han-
seng-huan yang digunakannya berulang kali menunjukkan ke lihayan
serta kedahsyatan yang begitu meyakinkan.
Mendengar ucapan tersebut, ia segera berkata dengan suara
dingin:
“Untuk menghadapi manusia-manusia laknat berhati buas seperti
kalian, kenapa harus me mbicarakan soal belas kasihan? Hmmm!
Beritahu kepada mu juga tak mengapa… aku tak lain adalah murid
dari Bun-ji koan-su Him Ci-seng, yang termasyhur na manya di
seantero jagad itu.”
Nama besar Bun-ji koan-su me mang a mat menggetarkan jagad,
jauh lebih termasyhur daripada nama orang-orang Huan-mo-to di
Lam-hay. Selain itu na ma Bun-ji koan-su pun sudah banyak
diceritakan orang se menjak lima puluh tahun berselang.
Bagi Kim-kia m (Si Pedang Emas) Cia Tiong-giok, hal mana masih
belum seberapa mengejutkan hatinya, berbeda dengan Ceng-hong-

251
mi-tan Ciu Khi-seng yang berada di sampingnya… kontan saja paras
mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan saking takutnya.
Ketika Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menyaksikan Ceng-hong
mi-tan sedemikian ketakutannya, sebagai seorang jago yang pintar,
ia segera tahu bahwa na ma besar Bun-ji koan-su tentu termasyhur
sekali di daratan Tionggoan. Dengan cepat ia me mberi tanda
berulang ka li kepada anak buahnya itu.
Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, katanya:
“Sela mat bertemu! Sela mat bertemu! Pulau terpencil semaca m
tempat ini dapat dikunjungi anak murid seorang tokoh silat
kenamaan, hal mana benar-benar merupakan kebanggaan untuk
Huan-mo-kiong ka mi. Hmmm! Cuma, aku orang she Cia rasa, kau
tak dapat mencari na ma dengan mengandalkan na ma besar dari
Bun-ji koan-su lagi.”
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, dengan
suatu gerakan yang sangat aneh, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok
telah melayang datang, kemudian sebuah pukulan dilancarkan ke
tubuh Ku See-hong.
Sepintas lalu, serangan itu dilancarkan seakan-akan sama sekali
tak disertai tenaga dalam, tapi ketika pelan-pelan mende kat sampa i
jarak satu depa dari Ku See-hong, mendadak… gerakan tangannya
berubah. Secepat kilat tahu-tahu menganca m bagian atas, tengah
dan bawah tubuh Ku See-hong, di mana terdapat delapan belas
buah jalan darah ke matian.
Selain gerakan serangannya yang amat ganas dan keji,
kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Serangan maha dahsyat itu ibaratnya sebuah jaring penangkap
ikan yang besar sekali. Dalam waktu singkat empat penjuru sudah
terkurung sama sekali, di sekitar arena muncul daya tekanan yang
menyesakkan napas, beratnya bagaikan bukit karang.

252
Ku See-hong sangat terperanjat. Dengan cepat ia pergunakan
ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong sin-hoat untuk menghindarkan
diri.
Ujung kakinya mendadak menekuk ke bawah, lalu dengan
pangkal kaki sebagai poros, secepat kilat ia berputar kencang….
“Sreeett…!” seluruh tubuhnya berputar bagaikan gerakan setan,
tahu-tahu ia sudah me lejit ke sa mping untuk me loloskan diri.
Tiba-tiba pada saat itulah….
Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng me mbentak keras, tangan
kanannya diayunkan ke depan, serentetan cahaya hijau yang
berkilauan secepat kilat menyambar ke muka.
“Blaaa mm…!” ledakan keras berkumandang me mecahkan
keheningan. Selapis asap berwarna hijau dengan cepat menyelimut i
seluruh tubuh Ku See-hong.
Di tengah kabut hijau yang menyelimuti angkasa, tampak tubuh
Ku See-hong pelan-pelan roboh terkulai di atas dan jatuh tak
sadarkan diri.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera perdengarkan suara
tertawa liciknya yang seram dan menggetarkan sukma. Di ba lik
gelak tertawa itu penuh disertai rasa kekejaman dan kebuasannya
yang mengerikan.
Mendadak suara tertawa terhenti.
Kemudian terdengar Si Pedang Emas Cia Tiong-giok berseru
dengan nada yang mengerikan,
“Hukum mati bocah keparat ini menurut Lima Maca m Siksaan!”
Baru selesai dia berkata, di ba lik hutan bunga tho sana melintas
lewat sesosok bayangan putih. Dari balik matanya yang jeli tampa k
air mata jatuh berlinang me mbasahi pipinya, jelas ia sedang
bersedih hati untuk ke matian pe muda pendekar yang tampan itu
oleh lima maca m siksaan keji yang menakutkan itu.

253
Ceng-hong mi-tan (Peluru Pe mabuk Yang Menggetarkan Jagad)
segera mengempit tubuh Ku See-hong, lalu bersa ma Kim-kia m Cia
Tiong-giok, me lenyapkan diri di ba lik barisan Mi-hun-tin dala m hutan
bunga tho itu.
000dw000

Bab 12
SUATU ma la m yang sepi ke mbali me njelang t iba….
Awan hitam menyelimuti seluruh angkasa, tiada bintang, tiada
rembulan, udara berwarna kelabu yang cuma mendatangkan
keseraman dan kepedihan bagi setiap insan manusia yang ada di
sana.
Tempat siksaan ke-e mpat yang paling keji dari Istana Huan-mo-
kiong….
‘Sumber Es Da la m Neraka’, letaknya dalam sebuah sumur kuno
sedalam tiga puluh kaki, lebar lima ka ki yang berada di antara
tebing-tebing cura m di sisi kiri Istana Huan-mo-kiong.
Sumber air dala m sumur itu merupakan sebuah sumber yang
berasal dari dasar samudra. Airnya dingin bagaikan salju, tempat
itulah merupakan tempat siksaan terkeji dari Huan-mo-kiong yang
me mbunuh orang tak me lihat darah.
Sejak dulu sa mpai sekarang entah berapa puluh laksa orang yang
mati kedinginan di situ.
Oleh karena air sumur itu luar biasa dinginnya, tanpa daya
mengapung, maka setiap orang yang melanggar peraturan Huan-
mo-kiong dan dijatuhi hukuman untuk menerima siksaan kee mpat di
Sumber Salju Dala m Neraka ini. Ma ka terhukum a kan digantung
dengan tali dan diceburkan ke dala m sumur kuno itu.
Tak selang berapa saat kemudian sang terhukum itu akan mati
karena peredaran darahnya membe ku. Tak heran kalau cara

254
me mbunuh se maca m ini disebut sebagai suatu siksaan yang pa ling
keji.
Tapi sela ma dua hari belakangan ini, ‘Sumber Salju Dala m
Neraka’ tersebut seakan-akan sudah kehilangan daya
ke ma mpuannya untuk me mbunuh orang…. Mengapa…?
Ternyata ada seorang terhukum, bukan saja tak mampus walau
sudah disiksa di tiga tempat, bahkan sekalipun sudah direnda m
selama dua hari se ma la m dala m siksaan yang ke e mpat, ‘Sumber
Salju Dala m Neraka ’, orang itu bukan saja tidak mati, ma lahan
semangat dan kekuatannya seperti bertambah hebat. Kata-kata
makiannya menjulang sa mpai ke langit. Manusia aneh itu tak lain
adalah Ku See-hong.
Sementara itu, di tepi sumur berdiri seorang pe muda berbaju
biru, dia adalah sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang
Emas Cia Tiong-giok. Waktu itu, ia dengar kata-kata makian sedang
berkumandang dari dala m sumur itu:
“Manusia-manusia laknat dari Huan-mo-kiong, sekarang kalian
boleh saja menyiksa aku orang she Ku dengan cara yang keji dan
rendah seperti itu, tapi suatu ketika, aku akan menghirup darahmu,
akan kumakan hatimu, cara kerja kalian melebihi buasnya binatang,
lebih rendah dari manusia la knat manapun juga, tapi… aku orang
she Ku tak akan mati, kecuali bila kalian me motong badanku
menjadi dua bagian….”
Walaupun Ku See-hong berhasil meloloskan diri dari e mpat
maca m siksaan yang keji, na mun dia harus me nahan penderitaan
dan siksaan baik fisik maupun batinnya. Oleh sebab itu, saat
tersebut ia benar-benar ingin mati saja….
Mendengar makian itu, pelbagai pikiran berkeca muk dalam benak
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, ia tida k habis mengerti, apa
sebabnya Ku See-hong bisa meloloskan diri dari e mpat maca m
siksaan tersebut tanpa mati…. Atau jangan-jangan dia bukan
manusia, me lainkan sukma gentayangan? Atau dewa?

255
Pada siksaan yang pertama… Huan Hiat Jian Hun (Me mbalikkan
Darah Me mbuat Cacad Sukma) adalah merupakan siksaan yang
menotok jalan darah terhukum dengan se maca m kepandaian silat
yang amat beracun. Bila orang biasa tertotok jalan darahnya oleh
kepandaian tersebut, maka peredaran darahnya akan mengalir
terbalik, hal mana akan berakibat me mbesarnya nadi darah yang
akhirnya pecah dan mati. Tapi kenyataannya, pemuda itu sama
sekali t idak merasakan siksaan apa-apa.
Pada siksaan yang ke-dua…. Tok Coan Cui Sim (Ular Beracun
Menghancurkan Hati) merupakan siksaan yang me mbiarkan
terhukum digigit oleh beribu-ribu ekor ular beracun yang buas dan
ganas. Tapi kenyataannya, ular-ular beracun itu tak ada yang berani
mende katinya… semburan bisa merekapun t idak me matikan sang
korban.
Kemudian pada siksaan yang ke-tiga: Liat Hwee Kau Siau
(Digarang dan Dimasak Di Atas Jilatan Api Panas). Bila orang yang
biasa digarang dengan api, dalam waktu singkat, tubuhnya segera
akan tinggal sebongkah tulang belulang bela ka. Tapi anak muda itu
sudah dibakar selama dua hari dua mala m, ia masih tetap segar
bugar, malahan sepasang matanya seperti bertambah tajam saja.
Kini, sudah meningkat pada siksaan yang ke-e mpat Tee Ih Peng
Swan (Sumber Salju Dala m Neraka), sampa i detik ini siksaan telah
berlangsung dua hari se ma la m… tapi ia be lum mat i juga.
Makin berpikir, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa ma kin
terkesiap. Ia bersumpah akan me mbunuh Ku See-hong dengan cara
apapun juga, sebab dia tahu asal Ku See-hong masih bisa hidup
terus, bila suatu ketika ilmu silat Ku See-hong berta mbah lihay, dia
pasti akan merupakan suatu anca man yang serius bagi piha knya.
Adapun siksaan yang ke-lima adalah: Coh Ih Tay Si (Duduk
Sambil Menunggu Ajal). Siksaan ini merupa kan suatu penyiksaan
yang paling keji di dunia ini, sebab terhukum tidak diberi ma kanan
maupun minuman, dia a kan dibiarkan mati kelaparan. Asal dia
manusia, tak mungkin ada yang mampu me loloskan diri dari siksaan
tersebut….
256
Sejak dulu sa mpai sekarang, dalam Huan-mo-kiong masih
berlaku pula suatu peraturan yang la in, yakni barang siapa dapat
me loloskan diri dari kee mpat maca m siksaan tersebut tanpa mati…
maka tanpa syarat dia akan me mperoleh kebebasannya kemba li.
(Tanpa harus menja lani siksaan yang ke-lima)
Namun peraturan tetap tinggal peraturan. Peraturan tak lebih
hanya suatu tata cara yang berlaku be laka….
Sekulum senyuman keji segera tersungging di atas bibir Si
Pedang Emas Cia Tiong-giok. Sa mbil berpaling ke arah seorang
lelaki berbaju hita m, segera perintahnya:
“Angkat dia ke atas dan kirim ke ruang siksa ke-lima. Kurung dia
dan biarkan ia ma mpus ke laparan. Perketat penjagaan di sekitar
tempat itu, siapa berani melanggar bunuh tanpa a mpun!”
Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng yang berada di sisinya, buru-buru
berseru dengan ce mas:
“Sau-kiongcu, ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini lihay
sekali, lebih baik kita habiskan sebutir peluru pe mabuk sukma lebih
dulu, agar ia jatuh tak sadarkan diri.”
Begitu selesai berkata, Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng segera
mengayunkan tangannya ke depan, serentetan cahaya hijau yang
menyilaukan mata segera menya mbar ke depan.
“Blaaa mm…!” leda kan keras berkumandang untuk kesekian
kalinya. Ku See-hong yang berada dalam sumur dibikin tak sadarkan
diri oleh asap pe mabuk tersebut.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera mendongakkan kepalanya
sambil berpekik nyaring. Suara pekikan tersebut mengge ma sa mpa i
di te mpat kejauhan dan menga lun t iada hentinya, menyusul
ke mudian dia melejit ke udara dan melayang pergi dari situ. Sekejap
ke mudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari balik mata.
Ketika Ku See-hong sadar ke mba li dari pingsannya, waktu itu
fajar telah menyingsing keesokan harinya. Ia disekap dala m sebuah
gua di suatu tebing karang yang gundul.

257
Suasana dalam gua itu ge lap gulita tak na mpak lima jari tangan
sendiri, hanya setitik cahaya lemah yang me mancar masuk lewat
celah-celah terali besi. Berada dala m gua tersebut, Ku See-hong
benar-benar terpencil. Tiada orang yang menyahuti teriakannya,
tiada makanan yang pernah dikirim ke sana… tempat itu ibaratnya
sebuah neraka.
Selama ena m tujuh hari lamanya ini, dia telah mengala mi
pelbagai siksaan dan penderitaan yang me mbuatnya berubah
hingga tak berbentuk manusia lagi. Rambutnya terurai tak karuan,
bajunya compang camping tak berbentuk lagi, mukanya kotor,
seluruh badannya penuh bekas luka. Tapi sang pe muda yang keras
hati ini bertekad untuk hidup terus, dia bersumpah akan hidup lebih
jauh.
Manusia buas yang berhati keji telah merajale la di dunia
persilatan, entah berapa puluh ribu nyawa umat persilatan yang
me merlukan pertolongan? Selain itu, denda m berdarah keluarganya
belum dituntut balas. Atas dorongan dari beberapa macam kekuatan
inilah me mbuat pe muda itu bertahan terus dan tak sampai mat i
bunuh diri.
“Aaai…” Ku See-hong menghela napas sedih. Sekarang ia baru
menyesal kenapa tidak menuruti peringatan dari nona berbaju putih
itu. Kini keadaan telah menjadi begini…. Terbayang semua tugasnya
yang belum selesai, ia menjadi sedih hingga tanpa terasa titik a ir
mata jatuh berlinang me mbasahi pipinya….
Cahaya matahari bersinar indah jauh di luar gua, sedang Ku See-
hong yang berada di tempat kegelapan hanya bisa menghela napas
sedih, tanpa terasa akhirnya ia tertidur sa mbil bersandar di dinding.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh
semaca m suara aneh se kali. Menyusul ke mudian ia mendengar
suara langkah kaki yang ringan berkumandang dari luar terali besi
itu. Ku See-hong me ngira Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang keji
itu ke mbali akan mence mooh dirinya, kontan saja dia mencaci maki
lebih dulu:

258
“Binatang terkutuk yang tak berperasaan, kau adalah manusia
laknat yang berhati binatang, aku orang she Ku bersumpah tak akan
mati, kau….”
“Ku sauhiap, aku yang datang. Seorang gadis lemah bernasib
ma lang, Keng Cin-sin,” tiba-tiba serentetan suara yang gemetar tapi
le mbut berge ma me mecahkan keheningan.
Di tengah pe mbicaraan tersebut, terali besi itu pelan-pelan
bergerak naik ke atas, lalu bayangan putih berkelebat lewat.
Seorang gadis cantik berbaju putih telah mengulurkan tangannya
yang putih me mperse mbahkan sebuah bungkusan yang a mat besar.
Ku See-hong merasa amat terharu, air matanya jatuh bercucuran
me mbasahi pipinya, tapi ingatan lain segera melintas dala m
benaknya, ia segera berseru:
“Nona Keng, cepat tinggalkan tempat ini! Tak usah kau gubris
diriku lagi.”
Selama me ngala mi siksaan yang keji dari orang-orang Huan-mo-
kiong da la m beberapa hari ini, Ku See-hong seringkali menyaksikan
sepasang mata yang murung dan sedih dia m-dia m mengucurkan air
mata.
Perasaan manusia yang le mbut dan halus ini, segera sang
pemuda yang me mbenci kaum wanita itu dia m-dia m menaruh
perasaan simpatik terhadap nona itu, dan perasaan tersebut selama
ini hanya terpendam da la m dasar hatinya.
Sesungguhnya dia me mang seorang lelaki berperasaan hangat
yang berjiwa pendekar. Dia tak ingin menyaksikan seorang yang
dikagumi dan disayanginya mengorbankan jiwa gara-gara ingin
menolong sele mbar jiwanya.
Tiba-tiba Keng Cin-sin mene mukan serentetan sorot mata yang
sayang dan kasihan terpancar keluar dari balik mata pemuda ini, hal
mana me mbuat kehangatan cintanya sebagai seorang gadis segera
terlampiaskan keluar.

259
Dengan cepat ia me mburu ke sisi tubuh Ku See-hong, ke mudian
dengan air mata bercucuran dan nada sesenggukan katanya:
“Ku sauhiap, perempuan bernasib malang seperti aku ini tak akan
me mperdulikan kesela matan jiwa sendiri. Aku hanya ingin
menyela matkan jiwa mu, sekalipun badan harus hancur, jiwa harus
me layang, aku tak akan merasa sayang. Betul kita hanya bersua
dua kali, tapi aku tahu kau adalah seorang manusia yang luar biasa,
jiwa mu jauh lebih pent ing daripada jiwaku. Sekarang cepatlah
habiskan makanan itu la lu berganti paka ian, kemudian cepat
tinggalkan te mpat ini. Tunggu sa mpai kau merasa bertenaga lagi
baru datang untuk me mbalas denda m…!”
Serangkaian perkataan itu telah mena mpilkan perasaan cinta
yang tersuci dari makhluk yang bernama manusia, setiap patah
katanya bernada pedih dan jujur, lagipula dari ucapan tersebut
dapat ditarik kesimpulan: betapa besarnya niat gadis ini untuk
menyela matkan jiwa umat ma nusia da la m dunia ini….
Ku See-hong bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat
me maha mi maksud hatinya itu, tak heran kalau ia lebih terharu lagi
dibuatnya. Perasaan pedih dala m hatinya juga makin hebat, ia
merasa nasib telah me mpermainkan manusia, nasib terlalu
menyiksa umatnya. Mengapa gadis secantik itu harus turut
merasakan pula siksaan se maca m itu?
Sesungguhnya Ku See-hong adalah seorang pemuda yang
romantis, kebuasan dan sikap dingin hanya sikap di luarnya saja, hal
man disebabkan terpengaruh oleh musibah yang menimpanya di
masa kecil dulu, dan kini… begitu perasaan cinta yang terpendam
dalam hatinya terungkap, maka keadaannya ibarat bendungan a ir
yang jebol.
Dengan luapan emosi yang berkobar, dia berbisik: “Adik Sin,
kee… marilah kau, dekatlah denganku, aku ingin melihat wajahmu
lebih jelas lagi….”
Ketika sorot mata mereka saling berte mu, pancaran sinar mata
yang hangat dan kepedihan dalam hatinya segera bercampur baur

260
menjadi satu, makin la ma kedua orang itu makin dekat sehingga
akhirnya ha mpir saling berde mpetan.
Pelan-pelan Ku See-hong me nggerakkan sepasang tangannya
dan me megang wajahnya yang mungil dan le mbut itu.
Dengan suara yang a mat pedih Keng Cin-sin berbisik:
“Engkoh Hong, dulu aku tak pernah me mperhatikan siapapun,
sebab aku sendiripun penuh dengan noda dan dosa, tapi sejak
berjumpa dengan kau, aku mulai berpikir, bila ma laikat elmaut telah
berada di depan mata, apakah yang bisa kut inggalkan di dunia ini…?
Maka, aku bertekad akan mengorbankan se le mbar jiwaku, asal kau
bisa hidup terus, berjuang demi keadilan dan kebenaran serta
menyela matkan kaum le mah dari penderitaan yang tiada
batasnya….”
“Engkoh Hong, terus terang kukatakan kepadamu, sejak bertemu
denganmu, aku merasa bahwa kau telah jatuh hati kepadamu….”
Oleh ungkapan cintanya yang polos dan tulus itu, Ku See-hong
merasa benar-benar a mat terharu, ujarnya dengan nada gemetar:
“Adik Sin, kau tak berdosa, kau adalah seorang yang suci bersih,
akupun sangat mencintai dirimu, mari kita bersama-sama kabur dari
pulau Huan-mo-to ini….”
“Engkoh Hong, aku tak dapat pergi…” tukas Keng Cin-sin dengan
cepat, “Bila aku menghilang maka hal mana pasti akan me mancing
mereka untuk mela kukan pengejaran secara besar-besaran, bukan
saja hal tersebut akan mengakibatkan pe mbantaian berdarah dala m
dunia persilatan, kita pun sukar untuk meloloskan diri dari
pengejaran mereka yang ketat. Suatu ketika bila jejak kita
ketahuan, maka nasib yang tragis akan menunggu kita berdua,
keadaan semaca m itu sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata….”
Air mata bercucuran me mbasahi wajah Ku See-hong, tiba-tiba
selanya:
“Adik Sin, mari kita tinggalkan tempat ini bersama, kita mencari
suatu tempat yang terpencil dan jauh dari manusia, me menda m

261
nama merahasikan asal-usul, sela ma hidup kita tak terjun ke mbali
ke dala m dunia persilatan, sepanjang masa kita hidup bersa ma….”
Dengan tangannya yang halus dan lembut Keng Cin-sin menutup
bibir Ku See-hong lalu katanya pedih:
“Engkoh Hong, jangan kau biarkan urusan muda-mudi
menggerogoti a mbisimu yang me mbara, sekarang keadaan a mat
mendesak. Rasanya mustahil kita dapat hidup bahagia sebagai
suami istri dala m kehidupan kali ini. Tapi perasaanku kepadamu
dapat dibuktikan kepada langit dan bumi, walaupun kita tak bisa
hidup berdampingan, namun hati dan perasaanku dapat selalu ada
di sa mpingmu….”
“Sekarang, waktu yang tersedia sudah tak banyak lagi, cepat-
cepatlah bersiap sedia untuk me larikan diri. Kau harus tahu aku
bersedia mengorbankan diri tak la in karena ingin menyela matkan
jiwa mu… kau harus selalu menyayangi jiwa mu sendiri, sebab
jiwa mu sudah merupakan peleburan dari jiwa kita berdua, dengan
demikian walaupun Adik Sin-mu harus mat i dengan tubuh hancur,
sukmaku akan sela lu tersenyum di ala m baka.”
Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan nada yang amat
me medihkan hati, tapi anehnya Thian selalu me misahkan sepasang
sejoli yang sedang dimabuk asmara ini, bahkan me misahkan mere ka
amat jauh, jauh se kali….
Ketika selesai mendengar perkataan itu, timbul suatu firasat jelek
dalam hati Ku See-hong, sebab kekasih yang patut dikasihani ini
bisa jadi akan benar-benar mati secara mengenaskan.
Sambil menahan kesedihan yang menceka m perasaannya, Ku
See-hong berkata dengan pedih:
“Adik Sin, se moga kau bersedia untuk me manfaatkan sisa waktu
yang ada untuk berada bersamaku, sehingga di ke mudian hari, bila
aku berhasil me mbalas denda m di bawah sinar lentera di depan
Buddha (ma ksudnya menjadi pendeta), akupun me mpunyai setitik
kenangan manisku bersa ma mu.”

262
Keng Cin-sin dapat me maha mi maksud perkataan dari Ku See-
hong itu. Ia merasa terharu seka li hingga titik air mata jatuh
bercucuran me mbasahi wajahnya yang putih ha lus.
Dengan le mbut Keng Ci-sin balas me me luk pinggangnya yang
kekar dan mene mpe lkan wajahnya di atas dadanya yang bidang,
tiba-tiba saja ia merasa dirinya seakan-akan terjerumus ke dala m
samudra luas yang tiada bertepian, ia merasa bagaikan tak berada
di dunia lagi, ternyata empat buah bibir mereka yang hangat telah
saling berpadu….
Entah berapa saat kemudian, mereka baru menyelesaikan ciuman
yang hangat dan mesra itu.
Dengan air mata me mbasahi pipinya, Keng Cin-sin berkata sambil
tertawa getir:
“Inilah nilai yang kuperoleh dari pengorbanan cinta kasihku
sepanjang hidup…. Sekarang, cepat-cepatlah kau tinggalkan te mpat
ini, jangan sampa i ketahuan mereka. Bila sa mpai dikerubut i jago
lihay, kaupun tak akan lolos dari kematian, bahkan pengorbananku
inipun akan menjadi sia-sia belaka….”
Sambil berusaha keras menahan kepedihan hatinya, di sudut gua
yang gelap Ku See-hong berganti pakaian. Walaupun perutnya
waktu itu lapar sekali, namun ia tak bernafsu lagi untuk
menghabiskan hidangan tersebut.
Waktu itu, sore hari sudah menjelang tiba, sisa sang surya di
waktu senja me mencarkan cahaya ke e mpat penjuru….
Mendadak… dari luar gua berkuma ndang suara pekikan nyaring
yang tajam dan me me kikkan telinga, ke mudian dengan suatu
gerakan cepat, tampak bayangan manusia berke lebat lewat,
tampaknya di sekitar tempat itu telah kedatangan jago-jago yang
sangat banyak.
Paras muka Keng Cin-sin berubah berat, dengan suara agak
gemetar bisiknya:

263
“Aduh celaka, jejak kita sudah ketahuan, cepat kau gunakan ilmu
meringankan tubuhmu yang sempurna untuk kabur ke arah selatan,
aku akan berusaha mati-matian untuk menghadang pengejaran
mereka.”
Ku See-hong merasa hatinya berat sekali, bagaimanapun juga ia
tak tega me mbiarkan kekasih hatinya tewas di tempat itu.
Dengan suara yang me milukan hati ke mbali Keng Cin-sin
berseru:
“Engkoh Hong, cepat lari, cepat lari! Apakah kau ingin
menyaksikan Adik Sin-mu mati dengan me mbawa penyesalan?”
Suaranya yang me milukan hati me mbuat perasaan orang menjadi
semakin kalut dan kacau tak karuan.
“Sela mat berpisah kekasihku yang kucintai,” ucap Ku See-hong
ke mudian sa mbil me nghela napas sedih, “Aku akan selalu
mengingat raut wajahmu dala m hati kecilku….”
Tiba-tiba Ku See-hong mendonga kkan kepalanya dan berpekik
panjang, dalam pe kikan tersebut penuh disertai oleh rasa benci,
gusar dan denda m yang me mbara.
Begitu pekikan panjang itu bergema, sambil me mbawa hati yang
lara dan duka, Ku See-hong me mpercepat langkahnya menerjang
keluar dari gua tersebut.
Pada saat itulah, segulung he mbusan angin pukulan yang amat
dahsyat, dengan cepatnya menggulung tiba.
“Engkoh Hong, cepat kabur ke arah selatan, biar adik yang
menghadapinya di tempat ini!” bentakan merdu berkumandang
datang. Ternyata orang yang melancarkan serangan itu tak lain
adalah Sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong Si Pedang Emas Cia
Tiong-giok. Dengan sepasang mata me mancarkan cahaya buas
yang mengerikan, ia segera me mbentak nyaring:
“Sumoay, kau perempuan rendah yang tak tahu malu, pagar
makan tanaman! Sudah sepuluh tahun la manya ayahku

264
mendidikmu, tapi… kau… Pun kiongcu bersumpah akan mencincang
tubuh kalian anjing laki-la ki dan pere mpuan berdua menjadi hancur
berkeping-keping!”
Untuk me lindungi kekasihnya agar berhasil meloloskan diri dari
pulau Huan-mo-to, dengan nekadnya Keng Cin-sin menggerakkan
sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan
dahsyat yang rapat bagaikan jaringan laba-laba.
Bukan saja semua serangan itu dilancarkan dengan ganas dan
buas, bagaikan bendungan yang jebol saja, mengalir terus tiada
habisnya. Setiap jurus serangan yang digunakan hampir semuanya
merupakan jurus-jurus serangan yang tangguh, betul-betul sukar
dilukiskan dengan kata-kata.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok betul-betul naik pitam, pedang
emas di tangannya segera digetarkan keras menciptakan berpuluh-
puluh t itik cahaya bintang yang taja m. Cahaya pedang menya mbar
seperti amukan arus sungai yang deras, kemanapun pukulan musuh
tiba, di situ pula pedangnya menya mbut secara ganas.
Sementara itu, Ku See-hong telah mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya yang sempurna untuk melesat sejauh tiga
puluh-e mpat puluh ka ki dari tempat semula, tapi tak tahan, ia
segera berpaling ke mbali.
Tiba-tiba… dua kali pekikan nyaring yang tajam dan dingin
menyeramkan berkumandang me mecahkan keheningan, lalu
tampak ada dua sosok bayangan manusia yang mengejar di
belakang Ku See-hng dengan kecepatan tinggi.
Melihat itu, Keng Cin-sin merasa amat terkejut, sambil
me mbentak keras sepasang telapak tangannya digetarkan ke depan
menciptakan selapis bayangan tangan yang menyelimut i angkasa.
Tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya bukit, datang
segera melanda ke tubuhnya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.
Setelah itu, tubuhnya melejit ke udara, sepasang telapak
tangannya dengan membawa cahaya perak yang menyilaukan mata

265
langsung meluncur ke depan dan menghadang jalan pergi kedua
orang itu.
Ketika ia menyaksikan Ku See-hong masih berdiri ka ku di sana, ia
lantas menjerit keras:
“Engkoh Hong… cepat pergi dari situ! Di ala m baka, adik Sin-mu
akan selalu mencintaimu…. Cepat lari!”
Tak terlukiskan rasa haru Ku See-hong setelah menyaksikan
Keng Cin-sin mati-matian bertarung melawan tiga orang jago lihay
dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwanya. Tanpa terasa, titik air
mata jatuh berlinang me mbasahi pipinya.
Ia segera menengadah dan berpekik sedih, ke mudian secepat
sambaran kilat pe muda itu kabur ke arah se latan.
Dala m pada itu, segenap anggota istana Huan-mo-kiong telah
menerima tanda bahaya dan berbondong-bondong datang ke sana.
Keng Cin-sin segera mengerahkan segenap kepandaian silat yang
dimilikinya untuk menerjang ke kiri dan ke kanan, me lejit, melayang
dan berkelit untuk menahan serangan gabungan dari musuh-
musuhnya.
Waktu itu, sekujur badannya telah bermandikan darah segar,
peluh me mbasahi badannya, sementara paras mukanya berubah
menjadi pucat pias… namun ia masih bertarung mati-matian untuk
menghadang jalan pergi kawanan jago lihay itu.
Namun la ma kela maan ia mulai tak tahan. Gadis itu mulai keteter
hebat dan mundur terus t iada hentinya.
Dala m pada itu, Ku See-hong dengan ilmu meringankan
tubuhnya yang sempurna telah tiba di tepi pantai laut.
Tapi pada saat itu pula Ku See-hong mendengar jeritan ngeri
yang memilukan hati berkumandang me mbelah angkasa. Itulah
jeritan orang sekarat menjelang ke matiannya… lalu terdengar
seseorang menjerit lengking:

266
“Engkoh Hong… Adik Sin… akan… akan berangkat selangkah
lebih dulu… kau….”
Tiba-tiba jeritan itu terputus sa mpai di tengah jalan dan…
suasana pun pulih me njadi tenang ke mbali.
Ku See-hong segera merasakan badannya seperti dihantam
dengan martil yang berat sekali, hawa darah di dalam dadanya
bergolak keras dan tak a mpun lagi, dia muntahkan darah segar.
Pikirannya serasa melayang tak menentu, hatinya bimbang dan
kosong….
Dari sepuluh hal yang dijumpa inya di dunia ini, ada delapan
sembilan maca m yang tak dapat me menuhi harapannya. Keadaan
semaca m ini benar-benar me medihkan hati, me milukan hati….
Cinta kasih sayang telah berjanji di antara mereka berdua telah
bersemi begitu menda la m, sepanjang hidup ia tak akan
me lupakannya lagi. Pengorbanan dari Keng Cin-sin ini merupa kan
suatu pengorbanan yang amat mulia. Sifat perempuan seperti ini
boleh dibilang merupa kan sifat seorang pere mpuan yang sejati….
Sang surya telah tenggelam di langit barat, menyusul ke mudian
kegelapanpun mulai menyelimuti angkasa….
Ombak menggulung-gulung saling mengejar….
Samudra terbentang luas tak bertepian, angin barat yang
kencang berhembus menderu-deru, omba k menggulung a mat
dahsyat. Sebuah sampan kecil terombang-a mbing dima inkan
omba k, terbawa arus ke tempat kejauhan… menga lir tanpa arah
tujuan….
Ketika ombak me mecah ke tepian sa mpan, segera terpecahkan
buih-buih air yang me mecah ke e mpat penjuru, sampan kecil itu
tergoncang keras, namun seorang pemuda tampan yang ada di
ujung sampan itu masih berdiri tegak di tempat. Sepasang matanya
yang jeli menatap ke tempat kejauhan sana, me mandang tanpa
berkedip.

267
Ia tampak begitu menyendiri, begitu pedih. Hati kecilnya telah
menderita luka yang parah, me mbuat ia tak akan melupa kan
kejadian ini untuk sela ma-la manya, sebab luka itu sudah me mbekas
dalam-da la m di hati kecilnya.
Biar langit menjadi tua, air laut mongering, manusia bisa
berubah-ubah, namun cinta kasihnya kepada gadis itu tak akan
berubah walau seratus tahun, seribu tahun, selaksa tahun
sekalipun….
Biar jagad berumur panjang, biar langit berlangsung berjagad
abad, rasa dendam dala m hatinya tiada terbatas.
Ia mendenda m, denda m yang sedalam-da la mnya. Ia me mbenci
kepada langit. Me mbenci kepada bumi, me mbenci kepada setiap
manusia la knat yang ada di dunia ini.
Mengapa nasibnya seburuk ini?
Mengapa gadis cant ik se lalu diberkahi umur yang pendek…?
Dia seakan-akan mendengar lagi suaranya, seolah-olah
menyaksikan ke mbali raut wajahnya, seakan-akan mengendus pula
bau harum se merbak yang keluar dari badannya.
Darah kental serasa meleleh keluar dari hatinya, ia merasa
hatinya telah hancur luluh, hancur luluh untuk sela manya….
Ia tidak menangis, namun air matanya telah meleleh keluar
hingga mongering… dan kini hanya darah yang mele leh ke luar
menggantikan a ir mata.
Kalau dibilang impian, maka peristiwa itu merupa kan impian yang
paling buruk.
Kalau dibilang khayalan, maka peristiwa itu merupakan khayalan
yang paling me me dihkan hati.
Kalau dibilang kesedihan, hal ini merupakan suatu peristiwa yang
me milukan hati.

268
Kalau dibilang benci dan denda m, tiada kebencian dan denda m
kesumat yang dapat menandingi perasaan benci dan denda m yang
berkobar dala m hatinya saat ini.
Aliran udara yang berubah-ubah, kabut yang melayang tipis
seolah-olah muncul dari permukaan laut, me mbuat pemandangan di
sekeliling tempat itu kabur. Kabut yang menyelimuti seke liling
tempat itu makin la ma se makin menebal, me mbuat sekeliling
tempat tersebut berubah menjadi putih.
Kabut tebal yang muncul secara tiba-tiba ini merupakan suatu
keistimewaan dari lautan Lam-hay, tapi justru mendatangkan
banyak kemurungan dan kesulitan bagi para nelayan yang tinggal di
sekitar sana.
Sampan kecil itu bagaikan perasaan dari penumpangnya,
terombang-a mbing tanpa arah tujuan. Dalam sekejap mata,
bayangan sampan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik tebalnya
kabut yang menyelimut i te mpat itu.
Kegelapan mala m di tepi laut terasa begitu tenang, sunyi….
Terasa pula begitu indah, penuh mengandung ilha m-ilha m untuk
me mbuat syair atau lukisan.
Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa, me mancarkan
kerlipan cahaya yang redup dan menyoroti permukaan sa mudra
yang luas tak bertepian. Ketika angin le mbut berhembus sepoi-
sepoi, tampak riak ombak yang saling mengejar, bagaikan ular-ular
perak kecil yang sedang sa ling mengejar….
Indah, indah, indah, benar-benar suatu pe mandangan yang
indah rupawan….
Pemandangan a la m di ma la m ini terasa dingin dan sepi, angin
barat berhembus kencang, di langit tiada rembulan, hanya titik
bintang yang me mercikkan sinar redup.
000dw000

269
Bab 13
WAKTU itu, di tepi pantai pasir yang luas, tampak seorang
pemuda yang sedang berdiri termangu-mangu sa mbil me mandang
lautan yang tak bertepian dengan pandangan kosong. Wajahnya
tampak a mat sedih, kesal dan murung, ia berdiri me mbungka m tak
mengucapkan sepatah katapun juga.
Apa yang sedang dilihatnya?
Sudah tiga mala m ia berada di situ, mala m ini merupakan mala m
yang ke-empat….
“Aaai…” pe muda itu me mperdengarkan he laan napasnya yang
pedih.
Dari helaan napasnya yang me medihkan hati, bisa kita ketahui,
bahwa perasaan anak muda itu sedang sedih sekali…. Yaa, hatinya
telah menderita luka yang begitu parahnya sehingga ha mpir
tercabik-cabik, ha mpir saja ia tak berkeyakinan lagi untuk hidup di
dunia ini.
Namun, bara api dendam yang berkobar di dalam dadanya
me mbuat ia bertekad untuk hidup terus, selain itu bisikan merdu
yang melintas kemba li dala m ingatannya me mbuat ia harus berani
hidup lebih lanjut.
Ia berada di sana karena ia hendak me ngenang ke mba li
wajahnya, mengenang kembali suaranya, serta mengenang ke mbali
kenangan manisnya yang hanya sejenak.
Tiba-tiba, bagaikan orang yang sedang mengigau ia berguma m
seorang diri:
“Wahai Ku See-hong, benarkah nasibmu sela ma ini begitu jelek?
Setiap orang yang pernah melepaskan budi kepadaku, mengapa
Thian se lalu me misahkan mereka jauh-jauh dariku? Yaa…
me misahkannya begitu jauh…? Kedua orang tuaku yang telah
me lahirkan aku, guruku yang mengajarkan kepandaian kepadaku,
beratus-ratus saudara dari Kim-to-pang, dan dia… Keng Cin-sin.”

270
Ketika menyebut nama Keng Cin-sin, Ku See-hong merasa
suaranya menjadi parau. Sepanjang hidupnya belum pernah ia
mencintai pere mpuan, tapi sekali jatuh cinta, ma ka perasaan
cintanya itu jauh lebih tebal daripada orang la in.
Ku See-hong termenung sebentar, tiba-tiba selintas perasaan
yakin melintas lewat di atas wajahnya, kemba li dia berguma m:
“Keng Cin-sin, dia tak mungkin akan mati, aku percaya, Thian tak
akan bersikap….”
Tapi serentetan jeritan ngeri serta jeritan menjelang ke matian,
sekali lagi berkumandang di sisi telingannya dan me motong ucapan
selanjutnya….
Lewat la ma ke mudian, ia baru berguma m lebih jauh:
“Adik Sin, walaupun kau telah tiada lagi, namun hatimu dan
bayangan tubuhmu sela manya akan tertera di hatiku. Aku
bersumpah akan me mbalas dendam, akan kuratakan Huan-mo-
kiong di La m-hay itu dengan tanah, kemudian akan kute mukan
kerangka mu dan sela ma hidup akan kutemani dirimu….”
Mendadak… dari belakang tubuh Ku See-hong berkumandang
suara tertawa seram yang amat menggidikkan hati.
Dengan kening berkerut dan gerakan yang cekatan Ku See-hong
segera memba likkan tubuhnya. Sorot mata yang tajam
menyeramkan terpancar keluar dari balik matanya, dengan cepat
dia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu….
Tapi ibaratnya minyak berte mu api, mendada k api denda m yang
berkobar dala m dadanya menggelora dengan hebatnya. Giginya
digertakkan sampai berbunyi ge merutan. Sorot matanya yang tajam
segera beradu pandang dengan sinar mata buas dari lawannya….
Lebih kurang e mpat ka ki di hadapan Ku See-hong telah berdiri
seorang pemuda tampan berbaju biru. Dia tak lain adalah sau-
kiongcu dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang Emas C ia Tiong-giok.

271
Di be lakang pe muda itu berdiri e mpat orang lela ki berca mbang
yang me maka i baju biru, di punggung masing-masing mengge mbol
sebilah pedang panjang berwarna kuning e mas.
Sekulum senyuman sinis yang tak sedap dipandang tersungging
di ujung bibir Kim-kia m Cia Tiong-giok, ujarnya dingin:
“Orang she Ku, hari ini kau tak akan lolos lagi dari
cengkeramanku. Ayo cepat serahkan nyawa anjingmu itu!”
Ku See-hong tahu kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya jauh
lebih tinggi daripada kepandaian yang dimilikinya… tapi waktu itu
kobaran api benci dan dendam telah menyelimuti seluruh benaknya.
Ia tak ambil perduli terhadap semua persoalan itu. Sesudah
mendengus gusar, katanya dengan suara menggeledek:
“Orang she Cia, apakah Keng Cin-sin telah dibunuh oleh kalian
anjing-anjing la knat…?”
Kim-kia m Cia Tiong-giok segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa seram, sahutnya sinis:
“Orang she Ku, kau benar-benar tak tahu malu, berani benar kau
me mikat hati sumoayku untuk mengkhianati perguruan. Hmm,
tentunya aku pernah mendengar bukan akan peraturan dari Huan-
mo-kiong? Apa hukumannya bila berani mengkhianati perguruan?
Sekarang, aku pikir ada baiknya jika kau persiapkan dulu urusan
belakangan, kalau tidak, mungkin keadaannya tak akan sempat
lagi.”
Ku See-hong mendengar perkataan itu merasakan hatinya
tercekat, sekarang ia sudah percaya kalau Keng Cin-sin benar-benar
telah mengorbankan diri. Dengan peraturan Huan-mo-kiong yang
turun temurun terkenal akan keketatannya, barang siapa yang
berani melanggar peraturan, entah itu anak sendiri atau bukan,
semuanya akan dijatuhi hukuman mati.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tertawa dingin, dengan suara
mengerikan lalu berkata lagi:

272
“Orang she Ku, kau harus tahu, tempat suci Huan-mo-kiong tak
pernah mengijinkan orang untuk berbuat se mena-mena di situ.
Sekalipun tiba di sana tanpa sengaja, juga tiada kehidupan baginya.
Tapi kau benar-benar tak tahu diri, selain me masuki daerah suci,
sesumbar hendak me mbalas denda m, me mbunuh anggota istana
kami, berani pula me mikat sumoayku hingga berkhianat. Dengan
beberapa dosa yang kau langgar sekaligus, tiada a mpun lagi untuk
jiwa anjingmu itu. Pihak ka mi juga tak akan melepaskan kau dengan
begitu saja, sebelum kucincang tubuhmu hingga hancur berkeping-
keping belum puas rasanya diriku.”
Dala m pada itu, secara dia m-dia m Ku See-hong telah
menghimpun tenaga dala mnya untuk bersiap sedia menghadapi
serangan lawan.
Ketika mendengar ucapan tersebut, dengan dingin ia lantas
berkata:
“Hmm! Te mpat-te mpat maksiat, tempat berkumpulnya
sekawanan sampah masyarakat dalam dunia persilatan juga
beraninya disebut tempat suci? Huuuhh… betul-betul tak tahu malu.
Aku orang she Ku mempunyai denda m kesumat sedalam lautan
dengan kalian orang-orang Huan-mo-kiong, aku bersumpah tak
akan hidup berda mpingan dengan kalian.
Sekarang, kaupun tak usah me mbuang waktu lagi, saat
dibukanya pintu neraka sudah tiba. Aku orang she Ku harus segera
mengantarmu agar cepat-cepat melakukan perja lanan jauh….”
“Heeehh… heeehh… heeehh… sekalipun ingin mat i juga tak usah
begitu tergesa-gesa,” jengek Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sa mbil
tertawa dingin, “Aku ingin bertanya kepadamu, bulan berselang
ketika kau mendatangi Huan-mo-kiong ka mi untuk me mbalas
dendam, sebetulnya siapakah dari anggota istana Huan-mo-kiong
kami yang telah mengikat tali permusuhan denganmu?”
Mendengar pertanyaan itu, Ku See-hong seolah-olah
menyaksikan ke mbali mayat-mayat tanpa kepala yang tergeletak di

273
mana-mana, dengan sorot mata berapi-api karena kobaran api
dendam ia me mbentak keras:
“Orang she Cia, bapakmu betul-betul bedebah tua yang tak tahu
peraturan dunia persilatan. Selama tahun berselang, ketika yaya-mu
Hu-hay it-kia m beradu pedang dengan Bu-lim ti-it-kia m dala m istana
Huan-mo-kiong, kakekmu itu telah kena dikalahkan setengah jurus
dan harus menyerahkan pedang pendek Huan-mo-kiong sebagai
tanda kepercayaan. Barang siapa yang memegang pedang tersebut,
ia berhak untuk mengenda likan dan menghukum ka lian orang-orang
dari Huan-mo-kiong, tapi kenyataannya bapakmu Han-tian it-kia m
berambisi besar. Bulan berselang ia berani menyerbu lagi ke daratan
Tionggoan dengan me mbawa kawanan jago lihay, bukan saja berani
me mbantai orang secara brutal juga berani mera mpas ke mbali
pedang Huan-mo-kia m itu dari tangan orang-orang Kim-to-pang….”
Mendengar sampa i di situ, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok
merasa bangga berca mpur ge mbira. Ia girang sebab ayahnya telah
berhasil merebut ke mbali pedang pendek Huan-mo-kia m itu.
Maka ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, kemudian
menukas ucapan Ku See-hong yang belum selesai:
“Maaf, maaf. Kalau menurut cerita mu itu, tampaknya kau adalah
putranya Ku Kia m-cong, pangcu dari Kim-to-pang.”
Dia m-dia m Ku See-hong terkejut juga menyaksikan kecermatan
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tersebut.
Ia sadar pertarungan yang dihadapinya mala m ini merupakan
suatu pertempuran yang amat seru, kalau bukan lawannya yang
mati maka dia lah yang ma mpus, padahal ilmu silat yang dimiliki pun
tidak yakin bisa menangkan lawannya. Itu berarti bila dia tidak
berusaha mengenda likan kobaran api gusarnya sekarang, besar
ke mungkinan dia akan mati dengan me mbawa kecewa.
Begitu ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, sikapnya
menjadi tenang ke mbali, katanya dengan suara dingin:

274
“Orang she Cia, dendam kesumat di antara kita berdua, aku rasa
tentunya kau sudah memaha mi, bukan? Dengan perbuatanmu yang
begitu keji dan rendah, sekalipun ba kal mati di tanganku mala m ini,
tentunya kau tak akan menyesal, bukan?”
Ketika Si Pedang Emas Cia Tiong-giok me njumpai Ku See-hong
yang gusar tiba-tiba berubah menjadi tenang… dengan cepat ia
lantas berpikir:
“Orang ini me miliki se maca m kepandaian sakti yang amat luar
biasa, belum tentu ka mi berlima sanggup untuk merobohkan
dirinya. Barusan sebetulnya aku berniat untuk mengobarkan hawa
amarahnya agar perhatiannya terpecah belah, kemudian baru
me lancarkan serangan me matikan, siapa tahu ia begitu cekatan.
Tampaknya orang ini benar-benar merupakan musuh tangguh yang
belum pernah dijumpai sepanjang hidupku….”
Angin laut di musim gugur ini terasa amat dingin, me mbuat bulu
kuduk orang pada berdiri.
-oo0dw0oo-

Jilid 9

GULUNGAN ombak yang berkejaran me mbawa suara deruan


yang keras, suatu pertarungan berdarah yang mengerikan sebentar
lagi a kan berlangsung di sana.
Ku See-hong menghimpun segenap tenaga dalam yang
dimilikinya, ma kin dihimpun ia merasa kekuatannya makin
menghebat.
Tiba-tiba…. Bentakan menggelede k yang sangat me mekikkan
telinga berkumandang me mecahkan keheningan, secepat kilat
tubuhnya menerjang ke muka. Dala m waktu singkat ia lancarkan
lima buah pukulan dahsyat menghanta m lima orang musuhnya.

275
Cepat gerakan tubuhnya, hebat serangannya, betul-betul
mengerikan hati…. Segulung hembusan angin dahsyat, ibaratnya
amukan gelombang dahsyat di tengah sa mudra, dengan cepatnya
menggulung ke arah lima orang itu.
Empat orang le laki bercambang yang mengge mbol pedang itu
menjerit kaget, cepat-cepat mereka terdesak mundur sejauh tiga
empat langkah.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tertawa dingin… tubuhnya
berputar kencang, lalu sepasang telapak tangannya disertai selapis
tenaga pukulan yang dahsyat me munahkan datangnya ancaman itu.
Pada saat yang bersamaan itulah Ku See-hong tertawa dingin,
serangan mematikan ke mbali dilepaskan. Kakinya berputar kencang,
dengan suatu gerakan yang sangat aneh ia mendesak ke sisi tubuh
kedua orang lelaki berca mbang itu. Berbareng itu juga lima buah
jari tangan kanannya direntangkan, lalu di antara sentilan dan
getarannya lima gulung angin tajam me luncur keluar dari ujung jari
tangannya itu.
Dengan cepat angin serangan tersebut menyergap jalan darah
Hu-hun-hiat, Kau-mao-hiat, Hun-bun-hiat, Gi-si-hiat, dan Gi-sim-hiat
di tubuh kedua orang le laki berca mbang itu.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sendiripun sa ma sekali tidak
berdiam diri belaka, begitu lolos dari sergapan lawan yang dahsyat,
serangan me matikan segera dilancarkan, sepasang telapak
tangannya melakukan gerakan-gerakan yang aneh dan menciptakan
desingan angin tajam yang menggidikkan hati.
Angin pukulan yang dahsyat dan tajam segera menganca m
delapan belas buah jalan darah penting di tubuh Ku See-hong.
Waktunya persis berbareng ketika Ku See-hong sedang menyergap
dua orang le laki berca mbang itu.
Pengalaman pertarungannya selama beberapa kali me mbuat Ku
See-hong me mpunyai keyakinan yang lebih besar lagi terhadap
tenaga khikang Kan-kun-mi-siu yang dilatihnya, ma ka ia tidak a mbil
gubris terhadap anca man dari Cia Tiong-giok itu, ma lahan segenap
276
tenaganya tetap disalurkan ke depan me mpertaja m ke lima gulung
desingan angin serangannya.
“Sreeett, sreeett, sreeett…” desingan tajam yang me mekikkan
telinga secepat kilat meluncur ke depan. Dua kali jeritan ngeri yang
menyayat hati bergema me mecahkan keheningan. Beberapa buah
jalan darah penting di tubuh kedua orang lelaki berca mbang itu
segera ditembusi oleh kelima gulung desingan angin taja m itu
sehingga darah segar menye mbur keluar sangat deras.
Bukan begitu saja, bahkan sisa tenaga serangan yang masih
besar itu telah me mbawa tubuh mereka terpental sejauh tiga kaki
lebih dari te mpat se mula….
Ketika di sebelah sana berkumandang suara jeritan, maka di
sebelah sini pun terjadi ledakan yang beruntun….
“Bluuumm! Bluuumm!”
Secara telak tubuh Ku See-hong kena dihanta m oleh tenaga
serangan Cia Tiong-giok yang a mat dahsyat itu. Akan tetapi dia
hanya merasakan hawa darahnya sedikit bergetar dan tubuhnya
maju dua langkah. Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menjadi a mat
terkesiap, dengan cepat ia menubruk ke muka. Kedua ujung
bajunya bagaikan dua ekor ular berbisa, menggulung dan menyapu
tiada hentinya menganca m belakang tengkuk Ku See-hong.
Serangan ini a mat ganas, buas dan keji, sukar dibayangkan dengan
kata-kata.
Ku See-hong sama sekali tidak menyangka kalau Cia Tiong-giok
dapat menyerang dan merubah jurus serangan dengan kecepatan
setinggi ini, tiba-tiba saja dia merasa ada segulung desingan angin
tajam menyergap di atas belakang tengkuknya.
Dengan wajah berubah hebat buru-buru ia keluarkan ilmu
gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong, tiba-tiba saja tubuhnya bagaikan
pusaran angin berpusing secara aneh tapi sakti berputar ke arah
luar.

277
Sementara kakinya me lakukan gerakan perputaran yang aneh
menuju ke luar, tubuhnya me lakukan pula suatu gerakan yang sukar
dilukiskan dengan kata-kata, kemudian telapak tangan kirinya
me lancarkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghanta m
tubuh Cia Tiong-giok.
Betapa terperanjatnya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, segera ia
berpikir di dala m hati:
“Ternyata ilmu silat yang sebenarnya dimiliki orang ini jauh lebih
lihay dari apa yang kubayangkan se mula.”
Tubuhnya lantas sedikit berjongkok, ujung bajunya dikebaskan
pelan ke arah depan me lancarkan segulung angin pukulan le mbe k
yang berhawa dingin, rupanya dia ingin mencoba tenaga dalam
yang dimiliki lawan.
“Blaaa mm…!” suatu ledakan keras segera berkumandang.
Ku See-hong merasakan tubuhnya bergetar keras, desingan
angin pukulan yang maha dahsyat itupun seketika tersapu lenyap
hingga tak berbekas, menyusul ke mudian segulung tenaga
dorongan yang kencang me maksanya mundur sejauh tiga e mpat
langkah.
Begitu mengetahui kalau tenaga dalam musuhnya tidak lebih
tangguh daripada kekuatan sendiri, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok
merasa a mat girang, semangatnya berkobar ke mbali, sambil
me mbentak keras jengeknya:
“Orang she Ku, aku lihat lebih kau me mbalas denda m pada
penitisanmu yang akan datang saja!”
Begitu kata terakhir me luncur keluar, telapak tangan kanannya
segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat yang dalam, bagaikan
samudra, sementara lima jari tangan kirinya direntangkan dan
me lepaskan lima gulung desingan angin tajam ke depan.
Dua jurus serangan yang tangguh dilancarkan pada saat yang
hampir bersa maan, selain ganas juga hebatnya luar biasa.

278
Ku See-hong segera merasakan wajah maupun ketujuh lubang
inderanya telah terkurung di balik desingan angin jari lawan yang
tajam. Tak terlukiskan rasa terkesiap dalam haitnya, buru-buru dia
gunakan ilmu gerakan tubuhnya yang lihay, Mi-khi-biau-tiong, untuk
me loloskan diri.
Seluruh badan Ku See-hong segera berubah ibaratnya segumpal
kapas, di tengah alunan angin pukulan yang menyelimut i angkasa,
dari sudut yang amat aneh, bagaikan selembar bulu saja ia
dihe mbus sehingga menyelinap keluar dari arena.
Menyaksikan ilmu gerakan tubuh yang sedemikian lihaynya itu, Si
Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa seharusnya tenaga dalam yang
dimiliki pihak lawan a mat sempurna, tapi mengapa tenaga
pukulannya tadi justru jauh lebih le mah daripada tenaga pukulan
sendiri…?
Cia Tiong-giok sebagai seorang yang cerdik, licik, banyak tipu
muslihat dan hatinya lebih keja m daripada seekor ular berbisa,
dengan cepat menga mbil satu kesimpulan: sudah pasti pihak lawan
telah me mpelajari banyak sekali ilmu silat yang sakti dan luar biasa,
hanya sampai kini masih belum dapat dipergunakannya
sebagaimana mestinya….
Begitu kesimpulan tersebut melintas lewat di dala m benaknya,
niatnya untuk melenyapkan Ku See-hong ma kin mantap, dia tak
ingin me lepaskan harimau pulang ke gunung sehingga
mendatangkan bencana besar di ke mudian hari….
Berpikir sampa i di situ, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera
me mbentak keras, tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat segera
mengejar ke depan. Kaki dan tangan dipergunakan bersama,
bagaikan bunga yang berguguran di musim gugur, dia kurung
seluruh tubuh Ku See-hong secara ketat.
Terkesiap juga hati Ku See-hong menyaksikan kecepatan gerak
lawannya, sementara ia masih tertegun bercampur kaget, selapis
angin pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak di sa mudra,

279
di bawah lapisan bayangan telapak tangan yang membukit, secara
dashyat dan bersamaan menyergap tiba.
Kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Si Pedang Emas Cia Tiong-
giok dala m dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang sudah jarang
yang bisa menandinginya lagi. Coba kalau Ku See-hong tida k
berhasil me maha mi banyak kepandaian sakti ketika berada di tanah
pekuburan, ke mudian mengala mi siksaan panca istana Huan-mo-
kiong yang menyebabkan bergeraknya tenaga murni yang berada di
dalam tubuh dan terhisap oleh pusaran yang mengakibatkan tenaga
dalamnya maju beberapa tingkat, niscaya ia sudah tewas oleh
serangan keji lawannya.
Tiba-tiba Ku See-hong menghimpun tenaga dalamnya, ke mudian
sekali lagi me mperguna kan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong
yang maha dahsyat tersebut. Tampak tubuhnya yang mela mbung di
tengah udara itu terombang-a mbing mengikuti gulungan angin
serangan yang dahsyat. Seenteng selembar bulu, dia menari dan
me layang kesana ke mari tiada hentinya.
Ternyata ilmu gerakan tubuh yang sangat lihay ini boleh dibilang
menganda lkan segulung hawa murni yang dihimpun dari pusar,
me mbuat seluruh badannya enteng bagaikan bulu. Dalam keadaan
begini, sekalipun angin pukulan yang dahsyat mengena di tubuhnya
juga tak akan menghasilkan pengaruh apa-apa.
Ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong merupa kan suatu
kepandaian sakti yang berhasil diperoleh Bun-ji koan-su setelah
me mpe lajari isi kitab Cang-ciong pit-kip se la ma banyak tahun.
Kehebatan dan kesaktiannya tentu saja sukar dilukiskan dengan
kata-kata.
Tempo hari, Bun-ji koan-su pernah berkata kepada Ku See-hong,
asal ia berhasil menguasai ilmu gerakan tersebut maka untuk
menjaga diri hal mana sudah berlebihan.
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa kagetnya bukan kepalang
tatkala menyaksikan ilmu gerakan tubuh yang diperguna kan

280
pemuda ini setingkat lebih da la m dari pada ilmu gerakan tubuh yang
digunakannya tadi, segera pikirnya:
“Heran, ilmu gerakan tubuh apakah ini? Belum pernah kubaca
tentang kepandaian sakti seperti ini da la m kitab pusaka ilmu silat,
padahal ilmu silat yang dimiliki ayah sangat tinggi, mengapa aku
pun belum pernah mendengar tentang soal ini dari mulutnya…?”
Berpikir sampa i ke situ, mendadak Si Pedang Emas Cia Tiong-
giok teringat ke mbali akan sebuah ilmu sakti dari istana Huan-mo-
kiong yang sudah lama tak pernah dipergunakan: Mo-to sam-huan
(Tiga Perubahan dari Pulau Iblis).
Tanpa terasa kakinya segera me mbawakan langkah tujuh
bintang, bersamaan itu pula sepasang tangannya digerakkan
bersama serangan itu… seperti ada seperti tak ada, seperti nyata
seperti tipuan, kiri kanan sepasang tangannya secepat kilat
me lancarkan tiga buah serangan yang a mat aneh.
Dala m setiap gerakan yang dipergunakan se muanya disertai
dengan ilmu langkah yang se mpurna, serangan itu datang pula dari
sudut yang aneh, beruntun datangnya dan tiada terputus.
Demikian hebatnya jurus serangan itu, boleh dibilang belum
pernah dijumpa i da la m dunia persilatan dewasa ini.
Begitu ilmu Mo-to sam-huan dike luarkan, ma ka hebatlah
akibatnya.
Ketika Ku See-hong bergerak dengan menggunakan ilmu gerakan
tubuhnya yang sakti tadi, ia sudah bersiap-siap hendak
menggunakan gerakan kedua dari jurus Hoo-han-seng-huan
tersebut yakni Jin-hay-hu-seng (Lautan Manusia Timbul Tenggela m)
untuk me lukai musuh.
Si anak muda ini baru terkesiap setelah menyaksikan Cia Tiong-
giok mengeluarkan jurus sakti tersebut untuk mendesak dirinya.
Dengan cepat hawa murni yang kuat menyelimuti se luruh dadanya,
menyusul ke mudian sepasang telapak tangannya digerakkan secara
aneh.

281
Di ba lik kilauan cahaya yang gemerlapan, disertaai segulung
hawa murni yang berat dan dalam bagaikan sa mudra, secara lamat-
la mat menerobos masuk ke da la m.
Bentuk badan Ku See-hong saat ini telah berubah menjadi aneh
sekali, tubuhnya berada tiga depa dari permukaan tanah, dengan
bentuk seperti udang bago, di antar lengkungan dan lejitannya yang
lucu… sekilas cahaya putih secepat kilat me lesat ke muka
menganca m bagian me matikan di tubuh Cia Tiong-giok.
Sewaktu masih berada dalam istana Huan-mo-kiong, Cia Tiong-
giok telah mengena li kelihayan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut,
dia baru terperanjat bukan kepalang setelah menyaksikan sekilas
cahaya putih menembusi dinding tak berwujud yang diciptakan
berlapis-lapis itu dan secepat kilat menyergap bagian penting di
tubuhnya.
Padahal Mo-to sam-huan merupakan suatu kepandaian sakti
yang dahsyat sekali pengaruhnya… dala m kenyataan serangan itu
tak ma mpu me mbendung kehebatan dari jurus Hoo-han-seg-huan
tersebut….
Dengan cepat Cia Tiong-giok menghimpun segenap tenaga
dalam yang dimilikinya sehingga tenaga serangan yang terpancar
keluar lewat ilmu Mo-to sa m-huan itu menjadi sepuluh bagian lebih
dahsyat. Lalu dengan gerakan keras lawan keras, ia sambut
datangnya serangan itu.
Berbareng dengan gerakan tadi, tubuhnya turut melesat ke muka
sebagai persiapan untuk menghindari luka parah yang tak
diperlukan.
“Plaaakk…!” benturan keras terjadi.
Kemudian kedengaran suara dengusan tertahan mendesis di
angkasa, pusaran hawa tajam segera me mancar ke de lapan
penjuru.
Ku See-hong segera merasakan hawa darah di da la m dadanya
bergolak keras oleh segulung tenaga dorongan yang kuat, ia

282
didesak sa mpai mundur sejauh lima ena m langkah dari posisi
semula.
Cia Tiong-giok sendiri, walaupun cukup cepat reaksinya,
tubuhnya ikut bergerak cahaya putih itu de mikian cepatnya, daya
pengaruh yang terpancar pun begitu luas daya lingkupnya….
Tampak seluruh tubuhnya terpental jauh ke belakang oleh
sapuan tenaga yang me mbuyar itu. Sekali kuda-kudanya tergempur,
badannya segera berjumpalitan di udara dan melayang turun empat
kaki jauhnya dari posisi se mula.
Walaupun ia dapat melayang turun dengan manis, akan tetapi
dilihat dari paras mukanya yang pucat serta sorot matanya yang
penuh dengan kebencian, dapat diketahui bahwa kerugian yang
dideritanya cukup besar, kekalahan yang dideritanya sekarang boleh
dibilang merupakan ke kalahan yang pertama kali dia la minya sela ma
dua puluh satu tahun.
Sekuat tenaga Cia Tiong-giok segera mengendalikan luka yang
diderita ke mudian sa mbil tertawa seram dia berkata:
“Orang she Ku, mala m ini a ku tak a kan melepaskan kau dengan
begitu saja, heeehh… heeehh… heeehh… tentunya kau rasakan
penderitaan yang hebat dalam tubuhmu sekarang, bukan?”
Oleh tenaga pukulannya yang dahsyat itu Ku See-hong me mang
merasakan hawa darahnya bergolak keras, tak enteng luka yang
dideritanya, namun dari ba lik matanya yang tajam segera
mencorong keluar serentetan cahaya mata yang menggidikkan hati,
lalu dengan sikap sinis me nghina ia me ndengus dingin:
“Hmm, jika punya ilmu, ayo tunjukkan se mua, apa gunanya
menganda lkan ketajaman mulut untuk bersilat lidah?”
Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menyeringai sera m, sehingga
wajahnya tampak mengerikan sekali, lalu sa mbil tertawa dingin
katanya:
“Mana, mana, orang she Ku, kegagahanmu sungguh
mengagumkan, kau me mang seorang Kuncu sejati. Heeehh…

283
heeehh… heeehh, sekarang kau tidak me nyerang lagi? Me mangnya
tanganmu sudah tak menuruti suara hatimu lagi?”
Mendengar ucapannya yang sangat licik itu, dia m-dia m Ku See-
hong merasa terkesiap, pikirnya:
“Saat ini seluruh nadi pentingku terluka, darah dalam tubuhku
serasa membeku, bila keadaan ini sa mpa i diketahui lawan, bisa jadi
dia akan segera melancarkan sergapan mematikan, waktu itu
niscaya kesela matanku akan terancam se kali.”
Padahal Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sendiri pun merasakan
hawa darah di dalam dadanya bergolak keras akibat dari benturan
itu, tapi dasar licik, walaupun ia tahu Ku See-hong juga menderita
luka parah, namun tidak diketahui sa mpa i di manakah taraf luka
yang dideritanya itu.
Oleh karenanya dia ingin me mancing lawannya dengan ucapan
yang me manaskan hati lawan, bila luka yang diderita pihak lawan
parah sekali, maka dengan me mpertaruhkan kekuatan yang
dimilikinya sekarang, ia hendak menggunakan sebuah ilmu pedang
yang ganas dan buas untuk me mbunuhnya.
Sayang sekali Ku See-hong bukan seorang yang bodoh, sudah
barang tentu ia dapat menduga maksud keji Cia Tiong-giok, ma ka
sambil berlagak seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, ia tertawa
seram.
“Sekarang juga aku orang she Ku masih sanggup untuk
me mbinasakan manusia laknat maca m kau. Bila tida k percaya, mari
kita buktikan sekarang juga….”
Menyaksikan sikap Ku See-hong yang begitu tenang menghadapi
ancaman dirinya, diam-dia m Si Pedang Emas Cia Tiong-giok makin
terkesiap. Ia tidak berbicara lagi, dia m-dia m hawa murninya
disalurkan untuk mengobati lukanya, sementara sepasang matanya
yang memancarkan cahaya tajam mengawasi wajah Ku See-hong
tanpa berkedip.
“Syukur dia terkibuli!” pekik Ku See-hong di hati kecilnya.

284
Buru-buru diapun mengatur napasnya untuk menyembuhkan luka
yang dia derita.
Begitulah, dua orang itupun berdiri saling berhadapan di tepi
pantai dengan mata melotot, walaupun di luar wajahnya sikap
mereka tenang, padahal di hati kecilnya merasa begitu tegang,
begitu takut dan ngeri….
Angin laut masih berhe mbus a mat kencang, gulungan ombak
saling berkejaran me mecah di pantai, suara gemuruh yang
disertakan dala m gulungan itu me mberikan suasana yang lebih
mengerikan bagi orang-orang di sekitar sana.
Udara di sekeliling tempat itu penuh diliput i hawa nafsu
me mbunuh yang menyeramkan, kian la ma kian bertambah tebal
mengikut i berla lunya sang waktu.
Pada saat itulah ada dua sosok bayangan manusia yang sedang
pelan-pelan mengha mpiri bela kang tubuh Ku See-hong dengan
gerakan seperti sukma gentayangan, dua bilah pedang pun pelan-
pelan telah diloloskan dari dala m sarungnya….
Sejak semula Ku See-hong telah merasakan kehadiran mereka, ia
tahu dunia ini penuh dengan kebusukan, kejahatan serta perbuatan
me ma lukan. Kulit wajahnya segera mengejang keras, ia paling benci
dengan tindak-tanduk se maca m ini. Sayang tenaganya waktu itu
terlalu le mah, dia tak bisa berbuat banyak kepada mere ka.
Sekulum senyuman dingin yang licik segera tersungging di ujung
bibir Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, ia merasa bangga, juga a mat
gembira.
Tiba-tiba… terdengar dua kali bentakan nyaring bergema
me mecahkan keheningan. Dua bilah pedang yang tajam disertai
dengan segulung hawa pedang yang dingin, satu dari kiri yang lain
dari kanan, langsung menusuk ke bagian me matikan di tubuh Ku
See-hong dengan kecepatan tinggi.
Terdengar bentakan yang pedih dan sedih mengge legar
me mecahkan kheningan.

285
Dengan kening berkerut dan wajah dingin baga ikan salju, tiba-
tiba Ku See-hong me lejit ke udara dan meluncur ke depan. Berada
di tengah udara ia berjumpalitan beberapa kali, kemudian kesepuluh
jari tangannya diayunkan ke depan… desingan angin taja m
bagaikan bendungan yang jebol segera menyambar ke muka.
Selapis gulungan tenaga serangan yang dingin bagaikan es dan
dashyat melebihi ke kuatan pada umumnya itu, melanda ke depan
secepat petir dan langsung menggulung ke tubuh dua orang lelaki
berbaju hita m yang menyergapnya dari bela kang itu….
Rupanya tatkala dua orang lelaki berca mbang itu siap
me landakan sergapan, mendadak a liran hawa murni yang aneh di
dalam tubuhnya itu menyebar keluar, hal mana me mbuat hawa
darah yang bergolak keras seketika itu juga pulih ke mba li seperti
sediakala.
Sementara itu Si Pedang Emas C ia Tiong-giok juga telah berhasil
mengenda likan pergolakan hawa darah di da la m tubuhnya… tapi
sayang ia tak sempat lagi untuk menghindarkan kedua orang anak
buahnya itu dari anca man maut yang dilepaskan Ku See-hong.
Dua kali jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera
mengge ma me mecahkan keheningan mala m… kedua orang le laki
bercambang itu mati seketika itu juga.
Dala m pada itu, Ku See-hong yang baru saja me mbunuh dua
orang lawannya, tiba-tiba merasakan datangnya selapis hawa
pedang yang dingin menusuk tulang menya mbar ke punggungnya
secara dahsyat.
Ku See-hong tak berani bertindak ayal, kakinya segera berputar
secaara aneh, lalu sekali lagi dia berke lit ke sa mping dengan
gerakan tubuh Mi-khi biau-t iong yang sangat lihay itu. Pangka l
kakinya menempel tanah, sementara tubuhnya berjumpalitan secara
indah.
Rupanya dalam keadaan kritis tersebut, ternyata Ku See-hong
ke mbali berhasil me maha mi suatu gerakan aneh, dan yang secara
langsung segera dipraktekkan. Hebatnya, ternyata tusukan maut
286
yang dilancarkan Si Pedang Emas Cia Tiong-giok itu segera
mengenai sasaran yang kosong.
Cia Tiong-giok tertawa seram, pedang e masnya digetarkan dan
diputar menciptakan selapis cahaya emas yang tebal. Gerakan
pedangnya secepat kilat me mbelah angkasa. Di antara getaran
tersebut terpancar keluar cahaya gemerlapan yang menyilaukan
mata.
Selama ini Ku See-hong belum pernah bertarung melawan musuh
yang menggunakan jurus pedang. Serangan bertubi-tubi yang
dilancarkan Cia Tiong-giok dengan me nge mbangkan serangka ian
ilmu pedang yang buas dan me matikan itu segera me mbuat si anak
muda itu me njadi gugup dan ka lang kabut tak karuan.
Mencorong sinar taja m dari balik mata Ku See-hong. Sambil
me mbentak keras, sepasang tangannya masing-masing me mbentuk
sebuah garis busur dan me lancarkan bacokan kilat….
Ketika dua gulung tenaga pukulan yang dilepaskan semua
olehnya itu saling menumbuk menjadi satu di udara, “Ploook!” hawa
serangan segera me mancar ke e mpat penjuru dan bersa ma-sa ma
mengurung seluruh badan C ia Tiong-giok.
Ilmu pukulan se maca m ini adalah merupakan hasil ciptaan Ku
See-hong sendiri, sela in sakt i dan aneh, tanpa disadari tenaga
pukulan yang dihasilkannya pun satu kali lipat lebih dahsyat
daripada keadaan biasa.
Cia Tiong-giok yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat
terperanjat, pedang emas di tangannya segera diputar menciptakan
selapis cahaya dinding yang kuat dan tebal.
Di antara desingan angin taja m yang menderu-deru, seketika itu
juga segenap tenaga serangan yang dilancarkan Ku See-hong kena
dipunahkan oleh hawa pedang tersebut.
Mendadak pedang emas dala m gengga man Cia Tong-giok
digetarkan amat cepat dan dahsyat, bertitik-titik cahaya bintang
bertaburan di angkasa dan tahu-tahu me lesat ke depan,

287
menganca m ja lan darah Gi-hu-hiat dan cong-hiat di atas
tenggorokan Ku See-hong.
Serangan tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi, jurus
serangan yang dipakai juga sakti dan luar biasa, lagi ganas
ancamannya.
Seperti bayangan setan saja, tiba-tiba Ku See-hong menyelinap
ke samping, ke mudian bergerak secara aneh. Sepasang ujung
bajunya dikebaskan bersa ma-sama menciptakan selapis hawa
pukulan yang me luncur keluar tiada habisnya. Setelah itu, sekali lagi
badannya mengegos ke sa mping.
Cia Tiong-giok segera menekan pedang e masnya ke bawah, lalu
dibuyarkan di belakang, langkah kakinya turut miring ke sa mping.
Pedang digetarkan menciptakan beribu-ribu buah ja lur cahaya yang
amat menyilaukan mata.
Dala m waktu singkat, selapis cahaya pedang yang dingin dan
tajam, disertai deruan angin dan guntur yang me me kikkan telinga
menganca m sekujur badan Ku See-hong.
“Breeett…!” karena kurang cepat menghindarkan diri, lengan kiri
Ku See-hong sudah kena tersambar sehingga robek sepanjang dua
inci lebih, kulit badannya kontan merekah dan darah segera
bercucuran me mbasahi separuh bajunya.
Dengan bangga Cia Tiong-giok tertawa licik, pedang emas di
tangannya kembali diputar menciptakan cahaya perak yang
me lingkar-lingkar, kemudian atas bawah meluncur bersama,
bagaikan naga sakti yang sedang menari di angkasa, angin taja m
menyelimuti se luruh udara.
Untuk sesaat lamanya Ku See-hong terkurung di balik cahaya
pedang yang rapat sekali itu.
Sepasang lengannya berputar-putar mengikuti arah pedangnya
dan menciptakan sebuah aliran hawa yang menyesakkan napas,
untuk me mbendung jurus pedang yang ganas dan lihay itu secara
paksa.

288
Sambaran pedang emas menciptakan deruan angin yang
mme kikkan telinga, pasir hitam di tanah menggulung-gulung
terbang mengliputi udara, sedemikian dahsyatnya ancaman itu
sehingga cukup menggetarkan perasaan siapapun yang
me lihatnya…
Cahaya pedang berputar bagakan gulungan omba k samudra, di
antara kilatan-kilatan yang menyambar kesana kemari, hampir
seluruh arena terpenuh oleh serangan lawan.
Sekali lagi Ku See-hoong menggunakan ilmu langkah Mi-khi-biau-
tiong untuk menghindarkan diri secara aneh, ke mudian setelah
me musatkan tenaganya dan pikiran, jurus de mi jurus serangan
dilancarkan secara berantaai. Di antara bayangan teapak tangan
yang berlapis-lapis, berhe mbus keluar hawa serangan yang kuat dan
me mbuat orang sukar untuk me neduhnya.
Makin bertarung, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa semakin
terperanjat. Boleh dibilang pe muda itu merupakan satu-satunya
musuh tangguh yang pernah dijumpainya sela ma ini. Padahal
selamanya belum pernah ada orang yang sanggup menahan
serangan gencarnya sebanyak tigapuluh gebrakan, tapi
kenyataannya sekarang, waalau dengan tangan kosong pun Ku See-
hong ma mpu menghadapi serangannya sebanyak duapuluh jurus
lebih.
Selain daripada itu, hawa serangan yang dipancarkan lawannya
selapis demi selapis menggulung tiba tiada hentinya, makin la ma
kekuatan tersebut makin kuat. Ada kalanya jurus pedangnya kena
didesak sehingga sa ma sekali tak cukup berkekuatan untuk
mendesak lawan.
Sebagaimana diketahui, Ku See-hong telah memperoleh warisan
hawa murni dari Bun-ji koan-su, ke mudian dia pun me mpelajari ilmu
khikang Kan-kun-mi-siu-kang yang maha dahsyat, oleh sebab itu dia
tidak kuatir kehabisan tenaga dalam suatu pertarungan jarak
panjang, malahan ma kin bertarung, tenaga dalamnya makin
sempurna.

289
Di sa mping itu juga, diapun me mpelajari jurus Hoo-han-seng-
huan yang tak bisa disangkal lagi merupakan sumber dari segala
maca m kepandaian sakti… apalagi dia pun bisa mengguna kan ilmu
gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, hal mana me mbuat dirinya makin
tangguh.
Andaikata ia, Ku See-hong, dapat menguasai beberapa macam
kepandaian sakti yang berbeda itu sekaligus, maka ke majuan yang
dicapai da la m tenaga dala mnya tak terukur dengan kata-kata.
Tak bisa disangkal lagi, pertarungan yang sedang berlangsung
sekarang, benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang
jarang terjadi di dala m dunia persilatan.
Angin menderu-deru, udara terasa dingin menyayat badan,
dalam se kejap mata Cia Tiong-giok ke mbali melancarkan
delapanpuluh jurus lebih serangan pedangnya.
Mendadak….
Ku See-hong mendonga kkan kepalanya dan berpekik nyaring,
jurus ketiga dari Hoo-han-seng-huan, yakni Tee-jian-hun-gi (Neraka
Hancur, Sukma Gentayangan) telah dilancarkan. Seketika itu juga
seluruh badannya ibarat serentetan cahaya terik matahari yang
amat menyilaukan mata, dengan suatu gerakan yang cepat
bagaikan sa mbaran sukma gentayangan, dia menerobos ke muka.
Tampak cahaya putih diiringi selapis hawa taja m yang menyayat
badan, langsung menyergap bagian tubuh yang me matikan di
bagian bawah badan C ia Tiong-giok.
Tampaknya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok cukup mengenali
kedahsyatan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut, dia ingin berkelit ke
samping… sayang keadaan terla mbat. Sambil me mbentak keras dia
segera bertekad untuk beradu jiwa.
Jurus-jurus tangguh yang mematikan segera digunakan, dengan
kecepatan yang luar biasa tangan kirinya melepaskan beberapa
gulung desingan angin dingin yang menyayat badan, di mana
desingan tadi langsung menyergap jalan darah Thian-leng-hiat di

290
tubuh Ku See-hong. Sedangkan pedang e mas di tangan kanannya
dengan menggertak berlapis-lapis hawa pedang yang tajamnya luar
biasa, menyongsong datangnya kilatan cahaya putih itu.
Di dala m anggapannya, sekalipun hawa pedang yang dilancarkan
olehnya tak sanggup me mbendung cahaya putih itu sehingga
terluka, namun piha k lawannya akan tewas pula dala m keadaan
yang mengerikan.
Padahal dari mana ia bisa tahu kalau daerah seluas satu kaki di
sekeliling tempat itu sudah dilapisi oleh kekuatan yang maha
dahsyat setelah Ku See-hong menge luarkan ilmu Hoo-han-seng-
huan tersebut, sehingga akibatnya pelbagai serangan atau ancaman
yang bagaimanapun lihaynya jangan harap bisa me ne mbusinya.
Sesungguhnya kehebatan tersebut merupakan rahasia besar…
bahwa Ku See-hong sendiri pun tak tahu akan keistimewaan
tersebut. Dia hanya tahu, asal gerakan jurus manapun dari Hoo-
han-seng-huan tersebut dipergunakan, niscaya lawannya akan mat i
secara mengenaskan.
Tampaknya Kim-kia m C ia Tiong-giok yang sok pintar itu segera
akan mati secara mengenaskan oleh serangan Tee-jian-hun-gi yang
dilepaskan Ku See-hong itu…
Tiba-tiba….
Serentetan suara pekikan keras yang memekikkan telinga dengan
cepat meluncur tiba me mbelah angkasa. Suaranya melengking
seperti jeritan kuntilanak, benar-benar tak sedap didengar.
Di tengah pekikan nyaring inilah, sesosok bayangan abu-abu,
secepat kilat menerjang masuk ke ba lik lapisan tenaga serangan
yang dahsyat dan dingin bagaikan salju itu.
“Bluuumm… Bluuumm…!” ledakan-ledakan berkumandang secara
beruntun.
Cahaya putih yang dilancarkan oleh Ku See-hong itu, mendadak
terputus di tengah jalan….

291
Di antara berkelebatnya bayangan manusuia, paras muka si anak
muda itu berubah menjadi mengerikan, rambutnya berawut-awutan
tak karuan….
Duuuk… duuuk… duuuk…. Selangkah de mi selangkah dia
terdorong ke belakang, se mentara mulutnya muntahkan tiga kali
darah kental.
Sebaliknya, paras muka Si Pedang Emas Cia Tiong-giok pun
berubah menjadi pucat pias mengerikan. Kulit tubuhnya mengejang
keras, sementara sekujur badannya lemas sama sekali tak
bertenaga.
“Oooh ayah…” bisiknya lirih, “Cepat kau… kau bunuh orang itu….
Kalau tidak… dia… dia akan menjadi bibit bencana yang besar
buat… buat kita….”
Ketika berbicara sa mpai di situ, dia telah jatuh terkapar di tanah
tak sadarkan diri.
Rupanya pada saat itulah di sisi tubuh Cia Tiong-giok, telah
bertambah dengan seorang sastrawan berusia pertengahan yang
mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu. Sebilah pedang
antik tersoreng di punggungnya, sedangkan perawakan tubuhnya
tinggi jangkung dan anggun. Dia me mpunyai alis mata yang tebal
dan mata yang besar, gagah perkasa sekali ta mpangnya.
Cuma sayang sekulum senyuman licik yang mengerikan
tersungging di ujung bibirnya, dari sini bisa diketahui bahwa orang
ini benar-benar merupakan orang manusia yang a mat berbahaya.
Ternyata orang ini tak lain adalah Kiong-cu angkatan ke-
tigapuluh ena m dari Huan-mo-kiong yang na manya telah
menggetarkan seluruh dunia persilatan, Han-thian it-kia m Cia Cu-
kim adanya.
Dengan lima jari yang dipentangkan lebar-lebar, secepat kilat
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim menggerakkan tangannya me lepaskan
dua belas totokan kilat di atas dua belas jalan darah penting di

292
tubuh Cia Tiong-giok. Rupanya dia berma ksud untuk mencegah
menja lannya luka tersebut hingga lebih parah lagi.
Dala m pada itu, Ku See-hong juga telah tahu kalau sastrawan
setengah umur ini tak lain adalah otak dari pe mbunuhan biadab
terhadap anggota perkumpulan Kim-to-pang, yaitu Han-thian it-kia m
Cia Cu-kim, seketika itu juga rasa denda m dan rasa benci yang
me luap-luap me nyelimuti seluruh benak atau perasaannya.
Akan tetapi hawa darah yang berada di dalam dadanya sekarang
telah terhantam pukulan Cia Cu-kim yang maha dahsyat itu
sehingga bergolak keras. Penderitaan akibat mengalir me mbaliknya
peredaran darah dalam tubuhnya tak terlukiskan dengan kata-kata,
namun dia menggertak giginya kencang-kencang dan
mengenda likan dirinya sekuat tenaga.
Sementara itu, Han-thian it-kia m Cia Cu-kim telah me mbalikkan
tubuhnya, dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, dia
mengawasi Ku See-hong tanpa berkedip.
Sekilas rasa kaget bercampur keheranan menghiasi wajahnya,
tapi dengan cepat lenyap kembali. Sebagai gantinya, pancaran sinar
buas dan bengis menghiasi ujung bibirnya yang sinis.
“Siapakah kau? Anak murid siapa?!” bentak Han-thian it-kia m Cia
Cu-kim ke mudian dengan suara dingin. “Apa sangkut pautnya
antara dirimu dengan ka mi Huan-mo-kiong? Denda m kesumat apa
pula yang terjalin di antara kita berdua sehingga kau bertindak
kejam dengan me mbunuhi anggota Huan-mo-kiong ka mi? Hmm,
jika kau tak mengucapkan sesuatu alasan, saat ini juga akan
kusuruh tubuhmu hancur lumat menjadi abu…!”
00d0w00

Bab 14
HAN THIAN IT KIAM Cia Cu-kim adalah seorang ge mbong iblis
yang amat termasyhur namanya dala m dunia persilatan. Dia keja m
dan brutal, sama sekali tidak mengenal arti perike manusiaan,

293
selama ini diapun belum pernah mengucapkan kata-kata yang
begitu sungkan terhadap seorang angkatan muda.
Tapi sekarang, kebrutalan dan keangkuhannya banyak
berkurang, hal ini dikarenakan dia telah digetarkan oleh sikap Ku
See-hong yang amat luar biasa itu, serta jurus Hoo-han-seng-huan
yang baru saja digunakan itu.
Dia tahu jurus Hoo-han-seng-huan tersebut merupakan
kepandaian simpanan dari Bun-ji koan-su, manusia paling kosen di
dunia ini. Itulah sebabnya ia berusaha keras untuk menahan
amarahnya.
Sinar benci dan luapan rasa dendam segera terpancar keluar dari
balik mata Ku See-hong, katanya dengan dingin:
“Suhuku adalah pe mimpin dunia persilatan di masa lalu, Bun-ji
koan-su Him Ci-seng. Sedangkan mengenai sumber dari denda m
kesumat itu, terus terang saja kukatakan kepadamu, jika aku masih
berkema mpuan sekarang, detik ini juga akan kusuruh kau terkapar
di atas genangan darah….”
Dia m-dia m terkesiap perasaan Han-thian it-kia m Cia Cu-kim
setelah mendengar perkataan itu, pikirnya ke mudian:
“Se menjak Bun-ji koan-su menerima dua orang murid yang
ke mudian mengkhianatinya, dia telah bersumpah tak akan
menerima murid lagi, bahkan sejak dua puluh tahun berselang dia
telah tewas di bukit Soat-san… mana mungkin dia menerima lagi
seorang murid se muda ini?”
Tadi, sebetulnya dia mengira Ku See-hong tak lebih hanya murid
dari kedua orang murid murtad Bun-ji koan-su, apalagi sela ma
tigapuluh tahun la manya Cia Cu-kim menutup diri terus menerus
untuk melatih kepandaian silatnya, sudah barang tentu dia tidak
begitu mengetahui a kan perke mbangan yang terjadi dalam dunia
persilatan sela ma duapuluh tahun belakangan ini.
Tapi yang me mbuatnya amat terperanjat adalah penampilan Ku
See-hong yang begitu mendenda m dan me mbenci kepadanya,

294
semenjak ke munculan bahkan adu ucapannya terdengar begitu
angkuh dan dingin menggidikkan hati. Hal mana menimbulkan
perasaan was-was di dala m hati kecilnya.
Setelah termenung sejenak Han-thian it-kia m Cia Cu-kim berkata
lagi sa mbil tertawa dingin:
“Hmmm… betul-betul punya keberanian, betul-betul punya
keberanian. Tak kusangka kau berani mengucapkan kata-kata
semaca m itu kepada lohu….”
Ku See-hong tahu kalau usia Han-thian it-kia m Cia Cu-kim telah
mencapai ena mpuluh tahunan, cuma saja dia me miliki kepanda ian
untuk merawat muka sehingga tampaknya saja masih muda.
Di sa mping itu, dia juga menyadari akan kekeja man Cia Cu-kim
terhadap musuhnya setelah saling berhadapan muka pada mala m
ini, niscaya dia tak akan berpeluk tangan bela ka.
Walaupun tahu kalau ke matian telah di depan mata, Ku See-hong
yang angkuh dan keras kepala itu sa ma sekali tak ma u
menunjukkan ke le mahannya untuk minta a mpun. Dengan sinis dan
penuh hina Ku See-hong mendengus dingin, ke mudian ujarnya:
“Kau manusia, aku pun manusia, kenapa aku tak berani mencaci-
makimu? Hmmm…. Me mangnya aku harus persiapkan keberanian
lebih dahulu sebelum mengucapkan beberapa patah kata
kepadamu? Betul-betul suatu lelucon yang tidak menggelikan!”
Bagaimanapun juga, Han-thian it-kia m Cia Cu-kim harus
mengagumi a kan keberanian pe muda itu. Dia lantas tertawa dingin
dengan suara yang menyeramkan, setelah itu katanya ketus:
“Mala m ini kau telah me mbunuh empat orang anggota Huan-mo-
kiong ka mi. Sekarang kau ingin bertanya, hukuman apakah yang
siap kau terima?”
“Mengandalkan kepandaian untuk me mbalas denda m merupakan
suatu perbuatan yang jujur dan terbuka, sekalipun kau sendiri yang
kuhadapi, aku orang she Ku juga tak akan menyerahkan nyawaku

295
dengan begitu saja. Hmmm… mau me mbunuh aku, gunakan dulu
kepandaian yang kau miliki.”
Ku See-hong tahu mundur juga mati, maju dengan mengeraskan
kepala juga mati, tentu saja dia tak akan menunjukkan sikap mohon
dikasihani.
Sejak dulu para enghiong lebih suka mati daripada dihina, itu
pula menjadi prinsip hidup bagi Ku See-hong.
“Bagus sekali, bagus sekali, kau me mang betul-betul punya
keberanian,” ujar Han-thian it-kia m Cia Cu-kim ke mudian, “Lohu
akan me mberikan suatu kesempatan bagimu, sekalipun menimbang
dari dosa-dosa yang kau lakukan dala m istana kami cukup untuk
menjatuhkan hukuman mati untukmu, namun asal kau sanggup
menerima tiga buah pukulan lohu tanpa mati… mala m ini aku
bersedia menga mpuni sele mbar jiwa mu.”
Ku See-hong menjadi girang sekali setelah mendengar tawaran
itu. Dia tak mengira kalau sikap kerasnya justru me mancing
perasaan ingin menang dari ge mbong iblis itu malahan sikap buas
dan brutalnya jauh berkurang terhadapnya.
Ia yakin dengan kondisi badannya sekarang, di mana gejolak
hawa darah dalam dadanya telah menjadi tenang ke mbali, mungkin
secara dipaksakan ia masih ma mpu menerima t iga buah pukulan
lawan.
Walaupun pelbagai pikiran berkeca muk da la m benak Ku See-
hong, namun paras mukanya masih tetap tenang dan dingin kaku
seperti es, ujarnya kemudian:
“Ucapan seorang kuncu bagaikan kuda yang kena dica mbuk, bila
beruntung aku orang she Ku berhasil lolos dari ke matian, tiga tahun
ke mudian pasti akan kupengga l batok kepala mu itu.”
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim segera tertawa dingin tiada
hentinya.
“Heeehh… heeehh… heeehh… tak usah banyak berbicara lagi,
lihat seranganku yang pertama!” bentaknya ke mudian.

296
Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangan Han-thian it-
kia m C ia Cu-kim disilangkan di depan dada, setelah itu pelan-pe lan
didorong ke depan.
Ku See-hong segera merasakan ada segulung angin pukulan
berhawa dingin berhe mbus lewat dan menimbulkan serentetan
ledakan yang me mekikkan telinga.
Tiba-tiba saja hawa darah yang beredar dalam tubuhnya
menga la mi suatu goncangan keras yang menggetarkan sukma,
denyutan nadinya bergetar makin kencang, tenggorokannya terasa
anyir dan tak a mpun lagi… dia muntah darah segar.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim sendiri pun merasa terkejut sekali
setelah menyaksikan kejadian itu. Dia sa ma sekali tidak menyangka
kalau Ku See-hong ma mpu untuk menerima sebuah pukulannya
yang disertai dengan tenaga sebesar lima bagian, bahkan tak
sampai tewas. Padahal menurut perkiraannya tadi, Ku See-hong
sudah pasti akan tewas da la m pukulannya yang perta ma ini.
Dengan paras muka berubah hebat, Cia Cu-kim segera
me mbentak keras dengan suara me nggeledek:
“Lihat seranganku yang kedua!”
Mendadak sepasang telapak tangannya direntangkan ke
samping, kesepuluh jari tangannya yang berapi-api segera disentil
dan digetarkan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan
amukan gelombang dahsyat di tengah samudra sekali lagi
menghanta m tubuh Ku See-hong.
Namun pukulan dahsyat itu bukan serangan yang me matikan,
sebab serangan inti yang sesungguhnya terletak pada kesepuluh
jalur desingan angin dingin yang berada di balik gulungan angin
puyuh tersebut.
Cahaya merah yang berapi segera terpancar keluar dari balik
mata Ku See-hong, sa mbil me mbentak keras, dengan menahan
gejolak hawa darah yang mengge lora dala m dadanya, ia salurkan

297
tenaga murni itu ke da la m telapak tangan. Setelah itu sepasang
tangannya didorong bersama ke depan.
Segulung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya dengan cepat
menggulung pula ke depan. Dalam jurus serangannya kali ini Ku
See-hong telah menghimpun segenap tenaga dala m yang
dimilikinya, tak terlukiskan kedahsyatannya.
“Blaaa mm…!” di tengah ledakan keras yang me mekikkan telinga,
dua gulung hawa murni itu saling bertumbukan satu sama lainnya,
desingan angin berpusing segera me mancar ke e mpat penjuru.
Di tengah desingan angin tajam itulah… terdengar Ku See-hong
mendengus dingin, kepalanya terasa pusing tujuh keliling, hawa
darah di dala m rongga dadanya bergolak keras, kakinya menjadi
gemetar dan secara beruntun ia mundur sejauh tujuh de lapan
langkah lebih.
Tubuhnya gontai dan wajahnya me mucat, tak tahan lagi dia
muntah darah berulang kali.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim benar-benar merasa terperanjat
sekali, di dala m serangan yang terakhir dilancarkan itu, dia telah
sertakan tenaganya sebesar tujuh bagian… bahkan dia m-dia m ia
sertakan pula satu jurus serangan yang me matikan, tapi alhasil dia
gagal me mbinasakan si anak muda itu.
Menghadapi kenyataan tersebut, timbul niat jahat dalam hatinya,
ia bersumpah hendak me mbunuh Ku See-hong dengan cara apapun
juga.
Sebab, dengan usianya yang begitu muda pun dia telah me miliki
kesempurnaan tenaga dalam yang begitu se mpurna bila pada
ma la m ini ia sa mpai kabur da la m keadaan hidup, tak sampa i
beberapa tahun kemudian sudah pasti pe muda itu akan menjadi
seorang musuh yang mengerikan…. Bila sa mpai begitu ma ka cita-
citanya untuk menguasai seluruh dunia persilatan pasti akan
menjumpai tantangan.

298
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim tertawa licik, kemudian bentaknya
keras-keras:
“Lihatlah seranganku yang ketiga… Hun-huan kiu-gi!”
Kali ini dia telah menghimpun tenaga dalamnya sebesar sembilan
bagian… tiba-tiba sepasang telapak tangannya didorong ke muka
sejajar dengan dada, gulungan angin pukulan yang dahsyat dan
menyesakkan napas dengan cepat menyelimuti seluruh angkasa, di
balik kese muanya itu terselip pula kekuatan tersembunyi yang
me mbetot sukma, langsung me nggulung ke tubuh Ku See-hong.
Ketika menyambut serangan musuh untuk kedua ka linya tadi, Ku
See-hong telah merasakan isi perutnya menderita luka yang cukup
parah, selain lengannya menjadi le mas, dia pun merasa kehabisan
tenaga, padahal ia bisa berdiri tegak di sana pun tak lain karena
kekerasan hatinya yang menunjang kese muanya itu.
Kini, ketika dilihatnya angin pukulan yang menderu-deru telah
menggulung datang, sepasang telapak tangannya segera didorong
ke depan dengan mengerahkan sisa kekuatan yang masih
dimilikinya.
Seketika itu juga terdengarlah suara deruan angin tajam yang
me me kikkan telinga berkumandang me me nuhi angkasa….
Ku See-hong merasakan pandangan matanya menjadi gelap,
seluruh tubuhnya terlempar sejauh empat kaki lebih dari te mpat
semula oleh segulung pukulan kekuatan yang maha dahsyat….
“Blaaa mm…!” ketika badannya me mbentur tanah, pasir dan debu
segera beterbangan me menuhi angkasa.
Namun Ku See-hong sa ma seka li tidak digetarkan sa mpai
pingsan, pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya dengan wajah
yang pucat, noda darah yang membasahi ujung bibirnya dan
rambutnya yang awut-awutan tak karuan, membuat pe muda itu
tampak me ngerikan sekali.
Ketika Han-thian it-kia m Cia Cu-kim menyaksikan Ku See-hong
sama seka li tidak terbunuh oleh serangannya yang maha dahsyat

299
itu, diam-dia m rasa kaget dan bergidik menyelimuti seluruh
benaknya.
Mendadak…. Sekulum senyuman licik yang buas dan
menyeramkan tersungging di ujung bibir Han –thian it-kia m Cia Cu-
kim.
Tubuhnya bagaikan sesosok bayangan sukma selangkah de mi
selangkah pelan-pe lan mende kati tubuh Ku See-hong….
Agaknya Ku See-hong telah mengerti apa yang bakal terjadi,
sepasang matanya berubah menjadi merah me mbara seperti darah,
itulah perasaan seram yang menceka m perasaannya menghadapi
ancaman ke matian yang telah muncul di depan mata.
“Cia Cu-kim…!” teriaknya ke mudian dengan suara parau,
“Sebenarnya kau… kau… adalah manusia atau bii… binatang…?”
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim terke keh dengan seramnya, ia
menjenge k sinis:
“Bocah keparat she Ku, serahkan saja selembar jiwa anjingmu
itu. Sekalipun kau telah menya mbut tiga buah pukulanku, heeehh…
heeehh… heeehh… tapi, untuk menghadapi seorang musuh besar
yang mungkin akan menganca m kesela matan diriku, selamanya aku
tak pernah me megang janji, sebab prinsipku, terhadap orang-orang
yang berbahaya bagiku adalah tindakan yang makin keji merupa kan
tindakan yang paling baik.”
Waktu itu, Ku See-hong sudah merasakan jantungnya berdebar
keras, peredaran darahnya kacau, sepasang matanya menjadi
gelap, keempat anggota badannya lemas seperti tak berkekuatan
lagi, tentu saja mustahil baginya untuk me lakukan perlawanan.
Tak terlukiskan rasa pedih yang menceka m perasaan ketika itu,
la mat-la mat muncul jalur darah di dala m kelopa k matanya, dia
segera meraung keras, sekarang dia sudah tahu manusia yang
hidup di dunia ini me mang tiada yang bisa dipercaya….
Mendadak….

300
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim me ngayunkan tangan kanannya ke
depan, segulung desingan angin dingin segera berhembus lewat.
Ku See-hong segera mendengus dingin, tubuhnya bergulingan
tiga empat ka li di atas tanah ke mudian tergeletak kaku dan tak
berkutik lagi.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim kuatir ka lau Ku See-hong belum
putus napas… sekali lagi dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat yang
menggulung tubuh Ku See-hong sehingga terpental lagi sejauh
empat ka ki lebih dari posisi se mula.
Setelah itu dia baru mendongakkan kepala dan
me mperdengarkan suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati….
Sambil me mbopong tubuh Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, Han-
thian it-kia m Cia Cu-kim segera melompat dan berla lu dari situ.
Beberapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap di ba lik
kegelapan sana.
Tak la ma ke mudian di seke liling tempat itu telah pulih ke mba li
dalam keheningan, sepi senyap, tak kedengaran sedikit suarapun.
Angin masih berhe mbus kencang ombak pun menggulung dan
saling berkejaran….
Ku See-hong tergeletak di atas tanah, ia nampak begitu
mengenaskan dan me medihkan hati….
Benarkah ia telah tewas di ujung telapak tangan Han-thian it-
kia m C ia Cu-kim?
Benar-benar kasihan sekali Ku See-hong yang hidup penuh
penderitaan itu, tampaknya dia sudah berada di tepi jurang
ke matian. Dalam keadaan tak sadar tadi ia telah termakan oleh dua
buah pukulan dahsyat dari Cia Cu-kim, hal mana me mbuat nadinya
telah tergetar putus.
Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba Ku See-hong
menggerakkan tubuhnya lagi… ke mudian berpekik dengan suara
yang mengenaskan.

301
“Haus… haus… a ku minta air… air….”
Tubuhnya gemetar keras sekali, dia ingin meronta bangun
namun tiada tenaga yang ma mpu dikerahkan, akhirnya setelah
mendengus tertahan, ia terkapar kembali di atas tanah dan tak
berkutik, agaknya pe muda itu telah jatuh tak sadarkan diri lagi.
Sesaat kemudian pelan-pelan ia mendusin ke mbali, sekali lagi dia
berseru dengan suara parau:
“Air… air… aku minta air….”
Jawaban yang diperoleh hanya deruan angin tajam serta deburan
omba k yang mengerikan.
Pada saat ini kesadaran Ku See-hong ha mpir punah, apa yang
diketahui olehnya hanya air, sekarang yang dibutuhkan dengan
segera adalah air. Dengan napas tersengkal-sengkal dan wajah
mengerikan seperti iblis dia berteriak terus dengan suara parau.
Akhirnya dia menggerakkan tubuhnya. Seluruh jari tangannya
dipentangkan lebar-lebar, ke mudian dengan sepenuh tenaga
berusaha untuk merangka k maju ke depan….
Sepanjang hidupnya, Ku See-hong me mang selalu diliputi oleh
ke misteriusan, setelah merangkak se kian la ma dengan penuh
penderitaan, tampaknya kesadaran yang semula hilang la mbat laun
menjadi sadar kembali. Kini dia merasa hausnya setengah mati,
pemuda itu ingin mencari air untuk menghilangkan dahaganya. Dia
tahu air laut tak boleh diminum, ma ka ia merangka k menuju ke arah
sebuah bukit yang tak jauh letaknya dari tepi pantai.
Lambat-laun kesadarannya semakin pulih ke mba li, dia merasa
aliran hawa aneh yang berada dala m pusarnya ke mbali menyebar
keluar. Walaupun peredaran darahnya yang me mbalik sudah jauh
me mba ik, na mun seluruh tulang belulangnya yang terkena pukulan
terasa sakitnya bukan kepalang, seakan-akan satu demi satu telah
rontok semua, selain daripada itu, dia pun merasa tubuhnya
kepanasan seperti dibakar, hausnya sukar ditahan lagi.

302
Ternyata di dala m me lancarkan kedua buah pukulannya yang
terakhir tadi, Han-thian it-kia m Cia Cu-kim telah me ngerahkan ilmu
Tee-sat-ciang yang paling beracun untuk menghantam pe muda itu.
Ilmu pukulan Tee-sat-ciang merupakan se maca m ilmu pukulan
beracun yang amat lihay sekali, sekalipun sulit untuk dipelajari, tapi
asal bisa dikuasai maka kelihayannya bukan kepa lang.
Bagaimanapun lihaynya seorang jago, asal kena terserang oleh
angin pukulannya itu sehingga hawa panas beracun menyerang ke
badan, maka korban itu akan me nderita lebih dahulu, sebelum
akhirnya akan mati dala m keadaan yang mengenaskan.
Han-thian it-kia m Cia Cu-kim a mat takut terhadap Ku See-hong,
terutama sekali beberapa maca m kepandaian sakti yang dimilikinya.
Dia kuatir anak muda itu tetap hidup di dunia ini hingga menyulit kan
dirinya di ke mudian hari, maka tadi secara beruntun dia lepaskan
dua buah pukulan Tee-sat-ciang yang beracun dengan maksud
untuk me mbunuhnya.
Siapa tahu Ku See-hong telah berhasil me mpe lajari ilmu Kan-kun
mi-siu khi-kang yang a mat dahsyat itu… tanpa disadarinya sebelum
serangan itu tiba, banyak sudah pengaruh pukulan beracun itu
dipunahkan oleh ilmunya tersebut, selain jantungnya dilindungi agar
tidak tergetar putus.
Coba kalau bukan lantaran begitu, sekalipun Ku See-hong
me miliki sepuluh le mbar nyawa pun a kan tewas se mua di tangan
lawan.
Pelan-pelan hawa darah dala m tubuh Ku See-hong berhasil
dihimpun ke mbali, sekarang secara me maksakan diri dia sudah
sanggup untuk berdiri. Setelah itu dengan sempoyongan berjalan ke
depan.
Lebih kurang seperminum teh ke mudian, Ku See-hong telah tiba
di bawah kaki bukit, saat inilah segulung angin gunung berhembus
lewat… mendadak pe muda itu mengendus bau harum yang lamat-
la mat terbawa pula bau a mis darah.

303
Begitu mengendus bau harum yang sangat aneh itu, Ku See-
hong segera merasakan hatinya bergetar keras, semangatnya
segera berkobar kembali, satu ingatan dengan cepat me lintas di
dalam benaknya.
Sambil menelusuri sebuah jalan kecil usus ka mbing, dengan
mengerahkan tenaga yang paling besar, pemuda itu merangka k
maju ke depan.
Hasratnya yang besar untuk mencari hidup me mbuat dia harus
menahan penderitaan dengan sekuat tenaga, menuju ke arah mana
arahnya bau harum tadi, dia berjalan maju ke depan.
Napasnya segera tersengkal-sengkal dan sepasang matanya
berubah menjadi merah darah.
Kembali seperempat jam sudah lewat, sekarang Ku See-hong
telah tiba di bawah sebuah tebing karang yang curam dan
menjulang t inggi ke angkasa.
Ia mendongakkan kepalanya me mperhatikan sekejap keadaan
dari tebing cura m itu.
Tampak bukit tersebut menjulang ke angkasa, kaki bukit tersebut
tidak begitu curam tapi dari punggung bukit ke atas, curamnya
bukan kepalang tanggung. Bukit tersebut betul-betul curam dan
tegak lurus, jangankan manusia, monyet serta burung pun sukar
untuk me lewatinya.
Ku See-hong mengalihkan sinar matanya me mperhatikan sebuah
tonjolan bukit karang berbentuk aneh yang menjulang lima
enampuluh ka ki tingginya dari permukaan. Ternyata bau harum
yang semerbak tadi berasal dari atas tonjolan batu karang itu,
ma lah dari atas bukit tadi seakan-akan memancar ke luar asap
berwarna merah yang segera menyebar ke angkasa.
Itulah sebabnya Ku See-hong menduga bahwa benda mustika
tersebut kemungkinan besar berada di atas bukit karang yang
enampuluh kaki tingginya dari permukaan tanah itu.

304
Di atas wajah Ku See-hong yang mengenaskan segera terlintas
suatu perasaan sulit, kini tubuhnya sudah menderita luka yang
cukup parah, untuk mendaki ke atas bukit karang yang enam puluh
kaki tingginya di atas permukaan, pada hakekatnya hal ini jauh lebih
sulit daripada mendaki ke langit….
Dengan termangu-mangu dia berdiri tertegun di situ, sampai
la ma ke mudian, Ku See-hong baru mengerahkan hawa murninya
dan mencoba untuk menghimpunnya ke mbali.
Tapi dengan cepat sekujur badannya terasa sakitnya bukan
kepalang, seolah-olah tulang-belulangnya sudah lepas se mua.
Tiba-tiba… di atas wajah Ku See-hong terlintas keteguhan
hatinya yang membara, sambil menggigit bibir ia segera berusaha
keras untuk merangkak naik ke atas tebing karang tadi.
“Aduh…!” di tengah jeritan tertahan, tubuh Ku See-hong
terbungkuk ke bawah, tapi sa mbil menahan rasa sakit yang luar
biasa, dia lari lagi ke depan. Tapi gejolak hawa darah yang bergolak
di dala m dadanya menimbulkan rasa sakit yang menusuk-nusuk
tulang, hal mana me mbuat dia terjatuh seka li lagi ke tanah.
Sementara itu, tubuhnya sudah berada duapuluh kaki di atas
punggung bukit itu, namun keadaan medan makin la ma ma kin
curam. Ku See-hong segera menghembuskan napas panjang, sambil
mengerahkan tenaga yang dimilikinya selangkah de mi selangkah dia
mera mbat terus ke atas.
Dala m waktu singkat, dia sudah mencapai sepuluh kaki lebih
tinggi daripada tempat semula. Sekarang kakinya sudah menginja k
di atas sebuah batu karang yang menonjol ke luar.
Berada di situ Ku See-hong baru mencoba untuk me mperhatikan
keadaan di sekitar sana, empat penjuru keadaan amat berbahaya,
kini jalan yang terbentang di depan matanya adalah sebuah dinding
karang yang tegak lurus, tingginya mencapai duapuluh kaki lebih.

305
Untuk mencapai batu raksasa yang berbentuk aneh dan me nonjol
keluar itu, mau tak mau ia harus melewati dinding karang yang
tegak lurus itu lebih dahulu.
Walaupun jaraknya hanya duapuluh kaki, namun bagi pandangan
Ku See-hong saat ini ha kekatnya jauh lebih berat daripada mendaki
ke langit. Seandainya tidak terluka parah, jarak sejauh duapuluh
kaki itu bukan suatu rintangan yang sukar, apalagi dengan
kepandaian silat yang dimilikinya, asal di tengahnya ada tempat
berpijak untuk berganti napas, dala m sekejap mata ia bisa mencapa i
tempat tujuan.
“Aaaai…” Tak kuasa lagi Ku See-hong menghela napas sedih.
Ternyata dinding batu tersebut selain tegak lurus dan licin, lagi
pula penuh dengan lumut hijau yang amat licin, sekilas pandangan
saja dapat diketahui bahwa tempat itu sukar untuk dilewati.
Andaikata ia nekad dan menda ki ke atas dengan menyerempet
bahaya, seandainya di atas tiada tempat berpijak atau tempat yang
dipakai sebagai tempat berpegangan licin dan sukar dipegang, maka
saat itu tubuhnya pasti akan terjatuh ke bawah dan berubah
menjadi segumpa l daging re muk.
Ku See-hong mendonga kkan kepalanya me mandang dinding
tebing yang licin dan curam itu, tiba-tiba muncul suatu ingatan yang
berani… dia bertekad hendak menda ki ke atas puncak tonjolan batu
itu.
Nasib manusia ada di tangan Thian, seandainya dia gagal di
dalam perjuangannya untuk me mpertahankan hidup, apalagi yang
bisa dia katakan?
Dia m-dia m Ku See-hong mengerahkan sisa tenaga dalam yang
dimilikinya, ke mudian dengan cepat tubuhnya melompat ke atas.
Ketika mencapa i ketinggian tiga kaki, mendadak hawa murninya
me mbuyar… dala m terkejutnya dia menahan rasa sakit yang
me mbuat tubuhnya gemetar dan tiba-tiba mene mpelkan badannya
di atas dinding tebing.

306
Tangan kanannya segera diayunkan ke depan berusaha
berpegangan pada dinding tersebut, siapa tahu dinding itu sa ma
sekali tiada te mpat untuk berpegangan lagi… lumut hijau segera
berjatuhan ke atas tanah.
Ku See-hong me mang seorang pemuda yang tangguh, dalam
keadaan terancam jiwanya, dia sama sekali tidak menjadi gugup,
tangan kirinya yang disaluri tenaga segera membentangkan kelima
jari tangannya, kemudian secepat kilat ditusukkan ke atas dinding
batu itu….
“Criiing…!” kelima jari tangannya menancap ke dala m dinding
batu yang berlumut tebal itu, dengan begitu maka tubuhnya
menjadi tergantung di atas awang-awang.
Sesungguhnya tindakan yang dilakukan Ku See-hong ini benar-
benar berbahaya sekali, seandainya ia tidak sedang terluka, dengan
tenaga dalam yang sempurna, tentu saja menancapkan jari
tangannya ke atas dinding bukanlah suatu pekerjaan yang sukar,
tapi dala m tenaga dala m yang tersendat-sendat, tindakan dari Ku
See-hong ini betul-betul a mat berbahaya sekali.
Mungkin nasibnya me mang lagi mujur, ternyata tepat di mana
tangan kirinya ditusukkan tadi tak lain adalah sebuah celah-celah
yang ada di antara dinding batu yang satu dengan dinding batu
lainnya.
Agaknya Ku See-hong juga tahu kalau tangan kirinya menancap
di antara celah-celah dinding karang, ia menjadi girang seka li.
Setelah mengatur napas sebentar, dengan menelusuri celah-
celah dinding tadi, selangkah de mi selangkah dia merangkak naik
lagi ke atas.
Dala m wa ktu singkat dia telah t iba di atas batu tonjolan besar
yang berbentuk aneh itu, tapi setelah menyaksikan keadaan di situ,
mendadak ia menjadi a mat terperanjat.
Ternyata tonjolan batu cadas itu bentuknya seperti naga,
besarnya bukan kepalang. Batu cadas itu mene mpe l menjadi satu

307
dengan dinding bukit itu sehingga bentuknya menyerupai kepala
naga yang menerobos masuk ke dala m dinding karang.
Yang lebih mengagumkan lagi ada lah batu cadas yang menonjol
keluar itu entah terdiri dari batuan apa, selain licin dan ha lus, juga
me mancarkan cahaya kemerah-merahan yang sanat indah, seakan-
akan batu itu ada lah sebuah batu mustika yang a mat besar.
Sedang asap merah yang menguap di atas batu mustika tersebut
datangnya dari empat arah delapan penjuru yang terhimpun
menjadi satu, tempat itu adalah sebuah mulut lorong yang luasnya
beberapa depa di tengah batu cadas berbentuk naga tadi.
Di dala m lorong yang sempit itu terdapat sebuah celah sepanjang
tiga inci… cairan berwarna merah kehijau-hijauan yang tampaknya
kental seperti lem, meleleh ke luar dari sana. Bau harum semerba k
tadi tak lain berasal dari cairan merah kehijau-hijauan tersebut, tapi
anehnya terendus pula bau anyir darah.
Saat itu, Ku See-hong sedang merasakan hausnya setengah mati,
dengan termangu-mangu dia mengawasi cairan merah itu,
ke mudian pikirnya:
“Cairan merah kehijau-hijauan itu sudah pasti adalah obat
mustika yang langka dan tak ternilai harganya….”
Dengan susah payah mendaki bukit terjal, me mpertaruhkan
selembar jiwanya, me manjat karang yang licin itu, tak lain tujuan Ku
See-hong adalah untuk mendapatkan ca iran merah itu.
Dala m keadaan demikian, dia sudah tak ambil peduli lagi cairan
apakah yang ada di situ. Diapun tak a mbil peduli apakah cairan itu
boleh diminum atau tida k….
Ku See-hong segera me mbungkukkan badannya, ketika
hidungnya mengendus bau asap harum yang menguap, tubuhnya
terasa menjadi segar tak terlukiskan.
Tanpa berpikir panjang lagi ia segera me mbuka mulutnya dan
menghirup cairan merah tadi.

308
Dengan cepat seluruh tubuhnya menjadi segar, harum se merbak
hawa dingin yang menyegarkan segera me luncur masuk ke dala m
tubuhnya, langsung mene mbusi pusar. Kenyataan ini, seketika itu
juga me mbuat hatinya girang setengah mati.
Bagaikan orang yang mene mukan sumber air di tengah gurun
pasir dengan sekuat tenaga dia menghirup cairan merah itu. Dala m
waktu singkat cairan merah yang tiga inci dala mnya itu sudah
berpindah ke dala m perut Ku See-hong, setetespun tak ada yang
bersisa lagi.
Ku See-hong segera menggerakkan lidahnya untuk menjilati sisa
cairan yang masih ada, setelah itu menarik napas panjang-panjang,
seakan-akan dia belum merasa puas dengan apa yang telah
diperolehnya.
Segulung hawa murni yang hangat pelan-pelan mulai bergerak
naik dari da la m pusar, tak selang berapa lama ke mudian, nadi
penting yang menguasai hidup matinya berhasil dite mbusi lalu
menga liri Jin dan Tok-meh, la lu ba lik lagi ke bawah.
Seluruh tubuhnya menjadi segar bugar semua, penderitaan dan
rasa sakit yang diala minya tadi seketika lenyap tak berbekas. Hawa
murninya menjadi penuh dan tubuhnya menjadi enteng dan segar,
betul-betul suatu kenya manan yang tak terlukiskan dngan kata-kata.
Tegasnya Ku See-hong merasakan keempat anggota badannya
segar dan nyaman, tak kuasa lagi dia mendongakkan kepalanya dan
berpekik panjang.
Suara yang keras dan yaring bagaikan pe kikan naga segera
menggetarkan seluruh ngkasa, suaranya cukup menggetarkan
siapapun yang mendengarkannya…. Tapi, sebelum pe kikan tersebut
selesai diutarakan, tiba-tiba Ku See-hong menjerit kaget.
Ternyata batu cadas yang semula indah dan berwarna merah
bercahaya itu mendadak berubah menjadi kelabu… sedangkan asap
merah yang se mula me mbumbung ke angkasa, tiba-tiba lenyap tak
berbekas. Ku See-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi
amat terkesiap.
309
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia
mendonga kkan kepalanya.
Lebih kurang sepuluh kaki di atas cadas berbentuk kepala naga
itu, ia jumpai sebatang pohon kecil dengan daun yang rimbun,
ternyata rimbunnya pohon itu persis menutup mulut sebuah gua.
Menyaksikan kejadian ini, Ku See-hong ke mba li berpikir:
“Di atas batu naga ini terdapat benda mestika yang tak ternilai
harganya, mungkin di sekeliling gua itupun akan kujumpai mustika
yang lain? Kenapa tidak kuperiksa?”
Ku See-hong bermaksud hendak melayang naik ke atas gua itu,
maka dia m-dia m pikirnya:
“Dengan ilmu meringankan tubuh yang kumiliki sekarang, tak
mungkin dala m sekali lompatan sepuluh ka ki bisa kucapai… tapi
barusan aku makan cairan merah itu dan agaknya tenaga dalamku
telah me mperoleh ke majuan yang pesat, kenapa tidak kucoba untuk
me lompat ke situ?”
Berpikir sa mpai di situ, Ku See-hong segera berpekik nyaring,
tubuhnya secepat kilat me layang naik ke atas seperti seekor burung
elang yang terbang di angkasa.
Tampaknya tenaga yang digunakan terlalu besar, sehingga dala m
lompatan itu tubuh Ku See-hong mencapai ketinggian sepuluh kaki
lebih.
Dala m keadaan begini, mendadak telapak tangan kanannya
menekan ke atas dinding tebing lalu tubuhnya berputar cepat di
tengah udara dan membalik ke bawah. Dengan suatu gerakan yang
enteng dan lincah, tahu-tahu ia telah me layang turun di depan gua.
-oo0dw0oo-

Jilid: 10

310
DEMONSTRASI ilmu meringankan tubuh yang dilakukannya
barusan boleh dibilang sangat lihay, belum tentu umat persilatan
sanggup melakukannya.
Mimpi-pun Ku See hong tida k menyangka ka lau tingkatan yang
dicapai dala m ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkatan
yang begitu hebatnya, untuk mencapai ketinggian sepuluh ka ki,
pada hakekatnya hal mana bisa dilakukan dengan santai.
Setelah masuk kedala m gua itu, dia ma kin terkejut bercampur
tercengang, ternyata gua itu begitu luas dan panjangnya sehingga
sama seka li diluar dugaannya se mula, Luas gua saja mencapai dua
puluh kaki lebih, cuma saja makin kedala m se ma kin menyempit, tapi
tidak diketahui berapa dala mnya.
Udara dalam gua itu dingin sekali, bisa diketahui bahwa gua itu
pasti berhubungan langsung dengan punca k tebing tersebut.
Didala m gua itu banyak terdapat batu batuan, ada yang duduk
ada yang berdiri, bentuknya aneh sekali. Bahkan diantara sekian
banyak batu-batuan tersebut, adapula batuan yang berbentuk putih
dan bercahaya terang.
Dengan ketajaman mata yang dimiliki Ku See hong sekarang, dia
dapat menyaksikan se mua benda yang berada dala m gua itu
dengan teramat jelasnya....
Dia m-dia m Ku Sue hong berpikir: 'Batuan ini bisa me mancarkan
cahaya sendiri, jangan-jangan ada bintang sebangsa ular beracun
atau lain lainnya yang berada disitu?'
Sambil berpikir sambil berja lan, tanpa terasa dia sudah mencapai
kedala man tiga puluh ka ki lebih, tiba-tiba muncul ke mba li sebuah
gua lain yang letaknya tersembunyi dibela kang sebuah batu cadas
berbentuk aneh.
Ku See hong adalah pemuda yang bernyali besar, setelah berpikir
sejenak dia lantas mengha mpirinya.

311
Satu kaki setelah me masuki gua tersebut, maka yang tampak
hanya pasir putih yang ha lus, selain kering juga rata, tak sepotong
batu pun yang dite mukan disitu.
Benda yang berada didalam semesta me mang beraneka ragam,
kadangkala terdapat pula keanehan yang sama sekali diluar dugaan
orang.
‘Didala m gua ada gua, diluar langit ada langit, diatas manusia
masih ada manusia yang lain’; tampaknya ucapan tersebut me mang
sama seka li tidak keliru.
Ku See hong segera tersenyum pikirnya: 'Gua ini pa ling bersih,
mungkin dimasa sila m ada pertapa yang berdiam di sini. Bila
sekarang didalam situ ada penghuninya, maka sudah pasti
penghuninya, adalah bangsa binatang yang suka akan kebersihan.
Setelah sampai disini, kenapa aku tidak mencoba untuk
me masukinya sekalian me lihat-lihat keadaan disana?'
Begitu ingat tadi melintas lewat dia lantas melangkah masuk
kedala m gua itu. Ta mpak gua itu tingginya mencapai dua ka ki,
bukan saja dindingnya merupakan batuan putih yang berkilat,
bahkan lantai pun beralaskan batuan putih yang berkilauan.
Tiba tiba....
Ku See hong menarik napas panjang, dia seakan-akan
mengeadus sejenis bau harum bunga yang se merbak....
Padahal gua itu amat bersih, tiada rumput atau bunga yang
tumbuh disitu lalu dari mana datangnya bau harum tersebut?
Dia lantas me masuki ke mba li sebuah lorong yang terpertang
dibelakanig gua itu, dala m anggapannya bau harum tadi tentu
berasal dari bela kang sana.
Tanpa lagu lagi dia melangkah masuk keda la m lorong tersebut.
Lorong itu terletak disebelah kiri dinding batu yang terbelakang,
panjangnya dua kaki kemudian melebar, rupanya disana terdapat
ke mbali sebuah ruangan batu.

312
Ruangan inipun seperti juga ruangan yang berada diluar, kosong
me lompong t iada suatu bendapun, sementara kee mpat be lah
dindingnya terbuat dari batuan putih yang berkilauan.
Disebelah kiri depan pintu masuk, terdapat sebuah pot bunga
yang terbuat dari batu putih, Pot itu letaknya lima depa dari
permukaan tanah.
Didala m pot bunga tersebut terdapat tanah dan tumbuh
sebatang rumput hijau yang panjangnya hanya tiga e mpat' inci,
namun da la m pot tersebut hanya terdapat tanah merah tanpa air,
mungkin airnya sudah la ma me ngering...
Anehnya, walaupun tanpa air rumput hijau itu tidak menjadi layu
dan mati. Bau harum se merbak yang terendus sedari tadi ternyata
berasal dari rumput hijau tersebut.
Timbul rasa ingin tahu dala m hati kecil Ku See hong, dia segera
meneliti pot bunga itu lebih seksa ma.
Ternyata pot bunga tadi terbuat dala m de lapan sudut, satu
bagian mene mpel diatas dinding tanpa cacad. Oleh karena itu dia
lantas menga mbil kesimpulan bahwa pot bunga tersebut tentu
dibuat oleh pendiri gua itu ketika dilihatnya ada sebagian batu putih
yang menonjol keluar dibagian sana.
Tapi yang lebih aneh lagi adalah diseluruh ruangan batu itu tidak
dijumpai sebuah kursi atau mejapun. Sekalipun pe milik gua itu
sudah pindah atau meninggal dunia, paling tidak disana harus
tertinggal perabot-perabot yang besar seperri meja, kursi atau
pembaringan.
Tiba-tiba muncul perasaan ingin tahu dala m hatinya, diapun
lantas berpikir: 'Ruangan ini bentuknya persis dengan ruangan batu
diluar sana, apakah sejak dulu me mang begitu bentuknya? Arsitek
yang me mbangun gua ini betul-betul hebat....! Aaah betul, pot
bunga itu bisa berbentuk segi delapan, itu berarti tempat ini bukan
bersifat alam, mela inkan me mang buatan manusia...!'

313
Satu ingatan segera melindas dala m benak Ku See hong, dengan
cepat dia memegang pot bunga bersegi delapan itu dan didorong ke
kiri. Ketika sa ma sekali tak bergerak, dia menggerakannya lagi ke
kanan.
"Kraaak....!" kali ini pot bunga bersegi delapan itu bergeser
beberapa inci dari te mpat se mula.
Tapi diatas dinding batu itu sa ma sekali tidak dite mukan pintu,
hal mana me mbuat Ku See hong menjadi tertegun, mendadak dia
menggoyangkan dengan gerakan sekenanya, tanpa disengaja dia
menekan pot bunga itu kebawah.
"Kraak....!" kembali berge ma suara keras, agaknya ada engsel
pintu yang sedang me mbuka.
Mencorong sinar aneh dari balik mata Ku See hong, dengan
wajah tertegun dia menarik pot itu ke be lakang.
"Kraaakkk....... !" ternyata pot bunga yang terbuat dari batu
putih itu tak lebih adalah te mpat berpegangan diatas pintu, dengan
cepat terpentanglah sebuah pintu.
Dibalik pintu tersebut kembali terdapat sebuah ruangan lain yang
luasnya dua kaki dengan t inggi satu setengah kaki, seluruh dinding
ruangan terdiri dari batu ke mala put ih yang berkilauan.
Dite mpat ini terdapat meja kursi dan pembaringan komplit
dengan perkakas lainnya. Semua alat itupun terbuat dari batu
ke mala putih dengan ukiran-ukiran yang beraneka raga m, betul-
betul sangat indah se kali.
Dengan sorot mata yang tajam, mendada k Ku See hong
me mandang sekejap keatas pembaringan batu, ...ternyata disana
duduk bersila seorang kakek yang matanya sudah cekung kedala m
dengan punggung bersandar diatas dinding ruangan.
Diatas pembaringan dima na kakek itu duduk bersila, terletak
sebilah pedang antik yang berwarna hitam..., di bawah pedang tadi
tampak sejilid kitab yang tipis !

314
Ku See hong tahu kake k ini pastilah seorang tokoh persilatan
yang berilmu tinggi, tapi yang menjadi pertanyaan baginya adalah
tubuh kekek itu; mengapa tidak me mbusuk sebaliknya mirip orang
yang masih hidup saja. Apakah dia mati be lum la ma?
Ku See hong menghe la napas panjang, ia merasa ke matain kakek
itu sungguh mengenaskan, begitu sepi, begitu menyendiri, coba
kalau dia tidak me masuki gua tersebut tanpa sengaja, mungkin saja
beberapa ratus tahun kemudianpun betum tentu jasadnya akan
ditemukan orang.
Padahal, darimana dia tahu kalau kakek ini telah meninggal dunia
sejak tigaratus tahun berselang, lagipula merasakan (merupakan)
seorang manusia aneh yang luar biasa hebatnya, selain mengerti
ilmu perbintangan, ilmu bangunan, ilmu ala m dan tanah, ilmu
barisan Pat-kwa, juga memiliki kepandaian silat yang tak terlukiskan
hebatnya....?
Dengan sikap yang sangat hormat Ku See hong me mberi hormat
kepada kakek itu, ke mudian maju mende kat dan menga mbil kitab
kecil yang tipis itu.
Diatas kitab tadi terlukis beberapa huruf yang tersembunyi:
"Tiada te man dala m jagad, dunia ini hanya kuseorang"
Kemudian dibawah tertera pula e mpat huruf kecil:
"HU-THIAN SENG-KIAM" !!
Gaya tulisannya kuat dan tegas, indah dan megah....
Ku See hong segera merasa, walaupun ucapan kakek ini terlalu
besar namun terkandung kepedihan yang tak terlukiskan dengan
kata-kata, sambil menghela napas segera guma mnya:
‘Dunia a mat luas, umat manusiapun tak terhitung jumlahnya,
namun orang ini t idak mene mukan seorang temanpun sehingga ia
menyebut dirinya sebagai Hu-thian Seng-kia m (Malaikat Pedang
Menyendiri).’

315
‘Mungkin keanehan watak Orang ini jauh me lebihi watak suhuku
Bun-ji koan-su ,...kalau tidak, mengapa t iada teman didunia ini?
Atau mungkin dala m jagad hanya dia seorang yang baik sedang
lainnya orang jahat?’
Tentu saja Ku See hong tidak mengetahui sejarah dari Hu-thian
seng-kia m tersebut, kalau tidak, ia pasti akan terperanjat, lagipula
tak akan curiga terhadap apa yang ditulisnya itu.
Tapi Ku See hong me ma ng seorang yang perasa, apalagi setelah
me mbaca tulisan yang berbunyi: ''Tiada teman dala m jagad, dunia
ini hanya aku seorang!'' makin dikenal ia merasa ikut bersedih untuk
ke malangan kake k itu.
Dala m sedihnya itu, Ku See hong lantas me mbuka hala man
pertama dari kitab itu, maka terbacalah tulisan yang berbunyi
demikian:
“Catatan dari Hu-Thian Seng-Kia m menje lang saat Ajal ! “ :
"Dala m kehidupan ini, kau telah ditakdirkan me njadi orang yang
berjodoh untuk mene mukan hasil karyanya ini tiga ratus tahun
ke mudian...! Benar-benar rejekimu a mat besar!"
Me mbaca tulisan tadi, dia m-dia m Ku See hong a mat terperanjat,
mungkinkah kakek ini benar-benar sudah mati tiga ratus tahun
berselang...? Kalau ditinjau dari tulisan da la m kitab itu, agaknya
dia sudah menduga kalau hari ini ada orang yang bakal me masuki
gua ini !?
“Hu-thian seng-kia m! Wahai Hu-thian seng-kia m! Sebetulnya
siapakah kau? Mungkin kau benar-benar seorang jago lihay yang
amat tersohor pada tiga ratus tahun berselang? Mungkin para jago
yang hidup pada seratus tahun berselang pernah mendengar na ma
besarnya?”
Dengan sorot mata yang berkilauan, Ku See hong membaca lebih
jauh,

316
"Aaaih..., tampaknya se mua telah me njadi takdir, setelah Hu-
thian seng-kia m lenyap sela ma t iga ratus tahun, dia akan muncul
ke mbali dala m dunia persilatan...!
Dika la pedang ini mulai keluar dari sarung, jeritan kesakitan akan
me landa jagad !!
Darah bercucuran sederas genangan sungai, bangkai berserakan
menusuk hidung, bagai pembunuhan yang me landa dunia persilatan
tempo dulu, pasti akan terulang ke mbali..., Sungguh mengenaskan,
sungguh me medihkan.....!
Ku See hong tahu, yang dimaksudkan Hu-thian seng-kia m adalah
nama pedang mestika itu, lagipula orang yang me mperoleh pedang
tersebut harus menyebut pula dirinya sebagai Hu-thian seng-kia m.
Bila ditinjau ke mbali apa yang tertulis begitu serius dan
mengandung a misnya darah, tampaknya pedang tersebut
merupakan sebuah pedang yang sangat lihay.
Berpikir de mikian, tanpa terasa Ku See hong me mperhatikan
pedang antik itu dengan seksama. Tampa k sarung pedang itu hita m
pekat dan bercahaya terang, selain gagang pedangnya me mang
tampak aneh, sa ma seka li tidak dite mukan ciri-ciri lain....
Maka diapun me mbaca tulisan dala m kitab itu lebih jauh:

"Takdir telah menetapkan de mikian, maka Hu-thian seng-kia m


angkatan pertama menghadiahkan pedang ini bagi mereka yang
berjodoh! Selain juga mewariskan tiga jurus ilmu pedang yang tiada
tandingannya didunia ini... Catatan tentang ilmu pedang itu ada di
belakang, aku percaya dengan kecerdasanmu untuk me mbuka
ruang rahasia ini, terbukti ka lau kau berotak cerdas, pasti rahasia
ilmu pedang itu dapat kau ketahui.
'Dimasa sila m, dengan mengandalkan pedang Hu-thian seng-
kia m ini, lohu telah menciptakan suatu badai pe mbunuhan yang tak
terkirakan sehingga me langgar hukum langit. Suatu hari ketika

317
menelusuri lautan, tanpa disengaja telah menemukan bukit tinggi ini
dimana terdapat Tee-liong-hiat-meh (Naga tanah nadi darah)!'
'Tee-liong-hiat-meh, merupakan te mpat pe musatan dari inti
langit dan bumi yang berlangsung seribu tahun se kali, yang disebut
gua mestika! Letak gua itu berada ditengah punggung bukit ini.
Perlu diketahui lohu pandai me lihat hong-sui dan aneka raga m
kepandaian lain, lohu tahu kalau gua mestika ini tak ternila i
harganya!
Barang siapa yang meneguk Sari Kekuatan tersebut, maka dia
akan kuat dan panjang usia.
Bila orang persilatan yang meneguknya, walaupun seluruh inti
kekuatannya tak bisa terhisap dala m wa ktu singkat, tapi asal bisa
mendapat sedikit saja, manfaatnya tak terlukiskan dengan kata
kata...!
Itulah sebabnya kukatakan ka lau benda itu merupakan benda
mestika yang tiada ternilai harganya.
Walaupun lohu sudah tida k berniat untuk hidup terus di ala m
ramai, tapi aku dapat menghitung apa yang bakal terjadi
dike mudian hari.
Telah kuperhitungkan bahwa pedang Hu-thian seng-kia m ini
me mancarkan hawa pe mbunuhan yang luar biasa, ...tiga ratus
tahun kemudian benda ini pasti akan muncul ke mbali dala m dunia
persilatan...!
Maka secara diam-dia m lohu bertekad untuk me mbantu pe milik
pedang Hu-thian-seng-kia m "angkatan kedua" untuk menciptakan
suatu keajaiban yang belum pernah terjadi sela ma ini.
Sengaja kupancing ke luar Tee-liong-hiat-meh itu untuk kau
terima!
Ditengah 'batu naga' diatas sana, dengan sengaja aku telah
me mbuat sebuah celah gua yang dalam dan me letakkan sepotong
Batu Kema la Hijau,'Ban-nian pek-giok' disitu. Selewatnya tiga ratus
tahun kemudian, hawa sakti dari Tee-liong-hiat-meh itu pasti akan

318
terhimpun oleh Ban-nian pek-giok tersebut hingga terwujud menjadi
cairan yang dina ma kan Tee-liong-hiat-poo (Mestika Darah Naga
Bumi) !!
Hawa sakti itu akan muncul dala m waktu yang singkat, yakni
selama dua jam (tiga ratus tahun dari saat ini), bila kesempatan dua
jam itu terlewatkan, maka saat munculnya kemba li Hiat-meh-liong-
khi itu a kan terjadi lagi setelah tiga ratus tahun ke mudian.
Mestika ala m hanya akan diperoleh untuk mereka yang berjodoh,
yang tidak berjodoh jangan harap bisa mene mukan benda ini.
Pada tiga ratus tahun berselang, lohu telah menghitungkan
kejadian yang akan datang, telah lohu ketahui pemilik pedang Hu-
thian seng-kia m angkatan kedua me mpunyai rejeki yang besar, dia
akan menerima mestika Tee-liong-hiat-poo itu.
Bila kau telah mendapatkan Tee-liong-hiat po itu..., lohu anjurkan
cepat-cepatlah kau tinggalkan bukit ini...!!!
Bukit karang ini bisa berdiri tegak sela ma puluhan laksa tahun
karena ada hawa sakti yang menunjang dari dalamnya, begitu hawa
sakti tersebut terambil pergi, ibarat manusia yang kehabisan darah,
tujuh hari ke mudian pasti a kan runtuh dan hancur.
Manusia maupun binatang yang berada dalam jarak satu Li
disekitar tempat ini akan tertimpa akibatnya dan musnah, ...ingat!
Ingat...! Cepat tinggalkan bukit ini sejauh-jauhnya...!
Rumput Hijau didepan pintu itu, merupakan sebuah benda yang
berusia sepuluh laksa tahun, kasiatnya dapat mencegah keracunan,
mencegah hawa sesat, air dan api tak tembus, benar-benar
merupakan suatu benda mestika yang tiada taranya.
Dimasa lalu benda ini dina makan orang sebagai Pe k-liok-cau!
Pertumpahan darah terjadi dimana-mana gara-gara benda itu.
Akhirnya, lohu yang telah berhasil me mperolehnya, sekarang akan
kuberikan pula untukmu.

319
Umat manusia didunia ini banyak yang licik dan berhati busuk,
banyak ksatria yang harus mengorbankan jiwanya ditangan mereka.
Kau telah ditakdirkan sebagai bintang penolong dunia persilatan
pada tiga ratus tahun ke mudian. Aku harap kau jangan me mbunuh
orang seperti me mbabat rumput; dimana bisa dia mpuni, ampunilah
mereka yang ma u bertobat.
Jenasahku tak usah kau geser, karena lohu telah me mbuka
rahasia langit dan me nghancurkan bukit ini. Untuk dosaku, lohu
rela dijebloskan kedala m neraka, biarlah jazadku terkubur bersama
bukit ini.
Ingatlah apa yang kupesankan dan laksanakan baik-baik, jangan
berbuat kejahatan yang melanggar hukum sehingga menyia-nyiakan
harapanku.....!!
Tertanda:
Hu-Thian-Seng-Kia m “Angkatan Pertama”!
oooooo0dw0ooooooo

Bab 15
SELESAI me mbaca tulisan itu, Ku See hong menjadi termangu
mangu dan tenggela m da la m la munannya sendiri. Dia m-dia m
diapun bersyukur karena ia telah menerima banyak keajaiban ala m.
Selama hidup, belum pernah Ku See hong menerima budi
kebaikan orang lain, tapi sekarang, bukan saja dia telah
me mperoleh kebaikan orang, bahkan siapa na ma kakek itupun tak
diketahui olehnya.
Selain itu, kakek tersebut juga tidak meninggalkan pesan agar
dia melakukan sesuatu baginya, kesemuanya ini me mbuat Ku See
hong merasa a mat tidak tenang, Dia m-dia m pikirnya:
'Semasa masih hidupnya dulu, locianpwe ini tak pernah
mene mukan seorang sahabat pun; setelah mati, jenasahnya akan

320
terkubur dala m perut bumi, benar-benar suatu nasib yang
mengenaskan.... Mumpung masih ada enam hari ena m mala m
sebelum bukit ini hancur, lebih baik kutemani dirinya disini sela ma
beberapa hari, sekalian menghibur sukmanya yang kesepian.'
Mendadak..., pada saat itulah Ku See hong me ndengar suara
gemuruh yang a mat keras berge ma me mecahkan keheningan,
menyusul ke mudian se luruh ruangan batu itu bergoncang keras.
Paras muka Ku See hong berubah hebat, ia tahu ucapan
locianpwe tersebut amat tepat, kalau dilihat dari gempa yang begitu
hebat melanda seluruh bukit ,kini sudah pasti ia tak bisa mengendon
terus dalam ruangan tersebut.
"Blaaa mm.....! Blaaamm.....!" setelah berkumandang suara
gemuruh yang me mikikkan telinga, gemeratak bumi yang
menggoncangkan ruangan itu se ma kin menghebat, menyusul
ke mudian terdengar bunyi tanah longsor yang me mekikkan telinga,
mungkin ada sebagian dari tanah perbukitan itu yang telah a mbruk.
Gemuruh keras yang menggelegar di angkasa itu berbunyi seka li
tiap semenit, waktunya pun makin la ma se makin pendek,
sedangkan ge mpa yang terjadi makin la ma ma kin kencang. Ku See
hong sudah tak sanggup lagi untuk berdiri tegak.
Yang lebih aneh lagi adalah jenazah dari ka kek itu, walaupun
bumi bergoncang dengan hebatnya, namun ia masih tetap duduk
dengan tebang dite mpat se mula.
Dala m perkiraan Ku See hong se mula, bunyi ge muruh dan
getaran gempa yang berlangsung selama ini hanya akan terjadi
beberapa saat lalu akan berhenti dengan sendirinya, siapa tahu
makin la ma ma lah menghebat, seakan-akan dunia mau kia mat saja,
saluruh ruangan dala m gua itu bagaikan diputar balikkan, betul-
betul menggetarkan hati.
''Blaaamm...!" setelah berkumandang suara gemuruh yang luar
biasa dahsyatnya, menyusul kemudian muncul segulung tenaga
getaran yang sangat kuat melanda seluruh ruangan, kuda-kuda Ku

321
See hong kontan menjadi ge mpur dan ia terpental sejauh tiga
empat depa dari posisi se mula.
''Kraaak...blaaamm!" bunyi tanah yang merekah berge ma disitu,
dinding batu putih dala m ruangan yang begitu kuat dan keras kini
sudah muncul retakan-retakan yang banyak, disusul ke mudian dari
luar gua sana berge ma suara batuan cadas yang berguguran.
"Aduh celaka " pikir Ku See hoag ke mudian,"bila gua ini tak kuat
menahan golakan tenaga yang menggetarkan bumi sehingga roboh
lebih dulu, niscaya akupun akan turut terkubur hidup-hidup
ditempat ini! "
Berpikir sa mpai disitu, dia lantas masukkan kitab kecil itu
kedala m sakunya, ke mudian tak se mpat untuk me mperhatikan
pedang must ika itu lagi, buru-buru dige mbolnya pedang itu diatas
bahunya.
Setelah itu, dengan sikap yang sangat hormat dia menjura
dihadapan jenasah kakek itu ujarnya dengan lantang; "Setelah
menerima budi kebaikan dari cianpwe, sesungguhnya boanpwe Ku
See hong berhasrat untuk menemani layon cianpwe sela ma
beberapa hari sebagai tanda rasa terima kasihku, tapi berhubung
gejala gempa yang menimpa bukit ini sudah mulai dan boanpwe
kuatir terjadi hal yang tak diinginkan, terpaksa boanpwe akan
mohon diri lebin dahulu. Boanpwe pasti akan me mpergunakan Hu-
thian seng-kia m yang cianpwe hadiahkan kepadaku ini, untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran didala m dunia persilatan...!"
Selesai berdoa, Ku See hong segera melompat ke luar dari
ruangan itu, tapi apa yang ke mudian terlihat olehnya ha mpir saja
me mbuat pe muda itu menjerit keras.
Tampaklah dala m lorong yang berada sepuluh kaki dari ruang
batu itu telah dipenuhi oleh bela lang beracun yang jumlahnya begitu
banyak sehingga menyerupai sebuah awan hita m, bukan saja telah
menyumbat lorong yang luasnya beberapa kaki itu, lagi pula
suaranya me mekikkan telinga.

322
Agaknya semua binatang beracun yang selama ini berse mbunyi
dalam gua tersebut telah dikacaukan oleh terjadinya ge mpa kuat,
sehingga sa ma sa ma kabur menyela matkan diri.
Gua yang dilewati Ku-See-hong ketika masuk kedala m ruangan
tadi merupakan sebuah celah alam yang ada dicelah bukit, dimana
gua tersebut me manjang sa mpai kepuncak tebing, panjangnya
paling tida k mencapai ratusan kaki, didala mnya tersebarlah gua
besar maupun kecil yang puluhan ribu banyaknya, disana menghuni
pelbagai binatang beracun yang tak terhitung jumlahnya. Tak heran
kalau binatang beracun itu segera berdesakan menuju kegua yang
berhubungan langsung dengan a la m bebas.
"Aduh celaka!" pekik Ku See hong setelah menyaksikan kejadian
itu.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan se mbilu, hawa murninya
segera dihimpun keda la m telapak tangannya, menanti belalang
beracun itu bergerombol mendekat, diapun a kan lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Siapa tahu, belalang beracun yang berpuluh ribu jumlahnya itu
hanya bergerombol didala m lorong tersebut bagaikan selapis awan
gelap, bukan saja menutupi cahaya yang masuk, juga tak seekorpun
yang terbang masuk kedala m gua.
Ku See hong yang cerdik dan cekatan tiba-tiba menunjukkan
wajah berseri, rupanya teringat bahwa cianpwe itu pernah
menyinggung bahwa rumput Pek-lik-cau yang berada diatas pot
bunga itu merupakan benda mustika yang sanggup diguna kan untuk
me lawan racun.
Berpikir sa mpai disitu, dia lantas melompat kesa mping pot bunga
tadi dan me megang a kar rumput Pek-lik-cau tersebut.
Segera itu juga dia merasakan ada segulung hawa dingin yang
mera mbat naik lewat celah-celah tangannya dan masuk ke
tubuhnya, sementara bau harum semerbak menyegarkan badan,
tampaknya rumput tersebut benar benar merupakan sebatang
rumput mustika.
323
"Sreeet.....!" diiring suara desingan, Ku See hong telah berhasil
mencabut keluar rumput Pek-lin-cau itu.
Batang berikut akarnya yang berwarna merah kehijau hijauan itu
hanya mencapai lima inci saja, cahaya hijau yang terpancar keluar
tampak indah menawan.
Begitulah dengan tangan kiri me megang rumput Pek lik cau,
tangan kanan menyiapkan serangan dahsyat untuk me njaga segala
ke mungkinan yang tak diinginkan, pelan-pelan Ku See hong berjalan
mende kati gerombolan bela lang beracun itu.
Kalau dibicarakan me mang sangat aneh ketika kawanan belalang
beracun itu menyaksikan Ku See hong berjalan mendekat, ternyata
binatang itu serentak menggerakkan sayapnya dan mundur ke
belakang.
Ku See hong menjadi amat ge mbira, secepat kilat telapak tangan
kanannya melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat
bagaikan he mbusan angin topan, kawanan bela lang beracun yang
berada dibarisan depan segera tersapu oleh pukulan dahsyat itu
hingga hancur dan tercerai berai diatas permukaan tanah.
Semenjak ma kan cairan merah Tee liong-hiat-po, tenaga dalam
yang dimiliki Ku See hong telah me mperoleh ke majuan pesat,
serangan yang dilancarkan barusan betul betul mengerikan se kali.
Tak selang berapa saat kemudian, bangkai belalang beracun itu
sudah me mbukit, sementara belalang beracun yang masih terbang
diudara dan tak kena terhajar mampus itu serentak melarikan diri ke
empat penjuru.
Dala m waktu singkat, Ku See hong telah mencapai pintu masuk
gua tersebut.
Mendadak...... kembali terendus bau busuk yang lembab dan
menyengat hidung dari arah depan, pe muda itu cepat menjadi
sadar, pastilah seekor binatang beracun kembali telah munculkan
diri.

324
Dengan cekatan dia mene mpelkan punggungnya diatas dinding
gua, kemudian dengan sepasang matanya yang tajam me lakukan
pemeriksaan di sekeliling tempat itu, hawa murni dihimpun ke dala m
telapak tangan kanannya dan bersiap sedia melancarkan serangan
setiap saat.
Waktu itu suasana didepan gua itu a mat gelap dan remang
remang karena udara dipenuhi oleh belalang beracun yang sedang
me larikan diri.
Rupanya rombongan be lalang beracun tersebut hanya mengikuti
arah terbang pemimpinnya yang ada dipaling depan, andaikata
pemimpinnya terjun ke lautan api, maka yang berada dibelakangnya
turun pula me nerjunkan diri ke dala m lautan api.
Cepat nian gerak terbang dari kawanan belalang beracun itu,
suara dengungan nyaring yang mme kikkan telinga itu kian la ma kian
bertambah mele mah, tak la ma ke mudian binatang tersebut sudah
lenyap tak berbekas.
Dala m pada itu, dari mulut gua telah muncul seekor ular raksasa
yang berperut amat panjang dengan sisik yang berwarna-warni,
dengan menelusuri dinding gua tanpa menimbulkan sedikit
suarapun, bergerak mende kat.
Ditinjau dari kepalanya yang berbentuk segi tiga serta tubuhnya
yang berwarna warni, dapat diketahui bahwa ular beracun raksasa
itu sudah pasti seekor ular yang berbahaya sekali, barang siapa
terpangut, niscaya jiwanya akan me layang.
Terkesiap Ku See hong menyaksikan kejadian ini, telapak tangan
kanannya segera digetarkan ke muka, lima gulung desingan angin
tajam yang me mekikkan telinga segera dilontarkan ke muka
menyergap kepala aneh dari ular beracun itu.
“Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..!” lima gulung
desingan angin tajam yang sanggup me mbelah batu cadas,
bersarang telak diatas kepala aneh si ular berbisa itu, tapi anehnya
ternyata binatang itu sa ma seka li tidak menderita luka apa-apa.

325
Ketika ular berbisa berwarna warni itu menyaksikan ada orang
menyergapnya, sepasang mata anehnya yang mirip la mpu lentera
segera me mancarkan se merbak sinar hijau yang menggidikkan hati,
lalu sa mbil mengangkat kepalanya ia me mperdengarkan pekikan
nyaring yang mendirikan bulu roma, mulutnya dipentangkan lebar
lebar dan menyemburkan segumpal asap beracun yang berwarna
warni.
Secepat sambaran petir, kabut beracun itu menyambar kewajah
Ku See long. Mimpi pun Ku See bong tida k menyangka kalau ular
berbisa itu begitu ganas dan berbahaya, tubuhnya cepat-cepat
berkelit kesamping dan melompat kearah dinding tebing la innya,
sementara telapak tangan kirinya kemba li diayunkan ke muka.
Segulung angin pukulan yang tak kalah hebatnya sekali lagi
menggulung kedepan.
Agaknya ular berbisa yang berwarna warni itu cukup mengerti
akan kelihayan ilmu pukulan yang dilancarkan Ku See hong,
kepalanya yang aneh segera dimiringkan ke samping, ke mudian
tubuh bagian depannya diangkat keatas.
'Plaak!' dengan diiringi suara nyaring, pukulan tadi bersarang
telak diatas badan ular bebisa yang keras bagaikan baja itu, al-hasil
ular tadi masih juga tidak menderita apa apa.
Kembali suara pekikan aneh yang me me kikkan telinga
berkumandang me mecah keheningan, ular berbisa yang tubuhnya
amat besar itu me mbalikkan badannya, kemudian ekornya yang
panjang langsung menggulung ke tubuh Ku See hong.
Kekuatan yang menyertai sabetan ekor ini betul-betul
mengerikan hati, deruan angin dahsyat menggetarkan seluruh
angkasa.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Ku See hong melompat
ke muka.
"Blaaa m....!" suatu benturan keras berkumandang, dinding
karang dala m gua itu segera bergetar keras, pasir dan batu

326
beterbangan diangkasa, ternyata sudut dinding gua itu sudah
tersapu ambruk sebagian.
Ku See hong segera terkesiap sekali, mendadak satu ingatan
me lintas didala m benaknya. "Criiing..." diiringi suara dentingan yang
sangat nyaring, Ku See hong telah meloloskan sebilah pedang
mestika yang me mancarkan cahaya merah.
Cahaya tajam yang me mancar ke luar dari pedang itu berwarna
bening, tapi lamat-la mat me mancar selapis kabut tipis yang
berwarna merah menyelimut i senjata tersebut, tampak indah dan
menawan.
Ketika ular beracun berwarna warni itu, menyaksikan Ku See
hong me loloskan pedang Hu-thian seng-Kia m, mulutnya segera
dipentangkan lebar-lebar, ke mudian sa mbil berpekik nyaring,
gumpalan asap beracun segera dise mburkan keluar.
Akan tetapi, ketika mendapat tiga depa dari kabut merah yang
menyelimuti pedang mestika Hu-thian seng-kia m tersebut, tahu-
tahu kabut racun itu menyebar keempat penjuru dan menguap ke
atas.
Kabut beracun berwarna hijau tua, sedang cahaya pedang
berwarna merah darah, ketika kedua maca m warna itn saling
me mbentur satu sa ma la innya, segera timbullah beraneka warna
yang amat indah.
Lambat laun, kabut beracun yang dise mburkan ular berwarna
warni itu makin menipis, seluruh badannya makin le mah dan
kepalanya yang anehpun turut terkulai ketanah, dua biji mata
anehnya yang berwarna hijau kian la ma kian berta mbah le mah.
Sebaliknya kabut merah yang menyelimuti pedang Hu-thian
seng-kia m tersebut kian la ma kian bertambah tebal ha mpir saja
menyelimuti se luruh badan Ku See hong sedemikian aneh dan
saktinya keadaan tersebut, sehingga tak malu ka lau disebut sebagai
pedang mustika paling aneh didunia ini.

327
Cahaya gembira segera terpancar keluar dari balik mata Ku See
hong, sedemikian girangnya dia sehingga matanya hanya
menga mati pedang Hu-thian seng-kia m tersebut tanpa berkedip, dia
lupa untuk turun tangan, juga lupa untuk me mbunuh ular beracun
tersebut.
"Blaaaa m.....! Blaaammm.....!" ledakan demi ledakan yang
me me kikkan telinga segera menggetarkan angkasa, menyusul
ke muaian seluruh gua itu bergoncang keras.
Tak la ma ke mudian ta mpak batu dan pasir berguguran ke atas
tanah dengan menimbulkan suara nyaring. Mungkin ada sebagian
besar batu karang yang telah a mbruk.
Mendengar suara tadi, Ku See hong baru merasa terkejut dan
tersentak kaget pedang Hu-thian Seng-kia mnya digetarkan keras
menciptakan berlapis lapis gulungan garis busur yang melingkar,
seolah-olah cahaya biangla la yang menyebar ke angkasa.
Kemudian diiringi suara gemerincingan nyaring, laksana kilatan
cahaya tajam, pedang itu segera membacok keatas kepala
berbentuk segi tiga dari ular beracun itu.
Anehnya, kali ini ular beracun itu tida k menghindar ataupun
me mberi perlawanan, na mun dala m kenyataannya bacokan yang
dilancarkan Ku See hong itu me mang dilakukan dengan kecepatan
luar biasa.
Dala m keadaan tak ma mpu menghindarkan diri,"Criiing...!" mata
pedang itu segera menembusi kepa la ular beracun tersebut
bagaikan sedang me motong tahu saja. Pekikan keras
berkumandang me mecahkan keheningan, percikan darah segar
me mancar ke mana-mana. kepala si ular yang berbentuk segi tiga itu
segera kena terbacok oleh senjata Ku See hong sehingga hancur tak
karuan lagi bentuknya.
Ku See hong segera merendahkan badannya, sekilas cahaya
bianglala segera me mancar keluar, hawa pedang mendesir, ular
raksasa yang panjangnya empat kaki itu sudah terpotong potong

328
menjadi puluhan bagian oleh ayunan pedang Hu-thian seng-kia m
tersebut, bau amis segera me menuhi seluruh gua.
Sambil menggengga m pedang Hu-thian seng-kia m, Ku See hong
me lompat keluar dari gua itu. Ketika sorot matanya me mperhatikan
keadaan disekitar sana, tampak lebih kurang dua kaki dihadapannya
telah muncul dua buah batu karang yang sangat besar menyumpa l
jalan lewat, yang tersisa tinggal ruang kosong selewat satu kaki.
Tapi, pada ruang kosong yang satu kaki lebarannya itu kini
berdiri seekor laba-laba raksasa yang me mbentuk selapis sarang
laba-laba yang besar dan berwarna putih, diatas sarang tadi
tertempel banyak seka li belalang beracun, sedang laba-laba tersebut
lagi sibuk mela lap bela lang bela lang beracun tersebut.
Dia m dia m Ku See hong merasa terperanjat, pikirnya: "Paling
tidak aku harus mene mpuh perjalanan sejauh tiga puluh kaki
me lewati gua ini sebelum lolos dari tempat ini, tampaknya didala m
gua yang lebar didepan sanapun banyak terdapat binatang-binatang
beracun. Aaai. .. tampaknya bila aku tidak segera berusana untuk
meninggalkan gua ini, bila sa mpai saatnya ambruk, saat itu meski
aku berilmu silat amat hebat pun, jangan harap bisa meninggalkan
tempat ini da la m keadaan sela mat..."
Berpikir sampa i disitu, dengan me mentangkan sepasang matanya
bulat-bulat, telapak tangan kirinya segera didorong kemuka
me lepaskan segulung angin pukulan yang maha dahsyat untuk
me mbayar sarang laba laba tersebut...
Tapi, Ku See hong segera merasakan telapak tangannya seolah-
olah menyentuh segumpal benda yang a mat lunak dan me mpunyai
daya pental yang kuat, tak ampun badannya mence lat kebelakang.
Dengan terkesiap dia mundur dua langkah, tampak sarang laba-
laba itu hanya sedikit bergerak, na mun sa ma sekali tidak menderita
kerusakan apa-apa.
Tampaknya laba-laba raksasa itu sudah me miliki sifat yang tajam
dan pintar, melihat orang yang manyergapnya, tubuh yang besar
segera melompat turun keatas tanah.
329
"Blaaa m...!" diiringi getaran keras, ketika cakar panjang laba-laba
raksasa itu mencengkera m diatas sebuah batu cadas yang besar,
seketika itu juga batu cadas itu hancur tak karuan lagi bentuknya,
bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki
binatang tersebut.
Ku See hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi a mat
terperanjat, dia tak berani berayal lagi. Pedang Hu-thian seng-
kia mnya segera digetarkan me mbentuk garis biangla la panjang
yang secepat kilat membalik ke bawah dan menusuk tubuh laba-
laba raksasa tersebut.
Laba-laba raksasa itu berpekik aneh, cairan hijau segera
me mancar ke mana-mana. Dala m wa ktu singkat tubuhnya sudah
kena dicincang oleh Ku See hong hingga tak karuan lagi bentuknya.
Ku See hong kembali menggetarkan pedangnya, cahaya senjata
berputar lewat ketika ia me ngayunkan senjatanya berulang kali
diatas sang laba-laba tadi, menyusul tangan kirinya me lepaskan
sebuah pukulan dasyat, serentak serangan laba-laba itu sudah kena
tersapu bersih.
Dia tak berani berdia m terlalu la ma lagi disitu, dengan kecepatan
luar biasa tubuhnya segera melompat masuk ke dala m gua yang
sangat besar itu, namun ketika matanya me mandang seke liling
tempat itu seketika itu juga tubuhnya mundur beberapa langkah
dengan perasaan terkesiap.
Ternyata banyak batu cadas telah berguguran didala mi gua yang
lebarnya mencapai dua puluhan kaki itu, diantara bongkahan2 batu
karang itu penuh dengan sarang laba2 yang me mbentang kian
ke mari, dipusat tiap lingkaran sarang laba2 itu, tampaklah seekor
laba2 berkaki delapan yang berwarna hijau kerabu-abuan.
Yang lebih mengerikan lagi adalah diatas tanah diseke liling
permukaan gua itu diliputi oleh selapis gelombang merah yang
bergolak kian ke mari.
Ternyata yang dima ksudkan sebagai gelombang merah itu adalah
sekelompok se mut-semut berwarna merah yang a mat besar sekali.
330
Semut-se mut raksasa tersebut berkaki panjang dan berjuta-juta
ekor banyaknya, permukaan gua yang paling tidak dua puluh kaki
luasnya itu ha mpir dipenuhi oleh se mut-semut tadi.
Rupanya gerombolan se mut-se mut raksasa berwarna merah itu
bermunculan dari sebuah celah dinding batu yang merekah dan
berhamburan ke luar.
Ku See hong terkesiap sekali, ia tahu kelompok se mut merah
bertubuh raksasa ini pasti mengandung racun yang sangat jahat,
seandainya sampai tergigit, tak ayal lagi nyawanya pasti akan
me layang meninggalkan raga kasarnya.
Apalagi setelah pemuda itu me lihat je las keadaan disekitar sana,
dia se makin mengeluh lagi, ternyata sedemikian banyaknya se mut2
merah itu berha mburan ke luar dari sarangnya, me mbuat seluruh
permukaan maupun dinding batu yang ada disitu dipenuhi oleh
binattng itu, bahkan mulut gua didepan sanapun dilapisi jutaan
semut merah.
Hakekatnya mustahil lagi baginya untuk me langkah keluar dari
tempat itu.
Seandainya disana hanya ada semut-semut merah saja, dengan
menganda lkan ilmu meringankan tubuhnya, paling banter dia hanya
perlu berganti napas sekali saja untuk mencapai mulut gua.
Tapi kenyataannya tidak segampang itu, ha mpir se luruh celah
dan tempat kosong dala m gua dipenuhi oleh sarang laba-laba yang
kuat, untuk bisa me lompat keluar dari situ, paling tida k dia harus
menghancurkan e mpat lapis sarang laba-laba terlebih dahulu,
padahal apabila badannya sampa i terperosok kedala m rombongan
semut merah raksasa itu, niscaya habis sudah jiwanya.
Ku See hong menjadi sangat gelisah, ia betul betul kehilangan
akal dala m keadaan begitu, padahal semut merah masih
berhamburan keluar dari sarangnya dan kini mulai mera mbat ke
arah mana ia berdiri sekarang.
Mendadak....

331
Ku See hong menga mbil sarung pedangnya ditangan kiri,
ke mudian tubuhnya meluncur ke depan, serentetan cahaya
gemerlapan yang menyilaukan mata secepat kilat menerjang ke
arah sarang laba-laba pertama.
"Sreeet... Sreeet....!" desingan tajam me mbelah angkasa, sarang
laba-laba yang pertama telah tersayat menjadi beberapa bagian.
Sementara itu tubuh Ku See hong telah meluncur ke bawah
tanah, dalam keadaan begini sarung pedang ditangan kirinya
secepat kilat menutul diatas permukaan tanah, badannya segera
me la mbung ke mbali dan meluncur ke arah sarang laba-laba kedua.
Perbuatan yang dilakukan tadi segera diulangi ke mba li, dan
menghancurkan sarang laba-laba tersebut dengan pedang mustika
Hu-thian seng-kia m yang berada ditangan kanannya.
Hanya didalam wa ktu singkat, secara beruntun Ku See hong
telah berhasil menghancurkan lapisan sarang laba-laba, kini sarung
pedangnya sekali lagi menutul diatas permukaan tanah dan
tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya
me luncur keluar dari gua.
Tiba-tiba Ku See hong menyadari akan sesuatu pikirnya: 'Aduuuh
celaka..! Gua ini berjarak lebih kurang tujuh puluhan kaki dari
permukaan tanah, jika aku meluncur dengan begini saja kebawah,
walaupun sudah mengerahkan segenap rawa murni yang kumiliki,
kendatipun tak sa mpai mat i paling tidak juga akan terluka parah.'
Ingatan tersebut baru saja melintas lewat, tubuhnya telah
me luncur sejauh lima ka ki lebih dari mulut gua, ke mudian dengan
cepat badannya merosot turun kebawah.
Dengan sepasang mata terpentang lebar, dia mengawasi sekejap
sekeliling tempat itu na mun t iada tempat yang bisa dipaka i untuk
berganti napas, padahal badannya telah me luncur kebawah dengan
kecepatan bagaikan sa mbaran petir.......
Waktu itu senja telah menjelang tiba matahari sore sedang
me mancarkan cahaya ke e mpat penjuru...

332
Mendadak Ku See hong teringat ke mba li dengan taktik
me la mbung didala m ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, dengan
cepat ia menghimpun tenaga dalamnya, lalu seperti segumpal kapas
lunak pelan pe lan badannya melayang turun ke bawah.
Ku See hong segera me mbentangkan sepasang lengannya, kedua
ujung kakinya saling berpijak pada punggung kaki, tubuhnya
bagaikan segumpa l kapas me layang turun dengan ringan.
Angin berhembus kencang mengibarkan bajunya, di bawah
timpaan cahaya matahari sore yang menyoroti badannya, gerakan
tubuh tersebut nampa k indah menawan.
Hanya didala m sekejap mata saja Ku See hong telah berhasil
mencapai permukaan tanah dengan selamat. Dia mendongakkan
kepalanya dan menghe mbuskan napas panjang, guma mnya sambil
menghe la napas: "Tak kusangka ilmu meringankan tubuh yang
kumiliki telah mencapa i ke tingkatan yang begitu tinggi..."
Me mandang bukit karang yang menjulang tinggi keangkasa,
tanpa terasa ia menghela napas sedih, dalam benaknya terbayang
ke mbali akan si kakek yang seorang diri.
Dimasa hidupnya dulu dia sudah hidup menyendiri, sesudah mati
mayatnya akan tenggelam kedala m bumi, dala m dunia yang luas,
mungkin hanya dia seorang yang me mpunyai nasib seburuk itu.
Sementara itu, dari atas puncak batu karang itu seakan akan
bergoncang keras dan tiap saat bakal ambruk ketanah. Sedangkan
dari permukaan sekeliling batu karang itu telah muncl retakan-
retakan besar yang dalam sekali.
"Aaaai....!" sekali lagi Ku See hong menghela napas sedih,
benaknya terkenang kembali semua pengala man yang diala minya
selama dua bulan terakhir ini.
Semua kejadian serasa bagaikan impian, terutama diantaranya
pengalaman yang menimpa Bun-ji koan-su, Keng Cin sin dan Kake k
Yang Menyendiri tadi. Ketiga orang itu merupakan orang yang tak

333
akan terlupakan sepanjang hidupnya, tapi ketiga-tiganya sudah
tiada lagi didunia ini....
Teringat diri Keng Cin sin, air matanya jatuh bercucuran bagaikan
hujan gerimis, ia merasa sedih se kali.
Selama hidup belum pernah dia alami kesedihan seperti ini, ia tak
pernah bersikap le mah dengan mengucurkan air mata, hanya
kepadanya Keng Cin sin, bayangan gadis itu serasa melekat selalu
didala m bena knya.
Selama berke lana dalam dunia persilatan dimasa lalu, walaupun
banyak kesulitan telah diala minya, namun dia me lewati sambil
menggertak gigi, tapi sekarang tidak, tepatnya belakangan ini. Dia
baru mengerti kalau kehidupan manusia itu sebenarnya tidak
gampang, bagaimana pun juga didunia ini banyak terdapat
persoalan yang bisa menghancur lumatkan perasaan orang.
Tapi, justru karena pelbagai penga la man dan penderitaan yang
diala mi inilah dia menjadi lebih matang, bahkan jauh lebih
pengalaman dari pada orang yang berusia setengah umur.
Dala m suasana dan keadaan seperti ini, ia sudah me mikirkan lagi
ucapan yang selalu merupakan kebanggaannya, yakni 'Enghiong
hanya melelehkan darah tidak melelehkan air mata!'....Dia
me mbiarkan a ir matanya jatih bercucuran dengan derasnya.
Ia mendongakkan kepalanya me mandang langit yang gelap,
hanya bintang yang bertaburan tiada re mbulan.
Dengan penuh kesedihan Ku See hong berpekik nyaring lalu
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke arah
barat. Dia ingin mencari puncak bukit lain pada jarak satu Li dari
sana dan melatih ketiga jurus pedang yang tercantum pada dalam
kitab kecil peninggalan Kakek Menyendiri itu, disamping ia ingin
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bukit karang yang
menjulang t inggi keangkasa itu longsor dan a mbruk.
Ditengah gelapnya mala m, kee mpat penjuru hanya penuh
dengan pepohonan serta batu karang, angin menghe mbus kencang,

334
bayangan hitam bergerak gerik seolah-olah kawanan iblis yang
menanti mangsanya menghantarkan ke matian....
Semenjak minum cairan darah Naga Bumi, tenaga dala m yang
dimiliki Ku See hong telah mencapai ke majuan yang pesat sekali.
Oleh karena gabungan dari beberapa macam sari mustika yang
bercampur didala m tubuhnya, hawa murni yang dimilikinya
sekarang dapat beredar tiada habisnya, kekuatan yang sangat kuat
itu bagaikan gulungan omba k ditengah samudra yang menggulung
tiada habisnya.
Tubuhnya bergerak begitu enteng bagaikan segumpal kapas
yang tak berbobot, setiapkali lompatan tubuhnya mencapa i sejauh
sepuluh ka ki lebih dari posisi se mula, tak ubahnya bagaikan burung
walet yang sedang terbang di angkasa.
Kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya
sekarang boleh dibilang telah mencapa i pada puncaknya, mungkin
dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tiada banyak orang lagi
yang dapat menandingi kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.
Dibawah sorot cahaya bintang, seperti sambaran petir saja
badannya bergerak kemuka, makin la ma gerakan tubuhnya semakin
cepat, seakan akan kakinya tidak mene mpel pada permukaan tanah,
me mbuat orang hanya melihat sekilas cahaya berkelebat lewat, tahu
tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Dala m waktu singkat, Ku See hong telah tiba diatas sebuah
puncak bukit sejauh satu Li dari te mpat semula dan berdiri di
puncak bukit karang tersebut. Sekeliling tempat itu ta mpa k
pepohonan yang rindang tumbuh dengan a mat suburnya, dengan
amat jelas sekali ia dapat menyaksikan keadaan dari bukit
diseberang itu.
Betul Ku See hong telah ma kan cairan Tee liong hiat-poo
sehingga kekuatannya bertambah, namun setelah beberapa mala m
tak pernah beristirahat, begitu suasana menjadi tenang rasa le lah
segera menyerang seluruh tubuhnya.

335
Maka diapun duduk bersila diatas tanah untuk mengatur napas,
tak selang berapa saat kemudian ia sudah berada dala m keadaan
lupa segala ga lanya.
Tatkala sadar ke mbali dari se medinya, fajar telah menyingsing,
hari ini goncangan yang menimpa bukit seberang bergema se makin
keras, bahkan puncak bukit dimana ia berada sekarangpun turut
dilanda goncangan yang a mat keras.
Dari dala m sakunya Ku See hong mengeluarkan kitab kecil
peninggalan Kakek Yang Menyendiri itu, lalu mulai me mpelajari
ketiga jurus ilmu pedang tersebut.
Walaupun tulisan yang tercantum dala m kitab itu telah dipelajari
dan dikupas dengan penuh ketelitian, bahkan diterangkan pula oleh
gambar, tapi berhubung jurus pedang itu terlalu dala m artinya,
lagipula sangat lihay, ia belum berhasil juga untuk me maha mi
makna yang sesunggunnya.
Setelah mela lui pe mikiran yang seksa ma sela ma dua hari dua
ma la m, akhirnya Ku See hong berhasil me mahami garis besar dari
Jurus pertama.
Kejut dan heran segera menyelimut i seluruh perasaannya,
ternyata jurus pedang ini dengan jurus Hoo-han seng-huan yang
diwariskan Bun ji koan su kepadanya, seakan-akan me miliki
kekuatan dan kehebatan yang hampir sejalan, namun kedua maca m
kepandaian itu tak bisa digunakan secara bersa maan, me lainkan
hanya bisa digunakan secara terpisah pisah..., kalau tidak, kekuatan
yang dihasilkan pasti akan beberapa ka li lipat lebih dahsyat lagi..!
Pada dasarnya, Ku See hong memang seorang yang gila ilmu
silat, begitu mene mukan rahasia dari kepandaian tersebut, ia
menjadi girang setengah mati. Sepanjang hari, segenap pikiran dan
perhatiannya tercurahkan pada ketiga jurus pedang itu.
Hanya saja selama ini dia tidak me mpraktekan secara langsung,
me lainkan hanya me mikirkannya didala m benak nya.

336
Ada kalanya dia garuk kepala sambil me mandang awan
diangkasa dengan wajah termangu, tapi saperti juga orang yang
semedi, tiap kali ia termangu ma ka hal ini berlangsung sa mpa i
setengah harian la manya.
Akan tetapi setiap kali berhasil me mecahkan persoalan pelik yang
sedang dihadapinya, ia menjadi kegirangan setengah mati sehingga
lupa daratan. Pekikan nyaring dikuma ndangkan berulang ka li,
seakan-akan orang yang lagi tertawa tergelak.
Setelah menghabiskan waktu sela ma lima hari lima mala m, Ku
See hong baru berhasil mengingat sebagian kecil saja dari gerakan
ketiga jurus ilmu pedang itu.
Pagi itu merupakan hari ke tujuh setelah Ku See hong minum
cairan mestika Tee liong hiat poo. Hari ini cuaca tampak agak luar
biasa, fajar belum lagi menyingsing diufuk sebelah timur, langit
sudah diliputi oleh cahaya terang, awan diangkasa tidak lagi
berwarna putih seperti sedia kala, me lainkan berwarna kuning
keemas-e masan.
Suasana dipagi hari itu ibaratnya suasana senja dikala matahari
hendak tenggela m dilangit barat, sedemikian sura mnya suasana
ketika itu, sehingga orang yang tak tahu keadaan, tentu akan
mergira senja telah menje lang tiba.
Gemuruh keras yang se mula berkumandang dari bukit sebelah,
kini berubah menjadi hening sepi..., sedemikian sepinya sehingga
mendatangkan suasana yang menyeramkan, tiada angin yang
berhembus lewat, pohon dan dedaunan tiada yang tergoncang,
seakan-akan dunia sudah kia mat.
Seluruh jagad seakan akan diliputi oleb keseraman, kengerian
dan ke murungan.......
Ku See hong berdiri tegak dipuncak bukit itu sa mbil me mandang
kearah tebing karang yang menjulang keangkasa diseberang sana.
Bukit ini na mpak berdiri kokoh dengan angkernya, siapapun tak-
akan percaya kalau bukit yang begitu kokoh akan longsor dan
tenggelam kedala m bumi.
337
Mendadak.....
Peristiwa yang mengerikan telah mulai berlangsung, tanah mulai
retak retak, gempa dahsyat menggoncangkan seluruh permukaan
bumi....
"Blaaa mmm......blaaammm.....blaaamm!" leda kan demi ledakan
dahsyat menggema dari puncak bukit karang itu, demkian kerasnya
suara ledakan tersebut serasa me mekikkan telinga, dan lagi ledakan
demi ledakan mengge legar tiada putusnya.
Menyusul ledakan keras itu, bumi bergoncang keras dan batu
serta tanah pun mulai berguguran.
Ku See houg dapat menyaksikan timbulnya retakan retakan besar
diatas dinding karang yang tegak lurus dan menjulang tinggi ke
angkasa itu......
"Blaaa mmm...! Blaaammm...! Ggrrrr........"
Suatu kekuatan getaran gempa yang maha dasyat melanda tiba.
Ku See hong segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling,
kakinya tak ma mpu berdiri tegak lagi sehingga tak a mpun tubuhnya
segera roboh terjengkang ke atas tanah, akan tetapi dengan cepat
dia melompat bangun lagi.
"Kraaai....! Kraaakk..........!"
Retakan demi retakan me mbe lah seluruh permukaan bukit itu,
dengan jelas Ku See hong dapat melihat pepohonan bertumbangan,
lalu diatas permukaan bikit yang se mula menghijau itu muncul
beribu ribu buah retakan yang merekah.
"Blaaa mm.....! Blaaamm......! Blaamn...,
Kraak..... pleetakk....!" Pelbagai bunyi keras menggelegar sa ling
menyusul, bumi bergoncang se makin keras, dunia serasa berputar
kencang. Ku See hong dengan mengandalkan kekuatan tubuhnya
yang tinggi segera me mpertahankan diri sekuat tenaga untuk
me lawan getaran de mi getaran yang menghebat itu.

338
Diantara getaran demi getaran serta ledakan de mi leda kan yang
me me kikan telinga inilah, puncak bukit yang menjulang t inggi
keangkasa itu mendadak retak dan berguguran kebawah, ketika
menyentuh bumi segera bergema suara ledakan yang tak
terlukiskan dengan kata kata, pasir dan batu segera bertebangan
ke mana mana.
Dinding bukit yang tegak lurus turut merekah menjadi dua
bagian, kemudian diiringi ge muruh yang a mat nyaring, mula i
berguguran keatas tanah, seluruh bukit pun mulai a mblas kedala m
tanah diikuti beterbangannya pasir dan batu sehingga langit serasa
berubah menjadi gelap gulita.
"Aaaai.... daratan telah tenggelam kedala m perut bumi........!"
pekik Ku See hong dengan perasaan terkejut.
Rupanya sekitar satu Li disekeliling bukit karang itu mendadak
merekah dan muncul sebuah lingkaran yang besar sekali, ke mudian
seluruh permukaan dise kitar lingkaran tadi a mblas ke dala m bumi.
Seketika itu juga, angin puyuh menderu-deru, segulung desingan
angin, yang sangat kuat menyapu seluruh jagad.
Paras muka Ku See hong berubah hebat, cepat-cepat ia
mende ka m atas tanah untuk me lindungi diri.
Ledakan de mi leda kan masih berkumandang silih beganti,
gemuruh yang me mekikkan telinga mengge ma diseluruh angkasa.
Semua perpohonan yang tumbuh diatas bukit dimana Ku See
hong berdiri sekarang turut bertumbangan diatas tanah dan
berguguran kedala m jurang.
Bukit dan seluruh permukaannya makin bergoncang sema kin
keras, mengikut i getaran itu, pelan pelan permukaan tanah
tenggelam ke dasar bumi diiringi desingan angin puyuh yang luar
biasa dahsyatnya.
Ku See hong mende ka m rapat rapat diatas bumi,peluh dingin
telah me mbasahi seluruh jidntnya. Dia tahu walaupun bukit dimana
ia berada sekarang tidak turut tenggelam, namun tekanan udara

339
disekeliling bukit itu sangat kuat dan berat sehingga me mbuat
napas menjadi sesak dan peredaran darah didalam tubuhnya
menge mbang kencang, sungguh merupa kan suatu penderitaan
yang menyiksa badan.
Tiba-tiba.... Ku See hong menghimpun segenap tenaga dalam
yang dimilikinya ke seluruh badan, lalu seenteng kapas dia
me la mbung keudara mengikuti gulungan angin puyuh yang sedang
menderu2 itu dan me leset ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Dengan suatu gerakan yang sangat indah, dia meloloskan diri dari
pusingan angin puyuh yang menenggela mkan daratan itu.
Dengan tenggela mnya bukit karang itu keda la m perut bumi,
maka se mua tumbuhan maupun kehidupan yang berada satu Li
diseputar tempat itu turut terkubur pula kedasar tanah, dala m
waktu singkat bekas tanah dimana bukit itu berdiri tadi berubah
menjadi sebuah telaga lumpur yang a mat besar.
Lumpur dida la m telaga itu mendidih seperti bubur, udara panas
yang menyengat me mbuat asap putih me mbumbung t inggi
keangkasa. Peristiwa ini benar-benar sangat mengerikan sekali
seakan-akan dunia baru saja tercipta.
Matahari telah tenggela m ke langit barat, remang re mangnya
udara senja telah menyelimuli seluruh jagad. Semua tumbuhan dua
li di seputar telaga berlumpur me ndidih itu telah layu dan mati,
suatu pemandangan yang tragis.....
Terhembus angin ma la m yang dingin, udara makin la ma ma kin
gelap, suasana pun makin la ma se makin sura m....
Pemuda yang baru saja menga la mi suatu pe mandangan
menyeramkan dan lolos dari ke matian itu menghela napas pedih,
pelan-pelan dia beranjak dan meninggalkan tempat yang suram dan
mengerikan itu, lenyap diba lik kegelapan nun jauh didepan sana....
Kini yang tertinggal hanyalah sebuah telaga yang luas dengan
lumpur yang mendidih...... Yaa, kecuali itu hanya batu-batu cadas
serta tanah yang gersang, tiada tumbuhan, tiada kehidupan.....

340
Tempat disitu seakan-akan sudah mati, seakan-akan sudah
kia mat dan t iada kehidupan lagi........
Angin ma la m berhembus lewat, langit semakin gelap...... suasana
terasa makin mengenaskan.
00000OdwO00000

Bab 16
PERMULAAN musim salju yang dingin, mengikuti bergugurannya
daun dan bebungaan telah menje lang tiba dala m kehidupan
manusia tanpa menimbulkan suara........
Matahari dipermulaan musim begini sama seka li tidak menyengat
tubuh, malah sebaliknya mendatangkan perasaan hangat dan
nyaman bagi umat manusia......
Disebuah jalan raya di Gi-keh-wan yang merupakan jalan penting
menuju ke kota Tiang-sah, tampak seorang pe muda berpedang
antik sedang mela kukan perjalanan ditengah sorot matahari yang
hangat.....
Sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang
menggidikkan, me mandang pepohonan yang gundul disepanjang
jalan, terlintas perasaan murung dan sedih diatas wajahnya.
"Aaaaii...!" tiba-tiba ia menghe la napas panjang.
Apa arti dari helaan napas itu?
Apakah mela mbangkan kesepian dan sebatang kara?
Mendadak..... Sepasang alis matanya berkenyit, mukanya
menjadi dingin ka ku dan keketusan serta keteguhan hati
tersungging diujung bibirnya, hal mara me mbuat kegagahan serta
kangkuhan sema kin me mancar diwajahnya.
Dia.... tak lain adalah Ku See hong!

341
Gi-keh-wan merupa kan kota terakhir sebelum tiba dikota Tiang-
sah. Kebanyakan saudagar dan pelancong yang tidak berhasil
mencapai kota Tiang sah, sebagian besar akan menginap disini.
Itulah sebabnya, kota ini jauh berbeda dengan kora kota yang lain.
Tampak bangunan berloteng berdiri sepanjang jalan kota, bukan
saja ramai penduduknya, perdagangan ditempat itupun amat
makmur.
Waktu itu adalah menjelang tengah hari,itulah saatnya orang
bersantap siang. Hampir se mua rumah ma kan penuh dengan tamu.
Pelan pelan Ku See hong berjalan kedepan sebuah rumah makan
yang agak sepi. Ia mendongakkan kepalanya keatas, tampak
olehnya rumah makan itu me makai merek "Cui-Sian cui-loo".
Sementara itu dua orang pe layan telah menyongsong
kedatangannya, sambil me mbungkukkan badan dan tertawa
katanya:
"Tuan silahkan masuk! Dirumah ma kan ka mi tersedia arak paling
baik serta sayur kenamaan dari selatan maupun utara. pelayan baik,
servis me muaskan, tanggung tuan akan merasa puas........"
Ku See hong mendengus dingin, pelan-pelan dia naik keatas
loteng. Rumah makan Ciu-sian ciu-loo merupakan rumah ma kan
yang masuk hitungan dala m kota Gi-keh-wan, tempat duduknya
luas dan bisa mencapai dua tiga ratus orang,apa lagi sekarang
adalah tengah hari, pelbagai maca m manusia berkumpul disana
me mbuat suasana yang ra mai.
Ku See hong segera me milih sebuah tempat duduk yang dekat
dengan jendela....
Pelayan menyodorkan daftar makanan, Ku See hong minta sekati
arak Cong goan-ciu dan beberapa maca m sayur, lalu dahar dengan
kepala tertunduk.
Waktu itu perasaannya sedang gundah dan sedih, hal ini
me mbuat pe muda yang dasarnya me mang angkuh se makin segan
untuk me mperhatikan ta mu-ta mu disekitarnya. Padahal, suasana

342
didala m rumah makan Cui-sian ciu-loo pada hari ini sedikit berbeda
dengan keadaan dihari-hari biasa.
Dilihat dari senjata tajam yang mereka bawa, serta sorot mata
mereka yang tajam, setiap orang dapat segera mengetahui kalau
mereka merupakan jago jago silat yang berilmu t inggi.
Sebenarnya para tamu yang berada diatas loteng itu sedang
berbincang-bincang dengan suara yang ra mai, akan tetapi,
semenjak me nyasikan ke munculan Ku See hong, seketika itu juga
suasana berubah menjadi hening. Beratus pasang mata serentak
dialihkan ke wajahnya dengan perasaan kaget dan tercengang.
Mungkin mereka telah dibuat terpesona oleh sikap Ku See hong
yang angkuh, gagah dan luar biasa itu.
Dihadapan Ku See hong duduk dua orang manusia yang aneh,
mereka sa ma seka li t idak terpengaruh oleh keangkuhan diri Ku See
hong. Setelah melirik sekejap dengan sinar mata sinis, mereka
lanjutkan ke mbali pe mbicaraannya.
Seorang diantara mereka berdua adalah seorang lelaki
bercambang yang me maka i baju biru sepatu rumput dan berdandan
sebagai seorang penebang kayu, tubuhnya tinggi besar dan
mengerikan sekali, mukanya hita m pekat bagaikan pantat kuali.
Duduk disitu, perawakannya persis seperti sebuah pagoda kecil.
Sedangkan orang yang lain ada lah seorang lela ki setengah umur
yang berwajah putih dan berdandankan seorang peramal, tubuhnya
kecil dan pendek hingga merupakan kebalikan dari rekannya namun
wajahnya menampilkan kecedasan serta kema mpuan yang luar
biasa.
Sekilas pandangan saja, siapa pun akan tahu kalau dua orang
manusia itu adalah jago-jago persilatan yang sudah lama
berkecimpungan didala m dunia persilatan, sehingga pengalamannya
luas sekali.
Terdengar lelaki tinggi besar yang berdandan sebagai penebang
kayu itu sedang berkata dengan suaranya yang serak, bagaikan

343
gembrengan bobrok: "Saudara In...!, Barusan kau bilang dala m
dunia persilatan akan mengala mi lagi suatu badai pe mbunuhan,
sebenarnya apa maksudmu?"
Peramal berbaju putih itu mengangkat cawan araknya dan
meneguk setegukan, lalu sahutnya: "Lui lote..., dengan watakmu
yang berangasan serta pengalamanmu berkelana dala m dunia
persilatan selama banyak tahun, masa tidak kau ketahui akan
beberapa macam persoalan penting yang telah terjadi dalam dunia
persilatan belakangan ini? Kalau cuma itu saja tidak tahu, sia-sia
saja kau disebut Sin-hong hwe-ciau (Pene mbang Kayu Api Berangin
Sakti)...!"
Lelaki yang disebut si Penebang kayu Api itu segera meraung
gusar, teriaknya lantang: "In heng, siapa .yang tak tahu kalau kau
disebut orang sebagai Biau-ki-siangsu (Perama l Sakti Berotak
Pintar), sudah sepantasnya, kalau pengetahuanmu lebih luas
daripada pengetahuanku, apa yang perlu dibanggakan? Sudanlah,
tak usah jual mahal, cepat katakan!"
Begitu dua orang ma nusia aneh itu 'me laporkan' na manya,
kontan se mua ta mu yang berada disekeliling te mpat itu merasakan
hatinya bergetar keras, siapapun tak ada yang menyangka kalau
dua orang manusia aneh itu tak lain adalah La m-ciau Pak-s iang...!
(Penebang Kayu dari Selatan, Peramal dari Utara) yang amat
termashur itu.
Yang dimaksudkan sebagai Lam-ciau (Penebang Kayu dari
Selatan) dan Pak-siang (si Pera mal dari utara) tak lain adalah Siu-
hong hui-ciau (Penebang kayu Api) Lui-Ki serta Biau-ki siang-s u
(Peramal Sakti Berotak Cerdas) In-Han-im.
Kedua orang ini, yang satu hidup di selatan, yang lain hidup di
utara. Dalam satu pertarungan sengit yang mereka la kukan sela ma
satu hari satu mala m dan berakhir dengan keadaan seri..., dari
lawan mereka jadi te man dan terikatlah suatu persahabatan yang
sangat akrab.

344
Cara kerja mereka amat setia kawan, namun terhadap kaum
sesat, merekapun turun tangan amat keji. Sede mikian anehnya
watak kedua orang itu, sehingga boleh dibilang sa ma seka li tak
punya hubungan dengan umat persilatan......
Biau-ki siang-su, In Han-im, me mandang se kejap adik angkatnya
yang sedang amat gelisah itu, kemudian tertawa terbahak-bahak,
katanya pelan: "Lui lote, kalau dilihat dari kegelisahanmu itu,
tampaknya kaupun takut kalau sampai beberapa peristiwa itu
me libatkan pula dirimu?"
"Saudara In, jangan terlalu menghina ke ma mpuan sendiri!",
teriak Sin hong hwee-ciau Lui-Ki dengan lantang; "Sudah dua
puluhan tahun lebih Sin-hong hwee-ciau malang melintang dala m
dunia persilatan, bukit golok, kuali minyak telah kujelajahi se mua,
masa aku bisa kuatir terlibat? Hmm....siaute tak lain hanya ingin
mengetahui persoalan apa saja sehingga dapat menimbulkan
kegoncangan hebat dida la m dunia persilatan ?"
Tanpa terasa semua tamu yang berada dalam ruangan rumah
makan itu sama-sa ma me masang telinga dan mendengarkan
dengan seksama, mereka ingin tahu perist iwa apakah yang henda k
diucapkan oleh Biau-ki siang-su tersebut.
-oo0dw0oo-

Jilid: 11
KU SEE HONG sendiri, walaupun menunjukkan sikap yang acuh,
seakan-akan dunia mau kia matpun dia tak ambil perduli,
sesungguhnya dengan sepasang mata yang tajam, dia telah awasi
setiap tamu yang berada diruangan itu. Menyaksikan perhatian
orang yang begitu serius, dia m-dia m diapun turut merasa terkesiap.
Telinganya yang tajam telah menangkap jelas semua
pembicaraan dari La m-ciau serta Pak-siang, dia pun ingin tahu
peristiwa apakah yang telah menimbulkan kegugupan bagi umat
persilatan.

345
Tampak Biau-ki siang-su In Han im menarik muka, lalu berkata
dengan serius:
"Lui lote…, persoalan ini bukan hanya satu saja, bahkan setiap
peristiwa merupakan kejadian yang cukup menggetarkan hati
orang..!"
Setelah berhenti sebentar untuk menarik napas panjang, ia
me lanjutkan lebih jauh,
"Peristiwa aneh yang PERTAMA adalah: Tentang suara nyanyian
aneh yang diketahui setiap orang semenjak tiga belas tahun
berselang itu......."
"Sebenarnya setiap umat persilatan menaruh curiga kalau
nyanyian itu merupakan nyanyian dari Bun-ji koan-su, si `manusia
sakti dari dunia persilatan`, untuk me mbalas denda m atas
dikurubutinya dia dipuncak Toa-soat-san pada dua puluh tahun
berselang!.., Dia dengan menggunakan nyanyian itu untuk
me mancing kaum laknat tersebut masuk ke dala m perangkapnya
dan me mbunuh mereka satu persatu.!"
"Siapa tahu dugaan umat persilatan sela ma ini ternyata tidak
benar! . . . ,karena nyanyian aneh itu bukan dibawakan oleh Bun-ji-
koan-su, me lainkan oleh seorang pe muda yang tida k
dikenal.............!"
Baik La m-ciau maupun Pak-siang adalah manusia manusia yang
luar biasa, ternyata pandangan serta penilaian mereka terhadap
para Bu-lim cianpwee pun lain daripada yang lain. Tidak seperti
orang lainnya, mereka tidak ingin pandangan tersebut terpengaruh
oleh kesan-kesan sa mpingan lainnya....
Sebagaimana diketahui, Bun-ji-koan-su dianggap oleh umat
persilatan sebagai seorang gembong iblis yang a mat keji, tapi
sekarang Biau-ki-siang-su telah menyebutnya sebagai seorang
`Manusia Sakti`, sedangkan terhadap para jago yang mengajar
Bun-ji-koan-su dianggapnya `kawanan laknat`!.., penilaian yang
amat berani ini segera menimbulkan rasa kaget dan tercekat oleh
semua jago persilatan yang hadir disitu.
346
Ku See-hong merasa terharu sekali, dia sama sekali tidak
menyangka kalau didala m dunia persilatan masih terdapat dua
orang manusia gagah seperti La m-ciau dan Pak-s iang yang berani
menge mukakan pandangan yang jujur dan adil terhadap gurunya .
Sementara itu, terdengar Sin-hong-hwee ciau Lui-Ki menyela:
"Saudara In, siapakah pemuda itu? Menurut perkataanmu itu
belum tentu pandangan umat persilatan terhadap persoalan ini
salah, siapa tahu kalau pemuda ini adalah murid atau ahli waris dari
Bun-ji koan-su?
Ku See hong yang mendengar perkataan itu dia m-dia m merasa
terperanjat, ia tak menyangka ka lau Sin hong hwee ciau yang
tampaknya kasar dan berangasan ini, sesungguhnya terhitung pula
seorang manusia yang cermat dan luar biasa, hal ini menunjukkan
kalau na ma besar mereka bukanlah na ma kosong belaka.
Biau-ki siang-su In Han im meneguk secawan arak, la lu berkata:
"AKu kurang begitu je las tentang nama dan julukan pe muda itu,
tapi menurut dugaanku, dia me mang ahli waris dari Bun-ji koan-
su.!"
Sin hong hwee ciau Lui-Ki menghela napas panjang.
"Aaaai...... kalau me mang begitu, . . . teka-teki sekitar hilangnya
sekawanan jago persilatan pada delapan belas tahun berselang bisa
kita selidiki lewat muridnya Bun-ji koan-su ini?"
"Lui lote, jangan kau anggap semua persoalan bisa diselesaikan
dengan ga mpang."
kata Biau ki siang-su menggeleng, "Kawanan jago yang hilang
lenyap itu sa ma sekali TIADA hubungannya dengan Bun-ji koan-su,
tapi dia pasti tahu hasil perbuatan siapakah itu..!"
Sin hong hwee ciau Lui-Ki se makin terkejut berca mpur
keheranan, katanya satelah termenung sebentar:
"Saudara In, perkataanmu makin la ma se ma kin tidak kupahami,
betul-betul me mbuat bingung hati orang saja."

347
Sikap Biau ki siangsu In Han im berubah makin misterius lagi,
katanya lebih jauh:
"Sesungguhnya peristiwa lenyapnya kawanan jago pada de lapan
belas tahun berselang adalah suatu rencana keji untuk
menghilangkan saksi-saksi yang amat licik . . . ., adapun orang yang
me lakukan perbuatan terkutuk ini tak lain adalah kawanan manusia
laknat yang berhati busuk...!"
Baru saja berbicara sa mpai disitu, mendadak dari sudut rumah
makan itu meluncur datang beberapa rentetan cahaya tajam yang
disertai dengan desingan angin taja m, secepat sambaran kilat
beberapa titik cahaya itu me nyambar keatas jalan darah penting di
punggung Biau-ki siang-su.
Serangan senjata rahasia yang dilancarkan itu amat mendesak
sifatnya, lagi pula me miliki kecepatan yang luar basa. Dala m wa ktu
singkat senjata rahasia tadi sudah berada tiga depa didepan Biau-ki
siangsu, tampaknya Peramal dari utara ini segera akan kena
terserang.....
Disaat yang kritis itulah, Biau-ki siang-su merasakan datangnya
segulung angin yang sangat aneh me mbuat beberapa titik cahaya
tajam itu berputar di angkasa dan . . . . , "Sreeet..!" diiringi
desingan angin tajam telah me luncur balik ke te mpat asalnya.
Dua kali dengusan tertahan berkumandang me mecahkan
keheningan, lalu dari sudut ruang loteng itu ta mpak ada sosok
tubuh roboh terkapar diatas tanah, diatas jalan darah mereka
masing masing tertancap tiga batang paku bersegi delapan, yang
me mancarkan cahaya tajam, darah kental bercucuran dari ketujuh
lubang inderanya, sedang jiwa mereka telah melayang
meninggalkan raganya.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini me mbuat semua
orang merasa amat terperanjat, bahkan semua orang mengira Biau-
ki siang-su lah yang telah melancarkan serangan balasan tersebut,
dia m-dia m mereka me muji setinggi langit atas kelihayan kungfu dari
Lam-ciau pa k-siang.

348
Sementara semua orang terpecah pikirannya, disudut meja
didepan Ku See hong telah me layang datang seorang pe muda
berbaju putih.
Diatas punggung pemuda itu tersoreng sebuah pedang perak
berbentuk ular, wajahnya terhitung a mat tampan, alis matanya
lenting dengan mata yang jeli, bibirnya tipis menbengkok kebawah,
gerak geriknya angkuh dan dingin.
Dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, Biau-ki siang-su In
Han im me mandang sekejap kearah pemuda tampan berbaju putih
itu.
Paras muka pe muda berbaju putih itu dingin seperti salju dan
sama sekali tanpa perasaan, dangan suara yang dingin merasuk
tulang katanya:
"Lanjutkan perkataanmu itu!"
Melihat keangkuhan dan keketusan sang pe muda berbaju putih
itu, timbul perasaan yang bercampur aduk dala m hati Biau-ki siang-
su serta Sin hong hwee ciau sehingga paras mukanya berubah
hebat.
Ku See hong memiliki ketajaman mata yang luar biasa, sewaktu
senjata rahasia menyerang ketubuh Bu khi siang-su tadi, dia sudah
mengetahuinya dengan je las.
Tapi baru saja dia hendak turun tangan untuk me mbantu,
ternyata pemuda berbaju putih yang aneh itu sudah me ndahuluinya,
menyaksikan ke ma mpuannya untuk merontokkan senjata rahasia
tadi, dia merasa a mat terkesiap seka li.
Betul dia juga seorang yang angkuh, namun setelah menyaksikan
kepongahan pe muda berbaju putih itu timbul juga perasaan tak
sedap dalam hatinya, tanpa terasa dengan sorot mata yang tajam
dia melirik sekejap kearah pe muda berbaju putih itu.
Kebetulan sekali, pemuda barbaju putih itu pun sedang
me mperhatikan Ku See hong dengan sorot matanya yang tajam

349
menggidikkan begitu sepasang mata mereka saling berte mu, kedua
belah piha k sa ma-sa ma mendengus dingin dengan nada sinis.
Sekalipun demikian, diam-dia m mereka merasa terkesiap juga
oleh keketusan dan sikap dingin lawannya, tanpa terasa mereka
lantas berpikir.
'Tak nyana kalau dikolong langit masih terdapat manusia yang
begini angkuh dan dingin seperti aku, tapi siapakah dia.....? Yaa,
siapakan orang ini....?'
Kejadian aneh itu hanya berlangsung dala m waktu singkat,
menanti se mua jago yang berada dala m ruangan itu mendengar
dua kali dengusan dingin dan mengalihkan sorot matanya ke wajah
Ku See hong serta pemuda berbaju putih itu, kedua orang pe muda
itu, sudah termenung dengan pikirannya sendiri-sendiri, seakan
akan mereka tida k merasakan pandangan terkejut dan keheranan
dari orang orang itu.
Tiba-tiba Sin hong hwee ciau Lui-ki berteriak dengan suara
lantang:
"Saudara In, bagaimana selanjutnya? Cepat lanjutkan!"
Biau Ki siang-su adalah orang yang cerdas, sekerangpun dia
sudah tahu kalau dua orang pemuda yang berada di hadapannya ini
masing-masing me miliki ilmu silat yang a mat lihay.
Sebagai perama l diapun dapat melihatkan kalau dua orang
pemuda ini masing-masing me mancarkan hawa kelurusan dan
kejujuran, sudah pasti bukan anggota kaum sesat..., hanya saja
mereka me miliki sikap angkuh dan dingin saja . . . . .
Mendadak satu ingatan melintasi dala m benak Biau ki siangsu In
Han im, pe kiknya ke mudian didala m hati:
‘Aaaah,... mungkinkah kedua orang ini..?’
Ketika Sin hong hwee ciau Lui-Ki menyaksikan paras muka Biau-
ki siang-su berubah-ubah tak menentu, dengan cemas kembali dia
berseru:

350
"Saudara In, siaute ingin cepat cepat mengetahui keadaan yang
sebenarnya, kenapa kau tidak berbicara?"
Biau-ki siang-su In Han im segera tersentak bangun dari
la munannya, diam-dia m pekiknya dala m hati:
'Sungguh me nyesal...’
Dasar me mang berotak cerdas, buru-buru katanya sambil
tertawa:
"Lui lote, kenapa kau musti ge lisah? Barusan aku sedang
me mikirkan satu persoalan, baru saja pikiranku kebingungan, kau
telah berteriak sehingga aku teringat kembali. Intrik keji yang
kubicarakan tadi me mang sesungguhnya benar-benar telah
terjadi...! Beberapa hari lagi sudah pasti se muanya akan terungkap,
pokoknya peristiwa itu menyangkut soal denda m kesumat didala m
dunia persilatan serta rencana busuk sekawanan manusia laknat
yang ingin menguasai seluruh dunia persilatan...!"
Ku See hong tahu kalau Biau-ki siang-su tidak mau
mengungkapkan duduknya persoalan pada saat ini, dia lantas
berpikir:
'Agaknya bila ingin mencari tahu masalah tentang guruku Bun-ji
koan-su serta musuh besar kedua orang tuaku, mungkin hanya dia
seorang yang tahu. Aku harus melindungi kesela matan jiwanya
secara diam-dia m....!'
'Tapi siapakah pe muda berbaju putih ini? Ka lau benar demikian,
sudah pasti dia adalah seorang musuh yang tangguh.'
Sementara itu Bian-ki siang-su In Han im, telah menyumpit sayur
dan disuap kedala m mulutnya, ke mudian melanjutkan:
"Peristiwa KEDUA adalah:
Peristiwa yang menyangkut sisa-sisa anggota setia dari Kim-to-
pang. Suatu perkumpulan paling besar dala m dunia persilatan telah
dibasmi orang! Ternyata Sin tong tongcu San tian han jiu (Cakar

351
Dingin Sa mbaran Kilat), Sangkoan-Ik, sekalian tiga e mpat ratus
orang telah dibantai orang secara keja m...!"
Ku See hong segera merasakan darah didala m tubuhnya
mendidih paras mukanya berubah hebat, tapi dia masih tetap
berusaha keras untuk me nahan diri agar wajahnya tida k berubah.
Sebaliknya pe muda berbaju putih itu masih tetap bersikap dingin
dan kaku, wajahnya sa ma sekali tanpa perubahan e mosi.
Sementara itu Biau-ki siang-su secara dia m-dia m me mperhatikan
pula paras muka kedua orang muda itu, ketika Ku See hong
terpengaruh oleh gejolak emosi, hal itupun diketahui olehnya
dengan jelas, dengan begitu, dia semakin je las mengetahui a kan
asal usul Ku See hong serta pe muda berbaju putih itu.
Terdengar Sin hong hwee ciau Lui-Ki berteriak dengan gusar:
"Saudara In, siapakah pe mbunuh keji itu...? Brutal amat
perbuatannya, siaute bersumh akan me mbalas denda m bagi korban
yang telah tewas secara mengerikan itu!"
Biau-ki siang-su In Han im segera tertawa terbahak-bahak.
"Huaahh..... haahh...... haaahh..... Lui lote, sudah ada orang
yang hendak memba laskan denda m bagi ke matian mereka, cuma
sayang dia hanya seorang diri, mungkin kekuatannya masih tidak
cukup, maka boleh saja bila kita hendak me mbantu usaha orang
itu..."
Setelah meneguk secawan arak, dia melanjutkan:
"Pe mbunuh keji itu tak lain adalah orang-orang istana Huan-mo-
kiong dari La m-hay yang sudah seratus tahun tak pernah
menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.!"
Setelah mendengar perkataan itu Ku See hong baru merasa
terperanjat, ternyata Biau-ki siang-su me mang bukan berna ma
kosong belaka! .....mungkinkah dia adalah seorang dewa? Kalau
tidak, kenapa dia bisa mengetahui se mua peristiwa ini dengan jelas

352
lagipula seperti tahu kalau dari Kim-to-pang sudah me mpunyai ahli
waris.
Biau-ki siang-su tertawa ringan, seakan2 dia hendak
menghilangkan kecurigaan da la m hati Ku See hong, katanya lagi:
"Perkumpulan Kim-to-pang sudah dibasmi orang pada dua puluh
tahun berselang, sisa anggotanya yang masih setia telah
mengasingkan diri ketempat terpencil dan tida k menca mpuri urusan
dunia persilatan lagi. Da la m anggapan mereka, sekeja m-keja mnya
para manusia laknat yang telah me mbasmi Kim-to-pang pada dua
puluhan tahun berselang, juga tak a kan me mbunuh mere ka lagi."
"Sebagaimana diketahui dala m suatu pertarungan yang
berlangsung pada seratus tahun berselang antara jago pedang
nomor wahid dari dunia persilatan, Hu-hay it-kia m melawan pe milik
Huan mo kiong di La m-hay dulu...., Hu-hay it-kiam telah berhasil
menangkan sebilah pedang (Huan-mo-kia m, dan orang2) Huan-mo-
kiong untuk tidak melakukan perjalanan lagi da la m dunia persilatan!
Konon pedang pendek itu ke mudian diwariskan kepada ketua Kim-
to-pang Ku siam cong . . . . ! Ketika perguruan Kim-to-pang dibasmi
orang, Ku Kia m cong telah me nyerahkan pula pedang Huan-mo-
kia m itu kepada San-tian han-jiau Sangkoan-Ik untuk
menyimpannya."
"Setelah banyak tahun hidup terasing dilaut selatan, belakangan
ini rupanya Han-thian it-kia m Cia Cu Kim, telah bera mbisi ke mbali
untuk merajai dunia persilatan. Dia telah mengumpulkan sa mpah-
sampah masyarakat dari dunia persilatan, untuk menunjangnya
guna mencapai apa yang dia harapkan.”
"Akan tetapi niat tersebut belum bisa diwujudkan berhubung
pedang Huan-mo-kia m masih berada ditangan umat persilatan
didaratan Tionggoan, karena menurut perjanjian dulu, barang siapa
yang me megang pedang tersebut, dia berhak untuk me mbunuh
setiap anggota istana Huan-mo kiong yang berani me masuki
daratan Tionggoa."

353
"Oleh karena itu, sebelum orang-orang Huan-mo kiong
me lakukan penyerbuan atas daratan Tionggoan, maka pekerjaan
pertama yang harus dila kukan lebih dulu ada lah merebut ke mbali
pedang Huan mo kiong tersebut.!"
"Nah, ditinjau dari sini, bukankah je las terbebaskan bahwa orang
yang telah me mbantai para anggota setia dari perkumpulan Kim-to-
pang itu tak lain adalah orang-orang Huan mo kiong?"
Setelah mendengar penjelasan tersebut Ku See hong merasa
kagum sekali atas kecerdasan serta kepandaian Biau-ki siang-s u
untuk me mecahkan persoalan itu.
Sambil tertawa Sin hong hwee ciau Lui-Ki berkata:
"Saudata In, kau memang hebat sekali, tapi... bukankah kau
pernah bilang kalau Kim-to-pang sudah me mpunyai keturunan . . . .
. ? Siapakah orang itu....?"
"Sebelum (la ma)berselang, dari Huan mo kiong di Lam-hay telah
tersiar keluar suatu kabar berita yang mengge mparkan. Konon ada
seorang pemuda yang gagah perkasa telah menyerbu ke dala m
Huan-mo-kiong seorang diri dan me mbunuh banyak sekali jago
lihay istana Huan mo kiong. Kemudian ia kena dibekuk oleh piha k
Huan mo kiong dengan siasat yang busuk..., tapi dia berhasil hidup
meski sudah menderita 'Lima Macam Siksaan' hebat, sehingga
akhirnya berhasil kabur dari Huan mo kiong.”
“Andaikata orang ini tidak me miliki denda m kesumat sedalam
lautan dengan orang-orang Huan mo kiong di La m-hay,.. siapakah
yang kesudian untuk bermusuhan dengan mereka? Konon pe muda
itu she Ku, bernama See-hong dan menga ku sebagai ahli waris dari
Bun-ji koan-su, si Pendekar aneh dari dunia persilatan itu!”
“Sebagaimana diketahui, ketua Kim-to-pang dulu bernama Ku-
Kia m-cong, sedangkan pe muda ini pun she Ku, . . . . bukankah ha l
ini menandakan kalau Ku-Kia m-cong me mpunyai keturunan?"
Kembali Ku See-hong merasakan hatinya terkesiap setelah
mendengar ura ian itu... Dia tidak mengira kalau Biau-ki siang-s u

354
bisa me mperoleh se mua berita tersebut dengan begitu cepat dan
jelas.....
Sementara itu Biau-ki siangsu In Han-im telah menghe la napas
sedih, lanjutnya:
"Huan-mo-kiong dari La m-hay telah me miliki ke kuatan serta
pengaruh yang besar sekali, seandai-kata dia sa mpa i me lakukan
penyerangan ke daratan Tionggoan, entah reberapa banyak umat
persilatan yang bakal mengala mi musibah tersebut? ......Padahal
didaratan Tionggoan sendiripun terdapat kawanan manusia laknat
yang telah membentuk suatu organisasi yang amat kuat,
(dan)mungkin beberapa waktu lagi mereka akan mulai me lakukan
pembataian secara terang-terangan dalam dunia persilatan!
Bayangkan saja, betapa berbahayanya keadaan dunia persilatan
pada saat ini!"
Sim-hong-hwee-ciau Lui-Ki menghe la napas pula dengan hati
yang sedih, katanya kemudian:
"Seandainya Bu-lim-koy-kiat, (Pendekar aneh dari dunia
persilatan) Bun-ji koan-su masih hidup didunia ini, kawanan iblis dan
badut-badut dunia persilatan itu pasti tak akan berani bertindak
dengan begitu berani, aaa.i..... sayang benar kematian dari Bun- ji-
koan-su!"
Dengan nada yang misterius ke mbali Biau-ki siang-su In Han im
berkata:
"Se mua peristiwa ini masih belum begitu aneh!, Belakangan ini
didala m dunia persilatan telah muncul pula seorang pe muda yang
aneh, ilmu silatnya tiada tandingan didunia ini...! dan pemuda itu
kerjanya justru menantang jago-jago kenamaan untuk beradu
kepandaian.
Setiap kali berhasil mengalahkan musuhnya, dia selalu bertanya
kepada pihak lawannya dengan sepatah kata: 'Apakah kau sudah
takluk dengan ilmu silat aliran Cing hay-pay?'..."

355
"Bila lawannya mengatakan tidak puas, dia segera melancarkan
seranganya lebih lanjut untuk me mbunuh orang itu.., sebaliknya
jika mengatakan takluk, dia me lepakan orang itu begitu saja."
Paras muka Sin-hong hwee-ciau Lui-Ki berubah menjadi hijau
me mbesi, serunya kemudian dengan gusar:
"Benarkah didunia ini terdapat bocah keparat yang gila seperti
itu? Aku orang she-Lui ingin se kali bertemu dengannya, ingin
kuketahui apakah dia me mpunyai tiga kepala ena m lengan atau
tidak!"
'Aduh celaka..!' pekik Biau-ki Siang-su In Han im dia m-dia m,
'Seandainya pemuda berbaju putih itu adalah dia.., ... pemuda aneh
dari Cing-hay, sudah pasti besar sekali kesulitan yang bakal
dihadapinya.'
Ku See hong sendiripun merasa gusar sekali, diam-dia m ia
bertekad untuk menjumpainya, dia ingin tahu pemuda maca m
apakah pe muda aneh dari Cing-hay yang latah itu.
Terdengar Biau-ki siang-su In Han im ke mbali melanjutkan kata-
katanya:
"Ilmu silat yang dimiliki pe muda aneh dari Cing-hay ini konon
mirip sekali dengan ilmu silat dari aliran Hu-thian seng-kia m yang
termasyur pada tiga tatus tahun berselang itu, selain aneh juga
saktinya luar biasa...!!"
Mendengar nama Hu-thian Seng-kia m disinggung, paras muka Ku
See hong berubah hebat,... sebab dia ingin cepat-cepat mengetahui
segala sesuatu tentang Hu-thian-seng-kia m tersebut.
Hampir saja dia hendak mengutarakan asal-usulnya dan me minta
Biau-ki siang-su untuk me nerangkan hal ikhwal tentang Hu-thian
Seng-kia m tersebut.
Untung saja Sim-hong hwee-ciau Lui-Ki telah mendahului Ku See
hong untuk menanyakan hal yang sa ma: "Saudara In, apa yang
dimaksudkan dengan a liran Hu-thian Seng-kia m itu? Siapakah dia?"

356
Biau-ki siang-su In Han im tertawa, katanya:
"Soal Hu-thian seng-kia m me mang jarang(tidak banyak) yang
diketahui oleh umat persilatan pada saat ini kecuali kawanan
locianpwe yang sudah la ma termasyur, ....tapi bila kusebutkan na ma
lainnya, mungkin kau akan mengetahuinya dengan je las."
Selama pe mbicaraan berlangsung, pe muda berbaju putih ini
hanya duduk dengan wajah dingin kaku tanpa e mosi seakan-a kan
semua kejadian yang berlangsung da la m dunia persilatan sa ma
sekali tak ada hubungan dengan dirinya.
Biau-ki siangsu In Han im mencoba untuk melirik sekejap
pemuda berbaju putih itu. Ketika tidak mene mukan sesuatu yang
mencurigakan, dia pura-pura menghe mbuskan napas panjang,
ke mudian katanya lagi:
"Pernahkah kau dengar tentang kisah seorang Kakek yang suka
menyendiri pada tigaratus tahun berselang...?"
"Saudara In, apakah kau maksudkan Ang-soat-kia m-cu yang
disebut orang sebagai Ci-hong-lo jin (Kakek Penyendiri) itu...?!"
tanya Sin hong hwee ciau Lui-Ki dengan wajah terperanjat.
Biau ki siang-su In Han im mengangguk tiada hentinya....
"Yaa-, dialah Ang-soat-kiam-cu yang suka menyendiri sehingga
akhirnya, disebut orang 'Ci-hong lo jin' yang merupakan musuh
umum seluruh umat persilatan di dunia."
Mendengar perkataan itu, Ku See hong merasa terkejut
bercampur girang.., mimpipun dia tidak menyangka kalau pedang
Hu-thian seng kia m yang dige mbolnya sekarang tak lain adalah
pedang Ang Soat Kia m yang (oleh) se luruh umat persilatan
dianggap sebagai `Pedang Mestika Nomor Satu didunia`!!
Tapi cerita tentang Ci-hong lo jin tersebut masih kurang je las
baginya, dia hanya tahu kalau kakek itu me mang benar-benar
merupakan seorang ka kek kesepian yang suka menyendiri.

357
Sementara itu Sin hong hwee ciau Lui-Ki telah bertanya lagi
dengan wajah tidak habis mengerti:
"Kalau dia me mang Ang soat Kiam-cu (Pe milik Pedang Biangla la
Merah) Ci-hong lo jin cianpwe, mengapa pula dina makan orang
sebagai Hu-thian seng-kia m?"
Biau-ki siangsu In Han im menghe la napus panjang , ujarnya:
"Selain ilmu silatnya sangat lihay, Ci-hong lo jin juga me miliki
kepandaian lain yang luar biasa, baik soal ilmu perbintangan, ilmu
tanah, ilmu bangunan,.... semuanya dikuasahi olehnya, dia boleh
dianggap sebagai manusia aneh aja ib nomor wahid dikolong langit.!
Tapi orang ini berwatak dingin dan suka menyendiri, selain itu
juga a mat me mbenci segala kejahatan. Kebetulan situasi dunia
persilatan pada waktu itu sangat rawan, kejahatan meraja-lela...
Sebagai seorang pendekar sejati, tentu saja dia bertekad untuk
menolong umat persilatan dari penindasan dan ketidak-adilan.
Akibatnya, banyak sekali kaum la knat yang tewas ditangannya.!
Dengan ilmu silatnya yang lihay serta Pedang Ang-soat poo-kiam
yang luar biasa tajamnya, lama-ke la maan kehadirannya
menimbulkan rasa dengki umat persilatan kepadanya, apalagi
setelah mereka `kesemse m` oleh pedang mustikanya yang luar
biasa. Akhirnya orang persilatan menganggapnya sebagai ‘musuh
umum’, mereka bersa ma-sama me musuhinya dan berusaha
mera mpas pedang Ang-soat poo-kia m tersebut, hingga akhirnya
terjadilah suasana yang serba kacau da la m dunia persilaan.!
Kawanan manusia yang memusuhi Ci-hong lo jin ketika itu, selain
jago-jago dari pelbaga i partai, manusia-manusia golongan putih
maupun hita m, bahkan saudara seperguruannya, anak muridnya,
istrinya dan putranya JUGA berusaha dengan menggunakan
pelbagai maca m muslihat untuk me mbunuh serta merobohkan
dirinya dengan menggunakan cara paling rendah, paling keji dan
paling terkutuk, mereka berusaha merobohkannya.

358
Perasaan Ci-hong lo jin ketika itu benar-benar hancur luluh,
mimpipun ia tak me nyangka kalau orang yang saling de kat dengan
dirinya pun bisa me musuhinya dan berusaha merampas pedang
mestika Ang-soat poo-kiam itu, sehingga akhirnya hal ini
menimbulkan napsunya untuk me mbunuh.
Dengan mengguna kan pedang Ang soat poo-kia m, dia segera
me lakukan pe mbunuhan secara besar-besaran..., Setiap orang yang
berniat jahat kepadanya, dibunuhnya tanpa ampun, diantara
mereka termasuk juga saudara seperguruannya, muridnya, istrinya
dan putra-nya...!
Bisa dibayangkan bagaimanakah penderitaan dan tersiksanya
batin orang itu ketika terpaksa melakukan pe mbantaian secara
besar-besaran.
Konon pe mbantaian yang berlangsung ketika itu mengakibatkan
darah meng-ana k sunga i, bangkai bertumpuk bagaikan bukit, bau
busuknya darah ha mpir menyelimuti se luruh jagad !!!
Setelah terjadi peristiwa yang mengerikan itu, Ci-hong lo jin
mendongkkan kepalanya sambil tertawa seram...., suaranya keras
dan melengking hingga menusuk pendengaran, selain me medihkan
hati juga me mbawa suasana yang menyeramkan. . . . . . . . . . ”
"Setelah tertawa selama sehari se mala m, dia baru
mendonga kkan kepalanya menghadap kelangit sambil mengucapkan
kata-kata yang mengandung ra malan, katanya:
'Aku Ci hong lo jin me mang telah ditakdirkan hidup sebatang
kara, tanpa sanak tanpa keluarga....! Pedang Ang-soat poo-kiam,
mulai kini kusebut Hu Thian Seng Kia m !! Tiga ratus tahun
ke mudian, aliran Hu-thian seng-kia m akan muncul ke mbali didala m
dunia persilatan untuk me nyelamatkan umat persilatan dari
pembantaian...!'
"Setelah mengucapkan perkataan itu Ci-hong lo jin pun lenyap
tak berbekas.., Selama tigaratus tahun kemudian pedang Ang-soat
poo-kia m juga tak pernah mucul lagi dala m dunia persilatan. . . .!’

359
"Tapi Ci hong lo jin adalah seorang tokoh aneh yang luar biasa,
setiap perkataannya mengandung ma ksud yang mendala m. Kini
tigaratus tahun sudah lewat, kemungkinan besar inilah saatnya bagi
Hu-thian-seng-kia m untuk muncul ke mbali dala m dunia
persilatan........!"
"Saudara In, kalau begitu pe muda aneh dari Cing-hay itu adalah
ahli waris dari Hu-thian-seng-kia m?" tanya Sin-hong-hwee-ciau Lui-
Ki dengan gelisah.
Kembali Biau-ki siang-su In Han im menghela napas sedih.
"Benarkah pe muda aneh dari Cing-hay itu adalah ahli waris dari
Hu-thian-seng-kia m...?, hal itu hanya merupakan dugaan dari umat
persilatan saja, sebab pada waktu itu Ci-hong lo jin juga merupa kan
anggota perguruan dari Cing-hay-pay! Sekalipun pe muda aneh dari
Cing-hay itu bukan orang yang dimaksudkan Ci-hong lo jin, dia
pastilah anggota perguruan dari Cing-hay-pay..."
"Aaaai....! Dunia persilatan yang sekarang sudah penuh dengan
kekacauan, andaikata pedang mestika Ang-soat poo-kiam benar-
benar muncul ke mbali dala m dunia persilatan, akibatnya tentu tak
terlukiskan dengan kata-kata.
Apalagi belakangan ini nyanyian aneh telah muncul ke mba li
didala m dunia persilatan! Kawanan jago dari pe lbagai partai telah
berbondong-bondong mengejar pemuda she Ku itu untuk
mengetahui kata-kata dari syair lagu yang bisa menunjukkan
dimanakah kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip disimpan,- dengan
munculnya pedang mestika dan kitab pusaka ini..., sudah pasti
kedua maca m benda itu a kan berubah menjadi sumbu kia matnya
dunia persilatan.!"
Setelah mendengarkan penuturan dari La m-ciau dan Pak-siang
tadi, Ku See hong merasakan hatinya bergolak keras, apalagi
setelah mengetahui kisah Ci-hong lo jin yang begitu mengenaskan,
dia m-dia m ia turut bersedih hati atas nasib malang yang menimpa
kakek itu.

360
Baik Ci-hong lo jin, maupun gurunya Bun-ji koan-su, kedua orang
itu sama-sa ma mengala mi nasib yang mengenaskan seka li,- kenapa
Thian se lalu melimpahkan nasib yang buruk kepada umatnya?
Kini, dalam tubuhnya telah terdapat dua macam mestika
peninggalan dari dua orang tokoh sakti itu, yang mana kedua-
duanya menyangkut nasib umat persilatan didunia ini, `oohh..... Ku
See hong, wahay Ku See hong! Tahukah kau betapa beratnya tugas
dan kewajiban yang diletakkan diatas bahumu?
Bukan saja a ku harus me mbalaskan denda m pribadiku, juga
harus me mikirkan nasib dari berjuta-juta umat persilatan di dunia
ini.
Tapi dala m dunia persilatan dewasa ini hampir tiada seorang
manusiapun yang berhati mulia, seandainya duduk persoalan yang
sebenarnya berhasil diketahui, kemungkinan juga nasibnya
dike mudian hari akan mirip pula dengan nasib Ci-hong lo jin serta
Bun-ji-koan-su, atau bahkan mungkin a kan lebih tragis lagi.
‘Aaaaai........! Apa yang harus kulakukan sekarang? Satu-satunya
jalan yang bisa dite mpuh se karang hanya bunuh! Bunuh...! Dan
Bunuh..!!! Biarlah darah dari kawanan manusia2 laknat itu mencuci
semua noda yang telah mengotori dunia...!’
Berpikir sa mpa i disitu, sepasang alis mata Ku See-hong segera
berkenyit, dari balik matanya mencorong keluar sinar yang
menggidikkan hati, itulah perla mbang dan keputusan yang telah
dia mbilnya..., keputusan yang dingin tegas dan penuh dengan
darah.!
Kalau mengikuti keputusan yang diambil dala m hati Ku See-hong,
nasib dunia persilatan pun turut ditentukan. Betulkah watak Ku See
hong begitu keja m dan keji?
Tidak..., bukannya dia sudah me mpunyai watak semaca m ini
semenjak dilahirkan didunia ini, dia bukan seorang yang haus darah,
diapun tak suka a kan segala ma ca m pe mbunuhan..., tapi
pengalaman tragis yang diala minya semenja k kecil, serta segala
maca m peristiwa keji me malukan yang telah berlangsung didunia
361
dewasa ini, me mbuat dia lebih banyak melihat dan banyak
mendengar, kese muanya ini menimbulkan suatu tekad yang luar
biasa dala m hatinya.
Tapi, untuk mewujudkan cita-citanya itu, hanya 'PEMBUNUHAN'
yang dapat mencapainya, membasmi kaum siluman dan manusia
laknat dari muka bumi, untuk mewujudkan kesejahteraan dan
keadaan bagi umat persilatan.
Mendadak terdengar Sin hong hwee ciau Lui-Ki tertawa
terbahak2, suaranya keras bagaikan suara genta yang diburyikan
bertalu-talu, kemudian serunya:
"Saudara In, mengapa kawanan tikus bernyali kecil itu sudah
kabur se mua dari sini?"
Kiranya entah sejak kapan tamu yang semula me menuhi ruangan
loteng itu, kini sudah lenyap tak berbekas, bahkan pemuda m
berbaju putih itupun entah sedari kapan sudah pergi dari situ.
Dala m ruangan loteng yang begitu luas, kini tinggal La m-ciau pau
siang dan Ku See hong tiga orang saja.
Sepasang mata Biau-ki siarng-su In Han im yang sebenarnya
selama ini sedang menga mati perubahan mimik wajah Ku See hong
tanpa berkedip, seperti baru bangun dari mimpinya dia baru
tersentak kaget setelah mendengar perkataan itu.
Dengan cepat dia me mmeriksa keadaan dise kitar tempat itu.
Betul juga jangan seorang manusiapun, bahkan kedua sosok mayat
yang terkapar diatas tanahpun sudah turut lenyap tak berbekas.
Paras muka Biau-ki siang-su In Han im yang menunjukkan
kecerdasan otaknya itu,segera mengala mi perubahan pula, tapi
sejenak ke mudian sudah lenyap tak berbekas, bahkan sekarang dia
ma lah menunjukkan sikap seolah-olah tidak menaruh perhatian.
Ku Se hong pun turut merasakan suasana yang kurang beres
pada waktu itu, dia merasa seakan-akan disekeliling te mpat itu telah
diliputi oleh hawa pe mbunuhan yang luar biasa.

362
Pada saat itulah, seorang pelayan datang mendekat kehadapan
Biau-ki Siang-su dengan wajah ketakukan dan wajan murung, lalu
dengan nada tersendat-sendat katanya:
"Tuu....tuan, rumah makan ka mi aa....akan ditutup lee.....lebih
aa...awal pada hari ini, maaf sekali haa....harap . . . . . . . "
Sin heng hwee ciau Lui-i segera berpaling dan ma mandang
keadaan udara diluar jendela, ketika dilihatnya jarak dengan saat
senja masih awal, tanpa terasa teriaknya keras-keras:
"Mak`nya, kalian lagi berdagang apa? Masa masih wa ktu begini
sudah akan menutup pintu? Apakah kuatir kalau bapakmu tida k
me mbayar hidangan yang kumakan? Jangan kau bikin aku naik
pitam tahu? Ka lau sampai kuhajar sampa i jumpalitan, jangan
salahkan diriku nanti!"
Biau-ki siang-su In Han im bukan orang bodoh, dilihat dari
gelagatnya dia segera mengerti apa gerangan yang sebenarnya
telah terjadi, maka sa mbil menjura ujarnya:
"Saudara tak usah kuatir, seandainya sampai terjadi hal-hal yang
tak diinginkan, ka mi masih sanggup untuk menanggung se mua
kerugian yang diderita ditempat ini. Jangan kuatir, pasti akan kuberi
pembayaran yang cukup tinggi pada kalian nanti."
Begitu selesai berkata dia lantas merogoh kedala m sakunya dan
menga mbil ke luar sekeping uang e mas yang segera diberikan
kepada pelayan tersebut.
Uang emas berwarna kuning, uang perak berwarna putih,
sekalipun pelayan itu merasakan anca man pada jiwanya, tapi
setelah mendengar perkataan dari Biau-ki siang-su beserta uang
perak didepan mata, terpaksa dia hanya mengucapkan terima kasih
sambil me ngundurkan diri dari situ.
Mendadak Biau-ki siang-su In Han im bangkit berdiri dan berjalan
ke hadapan Ku See hong. Kemudian setelah me mberi hormat,
tegurnya:
"Tolong tanya apakah sauhiap berasal dari marga KU .....?"

363
Ku See hong merasa a mat terperanjat, dia tak menyangka kalau
orang persilatan me mpunyai ketajaman mata yang luar biasa.
Pada dasanya dia me mang menaruh kesan baik terhadap La m-
ciau Pak-siang, dan lagi dia pun me mpunyai banyak persoalan yang
ingin me mohon petunjuknya, hanya saja dasar wataknya yang
dingin dan angkuh dia segan untuk mengadakan hubungan
sembarangan orang dengan begitu saja.
Tapi setelah disapa oleh Biau-ki-siang-su dengan cara yang
sopan dan hormat, dia menjadi rikuh untuk merahasiakan keadaan
yang sesungguhnya.
oooo0dw0oooo

Bab 17
KU SEE HONG segera bangkit berdiri dan me mperlihatkan
sekulum senyuman ra mah, sa mbil balas me mberi hormat, sahutnya
dengan suara lantang:
"Tida k berani, tidak berani, aku me mang she Ku, . .. . entah
siapa na ma saudara?"
Walaupun Biau-ki siang-su In-Han-im tahu kalau pe muda gagah
yang berada dihadapannya sekarang adalah Ku See hong yang
dicuriga i olehnya, namun dia tak menyangka kalau Ku See hong
telah merubah sikapnya yang dingin itu dengan sikap yang begini
hangat.
Biau-ki siang-su me njadi ge mbira sekali, katanya sambi tertawa
nyaring:
"Ku sauhiap, nama mu telah menggetarkan dunia persilatan
belakangan ini, aku orang she In merasa a mat kagum, sungguh tak
kusangka aku dapat bersua dengan sauhiap ditempat ini. Peristiwa
ini benar-benar merupakan suatu keuntungan bagiku, bila tida k
mena mpik, bagaimana kalau kita berbincang-bincang disini?"
Ku See-hong segera tersenyum.

364
"Aku tak lebih cuma seorang tukang silat kasaran...., tidak berani
kuterima pujian saudara itu."
Biau-ki siang-su segera berpaling kearah Sin-hong-hwee-ciau,
ke mudian katanya: "Lui lote, cepat kemari, dialah murid Bun-ji-
koan-su yang baru saja kubicarakan,...Ku See-hong, Ku-sauhiap!"
Walapun sekilas pandangan Sin-hong-hwee-ciau Lui-Ki adalah
seorang manusia kasar, sesungguhnya dia adalah seorang yang
berperasaan halus, secara diam-dia m diapun me lakukan perhatian
yang seksama terhadap Ku See hong maupun pe muda berbaju putih
itu.
Maka setelah mendengar kalau orang itu tak lain adalah Ku See
hong, buru-buru dia berjalan mendekat dan tertawa terbabak-
bahak.
"Huuaahhhh......haaahhh.... haaahhh..... sungguh tak kusangka,
sungguh tak kusangka, rupanya kau-lah yang bernama Ku See
hong! Ku Sauhiap, mari, mari, aku Lui-Ki ingin sekali bersahabat
denganmu, haaaahhh.....haaahhh......"
Secara diam-dia m Ku See hong sendiri pun merasa kagum seka li
akan kegagahan dan keterbukaan Sin-hong-hwee-ciau, dengan
cepat dia maju menyongsong sa mbil tertawa ringan, sahutnya:
"Sela mat berjumpa, sela mat berjumpa, aku orang she Ku tak
lebih hanya seorang prajurit tak bernama dalam dunia persilatan,
mana mungkin bisa dibandingkan dengan Lam-ciau-Pak-siang yang
sudah bernama besar itu? Kesediaan kalian untuk berkenalan,
sungguh me mbuat aku orang she Ku merasa terharu sekali."
Setelah berbasa-basi sebentar, ketiga orang jago itupun
mena mbah sayur dan arak, ke mudian mula i berbincang dari timur
sampai ke barat; bahkan begitu cocoknya hubungan mereka,
sehingga dala m ruangan tersebut penuh dihiasi dengan gela k
tertawa nyaring mereka.
Suasana dingin, kaku mengerikan dan tegang tanpa terasa
berubah menjadi suasana hangat serta penuh keda maian.

365
Dala m waktu singkat, sang surya telah tenggelam ke langit barat,
cahaya matahari senja memancarkan cahaya keemasannya
menyoroti seluruh jagad dan menciptakan suatu rangkaian
pemandangan a la m yang sangat indah bila mende kati senja.
Kemudian kegelapan mala mpun mulai menyelimut i seluruh jagad,
angin dingin yang menyayat badan berhembus lewat menggigilkan
badan, mendatangkan suasana yang serius dan hening disitu.
Orang berlalu-lalang dijalan raya pun bertambah sepi, karena
mereka sedang menyembunyikan diri diba lik kehangatan rumah
mereka sendiri......
Ku See-hong dan La k-ciau-Pa k siang masih berbincang-bincang
tiada hentinya, cahaya lentera menyoroti wajah mereka yang
merah, puluhan kati arak keras teluh mereka bertiga teguk, na mun
tiada pengaruh mabuk yang menyelimuti mere ka.
Sebagai orang yang berilmu t inggi dan bertenaga dalam
sempurna, takaran minum arak mereka a mat mengejutkan, sebab
mereka dapat me mperguna kan tenaga murni mereka yang sepurna
untuk me mproses pengaruh a lkohol dala m arak, itulah sebabnya
walaupun meneguk seribu cawan juga tak a kan mabuk.
"Toookkk....toookkk......" dari arah jalan raya berkumandang dua
kali suara kentongan.
Menyusul ke mudian dari luar loteng Cui-sian-loo berkumandang
datang suara tertawa dingin yang menyeramkan bagaikan suara
pekikan kuntilanak, la lu seseorang berkata dengan dingin dan nada
menghina:
"La m ciau Pak siang, aku rasa kalian sudah cukup makan minum
bukan? Dengan begitu ka lian sudah bisa menjadi setan yang mati
kenyang, mengapa tidak cepat-cepat keluar untuk menghantar
ke matian....heehh.... heehh.....!!"
Ucapan tadi diakhiri dengan suara gelak tertawa seram yang
me me kikkan telinga pula.

366
Sin hong hwe ciau Lui-Ki a mat gusar, ia segera membentak
keras, tubuhnya yang besar bagaikan pagoda itu melompat ke
udara dan berputar dengan suatu gerakan aneh ke mudian melayang
turun ke atas tanah dengan enteng dan meluncur ke mbali ke depan
secepat sambaran kilat.
Buru-buru Biau-ki-siang-su In Han im merogoh ke dala m sakunya
menga mbil sekeping uang perak dan diletakkan ke atas meja,
setelah itu serunya dengan lantang: "Ku lote, harap duduk menanti
disini, aku a kan pergi sebentar untuk ke mbali ke mari lagi!"
Selesai berkata, bagaikan seekor burung rajawali yang terbang di
angkasa, dia menerjang pula ke depan menyusul Sin hong hwee
ciau.
Ku See hong berkerut kening, lalu dengan sorot mata
me mancarkan cahaya yang menggidikkan hati, serunya dengan
lantang: "Bagaimana kalau aku orang she Ku juga ikut menonton
kerama ian?"
Dengan gerakan tubuh seperti sukma gentayangan, dia melejit
ke muka dan melayang ke sa mping Biau-ki siang-su.
Demontrasi ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna ini
benar-benar luar biasa sekali, begitu suaranya berkumandang
orangnya turut tiba, hal mana membiat Biau-ki siang-su dia m-dia m
merasa terkejut berca mpur kagum.
Padahal ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sudah
terhitung nomor wahid didala m dunia persilatan...., tapi
kenyataannya pemuda itu bisa seka li berke lebat mencapa i belasan
kaki jauhnya bahkan berhasil pula menyusul dirinya.
Dibawah sorot cahaya rembulan, tampak e mpat sosok bayangan
manusia berlarian diatas jalan raya sepi, mereka saling berkejaran
dengan suatu kecepatan luar biasa.
Selisih jarak antara bayangan2 manusia itu tidak ada e mpat lima
puluh kaki lebih. Agaknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
bayangan manusia paling depan itu cukup tangguh. Kecepatannya

367
me lebihi sa mbaran petir, walaupun Sin hong hwee ciau berada
dipaling muka, tapi jaraknya makin la ma se makin bertambah jauh
dengan pihak lawan.
Tiba-tiba Ku See hong berpaling kearah Biau-ki siang-su sa mbil
serunya:
"Aku orang she Ku a kan berangkat selangkah lebih dulu untuk
menghadang kawanan t ikus yang berada didepan itu!"
Begitu selesai berkata, dia lantas mendongakkan kepalanya dan
berpekik nyaring.
Dala m pekikan nyaring tadi, tubuh Ku See hong bergerak
semakin cepat lagi, bagaikan segulung asap ringan dengan
kecepatan yang paling t inggi dia meluncur kedepan.
Tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong pada waktu itu sudah
me mcapai pada punca k kese mpurnaan, begitu dia menghimpun
tenaga dalamnya, hawa murni segera beredar diseluruh tubuhnya
dengan kecepatan tinggi.......
Dengan mengandalkan himpunan tenaga dala m inilah, tubuhnya
bagaikan seekor burung elang segera melayang diangkasa dengan
kecepatan yang luar biasa.
Begitu kepandaian t ingkat tingginya dike mbangkan, bagaikan,
bagaikan sebuah garis hitam saja tubuhnya melesat mene mbusi
angkasa dengan kecepatan yang sukar diikuti dengan pandangan
mata.
Berada ditengah udara, menggunakan kesempatan dika la
badannya berbelok atau berputar, ia dapat menghimpun hawa
murninya dengan cepat, tubuhnya seakan-akan bergerak diangkasa
saja, selain cepat juga lincah se kali.
Dala m wa ktu singkat, Biau-ki siang-su telah ketinggalan puluhan
kaki jauhnya, demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang a mat lihay
ini kontan saja me mbuat Biau-ki siangsu yang dihari-hari biasa
selalu tinggi hati menjadi terkesiap dan kagum.

368
Dia m dia m Biau-ki Siangsu In Han im segera berpikir:
'Sekalipun Ku See hong adalah muridnya pendekar aneh dari
dunia persilatan Bun-ji koan-su, tapi usianya masih begitu muda,
sekalipun sejak keluar dari rahim ibunya dia sudah belajar silat,
belum tentu ilmu meringankan tubuhnya dapat me mperoleh
ke majuan yang mela mpaui umat persilatan pada umumnya'.
Tentu saja Biau-ki Siangsu sama sekali tak tahu, bukan saja Ku
See hong telah melatih ilmu Kan-kun mi-siu kang khi . . .!, Anak
muda itu pun telah me mpelajari ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-
tiong . . . . , selain daripada itu diapun telah mendapat warisan
tenaga murni Bun-ji koan-su hasil latihan sela ma enampuluh tujuh
tahun..,
Dita mbah lagi bakatnya me mang bagus dan barhasil menghirup
Tee-Liong-Hiat-po yang tak ternilai harganya. Bebeberpa maca m
mestika dunia persilatan terhumpun menjadi satu dalam tubuhnya,
hal mana me mbuat ia menjadi seorang manusia berkat yang sangat
luar biasa....!
Dala m waktu singkat Ku See hong berhasil menyusuli Sin hong
hwee ciau, gerakan tubuhnya sama sekali tida k, mengendor,
dengan gerakan tubuh yang enteng seakan akan tak berbobot
secepat sambaran petir dia mengejar bayangan manusia yang
berada didepan itu.
Gerakan subuh Ku See hong betul-betul cepatnya bukan
kepalang, dalam waktu singkat bayangan manusia yang berada
didepan itu sudah tersusul sa mpai jarak sejauh de lapan kaki saja.
Sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya, dengan suara
keras bentaknya:
"Sobat dimuka, harap beristirahatlah sebentar!"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, tubuh Ku See hong melejit
ke muka sejauh delapan se mbilan kaki.
Dika la tenaga lompatannya sudah mele mah inilah, mendadak
sepasang lengannya diayunkan ke atas, seluruh tubuhnya

369
me lengkung bagaikan udang bago..., kemudian diantara gerakan
pangkal kakinya, gerak tubuh yang se makin mele mah itu tahu tahu
sudah meluncur ena m tujuh ka ki lebih kedepan dengan kecepatan
tinggi.
Dengan gaya lompatannya yang luar biasa itu, jarak sejauh
empat lima be las kaki segera berhasil dila mpaui. Ilmu meringankan
tubuh yang begini tinggi me mbetot sukma ini, benar benar luar
biasa hebatnya, hakekatnya sama sekali diluar pikiran orang
banyak.....
Dika la ucapan Ku See hong berkumandang tadi, bayangan
manusia yang berada didepan itu sudah mendengar suara ujung
baju yang tersampok angin, dengan cekatan dia lantas melirik
kebelakang. Apa yang kemudian terlihat olehnya me mbuat orang itu
amat tercekat.
Tampak sesosok bayangan manusia me luncur tiba dengan
kecepatan tinggi, sedemikian cepatnya geraksn itu seakan-akan
burung elang yang sedang terbang di angkasa saja.
Sementara itu, ujung kaki Ku See hong telah me ne mpelkan
diatas tanah lalu dengan suatu gerakan indah badannya berputar,
telapak tangan kirinya diayunkan ke depan.
Bayangan manusia di muka itu tiba-tiba saja me lihat bayangan
setan berkelebat didepan matanya dan jalan perginya pun
terhalang.
Dala m keadaan begini, ia tak se mpat lagi untuk me lihat jelas
paras mukanya, sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke
muka melepaskan sebuah pukulan dasyat yang mengerikan seka li,
badannya melejit ketengah udara lalu secepat kilat meluncur ke
depan. Dengan gerakan ini ma ka diapun terlepas dari ancaman Ku
See hong yang a mat lihay itu.
Menyaksikan cara pihak lawan menghindarkan diri dari serangan
dasyatnya itu, Ku See hong segera menyadari kalau musuhnya
berilmu tinggi dan sukar dihadapi. Sulit rasanya untuk menemukan
seseorang jagoan selihay ini didala m dunia persilatan.
370
Begitu lolos dari sergapan maut Ku See-hong, dengan enteng
bayangan manusia itu me layang turun e mpat kaki dari posisi
semula, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan berpekik
nyaring..., suara pekikan tersebut tajam me nusuk telinga.
Menyusul ke mudian, dari kejauhan sana pun berkumandang pula
suara pekikan aneh yang bergema tiba mengikuti he mbusan angin
ma la m. Suaranya melengking bagaikan tangisan setan atau serigala,
me mbuat bulu kuduk orang pada diri se mua.
Setelah itu maka terdengarlah suara pekikan aneh
berkumandang saling bersahut-sahutan, agaknya tidak sedikit
jumlah orang yang berdatangan ke situ.
Begitu mendengar pekikan aneh tadi, wajah Ku See-hong yang
dingin kaku itu segera terhias kekejian yang mengerikan, dia tahu
bayangan manusia itu sedang mengundang kedatangan rekan-
rekannya, tapi Ku See hong menyambut (hal tersebut) dengan
gembira, dia lebih suka kalau ada serombongan manusia laknat
datang menghantar ke matiannya.
Maka dia tidak secara langsung me lancarkan sergapan ke arah
orang itu hanya sorot matanya saja yang tajam mengawasi
pendatang-pendatang itu tanpa berkedip.
Dibawa cahaya rembulan, tampak olehnya kalau orang itu adalah
seseorang kakek kurus kering berkulit hita m, ia mengguna kan jubah
panjang berwarna hitam dengan sebuah busur panjang berwarna
merah darah menghiasi dadanya.
Hati Ku See hong seakan-akan sedang meneteskan darah, itulah
darah panas penuh rasa denda m, sinar matanya me mancarkan
cahaya berapi-api, lalu dengan suara menggeledek bentaknya:
"Tua bangka cela ka, apakah kau adalah manusia laknat dari
perkumpulan Thi-kiong-pang?"
"Seeet! Sreeetl" desingan angin tajam berhe mbus lewat, Sin-
hong hwee-ciau Lui-Ki dan Biau-ki siang-su In Han-im secara
beruntun telah menubruk datang pula.

371
Agaknya kakek ceking berbaju hita m itu adalah seorang
gembong iblis yang berpengala man, walaupun dia terkejut dan
merasa seram, oleh kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki Ku See-hong, tapi mana tahan menghadapi pertanyaan dari
Ku See hong yang begitu menghina? Dengan suara yang dingin
menyeramkan dia mendengus dingin tanpa berbicara, sedangkan
sepasang matanya yang kecil menga mati Ku See hong dari atas
sampai ke bawah.
Mendadak suatu perubahan aneh melintas diatas wajahnya, tapi
dengan cepat telah pulih ke mbali, menjadi wajah keja m dan buas....
Dari sini me mbuktikan kalau pada mulanya dia digetarkan oleh
kelihayan Ku See hong, tapi ke mudian setelah tahu kalau piha k
lawan tak lebih hanya seseorang pemuda ingusan, keberanianya
telah muncul ke mbali dan diapun segera unjuk gigi.
Ketika Biau-ki siang-su In Han im sudah me lihat jelas siapa
gerangan lawannya, ia juga merasakan hatinya bergetar keras, tapi
dengan cepat pula dia tertawa dingin.
"Aaah..., kukira siapa yang begitu bernyali berani mencari gara-
gara dengan aku orang she In . . . , rupanya Sin kiong Tongcu dari
perkumpulan Busur Baja, Cau sang hui (terbang diatas angin)
Ciong-Keh-teng, huuahhh....haaahh...... haaahh....... hutang kita
pada tiga tahun berselang me mang sudah seharusnya kalau dibikin
beres !"
Si kake k ceking berbaju hita m atau Cau sang hui Ciong Keh-teng
segera tertawa serak dengan suara menyeramkan, kemudian
ujarnya dingin:
"Biau ki Siangsu, aku rasa sudah seharusnya kalau mala m ini
kaupun mula i menghitung-hitung usia sendiri, heeehhh......
heeehhh.....heehhh! Siapakah keparat ini...? Apakah diapun henda k
mene mani kalian berdua untuk berangkat ke mbali ke ala m ba ka?"
Sin hong hwee ciau Lui-Ki segera me mbentak keras:
"Tua bangka Ciong, apakah kau sudah bosan hidup? Orang lain
mungkin takut dengan pengaruh iblis dan perkumpulan Thi-kiong
372
pang kalian, tapi La m-ciau Pak-siang adalah ma nusia yang tida k
takut langit t idak takut bumi....!"
Tiba-tiba Cau sang hui Ciong Keh-teng mendongakkan kepalanya
dan tertawa seram, begitu menukas ucapan Sin hong hwee ciau
yang belum selesai, ujarnya dengan suara yang rendah dan da la m:
"La m-ciau Pa k-siang, aku harap kalian sedikit tahu diri, Thi-kiong
pang tak pernah melepaskan `duri dala m mata` dengan begitu
saja! Heeehhh...heeehhh.... heeehhh...., hari ini kalian begitu berani
me mbicarakan soal keadaan dunia persilatan diloteng Cui-tianglo
secara terang-terangan, bahkan memandang re meh umat persilatan
yang ada didunia ini . . . . bukan begitu saja, Hmm...! Kau malah
menyanjung nyanjung kehebatan Bun-ji koan-su, tapi sayang setan
tua itu sudah mampus se menjak duapuluh tahun berselang. Baiklah,
biar ka mi Thi-kiong pang berbuat `kebaikan` dengan mengirim
kalian ke a khirat untuk berjumpa dengan setan tua itu!"
Mendadak Ku See hong mendongakkan kepalanya dan tertawa
keras, suaranya amat nyaring dan sangat meme kikkan telinga,
Dibalik gelak tertawa tersebut dapat terdengar hawa amarah,
dendam kesumat, serta rasa sedih yang bercampur aduk.....
Kemudian, ia menghent ikan tertawanya, lalu dengan sorot mata
me mancarkan cahaya pembunuhan yang menggidikkan hati,
ujarnya dingin:
"Ciong Keh-teng, mala m ini kau pasti ma mpus...! Kalau
toh.......kawanan tikus dari Thi-kiong-pang kalian sudah
berdatangan semua, ...mengapa tidak suruh mereka ke luar se mua
untuk menghantar ke matiannya...!"
Paras muka Ku See hong penuh diliputi oleh hawa napsu
me mbunuh yang a mat tebal, suaranya pun dingin menggidikkan
hati . . . , sepatah demi sepatah pelan-pelan diucapkan, me mbuat
suaranya cukup menggetarkan sukma.
Ciong Keh-teng yang mendengar suara tertawa itu, kontan
merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia segera sadar

373
kalau pada ma la m ini, ia telah berjumpa dengan seorang musuh
yang amat tangguh.
Tempat dimana mereka berada sekarang, adalah sebuah
komple ks tanah pekuburan yang amat luas. Sejauh mata
me mandang hanya gundukan tanah dengan batu nisan yang
berserakan dimana-mana.
Sekeliling pekutburan tersebut, tumbuh puluhan batang pohon
Siong yang rata-rata tingginya mencapai tiga empat kaki, rantingnya
me manjang kesana kemari dengan daun yang lebat, bila terhembus
angin ma ka terdengarlah suara ge merisik yang a mat nyaring.
Kadangkala terdengar suara burung ma la m yang berpekik serta
bunyi jangkrik yang me mecahkan keheningan, kese muanya itu
mena mbah kesera man dan kengerian disekitar te mpat itu.
Sementara itu, dari atas gundukan tanah pekuburan telah
bermunculan ena m sosok bayangan manusia, bagaikan sa mbaran
burung elang . . . . .
"Sreeet! Sreeet!" diiringi desingan angin taja m, mereka terjun ke
tengah arena dan mengepung Ku See hong seka lian.
Menyaksikan kese mpurnaan ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki ke enam sosok bayangan manusia itu, paras muka La m-ciau
Pak-siang segera berubah a mat hebat....
Rupanya ke enam orang anggota Thi-kiong-pang tersebut tak
lain adalah ke enam orang Hiangcu dibawah pinpinan Sin-kiong
tongcu..., rata-rata berilmu tinggi dan merupakan jago kelas satu
didala m dunia persilatan.
Ketika Cu-sing-hui Ciong Keh-teng menyaksikan orang-orangnya
sudah berdatangan semua, keberaniannya semakin besar, sambil
tertawa dingin segera jengeknya:
"Enghiong dari manakah saudara ini? Aduh lagaknya sombong
benar .....!"

374
Walaupun begitu, nada ucapannya sudah tidak sebuas tadi lagi,
jelas dia merasa agak keder juga oleh keseraman wajah serta
ketajaman mata dari Ku See hong.
Paras muka Ku See hong tetap kaku tanpa emosi, dengan nada
sinis ujarnya:
"Manusia-manusia kelas tiga maca m kalian masih be lum pantas
untuk mengetahui na maku..., sekarang, bersiap saja untuk
menerima ke matian!"
Anggota perkumpulan Thi-kiong-pang rata-rata adalah manusia
bengis yang banyak melakukan kejahatan, naik pita mlah mere ka
setelah mendengar kejumawaan Ku See hong.
Kontan saja dengan kening berkerut, mata melotot, mereka
awasi si ana k muda itu tanpa berkedip.
Tadi, Cau-sang hui Ciong Keh-teng mau merendahkan diri untuk
mencari tahu na ma lawannya, hal ini tak lain karena dia agak keder
oleh sikap musuhnya yang luar biasa, tapi setelah menyaksikan
keangkuhannya yang begitu tebal, tanpa terasa kemarahannya
me luap juga.
Kontan saja dia mendonga kkan kepalanya dan
me mperdengarkan suara tertawanya yang menggidikkan hati:
'"Heeehhh.....heeehhh..... heeehhh,..... mala m ini, aku orang she
Ciong ingin sekali menyaksikan sa mpai dimanakah kelihayan dari
kau si bocah keparat sehingga begitu besar lagaknya dan bertinda k
semena-mena terhadap ka mi!"
Sementara suasana makin menegang, Biau-ki-s iang-su In Han Im
telah meninjau situasi yang dihadapinya, ia tahu ilmu silat yang
dimiliki Ku See hong lihay sekali, paling tida k ia masih sanggup
untuk menang-kan Cau-sang-hui..., itu berarti dia berdua harus
me lawan enam orang sisanya, dan dia yakin kekuatannya berdua di
paksakan,masih sanggup untuk me layani mereka...

375
Dasar orangnya me mang cerdik dan cekatan, setelah meninjau
keadaan yang dihadapi, Biau-ki siang-su menjadi aga k lega hatinya,
setelah tertawa nyaring, katanya:
"Ciong Keh-teng, masih selisih jauh sekali bila kau ingin
menganda lkan ilmu silat `kucing kaki tiga`mu untuk bertarung
me lawannya! Aku rasa lebih baik kau selesaikan dulu hutangmu
pada tiga tahun berselang dengan ka mi berdua!"
Tergerak hati Cau sang hui Ciong Keh-teng, setelah mendengar
ucapan itu dia segera tertawa licik.
"Bagus sekali! Bagus sekali! Boleh saja bila kau ingin ma mpus
lebih dahulu, pokoknya siapa duluan siapa bela kangan, selisih
waktunya sudah pasti tak a kan terlalu la ma.!"
"Orang she Ciong...!" bentak Sin hong hwee ciau dengan suara
mengge ledek, "Apa gunanya ngebacot melulu dengan mulut baumu
itu? Ka lau me mang jagoan, hayo maju, mari kita bereskan mat i
hidup kita diujung tinju! "
Agak geli juga hati Ku See hong setelah mendengar perkataan
itu, dia tak menyangka kalau lelaki kasar dan berangasan maca m
Sin hong hwee ciau ternyata lihay juga da la m bersilat lidah.
Cau sao hui Ciong Keh-teng segera tertawa dingin dengan suara
yang menyeramkan:
"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... Lui-Ki, jika kau pingin cepat-
cepat ma mpus, baiklah, aku orang she Ciong menghantar
keberargkatanmu lebih dulu!"
Baru saja kata `dulu` diucapkan keluar, sepasaag kaki Cau sang
hui Ciong Keh-teng sudah menjejak tanah, secepat sambaran petir
tubuhnya menerjang maju ke muka, telapak tangan kirinya berputar
menciptakan segulung desingan angin taja m, sementara telapak
tangan kanannya bagaikan sebilah pisau tajam menyodok kedepan
dari suatu sudut serangan yang sangat aneh.
Sebagai seorang jago kawakan yang sudah banyak tahun
berkecimpung da la m dunia persilatan, sudah barang tentu Sin hong

376
hwee ciau Lui-Ki cukup mengenali ke lihayan dari jurus serangan
tersebut.., dengan gusar dia me mbentak keras, kakinya berputar
seperti pusaran angin berpusing, tubuhnya yang tinggi besar segera
me layang sejauh tiga depa ke depan dan berbalik me nerjang sayap
kiri tubuh lawan.
Diantara getaran lengannya yang besar dan kasar, secara
beruntun dia telah lepaskan tiga buah serangan berantai, menyusul
ke mudian ka ki kirinya diayunkan ke muka menendang jalan darah
Im-kok hiat dilutut sebelah kiri lawan.
Agaknya Ciu sang hui Ciong Keh-teng tidak menyangka ka lau Sin
hong hwee ciau yang ta mpaknya kaku bebal serta la mban itu
ternyata me miliki ke lincahan yang luar biasa.
Sambil terawa dingin telak tangan kirinya diayunkan kedepan,
tubuhnya segera turut berputar pula dengan kencang......
"Weess. .. .!" telapak tangan kanannya dengan me mbawa deruan
angin pukulan yang berat seperti gulungan ombak sa mudra,
menghajar jalan darah Yang-wong hiat ditubuh Sin hong hwee ciau.
Buat seorang ahli silat hanya dalam satu gebrakan saja sudah
dapat diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak, ma ka begitu
mereka berdua saling menyerang sebanyak dua gebrakan, kedua
belah piha k segera sadar kalau musuhnya bukan seorang lawan
yang enteng.
Sepintas lalu Sin hong hwee ciau Lui-Ki tampa knya seperti kasar
dan berangasan, padahal dia adalah seorang yang cermat dan
seksama. Begitu pertarungan berkobar, ia segera menyadari ka lau
tenaga pukulan musuhnya bukan saja tidak selisih jauh dengan
kekuatannya, malah dalam hal ilmu meringankan tubuh serta
keanehan jurus serangannya, musuh lebih tinggi setingkat daripada
diri sendiri.
Kenyataan tersebut dengan cepat membuat Sin hong hwee ciau
yang selalu me mandang tinggi diri sendiri itu, merasa malu sendiri.

377
Dia m-dia m Sin hong hwee ciau Lui-Ki segera menggigit bibirnya
dan bertekad hendak beradu jiwa dengan orang itu, telapak
targannya yang besar seperti kipas segera diputar me mainkan
bayangan pukulan yang berlapis lapis, dalam waktu singkat se mua
jalan darah penting ditubuh lawan sudah dikurung olehnya.
Pada dasarnya dia berperawakan tinggi besar, tenaga
pukulannya pun sudah termasyur karena hebatnya, tampaklah
serangan tersebut dengan me mbawa deruan angin pukulan yang
amat kencang segera menggulung ke muka dengan hebatnya.
Dari gerak jurus serangan yang dipergunakan lawannya, Cau
sang hui Ciong Keh-teng segera sadar kalau musuhnya hendak
beradu kekuatan dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang
sempurna, sa mbil me mbentak keras, secepat kilat kakinya berputar
kencang dan bergerak kian ke mari mengandalkan kelincahan
tubuhnya.
Dala m keadan begini, kit itiran angin pukulan Sin hong hwee ciau
yang bertubi-tubi itu se muanya mengenai sasaran yang kosong.
Suatu ketika, Cau sang hui Ciong Keh-teng berhasil mene mukan
peluang yang sangat baik, sambil tertawa seram sepasang telapak
tangannya segera diputar sambil dirangkap menjadi satu, lalu
secara tiba-tiba dibalikkan keluar.
Segulung angin pukulan yang a mat dahsyat segera mengalir
keluar mengikati gerak telapak tangannya itu bagaikan bendungan
yang jebol saja, serangan itu dengan cepatnya menghanta m tubuh
Sin hong hwee ciau.
Tampanya Sin hong hwee ciau Lui-ki berniat untuk beradu
kekerasan, ia tak ambil perduli resiko yang bakal dihadapi, sambil
me mbentak keras tiba-tiba sepasang tangannya diayunkan pula
kedepan me lepaskan dua gulung tenaga pukulan yang maha dasyat
untuk menya mbut datangnya ancaman lawan.
Ketika itu Ku See hong telah berhasil mene mukan kalau dibalik
serangan dan Cau sang hui terselip serangan me matikan yang maha
keji, tampaknya orang itu me mang bertujuan untuk me mancing Sin
378
hong hwee-ciau agar menyambut datangnya ancaman tersebut
dengan kekerasan. Dalam kaget dan tercekatnya, buru-buru ia
me mbentak keras:
-oo0dw0oo-

Jilid: 12
“SAUDARA Lui, jangan kau sambut serangan itu dengan keras
lawan keras...!"
Seraya berseru, tubuh Ku See hong bagaikan sukma
gentayangan saja segera menerjang kesamping Sin hong hwee ciau,
telapak tangan kirinya diayunkan kedipan me lepaskan sebuah
pukulan yang maha dahsyat.
Deruan angin pukulan itu menerobos masuk lewat celah-celah
antara kedua gulungan tenaga pukulan tersebut dan langsung
menyergap jalan darah ke matian dipinggang Cau sang hui Ciong
Keh-teng.
Tenaga dalam yang dimilikinya sekarang telah memperoleh
ke majuan yang amat pesat, meski serangan tersebut dilancarkan
dengan begitu saja, namun dibalik serangan tersebut justru terselip
ancaman me mat ikan yang mengerikan.
Sesungguhnya Cau sang hui Ciong Keh teng berhasrat untuk
mence lakai Sin hong hwee ciau secara dia m-dia m ketika tenaga
pukulan masing-masing pihak saling me mbentur nanti, dia akan
segera mengeluarkan ilmu pukulan paling keji untuk me mbinasakan
lawannya.
Tapi, setelah dilihatnya ada sesosok bayangan manusia
menerjang tiba sekarang, lalu muncul segulung angin pukulan yang
sangat kuat menembusi anca man yang dilancarkan olehnya
terkesiaplah gembong iblis ini, dia tak berani menyambut dengan
kekerasan, sambil menghimpun tenaganya mendadak tubuhnya
me lejit ke atas.

379
Kepandaian yang paling diandalkan Cau-sang-hui Ciong Keh
teng dihari-hari biasa adalah ilmu meringankan tubuh, tampa k
tubuhnya me lejit ke tengah udara dengan kecepatan luar biasa,
begitu mencapai ketinggian dua kaki, dia segera berjumpalitan dan
me layang turun dua kaki dari posisi se mula.
Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan olehnya ini
me mang menunjukkan kelihayan kepandaiannya, hal mana
me mbuat Ku See hong segera berkerut kening.
Rupanya dia sedang berpikir dida la m hatinya, Cau Sang-hui
Ciong Keh-teng didala m perkumpulan Thi kiong pang tak lebih
hanya seorang jago kelas satu belaka, tapi ilmu silatnya sudah
mencapai sede mikian lihaynya, bisa diketahui kalau kepandaian silat
yang dimiliki pangcu serta para Hu-hoat nya pasti tak terkirakan.
Selain itu, diapun teringat dengan pesan terakhir dari San tian
han jiau (Cakar dingin secepat kilat) paman Sangkoan menje lang
ajalnya, menurut paman Sangkoan, musuh besarnya adalah
perkumpulan Thi-kiong pang serta Tian-khi pang, tapi dibalik layar
masih ada dalangnya…., dari sini dapat diketahui bahwa otak atau
dalang dibalik layar itu tentu me miliki ilmu silat yang amat dahsyat,
kalau tidak bagaimana mungkin kedua buah perkumpulan besar ini
dapat dikuasai olehnya?
`Aaaai...! Apa yang dikatakan suhu me mang benar, kekuatan
dari piha k lawan a mat dahsyat, sehingga bahkan dia sendiripun tak
berani menghadapinya dengan kekerasan.’
Begitulah, setelah malayang turun keatas tanah, Cau sang hui
CiongKeh-teng segera tertawa dingin, lalu sindirnya dengan nada
sinis:
"Huuuh. . . ., namanya saja Sin hong hwee-ciau yang tersohor di
dunia, tak tahunya cuma manusia kerdil yang mengharapkan
perlindungan diri seorang bocah muda, heeehhh.....heeehh.......
heeehh….... bila kabar ini sa mpai tersiar keluar, aku ingin tahu,
apakah kau masih punya muka untuk berjumpa dengan rekan rekan
persilatan!"

380
Cau sang hui Ciong Keh-teng merasa agak terkesiap menghadapi
kepandaian silat Ku See hong yang tinggi tak terukur itu, dia sadar
bahwa kepandaiannya seorang diri tak mungkin bisa menangkan
anak muda itu.
Maka timbullah niatnya untuk me manasi hati Sin hong hwe ciau
yang berangasan agar dia melancarkan serangannya lebih dahulu,
ke mudian dengan suatu serangan kilat dia hendak menyingkirkan
orang ini lebih dulu.
Bila musuhnya berhasil disingkirkan, baru lah dia akanbe kerja
sama dengan ketiga orang hiangcu-nya untuk mengalahkan Ku See
hong.
Sin hong hwe Ciau Lui-Ki merasa gusar sekali, sekalipun dia tahu
kalau tujuan musuh hanya untuk me manasi hatinya, tapi orang mati
meninggalkan na ma, macan mati menirgga lkan kulit, bagaimana
mungkin dia bisa menahan penghinaan serta ce moohan tersebut.
"Tua bangka she Ciong, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Berbareng dengan suara bentakan tersebut, angin pukulan dan
bayangan tendangan segera menyambar ke tubuh Cau san hui
Ciong Keh-teng dengan kedahsyatan seperti hembusan angin
puyuh.
Angin pukulan yang maha dahsyat segera bermunculan
diangkasa bagaikan mega yang berlapis-lapis, kekuatannya luar
biasa sekali, sedemikian rapatnya ancaman itu sehingga setitik celah
pun tak ada.
Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan marah,
kelihayannya tak terlukiskan dengan kata-kata.
Paras muka Cau sang hui Keh-teng segera berubah hebat, sambil
tertawa seram sepasang telapak tangannya di ayunkan ke udara
menciptakan serangkaian angin pukulan yang menyelimut i seluruh
angkasa bagaikan sarang laba-laba.
Untuk sesaat, kedua orang itu segera terlibat dalam suatu
pertarungan yang amat sengit.

381
Tampak debu dan pasir beterbangan me menuhi seluruh angkasa,
udara menjadi sesak dan badan berputar a mat kencang, sulit untuk
me mbedakan mana Cau-sang-hui dan mana Sin-hong-hwee-ciau.
Kekuatan tenaga pukulan dari kedua belah piha k pun ibaratnya
bukit yang berguguran, kehebatannya luar biasa.
Sementara pertarungan sengit masih berlangsung disebelah sini,
dipiha k la in Biau-ki-siang-su In-Han-im juga sedang dikurung oleh
enam orang hiangcu tersebut.
Enam batang busur baja seperti ena m ekor ular sakti
menciptakan cahaya hitam yang memenuhi angkasa, jurus demi
jurus serangan dilancarkan beruntun tertuju pada bagian bagian
me matikan di tubuh Biau-ki-siang-su. Mana dahsyat, keji lagi.
Betul Biau-ki-siang-su In Han-im terhitung seorang tokoh
persilatan yang tersohor namanya, tapi bagaimana mungkin dia bisa
tahan menghadapi serangan gabungan dari ke ena m orang itu?
Baru beberapa gebrakan, ia sudah terdesak sampai kacau balau
tak karuan, dengan cepat posisinya terdesak dibawah angin dan
terancam anca man maut.
Sepasang alis mata Ku See hong segera berkenyit, sorot matanya
me mancarkan sinar pe mbunuhan yang menggidikkan hati, pekikan
nyaring yang meme kikkan telinga dengan cepat berkumandang
me mecahkan keheningan........
Ku See hong segera melompat ke udara seperti seekor burung
raksasa, sesudah berputar satu lingkaran, lalu bagaikan naga sakti
terbang di angkasa, dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia
terjang ke arah ke enam orang Hiangcu yang sedang mengerubuti
Biau-ki-siang-su In Han im tersebut.
Ketika salah satu diantara ke enam orang Hiangcu itu
menyaksikan Ku See hong menerjang datang dengan kecepatan luar
biasa-, busur baja ditangannya segera diputar satu lingkaran
menciptakan selapis cahaya hita m yang menyilaukan mata,

382
ke mudian di sertai suara guntur dan angin yang mende ru deru, ia
hantam batok kepala Ku See hong.
Kawanan Hiangcu itu merupakan jago jago kelas satu dalam
dunia persilatan yang berilmu tinggi, tenaga dalam yang mereka
miliki pun a mat sempurna, tak terlukiskan dahsyatnya serangan
yang dilancarkan itu.
"Criiing!" "Criiing..!” dentingan nyaring menggelegar bersa ma
dengan datangnya sambaran dari busur baja itu.
Bukan cuma jurus serangannya saja yang amat cepat,
ancamannya juga mengerikan sekali.
Berada ditengah udara, mendadak Ku See hong berjumpalitan ke
samping meloloskan diri dari anca man berbahaya itu, lalu sambil
tertawa dingin mendadak tubuhnya berkelit kesamping, bagaikan
sukma gentayangan dia sudah berpujar ke sebelah kananHiangcu
tersebut.
Agaknya Hiangcu tersebut tidak menyangka ka lau sergapan
kilatnya berhasil dihindari lawan dengan a mat mudah, tapi diapun
cukup pintar dan cekatan, begitu serangannya gagal, badannya
berputar dan melejit sejauh delapan depa dengan gesit, sementara
busur bajanya diayunkan ke muka menciptakan selapjs cahaya
tingkatan yang dala m bagaikan sa mudra.....
"'Sreeet!" diiringi suara desingan taja m, busur baja itu bagaikan
seekor ular lincah mendadak menyerang jalan darah Pay-gi hiat di
punggung Ku See hong.
Jurus serangan ini selain keji juga ganas tapi indah seka li
gerakannya.
Ku See hong mendengus dingin, kakinya berputar secara aneh,
ke lima jari tangan kirinya direntangkan bagaikan ca kar elang dan
mencengkeram busur baja itu secara tiba-tiba, kemudian sambil
menyentil, benda itu digetarkan keras-keras.
Hiangcu itu segera merasakan pergelangan tangannya menjadi
kaku dan kesemutan, tahu-tahu busur baja itu terlepas dari cekalan,

383
sementara tubuhnya turut terseret pula ke depan oleh segulung
tenaja kuat itu sehingga terseret kedepan.
Ilmu Ki-nah-jiu-hoat yang dipergunakan Ku See hong kali ini
betul-betul sangat lihay dan luar biasa, begitu busur baja tersebut
berhasil dira mpasnya, kebetulan Hiangcu itu pun sedang menerjang
datang, hal mana segera menimbulkan napsu me mbunuh didala m
hatinya.
Busur baja yang berada ditangan kirinya dengan me mbawa
desingan angin tajam segera dibabat kedepan.
Tak se mpat menjerit kesakitan lagi, batok kepala Hiangcu itu
segera terpapas oleh busur baja yang tajam itu, ditengah percikan
darah segar, batok kepala itu mengge linding sejauh tiga kaki lebih.
Cara membunuh orang semaca m ini boleh dibilang tak pernah
dijumpai sebelumnya, kekejamannya cukup menggidikkan hati
orang.
Sambil menggenga m busur bajanya erat-erat ditangan kiri, Ku
See hong bergerak makin kedepan, kali ini dia menyambar ke
samping seseorang hiangcu yang lain, tangan kirinya diputar dan
busur baja itu dengan menciptakan selapis cahaya hitam langsung
me mbacok tubuh Hiangcu tersebut.
Dika la menangkap bergemanya suara desingan angin tajam dari
arah belakang, Hiangcu itu segera berpaling ke be lakang, dengan
cepat dia telah bertemu dengan sepasang sorot mata yang tajam
seolah-olah hendak mene mbusi ulu hati orang saja.
Dala m terperanjatnya, busur bajanya segera disapu ke depan
dengan gerakan datar menyusul kemudian tubuhnya ikut berkelebat
pula keluar.
Busur baja ditangan kiri Ku See hong segera mencukil pelan,
busur baja lawan dengan cepat tercukil sehingga terlepas dari
cekalan.

384
Seperti bayangan setan, Ku See-hong segera melompat maju
kedepan, busur bajanya sekali lagi menyapu ke muka dengan jurus
serangan yang aneh, ganas dan buas.
Serentetan jeritan aneh yang me milukan hati ke mba li
berkumandang me mecahkan keheningan, diantara percikan darah
yang me mancar ke e mpat penjuru, Hiangcu itupun menjadi setan
tanpa kepala . . . .
Dala m sekali lompat saja, Ku See hong telah me mbunuh dua
orang Hiangcu dari perkumpulan Thi-kiong-pang. Serentetan
gerakan ini dilakan tak lebih dala m se kejap mata, kenyataan yang
amat menggidikkan hati ini kontan saja me mbuat keempat orang
Hiangcu lainnya menjadi ge mpar, serentak mereka berlompatan
keluar dari arena pertarungan.
Dengan mundurnya keempat orang hiangcu tersebut, Biau-ki-
siang-su In Han Im baru me mperoleh kese mpatan untuk mengatur
napas mimpipun dia tak menyangka kalau kepanda ian silat yang
dimiliki Ku See hong telah mencapai tingkatan yang begitu tinggi,
tapi setelah menyaksikan caranya me mbunuh orang, bergidik juga
hatinya.
Dia lantas sadar bahwa dunia persilatan telah muncul seorang
pembunuh, malah ke mungkinan besar keganasannya tidak berbeda
dibawah kebuasan Bun-ji-koan-su dimasa lalu.
Dala m pada itu, hawa napsu me mbunuh dari Ku See hong telah
berkobar, menyaksikan kee mpat orang Hiang-cu itu mundur ia
segera me mperdengarkan suara tertawa panjang yang
menggidikkan sukma........
Seperti bayangan saja dia mengejar kemuka, busur bajanya
berputar bagaikan serentetan cahaya hitam yang menyilaukan mata,
bagaikan ombak sa mudra saja, dengan cepatnya menyebar ke
empat penjuru dan menggulung se mua rintangan yang dihadapinya.
Sebagai anggota Thi-kiong-pang, ke e mpat orang Hiangcu itu
sudah me mperoleh pendidikan yang cukup ketat, mereka sadar
bahwa meacerai-beraikan kekuatan tak lebih hanya me mpercepat
385
ke matian sendiri, maka timbullah tekad mereka untuk
menggabungkan ke kuatan mereka yang ada untuk bersama-sana
menghadapi serangan lawan.
Serentak keempat orang itu me mperdengarkan suara pekikan
anehnya sebagai tanda, empat buah busur baja bergabung
menciptakan berlapis-lapis cahaya dingin yang tebal bagaikan
sebuah bianglala panjang, dalam waktu singkat tenaga itu sudah
menya mbar kee mpat punjuru dan me mbendung datangnya hawa
pembunuhan yang terpancar keluar dari si ana k muda itu.
Tapi gejala se maca m itupun hanya berlangsung untuk sesaat,
dalam wa ktu singkat suasana tadi tercerai-berai kembali oleh
terjangan hawa pembunuhan yang menggetarkan sukma.
Seluruh benak Ku See hong ketika itu sudah dipenuhi oleh hawa
napsu mengerikan, sorot matanya memancarkan cahaya bengis
yang menggetarkan sukma lalu tertawa dingin.
Suara tertawanya kedengaran bagaikan he mbusan angin dingin
muncul dari gudang-salju, me mbuat siapapun yang mendengarkan
merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Setelah tertawa dingin busur baja ditangan kiri Ku See hong
segera meluncur kedepan seperti sebatang anak panah yang
terlepas dari busurnya, serangan itu tertuju kearah sa lah seorang
diantara keempat orang Hiangcu tersebut, sementara tangan
kanannya pada saat yang hampir bersamaan melepaskan segulung
desingan angin pukulan yang dingin dan kuat menyerang kearah
orang yang sama.
Hiangcu itu segera merasakan timbulnya segulung desingan
angin pukulan berhawa dingin yang menyesakkan napas mene kan
keatas wajahnya. Mendadak serentetan cahaya hitam meluncur tiba
pula dengan kecepatan tinggi, sedemikian cepatnya sehingga ia tak
sempat melihat jelas benda apakah itu.
Jeritan ngeri yang memilukan hati ke mbali berkumandang
me mecahkan keheningan tahu-tahu badannya sudah terte mbus oleh
sambaran busur baja itu hingga te mbus dipunggungnya.
386
"Blaa mm.......!" ditengah benturan dahsyat badannya termakan
pula oleh tenaga pukulan yang sanggup menghancurkan batu
cadas itu.
Tak ampun lagi, kee mpat anggota badannya tercerai-berai,
daging dan darah berserakan me menuni permukaan tanah,
ke matiannya benar-benar mengerikan.
Berhasil menghabisi nyawa orang itu, Ku See hong segera
merentangkan ke lima jari tangan kirinya, setelah membuat satu
lingkaran busur lalu disentilnya kedepan.
"Sreet.., sreet..!" ditengah desingan yang menderu-deru, lima
gulung angin serangan yang tajam menyergap Hiangcu la innya.
Sedemikian cepatnya serangan itu dilancarkan, seolah olah baru
saja tangan kirinya menyambitkan busur baja itu,tangan kanannya
turut bergerak pula.
Baru saja salah seorang Hian Su, diantara tiga orang yang masih
hidup, mendengar rekannya menjerit kesakitan, segulung desingan
angin tajam yang luar biasa hebatnya telah menembusi lapisan
cahaya busur bajanya yang tebal.
Didala m kaget dan tercekatnya, serentak ketiga orang itu
me lompat mundur ke belakang.
Tapi sayang, gembong pembunuh muda itu sudah terlanjur
mengincar seorang korbannya, secepat-cepatnya orang itu berkelit,
toh waktunya tetap terlambat selangkah.
'Sreet...! Sreet…!' ditengah desingan angin taja m, serentetan
jeritan ngeri yang me milukan hati ke mbali berkumandang
me mecahkan keheningan.
Bagian me matikan dari tubuh bagian atas orang itu tahu-tahu
sudah dite mbusi oleh ke lima gulung desingan angin taja m itu hingga
tembus kedala m dadanya, darah segar segera memancar ke luar
seperti sumber mata air. Tubuhnya yang tinggi kekar itu kontan
mercelat sejauh enam tujuh langkah oleh he mbusan angin pukulan

387
yang sangat kuat itu sehingga badannya roboh terkapar ditanah dan
tewas seketika.
Dua orang sisanya segera sadar kalau gelagat tidak
menguntungkan, bila sekarang tida k kabur, bisa jadi jiwanya akan
terancam. Maka mereka berdua segera menyebarkan dirike kiri dan
kanan ke mudian me lesat kedepan untuk menyela matkan diri.
Ku See hong bepekik panjang dengan suara yang membetot
sukma, tubuhnya seperti seekor burung elang raksasa segera
me luncur ke tengah udara dengan kecepatan tinggi.
Mendadak.......,
pada saat itulah serentetan pekikan nyaring ke mba li berge ma
me mecahkan keheningan . . . . .
Kini ditangan Ku See hong telah berta mbah dengan sebilah
pedang panjang yang memancarkan cahaya merah yang berkilauan.
Itulah pedang Ang-soat-kiam yang pernah menggetarkan dunia
persilatan pada tigaratus tahun berselang atau sekarang lebih
dikenal sebagai pedang mest ika Hu-thian seng-kia m!
Pada saat pedang itu dilancarkan, tubuh Ku See hong telah
me mbaur menjadi satu dengan cahaya pedang yang me mancar
bagaikan air terjun itu, secepat kilat berke lebat lewat ditengah
udara.
Sedemikian cepatnya cahaya pedang tersebut berkelebat lewat
sehingga pada hakekatnya sukar untuk membeda kan mana cahaya
pedang dan mana yang cahaya bianglala.
Serentetan jeritan ngeri yang me milukan hati ke mba li
berkumandang me mecahkan keheningan. Tubuh si Hiangcu yang
me layang di angkasa itu sudah terpapas kutung menjadi tiga bagian
ditengah udara, darah segar berhamburan ke mana-mana,
ke matiannya benar-benar mengerikan.
Berada ditengah udara, tiba-tiba Ku See hong me mutar
badannya, lalu me mbentak keras, seluruh tubuhnya telah berputar
arah dan meluncur ke arah seseorang lainnya.

388
Gerakan pedangnya berkelebat lewat seperti hembusan angin
puyuh, selapis cahaya tajam me luncur ke depan menciptakan
selapis bukit pedang yang berwarna warni. Selapis hawa pedang
yang menggidikkan hati dengan cepat menyergap ke arah tubuh si
Hiangcu yang baru saja akan me layang turun keatas tanah itu.
Serentetan jeritan ngeri yang me milukan hati ke mba li
berkumandang me mecahkan keheningan, sebutir batok kepala telah
terpapas hancur oleh kilatan cahaya pedang, darah segar segera
me mancar ke mana mana dan ke matiannya a mat mengenaskan.
Setelah itu.... seluruh hawa pedang yang menyilaukan ma ka
menjadi pudar, Ku See hong dengan wajah dingin seperti es dan
bertangan kosong telah berdiri kaku diatas tanah, sementara
sepasang matanya yang tajam menggidikkan hati menatap ke enam
sosok mayat yang tak utuh itu tanpa berkedip.
Sedihkah dia?
Atau merasa ge mbira dengan hasil yang berhasil dicapainya kini?
Biau-ki siang-su In Han im merasakan pandangan matanya
seolah olah menjadi kabur..., dia hanya merasa selapis kabut merah
yang menyilaukan mata berkelebat lewat didepan mata, lalu dalam
beberanpa kali ke lebatan saja, dua orang yang terakhirpun telah
roboh binasa diatas tanah.
Ternyata ilmu pedang yang dpergunakan Ku See hong adalah
salah satu jurus serangan dari tiga jurus ilmu pedang yang
tercantum dala m kitab kecil peningga lan Si hong Lo jin yang disebut
Hui-hong-che ki-hiat seng-wi (Bianglala tiba-tiba Muncul Bau A mis
dan Me mancar)...!
Si-hong lo jin adalah seorang tokoh sakti yang luar biasa dari
dunia persilatan, ilmu pedangnya boleh dibilang sudah merajai
seluruh kolong langit. Sebelum ajalnya tiba, dia telah menghimpun
semua inti sari ilmu pedang yang ada didunia ini, dengan
mengorbankan waktu selama tiga tahun untuk menciptakan jurus
pedang baru.

389
Bisa dibayangkan betapa sakti dan luar biasanya jurus serangan
hasil ciptaannya itu, selain ganas juga lihay sekali.
Setelah me loloskan pedang Hu-thian seng-kia mnya dari dala m
sarung tadi, Ku See hong segera me lebur tubuhnya menjadi satu
dengan senjata tersebut untuk me mbunuh seseorang ditengah
udara, kemudian sa mbil me mba likkan badan dia me mbunuh pula
Hiangcu yang terakhir, se mua gerakan ini dilakukannya dengan
kecepatan luar biasa.
Oleh karena itu, Biau-ki siang-su In Han im hanya merasakan
berkelebatnya cahaya bianglala didepan mata, sedemikian cepatnya
gerakan itu sehingga pada hakekatnya ia tak sempat menyaksikan
gerakan Ku See hong sewaktu mencabut pedang maupun
menyarungkan ke mbali pedangnya.
Mendadak.....,
Dari arah sebelah sana berkumandang suara dengusan tertahan,
lalu ta mpaklah bahu kiri Sin hong hwee ciau Lui-Ki kena dihajar
telak oleh serangan Cau seng hui Ciang Keh-teng sehingga muntah
darah segar, dengan sempoyongan tubuhnya segera mundur sejauh
beberapa langkah.
Sementara pertarungan sengit berkobar tadi, Cau sang hui Ciong
Keh-teng telah mengetahui kalau enam orang hiangcu-nya telah
mati secara mengerikan se mua ditangan pe muda itu.
Dengan hati yang amat sakit seperti ditusuk pisau, dia segera
menge luarkan sejurus serangan me matikan yang amat ganas,
dengan telak anca man itu bersarang ditubuh Sin hong hwee-ciau.
Saat ini, kobaran hawa napsu me mbunuhnya sudah me mbara
dalam dadanya, ia bertekad untuk me mbunuh setiap musuh yang
dijumpainya, melihat Sin hong hwee ciau mundur dengan me mbawa
luka, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan korbannya
dengan begitu saja.
Serentetan suara pekikan nyaring mirip jeritan setan atau
lolongan serigala dengan cepat bergema me mecahkan keheningan.

390
Secepat sambaran petir Cau sang hui Ciong keh-teng mengejar
kedepan, kesepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar dengan
me mbawa serentetan desingan angin pukulan yang tajam, ia
cengkeram belasan buah jalan darah penting ditubuh bagian atas
Sin hong hwee-ciau.
Pada dasarnya dia me mang sudah berniat untuk me mbunuh
lawannya, tentu saja kekuatan yang disertakan dalam serangan itu
luar biasa seka li hebatnya.
Sejak terma kan pukulan dahsyat dari Cau sang hui Ciong Keh-
teng tadi, Sin hong hwee ciau Lui-Ki sudah merasakan darah panas
dalam dadanya bergolak keras, coba kalau tenaga dalamnya tidak
sempurna, niscaya sele mbar jiwanya sudah me layang.
Walaupun begitu, pada saat itu ia sudah tak sanggup lagi untuk
menghindarkan diri dari sergapan maut itu, tampaknya ia segera
akan tewas diujung telapak tangan lawan.
Ketika Biau-ki siang-su In Han im menyaksikan adik angkatnya
berada ditepi jurang ke matian, dengan cepat dia me mbentak keras,
tubuhnya segera melayang maju ke depan.
Tapi sesosok bayangan manusia lain bagaikan sa mbaran setan
gentayangan saja tahu-tahu sudah tiba lebih dulu disisi tubuh Siu
hong hwee- ciau, sebuah pukulan yang bertenaga lembek segera
me luncur keluar dari ba lik telapak tangan kanannya.
Mendadak.... udara serasa diliputi kabut tebal dan angin
menderu-deru, ke mudian menyusul munculnya selapis cahaya
merah yang berkilauan, daya tekanan yang timbul die mpat penjuru
pun ma kin la ma sema kin me mberat bagaikan gencetan bukit
karang.
000OdwO000

Bab 18

391
“BLAAAAMMM . . . . !” benturan keras yang memekikkan telinga
segera bergema bersa maan dengan saling me mbenturnya dua
gulung kekuatan yang maha dahsyat.
Desingan angin taja m segera me mancar ke e mpat penjuru.......
Rambut panjang Cau sang hui Ciong Keh-teng terurai kacau ke
bawah, noda darah membasahi ujung bibirnya paras mukanya pucat
kehijau-hijauan, kulit mukanya mengejang keras menahan
penderitaan.
Dengan se mpoyongan tubuhnya mundur sejauh e mpat lima
langkah dari posisi semula, lalu dengan sorot mata yang memerah
me mbara, dia awasi wajah Ku See hong dengan penuh kegusaran.
Paras muka Ku See hong sendiripun dingin seperti es, matanya
me mancarkan cahaya menggidikkan, dengan suara yang kaku,
katanya:
“Ciong Keh-teng, sekarang kau sudah berada di a mbang pintu
ke matian, agar kau ma mpus dala m keadaan jelas, maka akupun
akan me mberi sedikit keterangan kepada mu, aku bersikap de mikian
kepada kalian karena perbuatan keji kalian telah menggusarkan
Thian dan merisaukan umat persilatan.
“Sauya-mu tak lain adalah putranya Ku-Kia m-cong, pangcu dari
perkumpulan Kim-to-pang yang berna ma Ku See hong ..., “
“Manusia aneh dari dunia persilatan Bun-ji-koan-su adalah
guruku!”
“Nah, beberapa maca m denda m kesumat sedalam lautan ini
tentunya pantas bukan bila kutuntut balas?!
Sekarang, kau boleh ma mpus dengan perasaan lega!”
Ketika selesai mendengarkan perkataan dari anak muda itu,
paras muka Cau-sang-hui C iong Keh-teng yang semula berwarna
pucat pias itu, kini telah berubah ma kin mengenaskan, kulit
wajahnya mengejang keras me mbentuk garis garis kerutan
yang,penuh dengan rasa mengerikan….

392
Mati adalah suatu kejadian yang akan dialami setiap manusia.
Tapi bila seseorang sudah berada dia mbang pintu ke matiannya
entah bagaimanapun buas dan kejinya dia, sedikit banyak rasa sedih
dan menyesal akan timbul juga diatas wajahnya.
Yaa, sesungguhnya dari dulu sampai sekarang, hanya berapa
orangkah yang bisa me mandang ke matian sebagai sesuatu kejadian
yang wajar? Semut saja masih ingin hidup, apalagi manusia...
Pelan-pelan Ku See hong mengangkat telapak tangan kanannya,
kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar, ke mudian diantara
sentilan dan getaran tangannya, lima gulung desingan angin taja m
segera meluncur keluar dari ujung jarinya.
Mendadak.....
Serentetan jeritan ngeri yang memekikkan telinga berkumandang
me mbe lah keheningan ma la m.
Tampak sepasang tangan Can sang hui Ciong Keh menekan
diatas dada serta lambungnya, lalu dengan wajah pucat pias keabu-
abuan selangkah de mi selangkah ia mundur ke be lakang, darah
kental bercucuran dari ujung dada dan bibir, la mbungnya.
Sepasang mata Cau sang hui Ciong Keh-teng terbelalak lebar-
lebar, sorot mata tajam me mancar keluar dari balik matanya, tapi
sekarang bukan sarot mata yang diliputi rasa benci dan buas. Tapi
sorot matanya sekarang adalah sorot mata yang lembut, penuh rasa
penyesalan,rasa malu dan iba . . . . .
Bibir Cau sang hui Ciong Keh-teng bergetar seperti ingin
mengucapkan sesuatu,tapi tenaganya sudah tidak me menuhi
keinginan hatinya, tapi anehnya dia masih tetap berdiri tegak,
matanya masih tetap menatap wajah Ku See hong tanpa barkedip.
Akhirnya dari tenggorokannya berkumandang suara gemuruh
yang parau dan tidak jelas:
"Ku sauhiap, loo.... lohu tidak mee...me..nyesal mee....meski
tewas dii...ditangan...mu.., tapi . . . . . . . . Ban-sia-kaucu

393
tee...te..lah menggerakkan kekuatannya uuu...untuk menguasai
jaa...ja... jagad............ kau......!"
Yaa, bila seseorang sudah tahu kalau ajalnya ha mpir tiba, apa
yang diucapkan sebagai akhir katanya adalah kata-kata yang
bernada jujur dan penuh kebajikan.
Beberapa patah kata dari Cau sang hui Ciong Keh-teng ini
diucapkan dengan nada yang mengenaskan, me mbuat semua orang
yang mendengarkan serta merta merasakan hatinya menjadi iba.
Dengan suatu gerakan cepat Biau-ki siang-su In Han im segera
menubruk ke muka, setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba
saja hatinya merasa ge metar keras.
"Saudara Ciong..!" serunya dengan gelisah "Tolong berbicara
agak jelas, Ban-sia kaucu henda k me laksanakan rencana kejinya
terhadap siapa? Cepat katakan! Cepat katakan..!"
Agaknya Cau sang hui Ciong Keh-teng masih se mpat mendengar
perkataannya itu, bibirnya bergetar seperti mau menjawab akan
tetapi tiada suara yang terdengar, cengkeraman maut dari mala ikat
ke matian telah merenggut se le mbar jiwanya dari tubuh kasarnya.
Ku See hong segera menghela napas sedih, guma mnya:
"Heran, mengapa manusia sela lu keras kepala, sebelum ajalnya
menje lang tiba ia enggan menjadi sadar, aaai. ...! Inilah suatu
tragedi bagi umat manusia; juga merupakan watak paling jelek dari
umat manusia..... selama hidup Ciong Ken-teng mela kukan banyak
kejahatan, seluruh tubuhnya penuh dengan dosa tapi menje lang
saat ajalnya, dia telah mene mukan ke mbali ke muliaan hatinya, bila
dibandingkan dengan orang-orang berdosa yang sampai manje lang
ajalnya tiba pun tak mau bertobat, ia me mang jauh lebih tangguh! "
Biau-ki siang-su In Han im turut menghela napas sedih, pelan-
pelan dia me ngha mpiri Sin hong hwee ciau, merogoh kedala m
sakunya menge luarkan sebuah botol kecil, lalu mengeluarkan
sebutir pil dan dicekokkan kedala m mulutnya.

394
Pelan-pelan Ku See hong turut berjalan me ndekat, lalu tanyanya
dengan suara le mbut:
"Paman In, siapakah yang dimaksudkan sebagai Ban-sia kaucu
oleh Ciong Keh teng menjelang ajalnya tadi?"
Biau-ki siang-su in Han Im menghe la napas panjang.
"Aaai.... ancaman bahaya maut yang menganca m dunia
persilatan belakangan ini adalah kelompok dari perkumpulan Ban-s ia
kau. Tentang keadaan yang sebenarnya dari Ban-sia-kau dan
organisasi macam apakah perkumpulan itu, aku belum se mpat
menyelidikinya sampa i jelas, konon kaucu-nya adalah seorang
wanita, tapi ilmu silatnya begitu lihay sehingga tak tertuliskan
dengan kata-kata !"
Ku See hong termenung dan berpikir sebentar, lalu tanyanya lagi:
"Apakah Ban-sia-kau yang telah menguasahi Thi-kiong pang
serta Jian-khi pang?"
Biau-ki siang-su In Han im segera mengangguk.
"Yaa, benar. Ban-sia kau me mang merupakan perkumpulan yang
telah menguasahi Thi kiong pang dan Jian khi pang menurut
dugaanku, Ban-sia-kau sudah pasti ada hubungannya dengan
pertarungan berdarah di bukit Soat-san tempo dulu, lenyapnya
sekawanan jago lihay didalam dunia persilatan pun besar
ke mungkinan merupakan rencana keji dari Ban-sia-kau…. . . . .!!"
Begitu mendengar tentang pertarungan berdarah di bukit Soat-
san, Ku See hong segera merasakan darah panas didalam tubuhnya
mendidih, gurunya dan kedua orang tuanya telah terlibat dala m
pertempuran berdarah itu, kemudian terbunuh pula secara
mengenaskan, siapa kah dalang dari se mua peristiwa berdarah ini?
Mendadak..... Biau-ki-siang-su In-Han-im bertanya kepada Ku
See hong:

395
"Ku lote…, sebelum mati apakah gurumu pernah mengungkap
keadaan yang sebenarnya tentang peristiwa berdarah di bukit Soat-
san?"
Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, menjelang
ajalnya Bun-ji koan-su me mang telah mengisahkan ceritanya yang
mengenaskan, ia menyuruhnya agar mengingat selalu kisah
tersebut, tapi melarang untuk diberitahukan kepada orang lain.
Betul Biau-ki-siangsu terhitung seorang pende kar kaum lurus
dalam dunia persilatan, namun dia tak ingin mengingkari
sumpahnya terhadap gurunya.
Maka dengan wajah berat hati serta nada minta maaf, Ku See-
hong berkata:
"Paman In, menje lang ajalnya guruku me mang pernah
me mbicarakan tentang peristiwa dibukit Soat-san, tapi dia orang tua
pernah berpesan agar aku tidak me mbocorkannya kepada orang
lain. Oleh sebab itu harap kau suka me maafkan kesulitanku ini."
"Aaaai . . . !" Biau-ki siangsu In-Han-im menghe la napas sedih,
"Setiap orang yang turut hadir dalam pertempuran di bukit Soat-
san, asal dia termasuk seorang berjiwa lurus, ka lau bukan jejaknya
tak diketahui lagi,... pasti tewas secara mengenaskan! Yang tersisa
pun kini hanya tinggal manusia-manusia la knat berhati busuk dan
keji."
"Dala m dunia persilatan yang begini luas, hanya kau seorang
yang mungkin mengetahui duduk persoalan ini yang sebenarnya
...!"
"Orang persilatan me mang mengutama kan soal kepercayaan,
aku cukup me maha mi kesulitanmu itu, harap jangan merasa sedih.
Sekarang aku akan berusaha untuk mengungkapkan semua jejak
atau titik terang yang berhasil kuketahui kepadamu, bila bahan
bahan keteranganmu tentang pertarungan dibukit Soat-san
sehingga berhasil menyelidiki usal usul dari Ban-sia kaucu tersebut.
Andaikata kau dapat menyelamatkan umat persilatan dari suatu

396
badai pembunuhan, jasa ini benar-benar suatu jasa yang amat
mulia."
Ku See hong merasa a mat terharu, serunya dengan cepat:
"Paman In, aku benar-benar berterima kasih seka li atas kasih
sayangmu, budi kebaikan ini terukir dala m dala m dilubuk hatiku
sampai matipun tak dapat kulupakan. Terus terang kukatakan,
dendam kesumat diriku sendiri juga ada sangkut pautnya dengan
peristiwa ini, jika teka-teki ini dapat diungkapkan, sekalipun harus
mendaki bukit golok atau terjun kecuali berisi minyak mendidih
sampai hancurpun, aku pasti akan berusaha untuk melenyapkan
kaum laknat tersebut!"
"Sela ma hidup aku In Han im, tak pernah menaruh perhatian
terhadap orang lain......" kata Biau-ki siang-su In Han im ke mudian
dengan penuh perhatian,
“Tapi se menjak bertemu dengan lote, aku merasa amat
menguatirkan sekali tentang keselamatanmu, aku merasa seakan-
akan me mpunyai ikatan batin denganmu, apalagi dikalangan kaum
lurus dala m dunia persilatan dewasa ini, hanya kau seorang yang
mengetahui rahasia pertempuran berdarah dibukit Soat-san. Bila hal
ini sa mpai diketahui oleh gembong-ge mbong iblis tersebut, sudah
dapat dipastikan kesela matan jiwa mu pasti akan teranca m setiap
saat!"
Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku
See hong, katanya dengan penuh kebencian:
"Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir, beruntung atau
sengsara sudah merupakan nasib, bila kawanan ge mbong iblis itu
berani datang mencari gara-gara denganku.... Hmmm! Akan
kuberikan suatu pertunjukan bagus kepada mereka satu persatu
akan kujagal mereka sa mpa i ludas!"
"Ku lote…!" kata Biau-ki siang-su In Han im,
"Meskipun kau me miliki ilmu silat yang amat tinggi, namun
musuh berjumlah banyak dan lagi merupakan ge mbong-ge mbong

397
iblis dan pentolan-pentolan Liok-lim yang termashur na manya
didunia ini, sepasang tangan sukar me lawan e mpat tangan, aku
harap kau suka bertinda k lebih berhati-hati janganlah terlalu
menurut i e mosi. Ketahuilah, nasib dari beribu-ribu umat persilatan
serta kewajiban untuk menegakkan ke mbali keadilan serta
kebenaran dalam dunia persilatan telah terjatuh ditanganmu
seorang, kematianmu me mang soal kecil tapi akibatnya besar!”
Mendengar perkataan itu, diam-dia m Ku See hong merasakan
hatinya terkesiap, pikirnya;
'Dulu suhu tidak menje laskan sebab musababnya justeru lantaran
takut kalau aku bertindak secara gegebah. . ., betul ilmu silat yang
kumiliki belakangan ini telah me ndapat ke majuan yang pesat,
apalagi akupun me miliki pedang Ku-thian-seng-kia m yang sangat
tajam,tapi untuk menghadapi musuh yang berjumlah begitu banyak,
aku me mang merasa kecil seka li, aaai...!
Nasibku telah ditakdirkan begini, siapa pula yang bisa
merubahnya? Apalagi jika pedang Hu-thian seng-kia m sa mpa i
diketahui orang sebagai pedang Ang-soat-kiam -nya Sihong lo jin
dimasa lalu, bukan cuma orang-orang dari golongan sesat, saja
yang akan merebutkannya, bahkan orang-orang dari golongan putih
pun akan secara terang-terangan me musuhi a ku.’
Berpikir sa mpai diini, Ku See hong betul-betul merasa a mat
sedih, murung dan kesepian.
Tapi selang beberapa saat ke mudian, dengan kening berkerut
dan nada yang tegas dia berkata:
"Bagaimanapun juga, aku akan me mikul tanggung jawab atas
mati-hidupnya dunia persilatan, tapi aku Ku See-hong sudah
ditakdirkan hidup seorang diri. Musuhku mungkin bukan cuma
orang-orang dari kaum sesat saja, melainkan seluuh umat persilatan
yang ada didunia ini."
Terkesiap sekali Biau-ki siang-su In Han im setelah mendengar
perkataannya itu. Dengan perasaan tidak mengerti segera tanyanya:

398
"Apa maksud perkataan itu?"
"Paman In " ujar Ku See Hong dengan sedih, rahasia di balik
kesemuanya itu akan kau paha mi sendiri dike mudian hari, sekarang
maafkanlah kalau aku tak dapat me mberitahukan kepada mu."
Biau-ki siangsu In Han im adalah seorang yang cerdas, semenjak
berjumpa denga Ku See hong, dia sudah merasakan bahwa pemuda
ini me miliki banyak ke istimewaan yang berbeda dengan manusia
biasa. Dalam ha l apapun dia selalu mendatangkan suatu perasaan
rahasia dan misterius me mbuat orang jadi tak habis mengerti.
Maka setelah mendengar perkataan itu, dia lantas tahu kalau asal
usul maupun kehidupan selanjutnya dari pemuda itu bukanlah suatu
kehidupan yang biasa...
Dengan cepat Biau-ki siang-su In Han im mengalihkan
pembicaraan ke soa l la in, katanya ke mudian:
"Situasi didala mi dunia persilatan dewasa ini sudah bukan
masalah perselisihan antara perguruan atau dendam kusumat
antara perorangan lagi, Keadaannya sekarang betul-betul sudah
kalut dan kacau balau sehingga segenap umat persilatan boleh
dibilang sudah terlibat dan bersama-sa ma menuju ke hari Kia mat. .
.!"
"Kini se mbilan Partai besar dari daratan Tionggoan sudah tak
dapat berpeluk tangan belaka; mereka masing-masing telah
mengirim jago-jago lihaynya untuk menyelidiki keadaan yang
sebenarnya, namun kunci paling penting diantara sekian masalah
masih tetap terletak pada tubuh Ban-sia kaucu tersebut!"
"Oleh sebab itu, tugas pertama yang harus dilaksanakan
sekarang adalah menyelidiki siapakah kaucu dari Ban-sia-kau
tersebut, serta sampai dimanakah cakar iblis mereka telah
dibentangkan, . . . . kalau didengar dari ucapan Ciong Keh teng
menje lang saat ajalnya tadi, tampaknya rencana busuk Ban-s ia
kaucu untuk menguasai dunia persilatan sudah mulai dilaksanakan!"

399
"Pendapat paman In me mang tepat sekali!" puji Ku See hong ,
"Kini api sudah me mba kar alis mata, yang jauh tak akan
me mada mkan api didepan mata, tugas paling penting yang harus
kita kerja kan sekarang adalah mencari tahu lebih dulu keadaan yang
sebenarnya dari perkumpulan Ban sia kau tersebut."
Menurut penyelidikanku baru-baru ini, dapat kusimpulkan bahwa
perkumpulan Ban-sia kau tersebut bukan saja ada sangkut pautnya
dengan pertempuran dibukit Soat-san, bahkan yang menjadi
ketuanya sepertinya juga mempunyai sangkut-paut yang erat sekali
dengan Bun-ji koan-su locianpwe . . .!"
"Ku lote, coba pikirkanlah, diantara orang penting yang terlibat
langsung dala m pertarungan dibukit Soat-san tempo hari, siapakah
yang paling besar kemungkinannya menjadi ketua dari perkumpulan
Ban-sia-kau ?"
Ku See hong segera termenung sambil me mutar otak. Cerita
yang pernah didengarnya dari Bun-ji koan-su te mpo hari melintas
ke mbali dida la m benaknya satu persatu.
Mendadak Ku See hong menjerit kaget:
"Aaah . . . , jangan-jangan mereka? Benar-benar hanya kedua
orang ini yang paling besar ke mungkinannya. Ooh suhu! Betapa
mengenaskannya nasibmu,.....semua yang tidak kau beritahukan
kepadaku dimasa lalu kini sudah tertera jelas, aku pasti akan
me laksanakan menurut kehendak hatimu, entah bagaimanapun
juga, aku pasti akan memenuhi keinginanmu itu, tak akan kusia-
siakan harapan kau Orang Tua! Legakanlah hatimu . . .!!"
Ku See hong berpekik dengan pedih, air matanya berucuran
deras, dalam hatinya ia meresa amat benci kepada orang itu, ia
bersumpah akan me mbuatnya mati dala m keadaan mengerikan. . .!
Pada saat itu Ku See hong sedang diliputi oleh rasa sedih dan
gusar yang tak terlukiskan dengan kata, darah panas bergelora
didala m dadanya, api dendam me mbakar seluruh tubuhnya.
Dipengaruhi oleh gejolak e mosi, dia segera mendongakkan
kepalanya sambil menyanyikan lagu "Denda m Sejagad".
400
DENDA M kesumat me mbentang bagai jagad,
Bukit tinggi berhutan lebat disisi sebuah kuil.
Sungai besar didepan kuil berombak besar,
Dendam kesumat sepanjang abad!
DENDA M kesumat me mbentang bagai Jagad,
Burung gaga k bersarang dirumput dika la senja.
Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua.
Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m!"
Menitik air mata darah untuk siapa?
Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.
DENDA M kesumat me mbentang bagai Jagad.
Ji koan pernah berbuat salah.
Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?
Salju terbang air laut se muanya ha mbar.
DENDA M kesumat me mbentang bagai Jagad.
Curah hujan me mbuyarkan awan.
Air mengalir akhirnya surut.
Dendam kesumat tak akan pernah luntur..........
oooOdwOooo

TENAGA DALAM yang dimiliki Ku See hong belakangan ini telah


me mperoleh ke majuan yang pesat. Suara nyanyian yang
dibawakannya segera menggetarkan se luruh jagad, selain suaranya
mengandung daya iblis yang me mbetot sukma, suaranya pun
mengge ma tiada hentinya dise luruh angkasa.

401
Dala m me mbawakan lagu `Denda m Sejagad` kali ini, perasaan
Ku See hong jauh lebih sedih dan menderita, dia merasa makin
simpatik terhadap tragedi yang telah menimpa gurunya, diapun
me muji kecerdasan Bun-ji Koan-su dala m mendala mi
kepandaiannya, semua perasaan yang bercampur-baur itu segera
dila mpiaskan keluar me lalui suara nyanyian maut itu.
Hal ini me mbuat anak muda tersebut makin menyukai lagunya,
dia merasa lagu tersebut merupakan lagu yaag paling mengenaskan
dan paling me medihkan hati didunia ini. . . . .
Rupanya pada saat ini Ku See hong telah berhasil me maha mi arti
kata dari nyanyian "Dendam Sejagad". Nada bait kedua dan bait
ketiga jelas me la mbangkan seluruh penderitaan serta percobaan
yang pernah diala mi Bun-ji koan-su dala m sejarah kehidupannya.
Makin menda la mi arti kata dari bait syair lagu "Dendam
Kesumat", Ku See hong merasakan hatinya ma kin sedih, tanpa
terasa diapun teringat ke mbali dengan Keng-Cin-s in, si gadis cantik
yang berkorban baginya.
Seluruh perasaan cintanya yang me mbara dan sela ma ini
terpendam dala m hati kecilnya segera dilampiaskan keluar, ibarat
omba k sa mudra yang bergulung saling berkejaran, sela manya tak
akan pernah berakhir, se mentara titik air mata jatuh bercucuran
me mbasahi seluruh tubuhnya . . . . . . .
Waktu itu persis kentongan ketiga tengah ma la m.
Rembulan berada diangkasa me mancarkan cahayanya yang
indah dan menawan, bintang-bintang bertaburan diangkasa
menghiasi langit yang gelap.
Tapi suasana disekitar tempat itu penuh diliputi oleh kesura man,
keheningan, kesera man yang mengerikan.
Mayat demi mayat bergeletak diatas tanah tanpa berkutik, ketika
angin barat yang kencang berhembus lewat menimbulkan suara
gemerisik daun pe k-yang yang berguguran.

402
Jeritan keras burung mala m bercampur dengan nyanyian yang
me mbetot sukma ini, menjadikan suasana sera m.
Dengan termangu-mangu seperti orang yang kehilangan ingatan,
Biau-ki siangsu serta Sin-hong-hwee-biau berdiri tak berkut ik disitu,
demikian pula dengan Ku See hong yang lagi dirundung kesedihan.
Ditengah tanah pekuburan yang penuh berserakan batu nisan,
mereka berdiri bagaikan tiga sosok mayat hidup. Bila secara
kebetulan ada orang yang datang kesitu, niscaya mereka a kan
ketakutan setengah mati.
Mendadak, pada saat itulah . . . .
Dari balik pekuburan yang berserakan itu pelan-pelan berjalan
keluar se-sosok mayat hidup yang mengena kan paka ian serba putih!
Bukan . . . ,`dia bukan mayat hidup', mela inkan seorang
pemuda berbaju putih yang berwajah sedingin es ! Sebilah pedang
berbentuk ular yang berwarna kuning perak tersoreng
dipunggungnya.
Gerakan tubuh orang itu sangat ringan seperti sukma
gentayangan, kakinya tidak menginjak tanah, tanpa menimbulkan
sedikit suara-pun dia mende kati Ku See-hong seka lian, lalu berhent i
tak bergerak pada jarak dua ka ki dihadapan mere ka.
Dengan sorot mata yang dingin bagikan salju, diawasinya tiga
orang yang berada dihadapannya bergantian.
Tiba-tiba sekulum senyum sinis penuh ce moohan tersungging
diujung bibirnya.
Setelah hening beberapa saat, pemuda berbaju putih itu
mendonga kkan kepala dan tertawa seram. Suaranya dingin
menggidikkan hati, sedemikian menggidikkan sehingga sama sekali
tidak me mbawa bau kehidupan ma nusia.
Dengungan keras mengge ma di angkasa ,menyusul berakhirnya
tertawa dingin itu. Dari sini bisa diketahui kalau tenaga dala mnya
telah mencapa i puncak kese mpurnaan. Mendengar suara tertawa

403
yang menusuk telinga bagaikan beribu ekor kuda lari bersa ma itu-,
mecorong sinar menggidikkan dari ba lik mata Ku See hong, dengan
cepat ia mengalihkan pandangannya kearah orang itu. Diam-dia m ia
agak terkesiap, tapi selanjutnya dengusan dingin penuh hinaan
bergema me menuhi angkasa.
Bian-ki siang-su In Han im serta Sia hong hwee ciau Lui-Ki segera
tersadar kembali oleh tertawa itu.
Begitu melihat siapa pendatangnya, Biau-ki siangsu merasa
terkesiap-, ia sadar kalau suatu pertempuran sengit tak dapat
dihindari jika orang itu benar seperti apa yang diduganya, maka
berarti tiada keyakinan lagi Ku See hong, untuk menangkan
pertarungan ini. Andaikata pemuda she Ku itu sampai kalah, ma ka
sudah dapat dipastikan, nasib tragis menanti didepan mata.
Dengan wajah dingin dan kaku serta sikap yang angkuh dan
jumawa pe muda berbaju putih itu menegur dengan suara da la m,
"Siapa yang telah me mbawakan nyanyian barusan?"
Ku See hong berkerut kening, dari balik matanya terpancar pula
sinar keangkuhan yang jauh lebih tebal, sa mbil me ndongakkan
kepalanya dia tertawa panjang, suaranya nyaring bagaikan pe kikan
naga.
Kemudian sa mbil berhenti tertawa ujarnya dengan suara yang
jauh lebih dingin daripada pe muda berbaju putih itu,
"Saudara lebih ba ik kurangi sedikit sikap congkakmu dihadapan
pembawa lagu itu !"
Paras muka pe muda berbaju putih itu masih tetap dingin tanpa
emosi, ia termenung sebentar, lalu ujarnya dingin:
"Kalau begitu kau adalah murid manusia aneh dari dunia
persilatan Bun-ji koan-su yang berna ma Ku See hong!?"
Baik, sikap maupun nada suaranya amat angkuh dan juma wa
sedikitpun tiada rasa kehangatan.

404
Suara semaca m itu hanya me mbuat bulu kuduk pada bangun
berdiri, dan peluh dingin jatuh bercucuran.
Ku See hong mendengus dingin, "Saudara, kalau begitu kau
pastilah Cing-hay khi sau yang tersohor karena keangkuhannya itu?"
katanya pula sinis.
Agak terkesiap pemuda berbaju putih itu, setelah mendengar
perkataan lawan, tapi diluaran dia tetap berkata dengan wajah
tanpa emosi:
"Hmm, tampaknya cukup tajam juga pandangan mata mu, bagus,
sekarang aku hendak bertanya kepadamu-, taklukkah kau dengan
ilmu silat dari Cing hay pay?"
"Akupun henda k bertanya kepadamu taklukkah kau dengan ilmu
silat dari Bun-ji koan-su . . .?" Ku See hong balik bertanya.
Tampaknya pemuda berbaju putih itu seperti tak pernah
menyangka kalau Ku See hong baka l mengajukan pertanyaan
serupa, setelah tertegun sesaat dengan cepat wajahnya pulih
ke mbali dala m sikap yang dingin dan kaku. Dengan senyum tak
senyum dia berkata:
"Bagus! Bagus sekali! Agaknya ma la m ini aku sudah bertemu
dengan musuh yang tangguh."
Setelah hening sejenak, mendadak dengan wajah dingin dan
suara keras dia me mbentak:
''Ilmu silat dari daratan Tionggoan cuma permainan buruk dari
anak kecil, aku orang she Ciu tidak takluk!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong, dia segera
balas me mbentak:
"Ilmu silat aliran Ciang hay pay hanya ilmu sesat dari golongan
hitam, ilmu yang tak seberapa itu lebih mirip permainan ana k kecil,
tentu saja aku orang she Ku pun tida k takluk !!"

405
"Bagus, bagus, kalau begitu tak ada sa lahnya jika kita saling
mencoba kepandaian masing-masing.!" ujar pe muda berbaju putih
itu sa mbil tertawa ha mbar.
"Bagus sekali!" jengek Ku See hong pula sa mbil tertawa dingin,
"kalau cuma beradu mulut belaka sa ma sekali tak ada gunanya,
lebih baik kita saling beradu kepandaian saja!"
"Biau-ki siangsu In Han im cukup sadar seandainya dua orang
jagoan muda ini sampai saling bertarung, sudah pasti akibatnya
akan mengerikan.
`Orang bilang bila dja ekor harumau berkelahi, salah satu
diantaranya pasti terluka`.
Betul si pe muda berbaju putih itu sombong dan juma wa, namun
wajahnya me mancarkan sinar kegagahan..., jelas dia bukan serang
manusia buas dari golongan sesat.
Dala m keadaan dunia persilatan yang sedang terancam bahaya
maut, dimana pengaruh iblis sedang meraja-lela, andaikata dua
orang jago itu sa mpai bertarung dan sa ma-sama terluka, bukankah
hal ini akan sangat merugikan kepentingan umat persilatan dari
golongan golongan lurus didunia ini.. ?'
Biau-ki siangsu In Han im segera putar otak sambil berpikir
keras, mendadak dia maju dua langkah kedepan, lalu ujarnya
deagan suara lantang:
"Ciu sauhiap ...., Ku sauhiap, ujung langit adalah tetangga,
empat penjuru adalah saudara, untuk saling mengukur kepanda ian
mah boleh saja, tapi tak perlu saling ngotot untuk beradu jiwa, lebih
baik pertarungan dibatasi saling menutul saja, Asal menang ka lah
sudah ditentukan, pertarungan tak usah dilanjutkan dan alangkah
baiknya bila ka lian bisa da mai sebagai te man.”
“Ketahuilah, dunia persilatan dewesa ini sedang diliputi oleh
ancaman badai yang amat dasyat, setiap orang sedang diceka m
perasaan takut dan jiwa setiap orang diancam maut, suatu bencana
besar sudah mulai berke mbang dala m dunia persilatan, aku harap

406
sauhiap berdua suka bekerja sama saja untuk melawan datangnya
ancaman maut yang sedang mengincar umat persilatan daripada
me mbuang tenaga untuk saling mengukur kepandaian, toh sumber
dari ilmu silat sesungguhnya adalah sa ma?"
Ketika mendengar perkataan dari In Han in yang a mat gagah dan
masuk diaka l itu, baik Ku See hong mau pun pe muda berbaju putih
itu sama-sa ma merasakan hatinya bergetar, tapi dasar anak muda
yang berdarah panas, mungkinkah mereka dapat mengesampingkan
pertarungan tersebut dengan begitu saja?
Dala m pada itu, pe muda berbaju putih tersebut telah berseru
dengan suara dingin:
"Orang she Ku, silahkan kau lancarkan seranganmu !"
"Orang she Ciu !" balas Ku See hong dengan wajah sedingin es,
"Kau datang dari Cing-hay, hitung-hitung sebagai tamu yang datang
dari jauh, lebih baik kau saja yang melancarkan serangan lebih
dahulu!"
Ku See hong ada lah pe muda yang angkuh dan dingin, ia tidak
'me mandang serius setiap pertarungan yang ke mungkinan a kan
berlangsung. Akan tetapi, berhadapan dengan pemuda berbaju
putih itu entah mengapa t iba tiba saja hatinya terasa tegang dan
wajahnya berubah menjadi a mat serius.
Dia cukup mengetahui betapa, seriusnya persoalan yang sedang
dihadapinya, maka dia se makin tak berani me mandang secara
gegabah, begitu berdiri tegak, segenap perhatiannya dipusatkan
menjadi satu, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan seluruh
kesiagaannya ditingkatkan setinggi-tingginya.
Pemuda berbaju putih itu sendiripun tak berani bertinda k secara
gegabah, dia tahu pemuda yang berada dihadapannya itu meski
diluarannya tampak biasa, sesungguhnya dia me miliki ilmu silat
yang belum pernah dihadapi sebelumnya, diam-dia m hawa murni
yang dimilikipun dihimpun menjadi satu.

407
Empat jalur sinar mata yang tajam menggidikan hati segera
saling bertatapan tanpa berkedip, suasana dise keliling te mpat itupun
menjadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.
Ditengah suasana hening yang menggidikkan hati itu, penuh
diliputi keseraman, kengerian serta ketegangan yang me munca k.
Hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh angkasa, setiap
saat suatu pertarungan yang menggidikkan hati ke mungkinan besar
akan meletu serta berkobar.
Mendadak pemuda berbaju putih itu tertawa dingin dengan suara
menyeramkan. Suara tertawa dingin itu rendah dan berat
menggetarkan sukma, me mbuat La m-ciau pak-siang yang
menonton ja lannya pertarungan itu segera merasakan hatinya turut
tercekat.
Menyusul ke mudian terdengar suara seseorang mendengus
dingin.
"Weess....!" ditengah desingan angin taja m, segulung angin
pukulan yang sangat tajam dan kuat segera me luncur ke muka.
Diantara pusaran angin berpusing yang menyebar keempat
penjuru, Ku See hong dan pemuda berbaju putih itu berdiri saling
bertatapan muka e mpat mata bertemu, dengan masing masing
me mancarkan cahaya kegusaran.
Lam-ciau pak-siang yang menyaksikan kejadian itu sa ma-sa ma
merasa terkesiap... rupanya berbareng dengan bergemanya suara
tertawa dingin tadi, pemuda berbaju putih dan Ku See hong telah
saling bertukar satu pukulan dengan kecepatan luar biasa!
ooooOdwOoooo

Bab 19
SAKING CEPATNYA gerakan tubuh kedua belah pihak didala m
me lakukan penyerangan tadi, ternyata dengan ketajaman mata

408
Lam-ciau pak-siang pun tak sempat me lihat jelas dengan jurus
apakah kedua be lah pihak saling bertukar pukulan.
Tapi mereka sempat juga menyaksikan tubuh kedua orang itu
saling menerka m dengan kecepatan tinggi, tangan kanan masing-
masing piha k melepaskan sebuah pukulan aneh dari suatu sudut
yang tak terduga, kemudian masing-masing pihak telah ba lik
ke mbali keposisinya se mula.
Setelah terjadinya bentrokan secepat kilat itulah, perasaan
masing-masing piha k berta mbah hebat, pikirnya ha mpir berbareng:
`Untung aku me mpunyai ketajaman mata yang luar biasa, coba
tidak, bisa jadi aku sudah ma mpus diujung serangannya itu.`
Suasana tegang, menyeramkan masih tetap menyelimuti seluruh
angkasa, bagaikan mengikuti berlalunya sang waktu, ma kin la ma
suasana semaca m itu se makin menebal.
Di bawah timpaan cahaya rembulan dan bintang, pemuda
berbaju putih dan Ku See hong masing-masing menggerakkan
langkah kaki mere ka yang pelan dan berat, mendekati piha k
lawannya....
Bagi jago lihay yang sedang bertarung, bila ada setitik kele mahan
saja yang terbuka, niscaya peluang tersebut akan dimanfaatkan
lawannya untuk merobohkan lawan, maka geseran kaki mere ka
berdua pun dilakukan secara beraturan, setitik kele mahanpun sa ma
sekali tak boleh terlihat.
Makin la ma makin mende kat . . . .
Kini jarak kedua belah pihak sudah t inggal tiga depa, tapi
berhubung tiada kese mpatan yang bisa dimanfaatkan, serta merta
mereka berdua sa ma-sama menghentikan gerakan tubuhnya.
Dengan suatu gerakan cepat Ku See hong mengangkat telapak
tangan kirinya ke atas, sementara tangan kanannya dengan
mengepal kencang disilangkan didepan dada.
Pada saat yang bersamaan, pemuda berbaju putih itupun
mengangkat telapak tangan kanannya menghadap langit dengan

409
telapak tangan kiri disilangkan didepan dada, kaki kiri diluruskan ke
belakang se mentara kaki kanan agak mene kuk, bentuknya sangat
aneh. Dikombinasikan wajahnya yang dingin me nyeramkan,
posisinya sekarang cukup me mbikin hati siapapun bergidik........
Lam-ciau pak-siang adalah seorang tokoh persilatan yang sudah
la ma termashur dala m dunia persilatan, pemandang gaya serangan
yang ditunjukkan ke dua orang itu, dia m-dia m mereka merasa
kagum sekali atas kelihayan ilmu silat yang dimiliki kedua orang
pemuda tersebut.
Sebab didala m gaya serangan mana, pada hakekatnya mustahil
bagi orang untuk menyarangkan serangannya ditubuh lawan, sebab
hampir se mua bagian yang penting dan me matikan ditubuh lawan
telah terlindung rapat, entah jurus serangan maca m apapun yang
digunakan lawan, sulit bagi lawan untuk meloloskan diri dari jurus
serangan ampuh yang tersembunyi dan me mat ikan.
Begitulah, dua orang jago muda yang berilmu tinggi itu saling
berhadapan tanpa bergerak..., Seperminum teh sudah lewat tanpa
terasa, namun kedua belah pihak belum juga melakukan suatu
tindakan.
Padahal, sekalipun tubuh mereka tak bergerak, otak mereka
berputar bagai putaran roda kereta, dengan suatu kecepatan yang
luar biasa mereka berusaha me meras otak dan mencari gerakan
yang bisa dipa kai untuk me matahkan pertahanan lawan.
Mendadak.....
Ujung ka ki kanan pe muda berbaju putih itu dihentakkan keras-
keras keatas tanah, kemudian se luruh badannya menyusup ke luar
bagaikan kilatan cahaya kilat, gerakan mundur tanpa melancarkan
serangan ini jelas merupakan suatu pancingan untuk me mancing
pihak lawan me lancarkan serangan.
Walaupun Ku See hong tahu kalau gerakan pancingan, namun
pemuda yang angkuh dan keras hati ini berhasrat besar untuk
mencoba kelihayan jurus serangan lawan.

410
Maka dia me ndengus sinis, ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong
yang maha dahsyat segera dikerahkan, berada di udara tubuhnya
laksana kilatan cahaya bintang me luncur ke luar.
Dala m waktu singkat dia telah mengikuti gerakan tubuh pe muda
berbaju putih itu me layang turun ke tanah.
Pemuda berbaju putih itu segera mendengus dingin, tubuhnya
bagaikan gulungan ombak ditengah sa mudra segera menggulung
balik ditengah gulungan mana sepasang telapak tangannya
diayunkan ke depan, kakinya melancarkan tendangan bersa ma
dengan gerakan aneh.
Dala m sekejap mata, dia telah lepaskan duabelas tendangan
dengan delapan belas buah pukulan terantai, kecepatannya benar-
benar menyilaukan mata.
Angin pukulan me nderu-deru dan menyesakkan napas, bagaikan
gunung yang a mbruk saja, seluruh angkasa penuh dengan pusaran
angin yang a mat menyilaukan mata.
Ku See hong me mbentak gusar, sepasang lengannya diputar pula
dengan cepat melancarkan serentetan pukulan dahsat.
Angin pukulan yang le mbut tapi menyesakkan napas, bagaikan
jaring langit, dengan me mbawa ke kuatan yang maha dahsyat
segera menggulung kedepan. Begitu rapatnya ancaman tersebut
sehingga sukar untuk mene mukan setitik celah kosong pun.
-oo0dw0oo-

Jilid: 13
BAYANGAN telapak tangan, bayangan kaki berha mburan
me menuhi angkasa, untuk sesaat sulit buat orang untuk mengetahui
jurus serangan apakah yang mereka pergunakan.
Dala m waktu singkat, kedua orang itu sudah melancarkan
seratus dua puluhan kali tendangan serta tigaratus enampuluhan

411
pukulan, tapi kedua belah piha k sama-sa ma tak sunggup me luka i
lawan.
Semakin cepat gerakan tubuh mereka berputar, jurus serangan
yang di pergunakan pun makin la ma se makin gencar dan dahsyat.
Menyaksikan pertarungan sengit yang belum pernah di jumpai
sebelumnya ini, Lam-ciau dan Pak-ciang dia m-dia m menghela napas
panjang.
Pada hakekatnya jurus serangan yang dipergunakan kedua orang
ini a mat dasyat, lihay dan jarang sekali dijumpai dala m dunia
persilatan,... Bila dibandingkan dengan ilmu silat yang mereka miliki,
jelas sekali perbedaanya ibarat bintang dan kunang kunang.
Meski kagum dengan ke lihayan kungfu orang, Biau-ki siangsu In
Han im pun dia m-dia m merasa lega, dia bersyukur dikolong langit
dewasa ini masih terdapat dua orang pendekar sejati yang me miliki
ilmu silat amat lihay, ini berarti umat persilatan makin ada
kesempatan(harapan) untuk me loloskan diri dari anca man bencana.
Namun diapun merasa a mat ge lisah, sebab dala m pertarungan
yang berlangsung begitu sengit sudah jelas akhirnya pasti ada yang
luka. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang untuk menanggulangi
situasi se maca m itu?
Ku See hong sendiri se makin bertarung se makin terkejut..., dia
merasa bukan saja tenaga dala m lawan a mat sempurna, hawa
pukulannya yang bersambunganpun ibarat gulungan omba k
ditengah samudra, jurus-jurus serangan yang digunakan rata-rata
aneh, lihay, ganas dan jarang dijumpai dikolong langit. Ia kaget oleh
ilmu silat lawan...., demikian pula halnya dengan si pemuda berbaju
putih yang juga merasa terkejut oleh tenaga dala m dan jurus
serangan yang dimiliki Ku See hong.
Yang paling mengejutkan hatinya adalah diantara jurus-jurus
serangan yang digunakan lawan, ternyata ada sebagian yang mirip
sekali dengan ilmu silat aliran Cing-hay pay, tapi bila dibandingkan
maka terasa pula perbedaan yang amat jauh. Kenyataan ini
me mbuatnya benar-benar merasa tidak habis me ngerti.
412
Sedari dahulukala, ilmu silat aliran Cing-hay pay sudah
merupakan suatu kepandaian silat yang berdiri sendiri, padahal ilmu
silat yang dimilikinya sekarang justru dipelajari dari kitab pusaka
Pek-ke cinkeng, sebuah kitab pusaka yang me muat ilmu sa kti aliran
Cing-hay.
Mungkinkah pihak lawan pernah mengint ip kitab pusaka tersebut
serta menyadap ilmu rahasia dari Cing-hay pay?
Akan tetapi, bila diperhatikan lebih seksa ma, maka terasa kalau
jurus serangan tersebut sama se kali tidak mirip dengan ilmu silat
yang tercantum dala m kitab pusaka Pe k-ke-cinkeng.
Mengapa bisa de mikian?
Rupanya Ku See hong yang berhasil me mperoleh jurus pedang
dari peninggalan Si-hong lo jin, setelah menekuninya selama dua
bulan lebih, bukan saja ketiga jurus gerakan pedang itu berhasil
dikuasahi dengan matang, bahkan diapun berhasil pula me maha mi
banyak sekali jurus a mpuh yang aneh-aneh dan sa kti...
Si Kakek menyendiri atau Si-hong lo jin, merupakan manusia
paling aneh da la m dunia persilatan jaman itu, setiap patah kata
yang ditulis olehnya pada hakekatnya mengandung suatu pelajaran
silat yang sangat mendala m.
Misalnya saja ketiga jurus ilmu pedang peninggalannya itu,
jangan dilihat hanya tediri dari tiga gerakan belaka..., pada hal jurus
itu dicipiakan dengan susah payah dan harus mengoroankan banyak
tenaga dan pikiran.
Tentu saja diantara gerakan mana terkandung pula pelbagai ilmu
rahasia dari perbagai perguruan serta aliran didunia ini.
Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Cing-hay pay, otomatis
dalam sepuluh jurus yang diciptakan olehnya, ada delapan
diantaranya yang berbau ilmu silat Cing-hay pay.
Tak heran kalau jurus jurus serangan yang kemudian berhasil
dipaha mi dan dikuasahi Ku See hong, mustahil dapat me lepaskan
diri dari jurus-jurus serangan aliran Cing-hay pay, namun bila ditelit i

413
dengan seksama maka akan terlihat bahwa gerakan silatnya sama
sekali terlepas dari gerakan ilmu silat Cing-hay pay.
Bagaimana mungkin bisa de mikian?
Rupanya ketika Si-hong lo jin menciptakan tiga jurus ilmu pedang
itu, dia bukan cuma berdasarkan ilmu silat aliran Cing-hay pay saja,
me lainkan telah menghimpun segenap inti sari pelajaran ilmu
pedang yang ada dipelbagai aliran dan pelbagai perguruan didunia
ini, otomatis gerak serangannya jauh berbeda dengan aliran ilmu
silat Cing-hay pay.
Apalagi setelah kepandaian itu muncul atas ilha m dan pengertian
Ku See hong, selisihnya boleh dibilang semakin jauh lagi. Malah oleh
Ku See hong jurus serangan yang sebenarnya digunakan pedang
telah dirubahnya menjadi pukulan, bayangkan saja baga imana
mungkin gerakan itu bisa mirip dengan a liran C iang-hay-pay? Tak
heran kalau si anak muda berbaju putih itupun dibikin melonggo
dan tidak habis mengerti.
Begitulah, makin bertarung ke marahan Ku See hong ma kin
berkobar, tiba-tiba dia berpekik keras, mencorong sinar tajam dari
balik matanya, setelah sepasang tangannya diputar mcmbentuk satu
lingkaran besar mendadak sepasang tangannya di tolak kedepan.
Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, bagaikan
gulungan ombak di tengah sa mudra segera meluncur ke muka.
Serangan itu dilancarkan secara tiba-tiba, kekuatannya pun
cukup me mbut orang berubah muka.
Mencorong pula serentetan cahaya mata yang menggidikan hati
dari balik mata pemuda berbaju putih itu, sepasang telapak
tangannya disilangkan lalu dilontarkan ke muka bersa ma-sama,
hembusan angin puyuh bagaikan jala langit yang disertai suara
desingan tajam, lansung menya mbar kedepan.
Ku See-hong merupakan seorang pe muda yang cerdas, dia tahu
tenaga dalam lawan sa ma sekali t idak berada dibawah
kepandaiannya, bila mereka harus beradu tenaga, sudah pasti akan

414
menyebabkan luka atau ke matian, ma ka sewaktu melancarkan
serangan iiu tadi, sesungguhnya dibalik anca man mana terselip pula
suatu tipu muslihat.
Sebagaimana diketahui, dala m pertarungan antara sesama jago
lihay, bukan hanya tenaga dalam saja yang diandalkan, me lainkan
juga kecerdasan serta kelincahannya dala m menghadapi keadaan,
yang lebih penting lagi adalah me maafkan kese mpatan paling baik
guna meraih suatu ke menangan.
Disaat pe muda berbaju putih itu siap melancarkan serangan
dengan mengayunkan sepasang telapak tangannya ke depan, tiba-
tiba dia me mbuyarkan serangannya sambil menyusup ke sa mping
kiri lawan dengan gerakan Mi-khi biau-tiong yang aneh tapi sakti itu.
Diiringi bentakan keras, sepasang tangan Ku See hong
me mbentuk, satu gerakan lingkaran busur dari sa mping, ke mudian
dengan me mbawa segulung tenaga serangan yang lembek bagaikan
samudra, secepat kilat meluncur kedepan.
Pepatah bilang: 'Kebenaran meningkat sedepa, kejahatan
meningkat setombak'.
Pemuda berbaju putih itu bukan manusia se mbarangan, sudah
barang tentu rencana licik dari Ku See hong pun sudah dapat
ditebak olehnya, maka jikalau Ku See hong melancarkan serangan
ke depan itulah . . . . . .
Mendadak pe muda berbaju putih itu menarik pula segenap
tenaga serangannya, kaki badannya berputar, telapak tangan
kanannya diayunkan kedepan: Serentetan cahaya tajam berbentuk
bintang bagaikan letusan mercon yang berantai menggelegar
ditengah udara.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong setelah
dilihatnya pihak lawan menga mbil tindakan untuk beradu kekerasan,
dia m dia m hawa pukulannya dilipatkan menjadi dua ka li, sepasang
lengannya segera digetarkan me mbentuk gerak gelombang yang
dahsyat.

415
Hawa pukulan tak berwujud yang melingkar-lingkar, bagaikan
hembusan angin puyuh, dengan me mbawa deruan yang
me me kikkan telinga langsung meluncur ke muka.
"Blaaaa! Blaaa m! Blaaam . . . ....!"
Ditengah serangkaian benturan keras, desingan angin pukulan
yang tajam segera me mancar ke e mpat penjuru...
Tiba-tiba saja Ku See hong merasakan datangnya segulung
tenaga tak berwujud yang mene mbusi jaringan hawa murninya
sendiri dan mene kan a mat dahsyat sehingga sukar untuk bernapas,
tak kuasa lagi tubuhnya mencelat setinggi satu kaki lebih dari pososi
semula, namun ia tidak mengala mi cedera apa-apa.
Sementara itu pemuda berbaju putih itu pun merasakan hawa
darah didala m dadanya bergolak keras ketika dua gulung tenaga
pukulan itu saling me mbentur satu sa ma la innya, hal mana
me mbuat hatinya amat terperanjat.
Dala m gugupnya, secepat kilat telapak tangan kirinya
me lancarkan tiga puluh serangan nerantai melalui suatu sudut yang
aneh.
Ketiga jurus serangan itu merupakan jurus pe mbunuh yang amat
dahsyat dan me matikan dari pe muda berbaju putih itu, dia tak
mengira kalau ketiga gulung hawa pukulan yang begitu dahsyatnya
itu, sama seka li t idak menimbulkan cendera apa-apa meski sudah
bersarang telak dibadan Ku See hong .. .!
Tiba-tiba saja paras muka si pe muda berbaju putih yang dingin
kaku itu berubah menjadi menyeringai seram, ....berubah bukan
lantaran terluka mela inkan berobah karena tarperanjat.
Mendadak. . . . . paras muka pe muda terbaju putih itu pulih
ke mbali seperti sedia kala, dengan suara yang dingin me masuk
ketulang sungsum dia berkata.
"Orang she Ku, sinkang apakah yang barusan kau pergunakan?
Beranikah kau sambut lagi tiga buah pukulan dari aku orang she
Ciu?"

416
"Ku See hong cukup sadar, seandainya dia tidak me miliki hawa
Kan-kun mi-siu khikang yang me lindungi badannya sehingga ketiga
gulung hawa pukulan tersebut kena dipunahkan, mungkin se menja k
tadi pula dia sudah mene mui ajalnya.
Sekalipun de mikian, dia m-dia m dia pun merasa dendam atas
kekeja man pe muda berbaju putih itu, mendengar perkataan
tersebut dia lantas mendengus dingin, ke mudian sa mbil tertawa
sinis katanya:
”Aaah, cuma ilmu silat biasa dari daratan Tionggoan, tidak
terhitung sesuatu ilmu sinkang yang ajaib, maaf kalau aku tak dapat
me mberitahukannya kepada mu, . . . . kini menang kalah belum
ketahuan, rasanya kita pun tak usah mengulur waktu lagi."
Berapa patah kata ini diucapkan dengan nada menyindir, kontan
saja me mbuat sekujur badan pe muda berbaju putih itu ge metar
keras, giginya saling beradu gemerutukan, sementara sinar matanya
me mancarkan kebencian yang meluap.
"Orang she Ku, kau jangan kelewat tekebur, sebentar aku orang
she Ciu pasti akan me mbuat kau berlutut sambil minta a mpun! "
serunya.
Ku See hong berkerut kening, hawa napsu me mbunuh
menyelimuti se luruh wajahnya, dengan suara dingin ia menukas:
"Tak usah banyak bicara, kalau punya kepanda ian cepat saja
dikeluarkan biar aku orang she Ku saksikan, sebenarnya ilmu silat
dari aliran Cing-hay pay itu me miliki ke lihayan sa mpai dimana..."
Dala m hati kecilnya pe muda berbaju putih itu benar benar
merasa marahnya luar biasa, tapi diluaran sikapnya masih tetap
santai, sambil tertawa hambar katanya:
"Orang she Ku, nampaknya sebelum melihat peti mati kau tak
akan mengucurkan air mata, barusan kita telah mencoba ilmu
pukulan, sekarang tak ada salahnya jika kita saling beradu
kepandaian diujung senjata!"

417
Biau'ki siangsu In Han im adalah seorang jago kawakan yang
luas pengetahuannya dan cerdas otaknya, tadi diapun menyaksikan
betapa tubuh Ku See hong termakan oleh serangan dahsyat si
pemuda berbaju putih, tapi nyatanya dia tak menga la mi luka
apapun, halmana segera menbuat hatinya tertegun.
Maka sewaktu pe muda berbaju putih itu bertanya kepada Ku
See hong tadi, dalam benaknya dia pun me mutar otak untuk
mene mukan ilmu silat apakah yang diandalkan Ku-See-hong
tersebut.
Mendadak ia menjerit kaget dida la m hati:
`Jangan-jangan ilmu sinkang yang dimiliki Bun-ji koan-su dimasa
lalu? Aaah, tapi mustahil... dia masih muda, mana mungkin ilmu
sakti yang penuh kerahasiaan itu bisa dipelajarinya?`
Dipihak lain, Ku See hong merasakin hatinya bergear keras
setelah mendengar tantangan pihak lawan uktuk beradu senjata,
dengan cepat dia berpikir,
`Bila pedang Hu-thian-seng-Kia m ini diloloskan keluar, niscaya
indentiatasnya akan segera dikenal orang, setiap jago persilatan
pasti akan tahu kalau pedang itu tak lain adalah pedang Ang-soat-
kia m yang digilai umat persilatan selama ini, padahal dari posisiku
sakarang, tidak seharusnya mendatangkan banyak kesulitan buat
diriku sendiri, aai.... paling baik ka lau jangan diperlihatkan untuk
sementara waktu.... !`
Berpikir sampa i disini, sekulum senyuman dingin segera
menghiasi ujung bibirnya, lalu berkata:
"Pedangku ini bila diloloskan dari sarung tentu akan me mbunuh
orang, padahal aku belum me mbencimu sa mpai merasuk ke tulang
sumsum, ma ka aku rasa lebih baik kuhadapi dirimu dengan
sepasang kepalan kosong saja!"
Pemuda berbaju putih itu ada lah seorang pe muda yang angkuh,
aneh dan tinggi hati, mala m ini dia sudah banyak kail me lakukan

418
tindakan yang bertentangan dengan kebiasaannya, hal ini
dikarenakan ia dibikin keder oleh ilmu silat Ku See hong.
Akan tetapi sewaktu didengarnya pihak lawan hendak
me mperguna kan sepasang telapak tangan kosong untuk
menghadapi senjatanya, dia segera menganggap hal ini sebagai
suatu penghinaan, suato cemoohan..., seketika itu juga timbul hawa
napsu me mbunuh dida la m dadanya.
Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik
matanya, setelah tertawa seram katanya:
"Orang she Ku, kau sendiri yang me mberi ja lan ke matian bagimu
sendiri, sa mpai waktunya jangan salahkan ka lau aku orang she Ciu
akan bertindak keja m kepada mu."
Ku See hong tertawa dingin, "Mana, mana.... bila aku orang she
Ku tak becus sehingga tewas diujung pedangmu sudah pasti aku tak
akan menyesal atau menyalahkan kepada orang la in!"
Mendengar perkataan itu, ke mbali pe muda berbaju putih itu
terperanjat, segera pikirnya:
`Bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu,
mustahil baginya untuk berhasil menanggulangi kelihayan sinkangku
serta ilmu pedangku yang tiada taranya didunia ini. Tapi ka lau
dilihat dari sikap lawan yang begitu acuh, seakan-akan sudah
me mpunyai suatu rencana yang matang didala m hati jangan-jangan
dia telah persiapkan suatu tipu daya. Aku tak boleh gegabah, aku
harus menghadapinya dengan a mat berhati-hati.`
Padahal Ku See hong sendiri pun merasa gelisah sekali, ia tahu
dengan tangan kosong sulit baginya untuk menahan sepuluh jurus
serangan pedang dari pemuda berbaju putih itu, tapi diapun merasa
enggan untuk segera me loloskan pedang Hu-thian seng-kia m
tersebut.
Dasar wataknya me mang angkuh, setelah mendengar ka lau Ku
See hong akan menghadapinya dengan tangan kosong belaka,
meski pe muda berbaju putih itu tahu bahwa menangpun bukan

419
sesuatu yang patut di banggakan baginya, terkulum senyuman
dingin juga diujung bibirnya.
"Orang she Ku...!" katanya kemudian ".. ..aku tahu kau gagah
dan berjiwa jantan, lapi akupun ingin me mberitahukan kepada mu,
bila kau harus menghadapi pedang Gin-coa-kia m (Pedang Ular
Perak) -ku dengan tangan kosong, sebelum sepuluh gebrakan kau
pasti akan tewas diujung pedangku, meski aku orang she Ciu
me mang menganggap ke menangan itu kurang mengena bagiku,
maka sebelum pertarungan dimulai, terlebih dulu a ku tida k
menetapkan suatu peraturan dengan dirimu."
Kagum juga Ku See hong oleh kegagahan orang, mendengar
ucapan itu segera katanya:
"Orang she Ciu, kau me mpunyai peraturan apa, silahkan
diutarakan, aku orang she Ku a kan mendengarkan dengan
seksama."
Paras muka pe muda berbaju putih itu berubah menjadi serius
sekali, katanya dengan suara dala m:
"Sekarang aku hendak menggunakan nyawaku sebagai barang
taruhan, bila aku tak dapat melukai dirimu da la m sepuluh
gebrakkan, akan kugorok leherku di hadapanmu detik itu juga...,
tapi bila kau tak kuasa menahan diri, maka dala m sepuluh gebrakan
ini setiap saat kau boleh loloskan senjatamu untuk menghadapiku, .
. . Cuma saja begitu senjata kau loloskan, atas sepuluh jurus pun
menjadi batal, pertarungan baru akan berakhir bila salah seorang
diantara kita terluka !"
Mencorong sinar terang dari ba lik mata Ku See hong setelah
mendengar perkataan itu, katanya dengan wajah bersungguh
sungguh:
"Bila mana dala m sepuluh jurus aku Ku See hong sa mpai
me loloskan senjataku, ma ka dala m sepuluh jurus ke mudian aku
akan melukaimu, . . . . kalau gagal, akupun a kan menggorok
leherku dihadapanmu!"

420
Biau-ki siang-su In Han im menjadi ge lisah setengah mati
menyaksikan kedua orang pe muda itu siap-siap bersua jiwa...,
serunya tiba-tiba dengan ce mas:
"Ku Sauhiap..., Cu Sauhiap..., diantara kalian tidak terikat
dendam sakit hati, buat apa mesti bercekcok tanpa suatu alasan
tertentu? Aku lihat lebih baik pertarungan tersebut diakhiri sa mpa i
disini saja, entah bagaimana menurut pendapat kalian?"
Mendengar perkataan itu, Ku See hong lantas teringat ke mba li
dengan tugas berat yang sedang dipikul sekarang serta denda m
kesumat yang musti dituntut balas, dengan cepat dia merasa
ucapan dari Biau-ki siang-su tepat sekali.
Me mbayangkan kecerobohan sendiri, peluh dingin bercucuran
deras, diam-dia m ia menda mprat ke-se mbrono-an sendiri.
Tapi ucapan seorang lelaki sejati lebih cerat dari sebuah bukit
karang..., apalagi nasi telah menjadi bubur, apa boleh buat?
Terpaksa harus pasrah pada nasib.
Melihat kedua orang itu hanya me mbungka m, Biau ki siang-su In
Han im segera berkata lagi:
"Ku Sauhiap.., Ciu Sauhiap.., kalian berdua adalah bakat aneh
yang sukar dijumpai da la m seratus tahun mendatang, apalagi
me miliki ilmu silat yang begitu se mpurna, . . . . apa artinya beradu
jiwa gara-gara soal sepele? Berpikilah t iga ka li sebelum bertindak.”
Ku See hong hanya membungka m dengan wajah hambar, sama
sekali tanpa e mosi.
Sebalikya pe muda baju put ih itu merenung sebentar, tiba-tiba
katanya dengan suara sedingin es :
"Orang she Ku, lancarkan seranganmu!"
"Hati-hatilah kau orang she Cu!" Ku See hong terpaksa
menanggapi sa mbil tertawa getir.

421
Begitu selesai berkata, Ku See hong lantas mengayunkan
sepasang telapak tangannya kemuka, kesepuluh jari tangannya
yang dipentangkan lebar-lebar, disentil sambil digetarkan. . . .
Sepuluh gulung desingan angin tajam yang disertai hembusan
angin puyuh serentak menyergap jalan jalan darah ke matian
ditubuh pe muda berbaju putih itu dengan kecepatan seperti kilat.
Sementara Ku See hong melancarkan serangannya, pemuda
berbaju putih itu pun telah meloloskan pedang ular peraknya,
sekilas cahaya tajam yang berkilauan bak re mbulan diudara segera
me mancar kee mpat penjuru. Kilatan yang tajam menunjukkan ka lau
senjata itu adalah sebuah senjata mestika yang amat taja m.
Begitu pedang ular peraknya di loloskan, pemuda berbaju putih
itu segera menggetarkan lengan kanannya..., lapisan cahaya yang
berkilauan segera me mancar keluar, dari tubuh pedang itu dan
berhamburan ke mana-mana, hawa pedang yang merasuk,
tulangpun seperti gulungan omba k ditengah samudra, menyapu
keluar menyongsong datangnya kesepuluh gulung desingan angin
jari tangan tadi.
Berapa kali benturan keras ditengah udara menimbulkan suara
desisan yang amat me mekikkan telinga, tatkala hawa serangan
yang dipancarkan Ku See hong me mbentur hawa pedang yang
rapat, seperti batu kecebur di samudra luas, lenyap dan musnah
dengan begitu saja...
Pedang ular perak dari pe muda berbaju putih itu segara
me mbentuk lingkaran lingkaran hawa pedang yang a mat tebal,
jurus serangan yang kedua dengan me mbawa desisan yang tajam
me mbe lah angkasa, langsung menyerang ketubuh Ku See hong.
Serangan ini benar-benar amat ganas dahsyat dan mengerikan,
dimana pedang berwarna perak itu menya mbar lewat,.... bagaikan
air bah saja segera menerjang kemana-mana dan menyusup masuk
kedala m setiap lubang pori-pori yang ada.
Ku See hong tahu kalau pemuda berbaju putih itu terhitung
jagoan lihay kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini, oleh
422
sebab itu tatkala tenaga serangannya kena dipunahkan tadi. dia
lantas tahu kalau hal ini pasti akan me mancing pihak lawan untuk
me lancarkan serangan dengan jurus pedang yang lebih ganas.
Begitu menjumpai gerak pedang lawan, paras mukanya berubah
hebat, ia tak berani berayal lagi, tubuhnya dengan cepat merendah
kebawah, lalu dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-
tiong yang sangat di andalkan ke ma mpuan-nya untuk berkelit
kesamping secara aneh.
Menyaksikan Ku See hong me mpergunakan ilmu gerakan tubuh
Mi-khi biau-tiong, diatas wajah sipe muda berbaju putih yang
tampan segera terlintas suatu perubahan yang sukar untuk
dilukiskan dengan kata-kata.... sepertinya dia sudah mendapat
firasat bakal kalah.
Sorot mara bengis d