Anda di halaman 1dari 27

Pelatihan Budaya Kerja Organisasi

Kementerian Kelautan dan Perikanan

Mitigasi Risiko

Dibawakan oleh:
Aris Suyono, S.E, M.Ak
Kepala Sub Bagian Kepatuhan dan Risiko Laporan Keuangan
Biro Keuangan, Sekretariat Jenderal.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Peraturan Pemerintah No.60 Tahun 2008


Proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh
pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas
tercapainya tujuan
organisasi melalui 1 pengamanan aset negara
4
kegiatan yang efektif dan
efisien

ketaatan terhadap
keandalan pelaporan
2 3 peraturan perundang-
keuangan
undangan

Pemantauan Lingkungan
Pengendalian Intern Pengendalian
5 1
5
Unsur
Informasi dan SPIP 2 Penilaian
komunikasi 4 Risiko

3
Kegiatan
Pengendalian
5 Unsur SPIP 1 Lingkungan pengendalian:
lingkungan dlm seluruh organisasi yg
menimbulkan perilaku positif dan mendukung
pengendalian intern serta manajemen yang sehat
Penilaian Risiko:
penilaian atas risiko yang dihadapi unit 2
organisasi baik yang berasal dari luar
maupun dalam organisasi Kegiatan Pengendalian:
tindakan yang diperlukan utk mengatasi risiko, penetapan
3
dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur utk memastikan
bahwa tindakan mengatasi resiko telah dilaksanakan
secara efektif

Informasi dan Komunikasi:


penyediaan data yang akan digunakan dan
4
pengkomunikasiannya agar dapat
mengetahui umpan balik

Pemantauan (monitoring):
5 proses penilaian atas mutu kinerja SPI dan tindak lanjut
atas temuan audit dan evaluasi lainnya
Penegakan Integritas dan Etika
Komitmen terhadap Kompetensi
Ps. 4
Kepemimpinan yang Kondusif
Lingkungan Struktur Organisasi yang Sesuai Kebutuhan
Pengendalian Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan SDM
Peran APIP yang Efektif
Ps. 13 Hubungan Kerja yang Baik

Identifikasi Risiko
Penilaian Risiko
Analisis Risiko

Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah


Pembinaan Sumber Daya Manusia
Pengendalian Pengelolaan Sistem Informasi
Ps. 18
SPIP Pengendalian Fisik atas Aset
Penetapan & Reviu Indikator & Ukuran Kinerja
Kegiatan
Pemisahan Fungsi
Pengendalian
Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting
Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu
Pembatasan Akses atas Sumber Daya
Akuntabilitas terhadap Sumber Daya
Ps. 41
Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern
Informasi &
Sarana Komunikasi
Komunikasi
Sistem Informasi

Pemantauan Pemantauan Berkelanjutan


Pengendalian Evaluasi Terpisah
Intern Ps. 43 Tindak Lanjut
Risiko:
Adalah kemungkinan kejadian dan pengaruh dari
ketidakpastian (uncertainty) yang mengancam
pencapaian tujuan dan sasaran instansi pemerintah d a l i an a s
e n ge n ak ti fi t
p
s i keb

RISiKo
i fika ijak
en t an
id

analysis
Kegiatan
Kepemimpinan,Risiko dan Kegiatan Pengendalian
Pasal 7 huruf a.
What Should Kepemimpinan yang kondusif
I do ? sekurang-kurangnya ditunjukkan
dengan mempertimbangkan risiko
dalam pengambilan keputusan;
1
Pasal 13 ayat (1)
Pimpinan Instansi Pemerintah
2 wajib melakukan penilaian
risiko.

Pasal 18 ayat (1)


Pimpinan Instansi Pemerintah wajib
3 menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai
dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas
dan fungsi Instansi Pemerintah yang bersangkutan

4 Pasal 18 ayat (2) huruf b


kegiatan pengendalian harus dikaitkan
dengan proses penilaian risiko.
Dampak Kelemahan Sistem Pengendalian Intern
TUSI

Pengadaan
Barang/jasa Pengelolaan
BMN

kebijakan
Pelaporan
keuangan

PNBP
Pengelolaan
kinerja
Per Men KP No.10/2016
tentang
Penyelenggaraan SPIP
Internal Control Culture
Di Lingkungan Membangun budaya pengendalian intern untuk menciptakan
Kementerian pengendalian intern yang handal agar tercapai keyakinan yang
Kelautan dan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui
Perikanan kegiatan yang
efisien dan 1
efektif
keandalan
2 pelaporan
keuangan
pengamanan
aset negara 3
ketaatan terhadap peraturan
4 perundang-undangan di lingkungan
Kementerian
Prinsip-Prinsip Umum Penyelenggaraan SPIP
1. Sistem Pengendalian Intern (SPI) sebagai proses yang integral dan menyatu dengan
instansi atau kegiatan secara terus-menerus.
SPI mempunyai sifat yang holistik yaitu merupakan bagian integral dan menyatu dalam setiap
sistem yang digunakan manajemen untuk mengatur dan mengarahkan kegiatannya dan bukan
suatu sistem yang terpisah dari seluruh kegiatan manajemen.

2. Efektivitas SPI Dipengaruhi Manusia


Efektivitas penerapan sistem pengendalian intern sangat dipengaruhi oleh manusia sebagai
pelaksananya, yaitu pimpinan dan seluruh pegawai dalam instansi. Manajemen menetapkan
tujuan, merancang dan melaksanakan mekanisme pengendalian, memantau, serta
mengevaluasi pengendalian. Selanjutnya pimpinan dan seluruh pegawai dalam instansi
mempunyai peranan penting dalam membangun komitmen untuk melaksanakan pengendalian
yang telah direncanakan secara efektif.
3. SPI Memberikan Keyakinan Yang Memadai, Bukan Keyakinan Yang Mutlak.
Pengendalian intern yang sudah direncanakan dengan baik, belum dapat menjamin secara
mutlak bahwa tujuan akan tercapai secara efektif. Hal tersebut disebabkan apabila pimpinan
dan pegawai melakukan pertimbangan yang keliru, pengabaian, dan adanya kolusi dalam
pelaksanaannya.

4. Penerapan SPI Disesuaikan Dengan Kebutuhan, Ukuran, Kompleksitas, Sifat Tugas Dan
Fungsi
Pengendalian intern dirancang sebagai alat bantu dalam mencapai tujuan organisasional dan
operasional. Bentuk, luas cakupan, dan kedalaman pengendalian disesuaikan dengan
kebutuhan, ukuran, kompleksitas, sifat tugas dan fungsi satuan kerja.

5. SPI berfungsi sebagai Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)


Sistem pengendalian intern berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system)
yang dapat dimanfaatkan oleh pimpinan dan pegawai untuk mendeteksi dan mencegah
adanya risiko yang akan menghambat dalam proses pencapaian tujuan. Selanjutnya
diperlukan adanya pendekatan manajemen risiko (tata kelola pengendalian risiko) untuk
meminimalisasi risiko dan mengurangi dampak agar tujuan organisasional dan tujuan
operasional dapat tercapai secara efektif. Strategi dan kebijakan penyelenggaran tersebut di
lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan tertuang didalam tahapan penyelenggaraan
SPIP.
Efektivitas Penyelenggaraan SPIP Yes, Iam
ready

Pasal 11, ayat 4


Pimpinan Unit Eselon I dan Kepala Satuan Kerja
bertanggung jawab terhadap efektivitas
penyelenggaraan SPIP di lingkungannya masing-
masing dalam pelaksanaan kegiatan tugas dan
fungsi
Tolok Ukur Efektifitas Penyelenggaraan SPIP
Pasal 11
(Ayat 5)
Sekurang kurangnya tidak ada hambatan:
a. yang mengganggu pencapaian tujuan unit eselon I atau satuan kerja;
b. yang mempengaruhi kehandalan pertanggungjawaban keuangan satuan kerja;
c. dalam pengelolaan aset termasuk pemanfaatannya di satuan kerja;
d. dalam menjalankan dan pencapaian tujuan program, kegiatan, dan output dengan
tetap taat terhadap hukum dan peraturan;
e. dalam mewujudkan pelayanan publik yang efektif dan efisien; dan
f. dalam pemenuhan hak dan kewajiban pegawai.

(Ayat 6)
Pencapaian tolok ukur sekurang-kurangnya dapat diukur dari Laporan Hasil Pemeriksaan
BPK maupun laporan hasil pengawasan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan
dari instansi lainnya
Penyelenggaraan SPIP

3
Pasal 14 ayat 1
diintegrasikan pada semua kegiatan yang meliputi tahap Jenis
perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban sampai
dengan pemanfaatan yang dilaksanakan melalui kegiatan Pengendalian
pengendalian rutin, pengendalian berkala, dan
pengendalian dengan pendekatan manajemen risiko.

1 2 3
Pengendalian Rutin Pengendalian Berkala Pengendalian Dengan
pengendalian secara simultan pengendalian yang dilakukan Pendekatan Manajemen
terhadap proses bisnis secara berkala dan terjadwal Risiko.
kegiatan/aktivitas sesuai dalam suatu kurun waktu
tertentu dengan cara pengendalian yang
dengan aturan dan standar
menghimpun informasi dilakukan sebagai upaya
yang berlaku dan dilakukan
mengenai kegiatan/aktivitas untuk mencegah dan
setiap hari sebagai upaya
tertentu yang masih berjalan meminimalisasi timbulnya
untuk mencegah terjadinya
untuk memetakan hal-hal masalah pada waktu yang
penyimpangan.
yang perlu dilakukan akan datang dalam mencapai
perbaikan dalam suatu tujuan
periode dan
berkesinambungan
Choice
Pasal 16
Terhadap rencana kebijakan dan kegiatan/aktivitas yang dianggap tidak
perlu dilakukan pengendalian dengan pendekatan manajemen risiko,
Pimpinan Unit Eselon I dan Kepala Satuan Kerja wajib memastikan,
menjamin, dan bertanggung jawab bahwa hanya dengan melakukan
pengendalian rutin tidak akan muncul hambatan dan menimbulkan
masalah dalam pelaksanaannya, begitu pula setelah selesai atau dalam
pemanfaatannya, serta tidak berdampak negatif terhadap akuntabilitas
keuangan dan kinerja maupun terhadap kegiatan/aktivitas lain.
Pasal 17 Ayat (1)
Pejabat Eselon I, dan Kepala Satuan Kerja,
sebagai Pemilik risiko berkewajiban:
a menyusun rencana pengendalian thdp
rencana kebijakan dan kegiatan/aktivitas melalui
pelaksanaan pengendalian dengan pendekatan
manajemen risiko, sebagai dasar utk pelaksanaan
keg pengendalian

bertanggung jawab terhadap


adanya kelemahan sistem

f
pengendalian intern di lingkungannya.
b
mengendalikan risiko dlm pelaksanaan slrh
keg. pemerintahan di lingk-nya dgn
mengintegrasikan pengendalian rutin,
pengendalian berkala, dan pengendalian dengan
menciptakan perilaku keteladanan dan e
membangun lingk pengendalian dgn pendekatan MR ke dlm proses perencanaan,
pelaksanaan, pertanggung jawaban, pemanfaatan,
meyakinkan lingk-nya, shg dpt menciptakan dan evaluasi kinerja tmsk pembuatan kebijakan
nilai tambah dlm memberikan jaminan yg
wajar atas pencapaian tujuan Kementerian;
dan

penilaian risiko sbgmn dimaksud pd huruf c d c dlm menyusun rencana pengendalian utk
aktivitas/kegiatan sbgmn dimaksud pd huruf a, Kepala
Satker berkoordinasi dgn Tim SPIP satker, penanggung
dimaksudkan utk mengidentifikasi, mengukur,
jawab kegiatan, dan pegawai yg terkait utk
mengantisipasi, dan menetapkan cara
melaksanakan keg. penilaian risiko (risk assessment)
menangani risiko secara efektif dan efisien;
sebagai bagian dr pengendalian dgn pendekatan MR
Kelemahan Sistem Pengendalian Intern
Adalah adanya pelanggaran dan/atau penyimpangan terhadap penerapan
pengendalian intern, baik berupa tidak dijalankannya pengendalian yang sudah
ditetapkan, tidak diidentifikasinya risiko yang signifikan, atau tidak dibuatnya
suatu pengendalian yang seharusnya diperlukan.

pengendalian intern
penyimpangan kelalaian
pengabaian
uncontrol
risiko
Identifikasi risiko
kerjasama
kelalaian pelanggaran
Mitigasi Risiko
Adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses
manajemen risiko, sebagai upaya yang akan dilakukan oleh
manajemen untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko
dan mengurangi dampak apabila risiko terjadi.
RESPON TERHADAP RISIKO

TERIMA Kurangi
kemungkinan

HINDARI Kurangi
dampak

Berbagi
Pengendalian Dengan Pendekatan Manajemen
Risiko
adalah pengendalian yang dilakukan sebagai upaya
untuk mencegah dan meminimalisasi timbulnya
masalah pada waktu yang akan datang dalam mencapai
tujuan

Risiko
Dampak
Manajemen Risiko
adalah proses tata kelola pengendalian risiko yang
Pengadaan terencana, proaktif, dan berkelanjutan meliputi
Kurang Volume penilaian risiko, kegiatan pengendalian,
pemantauan, dan pelaporan pengendalian risiko,
Rencana Pengendalian
tujuan
termasuk berbagai strategi yang dijalankan untuk
mengelola risiko dan mengurangi dampaknya
sampai dengan tujuan tercapai.
PENGENDALIAN DENGAN PENDEKATAN MANAJEMEN
RISIKO
RENCANA TUJUAN
(KEBIJAKAN DAN TERCAPAI
KEGIATAN/
AKTIFITAS)

RISIKO
TERMINIMALISIR

RISIKO BELUM
TERMINIMALISIR
PENILAIAN RISIKO PEMANTAUAN DAN
KONSENTRASI EVALUASI
RISIKO

DITERIMA AREA OF RENCANA KEGIATAN


RISIKO IMPROVEMENT PENGENDALIAN PENGENDALIAN

BATAL
DITOLAK
Penilaian Risiko
adalah kegiatan penilaian keseluruhan proses atau
aktivitas yang meliputi identifikasi, analisis, dan
evaluasi risiko atas kemungkinan kejadian yang Tujuan
merupakan hal yang
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi akan dicapai atau
pemerintah. dihasilkan dalam
suatu aktifitas atau
kejadian

RISK
Risiko
merupakan kejadian yang
kemungkinan akan
menghambat dalam
pencapaian tujuan

Identifikasi Risiko merupakan


Sebab hal
Menentukan yang menimbulkan
sumber risiko suatu kejadian
terhadap
pencapaian
tujuan Analisis Risiko
Menentukan dampak
risiko terhadap Dampak
pencapaian tujuan merupakan hasil
dari suatu
kejadian
Kategori Rencana Kebijakan dan Aktivitas/Kegiatan
yang Perlu Dilakukan Pengendalian dengan Pendekatan Manajemen Risiko

1) Kebijakan
Rencana kebijakan yang perlu dilakukan pengendalian dengan pendekatan manajemen risiko:
a) Kebijakan yang kemungkinan akan berimplikasi pada timbulnya anggaran atau berpengaruh
terhadap perubahan struktur anggaran;
b) Kebijakan yang akan berimplikasi pada munculnya aktivitas/kegiatan baru;
c) Kebijakan yang akan berimplikasi pada perubahan tujuan organisasional maupun operasional;
d) Kebijakan yang akan berimplikasi pada perubahan struktur organisasi; dan
e) Kebijakan yang dalam pelaksanaannya akan melibatkan organisasi, instansi dan pihak lain di
luar kementerian.

2) Aktivitas/kegiatan
Rencana aktivitas/kegiatan yang perlu dilakukan pengendalian dengan pendekatan manajemen
risiko:
a) Mempunyai alokasi anggaran relatif besar sehingga jika terjadi kesalahan, kelemahan atau
penyimpangan akan berakibat dan berdampak negatif secara material terhadap akuntabilitas
keuangan dan kinerja;
b. Khusus untuk pengadaan barang/jasa, kemungkinan mempunyai tingkat kegagalan
tinggi dalam mencapai tujuan dan pemanfaatan yang disebabkan:
(1) adanya keterbatasan waktu sejak dari konsultansi perencanaan, persiapan, pelaksanaan
sampai dengan serah terima pekerjaan;
(2) dalam pelaksanaannya sangat bergantung/dipengaruhi oleh kondisi alam/cuaca (angin,
gelombang laut, hujan, dll) dan lingkungan masyarakat setempat;
(3) Aksesbilitas/keterjangkauan lokasi pelaksanaan aktivitas/kegiatan dengan satuan kerja
penyelenggara;
(4) Aksesbilitas/keterjangkauan lokasi pelaksanaan aktivitas/kegiatan dalam mobilitas
peralatan/mesin, bahan baku dan SDM;
(5) Adanya keterbatasan persediaan bahan baku/barang di dalam negeri dan sangat
bergantung dengan suplai dari luar negeri sebagai input untuk aktivitas/kegiatan; dan
(6) Pengadaan barang/jasa yang menurut pertimbangan pimpinan satuan kerja diperlukan
pengendalian yang lebih memadai dengan pendekatan manajemen risiko.

c. Mempunyai tingkat Kompleksitas yang relatif tinggi, yaitu dalam pelaksanaannya harus
mendapatkan input dan, atau harus melibatkan satker atau unit lain, baik dari dalam
maupun luar kementerian begitu pula dalam pemanfaatannya.
Mitigasi Risiko Jasa Keuangan
Fintech Peer to Peer (P2P) Lending Upaya
tanggung
P2P adalah sebuah produk inovasi dalam renteng
teknologi keuangan (fintech) dimana seorang
pengusaha bisa mendapatkan pendanaan dari
seorang pendana.
Ada satu perusahaan yang berfokus pada Gagal
dampak sosial yaitu menghubungkan Asuransi bayar Asuransi
kredit Dana mitra
pendana urban dengan pengusaha kecil hilang
dan mikro di pedesaan, perusahaan
tersebut memiliki strategi mitigasi risiko
yang menarik .
Skor
kredit
Mitigasi Risiko Pengadaan Barang/Jasa
1. Risiko:
Keterlambatan penyelesaian tahapan pekerjaan
Dampak:
Volume pekerjaan tidak sesuai dengan yang telah direncanakan
Mitigasi:
PPK melakukan evaluasi hasil pekerjaan dengan Tim Teknis, Konsultan
Pengawas dan pelaksana setiap 2 hari

2. Risiko:
Pelaksanaan Pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen kontrak
Dampak:
Kualitas bangunan tidak sesuai dengan yang direncanakan
Mitigasi:
PPK dan Tim Teknis melakukan evaluasi setiap minggu untuk memaksimalkan
kinerja konsultan pengawas
Tahapan dan Tujuan Pengadaan Barang/Jasa

PRA LELANG
Menyediakan dokumen lelang
yang akurat, sesuai dengan
ketentuan dan tepat waktu
PELELANGAN
Menetapkan penyedia
barang/jasa yang dapat
menyediakan barang/jasa sesuai
kriteria yang ditetapkan dalam
dokumen lelang PELAKSANAAN
Tersedianya barang/jasa yang
sesuai dengan kriteria dalam
dokumen kontrak

SERAH TERIMA
Diserahkannya barang/jasa
yang sesuai dengan dokumen
kontrak.
PEMANFAATAN
Barang/jasa dapat digunakan
sesuai dengan tujuan
5 risiko budidaya Udang
Penyakit Myo/ Infectious Myo
Necrosis Virus (IMNV) Udang
Sebab menurunnya kualitas air atau tidak stabilnya
kualitas air media budidaya, terutama fluktuasi
Penyakit Early Mortality suhu. Dampaknya udang tidak sehat, krn terjadi
Syndrome (EMS) nekrosis atau kerusakan jaringan otot pada tubuh
Sebab kualitas air udang
Dampaknya udang lemah tidak mau
bergerak, nafsu makan, ukuran tubuh tidak
proporsional
Penyakit Bintik Putih/ White
Spot Syndrome (WSS) Udang
Sebab menurunnya kualitas air.
Dampaknya muncul bintik-bintik putih
berdiameter 0,5-2 mm pada lapisan dalam
eksoskeleton dan epidermis, dan udang tidak
Penyakit Kepala Kuning/ mau makan
Yellow Head Disease
Sebab cuaca dan kualitas air.
Dampak tidak berkembang krn nafsu makannya
terlihat menurun drastis, sehingga mengakibatkan Penyakit Kotoran Putih/ White
perut udang terlihat kosong Feces Disease (WFD)
sebab air laut kotor dan menimbulkan jenis parasit
mirip cacing namun tidak memiliki organ seluler.
Dampaknya udang mati karena usus udang akan
ditemukan massa tubuh berbentuk ulat