Anda di halaman 1dari 133

HAK ASASI MANUSIA

A. PENGERTIAN HAM
Hak Asasi Manusia adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang
menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur
sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional. Mereka umumnya
dipahami sebagai hal yang mutlak sebagai hak-hak yang "melekat pada semua
manusia" terlepas dari bangsa, lokasi, bahasa, agama, asal-usul etnis atau status
lainnya. Ini berlaku di mana-mana dalam arti yang universal. HAM membutuhkan
empati dan aturan hukum dan memaksakan kewajiban pada orang untuk menghormati
hak asasi manusia dari orang lain.
Beberapa definisi HAM:
- Menurut UU No. 39 Tahun 1999, HAM ialah seperangkat hak yang melekat pada
hakikat setiap keberadaan manusia yang merupakan makhluk Tuhan Yang Maha
Esa. Hak merupakan anugerah-Nya yang haruslah untuk dihormati, dijunjung
tinggi, serta dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang untuk
kehormatan serta perlindungan harkat martabat manusia.
- Menurut John Locke, HAM merupakan suatu hak yang diberikan langsung oleh
Tuhan yang bersifat kodrati. Artinya adalah hak yang dimiliki oleh setiap manusia
menurut kodratnya dan tidak dapat dipisahkan hakikatnya, sehingga sifatnya adalah
suci.

B. CIRI-CIRI HAM
Berikut ciri khusus hak asasi manusia sebagai berikut:
1. Tidak dapat dicabut, HAM tidak dapat dihilangkan atau diserahkan.
2. Tidak dapat dibagi, semua orang berhak untuk mendapatkan semua hak, baik itu
hak sipil, politik, hak ekonomi, sosial, dan budaya.
3. Hakiki, HAM merupakan hak asasi semua manusia yang sudah pada saat manusia
itu lahir.
4. Universal, HAM berlaku bagi semua orang tanpa memandang status, suku, jenis
kelamin, atau perbedaan yang lainnya. Persamaan merupakan salah satu dari
berbagai ide hak asasi manusia yang mendasar.

C. MACAM-MACAM HAM
Berikut macam-macam HAM:
- Hak Asasi Pribadi
Hak asasi pribadi ialah hak yang masih berhubungan dengan kehidupan
pribadi manusia. Contoh dari hak asasi pribadi sebagai berikut :
 Hak kebebasan untuk dapat bergerak, bepergian, serta berpindah-pindah
tempat.
 Hak kebebasan dalam mengeluarkan atau menyatakan suatu pendapat.
 Hak kebebasan dalam memilih dan juga aktif berorganisasi.
 Hak kebebasan dalam memilih, memeluk, dan menjalankan agama yang
diyakini oleh tiap-tiap manusia.
- Hak Asasi Politik
Hak asasi politik ialah hak yang berhubungan dengan kehidupan politik.
Contoh dari hak asasi politik sebagai berikut:
 Hak dalam memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan umum.
 Hak ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintahan.
 Hak guna dalam membuat dan mendirikan partai politik serta mendirikan
organisasi politik lainnya.
 Hak untuk membuat serta mengajukan usulan petisi.
- Hak Asasi Hukum
Hak asasi hukum ialah kesamaan kedudukan dalam hukum dan juga
pemerintahan, yaitu hak yang berhubungan dengan berbagai kehidupan hukum dan
juga pemerintahan. Contoh dari hak asasi hukum sebagai berikut:
 Hak guna mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum serta pemerintahan.
 Hak menjadi pegawai negeri sipil atau PNS.
 Hak untuk mendapat layanan dan perlindungan hukum.
- Hak Asasi Ekonomi
Hak asasi ekonomi ialah hak yang berhubungan dengan berbagai kegiatan
perekonomian. Contoh dari hak asasi ekonomi sebagai berikut:
 Hak kebebasan dalam melakukan berbagai kegiatan jual beli.
 Hak kebebasan dalam mengadakan perjanjian kontrak.
 Hak kebebasan dalam menyelenggarakan kegiatan sewa-menyewa atau utang
piutang.
 Hak kebebasan untuk mempunyai sesuatu
 Hak memiliki serta mendapatkan pekerjaan yang layak.
- Hak Asasi Peradilan
Hak asasi peradilan ialah hak untuk diperlakukan sama terhadap tata cara
pengadilan. Contoh dari hak asasi peradilan sebagai berikut:
 Hak dalam mendapatkan pembelaan hukum di depan pengadilan.
 Hak persamaan dalam perlakuan penggeledahan, penahanan, penyelidikan,
penangkapan di muka hukum.
- Hak Asasi Sosial Budaya
Hak asasi sosial budaya ialah hak yang berhubungan dengan kehidupan
dalam bermasyarakat. Contoh hak asasi sosial budaya sebagai berikut:
 Hak dalam memilih, menentukan, serta mendapatkan pendidikan.
 Hak mendapatkan pengajaran.
 Hak dalam mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat

D. LEMBAGA PENEGAKAN HAM


1. Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
Komnas HAM dibentuk dengan Keppres No. 50 Tahun 1993, tanggal 7 Juni 1993.
Keberadaan HAM lebih kuat dengan lahirnya UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia. Tujuan pembentukan Komnas Ham yakni:
 Membantu pengembangan kondisiyang mendukung bagi pelaksanaan HAM
sesuai dengan Pancasila, UUD 1945 dan Piagam PBB.
 Meningkatkan perlindungan serta penegakan HAM guna mendukung
pembangunan nasional yakni berkembangnya pribadi manusia Indonesia
seutuhnya.
Komnas HAM melaksanakan empat macam fungsi, yakni pengkajian, penelitian,
penyuluhan dan mediasi tentang HAM. Komnas HAM berkedudukan di ibu kota negara
RI. Komnas HAM beranggotakan 35 orang, dipilih oleh DPR dan diresmikan oleh
presiden.
Keanggotaan Komnas HAM dari tokoh masyarakat yang profesional, berdedikasi,
berintegrasi tinggi, menghayati cita-cita negara hukum dan negara kesejahteraan yang
berintikan keadilan dan menghormati HAM. Masa jabatan keanggotaan Komnas HAM
lima tahun dan setelah berakhir dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan.
2. Pengadilan HAM
Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan
peradilan umum dan berkedudukan di daerah kabupaten atau kota. Pengadilan HAM
merupakan pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM berat yang meliputi
kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan (UU RI Nomor 26 Tahun 2000
tentang Pengadilan HAM).
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara
pelanggaran HAM yang berat. Pengadilan HAM juga berwenang memeriksa dan
memutus perkara pelanggaran HAM berat yang dilakukan di luar batas teritorial
wilayah negara RI oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Di samping itu juga dikenal
Pengadilan HAM Ad Hoc, yang diberi kewenangan untuk mengadili pelanggaran HAM
berat yang terjadi sebelum diundangkannya UU RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM.

3. Komnas Perlindungan Anak


Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa. Anak juga
merupakan masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa sehingga anak
berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh berkembang, berhak atas perlindungan dari
tindakan kekerasan dan diskriminasi.
Sesuai dengan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 74
menyatakan “Dalam rangka meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan
anak, dengan UU ini dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang bersifat
independen.”
Beberapa tugas Komisi Perlindungan Anak Indonesia ialah:
 Melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data
dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan,
pemantauan, evaluasi, dan pengawasan perlindungan anak.
 Memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada presiden
dalam rangka perlindungan anak.

4. Kepolisian Negara RI
UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI Pasal 5 ayat (2) menyatakan
“Kepolisian Negara RI adalah kepolisian yang merupakan satu kesatuan dalam
melaksanakan peran sebagaimana dimaksud ayat (1) yang menyatakan, “Kepolisian
Negara RI merupakan alat negara berperan dalam memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya
ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.”
Adapun tugas pokok Kepolisan Negara RI diatur dalam Pasal 13, yakni:
 Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.
 Menegakkan hukum.
 Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
KEWARGANEGARAAN
Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam kontrol satuan politik tertentu
(secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam
kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara.
Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.
Secara umum ada 2 asas kewarganegaraan yang diterapkan oleh suatu negara, yaitu:

1. Ius Sanguinis

Asas ius sanguinis atau asas keturunan yang menetapkan kewarganegaraan seseorang
menurut keturunan atau pertalian darah. Artinya, kewarganegaraan anak bergantung pada
orang tuanya meskipun anak tersebut lahir di negara. Misalkan, seorang anak dilahirkan
di negara B yang menganut asas ius sanguinis, sedangkan orang tuanya warga negara A,
maka anak tersebut tetap menjadi warga negara A.

Contoh negara dengan sistem asas kewarganegaraan ius sanguinis:

• Belanda, Belgia, Bulgaria


• Korea Selatan, Kroasia
• Republik Ceko, Rusia
• Spanyol, Serbia

2. Ius Soli

Asas ius soli atau asas tempat kelahiran yang menetapkan kewarganegaraan seseorang
menurut tempat kelahirannya. Artinya kewarganegaraan anak akan diberikan jika anak
tersebut lahir di negara yang menganut asas ius soli. Misalnya, seorang anak harus menjadi
warga negara B karena lahir di negara B, meskipun orang tuanya warga negara A.

Contoh negara dengan sistem asas kewarganegaraan ius soli:

• Argentina, Amerika Serikat


• Brazil, Bangladesh
• Kanada, Kamboja, Kolombia, Kosta Rika
• Grenada, Guatemala, Guyana

Keberadaan kedua asas kewarganegaraan tersebut kerap kali menimbulkan masalah. Hal ini
karena ada negara yang menganut asas ius sanguinis dan ada pula negara yang menganut asas
ius soli. Sehingga kerap muncul masalah bipatride, multipatride, bahkan apatride.

1. Bipatride
Seseorang yang memiliki dua kewarganegaraan (kewarganegaraan ganda) yang bisa
terjadi karena anak lahir di negara A yang menganut asas kewarganegaraan ius soli
(tempat kelahiran) namun orang tuanya warga negara B yang menganut asas ius
sanguinis. Anak tersebut akan mendapat 2 kewarganegaraan dari negara A berdasarkan
tempat lahir dan dari negara B karena faktor keturunan.
2. Apatride
Seseorang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Bisa terjadi jika anak lahir di negara
B yang menganut asas ius sanguinis sedangkan orang tua berasal dari negara A. Si anak
tidak mendapat kewarganegaraan negara B karena lahir dari orang tua yang bukan
warga negara B. Anak juga tidak mendapat kewarganegaraan orang tuanya (negara A)
karena tidak lahir di negara A (ius soli – berdasarkan tempat lahir).
3. Multipatride
Seseorang yang memiliki 2 atau lebih kewarganegaraan. Hal ini bisa terjadi jika
bipatride menerima juga pemberian status kewarganegaraan lain ketika dia telah
dewasa, namun tidak melepaskan status kewarganegaraan yang lama.

Karena pentingnya peran warga negara dalam pembangunan, ada banyak undang-undang yang
dibuat untuk melindungi hak dan menjelaskan kewajiban warga negara pada suatu negara,
terutama di Indonesia. Undang-undang yang mengatur tentang kewarganegaraan di Indonesia
adalah UU No. 12 Tahun 2006. Menurut UU tersebut, warga negara adalah:

• Setiap orang yang sebelum berlakunya UU tersebut telah menjadi WNI


• Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI
• Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu WNA atau
sebaliknya
• Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI dan ayah yang tidak
memiliki kewarganegaraan atau hukum negara asal sang ayah tidak memberikan
kewarganegaraan kepada anak tersebut
• Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari
perkawinan yang sah, dan ayahnya itu seorang WNI
• Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu seorang WNI
• Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah
WNI sebagai anaknya dan pengakuan tersebut itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia
18 tahun atau belum kawin
• Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas
status kewarganegaraan ayah ibunya
• Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia selama ayah
ibunya tidak diketahui
• Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak
memiliki kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya
• Anak yang dilahirkan diluar wilayah Republik Indonesia dari ayah dan WNI, yang karena
ketentuan dari negara tempat anak tersebut lahir memberikan kewarganegaraan kepada
anak anak yang bersangkutan
• Anak dari ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya,
kemudian ayah atau ibunya meninggal sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan
janji setia
DAFTAR PAHLAWAN NASIONAL

NAMA PAHLAWAN LAHIR WAFAT ASAL DAERAH


Cut Nyak Dhien 1850 1908 Aceh
Cut Nyak Meutia 1870 1910 Aceh
Iskandar Muda 1593 1636 Aceh
Malahayati Abad ke-15 1604 Aceh
Teuku Muhammad Hasan 1906 1997 Aceh
Teuku Nyak Arif 1899 1946 Aceh
Teuku Umar 1854 1899 Aceh
Teungku Chik di Tiro 1836 1891 Aceh
I Gusti Ketut Jelantik Tidak 1849 Bali
diketahui
I Gusti Ketut Puja 1904 1957 Bali
I Gusti Ngurah Made Agung 1876 1906 Bali
I Gusti Ngurah Rai 1917 1946 Bali
Ida Anak Agung Gde Agung 1921 1999 Bali
Syafruddin Prawiranegara 1911 1989 Banten
Tirtayasa 1631 1683 Banten
Fatmawati 1923 1980 Bengkulu
Abdul Rahman Saleh 1909 1947 D.I. Yogyakarta
Agustinus Adisucipto 1916 1947 D.I. Yogyakarta
Ahmad Dahlan 1868 1934 D.I. Yogyakarta
Diponegoro 1785 1855 D.I. Yogyakarta
Fakhruddin 1890 1929 D.I. Yogyakarta
Hamengkubuwono I 1717 1792 D.I. Yogyakarta
Hamengkubuwono IX 1912 1988 D.I. Yogyakarta
Ignatius Joseph Kasimo 1900 1986 D.I. Yogyakarta
Ki Bagus Hadikusumo 1890 1954 D.I. Yogyakarta
Ki Hajar Dewantara 1889 1959 D.I. Yogyakarta
Lafran Pane 1922 1991 D.I. Yogyakarta
Rajiman Wediodiningrat 1879 1952 D.I. Yogyakarta
Siti Walidah 1872 1946 D.I. Yogyakarta
Sugiyono Mangunwiyoto 1926 1965 D.I. Yogyakarta
Sultan Agung 1591 1645 D.I. Yogyakarta
Suryopranoto 1871 1959 D.I. Yogyakarta
Wahidin Sudirohusodo 1852 1917 D.I. Yogyakarta
Ismail Marzuki 1914 1958 DKI Jakarta
Mohammad Husni Thamrin 1894 1941 DKI Jakarta
Pierre Tendean 1939 1965 DKI Jakarta
Wage Rudolf Supratman 1903 1938 DKI Jakarta
Nani Wartabone 1907 1986 Gorontalo
Thaha Syaifuddin 1816 1904 Jambi
Abdul Halim Majalengka 1887 1962 Jawa Barat
Achmad Subarjo 1896 1978 Jawa Barat
Dewi Sartika 1884 1947 Jawa Barat
Eddy Martadinata 1921 1966 Jawa Barat
Gatot Mangkupraja 1896 1968 Jawa Barat
Iwa Kusumasumantri 1899 1971 Jawa Barat
Juanda Kartawijaya 1911 1963 Jawa Barat
Kusumah Atmaja 1898 1952 Jawa Barat
Maskun Sumadireja 1907 1986 Jawa Barat
Noer Alie 1914 1992 Jawa Barat
Oto Iskandar di Nata 1897 1945 Jawa Barat
Zainal Mustafa 1907 1944 Jawa Barat
Ahmad Rifa’i 1786 1870 Jawa Tengah
Ahmad Yani 1922 1965 Jawa Tengah
Albertus Sugiyapranata 1896 1963 Jawa Tengah
Alimin 1889 1964 Jawa Tengah
Cipto Mangunkusumo 1886 1943 Jawa Tengah
Gatot Subroto 1907 1962 Jawa Tengah
Janatin 1943 1968 Jawa Tengah
Jatikusumo 1917 1992 Jawa Tengah
Kartini 1879 1904 Jawa Tengah
Katamso Darmokusumo 1923 1965 Jawa Tengah
Ki Sarmidi Mangunsarkoro 1904 1957 Jawa Tengah
Mangkunegara I 1725 1795 Jawa Tengah
Muhammad Mangundiprojo 1905 1988 Jawa Tengah
Muwardi 1907 1948 Jawa Tengah
Nyi Ageng Serang 1752 1828 Jawa Tengah
Pakubuwono VI 1807 1849 Jawa Tengah
Pakubuwono X 1866 1939 Jawa Tengah
Saharjo 1909 1963 Jawa Tengah
Samanhudi 1878 1956 Jawa Tengah
Siswondo Parman 1918 1965 Jawa Tengah
Siti Hartinah 1923 1996 Jawa Tengah
Slamet Riyadi 1927 1950 Jawa Tengah
Sudirman 1916 1950 Jawa Tengah
Suharso 1912 1971 Jawa Tengah
Sukarjo Wiryopranoto 1903 1962 Jawa Tengah
Supeno 1916 1949 Jawa Tengah
Supomo 1903 1958 Jawa Tengah
Suprapto 1920 1965 Jawa Tengah
Sutoyo Siswomiharjo 1922 1965 Jawa Tengah
Tirto Adhi Suryo 1880 1918 Jawa Tengah
Urip Sumoharjo 1893 1948 Jawa Tengah
Yos Sudarso 1925 1962 Jawa Tengah
Abdul Wahab Hasbullah 1888 1971 Jawa Timur
As’ad Syamsul Arifin 1897 1990 Jawa Timur
Basuki Rahmat 1921 1969 Jawa Timur
Cokroaminoto 1883 1934 Jawa Timur
Ernest Douwes Dekker 1879 1950 Jawa Timur
Halim Perdanakusuma 1922 1947 Jawa Timur
Harun Bin Said 1947 1968 Jawa Timur
Hasyim Asy’ari 1875 1947 Jawa Timur
Iswahyudi 1918 1947 Jawa Timur
Mas Isman 1924 1982 Jawa Timur
Mas Mansur 1896 1946 Jawa Timur
Mas Tirtodarmo Haryono 1924 1965 Jawa Timur
Mustopo 1913 1986 Jawa Timur
Soetomo 1888 1938 Jawa Timur
Sukarni 1916 1971 Jawa Timur
Sukarno 1901 1970 Jawa Timur
Supriyadi 1925 1945 Jawa Timur
Suroso 1893 1981 Jawa Timur
Suryo 1896 1948 Jawa Timur
Sutomo 1920 1981 Jawa Timur
Untung Surapati 1660 1706 Jawa Timur
Wahid Hasyim 1914 1953 Jawa Timur
Abdul Kadir 1771 1875 Kalimantan Barat
Antasari 1809 1862 Kalimantan Selatan
Hasan Basri 1923 1984 Kalimantan Selatan
Idham Chalid 1921 2010 Kalimantan Selatan
Cilik Riwut 1918 1987 Kalimantan Tengah
Raja Ali Haji 1809 kr. 1870 Kepulauan Riau
Sultan Mahmud Riayat Syah 1760 1812 Kepulauan Riau
Radin Inten II 1834 1856 Lampung
Johannes Leimena 1905 1977 Maluku
Karel Satsuit Tubun 1928 1965 Maluku
Martha Christina Tiahahu 1800 1818 Maluku
Pattimura 1783 1817 Maluku
Nuku Muhammad Amiruddin 1738 1805 Maluku Utara
Muhammad Zainuddin Abdul 1898 1997 Nusa Tenggara Barat
Madjid
Herman Johannes 1912 1992 Nusa Tenggara Timur
Izaak Huru Doko 1913 1985 Nusa Tenggara Timur
Wilhelmus Zakaria Johannes 1895 1952 Nusa Tenggara Timur
Frans Kaisiepo 1921 1979 Papua
Johannes Abraham Dimara 1916 2000 Papua
Marthen Indey 1912 1986 Papua
Silas Papare 1918 1978 Papua
Raja Haji Fisabilillah 1727 1784 Riau
Syarif Kasim II 1893 1968 Riau
Tuanku Tambusai 1784 1882 Riau
Andi Abdullah Bau Massepe 1918 1947 Sulawesi Selatan
Andi Jemma 1935 1965 Sulawesi Selatan
Andi Mappanyukki 1885 1967 Sulawesi Selatan
Andi Sultan Daeng Radja 1894 1963 Sulawesi Selatan
Hasanuddin 1631 1670 Sulawesi Selatan
La Maddukelleng 1700 1765 Sulawesi Selatan
Opu Daeng Risaju 1880 1964 Sulawesi Selatan
Pajonga Daeng Ngalie 1901 1958 Sulawesi Selatan
Pong Tiku 1846 1907 Sulawesi Selatan
Ranggong Daeng Romo 1915 1947 Sulawesi Selatan
Robert Wolter Monginsidi 1925 1949 Sulawesi Selatan
Yusuf Tajul Khalwati 1626 1699 Sulawesi Selatan
Mohammad Yasin 1920 2012 Sulawesi Tenggara
Arie Frederik Lasut 1918 1949 Sulawesi Utara
Bernard Wilhelm Lapian 1892 1977 Sulawesi Utara
John Lie 1911 1988 Sulawesi Utara
Lambertus Nicodemus Palar 1900 1981 Sulawesi Utara
Maria Walanda Maramis 1872 1924 Sulawesi Utara
Sam Ratulangi 1890 1949 Sulawesi Utara
Abdul Halim 1911 1988 Sumatera Barat
Abdul Malik Karim Amrullah 1908 1981 Sumatera Barat
Abdul Muis 1883 1959 Sumatera Barat
Adnan Kapau Gani 1905 1968 Sumatera Barat
Agus Salim 1884 1954 Sumatera Barat
Bagindo Azizchan 1910 1947 Sumatera Barat
Hazairin 1906 1975 Sumatera Barat
Ilyas Yakoub 1903 1958 Sumatera Barat
Mohammad Hatta 1902 1980 Sumatera Barat
Mohammad Natsir 1908 1993 Sumatera Barat
Muhammad Yamin 1903 1962 Sumatera Barat
Rasuna Said 1910 1965 Sumatera Barat
Sutan Syahrir 1909 1966 Sumatera Barat
Tan Malaka 1884 1949 Sumatera Barat
Tuanku Imam Bonjol 1772 1864 Sumatera Barat
Mahmud Badaruddin II 1767 1852 Sumatera Selatan
Abdul Haris Nasution 1918 2000 Sumatera Utara
Adam Malik 1917 1984 Sumatera Utara
Amir Hamzah 1911 1946 Sumatera Utara
Donald Izacus Panjaitan 1925 1965 Sumatera Utara
Ferdinand Lumbantobing 1899 1962 Sumatera Utara
Jamin Ginting 1921 1974 Sumatera Utara
Kiras Bangun 1852 1942 Sumatera Utara
Sisingamangaraja XII 1849 1907 Sumatera Utara
Tahi Bonar Simatupang 1920 1990 Sumatera Utara
Zainul Arifin 1909 1963 Sumatera Utara

Terdapat pula, tujuh korban kebiadaban PKI disiksa dan dibunuh tanggal 1 Oktober 1965
ditemukan pada sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Setiap tanggal 1 Oktober
diperingati sebagai hari kesaktian pancasila.

Nama-nama pahlawan revolusi:

1. Ahmad Yani, Jend. Anumerta


2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6. Suprapto, Letjen. Anumerta
7. Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta
Korban tewas lain peristiwa G 30S/PKI

1. Katamso Dharmokusumo, Brigjen. Anumerta


2. Sugiyono Mangunwiyoto, Kolonel. Anumerta
3. Karel Sasuit Tubun, AIP II
4. Ade Irma Suryani Nasution putri Jend. A.H. Nasution

Berikut beberapa penjelasan singkat tentang pahlawan-pahlawan Indonesia:

1. Jendral Soedirman
Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dan Jenderal RI
yang pertama dan termuda. Saat usia Soedirman 31 tahun ia telah menjadi seorang jenderal.
Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang
pembelaan kemerdekaan RI. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis
tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki,
Yogyakarta. Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari
1916 – meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun.

2. K.H. Ahmad Dahlan


Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk
melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin
mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama
Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-
Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912.
la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang
menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar
di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari
golongan priyayi.

3. R.M. Soewardi Soeryoningrat (Ki Hajar Dewantara)


Ki Hajar Dewantara dikeal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis,
politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan
Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang
memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan
seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Ki Hajar lahir di Yogyakarta, 2
Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Bagian dari
semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan
Nasional Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa
sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (“di depan menjadi teladan, di
tengah membangun semangat, dari belakang mendukung”). Atas jasa-jasanya dalam
merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI
No. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

4. K.H. Hasyim Asyari


Hasim Asyari adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri
NU/Nahdlatul Ulama, dimana organisasi ini merupakan organisasi massa Islam yang
terbesar di Indonesia. Di kalangan ulama pesantren dan Nahdliyin, ia dijuluki dengan
sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru. Pada tahun 1899, sepulangnya dari
Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi
pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim
Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti
kebangkitan ulama. Hasyim Asyari sendiri lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 10
April 1875. Ia meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun dan
dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang.

5. Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro dikenal karena memimpin Perang Diponegoro di Jawa pada kurun
waktu 1825-1830, yang tercatat sebagai perang dengan korban paling banyak dalam sejarah
Indonesia. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III,
raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta
dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang
garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. Semasa kecilnya, Pangeran
Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Antawirya. Pangeran Diponegoro meniggal di
Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun.

6. H.O.S. Cokroaminoto
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882
dan meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Bergelar
De Ongekroonde van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota" oleh Belanda, Tjokroaminoto
adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-
pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai
macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost
para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso,
Soekarno, Kartosuwiryo, bahkan Tan Malaka pernah berguru padanya. Ia adalah orang
yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda. Setelah ia meninggal, lahirlah
warna-warni pergerakan Indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum
sosialis/komunis yang dianut oleh Semaoen, Muso, Alimin.

7. I Gusti Ngurah Rai


I Gusti Ngurah Rai – kolonel (anumerta), pahlawan Indonesia. Kolonel TNI Anumerta I
Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia
Belanda, 30 Januari 1917 – meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November
1946 pada umur 29 tahun) adalah seorang pahlawan yang gagah berani dari Kabupaten
Badung, Bali.

8. Teuku Umar
Teuku Umar (Meulaboh, 1854 – Meulaboh, 11 Februari 1899) adalah pahlawan yang
menjadi kebanggaan rakyat Indonesia yang berperang memakai cara berpura-pura
bekerjasama dengan Belanda. Ia berjuang Belanda ketika telah mengumpulkan senjata serta
uang yang amat banyak.

9. Panglima Polim
Panglima Polim, pejuang yang membela masyarakat pertempuran Aceh. Panglima Polim
dengan nama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud ialah
seorang pejuang Aceh. Hingga sekarang tidak diketahui] keterangan yang jelas mengenai
tanggal dan tahun kelahiran Panglima Polim, yang bisa dipastikan bahwa ia memiliki
keturunan dari suku bangsawan Aceh. Ayahnya mempunyai nama Panglima Polem VIII
Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga
termashur dengan Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin yaitu
Panglima Sagoe XXII Mukim Aceh Besar.

10. Cut Nyak Dien


Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja’ Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 –
Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang)
yakni pejuang pahlawan nasional dari Aceh yang bertempur menentang Belanda di masa
Perang Aceh. Setelah lokasi VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya
Ibrahim Lamnga berjuang menentang Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada
tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan berkata
sumpah hendak memporakporandakan Belanda.

11. Sultan Iskandar Muda


Sultan Iskandar Muda (Aceh, Banda Aceh, 1593 atau 1590 – Banda Aceh, Aceh, 27
September 1636) yaitu Sultan yang paling besar di saat masa Kesultanan Aceh, yang
merajai dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh memperoleh kejayaannya pada masa
kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang kian besar
dengan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran seputar
Islam. Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di
Aceh.

12. Juanda Kartawijaya


Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja (Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat Hindia Belanda, 14
Januari 1911 – meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun) adalah
Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Sumbangannya yang terbesar
dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut
Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi
satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam
konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Jawa Timur yaitu
Bandara Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang
tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di
Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan
Monumen Ir. H. Djuanda. Dan namanya pun juga diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta
yaitu JL. Ir. Juanda di bilangan Jakarta Pusat, dan nama salah satu Stasiun Kereta Api di
Indonesia, yaitu Stasiun Juanda.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia,
mengabadikan Djoeanda di pecahan uang kertas rupiah baru NKRI, pecahan Rp50.000.

13. R. M. Tirto Adhi Soeryo


Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918) adalah seorang tokoh pers
dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran
dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T. A. S.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri
Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai
surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan
seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah
pribumi Indonesia asli.
Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan
pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap
pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan,
dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto
kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918. Kisah perjuangan dan
kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang
Pemula.

14. Prof. Mr. Mohammad Yamin


Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24
Agustus 1903 meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah
sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai
pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia dan
pelopor Sumpah Pemuda sekaligus "pencipta imaji keindonesiaan" yang mempengaruhi
sejarah persatuan Indonesia.

Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya,
Tanah Air; himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan. Himpunan
Yamin yang kedua, Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat
penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang
kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa
Indonesia yang tunggal.

Karier politik Yamin dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Ketika itu, ia
bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond dan menyusun ikrar Sumpah Pemuda
yang dibacakan pada Kongres Pemuda II. Pada tahun 1932, Yamin memperoleh gelar
sarjana hukum. Semasa pendudukan Jepang (1942-1945), Yamin bertugas pada Pusat
Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah
Jepang.

Pada tahun 1945, ia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang BPUPKI, Yamin banyak memainkan
peran. Ia berpendapat agar hak asasi manusia dimasukkan ke dalam konstitusi negara. Ia
juga mengusulkan agar wilayah Indonesia pasca-kemerdekaan, mencakup Sarawak, Sabah,
Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta semua wilayah Hindia Belanda. Soekarno juga
sangat mendukung usul tersebut.

Pada saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman, Yamin membebaskan tahanan politik
yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi dan remisi, ia mengeluarkan 950 orang
tahanan yang dicap komunis atau sosialis.

Kemudian disaat menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Yamin


banyak mendorong pendirian univesitas-universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia.
Di antara perguruan tinggi yang ia dirikan adalah Universitas Andalas di Padang, Sumatera
Barat.
MENTERI-MENTERI NEGARA

KABINET KERJA 2018

Presiden RI : Joko Widodo

Wakil Presiden : Jusuf Kalla

MENTERI KOORDINATOR

1. Menteri Koordinator Bidang Polhukam : Wiranto


2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : Darmin Nasution
3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan : Puan
Maharani
4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman : Luhut Binsar Panjaitan

MENTERI

1. Menteri Sekretaris Negara : Pratikno


2. Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas : Bambang
Brodjonegoro
3. Menteri Dalam Negeri : Tjahjo Kumolo
4. Menteri Luar Negeri : Retno Lestari Priansari Marsudi
5. Menteri Pertahanan : Ryamizard Ryacudu
6. Menteri Hukum dan HAM : Yasonna H.Laoly
7. Menteri Komunikasi dan Informatika : Rudiantara
8. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi : Asman Abnur
9. Menteri Keuangan : Sri Mulyani Indrawati
10. Menteri BUMN : Rini M. Soemarno
11. Menteri Koperasi dan UKM : Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
12. Menteri Perindustrian : Airlangga Hartarto
13. Menteri Perdagangan : Enggartiasto Lukita
14. Menteri Pertanian : Amrun Sulaiman
15. Menteri Ketenagakerjaan : Hanif Dhakiri
16. Menteri PU dan Perumahan Rakyat : Basuki Hadi Muljono
17. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan : Siti Nurbaya Bakar
18. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN : Sofyan Djalil
19. Menteri Agama : Lukman Hakim Saifuddin
20. Menteri Kesehatan : Nila Djuwita Anfasa Moeloek
21. Menteri Sosial : Idrus Marham
22. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak : Yohana Yambise
23. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Muhadjir Effendy
24. Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi : Muhammad Nasir
25. Menteri Pemuda dan Olahraga : Imam Nahrawi
26. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi : Eko Putro
Sandjojo
27. Menteri Perhubungan : Budi Karya Sumadi
28. Menteri Kelautan dan Perikanan : Susi Pudjiastuti
29. Menteri Pariwisata : Arief Yahya
30. Menteri Energi dan SDM : Ignasius Jonan
PEJABAT SETINGKAT MENTERI

1. Jaksa Agung : Muhammad Prasetyo


2. Panglima Tentara Nasional Indonesia : Hadi Tjahjanto
3. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia : Tito Karnavian
4. Sekretaris Kabinet : Pramono Anung

KEPALA LEMBAGA PEMERINTAH NON KEMENTERIAN

1. Kepala Badan Intelijen Negara : Budi Gunawan


2. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal : Thomas Trikasih Lembong
3. Kepala Badan Ekonomi Kreatif : Triawan Munaf

KEPALA LEMBAGA NONSTRUKTURAL

1. Kepala Staf Kepresidenan : Moeldoko

RESHUFFLE KABINET

Reshuffle Jilid I: Jokowi Ganti 6 Menteri

Di perombakan pertama ini, Presiden Jokowi mengganti 6 menteri sekaligus. Tidak semua
pejabat 'ditendang' karena ada yang hanya bergeser posisi:

1. Menko Perekonomian: Sofyan Djalil diganti Darmin Nasution


2. Menko Kemaritiman: Indroyono Soesilo diganti Rizal Ramli
3. Sekretaris Kabinet: Andi Widjajanto diganti Pramono Anung
4. Menteri PPN/Kepala Bappenas: Adrinof Chaniago diganti Sofyan Djalil
5. Menko Polhukam: Tedjo Edhy Purdijatno diganti Luhut B. Pandjaitan
6. Menteri Perdagangan: Rachmat Gobel diganti Thomas Lembong

Reshuffle Jilid II: 12 Menteri Diganti

Reshuffle kedua dilakukan Rabu, 27 Juli 2016. Kali ini, Presiden Jokowi resmi
memberhentikan 12 menteri sekaligus.

Berikut 12 menteri ditambah satu Kepala BPKM yang dilantik Presiden Jokowi:

1. Menko Kemaritiman: Rizal Ramli digantikan Luhut Binsar Pandjaitan


2. Menteri PPN/Kepala Bappenas: Sofyan Jalil diganti Bambang Brodjonegoro
3. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Mursidan BaldanSofyan Djalil
4. Kepala BKPM: Frangky Sibarani diganti Thomas Lembong|
5. Menko Polhukam: Luhut Binsar Pandjaitan diganti Wiranto
6. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro diganti Sri Mulyani Indrawati
7. Menteri Desa dan PDTT: Marwan Jafar digantik Eko Putro Sandjojo
8. Menteri Perhubungan: Ignatuis Jonan diganti Budi Karya Sumadi
9. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Anis Baswedan diganti Muhadjir Effendy
10. Menteri Perdagangan: Thomas Lembong Enggartiasto Lukita
11. Menteri Perindustrian: Saleh Husin diganti Airlangga Hartarto
12. Menteri ESDM: Sudirman Said diganti Archandra Tahar
13. Men PAN-RB: Yuddi Chrisnandi diganti Asman Abnur

Reshuffle Jilid III: Masalah Arcandra Tahar

Reshuffle jilid II pada 27 Juli 2016 lalu, ternyata menyisakan masalah yang sangat serius bagi
Presiden Joko Widodo. Menteri ESDM Arcandra Tahar belakangan diketahui punya paspor
Amerika Serikat alias dwikewarganegaraan. Hal yang sangat diharamkan oleh UU.

Maka Senin, 15 Agustus 2016, Presiden Jokowi memberhentikan dengan hormat Arcandra
Tahar dari posisinya setelah 20 hari menjabat atau masa jabatan menteri tersingkat sepanjang
sejarah.

Presiden Jokowi lalu menunjuk Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjadi
Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM. Usai pergantian itu, status Arcandra yang berpaspor AS
dipulihkan oleh Menkum HAM sebagai WNI, meski menuai kritikan.

Tanggal 14 Oktober 2016, Presiden Jokowi melantik mantan Menteri Perhubungan Ignasius
Jonan sebagai Menteri ESDM definitif, dan Arcandra Tahar diangkat kembali namun sebagai
Wakil Menteri ESDM.

1. Menteri ESDM: Archandra Tahar diganti Ignasius Jonan

Reshuffle Jilid IV: Masuknya Idrus Marham

Presiden melantik politisi Partai Golkar Idrus Marham sebagai Menteri Sosial. Idrus
menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang saat ini berstatus sebagai calon gubernur dalam
kontestasi Pilkada Jawa Timur 2018, 17 Januari

1. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa diganti Idrus Marham


2. Kepala Staf Presiden: Teten Masduki diganti Jenderal TNI (Purn) Moeldoko
3. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden: Hasyim Muzadi diganti Agum Gumelar
4. Kepala Staf Angkatan Udara: Marsekal TNI Hadi Tjahjanto diganti Marsekal Madya
TNI Yuyu Sutisna
LEMBAGA NEGARA
No. Lembaga Pemerintah Nonkementerian Singkatan

1. Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI

2. Badan Intelijen Negara BIN

3. Badan Kepegawaian Negara BKN

4. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BKKBN

5. Badan Koordinasi Pananaman Modal BKPM

6. Badan Informasi Geospasial (sebelumnya Bakorsutanal) BIG

7. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG

8. Badan Narkotika Nasional BNN

9. Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB

10. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja


11. BNP-2-TKI
Indonesia

12. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan BPKP

13. Badan Pengawas Tenaga Nuklir Bapeten

14. Badan Pengawasan Obat dan Makanan BPOM

15. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT

16. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas

17. Badan Pertanahan Nasional BPN

18. Badan Pusat Statistik BPS

19. Badan SAR Nasional Basarnas

20. Badan Standardisasi Nasional BSN

21. Badan Tenaga Nuklir Nasional Batan

22. Lembaga Administrasi Negara LAN

23. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI

24. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah LKPP

25. Lembaga Ketahanan Nasional Lemhannas

26. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lapan

27. Lembaga Sandi Negara Lemsaneg

28. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Perpusnas RI


TUGAS LEMBAGA PEMERINTAH NON KEMENTRIAN

1. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)


Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kearsipan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Badan Ekonomi Kreatif (BEK)


Tugas:
Membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan
sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer,
arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film,
animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni
pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio.

3. Badan Informasi Geospasial (BIG)


Tugas: Badan Informasi Geospasial mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang Informasi Geospasial.

4. Badan Intelijen Negara (BIN)


Tugas: Melakukan tugas pemerintahan di bidang intelijen.

5. Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla)


Tugas: Melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia
dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

6. Badan Kepegawaian Negara (BKN)


Tugas:
• Merencanakan pembinaan kepegawaian sesuai dengan kebijaksanaan Presiden;
• Merencanakan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian;
• Menyelenggarakan tata usaha kepegawaian dan tata usaha pensiun;
• Menyelenggarakan pengawasan, koordinasi dan bimbingan terhadap pelaksanaan
peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian dan pensiun pada
departemen-departemen dan lembaga-lembaga negara/Lembaga-lembaga
Pemerintah Non departemen.

7. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

8. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)


Tugas: Melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

9. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)


Tugas:
• Pengkajian, dan penyusunan kebijakan nasional di bidang meteorologi, klimatologi,
kualitas udara, dan geofisika
• Koordinasi kegiatan fungsional di bidang meteorologi, klimatologi, kualitas udara,
dan geofisika
• Memfasilitasi, dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah, dan swasta di
bidang meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika
• Penyelenggaraan pengamatan, pengumpulan, dan penyebaran, pengolahan, dan
analisis serta pelayanan di bidang meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan
geofisika
• Penyelenggaraan kegiatan kerjasama di bidang meteorologi, klimatologi, kualitas
udara, dan geofisika
• Penyelenggaraan pembinaan, dan pelayanan administrasi umum di bidang
perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi, dan tatalaksana, kepegawaian,
keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan, dan rumah tangga

10. Badan Narkotika Nasional (BNN)


Tugas:
• Menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor
Narkotika;
• Mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
Prekursor Narkotika;
• Berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika
dan Prekursor Narkotika;
• Meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial
pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
masyarakat;
• Memberdayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran
gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;
• Memantau, mengarahkan dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam
pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Psikotropika
Narkotika;
• Melalui kerja sama bilateral dan multiteral, baik regional maupun internasional,
guna mencegah dan memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor
Narkotika;
• Mengembangkan laboratorium Narkotika dan Prekursor Narkotika;
• Melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan
• Membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang.
• Selain tugas sebagaimana diatas, BNN juga bertugas menyusun dan melaksanakan
kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan
peredaran gelap psikotropika, prekursor dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan
adiktif untuk tembakau dan alkohol.

11. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)


Fungsi:
Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan
pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien; dan
Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana,
terpadu, dan menyeluruh.
12. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)
Tugas:
• Menyusun kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang penanggulangan
terorisme;
• Mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam pelaksanaan dan
melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme;
• Melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme dengan membentuk
satuan-satuan tugas yang terdiri dari unsur-unsur instansi pemerintah terkait sesuai
dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Bidang penanggulangan
terorisme meliputi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan
penyiapan kesiapsiagaan nasional.

13. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia


(BNP2TKI)
Tugas:
• Melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis antara Pemerintah
dengan Pemerintah negara Pengguna TKI atau Pengguna berbadan hukum di negara
tujuan penempatan;
• Memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan pengawasan
mengenai: dokumen; pembekalan akhir pemberangkatan (PAP); penyelesaian
masalah; sumber-sumber pembiayaan; pemberangkatan sampai pemulangan;
peningkatan kualitas calon TKI; informasi; kualitas pelaksana penempatan TKI;
dan peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya.

14. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)


Tugas: Melaksanakan pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

15. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)


Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan tenaga nuklir sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

16. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)


Fungsi:
• Pengaturan, regulasi, dan standardisasi
• Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara Produksi
yang Baik
• Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar
• Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium,
pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.
• Pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk
• Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan;
• Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.

17. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)


Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan
teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
18. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perencanaan pembangunan
nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

19. Badan Pertanahan Nasional (BPN)


Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

20. Badan Pusat Statistik (BPS)


Tugas: Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang statistik sesuai peraturan
perundang-undangan.

21. Badan SAR Nasional (Basarnas)


Tugas:
Melaksanakan pembinaan, pengkoordinasian, dan pengendalian potensi SAR dalam
kegiatan SAR terhadap orang dan material yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau
menghadapi bahaya dalam pelayaran dan/atau penerbangan, serta memberikan bantuan
dalam bencana dan musibah lainnya sesuai dengan peraturan SAR nasional dan
internasional. Penanganan terhadap musibah yang dimaksud meliputi 2 hal pokok yaitu
pencarian (search) dan pertolongan (rescue). Dalam melaksanakan tugas penanganan
musibah pelayaran dan penerbangan harus sejalan dengan IMO dan ICAO.

22. Badan Standardisasi Nasional (BSN)


Tugas:
Membantu Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di
bidang standardisasi, baik dalam hal perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan
tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan
rumah tangga sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

23. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang penelitian, pengembangan dan
pemanfaatan tenaga nuklir sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

24. Lembaga Administrasi Negara (LAN)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang administrasi negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

25. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian ilmu pengetahuan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

26. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)


Tugas:
Melaksanakan pengembangan, perumusan, dan penetapan kebijakan pengadaan
barang/jasa pemerintah.
27. Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas)
Tugas:
• Menyelenggarakan pendidikan penyiapan kader dan pemantapan pimpinan tingkat
nasional yang berpikir integratif dan profesional, memiliki watak, moral dan etika
kebangsaan, berwawasan nusantara serta mempunyai cakrawala pandang yang
universal;
• Menyelenggarakan pengkajian yang bersifat konsepsional dan strategis mengenai
berbagai permasalahan nasional, regional dan internasional yang diperlukan oleh
presiden, guna menjamin keutuhan dan tetap tegaknya negara kesatuan republik
indonesia;
• Menyelenggarakan pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam
pembukaan undang-undang dasar negara republik indonesia tahun 1945, nilai-nilai
pancasila serta nilai-nilai kebhineka tunggal ika-an;
• Membina dan mengembangkan hubungan kerja sama dengan berbagai institusi
terkait di dalam dan di luar negeri.

28. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan
kedirgantaraan dan pemanfaatannya serta penyelenggaraan keantariksaan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

29. Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg)


Tugas:
Melaksanakan tugas pemerintah di bidang persandian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

30. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas)


Tugas:
Melaksanakan pengembangan koleksi dan pengolahan bahan pustaka

31. Komisi Pemilihan Umum (KPU)


Tugas:
Menurut ketentuan umum pasal 1 angka 3 UU NO. 12 Tahun 2003 ditegaskan bahwa
KPU adalah lembaga yang bersifat Nasional, Tetap dan Mandiri untuk
menyelenggarakan PEMILU.

32. Bank Indonesia (BI)


Tugas:
• Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
• Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
• Mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia
PERADILAN
Penjelasan dari lembaga-lembaga peradilan sebagai berikut.

1. Mahkamah Agung (MA)

Mahkamah Agung merupakan lembaga pengadilan tertinggi di Indonesia. Dalam


melaksanakan tugas, Mahkamah Agung terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-
pengaruh lainnya. Hal itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 mengenai Mahkamah Agung.

Tempat kedudukan Mahkamah Agung adalah di ibu kota negara dan wilayah hukumnya
meliputi seluruh wilayah Indonesia. Kekuasaan dan wewenang Mahkamah Agung sebagai
berikut:

1) Memeriksa dan memutuskan permohonan kasasi, sengketa tentang kewenangan


mengadili, serta permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
2) Memberikan pertimbangan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak pada
lembaga tinggi negara.
3) Memberikan nasihat hukum kepada presiden sebagai kepala negara untuk pemberian
dan penolakan grasi.
4) Menguji secara materiil peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang.
5) Melaksanakan tugas dan kewenangan lain berdasarkan undang-undang.

2. Peradilan Umum

Peradilan umum merupakan salah satu lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman bagi
rakyat pencari keadilan pada umumnya. Lembaga yang termasuk dalam peradilan umum
adalah Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.

3. Peradilan Agama

Keberadaan peradilan agama diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Lembaga
peradilan yang berada dalam lingkup peradilan agama adalah Pengadilan Agama dan
Pengadilan Tinggi Agama.

4. Peradilan Militer

Peradilan Militer diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997. Peradilan Militer
adalah badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman di lingkungan angkatan bersenjata,
yang meliputi Pengadilan Militer, Pengadilan Militer Tinggi, Pengadilan Militer Utama,
dan Pengadilan Militer Tempur. Wewenang Pengadilan Militer sebagai berikut:

1. Mengadili tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang pada waktu melakukan
tindak pidana adalah seorang prajurit, yang berdasarkan undang-undang dipersamakan
dengan prajurit, anggota suatu golongan atau jawatan atau badan atau yang
dipersamakan atau dianggap sebagai prajurit berdasarkan undang-undang.
2. Memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan sengketa tata usaha angkatan bersenjata
yang bersangkutan atas permintaan dari pihak yang dirugikan sebagai akibat tindak
pidana yang menjadi dasar dakwaan, sekaligus memutuskan kedua perkara tersebut
dalam suatu putusan.
5. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)

Dalam lingkungan peradilan tata usaha negara terdapat dua lembaga kekuasaan kehakiman,
yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN).

1) Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)

Pengadilan Tata Usaha Negara dibentuk melalui keputusan presiden. Kedudukan


lembaga ini berada di daerah kota atau kabupaten. Tugas Pengadilan Tata Usaha Negara
adalah memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara tingkat
pertama. Pengadilan Tata Usaha Negara adalah pengadilan tingkat pertama.

2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN)

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) merupakan sebuah lembaga yang
dibentuk berdasarkan undang-undang. Daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi.
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupakan pengadilan tingkat banding. Sebagai
sebuah lembaga keperadilan, PTTUN memiliki tugas dan kewenangan sebagai berikut:

a. Memeriksa dan memutuskan sengketa tata usaha negara di tingkat banding.


b. Memeriksa dan memutuskan di tingkat pertama dan terakhir sengketa
kewenangan mengadili antar-Pengadilan tata usaha negara dalam wilayah
hukumnya.
c. Memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan di tingkat pertama sengketa tata
usaha negara.
6. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi merupakan sebuah lembaga kehakiman di negara Indonesia.


Mahkamah Konstitusi berkedudukan di ibu kota negara Republik Indonesia. Mahkamah
Konstitusi dibentuk setelah terjadi perubahan atau amendemen UUD 1945 yang keempat.
Pembentukannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi. Susunan Mahkamah Konstitusi terdiri atas seorang ketua merangkap anggota,
seorang wakil ketua merangkap anggota, dan tujuh orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan dengan keputusan presiden. Dengan demikian, seluruh hakim konstitusi
berjumlah sembilan orang hakim. Hakim konstitusi harus memenuhi syarat, yaitu memiliki
integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, serta negarawan yang menguasai
konstitusi dan ketatanegaraan. Sembilan hakim konstitusi ditunjuk oleh presiden dengan
masa jabatan tiga tahun.

Ketua Mahkamah Konstitusi pertama dipegang oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie.
Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang untuk mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir, yang putusannya bersifat final yaitu untuk menguji undang-undang terhadap UUD
1945, memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
UUD 1945. Dalam hubungannya dengan partai politik dan pemilihan umum, Mahkamah
Konstitusi dapat memutuskan pembubaran partai politik. Mahkamah Konstitusi juga
berhak memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

7. Komisi Yudisial

Komisi Yudisial dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004. Menurut


undang-undang ini, Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri.
Dalam pelaksanaan wewenangnya, Komisi Yudisial bebas dari campur tangan atau
pengaruh kekuasaan lain. Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota yang
berjumlah tujuh orang. Mereka berasal dari mantan hakim, praktisi hukum, akademisi
hukum, dan anggota masyarakat.

Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota. Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas
seorang ketua dan seorang wakil ketuayang merangkap anggota. Komisi Yudisial
mempunyai tujuh orang anggota yang merupakan pejabat negara yang direkrut dari mantan
hakim, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Tugas dari Komisi
Yudisial sebagai berikut:

1) Mengusulkan pengangkatan hakim agung. Tugas itu dilakukan dengan cara berikut:
a. Melakukan pendaftaran calon hakim agung.
b. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung.
c. Menetapkan calon hakim agung.
2) Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
Untuk melaksanakan tugas itu, Komisi Yudisial melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menerima laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim.
c. Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang disampaikan
kepada Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada presiden dan
DPR. Mengidentifikasi Alat Kelengkapan Lembaga Peradilan.
OTONOMI DAERAH
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Secara harfiah, otonomi daerah berasal dari kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani,
otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau
undang-undang, sehingga dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau
kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah
adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.

a. DASAR HUKUM
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 18 Ayat 1 - 7,
Pasal 18A ayat 1 dan 2 , Pasal 18B ayat 1 dan 2.
2) Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah,
Pengaturan, pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yg Berkeadilan,
serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka NKRI.
3) Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam
Penyelenggaraan Otonomi Daerah.
4) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
5) UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
6) UU No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah (Revisi UU No.32 Tahun 2004)

b. PENERAPAN

Sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, bahwa pemberian


kewenangan otonomi daerah dan kabupaten/kota didasarkan kepada desentralisasi dalam
wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.

a. Otonomi Luas

Otonomi luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang


mencakup semua bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan
keamanan, peradilan, moneter dan fiscal agama serta kewenangan dibidang lainnya
ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Disamping itu keleluasaan otonomi
mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraan mulai dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi.

b. Otonomi Nyata

Otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan


pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup
dan berkembang di daerah.

c. Otonomi Yang Bertanggung Jawab

Otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban


sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam mencapai
tujuan pemberian otonomi berupa peningkatan dan kesejahteraan masyarakat yang
semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan serta
pemeliharaan hubungan yang sehat antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam
rangka menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 7, 8, 9 tentang Pemerintah Daerah, ada 3
dasar sistem hubungan antara pusat dan daerah yaitu :

1) Desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah otonom


untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
2) Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai
wakil pemerintah dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
3) Tugas perbantuan (Medebewind) adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah
dan atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang


merupakan pengganti UU No. 32 Tahun 2004 menyebutkan bahwa kepala daerah, dan DPRD
dibantu oleh Perangkat Daerah menyelenggarakan pemerintahan daerah berpedoman pada asas
penyelenggaraan pemerintahan negara terdiri atas:

1) Kepastian Hukum
Asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara.
2) Tertib Penyelenggara Negara
Tertib penyelenggara negara merupakan asas yang menjadi landasan keteraturan,
keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara negara.
3) Kepentingan Umum
Asas tersebut merupakan asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara
yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.
4) Keterbukaan
Asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang
benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia.
5) Proporsionalitas
Asas proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan
kewajiban penyelenggara negara.
6) Profesionalitas
Asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
7) Akuntabilitas
Asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil
akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
8) Efisiensi
Asas yang berorientasi pada minimalisasi penggunaan sumber daya dalam
penyelenggaraan negara untuk mencapai hasil kerja yang terbaik.
9) Efektivitas
Asas yang berorientasi pada tujuan yang tepat guna dan berdaya guna.
10) Keadilan
Asas keadilan adalah bahwa setiap tindakan dalam penyelenggaraan negara harus
mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.
ISTANA NEGARA

1. Istana Negara

Ada Istana Negara dan ada juga Istana Merdeka. Istana Negara dan Istana Merdeka
terletak dalam satu kompleks di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Istana ini berupa dua
bangunan utama seluas 6,8 hektare dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan
Jalan Veteran. Istana Negara mulai dibangun pada tahun 1796 dan selesai tahun 1804.
Awalnya bangunan ini diperuntukkan sebagai rumah peristirahatan luar kota milik
pengusaha Belanda, J A Van Braam. Saat ini, Istana Negara dipakai untuk
menyelenggarakan acara-acara kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi
negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional dan
internasional, dan jamuan kenegaraan.

2. Istana Merdeka

Istana Merdeka dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van
Lansberge tahun 1873. Istana ini sering disebut sebagai Istana gambir karena banyaknya
pohon gambir yang tumbuh di sekitar Lapangan Koningsplein. Istana Merdeka menjadi
saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat
(RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Saat Bendera Merah Putih
berkibar, ratusan ribu orang berteriak menyerukan “Merdeka!”. Sejak saat itulah istana ini
dinamakan Istana Merdeka. Saat ini Istana Merdeka diperuntukkan untuk
menyelenggarakan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi,
upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara
sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).
3. Istana Bogor

Istana Negara yang berikutnya adalah Istana Bogor. Istana yang dibangun pada bulan
Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga ini dulunya bernama Buitenzorg atau Sans Souci
yang berarti “tanpa kekhawatiran”. Awalnya istana ini digunakan sebagai tempat
peristirahatan, namun dengan berbagai perubahan yang dilakukan pada bangunannya
seiring dengan berjalannya waktu, rumah peristirahatan ini pun berubah menjadi istana
paladian dengan luas halaman mencapai 28,4 hektare dan luas bangunan 14.892 m². Istana
ini sempat rusak parah pada tahun 1834 akibat gempa bumi karena meletusnya Gunung
Salak. Lalu sejak tahun 1950, Istana Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia dan
resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia. Salah satu keunikan dari Istana
Bogor adalah keberadaan rusa-rusa yang didatangkan dari Nepal yang tetap dijaga sampai
hari ini.

4. Istana Tampak Siring

Berbeda dengan istana negara lainnya, Istana Tampak Siring dibangun setelah masa
Indonesia merdeka. Istana Tampaksiring terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan
Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Tampak artinya “telapak” dan siring artinya
“miring”. Menurut legenda, Raja Mayadenawa ini adalah seorang raja yang memiliki sifat
angkara murka. Saat Batara Indra mau menghukum Raja Mayadenawa, ia melarikan diri
dengan memiringkan telapak kakinya agar jejak kakinya tidak dikenali. Namun, pada
akhirnya Raja Mayadenawa berhasil ditangkap. Kawasan hutan yang dilalui Raja
Mayadenawa sambil memiringkan telapak kakinya itulah yang dinamakan Tampaksiring.
Istana Tampak Siring didirikan atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan
tempat peristirahatan berhawa sejuk dan jauh dari keramaian kota. Istana Tampak Siring
diarsiteki oleh R.M Soedarsono dan memiliki empat gedung utama.
5. Gedung Agung Yogyakarta

Istana negara yang berlokasi di Yogyakarta ini bernama Gedung Agung. Gedung
Agung berlokasi di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, di
ujung selatan Jalan Malioboro. Gedung utama kompleks istana ini dibangun pada Mei 1824
dan diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, Residen Yogyakarta ke-18 yang
menginginkan adanya “istana” untuk para residen Belanda. Pada 10 Juni 1867,
bangunannya sempat roboh akibat gempa bumi. Pada 1869, bangunan baru selesai
didirikan. Pada 6 Januari 1946, ibukota negara dipindahkan ke Yogyakarta. Gedung Agung
pun berubah menjadi Istana Kepresidenan dan menjadi tempat tinggal Presiden Soekarno
beserta keluarganya. Pada saat ini, selain menjadi kantor dan kediaman resmi Presiden RI,
Gedung Agung pun berfungsi untuk menerima tamu-tamu negara. Di Gedung Agung,
setiap 17 Agustus diadakan peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk DIY
dan Parade Senja setiap tanggal 17 April. Salah satu keunikan dari Gedung Agung
Yogyakarta adalah monumen batu andesit setinggi 3,5 meter bernama Dagoba. Dagoba ini
berasal dari Desa Cupuluwatu dekat Candi Prambanan.

6. Istana Cipanas

Istana negara yang keenam adalah Istana Cipanas. Istana Cipanas terletak di kaki
Gunung Gede, Jawa Barat. Bangunan induk istana awalnya adalah kepunyaan pribadi
seorang tuan tanah Belanda yang dibangun tahun 1740. Sejak masa pemerintahan Gubernur
Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, bangunan ini menjadi tempat peristirahatan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di masa pendudukan Jepang, bangunan istana ini
digunakan sebagai tempat persinggahan para pembesar Jepang. Setiap ruangan di Istana
Cipanas ini dilengkapi dengan perabotan dari kayu. Di istana ini juga tersimpan berbagai
koleksi ukiran Jepara dan lukisan dari maestro seni lukis Indonesia.
ISTANA DAERAH

1) Pulau Andalas/Sumatra
1. Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara
• Terletak di kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun.
• Dibangun pada tahun 1888 atas prakarsa Sultan Deli, Makmun Al Rasyid
Perkasa Alamsyah
• Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa arsitek istana ini adalah
seorang Kapitan Belanda yang bernama T.H. van Erp.
• memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam,
Spanyol, India dan Belanda.
2. Istana Darul Arif, Serdang Bedagai, Sumatera Utara
• Dibangun pada 29 Juli 1889 oleh Sultan Sulaiman Shariful Alamshah dalam
kraton kota Galuh.
3. Istana Indra Sakti, Tanjung Balai,Sumatra Utara
• Asahan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Pusat
pentadbiran Kabupaten Asahan adalah Tanjungbalai yang berjarak ± 180 km
dari Kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara.
4. Istana Niat, Batubara, Sumatera Utara
• Istana Kerajaan Lima Laras ini terletak di Desa Laras, Kecamatan Tanjung
Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
• Istana ini dibangun oleh Datuk Muhammad Yuda, Raja ke-11 dari Kerajaan
Lima Laras pada tahun 1907 dan selesai 1912.
5. Istana Tunggang Bosar, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
• Istana Tunggang Bosar berada di Desa Janji Maulu Muara Tais, Kec. Batang
Angkola, Kab. Tapanuli Selatan.
6. Istano Basa, Tanah Datar, Sumatera Barat
• Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah
sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar,
kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
7. Istano Silinduang Bulan,Tanah Datar, Sumatera Barat
• Istanao Silinduang Bulan merupakan istana yang terletak di nagari
Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat.
• Istano Basa ini merupakan tempat penyimpanan Harta pusaka Kerajaan
Pagaruyung.
8. Istana Asseraya Al Hasyimiyah, Siak, Riau
• Dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif
Hasyim.
• Istana ini selesai dibangun pada tahun 1893.
9. Istana Sayap, Pelalawan, Riau
• Terletak di Kab. Pelalawan, Riau.
• Dibangun dalam dua periode pemerintahan di Kesultanan Pelalawan, yakni
masa pemerintahan Tengku Sontol Said Ali (1886-1892) dan selesai dibangun
pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim II pada tahun 1896.
10. Istana Indragiri, Indragiri Hulu, Riau
• Masyarakat Riau menyebut Kesultanan Indragiri dengan sebutan Kerajaan
Negeri Maghligai.
11. Istana Kantor, Pulau Penyengat, Riau
• Istana Raja Ali yang terletak di Pulau Penyengat ini pertama kali digunakan
sebagai Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau oleh Yang Dipertuan Muda Raja
Ali (1844-1855).
• Karena fungsi bangunan ini selain sebagai rumah juga sebagai kantor, maka
dikenal juga dengan Istana Kantor.
• Sekarang istana ini dinamakan Komplek Istana Kantor.
12. Istana Kuto Lamo, Palembang, Sumatera Selatan
• Dibangun oleh Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bin
Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago.

2) Pulau Jawa
1. Keraton Sumedang Larang, Sumedang, Jawa Barat
• Diperkirakan berdiri sejak abad ke-16 Masehi di Jawa Barat, Indonesia.
• Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang
beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu
Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor.
2. Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat
• Didirikan pada tahun 1452 oleh Pangeran Cakrabuana
3. Keraton Kanoman, Cirebon, Jawa Barat
• Keraton Kanoman adalah Kesultanan Cirebon.
• Setelah berdirinya Keraton Kanoman pada tahun 1678 M, Kesultanan Cirebon
terdiri dari Keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman yang merupakan
pemimpin dan wakilnya.
• Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran
Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I
4. Keraton Kacirebonan, Cirebon, Jawa Barat
• Kacirebonan yang dibangun pada tahun 1800 M ini berada di wilayah
kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan.
5. Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah
• Keraton yang lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta
Hadiningrat ini adalah istana Kasunanan Surakarta.
• Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada
tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda
akibat Geger Pecinan 1743.
6. Pura (Puro) Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah
• Ini merupakan istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta
dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih
kecil
7. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
• Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Indonesia.
• Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I
beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755.
• Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama
Garjitawati.
8. Puro Paku Alaman, Yogyakarta, D.I. Yogayakarta
• Bangunan ini merupakan bekas Istana kecil Kadipaten Paku Alaman yang
menjadi tempat tinggal resmi para Pangeran Paku Alam mulai tahun 1813
sampai dengan tahun 1950.
9. Keraton Sumenep, Sumenep, Jawa Timur

3) Pulau Dewata/Bali
1. Puri Agung Pacekan, Jembrana, Bali
• diberi nama Puri Gede Jembrana
• dibangun pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa
Brangbang).
2. Puri Agung Singaraja, Buleleng, Bali
• The Royal Palace Singaraja yang sering disebut sebagai Puri Agung atau Puri
Gede,
• Dibangun oleh Ki Gusti Anglurah Pandji Sakti pada 30 Maret 1604.
3. Puri Agung Tabanan, Tabanan, Bali
• Puri Agung Tabanan adalah sebutan untuk tempat kediaman Raja Tabanan,
yang merupakan salah satu puri di Bali.
4. Puri Agung Den Pasar, Denpasar, Bali
5. Puri Agung Gianyar, Gianyar, Bali
• Dibangun oleh raja (Ida Anak Agung) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti.
6. Puri Agung Ubud, Ubud, Bali
• Puri Agung Ubud Krisnakusuma terletak tepat di jantung kota Ubud.
7. Puri Agung Semarapura, Klungkung, Bali
• Dibuat oleh I Gusti Ibul dan I Gusti Ungu, yang hidup pada tahun 1839.
8. Puri Agung Susut, Bangli, Bali
• Puri Agung Susut terletak di desa Susut, Bangli
9. Puri Agung Amlapura, Karangasem, Bali
• Puri Agung Karangasem didirikan sekitar akhir abad ke-19 oleh Anak Agung
Gede Djelantik yaitu raja Karangasem yang pertama.

4) Nusa Tenggara
1. Dalam Loka, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
• Dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III
2. Istana Bala Kuning, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
• Istana Bala Kuning atau sering juga disebut Istana Kuning ini merupakan
bangunan rumah besar yang di cat berwarna kuning.
• Rumah ini merupakan tempat tinggal resmi Sultan Sumbawa Muhammad
Kaharuddin III setelah beliau meninggalkan Wisma Daerah
3. Asi Mbojo, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat
• Pembangunan Asi di laksanakan dengan cara ”Karawi Kaboro” atau disebut
dengan gotong royong oleh rakyat di bawah pimpinan Bumi Jero sebagai
Kepala Bagian Pembangunan dan Pertukangan.
• Mulai dibangun pada tahun 1927.
4. Asi Bou, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat
• Asi Bou berarti Istana Baru.
• Asi Bou berdampingan dengan Istana Bima. Persisnya disebelah timur Istana
Bima.
• Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1881 – 1961).
• Asi Bou kini termasuk bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan. Hal ini
tertuang dalam Monumenten Ordonantie Stbl. 238 Tahun 1931 pasal 1 ayat
1,a, juga UU Republik Indonesia No. 5 Tahun 1998.
5. Sonaf Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
• Berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal
6. Sonaf Ba’a, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur
• “Nusa Lote, Nusa Fua Funi, Nusa Ndalu Sita”. Sebuah ungkapan kesayangan
orang Rote yang hingga kini selalu didengungkan untuk menunjukkan
kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran atau tanah asal mereka.
7. Sonaf Nisnoni, Kupang, Nusa Tenggara Timur
• Di Pulau Timor, sudah berdiri Kerajaan Helong pada abad ke-16.
• Kerajaan ini didirikan oleh Lisin Bai Sili pada tahun 1516.
8. Sonaf Baun, Kupang, Nusa Tenggara Timur
9. Sonaf Sonbesi, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
• Kerajaan Amanuban (Banam) adalah sebuah kerajaan yang terletak di pulau
Timor bagian barat, wilayah Indonesia.
10. Sonaf Oelolok, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur

5) Pulau Borneo/Kalimantan
1. Istana Alwatzikoebillah, Sambas, Kalimantan Barat
• Sebelumnya, Sambas merupakan Kerajaan Hindu yang di kemudian hari
berubah menjadi Kerajaan Islam.
• Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim
Syafiuddin, sultan ke-15 Kesultanan Sambas.
• Pembangunan istana tersebut relatif singkat, yaitu dari tahun 1933 sampai
tahun 1935.
2. Istana Amantubillah, Mempawah, Kalimantan Barat
• Istana Amantubillah merupakan nama istana dari Kerajaan Mempawah.
• Nama Amantubillah berasal dari bahasa Arab, yang berarti “Aku beriman
kepada Allah”.
• Dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril pada tahun 1761
3. Keraton Ismahayana, Landak, Kalimantan Barat
• Keraton milik Kerajaan Ismahayana Landak ini dibangun pada masa
pemerintahan raja ke-7, yakni Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya (Ratu
Sang Nata Pulang Pali VII).
4. Istana Kadriyah, Pontianak, Kalimantan Barat
• Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah kesultanan Melayu yang
didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.,
5. Istana Kubu, Kubu Raya, Kalimantan Barat
• Pendirinya, Syarif Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang menjadi raja
kesultanan pada waktu itu.
6. Istana Paku Negara, Tayan, Kalimantan Barat
• Istana Kerajaan Tayan ini dibangun oleh Gusti Jamal.
7. Istana Surya Negara, Sanggau, Kalimantan Barat
• Dari catatan sejarah, Kerajaan Sanggau didirikan oleh Daradante, pendatang
dari Ketapang yang menikah dengan Babai Cingak dari suku Dayak Sanggau.
Pusat
8. Istana Al Mukarrammah, Sintang, Kalimantan Barat
• Pendirian Kerajaan Sintang dilakukan Demong Irawan, keturunan kesembilan
Aji Melayu, pada sekitar abad ke-13.
• Demong Irawan mendirikan keraton di daerah pertemuan Sungai Melawi dan
Sungai Kapuas yaitu di Kampung Kapuas Kiri Hilir sekarang.
• Mulanya daerah ini diberi nama Senentang, yaitu kerajaan yang diapit oleh
beberapa sungai. Lambat laun penyebutan Senentang berubah menjadi
Sintang.
9. Istana Muliakarta, Ketapang, Kalimantan Barat
• Istana ini juga dikenal dengan nama Istana Panembahan Gusti Muhammad
Saunan, yang diambil dari nama salah seorang sultannya yang terkenal dengan
kewibawaan dan kecerdasannya.
• Istana Muliakarta pertama kali dibangun oleh Pangeran Perdana Menteri yang
bergelar Haji Muhammad Sabran, sultan ke-14 kesultanan ini.
10. Istana Kuning, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah
• Pangeran Adipatih Anta Kusuma yang mendirikan satu-satunya Kerajaan di
Kalimantan Tengah ini, dan sekaligus menjadi Raja Pertama di Kesultanan
Kutaringin.
• Namun naas, pada tahun 1986 istana yang terkenal dengan pintu kerajaan
berwarna kuning itu di bakar oleh seorang wanita gila bernama Draya dan
tidak meninggalkan satu barang pun.
11. Istana Sadurangas, Paser, Kalimantan Timur
• Kerajaan Paser Belengkong dulunya bernama kerajaan “Sadurangas”.
• Istana Kerajaan Paser Belengkong ini dibangun pada abad 18 oleh Sultan
Ibrahim Khalilludin.
12. Kedaton Kutai Kartanegara, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
• Istana milik Sultan Kutai Kartanegara ini terletak di pusat kota Tenggarong,
Kalimantan Timur.
• Istana ini selesai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
pada tahun 2002 setelah dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai
Kartanegara ing Martadipura.
• Meski telah resmi menjadi milik Sultan Kutai Kartanegara, istana baru ini
lebih difungsikan sebagai kantor lembaga kesultanan serta sebagai tempat
pelaksanaan acara seremonial oleh Sultan atau Kesultanan Kutai Kartanegara
ing Martadipura.
13. Istana Gunung Tabur, Berau, Kalimantan Timu
• Istana Kerajaan Gunung Tabur yang ada saat ini bukan bangunan asli lagi
karena pada zaman pendudukan Jepang, istana asli telah hancur dibom oleh
Sekutu.
14. Istana Sambaliung, Berau, Kalimantan Timur
• Keraton Sambaliung atau Istana Sambaliung di kabupaten Berau provinsi
Kalimantan Timur
15. Istana Tanjung Palas, Bulungan, Kalimantan Timur
• Kesultanan Bulungan atau Bulongan adalah kesultanan yang pernah
menguasai wilayah pesisir Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung,
Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan sekarang.
• Kesultanan ini berdiri pada tahun 1731, dengan raja pertama bernama Wira
Amir gelar Amiril Mukminin dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir
atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad
Djalalluddin.
• Kesultanan Bulungan dihapuskan secara sepihak pada tahun 1964 dalam
peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Tragedi Bultiken (Bulungan,
Tidung, dan Kenyah) dan wilayah Kesultanan Bulungan hanya menjadi
kabupaten yang sederhana.

6) Kepulauan Maluku
1. Istana Ternate, Kota Ternate, Maluku
• Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung Soa-Sio,
Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara.
• Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan
sebagai benda cagar budaya.
2. Istana Tidore, Kota Tidore, Maluku
• Tidore adalah nama sebuah pulau yang terletak di sebelah barat Pulau
Halmahera dan di sebelah selatan Pulau Ternate.
3. Istana Bacan, Halmahera Selatan, Halmahera
• Kesultanan Bacan adalah suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan,
Kepulauan Maluku.

7) Pulau Sulawesi
1. Istana Mori, Morowali, Sulawesi Tengah
• Istana Raja Mori terletak di atas bukit kurang lebih 25 m dari permukaan
laut
• Secara administrasi rumah bekas Istana Raja Mori ini terletak di desa
Kolonedale Kecamatan Petasia Kabupaten Morowali Propinsi Sulawesi
Tengah.
2. Istana Banggai, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah
• Kerajaan Banggai klasik telah ada dan dikenal sekitar abad ke 13 M dengan
nama Benggawi, di era kejayaan Kerajaan Mojopahit dibawah pimpinan
Prabu Hayam Wuruk (1351-1389
3. Istana Datu Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan
• Istana yang berlokasi di tengah Kota Palopo ini merupakan pusat Kerajaan
Luwu.
• Istana ini dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda sekitar tahun 1920-
an di atas tanah bekas “Saoraja” (Istana sebelumnya yang terbuat dari kayu
dan konon bertiang 88 buah) yang diratakan dengan tanah oleh Pemerintah
Belanda.
4. Saoraja Petta Ponggawae, Bone, Sulawesi Selatan
• Kerajaan ini didirikan oleh Manurungnge Ri Matajang pada tahun 1330
dengan gelar Mata Silompo’e.
5. Saoraja Mallangga, Wajo, Sulawesi Selatan
• Saoraja ini dibangun sekitar tahun 1930, pada era kerajaan Ranreng
Bettengpola ke-26, Datu Makkaraka yang juga dikenal sebagai ahli
lontara.
• Saoraja Mallangga kemudian diusulkan menjadi museum pada tahun 1993,
dan diresmikan oleh Gubernur Sulsel, HM Amin Syam sebagai museum
pada tahun 2004.
6. Saoraja La Pinceng, Barru, Sulawesi Selatan
• Saoraja La Pinceng merupakan salah satu rumah atau istana peninggalan
kerajaan Balusu.
• Saoraja La Pinceng sendiri dibuat pada tahun 1895 terletak di Dusun
Lapasu atau Bulu Dua Kabupaten Barru.
7. Istana Balla Lompoa, Gowa, Sulawesi Selatan
• Istana Tamalate dan Balla Lompoa adalah sisa-sisa Istana Kerajaan Gowa
yang sekarang berfungsi sebagai museum.
• Istana replika ini dibangun pada saat Syahrul Yasin Limpo menjadi Bupati
Gowa tahun 1980-an.
• Sementara Balla Lompoa adalah istana asli Kerajaan Gowa yang didirikan
pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng
Matutu, pada tahun 1936.
• Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti rumah besar atau rumah
kebesaran.
8. Istana Malige, Baubau, Sulawesi Tenggara
• Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan
seluruhnya dari bahan kayu. Bangunannya terdiri dari empat tingkat atau
empat lantai.
KITAB-KITAB

1) Mahabharata
Dikarang oleh Resi Wiyasa. Mahabharata adalah epik India yang menceritakan
pertikaian antara keturunan Raja Bharata dari Hastinapura, yakni Pandawa sebagai
pihak kebaikan melawan pihak Kurawa sebagai pihak kebatilan.

2) Ramayana
Merupakan karya Empu Walmiki. Oleh orang Jawa, Ramayana digubah
menjadi Kakawin Ramayana. Menurut tradisi lisan, kakawin ini ditulis oleh seorang
pujangga istana bernama Yogiswara. Selanjutnya pada masa Kediri dituliskan kitab-
kitab lainnya, di antaranya Hariwangsa dan Gatotkaca Sraya karya Mpu
Panuluh, Smaradhana karya Mpu Dharmaja, Lubdaka dan Wrtasancaya karya Mpu
Tanakung, dan Kresnayana karya Mpu Triguna. Pada masa Majapahit ditulis sejumlah
kitab, yaitu Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular, dan
lain-lain.

3) Pararaton
Pararaton ditafsir selesai ditulis pada tahun 1287 Saka (1365 M). Pararaton
menceritakan keadaan Jawa pada zaman Hindu hingga datangnya Islam.
Pararaton menerangkan jatuh-bangun kerajaan-kerajaan di Jawa, dari mulai Raja
Sanjaya Mataram, kehidupan Ken Arok dalam mencapai takhta Singasari, usaha Raden
Wijaya menipu tentara Kubilai Khan yang hendak menyerang Tumapel, raja-raja
Majapahit, peperangan antara Majapahit melawan Blambangan, hingga kedatangan
orang-orang Islam di Jawa yang mulai merongrong kewibawaan Majapahit.

4) Negarakretagama
Negarakretagama ditulis Mpu Prapanca pada 1365 M. Oleh Prapanca kitab berbentuk
kakawin ini disebut Desawarnana (Cacah Desa-Desa).

5) Arjuna Wiwaha
Kakawin lainnya adalah Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa yang ditulis dalam bahasa
Kawi pada zaman Airlangga Raja Medang Kamulan. Kakawin ini ditulis sekitar tahun
941-964 Saka atau 1019-1042 Masehi. Dalam Arjuna Wiwaha ini, sosok Arjuna
diibaratkan sebagai Airlangga. Karena populernya, cerita ini berkali-kali ditulis ulang
dengan berbagai judul berbeda, misalnya Mintaraga atau Bagawan Ciptaning.

6) Sutasoma
Kitab lainnya, Sutasoma karya Mpu Tantular, berbahasa Kawi, diperkirakan ditulis
pada masa Hayam Wuruk. Mpu Tantular membuat ajaran Siwa dan Buddha menjadi
satu (tunggal), seperti terungkap dalam kalimat: “Hyang Buddha tanpahi Siwa
rajadewa…, mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika
tanhana dharma mangrwa,” yang artinya adalah “Hyang Buddha tak ada bedanya
dengan Siwa, raja para dewa…., karena hakikat Jina (Buddha) dan Siwa adalah satu,
berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran bermuka dua.”

7) Kitab Sastra Gending


Dikarang oleh Sultan Agung Anyakrakusuma, raja Mataram Islam.

8) Kitab Jaka Lodang


Dikarang oleh pujangga Ranggawarsita.

9) Kitab Smaradahana
Kitab ini dikarang oleh Mpu Darmaja, pada masa pemerintahan Raja Kameswara I,
Kediri.

10) Kitab Bharatayuda


Kitab ini dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, pada masa pemerintahan Raja
Jayabaya, Kediri
TARIAN DAERAH
1. Nangroe Aceh Darussalam :
Tari Seudati, Tari Saman, Tari Ranup Lam Puan, Tari Meuseukat, Tari Kipah Sikarang
Aceh, Tari Aceh Gempar, Tari Mulia Ratep Aceh, Tari Rapai Geleng Aceh, Tari Turun
Kuaih Aunen Aceh, Tari Bungong Seulanga Aceh, Tari Seudati Ratoh Aceh, Tari
Nayak Padi Aceh, Tari Saman Jaton Aceh, Tari Kipah Sitangke Aceh, Tari Dodaidi
Aceh, Tari Likok Puloe Aceh, Tari Didong Gayo Aceh, Tari Tarek Pukat Aceh, Tari
Aceh Ek U Gle, Tari Aceh Dara Meukipah Tari Aceh Top Pade.
2. Sumatra Barat
Tari Baralek Gadang, Tari Indang Minangkabau, Tari Rantak Minangkabau, Tari
Galombang Minangkabau, Tari Piring Kubu Durian Padang, Tari Pasambahan Minang,
Tari Indang Badinding,Tari Sabalah Sumatera Barat, Tari Payuang Padang, Tari Alang
Babega Minangkabau, Tari Ambek Ambek Koto Anau Sumatera Barat, Tari Lilin, Tari
Kain Pasisia Salatan, Tari Selendang Minangkabau, Tari Barabah Minangkabau, Tari
Galombang Pasambahan, Tari Panen, Tari Rancak Minangkabau, Tari Tudung Saji
Minangkabau, Tari Rancak Di Nan Jombang, Tari Payung Duo.
3. Sumatra Utara
Tari Serampang Dua Belas,Tari Tor Tor, Tari Terang Bulan (Karo) Tari Maena (Nias),
Tari Pesta Gembira, Tari Karo Lima Serangkai, Tari Kuala Deli Tanjung Katung
Medan, Tari Dembas Simenguda Tapanuli, Tari Kemuliaan Man Dibata Karo, Tari
Bolo-Bolo Karo, Tari Begu Deleng Sumatera Utara, Tari Ngari-ngari Karo.
4. Riau
Tari Joged Lambak, Pedang Jenawi, Tari Pembubung, Tari Sinar, Tari Lenggang
Melayu, Tari Zapin Sekampung, Tari Zapin, Tari Zapin Kampung Melayu Pekan
Baru, Tari RiuhTambourine.
5. Kepulauan Riau
Tari Tandak, Tari Persembahan, Tari Madah Gurindam Tanjung Pinang, Tari Tabal
Gempita, Tarian Gamelan.
6. Bengkulu
Tari Andun dan Tari Bidadari Teminang Anak, Tari Ganau.
7. Jambi
Tari Sekapur Sirih, Tari Selampit Delapan, Tari Rentak Besapih, Tari Kipas Keprak,
Tari Tauh, Tari Selaras Pinang Masak, Tari Selendang Mak Inang, Tarian Magis
Gadis.
8. Bangka Belitung
Tari Puteri Bekhusek, Tari Tincak Gambus Bangka Belitung, Tari Taluput Bangka
Belitung.
9. Sumatra Selatan
Tari Tanggai, Tari Putri Bekhusek, Tari Kelindan Sumbay, Tari Kipas Linggau Tarian
Pagar Pengantin Palembang, Tari Gending Sriwijaya
10. Lampung
Tari Jangget, Tari Melinting, Tari Ngelajau, Tari Sembah Lampung, Tari Bedana
Lampung.
11. DKI Jakarta: Tari Yapong, Tari Ronggeng
12. Banten
Tari Merak dan Tari Cokek.
13. Daerah Istimewa Yogyakarta: Tari Serimpi Sanggu Pati dan Tari Bedhaya.
14. Jawa Tengah
Tari Serimpi dan Tari Blambang Cakil, Tari Gandrung, Tari Sintren.
15. Jawa Barat
Tari Jaipong dan Tari Merak, Tari Topeng kuncaran.
16. Jawa Timur
Tari Remong dan Tari Reog Ponorogo.
17. Bali
Tari Kecak dan Tari Pendet, Tari Legong.
18. Nusa Tenggara Timur
Tari Perang dan Tari Caci, Tari Gareng Tameng.
19. Nusa Tenggara Barat
Tari Mpaa Lenggogo, Tari Batunganga
20. Kalimantan Barat
Tari Monong dan Tari Zapin Tembung.
21. Kalimantan Utara: Tari Kancet Ledo.
22. Kalimantan Selatan
Tari Baksa Kembang dan Tari Radab Rahayu.
23. Kalimantan Tengah
Tari Balean Dadas, Tari Tambun & Bungai, Tari Giring-giring, Tari Kumbang Padang,
Tari Kenyak, Tari Baksa Kambang, Tari TAndik Balian
24. Kalimantan Timur
Tari Perang, Tari Gong, Tari Belian Senteyu, Tari Gantar, Tari Hudog.
25. Sulawesi Selatan
Tari Bosara, Tari Kipas, Tari Bissu, Tari Ma'gellu, Tari Pakarena, Tari Kalioso.
26. Sulawesi Tengah
Tari Lumense, Tari Peule Cinde, Tari Torompio,Tari Dero Poso, Tari Mamosa, Tari
Kalanda.
27. Sulawesi Barat
Tari Patuddu, Tari Kondo Sapata, Tari Kipas.
28. Sulawesi Utara
Tari Maengket, Tari Polo-Palo, Tari Cakalele, Tari Biteya, Tari Kalibombang,Tari
Tumetanden
29. Sulawesi Tenggara
Tari Modinggu, Tari Balumpa, Tari Lumense, Tari Manguru, Tari Molulo, Tari
Lantitiasi, Tari Kolega
30. Gorontalo
Tari Paule Cinde, Tari Polo Palo, Tidi Lopolopalo, Tari Saronde, Tari Padupa, dll
31. Maluku
Tari Lenso dan Tari Cekelele, Tari Perisai.
32. Maluku Utara
Tari Dana-Dana, Tari Nabar Ilaa, Tari Perang, Tari Ronggeng
33. Papua
Tari Selamat Datang, Tari Musyoh, Tari Perang, Tri Selamat Datang
34. Papua Barat
Tari Selamat Datang dan Tari Musyoh.
RUMAH ADAT

1. Nangroe Aceh Darussalam 21. Kalimantan Selatan


Rumoh Aceh, Rumah Krong Pade Rumah Banjar Bumbungan Tinggi
Atau Berandang 22. Kalimantan Tengah
2. Sumatra Barat Rumah Bentang
Rumah Gadang 23. Kalimantan Timur
3. Sumatra Utara Rumah Lamin
Rumah Bolon 24. Sulawesi Selatan
4. Riau Rumah Tongkonan
Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar 25. Sulawesi Tengah
5. Kepulauan Riau Rumah Tambi
Rumah Selaso Jatuh Kembar 26. Sulawesi Barat
6. Bengkulu Rumah Mandar
Rumah Rakyat 27. Sulawesi Utara
7. Jambi Rumah Pewaris, Rumah Bolaang
Rumah Panjang Mongondow
8. Bangka Belitung 28. Sulawesi Tenggara
Rumah Rakit, Rumah Limas Rumah Istana Buton, Laikas
9. Sumatra Selatan 29. Gorontalo
Rumah Limas Rumah Dulohupa, Rumah Pewaris.
10. Lampung 30. Maluku
Nuwou Sesat Rumah Balieo
11. Dki Jakarta 31. Maluku Utara
Rumah Kebaya Rumah Blieo
12. Banten 32. Papua
Rumah Badui Rumah Honai
13. Daerah Istimewa Yogyakarta : 33. Papua Barat
Bangsal Kencana Dan Rumah Joglo Rumah Honai.
14. Jawa Tengah
Padepokan Jawa Tengah
15. Jawa Barat
Rumah Kasepuhan Cirebon.
16. Jawa Timur
Rumah Situbondo
17. Bali
Rumah Gapura Candi Bentar
18. Nusa Tenggara Timur
Rumah Musalaki, Mbaru Niang
19. Nusa Tenggara Barat
Rumah Istana Sultan Sumbawa
20. Kalimantan Barat
Rumah Istana Kesultanan Pontianak
PERTUNJUKAN DAERAH
1. Sumatra Barat
Randai : Nyanyian yang disertai gerak tari dan silat.

2. Riau
Makyong : Pertunjukan rakyat di daerah Riau, pelakunya memakai topeng dan
kuku buatan yang panjang.

3. DKI Jakarta
Lenong : Seperti ludruk, hidup di daerah Jakarta.

4. Jawa Barat
Banjet
Pertunjukan rakyat dari daerah Jawa Barat bagian utara.
Kuda Renggong
Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal
dari Sumedang. Cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama
musik terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-
arakan anak sunat.
Tarling
Seperti ludruk, biasa ditemukan di daerah Cirebon, Jawa Barat.
Tembang Cianjuran/mamaos
Seni vokal Sunda dengan alat musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan atau
rebab.
Rudat
Seni tari dan nyanyian yang diiringi dengan rebana di daerah Jawa Barat. Lagu –
lagunya berisi ajaran agama Islam.
Sisingaan
Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu
jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya
seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi
boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.
Wayang Golek
Suatu seni tradisional Sunda pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang
terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan.

5. Jawa Tengah
Kethoprak
Hidup di daerah Jawa Tengah, ceritanya diambil dari sejarah atau babad zaman raja –
raja dahulu.
Laes/Sintren.
Permainan rakyat yang mengandung unsur kegaiban, di daerah Jawa Tengah bagian
utara.
Lengguk.
Seni pertunjukan berupa tari dan nyanyian rakyat di Jawa Tengah, di mana
pertunjukannya diiringi rebana, di mana pertunjukannya diiringi rebana.
Opak Alang
Kethoprak yang diiringi rebana, di Jawa Tengah bagian utara.
Srandul.
Seperti kethoprak, tetapi lebih sederhana, cukup dimainkan di halamn rumah, hidup di
daerah Jawa Tengah.
Wayang Kulit
Wayang Orang
Hidup di daerah Jawa Tengah, ceritanya diambil dari Mahabarata atau Ramayana.
Wayang Sadat
Wayang dibuat dari kulit, biasanya kulit kerbau atau sapi yang ditatah dan diberi warna,
yang dimainkan oleh seorang dalang.

6. Jawa Timur
Ludruk.
Hidup di daerah Jawa Timur, ceritanya merupakan kejadian sehari–hari atau
mengambil tokoh – tokoh tertentu.
Reog.
Dari daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pemainnya memakai topeng kepala macan, dihiasi
bulu merak, sering disertai dengan kuda kepang.

7. Bali
Bondres
Bondres mempertunjukan lawakan atau guyonan dalam bahasa Bali dengan campuran
Indonesia dan asing, membuat siapapun yang menonton akan tertawa.
Drama Calonarang.
Tari yang menampilkan tokoh barong. Pertunjukkan mistis.
Drama Gong.
Drama gong merupakan drama tradisional yang diiringi oleh gong atau gamelan. Drama
gong merupakan drama campuran antara unsur drama tradisional dan modern
barat.Cerita yang diangkat mulai dari kisah zaman dahulu, kepahlawanan, cinta, sampai
sejarah
Kecak

8. Kalimantan Selatan
Mamanda : Seni pertunjukan tradisional rakyat yang berasal dari Kalimantan
Selatan yang lebih banyak bersifat komedi.
GELAR RAJA-RAJA
1. Adipati Unus : Pangeran Sabrang Lor
2. Amangkurat I : Sunan Tegal Arum
3. Amangkurat II : Sunan Amran
4. Amangkurat III : Sunan Mas
5. Bhre Kretabumi : Prabu Udara Brawijaya
6. Mpu Sindok : Sri Maharaja Sri Isyana
7. Sunan Gunung Jati : Falatehan ; Fatahillah; Maulana Hidayat Syarif
8. Jayanegara : Kalagemet
9. Jaka Tingkir : Adiwijaya/Mas Karebet
10. Ken Arok : Sri Rajasa
11. Kertanegara : Maharaja Sri Kertanegara
12. Kertajaya : Dandang Gendis
13. Raden Wijaya : Sri Kertajasa Jayawardhana
14. Raden Patah : Panembahan Jibun/Sultan Bintoro
15. Sutawijaya : Panembahan Senopati Ing Alaga Kalifatullah Sayidin
Panatagama
16. Sultan Agung : Mas Rangsang
17. Marah Silu : Sultan Malik As-Saleh
18. Sultan Hasanuddin : Ayam Jantan dari Timur
19. Ranggawuni : Sri Jaya Wisnuwardhana
20. Mahesa Cempaka : Narasinghamurti
21. Ken Arok : Sri Ranggah Rajasa Amurwabumi
22. Aswawarman : Wangsakarta
23. Hayam Wuruk : Sri Rajasanegara
24. Pangeran Mangkubumi : Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman
Sayyidin Panatagama Khalifatullah (Sultan Hamengkubuwono I)
LANDASAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Peraturan perundang-undangan sekurang-kurangnya memuat:

1. Landasan Filosofis
Peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan folosofis (filisofische
grondslag) apabila rumusannya atau normanya mendapatkan pembenaran dikaji secara
filosofis. Jadi mendapatkan alasan sesuai dengan cita-cita dan pandangan hidup
manusia dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan sesuai dengan cita-cita kebenaran,
keadilan, jalan kehidupan (way of life), filsafat hidup bangsa, serta kesusilaan.

2. Landasan Sosiologis
Suatu perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan sosiologis (sociologische
groundslag) apabila ketentuan-ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum,
kesadaran hukum masyarakat., tata nilai, dan hukum yang hidup di masyarakat agar
peraturan yang dibuat dapat dijalankan.

3. Landasan Yudiris
Peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan yuridis (rechtsground)
apabila mempunyai dasar hukum, legalitas atau landasan yang terdapat dalam ketentuan
hukum yang lebih tinggi derajatnya. Di samping itu, landasan yuridis mempertanyakan
apakah peraturan yang dibuat sudah dilakukan oleh atas dasar kewenganannya.

DIMENSI PANCASILA
Berikut merupakan dimensi dari Pancasila:
a. Dimensi Idealitas artinya ideologi Pancasila mengandung harapan-harapan dan cita-cita
di berbagai bidang kehidupan yang ingin dicapai masyarakat.
b. Dimensi Realitas artinya nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya bersumber dari
nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat penganutnya, yang menjadi milik mereka
bersama dan yang tak asing bagi mereka.
c. Dimensi Fleksilibilitas artinya ideologi Pancasila itu mengikuti perkembangan jaman,
dapat berinteraksi dengan perkembangan jaman.
d. Dimensi Normalitas artinya Pancasila mengandung nilai-nilai yang bersifat mengikat
masyarakatnya yang berupa norma-norma atauran-aturan yang harus dipatuhi atau ditaati
yang sifatnya positif.
KEDUDUKAN PANCASILA
1. Pancasila Sebagai Dasar Negara
Dasar negara merupakan fundamen atau alas yang dijadikan pijakan serta dapat memberi
kekuatan kepada berdirinya suatu negara. Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu
alas atau landasan yaitu Pancasila. Pancasila pada fungsinya sebagai dasar negara, adalah
sumber kaidah hukum yang mengatur Bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh
unsur-unsurnya yakni rakyat, pemerintah dan wilayah. Pancasila pada posisi seperti inilah
yang merupakan dasar pijakan penyelenggaraan negara serta seluruh kehidupan berbangsa
dan bernegara.

2. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup


Pancasila merupakan kristalisasi pengalaman hidup dalam sejarah bangsa Indonesia yang
telah membentuk watak, sikap, prilaku, etika dan tata nilai norma yang telah melahirkan
pandangan hidup. Pandangan hidup sendiri adalah suatu wawasan menyeluruh terhadap
kehidupan yang terdiri dari kesatuan rangkaian dari nilai-nilai luhur. Pandangan hidup
berguna sebagai pedoman / tuntunan untuk mengatur hubungan sesama manusia,
hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan lingkungan.

3. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia


Ideoligi berasal dari kata idea yang berarti konsep, gagasan, pengertian dasar, cita-cita dan
logos yang berarti ilmu jadi Ideologi dapat diartikan adalah Ilmu pengertian-pengertian
dasar. Dengan demikian Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dimana pada hakikatnya
adalah suatu hasil perenungan atau pemikiran Bangsa Indonesia. Pancasila di angkat atau
di ambil dari nilai-nilai adat istiadat yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat
Indonesia, dengan kata lain pancasila merupakan bahan yang di angkat dari pandangan
hidup masyarakat Indonesia.

4. Pancasila sebagai Jiwa Bangsa Indonesia


Pancasila sebagai nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat Indonesia, hal tersebut
melalui penjabaran instrumental sebagai acuan hidup yang merupakan cita-cita yang ingin
digapai serta sesuai dengan jiwa Indonesia serta karena pancasila lahir bersamaan dengan
lahirnya Indonesia. Menurut Von Savigny bahwa setiap bangsa punya jiwanya masing-
masing yang disebut Volkgeist, artinya Jiwa Rakyat atau Jiwa Bangsa. Pancasila sebagai
jiwa Bangsa lahir bersamaan dengan adanya Bangsa Indonesia yaitu pada jaman dahulu
kala pada masa kejayaan nasional.

5. Pancasila merupakan Sumber dari Segala Sumber Hukum


Poin ini dapat diartikan bahwa segala peraturan perundang-undangan/hukum yang berlaku
dan dijalankan di Indonesia harus bersumber dari Pancasila atau tidak bertentangan
(kontra) dengan Pancasila. Karena segala kehidupan negara Indonesia berdasarkan
pancasila.

6. Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia


Pancasila sebagai kepribadian bangsa karena Pancasila lahir bersama dengan lahirnya
bangsa Indonesia dan merupakan ciri khas bangsa Indonesia dalam sikap mental maupun
tingkah lakunya sehingga dapat membedakan dengan bangsa lain serta Pancasila
merupakan wujud peran dalam mencerminkan adanya kepribadian negara Indonesia yang
bisa membedakan dengan bangsa lain, yaitu amal perbuatan, tingkah laku dan sikap mental
bangsa Indonesia.
7. Pancasila sebagai Cita-cita dan Tujuan
Dalam Pancasila mengandung cita-cita dan tujuan negara Indonesia yang menjadikan
pancasila sebagai patokan atau landasan pemersatu bangsa. Di mana tujuan akhirnya yaitu
untuk mencapai masyarakat adil, makmur yang merata baik materiil maupun spiritual yang
berdasarkan Pancasila.

8. Pancasila sebagai Perjanjian Luhur


Karena saat berdirinya bangsa indonesia, Pancasila merupakan perjanjian luhur yang telah
disepakati oleh para pendiri bangsa untuk dilaksanakan, di lestarikan dan di pelihara.
Artinya Pancasila telah disepakati secara nasional sebagai dasar negara tanggal 18 Agustus
1945 pada sidang PPKI (Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia), PPKI ini merupakan
wakil-wakil dari seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan perjanjian luhur (Pancasila)
tersebut.

9. Pancasila sebagai Falsafah Hidup yang Mempersatukan Bangsa Indonesia


Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa Indonesia. Karena
Pancasila merupakan palsafah hidup dan kepribadian Bangsa Indonesia yang mengandung
nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa Indonesia diyakini paling benar, bijaksana,
adil dan tepat bagi Bangsa Indonesia guna mempersatukan Rakyat Indonesia.

10. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan


Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional memiliki konsekuensi bahwa di
dalam segala aspek pembangunan nasional wajib berlandasakan pada hakikat nilai nilai
dari sila sila yang ada pada pancasila.

11. Pancasila sebagai Perekat/Ligatur Bangsa Indonesia


Selama ini nilai-nilai Pancasila mampu memenuhi kriteria:
• Memiliki daya ikat bangsa yang mampu menciptakan suatu bangsa dan negara yang
kokoh,
• Nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila, telah difahami dan diyakini oleh
masyarakat yang selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya
rasa paksaan.
Dengan demikian, maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut merupakan
denominator dari nilai-nilai yang berkembang dan dimiliki oleh masyarakat sehingga
memiliki daya rekat yang kuat, karena memang dirasa sebagai miliknya. Sebagai contoh,
sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan denominator dari berbagai agama dan
berbagai kepercayaan yang berkembang di Indonesia. Setiap anggota masyarakat memiliki
kewajiban untuk beriman dan bertaqwa kepada-Nya sesuai dengan agama dan
kepercayaannya. Hal ini ternyata dapat diterima baik oleh masyarakat, sehingga memiliki
daya rekat bangsa untuk kepentingan bersama dari beragam agama dan kepercayaan yang
berbeda dan tersebar di seluruh Indonesia.
SEJARAH & LAMBANG PANCASILA
A. Sejarah Lahirnya Pancasila

Guna mendapatkan rumusan dasar negara Republik Indonesia yang benar-benar tepat,
maka agenda acara dalam masa persidangan BPUPKI yang pertama ini adalah
mendengarkan pidato dari tiga orang tokoh utama pergerakan nasional Indonesia, yang
mengajukan pendapatnya tentang dasar negara Republik Indonesia itu adalah sebagai
berikut:
1. Sidang tanggal 29 Mei 1945, Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H. berpidato
mengemukakan gagasan mengenai rumusan lima asas dasar negara Republik
Indonesia, yaitu:
1) Peri Kebangsaan
2) Peri Kemanusiaan
3) Peri Ketuhanan
4) Peri Kerakyatan
5) Kesejahteraan Rakyat
2. Sidang tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Dr. Soepomo berpidato mengemukakan
gagasan mengenai rumusan lima prinsip dasar negara Republik Indonesia, yang dia
namakan "Dasar Negara Indonesia Merdeka", yaitu:
1) Persatuan
2) Kekeluargaan
3) Mufakat dan Demokrasi
4) Musyawarah
5) Keadilan Sosial
3. Sidang tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato mengemukakan gagasan
mengenai rumusan lima sila dasar negara Republik Indonesia, yang dia namakan
"Pancasila", yaitu:
1) Kebangsaan Indonesia
2) Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
3) Mufakat atau Demokrasi
4) Kesejahteraan Sosial
5) Ketuhanan Yang Maha Esa

Gagasan mengenai rumusan lima sila dasar negara Republik Indonesia yang dikemukakan
oleh Ir. Soekarno tersebut kemudian dikenal dengan istilah "Pancasila", masih menurut dia
bilamana diperlukan gagasan mengenai rumusan Pancasila ini dapat diperas menjadi
"Trisila" (Tiga Sila), yaitu: “1. Sosionasionalisme; 2. Sosiodemokrasi; dan 3. Ketuhanan
Yang Berkebudayaan”. Bahkan masih menurut Ir. Soekarno lagi, Trisila tersebut bila
hendak diperas kembali dinamakannya sebagai "Ekasila" (Satu Sila), yaitu merupakan sila:
“Gotong-Royong”. Masa persidangan BPUPKI yang pertama ini dikenang dengan sebutan
detik-detik lahirnya Pancasila dan tanggal 1 Juni ditetapkan dan diperingati sebagai hari
lahirnya Pancasila.
Sampai akhir dari masa persidangan BPUPKI yang pertama, masih belum ditemukan titik
temu kesepakatan dalam perumusan dasar negara Republik Indonesia yang benar-benar
tepat, sehingga dibentuklah "Panitia Sembilan" tersebut di atas guna menggodok berbagai
masukan dari konsep-konsep sebelumnya yang telah dikemukakan oleh para anggota
BPUPKI itu. Adapun susunan keanggotaan dari "Panitia Sembilan" ini adalah sebagai
berikut:
1) Ir. Soekarno (ketua)
2) Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua)
3) Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo
4) Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H.
5) Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
6) Abdoel Kahar Moezakir
7) Raden Abikusno Tjokrosoejoso
8) Haji Agus Salim
9) Mr. Alexander Andries Maramis

Sesudah melakukan perundingan yang cukup sulit antara 4 orang dari kaum kebangsaan
(pihak "Nasionalis") dan 4 orang dari kaum keagamaan (pihak "Islam"), maka pada
tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan kembali bertemu dan menghasilkan rumusan dasar
negara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai "Piagam Jakarta" atau "Jakarta
Charter", yang pada waktu itu disebut-sebut juga sebagai sebuah "Gentlement Agreement"
Pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah upacara proklamasi kemerdekaan, datang berberapa
utusan dari wilayah Indonesia Bagian Timur. Berberapa utusan tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi
2) Hamidhan, wakil dari Kalimantan
3) I Ketut Pudja, wakil dari Nusa Tenggara
4) Latuharhary, wakil dari Maluku.

Mereka semua berkeberatan dan mengemukakan pendapat tentang bagian kalimat dalam
rancangan Pembukaan UUD yang juga merupakan sila pertama Pancasila sebelumnya,
yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya”.
Pada Sidang PPKI I, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, Hatta lalu mengusulkan
mengubah tujuh kata tersebut menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pengubahan kalimat
ini telah dikonsultasikan sebelumnya oleh Hatta dengan 4 orang tokoh Islam, yaitu
Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M. Hasan. Mereka menyetujui
perubahan kalimat tersebut demi persatuan dan kesatuan bangsa. Dan akhirnya bersamaan
dengan penetapan rancangan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 pada Sidang PPKI
I tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.
Setelah rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen
penetapannya ialah:
1) Rumusan Pertama: Piagam Jakarta (Jakarta Charter) tanggal 22 Juni 1945
2) Rumusan Kedua: Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 tanggal 18 Agustus
1945
3) Rumusan Ketiga: Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat tanggal 27
Desember 1949
4) Rumusan Keempat: Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara tanggal 15
Agustus 1950
5) Rumusan Kelima: Rumusan Pertama menjiwai Rumusan Kedua dan merupakan
suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi (merujuk Dekret Presiden 5 Juli 1959)

Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 telah menandatangani Keputusan Presiden
(Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila sekaligus menetapkannya
sebagai hari libur nasional yang berlaku mulai tahun 2017.
Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku "Bung Hatta Menjawab" untuk melaksanakan
Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih
dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin.
Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan
Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang
menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden
RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan
penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram
Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan
semboyan "Bhineka Tunggal Ika".
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah
disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-
Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian
menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana
menteri. Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan
pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika itu
gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan tidak berjambul
seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama
kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15
Februari 1950.
Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950
Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut;
setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada kepala Garuda
Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di
belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa
alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu
mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat. Untuk terakhir kalinya, Sultan
Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu
dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan
Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas
yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan
sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

B. Arti Lambang Pancasila

Burung Garuda Pancasila dalam cerita kuno adalah


kendaraan Dewa Vishnu yang besar dan kuat. Warna
Burung Garuda adalah kuning emas yang
menggambarkan sifat agung dan jaya. Garuda adalah
seekor burung gagah dengan paruh, sayap, ekor, dan
cakar yang menggambarkan kekuatan dan tenaga
pembangunan.
Jumlah bulu burung garuda pancasila memiliki
melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, 17
Agustus 1945.
Dengan keterangan sebagai berikut:
1) Bulu masing-masing sayap berjumlah 17 helai
2) Bulu ekor berjumlah 8 helai
3) Bulu leher berjumlah 45 helai

Di bagian dada burung garuda, terdapat perisai yang dalam kebudayaan serta peradaban
bangsa Indonesia merupakan senjata untuk berjuang, bertahan, dan berlindung untuk
meraih tujuan. Perisai Garuda bergambar lima simbol yang memiliki arti masing-masing:
1) Bintang, sila ke-1 Pancasila, melambangkan Ketuhanan yang Maha Esa
2) Rantai Baja, sila ke-2, melambangkan Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Pohon beringin, sila ke-3, melambangkan Persatuan Indonesia
4) Kepala banteng, sila ke-4, melambangkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan
5) Padi dan kapas, sila ke-5, melambangkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia
6) Garis hitam tebal di tengah perisai melambangkan garis katulistiwa yang
melukiskan lokasi Indonesia berada di garis katulistiwa
7) Warna dasar perisai adalah merah putih seperti warna bendera Indonesia.

Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka
Tunggal Ika" berwarna hitam.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular.
Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata
"ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang
bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di
antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk
menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan
kepercayaan.
ISTILAH-ISTILAH
BAGIAN I
1. Abolisi adalah peniadaan peristiwa pidana; penghapusan tuntutan oleh Presiden terhadap
seseorang atau sekelompok orang yang telah melakukan tindak pidana dengan
pertimbangan DPR.
2. Adendum adalah jilid tambahan, lampiran, ketentuan atau pasal tambahan; perubahan
UUD dengan tetap mencantumkan naskah asli dan naskah pembaharuan dilekatkan pada
naskah asli.
3. Adopsi adalah pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri melalui pengadilan dan
memilliki akta adopsi.
4. Amnesti adalah pengampunan atau penghapusan hukuman yang diberikan kepala negara
kepada seseorang atau sekelompok orang yang telah melakukan tindak pidana tertentu
biasanya melakukan kejahatan politik dengan pertimbangan DPR.
5. Bangsa adalah orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya,
serta berpemerintahan sendiri.
6. Bea Cukai adalah perihal (urusan) yang berhubungan dengan pajak.
7. Bill of right adalah suatu undang-undang yang diterima oleh parlemen Inggris sesudah
berhasil dalam tahun sebelumnya mengadakan perlawanan terhadap Raja James II, dalam
suatu revolusi tidak berdarah.
8. Birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena
telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan; institusi yang menjalankan roda
pemerintahan sehari-hari ‘terpisah’ dari kekuasaan eksekutif yang menguasai dan
mengawasinya dalam melaksanakan tugas tersebut.
9. Cipta adalah kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru, angan-angan yang
kreatif.
10. Deklaratif adalah bersifat pernyataan ringkas dan jelas.
11. Diktator adalah kepala pemerintahan yang mempunyai kekuasaan mutlak, biasanya
diperoleh melalui kekerasan atau dengan cara yang tidak demokratis.
12. Diskriminatif adalah bersifat diskriminasi (membeda-bedakan).
13. Doktrin adalah pandapat ahli hukum atau pendapat para sarjana hukum terkemuka yang
memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan bagi hakim.
14. Duta adalah orang yang mewakili suatu negara di negara lain untuk mengurus kepentingan
negara yang diwakilinya.
15. Eksistensi adalah hal berada, keberadaan.
16. Federalisme adalah paham yang menganjurkan pembagian negara atas bagian-bagian yang
berotonomi penuh mengenai urusan dalam negeri.
17. Grasi adalah ampunan yang diberikan oleh kepala negara kepada orang yang telah dijatuhi
hukuman dengan pertimbangan MA.
18. Harkat adalah derajat (kemuliaan), taraf, mutu, nilai, dan harga.
19. Hukum adalah peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan
oleh penguasa atau pemerintah.
20. Imigrasi adalah perpindahan penduduk negara lain ke negara tertentu untuk menetap.
21. Imperatif adalah bersifat memerintah atau memberi komando, mempunyai hak memberi
komando, bersifat mengharuskan.
22. Karsa adalah daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.
23. Kasasi adalah pembatalan atau pernyataan tidak sah oleh Mahkamah Agung terhadap
putusan hakim karena putusan itu menyalahi atau tidak sesuai dengan undang-undang.
24. Keadilan adalah sifat perbuatan atau perlakuan yang adil.
25. Kebenaran adalah keadaan atau hal yang cocok dengan keadaan atau hak yang
sesungguhnya.
26. Kebiasaan atau custom adalah perbuatan manusia atau lembaga yang dilakukan secara
berulang-ulang mengenai hal yang sama.
27. Kejaksaan adalah alat negara sebagai penegak hukum yang juga berperan sebagai penuntut
umum dalam perkara pidana.
28. Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan.
29. Kepolisian adalah alat negara yang mempunyai peran memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan pengayoman, serta
pelayanan kepada masyarakat.
30. Komnas HAM adalah lembaga HAM yang dibentuk oleh pemerintah.
31. Konsiliasi adalah usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai
persetujuan dan menyelesaikan perselisihan itu.
32. Konstitutif adalah unsur yang mutlak dan harus ada.
33. Konsul adalah orang yang diangkat dan ditugasi sebagai wakil pemerintah suatu negara
dalam mengurus kepentingan perdagangan atau perihal warga negaranya di negara lain.
34. Konsultasi adalah pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (nasihat dan saran)
yang sebaik-baiknya.
35. Korporasi adalah perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa
perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar.
36. Korupsi adalah tindakan atau perbuatan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara
untuk kepentingan pribadi atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan atau perekonomian negara.
37. Magna Charta adalah suatu dokumen yang mencatat tentang beberapa hak yang diberikan
oleh Raja John dari Inggris kepada para bangsawan bawahannya atas tuntutan mereka.
38. Martabat adalah tingkat harkat kemanusiaan dan harga diri.
39. Mediasi adalah proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan
sebagai penasihat.
40. Monarki absolut adalah bentuk pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan satu
orang raja.
41. Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.
42. Natie atau Nation adalah masyarakat yang diwujudkan bentuknya oleh sejarah yang
memiliki unsur yaitu adanya satu kesatuan bahasa, daerah, ekonomi, dan satu kesatuan
jiwa.
43. Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang
sah dan ditaati oleh rakyat.
44. Negosiasi adalah proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai
kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok
atau organisasi) yang lain.
45. Oposisi adalah partai penentang di dewan perwakilan dan sebagainya yang menentang dan
mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa.
46. Paguyuban adalah perkumpulan yang bersifat kekeluargaan, didirikan orang-orang yang
sepaham (sedarah) untuk membina persatuan (kerukunan) di antara para anggotanya.
47. Paspor adalah surat yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk seorang warga negara yang
akan mengadakan perjalanan ke luar negeri.
48. Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk
kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.
49. Pengadilan HAM Ad Hoc adalah pengadilan yang menangani kasus pelanggaran HAM
yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM.
50. Pengakuan de facto adalah pengakuan menurut kenyataan (fakta) yang ada.
51. Pengakuan de jure adalah pengakuan secara resmi berdasarkan hukum oleh negara lain
dengan segala konsekuensinya.
52. Peradilan adalah segala sesuatu mengenai perkara pengadilan.
53. Peranakan adalah keturunan anak negeri dengan orang asing.
54. Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial
dan politiknya).
55. Policy Executing adalah kebijaksanaan yang harus dilaksanakan untuk policy making.
56. Policy making adalah kebijaksanaan negara pada waktu tertentu untuk seluruh masyarakat.
57. Populasi adalah seluruh jumlah orang atau penduduk di suatu daerah.
58. Rakyat adalah penduduk (baik warga negara atau bukan) yang berdomisili di wilayah suatu
negara.
59. Ras adalah golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik.
60. Rehabilitasi adalah pemulihan kepada kedudukan (keadaan, nama baik) yang dahulu
(semula) dengan pertimbangan MA.
61. Rekomendasi adalah hal minta perhatian bahwa orang yang disebut dapat dipercaya, saran
yang menganjurkan (membenarkan atau menguatkan).
62. Remisi adalah pengurangan masa hukuman yang didasarkan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia karena narapidana berkelakuan baik.
63. Representasi adalah perbuatan mewakili, keadaan diwakili, apa yang mewakili, dan
perwakilan.
64. Suaka politik adalah Perlindungan secara politik terhadap orang asing yang terlibat dalam
perkara politik.
65. Sumber hukum adalah segala sesuatu yang berupa tulisan, dokumen, naskah, dan
sebagainya yang dipergunakan oleh suatu bangsa sebagai pedoman hidupnya pada masa
tertentu.
66. Teritorial adalah mengenai bagian wilayah (daerah hukum) suatu negara.
67. Totalitarianisme adalah paham yang dianut oleh pemerintahan totaliter dan praktik-praktik
yang dilaksanakan.
68. Traktat adalah perjanjian antara dua negara atau lebih mengenai masalah-masalah tertentu
yang menjadi kepentingan negara yang bersangkutan.
69. Undang-undang atau statute adalah semua bentuk peraturan perundang-undangan
(undang-undang dalam pengertian materiil, bukan hanya undang-undang dalam arti
formal).
70. Wilayah adalah daerah (kekuasaan, pemerintahan, pengawasan).
71. Yurisprudensi adalah keputusan hakim terdahulu terhadap suatu perkara yang tidak diatur
dalam undang-undang dan dijadikan pedoman oleh hakim lainnya dalam memutuskan
perkara yang serupa.
72. Zoon Politicon adalah manusia ditakdirkan sebagai mahluk sosial dan dikodratkan untuk
hidup bermasyarakat
ISTILAH-ISTILAH
BAGIAN II

1. SUKUISME
Sukuisme adalah suatu paham yang memandang bahwa suku bangsanya lebih baik
dibandingkan dengan suku bangsa yang lain, atau rasa cinta yang berlebihan terhadap
suku bangsa sendiri.

2. PRIMORDIALISME
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal
yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun
segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.

3. CHAUVINISME
Chauvinisme adalah rasa cinta tanah air yang berlebihan dengan mengagungkan bangsa
sendiri, dan merendahkan bangsa lain.

4. PROVINSIALISME
Provinsialisme adalah paham (gerakan dsb) yang bersifat kedaerahan.

5. EKSTRIMISME
Ekstrimisme adalah bentuk penyalahgunaan kegiatan berpolitik yang memanfaatkan
kelompok atau organisasi minoritas.
a. EKSTRIMISME KANAN (Fundamentalis Agama)
Ekstrimisme kanan adalah istilah yang mengacu kepada segmen spektrum politik
yang biasanya dihubungkan dengan konservatisme, liberalisme klasik, kelompok
kanan agama.
b. EKSTRIMISME KIRI (Komunis)
Kelompok yang biasanya dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi
sosial.

6. SEKULARISME/SEKUNDER
Sekularisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau
harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.
ISTILAH-ISTILAH
BAGIAN III
A. Umum

• Adat: Keseluruhan hukum dan tradisi yang amat tua.


• Advokat: Orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar
pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang.
• Aktualisasi: Membenarkan; memberikan kenyataan.
• Antagonis: Bertolak belakang; penentang.
• Antisipasi: Perhitungan terhadap hal-hal yang belum terjadi.
• Apolitis: Tidak berminat pada politik; tidak bersifat politik.
• Asosiasi: Kelompok yang sengaja dibentuk untuk tujuan tertentu.
• Aufklarung (Bahasa Jerman): Abad pencerahan dalam sejarah barat (abad ke-18).
• Birokrasi: Sistem pemerintahan berdasarkan hierarki dan jabatan.
• Boikot/Boykot: Pengucilan; penolakan.
• BW (Burgerlijk Wetboek): Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
• By Comission: Pelanggaran HAM secara langsung oleh negara.
• By Omission: Membiarkan terjadinya pelanggaran HAM.
• Core Values: Nilai-nilai inti atau yang dijunjung tinggi.
• Coup d’etat: Kudeta, penggulingan pemerintah yang ada.
• De facto: Pengakuan menurut kenyataan yang ada.
• De jure: Pengakuan menurut hukum atau yuridis.
• Demontrasi: Salah satu aksi protes masyarakat.
• Diskriminasi: Pembatasan, pelecehan, atau pengucilan terhadap pihak tertentu.
• Doktrin Hukum: Pendapat para ahli, atau sarjana hukum ternama/terkemuka.
• Efektif: Akibat yang membawa hasil atau pengaruh.
• Egalitarian: Pandangan bahwa semua orang sederajat.
• Ekstrem: Paling keras.
• Epithet: Frase untuk meremehkan orang.
• Etika: Watak kesusilaan; adat; moral; akhlak.
• Etis: Sesuai dengan perilaku umum.
• Exercitum: Terpilih; khusus; memperoleh pengecualian untuk menjalankan
kekuasaan.
• Extrajudisial: Lembaga peradilan yang berada diluar sistem pengadilan.
• Fasisme: Sebuah paham tentang bentuk negara diktator.
• Feodalisme: Politik sistem sosial dengan memberikan kekuasaan pada kaum
bangsawan.
• Filosofis: Berdasarkan ilmu filsafat.
• Fleksibel: Dapat berubah atau diubah dengan prosedur apapun.
• Fundering: Dasar kekuasaan negara.
• Golput: Golongan putih, menolak memberikan suara pada pemilu.
• Hak anak: Hak asasi manusia bahwa hak anak dilindungi oleh hukum sejak dalam
kandungan.
• Hak mengembangkan diri: Hak setiap orang atas pemenuhan kebutuhan dasarnya
untuk tumbuh dan berkembang secara layak.
• Hakim: Aparat penegak hukum/pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh
Undang-Undang untuk mengadili/ memutus suatu perkara.
• Harmoni: Keselarasan.
• Human values: Nilai–nilai kemanusiaan.
• Imperialisme: Paham politik untuk menjajah bangsa lain dengan keuntungan besar.
• Implementasi: Pelaksanaan; penerapan.
• Indoktrinasi: Penggemblengan suatu doktrin; pemberian ajaran secara mendalam.
• Integrasi: Pembauran yang menyatu secara utuh.
• Ius Constituendum: Hukum yang dicita-citakan.
• Ius Constitutum: Hukum positif, hukum yang berlaku disuatu negara tertentu waktu
tertentu.
• Ius Naturale/Hukum Asasi: Hukum yang berlaku di mana-mana dalam segala waktu
dan untuk segala bangsa di dunia.
• Jaksa: Pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk bertindak
sebagai penuntut umum dan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan Undang-Undang.
• Kaidah: Norma atau peraturan-peraturan tingkah laku manusia.
• Kebiasaan: Perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama.
• Kebijakan (policy): Upaya terhadap perubahan lingkungan.
• Kejahatan genosida: Perbuatan yang dilakukan untuk memusnahkan suatu kelompk
bangsa, ras, kelompok, etnis, dan agama.
• Kejahatan kemanusiaan: Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan
terhadap penduduk sipil. Misalnya: pembunuhan, pemusnahan, perbudakan,
pengusiran, penyiksaan, pemerkosaan, penganiayaan, penghilangan orang secara
paksa, dan kejahatan apartheid.
• Kelompok kepentingan: Golongan masyarakat yang berkepentingan di
pemerintah/negara.
• Kelompok penekan: Golongan masyarakat atau perorangan yang mampu memaksa
pemerintah.
• Kemerdekaan berpendapat: Hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran
dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
• Kesadaran Hukum: Keyakinan akan kebenaran yang dilaksanakan dengan perbuatan
patuh hukum.
• Kewajiban dasar manusia: Seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan,
tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia. Misalnya berbuat adil
(tidak diskriminatif) kepada orang lain, menghormati hak asasi orang lain.
• Kewarganegaraan: Segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara.
• Kharismatik: Bakat atau keadaan yang berkaitan dengan kemampuan kepemimpinan,
rasa bangga.
• Koalisi: Kerjasama beberapa partai untuk memperoleh suara.
• Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: merupakan suatu pilihan untuk menyelesaikan
pelanggaran HAM tidak lewat Peradilan HAM tetapi dengan cara mengungkap masalah
kebenaran dan kemudian melakukan perdamaian antara pihak korban atau ahli
warisnya dengan para pelaku pelanggaran.
• Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI): adalah lembaga independen yang
kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara dalam rangka untuk meningkatkan
efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia.
• Konfrontasi: Menurut perjanjian, sesuai dengan kontrak.
• Konstitusi: Hukum dasar yang tertulis dan tidak tertulis.
• Konvensi: Aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis.
• Kooptasi: Pemilihan anggota baru dari badan musyawarah yang ada.
• Koridor hukum: Jalur hukum.
• Kosmopolitanisme: Paham/gerakan yang berpandangan tidak perlu punya
kewarganegaraan asalkan menjadi warga dunia.
• Kovenan internasional: suatu perjanjian antar negara mengenai masalah tertentu
(termasuk HAM) yang mengikat para negara penandatangannya.
• KTP (Kartu Tanda Penduduk): Identitas suatu warga negara.
• KUH PERDATA: Kitab Undang-Undang hukum Perdata.
• KUHAP: Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Moral: Perbuatan dan sikap manusia yang baik dan buruk.
• KUHP: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
• Masyarakat madani: Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma dan hukum
sesuai iman, ilmu dan teknologi.
• Mekanisme: Cara kerja organisasi.
• Mobilisasi sosial: Perubahan masyarakat dengan pola baru.
• Mores: Adat atau cara Hidup.
• Nalar: Kekuatan pikir.
• Negara: Organisasi disuatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan
ditaati oleh rakyatnya.
• Norma: Petunjuk hidup dalam masyarakat berupa perintah, anjuran dan larangan.
• Otoritas: Wewenang yang dikuatkan oleh kekuasaan sah (orang yang otoriter).
• Paradigma: Kerangka berpikir.
• Parafrase: Pernyataan ulang atau suatu pembicaraan.
• Partisan: Pengikut partai/ golongan.
• Partisipan: Ikut berperan dalam kegiatan.
• Pelanggaran hak asasi manusia: setiap perbuatan yang secara melawan hukum
mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia.
• Pelanggaran HAM berat: pelanggaran yang digolongkan kejahatan luar biasa,seperti
antara lain pembunuhan untuk memusnhkan suatu kelompok atau etnis tertentu
(genoside), teroris, kejahatan perang.
• Pendapat: adalah buah gagasan atau buah pikiran.
• Penduduk: Seseorang yang tinggal di suatu tempat tertentu.
• Pengadilan HAM Ad Hoc: yaitu lembaga pengadilan yang memiliki
kewenanganmelakukan proses peradilan terhadap para pelaku pelanggaran HAM berat
yang diberlakukan surut (retroaktif) sebelum berlakunya UU Nomor 26Tahun 2000
tentang pengadilan HAM.
• Penuntut Umum: Adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk
melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
• Pokok pokok pikiran dimasukanya HAM dalam UUD 1945: merupakan pemikiran
yang melatar belakangi atau alasan dimasukannya pasal–pasal tentang hak asasi
manusia (HAM) dalam UUD 1945 yaitu untuk mencegah berkembangnya ”negara
kekuasaan” atau otoriter yang dapat bertindak sewenang–wenang kepada rakyatnya.
• Praksis: Praktik kehidupan.
• Pranata: Institusi, sistem tingkah laku sosial.
• Principium kekuasaan: Pemegang kekuasaan utama dari semua kekuasaan.
• Rasionalisme: Paham yang mengajarkan bahwa akal dan pikiran adalah dasar
penyelesaian masalah
• Ratifikasi: Pengesahan satu dokumen negara oleh parlemen, khususnya pengesahan
UU, perjanjian internasional atau antar negara.
• Referendum: Penmyerahan solusi kepada umum tanpa melalui parlemen.
• Rezim: Pemerintahan yang berkuasa.
• Rigid: Dapat berubah atau diubah dengan prosedur tertentu.
• Sabotase: Aksi pengrusakan fasilitas atau sarana umum.
• Sanksi: Suatu keadaan yang dikenakan kepada yang melanggar norma.
• Sistem distrik: Daerah pemilihan sama dengan anggota badan perwakilan rakyat.
• Social Relation: Hubungan Sosial.
• Stabilitas: Kemantapan; seimbang.
• Status naturalis: Suatu kondisi seseorang yang mengabaikan hak–hal dasar orang lain.
• Teoretis: Berdasarkan teori terhadap dirinya.
• Traktat: Perjanjian dua negara atau lebih.
• Warga Negara: Warga negara adalah suatu negara yang ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
• Yurisprudensi: Putusan hakim terdahulu yang kemudian diikuti dan dijadikan
pedoman oleh hakim-hakim lain dalam memutus suatu perkara yang sama.
• Zero sum: Mengesampingkan faktor yang kurang menonjol.
• Zoon Politicon: Manusia ditakdirkan sebagai mahluk sosial dan dikodratkan untuk
hidup bermasyarakat.

B. PEMILU

• AD/ART Partai Politik: Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai politik,
suatu pedoman organisasi yang memuat tujuan, asas, ideologi dan aturan partai secara
lengkap. Disebut juga sebagai konstitusi partai.

• Adagium Politik: Ungkapan atau pepatah yang terdapat dalam dunia politik. Misalnya
suatu ungkapan, “Tiada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan
abadi,” atau “Politik merupakan siapa mendapat apa.”

• Affirmative Action: Biasa dikaitkan dengan aturan Undang-undang Pemilu yang


menetapkan sekurang-kurangnya 30 persen pengurus dewan pimpinan pusat partai
adalah perempuan dan sekurang-kurangnya 30 persen calon legislator adalah
perempuan di dalam Daftar Calon Tetap.

• Apatis: Sikap tidak peduli dengan keadaan

• Audit Dana Kampanye: Laporan dana kampanye peserta Pemilu yang meliputi
penerimaan dan pengeluaran disampaikan kepada kantor akuntan publik yang ditunjuk
oleh KPU paling lama 15 (lima belas) hari sesudah
hari/tanggal pemungutan suara. Kantor akuntan publik menyampaikan hasil audit
kepada KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak diterimanya laporan.

• Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) adalah badan yang bertugas mengawasi


penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di
tingkat provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan, badan ini disebut Panitia Pengawas
Pemilu.

• Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yaitu harga sebuah kursi di satu daerah pemilihan
yang berasal dari jumlah pemilih dibagi jumlah kursi.

• BPP DPRD: Bilangan Pembagi Pemilihan bagi kursi DPRD adalah bilangan yang
diperoleh dari pembagian jumlah suara sah dengan jumlah kursi di suatu daerah
pemilihan untuk menentukan jumlah perolehan kursi partai politik peserta pemilu dan
terpilihnya anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.

• BPP DPR: Bilangan Pembagi Pemilihan bagi kursi DPR adalah bilangan yang
diperoleh dari pembagian jumlah suara sah seluruh partai politik peserta pemilu yang
memenuhi ambang batas perolehan suara 2,5 persen dari suara sah secara nasional di
satu daerah pemilihan dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan untuk
menentukan jumlah perolehan kursi partai politik peserta pemilu.

• Calon Legislator (Caleg) ialah orang-orang yang berdasarkan pertimbangan, aspirasi,


kemampuan atau adanya dukungan masyarakat, dan dinyatakan telah memenuhi syarat
oleh peraturan diajukan partai untuk menjadi anggota legislatif (DPR) dengan
mengikuti pemilihan umum yang sebelumnya ditetapkan KPU sebagai caleg tetap.

• Calon Independen/ Calon Perseoranganadalah seorang yang mencalonkan diri untuk


menduduki jabatan politik tanpa ada dukungan partai politik. Calon independen dikenal
dalam pemilihan kepala daerah (pilkada).

• Calon Presiden/ Wakil Presiden: orang-orang yang memenuhi syarat sebagai calon
presiden dan namanya terdaftar di Komisi Pemilihan Umum sebagai peserta Pemilihan
Presiden.

• Coblos: Metode penandaan dengan melubangi surat suara pada Pemilu yang digunakan
sejak Pemilu 1955 sampai Pemilu 2004.

• Contreng/ Centang: Metode penandaan pada surat suara dengan menggunakan tanda
V. Penggunaan tanda ini dimulai pada Pemilu 2009 ini berdasarkan Undang-undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum.

• Daerah Pemilihan (Dapil): batas wilayah atau jumlah penduduk yang menjadi dasar
penentuan jumlah kursi yang diperebutkan, dan karena itu menjadi dasar penentuan
jumlah suara untuk menentukan calon terpilih.

• Daftar Calon Sementara (DCS): Daftar orang-orang yang bisa menjadi calon anggota
DPR dan DPD namun masih dimungkinkan pergantiannya.

• Daftar Calon Tetap (DCT): Daftar orang-orang yang menjadi calon anggota DPR dan
DPD dan tak bisa dicabut lagi pencalonannya.

• Daftar Pemilih Sementara: Biasanya disingkat dengan DPS, ini adalah nama-nama
warga yang bisa ikut pemilu. Tapi data-data di dalam DPS ini masih bakalan
diperbaharui dan akan dibuat Daftar Pemilih Tetap (DPT). Kenapa harus dicek ulang,
karena bisa saja dalam DPS ini ada warga yang telah wafat, pindah rumah atau masih
dibawah umur tapi masuk jadi daftar pemilih.

• Daftar Pemilih Tetap: lihat Daftar Pemilih Sementara

• Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) adalah data penduduk yang
digunakan sebagai basis Daftar Pemilih Sementara.
• DPD atau Dewan Perwakilan Daerah: lembaga yang dapat mengajukan kepada DPR
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan
daerah, pembentukan dan pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber
daya alam, dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah. DPD juga melakukan pengawasan terhadap pemerintah
berkaitan dengan beberapa isu itu. Anggota DPD dipilih melalui pemilu, setiap provinsi
diwakili 4 orang.

• DPR atau Dewan Perwakilan Rakyat: lembaga yang anggotanya dipilih oleh rakyat
dalam Pemilu, memiliki fungsi legislasi (membuat undang-undang), penyusunan
anggaran dan pengawasan kerja pemerintah.

• DPRD atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerahada di tingkat provinsi dan tingkat
kabupaten atau kota; lembaga legislatif yang mewakili rakyat di tingkat provinsi atau
kabupaten/kota dalam mengawasi pemerintah daerah dalam menjalankan tugas.

• Electoral Threshold: Ambang batas untuk partai politik agar mengikuti Pemilu
berikutnya.

• Etika Politik: Tata aturan atau kaidah yang harus diperhatikan dalam berpolitik.
Misalnya, sebuah partai politik ketika sedang kampanye tidak boleh menjelek-jelekkan
partai politik atau tokoh lain.

• Etnopolitik: Ilmu yang mempelajari asal-usul politik dalam suatu masyarakat.

• Euforia Politik: Perasaan gembira luar biasa atau sebuah keadaan politik yang begitu
gegap-gempita karena adanya kebebasan. Biasanya perasaan atau suasana ini terjadi
setelah kebijakan politik sangat represif berakhir. Pada saat euforia inilah banyak partai
politik didirikan masyarakat bak cendawan di musim hujan, seperti terjadi di Indonesia
pascajatuhnya Presiden Soeharto.

• Faksi: Kelompok dalam partai politik

• Formulir Model A: Digunakan untuk data pemilih

• Formulir Model A1: Digunakan Pemilihan Sementara

• Formulir Model A1: Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan Awal

• Formulir Model A2.2: Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan Akhir

• Formulir Model A3: Daftar Pemilih Tetap

• Formulir Model A4: Daftar Pemilih Tambahan

• Formulir Model A5: Surat Pemberitahuan Daftar Pemilih Tambahan

• Formulir Model A6: Rekap DPT Kabupaten/Kota

• Formulir Model A7: Rekap Daftar Pemilih Tetap Provinsi


• Gabungan Partai Politik: Istilah ini merujuk pada cara pengajuan calon presiden yang
bisa dilakukan satu partai politik atau gabungan partai politik.

• Golongan Putih (Golput), sebutan untuk kelompok masyarakat yang tidak


menggunakan hak pilihnya secara sengaja dan penuh kesadaran karena tidak percaya
dengan sistem politik yang ada.

• Iklan Kampanye Pemilu: Iklan dilakukan oleh peserta Pemilu pada media massa cetak
dan/atau lembaga penyiaran dalam bentuk iklan komersial dan/atau iklan layanan
masyarakat

• Incumbent: Orang yang sedang memegang jabatan (bupati, walikota, gubernur,


presiden) yang ikut pemilihan agar dipilih kembali pada jabatan itu.
• Kampanye: Kegiatan Peserta Pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan
menawarkan visi, misi, dan program Peserta Pemilu. Metode kampanye seperti
pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, media massa cetak dan media massa
elektronik, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga di
tempat umum dan rapat umum.

• Kampanye Hitam (Black Campaign): Kampanye untuk menjatuhkan lawan politik


melalui isu-isu yang tidak berdasar. Metode yang digunakan biasanya desas-desus dari
mulut ke mulut dan sekarang ini telah memanfaatkan kecanggihan teknologi,
multimedia dan media massa.

• Kampanye Negatif: Kampanye menyerang lawan politik dengan menggunakan fakta


atau kebijakan si lawan.

• Kendaraan Politik: Sebuah wadah atau organisasi yang dapat menghntarkan


seseorang untuk menduduki jabatan politik. Partai politik sering digunakan sebagai
kendaraan politik.

• Koalisi Partai: Kombinasi dari sejumlah kekuatan partai politik untuk membentuk
suara mayoritas sehingga dapat memperjuangkan tujuan secara bersama-sama.

• Kuota Perempuan: lihat Affirmative Action

• KPPS atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara: Panitia pemilihan di


Tempat Pemungutan Suara.

• KPPSLN atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri

• KPU atau Komisi Pemilihan Umum: Lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat
nasional, tetap, dan mandiri.

• Laporan Dana Kampanye: Laporan penerimaan dan pengeluaran suatu partai politik
peserta pemilu yang disampaikan kepada kantor akuntan publik yang ditunjuk KPU
paling lama 15 hari sesudah hari/tanggal pemungutan suara.
• Masa Tenang: Rentang waktu ketika peserta pemilu dilarang melakukan kampanye.
Media massa juga dilarang menyiarkan kampanye dalam bentuk apapun yang
menguntungkan atau merugikan pihak tertentu.

• Nomor Urut: Sistem penentuan calon terpilih berdasarkan nomor urut di Daftar Calon
Tetap. Ketentuan ini telah dihapuskan Mahkamah Konstitusi.

• Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) terdapat di provinsi dan kabupaten/kota dan


kecamatan, adalah panitia yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi
penyelenggaraan pemilu di wilayah provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan.

• Parliamentary Threshold: Ambang batas partai politik memperoleh kursi di DPR


yakni 2,5 persen jumlah kursi. Untuk Pemilu 2009 ini, jumlah kursi DPR yang
disediakan adalah 560.

• Partai Oposisi: Partai yang menyatakan berseberangan dengan partai yang sedang
berkuasa.

• Partai Politik: Organisasi politik yang menjalani ideologi tertentu atau dibentuk
dengan tujuan khusus

• Partai Politik Peserta Pemilu: Partai politik yang mengikuti pemilu anggota DPR,
DPRD provinsi dan kabupaten/kota dan perseorangan untuk pemilu anggota DPD.

• Pemilu atau Pemilihan Umum: Suatu proses memilih orang untuk mengisi jabatan-
jabatan politik tertentu, seperti presiden, anggota DPR dan DPD (parlemen), gubernur,
bupati/walikota dan kepala desa.

• Pemilu Paruh Waktu: Pemilu di Amerika Serikat untuk memilih anggota-anggota


kongres, parlemen negara bagian, dan beberapa gubernur, tetapi bukan untuk memilih
presiden.

• Pemilu Sela: Pemilihan umum khusus yang diadakan untuk mengisi sebuah jabatan
politik yang kosong di antara masa pemilihan umum. Hal ini biasanya terjadi apabila si
pemegang jabatan meninggal dunia atau mengundurkan diri, atau bila ia tidak berhak
lagi untuk tetap duduk di jabatannya karena ditarik (recall) oleh partainya atau karena
menghadapi tuntutan hukum yang serius. Sistem ini biasa dilakukan di negara yang
menganut sistem parlementer. Indonesia tidak menganut sistem ini, sehingga
pergantian dilakukan melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW).

• Pemutakhiran Data Pemilih: Pendataan pemilih dengan menggunakan data pemilih


terakhir yang ada di setiap KPU daerah. Hasil pemutakhiran data pemilih digunakan
sebagai bahan penyusunan daftar pemilih sementara.

• Pendidikan Pemilu: Bertujuan mengembangkan kepercayaan dan pengertian atas


proses pemilu. Hal ini mencakup penyampaian informasi kepada pemilih pada
umumnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemilu seperti UU Politik, UU
Pemilu, UU Pemilihan Presiden, mekanisme pemilihan, dan bagaimana proses
pemberian suara pada hari pemilu itu. Tujuan kedua ialah untuk memotivasi kelompok-
kelompok tertentu-perempuan, pemilih pertama kali, orang miskin di perdesaan dan
tempat terpencil untuk mengambil bagian dalam pemilu dengan memberikan
penyuluhan tentang pentingnya suara individual.

• Pengawas Pemilu Lapangan: Petugas yang dibentuk oleh Panwaslu kecamatan untuk
mengawasi penyelenggaraan pemilu di desa/kelurahan.

• Pengawas Pemilu Luar Negeri: Petugas yang dibentuk oleh Bawaslu untuk
mengawasi penyelenggaraan pemilu di luar negeri.

• Peserta Pemilu adalah partai politik peserta Pemilu dan calon anggota Dewan
Perwakilan Daerah.

• Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah yakni pemilihan calon kepala daerah provinsi
atau kabupaten/kota.

• PPK atau Panitia Pemilihan Kecamatan: Panitia Pemilihan di tingkat kecamatan.

• PPLN atau Panitia Pemilihan Luar Negeri: Panitia yang bertanggung jawab
menyelenggarakan Pemilu di sebuah negara asing.

• PPS atau Penyelenggara Pemungutan Suara: Panitia Pemilihan di tingkat kelurahan.

• PPDP atau Petugas Pemutakhiran Data Pemilih

• PPDPLN atau Petugas Pemutakhiran Data Pemilih Luar Negeri.

• Presidential Threshold: Sebuah istilah tak resmi untuk syarat mengajukan calon
presiden dalam Pemilihan Presiden. Syaratnya adalah partai atau gabungan partai
memiliki 25 persen kursi atau 20 persen suara sah Pemilu untuk mencalonkan presiden.

• Putusan Sela Pemilu: Putusan sementara Mahkamah Konstitusi dalam menyelesaikan


sengketa Pemilu. Putusan ini berlaku untuk masa tertentu dan harus diakhiri dengan
sebuah putusan final dan mengikat.

• Referendum atau Jajak Pendapat: Pemungutan suara untuk mengambil sebuah


keputusan (politik). Pada sebuah referendum, biasanya orang-orang yang memiliki hak
pilih dimintai pendapatnya. Hasil refendum bisa dianggap mengikat atau tidak
mengikat. Jika mengikat, maka para anggota kaum eksekutif wajib menjalankan hasil
jajak pendapat tersebut. Di beberapa negara tertentu seperti Belanda, referendum tidak
mengikat.

• Rekapitulasi Suara: Penggabungan hasil pemungutan suara di Tempat Pemungutan


Suara. Rekapitulasi tingkat pertama dilakukan di Panitia Pemilihan Kecamatan, lalu
naik berjenjang sampai ke Komisi Pemilihan Umum.

• Sengketa Hasil Pemilu: Sengketa terhadap keputusan komisi pemilihan umum atau
komisi pemilihan umum di tingkat daerah menyangkut hasil pemilu. Mulai Pemilu
2009, sengketa Pemilu diajukan ke Mahkamah Konstitusi.
• Sistem bikameral: Wujud institusional dari lembaga perwakilan atau parlemen sebuah
negara yang terdiri atas dua kamar (majelis).
Sistem proporsional: Sesuainya proporsi jumlah wakil dalam lembaga legislatif dengan
jumlah pendukung nyata tiap partai.

• Sistem Distrik: Wakil rakyat dipilih berdasarkan suara terbanyak di suatu daerah
pemilihan.

• Sistem Nomor Urut: lihat Nomor Urut.

• Sistem Proporsional: Sesuainya proporsi jumlah wakil dalam lembaga legislatif


dengan jumlah pendukung nyata tiap partai

• Sistem Suara Terbanyak: Wakil rakyat ditetapkan berdasarkan suara terbanyak.

• Sistem Zipper: Aturan setiap satu dari tiga calon dalam Daftar Calon Tetap adalah
perempuan.

• Surat Suara: Lembar kertas yang digunakan bagi pemilih untuk memberikan hak suara

• TPS atau Tempat Pemungutan Suara: Tempat pemilih mencoblos pada saat pemilu.
Jumlahnya bisa ribuan di seluruh Indonesia. Di TPS biasanya didirikan tenda ada
bangku-bangku, kotak suara, petugas pemungutan suara dan saksi-saksi dari partai
politik.

• Unikameral: Sistem perlemen yang hanya terdiri dari satu kamar/satu kesatuan.
Indonesia menganut sistem bikameral.

• Verifikasi Partai Politik: Suatu proses tahap akhir penyeleksian yang dilakukan oleh
komisi pemilihan umum terhadap semua calon peserta pemilu sebelum ditetapkan
menjadi peserta pemilu.

• Voting: Proses pengambilan keputusan melalui pemungutan suara dan pemenangnya


ditentukan dengan suara terbanyak

C. TIPIKOR

• Banding : Pemeriksaan dalam tingkat kedua oleh sebuah pengadilan yang lebih tinggi
untuk mengulangi seluruh pemeriksaan, baik menyangkut fakta-fakta maupun
mengenai penerapan undang-undang. Banding dilakukan oleh Pengadilan Tinggi.
• Kasasi : Pemeriksaan oleh peradilan yang ditujukan untuk memeriksa tentang sudah
tepat atau tidaknya penerapan hukum yang dilakukan oleh pengadilan-pengadilan di
bawahnya. Kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung.
• Peninjauan Kembali : Upaya hukum luar biasa untuk memeriksa dan memutus pada
tingkat pertama dan terakhir atas putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap (inkrach). Peninjauan kembali dilakukan oleh Mahkamah Agung.
Syarat pengajuan Peninjauan Kembali:
1. Ditemukan bukti baru (novum)
2. Adanya kekhilafan hakim terdahulu atau kekeliruan yang nyata dalam
menerapkan hukum.
• Denda : Hukuman (pidana) yang berupa membayar sejumlah uang.
• Uang Pengganti : Sebagai pidana tambahan berupa kewajiban membayar sejumlah
uang yang didapatkan dari tindak pidana korupsi yang dilakukannya.
• Biaya Perkara : Biaya yang keluar atas pemanggilan saksi-saksi karena surat-surat
dalam perkara pidana bebas materai. Biaya ini ditanggung terhukum dan dalam hal
terdakwa dibebaskan dari semua dakwaan, biaya dipikul oleh negara.
• Amar : Bunyi suatu putusan, yaitu kata-kata yang terdapat dibawah kata mengadili atau
memutuskan.
• Putusan : Hasil atau kesimpulan suatu pemeriksaan perkara yang didasarkan pada
pertimbangan untuk menetapkan hukum.
• Judex facti : Hakim yang memeriksa tentang duduknya perkara, yaitu hakim tingkat
pertama dan hakm banding.
• Penjara : Hukuman (pidana) pokok yang dimaksud untuk memberikan penderitaan
kepada terhukum dengan terpidana wajib menjalankan segala tugas yang dibebankan
kepadanya.
• Kurungan : Hukuman (pidana) pokok yang bertujuan memberikan penderitaan kepada
terhukum, namun biasanya sifatnya lebih ringan dari penjara di mana hukuman tersebut
memiliki hak pistole dan diberikan paling lama 1 tahun.
• Hak Pistole : Hak atau kesempatan untuk mengurusi makanan dan alat tidur sendiri
atas biaya sendiri
• Subsidair
1. Sebagai pengganti sesuatu apabila ini tidak terjadi. Hukuman kurungan subsidair
adalah hukuman densa apabila terhukum tidak membayarnya.
2. Sebagai dakwaan pengganti dakwaan primair apabila tidak terbukti.
• Memori Kasasi : Risalah yang memuat alasan-alasan atau keberatan yang diajukan
terhadap putusan yang dimohonkan kasasi, yaitu putusan Hakim Banding (Pengadilan
Tinggi).
• Memori Banding : Risalah yang diajukan oleh pembanding di mana ia menguatkan
permohonan bandingnya.
• Inkracht : Putusan pengadilan sudah benar-benar berkekuatan hukum tetap
CANDI

A. Candi Buddha
Berikut ini adalah beberapa candi peninggalan agama Budha di Indonesia:
Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi peningalan agama Budha dan termasuk salah satu dari
7 keajaiban dunia. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha
Mahayana sekitar tahun 800 Masehi masa pemerintahan wangsa Syailendra dari
kerajaan Mataram. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Mendut
Candi dengan tinggi bangunan 26,4 meter ini terletak di Jalan Mayor Kusen, Desa
Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, dibuat pada masa
pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. J.G. de
Carparis seorang arkeolog Belanda menemukan jejak keberadaan candi ini pada tahun
1908.

Candi Ngawen
Candi Ngawen yang terletak di desa Ngawen, Magelang, Jawa Tengah, dibangun pada
masa kekuasaan wangsa Syailendra atas Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini dibangun
oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 zaman Kerajaan Mataram Kunoa sekitar tahun
824 M.

Candi Lumbung
Candi Lumbung yang dibuat pada abad ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno
ini berada di sebelah candi Bubrah, Klaten, Jawa Tengah.

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo dibangun pada zaman Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 M.
Terletak di Sleman, Jogjakarta.

Candi Muara Takus


Candi Muara Takus yang terbuat dari batu sungai, batu pasir dan batu bata ini terletak
di Desa Muara Takus, Kampar Riau, tepatnya di 134 km dari arah Barat kota
Pekanbaru. Para pakar belum dapat menentukan secara pasti kapan candi didirikan,
tetapi candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya.

Candi Brahu
Candi Brahu didirikan abad ke 15 Masehi. Candi peninggalan agama Budha ini
digunakan sebagai krematorium jenazah raja-raja Kerajaan Brawijaya. Berada di
Mojokerto, Jawa Timur.

Kompleks Percandian Batujaya


Kompleks Percandian Batujaya merupakan kompleks sisa-sisa percandian Buddha
kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Candi Sumberawan
Candi Sumberawan hanya berupa stupa kaki dan badan ini terletak di Desa Toyomarti,
Kecamatan Singosari, Malang dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari.
Candi Sewu
Candi Sewu (Manjusrughra) merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi
Borobudur yang berada di dalam kompleks Candi Prambanan. Candi Sewu
diperkirakan dibangun pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai
Panangkaran (746 – 784) abad ke-8. Di dalam candi sebenarnya hanya terdapat 249
candi, namun karena legenda Roro Jonggrang, candi ini dinamakan candi sewu (seribu)
karena jumlah candi yang sangat banyak. Kompleks Candi Sewu terletak di Desa
Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Candi Kalasan
Candi Kalasan (Candi Kalibening) merupakan sebuah candi yang dikategorikan
sebagai candi umat Buddha di desa Kalasan, Sleman, Yogyakarta, dibangun untuk
Maharaja Tejapurnapana Panangkaran (Rakai Panangkaran) dari keluarga Syailendra
pada tahun 778 M.

Candi Bahal
Candi Bahal yang terbuat dari bata merah ini merupakan kompleks Candi Buddha yang
terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Candi Pawon
Candi Pawon adalah nama sebuah candi Budha yang berada di antara Candi Mendut
dan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Candi yang dibangun saat Kerajaan
Mataram Kuno abad ke 826 M.

Kompleks Candi Muaro Jambi


Kompleks Percandian Muara Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama
Buddha yang terluas di Indonesia dan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan
Kerajaan Melayu. Kompleks percandian yang berasal dari abad ke-11 M ini terletak di
Kecamatan Muara Sebo, Kabupaten Muara Jambi, Jambi.

Candi Plaosan
Candi Plaosan merupakan sebutan untuk kompleks percandian yang terletak di Dukuh
Plaosan, Klaten, Jawa Tengah. Kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja
Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Sari
Candi Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Kalasan dan Candi
Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota Yogyakarta dan tidak begitu
jauh dari Bandara Adisucipto.

Candi Sojiwan
Candi Sojiwan adalah sebuah candi Buddha yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul,
kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi Sojiwan dibangun
antara tahun 842 dan 850 Masehi. Candi ini dinamai seperti nama Ratu Nini Haji
Rakryan Sanjiwana, yang dipercaya dipersembahkan untuknya sebagai candi
pedharmaan.

Candi Sanggrahan
Candi Sanggrahan adalah candi umat Budha yang terletak di Desa Sanggrahan,
Tulungagung, Jawa Timur.
Candi Jago
Candi Jago dibangun pada tahun 12 M dan terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Candi Jago didirikan pada masa Kerajaan Singhasari.

Kompleks Percandian Batujaya


Kompleks Percandian Batujaya adalah sebuah suatu kompleks di dekat permukiman
penduduk serta tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang)
Kecamatan Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Candi Bojongmenje
Candi Bojongmenje merupakan peninggalan masa pra-Islam di Jawa Barat yang
terletak di Dusun Bojongmenje, Kelurahan Cangkuang, Kecamatan Rancaekek,
Bandung, Jawa Barat.

Candi Bubrah
Candi Bubrah adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata
Candi Prambanan di antara Percandian Rara Jonggrang dan Candi Sewu. Candi ini
terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten,
Provinsi Jawa Tengah.

Candi Gampingan
Candi Gampingan adalah sebuah kompleks candi Buddha yang berada di Dusun
Gampingan, Bantul, Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9
zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Situs Ratu Baka


Situs Ratu Baka atau Candi Boko berada 3 km di sebelah selatan kompleks Candi
Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Ratu Boko diperkirakan sudah
dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran)
dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu).

Candi Tikus
Candi Tikus adalah kolam pemandian ritual (petirtaan) yang menjadi temuan arkeologi
paling menarik di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pemberian nama ‘Candi Tikus’
ini karena saat ditemukannya tahun 1914, candi ini menjadi sarang tikus, kemudian
dipugar pada tahun 1985 dan 1989.

Candi Menak Jingga


Di sudut timur laut Kolam Segaran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur terdapat
reruntuhan Candi Menak Jingga berupa bebatuan yang terpencar dan fondasi dasar
bangunan yang masih terkubur di dalam tanah.

Candi Mahligai
Candi Mahligai merupakan bangunan candi utuh yang terbagi atas tiga bagian, yaitu
kaki, badan dan atap. Candi ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.

Candi Tua
Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lainnya
pada situs Candi Muara Takus, Kampar, Riau.
Candi Bungsu
Candi Bungsu berbentuk tidak jauh beda dengan Candi Sulung, namun bagian atasnya
berbentuk segi empat. Candi ini berdiri di Kabupaten Kampar, Riau.

Candi Palangka
Candi ini terletak di sisi timur Candi Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 meter x
5,7 meter dan tinggi sekitar dua meter. Candi ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.

Beberapa candi Budha yang lain adalah:


• Candi Batujaya - Karawang, Jawa Barat;
• Candi Ngawen - Magelang, Jawa Tengah;
• Candi Lumbung - Prambanan, Jogjakarta;
• Candi Sojiwan - Klaten, Jawa Tengah;
• Candi Jabung - Probolinggo, Jawa Timur;
• Candi Sumberawan - Malang, Jawa Timur;
• Candi Bojongmenje - Bandung, Jawa Barat;
• Candi Dawangsari - Sleman, Jogjakarta;
• Candi Gampingan - Bantul, Jogjakarta;
• Candi Muaro Jambi - Muaro Jambi, Jambi
• Biaro Bahal - Tapanuli Selatan, Sumatera Utara;
• Candi Lesung Batu - Musi Rawas, Jambi.

B. Candi Hindu
Berikut ini adalah beberapa candi peninggalan agama Hindu di Indonesia:
Candi Prambanan – Yogyakarta
Candi Prambanan atau disebut juga sebagai Candi Roro Jonggrang karena erat
kaitannya dengan legenda Roro Jongrang yang ingin dipersunting oleh Bandung
Bondowoso. Terletak di Sleman, Yogyakarta.

Candi Arca Gupolo – Yogyakarta


Keunikan candi ini, karena candi ini satu-satunya yang hanya terdiri dari arca. Candi
ini terdapat di kelurahan Sambirejo, kecamatan Prambanan, Yogyakarta.

Candi Cetho - Jawa Tengah


Candi yang dibangun pada abad ke-15 ini berada di bagian barat pegunungan lawu,
Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada masa Sejarah Kerajaan Majapahit
akhir.

Candi Sukuh – Jawa Tengah


Candi yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah. Letaknya tidak jauh dari Candi
Cetho. Para arkeolog meyakini bahwa candi ini adalah candi peninggalan agama Hindu.
Hal ini ditandai dengan adanya tempat pemujaan Lingga dan Yoni. Menurut para ahli
Lingga dan Yoni adalah simbol seksualitas manusia.

Candi Dieng – Jawa Tengah


Dieng yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu Dihyang yang memiliki arti arwah para
leluhur. Candi ini terdapat did daerah dataran tinggi Jawa Tengah. Tepatnya di daerah
Dieng. Menurut penilitian candi ini dibangun pada masa kerjaan Mataram Hindu.
Candi Gedong Songo – Jawa Tengah
Kompleks Candi Gedong Songo memiliki jumlah candi sebanyak 9 buah. Candi yang
diperkirakan dibangun pada periode Wangsa Seilendra atau sekitar abad ke 9 Masehi.
Candi ini dibangun pada masa Mataram Hindu. Tepatnya di desa Candi, Kecamatan
Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah.

Candi Penataran – Jawa Timur


Candi yang khusus memuja dewa Siwa ini dibangun pada masa raja Srengga dari
kerjaan Kediri. Candi ini juga masih digunakan pada masa raja Wirakramawardhana di
era sejarah kerajaan majapahit sekitar 1415 masehi. Candi ini masih digunakan untuk
upacara keagamaan. Candi ini terletak di daerah Penataran, kecamatan Nglegok Blitar.

Candi Kidal – Jawa Timur


Candi ini terdapat di daerah Malang, Jawa Timur. Uniknya candi Kidal adalah candi
ini tidak saja digunakan untuk upacara pemujaan dewa semata. Candi ini dibangun
untuk penghormatan kepada raja kedua kerajaan Singosari, Raja Anuspati.

Candi Pringapus – Jawa Timur


Candi Pringapus dibangun berdasarkan bentuk Gunung Mahameru. Gunung Mahameru
dipercaya oleh masyarakat Hindu Kuno sebagai tempat berdiamnya para dewa. Candi
ini dinamakan candi Pringapus karena terdapat di daerah Pringapus, Kecamatan
Ngadirejo, Temanggung, Jawa tengah. Candi ini hanya digunakan untuk pemujaan
dewa Siwa saja.

Candi Cangkuang – Jawa Barat


Candi ini ditemukan oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Candi ini
dipercaya berdiri pada abah ke 8 masehi pada masa Purnawarman dari Tarumahegara
dan awal kerajaan Pajajaran. Candi ini merupakan candi untuk sekte Siwaistik, atau
pemuja dewa Siwa. Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi Hindu yang
terdapat di tanah Sunda. Candi ini dapat ditemui di daerah kampung Pulo, Leles, Garut.

Candi Gunung Sari – Jawa Tengah


Candi yang terletak di Gunung Wukir, Kecamatan Salam, Magelang. Terletak di
dataran tinggi dan candi ini khusus menyembah Dewa Siwa atau masuk dalam
golongan Siwaistik.

Candi Gunung Wukir – Jawa Tengah


Candi yang terletak di lokasi yang sama dengan candi Gunung Sari ini berusia lebih
muda. Terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Jago – Jawa Timur


Candi yang menurut penelitian dibangun abad ke 13 masehi pada masa kerajaan
Singosari ini. Candi ini terdapat di daerah Tumpang, Malang Jawa timur. Konon candi
ini dibangun oleh Raja Kertanegara untuk menghormati mendiang ayahnya Raja
Wisnuwardhana.

Candi Sambisari – Yogyakarta


Candi ini memiliki luas 50m x 48m ini dibangun di daerah Purwomartani, Sleman,
Yogyakarta.
Candi Asu – Jawa Tengah
Candi ini terletak 11 km arah utara dari candi Ngawen. Terletak di Magelang, Jawa
Tengah. Candi Asu dinamakan karena masyarakat lokal melihat bentuk anjing. Padahal
itu adalah patung Anandi yang merupakan lembu betina tunggangan Dewa Siwa.

Candi Kedulan – Yogyakarta


Candi yang ditemukan oleh penambang pasi pada tahun 1993 ini terletak di daerah
Kedulan, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Candi yang memiliki arsitektur
dengan berciri khas mulut kala bertaring bawah. Candi ini diperkirakan berdiri sekitar
abad ke-9 yaitu pada zaman Kerajaan mataram Kuno.

Candi Kimpulan – Yogyakarta


Satu-satunya candi di daerah Yogyakarta yang berada di dalam area kampus. Tepatnya
di kampus Universitas Islam Indonesia. Candi dengan arsitek Siwaistik ini diperkirakan
dibangun pada kurun waktu antar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pada zaman kerajaan
Mataram kuno. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Candi UII karena terletak di
daerah kampus. Namun pihak yayasan kampus menamainya Pustakasala yang dalam
bahasa sansekerta berarti perpustakaan.

Candi Barong – Yogyakarta


Candi yang dinamakan barong karena banyak arsitektur relief yang mirip barong ini
berada di daerah Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Candi yang meurut para ahli
merupakan peninggalan Kerajaan Medang pada abad ke-9.

Candi Ijo – Yogyakarta


Candi yang kira-kira berlokasi 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko.
Terletak di Sleman, Yogyakarta.

Candi Gebang – Yogyakarta


Candi ini terletak di daerah Wedomartani, di dusun Gebang, Sleman. Pembangunan
candi ini berawal pada masa kepemimpinan Wangsa Sanjaya pada abad ke-8 yang
berkuasa di kerajaan Mataram kuno.

Candi Jawi – Jawa Timur


Candi Jawi atau nama asalnya Candi Jajawa di bangun pada masa kerajaang Singosari
yaitu pada abad ke-13. Candi yang dibangun untuk peribadatan Raja Kertanegara ini
merupakan candi siwaistik. Candi ini terdapat di kaki Gunung Welirang Kecamatan
Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.

Candi Jago – Jawa Timur


Candi yang terletak di kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Biasa juga disebut
Candi Jajaghu. Candi ini didirikan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari untuk
menghormati mendiang ayahnya Raja Wisnuwardhana yang meninggal pada tahun
1268.

Candi Singhasari – Jawa Timur


Candi yang didirikan oleh kerajaan Singosari ini sering disebut juga Candi Singosari.
Terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Malang, Jawa Timur.
Candi Surawana – Jawa Timur
Candi yang aslinya bernama Candi Wishnubhawanapura ini dibangun untuk
menghormati Bhre Wengker pada abad ke-14. Bhre Wengker adalah raja kerajaan
Wengker yang berada dalam wilayah Sejarah Kerajaan Majapahit. Hayam Wuruk
semasa pemerintahannya pernah menginap di candi ini. Candi ini bisa dikunjungi di
Desa Canggu, Pare, Kediri.

Candi Gentong – Jawa Timur


Tidak banyak yang dapat dilihat dari candi ini. Candi yang berada dalam satu komplek
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Candi Bajang Ratu – Jawa Timur


Candi ini berberntuk seperti gapura. Dibangun pada masa kerjaan Majapahit yaitu abad
ke-14. Pembangunan candi ini yang dikenal sebagai Gapura Bajang Ratu, untuk
memperingati wafatnya Raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara pada tahun 1328.
Terletak di Trowulan, Mojokerto.

Candi Tikus – Jawa Timur


Terletak di kompleks Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi yang ditemukan
kembali pada tahun 1914. Penamaan candi ini dikarenakan awal penemuannya sebagai
sarang Tikus.

Candi Mojongmende – Jawa Barat


Candi ini terdapat di Dusun Bojongmende, Rancaekek, Bandung, Jawa Barat.

Candi Losari – Jawa Tengah


Candi unik ini di temukan di Dusun Losari Desa Salam, Magelang, Jawa Tengah.

Candi Liyangan – Jawa Tengah


Candi ini ditemukan pada tahun 2008 di lereng Gunung Sundoro di Dusun Liyangan,
Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.

Candi Morangan – Yogyakarta


Candi ini diperkirakan memiliki zaman yang sama dengan Candi Prambanan. Candi
yang dibangun pada zaman Mataram Kuno. Candi ini terletak di Dusun Morangan,
Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Candi Abang – Yogyakarta


Candi ini terletak di Kelurahan Jogotirto, Sleman. Candi ini berbentuk piramida.

Candi Jabung – Jawa Timur


Candi ini terdapat di Desa Jabung, Probolinggo, Jawa Timur. Candi yang dibangun pasa
masa sejarah kerajaan majapahit.

Candi Lor – Jawa Timur


Candi ini dianggap sebagai candi cikal bakal berdirinya Kabupaten Nganjuk, Jawa
Timur. Dalam areal candi ini terdapat dua makam abdi dalem Mpu Sendok. Abdi dalem
tersebut adalah Eyang Kerto dan Eyang Kerti.
PERJANJIAN-PERJANJIAN
Berikut ini merupakan daftar perjanjian yang pernah ada di Indonesia sejak pra kemerdekaan
sampai pasca kemerdekaan. Adapun perjanjian-perjanjian tersebut antara lain yaitu:

Perjanjian Bongaya pada tahun 1666


Berisikan tentang “Raja Hasanuddin dari Makassar menyerah kepada VOC”.

Perjanjian Jepara pada tahun 1676


Berisikan tentang “Raja Mataram Sultan Amangkurat II harus menyerahkan pesisir Utara
tanah Jawa apabila VOC berhasil menindas pemberontakan Trunojoyo”.

Perjanjian Giyanti pada tahun 1755


Perjanjian Giyanti adalah kesepakatan antara VOC, pihak Kesultanan Mataram yang diwakili
oleh Sunan Pakubuwana III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Kelompok Pangeran
Sambernyawa tidak ikut dalam perjanjian ini. Demi keuntungan pribadi, Pangeran
Mangkubumi memutar haluan dengan menyeberang dari kelompok pemberontak ke kelompok
pemegang legitimasi kekuasaan untuk memerangi pemberontak, yaitu Pangeran Sambernyawa.

Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 tersebut secara de facto dan de
jure menandai berakhirnya Kesultanan Mataram yang sepenuhnya independen. Berisikan
tentang “Pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu wilayah Yogyakarta dan wilayah
Surakarta”. Untuk lebih jelasnya, wilayah di sebelah timur Sungai Opak (yang melintasi daerah
Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris takhta Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III, dan
tetap berkedudukan di Surakarta. Adapun wilayah di sebelah barat (daerah Mataram yang asli)
diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang sekaligus diangkat menjadi Sultan
Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Perjanjian Salatiga pada tahun 1757


Perjanjian Salatiga adalah perjanjian bersejarah yang ditandatangani pada tanggal 17 Maret
1757 di Salatiga. Perjanjian ini adalah penyelesaian dari serentetan pecahnya konflik perebutan
kekuasaan yang mengakhiri Kesultanan Mataram. Dengan berat hati Hamengku Buwono I dan
Paku Buwono III melepaskan beberapa wilayahnya untuk Raden Mas Said (Pangeran
Sambernyawa).

Berisikan tentang “Pembagian wilayah Surakarta menjadi dua, yaitu wilayah Mangkunegaran
dan wilayah Kasunanan”. Ngawen di wilayah Yogyakarta dan sebagian Surakarta menjadi
kekuasaan Pangeran Sambernyawa yang bergelar Pangeran Mangkunegara yang bertahta di
Mangkunegaran.

Perjanjian Kalijati pada tahun 8 Maret 1942


Berisikan tentang ”Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang”.

Perjanjian Linggarjati pada tahun 25 Maret 1947


Berisikan tentang

1) Belanda mengakui kedaulatan negara Republik Indonesia atas Sumatera, Jawa dan Madura
2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama membentuk negara Republik Indonesia
Serikat atau RIS
3) Pembentukan RIS dilakukan sebelum 1 Januari 1949
Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur
Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan
perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I.
Perjanjian Renville pada tahun 17 Januari 1948
Perjanjian diadakan di wilayah netral yaitu di atas kapal USS Renville milik Amerika Serikat
dan dimulai tanggal 8 Desember 1947. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri
Amir Syarifuddin Harahap, dan Johannes Leimena sebagai wakil. Delegasi Kerajaan Belanda
dipimpin oleh Kolonel KNIL Abdulkadir Widjojoatmodjo. Sedangkan, delegasi KTN dipimpin
oleh Frank Graham (USA), Paul Van Zeeland (Belgia), dan Richard Kirby (Australia) yang
berisi:

1) Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah
Republik Indonesia
2) Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah
pendudukan Belanda yaitu Garis Van Mook
3) TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa
Barat dan Jawa Timur.

Pelaksanaan hasil perundingan ini juga tidak berjalan mulus. Terjadilah, Agresi Militer
Belanda II atau Operasi Gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad
Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.
Perjanjian Roem-Royen pada tahun 7 Mei 1949
Berisikan tentang

1) Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya


2) Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar
3) Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta
4) Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan
semua tawanan perang

Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan:

1) Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai
perjanjian Renville pada 1948
2) Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan
persamaan hak
3) Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada
Indonesia

Perjanjian Konferensi Meja Bundar pada tahun 23 Agustus 1949


Berisikan tentang Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

1) Pengakuan kedaulatan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.


2) Masalah Irian Barat akan diadakan perundingan lagi dalam waktu 1 tahun setelah
pengakuan kedaulatan RIS.
3) Antara RIS dan Kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia Belanda yang
dikepalai Ratu Belanda.
4) Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik dari Indonesia dengan catatan beberapa korvet
(kapal perang kecil) akan diserahkan kepada RIS.
5) Tentara Kerajaan Belanda selekas mungkin ditarik mundur, sedang Tentara Kerajaan
Hindia Belanda (KNIL) akan dibubarkan dengan catatan bahwa para anggotanya yang
diperlukan akan dimasukkan dalam kesatuan TNI.

Perjanjian New York pada tahun 15 Agustus 1962


Berisikan tentang “a) Belanda menyerahkan Irian Barat (Papua) kepada Indonesia melalui
suatu badan pemerintahan PBB. b) akan diadakan penentuan pendapat rakyat Irian Barat”.

Perjanjian Bangkok pada tahun 11 Agustus 1966


Berisikan ”Republik Indonesia menghentikan konfrontasi dengan Malaysia”.

NEGARA

A. Sifat-sifat Negara
1. Memaksa
Kekuasaan untuk menggunakan kekerasan secara sah atau legal (memenjarakan atau
menghukum mati)
2. Monopoli
Kekuasaan untuk menguasai negara, dengan keseluruhan kekuasaan dipegang oleh satu
pihak pemerintah atau rakyatna.
3. Menyeluruh
Semua peraturan perundang-undangan harus ditaati oleh seluruh orang tanpa ada
pengecualian.

B. Unsur-Unsur Negara

Unsur-unsur terbagi menjadi 2 bagian yaitu,

1. Unsur Konstitutif
a. Penduduk adalah seorang yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu dalam
jangka waktu tertentu yang ditetappkan oleh undang-undang.
b. Wilayah adalah bagian dimana seluruh penduduk negara bertempat tinggal
secara tetap.
c. Pemerintahan yang berdaulat adalah pemerintahan yang berdaulat yaitu
lembaga yang membuat dan melaksanakan aturan yang berlaku bagi seluruh
masyarakat.
2. Unsur Deklaratif (Pengakuan dari Negara Lain)
Suatu negara akan dapat pengakuan dari negara lain, bila negara tersebut mampu
bekerja sama dan berhubungan dengan baik dengan negara lain.
Ada 2 macam pengakuan negara, yakni:
a. Pengakuan De Facto, pengakuan berdasarkan adanya unsur konstituif
(penduduk, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat).
b. Pengakuan De Jure, pengakuan berdasarkan Hukum Internasional.
HARI PENTING
Bulan Januari

• 01 Januari: Hari Tahun Baru Masehi (Internasional)


• 03 Januari: Hari Departemen Agama
• 05 Januari: Hari Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL)
• 10 Januari: Hari Tritura
• 15 Januari: Hari Darma Samudra
• 25 Januari: Hari Gizi Dan Makanan

Bulan Februari

• 05 Februari: Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi (Zeven Provinciën)


• 09 Februari: Hari Pers Nasional (HPN)
• 09 Februari: Hari Kavaleri
• 14 Februari: Hari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA)
• 22 Februari: Hari Istiqlal
• 28 Februari: Hari Gizi Nasional Indonesia

Bulan Maret

• 01 Maret: Hari Kehakiman Nasional


• 01 Maret: Hari Peringatan Serangan Umum di Yogyakarta
• 06 Maret: Hari Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
• 09 Maret: Hari Musik Nasional
• 10 Maret: Hari Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi)
• 11 Maret: Hari Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)
• 17 Maret: Hari Perawat Nasional
• 18 Maret: Hari Arsitektur Indonesia
• 24 Maret: Hari Peringatan Bandung Lautan Api
• 29 Maret: Hari Filateli Indonesia
• 30 Maret: Hari Film Nasional

Bulan April

• 01 April: Hari Marketing Indonesia (Hamari), Hari Penyiaran Nasional


• 06 April: Hari Nelayan Indonesia
• 09 April Hari Penerbangan Nasional
• 09 April: Hari TNI Angkatan Udara (TNI AU)
• 16 April: Hari KOPASSUS (Komando Pasukan Khusus)
• 18 April: Hari Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA)
• 19 April: Hari Pertahanan Sipil (HANSIP)
• 20 April: Hari Konsumen Nasional
• 21 April: Hari Kartini
• 24 April: Hari Angkutan Nasional
• 24 April: Hari Solidaritas Asia-Afrika
• 27 April: Hari Pemasyarakatan Indonesia
• 28 April: Hari Puisi Nasional

Bulan Mei
• 01 Mei: Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat
• 01 Mei: Hari Buruh Sedunia
• 02 Mei: Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)
• 05 Mei: Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
• 11 Mei: Hari POM – TNI
• 15 Mei: Hari Korps Resimen Mahadjaya/ Jayakarta (Menwa Jayakarta),
• 16 Mei: Hari Wanadri
• 17 Mei: Hari Buku Nasional
• 19 Mei: Hari Korps Cacat Veteran Indonesia
• 20 Mei: Hari Kebangkitan Nasional
• 20 Mei: Hari Bakti Dokter Indonesia
• 21 Mei: Hari Peringatan Reformasi
• 23 Mei: Hari Penyu Sedunia
• 29 Mei: Hari Keluarga
• 30 Mei: Hari Memberi

Bulan Juni

• 1 Juni: Hari Lahir Pancasila


• 1 Juni: Hari Susu Nusantara
• 3 Juni: Hari Pasar Modal Indonesia
• 10 Juni: Hari Media Sosial
• 15 Juni: Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN
• 17 Juni: Hari Dermaga
• 21 Juni: Hari Krida Pertanian
• 22 Juni: Hari Ulang Tahun Kota Jakarta (sejak tahun 1527)
• 29 Juni: Hari Keluarga Berencana

Bulan Juli

• 01 Juli: Hari Bhayangkara


• 01 Juli: Hari Buah
• 02 Juli: Hari Kelautan Nasional
• 05 Juli: Hari Bank Indonesia
• 09 Juli: Hari Satelit Palapa
• 12 Juli: Hari Koperasi
• 17 Juli: Hari Keadilan (Internasional)
• 22 Juli: Hari Kejaksaan
• 23 Juli: Hari Anak Nasional
• 23 Juli: Hari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
• 29 Juli: Hari Bhakti TNI Angkatan Udara
• 31 Juli: Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati

Bulan Agustus

• 05 Agustus: Hari Dharma Wanita Nasional


• 08 Agustus: Hari Ulang Tahun ASEAN
• 10 Agustus: Hari Veteran Nasional
• 10 Agustus: Hari Kebangkitan Teknologi Nasional
• 13 Agustus: Hari Peringatan Pangkalan Brandan Lautan Api
• 14 Agustus: Hari Pramuka (Praja Muda Karana)
• 17 Agustus: Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
• 18 Agustus: Hari Konstitusi Republik Indonesia
• 19 Agustus: Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
• 21 Agustus: Hari Maritim Nasional

Bulan September

• 01 September: Hari Jantung Dunia (Internasional)


• 01 September: Hari Polisi Wanita (POLWAN)
• 03 September: Hari Palang Merah Indonesia (PMI)
• 04 September: Hari Pelanggan Nasional
• 08 September: Hari Aksara (Internasional)
• 08 September: Hari Pamong Praja
• 09 September: Hari Olah Raga Nasional
• 11 September: Hari Radio Republik Indonesia (RRI)
• 14 September: Hari Kunjung Perpustakaan
• 15 September: Hari Demokrasi (Internasional)
• 16 September: Hari Ozon (Internasional)
• 17 September: Hari Perhubungan Nasional
• 17 September: Hari Palang Merah Nasional
• 21 September: Hari Perdamaian Dunia (Internasional)
• 24 September: Hari Tani Nasional
• 26 September: Hari Statistik
• 27 September: Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)
• 28 September: Hari Kereta Api
• 28 September: Hari Komunitas Nasional
• 28 September: Hari Rabies Sedunia
• 28 September: Hari Tunarungu Internasional
• 29 September: Hari Sarjana Nasional
• 30 September: Hari Peringatan Pemberontakan G30S/PKI

Bulan Oktober

• 01 Oktober: Hari Kesaktian Pancasila


• 02 Oktober: Hari Batik Nasional dan Hari Batik Dunia
• 04 Oktober: Hari Hewan Sedunia
• 05 Oktober: Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
• 16 Oktober: Hari Parlemen Indonesia
• 22 Oktober: Hari Santri Nasional
• 24 Oktober: Hari Dokter Indonesia
• 24 Oktober: Hari Perserikatan Bangsa-bangsa (Internasional)
• 27 Oktober: Hari Penerbangan Nasional
• 27 Oktober: Hari Listrik Nasional
• 28 Oktober: Hari Sumpah Pemuda
• 30 Oktober: Hari Keuangan

Bulan November

• 01 November: Hari Inovasi Indonesia


• 05 November: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
• 10 November: Hari Ganefo
• 10 November: Hari Pahlawan
• 11 November: Hari Bangunan Indonesia
• 12 November: Hari Kesehatan Nasional
• 12 November: Hari Ayah Nasional
• 14 November: Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
• 22 November: Hari Perhubungan Darat Nasional
• 25 November: Hari Guru (PGRI)
• 28 November: Hari Menanam Pohon Indonesia
• 29 November: Hari KORPRI (Korps Pegawai RI)

Bulan Desember

• 03 Desember: Hari Penyandang Cacat (Internasional)


• 07 Desember: Hari Penerbangan Sipil (Internasional)
• 09 Desember: Hari Armada Republik Indonesia
• 09 Desember: Hari Anti Korupsi Sedunia
• 10 Desember: Hari Hak Asasi Manusia
• 12 Desember: Hari Transmigrasi
• 12 Desember: Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)
• 13 Desember: Hari Nusantara
• 15 Desember: Hari Juang Kartika TNI-AD (Hari Infanteri)
• 19 Desember: Hari Bela Negara
• 20 Desember: Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional
• 22 Desember: Hari Ibu Nasional
• 22 Desember: Hari Sosial
• 25 Desember: Hari Natal
ANCAMAN MILITER

A. Ancaman
Ancaman yaitu usaha yang bersifat mengubah kebijaksanaan yang dilakukan secara
konsepsional (terencana dan terarah) baik melalui tindak kriminal maupun politis.
Ancaman dibedakan menjadi 2 yaitu ancaman militer dan ancaman non-militer.
1. Ancaman militer merupakan ancaman dengan menggunakan kekuatan bersenjata
yang dinilai mampu membahayakan negara (baik itu keutuhan negara, kedaulatan
negara dan keselamatan segenap bangsa).

Berikut ini beberapa contoh ancaman terhadap negara yang termasuk ancaman militer:
a. Agresi adalah ancaman militer yang menggunakan kekuatan bersenjata oleh
negara lain terhadap suatu negara yang dapat membahayakan kedaulatan dan
keutuhan wilayah negara tersebut, dan juga membahayakan keselamatan segenap
bangsa tersebut. Macam-macam agresi:
• Invasi, cara.bentuk dalam melakukan agresi terhadap suatu negara yang
pertama adalah invasi yaitu suatu serangan yang dilakukan oleh kekuatan
bersenjata negara lain terhadap wilayah NKRI
• Bombardemen, cara/bentuk dalam melakukan agresi terhadap suatu
negara yang kedua adalah bombardemen yang mempunyai pengertian suatu
penggunaan senjata lainnya yang dilakukan oleh angkatan bersenjata
negara lain terhadap NKRI
• Blokade, cara/bentuk dalam melakukan agresi yang terhakshir adalah
blokade, yang dilakukan di daerah pelabuhan atau pantai atau wilayah
udara NKRI yang dilakukan oleh angkatan bersenjata negara lain, dan lain-
lain.

b. Pelanggaran wilayah yang mana pelanggaran ini tentunya dilakukan oleh negara
lain yang menggunakan kapal maupun pesawat non komersial.

c. Spionase adalah ancaman militer yang dilakukan terhadap suatu negara yang
kegiatannya berupa mata-mata dan dilakukan oleh negara lain yang bertujuan
untuk mencari dan mendapatkan dokumen rahasia militer suatu negara.

d. Sabotase adalah ancaman militer yang dilakukan oleh suatu negara yang
kegiatannya mempunyai tujuan untuk merusak instalasi militer dan obyek vital
nasional. Tentunya sabotase ini dapat membahayakan keselamatan suatu
bangsa.

e. Aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh suatu jaringan terorisme yang luas
(internasional) atau ancaman yang dilakukan oleh teroris internasional yang
bekerjasama dengan terorisme lokal (dalam negeri).

f. Pemberontakan bersenjata.

g. Perang saudara.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan komponen utama yang dipersiapkan


untuk menghadapi ancaman militer, yang dilaksanakan melalui tugas Operasi Militer
Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
2. Ancaman non-militer (nirmiliter) adalah ancaman yang tidak menggunakan
kekuatan bersenjata namun jika tetap dibiarkan akan merugikan negara, bahkan dapat
membahayakan negara.

B. Tantangan
Tantangan adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk menggugah kemampuan suatu
bangsa atau negara.
Ex: Masyarakat Ekonomi ASEAN, perdagangan bebas, dan globalisasi

C. Hambatan
Hambatan adalah usaha yang berasal dari dalam dengan tujuan untuk
melemahkan/menghalangi secara tidak konsepsional (tidak terarah).

D. Gangguan
Gangguan yaitu usaha yang berasal dari luar dengan tujuan melemahkan/menghalangi
secara tidak konsepsional.
PERANG KEMERDEKAAN

1) Pertempuran Surabaya 10 November 1945


Peristiwa di Surabaya merupakan rangkaian kejadian yang diawali sejak kedatangan
pasukan Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby. Pada
tanggal 30 Oktober 1945 terjadi pertempuran yang hebat di Gedung Bank Internatio di
Jembatan Merah. Pertempuran itu menewaskan Brigjen Mallaby. Akibat meninggalnya
Brigjen Mallaby, Inggris memberi ultimatum, isinya agar rakyat Surabaya menyerah kepada
Sekutu. Secara resmi rakyat Surabaya, yang diwakili Gubernur Suryo menolak ultimatum
Inggris. Akibatnya pada tanggal 10 November 1945 pagi hari, pasukan Inggris mengerahkan
pasukan infantri dengan senjata senjata berat dan menyerbu Surabaya dari darat, laut, maupun
udara. Bung Tomo memimpin rakyat dengan berpidato membangkitkan semangat lewat radio.

2) Pertempuran Medan Area 1 Desember 1945


Pada tanggal 9 Oktober 1945 tentara Inggris yang diboncengi oleh NICA mendarat di
Medan. Mereka dipimpin oleh Brigjen T.E.D Kelly. Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak
Sekutu memasang papanpapan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai
sudut kota Medan. Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA
mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan. Pada tanggal
10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan
yang berjuang di Medan Area.

3) Pertempuran Ambarawa
Pertempuran Ambarawa terjadi tanggal 20 November sampai tanggal 15 Desember
1945, antara pasukan TKR dan Pemuda Indonesia melawan pasukan Sekutu (Inggris).
Pertempuran Ambarawa dimulai dari insiden yang terjadi di Magelang pada tanggal 26
Oktober 1945. Pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah pertempuran antara
pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto melawan tentara Sekutu. Pertempuran
Ambarawa mengakibatkan gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Resimen Banyumas. Posisi
Letkol Isdiman kemudian digantikan oleh Letkol Soedirman. Kota Ambarawa berhasil
dikepung selama 4 hari 4 malam oleh pasukan RI. Mengingat posisi yang telah terjepit, maka
pasukan Sekutu meninggalkan kota Ambarawa tanggal 15 Desember 1945 menuju Semarang.

4) Bandung Lautan Api


Terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api diawali dari datangnya Sekutu pada bulan
Oktober 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh ultimatum Sekutu untuk mengosongkan kota
Bandung. Pada tanggal 23-24 Maret 1946 para pejuang meninggalkan Bandung. Namun,
sebelumnya mereka menyerang Sekutu dan membumihanguskan kota Bandung. Tujuannya
agar Sekutu tidak dapat menduduki dan memanfaatkan sarana-sarana yang vital. Peristiwa ini
dikenal dengan Bandung Lautan Api. Sementara itu para pejuang dan rakyat Bandung
mengungsi ke luar kota.

5) Puputan Margarana 20 November 1946


Perang Puputan Margarana di Bali diawali dari keinginan Belanda mendirikan Negara
Indonesia Timur (NIT). Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur beserta seluruh anggota pasukan
dalam pertempuran tersebut. Jenazahnya dimakamkan di desa Marga. Pertempuran tersebut
terkenal dengan nama Puputan Margarana. Gugurnya Letkol I Gusti Ngurah Rai telah
melicinkan jalan bagi usaha Belanda untuk membentuk Negara Indonesia Timur.

6) Serangan Umum 1 Maret 1949


Dalam agresi militer II, Belanda berhasil menangkap para pemimpin politik dan
menduduki ibukota RI di Yogyakarta. Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa
pemerintahan RI telah dihancurkan dan TNI tidak memiliki kekuatan lagi. Menghadapi
tindakan Belanda tersebut, TNI menyusun kekuatan untuk melawan Belanda. Puncak serangan
TNI adalah serangan umum terhadap kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949, yang
dipimpin oleh Letkol Soeharto.
ORGANISASI INTERNASIONAL PADA KONFLIK INDONESIA-BELANDA

1. Peranan Komisi Tiga Negara (KTN)


Anggota KTN ada tiga negara yaitu:
a. Belgia (dipilih oleh Belanda) dipimpin oleh Paul van Zeeland;
b. Australia (dipilih oleh Indonesia) dipimpin oleh Richard Kirby; dan
c. Amerika Serikat (dipilih oleh Indonesia dan Belanda) dipimpin Dr. Frank
Graham.
Tugas utama KTN adalah mengawasi secara langsung penghentian tembak-menembak
sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dengan demikian masalah Indonesia
menjadi masalah internasional. Secara diplomatis jelas sangat menguntungkan
Indonesia. KTN berhasil mempertemukan Indonesia dengan Belanda dalam Perjanjian
Renville. Selain itu juga mengembalikan para pemimpin Republik Indonesia yang ditawan
Belanda di Bangka.

2. Peranan United Nations Commision for Indonesia (UNCI)


UNCI dipimpin oleh Merle Cochran (Amerika Serikat) dibantu Critchley (Australia) dan
Harremans (Belgia). Hasil kerja UNCI di antaranya mengadakan Perjanjian Roem-Royen
antara Indonesia Belanda. Perjanjian Roem-Royen diadakan tanggal 14 April 1949 di
Hotel Des Indes, Jakarta. Sebagai wakil dari PBB adalah Merle Cochran (Amerika
Serikat), delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Roem, sedangkan delegasi
Belanda dipimpin oleh van Royen.
Tugas dan wewenang UNCI adalah
• Membantu kelancaran perundingan antara Indonesia dan Belanda
• Mengurus pengembalian kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia.
• Berhak mengajukan berbagai saran atau usul yang membantu tercapainya perdamaian
antara Indonesia dan Belanda.
Dalam tugasnya, UNCI berperan besar dengan melakukan tekanan terhadap Belanda agar
dapat menghentikan agresi militernya dan mengembalikan para pemimpin RI ke
Yogjakarta.
HUKUM
1. Menurut sumbernya :
• Hukum undang-undang, yaitu hukum yang tercantum dalam peraturan perundangan.
• Hukum adat, yaitu hukum yang terletak dalam peraturan-peraturan kebiasaan.
• Hukum traktat, yaitu hukum yang ditetapkan oleh Negara-negara suatu dalam
perjanjian Negara.
• Hukum jurisprudensi, yaitu hukum yang terbentuk karena putusan hakim.
• Hukum doktrin, yaitu hukum yang terbentuk dari pendapat seseorang atau beberapa
orang sarjana hukum yang terkenal dalam ilmu pengetahuan hukum.
2. Menurut bentuknya :
• Hukum tertulis, yaitu hukum yang dicantumkan pada berbagai perundangan.
• Hukum tidak tertulis (hukum kebiasaan), yaitu hukum yang masih hidup dalam
keyakinan masyarakat, tapi tidak tertulis, namun berlakunya ditaati seperti suatu
peraturan perundangan.
3. Menurut tempat berlakunya :
• Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku dalam suatu Negara.
• Hukum internasional, yaitu yang mengatur hubungan hubungan hukum dalam dunia
internasional.
4. Menurut waktu berlakunya :
• Ius constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi suatu
masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu.
• Ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada masa yang akan datang.
• Hukum asasi (hukum alam), yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam segala
waktu dan untuk segala bangsa di dunia.
5. Menurut cara mempertahankannya :
• Hukum material, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur kepentingan dan
hubungan yang berwujud perintah-perintah dan larangan.
• Hukum formal, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur tentang bagaimana
cara melaksanakan hukum material.
6. Menurut sifatnya :
• Hukum yang memaksa, yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun mempunyai
paksaan mutlak.
• Hukum yang mengatur, yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila pihak-pihak
yang bersangkutan telah membuat peraturan sendiri.
7. Menurut wujudnya :
• Hukum obyektif, yaitu hukum dalam suatu Negara berlaku umum.
• Hukum subyektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum obyektif dan berlaku pada
orang tertentu atau lebih. Disebut juga hak.
8. Menurut isinya :
• Hukum privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan
yang lain dengan menitik beratkan pada kepentingan perseorangan.
• Hukum publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara Negara dengan alat
kelengkapannya ata hubungan antara Negara dengan warganegara.
MOTTO/SLOGAN ORGANISASI

1. Jalesveva Jayamahe
• Merupakan motto TNI Angkatan Laut Indonesia
• Artinya "Di Lautan Kita Jaya"
• berasal dari Bahasa Sanskerta

2. Swa Bhuwana Paksa


• Merupakan motto dan lambang TNI Angkatan Udara.
• Artinya sayap tanah air Indonesia.
• Berasal dari Bahasa Sansekerta

3. Kartika Eka Paksi


• Merupakan motto TNI Angkatan Darat Republik Indonesia
• Artinya burung perkasa tanpa tanding
• Berasal dari Bahasa Sansekerta

4. Satyaku Kudarmakan Darmaku Kubaktikan


• Merupakan motto Gerakan Pramuka
• Diartikan setiap janji yang telah diucapkan menjadi ketetapan yang harus
ditepati dan dilaksanakan

5. Rastra Sewakotama
• Merupakan motto Kepolisian Nasional Indonesia
• artinya Abdi Utama bagi Nusa Bangsa

6. Satya Adhi Wicaksana


• Merupakan motto Kejaksaan Republik Indonesia

7. Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia


• Pada 1 januari 2011 yang lalu Dinas Pariwisata dan kebudayaan Indonesia
melalu Mentrinya saat itu Bapak Jero Wacik
• Menggambarkan kesatuan berbagai elemen pariwisata di Indonesia dan elemen
yang tercangkup didalamnya diantaranya People, Culture, National Beauty,
Natural Resources, dan Opportuniy Investment.
• kata Wonderful menunjuk arti luar biasa yang berarti Indonesia itu luar biasa
ISTILAH-ISTILAH EKONOMI
1. Kurs : adalah harga sebuah mata uang dari sutu negara yang diukur atau dinyatakan
dalam mata uang lainnya.
2. Redenominasi : adalah penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa
mengubah nilai tukarnya.
3. Sanering (devaluasi) : adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan
nilai uang.
4. Retribusi (menurut UU no. 28 tahun 2009) : adalah pungutan daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan.
5. Pajak : adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
6. Devaluasi : penurunan nilai resmi mata uang suatu Negara disbanding mata uang
lainnya atau disbanding emas
7. Depresi : periode berkepanjangan dimana tingkat pengangguran sangat tinggi, tingkat
output dan investasi yg rendah , penurunan harga dan kegagalan usaha secara luas.
8. Oligopoly (oligopoli) : struktur pasar yang industrinya di dominasi oleh sejumlah kecil
perusahaan yang saling bersaing.
9. Monetary Policy (kebijakan moneter) : tindakan untuk mempengaruhi perekonomian
dengan mempergunakan beberapa variabel moneter, seperti kuantitas uang dan suku
bunga.
10. Monopoly (monopoli) : situasi pasar yang output pasar industrinya dikontrol oleh
penjual tunggal.
11. Monopsony (monopsoni) : situasi pasar yang didalamnya hanya terdapat pembeli
tunggal.
12. Open Market Operations (operasi pasar terbuka) : pembelian dan penjualan surat-
surat berharga oleh bank sentral di pasar terbuka (seringkali dalam bentuk surat-surat
berharga pemerintah jangka pendek).
13. Stock market (bursa saham) : suatu pasar yang terorganisasi tempat saham serta
obligasi dibeli dan dijual, disebut juga sebagai pasar surat berharga.
14. Obligasi : adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan
suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji
untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal
jatuh tempo pembayaran.
15. Saham : adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu
perusahaan. Membeli saham berarti anda telah memiliki hak kepemilikan atas
perusahaan tersebut. Maka dari itu, Anda berhak atas keuntungan perusahaan dalam
bentuk dividen, pada akhir tahun periode pembukuan perusahaan
16. Liquidity (likuiditas) : tingkat kemudahan dan kepastian sutu harta untuk dicairkan
menjadi alat tukar dalam sistem ekonomi.
17. Legal Tender (alat pembayaran sah) : benda yang menurut hukum harus diterima
sebagai alat untuk pembelian barang dan jasa atau untuk membayar hutang.
18. Kuota impor (import quotas) : batas yang ditetapkan oleh pemerintah mengenai
kuantitas komoditi asing yang masuk ke negeri itu selama periode tertentu
19. Pasar Oligopoli : adalah suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana
salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (price leader).
20. Diskriminasi Harga : adalah menjual produk yang sama dengan harga yang berbeda
pada pasar yang berbeda dengan tujuan menambah laba melalui eksploitsi surplus
konsumen.
21. Pasar Monopoli : terjadi jika hanya ada 1 penjual di pasar tanpa ada pesaing langsung,
tidak langsung, baik nyata maupun potensial.
22. Pajak penghasilan (PPh) : adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas
penghasilan yang diterima dalam tahun pajak.
23. Pajak bumi dan bangunan (PBB) : adalah pajak yang dipungut atas tanah dan
bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih
baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh
manfaat dari padanya.
24. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) : adalah pajak yang dikenakan atas setiap
pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke
konsumen.
25. Pajak tidak langsung adalah pajak yang dimaksudkan untuk dilimpahkan oleh yang
membayar kepada pemikul (konsumen), Jadi pajak ini dapat dilimpahkan atau
dibebankan kepada pihak lain
26. Pajak langsung adalah pajak yang dipikul sendiri oleh wajib pajak, dan tidak dapat
dibebankan atau dilimpahkan kepada pihak lain.
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA
Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Berkuasa dari tahun 1945 sampai
tahun 1966. Pada saat orde lama, pemerintahan Indonesia dibagi menjadi tiga, sehingga
kebijakan ekonomi yang diambil pun berbeda-beda. Diantaranya:

A. Pasca Kemerdekaan
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan ekonomi, antara lain:

1. Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh Menteri Keuangan IR. Surachman pada
bulan Juli 1946. Salah satunya ke provinsi terkaya saat itu yaitu Aceh.
2. Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India (India merupakan negara
yang mengalami nasib yang sama dengan Indonesia yaitu sama-sama pernah dijajah,
Indonesia menawarkan bantuan berupa padi sebanyak 500.000 ton dan India
menyerahkan sejumlah obat-obatan kepada Indonesia), mengadakan kontak dengan
perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan
tujuan ke Singapura dan Malaysia.
3. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan
yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu
masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan
administrasi perkebunan-perkebunan.
4. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
5. Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga
bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
6. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa
petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan
perekonomian akan membaik. (mengikuti Mazhab Fisiokrat: sektor pertanian
merupakan sumber kekayaan).

B. Masa Liberal
Permasalah ekonomi yang dihadai oleh bangsa Indonesia masih sama seperti sebelumnya.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain:
1. Program Benteng yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong
importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi
impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi
serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat
berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal, karena
sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan
pengusaha non-pribumi. Pada kabinet ini untuk pertama kalinya terumuskan suatu
perencanaan pembangunan yang disebut Rencana Urgensi Perekonomian (RUP).
(Kabinet Natsir)

2. Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951


lewat UU Nomor 24 Tahun 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
(Kabinet Sukiman)

3. Sistem Ekonomi Ali, yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan


kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi
diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah
menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak
berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga
hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Kabinet ini
sangat melindungi importer pribumi, sangat berkeinginan mengubah perekonomian
dari struktur kolonial menjadi nasional. (Kabinet Ali Sastroamijoyo I)

4. Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk


pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang
menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa
mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. (Kabinet Burhanuddin)

5. Gunting Syarifuddin
Kebijakan Gunting Syarifuddin adalah pemotongan nilai uang. Tindakan keuangan ini
dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 dengan cara memotong semua uang memotong
semua uang yang bernilai Rp. 2,50 keatas hingga nilainya tinggal setengahnya.
Kebijakan keuangan ini dilakukan pada masa pemerintahan RIS oleh menteri keuangan
pada waktu itu Syarifuddin Prawiranegara.

6. Rencana Pembangunan Lima tahun (RPLT)


Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II, pemerintah membentuk Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Ir. Djuanda diangkat
sebagai menteri perancang nasional. Pada bulan Mei 1956, biro ini berhasil menyusun
Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan dilaksanakan antara
tahun 1956-1961. Rencana Undang-Undang tentang rencana Pembangunan ini disetujui
oleh DPR pada tanggal 11 November 1958. Pembiayaan RPLT ini diperkirakan
mencapai Rp. 12,5 miliar.

C. Masa Demokrasi Terpimpin


Sebagai akibat dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme
(segala-galanya diatur oleh pemerintah). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang
diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia,
antara lain:
1. Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai
berikut: Uang kertas pecahan Rp500 menjadi Rp50, uang kertas pecahan Rp1000
menjadi Rp100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.

2. Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis


Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan
stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga
naik 400%.

3. Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000
menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah
lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi.
Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka
inflasi.
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN EKONOMI PADA ORDE BARU
Secara garis besar, upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa
orde baru, pemerintah menempuh cara sebagai berikut:

A. Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi.


Stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak
melonjak terus. Dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan
prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi
berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

B. Kerja Sama Luar Negeri

C. Pembangunan Nasional
Tujuan Pembangunan nasional adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur yang
merata, baik secara materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Pelaksanaannya pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu:
1. Jangka panjang mencakup periode 25 sampai 30 tahun
2. Jangka pendek mencakup periode 5 tahun (Pelita/Pembangunan Lima Tahun),
merupakan jabaran lebih rinci dari pembangunan jangka panjang sehingga tiap
pelita akan selalu saling berkaitan/berkesinambungan

Pelaksanaan dari Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru


berpedoman pada Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur Pemerataan. Inti dari kedua
pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana
politik dan ekonomi yang stabil.
Isi Trilogi Pembangunan adalah:

1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan


sosial bagi seluruh rakyat
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis

Pada masa Orde Baru, terdapat 6 Pelita yang telah dilaksanakan, yaitu:
1. Pelita I (1 April 1969 hingga 31 Maret 1974)
Menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor
pertanian. Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus
meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya dengan sasaran
dalam bidang Pangan, Sandang, Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan
lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.

2. Pelita II (1 April 1974 hingga 31 Maret 1979)


Menitikberatkan pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri yang
mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. Sasaran utamanya adalah
tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan
rakyat dan memperluas kesempatan kerja. Pertumbuhan ekonomi rata-rata
mencapai 7% per tahun. Pada awal pemerintahan Orde Baru laju inflasi mencapai
60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun menjadi 47%. Selanjutnya pada tahun
keempat Pelita II, inflasi turun menjadi 9,5%.
3. Pelita III (1 April 1979 hingga 31 Maret 1984)
Menitikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan
meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.

4. Pelita IV (1 April 1984 hingga 31 Maret 1989)


Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan
meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri. Terjadi
resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.
Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga
kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan.

5. Pelita V (1 April 1989 hingga 31 Maret 1994)


Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri. Indonesia memiki kondisi
ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 % per tahun.

6. Pelita VI (1 April 1994 hingga 31 Maret 1999)


Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan
dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Sektor ekonomi dipandang sebagai
penggerak utama pembangunan. Pembangunan nasional Indonesia dari pelita ke
pelita berikutnya terus mengalami peningkatan keberhasilan pembangunan. Pada
periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara
termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang
mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.
ISTILAH-ISTILAH
GEOGRAFI
1. Ablasi adalah pengikisan oleh tiupan angin.
2. Aglomerasi adalah kecenderungan persebaran gejala geosfer yang mengelompokkan
penduduk dan aktivitasnya di suatu daerah/tempat.
3. Angka ketergantungan adalah perbandingan penduduk yang tidak produktif dan yang
produktif menggambarkan beban tanggungan penduduk pada umumnya.
4. Cagar alam adalah tempat perlindungan bagi tumbuhan atau hewan.
5. Cuaca adalah keadaan udara dalam situasi tertentu.
6. Demografi adalah gambaran tentang penduduk.
7. Eksploitasi adalah pengusahaan atau mendayagunakan sumber daya alam yang ada di
suatu daerah.
8. Eksplorasi adalah penyelidikan tentang sumber daya alam yang ada di suatu daerah.
9. Emigran adalah orang yang meninggalkan tanah tumpah darahnya dan akan menetap
di negara yang dituju.
10. Emigrasi adalah perpindahan penduduk dari tanah air ke luar negeri.
11. Erosi adalah pengikisan lapisan tanah oleh air.
12. Evakuasi adalah perpindahan penduduk dalam rangka mengungsi untuk menghindari
bahaya yang mengancam, misalnya bencana alam gunung berapi.
13. Fertilitas penduduk adalah tingkat kesuburan penduduk.
14. Forensi adalah orang-orang yang tinggal di luar kota (pinggiran kota) tetapi memiliki
mata pencaharian di kota.
15. Geopolitik adalah suatu politik yang dikaitkan dengan ihwal geografi.
16. HPS adalah Harga Patokan Setempat.
17. Hemisfer adalah belahan bumi (sehingga ada hemisfer utara dan selatan)
18. HPH adalah Hak Pengusaha Hutan.
19. Iklim adalah rata-rata keadaan udara dalam waktu tertentu.
20. Imigran adalah orang yang melakukan imigrasi.
21. Imigrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu negara masuk ke negara lain.
22. Konservasi adalah upaya pemeliharaan atau perlindungan sumber daya alam supaya
tidak mengalami kerusakan.
23. Kualitas penduduk adalah keadaan penduduk (kehidupannya) dalam kaitannya dengan
kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya (hal yang utama).
24. Letak ekonomis adalah letak suatu negara ditinjau dari kehidupan ekonomi negara
tersebut terhadap negara lain.
25. Letak geologis adalah letak suatu daerah (wilayah) ditinjau dari batu-batuan yang ada
pada bumi di wilayah tersebut.
26. Letak maritim adalah letak suatu tempat bila dikaitkan dengan situasi lautan.
27. Letak sosiologis adalah letak negara dilihat dari keadaan sosial dan kebudayaan daerah
yang bersangkutan terhadap daerah lain.
28. Mangrove adalah hutan bakau.
29. Migrasi lokal adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain di wilayah
suatu negara.
30. Mortalitas (angka kematian) adalah jumlah orang yang meninggal dunia dari setiap
1000 orang (penduduk) dalam satu tahun.
31. Orban adalah orang yang melakukan urbanisasi.
32. Padigogo adalah penanaman padi di tanah kering di musim penghujan.
33. Padigogo rancah adalah sistem penanaman padi pada permulaan musim hujan, hingga
sampai tergenang air.
34. Pendapatan nasional adalah pendapatan seluruhnya dalam suatu negara yang dihitung
dalam satu tahun.
35. Penduduk (populasi) adalah jumlah manusia yang berada pada daerah tertentu dan
dalam waktu tertentu.
36. Peta adalah gambaran permukaan bumi dalam bidang datar.
37. Piramida penduduk adalah grafik balok yang dibuat horisontal mengenai komposisi
jumlah, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, matapencaharian, tempat tinggal,
dan lain-lain.
38. PUSRI adalah Pupuk Sriwijaya.
39. Remigrasi adalah kembalinya para emigran ke negara asalnya.
40. Sensus defakto adalah pencacahan yang dikenakan pada setiap orang yang pada waktu
diadakan pencacahan berada di dalam daerah atau negara yang bersangkutan.
41. Sensus deyure adalah pencacahan jiwa hanya dikenakan pada mereka yang benar-benar
berdiam atau bertempat tinggal di daerah atau negara yang bersangkutan.
42. Sensus penduduk (pencacahan jiwa) adalah perhitungan jiwa penduduk secara resmi.
43. Sumber daya alam adalah semua kekayaan alam baik berupa benda mati, makhluk
hidup pada suatu daerah dan bermanfaat bagi manusia.
44. Subak adalah sistem pengairan di Bali.
45. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain masih
dalam lingkup negara (antar propinsi).
46. Transmigrasi bedol desa adalah perpindahan penduduk yang meliputi seluruh
penduduk desa termasuk seluruh perangkat atau pejabat desa ke daerah transmigrasi.
47. Transmigrasi lokal adalah pemindahan penduduk dalam propinsi yang sama.
48. Transmigrasi swakarsa adalah transmigrasi yang pembiayaannya ditanggung oleh
transmigran itu sendiri.
49. Transmigrasi umum adalah pengiriman transmigrasi yang pelaksanaannya di tanggung
pemerintah.
50. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.
DEMOKRASI

1. Demokrasi berdasarkan penyaluran kehendak rakyat


• Demokrasi langsung
Demokrasi langsung merupakan sistem demokrasi yang megikut sertakan seluruh
rakyat dalam pengambilan keputusan negara.
• Demokrasi tidak langsung
Demokrasi tidak langsung merupakan sistem demokrasi yang digunakan untuk
menyalurkan keinginan dari rakyat melalui perwakilan dari parlemen.

2. Demokrasi Berdasarkan Hubungan antar Kelengkapan Negara


• Demokrasi perwakilan dengan sistem referendum
Merupakan sistem demokrasi yang dimana rakyat memilki perwakilan untuk menjabat
diparlemen namun tetap dikontrol oleh rakyat dengan sistem refrendum.
• Demokrasi perwakilan dengan sistem parlementer
Merupakan sistem demokrasi yang didalamnya terdapat hubungan kuat antara badan
eksekutif dan badan legislatif.
• Demokrasi perwakilan dengan sistem pemisahan kekuasaan
Merupakan sistem demokrasi dimana kedudukan antara eksekutif dan legislatif
terpisah, sehingga keduanya tidak berkaitan secara langsung seperti sistem
parlementer.
• Demokrasi perwakilan dengan sistem refrendum dan inisiatif rakyat
Merupakan sistem demokrasi gabungan dari demokrasi perwakilan/tidak langsung
dan demokrasi secara langsung. Dalam sistem tersebut masih tetap ada badan
perwakilan namun dikontrol oleh rakyat melalui refrendum dan sifatnya obligator dan
fakultatif.

3. Berdasarkan prinsip Ideologi


• Demokrasi Liberal
Demokrasi liberal adalah demokrasi berdasarkan atas hak individu suatu warga negara
yang menekankan sebuah kebebasan setiap individunya dan sering mengabaikan
kepentingan umum.
• Demokrasi Rakyat
Demokrasi rakyat adalah demokrasi berdasarkan atas hak pemerintah dalam suatu
negara yang didasari dari paham sosialisme dan komunisme yang mementingkan
kepentingan negara dan kepentingan umum.
• Demokrasi Pancasila
Demokrasi pancasila adalah demokrasi yang bersumber dari tata nilai sosial dan
budaya bangsa Indonesia dengan berdasarkan musyawarah dan mufakat yang
mengutamkan kepentingan umum. Demokrasi pancasila merupakan ideologi negara
Indonesia dan berasal dari Indonesia.
ORGANISASI INTERNASIONAL YANG DIIKUTI INDONESIA

1. ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations)


Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer dengan
sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi
geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di
Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, dan Thailand. Sejak saat itu, lima negara lainnya telah bergabung:
Brunei pada 7 Januari 1984, Vietnam pada 28 Juli1995, Myanmar (Burma) dan Laos pada
23 Juli 1997, dan Kamboja pada 30 April 1999.

Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial,


dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan
stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas
perbedaan di antara anggotanya dengan damai.
Berikut adalah pendiri ASEAN, yakni:
1) Indonesia : Adam Malik
2) Malaysia : Tun Abdul Rozak
3) Singapura : S. Rajaratnam
4) Filipina : Narcisco Ramos
5) Thailand : Thanat Koman
Indonesia pernah mendapat mandat untuk menjadi Sekretaris Jenderal ASEAN, yakni
Hartono Rekso Dharsono pada 7 Juni 1976 – 18 Februari 1978 (pertama), Umarjadi
Notowijono pada 19 Februari 1978 – 30 Juni 1978 (kedua), serta Rusli Noor pada 17 Juli
1989 – 1 Januari 1993 (kedelapan). Sedangkan kini, Sekretaris Jenderal ASEAN dipegang
oleh Lim Jock Hoi tertanggal 1 Januari 2018 dari Brunei Darussalam.

Indonesia juga sebagai penyelenggara KTT ASEAN ke-1 di Bali pada 23‒24 Februari
1976, ke-9 di Bali pada 7‒8 Oktober 2003, ke-18 di Jakarta pada 4-8 Mei 2011, serta ke-
19 di Bali pada 17-19 November 2011.

Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Tak Resmi ASEAN


pertama pada 30 November 1996 di Jakarta serta Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa
ASEAN pertama pada 6 Januari 2005 di Jakarta yang membahas bagaimana
penanggulangan dan solusi menghadapi gempa atau tsunami.

2. PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau United Nations (UN)


Terbentuk pada tanggal 24 Oktober, 1945, PBB adalah sebuah organisasi internasional
yang anggotanya hampir diseluruh negara bagian dunia. Negara Indonesia bergabung
dengan PBB sebagai anggota ke-60 pada tanggal 28 September 1950. Pada masa
Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 7 Januari tahun 1965, sebagai reaksi atas terpilihnya
Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Soekarno marah, Indonesia
memutuskan untuk mundur dari PBB, dan mendirikan CONEFO, didukung Republik
Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Rakyat Korea, dan Republik Demokratik
Vietnam. Pada tanggal 28 September 1966, Majelis Umum PBB menindaklanjuti
keputusan pemerintah Indonesia tersebut dan mengundang perwakilan Indonesia untuk
menghadiri sidang kembali.
Indonesia menjadi anggota Majelis Umum PBB semenjak tahun 1951. Indonesia
pernah sekali ditunjuk sebagai Presiden Majelis Umum PBB pada tahun 1971, yang pada
saat itu diwakili oleh Adam Malik yang memimpin sesi ke-26 sidang Majelis Umum PBB.
Ia merupakan perwakilan Asia kedua yang pernah memimpin sidang tersebut setelah Dr.
Carlos Pena Romulo dari Filipina.

3. APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)


Organisasi kerjasama ekonomi regional di kawasan Asia Pasifik yang dibentuk pada
tahun 1989. Tujuan organisasi ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan
pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik, dan meningkatkan kerja sama ekonomi
melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi. Indonesia bergabung dengan
APEC pada tahun 1989.

KTT APEC diadakan setiap tahun di negara-negara anggota. Pertemuan pertama


organisasi APEC diadakan di Canberra, Australia pada tahun 1989. Indonesia pernah
diberi mandate untuk menyelenggarakan KTT APEC keenam yang menghasilkan
"Deklarasi Bogor" pada KTT 1994 di Bogor yang bertujuan untuk menurunkan bea cuka
hingga nol dan lima persen di lingkungan Asia Pasifik untuk negara maju paling lambat
tahun 2010 dan untuk negara berkembang selambat-lambatnya tahun 2020.

4. CGI (Consultative Group on Indonesia)


Kelompok Antarpemerintah bagi Indonesia (Intergovernmental Group on Indonesia;
disingkat IGGI) adalah sebuah kelompok internasional yang didirikan pada tahun 1967,
diprakarsai oleh Amerika Serikat untuk mengkoordinasikan dana bantuan multilateral
kepada Indonesia. IGGI mengadakan pertemuan pertamanya pada 20 Februari 1967 di
Amsterdam. Indonesia saat itu diwakili Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dari 1967
hingga 1974, IGGI mengadakan dua kali pertemuan setiap tahunnya, namun sejak 1975,
pertemuan hanya diadakan sekali dalam setahun karena perkembangan ekonomi Indonesia
yang membaik. Bantuan awal IGGI adalah dalam penyusunan program rencana lima tahun
Indonesia, Repelita I (1969-1973) dan pendanaan 60% darinya.

Pada Maret 1992, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa dana bantuan IGGI
akan ditolak jika organisasi tersebut masih diketuai Belanda. IGGI kemudianpun
digantikan Consultative Group on Indonesia (CGI). Keputusan ini juga terjadi setelah
Ketua IGGI, Jan Pronk, mengecam tindakan Indonesia terhadap pembunuhan para
pengunjuk rasa di Timor Timur pada tahun 1991 (Pembantaian Santa Cruz/Insiden Dili).

Pada tanggal 24 Januari 2007, Indonesia memutuskan untuk membubarkan CGI.


Keputusan membubarkan CGI murni dari pemerintah Indonesia dengan alasan utamanya
adalah bahwa CGI tidak lagi murni menjadi forum konsultasi perencanaan dan pendanaan
pembangunan Indonesia, namun telah dimanfaatkan sebagai forum politik negara-negara
donatur.

5. Konferensi Asia Afrika


Sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja
memperoleh KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (Burma), Sri Lanka
(Ceylon), India, dan Pakistan, dan dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri
Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955 pada Gedung
Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan
kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika
Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya. KTT Asia Afrika inilah yang
menghasilkan Dasasila Bandung.
Berikut tokoh pendiri KAA:
1) Indonesia : Ali Sastroamidjojo
2) Pakistan : Muhammad Ali Bogra
3) India : Jawaharlal Nehru
4) Sri Lanka : John Kotelawala
5) Myanmar : U Nu

6. Gerakan Non Blok (GNB)


Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement/NAM) adalah suatu organisasi
internasional yang terdiri dari lebih dari 100 negara-negara yang tidak menganggap dirinya
beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun. Tujuan dari organisasi ini,
seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah untuk menjamin
"kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara
nonblok" dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-
kolonialisme, apartheid, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi,
interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik. Mereka
merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keangotaan PBB.
Berikut tokoh pendiri GNB:
1) Indonesia : Ir. Soekarno
2) Yugoslavia : Joseph Bros Tito
3) Mesir : Gamal Abdul Nasser
4) India : Pandit Jawaharlal Nehru
5) Ghana : Kwame Nkrumah

Indonesia pernah menyelenggarakan KTT GNB ke-10 di Jakarta pada 1–6 September
1992. Dan pernah pula menjadi Sekretaris Jenderal GNB ke-15, yakni Presiden Soeharto
pada 1992 sampai 1995.

7. Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Organisasi Kerjasama Islam (dahulu Organisasi Konferensi Islam) adalah sebuah
organisasi internasional dengan 57 negara anggota yang memiliki seorang perwakilan
tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsa. OKI didirikan di Rabat, Maroko pada 12 Rajab 1389
H (25 September 1969) dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia Islam yang
diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjid Al Aqsa
pada 21 Agustus 1969 oleh pengikut fanatik Kristen dan Yahudi di Yerusalem. OKI
mengubah namanya dari sebelumnya Organisasi Konferensi Islam pada 28 Juni 2011.

8. G-20
G-20 adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah
dengan Uni Eropa. Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance
Ministers and Central Bank Governors. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum
yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang
untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Pertemuan perdana G-20
berlangsung di Berlin, 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman
dan Kanada.
KONSEP TRI KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Tri kerukunan umat beragama bertujuan agar masyarakat Indonesia dapat hayati dalam
kebersamaan, sekali pun banyak perbedaan. Konsep ini dirumuskan dengan teliti dan bijak agar
tak terjadi pengekangan atau pengurangan hak-hak manusia dalam menjalankan kewajiban dari
ajaran-ajaran agama yang diyakininya. Tri kerukunan ini meliputi tiga kerukunan, yaitu:

1. Pertama: Kerukunan Intern Umat Beragama


Perbedaan pandangan dalam satu agama dapat melahirkan konflik di dalam tubuh suatu
agama itu sendiri. Disparitas madzhab ialah salah satu disparitas yang nampak dan
nyata. Kemudian lahir pula disparitas ormas keagamaan. Walaupun satu aqidah, yakni
aqidah Islam, disparitas sumber penafsiran, penghayatan, kajian, pendekatan terhadap
Al-Quran dan As-Sunnah terbukti mampu mendisharmoniskan intern umat beragama.
Konsep ukhuwwah islamiyah merupakan salah satu wahana agar tak terjadi ketegangan
intern umat Islam yang menyebabkan peristiwa konflik. Konsep pertama ini
mengupayakan berbagai cara agar tak saling klain kebenaran. Menghindari permusuhan
sebab disparitas madzhab dalam Islam. Semuanya buat menciptakan kehidupan
beragama nan tenteram, rukun, dan penuh kebersamaan.

2. Kedua: Kerukunan Antar Umat Beragama


Konsep kedua dari trikerukunan memiliki pengertian kehidupan beragama yang
tentram antar masyarakat yang berbeda agama dan keyakinan. Tidak terjadi sikap saling
curiga mencurigai dan selalu menghormati agama masing-masing. Berbagai kebijakan
dilakukan oleh pemerintah, agar tak terjadi saling mengganggu umat beragama lainnya.
Semaksimal mungkin menghindari kesamaan konflik sebab disparitas agama. Semua
lapisan masyarakat bersama-sama menciptakan suasana hayati yang rukun dan damai
di Negara Republik Indonesia.

3. Ketiga: Kerukunan Antara Umat Beragama dan Pemerintah


Pemerintah ikut andil dalam menciptakan suasana tentram, termasuk kerukunan antara
umat beragama dengan pemerintah sendiri. Semua umat beragama yang diwakili para
pemuka dari tiap-tiap agama bisa sinergis dengan pemerintah. Bekerjasama dan
bermitra dengan pemerintah buat menciptakan stabilitas persatuan dan kesatuan
bangsa. Trikerukunan umat beragama diharapkan menjadi menjadi salah satu solusi
agar terciptanya kehidupan umat beragama nan damai, penuh kebersamaan, bersikap
toleran, saling menghormati dan menghargai dalam perbedaan.
TUJUAN AMANDEMEN UUD 1945
Terdapat tujuh poin tujuan amandemen UUD 1945, yakni sebagai berikut:
1. Tujuan yang pertama adalah untuk menyempurnakan beberapa aturan dasar yang
berkaitan dengan tatanan negara dalam rangka untuk mencapai tujuan nasional yang
telah tercantum dalam Alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945. Selain itu juga untuk
memperkokoh atau memperkuat NKRI yang dasar negaranya adalah Pancasila.
2. Tujuan yang kedua adalah untuk menyempurnakan aturan dasar yang berhubungan
dengan jaminan dan pelaksanaan kedaulatan rakyat dan juga untuk memperluas
partisipasi rakyat atau warga negara dalam pemerintahan agar menjadi negara yang
sesuai dengan paham demokrasi.
3. Tujuan yang ketiga adalah untuk menyempurnakan aturan dasar yang berhubungan
dengan penyelenggaraan negara secara demokratis dan juga secara modern.
4. Tujuan yang keempat adalah untuk menyempurnakan aturan dasar yang berkaitan
dengan jaminan dan perlindungan ham (hak asasi manusia) dan peradaban umat
manusia yang sekaligus merupakan syarat bagi suatu negara hukum yang dicita-citakan
oleh UUD 1945.
5. Tujuan yang kelima adalah untuk menyempurnakan aturan dasar yang berkaitan dengan
jaminan konstitusional dan kewajiban suatu negara untuk mewujudkan kesejahteraan
sosial bagi seluruh rakyatnya, mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakkan etika,
moral dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusian dalam perjuangan mewujudkan negara yang
maju dan sejahtera.
6. Tujuan yang keenam adalah untuk melengkapi aturan dasar yang sangat penting yang
sebelumnya mungkin belum ada atau masih kurang terutama yang berkaitan dengan
penyelenggaraan negara bagi eksistensi negara dan perjuangan negara dalam
mewujudkan negara yang demokratis, sebagai contoh adalah aturan yang berkaitan
dengan pemilu dan pengaturan wilayah negara.
7. Tujuan yang terakhir adalah untuk menyempurnakan aturan dasar tentang kehidupan
bernegara dan juga berbangsa yang sesuai dengan perkembangan aspirasi, kebutuhan,
serta kepentingan bangsa dan negara Indonesia, selain itu juga untuk
mengakomodasikan kecenderungannya untuk masa yang akan datang.
SIDANG PPKI
Negara RI yang dilahirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 pada kenyataannya belum sempurna
sebagai suatu negara. Oleh karena itu langkah yang diambil oleh para pemimpin negara melalui
PPKI adalah menyusun konstitusi negara dan membentuk alat kelengkapan negara. Untuk itu
PPKI mengadakan sidang sebanyak tiga kali, yaitu:

A. Sidang Pertama 18 Agustus 1945


Didapati keputusan bahwa:
• Mengesahkan Undang-Undang 1945.
• Memilih dan mengangkat Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta
sebagai Wakil Presiden.
• Tugas Presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional Indonesia Pusat sebelum
dibentuknya MPR dan DPR.

B. Sidang Kedua 19 Agustus 1945


PPKI mengadakan sidang kedua pada tanggal 19 Agustus 1945. Didapati keputusan
bahwa:
• Membentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara
• Membentuk Pemerintahan Daerah Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi yang dipimpin
oleh seorang gubernur, yakni:
1) Sumatera Mr. Teuku Muhammad Hasan
2) Jawa Barat Mas Sutardjo Kertohadikusumo
3) Jawa Tengah Raden Pandji Soeroso
4) Jawa Timur R. M. T. Ario Soerjo
5) Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja
6) Maluku Mr. Johannes Latuharhary
7) Sulawesi Dr. G. S. S. Jacob Ratulangi
8) Borneo Ir. H. Pangeran Muhammad Noor

C. Sidang Ketiga 22 Agustus 1945


Didapati keputusan:
1) Pembentukan Komite Nasional
Komite Nasional Indonesia adalah badan yang akan berfungsi sebagai Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) sebelum diselenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu).
KNIP diketuai oleh Mr. Kasman Singodimejo. Anggota KNIP dilantik pada
tanggal 29 Agustus 1945. Tugas pertama KNIP adalah membantu tugas
kepresidenan. Namun, kemudian diperluas tidak hanya sebagai penasihat presiden,
tetapi juga mempunyai kewenangan legislatif. Wewenang KNIP sebagai DPR
ditetapkan dalam rapat KNIP tanggal 16 Oktober 1945. Dalam rapat tersebut,
Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta mengeluarkan Maklumat Pemerintah RI No. X
yang isinya meliputi hal-hal berikut:
a. KNIP sebelum DPR/MPR terbentuk diserahi kekuasaan legislatif untuk
membuat undang-undang dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN).
b. Berhubung gentingnya keadaan, maka pekerjaan sehari-hari KNIP
dijalankan oleh sebuah Badan Pekerja KNIP yang diketuai oleh Sutan
Syahrir. Komite Nasional Indonesia disusun dari tingkat pusat sampai
daerah. Pada tingkat pusat disebut Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
dan pada tingkat daerah yang disusun sampai tingkat kawedanan disebut
Komite Nasional Indonesia.
2) Pembentukan Partai Nasional Indonesia
Pembentukan Partai Nasional Indonesia pada waktu itu dimaksudkan sebagai
satu-satunya partai politik di Indonesia (partai tunggal). Dalam perkembangannya,
muncul Maklumat tanggal 31 Agustus 1945 yang memutuskan bahwa gerakan dan
persiapan Partai Nasional Indonesia ditunda dan segala kegiatan dicurahkan ke
dalam Komite Nasional. Sejak saat itu, gagasan satu partai tidak pernah dihidupkan
lagi.

Demi kelangsungan kehidupan demokrasi, maka KNIP mengajukan usul


kepada pemerintah agar rakyat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk
mendirikan partai politik. Sebagai tanggapan atas usul tersebut, maka pada tanggal
3 November 1945 pemerintah mengeluarkan maklumat pemerintah yang pada
intinya berisi memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai
politik. Maklumat itu kemudian dikenal dengan Maklumat Pemerintah tanggal 3
November 1945. Partai politik yang muncul setelah Maklumat Pemerintah tanggal
3 November 1945 dikeluarkan antara lain Masyumi, Partai Komunis Indonesia,
Partai Buruh Indonesia, Parkindo, Partai Rakyat Jelata, Partai Sosialis Indonesia,
Partai Rakyat Sosialis, Partai Katolik, Permai, dan PNI.

3) Pembentukan Badan Keamanan Rakyat


Badan Keamanan Rakyat (BKR) ditetapkan sebagai bagian dari Badan
Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), yang merupakan induk organisasi
yang ditujukan untuk memelihara keselamatan masyarakat. BKR tugasnya sebagai
penjaga keamanan umum di daerah-daerah di bawah koordinasi KNI Daerah.

Khusus di Jakarta dibentuk BKR Pusat untuk mengoordinasi dan


mengendalikan BKR di bawah pimpinan Kaprawi. Sementara BKR Jawa Timur
dipimpin Drg. Moestopo, BKR Jawa Tengah dipimpin Soedirman, dan BKR Jawa
Barat dipimpin Arudji Kartawinata. Sementara itu, para pemuda yang kurang
setuju pembentukan BKR dan menghendaki pembentukan tentara nasional,
membentuk badan-badan perjuangan atau laskar bersenjata. Badan perjuangan
tersebut misalnya Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik Indonesia
(PRI), Barisan Pemuda Indonesia (BPI), dan lainnya. Selain itu para pemuda yang
dipelopori oleh Adam Malik membentuk Komite van Actie.

Pada tanggal 5 Oktober 1945 dikeluarkan Maklumat Pemerintah yang


menyatakan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sebagai pimpinan TKR
ditunjuk Supriyadi. Berdasarkan maklumat pemerintah tersebut, maka segera
dibentuk Markas Tertinggi TKR oleh Oerip Soemohardjo yang berkedudukan di
Yogyakarta.
SEJARAH PEMILU
A. Pemilu 1995
Pemilu 1955 adalah pemilihan umum pertama yang diadakan oleh Republik Indonesia.
Pemilu ini merupakan reaksi atas Maklumat Nomor X/1945 tanggal 3 Nopember 1945 dari
Wakil Presiden Moh. Hatta, yang menginstruksikan pendirian partai-partai politik di
Indonesia.

Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia paling demokratis. Pemilu tahun
1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah
dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya
pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi
juga memilih. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman. Pemilu ini bertujuan memilih
anggota-anggota DPR dan Konstituante.

Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante
berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang
diangkat pemerintah. Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali
Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan
suara, dan kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin
Harahap.

Terdapat dua putaran pada pemilu 1955.


1) Pertama untuk memilih anggota DPR pada tanggal 29 September 1955, diikuti 29
partai politik dan individu.
2) Kedua untuk memilih anggota Konstituante pada tanggal 15 Desember 1955.

B. Pemilu 1971 (3 Juli 1971)


Pemilu tahun 2971 merupakan pemilu pertama pada masa pemerintahan Orde Baru.
Diikuti oleh 10 parpol. Pemilu ini dilaksanakan tanggal 3 Juli 1971 dengan menggunakan
sistem gabungan.

Pemilu 1971 ditujukan untuk memilih anggota DPR. Pada saat itu, Dewan Perwakilan
Rakyat berjumlah 460 anggota DPR dimana 360 dilakukan melalui pemilihan langsung
oleh rakyat sementara 100 orang diangkat dari kalangan angkatan bersenjata dan golongan
fungsional oleh Presiden. Untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD digunakan sistem
perwakilan berimbang (proporsional) dengan stelsel daftar tertutup. Pemilu diadakan di 26
provinsi Indonesia.

Pemilu tahun 1971 menghasilkan Golkar, NU, Parmusi, PNI, dan PSII sebagai partai
peraih suara terbanyak. Pemilu tahun 1971 sendiri dilaksanakan tanggal 3 Juli 1971.
Keunikan pemilu ini rakyat pemilih mencoblos tanda gambar partai.

C. Pemilu 1977 (2 Mei 1977)


Dasar hukum Pemilu 1977 adalah Undang-undang No. 4 Tahun 1975. Pemilu ini diadakan
setelah fusi partai politik dilakukan pada tahun 1973. Sistem yang digunakan masih sama
pada pemilu 1971, yaitu sistem proporsional dengan daftar tertutup.

Pemilu 1977 diadakan secara serentak tanggal 2 Mei 1977. Pemilu 1977 ditujukan guna
memiliki parlemen unicameral yaitu DPR di mana 360 orang dipilih lewat pemilu ini
sementara 100 orang lainnya diangkat oleh Presiden Suharto.
Dalam Pemilu 1977, peserta pemilu kali ini hanya berjumlah 3 parpol, yakni Partai
Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia. Golkar
mendapat suara terbanyak yakni 39.750.096 (62,11%) dan memperoleh 232 kursi. Disusul
PPP dan PDI.

Sementara itu, kursi jatah ABRI adalah 75 kursi (jatah tetap dalam setiap pemilu) dan
golongan fungsional 25 kursi. Golongan fungsional lalu selalu menggabungkan diri ke
dalam sekber Golkar sehingga kursi untuk Golkar bertambah menjadi 257 kursi.

D. Pemilu 1982 (4 Mei 1982)


Pemilihan umum tahun 1982 dilakukan berdasarkan Undang-undang No. 2 tahun 1980.
Pemilu 1982 diadakan tanggal 4 Mei 1982. Tujuannya untuk memilih anggota DPR
(parlemen). Perbedaan, komposisinya sedikit berbeda. Sebanyak 364 anggota dipilih
langsung oleh rakyat, sementara 96 orang diangkat oleh presiden. Voting dilakukan di 27
daerah pemilihan berdasarkan sistem proporsional dengan daftar partai. Pada pemilu 1982,
peserta pemilu tetap tiga parpol, yakni Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya,
dan Partai Demokrasi Indonesia. Golkar tetap meraih suara terbanyak yakni 58,44%.

E. Pemilu 1987 (23 April 1987)


Pemilu 1987 dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Republik Indonesia pada
tanggal 23 April 1987. Tujuan pemilihan sama dengan pemilu sebelumnya yaitu memilih
anggota parlemen atau anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Provinsi, maupun DPRD Tingkat II
Kabupaten/Kotamadya seluruh Indonesia untuk periode 1987 – 1992.

Peserta Pemilu tahun 1987 sama dengan Pemilu 1982. Sebelum Pemilu 1987 dilaksanakan,
pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan
Golkar, menetapkan bahwa:
1) Pancasila menjadi satu - satunya asas bagi setiap partai politik
2) Golkar, sehingga Partai Persatuan Pembangunan yang semula berlambang Ka’bah
diganti dengan lambang Bintang.

Total kursi yang tersedia adalah 500 kursi. Dari jumlah ini, 400 dipilih secara langsung
dan 100 diangkat oleh Presiden Suharto. Tentu, Golkar selalu menjadi peraih suara
terbanyak. Keunikan pemilu ini ada kebijakan tidak boleh lagi partai tertentu memakai
asas Islam.

F. Pemilu 1992 (9 Juni 1992)


Pemilu 1992 merupakan pemilu kelima pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemilu 1992
di laksanakan pada tanggal 9 Juni 1992. Tujuan Pemilu 1992 adalah memilih secara
langsung 400 kursi DPR. Sistem dan peserta pemilu sama seperti pemilu sebelumnya,
yakni tiga parpol (Golkar, PPP, dan PDI). Dan selalu sebagai pemenang mayoritas hasil
pemilihan umum ini adalah Golongan Karya.

G. Pemilu 1997 (29 Mei 1997)


Pemilu 1997 merupakan pemilu keenam atau terakhir di masa Presiden Suharto. Pemilu
ini diadakan tanggal 29 Mei 1997. Tujuan pemilu ini adalah memilih 424 orang anggota
DPR. Sistem dan peserta pemilu sama seperti pemilu sebelumnya, yakni tiga parpol
(Golkar, PPP, dan PDI). Dan selalu sebagai pemenang mayoritas hasil pemilihan umum
ini adalah Golongan Karya (74,51%) sehingga berhak atas 325 kursi parlemen.

H. Pemilu 1999
Pemilu 1999 adalah pemilu pertama pasca kekuasaan presiden Suharto. Pemilu ini
diadakan di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Pemilu ini terselenggara di
bawah sistem politik Demokrasi Liberal. Artinya, jumlah partai peserta tidak lagi dibatasi
seperti pemilu-pemilu lalu yang hanya terdiri dari Golkar, PPP, dan PDI. Ketiga RUU
Pemilu 1999 diadakan berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 1999 tentang
Pemilihan Umum.

Sistem pemilu sesuai pasal 1 ayat (7) pemilu 1999 dilaksanakan dengan menggunakan
sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar dengan varian Roget. Hanya memilih
anggota DPR dan DPRD. Jumlah parpol adalah 48 parpol.

I. Pemilu 2004
Pemilihan Umun Indonesia 2004 adalah pemilu pertama yang memungkinkan rakyat untuk
memilih Presiden secara langsung dan cara pemilihannya benar–benar berbeda dari
pemilu sebelumnya. Pemilu 2004 sekaligus membuktikan upaya serius mewujudkan
sistem pemerintahan Presidensil yang dipakai oleh pemerintah Indonesia.

Pada Pemilu ini, rakyat dapat memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden (sebelumnya
Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR yang anggota - anggotanya dipilih melalui
Presiden). Selain itu, pada pemilu ini pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak
dilakukan secara terpisah (seperti Pemilu 1999). Pada Pemilu ini, yang dipilih adalah
pasangan calon (pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden), bukan calon Presiden dan
calon Wakil Presiden secara terpisah. Pemilu ini juga digunakan untuk memilih anggota
DPR, DPD, dan DPRD. Jumlah parpol 24 parpol.

Pelaksanaan Pemilu tahun 2004 dilakukan dalam tiga tahap, yaitu:


1. Pemilu Legislatif (tanggal 5 April 2004)
Pemilu ini bertujuan untuk memilih partai politik (sebagai persyaratan Pemilu
Preside) dan anggotanya untuk dicalonkan menjadi anggota DPR dan DPRD. Pemilu
tahap pertama juga ditujukan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah
(DPD). Partai – Partai Politik yang memperoleh suara lebih besar atau sama dengan
tiga persen dapat mencalonkan pasangan calonnya untuk maju ke Presiden putaran
pertama.
Hasil: Pemilu Legislatif tahun 2004 menempatkan kembali Golkar sebagai peraih
suara terbanyak disusul PDIP, PPP, Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PKS.

2. Pemilu Presiden Putaran Pertama (tanggal 5 Juli 2004)


Setelah Pemilu Legislatif selesai, partai yang memiliki suara lebih besar atau sama
dengan tiga persen dapat mencalonkan pasangan calon Presiden dan Wakil
Presidennya untuk maju ke Pemilu Presiden Putaran Pertama. Sudah menggunakan
aturan pada UUD 1945 pasal 6A.

Ada lima pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang dicalonkan di
Pemilu Presiden putaran pertama, yaitu:
• H. Wiranto, SH. Dan Ir.H. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai Golongan
Karya).
• Hj. Megawati Soekarno Putri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan dari
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).
• Prof. Dr.H.M. Amien Rais dan Dr.Ir.H. Siswono Yudo Husodo (dicalonkan
oleh Partai Amanat Nasional).
• DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.H. Muhammad Jusuf Kalla
(dicalonkan oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Persatuan
dan Kesatuan Indonesia).
• Dr.H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc. (dicalonkan oleh Partai
Persatuan Pembangunan).

3. Pemilu Presiden Putaran Kedua (20 September 2004)


Karena belum ada pasangan calon yang memperolehan suara lebih dari 50 persen,
maka diadakanlah Pemilu Presiden putaran kedua. Dua pasangan calon Presiden dan
Wakil Presiden yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilu Presiden putaran
pertama yang dicalonkan di Pemilu Presiden Putaran kedua, yaitu:
• Hj. Megawati Soekarno Putri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan oleh
partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).
• DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.H. Muhammad Jusuf Kalla
(dicalonkan oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Persatuan
dan Kesatuan Indonesia).
Hasil: Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla ditetapkan menjadi
Presiden dan Wakil Presiden RI menggantikan Presiden dan Wakil Presiden Hj.
Megawati Soekarno Putri dan Dr.H. Hamzah Haz.

J. Pemilu 2009
Pemilu 2009 dilaksanakan menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 2008. Jumlah kursi
DPR ditetapkan sebesar 560 di mana daerah dapil anggota DPR adalah provinsi atau
bagian provinsi. Jumlah kursi di tiap dapil yang diperebutkan minimal tiga dan maksimal
sepuluh kursi. Ketentuan ini berbeda dengan Pemilu 2004. Keunikannya pemilu ini ialah
rakyat mencontreng, bukan mencoblos. Jumlah parpol diikuti oleh 38 partai politik
nasional dan 6 partai politik lokal Aceh.

Dalam hal ini ada 3 tahap pemilihan umum:


1. Pemilihan Presiden
Pemilu Presiden tahun 2009 menggunakan Two Round System. Artinya, jika pada
putaran pertama tidak terdapat pasangan yang menang 50 plus 1 atau merata
persebaran suara di lebih dari setengah daerah pemilihan maka konsekuensinya
harus diadakan putaran kedua. Pilpres yang direkapitulasi oleh KPU pada 22-4 Juli
2009 ini diikuti oleh tiga pasang calon yaitu: Megawati-Prabowo, SBY-Boediono
dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Hasil: SBY-Boediono (60,80%) pada putaran pertama dan terpilih sebagai presiden
dan wakil presiden

2. Pemilihan Legislatif
Menurut Pasal 23 Undang-undang Nomor 10 tahun 2008, jumlah kursi untuk
anggota DPRD Provinsi minimal tiga puluh lima dan maksimal seratus kursi.

3. Pemilihan DPD
Untuk pemilihan anggota DPD ditetapkan 4 kursi bagi setiap provinsi. Provinsi
adalah daerah pemilihan untuk anggota DPD. Dan dengan demikian dengan total
provinsi sejumlah 33, jumlah anggota DPD Indonesia adalah 132 orang.

Sistem Pemilu 2009 masih menggunakan sistem yang mirip dengan Pemilu 2004. Namun,
electoral threshold dinaikkan menjadi 2,5%. Artinya, partai-partai politik tatkala masuk ke
perhitungan kursi caleg hanya dibatasi bagi yang berhasil mengumpulkan komposisi suara
di atas 2,5%.

K. Pemilu 2014
Pelaksanaan pemilu tahun 2014 terdiri dari pemilihan legislatif yang bertujuan untuk
memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD, serta pemilihan presiden. Jumlah parpol 12
parpol nasional dan 3 parpol lokal Aceh.

Tanggal:
• Pemilihan Legislatif dilakukan pada tanggal 9 April 2014
• Pemilihan Presiden dilakukan pada tanggal 9 Juli 2014

Sistem pemilu yakni sistem proporsional terbuka. Untuk Pemilu 2014, mempertahankan
diwajibkannya kuota minimal 30 persen calon perempuan untuk daftar calon yang
diajukan dan satu calon perempuan dalam setiap tiga calon secara berurutan dari awal
daftar calon. Kedua ketentuan ini sekarang memiliki ancaman sanksi jika gagal dipenuhi
partai politik yang gagal memenuhi kuota tersebut akan dicabut haknya sebagai peserta
pemilu di daerah pemilihan di mana kuota tersebut gagal dipenuhi.

Penyelenggara pemilihan umum yang berdasarkan undang-undang dilaksanakan oleh


KPU dan Bawaslu, sedangkan pelanggaran serius yang mempengaruhi hasil pemilu
diajukan secara langsung kepada Mahkamah Konstitusi.
SEJARAH TNI
Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, otoritas militer di Hindia Belanda
diselenggarakan oleh (KNIL atau Koninklijke Nederlands-Indische Leger, atau secara harafiah:
Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Meskipun KNIL tidak langsung bertanggung jawab atas
pembentukan angkatan bersenjata Indonesia pada masa depan, (sebaliknya berperan sebagai
musuh selama Revolusi Nasional Indonesia 1945-1949), KNIL juga telah memberikan andil
berupa pelatihan militer dan infrastruktur untuk beberapa perwira TNI pada masa depan. Ada
pusat-pusat pelatihan militer, sekolah militer dan akademi militer di Hindia Belanda. Di
samping merekrut relawan Belanda dan tentara bayaran Eropa, KNIL juga merekrut orang-
orang pribumi Indonesia. Pada tahun 1940 saat Belanda di bawah pendudukan Jerman, dan
Jepang mulai mengancam akses pasokan minyak bumi ke Hindia Belanda, Belanda akhirnya
membuka kesempatan penduduk pribumi di Pulau Jawa untuk masuk sebagai anggota KNIL.

Selama Perang Dunia Kedua, Jepang mulai mendorong dan mendukung gerakan
nasionalis Indonesia dengan menyediakan pelatihan militer dan senjata bagi pemuda Indonesia.
Pada tanggal 3 Oktober 1943, militer Jepang membentuk tentara relawan Indonesia yang
disebut PETA (Pembela Tanah Air). Jepang membentuk PETA dengan maksud untuk
membantu pasukan mereka menentang kemungkinan invasi oleh Sekutu ke wilayah Asia
tenggara.

Negara Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara.
Badan Keamanan Rakyat yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan
diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945 bukanlah tentara sebagai suatu
organisasi kemiliteran yang resmi. BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah
wewenang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan KNI Daerah dan tidak berada di
bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada
di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan
setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai
peperangan menghadapi Sekutu.

Akhirnya, melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 (hingga saat ini
diperingati sebagai hari kelahiran TNI), BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat
(TKR). Pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara
Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 26 Januari 1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik
Indonesia (TRI). Karena saat itu di Indonesia terdapat barisan-barisan bersenjata lainnya di
samping Tentara Republik Indonesia, maka pada tanggal 15 Mei 1947, Presiden Soekarno
mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan Tentara Republik Indonesia dengan barisan-
barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyatuan itu terjadi
dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.

Pada masa Orde Baru, militer di Indonesia lebih sering disebut dengan ABRI (Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia). ABRI adalah sebuah lembaga yang terdiri dari unsur angkatan
perang dan kepolisian negara (Polri). Pada masa awal Orde Baru unsur angkatan perang disebut
dengan ADRI (Angkatan Darat Republik Indonesia), ALRI (Angkatan Laut Republik
Indonesia) dan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Namun sejak Oktober 1971
sebutan resmi angkatan perang dikembalikan lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia,
sehingga setiap angkatan sebut dengan TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan TNI
Angkatan Udara. Pada masa Orde Baru ketika Presiden Soeharto berkuasa, TNI ikut serta
dalam dunia politik di Indonesia. Keterlibatan militer dalam politik Indonesia adalah bagian
dari penerapan konsep Dwifungsi ABRI yang kelewat menyimpang dari konsep awalnya.

Pada tahun 2000, Kepolisian Negara Republik Indonesia secara resmi kembali berdiri
sendiri dan merupakan sebuah entitas yang terpisah dari militer. Nama resmi militer Indonesia
juga berubah dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menjadi kembali Tentara
Nasional Indonesia (TNI). Di bentuklah 3 peraturan perundang-undangan baru yaitu UU 2
tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU no. 3 tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara, dan UU 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Calon
Panglima TNI saat ini harus diajukan Presiden dari Kepala Staf Angkatan untuk mendapat
persetujuan DPR. Hak politik TNI pun dihilangkan serta dwifungsi ABRI dihilangkan.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdiri dari tiga angkatan bersenjata, yaitu TNI
Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. TNI dipimpin oleh seorang
Panglima TNI, sedangkan masing-masing angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf
Angkatan.
ORGANISASI PRA-KEMERDEKAAN
A. BUDI UTOMO
Organisasi Budi Utomo (BU) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 (dijadikan sebagai Hari
Kebangkitan Nasional) oleh para mahasiswa STOVIA di Batavia dengan Sutomo sebagai
ketuanya. Terbentuknya organisasi tersebut atas ide dr. Wahidin Sudirohusodo yang
sebelumnya telah berkeliling Jawa untuk menawarkan idenya membentuk Studiefounds.

Gagasan Studiesfounds bertujuan untuk menghimpun dana guna memberikan beasiswa


bagi pelajar yang berprestasi, namun tidak mampu melanjutnya studinya. Gagasan itu tidak
terwujud, tetapi gagasan itu melahirkan Budi Utomo. Tujuan Budi Utomo adalah
memajukan pengajaran dan kebudayaan.

Tujuan tersebut ingin dicapai dengan usaha-usaha sebagai berikut:


1) Memajukan pengajaran;
2) Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan;
3) Memajukan teknik dan industri
4) Menghidupkan kembali kebudayaan.

Dilihat dari tujuannya, Budi Utomo bukan merupakan organisasi politik melainkan
merupakan organisasi pelajar dengan pelajar STOVIA sebagai intinya. Sampai menjelang
kongresnya yang pertama di Yogyakarta telah berdiri tujuh cabang Budi Utomo, yakni di
Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo.

Untuk mengonsolidasi diri (dengan dihadiri tujuh cabangnya), Budi Utomo mengadakan
kongres yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Kongres
memutuskan hal-hal sebagai berikut.
1) Budi Utomo tidak ikut dalam mengadakan kegiatan politik.
2) Kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan.
3) Ruang gerak Budi Utomo terbatas pada daerah Jawa dan Madura.
4) Memilih R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar sebagai ketua.
5) Yogyakarta ditetapkan sebagai pusat organisasi.

Sampai dengan akhir tahun 1909, telah berdiri 40 cabang Budi Utomo dengan jumlah
anggota mencapai 10.000 orang. Akan tetapi, dengan adanya kongres tersebut tampaknya
terjadi pergeseran pimpinan dari generasi muda ke generasi tua. Banyak anggota muda
yang menyingkir dari barisan depan, dan anggota Budi Utomo kebanyakan dari golongan
priayi dan pegawai negeri. Dengan demikian, sifat protonasionalisme dari para pemimpin
yang tampak pada awal berdirinya Budi Utomo terdesak ke belakang. Strategi perjuangan
BU pada dasarnya bersifat kooperatif.

Mulai tahun 1912 dengan tampilnya Notodirjo sebagai ketua menggantikan R.T.
Notokusumo, Budi Utomo ingin mengejar ketinggalannya. Akan tetapi, hasilnya tidak
begitu besar karena pada saat itu telah muncul organisasi-organisasi nasional lainnya,
seperti Sarekat Islam (SI) dan Indiche Partij (IP).

B. SAREKAT DAGANG ISLAM (SDI)


Tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo, yakni tahun 1911 berdirilah Sarekat Dagang
Islam ( SDI ) di Solo oleh H. Samanhudi, seorang pedagang batik dari Laweyan Solo
bersama penulis Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo.
Organisasi Sarekat Dagang Islam berdasar pada dua hal berikut ini.
1) Agama Islam.
2) Ekonomi, yakni untuk memperkuat diri dari pedagang Cina yang berperan sebagai
leveransir (seperti kain putih, malam, dan sebagainya).

Pada kongres pertama SDI di Solo tahun 1906, namanya ditukar menjadi Sarikat Islam
atas prakarsa HOS Cokroaminoto, dengan tujuan untuk memperluas anggota sehingga
tidak hanya terbatas pada pedagang saja.

Berdasarkan Akte Notaris pada tanggal 10 September 1912, ditetapkan tujuan Sarekat
Islam sebagai berikut:
1) Memajukan perdagangan;
2) Membantu para anggotanya yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha
(permodalan);
3) Memajukan kepentingan rohani dan jasmani penduduk asli;
4) Memajukan kehidupan agama Islam.

Dengan demikian, di samping tujuan ekonomi juga ditekankan adanya saling membantu
di antara anggota. Itulah sebabnya dalam waktu singkat, Sarekat Islam berkembang
menjadi anggota massa yang pertama di Indonesia. Sarekat Islam merupakan gerakan
nasionalis, demokratis, dan ekonomis, serta berasaskan Islam dengan haluan kooperatif.

Mengingat perkembangan Sarekat Islam yang begitu pesat maka timbullah kekhawatiran
dari pihak Gubernur Jenderal Idenburg, sehingga permohonan Sarekat Islam sebagai
organisasi nasional yang berbadan hukum ditolak dan hanya diperbolehkan berdiri secara
lokal. Pada tahun 1914, telah berdiri 56 Sarekat Islam lokal yang diakui sebagai badan
hukum. Pada tahun 1915 berdirilah Central Sarekat Islam (CSI) yang berkedudukan di
Surabaya. Tugasnya ialah membantu menuju kemajuan dan kerjasama antar Sarekat Islam
lokal. Pada tanggal 17–24 Juni 1916 diadakan Kongres SI Nasional Pertama di Bandung
yang dihadiri oleh 80 Sarekat Islam lokal. Dalam kongres tersebut telah disepakati istilah
“nasional”, dimaksudkan bahwa Sarekat Islam menghendaki persatuan dari seluruh
lapisan masyarakat Indonesia menjadi satu bangsa.

Sifat Sarekat Islam yang demokratis dan berani serta berjuang terhadap kapitalisme untuk
kepentingan rakyat kecil sangat menarik perhatian kaum sosialis kiri yang tergabung
dalam Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) pimpinan Sneevliet (Belanda),
Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin (Indonesia).

Itulah sebabnya dalam perkembangannya, Sarekat Islam pecah menjadi dua kelompok
berikut ini:
1) Kelompok nasionalis religius (nasionalis keagamaan) yang dikenal dengan Sarekat
Islam Putih dengan asas perjuangan Islam di bawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto.
2) Kelompok ekonomi dogmatis yang dikenal dengan nama Sarekat Islam Merah
dengan haluan sosialis kiri di bawah pimpinan Semaun dan Darsono.

C. INDISCHE PARTIJ (IP)


Indische Partij (IP) didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Tiga
Serangkai, yakni Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr.
Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).
Organisasi ini mempunyai cita-cita untuk menyatukan semua golongan yang ada di
Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan
sebagainya. Cita-cita Indische Partij banyak disebar-luaskan melalui surat kabar De
Expres. Di samping itu juga disusun program kerja sebagai berikut:
1) Meresapkan cita-cita nasional Hindia (Indonesia).
2) Memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik di bidang pemerintahan,
maupun kemasyarakatan.
3) Memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu
dengan yang lain.
4) Memperbesar pengaruh pro-Hindia di lapangan pemerintahan.
5) Berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia.
6) Dalam hal pengajaran, kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi
Hindia dan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Indische Partij merupakan partai politik pertama
di Indonesia dengan haluan kooperasi. Dalam waktu yang singkat telah mempunyai 30
cabang dengan anggota lebih kurang 7.000 orang yang kebanyakan orang Indo. Oleh
karena sifatnya yang progresif menyatakan diri sebagai partai politik dengan tujuan yang
tegas, yakni Indonesia merdeka, pemerintah menolak untuk memberikan badan hukum
dengan alasan Indische Partij bersifat politik dan hendak mengancam ketertiban umum.
Walaupun demikian, para pemimpin Indische Partij masih terus mengadakan propaganda
untuk menyebarkan gagasan-gagasannya.

Satu hal yang sangat menusuk perasaan pemerintah Hindia Belanda adalah tulisan Suwardi
Suryaningrat yang berjudul Als ik een Nederlander was (seandainya saya seorang Belanda)
yang isinya berupa sindiran terhadap ketidakadilan di daerah jajahan. Oleh karena
kegiatannya sangat mencemaskan pemerintah Belanda, maka pada bulan Agustus 1913
ketiga pemimpin Indische Partij dijatuhi hukuman pengasingan dan mereka memilih
Negeri Belanda sebagai tempat pengasingannya.

Selanjutnya, Indische Partij berganti nama menjadi Partai Insulinde dan pada tahun 1919
berubah lagi menjadi National Indische Partij (NIP). National Indische Partij tidak pernah
mempunyai pengaruh yang besar di kalangan rakyat dan akhirnya hanya merupakan
perkumpulan orang-orang terpelajar.

D. MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18
November 1912. Asas perjuangannya ialah Islam dan kebangsaan Indonesia, sifatnya
nonpolitik. Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial menuju
kepada tercapainya kebahagiaan lahir batin.

Tujuan Muhammadiyah ialah sebagai berikut.


1) Memajukan pendidikan dan pengajaran berdasarkan agama Islam;
2) Mengembangkan pengetahuan ilmu agama dan cara-cara hidup menurut agama
Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah
sebagai berikut:
1) Mendirikan sekolah-sekolah yang berdasarkan agama Islam ( dari TK sampai
dengan perguruan tinggi);
2) Mendirikan poliklinik-poliklinik, rumah sakit, rumah yatim, dan masjid;
3) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Muhammadiyah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an


dan Hadis. Itulah sebabnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran agama Islam
secara modern dan memperteguh keyakinan tentang agama Islam sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenarnya. Kegiatan Muhammadiyah juga telah memperhatikan
pendidikan wanita yang dinamakan Aisyiah, sedangkan untuk kepanduan disebut Hizbul
Wathon (HW).

Sejak berdiri di Yogyakarta (1912) Muhammadiyah terus mengalami perkembangan yang


pesat. Sampai tahun 1913, Muhammadiyah telah memiliki 267 cabang yang tersebar di
Pulau Jawa. Pada tahun 1935, Muhammadiyah sudah mempunyai 710 cabang yang
tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

E. GERAKAN PEMUDA
Gerakan pemuda Indonesia, sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya Budi Utomo,
namun sejak kongresnya yang pertama perannya telah diambil oleh golongan tua (kaum
priayi dan pegawai negeri) sehingga para pemuda kecewa dan keluar dari organisasi
tersebut. Baru beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Maret 1915 di Batavia
berdiri Trikoro Dharmo oleh R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman, dan Sunardi.

Trikoro Dharmo yang diketui oleh R. Satiman Wiryosanjoyo merupakan organisasi


pemuda yang pertama yang anggotanya terdiri atas para siswa sekolah menengah berasal
dari Jawa dan Madura. Trikoro Dharmo, artinya tiga tujuan mulia, yakni sakti, budi, dan
bakti. Tujuan perkumpulan ini adalah sebagai berikut:
1) Mempererat tali persaudaraan antar siswa-siswi bumi putra pada sekolah menengah
dan perguruan kejuruan;
2) Menambah pengetahuan umum bagi para anggotanya;
3) Membangkitkan dan mempertajam peranan untuk segala bahasa dan budaya.

Tujuan tersebut sebenarnya baru merupakan tujuan perantara. Adapun tujuan yang
sebenarnya adalah seperti apa yang termuat dalam majalah Trikoro Dharmo yakni
mencapai Jawa raya dengan jalan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda-pemuda
Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok. Oleh karena sifatnya yang masih Jawa sentris
maka para pemuda di luar Jawa (tidak berbudaya Jawa) kurang senang.

Untuk menghindari perpecahan, pada kongresnya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918
namanya diubah menjadi Jong Java (Pemuda Jawa). Sesuai dengan anggaran dasarnya,
Jong Java ini bertujuan untuk mendidik para anggotanya supaya kelak dapat
menyumbangkan tenaganya untuk membangun Jawa raya dengan jalan mempererat
persatuan, menambah pengetahuan, dan rasa cinta pada budaya sendiri.

Sejalan dengan munculnya Jong Java, pemuda-pemuda di daerah lain juga membentuk
organisasi-organisasi, seperti Jong Sumatra Bond, Pasundan, Jong Minahasa, Jong
Ambon, Jong Selebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, Timorees
Verbond, dan lain-lain. Pada dasarnya semua organisasi itu masih bersifat kedaerahan,
tetapi semuanya mempunyai cita-cita ke arah kemajuan Indonesia, khususnya memajukan
budaya dan daerah masing-masing.
F. TAMAN SISWA
Sekembalinya dari tanah pengasingannya di Negeri Belanda (1919), Suwardi Suryaningrat
menfokuskan perjuangannya dalam bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922, Suwardi
Suryaningrat (lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara) berhasil mendirikan
perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Dengan berdirinya Taman Siswa, Suwardi
Suryaningrat memulai gerakan baru bukan lagi dalam bidang politik melainkan bidang
pendidikan, yakni mendidik angkatan muda dengan jiwa kebangsaan Indonesia
berdasarkan akar budaya bangsa.

Sekolah Taman Siswa dijadikan sarana untuk menyampaikan ideologi nasionalisme


kebudayaan, perkembangan politik, dan juga digunakan untuk mendidik calon-calon
pemimpin bangsa mendatang. Dalam hal ini, sekolah merupakan wahana untuk
meningkatkan derajat bangsa melalui pengajaran itu sendiri. Selain pengajaran bahasa
(baik bahasa asing maupun bahasa Indonesia), pendidikan Taman Siswa juga memberikan
pelajaran sejarah, seni, sastra (terutama sastra Jawa dan wayang), agama, pendidikan
jasmani, dan keterampilan (pekerjaan tangan) merupakan kegiatan utama perguruan
Taman Siswa.

Penididikan Taman Siswa dilakukan dengan sistem “among” dengan pola belajar “asah,
asih, dan asuh”. Dalam hal ini diwajibkan bagi para guru untuk bersikap dan berlaku
“sebagai pemimpin” yakni di depan memberi contoh, di tengah dapat memberikan
motivasi, dan di belakang dapat memberikan pengawasan yang berpengaruh. Prinsip
pengajaran inilah yang kemudian dikenal dengan pola kepemimpinan “Ing ngarsa sung
tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“. Pola kepemimpinan ini sampai
sekarang masih menjadi ciri kepemimpinan nasional.

Berkat jasa dan perjuangannya yakni mencerdaskan kehidupan menuju Indonesia merdeka
maka tanggal 2 Mei (hari kelahiran Ki Hajar Dewantara) ditetapkan sebagai hari
Pendidikan Nasional. Di samping itu, “Tut Wuri Handayani” sebagai semboyan terpatri
dalam lambang Departemen Pendidikan Nasional.

G. PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI)


Benih-benih paham Marxis dibawa masuk ke Indonesia oleh seorang Belanda yang
bernama H.J.F.M. Sneevliet. Atas dasar Marxisme inilah kemudian pada tanggal 9 Mei
1914 di Semarang, Sneevliet bersama-sama dengan J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan
P. Bersgma berhasil mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).
Ternyata ISDV tidak dapat berkembang sehingga Sneevliet melakukan infiltrasi
(penyusupan) kader-kadernya ke dalam tubuh SI dengan menjadikan anggota-anggota
ISDV sebagai anggota SI, dan sebaliknya anggota-anggota SI menjadi anggota ISDV.

Dengan cara itu, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di
kalangan SI, lebih-lebih setelah berhasil mengambil alih beberapa pemimpin SI, seperti
Semaun dan Darsono. Akibatnya, SI Cabang Semarang sudah berada di bawah pengaruh
ISDV semakin jelas warna Marxisnya dan selanjutnya terjadilah perpecahan.

Pada tanggal 23 Mei 1923, ISDV diubah menjadi Partai Komunis Hindia dan selanjutnya
pada bulan Desember 1920 menjadi Partai Komunis Indonesia. (PKI). Susunan pengurus
PKI, antara lain Semaun (ketua), Darsono (wakil ketua), Bersgma (sekretaris), dan Dekker
(bendahara).
Pada tanggal 13 November 1926 PKI melancarkan pemberontakan di Batavia dan disusul
di daerah-daerah lain, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Sumatra Barat
pemberontakan PKI dilancarkan pada tanggal 1 Januari 1927. Dalam waktu yang singkat
semua pemberontakan PKI tersebut berhasil ditumpas. Akhirnya, ribuan rakyat ditangkap,
dipenjara, dan dibuang ke Tanah Merah dan Digul Atas (Papua).

H. PARTAI NASIONAL INDONESIA (PNI)


Algemene Studie Club di Bandung yang didirikan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1925 telah
mendorong para pemimpin lainnya untuk mendirikan partai politik, yakni Partai Nasional
Indonesia (PNI). PNI didirikan di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 oleh 8 pemimpin,
yakni dr. Cipto Mangunkusumo, Ir. Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Sunaryo, Mr.
Budiarto, Dr. Samsi, dan Ir. Soekarno sebagai ketuanya. Kebanyakan dari mereka adalah
mantan anggota Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda yang kembali ke tanah air.

Radikal PNI telah kelihatan sejak awal berdirinya. Hal ini terlihat dari anggaran dasarnya
bahwa tujuan PNI adalah Indonesia merdeka dengan strategi perjuangannya nonkooperasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka PNI berasaskan pada self help, yakni prinsip
menolong diri sendiri, artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya
yang telah rusak oleh penjajah dengan kekuatan sendiri; nonkooperatif, yakni tidak
mengadakan kerja sama dengan pemerintah Belanda; Marhaenisme, yakni mengentaskan
massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI telah menetapkan program kerja sebagaimana
dijelaskan dalam kongresnya yang pertama di Surabaya pada tahun 1928, seperti berikut.
1) Usaha politik, yakni memperkuat rasa kebangsaan (nasionalisme) dan kesadaran atas
persatuan bangsa Indonesia, memajukan pengetahuan sejarah kebangsaan,
mempererat kerja sama dengan bangsa-bangsa Asia, dan menumpas segala rintangan
bagi kemerdekaan diri dan kehidupan politik.
2) Usaha ekonomi, yakni memajukan perdagangan pribumi, kerajinan, serta
mendirikan bank-bank dan koperasi.
3) Usaha sosial, yaitu memajukan pengajaran yang bersifat nasional, meningkatkan
derajat kaum wanita, memerangi pengangguran, memajukan transmigrasi,
memajukan kesehatan rakyat, antara lain dengan mendirikan poliklinik.

Untuk menyebarluaskan gagasannya, PNI melakukan propaganda-propaganda, baik lewat


surat kabar, seperti Banteng Priangan di Bandung dan Persatuan Indonesia di Batavia,
maupun lewat para pemimpin khususnya Ir. Soekarno sendiri. Dalam waktu singkat, PNI
telah berkembang pesat sehingga menimbulkan kekhawatiran di pihak pemerintah
Belanda.

Dengan munculnya isu bahwa PNI pada awal tahun 1930 akan mengadakan
pemberontakan. Pada tanggal 29 Desember 1929, pemerintah Hindia Belanda
mengadakan penggeledahan secara besar-besaran dan menangkap empat pemimpinnya,
yaitu Ir. Soerkarno, Maskun, Gatot Mangunprojo, dan Supriadinata. Mereka kemudian
diajukan ke pengadilan di Bandung.

Dalam sidang pengadilan, Ir. Soerkarno mengadakan pembelaan dalam judul Indonesia
Menggugat. Atas dasar tindakan melanggar Pasal “karet” 153 bis dan Pasal 169 KUHP,
para pemimpin PNI dianggap mengganggu ketertiban umum dan menentang kekuasaan
Belanda sehingga dijatuhi hukuman penjara di Penjara Sukamiskin Bandung. Sementara
itu, pimpinan PNI untuk sementara dipegang oleh Mr. Sartono dan dengan pertimbangan
demi keselamatan maka pada tahun 1931 oleh pengurus besarnya PNI dibubarkan. Hal ini
menimbulkan pro dan kontra.

Mereka yang pro pembubaran, mendirikan partai baru dengan nama Partai Indonesia
(Partindo) di bawah pimpinan Mr. Sartono. Kelompok yang kontra, ingin tetap
melestarikan nama PNI dengan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) di
bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.

I. GERAKAN WANITA
Munculnya gerakan wanita di Indonesia, khusunya di Jawa dirintis oleh R.A. Kartini yang
kemudian dikenal sebagai pelopor pergerakan wanita Indonesia. R.A. Kartini bercita-cita
untuk mengangkat derajat kaum wanita Indonesia melalui pendidikan. Cita-citanya
tersebut tertulis dalam surat-suratnya yang kemudian berhasil dihimpun dalam sebuah
buku yang diterjemahkan dalam judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Cita-cita R.A.
Kartini ini mempunyai persamaan dengan Raden Dewi Sartika yang berjuang di Bandung.

Semasa pergerakan nasional, muncul gerakan wanita yang bergerak di bidang pendidikan
dan sosial budaya. Organisasi-organisasi yang ada, antara lain sebagai berikut:
1) Putri Mardika di Batavia pada tahun 1912 dengan tujuan membantu keuangan
bagi wanita-wanita yang akan melanjutkan sekolahnya. Tokohnya, antara lain R.A.
Saburudin, R.K. Rukmini, dan R.A. Sutinah Joyopranata.
2) Kartinifounds, yang didirikan oleh suami istri T.Ch. van Deventer pada tahun
1912 dengan membentuk sekolah-sekolah Kartinibagi kaum wanita, seperti di
Semarang, Batavia, Malang, dan Madiun.
3) Kerajinan Amal Setia, di Koto Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus pada
tahun 1914. Tujuannya meningkatkan derajat kaum wanita dengan cara memberi
pelajaran membaca, menulis, berhitung, mengatur rumah tangga, membuat
kerajinan, dan cara pemasarannya.
4) Pawijatan Wanito, didirikan pada tahun 1915, tiga tahun setelah Puteri Mardika
berdiri. Organisasi Pawijatan Wanito ini dulu berkembang di Magelang, Jawa
Tengah. Tujuan organisasi ini adalah pemberdayaan diri terhadap para perempuan.
5) PIKAT, adalah singkatan dari “Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun.”
Organisasi ini didirikan pada tahun 1917. Kota tempat organisasi ini didirikan dan
sempat berkembang adalah Manado. Tujuan organisasi ini adalah mendidik para
ibu rumah tangga supaya dapat mendidik anak-anaknya sebagai generasi bangsa
dengan secara lebih baik.
6) Purborini, merupakan organisasi yang berada di abad ke-20 juga. Organisasi ini
berdiri sejak tahun 1917. Tempat berkembangnya adalah Tegal. Tujuannya masih
sama seperti organisasi lainnya yakni sama-sama memberdayakan pendidikan para
perempuan.
7) Aisyiah, merupakan organisasi wanita Muhammadiyah yang didirikan oleh Ny.
Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan pada tahun 1917. Tujuannya untuk memajukan
pendidikan dan keagamaan kaum wanita.
8) Wanita Soesilo, merupakan organisasi perempuan yang didirikan di Pemalang,
Jawa Tengah. Tahun berdirinya adalah 1918. Organisasi ini bertujuan untuk
membuat jaringan silaturrahmi antar para perempuan dalam cita-cita bersama
memajukan pendidikan di kalangan mereka.
9) Wanito Hadi, sebagaimana namanya tujuannya adalah sebagai wadah bagi para
perempuan supaya dapat mengembangkan kapasitas diri dan kemampuan yang
dimilikinya. Organisasi ini didirikan pada tahun 1919. Kota tempat organisasi ini
berdiri adalah Jepara.
10) Putri Budi Sedjati, merupakan organisasi keperempuanan yang didirikan di
Surabaya. Waktu itu Indonesia sedang berada di bawah jajahan Hindia-Belanda.
Tujuan organisasi ini adalah supaya para perempuan bisa mendapatkan pendidikan
yang baik dan saling menjalin hubungan yang serat sebagai sesama pribumi.
Organisasi ini sendiri didirikan pada tahun 1919.
11) Serikat Kaoem Iboe Soematera, merupakan perkumpulan wanita di Sumatera.
Organisasi ini didirikan pada tahun 1920 di Bukittinggi. Tujuannya adalah sama
seperti organisasi lain. Karena, memang di masa itu organisasi perempuan yang
ada lebih fokus pada pendidikan dan tali persaudaraan sesama bangsa.

Organisasi kewanitaan lain yang berdiri cukup banyak, misalnya Wanito Rukun Santoso
di Malang, Budi Wanito di Solo (1919), Wanito Mulyo di Yogyakarta (1920), Wanito
Utomo dan Wanito Katolik di Yogyakarta (1921), dan Wanito Taman Siswa (1922).

Organisasi wanita juga muncul di Sulawesi Selatan dengan nama Gorontalosche


Mohammadaanche Vrouwenvereeniging. Di Ambon dikenal dengan nama Ina Tani yang
lebih condong ke politik. Sejalan dengan berdirinya organisasi wanita, muncul juga surat
kabar wanita yang bertujuan untuk menyebarluaskan gagasan dan pengetahuan
kewanitaan. Surat kabar milik organisasi wanita, antara lain Putri Hindia di Bandung,
Wanito Sworo di Brebes, Sunting Melayu di Bukittinggi, Esteri Utomo di Semarang, Suara
Perempuan di Padang, Perempunan Bergolak di Medan, dan Putri Mardika di Batavia.

Puncak gerakan wanita, yaitu dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia


I pada tanggal 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres menghasilkan bentuk
perhimpunan wanita berskala nasional dan berwawasan kebangsaan, yakni Perikatan
Perempuan Indonesia (PPI). Dalam Kongres Wanita II di Batavia pada tanggal 28–31
Desember 1929, PPI diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII).
Kongres Wanita I merupakan awal dari bangkitnya kesadaran nasional di kalangan wanita
Indonesia sehingga tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari Ibu.
HUBUNGAN INTERNASIONAL
Menurut UU No. 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, menyatakan bahwa
Hubungan Internasional adalah setiap kegiatan yang menyakut aspek regional dan
internasional yang dilakukan oleh pemerintah di tingkat pusat dan internasional yang dilakukan
oleh pemerintah pusat dan daerah lembaga, badan usaha, organisasi politik, organisasi
masyarakat, LSM atau warga negara.

Berikut adalah beberapa pengertian hubungan internasional menurut para ahli:


• Menurut J.C. Johari, hubungan internasional merupakan sebuah studi tentang
interaksi yang berlangsung diantara negara-negara berdaulat disamping itu juga
studi tentang pelaku-pelaku non negara (non states actors) yang perilakunya
memiliki dampak terhadap tugas-tugas negara.
• Menurut Mohtar Mas’oed, hubungan internasional adalah hubungan yang
melibatkan bangsa-bangsa yang masing-masing berdaulat sehingga diperlukan
mekanisme yang kompleks dan melibatkan banyak negara.
• Menurut Tygve Nathlessen, hubungan internasional adalah bagian dari ilmu
politik, oleh karena itu komponen hubungan internasional sendiri tak lepas dari
politik internasional, organisasi dan administrasi internasional serta hukum
internasional.
• Menurut Warsito Sunaryo, hubungan internasional merupakan studi tentang
interaksi antara jenis kesatuan-kesatuan sosial tertentu, termasuk studi tentang
keadaan relevan yang mengelilingi interaksi.

Menjalin hubungan internasional dan organisasi internasional kepada suatu bangsa yang
lain, juga mempunyai arti penting bagi negara tersebut sebagai berikut:
• Menciptakan suatu perdamaian dalam hidup berhubungan internasional dan sama
saling berdampingan satu sama lain.
• Dapat membantu menyelesaikan suatu masalah dengan sesama hubungan
internasional dengan secara damai.
• Sesama antar bangsa akan menjalin hubungan yang saling menghormati, dan juga
sama saling membangun kerja sama yang baik.
• Hubungan internasional yang terjadi pada negara akan juga menciptakan
ketertiban dunia dan ikut berpartisipasi.
• Antar negara sama-sama menjamin hidup bangsa dan negara-negara bangsa
lainnya yang saling menjalin hubungan internasional.

Sarana hubungan internasional adalah sebagai berikut:


1. Diplomasi
Hubungan internasional antar negara harus mempunyai masing-masing wakil yang
resmi untuk melakukan praktek ini merupakan arti dari diplomasi. Seluruh kegiatan
luar negeri antar negara dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa ini akan mengikut
sertakan dan meliputi oleh diplomasi. Karena diplomasi yang menentukan sumber daya
manusia dan juga kemampuan manusia untuk membentuk suatu tujuan.
2. Negosiasi
Negosiasi atau yang sering disebut perundingan ini, adalah suatu upaya sebagai
penyelesaian masalah negara yang mengalami perselisihan kepada beberapa negara
lainnya. Negosiasi juga menyelesaikan suatu pertentangan yang terjadi kepada suatu
negara dalam menjalankan adanya suatu perundingan.
3. Lobby
Lobby ini merupakan suatu kegiatan politik yang tujuannya untuk mempengaruhi
negara tertentu dengan memastikan bahwa pandangan kepentingan suatu negara bisa
tersampaikan. Suatu negara yang mempunyai sarana ini bertujuan untuk menjalin
hubungan kepada negara lain agar dapat berjalan dengan lancar dan damai.

Tiap–tiap negara yang telah mempunyai kedaulatan, akan menetapkan batas–batas daerah dan
ruang lingkup berlakunya hukum bagi warga negaranya, sehingga dalam hubungan
antarbangsa terdapat beberapa asas sesuai dengan pandangan dan pemikiran masing–masing
negara, yaitu sebagai berikut:
1. Asas Teritorial, asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas daerahnya,
2. Asas Kebangsaan, asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya,
3. Asas Kepentingan Umum, asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk
melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat.
ORGANISASI INTERNASIONAL YANG DIIKUTI INDONESIA

1. ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations)


Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer dengan
sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi
geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di
Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, dan Thailand. Sejak saat itu, lima negara lainnya telah bergabung:
Brunei pada 7 Januari 1984, Vietnam pada 28 Juli1995, Myanmar (Burma) dan Laos pada
23 Juli 1997, dan Kamboja pada 30 April 1999. Organisasi ini bertujuan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan
negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya,
serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan
damai.
Berikut adalah pendiri ASEAN, yakni:
1) Indonesia : Adam Malik
2) Malaysia : Tun Abdul Rozak
3) Singapura : S. Rajaratnam
4) Filipina : Narcisco Ramos
5) Thailand : Thanat Koman
Indonesia pernah mendapat mandat untuk menjadi Sekretaris Jenderal ASEAN, yakni
Hartono Rekso Dharsono pada 7 Juni 1976 – 18 Februari 1978 (pertama), Umarjadi
Notowijono pada 19 Februari 1978 – 30 Juni 1978 (kedua), serta Rusli Noor pada 17 Juli
1989 – 1 Januari 1993 (kedelapan). Sedangkan kini, Sekretaris Jenderal ASEAN dipegang
oleh Lim Jock Hoi tertanggal 1 Januari 2018 dari Brunei Darussalam.

Indonesia juga sebagai penyelenggara KTT ASEAN ke-1 di Bali pada 23‒24 Februari
1976, ke-9 di Bali pada 7‒8 Oktober 2003, ke-18 di Jakarta pada 4-8 Mei 2011, serta ke-
19 di Bali pada 17-19 November 2011.

Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Tak Resmi ASEAN


pertama pada 30 November 1996 di Jakarta serta Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa
ASEAN pertama pada 6 Januari 2005 di Jakarta yang membahas bagaimana
penanggulangan dan solusi menghadapi gempa atau tsunami.

2. PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) atau United Nations (UN)


Terbentuk pada tanggal 24 Oktober, 1945, PBB adalah sebuah organisasi internasional
yang anggotanya hampir diseluruh negara bagian dunia. Negara Indonesia bergabung
dengan PBB sebagai anggota ke-60 pada tanggal 28 September 1950. Pada masa
Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 7 Januari tahun 1965, sebagai reaksi atas terpilihnya
Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Soekarno marah, Indonesia
memutuskan untuk mundur dari PBB, dan mendirikan CONEFO, didukung Republik
Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Rakyat Korea, dan Republik Demokratik
Vietnam. Pada tanggal 28 September 1966, Majelis Umum PBB menindaklanjuti
keputusan pemerintah Indonesia tersebut dan mengundang perwakilan Indonesia untuk
menghadiri sidang kembali.

Indonesia menjadi anggota Majelis Umum PBB semenjak tahun 1951. Indonesia
pernah sekali ditunjuk sebagai Presiden Majelis Umum PBB pada tahun 1971, yang pada
saat itu diwakili oleh Adam Malik yang memimpin sesi ke-26 sidang Majelis Umum PBB.
Ia merupakan perwakilan Asia kedua yang pernah memimpin sidang tersebut setelah Dr.
Carlos Pena Romulo dari Filipina.

3. APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)


Organisasi kerjasama ekonomi regional di kawasan Asia Pasifik yang dibentuk pada
tahun 1989. Tujuan organisasi ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan
pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik, dan meningkatkan kerja sama ekonomi
melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi. Indonesia bergabung dengan
APEC pada tahun 1989.

KTT APEC diadakan setiap tahun di negara-negara anggota. Pertemuan pertama


organisasi APEC diadakan di Canberra, Australia pada tahun 1989. Indonesia pernah
diberi mandate untuk menyelenggarakan KTT APEC keenam yang menghasilkan
"Deklarasi Bogor" pada KTT 1994 di Bogor yang bertujuan untuk menurunkan bea cuka
hingga nol dan lima persen di lingkungan Asia Pasifik untuk negara maju paling lambat
tahun 2010 dan untuk negara berkembang selambat-lambatnya tahun 2020.

4. CGI (Consultative Group on Indonesia)


Kelompok Antarpemerintah bagi Indonesia (Intergovernmental Group on Indonesia;
disingkat IGGI) adalah sebuah kelompok internasional yang didirikan pada tahun 1967,
diprakarsai oleh Amerika Serikat untuk mengkoordinasikan dana bantuan multilateral
kepada Indonesia. IGGI mengadakan pertemuan pertamanya pada 20 Februari 1967 di
Amsterdam. Indonesia saat itu diwakili Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dari 1967
hingga 1974, IGGI mengadakan dua kali pertemuan setiap tahunnya, namun sejak 1975,
pertemuan hanya diadakan sekali dalam setahun karena perkembangan ekonomi Indonesia
yang membaik. Bantuan awal IGGI adalah dalam penyusunan program rencana lima tahun
Indonesia, Repelita I (1969-1973) dan pendanaan 60% darinya.

Pada Maret 1992, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa dana bantuan IGGI
akan ditolak jika organisasi tersebut masih diketuai Belanda. IGGI kemudianpun
digantikan Consultative Group on Indonesia (CGI). Keputusan ini juga terjadi setelah
Ketua IGGI, Jan Pronk, mengecam tindakan Indonesia terhadap pembunuhan para
pengunjuk rasa di Timor Timur pada tahun 1991 (Pembantaian Santa Cruz/Insiden Dili).

Pada tanggal 24 Januari 2007, Indonesia memutuskan untuk membubarkan CGI.


Keputusan membubarkan CGI murni dari pemerintah Indonesia dengan alasan utamanya
adalah bahwa CGI tidak lagi murni menjadi forum konsultasi perencanaan dan pendanaan
pembangunan Indonesia, namun telah dimanfaatkan sebagai forum politik negara-negara
donatur.

5. Konferensi Asia Afrika


Sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja
memperoleh KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (Burma), Sri Lanka
(Ceylon), India, dan Pakistan, dan dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri
Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955 pada Gedung
Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan
kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika
Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya. KTT Asia Afrika inilah yang
menghasilkan Dasasila Bandung.
Berikut tokoh pendiri KAA:
1) Indonesia : Ali Sastroamidjojo
2) Pakistan : Muhammad Ali Bogra
3) India : Jawaharlal Nehru
4) Sri Lanka : John Kotelawala
5) Myanmar : U Nu

6. Gerakan Non Blok (GNB)


Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement/NAM) adalah suatu organisasi
internasional yang terdiri dari lebih dari 100 negara-negara yang tidak menganggap dirinya
beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun. Tujuan dari organisasi ini,
seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah untuk menjamin
"kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara
nonblok" dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-
kolonialisme, apartheid, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi,
interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik. Mereka
merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keangotaan PBB.
Berikut tokoh pendiri GNB:
1) Indonesia : Ir. Soekarno
2) Yugoslavia : Joseph Bros Tito
3) Mesir : Gamal Abdul Nasser
4) India : Pandit Jawaharlal Nehru
5) Ghana : Kwame Nkrumah
Indonesia pernah menyelenggarakan KTT GNB ke-10 di Jakarta pada 1–6 September
1992. Dan pernah pula menjadi Sekretaris Jenderal GNB ke-15, yakni Presiden Soeharto
pada 1992 sampai 1995.

7. Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Organisasi Kerjasama Islam (dahulu Organisasi Konferensi Islam) adalah sebuah
organisasi internasional dengan 57 negara anggota yang memiliki seorang perwakilan
tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsa. OKI didirikan di Rabat, Maroko pada 12 Rajab 1389
H (25 September 1969) dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia Islam yang
diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjid Al Aqsa
pada 21 Agustus 1969 oleh pengikut fanatik Kristen dan Yahudi di Yerusalem. OKI
mengubah namanya dari sebelumnya Organisasi Konferensi Islam pada 28 Juni 2011.

8. G-20
G-20 adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah
dengan Uni Eropa. Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance
Ministers and Central Bank Governors. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum
yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang
untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Pertemuan perdana G-20
berlangsung di Berlin, 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman
dan Kanada.
PERJANJIAN INTERNASIONAL
Berikut beberapa syarat-syarat yang digunakan dan diharuskan dalam sebuah perjanjian
Internasional tersebut:
• Adanya beberapa negara yang tergabung dalam sebuah organisasi
• Mau, setuju dan bersedia dalam membuat sebuah jaringan atau ikatan hukum tertentu.
• Bisa melakukan mufakat dan sepakat dalam membuat sebuah perjanjian
• Mau dan bersedia dalam menanggung baragam akibat maupun segala masalah hukum
yang kemungkinan terjadi nantinya bila kesepakatan ini terjadi.

Dalam konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional disebutkan bahwa
dalam pembuatan perjanjian baik bilateral maupun multilateral dapat dilakukan melalui tahap-
tahap sebagai berikut:
1. Perundingan (negotiation)
Perundingan merupakan perjanjian tahap pertama antara pihak/negara tertentu yang
berkepentingan, di mana sebelumnya belum pernah diadakan perjanjian. Oleh karena
itu, diadakan penjajakan terlebih dahulu atau pembicaraan pendahuluan oleh masing-
masing pihak yang berkepentingan. Dalam melaksanakan negosiasi, suatu negara dapat
diwakili oleh pejabat yang dapat menunjukkan surat kuasa penuh (full powers). Selain
mereka, juga dapat dilakukan oleh kepala negara, kepala pemerintahan, menteri luar
negeri, atau duta besar.

2. Penandatanganan (signature)
Penandatanganan naskah perjanjian dilakukan oleh para menteri luar negeri atau kepala
pemerintahan. Untuk penandatanganan teks perundingan yang bersifat multilateral
dianggap sah apabila 2/3 suara peserta yang hadir memberikan suara, kecuali jika
ditentukan lain. Namun demikian, perjanjian belum dapat diberlakukan masing-masing
negara sebelum diratifikasi.

3. Pengesahan (ratification)
Ratifikasi merupakan suatu cara yang sudah melembaga dalam kegiatan perjanjian
internasional. Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat
apabila telah disahkan oleh badan yang berwenang di negaranya. Dengan dilakukannya
ratifikasi terhadap perjanjian internasional, secara resmi perjanjian internasional dapat
berlalu dan berkekuatan hukum.

Dalam Konvensi Wina tahun 1969, suatu perjanjian internasional dapat dinyatakan batal
karena hal-hal berikut:
• Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan hukum nasional oleh salah satu
negara peserta.
• Adanya unsur kesalahan pada saat perjanjian itu dibuat.
• Adanya unsur penipuan dari negara peserta tertentu terhadap negara peserta yang lain
pada waktu pembentukan perjanjian.
• Terdapat penyalahgunaan atau kecurangan (corruption), baik melalui kelicikan atau
penyuapan.
• Adanya unsur paksaan terhadap wakil suatu negara peserta. Paksaan tersebut baik
dengan ancaman atau dengan penggunaan kekuatan.
• Bertentangan dengan kaidah dasar hukum internasional.
Mochtar Kusumaatmadja dalam bukunya Pengantar Hubungan Kerja Sama Internasional
mengatakan bahwa suatu perjanjian berakhir karena hal-hal berikut.
• Telah tercapai tujuan perjanjian internasional.
• Masa berlaku perjanjian internasional sudah habis.
• Salah satu pihak peserta perjanjian menghilang atau punahnya objek perjanjian.
• Adanya persetujuan dari peserta untuk mengakhiri perjanjian.
• Adanya perjanjian baru di antara para peserta yang kemudian meniadakan perjanjian
yang terdahulu.
• Syarat-syarat tentang pengakhiran perjanjian yang sesuai dengan ketentuan perjanjian
sudah dipenuhi.
• Perjanjian secara sepihak diakhiri oleh salah satu peserta dan pengakhiran itu diterima
oleh pihak lain.

Ada bermacam-macam asas yang harus diperhatikan dan dipatuhi oleh subjek hukum yang
mengadakan perjanjian internasional. Asas-asas yang dimaksud seperti berikut ini.
1. Pacta Sunt Servanda, artinya setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati.
2. Egality Rights, artinya pihak yang saling mengadakan hubungan mempunyai
kedudukan yang sama.
3. Reciprositas, artinya tindakan suatu negara terhadap negara lain dapat dibalas setimpal.
4. Bonafides, artinya perjanjian yang dilakukan harus didasari oleh iktikad baik.
5. Courtesy, artinya asas saling menghormati dan saling menjaga kehormatan negara.
6. Rebus sic Stantibus, artinya dapat digunakan terhadap perubahan yang mendasar dalam
keadaan yang bertalian dengan perjanjian itu.

Pembagian jenis perjanjian internasional adalah sebagai berikut:


A. Perjanjian Internasional Berdasarkan Jumlah Peserta
Jika kita meninjau dari sisi jumlah atau banyaknya anggota dalam sebuah perjanjian
internasional maka akan ada 2 organisasinya jenis yaitu:
1. Perjanjian Internasional Bilateral
Perjanjian bilateral adalah perjanjian antara 2 negara atau organisasi tertentu dalam
mebuat sebuah perjanjian. Pihak yang terkait dalam perjanjian internasional
tersebut hanya ada 2 subjek hukum internasional saja. Biasanya peraturan atau
kaidah penetapan perjanjian bilateral tersebut bersifat closed treaty atau perjanjian
tertutup yang mana memastikan kedua belah pihak harus saling patuh terhadap
apapun yang diputuskan di dalam perjanjian tersebut nantinya. Contohnya
perjanjian bilateral di Indonesia dan India bidang pertahanan dan ekonomi pada
tahun 2011 serta perjanjian bilateral Indonesia dan Vietnam bidang kebudayaan dan
hukum pada tahun 2011.

2. Perjanjian Internasional Multilateral


Ini merupakan salah satu bentuk perjanjian internasional yang memiliki pihak-
pihak atau peserta yang akan terkait dan di jadikan sebagai peserta di dalam
perjanjian tersebut lebih dari 2 jenis subjek hukum atau banyak. Sedangkan jenis
perjanjian yang dihasilkan tidak bersifat tertutup melainkan bersifat terbuka atau
publik seperti tujuan perjanjian renville. Contoh Konvensi Wina 1969 yang
dilakukan oleh dua negara atau lebih untuk mengadakan akibat-akibat tertentu.
B. Perjanjian Internasional yang Ditinjau Dari Kaidah Hukum/Fungsinya
Ada beberapa pembagian Perjanian Internasional jika ditinjau dari kaidah hukum yang
telah dilahirkan dari perjanjian tersebut, yaitu:
1. Treaty Contract
Ini merupakan perjanjian khusus atau perjanjian tertutup yang berupa sebuah
perjanjian yang nantinya akan melahirkan hak-hak maupun kaidah hukum yang
akan mengikat atau berlaku kepada pihak yang terkait saja.
2. Law Making Treaty
Ini adalah sebuah perjanjian terbuka atau perjanjian umum yang biasanya akan
mendapatkan tinjauan dari isi kaidah hukum yang nantinya akan di lahirkan dari
jenis perjanjian tersebut. Dan kaidah ini akan diikuti oleh subjek hukum
internasional yang lainnya. Contohnya Konvensi Jenewa 1949 tentang
perlindungan bagi korban perang, Konvensi Wina 1961 tentang hubungan
diplomatik, serta Konvensi Jenewa 1958 tentang Hukum Laut.

C. Perjanjian Internasional Dari Segi Prosedur/Proses


Jika kita meninjai jenis dari perjanjian Internasional berdasarkan pembentukan atau
prosedur maka akan terbagi menjadi:
1. Perjanjian Internasional dari 2 Tahap
Ini adalah sebuah perjanjian yang akan sesuai dengan beragam masalah yang akan
memaksa untuk menyegerakan pelaksanaannya dan akan sesegera mungkin
diselesaikan. Kedua tahapan tersebut adalah negotiation atau negoisasi dan
signature atau persetujuan/tanda tangan.
2. Perjanjian Internasioal 3 Tahap
Berbeda dengan yang melalalui 2 tahap, disini perjanjian tersebut akan melalui 3
tahap penting yaitu negosiasi, persetujuan dan pengesahan.
Ada pula yang menyatakan bahwa perjanjian internasional dua tahap disebut
perjanjian sederhana dan perjanjian tiga tahap disebut perjanjian penting.

D. Perjanjian Internasional Berdasarkan Subjeknya


Berdasarkan subjeknya, perjanjian internasional terbagi atas:
1. Perjanjian antar banyak negara yang merupakan sumber subjek hukum
internasional.
2. Perjanjian antar negara dan subjek hukum lainnya. Contohnya organisasi
internasional Tahta Suci Vatikan dengan organisasi MEE.
3. Perjanjian antar sesama subjek hukum internasional selain dari negara, yaitu
perjanjian yang dilakukan antar organisasi-organisasi internasional lainnya.
Contohnya ASIAN dan MEE.

E. Perjanjian Internasional Berdasarkan Isinya


Berdasarkan isinya, perjanjian internasional terbagi atas:
1. Politik
Perjanjian internasional dalam segi politik adalah perjanjian yang mengenai politik.
Contohnya Pakta pertahanan dan perdamaian seperti NATO, ANZUS, dan
SEATO.
2. Ekonomi
Perjanjian internasional dalam segi ekonomi adalah perjanjian mengenai ekonomi.
Contohnya bantuan perekonomian dan perdagangan
3. Hukum
Perjanjian internasional dalam segi hukum adalah perjanjian yang mengenai
hukum. Contohnya status kewarganegaraan
4. Kesehatan
Perjanjian internasional dalam segi kesehatan adalah perjanjian yang mengenai
kesehatan. Contohnya karantina dan penanggulangan pada wabah penyakit.

F. Perjanjian Internasional Berdasarkan Istilah


Perkembangan sejarah perjanjian internasional telah menunjukkan makin kompleksnya
subjek maupun objek perjanjian internasional. Hal ini menimbulkan banyaknya istilah
perjanjian internasional seperti berikut.
1. Traktat (treaty)
Traktat (treaty) yaitu suatu perjanjian antara dua negara atau lebih untuk mencapai
hubungan hukum mengenai objek hukum (kepentingan) yang sama. Dalam hal ini,
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban yang mengikat dan mutlak,
dan harus diratifikasi. Istilah traktat digunakan dalam perjanjian internasional yang
bersifat politis. Misalnya, Treaty Contract tentang penyelesaian masalah dwi
kewarganegaraan tahun 1955, antara pihak Indonesia-RRC. Dan pada tahun 1990
antara RI dengan Australia juga menandatangani suatu traktat tentang batas landas
kontinen dan eksplorasi di celah Timor, yang dikenal dengan perjanjian “Celah
Timor”.

2. Agreement
Agreement yaitu suatu perjanjian/persetujuan antara dua negara atau lebih, yang
mempunyai akibat hukum seperti dalam treaty. Namun dalam agreement lebih
bersifat eksekutif/teknis administrative (non politis), dan tidak mutlak harus
diratifikasi, yaitu tidak perlu diundangkan dan disahkan oleh pemerintah/ kepala
negara. Walaupun ada agreement yang dilakukan oleh kepala negara, namun pada
prinsipnya cukup dilakukan dengan ditandatangani oleh wakil-wakil departemen
dan tidak perlu ratifikasi. Misalnya, agreement tentang ekspor impor komoditas
tertentu.

3. Konvensi
Konvensi yaitu suatu perjanjian/persetujuan yang lazim digunakan dalam
perjanjian multilateral. Ketentuan-ketentuannya berlaku bagi masyarakat
internasional secara keseluruhan (lawmaking treaty). Misalnya, Konvensi Hukum
Laut Internasional tahun 1982 di Montego-Jamaica.

4. Protokol
Protokol yaitu suatu perjanjian/persetujuan yang kurang resmi dibandingkan
dengan traktat dan konvensi, sebab protokol hanya mengatur masalah-masalah
tambahan, seperti penafsiran klausul-klausul atau persyaratan perjanjian tertentu.
Oleh karena itu, lazimnya tidak dibuat oleh kepala negara. Contohnya, protokol
Den Haag tahun 1930 tentang perselisihan penafsiran undang-undang nasionalitas
tentang wilayah perwalian, dan lain-lain.

5. Piagam (statuta)
Piagam (statuta) yaitu himpunan peraturan yang ditetapkan sebagai persetujuan
internasional, baik mengenai lapangan-lapangan kerja internasional maupun
mengenai anggaran dasar suatu lembaga. Misalnya Statuta of The International
Court of Justice pada tahun 1945. Adakalanya piagam itu digunakan untuk alat
tambahan/lampiran pada konvensi. Umpamanya Piagam Kebebasan Transit yang
dilampirkan pada Convention of Barcelona tahun 1921.
6. Charter
Charter yaitu piagam yang digunakan untuk membentuk badan tertentu. Misalnya,
The Charter of The United Nation tahun 1945 dan Atlantic Charter tahun 1941.

7. Deklarasi (declaration)
Deklarasi (declaration) yaitu suatu perjanjian yang bertujuan untuk memperjelas
atau menyatakan adanya hukum yang berlaku atau untuk menciptakan hukum baru.
Misalnya Universal Declaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember 1948.

8. Covenant
Covenant yaitu suatu istilah yang digunakan dalam pakta Liga Bangsa-Bangsa
pada tahun 1920, yang bertujuan untuk menjamin terciptanya perdamaian dunia,
meningkatkan kerja sama internasional, dan mencegah terjadinya peperangan.

9. Ketentuan penutup (final act)


Ketentuan penutup (final act) yaitu suatu dokumen yang mencatat ringkasan hasil
konferensi. Di sini disebutkan tentang negara-negara peserta dan nama-nama
utusan yang ikut berunding serta tentang hal-hal yang disetujui dalam konferensi
itu, termasuk interpretasi ketentuan-ketentuan hasil konferensi.

10. Modus vivendi


Modus vivendi adalah suatu dokumen yang mencatat persetujuan internasional
yang bersifat sementara, sampai berhasil diwujudkan secara permanen. Modus
vivendi tidak memerlukan ratifikasi. Modus vivendi ini biasanya digunakan untuk
menandai adanya perjanjian yang baru dirintis.
PERWAKILAN DIPLOMATIK DAN KONSULER
A. Perwakilan Diplomatik
Perwakilan diplomatik adalah hubungan diantara negara-negara dalam kehidupan
internasional untuk menjalin persahabatan dan kerja sama, dengan mengirimkan perwakilan
tetap antara satu negara dengan negara lain. Hak untuk mengirimkan dan kewajiban untuk
menerima perwakilan diplomatik suatu negara merupakan kebebasan yang dimiliki oleh
hampir seluruh negara merdeka sebagai salah satu atribut dari kedaulatannya. Menurut Kepres
Nomor 108 Tahun 2003 tentang Organisasi Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri,
perwakilan diplomatik adalah kedutaan besar Republik Indonesia dan perutusan tetap Republik
Indonesia yang melakukan kegiatan diplomatik di seluruh wilayah negara penerima dan/atau
pada organisasi internasional untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa,
negara dan pemerintah Republik Indonesia.

Secara umum, seorang perwakilan diplomatik mempunyai tugas dan fungsi yang
mencakup hal-hal berikut ini.
• Representasi, yaitu selain untuk mewakili pemerintah negaranya, ia juga dapat
melakukan protes, mengadakan penyelidikan dengan pemerintah negara
penerima. Ia mewakili kebijaksanaan politik pemerintah negaranya.
• Negosiasi, yaitu mengadakan perundingan atau pembicaraan baik dengan negara
tempat ia diakreditasikan maupun dengan negara-negara lainnya.
• Observasi, yaitu menelaah dengan teliti setiap kejadian atau peristiwa di negara
penerima yang mungkin dapat mempengaruhi kepentingan negaranya.
• Proteksi, yaitu melindungi pribadi, harta benda dan kepentingankepentingan
warga negaranya yang berada di luar negeri.
• Persahabatan, yaitu meningkatkan hubungan persahabatan antara negara
pengirim dengan negara penerima, baik di bidang ekonomi, kebudayaan maupun
ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ada beberapa tingkatan-tingkatan perwakilan diplomatik, sebagai berikut:


1. Duta besar berkuasa penuh
Perwakilan diplomatik yang mempunyai kekuasaan penuh dan luar biasa dan biasanya
ditempatkan di negara negara yang banyak menjalin hubungan timbal balik. Duta besar
mewakili kepala negaranya, memberikan perlindungan terhadap kepentingan dan nama
baik negaranya. Duta besar dapat langsung beraudiensi dengan kepala negara,
sedangkan perwakilan diplomatik lainnya, hendaklah dengan perantaraan menteri luar
negeri.
2. Duta
Perwakilan diplomatik yang dalam menyelesaikan persoalan kedua negara harus
berkonsultasi dahulu dengan pemerintahnya.
3. Menteri Residen
Status menteri residen bukan sebagai wakil pribadi kepala negara melainkan hanya
mengurus urusan negara.
4. Kuasa Usaha
Perwakilan diplomatik yang tidak diperbantukan kepada kepala negara, melainkan
kepada menteri luar negeri. Dibedakan menjadi dua, yakni:
• Kuasa usaha tetap menjabat kepala dari suatu perwakilan
• Kuasa usaha sementara yang melaksanakan pekerjaan dari kepala perwakilan
ketika pejabat ini belum atau tidak ada di tempat
5. Atase
Lembaga ahli kedutaan atau pejabat pembantu dari duta besar berkuasa penuh.
Kedudukannya berpindah–pindah tergantung tempat ia ditugaskan, tidak mesti di ibu
kota negara. Atase ini terbagi menjadi dua yaitu:
• Atase pertahanan
Atase ini dijabat oleh seorang perwira militer yang diperbantukan depertemen
luar negeri dan diperbantukan di kedutaan besar serta diberikan kedudukan
sebagai seorang diplomat yang bertugas memberikan nasihat di bidang militer
dan pertahanan keamanan kepada duta besar berkuasa penuh.
• Atase teknis
Atase ini dijabat oleh seorang pegawai negeri yang tidak berasal dari
departemen luar negeri dan ditempatkan di salah satu kedutaan besar, atase ini
berkuasa penuh dalam menjalankan tugas tugas teknis sesuai dengan tugas
pokok dari departemennya sendiri.

B. Perwakilan Konsuler
Pembukaan hubungan konsuler terjadi dengan persetujuan timbal balik, baik secara
sendiri maupun tercakup dalam persetejuan pembukaan hubungan diplomatik. Walaupun
demikian, pemutusan hubungan diplomatik tidak otomatis berakibat pada putusnya hubungan
konsuler. Konsul biasanya mengurus di bidang ekonomi misalnya perdagangan. Bertugas
dalam membina hubungan non politik dengan negara lain. Ada konsuler yang bersifat tetap
dan ada konsuler kehormatan. Tugas pokok konsul kehormatan adalah menghubungkan
perdagangan ke dua negara. Pejabat ini tidak mendapat gaji, melainkan mendapat honoraruium
atas jasa-jasanya.
Ada beberapa tingkatan-tingkatan perwakilan konsuler, sebagai berikut:
1. Konsul Jenderal
Konsul Jenderal membawahi beberapa konsul yang ditempatkan di ibukota negara
tempat ia bertugas.
2. Konsul
Konsul mengepalai satu kekonsulan yang kadang kadang diperbantukan kepada konsul
jenderal.
3. Wakil Konsul
Wakil konsul diperbantukan kepada konsul atau konsul jenderal yang kadang diserahi
pimpinan kantor konsuler.
4. Agen Konsul
Agen konsul diangkat oleh konsul jenderal dengan tugas untuk mengurus hal hal yang
bersifat terbatas dan berhubungan dengan kekonsulan. Agen konsul ini ditugaskan di
kota kota yang termasuk kekonsulan.

Tugas perwakilan konsuler terbagi dalam bidang:


1. Bidang Ekonomi, seperti menciptakan tata ekonomi dunia baru dengan menggalakkan
ekspor komoditas nonmigas, promosi perdagangan, mengawasi pelayanan, pelaksanaan
perjanjian perdagangan, dan lain-lain.
2. Bidang Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan, seperti tukar-menukar pelajar, mahasiswa,
dan lain-lain.
3. Bidang-bidang lain, seperti mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa,
negara, dan Pemerintah Republik Indonesia; melindungi kepentingan Warga Negara
Indonesia dan Badan Hukum Indonesia melalui pelaksanaan hubungan kekonsuleran
dengan negara penerima; menfasilitasi hubungan perdagangan dan persahabatan,
termasuk peningkatan hubungan ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan kebijakan
Politik dan Hubungan Luar Negeri Pemerintah Republik Indonesia, peraturan
perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional;
mengeluarkan paspor dan visa atau dokumen perjalanan kepada warga negara
pengirim; serta bertindak sebagai notaris dan panitera sipil, melakukan fungsi
administratif yang tidak bertentangan dengan peraturangnegara penerima.

C. Perbedaan Perwakilan Diplomatik dan Konsuler


Perbedaan mendasar antara duta dan konsul adalah sebagai berikut:
Perbedaan Duta Konsul
Hal yang diurusi Politik dan pemerintahan Ekonomi, perdagangan, pendidikan,
dan sosial budaya
Kedudukan Ibu kota negara Kota-kota pusat perdagangan
Jumlah Satu duta untuk satu negara Boleh lebih dari 1 konsul untuk satu
negara
Pengangkatan Letter of creadance (surat Exequatur (surat pengangkatan)
kepercayaan)
Tanggung jawab Presiden melalui Menteri Luar Menteri Luar Negeri
Negeri
Sedangkan pada tingkatannya, perwakilan diplomatik dan konsuler memiliki perbedaan
sebagai berikut:
Duta Konsul
1. Duta besar adalah perwakilan diplomatik 1. Konsul Jenderal membawahi beberapa
yang ditempatkan di negara dengan konsul yang umumnya ditempatkan di
hubungan yang sangat erat. ibukota negara.
2. Duta adalah perwakilan diplomatik yang 2. Konsul mengepalai satu kekonsulan yang
ditempatkan di negara yang tidak banyak terkadang diperbantukan ke konsul
hubungan timbal balik. jenderal.
3. Menteri Residen adalah perwakilan 3. Wakil Konsul diperbantukan kepada
diplomatik yang hanya mengurus urusan konsul atau konsul jenderal.
negara. 4. Agen Konsul diangkat konsul jenderal
4. Kuasa Usaha adalah perwakilan dengan tugas mengurus hal yang bersifat
diplomatik yang diperbantukan kepada terbatas. Agen konsul umumnya
menteri luar negeri. ditugaskan di kota-kota kekonsulan.
5. Atase adalah pejabat pembantu duta
besar, bisa berupa atase pertahanan atau
atase teknis.

D. Persona Non Grata


Pejabat diplomatik dan konsuler lainnya biasanya dinyatakan persona non grata hanya
apabila kemanfaatannya dirusak dengan pernyataan-pernyataan politiknya yang tidak
bijaksana, campur tangan masalah dalam negeri negara tuan rumah atau terlibat dalam kegiatan
spionase di bawah kedok statusnya.
Negara penerima, setiap waktu dan tanpa harus memberikan penjelasan atas
keputusannya, dapat membertitahukan kepada negara pengirim bahwa kepala perwakilan atau
salah seorang anggota staf diplomatik dari perwakilannya adalah persona non grata atau bahwa
salah seorang staf perwakilan tersebut tidak dapat diterima dengan baik. Dalam keadaan
demikian, negara pengirim sepatutnya harus memanggil kembali orang yang bersangkutan atau
mengakhiri tugasnya pada perwakilan. Seseorang dapat diterima baik sebelum tiba di wilayah
negara penerima.
Jikalau pengirim menolak atau tidak mampu dalam jangka waktu yang pantas untuk
melaksanakan kewajibannya tersebut. Negara penerima dapat menolak untuk mengakui orang
tersebut sebagai seorang anggota perwakilan.