Anda di halaman 1dari 5

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PTM

DI SUSUN OLEH :

NAMA : DIFFA RAMAHDINAH P

NIM : 1813462089

TINGKAT : II-C

PRODI : D3 PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN

D3 PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN

UNIVERSITAS IMELDA MEDAN

T.A 2019/2020
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PTM

Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi demografi dan


transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan perubahan pola penyakit
dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit degeneratif
yang merupakan faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas.. WHO
memperkirakan, pada tahun 2020 PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60%
seluruh kesakitan di dunia. Diperkirakan negara yang paling merasakan dampaknya
adalah negara berkembang termasuk Indonesia.

  Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius saat ini
adalah hipertensi yang disebut sebagai the silent killer. Di Amerika, diperkirakan 1 dari
4 orang dewasa menderita hipertensi. Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan
menyerang target organ, dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan
ginjal, serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit hipertensi
yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6
kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan
jantung. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini
terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya
meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan
pengobatan secara adekuat.6,7 Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat.

Penyakit Tidak Menular (PTM) telah menjadi masalah kesehatan msyarakat yang
besar di Indonesia. Prevalensi PTM dan cedera di Indonesia berdasarkan Riskesdas
2013, hipertensi usia ˃18 tahun (25,8%), rematik (24,7%), cedera semua umur (8,2%)
dengan cedera akibat transportasi darat (47,7%),asma (4,5%), PPOK umur ≥ 30
tahun(3,8%), diabetes melitus (2,1%), PJK umur ≥ 15 tahun (1,5%), batu ginjal
(0,6%),hipertiroidumur ≥ 15 tahun berdasarkan diagnosis (0,4%), gagal jantung (0,3%),
gagal ginjal kronik (0,2%), stroke (12,1‰), dan Kanker (1,4‰).

Penyakit tidak menular (PTM) terjadi akibat berbagai faktor risiko, seperti
merokok, diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi minuman beralkohol.
Faktor risiko tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis di dalam tubuh
manusia, sehingga menjadi faktor risiko antaralain tekanan darah meningkat, gula darah
meningkat, kolesterol darah meningkat, dan obesitas. Selanjutnya dalam waktu yang
relatif lama terjadi PTM. Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi obesitas pada laki-laki
umur ˃ 18 tahun (19,7%) dan padaperempuan (32,9%), obesitas sentral (26,6%),
konsumsi tembakau usia ≥ 15 tahun (36,3%), kurang konsumsi sayur-buah (93,5%).

Sesuai dengan Permenkes No 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans


Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, instansi kesehatan pemerintah lainnya, dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan wajib menyelenggarakan SurveilansKesehatan sesuai kewenangannya,
termasuk penyelenggaraan surveilans faktor risiko penyakit tidak menular (PTM).
Surveilans faktor risiko PTMmerupakan bagian penting dalam upaya pengendalian PTM
di Indonesia guna menghasilkan data dan Petunjuk Teknis Surveilans FR PTM Berbasis
Web2informasi yang valid sebagai bahan perencanaan, monitoring, dan evaluasi
program.

LANGKAH – LANGKAH SURVEILANS PTM

1. Identifikasi Penyakit Tidak Menular

Faktor risiko ialah karakteristik, tanda maupun gejala yang secara statistic
berhubungan dengan peningkatan insidensi suatu penyakit. Jenis-jenis. faktor risiko
terdiri dari:

1.     Faktor risiko tidak dapat diubah: faktor umur, genetik 

2.    Faktor risiko dapat diubah: kebiasaan merokok, latihan olahraga 

2. Perencanaan pengumpulan data

a.    Menentukan tujuan survailens

b.    Tetapkan definisi

c.    Tentukan sumber

d.    Tentukan instrumen

e.    Bagaimana sumber data

f.    Bagaimna sistem
g.    Tentukan indikator

 3. Pengolahan dan penyajian data

Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel,
grafik (histogram, poligon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan
komputer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data diantaranya
dengan menggunakan program (software) seperti epid info, SPSS, lotus, exceldan lain-
lain.

4. Analisis dan interpretasi data

Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena akan


dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan pencegahan
dan penanggulangan penyakit. Kegiatan ini menghasilkan ukuran-ukuran epidemiologi
seperti rate, proporsi, rasio dan lain-lain untuk mengetahui situasi,
estimasi  dan prediksi penyakit. Setelah di analisis lalu di intepretasikan (di bandingkan
dengan daerah lain)

 5. Diseminasi dan advokasi                    

Setelah data diaanalisis dan di interpretasi suatu penyakit tidak menular. Maka
data  tersebut disebarluaskan kepada pihak yang berkepentingan untuk membantu dalam
penanggulangan penyakit tidak menular ini. Penyebarluasan informasi ini harus mudah
dimengerti dan dimanfaatkan dalam program pencegahan penyakit. Cara penyebar
luasan tersebut dengan membuat suatu laporan yang digunakan untuk rekomendasi
kepada pihak yang bertanggung  jawab.

6.  Evaluasi

Program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk mengevaluasi


manfaatnya . sistem dapat berguna apabila secara memuaskan memenuhi paling tidak
salah satu dari pernyataan berikut : apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi
kecenderungan yang mengidentifikasi perubahan dalam kejadian kasus penyakit.