Anda di halaman 1dari 6

Ujian Semester Genap

Nama : Sevina Ulan Sari

Dosen : Yulia M.Nur, M.Si

Mata Kuliah : Ilmu Dasar Keperawatan II

PRODI S1 KEPERAWATAN

STIKES NAN TONGGA LUBUK ALUNG

T.A 2019-2020

1. Agen – agen Infeksius dan organisme :


A. Agen –agen infeksius (Mikroorganisme)
1) Flora Residen (penetap) : disebut sebagai flora normal dalam tubuh,
mikroorganisme relatif stabil dan biasa ditemukan pada area tertentu
2) Flora Transien (sementara) : mikrorganisme non patogen atau potensial
patogen
a. Virus : merupakan organisme non-seluler, karena ia tidak memiliki
kelengkapan seperti sitoplasma, organisme sel, dan tidak bisa
membelah diri sendiri
b. Bakteri : salah satu golongan organisme prokariotik ( tidak memiliki
selubung inti). Bakteri memiliki informasi genetik berupa DNA, tapi
tidak terlokalisasi dalam tempat khusus (nukleus) dan tidak ada
membran inti.
c. Jamur : Organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang
bersifat degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material
organik. Adanya enzim degradatif ini, menjadikan jamur bagian yang
sangat penting dalam mendaur ulang sampah-sampah alam, dan
sebagai dekompesor dalam siklus biogeokimia.
d. Ricketsia : merupakan bakteri yang mempunyai sifat parasit obligat
intraseluler, berukuran kecil (0,3-0,5 x 0,8-2,0 µm), mempunyai
bentuk coccobacilli, gram negatif, tidak berflagel (kecuali
Rickettsia rowazekii), dan mengalami pembelahan ganda dalam sel
pejamu.
e. Klamidia adalah bakteri yang umum ditularkan melalui infeksi
menular seksual.
f. Parasit berasal dari kata “Parasitus” (Latin) = “Parasitos” (Grik), yang
artinya seseorang yang ikut makan semeja. Mengandung maksud
seseorang yang ikut makan makanan orang lain tanpa seijin orang yang
memiliki makanan tersebut. Jadi Parasit adalah organisme yang selama
atau sebagian hayatnya hidup pada atau didalam tubuh organisme lain,
dimana parasit tersebut mendapat makanan tanpa ada konpensasi
apapun untuk hidupnya.
2. Tahapan Proses Infeksi
A. Periode Inkubasi
Periode sejak masuknya kuman ke dalam tubuh sampai dengan munculnya
gejala
B. Periode predromal
Periode munculnya gejala umum sampai muncul gejala spesifik
C. Periode sakit
Timbul manifestasi
D. Periode konvalensi
Gejala menurun sampai Individu kembali normal/ sembuh

3. Mekanisme Transmisi Mikroba Patogen ke pejamu yang rentan (suspactable host)


A. Transmisi langsung(direct transmission)
 Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu masuk yang
sesuai dari penjamu.
 Sebagai contoh adalah adanya sentuhan, gigitan, ciuman, atau adanya
droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara, atau saat transfusi darah
dengan darah yang terkontaminasi mikroba pathogen.
B. Transmisi tidak langsung(indirect transmission)
 Penularan mikroba pathogen memerlukan adanya “media perantara”
baik berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor.

4. Cara memindahkan mikroba patogen ke pejamu :


A. Cara Mekanis
Pada kaki serangga melekat kotoran/sputum (mikroba patogen), lalu hinggap
pada makanan/minuman, dimana selanjutnya akan masuk ke saluran cerna
penjamu.
B. Cara Biologis
Sebelum masuk ke tubuh penjamu, mikroba mengalami siklus
perkembangbiakkan dalam tubuh vektor/serangga, selanjutnya mikroba
dipindahkan ke tubuh penjamu melalui gigitan.

5. Mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi agen yang


berbahaya meliputi :
A. Pertahanan fisik dan kimiawi, seperti kulit, sekresi asam lemak dan asam
laktat melalui kelenjar keringat, sekresi lendir, pergerakan silia, sekresi
air mata, air liur, urin, asam lambung serta lisosom dalam air mata
B. Simbiosis dengan bakteri flora normal yang memproduksi zat yang dapat
mencegah invasi mikroorganisme.
C. Innate immunity (mekanisme non-spesifik), seperti sel polimorfonuklear 
(PMN) dan makrofag, aktivasi komplemen, sel mast, protein fase
akut, interferon, sel NK   (natural killer) dan mediator eosinofil.
D. Imunitas spesifik  , yang terdiri dari imunitas humoral dan seluler. Secara
umum pengontrolan infeksi intraselular seperti infeksi virus, protozoa,
jamur dan beberapa bakteri intraselular fakultatif terutama membutuhkan
imunitas yang diperani oleh sel yang dinamakan imunitas selular,
sedangkan bakteri ekstraselular dan toksin membutuhkan imunitas yang
diperani oleh antibodi yang dinamakan imunitas humoral.

6. Perbedaan proses Infeksi berbagai macam agen infeksius :


A. Proses Infeksi Virus
 Proses infeksi virus pada sel dimulai dengan menempelnya virus infektif
pada reseptor yang ada di permukaan sel.
 Virus atau genomnya masuk ke dalam sel. Dengan bantuan organel-
organel sel, genom virus membentuk komponen-komponennya, baik
komponen antara maupun komponen struktural virus. Setelah komponen-
komponen struktural dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel.
 Proses perkembangbiakan virus ini terjadi pada sitoplasma, inti sel,
ataupun membran sel, tergantung pada jenis virusya.

B. Proses Infeksi Bakteri


 Proses infeksi bakteri dimulai dari, dimana suatu bakteri harus menempel
dan melekat pada sel inang biasanya pada sel epitel.
 Setelah bakteri mempunyai kedudukan yang tetap untuk menginfeksi,
mereka mulai memperbanyak diri dan menyebar secara langsung melalui
jaringan atau melalui sistem limfatik ke aliran darah.
 Infeksi ini (bakteremia) dapat berlangsung sementara atupun menetap.
Bakteremia mempunyai kesempatan untuk menyebar ke dalam tubuh serta
mencapai jaringan yang cocok untuk memperbanyak diri.

C. Proses Infeksi Jamur


 Pada keadaan normal kulit memiliki daya tangkis yang baik terhadap
kuman dan jamur karena adanya lapisan lemak pelindung dan terdapatnya
flora bakteri yang memelihara suatu keseimbangan biologis.
 Bila lapisan pelindung tersebut rusak atau keseimbangan mikroorganisme
terganggu, maka spora-spora dan fungi dapat dengan mudah
mengakibatkan infeksi. Terutama pada kulit yang lembab, misalnya tidak
dikeringkan dengan baik setelah mandi, karena keringat, dan
menggunakan sepatu tertutup.
 Penularan terjadi oleh spora-spora yang dilepaskan penderita mikosis
bersamaan dengan serpihan kulit. Spora ini terdapat dimana-mana, seperti
di tanah, debu rumah dan juga di udara, di lingkungan yang panas dan
lembab, dan di tempat dimana banyak orang berjalan tanpa alas kaki,
infeksi dengan spora paling sering terjadi misalnya di kolam renang, spa,
ruang olahraga, kamar ganti pakaian, dan kamar mandi.
 Kulit manusia memiliki lapisan pelindung yang terdapat flora bakteri,
lapisan tersebut dalam keadaan normal dapat memelihara dan menjaga
keseimbangan biologis kulit yang menyebabkan kulit memiliki daya
tangkis terhadap jamur dan kuman.

D. Proses Infeksi Ricketsia


 Rickettsiiosis ditularkan melalui gigitan serangga pada kulit, hanya
penyebab Q fever  yang ditularkan leawat udara (air borne),sehingga pada
penyakit ini tidak ditemukan kelainan kulit.
 Beberapa jenis mamalia dan athropoda merupakan hospes alam untuk
rickettsia, bahkan yang terakhir dapat bertindak sebagai vektor dan
resevoir. Infeksi pada manusia hanya bersifat insidentil, kecuali pada tifus
epidemik yang vektor utamanya kutu manusia juga, yaitu Pediculus
vestimenti.
 Riketsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Riketsia prowazekii dan
Riketsia typhi tumbuh dalam sitoplasma sel. Riketsia dapat tumbuh subur
jikametabolisme sel hospes dalam tingkat yang rendah, misalnya dalam
telur bertunas pada suhu 32o C. Pada umumnya riketsia dapat dimatikan
dengan cepat pada pemanasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan
bakterisid.
 Riketsia memasuki sel inang dengan menginduksi fagositosis, lalu segera
lolos dari fagosom untuk tumbuh dan berkembang biak di dalam
sitoplasma (atau nukleus) sel inang.

E. Proses Infeksi Klamidia


Infeksi kronik klamidia dapat memicu kerusakan tuba yang dari beberapa
penelitian in vitro diperkirakan dapat diakibatkan oleh :
 Badan elementer Klamidia trakomatis yang terdapat pada semen pria yang
terinfeksi menularkan ke perempuan pasangan seksualnya.
 Klamidia naik ke traktus reproduksi wanita dan menginfeksi sel epitel
padatuba falopii.
 Didalam sel, badan elementer berubah menjadi badan retikulat dan mulai
untuk bereplikasi.
 Jalur apoptosis dihambat,yang menyebabkan sel yang terinfeksi dapat
bertahan.
 Ketika jumlah badan elementer mencapai tingkat densitas tertentu, maka
badan elementer tersebut akan terlepas darisel epitel dan menginfeksi sel
disebelahnya.
F. Proses Infeksi Parasit
Parasit menginvasi imunitas protektif dengan mengurangi imunogenisitas dan
menghambat respon imun host :
 Parasit mengubah permukaan antigen mereka selama siklus hidup dalam
host vertebrata
 Menjadi resisten terhadap mekanisme efektor imun selama berada dalam
host
 Parasit protozoa dapat bersembunyi dari sistem imun dengan hidup di
dalam sel host atau membentuk kista yang resisten terhadap efektor imun.
Dan kemudian parasit menyembunyikan mantel antigeniknya secara
spontan ataupun setelah terikat pada antibodi spesifik
 Lalu parasit menghambat respon imun dengan berbagai mekanisme untuk
masing-masing parasit.

Agen penyebab infeksi terdiri dari virus, bakteri, jamur, parasit, riketsia, dan
clamidia. Infeksi virus yang menyebabkan penyakit umumnya digolongkan ke dalam
sistem organ yang terkena, seperti infeksi virus pernapasan, bentuk kelainan klinik
yang di timbulkan seperti virus yang menyebabkan eksastema, dan sifat infeksi
infeksi laten virus. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri sering terjadi bersamaan
dengan adanya rasa sakit, nyeri, atau borok pada bagian tubuh. Ada waktu saat sistem
kekebalan tubuh tidak dapat menyingkirkan suatu infeksi bakteri. Masing-masing
faktor penyebab memiliki karakteristik tersendiri. Jamur menimbulkan infeksi
umumnya terjadi di kulit. Infeksi jamur lebih cenderung mengenai daerah-daerah
yang sering berkeringat dan lembab, seperti muka, badan, kaki, lipatan paha, dan
lengan. Parasit yang terdiri dari vermes dan protozoa menimbulkan infeksi melalui
kontak langsung maupun tidak langsung.

7. Hal – hal yang perlu diperhatikan tentang obat Tradisional :


A. Memakai Obat Tradisional yang telah terdaftar
B. Kondisi wadah dalam keadaan baik
C. Jelas Komposisi dan kadarnya
D. Secara Visual/Penglihatan Komposisinya masih bagus (tidak ada
jamur/kontaminan lain)
E. Jelas khasiat dan cara penggunaanya
Jawaban soal Bonus :

Jika saya sebagai seorang perawat yang sedang dinas di Rumah Sakit dan dihadapkan
dengan seorang pasien yang positif Covid-19 , maka saya tidak boleh menolak tugas
kemanusiaan apapun resikonya, karena menurut saya tugas yang di emban ini tidak
sebanding dengan penderitaan dan ketakutan pasien yang terindikasi Covid -19, jadi saya
akan berusaha melaksanakan tugas saya semaksimal mungkin, memberikan pelayanan
keperawatan yang sesuai standar kepada mereka, memenuhi semua kebutuhan kesehatan
yang mereka perlukan tanpa memandang status pasien. Serta yang paling penting juga kita
sebagai perawat harus tetap membangun Komunikasi dan Membangkitkan semangat pasien
untuk sembuh. Walaupun kita sebagai perawat juga sangan rentan akan terpapar Virus Covid-
19 ini, asal kita memakai APD sesuai standar dan melakukan protokol kesehatan yang sudah
di tentukan, dan juga tidak lupa untuk selalu meminta perlindungan kepada ALLAH, Insya
Allah kita akan aman dari terinfekisnya virus Covid -19 ini.