Anda di halaman 1dari 3

TATA CARA PENUGASAN:

1. Kasus ini dianalisa oleh masing-masing mahasiswa.


2. Data boleh dikembangkan dengan tidak mengesampingkan masalah keperawatan
yang sudah ada
3. Lengkapi dokumentasi keperawatan dimulai dari pengkajian, analisa data, menyusun
kriteria hasil (NOC) serta intervensi (NIC).
4. Buatlah dokumentasi keperawatan dalam bentuk word, ditulis dengan Times New
Rowman, size 12, margin top, left, rigt 2 and buttom 1, A4

5. Nama file : Nama Mahasiswa_NIM_Nama Tugas

6. Lakukan diskusi dengan pembimbing sebelum pengunggahan dokumen

KASUS 1: Artery Coronary Syndrom

Seorang laki-laki usia 32 tahun dirawat dengan SKA. Pasien mengeluhkan nyeri dada
menyebar ulu hati, pundak, dan punggung. Keadaan umum klien baik, kesadaran
composmentis GCS E:4 M:6 V:5. Klien terpasang O2 dengan non-rebreating masker
8liter/menit, terpasang syringe pump dengan NTG di spuit 50cc 3cc/jam, terpasang
kondom kateter, terpasang infus RL 20cc/jam pada tangan kanan. Ssat
dikaji TTV klien yaitu: TD 153/94 mmHg, Nadi 70 x/menit, Pernafasan
28x/menit, Suhu 36,10 C, Saturasi Oksigen 98%. Irama nafas cepat dan suara nafas mengi.
Adanya peningkatan JVP. Perkusi jantung terdapat bunyi redup, tidak terkaji kardiomegali
Auskultasi jantung terdapat bunyi jantung normal tidak terkaji adanya bunyi
jantung tambahan.

KASUS 2: Hipertensi

Seorang laki-laki usia 73 tahun mengalami kelemahan sisi tubuh kiri mendadak sejak 2 hari
sebelum masuk RS yaitu saat bangun tidur pagi mendadak klien merasakan kelemahan pada
sisi tubuh kiri, bicara pelo (+), mulut mencong (+), keselek bila makan dan minum (+). Klien
masuk RS dirawat di UGD tanggal 1 Maret 2012, pindah ke Gedung A lantai 5 A tanggal 3
Maret 2020. Klien sudah lama menderita hipertensi dan asam urat. Riwayat terkena stroke 6
bulan yang lalu dengan kelemahan sisi tubuh kiri, merokok (+) tambakan kriting. Hasil
pengkajian didapatkan sesak(-), batuk (+), suara napas vesikuler +/+, RR=20x/menit, TD
150/80 mmHg, N=88x/mnt, S=36ºC.

KASUS 3: CHF

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dirawat karena CHF. Hasil pengkajian menunjukkan
pasien edema anasarka, sesak nafas saat berbaring, terdapat suara jantung S3. Pasien mudah
lelah saat beraktivitas. Hasil pengkajian pasien mengatakan sering terjaga saat tidur karena
sesak, distensi vena jugularis, ictus cordis lebih dari 2 cm, edema pada ekstremitas bawah.
TD 100/60 mmHg, frekuensi nadi 112x/mnt, Suhu 36.50C, frekuensi nafas 24x/mnt. CTR
53%. Pasien memiliki riwayat menderita hipertensi yang tidak terkontrol.

KASUS 4: AMI

Seorang laki-laki usia 40 tahun dirawat di R. Penyakit Dalam dengan AMI. Hasil pengkajian
diperoleh pasien mengeluh kepala masih pusing, badan lemas, dan perut terasa tidak nyaman.
Pasien mengatakan ketika sedang BAK tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang, keluar
keringat yang banyak, dan jatuh pingsan selama kurang lebih 1 menit, kemudian muntah
banyak berisi cairan dan sisa-sisa makanan. Pasien dibawa oleh teman dibawa ke RS Pondok
Kopi, pasien di diagnosa dengan akut STEMI Inferior onset 5 jam Killip IV Timi 11/14 ec
syok kardiogenik dengan TD masuk 70/ 45 mmHg, diberikan loading NaCl 0.9%, terapi
dobutamin s/d 10 mikrogram/kg/mnt, aspilet 160 mg, plavix 300 mg dan diazepam. RS
Pondok Kopi merujuk pasien ke PJNHK untuk tindakan Percutaneous Coronary Intervention
(PCI). Riwayat Penyakit Dahulu: Hipertensi (+) tapi tidak dengan pengobatan.
Pemeriksaan Fisik:
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : Composmentis
c. Berat badan : 65 Kg
d. Tinggi badan : 165 cm
e. Tanda-tanda vital : TD = 98/78 mmHg, RR = 20 x/mnt, HR =132 x/mnt,
saturasi oksigen = 100% dengan pemberian oksigen NRM 10 L/mnt

KASUS 5: TBC

Seorang perempuan usia 65 tahun dirawat di R Penyakit Dalam dengan keluhan sesak nafas,
lemas, sesak bertambah saat beraktifitas. Terdapat ronkhi di kedua lapang paru. TD: 110/70
mmHg, HR: 76 x/mnt, RR: 26 x/mnt, T: 38,6 0C. Hasil rontgen menunjukkan bercak di kedua
lapang paru. Hasil pemeriksaan sputum menunjukkan positif bakteri tuberkulosis. Pasien
terpasang oksigen 3 ltr/mnt dg nasal kanul.

KASUS 6: PPOK

Seorang laki-laki dirawat dengan diagnosa medis PPOK. Pasien mengeluhkan sesak nafas,
batuk berdahak namun dahak susah keluar, dan perut kembung. Pasien sudah berobat ke
Puskesmas namun belum juga sembuh. Pasien memiliki riwayat perokok aktif selama
bertahun-tahun. Hasil pengukuran TTV didapatkan TD 130/100 mmHg, HR 88 x/mnt, RR 26
x/mnt, T 36 °C. Pasien mendapatkan terapi oksigen 3 ltr/mnt dan terapi mukolitik.

KASUS 7: Covid-19

Seorang laki-laki usia 50 tahun dirawat di RS Darurat Covid dengan keluhan 3 hari demam,
pusing, batuk dan bersin-bersin. Pasien memiliki riwayat menderita CHF. Pasien
mengeluhkan juga mual dan tidak nafsu makan. Hasil pemeriksaan TTV didapatkan TD:
130/80 mmHg, HR: 87 x/menit, RR: 27 x/menit, T: 39,30 C. Pasien mendapatkan terapi
oksigen 4 liter/menit.

KASUS 8: Hipertiroid

Seorang laki-laki usia 19 tahun dirawat dengan keluhan pusing, lemas, nafsu makan
meningkat, dan selalu berkeringat banyak di malam hari sudah hampir satu tahun. Pasien
mengalami gangguan tidur karena gelisah dan cemas. Terkadang pasien mengalami diare. TD
130/80 mmHg, frek nadi 110 x/mnt, frek nafas 27 x/mnt, suhu 39 0C. Hasil pemeriksaan
palpasi leher terdapat pembesaran, namun pemeriksaan fisik lainnya menunjukkan dalam
batas normal.

KASUS 9: Efusi pleura

Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat di ruang bedah dengan keluhan sesak nafas, dan
nyeri dada saat nafas dalam. Hasil pengkajian didapatkan nafsu makan menurun dan lemah.
Pengkajian fisik didapatkan retraksi interkostal dan fremitus paru kanan menurun, gerakan
dada tidak sama (paradoksik), penurunan pengembangan dada kanan, pasien terpasang WSD.
Pemeriksaan tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 84 x/menit, frekuensi nafas 26
x/menit.

KASUS 10: DM

Seorang perempuan dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan lemas, diaporesis, dan
kaki terasa kebas. Hasil pemeriksaan TD 140/90 mmHg, frekuensi nadi 95 x/menit, frekuensi
nafas 23 x/menit, suhu 36,5 oC, IMT 26 Kg/m2, dan GDS 280 mg/dL. Pasien hanya habis 3
sendok tiap kali makan dan khawatir jika kadar gula darah naik. Pasien merasakan kesemutan
pada kedua kakinya, tidak mematuhi diet dan terapi obat, jarang melakukan olah raga. Hasil
pemeriksaantampak kehitaman pada ujung ibu jari kaki kanan