Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ILMU BALAGHOH II

ILMU BADI’ 5

Dosen Pengampu: Muhammad Afifullah, MA., Ph.D

Disusun Oleh:

Kelompok Sembilan (9)

Ahmad Naufal Hafidh (17240003)


Nabilah Rohadatul ‘Aisy (17240012)
Ilham Maulana Nur M (17240038)
M Ali Fuadi A (17240039)

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Fakultas Syariah

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang senantiasa selalu melimpahkan rahmat
dan kasih sayang-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Ilmu
Badi 5”. Shalawat berbingkai salam hanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad ‫وس ع لم ص‬
‫ه لى‬AA‫ هلال لي‬yang menjadi teladan bagi umat manusia, seseorang yang berhasil membawa
cahaya di kehidupan sebelumnya yang gelap.

Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Muhammad Afifullah, M.A., Ph.D.


selaku dosen pengampu mata kuliah Balaghah II (Bayan, Ma’ani, Badi’). Terimakasih pula
kepada teman-teman dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan makalah
ini. Terlepas dari itu semua, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam
makalah ini baik dari segi kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari para pembaca agar dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat menunjang mata kuliah yang
bersangkutan dan semoga bermanfaat bagi para pembaca serta senantiasa dapat diamalkan
oleh kita semua

Malang, 19 April 2020

Kelompok 9
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu balaghah merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mengolah


kata atau susunan kalimat bahasa arab yang indah dan memiliki arti yang jelas, yang gaya
bahasanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Para ahli balaghah sepakat membagi
ruang lingkup pembahasan balaghoh menjadi tiga ilmu, yaitu ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan
ilmu badi’. Pada semester lalu kita telah belajar tentang ilmu ma’ani, dan dalam pertemuan-
pertemuan sebelumnya kita telah belajar mengenai ilmu bayan dan beberapa pembahasan
dalam kajian ilmu badi’. Dalam kesempatan kali ini, kita akan belajar kajian selanjutnya
mengenai ilmu badi’ yaitu ilmu badi’ 5: jinas, tashif, izdiwaj, saja', muwazanah, tarshi,
tasyri'.

Sesuai dengan pengertian dari Ilmu Badi’ yaitu memperindah ungkapan kalimat,
maka cara-cara memperindah kalimat dalam badi’ terkadang berbentuk ma’nawiyyah dan
terkadang berbentuk lafzhiyyah. Dalam pembahasan ini kami membahas beberapa bentuk
cara-cara memperindah kalimat yang bersifat lafzhiyyah, muhassinat al-lafzhiyah. Yakni
yang berhubungan dengan lafazh, walaupun maknanya sendiri sudah bagus.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Jinas?

2. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tashif?

3. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Izdiwaj?

4. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Saja’?

5. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Muwazanah?


6. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tarshi’?

7. Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tasyri’?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Jinas

2. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tashif

3. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Izdiwaj

4. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Saja’

5. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Muwazanah

6. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tarshi’

7. Untuk mengetahui Bagaimana penjelasan mengenai ilmu badi’ terkait Tasyri’


BAB II

PEMBAHASAN

A. Badi’ Jinas dan Macam-macamnya

‫مع احّت اد احلرف و النّظام‬ ‫منه اجلناس و هو ذو متام‬

‫نوعا و مستوفا إذ النّوع اختلفت‬ ‫و متماثال دعى ان ئتلف‬

‫فاخرج عن الكون تكن مشاهدا‬ ‫لن يعرف الواحد ااّل واحدا‬


“Dari sebagian badi’ lafdzi ialah badi’ jinas, yaitu yang sempurna serta sama
huruf dan susunannya; disebut mutamatsil kalau sama macamnya, dan disebut
mustaufi kalua berbeda. Seperti: Tidak akan mengetahui orang yang
menyendiri kecuali kepada Zat Yang Maha Esa dan keluarlah kamu dari
keadaan makhluk, tentu kamu bermusyahadah”

Secara Bahasa al-jinas sama dengan al-musyakalah yang artinya persamaan,


menyamai, atau sejenis. Sedangkan menurut istilah jinas adalah dua lafadz yang
mempunyai persamaan dalam pengucapan, sementara artinya berbeda. Jinas
memiliki beberapa pembagian, diantaranya;1

1. Jinas Taam
Adalah dua lafal yang serupa ucapannya atau isytirok, kecuali taradduf,

seperti lafal “ٌ‫َسد‬


َ ‫ ”أ‬dan “‫” َسبُ ٌع‬. Badi’ Jinas Taam ada dua macam, yaitu:
a. Yang taam, yaitu yang sama hurufnya, banyaknya, tingkahnya, dan
tertibnya. Taam ini pun terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu:
1
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 219
1) Terdiri dari isim atau fi’il semua, disebut juga badi’ jinas taam yang
mutamatstsil.
ِ
َ ‫اع ٍة ۚ َك َٰذل‬
‫ك َكانُو ۟ا يُ ْؤفَ ُكو َن‬ ِ
۟
َ ‫اعةُ يُ ْقس ُم ٱلْ ُم ْج ِر ُمو َن َما لَبِثُو ا َغْيَر َس‬
َ ‫ٱلس‬
َّ ‫وم‬
ُ ‫َو َي ْو َم َت ُق‬

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang


berdosa; "mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat
(saja)". Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari
kebenaran).

Kata ُ‫اعة‬
َ <‫ ٱل َّس‬yang pertama menunjukkan makna hari kiamat dan kata

ُ‫اعة‬
َ ‫ٱلس‬
َّ yang kedua yakni gambaran tentang keadaan orang-orang dalam kubur
yang menanti hari kebangkitan.2

‫لن يعرف الواحد ااّل واحدا‬


“orang-orang yang mengesakan Allah tidak akan mengetahui
(bahwa sesuatu itu memberi manfaat dan mudlorot) kecuali hanya
pada Allah yang Esa”

2) Yang terdiri dari dua macam, yaitu isim dan fi’il, disebut badi’ jinas
taam mustaufi

‫الزمان فإنه " حيي لدى حيي بن عبد الّله‬


ّ ‫ما مات من كرم‬
“Tidak ada yang lenyap dari anggur tempo dulu, maka
sesungguhnya anggur yang lenyap (mati) itu hidup disamping Yahya
bin Abdillah”

Kata ‫ حيي‬yang pertama adalah fi’il, dan ‫ حيي‬yang kedua adalah isim alam

b. Badi’ jinas taam yang murakkab, yaitu terbagi dua macam:


2
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 216
1) Yang sama tulisannya, disebut mutasyabbih

‫اذا ملك مل يكن ذاهبة " فدعه فدولته ذاهبة‬


“Apabila seseorang memiliki sesuatu, ia tidak suka memberi. Maka
tinggalkanlah dia, kekuasaannya pasti hilang.”

Lafadz ‫ ذاهبة‬yang pertama, asalnya dari (‫ )ذاءهبة‬yang dari Al-

Asmaaul Khamsah (isim-isim yang lima). Lafadz ‫ ذاهبة‬yang kedua asalnya “

‫ ”ذاهبة‬satu kalimat.

2) Yang tidak sama tulisannya, disebut mafruq

‫ ما الذي ضر ودراجلام لو جاملنا‬.‫كلكم قد اخذ اجلام وال جام لنا‬


“Masing masing kamu telah mengambil bejana arak dan tidak ada
bejana arak bagi kita, apakah yang memberi mudhorot bagi orang
yang mengelilingkan bejana itu, kalau ia berbuat baik pada kita.”

Lafadz ‫جاملنا‬ ‫ لو‬yang kedua merupakan lafadz mufrot sedangkan

lafadz ‫لنا‬ ‫ ال جام‬yang pertama adalah (ismu la) dan khobarnya.

3) Yang berbeda tingkah hurufnya, disebut muharrof

‫الربد‬
ْ ‫جبة َبرد جبّة‬
ّ
“Baju jubah yang dijahit pelindung dari dingin”3

2. Jinas Naqis

‫و ناقص مع اختالف ىف العدد " و شرط خلف النّوع واحد فقد‬

3
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 221
‫و مع تقارب مضارعا الف " و مع تباعد بالحق وصف‬
“Kedua badi’ naqis dengan syarat berbeda bilangan huruf dan macamnya,
tetapi cukup dengan berbeda sehuruf saja. Dan serta susunan lafadz yang
berdekatan disebut mudlori’ dan serta berjauhan disifati/disebut lahiq”

Badi’ Naqis, adalah dua lafadz yang berbeda bilangan hurufnya meskipun
sehuruf.4

A. Yang berbeda hurufnya


a. Yang berbeda huruf awal, seperti

‫املساق‬
ُ ‫بالساق اىل ربك يومئذ‬
ّ ‫اق‬ ُ ‫الس‬
ّ ‫و الت ّفت‬
"Dan bertaut betis kiri dan betis kanan. Kepada Tuhanmulah pada
hari itu kamu dihalau”
b. Yang berbeda huruf tengah

‫جدى جهدي‬
“Bagian dan kekayaanku dari harta dunia adalah sesuai kadar
kepayahan dan kerja kerasku (bukan karena warisan)”
c. Yang berbeda huruf akhir

‫عواصم‬
ُ ‫مي ّدون من ايد عواص‬
“Mereka mengulurkan lengannya pada tangan orang yang memukul
musuh dengan pedang penjaga diri”
d. Yang berbeda beberapa huruf
ّ
‫ من الجوى بين الجوانح‬.‫ان البكاء هو الشفاء‬
“Sesungguhnya menangis adalah sebagai obat. Kedukaan hati yang
berada di antara tulang rusuk.”

B. Yang berdekatan hurufnya (hampir bersamaan)

4
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 222
a. Yang hampir sama awalnya, seperti

‫يين وبني كيّن ليل دامس وطريق طامس‬


“Antara aku dan rumahku ada malam yang gelap gulita dan jalan
yang telah hilang tandanya.” (Jarir)
Antara huruf dal dan tho’ adalah mutaqoribain, (berdekatan
makhrojnya)
b. Yang hampir sama tengahnya

‫وهم ينهون عنه وينئون عنه‬


“Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan
mereka sendiri menjauhkan daripadanya”
Hampir sama antara “ha” dan “hamzah”
c. Yang hampir sama akhirnya, seperti

‫أخليل معقود بنواصيها اخلري إىل يوم القيامة‬


Hampir sama antara “ro” dan “lam”5

C. Yang berjauhan, disebut lahiq, yaitu


a. Yang berjauhan huruf awalnya

‫كل مهزة لّمزة‬


ّ ّ‫ويل ل‬
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
Antara lafadz humazah dan lumazah. Lam dan ha’ adalah
mutaba’idain (berjauhan makhroj dan sifatnya)
b. Yang berjauhan huruf tengahnya

‫حلب اخلري لشديد‬


ّ ‫ وإنّه‬. ‫وإنّه على ذالك لشهيد‬

5
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 222-223
“Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri)
keingkarannya dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya
kepada harta”
c. Yang berjauhan huruf akhirnya

‫وإذا جاءهم أمر من ألمن أو اخلوف أذاعوابه‬


“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya”
6
Berjauhan antara “ro” dan “nun” dalam lafadz ‫ أمر‬dan ‫أمن‬

3. Jinas Qolab

‫و هو جناس القلب حيث خيتلف ترتيبها للكل والبعض اضف‬


“Badi’ jinas naqis itu, ialah jinas qolab sekira berbeda tertibnya dan
mengidhofahkan kamu kepada semuanya dan ke sebagiannya,”

Yakni yang dimaksud jinas qolab ialah apabila tertibnya berbeda. Terdapat lima
macam;
a. Qolab kul (semua huruf)
Apabila lafadz yang ada kecocokan itu ada perbedaan urutan huruf
secara keseluruhan

‫حسامه فتح ألوليائه حتف ألعدائه‬


“Pedang kekasih adalah menolong pada pengikutnya dan membunuh pada
musuh-musuhnya.”
Dua lafadz yang ada kecocokan, yaitu lafadz fathun dan hatfun itu
sama hurufnya, tetapi urutan hurufnya dibalik secara keseluruhan
b. Qolab badi’ (sebagian huruf)

6
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid,(Surabaya : Al-Hidayah,tt), 223
Apabila lafadz yang ada kecocokan itu ada perbedaan sebagaian
urutan hurufnya.

‫هم اسرت عوراتنا وأمن روعتنا‬


ّ ّ‫ألل‬
“Ya Allah tutuplah aib-aib kami, dan sentosakanlah kami dari semua
kekhawatiran.”
Pada lafadz ‘aurotana dan rou’atana terdapat perbedaan urutan
sebagian huruf
c. Mujannah, yaitu apabila salah satu dari dua lafadz yang ada perbedaan
urutan huruf itu salah satunya berada di permulaan bait dan yang lain berada
di akhir bait.

‫كل حال‬
ّ ‫ ك ّفه يف‬# ‫الح أنوار اهلدى من‬
“Cahaya petunjuk itu telah tampak dari telapak tangannya dalam setiap
keadaan.”7

Perhatikan lafal ‫ الح‬dan ‫ حال‬itu jelas berbeda.

d. Muzdawwaj, yaitu bila berturut-turut kedua lafadz yang hampir sama


jenisnya

‫وجئتك من سباء بنباء يقني‬


“Dan kubawa kepadamu dari negeri saba[iv] suatu berita penting yang
diyakini”
Pada lafadz saba’in dan naba’in, yang terdapat huruf sin dan nun,
yang keduanya mutajanisain itu tempatanya berdampingan.

e. Mulhak jinas, yaitu terbagi menjadi dua macam


1) Yang sama musytaknya

‫فأقم وجهك لل ّدين القيّم‬

7
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 225
“Maka tegakkanlah wajah (pandanganmu) pada agama yang tegak
lurus.”

Lafal ‫ أقم‬dan ‫ القيّم‬adalah musytaq dari lafal ‫قام‬

2) Yang hampir sama musytaknya

‫قال إىّن لعملكم من القالني‬


"Ia berkata sesungguhnya aku tremasuk daripada mereka yang
meninggalkan perbuatan kamu sekalian”

Lafal ‫ قال‬dari lafal ‫ قول‬dan ‫ القالني‬dari lafal8 ‫قلى‬


4. Badi’ jinas isyarah

‫ من غري ان يذكر ىف العبارة‬.‫و يريد التجنيس باإلشارة‬


“Dan datang badi’ jinas dengan isyarah, tidak disebut dalam ibaratnya.”
Jinas Isyarah yaitu salah satu dari dua lafadz yang sama tidak disebutkan secara
jelas, tetapi dengan cara diisyarohi

‫ّفر األسد من امسه‬


“Orang yang namanya Asad itu lari dari namanya.”

Isim dlomir pada lafal ‫ امسه‬rujuk (kembalinya) pada lafal ‫ أسد‬dengan arti

harimau. Maka lafal ‫ أسد‬dengan arti harimau tidak disebut sebab sudah ada lafal

‫ أسد‬yang dijadikan sebagai nama orang.9


5. Badi’ jinas roddul-‘ajzi

‫رد العجز اللّفظ على " صدر ففى نثر بفقرة جال‬
ّ ‫و منه‬

8
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 226
9
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 226
‫مكتنفا و النظم األول ّاول " آخر مصراع فما قبل تال‬

‫مكررا جمانسا وما التحق " يأتى كتخش النّاس و اللّه احق‬
ّ
“Dari sebagian badi’ jinas lafadz ada lagi badi’ mengembalikan ujung lafadz
kepada permulaannya yang jelas pada natsar dengan faqroh (susunan kalam),
sambil melingkupi dan dalam nadzom. Lafadz pertama didahulukan, lalu ada
lafadz yang terbaca sebelum akhir mishro’ yang kedua (yakni diselang lafadz
lain).”
Badi’ jinas roddul-‘ajzi terbagi dua bagian
a. Dalam natsar yaitu satu lafadz pada awal faqroh dan satu lagi pada akhirnya
b. Dalam nadzomyaitu satu lafadz pada akhir bait dan satu lagi pada awal
mishro pertama atau pada tengahnya atau pada akhirnya atau sebelum
permulaan mishro kedua.10

B. Tashif
Tashif yaitu serupa dalam tulisan diantara dua kata atau lebih;
dimana ketika berpindah atau berubah tanda titik bisa merubah pada makna
kedua atau lainya. Dengan kata lain kedua lafazh sama hurufnya namun
berbeda tata letak titiknya. Seperti: Takhally, Tahally, Tajally. Dalam contoh
tersebut memiliki pola kata yang sama namun berbeda dalam tata letak
titiknya sehingga berbeda ketiganya.11 Adapun dalam contoh Al-Qur’an
seperti dalam firman Allah Q.S Al-Kahf: 94:
ُ َ‫ض َّل َس ْعيُهُ ْم فِى ْال َح ٰيو ِة ال ُّد ْنيَا َوهُ ْم يَحْ َسبُوْ نَ اَنَّهُ ْم يُحْ ِسنُوْ ن‬
)104-18:104/‫ ( الكهف‬١٠٤ ‫ص ْنعًا‬ َ َ‫اَلَّ ِذ ْين‬

Lafazh ‫ حيس <<بون & حيس <<نون‬memiliki kesamaan dalam hurufnya; yang

membedakan tata letak titik dimana yang pertama titik dibawah dan yang
kedua titik diatas. Yang pertama bermakna (mereka) mengira dan yang
kedua bermakna (mereka) berbuat dengan sebaik-sebaiknya.
10
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 227
11
Sayyid Ahmad Al-Hasyimy, Jawahir al-Balaghah fi al-Ma’any wa al-Bayan wa al-Badi’, (Beirut: Maktabah
Al-Ashriyah, t.t), h. 330.
C. Izdiwaj
Izdiwaj, Sejenisnya dua lafazh yang saling bersandingan, artinya
datangnya secara berurutan. Ciri dari Izdiwaj ini memiliki keserupaan baik
dalam panjang-pendeknya, susunanya, maupun sajaknya. Seperti: “Man
Jadda wa Jada” dan “Man Lajja wa Lija”.12 Kata yang serupa dalam
pelafalanya adalah Man jada dan wa Jada, yang pertama berarti (barang
siap bersungguh-sungguh), dan yang kedua berarti (mendapatkan). Kedua
lafazh ini serupa dalam pelafalan dan datang secara berurutan.
Termasuk dalam Izdiwaj ini dua lafazh yang memiliki bentuk yang
sama dan makna yang saling menyatu, seperti contoh syair:13
ِ ِ
ْ ‫أَبْ َدانُ ُه َّن َو َما لَب ْس َن م َن احلَ ِري ِر َم ًعا َح‬
‫رير‬

‫العبِرْيِ َم ًعا َعبِ ْري‬ ِ ِ


َ ‫أ َْر َدانُ ُه َّن َو َما َمس ْس َن م َن‬
Dalam syair dari Ar-Rumy tersebut, walaupun keduanya berbeda
lafazh dan makna tetapi memiliki makna yang saling menyatu. Pakaian
terbuat dari kain sutra disamakan dengan semerbak bau parfum.

D. Saja’
Kata saja’ merupakan masdar dari (‫)سجع‬. Saja’ bermakna bunyi atau indah.
Sedangkan secara terminologis saja’ adalah:

  ‫النَث ِر‬ ‫َخ ِري ِم َن‬


ِ ‫ني يف األ‬ ِ ‫َتوا فُق ال َف‬
ِ َ‫اصلَت‬ ُ َ
Artinya:“Sesuainya dua kata terakhir pada huruf akhirnya dari sebuah natsar”.
Sedangkan pengertian saja’ menurut balaghah waadhihah adalah cocoknya
huruf akhir dua fashilah atau lebih. Sajak yang paling baik adalah yang bagian-

12
Al-Hasyimy, Jawahir al-Balaghah, h. 330.
13
Muhammad ibn Aly al-Shamil, “Al-Qaul Badi’ fi ‘Ilm al-Badi’”,
https://www.alukah.net/literature_language/0/6261/ (Sabtu, 18 April 2020, 21.00)
bagian kalimatnya seimbang. Saja’ yaitu kesesuaian huruf akhir antara dua fashilah
(akhir kalimat). Badi’ saja’ ini dibagi menjadi tiga, yaitu14:
1. Sajak muthorof yaitu kalau kedua lafadznya bersamaan hurufnya tetapi berbeda
wazannya

‫ما لكم ال ترجون هلل وقا را‬ *   ‫و قد خلقكم أطوارا‬


“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia
Sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”

Kata ‘waqara” beda wazan dengan kata “athwara” yang mana “waqara” dengan


harakat fathah sedang “athwara” sukun, namun keduanya sama dalam huruf

akhirnya yaitu huruf ra’. Lafadz ‫وق<<ا را‬ berwazan ‫فع<<اال‬


ّ dan lafadz ‫اط<<وارا‬berwazan

‫افعاال‬15
2. Sajak muroshsho’ yaitu sama fasilahnya dalam wazan dan qofiyah dan lafadz-
lafadz yang berbeda pada salah satu faqrohnya terdiri dari lafadz yang
berbanding dari lainnya
ِ ‫ وي ْقر ْع األَمساع بِزو‬# ‫هو يطبع األَسجاع جِب و ِاه ِر لَ ْف ِظ ِه‬
‫اح ِر َو ْع ِظ ِه‬ ََ َ َ ََ ََ َ َ ْ ُ َ َ

“Dia mencetak sajak-sajak dengan permata ucapannya dan mengetuk


pendengaran dengan teguran-teguran nasehatnya.”

Kata ‘yathba’u” sama wazannya dengan “yaqra’u” begitu pula dalam


qofiahnya yaitu huruf ‘ain, “asja’’ sewazan dengan “asma”, qafiah ‘ain,
“lafzhi” sewazan dengan “wa’zhi”, qafiahnya zha’.16
3. Sajak mutawazi yaitu kedua fasilahnya sama lafadznya dan tidak sama lafadz-
lafadz lainnya. Contoh seperti firman Allah SWT.

*‫عة‬ ‫وأكوا ب موضو عة * فيها سرر مر فو‬


14
Khamim & H. Ahmad Subakir, Ilmu Balaghah, (Kediri: IAIN Kediri Press, 2018), Cet. 1, h. 186-187.
15
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 229
16
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 230
“Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. dan gelas-gelas yang terletak
(di dekatnya.”
َ
Qorinahnya ada dua yaitu: ‫ س<<رر م<<ر ف<<و عة‬Dan ‫ﻮﻋ ٌﺔ َﻭﺃ ْﻛ َﻮ ٌﺍﺏ‬
َ ‫ﺿ‬ُ ‫“ َّﻣ ْﻮ‬sururun’ adalah

setengah dari qorinah pertama yang dibandingkan dengan kata “akwabun”,


qorinah kedua. Keduanya berbeda secara wazan dan qofiah.
Dalam kitab Jauhar al-Balaghah diterangkan bahwa akhiran dari
saja’ bersifat mabni pada sukun dan sajak yang paling baik adalah yang
seimbang antar faqrahnya. Sebagaimana contoh firman Allah swt:
ٍ ‫ َّوطَ ْل‬٢٨ ‫فِ ْي ِس ْد ٍر َّم ْخضُوْ ۙ ٍد‬
)30-56:28/‫ ( الواقعة‬٣٠ ‫ َّو ِظ ٍّل َّم ْم ُدوْ ۙ ٍد‬٢٩ ‫ح َّم ْنضُوْ ۙ ٍد‬
Lalu selanjutnya apabila faqrah kedua lebih panjang, seperti:
)2-53:1/‫ ( النجم‬٢ ‫احبُ ُك ْم َو َما غ َٰو ۚى‬
ِ ‫ص‬ َ ‫ َما‬١ ‫َوالنَّجْ ِم اِ َذا ه َٰو ۙى‬
َ ‫ض َّل‬
Lalu tingkatan ketiga, apabila faqrah ketiga lebih panjang, seperti:
-85:5/‫ ( البروج‬٧ ۗ ‫ َّوهُ ْم ع َٰلى َما يَ ْف َعلُوْ نَ ِب ْال ُم ْؤ ِمنِ ْينَ ُشهُوْ ٌد‬٦ ‫ اِ ْذ هُ ْم َعلَ ْيهَا قُعُوْ ۙ ٌد‬٥ ‫ت ْال َوقُوْ ۙ ِد‬ ِ َّ‫الن‬
ِ ‫ار َذا‬
Adapun saja’ yang baik apabila kata-kata yang digunakan indah dan
bagus, lafazh-lafazhnya mengantarkan pada makna, kata yang digunakan
tidak menunjukan pada kata selain yang dituju. 17

E. Muwazanah

‫مثّ املوازنة و هى التسوية " لفاصل ىف الوزن ال ىف التقفية‬

‫وهى املماثلة حيث يتفق " ىف الوزن لفظ فقرتيها فاستفق‬

‫وي ذكره لن يلزما‬


ّ ‫الر‬
ّ ‫و القلب والتشريع والتزام ما " قبل‬
“Kemudian badi’ jinas muwazanah itu sama kedua fasilah pada wazannya, tidak
sama pada ujung kalimatnya. Dan ada badi’ mumatsalah sekira sama wazan lafadz
faqrohny, mengamalkanlah kamu!”
Ialah muwazanah yakni kedua fashilahnya adalah sama kedua wazannya,
namun tidak sama qofiyahnya

17
Al-Hasyimy, Jawahir al-Balaghah, h. 331.
ۡ ‫َّومَنَا ِر ُق َم‬
ٌ‫صُف ۡوفَةٌ َّو َز َراىِب ُّ َم ۡبثُ ثَۡوة‬

Wazannya sama isim maf’ul ٌ‫وَة‬


‫صُف ۡف‬
ۡ ‫ َم‬sedangkan qofiyahnya yang satu dengan “fa”
18
dan satu lagi dengan “tsa” dalam lafal ٌ‫ثَۡوة‬ ُ‫ َم ۡبث‬.
F. Tarshi
Tarshi’ yaitu seimbangnya beberapa lafazh disertai sesuainya akhiran atau
yang mendekati, namun berbeda dalam qofiyah atau susunan hurufnya. Contoh
seperti:
َ ‫ َّواِ َّن ْالفُج‬١٣ ‫ار لَفِ ْي نَ ِعي ۙ ٍْم‬
)14-82:13/‫ ( االنفطار‬١٤ ‫َّار لَفِ ْي َج ِحي ٍْم‬ َ ‫اِ َّن ااْل َ ْب َر‬
Lafazh “na’im” dan “jahim” termasuk tarshi’ karena keduanya mengikuti
wazn “fa’iilun” dan keduanya berbeda dalam qofiyahnya.
Sedangkan contoh lain, seperti:
ۤ
)118-37:117/‫ص ٰفّت‬
ّ ٰ ‫ ( ال‬١١٨ ‫ص َراطَ ْال ُم ْستَقِ ْي ۚ َم‬ َ ‫َو ٰاتَي ْٰنهُ َما ْال ِك ٰت‬
ِّ ‫ َوهَ َد ْي ٰنهُ َما ال‬١١٧ ۚ َ‫ب ْال ُم ْستَبِ ْين‬
Lafazh “mustabin” dan “mustaqim” berdekatan wazn-nya, karena keduanya
mengikuti “mustaf’ilun” dan keduanya berbeda dalam qofiyahnya.19 Tarshi’ disebut
juga dengan mumatsalah karena dua faqrah yang sama waznnya. 20

18
Imam Akhdhori, Jauharul Maknun Terj. Abdul Qodir Hamid, (Surabaya: Al-Hidayah,tt), 232-233
19
Al-Hasyimy, Jawahir al-Balaghah, h. 332.
20
Khamim & H. Ahmad Subakir, Ilmu Balaghah, h. 187.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA