Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PERMASALAHAN KENAIKAN TARIF TRANSPORTASI AKIBAT


KEBIJAKAN SOSIAL

Memenuhi tugas matakuliah Sosiologi

yang dibina oleh Rossyana Septyasih, S.Kp., M.Pd

Oleh

Mita Yusniar 1401100024

Yuyun Masruroh 1401100025

Gigih Eko Santoso 1401100031

Tiana Rachmadita 1401100034

Tanti Adiati 1401100036

Setyaningtyas 1401100038

Rizki Taufikur Rahman 1401100040

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN MALANG

APRIL 2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan anugerahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya tulis ilmiah yang berjudul “Permasalahan Kenaikan Tarif Transportasi
akibat Kebijakan Sosial” untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak


kekurangan. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
penulis harapkan demi tercapainya kesempurnaan. Penulis juga berharap makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Malang, 13 April 2015

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar

Daftar Pustaka

Bab I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

Bab II. Pembahasan

2.1 Pengertian Transportasi

2.2 Peran Dan Manfaat Transportasi

2.3 Kriteria Transportasi Publik

2.4 Kasus Yang Sering Muncul Di Masyarakat

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan tekhnologi dan inovasi telah mengantarkan


manusia ke puncak-puncak pencapaian baru. Kemajuan tekhnologi yang pesat
turut memngakibatkan gaya hidup dengan mobilitas tinggi. Dalam menyiasati
gaya hidup yang banyak menuntut di era ini, masyarakat telah mengembangkan
transportasi sebagai alat bantu.

Transportasi adalah sesuatu hal yg berhubungan dengan pemindahan


orang/barang dr suatu tempat asal ke tempat tujuan suatu tindakan, proses/hal
yg sdg dipindahkan dr suatu tempat ke tempat lain . transportasi adalah hal
yang penting dan fasilitas yang sangat diperlukan disetiap kalangan, baik
kalangan atas, tengah, maupun kalangan rendah, yang terutama yaitu
transportasi umum. Di Indonesia transportasi umum seperti angkot maupun
busway hampir setiap hari digunakan. Namun sekarang masalah yang muncul
yaitu kenaikan tarif transportasi di setiap wilayah karena kebijakan
pemerintah yang berubah-ubah dan tak menentu yang berdampak pada setiap
lapisan sosial. Disini seharusnya pemerintah memberi kebijakan yang jelas
dan tidak membingungkan masyarakat, terutama masyarakat lapisan
menengah ke bawah. Agar tidak mengganggu perekonomian masyarakat
menengah kebawah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan transportasi ?

2. Apa peran dan manfaat transportasi?

3. Apa kriteria transportasi publik?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari transportasi.

2. Mengetahui peran dan manfaat transportasi.

3. Mengetahui kriteria transportasi publik.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Transportasi

Transportasi merupakan usaha memindahkan, menggerakkan,


mengangkut atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain
dimana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna
untuk tujuan-tujuan tertentu (Miro, 2005). Transportasi diartikan sebagai
pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan (Nasution,
1996). Dalam hubungsn ini terlihat ada tiga hal sebagai berikut :

a) Ada muatan yang diangkut


b) Tersedia kendaraan sebagai alat angkutannya, dan
c) Ada jalanan yang dapat dilalui.

Nilai yang diberikan oleh transportasi adalah adalah berupa nilai


tempat (place utility) dan nilai waktu (time utility). Kedua nilai ini diperoleh
jika barang telah diamgkut ke tempat di mana nilainya lebih tinggi dan dapat
dimanfaatkan tepat pada waktunya.

Menurut Marlok (1981), transportasi berarti memindahkan atau mengangkut


sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain.
Menurut Bowersox (1981), transportasi adalah perpindahan barang atau
penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan produk yang digerakkan
atau dipindahkan ke lokasi yang membutuhkan atau menginginkan.
Menurut Papacostas (1987), transportasi didefinisikan sebagai suatu sistem
yang terdiri dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem control yang
memungkinkan orang atau barang dapat berpindah dari suatu temapat ke
tempat lain secara efisien dalam setiap waktu untuk mendukung aktivitas
manusia.
Menurut Warpani (2002), transportasi atau perangkutan adalah kegiatan
perpindahan orang dan barang dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan)
dengan menggunakan sarana (kendaraan)
Menurut Soesilo (1999) yang mengemukakan bahwa transportasi merupakan
pergerakan tingkah laku orang dalam ruang baik dalam membawa dirinya
sendiri maupun membawa barang

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Transportasi adalah


sesuatu hal yg berhubungan dg pemindahan orang/barang dr suatu tempat asal
ke tempat tujuan suatu tindakan, proses/hal yg sdg dipindahkan dr suatu
tempat ke tempat lain

Selain transportasi ada pula pengertian sistem transportasi, pengertian


dari Sistem transportasi adalah suatu kesatuan dari fasilitas fisik (tetap), arus
dan sistem kontrol, yang memungkinkan manusia dan barang untuk berpindah
dari satu tempat ke tempat yang lain secara efisien dalam rangka pemenuhan
kebutuhan.

Sistem transportasi dikategorikan dalam empat sub-sistem yaitu:


1. Transportasi darat
• Jalan raya
• Jalan rel
2. Transportasi udara
• Domestik
• Internasional
3. Transportasi air
• Daerah pedalaman (inland)
• Daerah pantai (coastal)
• Daerah lautan/samudera (ocean)

2.2 Peran dan Manfaat Transportasi

Menurut Tamin (1997:5), prasarana transportasi mempunyai dua


peran utama, yaitu:
1. sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah
perkotaan
2. Sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan/atau barang yang
timbul akibat adanya kegiatan di daerah perkotaan tersebut.
Dengan melihat dua peran yang di sampaikan di atas, peran pertama
sering digunakan oleh perencana pengembang wilayah untuk dapat
mengembangkan wilayahnya sesuai dengan rencana. Misalnya saja akan
dikembangkan suatu wilayah baru dimana pada wilayah tersebut tidak akan
pernah ada peminatnya bila wilayah tersebut tidak disediakan sistem
prasarana transportasi. Sehingga pada kondisi tersebut, parsarana transportasi
akan menjadi penting untuk aksesibilitas menuju wilayah tersebut dan akan
berdampak pada tingginya minat masyarakat untuk menjalankan kegiatan
ekonomi. Hal ini merupakan penjelasan peran prasarana transportasiyang
kedua, yaitu untuk mendukung pergerakan manusia dan barang.
Selain memahami peran dari transportasi di atas, aspek yang menjadi
penting dari sektor transportasi adalah aksesibilitas, karena perlunya
transportasi guna mendukung kedua peran yang disampaikan di atas sehingga
akan memudahkan aksesibilitas orang dan barang.
Dalam pendekatan transportasi, menurut Black (1981) aksesibiltas
merupakan sebuah konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna
wilayah secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang
menghubungkannya. Sehingga, aksesibilitas merupakan suatu ukuran
kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi berinteraksi satu sama
lain dan “mudah” atau “susah”-nya lokasi tersebut dicapai melalui sistem
jaringan transportasi. Pernyataan “mudah” atau “susah” merupakan
pernyataan yang sifatnya sangat “subyektif” dan “kualitatif”, karena setiap
orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang mudah dan susah
terhadap aksesibilitas yang mereka rasakan.
Tamin (1997:52) mengungkapkan bahwa aksesibilitas dapat pula
dinyatakan dengan jarak. Jika suatu tempat berdekatan dengan tempat lain, maka
dapat dikatakan memiliki aksesibilitas yang tinggi, demikian sebaliknya. Jadi
suatu wilayah yang berbeda pasti memiliki aksesibilitas yang berbeda, karena
aktivitas wilayah tersebut tersebar dalam sebuah ruang yang tidak merata. Akan
tetapi sebuah lahan yang diperuntukan untuk bandar udara memiliki lokasi yang
tidak sembarangan, sehingga lokasinya pun sangat jauh dari kota karena harus
memperhatikan segi keamanan, pengembangan wilayah, dan lainnya.
Aksesibilitas menuju bandara menjadi rendah karena lokasinya yang
sangat jauh dari pusat kota, namun dapat diatasi dengan menyediakan sistem
jaringan transportasi yang dapat dilalui dengan kecepatan tinggi. Artinya, saat ini
ukuran aksesibilitas yang diukur berdasarkan jarak sudah tidak lagi digunakan,
namun dapat diukur berdasarkan waktu tempuh6.

Menurut Soesilo (1997) transportasi memiliki manfaat yang sangat besar


dalam mengatasi permasalahan suatu kota atau daerah. Beberapa manfaat yang
dapat disampaikan adalah:

1. Penghematan biaya operasi


Penghematan ini akan sangat dirasakan bagi perusahaan yang
menggunakan alat pengangkutan, seperti bus dan truk. Penghematan
timbul karena bertambah baiknya keadaan sarana angkutan dan besarnya
berbeda-beda sesuai dengan jenis kendaraanya dan kondisi sarananya.
Dalam hal angkutan jalan raya, penghematan tersebut dihitung untuk tiap
jenis kendaraan per km, maupun untuk jenis jalan tertentu serta dengan
tingkat kecepatan tertentu.
Biaya-biaya yang dapat diperhitungkan untuk operasi kendaraan
adalah sebagai berikut:
1) Penggunaan bahan bakar, yang dipengaruhi oleh jenis
kendaraan,
kecepatan, naik-turunya jalan, tikungan dan jenis permukaan jalan.
2) Penggunaan pelumas;
3) Penggunaan ban;
4) Pemeliharaan suku cadang;
5) Penyusutan dan bunga;
6) Waktu supir dan waktu penumpang.
2. Penghematan waktu
Manfaat lainnya yang menjadi penting dengan adanya proyek
transportasi adalah penghematan waktu bagi penumpang dan barang. Bagi
penumpang, penghematan waktu dapat dikaitkan dengan banyaknya
pekerjaan lain yang dapat dilakukan oleh penumpang tersebut. Untuk
menghitungnya dapat dihitung dengan jumlah penumpang yang berpergian
untuk satu usaha jasa saja dan dapat pula dihitung dengan tambahan
waktu senggang atau produksi yang timbul apabila semua penumpang
dapat mencapai tempat tujuan dengan lebih cepat. Adapun manfaat dari
penghematan waktu tersebut dapat dihitung dengan mengalikan perbedaan
waktu tempuh dengan rata-rata pendapatan per jam dari jumlah pekerja
yang menggunakan fasilitas tersebut.
Manfaat penghematan waktu untuk barang terutama dilihat pada
barang-barang yang cepat turun nilainya jika tidak segera sampai di pasar,
seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan ikan. Manfaat lain akibat adanya
penghematan waktu tempuh adalah biaya modal (modal atas modal kerja)
sehubungan dengan pengadaan persediaan.

3. Pengurangan kecelakaan
Untuk proyek-proyek tertentu, pengurangan kecelakaan merupakan
suatu manfaat yang nyata dari keberadaan transportasi. Seperti perbaikan-
perbaikan sarana transportasi pelayaran,jalan kereta api dan sebagainya
telah dapat mengurangi kecelakaan.Namun di Indonesia,masalah ini
masih banyak belum mendapat perhatian,sehingga sulit memperkirakan
besarnya manfaat karena pengurangan biaya kecelakaan.Jika kecelakaan
meningkat dengan adanya peningkatan sarana dan pra sarana transportasi,
hal ini menjadi tambahan biaya atau bernilai manfaat negatif.

4. Manfaat akibat perkembangan ekonomi


Pada umumnya kegiatan transportasi akan memberikan dampak
terhadap kegiatan ekonomi suatu daerah.Besarnya manfaat ini sangat
bergantung pada elastisitas produksi terhadap biaya angkutan.Tambahan
output dari kegiatan produksi tersebut dengan adanya jalan dikurangi
dengan nilai sarana produksi merupakan benefit dari proyek tersebut.

5. Manfaat tidak langsung


Merupakan manfaat yang didapat karena terhubungnya suatu
daerah dengan daerah lain melalui jalur transportasi.Selain manfaat
karena terintegrasinya dua daerah tersebut maka akan terjadi pemerataan
pendapatan dan prestise,sehingga manfaat ini sangat sulit untuk
diperhitungkan secara kuantitatif.

2.3 Kriteria Transportasi Publik

Sebagai sarana transportasi publik,maka transportasi harus memenuhi


kriteria pelayanan public.Dagun et. al (2006) mengungkapkan bahwa transportasi
yang baik bagi pelayanan publik harus memenuhi tiga kriteria dasar,yaitu
kenyamanan, keamanan, dan kecepatan.

a. Ketentuan pertama adalah kenyamanan, yaitu aspek kenyamanan


harus dapat dirasakan oleh penumpang yang menggunakan jasa
transportasi.Penumpang akan merasa nyaman di dalam sarana transportasi
bila di sarana tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang
memberikan kenyamanan bagi penumpangnya, salah satunya adalah
pendingin udara, kedap terhadap asap kendaraan bermotor, dan proses
yang dijalani calon penumpang sebelum dan setelah berada dalam sarana
transportasi.

b. Ketentuan kedua adalah keamanan, yaitu aspek rasa aman yang


dirasakan oleh penumpang selama mendapatkan pelayanan transportasi.
Beberapa indicator yang digunakan dalam mengukur rasa aman
diantaranya adalah sistem tertutup dimana sarana transportasi tidak mudah
diakses oleh pihak lain yang bukan penumpang.Pada kasus bus, termasuk
di dalamnya adalah halte atau terminal yang hanya diakses oleh
penumpang yang sudah membeli tiket bus. Selain itu,adalah sistem naik
dan turun penumpang.Untuk menjaga keamanan,penumpang harus naik
dan turun hanya pada halte dan terminal yang telah ditetapkan,dan
penumpang tidak dapat naik dan turun pada tempat selain halte dan
terminal resmi.Dengan demikian, sistem tertutup ini dapat memberikan
rasa aman bagi penumpang dari ancaman pencurian,pencopetan,
perampokan,atau insiden-insiden lainnya yang mengancam keselamatan
penumpang dalam menggunakan jasa transportasi.

c. Ketentuan ketiga adalah kecepatan,yaitu ketentuan terpenuhinya


waktu sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan atau tepat.Ketentuan ini
hanya dapat terpenuhi bila sarana transportasi didukung dengan pra sarana
yang khusus,sebagai contoh adalah rel khusus yang dimiliki oleh kereta
api. Sehingga dengan mengadopsi prasarana kereta api,maka pada
transportasi bus pun dapat diterapkan dengan membangun jalur khsusus
atau disebut dengan busway.Dagun et. al (2006) mengungkapkan bahwa
sarana transportasi missal yang dapat memenuhi ketiga ketentuan tersebut
dapat dilakukan melalui konsep transportasi busway yang diterapkan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.Sarana transportasi ini,walaupun belum
sesempurna yang diharapkan pada ketiga ketentuan di atas,namun telah
memenuhi harapan masyarakat ibu kota dalam mendapatkan pelayanan
transportasi publik yang cepat,nyaman dan aman

Sarana transportasi darat ini paling banyak diminati karena relatif murah,
cepat dan mudah dijangkau.Berikut ini adalah upaya-upaya yang dilakukan
pemerintah untuk meningkatkan sarana transportasi darat.
1. Pemeliharaan rehabilitasi jalan raya yang sudah ada.
2. Membangun jalan tol dan jalan layang, ringroad.
3. Pembangunan jalan kereta api.
4. Rehabilitasi infrastruktur dan penyediaan tambahan perlengkapan
operasional jalan kereta api.
5. Pengadaan kereta api lebih modern, seperti Argo Bromo dan Argo
Gede.
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 kenaikan tarif angkutan umum


TRIBUNNEWS.COM.PAGARALAM - Pasca harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) naik pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menginstruksikan
adanya kenaikkan tarif angkutan 10 persen. Namun kebijakan tersebut tidak
diterima pihak sopir angkutan di Kota Pagaralam.
Pihak Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) Kota Pagaralam, menilai
kebijakan pemerintah itu tidak berpihak pada awak angkutan umum. Pasalnya
kenaikkan tarif angkutan tidak sesuai dengan kenaikkan BBM.
Ketua Organda Kota Pagaralam, Haidir Murni mengatakan, pihaknya merasa
dirugikan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah terkait tarif angkutan umum.
Pasalnya ketetapan tersebut tidak sesuai dengan persentase kenaikkan BBM.
"Jika memang pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif angkutan maksimal 10
persen, jelas kami tolak. Sebab sangat merugikan kami," tegasnya.
Pihaknya menganggap kebijakan Pemerintah tersebut tidak memiliki hitung-
hitungan komprehensif terlebih dahulu.
"Yang dihitung Pemerintah itu mungkin berdasarkan harga minyak saja.
Pemerintah tidak menghitung berapa biaya yang dikeluarkan awak angkutan
ataupun pengusaha untuk membeli peralatan mobil yang juga ikut naik harganya,"
jelasnya, kepada Sripoku.com (21/11/2014).
Dikatakannya seharusnya kenaikkan tarif angkutan sebesar 25 persen. Namun
pihaknya masih akan berkoordinasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Terutama Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo)
Kota Pagaralam.

3.2 kenaikan tarif kereta


Merdeka.com - Kebijakan menaikkan tarif tiket Kereta Commuterline sebesar Rp
2000 dinilai cukup memberatkan bagi penggunanya. Sebab, masih banyak
pengguna yang merasa kurang nyaman terhadap fasilitas yang ada.
Atas dasar itu, Aliansi Masyarakat Pengguna Kereta Api (AMPKAI) yang
berjumlah 20 orang menggelar unjuk rasa di depan Kemenhub. Mereka meminta
Kemenhub mengadakan evaluasi sebelum menaikkan tarif.

"Kebijakan itu boleh saja, tapi harus dilihat dulu apakah selama ini pengguna
sudah nyaman dengan fasilitas yang disediakan," ujar koordinator aksi, M Kamil
Mony, kepada wartawan di depan Gedung Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat,
Jakarta, Kamis (4/10).

Pihaknya juga mengeluhkan pelayanan yang diberikan bagi pengguna


Commuterline belum maksimal. Sehingga pemerintah dinilai belum layak
membuat kebijakan baru.

"Seharusnya pemerintah menyelesaikan satu-satu dulu masalah yang ada. Jangan


buat masalah baru dengan menaikkan tarif Commuterline," kata Kamil.

Selain itu, pihaknya meminta pemerintah mencabut izin usaha toko retail yang ada
di seluruh stasiun kereta se-Jabodetabek. Sebab, keberadaan toko retail itu telah
menciptakan ketidakadilan bagi para pedagang tradisional.

"Keberadaan toko retail di stasiun kereta telah melukai perasaan pedagang


tradisional yang setiap hari mengais rezeki di sepanjang stasiun kereta se-
Jabodetabek," ucap Kamil.

3.3 Demonstrasi akibat kenaikan tarif transportasi

a. Kasus Demo
JOMBANG – Geram kenaikan tarif kereta api (KA), ratusan warga menggelar
aksi menuntut dikembalikannya tarif tiket kereta yang lama. Mereka sekaligus
mengecam pemerintah yang sebelumnya menaikkan harga tiket hingga lima kali
lipat.
Sejulah warga Kota Jombang, Jawa Timur pada Minggu (8/3/2015)
pagi,menggeruduk Stasiun Besar Kota Jombang.

Dengan berjalan kaki, warga yang tergabung dalam Paguyuban Penumpang KA


ini melakukan long march dari alun-alun kota sampai Stasiun Kota Jombang.

Massa menolak keputusan pemerintah yang menaikkan harga tiket KA jarak


pendek yang dirasa haneree ya akan menambah beban hidup warga.

Padahal, KA jarak pendek selalu jadi alat transportasi utama warga yang tak
mampu untuk berangkat dan pulang kerja dari Jombang ke Surabaya di setiap
harinya.

Mereka keberatan tiket KA dinaikkan di saat hampir berbarengan dengan naiknya


harga gas elpiji, BBM dan berbagai harga sembako. Jika tiket KA turut dinaikkan,
jelas mereka yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh pabrik atau kuli
bangunan takkan mampu menopang ekonomi keluarga lagi.

Selama ini, warga pulang-pergi ke Surabaya dengan KA jarak pendek, KRD


Rapih Doho dari Jombang tujuan Surabaya, hanya membayar tiket seharga Rp2
ribu. Kini setelah dinaikkan, mereka harus membayar Rp10 ribu.

Warga menuntut pemerintah membatalkan kenaikan harga tiket. Di sisi lain meski
stasiun diramaikan aksi unjuk rasa, tapi aktivitas pelayanan KA di Stasiun
Jombang tetap berjalan normal.

CIANJUR, TRIBUN - Sejumlah angkutan umum (angkum) melakukan asi unjuk


rasa di kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo)
Kabupaten Cianjur, Rabu (19/11). Mereka menuntut kenaikan tarif angkum
setelah pemerintah Jokowi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Berdasarkan pantauan Tribun, sopir angkum itu memarkirkan kendaraanya di
halaman kantor Dishubkominfo Kabupaten Cianjur. Memang tidak semua
angkum di Kabupaten Cianjur melakukan aksi. Hanya sejumlah angkum jurusan
Cianjur-Jangari dan Cianjur-Cikalong yang melakukan aksi.
Sementara informasi yang dihimpun Tribun, pengurus Organisasi Gabungan
Angkutan Darat (Organda) dan instansi terkait melakukan perundingan dan
pembahasan terkait dengan tarif angkum.(cis)
BAB IV
PEMBAHASAN

KENAIKAN TARIF ANGKUTAN UMUM DIIRINGI DENGAN PENINGKATAN KUALITAS

ALASAN Kenanikan tarif KA

JAKARTA – Mulai hari ini, PT KAI (Persero) melakukan penyesuaian tarif


kereta api (KA) kelas ekonomi jarak sedang dan jarak jauh. Keputusan ini
tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 17 Tahun 2015.

Penelusuran Okezone, Jakarta, Rabu (1/4/2015), Direktur Utama PT KAI Edi


Sukmoro memberikan alasan bahwa kenaikan tersebut dikarenakan pelemahan
nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Lantaran beberapa komponen operasional
dan pemeliharaan tergantung dengan dolar.

Selain itu, kenaikan tersebut karena adanya penyesuaian kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM) jenis solar.

Oleh sebab itu, beberapa jalur yang naik hari ini sesuai Peraturan Menhub Nomor
17 Tahun 2015 maka Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 5 Tahun 2014
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Transportasi.http://dimasmaulanaindologistics.blogspot.com/2012/10/pengertiantransp
ortasi.html. diakses tanggal 13 Maret 2015.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/132635-T%2027840-Analisis%20faktor-Tinjauan
%20literatur.pdf
http://news.okezone.com/read/2015/03/08/340/1115383/demo-warga-tolak-kenaikan-
harga-tiket-ka
http://www.merdeka.com/peristiwa/tolak-kenaikan-harga-tiket-commuterline-massa-
demo-kemenhub.html
http://economy.okezone.com/read/2015/04/01/320/1127469/daftar-tarif-kereta-yang-
naik-karena-dolar-bbm