Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum “Fisika Dasar”

Modul L0 – Lensa dan Indeks Bias


Putri Jasmine S./19522230
Asisten: Rizki Dasa M.U.
Tanggal praktikum: 20 Juni 2020
Teknik Industri – Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia

merupakan benda untuk permukaan kedua. Permukaan


Abstrak— Telah dilakukan percobaan mengenai Lensa dan kedua akan membuat bayangan akhir.[1].
Indeks Bias dengan tujuan memahami sifat dan menentukan Terdapat dus jenis lensa, yaitu lensa cembung dan
kuat serta perbesaran lateral lensa, memahami hukum Snellius lensa cekung. Pada lensa cembung (lensa positil) sinar dapat
dan menentukan indeks bias bahan padat dan cairan. Alat dan mengumpul (kovergen) dan pada lensa cekung (lensa
bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu lensa negatil) sinar dapat menyebar (divergen). Pada lensa terdapat
cembung ganda, lampu, layer, mistar, busur derajat dan
sinar-sinar istimewa. Tentunya, sinar-sinar istimewa pada
medianya yaitu kaca. Pada Praktikum ini dilakukan dua kali
percobaan yaitu percobaan lensa dan indeks bias dengan lensa cembung berbeda dengan lensa cekung.[2].
menggunakan Hukum Snellius. Dari praktikum ini dapat Alat optik yang paling sederhana adalah lensa tipis.
disimpulkan bahwa semakin jauh letak lensa, maka semakin Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang
jelas bayangannya dan besar sudut datang tidak sama dengan bias dengan minimal satu permukaan bidang lengkung.
sudut biasnya. Beberapa jenis lensa dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Kata kumci—lensa; indeks bias; sudut datang; sudut bias;
Hukum Snellius.

I. PENDAHULUAN
Pada percobaan Lensa dan Indeks Bias ini
mempunyai tujuan yaitu memahami sifat dan menentukan
kuat serta perbesaran lateral lensa, memahami hukum
Snellius dan menentukan indeks bias bahan padat dan cairan.
Latar belakang pada percobaan ini yaitu
perkembangan teknologi telah membawa dampak yang Gambar 1. 1 Berbagai jenis lensa
positif bagi kehidupan manusia, macam-macam peralatan Menentukan posisi bayangan benda
elektronik diciptakan untuk dapat menggantikan berbagai
fungsi organ atau menyelidiki fungsi dan penyimpangan
pada organ tubuh manusia, seperti pada alat optik. Alat optic
merupakan alat-alat yang salah satu atau lebih komponennya
menggunakan benda optik, seperti: cermin, lensa, serat optik
atau prisma. Prinsip kerja dari alat optik adalah dengan
memanfaatkan prinsip pemantulan cahaya dan pembiasan
cahaya. Pemantulan cahaya adalah peristiwa pengembalian
arah rambat cahaya pada reflektor. Pembiasan cahaya adalah
peristiwa pembelokan arah rambat cahaya karena cahaya
melalui bidang batas antara dua zat bening yang berbeda
kerapatannya. Peristiwa pembiasan cahaya tidak hanya Gambae 1. 2 . Diagram Berkas Menemukan Posisi
terjadi pada lensa konvergen atau lensa divergen saja, tetapi Bayangan Benda
bisa terjadi pada kedua lensa yang digabungkan,
Dasar teori pada percobaan ini yaitu Lensa adalah Keterangan :
medium transparan yang dibatasi oleh dua permukaan bias 1. Berkas sinar (1) dari benda yang sejajar sumbu utama
paling sedikit satu diantaranya lengkung sehingga terjadi dua lensa dibiaskan melalui titik fokus lensa.
kali pembiasan sebelum keluar dari lensa. Garis hubung 2. Berkas sinar (2) dari benda yang melalui titik fokus lensa
antara pusat lengkungan kedua permukaan disebut sumbu dibiaskan sejajar sumbu utama lensa.
utama. Bayangan yang dibuat oleh permukaan pertama
3. Perpotongan kedua berkas sinar itu adalah posisi Apabila sudut bias besarnya 90o, maka seluruh berkas
bayangan benda. cahaya yang datang akan dipantulkan. Pada saat inilah sudut
Perjanjian Tanda datangnya dinamakan sudut kritis.
1. Panjang fokus (f) positif untuk lensa konvergen dan Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat beberapa
negatif untuk lensa divergen. lensa seperti spion mobil atau motor. Prinsip kerjanya sesuai
2. Jarak benda (d) positif jika berada disisi lensa yang sama dengan prinsip dari lensa cekung ataupun cembung. Pada
dengan datangnya cahaya. umumnya, indeks bias digunakan untuk mengukur
3. Jarak bayangan benda (d’) positif jika berada disisi lensa kemurnian suatu benda atau senyawa, seperti minyak nabati,
yang berlawanan dengan datangnya cahaya, jika berada minyak atsiri, gula, dan biodiesel.[3].
disisi yang sama maka nilainya negatif. Ekuivalen, jarak Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan
bayangan positif untuk bayangan nyata dan negatif atau pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang
untuk bayangan maya. berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya
4. Tinggi bayangan (h’) positif jika bayangan tegak dan dibedakan menjadi dua macam yaitu mendekati garis normal
negatif jika bayangan terbalik relatif terhadap benda. dan menjauhi garis normal. Cahaya dibiaskan mendekati
Persamaan Lensa: garis normal jika cahaya merambat dari medium optik
𝟏 𝟏 𝟏 kurang rapat ke medium optik lebih rapat, contohnya cahaya
= + (1.1)
𝒇 𝒅 𝒅′
merambat dari udara ke dalam air. Cahaya dibiaskan
Keterangan: menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari medium
f = panjang fokus lensa (m) optik lebih rapat ke medium optik kurang rapat, contohnya
d = jarak benda dari pusat lensa (m) cahaya merambat dari dalam air ke udara. Indeks bias suatu
d’ = jarak banyangan benda dari pusat lensa (m). zat adalah perbandingan cepat rambat cahaya dalam hampa
Perbesaran Lateral Lensa udara terhadap cepat rambat cahaya dalam zat tersebut, atau
Perbesaran lateral ( M ) dari sebuah lensa didefinisikan perbandingan sinus sudut datang terhadap sinus sudut
sebagai tinggi bayangan dibagi tinggi benda, sehingga bias.[4].
diperoleh persamaan: Penerapan konsep indeks bias banyak di temukan
𝒉′ 𝒅′
𝑴 = |− | = |− | (1.2) dalam kehidupan sehari. Contoh globalnya dalam pembiasan
𝒉 𝒅
Keterangan : adalah sedotan yang ditempatkan dalam segelas air, apabila
h = tinggi benda (m) di lihat dari samping tampak sedotan patah atau bengkok.
h’ = tinggi bayangan (m)
Kuat Lensa
Besarnya kuat lensa dapat diketahui dengan menggunakan II. METODE PRAKTIKUM
persamaan sebagai berikut:
𝟏 2.1 Alat dan Bahan
𝑷= (1.3) 1. Lensa Cembung ganda (konvergen)
𝒇
Keterangan :
P = kuat lensa → dioptri (D)

Hukum Snellius
Berkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat
antara bening yang berbeda indeks biasnya, maka berkas
cahaya itu sebagian akan dipantulkan (refleksi) dan
dibiaskan (refraksi). Pada kedua fenomena tersebut berlaku
hukum Snellius, yaitu:
• Seberkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat
antara bening sebagian akan dipantulkan, dimana berkas
Gambar 2. 1 Lensa cembung ganda
cahaya pantul sebidang dengan berkas cahaya yang
datang dan sudut pantul 𝜙′ sama dengan sudut datang Sumber:https://encrypted-
𝜙. tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcTYquE4DuGj
• Seberkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat 34XOsAXr1j3yjEFtOKCRaiOARQ&usqp=CAU
antara bening sebagian akan dibiaskan, dimana berkas 2. Sumber cahaya (lampu)
cahaya yang dibiaskan sebidang dengan berkas cahaya
datang. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus
sudut bias sama dengan perbandingan indeks bias
medium 2 (n’) dengan indeks bias medium 1 (n) yang
bernilai konstan.
𝐬𝐢𝐧 𝝓′ 𝒏′
= (1.4)
𝐬𝐢𝐧 𝝓 𝒏
Gambar 2. 2 Lampu
Sumber:https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcST34477Cygh
LAirZHLYz81sLvHE4IVDmauhg&usqp=CAU
3. Layar

Gambar 2. 3 Layar
Sumber:https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcS_SBUQjsulu
zmPfE-cU8bzQQpFKmh-l1Q-JQ&usqp=CAU
4. Mistar

Gambar 2. 4 Mistar
Sumber:https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQJPxHjdBcity
HLmqnxiorpWES5envBb0y0GQ&usqp=CAU
5. Busur derajat

Gambar 2. 5 Busur derajat


Sumber:https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRZs8y1TkR0 Menyalakan sumber cahaya dan mengarahkan ke
4pZ5qNRZLT0MJAPU5OMZP-h9Mw&usqp=CAU bidang sisi benda yang diamati.
6. Media (kaca)

Mengatur arah berkas cahaya datang dengan


memvariasi besar sudut datang .

Gambar 2. 6 Kaca Mengulangi percobaan no. 1 s/d 3 dengan bahan


Sumber:https://encrypted-
cairan dalam konsentrasi bervariasi.
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcT2IGfkJHYn
VqvqK7L4p_LKuu1Le446AAx6hg&usqp=CAU
2.2 Prosedur Kerja
A. Lensa
Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. III. DATA PERCOBAAN
Tabel 3.1. Data Percobaan Lensa
No d (cm) d’ (cm) Sifat Bayangan
Memasang rangkaian seperti gambar yang telah 1. 15 7,6 7,6 7,5 Nyata, terbalik
diberikan. 2. 20 6,8 6,6 6,7 Nyata, terbalik
3. 25 6,4 6,2 6,3 Nyata, terbalik
4. 30 6 6,1 6,1 Nyata, terbalik
5. 35 5,7 5,7 5,8 Nyata, terbalik
Meletakkan benda (tanda panah disinari lampu) di
depan lensa pada jarak (d) Tabel 3.2. Data Percobaan Indeks Bias
Media (Kaca)
No
Sudut datang ∅1 Sudut Bias ∅2
1. 30 22 21 21
Mencari dimana letak bayangan benda pada 2. 40 28 27 28
layar dan mencatat jarak bayangan (d') dan 3. 50 31 31 32
posisi bayangan (tegak / terbalik). Melakukan 4. 60 37 38 36
pengamatan tersebut sebanyak tiga kali. 5. 70 41 40,5 40

Mengulangi kegiatan 3 & 4 dengan jarak benda (d)


IV. ANALISIS DATA
yang berbeda-beda. 4.1 LENSA
a. Menentukan rerata jarak bayangan
1. Untuk d = 15 cm
Mengulangi langkah 3 - 5 dengan fokus lensa yang 𝑑′ 𝛿𝑑′ |𝛿𝑑′|2
7,6 0 0
berbeda-beda.
7,6 0 0
7,5 -0.1 0,01
Merapikan alat dan bahan seperti kondisi semula. 22,7 0,01
̅ 𝛴𝑑′ 22,7
𝑑′ = = = 7,6 cm
𝑛 3

̅ =√ Σ|𝛿𝑑′|2 0,01
B. Indeks Bias ∆𝑑′ =√ = 0,071 cm
𝑛−1 2

Meetakkan bahan yang akan diamati indeks biasnya ̅ ± ∆𝑑′


Jadi, 𝑑′ ̅ = (7,6 ± 0,071) cm
kedalam meja potik yang tersedia. 2. Untuk d = 20 cm
𝑑′ 𝛿𝑑′ |𝛿𝑑′|2
6,8 0,1 0,01
̅̅̅
𝑑 .𝑑′ 20.6,7
6,6 -0,1 0,01 𝑓= = = 5,019 cm = 0,050 m
𝑑±𝑑̅ ′ 20+6,7
6,7 0 0
𝑑(𝑑 ̅̅̅ 2
̅̅̅′ +𝑑)−𝑑.𝑑′ 2
20,1 0,02 ∆𝑓 = √| | |∆𝑑̅′ | =
̅̅̅
(𝑑+𝑑 ) ′ 2
̅ = 𝛴𝑑′ 20,1
𝑑′ = = 6,7 cm
𝑛 3
20(6,7+20)−20.6,7 2
̅ =√ Σ|𝛿𝑑′|2 0,02 √| | |0,1|2 = 0,056 cm =
∆𝑑′ =√ = 0,1 cm (20+6,7)2
𝑛−1 2
0,00056 m
̅ ± ∆𝑑′
Jadi, 𝑑′ ̅ = (6,7 ± 0,1) cm
Jadi, 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,019 ± 0,056) cm
3. Untuk d = 25 cm 3. Untuk d = 25 cm
𝑑′ 𝛿𝑑′ |𝛿𝑑′|2 ̅̅̅
𝑑 .𝑑′ 25.6,3
𝑓= = = 5,032 cm = 0,050 m
𝑑±𝑑̅ ′ 25+6,3
6,4 0,1 0,01
6,2 -0,1 0,01 ̅̅̅′ +𝑑)−𝑑.𝑑′
𝑑(𝑑 ̅̅̅ 2 2
∆𝑓 = √| ̅̅̅′ )2 | |∆𝑑̅′ | =
(𝑑+𝑑
6,3 0 0
18,9 0,02 25(6,3+25)−25.6,3 2
√| | |0,1|2 = 0,064 cm =
̅ 𝛴𝑑′ 18,9 (25+6,3)2
𝑑′ = = = 6,3 cm
𝑛 3 0,00064 m
̅ =√ Σ|𝛿𝑑′|2 0,02 Jadi, 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,032 ± 0,064) cm
∆𝑑′ =√ = 0,1cm
𝑛−1 2 4. Untuk d = 30 cm
̅ ± ∆𝑑′
Jadi, 𝑑′ ̅ = (6,3 ± 0,1) cm ̅̅̅
𝑑 .𝑑′ 30.6,1
𝑓= = = 5,069 cm = 0,051 m
𝑑±𝑑̅ ′ 30+6,1
4. Untuk d = 30 cm
𝑑′ 𝛿𝑑′ |𝛿𝑑′|2 𝑑(𝑑 ̅̅̅ 2
̅̅̅′ +𝑑)−𝑑.𝑑′ 2
∆𝑓 = √| ̅̅̅
′ 2 | |∆𝑑̅′ | =
6 -0,1 0,01 (𝑑+𝑑 )

6,1 0 0 30(6,1+30)−30.6,1 2
√| | |0,071|2 = 0,049 cm =
6,1 0 0 (30+6,1)2

18,2 0,01 0,00049 m


𝛴𝑑′ 18,2
Jadi, 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,069 ± 0,049) cm
̅
𝑑′ = = = 6,1 cm 5. Untuk d = 35 cm
𝑛 3
̅̅̅
𝑑 .𝑑′ 35.5,7
̅ =√ Σ|𝛿𝑑′|2 0,01 𝑓= = = 4,9 cm = 0,049 m
∆𝑑′ =√ = 0,071cm 𝑑±𝑑̅ ′ 35+5,7
𝑛−1 2
̅ ± ∆𝑑′
Jadi, 𝑑′ ̅ = (6,1 ± 0,071) cm ̅̅̅ 2
̅̅̅′ +𝑑)−𝑑.𝑑′
𝑑(𝑑 2
∆𝑓 = √| ̅̅̅
′ 2 | |∆𝑑̅′ | =
5. Untuk d = 35 cm (𝑑+𝑑 )
𝑑′ 𝛿𝑑′ |𝛿𝑑′|2
35(5,7+35)−35.5,7 2
5,7 0 0 √| | |0,071|2 = 0,053 cm =
(35+5,7)2
5,7 0 0 0,00053 m
5,8 0,1 0,01 Jadi, 𝑓 ± ∆𝑓 = (4,9 ± 0,053) cm
c. Menentukan perbesaran bayangan (M)
17,2 0,01 1. Untuk d = 15 cm
̅ 𝛴𝑑′ 17,2 ̅̅̅
𝑑′ 7,6
𝑑′ = = = 5,7 cm 𝑀 = | | = | | = 0,506 cm
𝑛 3 𝑑 15
2 2. Untuk d = 20 cm
̅ = √Σ|𝛿𝑑′| = √0,01 = 0,071cm
∆𝑑′
𝑛−1 2 ̅̅̅
𝑑′ 6,7
𝑀 = | | = | | = 0,335 cm
̅ ± ∆𝑑′
Jadi, 𝑑′ ̅ = (5,7 ± 0,071) cm 𝑑 20
3. Untuk d = 25 cm
b. Menentukan focus lensa (f) ̅̅̅
𝑑′ 6,3
1. Untuk d = 15 cm 𝑀 = | | = | | = 0,252 cm
𝑑 25
̅̅̅
𝑑 .𝑑′ 15.7,6
𝑓= = = 5,04 cm = 0,050 m 4. Untuk d = 30 cm
𝑑±𝑑̅ ′ 15+7,6 ̅̅̅
𝑑′ 6,1
𝑀 = | | = | | = 0,203 cm
𝑑 30
̅̅̅′ ̅̅̅ 2 2
∆𝑓 = √|𝑑(𝑑 +𝑑)−𝑑.𝑑′
̅̅̅
′ 2 | |∆𝑑̅′ | = 5. Untuk d = 35 cm
(𝑑+𝑑 ) ̅̅̅
𝑑′ 5,7
𝑀=| |= = 0,163 cm
𝑑 35
15(7,6+15)−15.7,6 2
√| | |0,071|2 = 0,031 cm = d. Menentukan kuat lensa (P)
(15+7,6)2
1. Untuk d = 15 cm
0,00031 m 1 1
Jadi, 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,04 ± 0,031) cm 𝑃= = = 20 dioptri
𝑓 0,050
2. Untuk d = 20 cm 2. Untuk d = 20 cm
1 1
𝑃= = = 20 dioptri 2
̅ = √Σ|𝛿∅′| = √2 = 1
𝑓 0,050 ∆∅′
𝑛−1 2
3. Untuk d = 25 cm
1 1 ̅ ± ∆∅′
Jadi, ∅′ ̅ = (37 ± 1)
𝑃= = = 20 dioptri
𝑓 0,050 5. Untuk sudut datang (∅) = 70o
4. Untuk d = 30 cm ∅′ 𝛿∅′ |𝛿∅′|2
1 1
𝑃= = = 19,61 dioptri 41 0,5 0,25
𝑓 0,051
5. Untuk d = 35 cm 40,5 0 0
1 1
𝑃= = = 20,41 dioptri 40 -0,5 0,25
𝑓 0,049
4.2 INDEKS BIAS 121,5 0,5
a. Menentukan rerata sudut indeks bias Σ∅′ 121,5
̅ =
∅′ = = 40,5
1. Untuk sudut datang (∅) = 30o 𝑛 3
∅′ 𝛿∅′ |𝛿∅′|2 ̅ =√ Σ|𝛿∅′|2 0,5
∆∅′ =√ = 0,5
22 0,67 0,4489 𝑛−1 2
̅ ± ∆∅′
Jadi, ∅′ ̅ = (40,5 ± 0,5)
21 -0,33 0,1089
b. Menentukan nilai indeks bias medium
21 -0,33 0,1089 1. Untuk sudut datang (∅) = 30o
64 0,6667 𝑛 .sin ∅ 1.sin 30o
𝑛′ = = = 1,375
Σ∅′ 64 sin ̅̅̅
∅′ sin 21,33o
̅ =
∅′ = = 21,33 ̅̅̅ 2
𝑛 3
∆𝑛′ = √|−𝑛 sin ∅2 cos ∅′| ̅ |2 =
|∆∅′
Σ|𝛿∅′|2 0,6667 ̅̅̅
𝑠𝑖𝑛 ∅′
̅ =√
∆∅′ =√ = 0,577
𝑛−1 2 o cos 21,33o 2
̅ ± ∆∅′
̅ = (21,33 ± 0,577) √|− 1sin 302 | |0,577|2 = 2,031
Jadi, ∅′ 𝑠𝑖𝑛 21,33o
2. Untuk sudut datang (∅) = 40o Jadi, 𝑛′ ± ∆𝑛′ = (1,375 ± 2,031)
∅′ 𝛿∅′ |𝛿∅′|2 2. Untuk sudut datang (∅) = 40o
𝑛 .sin ∅ 1.sin 40o
28 0,33 0,1089 𝑛′ = = = 1,384
sin ̅̅̅
∅′ sin 27,67o
27 -0,67 0,4489 ̅̅̅ 2
∆𝑛′ = √|−𝑛 sin ∅2 cos ∅′| ̅ |2 =
|∆∅′
28 0,33 0,1089 ̅̅̅
𝑠𝑖𝑛 ∅′
o cos 27,67o 2
83 0,6667 √|−1 sin402 | |0,577|2 = 1,523
𝑠𝑖𝑛 27,67o
̅ Σ∅′ 83
∅′ = = = 27,67 ′ ′
Jadi, 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,384 ± 1,523)
𝑛 3
Σ|𝛿∅′|2 0,6667 3. Untuk sudut datang (∅) = 50o
̅ =√
∆∅′ =√ = 0,577 𝑛 .sin ∅ 1.sin 50o
𝑛−1 2 𝑛′ = ̅̅̅ = = 1,473
sin ∅′ sin 31,33o
̅ ± ∆∅′
Jadi, ∅′ ̅ = (27,62 ± 0,577)
̅̅̅ 2
3. Untuk sudut datang (∅) = 50o ∆𝑛′ = √|−𝑛 sin ∅2 cos ∅′| ̅ |2 =
|∆∅′
̅̅̅
𝑠𝑖𝑛 ∅′
∅′ 𝛿∅′ |𝛿∅′|2 o cos 31,33o 2
31 -0,33 0,1089 √|− 1sin 502 | |0,577|2 = 1,396
𝑠𝑖𝑛 31,33o
′ ′
31 -0,33 0,1089 Jadi, 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,473 ± 1,396)
32 0,67 0,4489 4. Untuk sudut datang (∅) = 60o
𝑛 .sin ∅ 1.sin 60o
94 0,6667 𝑛′ = ̅̅̅ = = 1,439
sin ∅′ sin 37o
̅ Σ∅′ 94 ̅̅̅ 2
∅′ = = = 31,33 ∆𝑛′ = √|−𝑛 sin ∅2 cos ∅′| ̅ |2 =
|∆∅′
𝑛 3 ̅̅̅
𝑠𝑖𝑛 ∅′
2
̅ = √Σ|𝛿∅′| = √0,6667 = 0,577
∆∅′ o cos 37o 2
𝑛−1 2 √|−1 sin 602 | |1|2 = 1,91
𝑠𝑖𝑛 37o
̅ ± ∆∅′
Jadi, ∅′ ̅ = (31,33 ± 0,577) ′ ′
Jadi, 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,439 ± 1.91)
4. Untuk sudut datang (∅) = 60o 5. Untuk sudut datang (∅) = 70o
∅′ 𝛿∅′ |𝛿∅′|2 𝑛 .sin ∅ 1.sin 70o
𝑛′ = ̅̅̅ = = 1,447
sin ∅′ sin 40,5o
37 0 0
̅̅̅ 2
38 1 1 ∆𝑛′ = √|−𝑛 sin ∅2 cos ∅′| ̅ |2 =
|∆∅′
̅̅̅
𝑠𝑖𝑛 ∅′
36 -1 1 o cos 40,5o 2
√|−1 sin 702 | |0,5|2 = 0,847
111 2 𝑠𝑖𝑛 40,5o
′ ′
̅ = Σ∅′ 111 Jadi, 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,447 ± 0,847)
∅′ = = 37
𝑛 3
sudut datang 50o diperoleh rerata sudut bias ∅′ ̅ ± ∆∅′̅ =
V. PEMBAHASAN (31,33 ± 0,577) dan nilai indeks biasnya 𝑛′ ± ∆𝑛′ = (1,473
Praktikum ini dilakukan dua kali percobaan, yang ± 1,396), lalu pada sudut datang 60o diperoleh rerata sudut
pertama yaitu percobaan lensa, bayangan yang ditangkap ̅ ± ∆∅′
bias ∅′ ̅ = (37 ± 1) dan nilai indeks biasnya 𝑛′ ±
oleh lensa dapat dipengaruhi oleh letak antara layar dengan ∆𝑛′ = (1,439 ± 1.91), serta pada sudut datang 70o diperoleh
sumber bayangan, jarak layar terhadap sumber cahaya juga ̅ ± ∆∅′
rerata sudut bias ∅′ ̅ = (40,5 ± 0,5) dan nilai indeks
berpengaruh terhadap bentuk bayangan dan juga lensa. Jarak ′ ′
biasnya 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,447 ± 0,847).
mempengaruhi bayangan yang dibentuk, dan pergeseran Beberapa faktor dapat membuat hasil dari praktikum
benda yang membentuk bayangan juga mempengaruhi, ini kurang akurat dikarenakan beberapa kesalahan, yaitu
benda mempunyai pengaruh terhadap bentuk bayangan cahaya yang terlalu terang sehingga tidak mendapatkan
untuk membuat benda agar bisa ditangkap oleh layar bayangan yang fokus, tidak teliti dalam pengukuran jarak,
terhadap besar atau kecilnya, jelas atau tidaknya bentuk lensa cembung rusak sehingga tidak mendapatkan bayangan
benda yang terbentuk. Kaitan percobaan lensa dengan yang fokus, tidak teliti mengukur sudut hasil pembiasan,
teorinya yaitu untuk dapat menentukan fokus lensa pada saat serta kesalahan menghitung hasil percobaan dan pembulatan
praktikum di laboratorium dalam menggunakan mikroskop angka yang berpengaruh pada hasil.
atau alat optik lainnya.
Hasil analisis data yang didapatkan pada percobaan
pertama yaitu jarak 15 cm rerata jarak bayangannya 𝑑′ ̅± VI. KESIMPULAN
̅
∆𝑑′ = (7,6 ± 0,071) cm, fokus lensa yang didapat 𝑓 ± ∆𝑓 = Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat
(5,04 ± 0,031) cm, perbesaran bayangan 0,506 cm dan kuat disimpulkan bahwa jika jarak lensa semakin jauh, maka hasil
lensa yang didapat 20 dioptri, selanjutnya pada jarak 20 cm bayangan akan terbentuk semakin (nyata, terbalik,
rerata jarak bayangannya 𝑑′ ̅ ± ∆𝑑′
̅ = (6,7 ± 0,1) cm, fokus diperbesar), namun jika semakin jauh hasil bayangannya
lensa yang didapat 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,019 ± 0,056) cm, semakin nyata. Semakin jauh jarak antara lensa dan layar,
perbesaran bayangan 0,335 cm dan kuat lensa yang didapat maka hasil bayangannya akan semakin besar, namun gambar
20 dioptri, pada jarak 25 cm rerata jarak bayangannya 𝑑′ ̅± bayangannya akan semakin pudar.
̅
∆𝑑′ = (6,3 ± 0,1) cm, fokus lensa yang didapat 𝑓 ± ∆𝑓 = Hukum Snellius dapat digunakan untuk menghitung
(5,032 ± 0,064) cm, perbesaran bayangan 0,252 cm dan kuat sudut datang atau sudut bias, dan dalam eksperimen untuk
lensa yang didapat 20 dioptri, pada jarak 30 cm rerata jarak menghitung indeks bias suatu bahan. Dari hukum snellius
bayangannya 𝑑′ ̅ ± ∆𝑑′̅ = (6,1 ± 0,071) cm, fokus lensa yang diketahui sinar datang, garis normal dan sinar bias terletak
didapat 𝑓 ± ∆𝑓 = (5,069 ± 0,049) cm, perbesaran bayangan dalam satu bidang datar, Jika sinar datang dari medium lebih
0,203 cm dan kuat lensa yang didapat 19,61 dioptri, serta rapat menuju medium yang kurang rapat, maka sinar akan
pada jarak 35 cm rerata jarak bayangannya 𝑑′ ̅ ± ∆𝑑′̅ = (5,7 dibiaskan menjauhi garis normal. Jika sinar datang dari
± 0,071) cm, fokus lensa yang didapat 𝑓 ± ∆𝑓 = (4,9 ± medium kurang rapat menuju medium yang lebih rapat,
0,053) cm, perbesaran bayangan 0,163 cm dan kuat lensa maka sinar akan dibiaskan mendekati garis normal,
yang didapat 20,41 dioptri. dan perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut
Kemudian yang kedua yaitu percobaan indeks bias. bias pada dua medium yang berbeda merupakan bilangan
tetap. Pada percobaan indeks bias disimpulkan bahwa besar
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau
sudut datang tidak sama dengan sudut biasnya. Kebanyakan
pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang
besar sudut datang akan selalu lebih besar dari pada sudut
berbeda kerapatan optiknya. Hukum Snellius adalah rumus
matematika yang meberikan hubungan antara sudut datang biasnya.
dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang
melalui batas antara dua medium isotropik berbeda, seperti
udara dan gelas. Hukum Snellius digunakan untuk DAFTAR PUSTAKA
menghitung sudut datang atau sudut bias, dan dalam
eksperimen untuk menghitung indeks bias suatu bahan. [1] G. Sarojo, Gelombang dan Optika, Jakarta: Salemba
Hasil analisis data yang didapatkan pada percobaan Teknika, 2011.
kedua yaitu pada sudut datang 30o diperoleh rerata sudut [2] Purwoko, Fisika, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2007.
̅ ± ∆∅′
bias ∅′ ̅ = (21,33 ± 0,577) dan nilai indeks biasnya [3] Tim Laboratorium Fisika Dasar Terpadu UII, MODUL
′ ′
𝑛 ± ∆𝑛 = (1,375 ± 2,031), selanjutnya pada sudut datang PRAKTIKUM FISIKA DASAR I. Yogyakarta:
̅ ± ∆∅′ ̅ = (27,62 ± 0,577) LABORATORIUM FISIKA DASAR UII, 2020.
40o diperoleh rerata sudut bias ∅′
′ ′ [4] Zemansky, Fisika Universitas Edisi kesepuluh jilid IL,
dan nilai indeks biasnya 𝑛 ± ∆𝑛 = (1,384 ± 1,523), pada
Jakarta: Erlangga, 2007.