Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Bioteknologi adalah upaya pemanfaatan makhluk hidup dengan menggunakan


prinsip-prinsip ilmiah untuk menghasilkan produk atau jasa yang berguna bagi manusia.
Pemanfaatan bioteknologi bagi kehidupan manusia diantaranya digunakan dalam bidang
pertanian, kesehatan, peternakan, dan lingkungan.

Bioteknologi lingkungan adalah bioteknologi yang penggunaannya banyak


melibatkan mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Salah satu aplikasi dari bioteknologi lingkungan adalah biogas.

Beberapa tahun terakhir ini, energi merupakan persoalan yang krusial di dunia.
Dengan meningkatnya permintaan dan keperluan akan bahan bakar fosil yang menimbulkan
hilangnya BBM dan gas Elpiji di pasaran, Sedangkan cadangan minyak bumi semakin
menipis di karnakan penggunaan bahan bakar fosil yang melampaui batas,
Dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia akan memberikan dampak buruk
bagi negara berkembang termasuk Indonesia, dampak yang paling signifikan terlihat  dari
langkanya bahan bakar Gas Elpiji. Beberapa ilmuan telah mencetuskan penggunaan biogas
sebagai bahan bakar alternatif, biogas berasal dari berbagai bahan, contohnya dari kotoran
manusia, kotoran hewan/ternak dan dari sampah organik.
Selain permasalahan dengan minyak bumi,di Indonesia juga sedang mengalami
penumpukan sampah dan pengolahan sampah. Sampah bisa digolongkan menjadi sampah
organik dan anorganik. Sampah organik bisa digunakan untuk menjadi bahan baku
pembuatan biogas,sedangkan sampah anorganik yang tidak bisa diurai oleh mikroorganisme
dapat di buat kerajinan seperti tas dari limbah plastik atau yang terbaru ini bekas botol plastik
di isi sampah lain di gunakan untuk pengganti batu bata. Dengan memanfaatkan sampah
organik khususnya sayuran kita bisa membuat Biogas dan  dapat mengurangi permasalahan
kelangkaan Gas Elpiji dan mengurangi sampah organik.

I.2 TUJUAN
1. Mengerahui apa itu bioteknologi lingkungan.
2. Mengetahui aplikasi bioteknologi dibidang lingkungan.

1
I.3. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan bioteknologi lingkungan?
2. Apa saja aplikasi dari bioteknologi dibidang lingkungan?

2
BAB II

ISI

II. 1 PENGERTIAN BIOTEKNOLOGI LINGKUNGAN

Bioteknologi lingkungan adalah salah satu pemanfaatan bioteknologi yang banyak


melibatkan mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Peningkatan kualitas lingkungan tersebut seperti pencegahan terhadap
masuknya berbagai polutan agar lingkungan tidak terpolusi, membersihkan lingkungan yang
terkontaminasi oleh polutan, dan memberdayakan sumberdaya alam yang masih memiliki
nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.

II. 2 APLIKASI BIOTEKNOLOGI LINGKUNGAN

II. 2. 1 BIOGAS
A. Pengertian Biogas
Biogas adalah gas yang mudah terbakar dan dihasilkan oleh aktifitas anaerob atau
fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran hewan dan sampah
organik, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik
yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana
dan karbon dioksida. sistem biogas sederhana. Disamping itu di daerah yang banyak industri
pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan
saluran limbahnya ke dalam system biogas. Sehingga limbah industri tersebut tidak
mencemari lingkungan disekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut
diatas berasal dari bahan organik yang homogen.
Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem biogas
disamping parameter-parameter lain seperti tempratur digester, pH, tekanan dan kelembaban
udara. Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan masukan
sistem Biogas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau
disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa
aktifitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-
20.
Biogas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik sangat populer digunakan untuk
mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan
bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas,

3
bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih
besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang
peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang
lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon
dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman,
sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer
bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik
dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi
mekanis pada tempat pengolahan limbah.
Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang dibuang di landfill.
Sampah ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan dari lapisan diatasnya. Karena
kondisinya menjadi anaerobik, bahan organik tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan. Gas
ini semakin berkumpul untuk kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini menjadi
berbahaya karena dapat menyebabkan ledakan, pemanasan global melalui metana yang
merupakan gas rumah kaca, dan material organik yang terlepas (volatile organic compounds)
dapat menyebabkan (photochemical smog).
Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses pembakaran,
silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan dilepaskan dan dapat bereaksi dengan
oksigen bebas atau elemen-elemen lain yang terkandung dalam gas tersebut. Akibatnya akan
terbentuk deposit (endapan) yang umumnya mengandung silika (SiO2) atau silikat (SixOy) ,
tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung kalsium, sulfur belerang, zinc (seng), atau
fosfor. Deposit-deposit ini (umumnya berwarna putih) dapat menebal hingga beberapa
millimeter di dalam mesin serta sangat sulit dihilangkan baik secara kimiawi maupun secara
mekanik.
Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran internal), deposit pada
piston dan kepala silinder bersifat sangat abrasif, hingga jumlah yang sedikit saja sudah
cukup untuk merusak mesin hingga perlu perawatan total pada operasi 5.000 jam atau
kurang. Kerusakan yang terjadi serupa dengan yang diakibatkan karbon yang timbul selama
mesin diesel bekerja ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan menurukan efisiensi
charger tersebut.
Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan, walaupun deposit pada tabungnya dapat
mengurangi efisiensi.

4
B. Sejarah Biogas
Biogas merupakan suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses
fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen (Prihandana & Hendroko
2008). Biogas juga merupakan gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran
ternak, kotoran manusia, jerami, sekam, dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau
mengalami proses metanisasi. Proses metanisasi menghasilkan gas yang kaya akan methane
dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi
sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos (Hambali 2007).
Pada awal perkembangan biogas, Kebudayaan Mesir, Cina dan Roma kuno diketahui
telah memanfaatkan gas alam dengan cara dibakar untuk menghasilkan panas. Sejarah
penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan biogas tersebar di benua Eropa.
Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun
1770, beberapa dekade kemudian Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana. Setelah
tahun 1875, dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion.
Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era
penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini .
Sejak tahun 1975, instalasi biogas mulai diperkenalkan di Cina. Cina memiliki biogas
dengan skala rumah tangga dan telah dimanfaatkan oleh sepertiga rumah tangga di pedesaan.
Tahun 1992, sekitar lima juta rumah tangga menggunakan instalasi biogas sehingga biogas
merupakan bahan bakar utama penduduk Cina.Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah
model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak dan manusia serta limbah pertanian.
Tahun 1981 mulai dikembangkan instalasi biogas di India. Pengembangan instalasi biogas
dilakukan oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional melalui program “The
National Project on Biogas Development” dengan melakukan riset terhadap pengembangan
model instalasi biogas. Reaktor biogas yang digunakan sama dengan reaktor biogas yang
dikembangkan di Cina yaitu menggunakan model sumur tembok dan dengan drum serta
dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian. Tahun 1999, sekitar tiga juta rumah
tangga di India menggunakan instalasi biogas.
Teknologi biogas mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an. Pada
awalnya teknik pengolahan limbah dengan instalasi biogas dikembangkan di wilayah
pedesaan, tetapi saat ini teknologi ini sudah mulai diterapkan di wilayah perkotaan. Pada
tahun 1981, pengembangan instalasi biogas di Indonesia dikembangkan melalui Proyek
Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari Food and Agriculture Organization
(FAO) dengan dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Mulai tahun 2000-an

5
telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana
yang terbuat dari plastik secara siap pasang dan dengan harga yang relatif murah.

C. PROSES PEMBUATAN
Pembentukan biogas terjadi pada proses anaerobyaitu kedap udara. Pembentukan
biogas terdiri daritiga tahapan yaitu tahap hidrolisis, asifikasi dan metanogenesis.
a) Tahap hidrolisis
Pada tahap hidrolisis terjadi pemecahan polimer menjadi polimer yang lebih
sederhana oleh enzim dan dibantu dengan air. Enzim tersebut dihasilkan oleh bakteri yang
terdapat dari bahan-bahan organik. Bahan organik bentuk primer dirubah menjadi bentuk
monomer. Contohnya lidnin oleh enzim lipase menjadi asam lemak. Protein oleh enzim
protease menjadi peptide dan asam amino. Amilosa oleh enzim amylase dirubah menjadi gula
(monosakarida). Tahapan pembentukan biogas terlihat seperti Gambar 1.
b) Tahap pengasaman (asidifikasi)
Pada tahap pengamasaman, bakteri merubah polimer sederhana hasil hidrolisis
menjadi asam asetat, hidrogen (H2) dan karbondioksida (CO2). Untuk merubah menjadi
asam asetat, bakteri membutuhkan oksigen dan karbon yang diperoleh dari oksigen terlarut
yang terdapat dalam larutan. Asam asetat sangat penting dalam proses selanjutnya, digunakan
oleh mikroorganisme untuk pembentukan metan.
c) Tahap pembentukan gas metan
Pada tahap ini senyawa dengan berat molekul rendah didekomposisi oleh bakteri
metanogenik menjadi senyawa dengan berta molekul tinggi.Contoh bakteri ini menggunakan
asam asetat, hidrogen (H2) dan karbon dioksida (CO2) untuk membentuk metana dan karbon
dioksida (CO2). Bakteri penghasil metan memilikikondisi admosfer yang sesuai akibat proses
bakteri penghasil asam. Asam yang dihasilkan oleh bakteri pembentuk asam digunakan oleh
bakteri pembentuk metan. Tanpa adanya peroses simbiotik tersebut, maka akan menimbulkan
racun bagi mikroorganisme penghasil asam.

6
Gambar 1. Tahapan pembentukan biogas

II. 2. 2 BIOREMEDIASI
A. Pengertian Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses degradasi biologis dari sampah organik pada kondisi
terkontrol menjadi suatu bahan yang tidak berbahaya atau konsentrasinya di bawah batas
yang ditentukan oleh lembaga berwenang. Sedangkan menurut United States Environmental
Protection Agency, bioremediasi adalah suatu proses alami untuk membersihkan bahan-
bahan kimia berbahaya. Ketika mikroba mendegradasi bahan berbahaya tersebut,akan
dihasilkan air dan gas tidak berbahaya seperti CO2.

B. Jenis-jenis Bioremediasi
1. Fitoremediasi
Fitoremediasi merupakan proses teknologi yang menggunakan tumbuhan untuk
memulihkan tanah yang tercemar oleh bahan polutan secara in situ. Teknologi ini dapat
ditunjang dengan peningkatan perbaikan media tumbuh dan ketersediaan mikroba tanah
untuk meningkatkan efesiensi dalam proses degradasi bahan polutan. Proses fitoremediasi
bermula dari akar tumbuhan yang menyerap bahan polutan yang terkandung dalam air.

7
Kemudian melalui proses transportasi tumbuhan, air yang mengandung bahan polutan
dialirkan keseluruh tubuh tumbuhan, sehingga air yang menjadi bersih dari polutan.
Tumbuhan ini dapat berperan langsung atau tidak langsung dalam proses remediasi
lingkungan yang tercemar. Tumbuhanyang tumb uh di lokasi yang tercemar belum tentu
berperan aktif dalam penyisihan kontaminan, kemungkinan tumbuhan tersebut berperan
secara tidak langsung. Agen yang berperan aktif dalam biodegradasi polutan adalah
mikroorganisme tertentu, sedangkan tumbuhan dapat berperan memberikan fasilitas 12
penyediaan akar tumbuhan sebagai media pertumbuhan mikroba tanah sehingga pertumbuhan
lebih cepat berkembang biak.
2. Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah
yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteriremediasi yang telah ada
di dalam air atau tanah tersebut. ·

3. Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu
ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan
dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang
ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar
agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya
mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang
dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi. ·

4. Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

8
BAB III
PENUTUP

III. 1 Kesimpulan
Bioteknologi lingkungan adalah bioteknologi yang penggunaannya banyak
melibatkan mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Aplikasi dari bioteknologi lingkungan diantaranya adalah biogas
bioremediasi.
Biogas merupakan salahsatu alternatif energi yang dapat digunakan dimana tahapan
pembentukannya meliputi tahap hidrolisis, asidifikasi, dan metagenesis. bioremediasi adalah
suatu proses alami untuk membersihkan bahan-bahan kimia berbahaya.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://liciaica.blogspot.co.id/2013/05/jenis-jenis-bioremediasi.html
http://bengkelbiologi.blogspot.co.id/2012/02/bioteknologi-lingkungan.html
http://digilib.unila.ac.id/1037/8/BAB%202.pdf

10