Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

DENGAN DIAGNOSA CANCER PARU

DI SUSUN OLEH :

NAMA : HERIANI
NIM : 119191720
SEMESTER : VI

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN

STIK FAMIKA MAKASSAR

TAHUN 2019 /2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan ASKEP tentang ‘ KANKER PARU ’
dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kehadirat beliau Nabi
Agung Muhammad SAW, sebagai nabi pembawa risalah demi kerahmatan
seluruh alam serta syafa’atnya yang kita nantikan kelak di yaumil qiyamah,
Amien.
Sehubungan dengan penulisan makalah ini, Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini dan
secara khusus kami tujukan kepada dosen pengampuh mata kuliah ini. Semoga
amal baiknya mendapat balasan dari Allah SWT. Dengan ini penulis sadari
bahwa penulisan makalah tentang “Pengertian Dan Sejarah Perkembangan
Psikologi Agama” sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan para pembaca umumnya, Amien Ya Robbal Alamin.

SOPPENG 6 JUNI 2020

Penulis
LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER PARU

A. Definisi
Kanker paru atau disebut karsinoma bronkogenik merupakan tumor ganas primer
system pernapasan bagian bawah yang bersifat epithelial dan berasal dari mukosa
percabangan bronkus. Penyakit ini jarang terjadi dan paling sering terjadi didaerah
industry (Sylvia A.price). sedangkan menurut Susan Wilson dan June Thompson,
1990, kanker paru adalah suatu pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel
anaplastic dalam paru.
B. Etiologi
Penyebab dari kanker paru belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi
jangka panjang dari bahan-bahan karsiogenik merupakan faktor utama, tanpa
mengesampingkan kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga ataupun
suku bangsa atau ras serta status imunologi seperti kekebalan tubuh. Dari
beberapa kepustakaan kebiasaan merokok menjadi penyebab utama dan penyebab
lain seperti polusi udara, diet yang kurang mengandung (vitamin A, selenin dan
betakaronin), infeksi saluran pernapasan kronik, dan keturunan/genetic. (Sudoyo
Aru)
Klasifikasi/pentahapan klinik (Clinical staging)
Klasifikasi berdasarkan TNM : tumor modul dan metastase
1.T: T0 :tidak tampak tumor primer
T1 :diameter tumor<3 cm, tanpa invasi ke bronkus
T2 :diameter>3 cm, dapat disertai atelectasis atau pneumonitis,
namun berjarak lebih dari 2 cm dari karina, serta belum ada efusi
pleura.
T3 :tumor ukuran besar dengan tanda invasi ke sekitar atau sudah
Dekat karina dan atau disertai efusi pleura.
2.N: N0 :tidak didapatkan penjalaran ke kelenjar limfe regional
N1 :terdapat penjalaran ke kelenjar limfe hilus ipsilateral
N2 :terdapat penjalaran ke kelenjar limfe mediastinum/kontralateral
N3 :terdapat penjalaran ke kelenjar limfe ekstratorakal
3.M: M0 :tidak terdapat metastase jauh
M1 :sudah terdapat metastase jauh ke organ-organ lain.
C. Manifestasi Klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala klinis. Sudah
menunjukkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. (Sudoyo Aru)
1. Gejala dapat bersifat local (tumor tumbuh setempat):
a. Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
b. Hemoptisis
c. Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran nafas
d. Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
e. Atelektasis
2. Invasi local
 Nyeri dada
 Dispnea karena efusi pleura
 Invasi ke pericardium, terjadi tamponade atau aritmia
 Sindrom vena cava superior
 Sindrom Horoner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
 Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
 Sindrom pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf
simpatis servikalis
3. Gejala penyakit metastasis
 Pada otot, tulang, hati, adrenal
 Limfadenofati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
4. Sindrom paraneoplastik (terdapat pada 10% kanker paru) dengan gejala:
 Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam
 Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
 Hipertrofi osteoartropati
 Neurologik: dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
 Neuromiopati
 Endokrin: sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalasemia)
 Dermatologic: eritema multiform, hyperkeratosis, jari tabuh
 Renal: syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH)
5. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
 Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi
secara radiologis
 Kelainan berupa nodul soliter
6. Pemeriksaan penunjang
1. CT-scan
2. MRI
3. Foto toraks
4. Pemeriksaan sitolosi sputum
5. Pemeriksaan Histopatologi
6. Pemeriksaan serologi
7. Penatalaksanaan
 Pembedahan
Indikasi pembedahan pada kanker paru adalah untuk KPKBSK stadium I
dan II. Pembedahan juga merupakan bagian dari combine modality
theropy, misalnya kemoterapi neoadjuva untuk KPBKSK stadium IIIA.
Indikasi lain adalah bila ada kegawatan yang memerlukan intervensi
bedah, seperti kanker paru dengan sindroma vena kava superior berat.
 Radioterapi
Penetapan kebijakan radiasi pada KPKBSK ditentukan beberapa faktor,
antara lain :
1. Staging penyakit
2. Status tampilan
3. Fungsi paru
Bila radiasi dilakukan setelah pembedahan, maka harus diketahui :
1. Jenis pembedahan termasuk diseksi kelenjar yang kerjakan
2. Penilaian batas sayatan oleh ahli patologi Anatomi (PA)
Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000-6000 cGy, dengan cara
pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu. Syarat standar penderita diradiasi
adalah :
1. Hb>10g%
2. Trombosit>100.000/mm
3. Leukosit>3000/dl
Radiasi paliatif di berikan pada unfaveurable group, yakni :

1. Ps<70

2. Penurunan BB>5% dalam dua bulan

3. Fungsi paru buruk.

 Kemoterapi

Prinsip pemilihan anti kanker dan pemberian suatu regimen kemoterapi adalah :

1. Platinum based therapy (siplatin atau karbolatin)

2. Respon obyektif satu obat abti kanker 15%

3. Toksisiti obat tidak melebihi grade 3 skala WHO harusdihentikan atau di

ganti bila setela pemberian 2 siklus pada penilaian terjadi tumor progresif.

Regimen untuk KPKBSK adalah ;

1.Platinum based therapy (sisplatin atau karboplatin)

2.PE(sisplatin atau karboplatin+etoposit)

3.Paklitaksel+sisplatin atau karboplatin

4.Gemsitabin+sisplatin atau karboplatin

5.Dosetaksel+sisplatin atau karboplatin

 Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemotherapy :

1. Tampil>70-80, pada penderita dengan PS<70 atau usia lanjut, dapat

diberikan obat antikanker dengan regimen tertentu dan/atau jadwal

tertentu.

2. Hb>10g%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut,

meski HbM10g% tidak perlu transfuse darah segera, cukup diberi

therapy sesuai dengan penyebab anemia.


3. Granulosit>1500/mm

4. Trombosit>100.000/mm

5. Fungsi hati dengan ginjal baik (creatinin clearance lebih dari

70ml/menit)

Dosis obat abti kanker dapat dihitung berdasarkan ketentuan farmakologik

masing-masing. Ada yang menggunakan rumus antara lain, mg/kg BB, mg/luas

permukaan tubuh (BSA), atau obat yang menggunakan umusan AUC (area under

the curve) yang menggunakan CCT untuk merumusnya. Luas permukaan tubuh

(BSA) diukur dengan menggunakan parameter tinggi badan dan berat badan, lalu

dihitung dengan menggunakan rumus atau alat pengukur khusus (nomogram yang

berbentuk mistar).

Untuk obat anti kanker yang menggunakan AUC (missal AUC 5), maka

dosis dihitung dengan menggunakan rumus atau menggunakan monogram. Dosis

(mg )= (target AUC )X (GFR+25). Nilai GFR atau gromenular filtration rate

dihitung dari kadar kreatinin dan ureum darah penderita.

 Evaluasi hasil pengobatan :

Untuk kemoterapi diberikan sampai 6 siklus/sekuen, bila penderita

menunjukkan respon yang memadai. Evaluasi respon terapi dilakukan dengan

melihat perubahan ukuran tumor pada foto toraks PA setelah pemberian (siklus)

kemoterapi ke-2 dan kalau memungkinka menggunakan CT-scan toraks setelah 4

kali pemberian. Evaluasi diberikan terhadap :

1. Respon subyektif yaitu penurunan keluhan awal

2. Respon semisubyektif yaitu perbaikan tampilan, bertambahnya berat

badan
3. Respon obyektif

4. Efek samping obat

Respon obyektif terbagi atas 4 golongan dengan ketentuan :

 Respons komplit (complete response, CR): bila pada evaluasi tumor

hilang 100% dan keadaan ini menetap lebih dari 4 minggu

 Respons sebagian (partial response, PR): bila penurunan ukuran

tumor>50% tetqpi <100%.

 Menetap (stable disease, SD): bila ukuran tumor tidak berubah atau

tidak mengecil >25% tetapi <50%.

 Tumor progresif (progressive disease, PD): bila terjadi pertambahan

ukuran tumor >25% atau muncul tumor/lesi baru di paru atau di tempat

lain.

8. Pengobatan paliatif

Pengobatan paliatif untuk kanker paru yang akan dibedah perlu dilakukan

rehabilitasi medic prabedah dan pascabedah, yang bertujuan untuk

membantu memperoleh hasil optimal tindakan bedah, terutama untuk

mencegah konflikasi pascabedah (misalnya: retensi sputum, paru tidak

mengembang)bdan mempercepat mobilitas.

9. Masalah yang lazim muncul

1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi bronkial sekunder

karena invasi tumor (penyakit paru obstruktif kronis)

2. Ketidak efektifan pola nafas b.d obstruksi bronkus, deformitas diding

dada, keletihan otot pernafasan


3. Nyeri akut b.d agen cidera (karsinoma), penekanan saraf oleh tumor

paru

4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak

mampuan untuk menelan makanan, anoreksia, kelelahan dan dyspnea

5. Intoleransi aktivitas b.d keyidak seimbangan suplai oksigen (anemia),

kelemahan secara umum

6. Ansietas b.d proses perkembangan penyakit

7. Defisiensi pengetahuan b.d keterbatasan informasi proses dan

pengobatan penyakit

10. Discharge planning

1. Konsultasi dengan dokter tentang penanganan lanjutan (kemoterapi,

radiasi, pembedahan)

2. Tidak merokok sejak usia muda. Berhenti merokok dapat mengurangi

resiko terkena, hindari daerah yang sering polusi udara dan hindarkan

anak-anak terpapas asap rokok.

3. Tingkatkan daya tahan tubuh. Cukup istirahat, makan makanan yang

bergizi.
11. Patofisiologi
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
1.      Biodata :
Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 50 th
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : PNS
Status Pernikahan : Menikah
Alamat : Btn. Taborong Permai
Tanggal Masuk RS : 05 November 2019
Diagnosa Medis : Ca. Paru
2.      Keluhan utama :
Sesak napas dan nyeri dada
3.      Riwayat Kesehatan :

a. Riwayat Penyakit Sekarang :


Klien masuk ke Rumah Sakit tanggal 5 November 2015 akibat
mengalami penyakit Ca. Paru. Klien datang ke RS Pelamonia diantar
oleh keluarganya melalui IGD, pada tanggal 5 November 2015,
dengan keluhan sesak napas, nyeri dada, batuk, tidak nafsu makan,
penurunan berat badan, dan cepat letih.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap makanan atau
obat-obatan, hanya saja tidak terlalu suka sayuran. + 1 tahun yang
lalu klien pernah terkena penyakit bronkitis sampai diopname. Klien
pernah mengalami kecelakaan motor namun tidak fatal. Keluarga
klien mengatakan bahwa klien hampir setiap hari mengkonsumsi
daging, jarang makan sayur, dan klien mempunyai riwayat peminum
/ alkohol dan merokok, klien biasa merokok kurang lebih 1 bungkus
rokok perharinya, klien mulai merokok sejak umur 18 tahun.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien menjelaskan anggota keluarganya tidak ada yang
menderita penyakit keturunan yang umumnya menyerang, seperti
DM, Asma, Hipertensi.

4.      Basic Promoting physiology of Health

d. Aktifitas dan latihan


Pekerjaan Tn. A yaitu seorang PNS dan waktu luangnya diisi dengan
beristirahat di rumah sambil merokok dan berkumpul bersama
keluarga. Klien jarang berolahraga. Saat sakit, klien hanya bisa
berbaring di tempat tidur, aktifitas terbatas, dan klien dibantu oleh
keluarganya.
e. Tidur dan istirahat
Sebelum sakit lama tidur klien 7-8 jam/hari, hanya dipergunakan
untuk tidur malam karena klien jarang sekali tidur siang dan tidak
ada gangguan dalam tidur. Saat sakit lama tidur klien hanya 5 jam
dengan tidur siang selama 1 jam. Klien kadang-kadang kesulitan
tidur di rumah sakit karena sesak dan nyeri dada yang dialami klien
saat bernapas, klien tampak lemah, gelisah dan terlihat pucat.
f. Kenyamanan dan nyeri
Klien merasakan nyeri pada dada dalam 2 bulan belakangan ini.
Nyeri akan lebih terasa menyakitkan jika beraktifitas dan akan
berkurang saat klien beristirahat.
g. Nutrisi
Sebelum sakit, frekuensi makan Tn. A tidak teratur dikarenakan
kesibukan jam kerja yang mengakibatkan sering telat makan. Berat
badan klien 66 kg. Berat badan dalam 1 bulan terakhir turun drastis
menjadi 55 kg. Jenis makanan yang paling sering dikonsumsi klien
yaitu daging dan makanan cepat saji (sate & gulai). Klien tidak suka
sayuran, dan tidak memiliki pantangan terhadap makanan apapun.

Saat sakit, klien hanya mengkonsumsi nasi lembek, sayuran hijau,


buah tapi jarang habis karena klien mual, tidak nafsu makan, & klien
tidak makan yang pedas & berminyak..
h. Cairan, elektrolit, dan asam basa
Sebelum sakit frekuensi minum klien 7-8 gelas/hari. Saat sakit,
frekuensi minum klien + 2-3 gelas/hari. Turgor kulit tidak elastis.
Klien mendapat support IV Line jenis RL 20 tetes/menit
i. Oksigenasi
Klien mengalami sesak, nyeri dada saat bernafas, klien batuk, klien
merokok kurang lebih 1 bungkus per harinya.
j. Eliminasi fekal/bowel
Frekuensi BAB klien sebelum sakit 1x sehari di pagi hari. Feses
berwani kuning, konsistensi padat, berbau khas, warna kuning
kecoklatan, dan tidak ada keluhan.
Saat sakit, klien kesulitan BAB, mengalami sembelit, baru 1x selama
dirawat di RS, feses berwarna kehitaman, konsistensi keras.
k. Eliminasi urin
Frekuensi BAK klien 5x sehari. Klien mengalami perubahan pola
berkemih. Klien tidak menggunakan kateter, kebutuhan pemenuhan
ADL dengan bantuan keluarga.
l. Sensori, persepsi, dan kognitif
Klien tidak memiliki gangguan dan riwayat penyakit yang
menyangkut sensori, persepsi, dan kognitif.

5.      Pemeriksaan Fisik Head To Toe

a. Keadaan Umum
Kesadaran klien composmentis, Vital Sign TD 130/90 mmHg, Nadi
112x/menit, Respirasi 36x/menit, Suhu 390 C
b. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Ketidakmampuan melakukan aktifitas kebiasaan secara rutin,
sesak nafas karna melakukan aktifitas.
Tanda: Pasien lesu
c. Sirkulasi
Gejala : Terdapat sindrom vena kava superior (cubbing finger), terjadi
aritmia, Takikardi, Jari tabuh.
d. Integritas Ego
Gejala : perasaan takut, menolak kondisi yang berat atau potensial
keganasan
Tanda : kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang
e. Eliminasi
Gejala : di area yang hilang timbul (ketidakseimbangan hormonal
karsinoma sel kecil), peningkatan sekresi jumlah urin.
f. Makanan / Cairan
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan
masukan makanan, kesulitan menelan, haus atau peningkatan
masukan cairan.
Tanda : kurus, kerempeng atau penampilan kurang bobot, edema
wajah atau leher, dada, punggung ( obstruksi vena kava), edema wajah
atau periordital ( ketikaseimbangan hormonal, kalsinoma sel kecil )
g. Nyeri
Gejala : Nyeri dada(tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak
selalu pada tahap lanjut) dimana dapat atau tidak dapat dipengaruhi
oleh perubahan posisi, nyeri bahu atau tangan( khususnya pada sel
besar atau adenokalsioma), nyeri tulang atau sendi:
erosi kapilago sekunder terhadap peningkatan hormone pertumbuhan (
sel besar atau adenokarsinoma), nyeri abdomen hilang timbul.
h. Pernafasan
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan
produksi sputum, napas pendek, pekerja yang terpajan polutan, debu
industry, serak, paralisis pita suara, riwayat merokok
Tanda : Dipsnea, meningkat dengan kerja, peningkatan fremitus
taktil(menunjukan konsuladisasi), krekels atau mengik pada
inspirasi/ekspirasi(gangguan aliran udara), krekels atau mengik
menetap, penyimpanan trakeal (area yang mengalami lesi), hemoptisis
i. Keamanan
Tanda : Demam mungkin ada(sel besar atau adenokarsinoma),
kemerahan, kulit pucat(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil)
j. Seksualitas
Tanda : Dinekomastia(perubahan horman neopplastik, karsinoma sel
besar), Amenorea/Impoten(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma
sel kecil)
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga:kanker atau khususnya paru,
tuberculosis,kegagalan untuk membaik.
Pertimbangan Rencana Pemulangan: DRG menunjukkan rerata lama
dirawat: 11hari, bantu transportasi, pengobatan, tindakan, perawatan
diri pemeliharaan rumah.
Analisa Data

N DATA ETIOLOGI MASALAH


O

1.Kl klien mengungkapkan sesak Saat bernafas dan Massa pada mediastinum Ketidakefektifan pola
dada terasa berat. Menekan rongga paru nafas

DO :

  - Keadaan umum agak lemah. Penurunan ekspansi paru


   - Suara nafas menghilang pada dada anterior.
    -Pada perkusi dada terdengar redup.
   -Respirasi 36 x/mnt, cepat dan dangkal. Pengembangan paru
terbatas

Klien sesak

2. DS : Gangguan pertukaran
gas
   - Pasien mengelu sesak dan nyeri saat bernafas Obstruksi jalan nafas oleh
sekresi dan spasme
DO :
bronkus
   - pasien tampak Gelisah,
    Nilai GDA tidak normal,
  - Perubahan TTV Kerusakan alveoli

Bronkiektasis/Aktelektasis

3. S: -Mengeluh sakit disertai rasa    nyeri yang Intrapulmoner Metastatik Nyeri Akut
menetap
O: Adanya Invasi kanker ke
pleura, atau dinding dada.
-  Pasien tampak gelisah

-    Wajahya terlihat pucat

-    Tanda vital : TD: 130/90 mmHg, Nadi : 120


x / m, Suhu : 39 , RR: 36 x/m.

4. DS : Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
   - Mengatakan nafsu makan menurun dan terasa Sesak Psikologis
mual

DO:
Mual
   - Penurunan berat badan,(BB sebelumnya
66kg,setelah masuk RS BB 55Kg)
   - pasien tampak Lemas
- P- porsi  makan tidak habis,makan hanya 2 - 4
Anoreksia
sendok

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru


2. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran udara ke
alveoli  atau ke bagian utama paru, perubahan membran alveoli
3. Nyeri Akut yang berhubungan dengan invasi kanker ke pleura, atau dinding
dada.
4.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan Anoreksia
INTERVENSI KEPERAWATAN

Tgl No
dx
TUJUAN & KH INTERVENSI RASIONAL

1. Setelah di lakukan 1.  Kaji frekuensi, 1.  Untuk mengetahui


tindakan kedalaman pernafasan dan frekuensi & kedalan
keperawatan 1x24 jam di ekspansi dada. pernafasan karena kedalamam
harapkan pola nafas klien pernafasan bervariasi
2.  Auskultasi bunyi nafas,
efektif dengan KH: tergantung derajat gagal nafas.
dan catat adanya bunyi
-   Klien mengungkapkan nafas tambahan. 2.  Perubahan bunyi nafas
sesak berkurang/ tidak menunjukan obstruksi
3.  Observasi pola batuk
sesak. sekunder
dan karakter secret
-   Respirasi dalam batas 3.  Kongesti alveolar
4.  Berikan pada klien
normal. mengakibatkan batuk
posisi semi fowler.
kering/iritatif
-   Tidak menggunakan
5.  Kolaborasi dalam
otot bantu pernafasan 4.  Posisi membantu
pemberian oksigen
memaksimalkan ekspansi paru
tambahan.
dan menurunkan upaya
6.  Berikan humidifikasi pernafasan
tambahan.
5.  Memaksimalkan pernafasan
dan menurunkan kerja nafas.

6.  Memberikan kelembaban
pada membran mukosa dan
membantu pengenceran

Secret

2. Setelah dilakukan 1.   Kaji frekluensi dan 1.   Berguna dalam evaluasi


tindakan keperawatan kedalaman pernafasan. derajat distress pernafasan dan
2x24 diharapkan pasien kronisnya prosespenyakit.
2.   Auskultasi paru untuk
menunjukkan perbaikan
penurunan bunyi nafas dan 2.   Area yang tak terventilasi
ventilasi dan oksigenasi
adanya bunyi tambahan dapat diidentifikasikan  dengan
jaringan yang adekuat
tak adanya bunyi nafas.
danPertukaran gas 3.   Observasi ferfusi 
efektif.dengan  daerah akral dan sianosis 3.   Menunjukan hipoksemia
(daun telinga, bibir, lidah sistemik
KH:
dan membran lidah )
4.   Jalan nafas lengket/kolaps
-  Tidak bingung dan
4.   Lakukan tindakan menurunkan jumlah alveoli
gelisah
untuk memperbaiki jalan yang berfungsi Secara negatif
-  TTV normal nafas. mempengaruhi pertukaran gas.

-  Tidak sesak 5.   Tinggikan 5.   Meningkatkan ekspansi


kepala/tempat tidur sesuai dada maksimal, membuat
-  Nilai GDA normal
dengan kebutuhan. mudah bernafas meningkatkan
kenyamanan.
6.   Kaji TTV
6.    Takikardia, disritmia dan
7.   Monitor GDA
perubahan tekanan darah dapat
8.   Berikan o2 tambahan menunjukkan efek hipoksemia
sesuai dengan indikasi sistemik pada fungsi jantung
hasil GDA.
7.    PaCO2 biasanya
meningkat, dan PaO2 menurun
sehingga hipoksia terjadi
derajat lebih besar/kecil.

8.    Dapat
memperbaiki/mencegah
buruknya hipoksia.

3 Seteh di lakukan 1.    Tanyakan pasien 1.    Membantu dalam evaluasi


tindakan keperawatan tentang nyeri, Tentukan gejala nyeri kanker yang dapat
selama 1x24 jam Nyeri   karaktersitik nyeri melibatkan visera, saraf atau
hilang/ berkurang dengan jaringan tulang
2.    Buat skala nyeri 0-10
KH:
rentang intensitasnya 2.    Penggunaan skala rentang
-     TTV normal membantu pasien dalam
3.    Observasi tanda-tanda
mengkaji tingkat nyeri
-     Klien nampak rileks. vital
3.    Untuk mengetahui
-     Klien dapat tidur. 4.    Kaji  pernyataan
Penurunan tekanan darah :
verbal dan non verbal nyeri
-     Klien dapat berpartisi peningkatan nadi dan
pasien.
dalam aktivitas. pernafasan
5.    Evaluasi keefektifan
4.    Ketidaksesuaian antara
pemberian obat
verbal dan non verbal
menunjukan.derajat nyeri

6.    Berikan tindakan 5.    Memberikan obat


kenyamanan, ubah posisi, berdasarkan aturan.
dll.
6.    Meningkatkan relaksasi
7.    Berikan lingkungan dan pengalihan perhatian..
tenang.
7.    Penurunan stress,
8.    Kolaborasi: Berikan menghemat energy
analgesik rutin s/d indikasi.
8.    Mempertahankan kadar
obat, menghindari puncak
periode nyeri

4. Setelah di lakukan 1.    Catat ststus nutrisi 1.   Berguna dalam


tindakan keperawatan pasien pada penerimaan, mengidentifikasi derajat
sselama 2x 24 jamNutrisi catat turgor kulit, berat kurang nutrisi dan menentukan
klien terpenuhi. badan dan derajat pilihan intervensi
kekurangan berat badan
Dengan KH: 2.   Meningkatkan
2.    Berikan penjelasan pengetahuan dan kepatuhan
-     Berat badan
tentang pentingnya untuk menjalankan program
bertambah dan.
makanan yang adekuat dan diet sesuai atura
-     Menunjukan bergizi
3.   Pertimbangan keinginan
perubahan pola makan.
3.    Pastikan pola diet individu dapat memperbaiki
pasien yang disukai/tidak masukan diet.
disukai
4.   Mengukur kefektifan
4.    Awasi nutrisi dan dukungan cairan.
pemasukan/pengeluaran
5.   Peningkatan pemenuhan
dan berat badan secara
kebutuhan dan kebutuhan
periodic
pertahanan tubuh
5.    Dorong klien untuk
6.   Akumulasi partikel
makan diet TKTP
makanan di mulut menambah
6.    Pertahankan higiene rasa ketidaknyamanan pada
mulut mulut dan menurunkan nafsu
makan
7.    Kolaborasi dengan
Ahli gizi dalam pemberian 7.   Meninkatkan kemampuan
makanan asupan sesuai dengan
kemampuan klien
No Diagnosa Noc Nic
BAB IV

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penulisan makalah ini yaitu :

1.Kanker paru (Ca Paru) merupakan penyebab kematian utama akibat kanker
pada pria dan wanita. Kanker paru ini meningkat dengan angka yang lebih
besar pada wanita dibandingkan pada pria dan sekarang melebihi kanker payudara
sebagai penyebab paling umum kematian akibat kanker pada wanita.
2. Kanker paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam
jaringan paru paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan,
terutama asap rokok.
3.Asap rokok merupakan penyebab utama terjadinya Ca. paru.
4.Ada banyak gejala yang dari penyakit ini, gejala paling umum yang ditemui
pada penderita kanker paru adalah Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat,
dahak berdarah, berubah warna dan makin banyak, napas sesak dan pendek-
pendek, sakit kepala, nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas,
kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
5.Kemoterapi, pembedahan dan radioterapi merupakan tindakan yang dapat
dilakukan sebagai bentuk pengendalian dari Ca. Paru

B. Saran

Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada
kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan
memakluminya.
DAFTAR PUSTAKA

Somantri Irman. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan


Sistem Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.

Danusantoso Halim. 2013. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran

Sudoyo Aru, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta

Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.

Tim CancerHelps. 2010. Stop Kanker “KANKER BUKAN LAGI VONIS MATI”
Panduan Deteksi Dini dan Pengobatan Menyeluruh Berbagai Jenis Kanker.
Jakarta. Penerbit AgroMedia Pustaka.

Suryo Joko. 2010. HERBAL”Penyembuh Gangguan Sistem Pernapasan”.


Yogyakarta. Penerbit B First(PT Bentang Pustaka)

Kusuma Hardhi. 2015. APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN


DIAGNOSA MEDIS & NANDA, NIC-NOC. Jogjakarta. Penerbit Mediaction.