Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses menua (aging) adalah proses alami yang dihadapi manusia.

Dalam proses ini, tahap yang paling krusial adalah tahap lansia (lanjut usia)

dimana pada diri manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan

kondisi fisik,psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama

lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan

secara fisik maupun kesehatan jiwa secara khusus pada individu lanjut usia

(Sarwono, 2010). Pertambahan penduduk lansia di Indonesia diproyeksikan

naik melebihi 20 juta orang (Darmono & Martono, 2010). Perkiraan data

tersebut menyebabkan Indonesia menduduki urutan ke-5 atau 6 pada tahun

2020 dari sebelumnya yang menduduki urutan ke 10 pada tahun 1980 sebagai

jumlah negara yang banyak jumlah populasi lansianya.

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa terdapat 600 juta

jiwa lansia pada tahun 2012 di seluruh dunia. Menurut data Biro Pusat

Statistik (BPS), tercatat jumlah lansia Indonesia mencapai jumlah 28 juta jiwa

pada tahun 2025 dari yang hanya 19 juta jiwa pada tahun 2006. Pada tahun

2025, Indonesia akan mengalami peningkatan lansia sebesar 41,4 %, yang

merupakan peningkatan tertinggi di dunia.

Di Kabupaten Toraja Utara, jumlah Lansia pada tahun 2013 mencapai

sekitar 153.260 orang (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2013).

1
Terdapat banyak perubahan fisiologis yang normal pada lansia.

Perubahan ini tidak bersifat patologis, tetapi dapat membuat lansia lebih

rentan terhadap beberapa penyakit. Perubahan terjadi terus menerus seiring

usia. Perubahan spesifik pada lansia dipengaruhi kondisi kesehatan, gaya

hidup, stressor, dan lingkungan. Perawat harus mengetahui proses perubahan

normal tersebut sehingga dapat memberikan pelayanan tepat dan membantu

adaptasi lansia terhadap perubahan, salah satunya adalah perubahan

neurologis. Akibat penurunan jumlah neuron fungsi neurotransmitter juga

berkurang. Lansia sering mengeluh kesulitan untuk tidur, kesulitan untuk

tetap terjaga, kesulitan untuk tidur kembali tidur setelah terbangun di malam

hari, terjaga terlalu cepat, dan tidur siang yang berlebihan. Masalah ini

diakibatkan oleh perubahan terkait usia dalam siklus tidur-terjaga (Potter &

Perry 2009).

Insomnia pada lansia merupakan keadaan dimana individu mengalami

suatu perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola istirahatnya yang

menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang di

inginkan.Gangguan tidur pada lansia jika tidak segera ditangani akan

berdampak serius dan akan menjadi gangguan tidur yang kronis. Secara

fisiologis, jika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk

mempertahankan kesehatan tubuh dapat terjadi efek-efek seperti pelupa,

konfusi dan disorientasi (Asmadi, 2008).

Menurut National Sleep Foundation tahun 2010 sekitar 67% dari

1.508 lansia di Amerika usia 65 tahun keatas melaporkan mengalami

2
insomnia dan sebanyak 7,3 % lansia mengeluhkan gangguan memulai dan

mempertahankan tidur atau insomnia. Kebanyakan lansia beresiko mengalami

insomnia yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti pensiunan, kematian

pasangan atau teman dekat, peningkatan obat-obatan, dan penyakit yang

dialami. Di Indonesia insomnia menyerang sekitar 50% orang yang berusia

65 tahun, setiap tahun diperkirakan sekitar 20%-50% lansia melaporkan

adanya insomnia dan sekitar 17% mengalami insomnia yang serius

Kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, sulit untuk tidur

kembali, dan bangun dini hari serta merasa tidak segar saat bangun pagi

adalah gejala yang dialami oleh penderita insomnia. Ketika penduduk

Indonesia tahun 2004 berjumlah 238,452 juta, ada sebanyak 28,053 juta

orang Indonesia yang terkena insomnia atau sekitar 11,7% (Rompas, 2013).

Data ini berdasarkan indikasi secara umum tidak memperhitungkan faktor

genetik, budaya, lingkungan, sosial, dan ras. Hal tersebut dapat meningkat

dalam beberapa tahun kedepan jika tidak memperhatikan pola hidup yang

sehat.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Angga A. tahun 2015 di

Universitas Hasanuddin Makassar menunjukkan bahwa ada hubungan antara

perilaku merokok dengan kejadian insomnia. Hal ini sejalan dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh M, Annahri.dkk (2013:4) di Universitas

Lambung Mangkurat Banjarmasin yang menunjukkan bahwa ada hubungan

antara perilaku merokok dengan kejadian insomnia. Hal ini didukung juga

3
dengan pernyataan Brook (2012) yang mengatakan bahwa nikotin yang

terkandung dalam rokok merupakan salah satu pemicu terjadinya insomnia.

Selain perilaku merokok, perilaku konsumsi kafein seperti kopi juga

dapat menyebabkan insomnia. Sering mengkonsumsi kopi merupakan salah

satu perilaku konsumsi yang berisiko. Di Indonesia berdasarkan hasil riskedas

tahun 2013 proporsi perilaku konsumsi kopi berisiko yaitu 29,3% (Riskedas,

2013). Penelitian yang dilakukan Debusuk (2001) menyebutkan bahwa gaya

hidup seperti mengkonsumsi kopi mengandung kafein dapat memicu jantung

sehingga tubuh mendapatkan rasa segar yang dapat mengakibatkan terjadinya

insomnia.

Selain perilaku merokok dan kebiasaan minum kopi, faktor

lingkungan juga dapat mempengaruhi gangguan tidur. Menurut Morton

(2000) lingkungan yang berpengaruh adalah lingkungan fisik yaitu cahaya,

suhu, dan suara gaduh. Sebuah perawatan lansia menunjukkan bahwa suara

bising dan perubahan cahaya berhubungan dengan 50% dari episode terjaga

selama 4 menit atau lebih dan 35% dari episode terjaga 2 menit atau

kurang(Miller, 2009). Suara yang sering menyebabkan terganggunya tidur

adalah suara yang bersifat tidak teratur (Henkel, 2003). Suhu yang terlalu

panas atau dingin juga dapat menyebabkan lansia lebih sering

terbangun(Eliopoulus, 2005).

Menurut data awal yang diperoleh dari bagian rekam medik

Puskesmas Balusu Kelurahan Balusu jumlah lansia pada januari-maret tahun

2016 berjumlah 97 orang. Dari 97 orang tersebut didapatkan bahwa mereka

4
mengeluhkan adanya gangguan tidur berupa kesulitan tidur untuk memulai

tidur, sering terbangun dan kesulitan untuk tidur kembali. Berdasarkan

observasi dan wawancara langsung dengan 10 lansia di Lembang nonongan

pada praktek komunitas 5 diantaranya mengeluh kesulitan tidur. Melihat

berbagai permasalahan diatas peneliti tertarik untuk mengetahui “Faktor yang

berhubungan dengan kejadian insomnia pada Lansia di Kelurahan Balusu

Wilayah Kerja Puskesmas Balusu Kabupaten Toraja Utara 2016”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah pada latar belakang diatas, maka rumusan pertanyaan

penelitian adalah: Faktor apakah yang berhubungan dengan kejadian

insomnia pada lanjut usia di Kelurahan Balusu Wilayah Kerja Puskesmas

Balusu?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan

dengan kejadian insomnia pada lanjut usia di Kelurahan Balusu Wilayah

Kerja Puskemas Balusu Tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya hubungan perilaku merokok dengan kejadian insomnia

pada lanjut usia.

b. Diketahuinya hubungan kebiasaan minum kopi dengan kejadian

insomnia pada lanjut usia.

5
c. Diketahuinya hubungan lingkungan dengan kejadian insomnia pada

lanjut usia.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Akademik

Untuk penyediaan data dasar yang dapat digunakan untuk penelitian lebih

lanjut, khususnya dalam penatalaksanaan lanjut usia. Untuk mengetahui

faktor yang berhubungan dengan kejadian insomnia pada lansia, sehingga

membantu dalm pembelajaran terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan

tidur lansia.

2. Bagi Lansia/ Responden

Mendapatkan pelayanan yang adekuat mengenai pemenuhan kebutuhan

tidur dan istirahat sehingga meningkatkan kualitas tidur.

3. Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan

untuk petugas puskesmas agar lebih memahami tentang faktor yang

berhubungan dengan kejadian insomnia pada lansia sehingga dapat

dijadikan acuan bagi lanjut usia untuk mengatasi kesulitan dalam tidur.

4. Bagi Peneliti

Merupakan pengalaman bagi peneliti dalam melakukan penelitian,

khususnya dalam mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian insomnia pada lanjut usia.